Anda di halaman 1dari 8

Analisis Isi Lambung Ikan Baceman (Mystus nemurus) di Sungai

Klawing, Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah+


Oleh :
Asrul Sahri Siregar*, Isdy Sulistyo* dan Setijanto*

RINGKASAN
Analisis isi lambung ikan merupakan kajian tentang hubungan antara komposisi
pakan alami dalam lambung dan habitatnya, baik yang bersifat planktonik, benthik maupun
nektonik dan lainnya. Penelitian, berjudul ”Analisis Isi Lambung Ikan Baceman (Mystus
nemurus) di Sungai Klawing, Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah”. Penelitian ini,
dilakukan untuk mengetahui komposisi dan hubungan pakan alami dalam lambung ikan
dengan habitatnya. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode survei dengan
membedakan sungai Klawing Purbalingga ke dalam 4 stasiun pengambilan sampel, yaitu :
Stasiun I (desa Bajong), Stasiun II (desa Jetis), Stasiun III (desa Senon), dan Stasiun IV
(desa Kedungbenda). Pengambilan diulang empat kali dengan interval waktu 2 minggu.
Waktu penelitian dilakukan pada bulan Maret-April 2007. Data isi lambung dianalisis
dengan index selektivity (E) dan Index of Relative Importance (IRI). Ikan baceman
menunjukkan pemilihan positif terhadap kelompok nektonik, serpihan tumbuhan, serpihan
hewan. Kelompok serpihan tumbuhan dan serpihan hewan merupakan pakan pelengkap,
sedangkan kelompok planktonik, nektonik, dan benthik merupakan pakan tambahan
Kata kunci : Analisis isi lambung, ikan baceman, sungai Klawing

SUMMARY
The stomach content analyze is a study concerning that correlation between natural
feed in stomach with its habitat, both of planktonic, benthic, nektonic and else. The title of
this research is “The stomach content analyze of catfish (Mystus nemurus) in Klawing
rivers, purbalingga district central java. This research has been done to know composition
and correlation between natural feed in stomach with its habitat. The method of this
research used survey method. The klawing rivers divided into four stations, that is : station
1 in Bajong village, station 2 in Jetis village, station 3 in Senon village, and station 4 in
Kedungbenda Village. The sampling technique in klawing rivers has been done with 4
replicates with time interval is every two weeks. The research has been done at March until
April 2007. The method measurement of stomach content is index selectivity (E) and Index
of relative Importance (IRI). The catfish indicated positive choice to nektonic, plant and
animal debris. Plant and animal debris as secondary prey, but nektonic, planktonic and
benthic as ocassional prey.

Keywords: stomach content analyze, catfish (Mystus nemurus), klawing river

*
Staf pengajar Jurusan Perikanan dan Kelautan pada Fakultas Sains dan Teknik UNSOED, Purwokerto
+
Makalah disampaikan pada Forum Perairan Umum Indonesia IV, Palembang, 30 November 2007
PENDAHULUAN
Analisis isi lambung ikan merupakan kajian tentang hubungan antara komposisi
pakan alami dalam lambung dan habitatnya, baik yang bersifat planktonik, bentik maupun
nektonik dan lainnya. Ikan dengan spesies dan ukuran yang sama mempunyai pemilihan
pakan yang berbeda-beda berdasarkan habitatnya (Effendie, 2002). Lebih lanjut Dolgov
(2005) menyatakan bahwa pakan alami pada beberapa jenis ada perbedaan kebiasaan dan
kesukaan pada habitat yang sama. Kebiasaan pakan alami tergantung dari golongan ikan
demersal adalah bottom feeder, sedang pelagis adalah survace feeder. Jenis pakan yang
disukai tergantung dari ukuran tubuh serta umur ikan (Berhaut, 1973 dalam Sugiharto et
al., 2006).
Berdasarkan makanannya secara garis besar ikan dapat digolongkan menjadi
herbivora, karnivora, dan omnivora. Akan tetapi, dalam kenyataannya banyak sekali terjadi
tumpang tindih (overlap) yang disebabkan oleh keadaan habitat ikan itu hidup. Ada
beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam hubungan ini diantaranya faktor
penyebaran organisme sebagai makanan ikan, faktor ketersediaan makanan, faktor pilihan
dari ikan itu sendiri serta faktor-faktor fisik yang mempengaruhi perairan (Effendie, 2002).
Ikan baceman (Mystus nemurus) adalah jenis ikan liar yang mempunyai nilai
ekonomis penting dan mempunyai potensi yang baik untuk dikembangkan, karena ikan ini
memiliki rasa daging yang khas dan enak. Ikan ini banyak ditemukan di Sungai Klawing
Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah. Akan tetapi, hasil perolehan tangkapan untuk ikan
baceman di Sungai Klawing semakin menurun dari 8,5 ton menjadi 5,35 ton antara tahun
1998-2002 (Putro, 2003), sehingga dikhawatirkan di kemudian hari ikan baceman akan
punah. Kondisi ini akan lebih buruk lagi bilamana ketersediaan pakan alaminya juga
menurun jenis maupun populasinya sebagai akibat masuknya berbagai buangan dari
aktifitas manusia di sepanjang aliran sungai tersebut yang menekan kehidupan pakan alami
yang ada. Ketersediaan pakan alami di suatu habitat sangat dipengaruhi oleh kualitas fisik
dan kimia perairan sungai. Kualitas fisik meliputi suhu, dan kekeruhan, sedangkan kualitas
kimia meliputi O2 terlarut, CO2 bebas, pH, BOD, dan ammonia.
Dalam rangka menjaga dan melestarikan sumberdaya perikanan khususnya ikan
baceman di Sungai Klawing, maka perlu diketahui tentang kebiasaan makan ikan,
ketersediaan pakan dalam suatu perairan, dan tipe pakan ikan tersebut. Hal ini dikarenakan,
besarnya populasi ikan dalam suatu perairan antara lain ditentukan oleh makanan yang
tersedia (Effendie, 2002). Studi tentang kebiasaan makanan dan cara makan dari spesies
ikan air tawar merupakan unsur pokok bagi suksesnya perkembangan program menejemen
perikanan pada kultur dan penangkaran ikan (Oronsaye and Nakpodia, 2005 dalam Oso, et
al., 2006). Komposisi pakan alami yang dimanfaatkan oleh ikan baceman dapat diketahui
melalui analisis Index Selektiviy dan Index of Relative Importance.
Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan : bagaimanakah
hubungan komposisi pakan alami yang terdapat isi lambung ikan baceman dengan yang
terdapat di Sungai Klawing, Kabupaten Purbalingga Jateng ?. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui hubungan komposisi pakan alami yang terdapat dalam isi lambung ikan
baceman dengan yang terdapat di Sungai Klawing, Kabupaten Purbalingga Jateng.
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian
Waktu penelitian dilakukan pada bulan Maret-April 2007. Sampel ikan dan air
diambil dari Sungai Klawing, Kabupaten Purbalingga Jateng, sedangkan identifikasi
analisis isi lambung dilakukan di Laboratorium Perairan Tawar, Jurusan Perikanan dan
Kelautan Fakultas Sains dan Teknik; dan Laboratorium Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian
Universitas Jenderal Soedirman.

2
Teknik Pengambilan Sampel
Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah metoda survey. Teknik
pengambilan sampel dilakukan secara Stratified Random Sampling. Lokasi penelitian
dibedakan menjadi empat stasiun berdasarkan kondisi lingkungan, yaitu : stasiun I (desa
Bajong), stasiun II (desa Jetis), stasiun III (desa Senon) dan stasiun IV (desa
Kedungbenda). Pengambilan sampel dilakukan sebanyak empat kali ulangan dengan
interval waktu dua minggu.
Prosedur Penelitian
Pengambilan dan Pengawetan Isi Lambung
Sampel ikan baceman dibedah guna pengamatan isi lambung. Pembedahan
dilakukan mulai dari bawah operculum ke arah anus menggunakan gunting bedah,
kemudian saluran pencernaan dikeluarkan menggunakan pinset lalu dipotong dan diambil
lambungnya. Selanjutnya volume lambung diukur, dengan bantuan gelas ukur 25 mL
kemudian isi lambung dikeluarkan dan ditampung dalam botol sampel dan ditambahkan
dengan larutan formalin 4 %, serta larutan lugol sebanyak 3 tetes, kemudian ditempatkan
dalam ice box dan siap diamati. Pakan alami dalam botol sampel diamati menggunakan
mikroskop dan kaca pembesar (Loup).
Identifikasi dan Perhitungan Pakan Alami dalam Isi Lambung
Sampel isi lambung dihomogenkan sampai merata terlebih dahulu kemudian
diambil 1 tetes lalu diletakkan diatas objek glass dan ditutup dengan cover glass. Sampel
diamati dengan mikroskop sebanyak 30 kali lapang pandang dan setiap sampel diulang 5
kali. Pakan alami diidentifikasi menggunakan buku Davis (1955), Edmondson (1959),
Yamaji (1976), Sachlan (1982), Barnes (1987), Ward (1992), APHA (2005). Perhitungan
jumlah plankton per liter sampel dengan rumus modifikasi dari Lackey Drop Microtranset
Counting.
Pengambilan dan Pengawetan Pakan Alami dalam Perairan
Pakan alami planktonik diambil dengan cara menyaring sampel air sebanyak 200
liter dengan plankton net No. 25. Sampel ini ditempatkan ke dalam botol film ukuran 30
ml. Kemudian ke dalam botol sampel ditambahkan larutan formalin hingga menjadi 4%
dan lugol sebanyak 3 tetes. Pakan alami benthik diambil dengan menggunakan jala surber
dengan ukuran 30x30 cm. Sampel ini ditempatkan dalam botol sampel yang diberi larutan
formalin 4 %. Lalu kedua sampel tersebut didinginkan dalam ice box dan siap identifikasi
di laboratorium dengan menggunakan mikroskop dan atau loup.
Identifikasi dan Perhitungan Pakan Alami dalam Perairan
Sampel pakan alami planktonik sebelum diamati dihomogenkan sampai merata
terlebih dahulu dan diambil dengan pipet sebanyak 1 tetes lalu diletakkan di atas objek
glass dan ditutup dengan cover glass. Pengamatan tersebut dengan mikroskop sebanyak 30
kali lapang pandang dan setiap sampel diulang lima kali. Pakan alami diidentifikasi
menggunakan buku Davis (1955), Edmondson (1959), Yamaji (1976), Sachlan (1982),
Barnes (1987), Ward (1992), APHA (2005). Perhitungan jumlah planktonik per liter
dengan rumus modifikasi dari Lackey Drop Microtranset Counting, sedangkan jumlah
benthik per liter dengan rumus modifikasi dari Brower and Zar (1977).
Pengambilan dan Pengawetan Sampel Air
Pengambilan sampel air dilakukan dengan dua cara yaitu insitu dan eksitu.
Pengambilan sampel air untuk analisis yang bersifat insitu (diukur di lapangan) meliputi :
suhu, O2 terlarut, CO2 bebas, dan pH air. Pengambilan sampel analisis parameter yang
bersifat eksitu (diukur di laboratorium) meliputi : kekeruhan, BOD dan ammonia. Sampel
air yang diukur secara eksitu kemudian diawetkan dengan cara menyimpannya dalam ice
box yang di isi es batu untuk menghambat perubahan-perubahan kimiawi atau aktivitas
biologis yang terjadi di dalam sampel air tersebut.

3
Metoda Analisis
Index of Selectivity(E)
Indeks E digunakan untuk membandingkan pakan alami antara isi lambung ikan
dengan pakan alami yang terdapat diperairan. Menurut Effendie (2002), dengan rumus:
ri − pi
E=
ri + pi
keterangan :
E : Index of Selectivity
ri : Persentase pakan alami yang terdapat di dalam lambung ikan
pi: Persentase pakan alami yang terdapat di Sungai Klawing
Indeks E berkisar dari +1 hingga -1. Apabila nilai E positif, maka terjadi pemilihan
pakan yang yang positif terhadap pakan alami yang termaksud. Apabila nilai E negatif,
maka terjadi pemilihan pakan yang negatif terhadap pakan yang dimaksud. Harga E=0,
berarti tidak adanya pemilihan ikan terhadap pakan alami yang ada dilambungnya.
Index of Relative Importance (IRI) atau Indeks Bagian Terpenting
Indeks IRI digunakan untuk analisis tingkat komposisi pakan alami dalam lambung
ikan baceman. Menurut Hyslop (1980), Sa et al., (2003)and Gokce et al., (2005) dalam
Demirhan et al., (2007), dengan rumus:
100 × IRI i
IRIi = Oi% (Wi% + Ni%) dan IRI% = n :
∑ IRI i
i =1

Q = Ni% x Wi%
keterangan :
IRI% : Indeks utama (Index of Relative Importance )
Oi% : Persen frekuensi kejadian suatu jenis makanan ke-i
Ni% : Persen jumlah makanan ke-i
Wi% : Persen berat makanan ke-i
n

∑ IRIi : Jumlah IRI semua macam makanan


i =1
i

Q : Nilai koefisien dari makanan


Indeks IRI didasarkan pada nilai kofisien makanannya (Q) yaitu :
Q > 200 : pakan tersebut merupakan pakan utama
20 < Q < 200 : pakan tersebut merupakan pakan pelengkap
Q < 20 : pakan tersebut merupakan pakan tambahan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Komposisi Pakan Alami pada Lambung Ikan Baceman
Komposisi pakan alami berupa rataan kepadatan dan kelimpahan relatif (KR%) dari
dalam isi lambung ikan baceman sebanyak 48 ekor yang diperoleh di Sungai Klawing,
Kabupaten Purbalingga tersaji pada Tabel 1.
Tabel 1. Rataan kepadatan dan kelimpahan relatif (KR%) pakan alami dalam isi lambung
ikan baceman di Sungai Klawing, Kabupaten Purbalingga.
No Kelompok Pakan Satuan Rataan KR (%)
1. Planktonik Individu/10 mL 10.781 16,69
2. Benthik Individu/10 mL 73 0,11
3. Nektonik Individu/10 mL 49 0,08
4. Serpihan Tumbuhan Butiran/10 mL 41.804 64,71
5. Serpihan Hewan Butiran/10 mL 11.897 18,41

4
Berdasarkan Tabel 1. terlihat bahwa kelompok serpihan tumbuhan memiliki rataan
kepadatan dan kelimpahan relatif tertinggi, disusul oleh kelompok serpihan hewan dan
kelompok planktonik. Hal ini menunjukkan bahwa ikan baceman termasuk golongan ikan
pemakan segalanya. Putro (2003) menyatakan bahwa ikan baceman termasuk ikan
pemakan segala (omnivora) yang dietnya bermacam-macam atau campuran (euryphagus).
Oleh karena itu, ikan ini juga menangkap makanan yang melayang dan mengapung
walaupun pada dasarnya ikan ini suka mencari makanan di dasar perairan. Lebih lanjut
Putro (2003) menyatakan bahwa ikan-ikan pemakan dasar seperti ikan yang termasuk
golongan Siluroidei pada umumnya mencari makanan dengan cara pembauan dan
persentuhan pada perairan yang kekurangan cahaya atau dalam perairan yang keruh. Ciri
ikan baceman sebagai pemakan dasar adalah berkembangnya organ electroceptive yang
berupa sungut atau kumis disekitar mulutnya yang berfungsi sebagai alat peraba.
Menurut Effendie (2002) kesukaan ikan terhadap makanannya sangat relatif
Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam hubungan ini adalah faktor penyebaran
organisme sebagai makanan ikan, faktor ketersediaan makanan, faktor pilihan dari ikan,
serta faktor-fakor fisik yang mempengaruhi perairan. Tidak semua jenis makanan yang ada
di lingkungan perairan disukai oleh ikan. Beberapa faktor yang menentukan di makan atau
tidaknya suatu jenis makanan oleh ikan adalah ukuran, warna, dan selera ikan terhadap
makanan (Karsa, 2004). Ikan cenderung mencari makan pada daerah yang disukainya dan
kaya akan sumberdaya makanan.
Komposisi Pakan Alami pada Perairan
Komposisi pakan alami berupa rataan kepadatan dan kelimpahan relatif (KR%) di
Sungai Klawing, Kabupaten Purbalingga tersaji pada Tabel 2.
Tabel 2. Rataan kepadatan dan kelimpahan relatif (%) pakan alami di Sungai Klawing,
Kabupaten Purbalingga.
No Kelompok Pakan Satuan Rataan KR (%)
1. Planktonik Individu/L 1.274 48,92
2. Serpihan Tumbuhan Butiran/L 1.268 48,70
3. Benthik Individu/L 37 1,42
4. Serpihan Hewan Butiran/L 25 0,96
Berdasarkan Tabel 2. terlihat bahwa kelompok planktonik dan serpihan tumbuhan
memiliki rataan kepadatan dan kelimpahan relatif tinggi dibandingkan dengan kelompok
serpihan hewan. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan unsur hara yang diperlukan oleh
fitoplankton atau tumbuhan air untuk pertumbuhannya tercukupi sehingga memiliki
populasi yang cukup tinggi. Sungai Klawing merupakan sungai yang melewati berbagai
kondisi lingkungan, terutama area persawahan, perladangan, pemukiman dan beberapa
industri bahan pakan yang memberikan konstribusi hara ke dalam sungai Klawing.
Hubungan Pakan Alami pada Perairan dengan Lambung Ikan Baceman
Hasil analisis indeks selektivitas pakan alami pada perairan dengan isi lambung
ikan baceman di Sungai Klawing, Kabupaten Purbalingga ditampilkan pada Tabel 3.
Tabel 3. Indeks selektivitas isi lambung ikan baceman di Sungai Klawing, Kabupaten
Purbalingga.
No Kelompok Pakan Ri Pi E
1. Planktonik 17,00 50,00 -0,49
2. Benthik 0,00 1,42 -1,00
3. Nektonik 0,01 0,00 1,00
4. Serpihan Tumbuhan 65,00 49,00 0,14
5. Serpihan Hewan 18,00 1,00 0,89

5
Berdasarkan Tabel 3. terlihat bahwa ikan baceman tidak melakukan pemilihan
pakan alami kelompok planktonik baik fitoplankton maupun zooplankton serta benthik,
tetapi ikan ini hanya melakukan pemilihan positif terhadap kelompok nektonik, serpihan
tumbuhan dan serpihan hewan. Hal ini disebabkan karena hampir seluruh bagian Sungai
Klawing tersebut mengalir melalui daerah hutan sekunder, sawah, dan hanya sedikit yang
melalui pinggiran kota, selanjutnya dipinggiran sungai tersebut banyak terdapat tumbuhan
air baik mikroalga maupun makroalga. Serpihan hewan merupakan pakan alami yang
disukai oleh ikan Baceman yang berada di Sungai Klawing, Kabupaten Purbalingga. Hal
ini disebabkan kepadatan makrobenthos yang tinggi yaitu 37 individu/L atau 67
individu/m2 dan kelompok hewan makrobenthos yang mendominasi adalah dari kelas
Insecta. Ketersediaan pakan di perairan sangat mempengaruhi kebiasaan pakan ikan di
perairan tersebut (Demirhan et al., 2007). Menurut Wibisana (2000); Sa et al., (2003),
bahwa perbedaan kebiasaan pakan diduga disebabkan antara lain oleh kondisi habitat yang
berpengaruh terhadap ketersediaan bahan makanan di tempat itu, ukuran ikan, jenis
kelamin, umur, ukuran pakan, waktu dan sebagainya.
Hasil analisis Index of Relative Importance pakan alami yang terdapat dalam
perairan dengan yang terdapat dalam isi lambung ikan baceman di Sungai Klawing,
Kabupaten Purbalingga tersaji pada Tabel 4.
Tabel 4. Index of Relative Importance isi lambung ikan baceman di Sungai Klawing,
Kabupaten Purbalingga.
No Kelompok IRI % Q
1. Planktonik 7,99 4,85op
2. Benthik 4,82 0,14op
3. Nektonik 0,28 0,01op
4. Serpihan Tumbuhan 54,63 102,01sp
5. Serpihan Hewan 21,25 56,92sp
keterangan:
op : Ocassional Prey (Pakan Tambahan)
sp : Secondary Prey (Pakan Pelengkap)
Berdasarkan Tabel 4. terlihat bahwa kelompok serpihan tumbuhan dan serpihan
hewan merupakan pakan pelengkap bagi ikan baceman. Serpihan tumbuhan dan serpihan
hewan jumlahnya paling banyak dari pada pakan alami lainnya dalam lambung ikan
baceman, sehingga mempunyai nilai 20<Q<200. Kelompok planktonik (fitoplankton, dan
zooplankton), benthik dan naktonik merupakan pakan tambahan bagi ikan baceman, karena
memiliki nilai koefisien makanan (Q) < 20.
Ikan baceman merupakan ikan pemakan segala yang cenderung pemakan daging.
Hal ini terlihat dari besarnya mulut ikan baceman yang merupakan ciri-ciri dari ikan
pemangsa atau predator. Ikan baceman juga suka memakan sisa-sisa bahan organik dan
sering menyerang dan memakan benih-benih ikan yang masih kecil (Muflikhah, 1994
dalam Putro, 2003). Akan tetapi, menurut Vaas et al., (1953) dalam Muflikhah et al.,
(2006), ikan baung bersifat karnivor dengan makanannya terdiri atas ikan, crustacea,
insekta dan larva. Lebih lanjut Lagler (1972) menyatakan bahwa pakan ikan akan sangat
dipengaruhi oleh ketersediaan pakan yang melimpah di perairan.
Hasil pengukuran kualitas fisik dan kimia air dari Sungai Klawing, Kabupaten
Purbalingga tersaji pada Tabel 5.

6
Tabel 5. Hasil pengukuran beberapa kualitas fisik dan kimia air dari Sungai Klawing,
Kabupaten Purbalingga.
No Parameter Satuan Kisaran
o
1. Suhu C 24,0 - 27,0
2. Kekeruhan NTU 98,2 - 1.750
3. pH unit 6,0 – 8,0
4. O2 terlarut ppm 5,8 – 9,4
5. CO2 bebas ppm 1,98 – 11,0
6. BOD ppm 1,0 – 12,6
7. Ammonia ppm 0,002 – 0,017
Berdasarkan Tabel 5. terlihat bahwa untuk beberapa parameter kualitas fisik dan
kimia air dari sungai Klawing Kabupaten Purbalingga seperti suhu, kecepatan arus, CO2
bebas, O2 terlarut dan Ammonia masih tergolong mendukung kehidupan ikan dan pakan
alami yang ada di dalamnya, sedangkan untuk parameter kekeruhan, pH dan BOD sudah
tergolong kurang mendukung kehidupan ikan dan pakan alaminya. Hal ini didasarkan pada
pendapat Wardoyo (1994 dalam Fatmawati, 2006) bahwa tingkat kekeruhan air yang baik
untuk pemeliharaan ikan yaitu < 50 NTU. Pendapat Siregar (2007) bahwa kekeruhan yang
terlalu tinggi dapat mengakibatkan terganggunya daya lihat organisme akuatik dan
menghambat penetrasi cahaya sehingga dapat menyulitkan ikan dalam mencari makan.
Pendapat Djarijah (1994 dalam Fatmawati, 2006) bahwa kisaran pH yang baik untuk
kegiatan budidaya ikan adalah 6,5-8,5. Pendapat Siregar (2007) bahwa tingginya
kandungan BOD menyebabkan menurunnya kandungan oksigen terlarut, bahkan dapat
menjadi kondisi anoksik sehingga akan mengganggu pertumbuhan pakan alami.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Komposisi pakan alami pada lambung ikan baceman yang tertangkap di Sungai
Klawing, Kabupaten Purbalingga didominasi oleh kelompok planktonik, serpihan
tumbuhan dan serpihan hewan.
2. Komposisi pakan alami di Sungai Klawing, Kabupaten Purbalingga didominasi oleh
kelompok planktonik dan serpihan tumbuhan.
3. Ikan baceman melakukan pemilihan positif terhadap kelompok nektonik, serpihan
tumbuhan dan serpihan hewan. Serpihan tumbuhan dan serpihan hewan merupakan
pakan pelengkap, sedangkan planktonik, benthik, nektonik merupakan pakan tambahan
bagi ikan baceman.
Saran
Dalam upaya konservasi insitu, maka pemberian pakan alami ikan baceman dapat
diberikan proporsi yang sama berupa tumbuhan air baik ukuran mikro maupun makro serta
hewan invertebrata air.
DAFTAR PUSTAKA
American Public Health association (APHA). 2005. Standard Method for the Examination
of Water and Wastewater. 21th Edition. APHA-AWWA-WPCF. Washington DC.
Barnes, R.D. 1987. Invertebrate Zoology. Fifth edition. Saunders College Publishing.
Philadelphia.
Brower, J.E. dan J.H. Zar. 1977. Field and Laboratory Methods for General Ecology. WM-
C Brown, Dubuque
Davis, C. C. 1955. The Marine and Fresh Water Plankton. Michigan State .

7
Demirhan, S. A., K. Sehyan., Trabzon., dan N. Basusta. 2007.Dietary Overlap in Spiny
Dogfish (Squalus acanthias) and Thornback Ray (Raja clavata) in the Southeastern
Black Sea. Ekoloji. 16 (62): 1-8. Diakses 24 Agustus 2007.
Dolgov, A.V. 2005. Feeding and food Consumption bay the Barents sea Skate. J. of
Northwest Atlantic Fish.Sci, Vol 35 (34) :
Edmondson, W. T. 1959. Fresh Water Biology. Second Edition. Jonh Wiley and Sons, Inc.
New York. London.
Effendie, M. I.. 2002. Biologi Perikanan. Cetakan Kedua. Yayasan Pusaka Nusatama
Fatmawati, E. 2006. Analisis Isi Lambung Ikan Kerapu Lumpur (Ephinephelus tauvina)
Dengan Keterbatasan Pakan pada tambak di Tritih Kabupaten Cilacap. Skripsi
(Tidak Dipublikasikan).PSPK UNSOED. Purwokerto.
Hyslop, E.J., 1980. Stomach content analyses of methods and their application. J. Fish.
Biol. 17: 411-429.
Karsa, A. 2004. Kebiasaan Makanan Ikan Baji-Baji (Grammoplites scaber (Linnaeus,
1758)) Di Perairan Mayangan, Subang, Jawa Barat. Skripsi (Tidak Dipublikasikan).
Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan. IPB. Bogor.
Lagler, F. K. 1972. Freshwater Fishery Biology. WM. C. Brown Company. USA.
Muflikhah, N., S. Nurdawati., dan S. N. Aida. 2006. Prospek Pengembangan Ikan Baung
(Mystus nemurus C. V.). Jurnal BAWAL. 1 (1): 11-18.
Oso, J.A,. I.A. Ayodele and O. Fagbuaro. 2006. Food and Feeding Habits of Oreochromis
niloticus (L.) and Sarotherodon galilaeus (L.) in a Tropical Reservoir. World
Journal of Zoology 1 (2): 118-121.
Putro, S. S. 2003. Ekologi Ikan Baceman (Mystus nemurus C. V) di Sungai Klawing
Kabupaten Purbalingga dan Beberapa Faktor yang Berkaitan dengan
Domestikasinya. Tesis (Tidak Dipublikasikan). Program Magister Sains Ilmu
Lngkungan, Program Pasca Sarjana, UNSOED. Purwokerto.
Sa, R., C. Bexiga., L. Vieira, P. Veiga., and K. Erzini. 2003. Diets of the Sole Solea
vulgaris Quensel, 1806 and Solea senegalensis Kaup, 1858 in the Lower Estuary of
the Guadiana River (Algarve, Southern Potugal): Preliminary Result. Boletin.
Instituto Espanol De Oceanografia. 19 (1-4): 505-508.
Sachlan, M. 1982. Planktonologi. Fakultas Peternakan dan Perikanan UNDIP. Semarang.
Siregar, A.S. 2007. Limnologi. Program Hibah Kompetisi A1 Jurusan Perikanan dan
Kelautan. Fakultas Sains dan Teknik UNSOED, Purwokerto.
Sugiharto, A.S. Siregar dan E. Yuwono. 2006. Analisis Isi Lambung Ikan Pelagis Di Segara
Anakan Cilacap. Laporan Penelitian. Fakultas Biologi Universitas Jenderal
Soedirman, Purwokerto.
Ward, J. V. 1992. Aquatic Insect Ecology. 1. Biology and Habitat. John Wiley & Sons,
Inc., New York, Chichester, Brisbane, Toronto, Singapore. 438.
Wibisana, I. 2000. Kebiasaan makanan ikan Silago japonica Temminck dan Schegel di
Teluk Omura, Ariake dan Tateyama, Jepang dan S. burrus Richadson di Perairan
Banda Indonesia. Laporan Penelitian. Fak. Perikanan dan Kelautan IPB, Bogor.
Yamadji, C. S. 1976. Illustration of the Marine of Japans. Hoikusha Publishing Co. Ltd.
London.