Anda di halaman 1dari 11

faktor resiko kehamilan diatas usia 30 tahun

Leave a reply

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan kesehatan di Negara Indonesia merupakam bagian integral dari suatu pembangunan nasional, dengan rioritas utama adalah meningkatkan derajat kesehatan ibu, yang mendukung upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak awl kehidupan. Kematian pada ibu hamil, ibu nifas serta bayi dirasakan sejak lama sudah menjadi masalah, khususnya dinegara berkembang kematian ibu dan bayi makin meningkat dari waktu ke waktu. Dengan demikian suatu persalinan harus dipersiapkan sedini mungkin sehingga ibu hamil dapat mempersiapkan persalinan agar ibu tidak cemas dalam persalinan sehingga tidak terjadi komlikasi dalam persalinannya. Oleh karena itu, sangat dianjurkan ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kehamilan yang berkualitas yaitu minimal 4 kali kunjungan yaitu masing-masing 1 kali pada trimester I dan II, serta 2 kali pada trimester III (Depkes, 2003) Penyebab kematian ibu sangat kompleks, antaralain disebabkan oleh factor-faktor reproduksi, komplikasi obstetric, pelayanan kesehatan dan social budaya. Sedangkan menurut manuaba (2010), penyebab kematian ibu adalah karena perdarahan 30,3%, pembuluh darah pecah 0,7%, dan lain-lain 1,5%. Untuk menurunkan angka kematian ibu perlu dilakukan upaya-upaya untuk kesehatan ibu sejak hamil, persalinan, dan nifas. Menurut data dari Provinsi Jawa Barat tahun 2010 bahwa angka kematian ibu mencapai 321 per 100.000 Kelahiran Hidup (Dinas Provinsi Jawa Barat, 2010). Salah satu unsur yang penting untuk menurunkan angka kematian ibu adalah memelihara kesehatan ibu hamil. Semua ibu hamil dianjurkan agar memeriksakan kesehatan dirinya sedini mungkin (Syahlan, 2002:39) Pada saat ini angka kematian ibu di Indonesia masih sangat tinggi, kematian yang sangat tinggi merupakan masalah kesehatan hidup terutama di dalam persalinan, sehingga persiapan persalinan sangat dianjurkan untuk mengurangi resiko dalam persalinan. Menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI 2010) angka kematian ibu mencapai 125 per 100.000 Kelahiran Hidup. Di dunia ini setiap menit seorang perempuan meninggal karena komplikasi yang terkait dengan kehamilannya. Dengan kata lain, 1400 perempuan meninggal setiap hari atau lebih dari 500.000 perempuan meninggal setiap tahun karena kehamilan dan persalinan (Marjono, 2012) Kehamilan adalah dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 240 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir (sarwono, 2006:89). Banyak wanita yang mempertanyakan mengapa hamil di usia 30-an atau 40-an dianggap memiliki resiko tinggi. Di atas usia 30 tahun, memang ada beberapa resiko yang meningkat baik untuk sang ibu (seperti tekanan darah tinggi dan pre-eklampsia) dan juga untuk sang bayi (seperti resiko Down Syndrome) meningkat tiap tahunnya (Suriah, 2007) Resiko tinggi adalah keadaan yang dapat mengganggu optimalisasi ibu maupun janin selama masa kehamilan (Manuaba, 2008:270) Ada beberapa masalah yang sering ditemukan dokter pada wanita hamil dengan usia di atas 30 tahun, seperti diabetes gestational (diabetes yang muncul pada saat kehamilan), tekanan darah tinggi dan juga masalah-masalah pada janin. Wanita hamil dengan usia yang lebih tua juga akan lebih sering mengalami masalah pada kandung kemih dibandingkan wanita hamil dengan usia yang lebih muda (Suriah, 2007) Resiko-resiko lainnya adalah resiko keguguran lebih besar, lebih banyak yang melahirkan melalui operasi Caesar karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal, dan juga memiliki resiko lebih tinggi melahirkan bayi cacat (Suriah, 2007) Berdasarkan data di Desa Kalimukti tahun 2012 terdapat Ibu hamil sebanyak 145 ibu hamil, dan yang Usia di atas 30 tahun sebanyak 35 ibu hamil.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan Latar Belakang yang telah diuraikan di atas, penulis merumuskan masalah sebagai berikut 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Mengetahui Faktor-faktor Risiko Kehamilan Pada Usia di Atas 30 Tahun pada Multigravida 1.3.2 Tujuan Khusus 1. Mengetahui faktor risiko kehamilan pada ibu hamil di atas usia 30 tahun. 2. Mengetahui faktor risiko janin pada ibu hamil di atas usia 30 tahun. 3. Mengetahui faktor risiko persalinan pada ibu hamil di atas usia 30 tahun. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis Diharapkan dapat dijadikan bahan materi kuliah Asuhan Neonatus, dan dimasukkan kedalam sub pokok bahasan tentang faktor-faktor risiko kehamilan di atas usia 30 tahun pada multigravida.. 1.4.2 Manfaat praktis Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi : 1. Bagi Ibu Hamil Diharapkan ibu hamil dapat memahami factor risiko pada kehamilan di atas usia 30 tahun, melalui penyuluhan dan konseling dari Bidan. 2. Bagi Bidan Bidan lebih mengetahui factor risiko kehamilan pada usia di atas 30 tahun, sehingga dapat memberikan Asuhan Kebidanan dengan tepat. 3. Bagi Institusi Pendidikan (STIKKU) Sebagai sumber bacaan di perpustakaan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan (STIIKU). Disamping itu dapat digunakan sebagai bahan kajian bagi peneliti selanjutnya. BAB II TINJAUAN TEORITIS Tinjauan teoritis disini merupakan suatu pemaparan tentang hal-hal yang berhubungan dengan faktor-faktor resiko kehamilan pada usia di atas 30 tahun. 2.1 Kehamilan 2.1.1 Pengertian Kehamilan Kehamilan adalah dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin, lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu dan 9 bulan 7 hari) di hitung dari hari pertama haid terakhir (Syaifuddin, 2001:89). Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 240 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir (sarwono, 2006:89). Menurut Wiknjosastro (2006:125) Lamanya kehamilan mulai dari ovulasi sampai partus adalah kira-kira 280 hari (40 minggu), dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu). Kehamilan 40 minggu ini disebut matur (cukup bulan). Bila kehamilan lebih dari 43 minggu disebut kehamilan postmatur. 2.1.2 Tanda-tanda Kehamilan Menurut Winkjosastro (2006 : 125-126) Pada wanita hamil terdapat beberapa tanda dan gejala, antara lain sebagai berikut : 1. Amenorea (tidak dapat haid) 2. Nausea (enek) dan emesis (muntah) 3. Mengidam 4. Pingsan

5. Payudara menjadi tegang dan membesar 6. Anoreksia (tidak ada nafsu makan) 7. Sering kencing 8. Obstipasi 9. Pigmentasi kulit 10. Epulis 11. Varises Menurut Herdiana (2013) tanda dan gejala kehamilan sebagai berikut : 1. Perut terasa kembung Wanita yang diduga hamil dan kemungkinan memang hamil, maka akan mengeluhkan perutnya yang terasa kembung. Hal ini disebabkan oleh adanya proses perubahan hormon. Perubahan hormon ini biasanya akan terjadi pada masa-masa awal kehamilan. Karena adanya perubahan hormon inilah yang menyebabkan perut menjadi kembung. Gejala kembungnya sangat mirip seperti pada saat seorang perempuan sebelum datangnya masa menstruasi / periode menstruasi. 2. Intensitas buang air kecil yang tinggi / sering. Kencing menjadi salah satu indikator kuat hamil atau tidaknya seorang wanita, lebih tepatnya seberapa sering wanita tersebut kencing. Jika terbilang sering buang air kecil, maka kemungkinan besar dia memang sedang mengalami kehamilan. Penyebab seringnya kencing pada wanita yang sedang hamil adalah adanya peningkatan jumlah cairan dan darah selama masa kehamilan yang menyebabkan timbulnya cairan tambahan. Dengan adanya cairan tambahan tersebut, maka ginjal dan kandung kemih akan memproses cairan tambahan tersebut. Intinya, sering kencing sepanjang waktu merupakan salah satu pertanda seorang wanita mengalami kehamilan. 3. Terjadinya pembengkakan payudara dan payudara menjadi lebih empuk Rasa sakit pada bagian payudara yang dialami seorang wanita yang sedang hamil memang terbilang lebih sakit apabila dibandingkan dengan sakit yang dirasakan saat mengalami masamasa menstruasi. Jika wanita sedang mengalami kehamilan, payudara akan menjadi lebih sensitif dan terasa sedikit sakit. Penyebab sensitif dan terasa sakit pada payudara ini disebabkan oleh adanya peningkatan kadar hormon. Kondisi seperti ini biasanya dirasakan selama masa awal kehamilan (trimester pertama ) kehamilan. Biasanya, pada trimester pertama ini tidak sedikit wanita yang belum menyadari bahwa dirinya sedang hamil. Mengkonsumsi makanan apa saja seperti biasa, bahkan mengkonsumsi obat yang bisa membahayakan sang janin karena memang belum mengetahui bahwa dirinya sedang hamil. Ketidaknyaman yang terjadi pada payudara pada wanita yang sedang hamil ini lambat laun akan menurun dan hilang setelah melewati trimester pertama kehamilan karena tubuh sudah dapat beradaptasi terhadap adanya perubahan hormon yang menyebabkan sakit pada payudara tersebut. 4. Lebih cepat merasa lelah Kondisi kehamilan memang berpengaruh besar terhadap fisik sang wanita yang sedang hamil. Pada masa trimester pertama kehamilan, rasa cepat lelah sering sekali dirasakan. Bahkan datangnya rasa lelah bisa secara tiba-tiba. Adalah karena adanya peningkatan kadar hormon progesteron. Namun, setelah memasuki trimester kedua kehamilan, wanita yang mengalami kehamilan akan lebih enerjik. 5. Timbulnya sedikit pendarahan pada bagian vagina Hal ini sering terjadi, yaitu adanya sedikit pendarahan. Memang tidak semua perempuan yang hamil akan mengalami hal ini. Sedikit pendarahan ini biasanya akan terjadi 11 sampai 12 hari setelah berhubungan. Jika dilihat dengan seksama, pendarahan ini terbilang sangat ringan. Biasanya hanya berupa bercak darah, merah muda bahkan hanya bercak noda yang berwarna coklat kemerahan. Adalah karena masuknya sel telur yang telah dibuahi kedalam lapisan rahim. 6. Mual Muntah Berbeda dengan mual dan muntah yang terjadi di pagi hari yang dialami oleh wanita yang biasanya muncul setelah 1 bulan melakukan hubungan suami istri. Mual dan muntah yang terjadi pada wanita hamil lebih sering dari itu, karena terjadi di pagi, siang bahkan malam hari.

7. Terjadinya keterlambatan jadwal menstruasi Apabila periode menstruasi teratur, maka seorang wanita / perempuan akan melakukan tes kehamilan. Tes kehamilan ini biasa dilakuakan sebelum tanda-tanda yang lainnya mulai terlihat. Akan tetapi apabila periodenya tidak teratur, maka salah satu gejala di atas dapat dijadikan sebagai petunjuk bahwa ibu hamil akan terlambat mendapat periode menstruasi. 8. Selama sekitar 18 hari suhu basal tubuh tetap tinggi Suhu basal tubuh adalah suhu yang diukur pada waktu pagi hari disaat masih berada di tempat tidur dan belum melakukan aktifitas sama sekali. Alat yang biasa dipergunakan untuk mengukur suhu basa tubuh adalah termometer. Caranya adalah menaruh termometer dibawah lidah. Apabila didapati hasil suhu basal tubuh yang tetap tinggi selama kurang lebih 18 hari, maka kemungkinan besar wanita tersebut memang sedang mengalami kehamilan. 9. Alat Tes Kehamilan Tanda kehamilan memang terbilang banyak dan beragam. Memang alat tes kehamilan merupakan salah satu pertanda kehamilan yang bisa dibilang paling akurat. Dan waktu yang paling baik dan paling tepat untuk tes kehamilan adalah sekitar 1 minggu setelah terlambat mendapatkan menstruasi. Tetapi jika hasilnya negatif, maka lakukan tes kehamilan selang beberapa hari kemudian. 10. Lebih peka terhadap bau-bauan Mungkin tidak semua perempuan / wanita mengalami hal ini. Tetapi memang hal ini yang sering terjadi. Wanita yang kemungkinan mengalami kehamilan bisa saja menjadi tidak tahan dan merasa jijik terhadap bau-bauan, misalnya menjadi tidak tahan dan merasa jijik terhadap bau makanan atau minuman favoritnya bahkan terhadap bau parfum favoritnya sendiri pun menjadi jijik dan tidak tahan menghirupnya. Terkadang perempuan hamil merasa jijik dengan bau tertentu seperti kopi, parfum atau bau makanan yang sebelumnya sangat disenangi oleh perempuan tersebut. Reaksi ini dapat memicu refleks muntah. 2.2 Risiko Tinggi Kehamilan 2.2.1 Pengertian risiko tinggi Resiko tinggi kehamilan adalah ibu hamil yang mengalami resiko atau bahaya yang lebih besar pada waktu kehamilan maupun persalinan, bila dibandingkan dengan ibu hamil yang normal. Keadaan yang dapat mempengaruhii optimalisasi ibu maupun janin pada kehamilan yang dihadapi (Ukhti, 2005) Kehamilan resiko tinggi adalah keadaan yang dapat mengganggu optimalisasi ibu maupun janin selama masa kehamilan (Manuaba, 2008:270) Sedangkan menurut Suriah (2007) resiko kehamilan tinggi adalah ibu hamil yang mempunyai resiko atau bahaya yang lebih besar pada kehamilan atau persalinannya dibandingkan dengan ibu hamil dengan kehamilan atau persalinan normal. 2.3 Faktor resiko 2.3.1 Resiko pada Ibu Sebagai gambaran tentang mengapa angka kematian ibu dan angka kematian anak tinggi di Indonesia dapat dikemukakan beberapa faktor yang dapat disebut sebagai 4T, yaitu : terlalu banyak anak, terlalu pendek jarak kehamilan, terlalu muda hamil dan melahirkan, dan terlalu tua untuk hamil kembali (Manuaba, 1999: 5). Menurut Suriah (2007) ada beberapa masalah yang sering ditemukan pada wanita hamil dengan usia di atas 30 tahun, seperti : Diabetes gestational (diabetes yang muncul pada saat kehamilan), tekanan darah tinggi dan juga masalah-masalah pada janin. a. Diabetes gestational adalah jenis diabetes mellitus yang berkembang hanya selama kehamilan dan biasanya menghilang pada saat persalinan (Harlinda, 2012) a. Tekanan darah tinggi (Hipertensi) adalah gangguan pada sistem peredaran darah yang dapat menyebabkan kenikan tekanan darah diatas nilai normal, yaitu melebihi 140/90 mmHg (Shafira, 2004) Wanita hamil dengan usia yang lebih tua juga akan lebih sering mengalami masalah pada kandung kemih dibandingkan wanita hamil dengan usia yang lebih muda. Resiko-resiko lainnya adalah resiko keguguran lebih besar, lebih banyak yang melahirkan melalui operasi Caesar karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal, dan juga memiliki

resiko lebih tinggi melahirkan bayi cacat (Suriah, 2007) Kehamilan di atas usia 30 tahun berisiko lebih besar untuk mengalami komplikasi seperti preeklampsia, diabetes gestational, kelahiran premature (persalinan premature), bayi dengan berat badan rendah, serta komplikasi plasenta yang dikenal dengan placenta previa (Irawan, 2009) b. Pre-ekslampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan (Rachimbadi, 2006:282) c. Diabetes gestational adalah jenis diabetes mellitus yang berkembang hanya selama kehamilan dan biasanya menghilang pada saat persalinan (Harlinda, 2012) d. Kelahiran premature (persalinan premature) adalah persalinan sebelum kehamilan memasuki pecan ke-37 minggu atau ke-38 minggu (Marcelina, 2013) e. Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus sehingga menutupi sebagian jalan lahir (Wiknjosastro, 2002) 2.3.2 Faktor pada Janin Selain resiko yang terjadi pada ibu dengan kehamilan di atas usia 30 tahun, dapat terjadi juga resiko lebih tinggi pada janin atau bayi dengan kelahiran cacat. Dalam beberapa kasus, terlihat bahwa umur wanita terbukti berpengaruh besar terhadap sindrom down pada bayi yang dilahirkan. Kemungkinan wanita berumur diatas 30 tahun melahirkan bayi dengan sindrom down adalah 1:1000. Sedangkan jika usia ibu 35 tahun, kemungkinannya adalah 1:4000. Hal ini menunjukkan angka kemungkinan sindrom down makin tinggi sesuai usia ibu saat melahirkan (Elsa, 2003) Sedangkan resiko pada janin yang harus diwaspdai adalah meningkatnya risiko kelainan down syndrome pada janin, yaitu anak lahir mengalami kecacatan mental dan fisik. Down syndrome merupakan kelainan kromosom autosomal yang paling banyak terjadi pada manusia. Diperkirakan 20% anak dengan down syndrome dilahirkan oleh ibu yang berusia di atas 30 tahun. Kelainan ini merupakan cacat bawaan yang disebabkan oleh kelebihan kromosom x pada wanita (Irawan, 2009) 2.3.2.1 Pengertian Sindrom Down Sindrom Down atau Down syndrome adalah kecacatan bercirikan kehadiran bahan genetik salinan tambahan pada kromosom 21 manusia, samada keseluruhan (trisomi 21) atau sebagian (disebabkan translokasi kromosom) (Wikipedia, 2002) Sindrom down adalah suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental pada anak yang disebabkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom (Cuncha, 2000) Manusia secara normal memiliki 46 kromosom, sejumlah 23 diturunkan oleh ayah dan 23 lainnya diturunkan oleh ibu. Para individu yang mengalami sindrom down hampir selalu memiliki 47 kromosom, bukan 46. Ketika terjadi pematangan telur, 2 kromosom pada pasangan kromosom 21, yaitu kromosom terkecil gagal membelah diri. Jika telur bertemu dengan sperma, akan terdapat kromosom 21 yang istilahnya adalah trisomi 21. Bayi yang mengalami sindrom down jarang dilahirkan oeh ibu yang berusia dibawah 30 tahun, tetapi resiko akan bertambah setelah ibu mencapai usia diatas 30 tahun (Aryanto, 2008) Bayi dengan Sindrom Down mempunyai unsur genetik tambahan di dalam sel mereka. Mereka biasanya mempunyai kromosom tambahan dalam setiap sel. Mereka juga mempunyai ciri-ciri fisik tertentu, misalnya : a. Otot dan sendi yang longgar dan mungkin terlihat lembek b. Mempunyai satu garisan pada telapak tangan c. Mempunyai mata sipit, juga mulut dan telinga yang kecil d. Bagian belakang kepala yang ceper e. Badan yang lebih kecil dan ringan waktu lahir dibandingkan dengan bayi normal. f. Bentuk badan yang pendek dan gempal Dan biasanya bayi yang mempunyai sindrom down juga mempunyai resiko yang tinggi mendapatkan leukemia dan masalah lain yang berkaitan dengan darah (Wikipedia, 2002) Istilah leukemia menggambarkan suatu bentuk kangker yang timbul pada organ pembentukan darah pada tubuh (limpa,system limfatik, sumsum tulang) organ ini dibedakan sesuai dengan system leukositik yang terlibat (Akhiarif, 2011) 2.3.2.2 Penyebab Sindrom Down Sindrom down terjadi karena kelainan susunan kromosom ke-21, dari 23 kromosom manusia. Pada manusia normal, 23 kromosom tersebut berpasang-pasangan hingga jumlahnya menjadi

46. Pada penderita sindrom down, kromosom nomor 21 tersebut berjumlah tiga (trisomi), sehingga totalnya menjadi 47 kromosom. Jumlah yang berlebihan tersebut mengakibatkan kegoncangan pada system metabolism sel, yang akhirnya memunculkan sindrom down (Aryanto, 2008) Hingga saat ini, diketahui adanya hubungan antara usia sang ibu ketika mengandung dengan kondisi bayi, yaitu semakin tua usia ibu, semakin tinggi pula resiko melahirkan anak dengan sindrom down. Sindrom down juga disebabkan oleh kurangnya zat-zat tertentu yang menunjang perkembangan sel syaraf pada saat bayi masih didalam kandungan, seperti kurangnya zat iodium (Aryanto, 2008) 2.3.2.3 Gejala Sindrom Down Menurut Judarwanto (2012) Gejala yang muncul akibat sindrom down dapat bervariasi mulai dari yang tidak tampak sama sekali, tampak minimal sampai muncul tanda yang khas. Penderita dengan tanda khas sangat mudah dikenali dengan adanya penampilan fisik yang menonjol berupa bentuk kepala yang relatif kecil dari normal (microchephaly) dengan bagian anteroposterior kepala mendatar. Sifat pada kepala, muka dan leher : Mereka mempunyai paras muka yang hampir sama seperti muka orang Mongol. Pada bagian wajah biasanya tampak sela hidung yang datar. Pangkal hidungnya kemek. Jarak diantara 2 mata jauh dan berlebihan kulit di sudut dalam. Ukuran mulut adalah kecil dan ukuran lidah yang besar menyebabkan lidah selalu terjulur. Mulut yang mengecil dan lidah yang menonjol keluar (macroglossia). Pertumbuhan gigi lambat dan tidak teratur. Paras telinga adalah lebih rendah. Kepala biasanya lebih kecil dan agak lebar dari bahagian depan ke belakang. Lehernya agak pendek. Seringkali mata menjadi sipit dengan sudut bagian tengah membentuk lipatan (epicanthal folds) (80%), white Brushfield spots di sekililing lingkaran di sekitar iris mata (60%), medial epicanthal folds, keratoconus, strabismus, katarak (2%), dan retinal detachment. Gangguan penglihatan karena adanya perubahan pada lensa dan kornea. Manifestasi mulut : gangguan engunyah menelan dan bicara. scrotal tongue, rahang atas kecil (hypoplasia maxilla), keterlambatan pertumbuha gigi, hypodontia, juvenile periodontitis, dan kadang timbul bibir sumbing. Hypogenitalism (penis, scrotum, dan testes kecil), hypospadia, cryptorchism, dan keterlambatan perkembangan pubertas. Manifestasi kulit : kulit lembut, kering dan tipis, Xerosis (70%), atopic dermatitis (50%), palmoplantar hyperkeratosis (40-75%), dan seborrheic dermatitis (31%), Premature wrinkling of the skin, cutis marmorata, and acrocyanosis, Bacteria infections, fungal infections (tinea), and ectoparasitism (scabies), Elastosis perforans serpiginosa, Syringomas, Alopecia areata (6-8.9%), Vitiligo, Angular cheilitis. Tanda klinis pada bagian tubuh lainnya berupa tangan yang pendek termasuk ruas jari-jarinya serta jarak antara jari pertama dan kedua baik pada tangan maupun kaki melebar. Sementara itu lapisan kulit biasanya tampak keriput (dermatoglyphics). Kelainan kromosom ini juga bisa menyebabkan gangguan atau bahkan kerusakan pada sistim organ yang lain. Pada bayi baru lahir kelainan dapat berupa congenital heart disease. Kelainan ini yang biasanya berakibat fatal karena bayi dapat meninggal dengan cepat. Masalah jantung yang paling kerap berlaku ialah jantung berlubang seperti Ventricular Septal Defect (VSD) yaitu jantung berlubang diantara bilik jantung kiri dan kanan atau Atrial Septal Defect (ASD) yaitu jantung berlubang diantara atria kiri dan kanan. Masalah lain adalah termasuk salur ateriosis yang berkekalan (Patent Ductus Ateriosis / PDA). Bagi kanak-kanak down syndrom boleh mengalami masalah jantung berlubang jenis kebiruan (cynotic spell) dan susah bernafas. Pada sistim pencernaan dapat ditemui kelainan berupa sumbatan pada esofagus (esophageal atresia) atau duodenum (duodenal atresia). Saluran esofagus yang tidak terbuka (atresia) ataupun tiada saluran sama sekali di bahagian tertentu esofagus. Biasanya ia dapat dekesan semasa berumur 1 2 hari dimana bayi mengalami masalah menelan air liurnya. Saluran usus kecil duodenum yang tidak terbuka penyempitan yang dinamakan Hirshprung Disease. Keadaan ini disebabkan sistem saraf yang tidak normal di bagian rektum. Biasanya bayi akan mengalami masalah pada hari kedua dan seterusnya selepas kelahiran di mana perut membuncit dan susah untuk buang air besar. Saluran usus rectum atau bagian usus yang paling akhir (dubur) yang tidak terbuka langsung

atau penyempitan yang dinamakan Hirshprung Disease. Keadaan ini disebabkan sistem saraf yang tidak normal di bagian rektum. Biasanya bayi akan mengalami masalah pada hari kedua dan seterusnya selepas kelahiran di mana perut membuncit dan susah untuk buang air besar apabila anak sudah mengalami sumbatan pada organ-organ tersebut biasanya akan diikuti muntah-muntah. Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis bagi para ibu hamil terutama pada bulan-bulan awal kehamilan. Terlebih lagi ibu hamil yang pernah mempunyai anak dengan sindrom down atau mereka yang hamil di atas usia 30 tahun keatas, harus dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya karena mereka memiliki risiko melahirkan anak dengan sindrom down lebih tinggi. Sifat pada tangan dan lengan : Sifat-sifat yang jelas pada tangan adalah mereka mempunyai jarijari yang pendek dan jari kelingking membengkok ke dalam. Tapak tangan mereka biasanya hanya terdapat satu garisan urat dinamakan simian crease. Tampilan kaki : Kaki agak pendek dan jarak di antara ibu jari kaki dan jari kaki kedua agak jauh terpisah dan tapak kaki. Tampilan klinis otot : mempunyai otot yang lemah menyebabkan mereka menjadi lembik dan menghadapi masalah lewat dalam perkembangan motor kasar. Masalah-masalah yang berkaitan Kanak-kanak down syndrom mungkin mengalami masalah kelainan organ-organ dalam terutama sekali jantung dan usus. Down syndrom mungkin mengalami masalah Hipotiroidism yaitu kurang hormon tairoid. Masalah ini berlaku di kalangan 10 % kanak-kanak down syndrom. Down syndrom mempunyai ketidakstabilan di tulang-tulang kecil di bagian leher yang menyebabkan berlakunya penyakit lumpuh (atlantoaxial instability) dimana ini berlaku di kalangan 10 % kanak-kanak down syndrom. Sebagian kecil mereka mempunyai risiko untuk mengalami kanker sel darah putih yaitu leukimia. Pada otak penderita sindrom Down, ditemukan peningkatan rasio APP (amyloid precursor protein) seperti pada penderita Alzheimer. Masalah Perkembangan Belajar Down syndrom secara keseluruhannya mengalami keterbelakangan perkembangan dan kelemahan akal. Pada peringkat awal pembesaran mereka mengalami masalah lambat dalam semua aspek perkembangan yaitu lambat untuk berjalan, perkembangan motor halus dan bercakap. Perkembangan sosial mereka agak menggalakkan menjadikan mereka digemari oleh ahli keluarga. Mereka juga mempunyai sifat periang. Perkembangan motor kasar mereka lambat disebabkan otot-otot yang lembek tetapi mereka akhirnya berjaya melakukan hampir semua pergerakan kasar. Gangguan tiroid : Gangguan pendengaran akibat infeksi telinga berulang dan otitis serosa. Usia 30 tahun menderita demensia (hilang ingatan, penurunan kecerdasan danperubahan kepribadian). Penderita Sindrom down sering mengalami gangguan pada beberapa organ tubuh seperti hidung, kulit dan saluran cerna yang berkaitan dengan alergi. Penanganan alergi pada penderita Sindrom down dapat mengoptimakan gangguan yang sudah ada. 2.3.2.4 Deteksi Dini Sindrom Down Selama 20 tahun terakhir, teknologi baru telah meningkatkan metode deteksi kelainan janin, termasuk sindrom Down. Dalam deteksi sindrom Down dapart dilakukan deteksi dini sejak dalam kehamilan. Dapat dilakukan tes skrening dan tes diagnostik. Dalam tes diagnostik, hasil positif berarti kemungkinan besar pasien menderita penyakit atau kondisi yang memprihatinkan. Skrining, tujuannya adalah untuk memperkirakan risiko pasien yang memiliki penyakit atau kondisi. Tes diagnostik cenderung lebih mahal dan memerlukan prosedur yang rumit. Tes skrining cepat dan mudah dilakukan. Namun, tes skrining memiliki lebih banyak peluang untuk salah: ada false-positif (test menyatakan kondisi pasien ketika pasien benar-benar tidak) dan false-negatif (pasien memiliki kondisi tapi tes menyatakan dia / dia tidak) (Judarwanto, 2012) 2.3.2.5. Pencegahan Sindrom Down Menurut Judarwanto (2012) Konseling Genetik maupun amniosentesis pada kehamilan yang dicurigai akan sangat membantu mengurangi angka kejadian Sindrom Down. Dengan Biologi Molekuler, misalnya dengan gene targeting atau yang dikenal juga sebagai homologous recombination sebuah gen dapat dinonaktifkan. Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis

bagi para ibu hamil terutama pada bulan-bulan awal kehamilan. Terlebih lagi ibu hamil yang pernah mempunyai anak dengan sindrom down atau mereka yang hamil di atas usia 40 tahun harus dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya karena mereka memiliki risiko melahirkan anak dengan sindrom down lebih tinggi. Sindrom down tidak bisa dicegah, karena DS merupakan kelainan yang disebabkan oleh kelainan jumlah kromosom. Jumlsh kromosm 21 yang harusnya cuma 2 menjadi 3. Penyebabnya masih tidak diketahui pasti, yang dapat disimpulkan sampai saat ini adalah makin tua usia ibu makin tinggi risiko untuk terjadinya DS.Diagnosis dalam kandungan bisa dilakukan, diagnosis pasti dengan analisis kromosom dengan cara pengambilan CVS (mengambil sedikit bagian janin pada plasenta) pada kehamilan 10-12 minggu) atau amniosentesis (pengambilan air ketuban) pada kehamilan 14-16 minggu. BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPRASIONAL 3.1 Kerangka Konsep Konsep merupakan cikal bakal pemikiran yang dibangun didasarkan pada sebuah pemikiran ( Badriah, 2006 : 55 ). Variabel Terikat Variabel Bebas

Bagan 3.1 Kerangka Konsep Penelitian 3.2 Definisi Oprasional Definisi oprasional adalah suatu definisi mengenai variable yang dirimuskan berdasarkan karakteristik-karakteristik variable tersebut yang dapat diamati dan benar-benar dilakukan oleh penelitisesuai dengan variable yang terlibat dalam penelitian (Badriah, 2006:97) Definisi Oprasional variable penelitian ini adalah : Tabel 3.2 Definisi Oprasional Penelitian No Variabel Definisi Alat Ukur Cara Ukur 1 Variabel Bebas

Hasil Ukur

Skala Ukur

Faktor resiko pada ibu dan janin Adalah faktor resiko atau bahaya pada ibu dan janin pada kehamilan diatas usia 30 tahun Observasi Observasi a. Faktor resiko pada ibu b. Faktor resiko pada janin Ordinal 2 Variabel Terikat Faktor-faktor resiko kehamilan pada usia diatas 30 tahun adalah keadaan yang dapat mengganggu optimalisasi ibu maupun janin selama masa kehamilan Observasi Observasi a. Faktor resiko pada ibu b. Faktor resiko pada janin Ordinal 3.3 Hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya harus di uji secara empiris. Hipotesis juga merupakan keterangan sementara dan hubungan fenomenafenomena yang kompleks (Badriah, 2012). Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, maka penulis menentukan hipotesis sebagai berikut: H0 : Terdapat Resiko tinggi pada ibu hamil dengan usia diatas 30 tahun pada primigravida di Desa Kalimukti Kecamatan Pabedilan Kabupaten Cirebon tahun 2013 Ha : Terdapat Resiko pada Janin atau Bayi pada ibu hamil diatas usia 30 tahun pada primigravida di Desa Kalimukti Kecamatan Pabedilan Kabupaten Cirebon tahun 2013 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Jenis dan Rancangan Penelitian 4.1.1 Jenis Penelitian Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian kuantitatif yaitu penelitian dengan pendekatan kuantitatif menekankan analisis pada data-data numerikal yang diolah dengan metode statistik. (Badriah, 2012: 19). 4.1.2 Rancangan penelitian Rancangan penelitian manggunakan rancangan penelitian deskriptif pada dasarnya bertujuan untuk memberikan deskripsi dengan maksud menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian. ( Badriah, 2012 : 133 ). 4.2 Populasi dan Teknik Sampling 4.2.1 Populasi Menurut Notoatmodjo (2002 : 79) populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti. Dan menurut Badriah (2008 : 80) populasi adalah sebagai kelompok subjek yang hendak dikenal generalisasi hasil penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah sampai 7 hari (1 minggu) di Desa Kalimukti. 4.2.2 Sampel Menurut Notoatmodjo (2005 : 79) sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi ini. Menurut Badriah (2008 : 81) sampel adalah sebagian dari populasi karena ia merupakan bagian dari populasi tentulah ia memiliki ciriciri yang dimiliki populasi. Sedangkan menurut Sugiyono (2002 : 56) Sampel penelitian adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Accidental sampling. Menurut Notoatmodjo (2005:89). Accidental sampling adalah pengambilan sampel yang dilakukan dengan mengambil kasus atau responden yang kebetulan ada /tersedia, jumlah minimal 35 responden dengan waktu penyebaran kuesioner selama 2 minggu. Teknik pengambilan sampel menggunakan Accidental sampling karena mengingat waktu yang ditentukan untuk meneliti tidak terlalu lama. 4.3 Variabel Penelitian 4.3.1 Variabel Bebas Menurut Badriah (2008 : 74) variable bebas adalah suatu variabel yang variasinya mempengaruhi variabel lain. Dari variabel penelitian ini yang dijadikan sebagai variabel bebas adalah Faktor Resko pada Ibu dan Janin. 4.3.2 Variabel Terikat Menurut Badriah (2008 : 74) variabel terikat adalah variabel penelitian yang diukur untuk mengetahui besarnya efek atau pengaruh variabel lain. Yang dijadikan sebagain variabel terikat adalah Faktor-faktor Resiko Kehamilan Di Atas Usia Kehamilan 30 Tahun. 4.4 Instrumen Penelitian Menurut Notoatmodjo (2002 : 48) instrumen penelitian adalah alat-alat yang digunakan untuk pengumpulan data. Menurut Badriah (2008 : 90) instrumen adalah alat pengumpulan data yang telah baku atau alat pengumpul data yang dimiliki standar validitas dan reliabilitas. Pada penelitian ini instrumen penelitian yang digunakan untuk mengambil data adalah kuesioner. Setelah diperoleh hasil dengan cara perhitungan seperti diuraikan di atas, kemudian nilai tersebut dimasukan kedalam nilai kriteria standar absolute sebagai berikut : 1. Kategori baik :Jika pertanyaan dijawab benar oleh responden lebih dari 76 100%. 2. Kategori cukup :Jika pertanyaan dijawab benar oleh responden antara 60- 75%. 3. kategori kurang :Jika pertanyaan dijawab benar oleh responden kurang dari 60%. 4.5 Teknik Pengumpulan Data 4.5.1 Sifat Data Badriah (2008 : 101) menjelaskan bahwa data penelitian digolongkan sebagai sumber data primer dan data sekunder. Data primer atau data tangan pertama adalah data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan menggunakan alat pengukuran atau alat pengambilan data langsung pada subjek sebagai sumber informasi yang dicari. Data sekunder atau data tangan kedua adalah data yang diperoleh lewat pihak lain tidak langsung diperoleh oleh peneliti

dari subjek penelitiannya. Dalam penelitian ini peneliti akan melakukan pengumpulan data primer. Data primer diperoleh langsung dari responden menggunakan alat ukur kuesioner. 4.5.2 Cara Pengumpulan Data Pelaksanaan pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan di Desa Kalimukti pada ibu yang berusia diatas 30 tahun dengan data sekunder. Peneliti menyebarkan kuesioner atau angket kepada responden dengan memberikan waktu kepada responden untuk mengisi langsung. 4.6 Rancangan Analisis Data 4.6.1 Teknik Pengambilan Data Teknik pengambilan data yaitu menggunakan kuesioner atau angket secara tertutup sehingga responden dapat memilih jawaban yang sesuai. Angket digunakan untuk mengetahui respon dari pertanyaan dalam angket yang berkaitan dengan faktor resiko pada ibu dan faktor resiko pada janin yang terjadi. Menurut Budiarto (2001 : 29) tata cara pengolahan data dilakukan dengan langkah sebagai berikut : 1. Editing (Memeriksa kuesioner yang masuk) Yaitu memeriksa data yang telah dikumpulkan, yang dilakukan dalam kegiatan memeriksa adalah menjumlah dan melakukan koreksi. Yang dimaksud menjumlah yaitu menghitung banyaknya daftar lembaran pertanyaan yang telah di isi untuk mengetahui apakah sesuai dengan jumlah yang telah ditentukan. Sedangkan yang dimaksud dengan melakukan koreksi yaitu proses membenarkan atau menyelesaikan hal-hal yang salah atau kurang jelas. 2. Coding (Pemberian kode) Yaitu kode terhadap setiap jawaban yang diberikan, selanjutnya melakukan pengelompokan data sesuai variable yang diteliti. 3. Tabulasi (Penyusunan Data) Merupakan pengorganisasian data sedemikian rupa agar dengn mudah dapat dijumlah, disusun dan didata untuk disajikan dan di analisis. 4. Entry Data Data yang telah selesai ditabulasi dimasukkan ke dalam software pengolah statistik untuk dilakukan analisa data. 4.6.2 Analisis data Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan penyeleksian data sesuai dengan kriteria yang ada. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat. Menurut Badriah (2008:118) analisis univariat yaitu yang dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian. Pada umumnya hasil analisis ini menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap variabel. Rumus yang digunakan adalah : p = x 100 % Keterangan : p = persentase f = Frekuensi n = Jumlah Responden (Budiarto, 2001 : 37). Menurut penjelasan dr.Prima Progestian, Sp.OG, selain risiko perdarahan ada beberapa risiko yang harus dihadapi wanita yang melahirkan terlalu sering. 1. Risiko placenta previa dan plasenta akreta meningkat. Placenta previa adalah kelainan letak plasenta yang seharusnya di atas rahim malah di bawah, sehingga menutupi jalan lahir. 2. Meningkatnya intervensi dalam persalinan seperti pemasangan infus atau induksi (rangsangan) agar tanda persalinan muncul. Induksi bisa dilakukan dengan pemberian obatobatan atau memecahkan kantung ketuban. 3. Usia ibu yang terlalu tua juga menyebabkan risiko kecacatan janin, komplikasi pada ibu (preeklampsia atau diabetes gestasional).

4. Risiko bayi dilahirkan prematur akibat jaringan parut dari kehamilan sebelumnya bisa menyebabkan masalah pada plasenta bayi. Menurut dr.Prima, meski sampai sekarang belum ada batasan pasti berapa banyak ibu boleh hamil dan dioperasi caesar, namun menurut riset diperoleh kurva bahwa melahirkan anak di atas tiga orang maka risiko komplikasi akan meningkat.