Anda di halaman 1dari 14

SATUAN ACARA PENYULUHAN

KANKER SERVIKS

PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT RSU Dr. SAIFUL ANWAR MALANG 2013

LEMBAR PENGESAHAN

SATUAN ACARA PENYULUHAN di RUANG 9 RSUD Dr. SAIFUL ANWAR MALANG SELASA, 15 OKTOBER 2013

Oleh: Rendra Frenki A Silma Kamila Shila Wisnasari Ike Ismi zamzami

Mengetahui, Pembimbing Institusi, Pembimbing Lahan,

SATUAN ACARA PENYULUHAN

1. Topik 2. Pokok Bahasan

: Sistem Imunologi : Kanker

3. Subpokok Bahasan : Kanker Serviks 4. Sasaran 5. Waktu dan Tempat Tempat : Ruang 9 (Onkologi & Ginekologi) Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang Waktu : Selasa, 15 Oktober 2013, Pukul 09.30 WIB : 30 menit : Petugas di ruang 9 : Ceramah dan diskusi : Power point dan leaflet : Pasien, Keluarga di ruang 9 RSSA dan masyarakat

6. Alokasi Waktu 7. Pemberi Materi 8. Metode 9. Media 10. Latar Belakang

Diantara tumor ganas ginekologik, kanker serviks uterus masih menduduki peringkat pertama di Indonesia. Perbandingan di RSUP Sardjito Yogyakarta yaitu 179 diantara 263 kasus atau kira-kira 68,1 % dari semua kasus kanker ginekologik (Sarwono, 2005). Umur penderita antara 30-60 tahun, terbanyak usia 35-50 tahun dan hanya 9% dari wanita berusia kurang dari 35 tahun. Menurut Mitayani (2009), kanker serviks merupakan penyakit yang sering terjadi pada wanita usia 30 sampai 45 tahun, tetapi dapat pula terjadi pada usia dini yaiu 18 tahun. Kanker serviks adalah perubahan sel-sel serviks dimana sel-sel neoplastik terdapat pada seluruh lapisan epitel. Pada kanker serviks ini penyebab secara pasti belum diketahui. Aktivitas seksual berhubungan dengan angka kejadian serviks pada wanita dibawah usia 25 tahun dengan riwayat pasangan seksual lebih dari 1 orang dan beberapa kehamilan dini, angka kejadian ini lebih prevalen. Faktor-faktor yang menentukan prognosis kanker serviks adalah usia penderita, keadaan umum, tingkat klinik keganasan, ciiri-ciri histologik sel tumor, kemampuan ahli atau tim ahli yang menangani, dan sarana pengobatan yang ada. Pada stadium 0, 100 % penderita akan sembuh. Kanker serviks stadium I sering dibagi menjadi 2, IA dan IB. Dari semua wanita yang terdiagnosis pada stadium IA memiliki 5-years survival rate sebesar 95%. Untuk stadium IB 5-years survival rate sebesar 70 sampai 90%. Ini tidak termasuk wanita dengan kanker pada limfonodi mereka. Kanker serviks stadium 2 dibagi menjadi 2, 2A dan 2B. dari semua wanita yang terdiagnosis pada stadium 2A memiliki 5-years survival rate sebesar 70 - 90%..

Untuk stadium 2B 5-years survival rate sebesar 60 sampai 65%. Pada stadium 3, 5years survival rate-nya sebesar 30-50% dan pada stadium ini 5-years survival ratenya sebesar 20-30%. 11. Tujuan Tujuan Umum :

Setelah peserta mengikuti ceramah dan diskusi selama 30 menit diharapkan mampu menjelaskan tentang kanker serviks sesuai dengan materi yang diberikan. Tujuan Khusus :

Setelah ceramah dan diskusi selama 30 menit diharapkan peserta mampu : 1) Mengidentifikasi tentang definisi kanker serviks 2) Mengidentifikasi tentang penyebab kanker serviks 3) Mengidentifikasi tentang tanda dan gejala kanker serviks 4) Mengidentifikasi tentang pemeriksaan kanker serviks 5) Mengidentifikasi tentang pengobatan kanker serviks 11. Materi 1) Definisi kanker serviks 2) Penyebab kanker serviks 3) Tanda dan gejala kanker serviks 4) Pemeriksaan kanker serviks 5) Pengobatan kanker serviks (terlampir)

12. Tahap Kegiatan Penyuluhan

Tahap Pembukaan (5 menit)

Kegiatan Pengajar

Kegiatan Peserta Didik

Metode & Media

Memperkenalkan diri Menyamakan persepsi Menyampaikan maksud


dan tujuan dilaksanakannya penyuluhan Menggali pengetahuan Peserta

Menjawab salam Memperhatikan dan


menjawab pertanyaan

Ceramah dan
diskusi. PPt

Penyajian (15 menit penyuluhan)

Menjelaskan tentang
definisi kanker serviks Menjelaskan tentang penyebab kanker serviks Menjelaskan tentang tanda dan gejala kanker serviks Menjelaskan tentang pemeriksaan kanker serviks Menjelaskan tentang pengobatan kanker serviks

Menyimak penjelasan
pemateri

Ceramah dan
diskusi. PPt

Tanya Jawab (5 menit)

Memberi kesempatan
kepada peserta untuk bertanya

Mengajukan pertanyaan
seputar materi

Diskusi

Penutup (5 menit)

Memberi kesimpulan materi Menyampaikan hasil


evaluasi dan umpan balik Menutup acara penyuluhan

Memperhatikan penjelasan

Ceramah

13. Evaluasi : a. Evaluasi struktur Jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan penyuluhan minimal 5 orang. Penyuluhan menggunakan media PPt dan leaflet. Penyelenggaraan penyuluhan dilakukan di IRNA III Ruang 9 RSSA Malang. Pengorganisasian dan persiapan kegiatan penyuluhan dilakukan pada hari sebelumnya.

b. Evaluasi proses Penyaji mampu menguasai materi penyuluhan yang diberikan. Penyaji mampu menyampaikan materi dengan baik. Peserta mendengarkan ceramah dengan baik dan sangat berkonsentrasi terhadap materi yang disampaikan oleh pemberi penyuluhan. Peserta antusias untuk bertanya dalam kegiatan penyuluhan dan menerima penjelasan dari penyaji. Peserta tidak meninggalkan tempat sebelum kegiatan penyuluhan selesai dilaksanakan. Tidak ada pasien/keluarga pasien yang mondar-mandir selama kegiatan penyuluhan berlangsung. c. Evaluasi hasil Pre penyuluhan 25% peserta mampu menjawab pertanyaan yang diberikan oleh penyaji sebelum penyaji menyampaikan materi penyuluhan. Post penyuluhan Peserta mampu menjawab pertanyaan dari penyaji yang meliputi: 1. Definisi kanker serviks 2. Penyebab kanker serviks 3. Tanda dan gejala kanker serviks 4. Pemeriksaan kanker serviks 5. Pengobatan kanker serviks

14.Daftar Pustaka Subagian Onkologi Ginekologi, 1998, Penuntun Pelayanan-Pendidikan-Penelitian, Bagian obstetriginekologi, Jakarta: FKUI Guyton & Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Jakarta: Buku Kedokteran EGC Smeltzer, Suzanne. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8. Jakarta: Buku Kedokteran EGC Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Imunologi. Jakarta: Salemba Medika

MATERI PENYULUHAN

1. Definisi kanker serviks Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI, 1990; FKKP, 1997).

2. Penyebab kanker serviks Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor resiko dan predisposisi yang menonjol, antara lain : a. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin besar mendapat kanker serviks. Menikah pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda b. Jumlah kehamilan dan partus Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks. c. Jumlah perkawinan Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini. d. Infeksi virus Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata diduga sebagai factor penyebab kanker serviks e. Sosial Ekonomi Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh. f. Hygiene dan sirkumsisi Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma. g. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim) Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus, hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks.

3. Tanda dan gejala kanker serviks a. Perdarahan Sifatnya bisa intermenstruit atau perdarahan kontak, kadang-kadang perdarahan baru terjadi pada stadium selanjutnya. Pada jenis intraservikal perdarahan terjadi lambat. b. Biasanya menyerupai air, kadang-kadang timbulnya sebeluma ada perdarahan. Pada stadium lebih lanjut perdarahan dan keputihan lebih banyak disertai infeksi sehingga cairan yang keluar berbau.

4. Pemeriksaan kanker serviks a. Sitologi/Pap Smear Keuntungan, murah dapat memeriksa bagian-bagian yang tidak terlihat. Kelemahan, tidak dapat menentukan dengan tepat lokalisasi. b. Schillentest Epitel karsinoma serviks tidak mengandung glycogen karena tidak mengikat yodium. Kalau porsio diberi yodium maka epitel karsinoma yang normal akan berwarna coklat tua, sedang yang terkena karsinoma tidak berwarna. c. Koloskopi Memeriksa dengan menggunakan alat untuk melihat serviks dengan lampu dan dibesarkan 10-40 kali. Keuntungan ; dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga mudah untuk melakukan biopsy. Kelemahan ; hanya dapat memeiksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio, sedang kelianan pada skuamosa columnar junction dan intra servikal tidak terlihat. d. Kolpomikroskopi Melihat hapusan vagina (Pap Smear) dengan pembesaran sampai 200 kali e. Biopsi Dengan biopsi dapat ditemukan atau ditentukan jenis karsinomanya. f. Konisasi Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput lendir serviks dan epitel gepeng dan kelenjarnya. Konisasi dilakukan bila hasil sitologi meragukan dan pada serviks tidak tampak kelainan-kelainan yang jelas.

5. Pengobatan kanker serviks Pada kasus Kanker pengobatan secara umum bisa dilakukan di rumah maupun di Rumah Sakit. Pengobatan di rumah bisa dilakukan dengan pencegahan, antara lain:

Menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh dengan cara konsumsi makanan bergizi Menjalani pola hidup sehat dengan cara makan sayuran, buah dan sereal. Memperbanyak makanan yang mengandung vitamin A, C dan E serta asam folat untuk mengurangi risiko kanker leher rahim. Sebelum menggunakan toilet di tempat umum, selalu bersihkan bibir kloset dengan alkohol. Hindari membersihkan genital dengan air kotor. Hindari hubungan seks di usia dini. Hindari berhubungan badan dengan banyak partner karena HPV menular melalui hubungan seksual. Hindari berhubungan sex selama masa haid/menstruasi.

Hindari merokok, karena penggunaan tembakau dapat menyebabkan kanker. Rutin melakukan screening berupa pap smear atau IVA untuk deteksi kanker serviks secara dini. Vaksinasi dapat dilakukan pada perempuan usia 10-55 tahun dengan jadwal suntikan sebanyak 3 kali, yaitu pada bulan 0, 1 dan 6. Vaksin HPV akan meningkatkan daya imun anak sehingga lebih resistan terhadap virus

Pengobatan di Rumah Sakit secara umum meliputi: a. Pembedahan atau Operasi b. Radioterapi atau Penggunaan Sinar Radiasi c. Kemoterapi atau dengan cara pemberian obat-obatan

a. Pembedahan atau Operasi Pada dasarnya Tujuan utama dari Pembedahan adalah mengangkat Kanker secara keseluruhan karena Kanker hanya dapat sembuh apabila belum menjalar ketempat lain. Operasi cocok dilakukan bagi kanker serviks stadium awal, operasi yang diutamakan adalah radikal hysterectomi (operasi pengangkatan rahim

keseluruhan), yaitu mengangkat rahim bagian dari vagina dan jaringan parametrium, disaat yang bersamaan juga membersihkan bilateral kelenjar getah bening di panggul, apabila ovarium tidak ada perubahan patologis dapat dipertimbangkan untuk tidak diangkat. Keunggulan dari pengobatan dengan operasi dalam kasus stadium awal adalah cukup sekali operasi sudah bisa membersihkan lesi kanker, masa pengobatan pendek. Kekurangannya adalah lingkup pengangkatan yang luas, setelah operasi mungkin terjadi gangguan

fungsi buang air kecil dalam tingkatan tertentu dan komplikasi lainnya, diperlukan istirahat dan latihan beberapa waktu baru dapat pulih kembali.

b. Radioterapi atau Penggunaan Sinar Radiasi Radiasi bertujuan untuk membunuh sel-sel kanker atau menghentikan

pertumbuhan sel-sel kanker yang masih tertinggal. Radioterapi cocok untuk kanker serviks disegala stadium, bahkan kanker serviks stadium lanjut. Bagi orang usia lanjut, fungsi jantung kurang yang tidak dapat menjalani operasi, radioterapi adalah cara pengobatan kanker serviks yang sangat baik. Akan tetapi radioterapi memiliki komplikasi tertentu, yang paling utama adalah radioaktif rektum dan infeksi kandung kemih, membutuhkan pengobatan yang aktif dan istirahat baru dapat pulih perlahan-lahan.

c. Kemoterapi Definisi kemoterapi Kemoterapi adalah proses pengobatan dengan menggunakan obat-obatan yang bertujuan untuk membunuh atau memperlambat pertumbuhan sel-sel Kanker. Banyak obat yang digunakan dalam kemoterapi. Kemoterapi adalah upaya untuk membunuh mengganggu fungsi reproduksi sel. Kemoterapi merupakan cara pengobatan kanker dengan jalan memberikan zat/obat yang mempunyai khasiat membunuh sel kanker. sel-sel kanker dengan

Manfaat kemoterapi Manfaat Kemoterapi antara lain adalah sebagai berikut: a) Pengobatan Beberapa jenis kanker dapat disembuhkan secara tuntas dengan satu jenis kemoterapi atau beberapa jenis kemoterapi. b) Kontrol Kemoterapi bertujuan untuk menghambat perkembangan kanker agar tidak bertambah besar atau menyebar ke jaringan lain. c) Mengurangi Gejala Bila kemoterapi tidak dapat menghilangkan kanker, maka kemoterapi yang diberikan bertujuan untuk mengurangi gejala yang timbul pada penderita, seperti meringankan rasa sakit dan memberi perasaan lebih baik serta memperkecil ukuran kanker pada daerah yang diserang.

Macam-Macam kemoterapi Obat kemoterapi ada beberapa macam, diantaranya adalah : a) Obat golongan Alkylating agent, platinum Compouns, dan Antibiotik Anthrasiklin obst golongan ini bekerja dengan antara lain mengikat DNA di inti sel, sehingga sel-sel tersebut tidak bisa melakukan replikasi. b) Obat golongan Antimetabolit, bekerja langsung pada molekul basa inti sel, yang berakibat menghambat sintesis DNA. c) Obat golongan Topoisomerase-inhibitor, Vinca Alkaloid, dan Taxanes bekerja pada gangguan pembentukan tubulin, sehingga terjadi hambatan mitosis sel. d) Obat golongan Enzim seperti, L-Asparaginase bekerja dengan

menghambat sintesis protein, sehingga timbul hambatan dalam sintesis DNA dan RNA dari sel-sel kanker tersebut.

Jenis Kemoterapi a) Kemoterapi tunggal: hanya diberikan satu macam obat b) Kemoterapi kombinasi: diberikan lebih dari satu macam obat secara bersamaan.

Indikasi kemoterapi Persyaratan Pasien yang Layak diberi Kemoterapi adalah pasien dengan keganasan memiliki kondisi dan kelemahan kelemahan, yang apabila diberikan kemoterapi dapat terjadi untolerable side effect. Sebelum memberikan kemoterapi perlu pertimbangan sbb : 1) Menggunakan kriteria Eastern Cooperative Oncology Group (ECOG) yaitu status penampilan <= 2 2) Jumlah lekosit >=3000/ml 3) Jumlah trombosit>=120.0000/ul 4) Cadangan sumsum tulang masih adekuat misal Hb > 10 5) Creatinin Clearence diatas 60 ml/menit (dalam 24 jam) ( Tes Faal Ginjal ) 6) Bilirubin <2 mg/dl. , SGOT dan SGPT dalam batas normal ( Tes Faal Hepar ). 7) Elektrolit dalam batas normal. 8) Mengingat toksisitas obat-obat sitostatika sebaiknya tidak diberikan pada usia diatas 70 tahun.

Efek Samping kemoterapi Efek samping kemoterapi timbul karena obat-obat kemoterapi sangat kuat, dan tidak hanya membunuh sel-sel kanker, tetapi juga menyerang sel-sel sehat, terutama sel-sel yang membelah dengan cepat. Karena itu efek samping kemoterapi muncul pada bagian-bagian tubuh yang sel-selnya membelah dengan cepat. Efek samping dapat muncul ketika sedang dilakukan pengobatan atau beberapa waktu setelah pengobatan. Efek samping yang bisa timbul adalah antara lain: a) Lemas Efek samping yang umum timbul. Timbulnya dapat mendadak atau perlahan. Tidak langsung menghilang dengan istirahat, kadang

berlangsung terus hingga akhir pengobatan. b) Mual dan Muntah Ada beberapa obat Kemoterapi yang lebih membuat mual dan muntah. Selain itu ada beberapa orang yang sangat rentan terhadap mual dan muntah. Hal ini dapat dicegah dengan obat anti mual yang diberikan sebelum,selama, atau sesudah pengobatan Kemoterapi. Mual muntah dapat berlangsung singkat ataupun lama. c) Gangguan Pencernaan Beberapa jenis obat Kemoterapi berefek diare. Bahkan ada yang menjadi diare disertai dehidrasi berat yang harus dirawat. Sembelit kadang bisa terjadi. Bila diare: kurangi makanan berserat, sereal, buah dan sayur. Minum banyak untuk mengganti cairan yang hilang. Bila susah BAB: perbanyak makanan berserat, olahraga ringan bila memungkinkan. d) Sariawan Beberapa obat kemoterapi menimbulkan penyakit mulut seperti terasa tebal atau infeksi. Kondisi mulut yang sehat sangat penting dalam kemoterapi. e) Rambut Rontok Kerontokan rambut bersifat sementara, biasanya terjadi dua atau tiga minggu setelah kemoterapi dimulai. Dapat juga menyebabkan rambut patah di dekat kulit kepala. Dapat terjadi setelah beberapa minggu terapi. Rambut dapat tumbuh lagi setelah kemoterapi selesai. f) Otot dan Saraf Beberapa obat kemoterapi menyebabkan kesemutan dan mati rasa pada jari tangan atau kaki serta kelemahan pada otot kaki. Sebagian bisa terjadi sakit pada otot.

g) Efek Pada Darah Beberapa jenis obat kemoterapi dapat mempengaruhi kerja sumsum tulang yang merupakan pabrik pembuat sel darah, sehingga jumlah sel darah menurun. Yang paling sering adalah penurunan sel darah putih (leokosit). Penurunan sel darah terjadi pada setiap kemoterapi dan tes darah akan dilaksanakan sebelum kemoterapi berikutnya untuk

memastikan jumlah sel darah telah kembali normal. Penurunan jumlah sel darah dapat mengakibatkan mudah terkena infeksi. Hal ini disebabkan karena jumlah leokosit turun, karena leokosit adalah sel darah yang berfungsi untuk perlindungan terhadap infeksi. Ada beberapa obat yang bisa meningkatkan jumlah leokosit. h) Perdarahan Keping darah (trombosit) berperan pada proses pembekuan darah. Penurunan jumlah trombosit mengakibatkan perdarahan sulit berhenti, lebam, bercak merah di kulit. i) Anemia Anemia adalah penurunan jumlah sel darah merah yang ditandai oleh penurunan Hb (hemoglobin). Karena Hb letaknya di dalam sel darah merah. Akibat anemia adalah seorang menjadi merasa lemah, mudah lelah dan tampak pucat. j) Kulit dapat menjadi kering dan berubah warna Lebih sensitive terhadap matahari. Kuku tumbuh lebih lambat dan terdapat garis putih melintang.

Kanker dapat menurunkan jumlah darah dengan mempengaruhi organ seperti ginjal dan limpa, yang terlibat dalam menjaga sel-sel cukup dalam darah. Pengobatan kanker seperti kemoterapi juga dapat menyebabkan kebutuhan untuk transfusi darah. Beberapa jenis obat kemoterapi dapat mempengaruhi kerja sumsum tulang yang merupakan pabrik pembuat sel darah, sehingga jumlah sel darah menurun. Hal ini biasanya mengarah ke tingkat rendah sel darah putih dan trombosit, yang kadang-kadang dapat menempatkan seseorang untuk dilakukan transfusi darah. Transfusi darah Transfuse darah adalah proses mentransfer darah atau komponennya ke dalam aliran darah seseorang yang telah kehilangan darah karena sakit, kecelakaan atau operasi. Darah dapat berasal dari orang lain yang memiliki kompatibel golongan darah, atau dalam beberapa kasus, dapat diberikan oleh orang yang menerima transfusi. Darah transfusi produk digunakan untuk mengganti

komponen penting dari darah ketika tidak ada cukup dalam tubuh, baik karena mereka telah hilang melalui perdarahan atau tidak sedang dibuat.