Anda di halaman 1dari 5

Pengaruh Massa Biji Kelor (Moringa oleifera Lamk) dan Waktu Pengendapan pada Air Gambut (Irianty)

PENGARUH MASSA BIJI KELOR (Moringa oleifera Lamk) DAN WAKTU PENGENDAPAN PADA PENGOLAHAN AIR GAMBUT
Rozanna Sri Irianty
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Riau Kampus Binawidya Jl. H.R. Subrantas Km 12.5 Simpang Baru Pekanbaru 28293

ABSTRACT
Water purification with Moringa seeds can be said can be as a water purification chemicals, since the collision delicate Moringa seeds can cause the clot (coagulants) on the dirt contained in the water. In this research, experiments using Moringa oleifera biocoagulant to know how far the effectiveness of Moringa oleifera in the allowance for turbidity (NTU), TDS (mg/l), colour (Pt Co), iron (mg/l), and pH contained in the peat water. By varying the Moringa seed mass and time of deposition, it was found that the optimum conditions on Moringa oleifera dose of 250 mg/l of water, peat and settling time of 10 minutes, the result for the effectivenessof provision for 85.9% turbidity, TDS 91.1%, colour 82.1 %, iron 89.8%, and pH of 6.9%. Key word: Moringa oleifera seeds, processing of peat water

PENDAHULUAN Masalah air bersih merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang sering dijumpai di pedesaan. Hal ini disebabkan karena sumber air bersih di pedesaan umumnya masih tergantung pada sumber air alami. Di daerah pedesaan yang memiliki lahan gambut, air permukaan umumnya merupakan air gambut. Penduduk pedesaan di daerah berlahan gambut terpaksa memanfaatkan air yang kurang baik kualitasnya, karena sulitnya mendapatkan air bersih. Hal ini dapat berdampak negatif bagi kesehatan. Secara umum karakteristik air gambut berasa asam, berwarna coklat, dan memiliki kandungan zat organik tinggi. Tanah gambut terjadi akibat tumpukan dari batang, daun atau pohon-pohon yang melapuk karena dirusak oleh bakteri atau jasa renik. Pada umumnya tanah demikian ini adalah bekas hutan, merupakan suatu areal yang cukup luas dan disebut daerah gambut. Air gambut sebagai sumber air dipengaruhi oleh air pasang surut yang terjadi setiap saat. Pasang surutnya air permukaan di daerah gambut adalah berasal dari sungai yang ada disekitarnya. Pada keadaan pasang air sungai yang berwarna kuning kecoklat-coklatan menyusup kesela-sela gambut mencuci atau melarutkan zat warna yang ada dalam gambut, sehingga air menjadi coklat (Effendi, 2003). Agar air gambut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai air minum, perlu dicari cara pengolahan air gambut yang sederhana dan murah.
82

Upaya ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan biji kelor yang berfungsi sebagai koagulan atau bahan pengumpal (Kusnaedi, 2002). Untuk pengolahan air gambut menjadi air minum, salah satu alternatif yang tersedia secara lokal adalah penggunaan koagulan alami dari tanaman yang dapat diperoleh disekitar kita, misalnya tanaman kelor (Moringa oleifera Lamk). Menurut Alimudin (Suara Merdeka, 2002), penggunaan koagulan serbuk biji kelor lebih ekonomis dibanding dengan menggunakan tawas. Perbedaan penjernihan air dengan menggunakan tawas dan serbuk biji kelor adalah pada lamanya waktu pengendapan partikel setelah pengadukan, yaitu hanya lima menit, sedangkan dengan kelor mencapai 10 hingga 15 menit. Penggunaan serbuk biji kelor lebih ekonomis dibanding tawas, karena tanaman kelor dapat dibudidayakan, sementara daun dan buahnya yang dikembangkan dengan biji dan stek dan dapat tumbuh dengan cepat di daerah berair, sehingga dapat dibudidayakan di sekitar daerah aliran sungai. Menurut Muyubi dan Evison (1995), kekeruhan air dapat berkurang sekitar 36-98,2 % dengan pemakaian biji kelor sebanyak 100-450 mg/l. Selain untuk perjernihan air menurut Arung (2000), biji kelor juga dapat digunakan untuk menurunkan nilai-nilai karakteristik limbah cair Industri Kayu Lapis. Biji buah kelor mengandung zat aktif rhamnosyloxy-benzil-isothiocyante, yang mampu mengadsorbsi dan menetralisir partikel-partikel lumpur serta logam yang terkandung dalam limbah tersuspensi dengan partikel kotoran yang melayang dalam air

Jurnal Sains dan Teknologi 9 (2), September 2010: 82-86

(Suara Merdeka, 2002). Biji kelor diketahui mengadung polielektrolit kationik dan flokulan alamiah dengan komposisi kimia berbasis polipeptida yang mempunyai berat molekul 6.000 16.000 dalton, mengandung 6 asam-asam amino sehingga dapat mengkoagulasi dan flokulasi kekeruhan air (Nurasiah dkk, 2002). Telah dilakukan proses penjernihan air menggunakan biji kelor oleh Pandia dan Husin (2004) dengan hasil biji kelor efektif dalam penjernihan air. Dari uraian diatas, pemanfaatan bahan koagulasi alamiah seperti biji kelor dimungkinkan dapat digunakan oleh masyarakat desa untuk penjernihan air. Disisi lain pemanfaatan biji kelor tentunya akan meningkatkan nilai tambah pada akhirnya akan membantu meningkatkan perekonomian petani yang menanam pohon kelor. Tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahui jumlah massa biji kelor dan waktu pengendapan yang tepat terhadap jumlah air dalam proses penjernihan air gambut. BAHAN DAN METODE Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi air gambut, biji kelor, dan bahan-bahan kimia untuk analisa air dan biji kelor. Bahan kimia yang digunakan adalah; H2SO4 (p.a), KMnO4 (p.a), Asam Oksalat (p.a), n-Heksan (p.a), Na2SO4 (p.a), NaOH (p.a), Na2S2O3 (p.a), Borax (p.a), HCl (p.a), KJ (p.a), CuSO4 (p.a), Asam Sitrat (p.a), HgO (p.a), Tepung Pati, Larutan Luff Schoorl, Kertas Saring, dan Kertas pH. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah; pH Meter Orion Model 420 A, Turbidimeter Hach Model 2100 A, AAS Unicam Solaas 969, Furnace Thermolyne, Oven Gallenkamp, Pompa Vacum Laboport, Desicator, Heating Mantel Electromal M A, Seperangkat Alat Sokletasi, Seperangkat Alat Ekstraksi, Timbangan Analitis Merk Haus, dan Peralatan Gelas. Percobaan ini dimulai dengan pengambilan sampel air gambut sebanyak 2,5 liter di daerah Desa Bunga Raya dan dilakukan analisa warna, kekeruhan, pH, zat prganik, dan besi. Selanjutnya persiapan biji kelor. Biji kelor yang tua dikeluarkan dari buahnya, kemudian dihaluskan dengan menggunakan blender, lalu dikeringkan pada suhu kamar. Tepung biji kelor dianalisa untuk menentukan kandungan protein, karbohidrat, lemak, mineral, dan air. Air gambut dimasukkan kedalam erlemenyer dan
83

dicampur dengan tepung biji kelor yang teleh diberi air sedikit (berbentuk pasta), pada saat itu waktu pengendapan mulai dicatat. Air hasil pengolahan ini kemudian disaring dengan menggunakan kertas saring. Air hasil penyaringan dianalisa untuk parameter, warna, kekeruhan, pH, zat organik (sebagai KMnO4), dan besi (sebagai Fe). Percobaan dilakukan dengan variasi berat biji kelor sebanyak enam taraf, yaitu; 125, 250, 375, 500, 625, dan 750 mg, dan waktu pengendapan dengan tiga taraf, yaitu; 5,10, dan 15 menit. Analisa yang dilakukan untuk mengetahui derajat keasaman pH adalah dengan metoda pengukuran secara potensiometri dengan alat pH, untuk pemeriksaam warna dilakukan dengan metoda pengukuran secara spektrofotometri dengan alat spektrofotometer, untuk menganalisa kekeruhan digunakan metoda nephelometri, untuk mengetahui nilai permangat dilakukan metoda oksidasi dalam suasana asam, sedangkan untuk mengetahui kadar besi (Fe) yang ada dilakukan dengan metoda analisis secara langsung dengan alat spektrofotometer Serapan Atom pada panjang gelombang 248,3nm. Data yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan analisis regresi ganda menggunakan SPSS (Statistical Product and Service Solution) versi 10,0. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh massa biji kelor dan waktu pengendapan terhadap pH Pengaruh massa biji kelor dan waktu pengendapan terhadap pH dapat dilihat pada Gambar 1. Dari Gambar 1 dapat dilihat bahwa pH mengalami kenaikan dari kondisi awal yaitu pH sebesar 4.98-7.03 pada penambahan berat biji kelor 250 mg/l

Gambar 1. Pengaruh massa biji kelor dan waktu pengendapan terhadap pH

Pengaruh Massa Biji Kelor (Moringa oleifera Lamk) dan Waktu Pengendapan pada Air Gambut (Irianty)

air gambut. Dikarenakan reaksi antar kation Amonium (gugus amino) pada protein yang terkandung dalam biji kelor dengan senyawa-senyawa yang member kontribusi pada air gambut. Sedangkan pada penambahan biji kelor lebih besar 625 mg terjadi penurunan pH, hal ini disebabkan karena air gambut yang telah mencapai pH 7, maka protein pada kondisi larutan netral bersifat agak asam. Hasil analisis statik secara regresi berganda menggunakan SPSS 10.0 diperoleh angka R square adalah 0.069, hal ini berarti nilai pH air hanya 6.9%. Dari uji ANOVA didapat tingkat signifikan 0.585 jauh lebih besar dari nilai 0.05 ( = 5%), artinya, jumlah biji kelor dan waktu pengendapan secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap pH. Hal ini sesuai dengan hasil percobaan yang dilakukan oleh Pandia dan Husin (2004) dimana penambahan biji kelor kedalam air sedikit mempengaruhi pH air baku atau secara umum tidak terlalu signifikan. Pengaruh massa biji kelor dan waktu pengendapan terhadap warna Pengaruh massa biji kelor dan waktu pengendapan terhadap warna dapat dilihat pada Gambar 2. Dari Gambar 2 dapat diketahui bahwa warna air gambut mengalami penurunan dari kondisi awal yaitu sebesar 4PtCo pada penambahan berat biji 250 mg/l air gambut, ini disebabkan karena padatan yang tersuspensi ataupun koloid-koloid yang bermuatan negatif, asam-asam humat yang terkandung dalam air gambut (yang memberikan kontribusi warna) bereaksi dengan asam amino dari protein yang terkandung dalam biji kelor. Sedangkan pada penambahan biji kelor lebih besar dari 250 mg terjadi kenaikan PtCo, hal ini disebabkan kontribusi

karbohidrat yang dikandung dalam biji kelor. Hasil analisis statik secara regresi berganda menggunakan SPSS 10.0 diperoleh angka R square adalah 0.821, hal ini berarti 82.1% warna air bisa dijelaskan oleh variabel jumlah biji kelor dan waktu pengendapan. Dari uji ANOVA didapat tingkat signifikasi seperseribu jauh lebih kecil dari nilai 0.05 ( = 5%), artinya, berat biji kelor dan waktu pengendapan secara bersama-sama berpengaruh terhadap warna. Pengaruh massa biji kelor dan waktu pengendapan terhadap kekeruhan (NTU) Pengaruh massa biji kelor dan waktu pengendapan terhadap kekeruhan dapat dilihat pada Gambar 3. Pada Gambar 3 terlihat bahwa kekeruhan air gambut mengalami penurunan dari kondisi awal yaitu sebesar 36NTU menjadi 4.3NTU pada penambahan berat biji kelor 250 mg/l air gambut. Hal ini disebabkan karena padatan yang tersuspensi ataupun koloid-koloid pada air gambut yang memberikan kontribusi kekeruhan sudah terendapkan sehingga air gambut yang telah diolah menjadi jernih. Sedangkan pada penambahan biji kelor lebih besar dari 250 mg terjadi kenaikan kekeruhan, ini disebabkan kontribusi senyawa-senyawa organik yang dikandung dalam biji kelor, yaitu karbohidrat. Hasil analisis statik secara regresi berganda menggunakan SPSS 10.0 diperoleh angka R square adalah 0.859, hal ini berarti 85.9% kekeruhan bisa dijelaskan oleh variabel jumlah biji kelor dan waktu pengendapan.. Dari uji ANOVA didapat tingkat signifikansi seperseribu jauh lebih kecil dari nilai 0.05 ( = 5%), artinya, jumlah biji kelor dan waktu pengendapan secara bersama-sama berpengaruh terhadap kekeruhan.

Gambar 2. Pengaruh massa biji kelor dan waktu pengendapan terhadap warna (PtCo)
84

Gambar 3. Pengaruh massa biji kelor dan waktu pengendapan terhadap kekeruhan (NTU)

Jurnal Sains dan Teknologi 9 (2), September 2010: 82-86

Gambar 4. Pengaruh massa biji kelor dan waktu pengendapan terhadap zat organik

Gambar 5. Pengaruh massa biji kelor dan waktu pengendapan terhadap Fe

Pengaruh massa biji kelor dan waktu pengendapan terhadap zat organik (nilai permangat) Pengaruh massa biji kelor dan waktu pengendapan terhadap zat organik dapat dilihat pada Gambar 4. Dari Gambar 4 dapat diketahui bahwa nilai permangat air gambut mengalami penurunan dari kondisi awal yaitu sebesar 20.7 mg/L menjadi 9 mg/ L pada penambahan biji kelor 250mg/l air gambut, hail ini disebabkan karena zat-zat organik pada air gambut yang bersifat reduktor telah bereaksi dengan kation ammonium dari protein yang terkandung pada biji kelor. Sedangkan pada penambahan berat biji kelor dari 250mg-750mg terjadi peningkatan nilai permangat, ini disebabkan terlarutnya sebagian kandungan senyawa-senyawa organik biji kelor. Hasil analisis statik secara regresi berganda menggunakan SPSS 10.0 diperoleh angka R square adalah 0.911, hal ini berarti 91.1% jumlah zat organik bisa dijelaskan oleh variabel jumlah biji kelor dan waktu pengendapan. Dari uji ANOVA didapat tingkat signifikasi seperseribu jauh lebih kecil dari nilai 0.05 ( = 5%), artinya, berat biji kelor dan waktu pengendapan secara bersama-sama berpengaruh terhadap nilai permangat. Pengaruh massa biji kelor dan waktu pengendapan terhadap kadar logam Fe Pengaruh massa biji kelor dan waktu pengendapan terhadap zat organik dapat dilihat pada Gambar 5. Dari Gambar 5 dapat dilihat bahwa kadar logam Fe air gambut mengalami penurunan dari kondisi awal yaitu sebesar 0.43 mg/L menjadi 0.1 mg/L pada penambahan massa biji kelor 750 mg/l air gambut. Hasil analisis statik secara regresi berganda
85

menggunakan SPSS 10.0 diperoleh angka R square adalah 0.898, hal ini berarti 89.8% kadar Fe bisa dijelaskan oleh variabel jumlah biji kelor dan waktu pengendapan. Dari uji ANOVA didapat tingkat signifikasi seperseribu jauh lebih kecil dari nilai 0.05 ( = 5%), artinya, massa biji kelor dan waktu pengendapan secara bersama-sama berpengaruh terhadap kadar logam Fe. KESIMPULAN Hasil pengolahan air gambut dengan menggunakan biji kelor menunjukkan untuk parameter warna, kekeruhan, kadar zat organik, dan kadar logam Fe berpengaruh signifikan terhadap variabel biji kelor dan waktu pengendapan. Air gambut dengan karakteristik pH 4,9, warna 45 PtCo, kekeruhan 36 NTU, kadar zat organik 20.7mg/L dan kadar logam Fe 0.43mg/L diolah menggunakan 250mg/l air gambut biji kelor dan waktu pengendapan 10 menit, menununjukkan perubahan parameter pH sebesar 6,9%, warna sebesar 82,1%, kekruhan sebesar 85,9%, kadar zat organik sebesar 91,1% dan kadar besi sebesar 89,8%. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kepada Cesilia Lasiyah (mahasiswi Teknik Kimia, UR) yang telah membantu dalam penulisan artikel dan Teknisi Laboratorium Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Riau. DAFTAR PUSTAKA Arung, Enos Tangke. 2000. Pemanfaatan Jaringan Tanaman Kelor (Moringa oleifera Lamk.) sebagai Bahan Penjernih Limbah Cair Industri Kayu Lapis. Jurnal Ilmiah Kehutanan Rimba Kalimantan Vol. 4(1): 85-100.

Pengaruh Massa Biji Kelor (Moringa oleifera Lamk) dan Waktu Pengendapan pada Air Gambut (Irianty)

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Kusnaedi. 2002. Mengolah Air Gambut dan Air Kotor untuk Air Minum. Cetakan Kesembilan, PT. Penebar Swadaya. Jakarta. Muyubi, S. A., and L. M. Evison. 1995. Coagulantion of Turbid Water and Softening of Hardwater with Moringa oleifera seeds. J. Enviroment Studies Vol. 09 pp. 247-258. Nurasiah, K. S., Vogel, A., dan Kramadhati, N. N. 2002. Coagulation of Turbid Water using Moringa Oleifera Seeds from Two Distinct Source. J. Water Supply, 2 (5), hal 83 88.

Pandia, Setiaty., dan Husin, Amir. 2004. Pengaruh Massa dan Ukuran Biji Kelor pada Proses Penjernihan Air. Prosiding Seminar Nasional Rekayasa Kimia dan Proses, ISSN : 1411 4216, hal H.2-1 H.2-6. Soemirat, Juli. 2000. Kesehatan Lingkungan. Gajah Mada University Press, Yogyakarta. Suara Merdeka. 2002. 01 Juli. Terobosan, Biji Kelor sebagai Penjernih Air Sungai. Halaman Ragam.

86