Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU UKUR TANAH (GKP 0102)

ACARA II METODE PENGUKURAN/PEMETAAN

Disusun oleh: Nama NIM Hari/Jam Asisten : Komariah Ervita : 11/316525/GE/7100 : Senin/09:00-11:00 : 1. Yudha Purna Wijaya 2. Angela Belladova

LABORATORIUM KARTOGRAFI DIGITAL DAN REPRODUKSI PETA FAKULTAS GEOGRAFI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2013

ACARA II I. JUDUL Metode Pengukuran/ Pemetaan. II. TUJUAN Melatih kemampuan mahasiswa agar dapat mengetahui dan menerapkan metode pengukuran ilmu ukur tanah. III. ALAT DAN BAHAN 1. 2. 3. 4. Pita Ukur Yallon Abney Level Waterpass (penyipat datar) 5. 6. 7. 8. Teodolith T0 Statif Bak Ukur (staff) Kompas geologi

IV.

DASAR TEORI

a. Metode Pengukuran pada Teodolite Theodolit adalah salah satu alat ukur tanah yang digunakan untuk menentukan tinggi tanah dengan sudut mendatar dan sudut tegak. Berbeda dengan waterpass yang hanya memiliki sudut mendatar saja. Di dalam theodolit sudut yang dapat di baca bisa sampai pada satuan sekon (detik). Theodolite merupakan alat yang paling canggih di antara peralatan yang digunakan dalam survei. Pada dasarnya alat ini berupa sebuah teleskop yang ditempatkan pada suatu dasar berbentuk membulat (piringan) yang dapat diputar-putar mengelilingi sumbu vertikal, sehingga memungkinkan sudut horisontal untuk dibaca. Teleskop tersebut juga dipasang pada piringan kedua dan dapat diputarputar mengelilingi sumbu horisontal, sehingga memungkinkan sudut vertikal untuk dibaca. Kedua sudut tersebut dapat dibaca dengan tingkat ketelitian sangat tinggi. Syaratsyarat utama yang harus dipenuhi alat theodolite (pada galon air) sehingga siap dipergunakan untuk pengukuran yang benar adalah sbb : 1. 2. 3. 4. Sumbu kesatu benar benar tegak / vertical. Sumbu kedua haarus benar benar mendatar. Garis bidik harus tegak lurus sumbu kedua / mendatar. Tidak adanya salah indeks pada lingkaran kesatu.

1. Pembacaan sudut horisontal (Az). Sudut arah adalah suduthorisontal yang dibentuk oleh perpotongan suatu garis dengan meidian bum (utara-selatan). Dalam pengukuran, untuk menyatakan besarnya sudut dikenal dua cara, yaitu: Bearing dan Azimuth. Bearing merupakan sudut arah yang diukur dari utara atau selatan magnet bumi ke titik yang lain searah/berlawanan dengan arah putaran jarum jam, dengan sudut kisaran antara 0-90. Azimuth merupakan sudut arah yang diukur darintara magnet bumi ketitik yang lan searah jarum jam, sehingga mempunyai arah kisaran antara 0360. 2. Pembacaan sudut miring (V) Sudut miring merupakan sudut yang dibentuk oleh garis bidik teropong dengan bidang horisontal. Pada umumnya besarnya sudut horisontal dan verikal terdapat dalam satu mikrometer, namun adapula yang dipisahkan. Berikut contoh mikrometer dan pembacaannya:

96

95

Hasil Pembacaan V = 9555


60 60

0 0

H(Az) = 13005

130

129

3. Pengukuran jarak (d) dan beda tinggi (BT).


Ca Ct Cb

Ta

Keterangan: D Ta Ca Ct Cb = Jarak alat ukur ke mistar = tinggi alat = kurva atas = kurva tengah = kurva bawah = sudut yang ditangkap

Rumus yang dipakai untuk mengukur jarak dan beda tinggi Jarak (D) = K S Cos Jarak Horizontal (H) = D Cos Beda Tinggi (BT) = TA (H tan h) b. Metode Pengukuran pada Waterpass Waterpass adalah alat mengukur beda ketinggian dari satu titik acuan ke acuan berikutnya. Waterpass ini dilengkapi dengan kaca dan gelembung kecil di dalamnya. Untuk mengecek apakah waterpass telah terpasang dengan benar, perhatikan gelembung di dalam kaca berbentuk bulat. Apabila gelembung tepat berada di tengah, berarti waterpass telah terpasang dengan benar. Pada waterpass, terdapat lensa untuk melihat sasaran bidik. Dalam lensa, terdapat tanda panah menyerupai ordinat (koordinat kartesius). Angka pada sasaran bidik akan terbaca dengan melakukan pengaturan fokus lensa. Selisih ketinggian diperoleh dengan cara mengurangi nilai pengukuran sasaran bidik kiri dengan kanan. Waterpass memiliki nivo sebagai penyama ketinggian, lensa objektif, lensa okuler, dan penangkap cahaya. Dengan waterpass ini kita dapat menentukan berapa banya tanah yang dibutuhkan untuk meratakan suatu lokasi. Alat ini bersifat sangat sensitif terhadap cahaya, sehingga memerlukan payung untuk menutupi cahaya matahari.

Kesalahan dalam pengukuran Waterpass Dalam setiap pengukuran tidaklah lepas dari adanya kesalahan pembacaan angka, sehingga diperlukan adanya koreksi antara hasil yang didapat di lapangan dengan hasil dari perhitungan. Pengukuran beda tinggi antara dua titik di lapangan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara langsung dengan menggunakan alat ukur yang dipasang mendatar, serta cara tidak langsung dengan mengukur panjang miringnya dan sudut yang terbentuk terhadap lereng. Pengukuran dengan waterpass instrument 1. Pengukuran Jarak dan Beda Tinggi Pada waterpass pengukuran jarak memiliki rumus :

D = 100. (Ca Cb) Untuk pengukuran beda tinggi (BT) antar dua titik dapat dihitung berdasarkan tinggi alat dan nilai kurva tengah, sehingga dirumuskan menjadi : BT = TA-Ct 2 . Pembacaan sudut horizontal

Sudut arah adalah sudut horizotal yang dibentuk oleh perpotongan suatu garis dengan meridian bumi (utara-selatan) . dalam pengukuran , untuk menyatakan besarnya sudut dikenal dua cara yaitu :bearing dan azimuth Biaring merupakan sudut arah yang diukur dari utara atau selatan magnet bumi ke titik lain searah atau berlawanan dengan arah putaran jarum jam dengan sudut kisaran antara 0- 90. Azimut merupakan sudut arah yang diukur dari utara magnet bumi ke titik yang lain searah jarum jam. Sehingga mempunyai kisaran attara 0-360. Kesalahan Dalam Pengukuran: Dalam melakukan pengukuran kemungkinan terjadi kesalahan pastilah ada dimana sumber kesalahan atau permasalahan tersebut, antara lain :

a. Kesalahan yang bersumber dari pengukur Kurangnya ketelitian mata dalam pembacaan alat waterpass, yaitu pembacaan benang atas, benang bawah, dan benang tengah. Adanya emosi dari pengukur akibat rasa lapar,cuaca yang panas,dan penyebab emosi yang lainnya sehingga tergesa-gesa dalam melakukan pengukuran dan akhirnya terjadi kesalahan mencatat. b. Kesalahan yang bersumber dari alat Pita ukur yang sering dipakai mempunyai tendensi panjangnya akan berubah, apalagi jika menariknya terlalu kuat. Sehingga panjang pita ukur tidak betul atau tidak memenuhi standar lagi. Patahnya pita ukur akibat terlalu kencangnya menarik pita ukur, sehingga panjang pita ukur bergeser (berkurang) c. Kesalahan yang bersumber dari alam. Adanya angin yang membuat rambu ukur terkena hembusan angin, sehingga tidak dapat berdiri dengan tegak. Angin yang merupakan faktor alam, membuat pita ukur menjadi susah diluruskan, sehingga jarak yang didapatkan menjadi lebih panjang daripada jarak sebenarnya

1. Pengukuran jarak (d) dan beda tinggi (BT).

Ca Ct
Cb
Ta

Keterangan: D Ta Ca Ct Cb = Jarak alat ukur ke mistar = tinggi alat = kurva atas = kurva tengah = kurva bawah

2. Pembacaan sudut horizontal (az) Sudut arah adalah sudut hrizontal yang dibentuk oleh perpotongan suatu garusdengan meridian bumi (utara-selatan). Dalam pengukuran, untuk menyatakan besarnya sudut dikenal dua cara, yaitu : bearing dan Azimut. Bearing merupakan sudut arah yang diukur dari utara atau selatan magnet bumi ke titik yang lain searah/berlawanan dengan arah putaran jarum jam, dengan sudut kisaran antara 0-90. Azimuth merupakan sudut arah yang diukur darintara magnet bumi ketitik yang lan searah jarum jam, sehingga mempunyai arah kisaran antara 0-360. Contoh model mikrometer dengan pembacaan sudut horisontal sebagai berikut:
143 0 30 60 144 145 146 147

Hasil pembacaan azimuth 145 30

d. Metode pengukura pada alat ukur sederhana 1. Pengukuran jarak. Apabila jarak antara dua titik yang diukur lebih panjang dari alat ukur yang ada maka dua tahapan yang harus dilakukan: Pelurusan (pembanjaran) Pembajaran dilakukan leh dua orang, seorang membidik sementara yang lain menancapkan yalon sesuai dengan komando dari si pembidik. Seperti yang terlihat pada gambar 1.1, misalnya akan diukur jarak AB, dua buah yalon harus ditancapkan diatas titik A dan B. Selanjutnya pembidik berdiri dibelakng yalo A dan mengatur agar mata pembidik satu garis dengan yalon A dan B. Keadaan ini dapat diketahui jika mata sipembidik hanya melhat satu yalon saja. Diantara yalon A dan B harus ditancapkan beberapa yalon atau patokan yang jaraknya terjangkau oleh alat ukur. Sering dijumpai rintangan pada areal yang akan diukur sehingga peanjaran tidak dapat dilakukan seperti gambar 1.1. Maka pembanjaran disini perlu perlakuan ang berbeda, karena: 1) Kondisi lapangan yang bergelombang/curam/berbatasan dengan tembok tinggi. 2) Ada bangunan/ritangan ditengah areal yang akan diukur, dan sebagainya.

Pengukuran jarak secara langsung. Pengukuran jarak dua titik dapat dilakukan dengan menggunakan kayu meter, rantai meter, dan pita meter. Untuk permukaan tanah yang miring, pengukuran dapat dilakuka dengan dua cara, yaitu dengan pita/kayu ukur yang diatur hoizontal dengan bantuan niveau serta mengukur langsung tanah yng miring. 2. Pengukuran sudut miring Pengukuran sudut miring sanga diperluka dalam memperoleh informasi jarak (d) dan beda tinggi (BT) secara langsung. Alat yang biasa digunakan adalah Abney Level, yang penggunaannya dengan mambidik langsung pada puncak objek yang diinginkan kemudian menggerakan niveau yang dihubungka dengan penunjuk skala hingga berada pada posisi tengah benang. Hasilnya dapat dibaca langsung pada penunjuk skala tersebut.

3. Pengukuran Beda tinggi. Pengukuran beda tinggi antara dua titik dilapangan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: cara lengsung dengan menggunakan alat ukur yang mendatar, serta cara tidaklangsung dengan mengukur panjang miringnya dan sudut yang terbentuk terhadap lereng. V. LANGKAH KERJA

Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.

Memasang alat sesuai dengan tempat yang telah ditentukan.

Mengukur tinggi alat (TA) dengan cara mengukur jarak antara bace plate alat ukur hingga permukaan tanah dengan menggunakan pita ukur.

Melakukan pengukuran untuk mendapatkan nilai Ca, Ct, dan Cb dari masing masing alat dengan cara melakukan pembidikan kepada lima objek dengan bantuan baak ukur.

Melakukan pengukuran sudut vertical dan horizontal masing masing alat kecuali waterpass yang tidak mempunyai sudut vertical.

Mencatat hasil pengukuran.

Melakukan perhitungan jarak dan beda tinggi objek berdasarkan data yang diperoleh dari pengukuran lapangan dengan menggunakan rumus yang telah ditentukan.

VI.

HASIL PRAKTIKUM 1. Tabel perhitungan (terlampir) 2. Perhitungan jarak dan beda tinggi (terlampir) 3. Sketsa pengukuran (terlampir)

VII. PEMBAHASAN Pengukuran dilakukan secara berkelompok, karena tak mungkin jika dilakukan oleh satu orang. Selain karena keterbatasan alat, kerja kelompok juga dianjurkan dalam kegiatan ini. Ada yang berperan sebagai pengamat, ada yang berperan sebagai pemegang baak ukur, dan ada pula sebagai memasang dan mengatur alat. Sebelum melakukan pengukuran, pengamat harus memastikan terlebih dahulu bahwa alat sudah terpasang dengan baik. Statif harus dipasang dan dikondisikan dalam kondisi datar. Untuk mengetahui kedatarnnya, digunakan niveau pada masing-masing alat. Selanjutnya, pada target atau daerah yang diukur dipasang yallon dan bak ukur. Pengukuran dilakukan dengan manempelkan baak ukur pada obyek yang diamati kemudian pengamat mengukur sudut horizontal dan vertikal, serta jarak horizontal. Hal pertama yang dilakukan dalam pengukuran yaitu memperhatikan kondisi alat sebelum dipergunakan, yakni memastikan semua komponen alat sudah terpasang dengan baik. Seperti memastikan niveau kompas ssurvey sudah berada di tengah tengah (seimbang), mengatur fokus lensa, mengatur ketinggian alat agar dalam pengamatan tidak mengalami kesulitan, serta mengecek kompas dalam keadaan baik atau tidak. Karena sangat dimungkinkan kompas secara tidak sadar telah terkunci dan ketika alat digerakkan, kompas tersebut tidak ikut bergerak (diam). Tentunya hal ini akan sangat mempengaruhi keakuratan data yang didapatkan. Komponen komponen pengukuran yang harus dicari dalam praktikum kali ini antara lain TA, Ca, Ct, Cb, sudut vertikal, dan juga sudut horizontal. Namun, sebelum pengukuran menggunakan alat utama, terlebih dahulu mengukur jarak horizontal dari alat ke titik A, B, dan C menggunakan pita ukur. Tujuannya adalah nantinya hasil pengukuran manual dengan pita ukur dapat dijadikan parameter atau patokan yang bisa digunakan untuk membandingkan hasil pengukuran menggunakan alat ukur utama. Jika hasilnya sama atau mendekati, berarti pengukuran yang dilakukan sudah mendekati kebenaran. Hal ini bisa dilakukan karena jarak antara alat dengan titik A, B, dan C relatif dekat, sehingga pengukuran menggunakan pita ukur tidak mengalami kesulitan.

Penggunaan waterpass dalam pengukuran di anggap jauh lebih mudah dibandingkan pengukuran dengan menggunakan theodolit T0. Kesulitan pengukuran dengan menggunakan theodolit T0 ini lebih disebabkan karena alat ini tidak memiliki lensa pembalik sehingga perlu kecermatan yang tajam untuk membaca skala pada baak ukur. Selain itu alat yang digunakan ini merupakan alat yang sudah lama sehingga komponen-komponen penunjang yang terdapat di dalam alat sudah mulai berkirang fungsinya. Salah satu contohnya adalah garis penentu titik atas dan titik bawah yang ada di lensa pengamatan. Garis ini tidak nampak jelas sehingga mengalami kesulitan pembacaan skala. Tidak ada kesulitan yang berarti saat pengukuran menggunakan waterpass karena alat ini dipandang sebagai alat baru dan modern sehingga masingmasing bagiannya masih berfungsi dengan baik dan dianggap lebih akurat dalam memberikan data. Apabila telah didapatkan semua nilai nilai pengukuran seperti yang telah disebutkan di atas, langkah selanjutnya adalah mengolah data yang ada menjadi sebuah informasi mengenai objek yang diukur, informasi mengenai jarak dan beda tingginya. Pengolahan data di titik-titik pengukuran tersebut dilakukan mengunakan rumus-rumus yang telah tersedia. Hasil dari pengolahan data tersebut, nantinya akan dibandingkan dengan hasil pengukuran secara manual dengan menggunakan pita ukur. Dari hasil pengukuran diperoleh beberapa perbedaan. Perbedaan tersebut terdapat pada pengukuran jarak menggunakan theodolit dan pengukuran dengan menggunakan pita ukur. Salah satu contoh pengukuran di titik 4, dengan pita ukur jarak yang terbaca adalah 785 cm atau sekitar 7,58 m sedangkan hasil perhitungan jarak dengan menggunakan rumus pada alat theodolit menunjukan angka 120 dm atau sekitar 12 m. Hasil pengukuran ini dianggap tidak akurat karena hasil pengukuran jarak dari lima titik menunjukan hasil yang salah. Sedangkan pengukuran dengan menggunakan waterpass menunjukan nilai jarak yang hampir sama dengan pengukuran menggunakan pita ukur. Salah satu contohnya di titik pertama, hasil pengukuran menggunakan pita ukur menunjukan angka 360 cm atau 3,6 m sedangkan pada hasil perhitungan dengan menggunakan rumus menunjukan angka 30 dm atau 3 meter. Walaupun terdapat sedikit perbedaan pengukuran, tetapi hasil pengukuran ini masih dianggap mendekati hasil sebenarnya. Faktor yang mempengaruhi perbedaan ini biasanya karena kesalahan atau distorsi pengukuran. Kesalahan bisa berasal dari alat maupun dari si pengukur sendiri. Kesalahan yang berasal dari alat biasanya disebabkan karena umur alat yang sudah tua sehingga komponen-komponen yang ada di dalamnya ada yang rusak. Kesalahan dari

pengamat yang biasa terjadi adalah kesalahan pembacaan alat ukur, kesalahan mencatat, kurang telitinya dalam melihat baak ukur, kurangnya pengetahuan mengenai alat yang digunakan, ataupun kesalahan dalam proses perhitungan pengolahan data yang dilakukan. Pengukuran pada masing-masing metode menggunakan persamaan rumus yang berbeda, namun komponen dasarnya sama. Yaitu, sama-sama mencari jarak horizontal dan beda tinggi. Namun, ada pengecualian untuk alat waterpass. Dikarenakan tidak bisa mengukur sudut vertikal, akhirnya rumus yang digunakan untuk menghitung pun berbeda. Waterpass tidak menggunakan nilai sudut dalam proses perhitungannya. Pada proses pengukuran menggunakan teodolith, pemahaman tentang sudut vertikal harus sangat diperhatikan dalam menghitung nilai beda tinggi dan jarak antara obyek yang diukur. Dalam prosesnya, nilai pembacaan sudut vertikal harus dikurangkan dahulu oleh sudut tegak lurus, yakni 90o. Apabila praktikan lalai dengan konsep dan rumus tersebut, maka hasil perhitungannya tidak akan relevan. Melalui hasil perhitungan yang dilakukan dapat diketahui besarnya jarak dan beda tinggi dari masing masing target menggunakan teodolith dan waterpass. Apabila dalam hasil perhitungan didapatkan angka negatif, hal tersebut menunjukkan target yang diukur memiliki ketinggian yang berada di bawah alat yang digunakan untuk mengukur atau berada di posisi yang menurun.

VIII. KESIMPULAN 1. Semua alat pada prinsipnya digunakan untuk melakukan pengukuran jarak, sudut horisontal, sudut vertikal, dan beda tinggi pada suatu titik obyek pengukuran dari titik pengamatan. 2. Pengukuran menggunakan waterpass merupakan metode paling mudah dan sederhana untuk proses perhitungan dalam mencari jarak horizontal dan beda tinggi. 3. Data yang didapatkan dari alat teodolith T0 adalah kurva atas (Ca), kurva tengah (Ct), kurva bawah (Cb), sudut vertikal, dan sudut horizontal dan data yang didapatkan dari waterpass adalah kurva atas (Ca), kurva tengah (Ct), kurva bawah (Cb), dan sudut horizontal. 4. Sudut horizontal tidak perlu terlalu diperhatikan karena pada proses perhitungan sudut ini tidak dimasukkan dalam komponen perhitungan. 5. Waterpass hanya cocok untuk mengukur medan yang relative datar karena alat ini tidak bisa untuk mengukur sudut vertical.

DAFTAR PUSTAKA

Basuki, Slamet. 2011. Ilmu Ukur Tanah. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Sudaryatno, 2010. Petunjuk Praktikum Ilmu Ukur Tanah. Yogyakarta: Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.

PERHITUNGAN 1. Teodolite T0 Titik A D = K S cos = 100 (-) cos (90 87o55) = 100 . 95 . cos (90 87,92o) = 9500 . cos 2,08 = 9500 . 0,9993 = 9493,35 mm = 9,493 m

= D cos = 9,493 . cos 2,08 = 9,493 . 0,9993 = 9,49 m

BT

= TA (H . tan h) = 1600 ( 9,49 tan 2,08 1600 ) = 1600 ( 9,49 . 0,04 1600 ) = 1600 ( 0,3796 1600 ) = 1600 ( -1599, 6204) = 3199,67 mm = 3,2 m

Pengukuran jarak horizontal dengan pita ukur = 9,26 m

2. Kompas Survey Titik A D = K S cos = 100 . 220 . cos 3 = 22000 . 0,99 = 21780 mm = 21,78 m = D cos = 21,78 . cos 3 = 21,56 m = TA (H tan h) = 1150 (21,56 tan 3 550) = 1150 (- 548,88) = 1698,88 mm = 1,7 m Pengukuran jarak horizontal dengan pita ukur = 30,90 m Pengukuran jarak horizontal dengan pita ukur = 10,55 m = D cos = 0 Cos 90 =0m Titik C D = K S cos = 100 . (1600-1490) cos (90-0) = 100 . 110. 0 = 0 mm

BT

BT

= TA - Ct = 1150 1540 = -390 mm = -39 cm

Titik B D = K S cos = 100 (1570 1430) cos (90 0) = 100 . 140 . 0 = 0 mm = D cos = 0 cos (90 0) =0.0 = 0 mm

BT ( beda tinggi dihitung dengan menggunakan rumus perhitungan waterpass, dikarenakan sudut pembacaan kompas survey

sebesar 0o sehingga alat tersebut tidak mempunyai sudut vertical dalam pengukuran. Sama seperti waterpass) BT = TA Ct = 1150 1500 = -350 mm = -35 cm Pengukuran jarak horizontal dengan pita ukur = 15,25 m

3. Teodolite T100 Titik C D = K S cos = 100 (1540 1460) cos (90-19,89) = 100.80. cos 70,11 = 8000. 0,34 = 2720 mm = 2,72 m

= D cos = 2720 cos 70,11 = 924,8 mm = 0,925 m

BT

= TA (H tan h) = 1260 (924,8 tan 70,11 1500) = 1260 (924,8. 0,34 1500) = 1260 (314,432 1500) = 1260 ( -1185,57) = 2445,57 mm = 2,446m

Pengukuran jarak horizontal dengan pita ukur = 7,73 m

4. Waterpass Titik A D=H =KS = 100 (1240 1147) = 100 . 93 = 9300 mm = 9,3 m

BT

= TA Ct = 1200 1193 = 7 mm

Pengukuran jarak horizontal dengan pita ukur = 9,97 m

Nomor Titik No Alat TA (cm)Target 1 Kompas Survey 115 A 115 B 115 C 2 Teodolith T0 160 A 160 B 160 C 3 Teodolith T100 126 A 126 B 126 C 4 Waterpass 120 A 120 B 120 C

Bacaan Baak Ukur Sudut Jarak Pita Ukur Ca Ct Cb VertikalHorizontal Dalam Datar (m)Beda Tinggi (m)Jarak (m) 670 550 450 -3 220 21,8 1,74 17,9 1570 1500 1430 0 197 14 -0,35 5,8 1600 1540 1490 0 240 11 -0,39 9,97 1645 1600 1550 8755' 846' 9,41 0,38 9,26 1090 1000 900 9228' 8416' 18,81 1,35 18,8 1590 1500 1350 9043' 5830' 23,76 0,4 18,3 1120 1050 980 3,82 1915' 13,86 1,18 13,78 1050 950 850 3,64 15842' 17,82 1,38 17,342 1540 850 1460 19,89 135 7,04 2,29 7,73 1240 1193 1147 311 9,3 0,007 30,9 1108 1063 1002 10 10,6 0,137 15,25 1085 1094 1072 345 2,2 0,13 10,55

LAMPIRAN