Anda di halaman 1dari 14

1

Teknik Fading Mitigation


Pendahuluan
Fading secara definitif adalah penurunan dan fluktuasi daya di penerima.
Fading menyebabkan suatu kondisi dimana sinyal diterima terlalu jelek
untuk dilakukan pemrosesan sinyal selanjutnya yaitu demodulasi.
Terdapat 2 masalah akibat fading:
1. Penurunan Sinyal
2. Fluktuasi sinyal
Dari bab sebelumnya:
1. Large Scale Fading
2. Small Scale fading

- Large Scale fading erat kaitannya dengan prediksi pathloss diestimasi dari
analisis redaman propagasi dan fluktuasinya diantisipasi dengan fading
margin.
- Fading margin dilakukan dengan cara daya pemancar ditingkatkan agar
jika terjadi fading sekurang-kurangnya level daya terima masih di atas
thresholdnya
- Small scale fading disebabkan oleh keadaan kanal propagasi yang bersifat
dispersif, dan perubahan sifatnya terhadap waktu karena pergeseran
user.
- Small scale fading umumnya diatasi dari subsystem standar yang
bersangkutan, artinya standar system komunikasi bergerak umumnya
sudah dilengkapi dengan berbagai subsistem komunikasi untuk
mengantisipasi keadaan propagasi dimana system itu diimplementasikan
(fixed atau mobile, makrosel atau mikrosel)

Penyebab fading:
1. Ketergantungan kuat sinyal terhadap jarak menyebabkan penurunan
sinyal (Large scale path loss) analisis MS pada satu titik lokasi diam
2. Delay spread menyebabkan variasi sinyal dalam domain frekuensi
3. Pergerakan user menyebabkan variasi sinyal dalam domain waktu
2

Fading Mechanisms
Time dispersion
- Variasi waktu kanal disebabkan pergerakan antena
- Perubahan kanal setiap setengah panjang gelombang
- Pergerakan antena menyebabkan Doppler spread
- Fast fading memerlukan durasi paket yang pendek, atau laju bit yang
tinggi
- Dispersi waktu mensyaratkan synchronization dan kecepatan
konvergensi estimasi kanal
- Interleaving dapat membantu menghindarkan burst errors

Frequency dispersion
- Tundaan/Delay akibat pemantulan menyebabkan intersymbol
interference (ISI)
- Channel Equalization mungkin diperlukan.
- Frequency selective fading
- Multipath delay spreads memerlukan waktu simbol yang panjang
- Frequency diversity atau spread spectrum bisa membantu

RSL Fluctuation
- Shadowing, obstruction, etc

Teknik-teknik yang biasa digunakan untuk mengatasi efek fading tanpa
meningkatkan TX Power dan BW: diversity, channel encoding, dan
equalization.
Fading margin dan Power control digunakan untuk mempertahankan
penerimaan sinyal yang baik pada Receiver.

DIVERSITY
Diversitas merupakan teknik mengatasi multipath fading dengan
menggunakan dua atau lebih sinyal yang secara statistik independen
antara satu dengan lainnya. Jika satu jalur mengalami fading, jalur
lainnya mungkin mempunyai sinyal yang kuat.
3

Biasanya dimanfaatkan untuk mengurangi kedalaman dan durasi
fading yang dialami oleh receiver pada kanal flat fading.
Tipe-tipe diversity: spatial (space), frequency, time, dan polarization
Frequency diversity Doppler spread tergantung pada frekuensi
carrier, frekuensi yang berbeda akan menyebabkan efek Doppler yang
berbeda frekuensi berbeda dapat menghasilkan proses fading yang
independen yang dapat digabung secara koheren
Time diversity multipath fading adalah time variant, fading pada
waktu yang berbeda adalah independen yang dapat juga secara
koheren digabung
Space diversity multipath fading independen pada lokasi yang
berbeda sehingga dapat digabung secara koheren

SPACE DIVERSITY
Menggunakan dua atau lebih antena pada Rx
Kemungkinannya, jika satu antena mendapat null signal, antena yang
lain menerima peak signals.
Sinyal yang diterima digabungkan dan diproses dengan algoritma
tertentu untuk mendapatkan sinyal terima terbaik
Dapat diimplementasikan pada BS dan MS receiver
Algoritma penggabung : Selective/selection diversity, feedback
diversity, Equal gain combining, Maximal ratio combining.
Spatial diversity dapat memperbaiki SNR pada Rx sebesar 20 dB
sampai 30 dB.

4



Teknik Penggabung: Selective Combining



Pertimbangkan M kanal fading Rayleigh yang independen. Setiap kanal
disebut cabang diversitas. Asumsi setiap cabang mempunyai SNR rata-rata
yang sama, diberikan oleh:



Jika setiap cabang mempunyai SNR sesaat SNR =
i
, PDF dari
i


1
2
2
=
= I =
o
o
asumsi
N
E
SNR
o
b
( ) 0
1
>
I
=
I

i i
i
e p

5

dengan I adalah SNR rata-rata setiap cabang.

Probabilitas bahwa setiap cabang tunggal mempunyai SNR sesaat kurang
dari suatu ambang adalah



Probabilitas bahwa semua M cabang diversitas yang independent menerima
sinyal secara simultan kurang dari suatu SNR ambang adalah



dengan P
M
adalah probabilitas semua cabang gagal mencapai SNR sesaat = .

Jika cabang tunggal mencapai SNR > , maka probabilitas bahwa SNR >
untuk satu atau lebih cabang diberikan oleh:



Untuk menentukan SNR rata-rata sinyal terima bila diversitas digunakan,
pertama harus ditentukan dulu pdf dari sinyal fading. Untuk selection
diversity, SNR rata-rata ditentukan dengan menghitung turunan CDF P
M
()
untuk mendapatkan PDF , SNR sesaat bila M cabang digunakan



SNR rata-rata, dinyatakan dengan



dimana x = /I merupakan rata-rata SNR untuk cabang tunggal (tanpa
diversitas)

Perbaikan SNR rata-rata yang ditawarkan oleh selection diversity :
| | ( )
I

=
I
= = s
} }

e d e d p P
i i i i r
i
1
1
0 0
| | ( ) ( )

M
M
M r
P e P = = s
I /
1
1 ,....,
| | ( ) ( )
M
M i r
e P P
I
= = >
/
1 1 1


( ) ( ) ( )
I

I
= =
/
1
/
1

e e
M
P
d
d
p
M
M M
( ) ( ) dx e e Mx d p
x
M
x
M

} }
I = =
0
1
0
1
6




Probability of Error Selective Combining
Rx hanya memilih satu satu sinyal terkuat untuk dideteksi.
Jika SNR rata-rata sinyal pada sebuah cabang = G, dan threshold SNR =
g, maka probabilitas bahwa M cabang sinyal yang diterima antenna
akan berada di bawah threshold adalah:
P(
i
< ) = P
M
() = (1 - e
- / I
)
M

Probabilitas bahwa SNR sinyal terima di atas threshold :
P(
i
> ) = 1 - P
M
() = 1- (1 - e
- / I
)
M


Contoh:
4 antenna diversity is used. If average SNR is 20 dB, determine the
probability that SNR will drop below 10 dB (bad reception), and also that
good reception (SNR above 10 dB) will mostly take place. Compare with
single antenna receiver!
Answer:
Threshold SNR = = 10 dB, I= 20 dB, /I = 0.1
P
4
(
i
< 10 dB) = (1 e
-0.1
)
4
= 0.000082, and
P
4
(
i
> 10 dB) = 1- (1 e
-0.1
)
4
= 0.999918 or 99.9918%
With single antenna:
P

(
i
< 10 dB) = (1 e
-0.1
) = 0.095, and
P

(
i
> 10 dB) = 1- (1 e
-0.1
) = 0.905 or 90.5%

Teknik Penggabung : Feedback/Scanning Diversity
Scanning diversity sangat serupa dengan selection diversity kecuali bahwa
bukan menggunakan sinyal M terbaik tetapi M sinyal dipindai (scanning)
pada urutan yang tetap sampai didapatkan sinyal yang berada di atas
predetermined threshold.
Sinyal lalu diterima sampai jatuh di bawah threshold, dan kemudian proses
pemindaian dimulai lagi.
Metode yang paling sederhana, tetapi kinerjanya inferior terhadap metode
lain

=
=
I
M
k
k
1
1
7



Teknik Penggabung : Maximal Ratio Combining

Sinyal dari semua M cabang diberi bobot sesuai SNR masing-masing,
disamakan fasenya kemudian dijumlahkan
Memberikan peningkatan SNR terbaik dengan kompleksitas perangkat
paling tinggi dibandingkan teknik penggabung yang lain
Pada Maximal Ratio Combining, sinyal tegangan r
i
dari setiap cabang
dari M cabang diversity disamakan fasenya untuk mendapatkan
penambahan tegangan koheren dan masing-masing diberi bobot agar
didapatkan SNR optimal. Jika setiap cabang mempunyai Gain G
i
,
kemudian selubung sinyal yang dihasilkan yang merupakan masukan
detector adalah


Asumsi setiap cabang mempunyai daya derau rata-rata sama yaitu N,
daya derau total N
T
yang masuk ke detektor:



yang menghasilkan SNR masukan ke detector
M
, diberikan oleh:


Dengan Chebychevs inequality,
M
maksimal bila G
i
=r
i
/N
i
M
i
i M
r G r

=
=
1

=
=
M
i
i T
G N N
1
2
T
M
M
N
r
2
2
=
8







Jadi SNR keluaran merupakan penjumlahan SNR setiap cabang
Sedangkan SNR rata-rata:



Probabilitas bahwa
M
kurang dari SNR ambang adalah




Teknik Penggabung : Equal Gain Combining
Jika pembobot setiap cabang diset unity dan disamakan fasenya (co-
phased), maximal ratio combining menjadi equal gain combining
(EGC)
Kompleksitasnya lebih rendah daripada MRC dengan kinerja sedikit di
bawah MRC.
Tanpa adanya adaptasi setiap bobot pada setiap cabang,
memungkinkan Rx memanfaatkan sinyal yang diterima secara
simultan.









= =
= =
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
M
i
i
M
i
i
i
i
M
N
r
N
r
N
N
r
1 1
2
2
2
2
2
2
1
2
1

I = I = =

= =
M
M
i
M
i
i M
1 1

( )

=

I
= s
M
k
k
M
k
e
1
1
/
)! 1 (
) / (
1



r P
9

CDMA RAKE Receiver


Pada CDMA chip rate-nya jauh lebih besar daripada coherence BW, delay
spread hanya menyediakan sinyal-sinyal versi tertunda jalur jamak pada Rx.
RAKE receiver mengumpulkan multipath signals, diproses dengan correlator
receiver terpisah danmenggabungkan sinyal untuk mendapatkan deteksi
yang lebiih baik
Pada sistem CDMA, chip rate lebih besar daripada bandwidth flat
fading dari kanal. Jika pada teknik modulasi lain (selain spread
spectrum modulation), pengaruh ISI dihilangkan dengan equalizer.
Sedangkan pada CDMA, delay spread yang melebihi durasi chip
dianggap sebagai derau yang tidak berkorelasi dengan penerima
CDMA, sehingga equalizer tidak diperlukan
RAKE receiver pada CDMA menggabungkan versi sinyal tertunda
waktunya untuk memperbaiki SNR menggunakan correlation receiver
yang terpisah untuk setiap sinyal multipath
Setiap correlation receiver dapat di-adjust sehingga microprocessor
controller dapat membuat correlation receiver yang berbeda mencari
window waktu yang berbeda untuk multipath yang signifikan. Range
delay waktu yang dapat dicari disebut search window
Correlator RAKE receiver mendeteksi sejumlah M komponen
multipath yang terkuat, kemudian keluarannya diberi bobot untuk
estimasi yang lebih baik. Demodulasi dan deteksi bit didasarkan pada
keluaran M correlator
Asumsi M correlator digunakan pada receiver CDMA untuk
menangkap M komponen multipath terkuat
Correlator 1 disinkronkan dengan m
1

10

Komponen m
2
datang dengan delay t
1
yang lebih besar daripada
datangnya m
1
yang diasumsikan melebihi durasi chip
Correlator 2 disinkronkan dengan m
2
, korelasi dengan m
2
tinggi
sementara korelasi dengan m
1
rendah
Dari gambar, keluaran M output dinyatakan sebagai Z
1
, Z
2
, dan Z
M
,
diberi bobot . Koefisien pembobot didasarkan pada daya atau SNR
setiap keluaran correlator
Keseluruhan sinyal Z



Koefisien pembobot dinormalisasi ke daya sinyal keluaran correlator
sehingga penjumlahan koefisien sama dengan satu




Pada lingkungan outdoor, delay multipath besar melebihi durasi chip,
sehingga sifat autocorrelation yang rendah pada deretan kode CDMA
menjamin komponen multipath tidak saling berkorelasi
Pada IS-95 lingkungan indoor, multipath delay spread rendah (=100
ns), sedangkan durasi chip IS-95 adalah 800 ns, sehingga RAKE
receiver tidak dapat bekerja dengan baik

FREQUENCY DIVERSITY
Menggunakan dua tau lebih carrier frequency untuk transmisi dengan
spasi sekitar 2 5 % f
o
.
Diperlukan dua atau lebih Transmitter dan Receiver
Improvement factor :

=
=
M
m
m m
Z Z
1
' o

=
=
M
m
m
m
m
Z
Z
1
2
2
o
11















TIME DIVERSITY
Interleaving
Interleaving merupakan bentuk diversitas waktu pada sistem
komunikasi digital tanpa penambahan overhead
Interleaver scramble (mengacak) urutan waktu pengiriman bit-bit
informasi, supaya ketika terjadi burst error pada kanal, pada
penerima, setelah di-deinterleaving, burst error menjadi random error
yang lebih mudah dikoreksi oleh error control coding
Dua bentuk interleaver : block interleaver dan convolutional
interleaver
Block interleaver memformat data-data terkode menjadi array m baris
x n kolom
Bit-bit data diurutkan dalam kolom per kolom, kemudian
dibaca/keluarannya dengan urutan baris per baris, sehingga bit-bit
data asal terpisah sejauh m periode bit
Terjadi delay pada penerima karena decoding data harus menunggu
proses deinterleaving, delay yang terjadi untuk human speech tidak
boleh > 40 ms
TX
TX
RX
RX
RF
Branching
Network
Combiner
F2
F3
F4
F1
TX
TX
RX
RX
RF
Branching
Network
Combiner
F2
F3
F4
F1
12



CHANNELL EQUALIZER
Equalization mengkompensasi intersymbol interference (ISI) yang
ditimbulkan oleh multipath dalam time dispersive channel. Jika BW
modulasi melebihi coherence bandwidth kanal radio, terjadi ISI dan
pulsa-pulsa modulasi menyebar (dalam waktu) ke simbol
sesudahnya/sebelahnya.
Equalizer pada receiver mengkompensasi average range of expected
channel amplitude and delay characteristics.
Channel equalizer digunakan untuk mengkompensasi ISI.
Karena kanal multipath fading umumnya bersifat tak diketahui
dinamis dan time varying, equalizer harus bersifat adaptif

1 m+1
2 m+2

m 2m nm
13




Linear:
Transversal filter (Zero forcing, LMS(Least Mean Square, RLS
(Recursive Least Square), fast RLS, Sq. root RLS)
Lattice Filter (Gradient RLS)
Non Linear:
DFE, Decision Feedback Eq (LMS, RLS, Fast RLS, Sq. root RLS)
Maximum Likelihood Symbol Detection
MLSE (Maximum Likelihood Sequence Estimation)

CHANNEL ENCODING
Channel encoding dilakukan dengan mengkodekan/menyandikan data
menjadi bentuk khusus dan menambahkan redundancies pada data yang
ditransmisikan.
Melindungi data/information dari error dan distorsi yang disebabkan
kanal.
Bit-bit redundan meningkatkan data rate dan bandwidth, tetapi
memperbaiki kinerja BER terutama pada kanal fading.
Mengurangi efisiensi link pada kondisi SNR tinggi, tetapi menyediakan
kinerja yang bagus pada kondisi SNR yang rendah
Block Code dan Convolutional code
14

Fading Margin
Fading margin tergantung pada target availability of the
link/coverage.
Availability yang tinggi memerlukan fading margin yang besar
Jika fading margin FM dipergunakan pada link, maka probabilitas
bahwa RSL pada receiver dengan jarak R, di atas threshold adalah




Fading margin memperbaiki penerimaan sinyal sehingga memperbaiki
kinerja link, tetapi dengan tambahan peningkatan daya pancar


Erf(z)= 1- 2Q[\2(z)]

Kuat sinyal (dB) setelah
ditambah fading margin (FM)
t
Theshold FM
( )
|
|
.
|

\
|
o
= = > =
}

2
FM
erf
2
1
2
1
dm ) m ( p ) Th m ( P R P
m Th
Th