Anda di halaman 1dari 13

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan B.

Rumusan Masalah
1. Bagaimana masyarakat? 2. Bagaimana penyalahgunaan dekstrometorfan terjadi dan akibatnya? 3. Bagaimana masalah tersebut ditinjau dari sila Pancasila? 4. Apakah solusi untuk masalah tersebut? penggunaan dekstrometorfan di

BAB II. PEMBAHASAN A. Objek Materi


Pengawasan dan pemantauan barang beredar (makanan dan minuman, obat-obatan, barang dan/atau jasa) yang dilakukan oleh beberapa kelompok masyarakat ditemukan banyaknya penyalahgunaan Dekstrometorpan (biasanya beserta CTM) dikalangan remaja (siswa SLTP dan SLTA) dan remaja putus sekolah. Hal ini disebabkan karena kurang disiplinnya pengelola apotek dan para apoteker dalam memberikan obat kepada konsumen yang ingin melakukan swamedikasi (pengobatan sendiri) (Capri, Prayitno, 2011). Dalam penjualan obat bebas dan obat bebas terbatas, apoteker wajib menanyakan dan/atau memberi saran ketika ada konsumen yang membeli obat jenis tersebut dengan jumlah yang banyak. Selain itu semestinya seorang apoteker bertatap muka langsung dengan konsumen yang ingin melakukan swamedikasi agar dapat menganalisa penyakit konsumen sehingga kesalahan pemberian obat tidak terjadi (Capri, Prayitno, 2011). Dekstrometorfan adalah salah satu obat batuk supressan (antitusif) yang telah banyak digunakan di dunia sejak tahun 1958 untuk menggantikan penggunaan kodein fosfat dan banyak dijumpai pada sediaan obat batuk dan flu. Nama dagang dekstrometorfan di Indonesia saat ini ada 1

berbagai macam, misalnya Anakonidin, Decolsin, Mixadin, Siladex, Ultragrip, dan lain-lain, serta telah tercatat dalam Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia volume 42 tahun 2007 ada 77 merk obat yang mengandung dekstrometorfan. Dekstrometorfan yang memiliki nama kimia (+)-3-methoxy-17-methyl-(9,13,14)-morphinan menurut aturan International Union of Pure and Applied Chemistry (IUPAC) dan struktur kimia C18H25NO ini tersedia dalam beberapa bentuk sediaan, antara lain tablet, kapsul, sirup, dan suspensi dalam bentuk dekstrometorfan hidrobomida. Sifat fisikokimia dekstrometorfan adalah serbuk berbentuk kristal berwarna putih sampai sedikit kekuningan, tidak berbau, larut dalam air maupun etanol, dan tidak larut dalam eter (Nina Bonauli, 2010). Antitusif opioid ini dapat diperoleh dan digunakan secara bebas bahkan tanpa perlu menggunakan resep dokter seperti yang saat ini terjadi pada beberapa negara berkembang termasuk Indonesia. Peredaran dekstrometorfan yang terlalu bebas ini meningkatkan resiko terjadinya penyalahgunaan dan keracunan dekstrometorfan di dunia. Hal ini sesuai dengan laporan American Association of Poison Control Centers (AAPCC) yang menyatakan bahwa sejak tahun 2000 terjadi peningkatan kasus penyalahgunaan dekstrometorfan, yaitu kasus pada remaja meningkat kurang lebih 100% dari tahun 2000 (1.623 kasus) sampai tahun 2003 (3.271 kasus) dan pada kelompok usia lain meningkat kurang lebih 21% dari tahun 2000 (900 kasus) sampai tahun 2002 (1.139 kasus) (Nina Bonauli, 2010). Secara kimia, DMP (dekstrometorfan) adalah suatu dekstro isomer dari levomethorphan, suatu derivat morfin semisintetik. Walaupun strukturnya mirip narkotik, dekstrometorfan (DMP) tidak beraksi pada reseptor opiat sub tipe mu (seperti halnya morfin atau heroin), tetapi ia beraksi pada reseptor opiat subtipe sigma, sehingga efek ketergantungannya relatif kecil. Pada dosis besar, efek farmakologi DMP menyerupai PCP (phencyclidine) atau ketamin yang merupakan antagonis reseptor NMDA. DMP sering disalahgunakan karena pada dosis besar ia menyebabkan efek euforia dan halusinasi penglihatan maupun pendengaran dan dapat menghasilkan distorsi dari bidang visual, pemisahan perasaan, distorsi persepsi tubuh, kegembiraan, serta hilangnya pemahaman waktu. Intoksikasi atau overdosis DMP dapat menyebabkan hiper-eksitabilitas, kelelahan, berkeringat, bicara kacau, hipertensi, dan mata melotot (nystagmus). Apalagi jika digunakan bersama dengan alkohol, efeknya bisa sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian (Susanti, dewi, dkk, 2009). Penggunaan dekstrometorfan dosis tinggi berpotensi menimbulkan gangguan pada sistem saraf pusat yang 2

mematikan dan juga gangguan pada organ lainnya, salah satunya hepar yang merupakan organ metabolisme dekstrometorfan (Nina Bonauli, 2010). Penyalahgunaan DMP menggambarkan adanya 4 plateau yang tergantung dosis, seperti berikut: Plateau 1 2nd 3rd 4th
st

Dose (mg) 100200 200400 300 600 500-1500

Behavioral Effects Stimulasi ringan Euforia dan halusinasi Gangguan persepsi visual dan hilangnya koordinasi motorik Dissociative sedation (Ikawati, Zullies, 2009)

Tugas Apoteker perlu mulai mewaspadai dan mengontrol ketat penggunaan obat-obat ini. Di banyak negara, penyalahgunaan DMP banyak dilaporkan, dan DMP banyak dikombinasi dengan obat-obat adiktif lain. Sampai saat ini memang belum ada regulasi yang mengatur penggunaan DMP, termasuk di Amerika. Namun dengan peningkatan penyalahgunaan DMP, lembaga berwenang di Amerika yaitu DEA (Drug Enforcement Administration) sedang mereview kemungkinan untuk melakukan kontrol terhadap penggunaan DMP (Ikawati, Zullies, 2009).

B. Objek Formal
1. Makna Sila Ketuhanan Yang Maha Esa Makna Ketuhanan yang Maha Esa, secara harfiah yaitu: a. Percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. b. Hormat dan menghormati serta bekerjasama antara pemeluk agama dan penganutpenganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup. c. Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. d. Tidak memaksakan suatu agama atau kepercayaannya kepada orang lain.

Namun, yang harus diingat yaitu frasa Ketuhanan Yang Maha Esa bukan berarti warga Indonesia harus memiliki agama monoteis namun frasa ini menekankan ke-esaan dalam beragama. (Dyatmika, 2009) Isi dari arti sila Ketuhanan yang Maha Esa yaitu sifat-sifat dan keadaan-keadaan di dalam negara harus sesuai dengan hakikat Tuhan sebagai sebab yang pertama dari segala sesuatu atau causa prima, yang selama-lamanya ada atau abadi, adanya merupakan keharusan, dalam arti mutlak, ada yang mutlak, yang hanya ada satu merupakan asal mula segala sesuatu, dari-Nya tergantung segala sesuatu, jadi sempurna dan kuasa, tidak berubah, tidak terbatas, serta pengatur tata tertib alam, maka wajib ditaklimi dan ditaati. Manusia sebagai makhluk yang ada di dunia ini diciptakan oleh penciptanya yang merupakan causa prima yang memiliki hubungan dengan yang diciptakan-Nya. Manusia sebagai makhluk yang dicipta sudah seharusnya menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangannya. Dalam konteks bernegara, maka dalam masyarakat yang berdasarkan Pancasila dengan sendirinya dijamin kebebasan memeluk agama masing-masing. Dengan keyakinan atas Tuhan yang Maha Esa, maka bangsa Indonesia memiliki pegangan teguh yaitu bebas memeluk agama dan beribadah menurut agama masing-masing. (Wisnu, 2011) Menurut Notonagoro inti sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa, adalah kesesuaian sifat-sifat dan hakikat negara dengan hakikat Tuhan. Kesesuaian itu dalam arti kesesuaian sebab akibat. Maka dalam segala aspek penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara, haruslah sesuai dengan hakikat nilai-nilai yang berasal dari Tuhan, yaitu nilainilai agama. Pendukung pokok dalam penyelenggaraan negara adalah manusia, sedangkan hakikat kedudukan kodrat manusia adalah sebagai makhluk berdiri sendiri dan makhluk Tuhan. Dalam pengertian ini, hubungan antara manusia dengan Tuhan juga memiliki hubungan sebab-akibat. Tuhan adalah sebagai sebab yang pertama atau kausa prima, maka segala sesuatu termasuk manuisia adalah makhluk ciptaan Tuhan. (Anonim, 2010) Di sini, makna dari hubungan manusia dengan Tuhan yaitu menyangkut segala sesuatu yang berkaitan dengan kewajiban manusia sebagai makhluk Tuhan terkandung dalam nilai-nilai agama. Oleh karena itu, kewajiban manusia sebagai makhluk Tuhan adalah merealisasikan nilai-nilai agama yang hakikatnya merupakan nilai-nilai kebaikan, kebenaran dan kedamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Riilnya, sesuatu yang sudah diharamkan, jelas menjadi sebuah larangan dalam suatu agama untuk memakai dan ataupun melakukan sesuatu tersebut. Karena selain dilihat dari sisi agama, pastilah sesuatu yang diharamkan tersebut memiliki dampak negatif bagi diri kita sendiri. Misal, memakai narkotika tanpa dosis dan anjuran yang tepat, tentunya akan merugikan bagi perkembangan mental dan fisik si pengguna sendiri. 2. Makna Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Kemanusiaan yang berasal dari kata manusia, yaitu makhluk yang paling sempurna dari makhluk - makhluk yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Yang membedakan manusia dengan yang lainya adalah manusia dibekali akal dan pikiran untuk melakukan segala kegiatan. Oleh karena itulah manusia menjadi makhluk yang paling sempurna dari semua makhluk cipaanNya. Kata adil memiliki arti bahwa suatu keputusan dan tindakan didasarkan atas ukuran / norma-norma yang obyektif, dan tidak subyektif, sehingga tidak sewenang-wenang. (Anonim, 2011) Kata beradab berasal dari kata adab, yang memiliki arti budaya. Jadi adab mengandung arti berbudaya, yaitu sikap hidup, keputusan dan tindakan yang selalu dilandasi oleh nilai-nilai budaya, terutama norma norma sosial dan kesusilaan / moral yang ada di masyarakat. (Anonim, 2011) Secara hierarki, sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab didasari dan dijiwai oleh sila Ketuhanan yang Maha Esa dan bersama-sama mendasari ketiga sila berikutnya. Sila ke2 memiliki arti bahwa adanya kesadaran sikap dan perbuatan manusia yang didasarkan kepada potensi budi nurani manusia dalam hubungannya dengan norma-norma dan kebudayaan umumnya. Potensi kemanusiaan dimiliki oleh semua manusia di dunia, tanpa memandang ras, keturunan dan warna kulit, serta bersifat universal. Sebagai makhluk monopluralis, untuk pedoman hidup sehari-hari disebut pedoman empat tabiat (watak) saleh atau susila yaitu: a. Kebijaksanaan atau keberadaban, yaitu berbudaya luhur. Perbuatan didasarkan atas keputusan akal (tertuju pada kebenaran), didorong oleh karsa (tertuju pada kebaikan), dan sesuai dengan pertimbangan rasa (tertuju pada keindahan kejiwaan).

b. Keadilan adalah memenuhi sebagai wajib semua hak-hak hidup yang tertuju pada diri sendiri, sesama, dan pada Tuhan. c. Kesederhanaan adalah kemampuan mengendalikan diri dari kenikmatan. d. Keteguhan adalah kemampuan mengendalikan diri dari kesusahan. Jadi, Kemanusiaan Yang adil dan beradab adalah kesadaran, sikap, dan perbuatan yang didasarkan pada potensi budi nurani dalam hubungan dengan norma-norma dan nilai-nilai kebudayaan umumnya. Secara riil, semua hal tentang kehidupan sudah memiliki aturan tertentu. Misal, tentang bagaimana cara memakai obat yang benar serta batasan-batasan yang ada tentang penggunaan obat telah diatur dalam suatu undang-undang ataupun peraturan tentang kesehatan. Dan yang perlu diingat adalah peraturan tersebut bertujuan untuk mengatur masyarakat agar tidak mendapatkan dampak buruk dari apa yang dilakukan. 3. Makna Sila Persatuan Indonesia Persatuan berasal dari kata satu, yang berarti utuh, tidak terpecah belah; persatuan mengandung pengertian bersatunya bermacam corak yang beraneka ragam menjadi satu kebulatan. Jadi, persatuan Indonesia ialah persatuan bangsa yang mendiami wilayah Indonesia. Bangsa yang mendiami wilayah Indonesia ini bersatu karena didorong untuk mencapai kehidupan kebangsaan yang bebas dalam wadah Negara yang merdeka dan berdaulat. Persatuan Indoneia merupakan faktor yang dinamis dalam kehidupan bangsa Indonesia, bertujuan memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa serta ikut mewujudkan perdamaian dunia yang abadi. (Anonim, 2012) Sifat dan keadaan negara Indonesia yang sesuai dengan hakikat satu berarti mutlak tidak dapat dibagi bagi, sehingga bangsa dan negara Indonesia yang menempati suatu wilayah tertentu merupakan suatu negara yang berdiri sendiri memiliki sifat dan keadaannya sendiri yang terpisah dari negara lain di dunia ini. Sehingga negara Indonesia merupakan suatu diri pribadi yang memiliki ciri khas, sifat dan karakter sendiri yang berarti memiliki suatu kesatuan dan tidak terbagi-bagi. (Anonim, 2011)

Sila ketiga merupakan sila penting untuk mengamalkan persatuan dapat diartikan sebagai upaya untuk membuat satu, yang akhirnya menuju pada persatuan dan kesatuan. Karena itu hakikat sila ini ialah sifat-sifat dan keadaan yangsesuai dengan hakikat satu. Hakikat satu ialah mandiri yang terpisahkan dan terbedakan dari yang lain. (Anonim, 2012) Jadi secara riil, sila ini memiliki maksud untuk mempersatukan bangsa Indonesia yang terdiri dari beragam suku, budaya dan bahasa agar menjadi satu, sebagai bangsa Indonesia. Sila ini merupakan sila yang mendukung asas Bhineka Tunggal Ika. 4. Makna Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat dan Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan Hikmat kebijaksanaan berarti penggunaan pikiran atau rasio yang sehat dengan selalu mempertimbangkan persatuan dan kesatuan bangsa, kepentingan rakyat dan dilaksanakan dengan sadar, jujur dan bertanggung jawab serta di dorong oleh itikad baik sesuai dengan hati nurani. Permusyawaratan adalah suatu tata cara khas kepribadian Indonesia untuk merumuskan dan atau memutuskan suatu hal berdasarkan kehendak rakyat hingga tercapai keputusan yang berdasarkan kebulatan pendapat atau mufakat. Perwakilan adalah suatu system arti tata cara (prosedur) mengusahakan turut sertanya rayat mengambil bagian dalam kehidupan bernegara ,antara lain dilakukan dengan melalui badan-badan perwakilan. Jadi, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan berarti bahwa rakyat dalam menjalankan kekuasaannya melalui system perwakilan dan keputusan-keputusannya diambil dengan jalan musyawarah yang dipimpin oleh pikiran yang sehat serta penuh tanggung jawab, baik kepada Tuhan Yang Maha Esa maupun kepada rakyat yang diwakilinya. (Anonim, 2012) Contoh riilnya, penerapannya dalam kehidupan sehari-hari yaitu melaksanakan sistem musyawarah untuk mufakat dalam mengambil setiap langkah dan keputusan yang menyangkut kehidupan bersama. Dengan musyawarah, setiap orang tidak hanya mengutarakan suaranya, tetapi juga pendapat tentang baik-buruknya tentang apa yang diutarakannya. Sehingga, tidak selalu kelompok yang memiliki anggota terbanyaklah yang akan menang karena keputusan tidak hanya didasarkan atas banyaknya suara saja. 5. Makna Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia 7

Keadilan sosial berarti keadilan yang berlaku dalam masyarakat di segala bidang kehidupan, baik material maupun spiritual. Sila keadilan sosial adalah tujuan dari empat sila yang mendahuluinya, merupakan tujuan bangsa Indonesia dalam bernegara, yang perwujudannya ialah tata masyarakat adil makmur berdasarkan pancasila. (Anonim, 2012) Keadilan sosial mengandung arti tercapainya keseimbangan antara kehidupan pribadi dan kehidupan masyarakat. Karena kehidupan manusia itu meliputi jasmani dan kehidupan rohani, maka keadilan itu pun meliputi keadilan di dalam pemenuhan tuntutan hakiki kehidupan jasmani serta keadilan di dalam pemenuhan hakiki kehidupan rohani secara seimbang. Dengan kata lain, Keadilan di bidang material dan di bidang spiritual. Pengertian ini mencakup pula pengertian adil dan makmur yang dapat dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia secara merata, dengan berdasarkan asas kekeluargaan. (Ikhsanudin, 2011) Secara harfiah, sila ini memiliki maksud bahwa setiap orang Indonesia mendapat perlakuan yang adil dalam bidang hukum, politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan. Sesuai dengan UUD 1945, maka keadilan sosial mencakup pula pengertian adil dan makmur. 6. Peraturan Perundang-Undangan Pada makalah ini kami akan membahas tentang Penyalahgunaan Dextrometorfan. Menurut penggolongannya Dextrometorfan termasuk obat bebas terbatas ( Over The Counter). Sehingga disini akan dibahasa tentang peraturan penggunaan obat-obat yang termasuk dalam penggolongan Over The Counter. Berdasaran Pedoman Penggunaan Pbat Bebas dan Obat Bebas Terbatas Bab II tentang Informasi Umum Obat pint 2.5 tentang Cara Penggunaan Obat, menyebutkan bahwa: a. Penggunaan obat tidak untuk pemakaian secara terus menerus. b. Gunakan obat sesuai dengan anjuran yang tertera pada etiket atau brosur. c. Bila obat yang digunakan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, hentikan penggunaan dan tanyakan kepada Apoteker dan dokter. d. Hindarkan menggunakan obat orang lain walaupun gejala penyakit sama.

e. Untuk mendapatkan informasi penggunaan obat yang lebih lengkap, tanyakan kepada Apoteker. Sementara pada point 2.3 tentang Peringatan berisi: Tanda peringatan selalu tercantum pada kemasan obat bebas terbatas, berupa empat persegi panjang berwarna hitam berukuran panjang 5 (lima) centimeter, lebar 2 (dua) centimeter dan memuat pemberitahuan berwarna putih sebagai berikut :

P no. 1 Awas! Obat Keras Bacalah aturan memakainya

P no. 4 Awas! Obat Keras Hanya untuk dibakar

P no. 2 Awas! Obat Keras Hanya untuk kumur, jangan ditelan

P no. 5 Awas! Obat Keras Tidak boleh ditelan

P no. 3 Awas! Obat Keras Hanya untuk bagian luar badan

P no. 6 Awas! Obat Keras Obat wasir, jangan ditelan

Pada BAB III tentang Batuk point B menyebutkan: Obat Penekan Batuk (Antitusif) 1. Dekstrometorfan HBr (DMP HBr) a. Kegunaan obat Penekan batuk cukup kuat kecuali untuk batuk akut yang berat b. Hal yang harus diperhatikan Hati-hati atau minta saran dokter untuk penderita hepatitis Jangan minum obat ini bersamaan obat penekan susunan syaraf pusat 9

Tidak digunakan untuk menghambat keluarnya dahak c. Efek samping Efek samping jarang terjadi. Efek samping yang dialami ringan seperti mual dan pusing Dosis terlalu besar dapat menimbulkan depresi pernapasan d. Aturan pemakaian Dewasa : 10-20 mg setiap 8 jam Anak : 5-10 mg setiap 8 jam Bayi : 2,5-5 mg setiap 8 jam (Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas, Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan,2006)

C. Analisis
Dekstrometorfan atau DMP adalah zat aktif yang berkhasiat sebagai antitusif dan biasanya terkandung dalam obat batuk yang disertai flu dengan aksinya menekan susunan syaraf. Dekstrometorfan tersedia dalam sediaan sirup dan tablet. Dalam sediaannya, dekstrometorfan dapat dikombinasi dengan bahan atau zat aktif lain seperti paracetamol, difenhidramin, efedrin, klorfeniramin maleat. Menurut peraturan, DMP termasuk golongan obat bebas terbatas yang tersedia di toko obat berizin. DMP dapat diperoleh tanpa resep dokter, sehingga penggunaannya dapat dimasukan dalam pengobatan sendiri atau swamedikasi. DMP dapat ditemukan dalam beberapa sediaan obat dengan nama dagang Dextromethorpham, Dexitab, Dextronova, Erpha Methor, dan lainnya. DMP adalah suatu dektro isomer dari levomethorphan, yaitu suatu derivat morfin semisintetik. Walaupun strukturnya mirip narkotik, DMP tidak beraksi pada reseptor yang sama dengan morfin atau heroin, sehingga efek ketergantungannya relatif kecil. DMP sering disalahgunakan karena dosis yang besar dapat menyebabkan efek euforia, halusinasi penglihatan maupun pendengaran. Hal itu pula yang merupakan efek samping dari penggunaan DMP. Penggunaan dekstrometorfan dosis tinggi berpotensi menimbulkan gangguan pada sistem saraf pusat yang mematikan dan juga gangguan pada organ lainnya, 10

salah satunya hepar yang merupakan organ metabolisme dekstrometorfan. Penyalahgunaan DMP terjadi disebabkan karena DMP dapat diperoleh tanpa resep dokter, harga DMP dipasaran yang tergolong terjangkau bahkan cenderung murah, pengawasan yang kurang, dan peraturan yang belum bisa membatasi peredaran DMP. Masalah ini dapat ditinjau dari sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa dan sila kedua yang berbunyi Kemanusiaan yang adil dan beradab. Ketuhanan Yang Maha Esa bermakna tentang hubungan manusia dengan Tuhan yakni menyangkut segala sesuatu yang berkaitan dengan kewajiban manusia sebagai makhluk Tuhan. Kewajiban tersebut adalah merealisasikan nilai-nilai agama yang merupakan nilai kebaikan, kebenaran, dan kedamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Penyalahgunaan DMP merupakan pelanggaran dari kewajiban. Penyalahgunaan DMP bisa disamakan dengan penggunaan narkotika, karena penggunaan DMP yang tidak sesuai dengan kebutuhannya. Di Al-Quran telah dicantumkan bahwa mengkonsumsi sesuatu yang memabukkan adalah haram atau dilarang. Dilihat dari makna sila pertama, seseorang yang menyalahgunakan DMP tidak melakukan kewajibannya sebagai makhluk Tuhan, karena seseorang tersebut telah melanggar perintah Tuhan dan melakukan sesuatu yang telah dilarang. Penyalahgunaan DMP menyebabkan seseorang kehilangan kesadaraan karena adanya efek halusinasi dan euforia (kesenangan). Seseorang juga dapat kehilangan fungsi sebagai anggota masyarakat karena seseorang yang menyalahgunakan DMP lebih senang menyendiri ataupun berkumpul dengan orang-orang yang juga menyalahgunakan DMP. Sedangkan dari segi kesehatan, seseorang yang menyalahgunakan DMP dapat kehilangan fungsi normal dari organ tubuhnya. Selain itu, bila dilihat dari segi psikologinya, seseorang tidak dapat berpikir secara objektif dan realistis karena pengaruh yang efek samping dari penyalahgunaan DMP. Penyalahgunaan DMP di masyarakat merupakan sesuatu yang diluar norma dan budaya yang baik. Sehingga bila dilihat dari makna sila kedua, penyalahgunaan DMP merupakan sikap dan perbuatan yang tidak didasarkan pada potensi budi nurani dalam hubungan dengan norma-norma dan nilai-nilai kebudayaan umumnya. Penyalahgunaan DMP adalah hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Walaupun demikian, penyalahgunaan tersebut mengalami peningkatan setiap tahunnya. Untuk menekan terjadinya penyalahgunaan dan mengatur penggunaan DMP, sebaiknya dibuat peraturan yang membatasi peredaran DMP. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa 11

penyalahgunaan tersebut terjadi disebabkan mudahnya mendapatkan DMP secara bebas tanpa resep dokter. Peraturan tersebut dibuat oleh pemerintah sebagai bentuk kewajiban pemerintah dalam mengayomi masyarakatnya. Peraturan yang ada dapat berjalan sesuai dengan tujuan bila seluruh elemen masyarakat melakukannya dengan penuh kesadaran sebagai bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. Peraturan yang diperlukan adalah mengubah status DMP yang sebagai obat bebas terbatas menjadi kategori obat keras yang hanya diberikan dengan resep dokter atau kewenangan apoteker. Pengawasan dan pemantauan juga diperlukan untuk mengoptimalkan tujuan dari peraturan yang dibuat. Selain itu, pendidikan dan pemahaman agama harus diberikan sejak dini agar tidak terjerumus pada penyalahgunaan obat-obatan. Secara psikologi, orangtua harus selalu mendampingi disaat anak-anak telah memasuki usia remaja yang sedang dalam tahap pencarian jati diri dan pembentukan karakter, serta lebih banyak bersosialisasi dengan teman-teman dan lingkungan masyarakat.

BAB III. PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA


Anonim, 2010, Pancasila: Penjelasan Sila-sila, http://kuliahade.wordpress.com/2010/07/30/pancasila-penjelasan-sila-sila/, diakses pada 18 Okt 2012 pukul 22.45 WIB Anonim, 2011, http://dunginong.wordpress.com/2011/10/31/pengertian-sila-kedua-kemanusiaanyang-adil-dan-beradab/, diakses 23 Okt 2012 pukul 20.30 WIB Anonim, 2006, Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas, Departemen Kesehtan RI, Jakarta Bonauli, Nina, 2010, Pengaruh Pemberian Dekstrometorfan Dosis Bertingkat Per Oral Terhadap Gambaran Histopatologi Hepar Tikus Wistar, http://eprints.undip.ac.id/23622/1/Nina_B.pdf, di akses selasa, 23 oktober 2012 pukul 20.24

12

Capri, Prayitno, 2011, Dekstrometorfan jenis Obat Bebas Terbatas, Berbahaya dan Merusak Generasi Muda bila disalahgunakan, http://lpksmykm.blogspot.com/2011/09/dekstrometorfan-jenis-obat-bebas.html, di akses selasa, 23 oktober 2012 pukul 20.02 Dyatmika, Graha, 2009, Makna Sila Pancasila, http://graha.studentsblog.undip.ac.id/2009/06/12/makna-sila-pancasila/, diakses pada 23 Oktober 2012 pukul 20.03 WIB Ikawati, Zullies, 2009, Mengapa dekstrometorfan sering disalahgunakan?, http://zulliesikawati.wordpress.com/2009/03/15/mengapa-dekstrometorfan-seringdisalahgunakan.html, diakses pada 22 Okt 2012 pukul 14.48 WIB Prihatmawan, Wisnu, 2011, Arti dan Makna Sila Ketuhanan yang Maha Esa (Sila Pertama) , http://nenu666.blogspot.com/2011/11/arti-dan-makna-sila-ketuhanan-yang-maha.html, diakses pada 23 Okt 2012 pukul 20.13 WIB Susanti, Dewi, dkk, 2009, Dekstrometorfan Kok Disalahgunakan???, http://yosefw.wordpress.com/2009/03/19/dekstrometorfan%E2%80%A6kokdisalahgunakan/, di akses selasa, 23 oktober 2012 pukul 19.55

13