Anda di halaman 1dari 57

1

BAB I PENDAHULUAN Penyediaan pakan merupakan salah satu faktor penentu dalam mendukung perkembangan usaha peternakan. Masalah utama yang dihadapi dalam penyediaan pakan adalah kuantitas, kualitas dan kontinuitas. Usaha untuk mendapatkan penyediaan hijauan yang jumlahnya cukup khususnya untuk ternak ruminansia. Hijauan pakan terbagi menjadi rumput-rumputan dan leguminosa. Legum adalah biji yang berasal dari jenis kacang-kacangan. Gramineae yang merupakan nama untuk kelompok rumput-rumputan. Gramineae merupakan kelompok yang banyak digunakan dalam kehidupan setelah leguminosa. Legum adalah benih yang tumbuh di dalam polong. Usaha untuk mendapatkan penyediaan hijauan yang jumlahnya cukup, harus dilakukan pengelolaan yang baik seperti pengolahan tanah, teknik penempatan pupuk, pergiliran tanaman dan interval defoliasi Tujuan praktikum scarifikasi mempunyai tujuan agar mahasiswa dapat mengetahui efek scarifikasi terhadap persentasi perkecambahan berbagai leguminosa pakan, dapat mengetahui efek scarifikasi dan kedalaman terhadap persentasi muncul tanah berbagai leguminosa pakan serta mampu melakukan scarifikasi. Manfaat praktikum ini mahasiswa dapat mengetahui efek skarifikasi terhadap proses perkecambahan dan efek terhadap presentasi muncul tanah.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Scarifikasi Scarifikasi adalah perubahan dengan sendirinya kulit biji yang tidak permeable menjadi permeabel, menghilangkan dormansi fisik terhadap gas dan air (Sholicha, 2009). Tujuan scarifikasi dapat untuk memberantas penyakit menular yang berada dalam benih. Perlakuan sejumlah biji dengan H2SO4 atau pengikisan mekanis yang dikenal sebagai scarifikasi. Dengan menggunakan scarifikasi, akan dapat dijamin bahwa hanya sedikit saja biji yang

mempertahankan kondisi keras pada biji tersebut (Peter et al., 1992). 2.1.1. Perlakuan fisik Beberapa jenis benih terkadang diberi perlakuan perendaman di dalam air panas dengan tujuan memudahkan penyerapan air oleh benih. Perlakuan fisik dilakukan dengan perendaman air panas dilakukan dengan cara merendam benih selama 10 menit. Hal ini bertujuan agar benih menjadi lebih lunak sehingga memudahkan terjadinya perkecambahan (Maryani, 2008). Scarifikasi fisik dilakukan dengan cara mengamplas, meretakkan, membakar dan merendam air panas (Sholicha, 2009). Fungsi air pada perkecambahan adalah untuk melunakkan benih yang menyebabkan pecahnya atau robeknya kulit benih, mengencerkan protoplasma sehingga dapat aktif, memberi fasilitas masuknya oksigen dan sebagai alat transport makanan dari endosperm ke titik tumbuh (Sholicha, 2009). Scarifikasi fisik dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti kurangnya cahaya, dan suhu

berpengaruh terhadap perkecambahan dalam penyerapan air, hidrolisa makanan cadangan, mobilisasi makanan, asimilasi, respirasi dan pertumbuhan bibit. Proses perkecambahan benih membutuhkan energi yang diperoleh dari proses oksidasi yaitu pernapasan dan fermentasi (Maryani, 2008). 2.1.2. Perlakuan mekanik Perkembangan dengan biji merupakan suatu cara umum dalam mengembangbiakan tanaman baik penyerbukan sendiri maupun silang dalam penyimpanan makanan dalam waktu yang lama (Peter et. al.,1992 ). Perlakuan mekanis umumnya digunakan untuk memecah dormansi benih akibat

impermeabilitas kulit, baik terhadap air maupun gas, resistan mekanisme kulit perkecambahan yang terdapat pada kulit benih. Cara-cara mekanisme yang dilakukan adalah menggosok kulit benih yaitu dengan pisau atau amplas, sedangkan perlakuan impaction (goncangan) dilakukan untuk benih-benih yang memiliki sumbat gabus. Pengamplasan yang terlalu halus dapat menyebabkan dormansi benih yang disebabkan oleh impermeabilitas kulit biji terhadap air maupun gas, selain terhadap air maupun gas, dapat mengakibatkan kulit biji yang keras akan terkelupas sehingga air maupun gas dapat masuk dan perkecambahan pun terjadi (Maryani, 2008). Pada hakekatnya perlakuan semua benih dibuat permeabel sehingga resiko kerusakan yang kecil, asal daerah radikel tidak rusak (Schmidt, 2002).

2.1.3.

Perlakuan kimia

Biji dilindungi oleh kulit biji yang terdiri atas jaringan yang secara genetik identik dengan tanaman induknya dan biasanya berkembang dari integumen bakal biji (Sahupala, 2007). Perlakuan secara kimiawi dengan menggunakan H2SO4 pekat, mekanik dengan pengamplasan dan fisik dengan perendaman pada air panas dengan suhu 60oC (Maryani, 2008).Perlakuan secara kimia dilakukan dengan menggunakan bahan kimia dengan tujuan agar kulit biji yang digunakan sebagai benih lebih bersifat permeabel terhadap air pada proses imbibisi. Larutan kimia yang sering digunakan adalah asam sulfat pekat (H 2SO4 96%) yaitu dengan cara merendam benih ke dalamnya selama 2 menit atau menggunakan KNO3, sebagai pengganti fungsi cahaya dan suhu serta untuk mempercepat masuknya oksigen ke dalam benih (Soetarno dan Didik, 1995). Perlakuan kimia dengan bahan-bahan kimia sering dilakukan untuk memecahkan dormansi pada benih. Tujuan utamanya adalah menjadikan agar kulit biji lebih mudah untuk dimasuki oleh air pada waktu proses imbibisi (Purwanto, 2007). Larutan asam kuat seperti asam sulfat dengan konsentrasi pekat membuat kulit biji menjadi lunak sehingga dapat dilalui air dengan mudah. Larutan asam untuk perlakuan ini adalah asam sulfat pekat (H2SO4) asam ini menyebabkan kerusakan pada kulit biji dan dapat diterapkan pada legum maupun non legume (Setyowati, 1993).

2.2.

Uji Muncul Tanah

Uji muncul tanah merupakan suatu cara pengujian kualitas tanah dalam hubungannya dengan ketersediaan unsur hara dan zat-zat yang terkandung di dalamnya yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Pertumbuhan tanaman yang baik membutuhkan tanah yang baik pula, yaitu tanah yang banyak mengandung unsur hara (Purwanto, 2007). Uji muncul tanah dilakukan untuk mengetahui kecepatan tumbuhnya biji atau muncul biji di atas tanah dan kedalaman efektifitas biji tanaman makanan ternak. Keadaan biji dan medium tanah sangat mempengaruhi uji muncul tanah. Keadaan biji dipengaruhi tekstur tanah, porositas tanah, struktur tanah, suhu tanah dan konsistensi pada tanah (Peter et. al., 1992). Tanah penutup yang dipergunakan untuk membenamkan biji sangat tergantung pada ukuran biji, sebab penutupan atau pembenaman terlalu dalam akan menghambat proses perkecambahan (Susilo, 1991). Proses perkecambahan benih merupakan suatu rangkaian kompleks dari perubahan morfologi, fisiologi dan biokimia. Perkecambahan dimulai dengan penyerapan air oleh benih, melunaknya kulit benih dan hidrasi dari protoplasma (Setyowati, 1993). Proses penyerapan air oleh benih merupakan suatu proses awal yang secara tidak langsung akan mempengaruhi proses imbibisi antara lain temperatur, kelembaban udara dan lingkungan serta permeabilitas (Soetarno et all., 1995). kulit biji

2.3.

Benih

Benih adalah alat untuk mempertahankan kelanjutan hidup spesies tumbuhan tertentu dengan cara memperpanjang kehidupan embrionik axis. embrionik axis merupakan pembesaran sel-sel yang sudah ada, pembentukan selsel yang baru pada titik-titik tumbuh dormansi benih berhubungan dengan usaha benih untuk menunda perkecambahannya, hingga waktu dan kondisi lingkungan memungkinkan untuk melangsungkan proses tersebut. Benih juga merupakan alat untuk menyebar kehidupan baru dari suatu tempat ke tempat lain dengan kekuatannya sendiri dan dengan pertolongan manusia maupun dengan pertolongan hewan (Ali et. al., 2008). Menurut strukturnya benih merupakan suatu ovule atau bakal benih yang masak dan mengandung suatu tanaman mini atau embrio yang biasa terbentuk dari bersatunya sel-sel gamet di dalam embrio serta cadangan makanan yang mengelilingi embrio (Sutrasno et. al., 2009). Perkembangan dengan benih merupakan cara umum dalam mengembangbiakan tanaman baik penyerbukan maupun silang dengan penyimpanan makanan dalam waktu yang lama (Sutarno dan Didik, 1995). Pertumbuhan benih juga dipengaruhi oleh kedalaman tanah. Kedalaman akan mempengaruhi perkecambahan benih, jika benih ditanam terlalu dalam maka akan menghambat proses perkecambahan (Sahupala, 2007). Suatu benih dikatakan sebagai benih dorman apabila benih dari tanaman tidak berkecambah meskipun ditempatkan pada kondisi lingkungan yang optimum. Banyak faktor penyebab dormasi, antara lain yaitu kulit benih yang tidak permeabel terhadap air maupun gas adanya penghambat kimiawi dalam benih (Soetarno et al., 1995).

Penggolongan benih dapat dilakukan dengan menggunakan ayakan atau berbagai peralatan mesin sederhana. Penggolongan tersebut dilaksanakan berdasarkan pada sifat-sifat morfologi benih atau fisiologi benih seperti dimensi benih atau berat jenis benih (Soemarsono, 2002). Keuntungan pembiakan dengan biji sangat banyak biasanya merupakan cara yang paling murah dalam pembiakan. Kerugian pembiakan dengan benih adalah segregasi secara genetik pada tanamantanaman yang bersifat heterozigot dan jangka waktu yang sangat lama sejak biji sampai tanaman dewasa pada tanaman tertentu (Setyowati, 1993). 2.4. Legum Legum mempunyai daya palatabilitas yang rendah, dengan demikian dapat dikatakan bahwa leguminosa ini kurang disukai oleh ternak. Leguminosa biasanya tumbuh menjalar atau membentuk semak, tahan renggut dan injakan (Setyowati, 1993). kemampuannya mengikat (fiksasi) nitrogen langsung dari udara (tidak melalui cairan tanah) karena bersimbiosisdengan bakteri tertentu pada akar atau batangnya. Jaringan yang mengandung bakteri simbiotik ini biasanya menggelembung dan membentuk bintil-bintil (Purwanto, 2007).

2.4.1.

Kalopo (Calopogonium mucunoides) Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan dengan siklus hidup

perennial.

Ciri- ciri tanaman ini adalah tumbuh membelit, merambat serta

memanjat. Pada daun dan batang yang muda berbulu, sehingga tanaman ini kurang disukai ternak. Bentuk daunnya trifoliat dengan bentuk bunga kecil berwarna ungu (Soemarsono, 2002). Adaptasi tanaman ini dengan tumbuh

didaerah

tropik ketinggian 200-1000 m dpl dengan curah hujan 1000-1400

mm/th. Tanaman ini merupakan legum pioner yang tidak tahan dingin, dapat tumbuh pada daerah yang lembab serta tidak tahan terhadap penggembalaan berat dan dikembangbiaakkan dengan biji 5-8 kg/ha (Sutarno dan Didik, 1995). Pertumbuhan kalopo tidak tahan terhadap naungan yang terlalu lebat (Susilo, 1991). Kalopo memiliki batang lunak ditumbuhi bulu-bulu panjang berwarna cokelat dan daunnya ditutupi oleh bulu halus berwarna cokelat keemasan, sehingga kurang disukai oleh ternak bila dibandingkan dengan jenis legum lainnya. Calopo juga mempunyai akar yang keluar dari setiap buku batangnya sehingga baik sekali jika digunakan sebagai tanaman penutup (Sutrasno et. al., 2009)

2.4.2.

Kacang benguk (Mucuna pruriens) Kacang benguk (Mucuna pruriens L) merupakan tanaman asli

Indonesia. Ada dua tipe kacang benguk, yaitu cepat menghasilkan (3-4 bulan) dan tipe lambat menghasilkan atau tahunan (6-7 bulan). Tanaman kara benguk ini dapat tumbuh dan menghasilkan polong yang baik di atas tanah tandus dan kering bahkan tanpa perawatan (Ali et. al., 2008). Kacang benguk terbagi menjadi empat macam varietas yang ada di Jawa, yaitu rase (putih dengan bercak hitam), lutung (hitam), rempelo (merah), dan putih (putih) (Sahupala, 2007)

. 2.4.3. Sentro (Centrocema pubescens)

Centrosema pubescens berasal dari Amerika Selatan dan merupakan tanaman yang membelit, menjalar, batang berbulu dan tidak berkayu, mempunyai tiga daun pada setiap tangkai (trifoliat), berambut, panjangnya 5-12 cm dan lebar 3-10 cm (Susilo, 1991). Bunganya berbentuk tandan berwarna biru agak kehijauan, bertipe kacang ercis atau kapri. Polong berwarna coklat atau hitam kecoklatan panjang 12 cm atau lebih, sempit dengan ujung tajam dan terdiri dari 20 biji. Biji besar, panjang 5mm dan lebar 4mm, berwarna coklat atau hitam kecoklatan (Soetarno et al., 1995). Biasanya dikembangkan dengan biji 1-6kg/ha, mampu tumbuh pada tanah ringan sampai sedang, mulai pada ketinggian 0-1000 m dpl, tidak tahan dingin tahan musim kemarau panjang, toleran terhadap drainase yang jelek, responsif terhadap pupuk P, dan membutuhkan curah hujan tahunan sebesar kurang lebih 1300 mm (Peter et. al., 1991).

BAB III MATERI DAN METODE

10

Praktikum Ilmu Tanaman Pakan dengan judul Scarifikasi Benih dan Uji Muncul Tanah dilaksanakan tanggal 1 Mei dan 2 Mei 2012 di Laboratorium Ilmu Tanaman Makanan Ternak, Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang. 3.1. Materi Materi yang digunakan dalam praktikum scarifikasi adalah biji Calopogonium mucunoides (kalopo), Centrosema pubescens (sentro), Mucuna pruriens (kacang benguk) sebanyak 50 biji, air panas, air steril dan H2SO4 96%. Alat yang digunakan adalah gelas ukur, cawan petri, kertas saring, kapas, polybag, tanah dan amplas. 3.2. Metode

3.2.1. Scarifikasi Scarifikasi menggunakan tiga metode yaitu secara fisik, kimia dan mekanik. Scarifikasi dengan metode fisik dilakukan dengan merendam semua benih biji dalam air panas bersuhu 600C selama 5 menit dengan menggunakan gelas beker. Percobaan dengan metode kimia dengan merendam biji pada larutan H2SO4 96% selama 3 menit dengan menggunakan gelas beker. Perlakuan dengan metode secara mekanik mengamplas biji sampai halus pada bagian kulit biji terluar (epidermis). Menyaring dan meletakkan biji tersebut di cawan petri. Mengamati pertumbuhan biji yang telah ditanam pada media cawan petri, dengan menghitung jumlah biji yang berkecambah pengamatan dilakukan selama 14 hari.

11

3.2.2. Uji muncul tanah Metode pada uji muncul tanah dengan melakukan proses skarifikasi

terlebih dahulu. Menyiapkan polybag dengan kedalaman tanah 2 cm dan 4 cm untuk setiap perlakuan. Metode yang digunakan dalam uji muncul tanah yaitu scarifikasi secara fisik, kimia dan mekanik. Menanam biji tersebut pada media tanam tanah dengan kedalaman 2 cm. Menyimpan dalam suhu kamar, mengamati dan mencatat jumlah biji yang berkecambah setiap hari sampai hari ke 14 dengan melakukan penyiraman setiap harinya serta dihitung daya perkecambahannya. Benih yang tidak berkecambah dianggap mati kemudian menghitung persentase perkecambahannya, Vigor Index, dan Coefisien Vigor. 1. Persentase Perkecambahan : % perkecambahan = 2. Vigor Index : VI =
C1 C 2 ... Cn + + + D1 D 2 ... Dn JumlahPerkecambahanYangTumbuh 100% TotalBenih

Keterangan : VI C D = Vigor Index = Jumlah kecambah pada hari tertentu = Waktu yang berkorespondensi dengan jumlah kecambah

3.

Coefisien Vigor : CV =
100( A1 + A2 + A3 + ... + An) A1.T 1 + A2.T 2 + A3.T 3 + ... + An.Tn

Keterangan:

12

CV A T

= Coefisien Vigor = Jumlah benih yang berkecambah pada waktu tertentu = Waktu yang berkorespondensi dengan jumlah kecambah

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Uji Perkecambahan

13

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa: Tabel 1. Pengamatan Uji Kecambah Benih Nama Legum Skarifikasi Presentase VI (%) Puero Fisik 66 0,725 Kimia 66 0,63 Mekanik 66 1,025 Kalopo Fisik 100 1,15 Kimia 83 0,84 Mekanik 66 0,62 Sentro Fisik 33 0,27 Kimia 33 0,4 Mekanik 17 0,17 Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Tanaman Pakan, 2012.

CV 16 16 14,29 17,67 17,67 15,15 13,3 13,3 5

Berdasarkan data yang telah diketahui dapat diketahui bahwa perlakuan mekanik memberikan hasil yang lebih baik terhadap perkecambahan benih yang tumbuh. Karena dengan pengamplasan, kulit keras yang menyelimuti biji lebih cepat hilang sehingga biji menjadi lunak selain itu air dan gas mudah diserap. Hal ini sesuai dengan pendapat Sholicha (2009) bahwa pengamplasan (mekanis) dapat mengikis kulit benih yang keras dan impermeabel terhadap air dan gas menjadi permeabel, sehingga syarat utama perkecambahan yaitu penyerapan air dan gas yang cukup dapat terpenuhi. Hal ini diperkuat oleh pendapat Maryani (2008) yang menambahkan bahwa scarifikasi adalah usaha mengubah kulit benih yang tidak permeabel menjadi permeabel yang bertujuan untuk menghilangkan sifat dormansi fisik benih terhadap gas dan air. Perlakuan scarifikasi menggunakan asam sulfat atau H2SO4 96% memberikan hasil yang cukup baik pada perkecambahan benih. Hal ini sesuai dengan pendapat Soemarsono (2002) bahwa perendaman menggunakan asam sulfat pekat menyebabkan kulit biji mejadi permeabel terhadap air sehingga kulit

14

biji mudah tumbuh dalam periode yang pendek. Perlakuan scarifikasi dengan air panas pada suhu 60oC, menghasilkan persentase daya kecambah yang rendah diantara perlakuan scarifikasi dengan pengamplasan dan perendaman

menggunakan H2SO4. Hal ini karena cepatnya biji berkecambah dipengaruhi oleh faktor suhu dan pengaruh cahaya, kecepatan berkecambahan akan meningkat dengan meningkatnya temperatur. Biji legum mudah menurunkan daya kecambahnya terutama daya kecambahnya terutama bila kadar air dalam biji diatas 13% dan disimpan dalam ruangan yang suhunya 25 0C serta kelembaban diatas 80%. Hal ini sesuai dengan pendapat Susilo (1991) yang menyatakan bahwa faktor lain adalah dengan perendaman air panas yang waktunya kurang lama sehingga kulit biji yang keras belum begitu membuka.

4.2.

Uji Muncul Tanah Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa:

Tabel 2. Pengamatan Uji Muncul Tanah Nama Legum Skarifikasi Presentase (%) Puero Fisik 57 Kimia 66 Mekanik 43 Kalopo Fisik 43 Kimia 100

VI 1 1,28 13,64 0,5 1,33

CV 12,5 22,2 13,64 15 12,1

15

Mekanik 57 17,4 Fisik 14 0,17 Kimia 57 0,44 Mekanik 14 0,33 Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Tanaman Pakan, 2012. Kacang Benguk

17,4 16,7 14,28 33,3

Berdasarkan datang yang telah diperoleh dapat diketahui bahwa presentase daya kecambah yang diperoleh dapat dilihat bahwa uji muncul tanah dengan menggunakan cara pengamplasan lebih cepat daripada dengan larutan H 2SO4 96% dan air panas pada suhu 60oC. Hal ini disebabkan pengamplasan kulit keras yang menyelimuti biji lebih cepat hilang daripada larutan H2SO4 96% dan air panas bersuhu 60oC. Sesuai pendapat Susilo (1991) bahwa perkecambahan biji

tergantung kualitas benih, kondisi lingkungan dan usaha pemecahan dormansi. Menurut Sutopo (1984) menambahkan bahwa uji muncul tanah juga dipengaruhi oleh faktor kedalaman biji. Kedalaman yang sesuai dangan kebutuhan maka tanaman akan mempunyai persentase tumbuh yang baik.

BAB V KESIMPULAN Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa metode scarifikasi secara mekanis memberikan dampak yang lebih baik terhadap perkecambahan dan uji muncul tanah daripada scarifikasi secara kimia dan secara fisik. Daya kecambah dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu tingkat kemasakan biji, tingkat dormansi biji, temperatur lingkungan dan penyakit. Faktor-faktor

16

yang mempengaruhi kemunculan kecambah ke permukaan tanah adalah ukuran biji dan kedalaman biji dalam tanah. Penyebab biji yang discarifikasi tidak dapat berkecambah, antara lain biji yang kurang masak, biji yang sudah rusak dan cara scarifikasi yang salah.

DAFTAR PUSTAKA Ali, M., Yakup dan Sabaruddin. 2008. Produksi dan Kandungan Mineral Puerararia phaseoloides dengan Tingkat Naungan dan Inokulasi Mikoriza Berbeda. Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Palembang. Maryani, Anis T., Irfandri. 2008. Pengaruh Skarifikasi dan Pemberian Giberellin Terhadap Perkecambahan Benih Tanaman Aren. SAGU, Maret 2008 Vol 7. No. 1:1- 6 Peter, R. G. dan Fisher, H. M. 1992. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Purwanto, I. 2007. Mengenal Lebih Dekat Leguminoseae Cetakan ke-1. Kanisius, Yogyakarta. Sahupala, A. 2007. Teknologi Benih. Fakultas Pertanian Universitas Pattimura, Maluku Utara.

17

Setyowati, S. 1993. Pengantar Agronomi. Departemen Agraria Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, Bogor. Sholicha, F. R. 2009. Pengaruh Skarifikasi Suhu Dan Lama Perndaman Dalam Air Terhadap Perkecambahan Biji Kedawung (Parkia timoriana (DC) Merr). Jurusan Biologi Fakultas Sains Dan Teknologi Universitas Islam Malang, Malang. Soemarsono. 2002. Ilmu Tanaman Makanan Ternak. Penerbit Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang. Soetarno dan Didik. 1995. Petunjuk Praktikum Landasan Agrostologi. Yasasan Dharma Agrika, Semarang. Susilo, H. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Indonesia University Press, Jakarta. Sutrasno, B., Siswanto, E., Sudiyono., Budiarto, E. 2009. Budidaya dan Pengembangan Desmodium DI BBPTU Sapi Perah Baturraden. BBPTU Sapi Perah Baturraden, Purwokerto.

BAB I PENDAHULUAN Bahan pakan untuk ternak dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu hijauan dan pakan tambahan (konsentrat). Untuk mendapatkan hasil produksi yang baik maka kedua macam bahan pakan ini harus diberikan, karena diharapkan dari kedua macam bahan pakan ini kebutuhan nutrien dapat terpenuhi. Oleh karena itu identifiksi genus/spesies hijauan pakan menjadi semakin penting untuk dilakukan. Mengingat semakin pentingnya arti hijauan pakan bagi kebutuhan ternak khusunya ruminansia. Identifikasi hijauan pakan khusunya rumput dapat dilakukan berdasarkan tandatanda atau karakteristik vegetatif.

18

Praktikum Pengenalan Jenis Hijauan Pakan ini bertujuan agar praktikan dapat mengenali dan memahami tentang karakteristik jenisjenis penting rumput dan legum serta mampu mengenali ciri khas masingmasing jenis hijauan pakan. Manfaat praktikum pengenalan jenis hijauan pakan adalah agar praktikan dapat membedakan karakteristik antara legum dan rumput serta dapat mengetahui ciri khas dari masing masing tanaman rumput dan legum.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Rumput (Gramineceae) Rumput-rumputan dapat dikatakan sebagai salah satu tumbuh-tumbuhan darat yang paling berhasil. Bentuk kehidupannya sangat bervariasi dari tumbuhtumbuhan berumur panjangmengayu sampai tumbuh-tumbuhan berumur pendek yang lekas mati tergantung pada keadaan tempat tumbuhnya (Soemarsono, 2002). Keluarga rumput (graminae), sumber banyak biji-bijian, bahan hidup untuk dunia. Jenis rumputan penting untuk makanan ternak di dunia. Famili rumputan yaitu tebu, jagung, sorgum dan juga bamboo (Angiani, 1998).

2.1.1. Rumput meksiko (Euchlaena mexicana) Rumput meksiko berasal dari daerah Mexico (Amerika Tengah) yang mudah ditanam. Rumput meksiko dapat tumbuh baik didataran rendah hingga

19

dataran tinggi dengan curah hujan lebih dari 100 mm/tahun atau curah hujan sepanjang tahun (Hindratiningrum, 2010). Rumput meksiko sebagai bahan pakan mempunyai peran penting karena kualitas dan kandungan proteinnya tinggi karena itu dapat diandalkan sebagai sumber protein pakan terutama pada musim kemarau dengan pemotongan yang teratur. Rumput meksiko termasuk tanaman berumur pendek (annual) sehingga produktivitasnya sangat dipengaruhi umur pemotongan (Sajimin, 2004).

2.1.2. Sorghum biscolor yang menyatakan bahwa sorgum adalah tanaman yang sangat ekonomis yang dapat tumbuh pada daerah yang kering dengan hasil yang tinggi. Sistem perakarannya terdiri atas akarakar seminal (akarakar primer) pada dasar buku pertama pangkal batang, akarakar koronal (akarakar pada pangkal batang yang tumbuh ke arah atas) dan akar udara (akarakar yang tumbuh di permukaan tanah) serta tanaman sorghum membentuk perakaran sekunder 2 kali lipat dari jagung. Batang beruas-ruas dan berbuku-buku tidak bercabang dan pada bagian tengah batang terdapat seludang pembuluh yang diselubungi oleh lapisan-lapisan keras (sel-sel parenchym). Daun tumbuh melekat pada bukubuku batang dan tumbuh memanjang, yang terdiri dari kelopak daun, lidah daun dan helaian daun serta daun berlapis lilin yang dapat menggulung bila terjadi kekeringan. Bunga tersusun dalam malai serta tiap malai terdiri atas banyak

bunga yang dapat menyerbuk sendiri atau silang (Anglani, 1998). Biji tertutup oleh sekam yang berwarna kekuningkuningan atau kecoklatcoklatan

20

serta warna biji bervariasi yaitu coklat muda, putih atau putih suram tergantung varietas. Serta tinggi tanaman berkisar 1 1,5 meter bahkan lebih

tergantung varietas. Biji sorghum mempunyai zat anti nutrisi, jika mengalami perendaman makandapat mengurangi senyawa tannin yang terdapat pada sorgum karena tannin dapat larut dalam air (Sukamto, 1992).

2.1.3. Rumput benggala (Panicum maximum) Rumput benggala disebut juga panicum maximum adalah tanaman tahunan yang berumpun-rumpun, tingginya dapat mencapai 3 m. Berasal dari Afrika tropika dan subtropika dan terdapat diseluruh daerah tropika humida dan subtropika. Tidak membentuk hamparan, tetapi tetap berumpun, tahan kering dan disukai ternak. Rumput benggala pada umur muda bernilai gizi tinggi (Sajimin, 2004). 2.1.4. Rumput setaria (Setaria sphacelata) Tanaman tahunan berumpun-rumpun dapat mencapai tinggi 150 cm, tersebar di seluruh Afrika tropika. Persisten disukai ternak/ produktif dan tahan kering. Kondisi terbaik kadar protein kasar dapat lebih dari 18% dengan kadar serat kasar 25%. Pembentukan biji tidak baik, tetapi dapat ditanam dengan biji dengan kebutuhan biji 4-11 kg/h ataupun ditanam dengan cara stek (Rukmana, 2005). Tanaman ini berumur panjang, tumbuh tegak dengan mencapai tinggi 2 m dan membentuk rumpun. Bila kondisi baik satu rumpun bisa mencapai

21

ratusan batang. Pertumbuhan kembali sehabis dilakukan pemotongan seperti halnya rumput Australia, sangat cepat. Rumput ini adalah rumput potong atau gembala di daerah dataran tinggi, termasuk tanaman yang kering dan teduh, serta genangan air, tetapi suka tanah lembab dan subur (Sajimin, 2004).

2.1.5. Rumput gajah (Pennisetum peurpureum) Rumput gajah (Pennisetum purpureum) adalah tanaman tahunan yang tumbuh tegak, mempunyai perakaran yang dalam dan berkembang dengan rhizoma untuk membentuk rumpun dengan tinggi mencapai 4,5 m. Dilihat dari kandungan proteinnya, rumput gajah dan rumput kasar lainnya dari daerah tropika bila dibandingkan dengan rumput halus yang tumbuh di padang penggembalaan daerah beriklim sedang mengandung protein kasar tercerna kurang dari setengahnya dan martabat pati kurang lebih dari tigaseperempat (Soemarsosno et al., 2006). Rumput gajah mempunyai perakaran dalam dan menyebar sehingga mampu menahan erosi serta dapat juga berfungsi untuk menutup permukaan tanah. Panjang batang rumput gajah dapat mencapai 2 7 m dengan buku dan kelopak berbulu (Hidratiningrum, 2010).

2.1.

Legum (Leguminosaceae) Leguminosa merupakan hijauan pakan berkualitas tinggi dan andalan

daerah tropik sebagai sumber nitrogen tanah. Tanaman leguminosa mempunyai kemampuan bersimbiosis secara mutualistik dengan bakteri rhizobium sp yang

22

tumbuh di daerah perakarannya (Fuskhah et al, 1997). Adanya bakteri ini menyebabkan terbentuknya nodul/bintil akar yang mampu memfiksasi nitrogen bebas dari udara sehingga dapat mensuplai kebutuhan tanaman akan unsur N tersedia. Hasil simbiosis ini diharapkan mampu meningkatkan produksi hijauan tanaman. Leguminosa penutup tanah seperti calopo dan centro tumbuh menjalar dan memanjat, sedangkan leguminosa pohon seperti lamtoro tumbuh tegak (Soemarsono, 2002). 2.2.1. Lamtoro Lamtoro merupakan salah satu leguminosa tropis yang tahan dengan pemotongan berulang-ulang. Komposisi kimiawi lamtoro mengandung protein, zat tanin yang cukup baik untuk pakan ternak dan mengandung racun mimosin yang tinggi. Sebagai hijaunan pakan ternak, untuk mengurangi kandungan mimosin maka harus dijemur sehari lebih dahulu (Rukmana ,2005). Lamtoro dapat digunakan sebagai pengganti sebagian rumput. Pemberian pada sapi perah sampai 50% dapat menyebabkan air susu bau khas walaupun dapat meningkatkan kandungan lemak dan produksinya, Ini termasuk dalam kategori hay. Lamtoro merupakan leguminosa yang sangat selektif dalam asosiasinya dengan rhizobium (Sulasmi, 1997).

2.2.2. Turi (Sesbania grandiflora) Turi mempunyai bentuk berupa pohon dengan percabangan jarang, cabang mendatar, batang utama tegak,tajuk cenderung meninggi, daun menyirip ganda. Bunganya tersusun majemuk, mahkota berwarna putih, tipe kupu-kupu khas

23

faboideae. Buah polong, menggantung. Merupakan pohon kecil (tinggi mencapai 10 m). Tanaman ini tumbuh baik didaerah tropis yang lembab. Di Indonesia, turi ini banyak ditanam dipematang-pematang sawah. Daun-daunnya yang masih mudah sangat disukai kambing, sapi dan unggas. Bila pemangkasan dilakukan dengan baik maka hijauan ini akan bisa mencukupi kebutuhan pakan hijau di musim kemarau. Daun turi cukup potensial sebagai bahan makanan karena memiliki kadar protein, vitamin E dan karotein pro-vitamin A yang tinggi. Tanaman ini bisa hidup pada tempat yang teduh dan pada tanah yang kapur. (Murtidjo, 2001). bahwa Daun turi merupakan hijauan makanan ternak yang sangat potensial dan turi dapat tumbuh pada tanah asam yang tidak subur. Turi dapat beradaptasi pada tanah asam yang tidak subur, kadang-kadang juga tumbuh subur pada tanah yang tergenang air (Rukmana, 2005).

2.2.3. Desmodium intortum Desmodium intortum adalah tanaman tahunan yang tumbuh melilit dan memanjat. Jenis legum ini memiliki perakaran yang dalam. Merupakan legum terbaik untuk padang penggembalaan tanpa irigasi di Tuchila, Nyasaland. Tanaman ini berasal dari Brazilia. Bentuk batang persegi, bertekstur kasar dan memilki panjang ruas 3-11 cm. Daun bagian atas berwarna coklat kemerahan sampai ungu. Setiap 3 helai daun berkelompok dalam satu tangkai. Desmodium merupakan tumbuhan herba,semak atau pohon dan batang berbentu bulat, berbulu atau tidak, serta daunnya majemuk dan beranak tiga atau satu. Bunga tanaman ini berwarna merah muda (Sulasmi, 1997). Tanaman ini tumbuh pada ketinggian tempat 200-3.000 m dpl dengan curah hujan 900 m dpl. Legum ini dapat

24

diperbanyak dengan stek atau biji dengan kebutuhan 2-3 kg/ha. Bunga biasanya tumbuh di ujung batang dan berwarna merah muda (Sulasmi, 1997).

2.2.4. Kacang Pinto (Arachis pintoi) Arachis pintoi adalah jenis herba tahunan yang tumbuh rendah. Batangnya tumbuh menjalar membentuk anyaman yang kokoh, akar dan/atau sulur akan tumbuh dari buku batang apabila ada kontak langsung dengan tanah. Tanaman memiliki batang tumbuh menjalar, akarnya sulur akan tumbuh dari buku batang apabila ada kontak langsung dengan tanah. Mempunyai dua pasang helai daun pada setiap tangkainya, berbentuk oval dengan ukuran lebih kurang 1,5 cm lebar dan 3 cm panjang (Maswar, 2004). Kacang hias ini umumnya berbunga terus menerus selama masa hidupnya, dengan 4065 bunga/m2 setiap harinya. Setiap polong biasanya mengandung sebuah biji (Soemarsono. 2002).

2.2.5. Gamal Gamal adalah tanaman leguminosa yang dapat tumbuh dengan cepat didaerah kering. Komposisi kimiawi gamal mengandung protein 19-25%, mengandung racun kumarin yang tinggi, saponin dan asam fenolat dalam jumlah kecil. Gamal dapat digunakan sebagai pengganti sebagian rumput, pemberian pada sapi maksimal sampai 40%, sedangkan pada domba sampai dengan 75% (Natalia, 2009). Menurunkan kandungan kumarin maka sebelum diberikan pada

25

ternak sebaiknya dilayukan atau dijemur lebih dahulu selama beberapa jam atau semalaman (Murtidjo, 2001).

BAB III MATERI DAN METODE Praktikum Ilmu Tanaman Pakan dengan materi Pengenalan Jenis dilaksanakan pada hari Senin, 14 Mei 2012 pukul 15.00 17.00 WIB bertempat di Laboratorium Ilmu Tanaman Pakan, Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang.

3.1.

Materi Peralatan yang digunakan antara lain, kertas ukuran folio untuk tempat

menggambar tanaman hijauan dan alat tulis sebagai alat menggambar. Bahan yang digunakan antara lain tanaman rumput lengkap dengan akar, batang, daun, bunga dan tanaman legum lengkap dengan akar, batang, daun, dan bunga.

3.2.

Metode Siapkan macam-macam tanaman pakan yang akan dijadikan objek yaitu

tanaman rumput lengkap dengan bagian-bagiannya (akar, batang, daun dan bunga) seperti rumput gajah, rumput benggala, rumput raja, brachiaria brizantha, setaria dan untuk tanaman legum lengkap dengan bagian-bagiannya (akar, batang,

26

daun dan bunga) seperti gamal, lamtoro, centro, dan kalopo. Gambarlah tanaman pakan yang sudah disiapkan dengan disertai keterangan masing-masing bagian sistematikanya dan ciri-ciri tanamannya.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Rumput

4.1.1. Rumput meksiko (Euchlaena mexicana) Berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui bahwa:

Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Tanaman Pakan, 2012.

Sumber : dombafarm.wordpress.com

Ilustrasi. 1. Gambar Euchlaena Mexicana Rumput meksiko berasal dari daerah Mexico (Amerika Tengah) yang mudah ditanam, tumbuh baik di dataran rendah hingga dataran tinggi dengan curah hujan lebih dari 100 mm/tahun atau curah hujan sepanjang tahun. Hal ini sesuai dengan pendapat Hindratiningrum (2010) yang menyatakan bahwa rumput meksiko dapat tumbuh baik didataran rendah hingga dataran tinggi dengan curah

27

hujan lebih dari 100 mm/tahun atau curah hujan sepanjang tahun. Rumput meksiko sebagai bahan pakan mempunyai peran penting karena kualitas dan kandungan proteinnya tinggi karena itu dapat diandalkan sebagai sumber protein pakan terutama pada musim kemarau dengan pemotongan yang teratur. Rumput meksiko termasuk tanaman berumur pendek (annual) sehingga produktivitasnya sangat dipengaruhi umur pemotongan. Hal ini sesuai pendapat Sajimin (2004) yang menyatakan bahwa rumput meksiko termasuk tanaman berumur pendek (annual) sehingga produktivitasnya sangat dipengaruhi umur pemotongan.

4.1.2. Sorghum biscolor Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa:

Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Tanaman Pakan, 2012.

Sumber : plantzafrica.com

Ilustrasi 2. Gambar Shorgum biscolor Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui ciri-ciri dari sorghum adalah bagian tanaman diatas tanah tumbuh lambat sebelum

perakarannya berkembang dengan baik, tanaman ini juga sangat ekonomis dan dapat tumbuh didaerah yang kering. Hal ini sesuai dengan pendapat Anglani

28

(1998) yang menyatakan bahwa sorgum adalah tanaman yang sangat ekonomis yang dapat tumbuh pada daerah yang kering dengan hasil yang tinggi. Sistem perakarannya terdiri atas akarakar seminal (akarakar primer) pada dasar buku pertama pangkal batang, akarakar koronal (akarakar pada pangkal batang yang tumbuh ke arah atas) dan akar udara (akarakar yang tumbuh di permukaan tanah) serta tanaman sorghum membentuk perakaran sekunder 2 kali lipat dari jagung. Batang beruas-ruas dan berbuku-buku tidak bercabang dan pada bagian tengah batang terdapat seludang pembuluh yang diselubungi oleh lapisan-lapisan keras (sel-sel parenchym). Daun tumbuh melekat pada bukubuku batang dan tumbuh memanjang, yang terdiri dari kelopak daun, lidah daun dan helaian daun serta daun berlapis lilin yang dapat menggulung bila terjadi kekeringan. Bunga tersusun dalam malai serta tiap malai terdiri atas banyak

bunga yang dapat menyerbuk sendiri atau silang. Biji tertutup oleh sekam yang berwarna kekuningkuningan atau

kecoklatcoklatan serta warna biji bervariasi yaitu coklat muda, putih atau putih suram tergantung varietas. Serta tinggi tanaman berkisar 1 1,5 meter bahkan

lebih tergantung varietas. Biji sorgum mempunyai senyawa antinutrisi seperti tanin dan dapat dihilangkan dengan cara perendaman dengan air. Hal ini sesuai dengan pendapat Sukamto (1992) yang menyatakan bahwa perendaman dapat mengurangi senyawa tannin yang terdapat pada sorgum karena tannin dapat larut dalam air.

29

4.1.3. Rumput benggala ( Panicum maximum) Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa:

Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Tanaman Pakan, 2012.

Sumber : dombafarm.wordpress.com

Ilustrasi 3. Gambar Panicum maximum Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui ciri - ciri rumput benggala merupakan tanaman ini berumur panjang, tumbuh tegak membentuk rumpun seperti padi, jenis ini tidak berbatang sehingga hampir semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan secara maksimal. Hal ini sesuai dengan pendapat Soemarsono (2002) yang menyatakan bahwa tanaman jenis ini tidak berbatang sehingga semua bagian dapat dimanfaatkan secara maksimal. Tinggi bisa mencapai 0.5-2 meter. Sistem perakarannya dalam dan menyebar luas. Tahan terhadap musim kering. Tekstur daun halus dan berwarna hijau tua. Umumnya tahan terhadap lindungan sehingga memungkinkan untuk ditanam di antara pohon-pohon perkebunan. Dapat tumbuh pada tempat dengan ketinggian sampai 1.950 m dpl dan curah hujan 1000-2000 mm/tahun. Pembiakan jenis rumput ini bisa dengan biji atau sobekan rumput dan rumput jenis ini sebaiknya digunakan

30

sebagai rumput potong maupun rumput gembala. Hal ini sesuai dengan pendapat Horne et al., (1995) yang merekomendasikan rumput ini untuk rumput potong maupun rumput gembala. Kebutuhan biji untuk penanaman berkisar 4-11 kg/ha tergantung jarak tanam yang digunakan.

4.1.4. Rumput setaria (Setaria sphacelata) Berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui bahwa:

Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Tanaman Pakan, 2012.

Sumber : flickr.com

Ilustrasi 4. Gambar Setaria sphacelata Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui ciri - ciri rumput setaria tanaman ini berumur panjang, tumbuh tegak mencapai tinggi 2 m dan membentuk rumpun. Tanaman ini merupakan rumput hasil introduksi dari Afrika Tropika Selatan sebagai pusat penyebaran. Hal ini seuai pendapat Hindratiningrum (2010) yang menyatakan bahwa setaria gajah merupakan rumput hasil introduksi dari Afrika Tropika Selatan. Daun tanaman ini cukup halus dan berwarna hijau kelabu. Jenis rumput ini dapat tumbuh baik pada tanah berstruktur

31

ringan, sedang dan berat dengan ketinggian tempat 200-3.000 m dpl dan curah hujan > 1.000 m dpl. Tanaman ini cukup responsif terhadap pemupukan N. Biasanya lebih mudah diperbanyak dengan sobekan rumpun (pols). Tanaman ini dapat digunakan sebagai hijauan potong, padang penggembalaan yang merupakan tanaman perenial. Hal ini seuai dengan pendapat Sajimin (2004) bahwa Setaria splendida merupakan tanaman perennial.

4.1.5. Rumput gajah (Pennisetum purpureum)


Berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui bahwa:

Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Tanaman Pakan, 2012.

Sumber : afendigenepo.blogspot.com

Ilustrasi 5. Gambar Pennisetum purpureum Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui ciri - ciri rumput gajah tumbuh setinggi 3-4,5 m. Berkembang dengan rhizoma yang panjangnya dapat mencapai 1 m. Panjang daun 1690 cm dan lebar daun 835 mm. Kultur teknis rumput ini adalah bahan tanam berupa pols dan stek, interval pemotongan 40-60 hari, responsif terhadap pupuk nitrogen. Rumput gajah

32

merupakan rumput dengan pertumbuhan yang sangat baik. Hal ini sesuai pendapat Sumarsono et al (2006) yang menyatakan bahwa rumput gajah mampu tumbuh dan berproduksi dengan baik pada lahan marginal seperti lahan masam dan salin. Rumput gajah (Pennisetum purpureum) merupakan salah satu rumput pakan yang berproduksi dan berkualitas tinggi. Produksi rumput gajah pada kondisi ideal. Hal ini sesuai dengan pendapat Sajimin (2004) bahwa produksi rumput gajah mencapai 290 ton bahan segar (BS)/ha/th. 4.2. Legum

4.2.1. Lamtoro (Leucaena leucocephala)


Berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui bahwa:

Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Tanaman Pakan, 2012.

Sumber : id.wikipedia.org

Ilustrasi 6. Gambar Leucaena leucocephala Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui ciri - ciri rumput Pohon atau perdu, tinggi hingga 20 m, meski kebanyakan hanya sekitar 10 m mempunyai perakaran yang dalam dan tahan terhadap kekeringan. Hal ini sesuai dengan pendapat Rukmana (2005) bahwa Lamtoro dapat tumbuh dan tahan

33

terhadap kekeringan. Percabangan rendah, banyak, dengan pepagan kecoklatan atau keabu-abuan, berbintil-bintil dan berlentisel. Ranting-ranting bulat torak, dengan ujung yang berambut rapat. Daun majemuk menyirip rangkap, sirip 3 - 10 pasang, kebanyakan dengan kelenjar pada poros daun tepat sebelum pangkal sirip terbawah; daun penumpu kecil, segitiga. Anak daun tiap sirip 5 - 20 pasang, berhadapan, bentuk garis memanjang, 616 (-21) mm 12,5 mm, dengan ujung runcing dan pangkal miring (tidak sama), permukaannya berambut halus dan tepinya berjumbai. Bunga majemuk berupa bongkol bertangkai panjang yang berkumpul dalam malai berisi 2 - 6 bongkol, tiap-tiap bongkol tersusun dari 100180 kuntum bunga, membentuk bola berwarna putih atau kekuningan berdiameter 12 - 21 mm, di atas tangkai sepanjang 2 - 5 cm. Bunga kecil-kecil, berbilangan -5; tabung kelopak bentuklonceng bergigi pendek, lk 3 mm; mahkota bentuk solet, lk. 5 mm, lepas-lepas. Benangsari 10 helai, lk 1 cm, lepas-lepas. Buah polong bentuk pita lurus, pipih dan tipis, 14 - 26 cm 1.5 - 2 cm, dengan sekat-sekat di antara biji, hijau dan akhirnya coklat kering jika masak, memecah sendiri sepanjang kampuhnya. Berisi 15 - 30 biji yang terletak melintang dalam polongan, bundar telur terbalik, coklat tua mengkilap, 6 - 10 mm 3 - 4.5 mm. Lamtoro mempunyai zat antinutrisi yang berupa tannin. Hal ini sesuai dengan pendapat Sulasmi (1997) yang menyatakan bahwa lamtoro mengandung zat antinutrisi berupa tannin (10.15%) dan mimosin (3-5%),

34

4.2.2. Turi (Sesbania grandiflora)


Berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui bahwa:

Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Tanaman Pakan, 2012.

Sumber : gardeningwithwilson.com

Ilustrasi 7. Gambar Sesbania grandiflora Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui ciriciri turi adalah mempunyai bentuk berupa pohon dengan percabangan jarang, cabang mendatar, batang utama tegak,tajuk cenderung meninggi, daun menyirip ganda. Bunganya tersusun majemuk, mahkota berwarna putih, tipe kupu-kupu khas faboideae. Buah polong, menggantung. Merupakan pohon kecil (tinggi mencapai 10 m). Tanaman ini tumbuh baik didaerah tropis yang lembab. Di Indonesia, turi ini banyak ditanam dipematang-pematang sawah. Daun-daunnya yang masih mudah sangat disukai kambing, sapi dan unggas. Bila pemangkasan dilakukan dengan baik maka hijauan ini akan bisa mencukupi kebutuhan pakan hijau di musim kemarau. Turi ini sebagai makanan ternak sangat menguntungkan karena merupakan sumber vitamin, terutama pro-vitamin A, vitamin B, vitamin C serta sebagai sumber mineral terutama Ca dan P. Hal ini sesuai pendapat Murtidjo

35

(2001) bahwa daun turi cukup potensial sebagai bahan makanan karena memiliki kadar protein, vitamin E dan karotein pro-vitamin A yang tinggi. Tanaman ini bisa hidup pada tempat yang teduh dan pada tanah yang kapur. Daun turi merupakan hijauan makanan ternak yang sangat potensial dan turi dapat tumbuh pada tanah asam yang tidak subur. Hal ini sesuai pendapat Rukmana (2005) bahwa turi dapat beradaptasi pada tanah asam yang tidak subur, kadang-kadang juga tumbuh subur pada tanah yang tergenang air.

4.2.3. Desmodium intortum


Berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui bahwa:

Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Tanaman Pakan, 2012.

Sumber : tropicalforages.info

Ilustrasi.3. Gambar Desmodium intortum Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui ciri ciri dari tanaman Desmodium intortum adalah sebagai berikut tanaman tahunan yang tumbuh melilit dan memanjat. Jenis legum ini memiliki perakaran yang dalam. Merupakan legum terbaik untuk padang penggembalaan tanpa irigasi di Tuchila,

36

Nyasaland. Tanaman ini berasal dari Brazilia. Bentuk batang persegi, bertekstur kasar dan memilki panjang ruas 3-11 cm. Daun bagian atas berwarna coklat kemerahan sampai ungu. Setiap 3 helai daun berkelompok dalam satu tangkai. Hal ini sesuai dengan pendapat Sulasmi (1997) yang menyatakan bahwa Desmodium merupakan tumbuhan herba,semak atau pohon dan batang berbentu bulat, berbulu atau tidak, serta daunnya majemuk dan beranak tiga atau satu. Bunga tanaman ini berwarna merah muda. Jenis legum ini dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah kecuali tanah asin tetapi toleran terhadap keadaan asam dan genangan air. Tanaman ini tumbuh pada ketinggian tempat 200-3.000 m dpl dengan curah hujan 900 m dpl. Legum ini dapat diperbanyak dengan stek atau biji dengan kebutuhan 2-3 kg/ha. Hal ini sesuai dengan pendapat Sulasmi (1997) yang menyatakan bahwa bunga biasanya tumbuh di ujung batang dan berwarna merah muda.

4.2.4. Kacang pinto (Arachis pintoi)


Berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui bahwa:

37

Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Tanaman Pakan, 2012.

Sumber : flickr.com

Ilustrasi.9. Gambar Arachis pintoi Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui ciriciri Arachis pintoi batangnya tumbuh menjalar, akarnya sulur akan tumbuh dari buku batang apabila ada kontak langsung dengan tanah. Mempunyai dua pasang helai daun pada setiap tangkainya, berbentuk oval dengan ukuran lebih kurang 1,5 cm lebar dan 3 cm panjang. Hal ini sesuai dengan pendapat Maswar (2004) yang menyatakan bahwa Arachis pintoi adalah jenis herba tahunan yang tumbuh rendah. Batangnya tumbuh menjalar membentuk anyaman yang kokoh, akar dan/atau sulur akan tumbuh dari buku batang apabila ada kontak langsung dengan tanah. Kacang hias ini umumnya berbunga terus menerus selama masa hidupnya, dengan 4065 bunga/m2 setiap harinya. Setiap polong biasanya mengandung sebuah biji.

4.2.5. Gamal (Gliricidia sepium)


Berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui bahwa:

38

Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Tanaman Pakan, 2012.

Sumber : merlin-here.blogspot.com

Ilustrasi.10. Gambar Gliricidia sepium Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui ciri ciri tanaman gamal/cebreng adalah salah satu hijauan sumber protein, sebagai tanaman pagar, cadangan pada musim kemarau dan penyubur tanah. Tanaman ini memiliki ciri sebagai tanaman berkayu, bentuk daun majemuk bersirip genap dan helaian daun berbentuk alips dengan ujung runcing. Hal ini sesuai dengan pendapat Natalia (2009) yang menyatakan bahwa tanaman pohon kecil ini biasanya bercabang banyak dengan tinggi 2 15 m. Batang berdiameter 15 30 cm berwarna hijau ketika masih muda dan jika sudah tua berwarna putih keabuabuan sampai cokelat. Warna daun hijau keperakan dan bunga berbentuk kupukupu kecil dalam kumpulan dengan warna merah muda, di tengah bendera dan mahkota bunga berwarna kuning. Tahan terhadap kekeringan dan dapat tumbuh pada tempat yang memiliki tanah kurang subur dengan ketinggian tempat 0-1.300 m dpl dan curah hujan 650-3.500 mm/tahun. Biasanya diperbanyak dengan stek batang. Daunnya cukup disukai oleh ternak sebagai sumber protein. Hal ini sesuai dengan pendapat Natalia (2009) yang menyatakan bahwa Bunga berbentuk kupu-

39

kupu terkumpul pada ujung batang sepanjang 10-15 cm berjumlah sekitar 25-50 kuntum.

40

BAB V KESIMPULAN Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa setiap tanaman pakan memilki karakteristik tertentu sehingga masing-masing tanaman dapat dibedakan sesuai dengan ciri khasnya. Rumput secara umum memiliki ciri khas yaitu daunnya berpita dan tidak memiliki biji. Sedangkan legum secara umum memiliki ciri khas yaitu tulang daunnya menyirip dan memiliki biji

41

DAFTAR PUSTAKA Agus, C., S. Kita, H. Toda., O. Karyanto., and K. Hariba. 2000. Legume Cover Crop as a Soil Amendment in Short Rota Plantation of Tropical Forest. Anglani, C. 1998. Sorghum For Human Food-Review. Plants Human Food for Human Nutrition. Chen, C.P., and Y.K. Chee. 1992. Forages (Edi). Plant Resources of South-East Asia (PROSEA). No 4. Wageningen, Netherlands and Bogor. Indonesia. Fuskhah, E; E.D. Purbayanti; F. Kusmiyati; dan R. T. Mulatsih. 1997. Efek Inokulasi Rhizobium Sp dan Pemberian Fosfor terhadap Derajat Katalisis Enzim Nitrogenase Nodul Akar Centrosema pubescens Benth. Majalah Penelitian. Hidratiningrum, Novita. 2010. Produksi dan Kualitas Hijauan Rumput Meksiko. Fakultas Peternakan Undaris Ungaran. Oktober 2010, Ungaran. Hal. 111122. Horne, P. M and W. W. Stur. 1995. Developing forage technologies with smallholder farmers: How to select the best varieties to offer farmers in southeast Asia. ACIAR monograph. No. 62. Narsih, Yuanita, dan Harijono. 2008. Studi Lama Perendaman dan Lama Perkecambahan Sorghum (Sorghum biscolour L.Moench) untuk Menghasilkan Tepung Rendah tannin dan Fitat. Desember 2008, Malang. Hal. 173-180. Mannetje. 2000. Sumber Daya Nabati Asia Tenggara. PT Balai Pustaka, Jakarta. Maswar. 2004. Kacang hias (Arachis pintoi) pada usaha tani lahan kering. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Jawa Barat. Murtidjo, B.A. 2001. Pedoman Meramu Pakan Ikan. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Reinhardt, Carl Frederick., Fesfamichael, Niguse. 2011. Nitrogen in Combination with Desmodium intortum Effectively Suppress Striga asiatica in A Sorghum-Desmodium Intercropping System. Journal of Agriculture and Rural Development in The Tropics and Subtropics. Vol. 112. p. 19-28. Rukmana, H.R. 2005. Budidaya Rumput Unggul. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

42

Sajimin, E. Sutedi, N. D. Purwantari dan B. R. Prawiradiputra. 2004. Agronomi Rumput Benggala (Panicum maximum Jacq) dan Pemanfaatannya Sebagai Rumput Potong. Balai Penelitian Ternak. Bogor. Hal. 122-130. Soemarsono. 2002. Ilmu Tanaman dan Makanan Ternak. Program Semi Que IV Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi DEPDIKNAS: Indonesia. Soemarsono, S. Anwar, S. Budiyanto, D. Permatasari, D. W. Widjajanto. 2006. Penampilan rumput gajah (Pennisetum purpureum) dan kolonjono (Panicum muticum) pada lahan salin yang diperbaiki dengan aplikasi pupuk urea dan organik. Dalam : Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Usaha Pembibitan Ternak Pola Integrasi Tanaman Ternak dalam Rangka Mendukung Kecukupan Daging 2010, Universitas Sebelas Maret, 14 Agustus 2006, Surakarta. Hal. 36-41. Sukamto. 1992. Perubahan Komposisi Nitrogen dan Phospat Serta Aktivitas Anti Gizi Selama Perkecambahan Biji Kedelai. Thesis Program Pasca Sarjana Jurusan Teknologi Hasil Pertanian. Universitas Gadjahmada, Yogyakarta. Sulasmi, Eko Sri. 1997. Kekerabatan Fenetik Jenis-jenis Desmodium Desv. Di Daerah Istimewa Yogyakarta. FPMIPA IKIP MALANG, Malang.

43

BAB I PENDAHULUAN Pengolahan lahan merupakan segala tindakan atau perlakuan yang diberikan pada suatu lahan untuk menjaga dan mempertinggi produktivitas lahan tersebut dengan mempertimbangkan kelestariannya. Pengelolaan lahan sebagai salah satu komponen pengelolaan teknologi pertanian diperlukan dalam sistem pertanian berkelanjutan. Produktivitas dan kualitas hijauan sangat dipengaruhi oleh bibit hijauan yang baik, persiapan lahan yang baik dan pengolahan lahan yang baik. Legum merupakan salah satu hijauan pakan ternak selain rumput yang memiliki kandungan kualitas pakan tiinggi dan andalan pada daerah tropik sebagai sumber nitrogen tanah. Legum memiliki peran yang mampu memfiksasi nitrogen bebas dari udara sebagai suplai bagi kebutuhan tanaman yang lain. Tujuan pengolahan hijauan pakan yaitu praktikan mampu mengolah lahan secara benar, mampu memilih benih tanam yang sesuai, mengetahui cara penanaman yang benar, mengetahui jarak tanam yang tepat, mengetahui cara pemupukan secara benar, mengetahui interval pemotongan yang tepat, mampu memprediksi produksi hijauan pakan. Manfaat dari praktikum ini adalah agar pengolahan dan pemanfaatan tanaman pakan menjadi berkualitas dan

menghasilkan produktivitas yang baik sehingga dapat diberikan pada ternak secara efisien.

BAB II

44

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Hijauan Pakan Hijauan pakan yaitu segala bahan makanan yang tergolong pakan kasar yang berasal dari pemanenan bagian vegetatif tanaman atau bagian yang hijau yang diambil biasanya daun, batang dan sedikit generatifnya, utamanya sebagai sumber pakan ternak ruminansia (Hutasoid et. al.,2009). Hijauan pakan memiliki kandungan serat kasar lebih dari 18% dan kandungan dinding sel nya cukup tinggi, sekitar 35 % (Sutanto, 2002). Leguminosa merupakan hijauan pakan berkualitas tinggi dan andalan daerah tropik sebagai sumber nitrogen tanah. Tanaman leguminosa mempunyai kemampuan bersimbiosis secara mutualistik dengan bakteri rhizobium sp yang tumbuh di daerah perakarannya (Purwanto, 2007) Kalopo merupakan tanaman tahunan yang menjalar dan beradaptasi di tanah basah, kebutuhan bijinya 6-9 kg/ha. Menutup tanah dengan daun daunnya yang lebat dan biji-biji yang jatuh dapat tumbuh dengan sendirinya, tetapi ini akan mati di musim kering. Kalopo dapat ditanam bersama rumput chloris dan melinis. Kalopo merupakan jenis leguminosa yang tidak selektif terhadap kebutuhan rhizobium (Sahupala, 2007).

2.2.

Pupuk dan Pemupukan

45

Pupuk merupakan bahan yang memberikan zat hara terhadap tanaman. Pupuk biasanya diberikan pada tanah, tetapi dapat juga diberikan melalui daun atau batang sebagai larutan. Karbondioksida yang diberikan ke udara dalam rumah kaca dapat juga dipandang sebagai pupuk (Harjadi, 2002). Pupuk adalah bahan yang diberikan ke dalam tanah baik organik maupun anorganik bertujuan untuk mengganti kehilangan unsur hara dari dalam tanah dan bertujuan untuk meningkatkan produksi tanaman dalam keadaan faktor keliling atau lingkungan yang baik (Sutejo, 1999). Peningkatan produksi tanaman yang rendah terjadi pada awal minggu, setelah muncul daun peningkatannya menjadi sangat cepat. Kecepatan tumbuh itupun terjadi dikarenakan tanaman mulai dapat menerima dengan baik pupuk yang telah diberikan, mulai dapat melakukan proses

fotosintesis, pemanfaatan keadaan lingkungan yang amat menguntungkan (seperti persediaan air, udara, suhu dan kelembaban) (Adhi et. al., 1997). Berdasarkan pembuatannya, pupuk dibagi menjadi pupuk alam (organik) dan pupuk buatan. Pupuk organic merupakan pupuk yang tidak diproduksi di pabrik, pupuk ini memiliki ciri khas yaitu kelarutan unsur haranya yang rendah di dalam tanah, berfungsi untuk memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah. Contoh pupuk organik adalah pupuk kandang, pupuk hijau, dan kompos. Pupuk buatan sendiri yaitu pupuk yang diproduksi di pabrik, umumnya unsur hara yang terkandung dan kelarutannya tinggi, berfungsi untuk memperbaiki sifat kimia tanah. Contoh beberapa pupuk anorganik yaitu urea, TSP, DAP, dan lain-lain (Sutejo, 1999). Pupuk organik merupakan bahan pembenah tanah yang paling baik dan alami daripada bahan pembenah buatan/sintesis. Pupuk organik

46

mengandung hara makro N, P, K rendah, tetapi mengandung hara mikro dalam jumlah cukup yang sangat diperlukan pertumbuhan tanaman (Sutanto, 2002). Pemupukan merupakan suatu kegiatan pemberian bahan-bahan atau zatzat kepada kompleks tanah dan tanaman untuk melengkapikeadaan makanan, unsur hara dalam tanah yang tidak cukup terkandung di dalamnya (Sutejo, 1999). Pemupukan adalah proses penambahan zat hara pada tanaman yang memiliki tujuan untuk peningkatkan jumlah dari produksi tanaman dalam pertumbuhan batang dan pertambahan jumlah daun. Pertambahan jumlah daun tiap anakan bervariasi banyaknya, dimana pada awal munculnya tunas, jumlah daun masih sedikit. Bertambah panjangnya tunas maka bertambah jumlah daun yang muncul dan diikuti oleh semakin panjang dan lebar ukuran daun tersebut. Pertambahan jumlah daun ini seiring dengan bertambahnya jumlah tunas (Harjadi, 2002). Pertambahan jumlah daun juga dipengaruhi oleh adanya perawatan yang baik terhadap lahan tanaman rumput gajah itu sendiri selain itu juga karena keadaan lingkungan yang menguntungkan, dimana persediaan air, udara, unsur hara mencukupi serta suhu dan kelembaban yang baik (Sutrasno et. al., 2009). Pemupukan memiliki tujuan untuk mecegah segala pengaruh tidak langsung terhadap keadaan dan susunan tanah, tanaman, dan juga manusia sebagai pemakai hasil tanaman (Sutejo, 1999). Tanah yang telah mengalami pemupukan umumya memiliki struktur yang baik, kecukupan unsur hara, dan kemampuan mengikat air lebih besar (Sutanto, 2002).

2.3.

Teknik Budidaya Tanaman

47

Teknik budidaya tanaman dibagi menjadi 5 jenis yaitu reproduksi, pembiakan dengan biji pembiakan secara vegetatif, sertifikat benih dan bibit tanaman, dan penanaman benih (Sutanto, 2002). Langkah-langkah budidaya tanaman untuk mendapatkan produksi maksimal dapat dilakukan dengan cara menanam bibit unggul tanaman, tanam dengan jarak teratur atau tandur jajar, dilakukan sistem pengairan yang baik, gunakan pupuk yang sesuai dan tepat, dan berantas hama penyakit dengan baik (Harjadi, 2002). Penanaman pada umumnya terdiri dari tiga macam, yaitu penanaman di dalam jalur apabila bahan tanam yang dipakai berupa stek, penanaman dalam lubang apabila bahan tanam yang digunakan biji (larikan) dan penanaman secara disebar apabila bahan tanam yang dipakai biji dan untuk daerah yang luas (Sholicha, 2009). Penanaman biji dengan cara larikan biasanya dilakukan pada suatu areal yang sempit dan tenaga cukup. Keuntungan penanaman dengan larikan yaitu untuk mempermudah penanaman karena sebelumnya sudah dilarik, hasilnya lebih baik dan produktif daripada yang disebar. Penanaman biji dengan cara disebar yang biasanya dilakukan pada suatu areal yang luas dengan tenaga yang terbatas, atau pada tanah miring dimana kemungkinan terjadi erosi lebih besar (Maryani dan Irfandri, 2008). Tanaman kalopo adalah tanaman tahunan yang menjalar dan beradaptasi di tanah basah. Kalopo dapat di tanam bersama-sama rumput chloris dan melinis (Harjadi, 2002). Penyiraman bertujuan menambah air dalam tanah untuk pertumbuhan tanaman, mencegah tanaman dari kekeringan tanaman dalam waktu singkat, mengatur temperatur tanah sehingga sesuai dengan keperluan tanaman

48

(Ali et. al., 2008). Kegunaan lain yaitu ntuk membersihkan garam-garam, racun yang berbahaya dalam tanah untuk tanaman, meninggikan tanaman, melunakkan lapisan tanah, meratakan permukaan tanah dan sebagai pelarut zat-zat makanan.

49

BAB III MATERI DAN METODE Praktikum Ilmu Tanaman Pakan dengan acara Pengelolaan Hijauan Pakan dilaksanakan pada hari Senin, 31 Mei 2012 sampai dengan hari Kamis 17 Juni 2012 pukul 16.00-18.00 WIB di Ladang Penggembalaan Laboratorium Ilmu Tanamaan Pakan Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang. 3.1. Materi Materi yang digunakan dalam praktikum pengelolaan hijauan pakan di lahan adalah bibit Calopogonium mucunoides sebanyak 144 biji, pupuk urea sebanyak 70 gram, pupuk TSP 125 gram dan KCL 90 gram sesuai dosis masing-masing tanaman. Alat yang digunakan adalah cangkul untuk mengolah lahan, sabit untuk membersihkan tanaman gulma, gunting untuk memotong tanaman, tali rafia sebagai pembatas lahan, kantong sampel untuk wadah sampel, meteran untuk mengukur panjang tanaman, amplop ukuran sedang sebagai tempat menampung bahan kering tanaman dan oven untuk mengeringkan rumput. 3.2. Metode Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah menyiapkan lahan dengan cara membersihkan lahan dari tanaman gulma, mencangkul dan menyiramnya. Lahan yang telah disiapkan digunakan untuk menanam legum kalopo, masing-masing dengan ukuran 50cm x 25cm. Mengambil kalopo dan menanamnya pada lahan yang telah dipersiapkan yang telah disiram terlebih

50

dahulu. Penanaman bibit kalopo dilakukan dengan setiap lubang tanah sebanyak satu bibit dengan jarak tanam 50cm x 25cm. Melakukan pemupukan disekitar bibit kalopo dengan pupuk urea 1/3 dosis, TSP dan KCL. Kemudian menutupnya dengan tanah. Selanjutnya menyiram setiap hari, pagi dan sore serta mengamati pertumbuhan pada tanaman tersebut. Satu minggu kemudian memupuk dengan cara yang sama saat pemupukan dengan menggunakan pupuk urea 1/3 dosis, TSP dan KCL serta menyiram lagi. Menyiram tanaman tetap dilakukan setiap hari, pagi dan sore serta tetap melakukan pengamatan dan mencatat pertumbuhan rumput gajah, meliputi tinggi tanaman, jumlah tunas, jumlah daun setiap minggunya.

51

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pertumbuhan Legum

4.1.1. Jumlah daun Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada praktikum pengolahan lahan didapatkan data sebagai berikut : Grafik 1. Jumlah Daun Legum Kalopo

Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Tanaman Pakan, 2012 Berdasarkan pengamatan yang dilakukan bahwa jumlah legum pada

tanaman kalopo setiap minggunya berbeda beda. Jumlah daun tersebut mengalami suatu peningkatan, hal ini disebabkan karena pemberian pupuk yang mengandung sesuai dengan dosis. Selain itu dipengaruhi oleh penyiraman yang teratur serta penyiangan rumput. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutanto (2000) bahwa rumput tropis lebih peka terhadap pemupukan unsur N. Pemupukan yang optimal harus diketahui unsur hara dalam tanah, pH tanah, tekstur tanah dan sifat tanah. Pemupukan dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya disebar rata di permukaan tanah pada ladang penggembalaan, ditanam dalam baris baris,

52

kemudian di timbun tanah lalu dibenam dalam lubang lubang di sekitar tanaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutanto (2002) yang menyatakan bahwa pupuk mengandung unsur unsur utama diantaranya N (nitrogen) merupakan bahan organik yang selalu dibutuhkan oleh semua makluk hidup. Tanaman yang cukup mengandung N berdaun lebar dan berwarna hijau tua, fotosintesis berjalan baik, maka N merupakan faktor penting untuk produktivitas tanaman. 4.1.2. Jumlah Anakan Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada praktikum pengolahan lahan didapatkan data sebgai berikut : Grafik 2. Jumlah Anakan Legum Kalopo

Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Tanaman Pakan, 2012. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan diperoleh bahwa jumlah anakan pada tanaman kalopo saat awal pertumbuahan jumlah anakannya statis lalu mengalami peningkatan anakan. Jumlah anakan merupakan awal dari fase pertumbuahan. Peningkatan jumlah anakan dikarenakan tercukupinya unsu hara yang terdapat di dalam tanah dan banyaknya intensitas matahari yang diterima

53

oleh tanaman dan frekuensi penyiraman. Hal ini sesuai pendapat Harjadi (2002) yang menyatakan bahwa fase pertumbuhan berjalan jika tumbuh anakan. Hal ini ditambahkan menurut Sutrasno et al., (2009) bahwa menambahkan bahwa sinar matahari yang semakin baik diterima dan jumlah air yang dikandungnya cukup maka akan menimbulkan pertumbuhan daun yang cukup baik, sebaliknya dengan penyinaran dan penyiraman yang kurang baik maka aktivitas petumbuhan daun juga mengalami perlambatan. 4.1.3. Tinggi Tanaman Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada praktikum pengolahan lahan didapatkan data sebgai berikut : Tabel 3. Tinggi Tanaman Kalopo

Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Tanaman Pakan, 2012. Berdasarkan data tabel pengukuran tinggi tanaman legum kalopo dapat diketahui bahwa pertumbuhan tinggi tanaman kalopo untuk setiap tanaman berbeda-beda. Hal ini mungkin disebabkan oleh kedalaman penanaman pols tanaman kalopo. Harjadi (1993), menyatakan bahwa faktor yang menentukan

54

pada saat penanaman adalah ketersediaan air. Beberapa faktor seperti pengolahan lahan, penanaman, pemupukan, pengairan dan penyiraman juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Pertumbuhan tanaman juga sangat dipengeruhi oleh nutrisi yang didapat oleh tanaman, seperti unsur hara pada tanah dan pemberian pupuk. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutejo (1999) yang menyatakan bahwa pupuk adalah bahan yang diberikan kepada tanah dengan maksud untuk memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia, dan sifat biologi tanah.

4.2.

Produksi Bahan Kering Berdasarkan penghitungan produksi bahan kering kalopo didapatkan

persentase bahan kering kalopo adalah sebesar 25,53%. Kadar air yang terdapat pada legum kalopo adalah sebesar 74,47%. Hal ini tidak sesuai dengan

pernyataan Rahmat (2005) yang menyatakan bahwa produksi baha kering kalopo hanya mencapai 13,55%. Produksi bahan kering sangat berpengaruh pada beberapa sebab, salah satunya yaitu keadaan tanah pada saat penanaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Purwanto (2007) yang menyatakan bahwa keadaan tanah sangat berpengaruh nyata terhadap berat gabah kering dan berat jerami kering.

55

BAB V KESIMPULAN Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh faktor pengolahan lahan, karena pengolahan lahan sangat berpengaruh pada kualitas dan produktivitas bahan pakan. Pada proses pengolahan lahan dilakukan pula penambahan pupuk yang digunakan agar didapatkan hasil tanaman yang baik dan subur, bahkan ada juga tanaman yang tidak tumbuh dengan baik yang mungkin terjadi akibat kesalahan pada saat proses penempatan benih kedalam tanah, kekurangan pasokan air dalam tanah, adanya rumput liar yang dapat mengambil nutrisi nutrisi penting dalam tanah dan pemupukan yang terlalu berlebih.

56

DAFTAR PUSTAKA Adhi, W., Ratmini, S., dan Swastika, W. 1997. Pengolahan Tanah dan Air di Pasang Surut. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bandung. Ali, M., Yakub dan Sabaruddin. 2008. Produksi dan Kandungan Mineral Puerararia phaseoloides dengan Tingkat Naungan dan Inokulasi Mikoriza Berbeda. Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Palembang. Harjadi, SS. 2002. Pengantar Agronomi. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Hutasoid, R., Sirait, J., dan Ginting, P. 2009. Budidaya dan Pemanfaatan Bachaiaria ruziziensis (Rumput Ruzi) sebagai Hijauan Pakan Kambing. Pusat Penelitian dan Pengembangan Penelitian, Bogor. Maryani, Anis., dan Irfandi. 2008. Pengaruh Skarifikasi dan Pemberian Giberellin Terhadap Perkecambahan Benih Tanaman Aren. SAGU, Maret 2008 Vol 7. No. 1:1-6 Purwanto, Iman. 2007. Teknologi Benih. Fakultas Pertanian Universitas Pattimura, Maluku Utara. Purwanto, Iman. 2007. Mengenal Lebih Dekat Leguminoseae. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Rukmana, Rahmat. 2005. Budi Daya Rumput Unggul. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Sholicha, F. R. 2009. Pengaruh Skarifikasi Suhu dan Lama Perendaman dalam Air Terhadap Perkecambahan Biji Kedawung (Parkia timoriyana (DC) Merr). Jurusan Biologi Fakkultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Malang, Malang. Sutanto, R. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Kanisius, Yogyakarta. Sutejo, MM. 1999. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta, Jakarta. Sutrasno, B., Siswanto, E., Sudiyono., dan Budiarto, E. 2009. Budidaya dan Pengembangan Desmodium DI BBPTU Sapi Perah Baturraden. BBPTU Sapi Perah Batu Raden, Purwokerto.

57

LAMPIRAN Lampiran 1 . Tabel Pertumbuhan Rata-rata Tinggi Tanaman Kalopo Tabel 1. Pertumbuhan Rata-rata Tinggi Tanaman Kalopo Minggu ke-1 Minggu ke-2 Minggu ke-3 Minggu ke-4 Minggu ke-5Minggu ke- 6 No JD JA TT JD JA TT JD JA TT JD JA TT JD JA TT JD JA TT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 3 6 3 6 6 6 6 3 6 3 3 1 2 1 2 2 2 2 1 2 1 1 1 1 2 2 1 1 1 2 2 0,5 6 2 9 3 9 3 9 3 12 4 9 3 9 3 9 3 6 2 9 3 5 6 5,5 4 3,5 3 4 4 5 4,5 4,5 12 15 15 18 15 18 15 15 15 12 15 4 5 5 5 6 5 5 5 4 5 7,5 15 10 12 11 12 11 10 13 12 11 18 21 18 21 21 18 18 15 18 5 6 7 7 6 7 7 6 6 5 6 6 10 21 15 24 16 27 17 27 14 24 16 27 15 27 14 24 16 24 17 24 16 24 15 24 7 8 9 9 8 9 9 8 8 8 8 8 15 17 19 20 18 19 17 17 18 20 18 18

1,5 12 4

6 12,5 21

12 - - - 3 1 2 9 3 3 15 5 9,5 18 Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Tanaman Pakan, 2012. Keterangan : JD: Jumlah Daun JA: Jumlah Anakan TT: Tinggi Tanaman Lampiran 2. Penghitungan Bahan Kering % BK = = = 25,53 % % Air (KA) = 100% - % BK = 100% - 25,53% = 74,47% x 100%