Anda di halaman 1dari 6

KUMPULAN PUSTAKA PENELITIAN

Hidroksiapatit (HAp), Ca10(PO4)6(OH)2 merupakan material keramik bioaktif dengan bioaffinitas tinggi, bersifat biokompatibel terhadap tubuh manusia. Merupakan senyawa kalsium fosfat yang ekivalen dengan komponen organik utama dari tulang dan gigi, mempunyai sifat dapat berikatan dengan tulang natural. HAp berpori saat ini menjadi kebutuhan yang mendasar bagi rekonstruksi tulang yang patah atau retak. Adanya pori-pori pada HAp akan menjadi kantung oksigen, dan tempat tumbuhnya saraf dari tulang, sehingga pori tersebut menjadi tempat tumbuhnya sel sel tulang baru. Umumnya HAp berpori dibuat melalui pembuatan komposit HAp-porogen. Porogen diartikan sebagai bahan pembentuk pori. Komposit yang terbentuk kemudian dikalsinasi sehingga senyawa organik menguap dan terbentuk pori-pori. Sebagai porogen bisa digunakan polimer alam maupun buatan, seperti celulosa, chitosan, collagen, polyurethane, carboxymethyl cellulose dan sebagainya. Di Indonesia bahan HAp masih import dan mahal. Di Indonesia banyak limbah kulit udang, limbah kulit kerang dan tulang ikan. Kulit udang merupakan bahan dasar pembuatan chitosan. Kulit kerang dan tulang ikan dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan HAp yang dilanjutkan menjadi HAp berpori dengan bantuan chitosan sebagai porogen. Akan dipelajari pembuatan HAp berpori dengan chitosan sebagai porogen Chitosan terbuat dari kulit udang yang bisa diperoleh dengan mudah dan murah. HAp dibuat dengan bahan dasar CaO yang diekstrak dari kerang dan tulang ikan, yang banyak terdapat di sepanjang pantai pulau Jawa. HAp yang diperoleh diamati dengan Scanning electron microscopy (SEM) untuk melihat struktur mikro dan morfologi permukaan, x-ray diffraction (XRD) untuk analisa fasa yang terbentuk, fourier transform infrared (FT-IR) untuk identifikasi gugus fungsional. Selain itu dilakukan juga uji In vitro dengan sel endothel dan sterilisasi HAp dilakukan dengan radiasi pengion. http://pkpp.ristek.go.id/index.php/penelitian/detail/39

Sintesis dan Karakterisasi Komposit Hidroksiapatit (HA) Sebagai Graft Tulang Sintetik

Telah dilakukan pembuatan dan karakterisasi komposit hidroksiapatit/PVA/PVP/khitosan dengan teknik radiasi. Hidroksiapatit (HA) disintesis dari kalsium hidroksida dan asam fosfat pada suhu dan pH terkontrol menggunakan metode basah (wet method). Sedangkan komposit HA/PVA/PVP/khitosan dibuat dengan radiasi sinar gamma pada berbagai dosis. Untuk mengevaluasi HA yang terbentuk selama proses sintesis maka dilakukanlah karakterisasi beberapa parameter seperti rasio Ca/P, pengukuran gugus fungsi menggunkan FTIR dan analisis ukuran kristal dengan SEM. Analisis terhadap komposit hasil iradiasi dilakukan terhadap fraksi gel. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa rata-rata rasio Ca/P dari 3 batch produksi adalah 1,69. Hasil pengukuran gugus fungsi dengan FTIR menunjukkan serapan pada bilangan gelombang (wave number) 1035, 603 dan 565 cm-1 yang merupakan gugus fosfat (PO4 -3); bilangan gelombang 1421 cm-1 yang merupakan gugus karbonat (CO3 -2); dan bilangan gelombang 3450 cm-1 yang merupakan gugus hidroksil (OH). Hasil ini menunjukkan bahwa sintesis dengan metode basah menghasilkan senyawa hidroksiapatit dengan tingkat kemurnian yang sangat baik. Komposit HA/PVA/PVP/khitosan yang diiradiasi dengan sinar gamma pada dosis 5 hingga 30 kGy menghasilkan fraksi gel antara 80 - 90 persen. Komposit dengan kandungan fraksi gel yang tinggi ini bersifat kaku dan mempunyai kendala dalam pemakaian klinis. Penambahan etanol 5 persen pada komposit dan iradiasi pada dosis 25 kGy dapat menurunkan fraksi gel dari 90 persen menjadi 30 persen serta gel yang dihasilkan bersifat elastis dan mudah dibentuk sesuai keinginan. Sedangkan penambahan gliserin 6 persen hanya menurunkan fraksi gel dari 90 persen menjadi 80 persen. Etanol 5 persen merupakan scavenger yang lebih efektif dibandingkan dengan gliserin 6 persen. http://opac.geotek.lipi.go.id/index.php?p=show_detail&id=3484

Bahan biokeramik yang banyak digunakan dalam bidang rehabilitasi jaringan adalah hidroksiapatit [HA, Ca10(PO4)6(OH)2]. Hidroksiapatit merupakan jenis material yang sering diaplikasikan dalam bidang medis diantaranya sebagai material untuk menggantikan mineral jaringan tulang. Hal ini karena hidroksiapatit memiliki komposisi dan kristalisaasi yang hampir mirip dengan tulang manusia yaitu tersusun dari mineral kalsium (Ca) dan fosfat (P) yang diperoleh dari rangka sejenis binatang karang dan diproses melalui proses hidrotermal. Selain itu sifatnya juga tidak beracun, bioaktif, dan terserap dengan baik (resorpsi) menjadikan hidroksiaatit merupakan material biokeramik yang dikenal luas. Perkembangan hidroksiapatit diantaranya yaitu IP-CHA yang memiliki IP-CHA memiliki porositas 75%, ukuran rata-rata pori 150mm dan rata-rata koneksi antarpori 40 mm, sehingga karakteristiknya lebih padat atau kompak. Dewasa ini perkembangan di bidang kesehatan mengalami perkembangan yang pesat. Usaha untuk melakukan perbaikan bagi tubuh pun semakin berkembang sehingga muncul bahanbahan biomaterial. Biomaterial merupakan bahan yang dapat di gunakan dalam tubuh manusia dengan tujuan meningkatkan taraf hidup orang tersebut. Biomaterial ini banyak di gunakan untuk implan dalam tubuh. Suatu biomaterial harus memiliki persyaratan atau fungsi biomaterial. Penggantian atau perbaikan anggota badan, jaringan atau organ. Syarat utama material yang akan di gunakan di dalam tubuh adalah biokompabilitas dengan tubuh manusia, artinya kemampuan material untuk bekerja sesuai dengan respon pada penerima. Namun, tidak ada material yang biokompatibel menyeluruh karena suatu material untuk aplikasi bisa saja biokompatibel tetapi tidak untuk aplikasi lain. Oleh karena itu biokompabilitas berbeda-beda tergantung aplikasinya. Pemilihan material, desain rekayasa, dan proses pembuatannya harus tepat. Meski kesempurnaan desain dan pembuatan penting, material yang dipilih tetap harus memenuhi sifat yang dipersyaratkan dan harus biokompatibel. Kombinasi pengaruh faktor mekanik dan kimia seringkali bisa berakibat serius seperti dapat menimbulkan fatigue, fatik korosi, korosi tegangan, keausan dan perpatahan. Pengembangan bahan biomaterial sintesis sebagai bahan rehabilitasi jaringan tulang diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan sel-sel yang akan melanjutkan fungsi daur kehidupan jaringan yang digantikan. Salah satu bahan yang sedang dikembangkan sebagai biomaterial sintesis adalah biokeramik. Teknologi keramik telah diarahkan sebagai bahan penambahan dan rehabilitasi jaringan. Keramik yang dimaksud dari hal di atas dikenal dengan istilah biokeramik (Hench, 1991). Bahan biokeramik yang banyak digunakan dalam bidang rehabilitasi jaringan adalah hidroksiapatit [HA, Ca10(PO4)6(OH)2]. Hidroksiapatit merupakan komponen utama dari tulang, sifat-sifat ion kalsium (Ca2+) pada hidroksiapatit dapat mengubah ion-ion logam berat yang beracun dan memiliki kemampuan yang cukup baik dalam menyerap unsur-unsur kimia organik dalam tubuh serta memiliki sifat biokompatibilitas dan bioaktivitas yang baik pula (Suzuki dkk., 1993). Namun dari segi ekonomi, harga hidroksiapatit sangat mahal dan masih impor sehingga bahan ini kurang terjangkau oleh masyarakat Indonesia.

1. Pengertian Hidroksiapatit Hidroksiapatit (HA), Ca10(PO4)6(OH)2 merupakan komponen mineral utama bagi tulang manusia dan gigi. Hidroksiapatit merupakan suatu kalsium fosfat keramik yang terdiri atas kalsium (Ca) dan fosfat (P) dan berasal dari rangka sejenis binatang karang dan melalui proses hidrotermal. Oleh karena itu Hidroksiapatit tidak mengalami permasalahan dari segi kesesuaian biologi dan Hidroksiapatit juga bersifat bioaktif yakni, dapat membentuk ikatan langsung dengan tulang. Karena itu hidroksiapatit dapat digunakan sebagai bahan pengganti tulang misalnya untuk mengisi dan membangun kembali tulang yang cacat. 2. Karakteristik Hidroksiapatit Tabel berikut ini menunjukkan beberapa sifat mekanik dari hidroksiapatit. Modulus elastisnya 85 GN m-2dan kekuatan tariknya 40-100 MN m-2. Hidroksiapatit yang berbasis senyawa kalsium fosfat yang mempunyai rumus kimia Ca10(PO4)6(OH)2 merupakan bagian keluarga apatit (struktur kimia sama tetapi komposisi kimia yang berbeda). HA dapat diproduksi dalam 2 metode utama yaitu menggunakan bahan mentah dari bahan alami (tulang sapi dan karang) dan secara sintetis. Menurut Willmann (1996), bahan alami sesuai karena memiliki koneksi pori-pori yang sama seperti tulang manusia, namun masalah pencemaran dan benda asing yang ada telah membatasi penggunaannya. Dengan demikian, produksi HA sintetis telah diberi fokus secara meluas untuk mengatasi masalah tersebut. Sifat mekanis merupakan faktor yang membatasi penggunaan Hidroksiapatit (HA) sebagai implan pada bagian yang menanggung beban tinggi. HA yang memiliki sifat mekanis yang baik perlu diperluas lagi penggunaannya dalam bidang kedokteran pada masa depan. Umumnya faktor yang mempengaruhi sifat mekanis HA adalah bentuk serbuk, pori-pori dan besar butir. Serbuk HA yang memiliki stoikiometri yang tepat yaitu rasio molar Ca/P sebanyak 1,67 dapat menghasilkan sifat mekanis HA yang unggul [Suchanek dan Yoshimura,1998]. Pori-pori HA yang letaknya tidak teratur dan tidak saling berhubungan satu sama lain (tidak rekat) menyebabkan pori-pori menjadi faktor yang melemahkan kekuatan bahan HA [Smith, 1996]. Ukuran butir juga menurunkan kekuatan bahan HA dengan mempengaruhi ikatan antara butir [Smith, 1996]. Hidroksiapatit merupakan suatu kalsium fosfat yang banyak digunakan sebagai material pengganti tulang atau untuk bone filler (pengisi tulang) karena kemiripannya dengan struktur kimia tulang dan jaringan keras pada mamalia. Material ini dapat mendorong pertumbuhan tulang baru, serta mempercepat proses penyatuan tulang. Dengan sifat-sifat mekanik dan struktur kimia yang dimiliki sehingga HA banyak digunakan sebagai implan tulang femur (paha) manusia dan dalam aplikasi bidang medis lainnya. 3. Kelebihan dan Kelemahan Hidroksiapatit Kelebihan dari hidroksiapatit sehingga cukup aman di gunakan sebagai bahan implant adalah karena sifatnya yang non toxic, cepat membangun ikatan dengan tulang (bioaktif), memiliki biokompatibilitas dengan jaringan sekitar dan dapat mendorong pertumbuhan tulang baru dalam strukturnya yang berpori. Namun, pori-pori Hidroksiapatit ini tidak teratur dalam

bentuk dan ukuran serta tidak sepenuhnya saling berhubungan satu sama lain. Hal ini menyebabkan porositas hidroksiapatit yang dihasilkan rendah, akibatnya struktur keramik hidroksiapatit tidak kompak sehingga apabila digunakan sebagai implant ortopedik karakteristiknya rapuh atau mudah patah. Karena hal tersebut, dikembangkanlah IP-CHA (Interconnecte Porous Hydroxypatite Ceramics) yaitu hidroksiapatit yang memiliki pori-pori yang letaknya teratur dan ukurannya seragam sehingga dapat meningkatkan kekerasannya ketika digunakan sebagai material implan.
4. Aplikasi Hidroksiapatit dalam dunia medis sebagai bahan implant tulang Manfaat utama dari penggunaan komposit adalam mendapatkan kombinasi sifat kekuatan serta kekakuan tinggi dan berat jenis yang ringan. Dengan memilih kombinasi material serat dan matriks yang tepat, kita dapat membuat suatu material komposit dengan sifat yang tepat sama dengan kebutuhan sifat untuk suatu struktur tertentu dan tujuan tertentu pula. Umumnya tulang manusia terdiri dari 2 komponen utama yaitu dua pertiga fasa nonorganik dan sepertiga fasa organik. Sebagian besar fasa organik tersusun dari kolagen berukuran nano. Dan penyusun yang lain yaitu protein, lemak dan polisakarida yang memberikan sifat fleksibel, elastis dan kuat. Sebagian besar fasa non organic terdiri dari hidroksiapatit dalam bentuk jarum berukuran panjang 40 nm, lebar 20 nm dan tebal 5 nm. Selain itu, juga tersusun dari mineral-mineral yaitu karbonat, sodium, magnesium, fluorida, klorida, kalium dan pirofosfat. Kandungan mineral ini memberikan kekerasan dan melindungi tulang dari patah. Apabila tahap mineral meningkat maka ia akan meningkatkan kekuatan dan kekakuan tulang [Follet et al, 2004]. karena hidroksiapatit mempunyai komposisi kimia dan struktur campuran yang hampir sama dengan tulang manusia, maka hidroksiapatit sangat sesuai digunakan untuk penggantian dan perbaikan jaringan tulang manusia yang rusak. . KESIMPULAN Bahan biokeramik yang banyak digunakan dalam bidang rehabilitasi jaringan adalah hidroksiapatit [HA, Ca10(PO4)6(OH)2]. Hidroksiapatit merupakan suatu kalsium fosfat keramik yang terdiri atas kalsium (Ca) dan fosfat (P) yang berasal dari rangka sejenis binatang karang dan melalui proses hidrotermal. Karena komposisinya yang mirip dengan tulang manusia, dalam aplikasinya HA digunakan sebagai material implant tulang. HA memiliki kemampuan yang cukup baik dalam menyerap unsur-unsur kimia organik dalam tubuh, bersifat non toxic, cepat membangun ikatan dengan tulang (bioaktif), memiliki biokompatibilitas dengan jaringan sekitar dan dapat mendorong pertumbuhan tulang baru dalam strukturnya yang berpori. Sifat mekanis HA yaitu bentuk serbuk, pori-pori dan besar butir sangat mempengaruhi karakteristik HA. Pori-pori Hidroksiapatit ternyata tidak teratur dalam bentuk dan ukuran serta tidak sepenuhnya saling berhubungan satu sama lain. Hal ini menyebabkan porositas hidroksiapatit yang dihasilkan rendah, akibatnya struktur keramik hidroksiapatit tidak kompak sehingga apabila digunakan sebagai implant ortopedik karakteristiknya rapuh atau mudah patah. Karena hal tersebut, dikembangkanlah IP-CHA (Interconnecte Porous Hydroxypatite Ceramics). IP-CHA memiliki porositas 75%, ukuran rata-rata pori 150mm dan rata-rata koneksi

antarpori 40 mm. Pori-pori yang letaknya teratur dan ukurannya seragam menjadikan karakteristik IP-CHA lebih padat atau kompak ketika digunakan sebagai material implant tulang. IP-CHA banyak digunakan dalam aplikasi klinis bedah ortophedi diantaranya untuk pengobatan pasien dengan tumor tulang falang, untuk pengobatan pasien dengan tumor tulang tibia proksimal, dan untuk patah tulang pada radius distal. http://zazilatul-k--fst09.web.unair.ac.id/artikel_detail-39163-UmumAPLIKASI%20HIDROKSIAPATIT%20DALAM%20MEDIS.html