Anda di halaman 1dari 6

Hak-Hak Penguasaan atas Tanah Dalam Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA)

1.

Hak Bangsa Indonesia yang disebut dalam Pasal 1 UUPA sebagai hak penguasaan yang tertinggi, beraspek perdata dan publik

2. 3.

Hak Menguasai dari Negara yang disebut dalam pasal 2, semata-mata beraspek publik Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat yang disebut dalam Pasal 3, beraspek perdata dan publik

4.

Hak-hak Perseorangan/Individual, semuanya beraspek perdata terdiri atas a. Hak-hak atas tanah sebagai hak-hak individual yang diatur dalam Pasal 16 UUPA b. Wakaf, Hak milik yang sudah diwakafkan dalam Pasal 49 c. Hak Jaminan atas Tanah yang disebut Hak Tanggungan dalam Pasal 25,33,39, dan 51 UUPA

Hak-hak atas tanah menurut Pasal 16 UUPA terdiri dari

1.

Hak Milik (Pasal 20) Hak milik adalah hak turun temurun, terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai oleh orang atas tanah, dengan mengingat ketentuan pasal 6 UUPA bahwa semua hak tanah memiliki fungsi sosial Istilah turun temurun artinya bahwa pemegang hak milik dapat mewariskannya kepada generasi penerusnya atau kepada orang yang dikehendakinya. Terkuat artinya bahwa hak milik adalah paling kuat diantara hak-hak lainnya, seperti Hak Guna Usaha ataupun Hak Guna Bangunan. Karena hak milik dapat dipunyai tanpa batas waktu dengan syarat hak tersebut belum dialihkan. Terpenuh artinya bahwa pemegang hak milik itu dapat berbuat apa saja terhadap haknya dengan syarat tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Hak milik dapat beralih dan dialihkan kepada pihak lain

Subjek Hukum dari Hak Milik (Pasal 21) - Warga Negara Indonesia; - Badan-badan hukum yaitu Bank yang didirikan oleh negara, Perkumpulan Koperasi Pertanian, Badan-badan keagamaan dan Badan-badan sosial (PP No. 38 Tahun 1963)

Terjadinya Hak Milik (Pasal 22) - Dengan dialihkannya hak, contohnya jual beli atau beralihnya hak contohnya pewarisan - Dengan ketentuan menurut hukum adat (hak milik yang berkaitan dengan hak ulayat) - Penetapan pemerintah yaitu dengan mengajukan Permohonan Hak Milik kepada pemerintah

- Ketentuan undang-undang yang artinya undang-undang menentukan konversi hak atas tanah tertentu menjadi hak milik

Hak milik dapat dijadikan jaminan utang dengan dibebani hak tanggungan (Pasal 25)

Hapusnya Hak Milik (Pasal 27 UUPA) - Tanahnya jatuh kepada Negara: Karena pencabutan hak berdasarkan Pasal 18 Karena penyeraham dengan sukarela oleh pemiliknya Karena ditelantarkan Karena ketentuan pasal 21 ayat 3 dan 26 ayat 2 (kepemilikan hak tanah oleh Warga Negara Asing ) - Tanahnya musnah

2.

Hak Guna Usaha (Pasal 28) Hak Guna Usaha adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh negara dalam jangka waktu tertentu guna perusahaan pertanian, perikanan atau perternakan

Luas tanah yang diberikan paling sedikit 5 hektar dengan ketentuan bahwa jika luasnya 25 hektar atau lebih harus memakai investasi modal yang layak dan teknik perusahaan yang baik, sesuai dengan perkembangan zaman.

Hak Guna Usaha dapat beralih dan dialihakn kepada pihak lain

Jangka waktu (Pasal 29) Diberikan paling lama 25 tahun hingga 35 tahun menurut jenis usanyanya dan dapat diperpanjang dengan waktu paling lama 25 tahun lagi apabila diperlukan.

Subjek Hukum dari Hak Guna Usaha (Pasal 30) Warganegara Indonesia Badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia

Terjadinya Hak Guna Usaha adalah karena Penetapan Pemerintah (Pasal 31)

Hak Guna Usaha dapat dijadikan jaminan utang dengan dibebani hak tanggungan (Pasal 33) Hapusnya Hak Guna Usaha (Pasal 34) Jangka waktunya berakhir Dihentikan sebelum jangka waktunya berakhir karena sesuatu syarat tidak dipenuhi Dilepaskan pemegang haknya sebelum jangka waktunya berakhir Dicabut untuk kepentingan umum Diterlantarkan

Tanahnya musnah Ketentuan Pasal 30 ayat (2)

3.

Hak Guna Bangunan (Pasal 35) Hak Guna Bangunan adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan-bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri. Hak Guna Bangunan dapat beralih dan dialihkan kepada orang lain.

Jangka waktu (Pasal 35) Diberikan paling lama 30 tahun dan dapat diperpanjang dengan waktu paling lama 20 tahun.

Subjek dari Hak Guna Bangunan (Pasal 36) Warganegara Indonesia Badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia

Hapusnya Hak Guna Bangunan (Pasal 40) 4. Jangka waktunya berakhir Dihentikan sebelum jangka waktunya berakhir karena sesuatu syarat tidakdipenuhi Dilepaskan oleh pemegang haknya sebelum jangka waktunya berakhir Dicabut untuk kepentingan umum Ditelantarkan Tanahnya musnah Ketentuan dalam Pasal 36 ayat (2)

Hak Pakai (Pasal 41) Hak pakai adalah hak untuk menggunakan dan/atau memungut hasil dan tanah yang dikuasai langsung oleh Negara atau tanah milik orang lain, yang memberi wewenang dan kewajiban yang ditentukan dalam keputusan pemberiannya oleh pejabat yang berwenang memberikannya atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya, yang bukan perjanjian sewa-menyewa atau perjanjian pengolahan tanah, segala sesuatu asal tidak bertentangan dengan dengan jiwa dan ketentuan undang-undang ini

Subjek Hak Pakai (Pasal 42) - Warga Negara Indonesia - Orang asing yang berkedudukan di Indonesia - Badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia - Badan hukum asing yang mempunyai perwakilan di Indonesia

5.

Hak Sewa untuk Bangunan (Pasal 44) Hak sewa adalah hak seseorang atau suatu badan hukum untuk menggunakan tanah milik orang lain untuk keperluan bangunan dengan membayar kepada pemiliknya sejumlah uang sewa

Subjek Hak Sewa untuk Bangunan (Pasal 45) Warga Negara Indonesia Orang asing yang berkedudukan di Indonesia dan berkedudukan di Indonesia Badan hukum asing yang mempunyai perwakilan di Indonesia

Semua hak penguasaan atas tanah berisikan serangkaian wewenang, kewajiban dan atau larangan bagi pemegang haknya untuk berbuat sesuatu mengenai tanah yang dihaki. Sesuatu yang boleh, wajib atau dilarang untuk diperbuat, yang merupakan isi hak penguasaan itulah yang menjadi kriterium atau tolak ukur pembeda diantara hak-hak penguasaan atas tanah yang diatur dalam UUPA. Misalnya hak atas tanah yang disebut hak milik dalam Pasal 20 memberi wewenang untuk menggunakan tanah yang dimiliki tanpa batas waktu, sedangkan dalam Hak Guna Usaha yang disebut dalam Pasal 28 dibatasi jangka waktu penggunaan tanahnya. Demikian juga dengan Hak Guna Bangunan. Hak Tanggungan sebagai hak Penguasaan atas tanah, juga berisikan kewenangan bagi kreditor untuk berbuat sesuatu mengenai tanah yang dijadikan agunan, tetapi bukan untuk dikuasai secara fisik dan digunakan, melainkan untuk menjualnya jika debitor cidera janji dan mengambil hasilnya seluruhnya atau sebagian sebagai pembayaran lunas utang debitor kepadanya. Dalam Hak menguasai dari Negara yang meliputi semua tanah tanpa terkecuali. Hak menguasai dari Negara tidak memberi kewenangan untuk menguasai tanah secara fisik dan menggunakannnya seperti hak atas tanah, karena sifatnya semata-mata hukum publik sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 2. Jika Negara sebagai penyelenggara Negara memerlukan tanah untuk melaksanakan tugasnya, tanah yang bersangkutan akan diberikan kepadanya oleh Negara selaku badan penguasa melalui Lembaga Pemerintah yang berwenang. Tanah diberikan kepada lembaga tersebut dengan suatu hak atas tanah, untuk dikuasai secara fisik dan digunakan, bukan sebagai Badan Penguasa yang mempunyai Hak Menguasai yang disebut dalam Pasal 2, tetapi sebagai badan hukum seperti halnya perorangan dan badan-badan hukum perdata yang diberi dan menjadi pemegang hak atas tanah.

DAFTAR PUSTAKA Harsono, Budi. 1992. Hukum Agraria Indonesia. Jakarta : Djambatan Harsono, Budi. 2007. Hukum Agraria Indonesia Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya. Jakarta : Djambatan Tiena Yulies, 2004. Pengantar Hukum Indonesia. Jakarta : Sinar Grafika

TUGAS HUKUM AGRARIA

AMIRAH LAHAYA P3600212039

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012