Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN TUTORIAL KELOMPOK 12 BLOK XVIII MATA SKENARIO 2

GLAUKOMA SEKUNDER AKIBAT DARI UVEITIS ANTERIOR

OLEH: KELOMPOK 12 Dika Ambar Kusuma Muhamad Nadim Anissa Budiastuti Femi Dwi Aldin I Gusti Putu Sista W Ratri Satya Pitrasti Septina H Tutut Desi Fajarina Yasjudan R. Putra Lia Fankania B.R.S Rubinderjeet Singh (G0008010) (G0008018) (G0008052) (G0008096) (G0008106) (G0008154) (G0008166) (G0008176) (G0008184) (G0008226) (G0008504)

Tutor : Senyum Indrakila, dr., Sp. M

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2010

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mata merah merupakan keluhan penderita yang sering ditemukan. Keluhan ini timbul akibat terjadinya perubahan warna bola mata yang sebelumnya berwarna putih menjadi merah. Perubahan warna ini dapat terjadi akibat melebarnya pembuluh darah konjungtiva yang terjadi pada peradangan mata akut, pelebaran pembuluh darah perikornea akibat radang kornea, benda asing, ataupun penyakit lainnya, pecahnya pembuluh darah pada mata, maupun adanya darah yang tertimbun di bawah konjungtiva (Ilyas, 2009). Mata merah dapat dibagi menjadi mata merah dengan visus normal ataupun mata merah dengan visus terganggu akibat keruhnya media penglihatan bersama-sama mata yang merah. Seorang dokter yang kompeten harus mampu melakukan pemeriksaan dan menemukan penyebab mata merah, mencari penyebab keluhan penderita, serta menganalisis pengamatan penderita. Hal tersebut dilakukan untuk menegakkan diagnosis guna pemberian terapi, menentukan prognosis, dan mencegah komplikasi (Ilyas, 2009). Dalam skenario 2 blok mata ini, mahasiswa dihadapkan pada kasus mata merah visus turun: Datang seorang pria 65 tahun dengan kedua mata merah dan nyeri, serta pandangan kabur. Kelopak mata bengkak sejak 6 hari yang lalu. Ia juga merasakan nyeri di sekitar bola mata, cekot-cekot, seperti melihat pelangi. Pada pemeriksaan mata kanan didapatkan visus 2/60, tekanan intraokuler (TIO) mata kanan 45mmHg, pemeriksaan biomikroskop slitlamp didapatkan kornea edema, anterior chamber dangkal, pupil mid dilatasi. Pada pemeriksaan mata kiri didapatkan visus 6/30, TIO 19 mmHg, didapatkan siliar injeksi dan defek berupa ulkus di regio inferior kornea yang tampak berwara hijau pada uji fluoresensi dan dengan uji placido tampak

gambaran lingkaran yang tidak konsentris dan ada bagian yang terputus, pemeriksaan biomikroskop sitlamp tampak flare dan cell di anterior chamber, pupil miosis dengan sinekia posterior. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana patofisiologi dari keluhan yang diderita pasien (mata merah, nyeri, kabur, cekot-cekot, seperti melihat pelangi)? 2. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan yang dilakukan pada mata kanan dan kiri? 3. 4. 5. Diagnosis banding apa sajakah yang mengarah pada kasus tersebut? Bagaimana prognosis pasien tersebut? Apa penatalaksanaan yang tepat untuk memperbaiki keadaan pasien?

C. Tujuan 1. Memahami patofisiologi dari keluhan yang diderita pasien (mata merah, nyeri, kabur, cekot-cekot, seperti melihat pelangi). 2. Mengetahui interpretasi dari pemeriksaan yang dilakukan pada mata kanan dan kiri. 3. Mengetahui diagnosis banding apa sajakah yang mengarah pada kasus tersebut. 4. 5. Mengetahui prognosis pasien tersebut. Mengetahui penatalaksanaan yang tepat untuk memperbaiki keadaan pasien.

D. Manfaat 1. 2. 3. Mahasiswa dapat memahami patofisiologi kelainan pada mata. Mahasiswa mampu memahami dasar-dasar pemeriksaan mata. Mahasiswa mampu merangkum dari interpretasi anamnesis, pemeriksaan fisik, uji laboratorium, dan prosedur yang sesuai.

4.

Mahasiswa mampu mengelola penyakit, keadaan sakit, dan masalah pasien sebagai indiidu yang utuh, bagian dari keluarga dan masyarakat.

5.

Mahasiswa mampu melakukan pencegahan penyakit dan keadaan sakit.

E. Hipotesis 1. 2. Mata kanan mengalami uveitis dengan komplikasi glaukoma sekunder. Mata kiri mengalami ulkus kornea dengan sinekia posterior.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. ANATOMI DAN FISIOLOGI MATA Mata adalah indera penglihatan. Mata dibentuk untuk menerima rangsangan berkas-berkas cahaya pada retina, lalu dengan perantaraan serabut-serabut nervus optikus, mengalihkan rangsangan ini ke pusat penglihatan pada otak, untuk ditafsirkan. Adapun anatomi organ penglihatan dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu: 1. Adneksa Mata Merupakan jaringan pendukung mata yang terdiri dari: Kelopak Mata Kelopak mata berfungsi melindungi mata dan berkedip serta untuk melicinkan dan membasahi mata. Konjungtiva Konjungtiva adalah membran tipis yang melapisi dan melindungi bola mata bagian luar. Sistem Saluran Air Mata (Lakrimal) Menghasilkan cairan air mata, dimana terletak pada pinggir luar dari alis mata. Rongga Orbita Merupakan rongga tempat bola mata yang dilindungi oleh tulang-tulang yang kokoh. Otot-Otot Bola Mata Masing-masing bola mata mempunyai 6 (enam) buah otot yang berfungsi menggerakkan kedua bola mata secara terkoordinasi pada saat melirik (Perdami, 2005:1). 2. Bola Mata Jika diurut mulai dari yang paling depan sampai bagian belakang, bola mata terdiri dari:

a. Kornea Kornea disebut juga selaput bening mata, jika mengalami kekeruhan akan sangat mengganggu penglihatan. Kornea bekerja sebagai jendela bening yang melindungi struktur halus yang berada di belakangnya, serta membantu memfokuskan bayangan pada retina. Kornea tidak mengandung pembuluh darah (Pearce, Evelyn, 1999:318). b. Sklera Yaitu lapisan berwarna putih di bawah konjungtiva serta merupakan bagian dengan konsistensi yang relatif lebih keras untuk membentuk bola mata (Perdami, 2005:1). c. Bilik Mata Depan Suatu rongga yang berisi cairan yang memudahkan iris untuk bergerak (Perdami, 2005:1). d. Uvea Terdiri dari 3 bagian yaitu iris, badan siliar dan koroid. Iris adalah lapisan yang dapat bergerak untuk mengatur banyaknya cahaya yang masuk ke dalam mata. Badan siliar berfungsi menghasilkan cairan yang mengisi bilik mata, sedangkan koroid merupakan lapisan yang banyak mengandung pembuluh darah untuk memberi nutrisi pada bagian mata (Perdami, 2005:1). e. Pupil Merupakan suatu lubang tempat cahaya masuk ke dalam mata, dimana lebarnya diatur oleh gerakan iris (Perdami, 2005:1). Bila cahaya lemah iris akan berkontraksi dan pupil membesar sehingga cahaya yang masuk lebih banyak. Sedangkan bila cahaya kuat iris akan berelaksasi dan pupil mengecil sehingga cahaya yang masuk tidak berlebihan. f. Lensa Lensa adalah suatu struktur biologis yang tidak umum. Transparan dan cekung, dengan kecekungan terbesar berada pada sisi depan (Seeley, Rod R., 2000:514). Lensa adalah organ fokus utama, yang membiaskan berkas-berkas cahaya yang terpantul dari benda-benda yang dilihat, menjadi bayangan yang jelas pada retina. Lensa berada dalam sebuah

kapsul elastik yang dikaitkan pada

korpus siliare khoroid oleh siliare,

ligamentum suspensorium. Dengan mempergunakan otot

permukaan anterior lensa dapat lebih atau agak kurang dicembungkan, guna memfokuskan benda-benda dekat atau jauh. Hal ini disebut akomodasi visual (Pearce, Evelyn, 1999:318). g. Badan Kaca (Vitreus) Bagian terbesar yang mengisi bola mata, disebut juga sebagai badan kaca karena konsistensinya yang berupa gel dan bening dapat meneruskan cahaya yang masuk sampai ke retina (Perdami, 2005:2). h. Retina Merupakan reseptor yang peka terhadap cahaya. Retina adalah mekanisme persyarafan untuk penglihatan. Retina memuat ujung-ujung nervus optikus. Bila sebuah bayangan tertangkap (tertangkap oleh mata) maka berkas-berkas cahaya benda yang dilihat, menembus kornea, aqueus humor, lensa dan badan vitreus guna merangsang ujung-ujung saraf dalam retina. Rangsangan yang diterima retina bergerak melalui traktus optikus menuju daerah visuil dalam otak, untuk ditafsirkan. Kedua daerah visuil menerima berita dari kedua mata, sehingga menimbulkan lukisan dan bentuk (Pearce, Evelyn, 1999:319). i. Papil Saraf Optik Berfungsi meneruskan rangsangan cahaya yang diterima dari retina menuju bagian otak yang terletak pada bagian belakang kepala (korteks oksipital) (Perdami, 2005:2). Bagian mata yang sangat penting dalam memfokuskan bayangan pada retina adalah kornea, aqueus humor, lensa dan badan vitreus. Seperti yang selalu terjadi dalam menafsirkan semua perasaan yang datang dari luar, maka sejumlah stasiun penghubung bertugas untuk mengirimkan perasaan, dalam hal ini penglihatan. Sebagian stasiun penghubung ini berada dalam retina. Sebelah dalam tepi retina, terdapat lapisan-lapisan batang dan kerucut yang merupakan sel-sel penglihat khusus yang peka terhadap cahaya. Sela-sela berupa lingkaran yang terdapat di antaranya, disebut granula. Ujung proximal batang-batang dan kerucut-kerucut itu membentuk sinapsis (penghubung) pertama

dengan lapisan bipoler dalam retina. Proses kedua yang dilakukan sel-sel itu adalah membentuk sinapsis kedua dengan sel-sel ganglion besar, juga dalam retina. Axon-axon sel-sel ini merupakan serabut-serabut dalam nervus optikus. Serabut-serabut saraf ini bergerak ke belakang, mula-mula mencapai pusat yang lebih rendah dalam badan-badan khusus talamus, lantas akhirnya mencapai pusat visuil khusus dalam lobus oksipitalis otak, di mana penglihatan ditafsirkan (Pearce, Evelyn, 1999:320). Fungsi Refraksi Mata Lensa memegang peranan penting dalam pembiasan (refraksi) cahaya. Refraksi adalah pembiasan cahaya apabila cahaya memasuki media yang berbeda kerapatannya (densitasnya) dengan arah miring. Pada saat berkas cahaya datang dari udara melewati bangunan yang bening pada mata yang disebut media refrakta, maka cahaya tadi akan dibengkokkan (dibelokkan). Media refrakta meliputi kornea, lensa, dan badan kaca. Lensa adalah bagian yang penting dalam proses ini karena lensa membelokkan cahaya agar cahaya tadi dapat difokuskan (dipusatkan ) di retina. Dari retina cahaya diubah ke dalam impuls cahaya yang dihantarkan melewati nervus optikus ke pusat penglihatan di lobus oksipitalis otak (Darling, Vera H. dan Thorpe, Margaret T., 1996:38). Apabila lensa berada dengan jarak fokus yang sama, maka bayangan akan kabur apabila objek didekatkan ke mata. Untuk dapat melihat objek yang didekatkan mata dengan jelas harus terjadi perubahan kecembungan lensa untuk dapat mengubah jarak fokus (jarak titik api). Proses ini disebut akomodasi. Akomodasi dimungkinkan karena adanya zonula atau ligamentum suspensorium lentis yang mengelilingi lensa, yang dikendalikan oleh muskulus siliaris. Apabila muskulus siliaris berkontraksi, ligamentum suspensorium mengalami relaksasi (mengendor) dan menambah kelengkungan lensa. Kejadian ini diiringi dengan konvergensi mata dan konstriksi pupil untuk memungkinkan cahaya melewati bagian sentral lensa. Pada mata normal dimungkinkan untuk melihat objek sedekat 25 cm (Darling, Vera H. dan Thorpe, Margaret T., 1996:38). B. Kelainan Refraksi

Hasil pembiasan sinar pada mata ditentukan oleh media penglihatan yang terdiri atas kornea, cairan mata, lensa, benda kaca, dan panjangnya bola mata. Pada orang normal susunan pembiasan oleh media penglihatan dan panjangnya bola mata demikian seimbang sehingga bayangan benda selalu melalui media penglihatan dibiaskan tepat di daerah makula lutea. Mata yang normal disebut sebagai mata emetropia dan akan menempatkan bayangan benda tepat di retinanya pada keadaan mata tidak melakukan akomodasi atau istirahat melihat jauh (Sidarta Ilyas, 2004:72). Dikenal beberapa titik di dalam bidang refraksi, seperti Pungtum Proksimum merupakan titik terdekat dimana seseorang masih dapat melihat dengan jelas. Pungtum Remotum adalah titik terjauh dimana seseorang masih dapat melihat dengan jelas, titik ini merupakan titik dalam ruang yang berhubungan dengan retina atau foveola bila mata istirahat. Pada emetropia, pungtum remotum terletak di depan mata (Sidarta Ilyas, 2004:72). Secara klinik kelainan refraksi adalah akibat kerusakan ada akomodasi visual, entah itu sebagai akibat perubahan biji mata, maupun kelainan pada lensa. Kelainan refraksi yang sering dihadapi sehari-hari adalah miopia, hipermetropia, presbiopia, dan astigmatisma. C. Uveitis Anterior Uveitis adalah peradangan pada jaringan uvea. Peradangan ini dapat mengenai bagian depan jaringan uvea atau iris, yang nantinya akan disebut iritis. Bila mengenai bagian yang tengah disebut sklitis. Biasanya iritis akan disertai dengan sklitis yang disebut dengan uveitis anterior. Etiologi Penyebabnya bisa eksogen atau endogen. Eksogen biasanya disebabkan oleh trauma uvea atau invasi mikroorganisme dari luar. Sedangkan endogen biasanya disebabkan oleh autoimun, keganasan, atau mikroorganisme dari tubuh penderita itu sendiri misalnya tuberkulosis dan herpes simpleks. Manifestasi Klinis Pada keadaan uveitis akut, pasien akan mengeluh mata sakit, merah, berair, fotofobia, penglihatan turun ringan dan perlahan. Kesulitan melihat dekat juga

kadang dikeluhkan oleh pasien, hal itu disebabkan otot-otot akomodasi juga mengalami peradangan. Uveitis anterior yang kronis merupakan episode rekurensi dari yang akut dengan gejala-gejala minimal walaupun inflamasinya berat. Pada pemeriksaan ditemukan injeksi siliar, pupil miosis, flare pada bilik mata depan, bila peradangan akut akan terlihat hifema. Tekanan bola mata bisa menurun atau meningkat, menurun disebabkan hipofungsi dari badan siliar akibat peradangan, sedangkan bila meningkat mengindikasikan adanya sumbatan pada saluran aqueos humor atau perlekatan di sudut bilik mata. Komplikasi Sinekia posterior dan sinekia posterior dapat mengakibatkan glaukoma sekunder Penatalaksanaan Diberikan steroid tetes mata pada siang hari dan salep pada malam hari. Dapat dipakai deksametason, betametason, atau prednisolon 1 tetes setiap 5 menit kemudian diturunkan hingga perhari. Bila perlu juga steroid sistemik dosis tinggi selang sehari kemudian diturunkan sampai dosis efektif, dapat dipakai prednisolon 5 mg. Untuk mengurangi rasa sakit, melepas sinekia, dan mengistirahatkan iris yang meradang D. Ulkus Kornea Ulkus kornea adalah infiltrasi disertai hilangnya sebagian jaringan kornea. Biasanya didahului faktor pencetus rusaknya sistem barier epitel kornea karena sebab-sebab : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Trikiasis : arah bulu mata (cilium ke dalam sebabkan mikrolesi lalu ada kuman yang masuk. Erosi kornea, akibat soft lens, trauma, luka bakar pada muka Pemakaian lensa kontak Exposure keratitis, dikarenakan kelopak tidak dapat menutup secara sempurna Exotalmus, keratitis neuroparalitik, keratitis superficial virus, defisiensi vitamin A Kelainan sistemik seperti malnutrisi, alkoholisme, sindrom Steven Johnsosn, sindrom defisiensi imun diberikan sikloplegik. Setelah infeksi fokal, penyakit yang mendasari, atau kuman penyebab diketahui, diberikan pengobatan spesifik.

7.

Obat yang menurunkan mekanisme imunitas, seperti kortikosteroid, IDU, lokal anestesi, imunosupresif

Etiologi 1. 2. 3. 4. Bakteri : Streptokok, pneumoniae Virus : herpes simpleks, zoster, vaksinia, variola Jamur : golongan kandida, fusarium, aspergilus, sefalo sporium Reaksi hipersenstivitas : terhadap stafilokokus (ulkus marginal), TBC (keratokonjungtivitis flikten), alergen tidak diketahui (ulkuks cincin) Manifestasi Klinis Mata merah, sakit ringan hingga berat, fotofobia, penglihatan menurun, kadang kotor. Pada pemeriksaan terlihat kekeruhan berwarna putih pada kornea dengn defek epitel yang bila diberi pewarnaan flouresein. Iris sukar dilihat dengan udem kornea dan infiltrasi sel radang pada kornea. Dapat disertai penipisan kornea, lipatan descendet, reaksi jaringan uvea berupa flare, hipopion, hifema, dan sinekia posterior. Bila disebabkan jamur, maka infiltrat akan berwarna abu-abu dikelilingi infiltrat halus disekitarnya (fenomena satelit). Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium sangat berguna untuk membantu membuat diagnosis kausa. Pemeriksaan jamur dilakukan dengan sediaan hapus yang memakai larutan KOH. Sebaiknya setiap tukak kornea dilakukan pemeriksaan agar darah, Sabouaud, triglikolat, dan agar coklat. Penatalaksanaan Pengobatan pada tukak kornea bertujuan untuk menghalangi hidupnya bakteri dengan antibiotika, dan mengurangi reaksi radang dengan steroid. Secara umum tukak diobati sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. Tidak boleh dibebat, karena akan menaikkan suhu sehingga akan berfungsi sebagai inkubator Sekret yang terbentuk dibersihkan 4 kali sehari Diperhatikan kemungkinan terjadinya glaukoma sekunder Debridement sangat membantu penyembuhan Diberi antibiotika sesuai dengan kausa. Biasanya diberi lokal kecuali keadaan berat.

E. Glaukoma Akut Glaukoma akut adalah penyakit mata yang disebabkan oleh tekanan intraokulaer yang meningkat sangat tinggi. Etiologi Dapat terjadi primer, yaitu timbul pada mata yang memiliki bakat bawaan berupa sudut bilik mata depan yang sempit pada kedua mata, atau secara sekunder sebagai akibat penyakit mata lain. Bentuk primer biasanya menyerang pasien usia 40 tahun atau lebih. Biasanya juga disebabkan pemakaian obat midriatik, berdiam lama ditempat yang gelap, dan ganguan emosional. Bentuk sekunder sering disebabkan hifema, luksasi/subluksasi lensa, katarak intumesen atau katarak hipermatur, uveitis dengan suklusio/oklusio pupil dan iris bombe, atau pascabedah intraokuler. Manifestasi Klinis Rasa sakit hebat yang menjalar ke kepala disertai mual dan muntah, mata merah dan bengkak, tajam penglihatan sangat menurun, dan melhat lingkaran seperti pelangi. Pada pemeriksaan dengan lampu senter terlihat injeksi konjungtiva, injeksi siliar, kornea suram karena sembab, reaksi pupil hilang atau melambat, kadang pupil midriasis, kedua bilik mata depan tampak dangkal pada bentuk primer, sedangkan pada bentuk sekunder dijumpai penyakit penyebabnya. Pada perabaan, bola mata yang sakit lebih keras dari pada sebelahnya. Funduskopi sulit dilakukan karena terdapat kekeruhan media refraksi. Pemeriksaan Penunjang Pengukuran dengan tonometri Schiotz menunjukkan peningkatan tekanan. Perimetri, gonioskopi, dan tonografi dilakukan setelah edem kornea menghilang. Penatalaksanaan Penurunan tekanan intraokular harus segera dilakukan dengan memberikan asetazolamid 500 mg, solusio gliserin 50% 4 x 100-150 ml dalam air jeruk, penghambat beta adrenergik 0,25-0,5% 2 x 1, dan KCl 3 x 0,5 g. Untuk mengurangi inflamasi diberikan tetes mata kortikosteroid.

Untuk bentuk primer, diberikan tetes mata pilokarpin 2% tiap -1 jam pada mata yang mendapat serangan dan 3 x1 pada mata sebelahnya. Bila perlu diberikan analgesik dan anti emetik. Bila tekanan intra okular tidak menurun dipersiapkan untuk melakukan operasi. Bila TIO menurun, operasi ditunda sampai mata lebih tenang dengan tetap memantau TIO. Jenis operasi, iridektomi atau infiltrasi, ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan gonioskopi setelah pengobatan medika mentosa. Untuk pencegahan, iridektomi juga dilakukan di mata sebelahnya. Untuk glaukoma sekunder segera dicari penyebabnya dan diobati kausanya.

BAB III PEMBAHASAN Berdasarkan skenario yang ada, didapatkan seorang pasien pria berusia 65 tahun dengan kondisi sebagai berikut: Keluhan utama: kedua mata merah dan nyeri, serta pandangan kabur. Riwayat penyakit dahulu: kelopak mata bengkak sejak 6a hari yang lalu. Pasien juga merasakan nyeri di sekitar bola mata, cekot-cekot, seperti melihat pelangi. Hasil pemeriksaan mata kanan: visus 2/60, tekanan intraokuler mata kanan 45 mmHg, pemeriksaan biomikroskop slitlamp didapatkan kornea edema, anterior chamber dangkal, pupil mid dilatasi. Hasil pemeriksaan mata kiri: visus 6/30, tekanan intraokuler mata kiri 19 mmHg, terdapat siliar injeksi dan defek berupa ulkus di regio inferior kornea yang tampak berwarna hijau pada uji fluoresensi dan dengan uji plasido tampak gambaran lingkaran yang tidak konsentris dan ada bagian yang terputus, pemeriksaan biomikroskop slitlamp tampak flare dan cell di anterior chamber, pupil miosis dengan sinekia posterior. Ilyas (2009) menuliskan diagnosis banding untuk keluhan mata merah dan visus turun yang disertai nyeri adalah glaukoma akut, uveitis, keratitis, ulkus kornea, endophthalmitis, ophtalmia sympatica, dan panophthalmitis. Berdasarkan hasil anamnesis diketahui bahwa 6 hari yang lalu pasien mengalami pembengkakan di kelopak mata, nyeri di sekitar bola mata, cekotcekot, dan seperti melihat pelangi. Gejala ini sesuai dengan gejala glaukoma sudut tertutup akut (James, et al, 2006). Hasil pemeriksaan visus didapatkan visus mata kanan adalah 2/60. Menurut klasifikasi WHO, hal ini masuk dalam klasifikasi buta sosial, sedangkan visus mata kiri yaitu 6/30 masuk dalam klasifikasi rabun (Ilyas, dkk 2002). Tekanan intraokular mata kanan didapatkan meningkat yaitu sebesar 45 mmHg dan tekanan intraokular mata kiri didapatkan normal rata-rata yaitu sebesar 19 mmHg. Adanya tekanan intraokular dalam batas normal atau lebih rendah,

belum dapat menyingkirkan diagnosis glaukoma karena keadaan glaukoma masih dipengaruhi oleh keadaan discus opticus dan zona penglihatan. Pada pemeriksaan biomikroskop slitlamp, di kornea mata kanan terjadi edema yang terjadi akibat peningkatan tekanan bola mata yang tinggi sekali. Selain itu, didapatkan anterior chamber yang dangkal yang merupakan faktor predisposisi dari glaukoma karena dapat menyebabkan hambatan aliran aqueous humor dari bilik mata belakang ke bilik mata depan, yang dinamakan hambatan pupil (pupillary block). Hambatan ini dapat menyebabkan meningkatnya tekanan di bilik mata belakang. Dari hasil pemeriksaan didapatkan pula pupil mid dilatasi, keadaan ini berbahaya karena pada saat itu iris kurang teregang sehingga mudah terdorong ke depan (iris bombae) dan akar iris lebih menebal. Faktor ini dapat mempercepat timbulnya serangan glaukoma akut sekunder yang menjadi perjalanan penyakit dari uveitis. Pada pemeriksaan mata kiri didapatkan siliar injeksi yaitu pelebaran pembuluh darah tepatnya arteri ciliaris anterior dari kornea. Injeksi siliar dapat timbul karena radang uvea anterior, endoftalmitis, dan glaukoma akut (Ilyas, dkk, 2002). Selain itu, pada mata kiri didapatkan defek berupa ulkus di regio inferior kornea yang tampak berwarna hijau pada uji fluoresensi. Hal ini menandakan adanya defek pada epitel kornea, adanya ulkus kornea, dapat dalam bentuk erosi kornea/infiltrat. Sedangkan, dengan uji placido tampak gambaran lingkaran yang tidak konsentris dan ada bagian yang terputus. Hal ini menandakan adanya ulkus serta permukaan kornea yang tidak rata dan tidak reguler. Pemeriksaan biomikroskop slitlamp pada mata kiri menyebutkan adanya flare dan cell di anterior chamber. Hal ini biasanya terjadi pada peradangan uvea, dimana radang iris dan badan siliar menyebabkan rusaknya Blood Aqueous Barrier sehingga terjadi peningkatan protein, fibrin, dan sel-sel radang dalam humor aqueous yang tampak pada penyinaran dan berkas sinar tersebut yang disebut flare (Ilyas, dkk, 2002). Pupil miosis dengan sinekia posterior juga didapatkan pada pemeriksaan biomikroskop slitlamp di mata kiri. Hal ini juga biasa terjadi pada kasus peradangan uvea dimana peradangan iris menyebabkan terjadinya kongesti iris

dan menimbulkan eksudasi sehingga timbul perlekatan iris pada permukaan lensa. Otot sfingter pupil juga mendapat rangsangan karena radang yang kemudian menyebabkan pupil akan miosis (Ilyas, dkk, 2002). Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan diagnosis untuk mata kanan adalah glaukoma akut sekunder yang diawali oleh uveitis, sedangkan untuk mata kiri adalah uveitis anterior dan ulkus kornea. Diagnosis glaukoma ditegakkan berdasarkan gejala-gejala yang dialami pasien yaitu adanya penurunan tajam penglihatan (biasanya secara mendadak) disertai mata merah, cekot-cekot, peningkatan tekanan bola mata yang tinggi sekali sehingga menimbulkan edema kornea, dan anterior chamber dangkal. Prinsip pengobatan pada glaukoma akut adalah tindakan pembedahan untuk melepaskan hubungan antara iris dengan trabekular meshwork, sehingga terhindarlah hubungan antara keduanya. Pengobatan medikamentosa harus selalu dikerjakan terlebih dahulu untuk menurunkan tekanan bola mata sebagai persiapan pembedahan nantinya. Menurunkan tekanannya berarti memperkecil prolapnya iris dan menghindari perdarahan selama dioperasi. Pada glaukoma akut tindakan pembedahan dikerjakan pada kedua mata mengingat kecenderungan mata kontra-lateral akan mengalami serangan juga pada 5 tahun mendatang sekitar 60-70% (Soeroso, 2007). Diagnosis uveitis anterior ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan yang dijalani pasien. Terdapat keluhan nyeri okular, penglihatan kabur, mata merah, tajam penglihatan menurun, terdapat injeksi siliar, ada flare dan cell di anterior chamber, pupil miosis dengan sinekia posterior (James, et al, 2006). Terapi pada uveitis bertujuan menghilangkan nyeri dan inflamasi pada mata dan mencegah kerusakan struktur okular terutama pada makula dan saraf optik yang dapat menyebabkan kehilangan penglihatan permanen. Terapi steroid merupakan terapi pilihan utama, pada uveitis anterior steroid diberikan dalam bentuk tetes mata. Pada uveitis anterior, mendilatasikan pupil dapat menghilangkan nyeri akibat spasme siliar dan mencegah pembentukan sinekia posterior dengan memisahkannya dari kapsul anterior lensa. Bila tidak, sinekia

menyebabkan gangguan dilatasi normal pupil. Dilatasi dicapai dengan midriatikum, misalnya tetes mata siklopentolat dan fenilefrin inisial yang intensif. Penyuntikan midriatikum subkonjungtiva membantu melepaskan sinekia resisten (James, et al, 2006). Ulkus kornea juga didapatkan pada mata kiri berdasarkan hasil uji fluoresensi dan uji placido. Ulkus kornea mengharuskan segera ditegakkannya diagnosis dan pemberian pengobatan yang tepat untuk mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat. Oleh karena itu, pengenalan tentang mikroorganisme penyebabnya dan gambaran klinik serta penanganannya merupakan hal yang perlu diketahui (Ilyas, dkk, 2002). Pada ulkus yang menghancurkan membran Bowman dan stroma akan menimbulkan sikatriks kornea.

BAB IV PENUTUP A. SIMPULAN Dari analisis di atas, maka diagnosis yang mendekati untuk pasien adalah pada mata kiri terjadi uveitis anterior dan ulkus kornea. Sedangkan pada mata kanan terjadi glaukoma akut sekunder yang merupakan perjalan penyakit dari uveitis. B. SARAN Sebagai seorang dokter umum, maka tindakan yang sebaiknya dilakukan kepada pasien adalah: 1. Merujuk pasien pada dokter spesialis mata untuk mendapatkan terapi yang sesuai dengan penyakit dan stadium. 2. Menyarankan dilakukannya pemeriksaan mikrobiologi terhadap ulkus kornea yang diderita pasien untuk mengetahui penyebabnya.

DAFTAR PUSTAKA Darling, Vera H., dan Thorpe, Margaret R. 1996. Perawatan Mata. Terjemahan Hartono. Yogyakarta: Yayasan Essentia Medica Ganong, W. F. 2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Terjemahan Petrus Andrianto. Jakarta: EGC Ilyas, Sidarta, 2002. Ilmu Penyakit Mata untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran.Edisi 2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. James, Bruce, C. Chew, A. Bron. 2006. Lecture Notes Oftalmologi. Jakarta: Erlangga. Mansjoer, A., Triyanti, K., Savitri, R., Wardhani, W. K., Setiowulan, W. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jilid I. Jakarta: Media Aesculapius FK UI. Pearce, Evelyn. 1999. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Terjemahan Sri Yuliani Handoyo. Jakarta: Gramedia Perdami. 2005. Anatomi dan Faal Mata. http//www. indonet. Id Sidarta Ilyas. 2004. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit FKUI Slide Kuliah dr. Djafar, Sp. M. 2009. Sklera, Konjungtiva, Kornea. Soeroso, Admadi. 2007. Glaukoma. Surakarta: SMF Ilmu Penyakit Mata FK UNS/RSUD Dr. Moewardi.