Anda di halaman 1dari 194

TEOLOGI

Dalam Geguritan Sucita

Oleh :
I KETUT DONDER

Penerbit PARAMITA Surabaya

2007

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam beberapa kesempatan baik dalam tulisan maupun secara lisan kerap penulis mengungkapkan bahwa teologi Hindu di Indonesia tidak tersosialisasikan dengan baik. Teologi Hindu di Indonesia lebih banyak dilaksanakan dengan metodologi mitologi. Sehingga orang-orang yang berpikir kritis memiliki berbagai pertanyaan dalam hatinya. Jangankan pihak luar, di kalangan intern umat Hindu sendiri bahkan seorang intelektual Hindu berderajat dokter (dr. S1) dan adalagi yang berderajat doktor (Dr., S3) pernah bertanya kepada penulis sebagai berikut; (1) apakah Catur Veda itu memang benar-benar wahyu Tuhan?, (2) Kalau wahyu siapa yang menerimanya?, (3) Kapan diterimanya?, Bagaimana caranya menerima wahyu itu?, (4) Siapa saksinya yang menerima wahyu itu?. (5) Tanggal, bulan, tahun berapa wahyu itu diturunkan?, dan (6) Karena pada agama lain tercantum tanggalnya?. Demikian pertanyaan dari orang intelektual Hindu dan bertanya di pinggir kuping penulis yang jaraknya kira-kira hanya 50 cm. Pertanyaannya itu sesungguhnya tidak sulit bahkan sangat gampang. Hanya jawabannya yang tidak gampang, persoalannya bukan tidak bisa menjawabnya. Tetapi tipe intelektual Hindu yang bertanya itu masuk dalam tipe batu. Jika proses penanaman teologi seperti merebus makanan, maka merebus batu tidak mungkin bisa masak, merebus batu adalah pekerjaan sia-sia. Seumur jagad raya pun batu direbus atau dikukus agar bisa lembut seperti ketela pohon atau seperti keladi tidak akan mungkin bisa. Merebus batu hanya membuat sumbu kompor dan minyak kompor habis percuma. Tipe orang intelektuan Hindu yang bertanya kepada penulis itu

hanya dapat mengalami pencerahan dari teologi Hindu jika ada panggilan sang waktu. Itulah sebabnya mula-mula pertanyaan tersebut tidak penulis tanggapi. Tetapi karena penanyanya memaksa penulis menjawab, maka sebelum penulis menjawab terlebih dahulu penulis bertanya. Pertanyaan penulis sebagai berikut; (1) apakah kitab suci lain selain Catur Veda bapak yakini sebagai wahyu?, ia menjawab percaya karena wahyu-wahyu agama lain jelas hari, tanggal, dan jam turunnya wahyu tersebut. Penulis balik bertanya (2) kalau begitu kapan wahyuwahyu agama lain itu turun?, ia menjawab ya bermacam-macam ada yang berumur 1000 tahun lebih dan yang 2000 tahun lebih. (3) Penulis balik bertanya kalau begitu kapan mestinya wahyu Catur Weda diturunkan agar Anda percaya bahwa Catur Veda adalah wahyu.? Ia menjawab; ya itu yang saya mau tanya katanya. (4) Penulis balik bertanya agama Hindu dengan agama lain mana duluan ada?, ia menjawab Hindu dong!. Kalau begitu Anda sudah dapat jawabannya. Ia lalu berkelid, tidak saya benar-benar tidak tahu. (5) Penulis jawab; jika Anda mengatakan bahwa agama Hindu lebih duluan ada, maka konsekuensi logisnya wahyu Weda diturunkan sebelum tahun 1000 atau 2000 tahun yang lalu dong, bahkan mungkin lebih jauh dari itu. Intelektual Hindu itu bertanya lagi, tetapi kenapa tidak pasti tanggalnya. (6) Penulis tanya kembali zaman apa wahyu Catur Veda diturunkan, catatan sejarah apa yang ada di dunia waktu itu, siapa yang menulis?. (7) Kemudian penulis melanjutkan bertanya jika Anda tahu bahwa agama lain itu tanggal pewahyuannya sudah pasti, berarti Anda sudah belajar agama lain dong ?, tanya penulis. Ia menjawab; ya saya sudah pelajari dengan saksama. (8) Lalu, penulis bertanya lagi; sejauhmana Anda sudah membaca

kitab suci agama Hindu yang disebut Catur Veda?, ia jawab; saya belum sempat mempelajari Veda. (10) Akhirnya penulis katakana; Anda termasuk orang yang malang walaupun Anda memiliki derajat gelar intelektual sehebat itu. Para pembaca mungkin jarang menemui orang seperti ini, tetapi yang jelas penulis beberapa kali berjumpa dengan manusia kelas batu seperti itu. Jika kita tidak memiliki pengetahuan yang cukup memadai atau tidak ada tujuan tertentu misalnya untuk tujuan memberikan penjelasan yang benar, lebih baik menghindar untuk berdialog dengan manusia kelas batu, sebab hanya akan menghabiskan banyak energi. Orang yang penulis paparkan ini memang agak lain sebagaimana seorang intelektual pada umumnya, ia digolongkan orang jenius karena yang satu bergelar dokter (dr.) dan yang satu berderajat doktor (Dr.). Mana mungkin ada dokter (dr.) dan doktor (Dr.) yang bodoh? Jelas tidak ada. Namun demikian penulis mencoba untuk bersabar menghadapi kedua orang tersebut, dengan anggapan bahwa hal itu sebagai ujian. Tetapi dasar batunya kembali muncul ketika penulis berikan penjelasan yang dilengkapi dengan sloka-sloka, kisah-kisah Ramayana dan Maha Bharata ia ia langsung menyela, dengan kata-kata itu kan aliran dari India begitu kilahnya. Kemudian dengan sabar penulis mencoba menjawab dengan beberapa kakawin dan pupuh-pupuh yang relevan dengan pertanyaannya, belum sampai selesai penulis memaparkannya ia mencegat lagi. Katanya, pak pupuh-pupuh itu terlalu mengada-ada, kan yang menciptakan orang Bali yang bukan berkualitas nabi atau rsi. Terpaksa, hilanglah kesabaran penulis dan penulis langsung katakana Anda termasuk tipe ilmuwan batu. Batu hanya akan hancur menjadi abu jika dimasukkan ke dalam tanur atau tungku atau dalam

bahasa Pengetahuan Bahan Bangunan dapur tinggi yang memiliki suhu hingga 5000 derajat Celsius. Artinya bahwa orang-orang tipe batu hanya waktu

(kiamat atau kematian) yang akan merubah cara berpikirnya. Uraian penglaman penulis di atas bukan terjadi satu atau duka kali, tetapi sering kali apalagi ketika seminar, dharma tula, diskusi panel atau apappun namanya. Hal itu menggambarkan bahwa teologi Hindu belum tersosialisasikan di tengah-tengah umatnya. Juga sebagai indikasi bahwa selama ini umat Hindu di Indonesia belum memiliki perhatian yang besar terhadap upaya penyebarluasan (sosialisasi, memasyarakatkan) teologi Hindu. Kalaupun sudah mulai ada yang memiliki perhatian terhadap teologi Hindu, namun ruang geraknya masih belum bebas. Sebab teologi yang nota bene berasal dari Catur Veda dengan bahasa Sanskerta dianggap sulit oleh banyak orang. Sesungguhnya untuk mempelajari teologi Hindu dibandingkan beberapa tahun silam, maka saat ini sudah sangat mudah. Jika pada tahun 1970-an beberapa orang hanya pernah melihat buku Upadesa, Bhagawadgita, dan Sarasamuccaya, maka saat ini apapun judul buku Hindu yang mau dibeli atau dibaca sudah tersedia. Walaupun saat ini segala macam buku Hindu sudah ada, namun sosialisasi teologi Hindu tetap jalan di tempat, beberapa faktor penyebabnya adalah : (1) sebagian besar umat Hindu masih enggan mengeluarkan uang untuk membeli buku, walaupun dalam waktu yang sama ia tidak takut kehilangan uang atau kalah di meja judi. (2) enggan membaca bacaan Hindu apalagi pelajahan wayah pelajaran agama dianggap pelajaran tingkat tinggi, hal ini sebuah metodologi yang salah, (3) meboya; tidak percaya dengan niskala spiritual

sebagai dampak dari tipologi filsafat materialisme, (4) dan lain-lain. Untuk menanggulangi faktor-faktor ini mungkin perlu dipikirkan sebauh strategi penyebaran buku-buku Hindu melalui pembelian buku-buku Hindu dengan model kupon berhadiah, seperti; SDSB, Togel, judi spiritual atau apapun namanya. Maksudnya agar semua umat terangsang untuk membeli buku. Jadi tekanannya membeli, sebab apa yang hendak dibaca jika ia tidak pernah beli buku. Namun jika ia sudah pernah membeli, minimal ia pernah memegang dan mungkin sekali ia juga pernah membaca-baca walaupun sekilas saja. Apakah model penyelesaian masalah seperti ini dapat diasumsikan dengan logika perkalian matematika, yaitu buduh gila x buduh gila = waras normal. Tetapi itulah kenyataan pemahaman teologi di lingkungan umat Hindu. Sesungguhnya ada cara sosialisasi ajaran Hindu yang sangat sederhana dan sangat komprehensif dan sudah dilaksanakan oleh masyarakat Hindu khususnya masyarakat Hindu di Bali, yaitu sosialisasi ajaran agama Hindu melalui kegiatan persantian. Di dalam persantian ini terdapat aktivitas menterjemahkan syair-syair atau bait-baik kakawin atau pupuh dengan bahasa yang lugas sehingga makna yang terkandung di dalam bait-bait kakawin atau pupuh itu dapat dimengerti. Hal ini tentu sangat membantu proses sosialisasi ajaran Hindu, sebab dalam bait-bait pupuh itu sarat (penuh) dengan teologi Hindu. Dengan demikian belajar agama Hindu (Veda) melalui kelompok persantian itu sesungguhnya sangat baik dan hal itu dibenarkan oleh kitab Sarasamuccaya. Sebab Veda bersabda aku takut kepada orang-orang bodoh, katanya Veda takut kalau-kalau orang bodoh itu akan melukainya. Oleh sebab itu Veda menganjurkan sebelum seseorang sampai

kepada Veda, ia terlebih dahulu harus belajar Itihasa (Ramayana dan Maha Bharata) dan Purana. Di dalam kenyataannya, para peserta persantian di dalamnya terdapat aktivitas menyanyikan syair kakawin Ramayana, Maha Bharata. Bahkan sekarang ini sudah ada geguritan Bhagavadgita, geguritan Sarasamuccaya. Hal ini tentu sangat membantu proses sosialisasi atau pemasyarakatan ajaran Hindu. Namun cukup disayangkan kelompok persanthian saat ini dianggap sebagai ajang show pertunjukkan suara belaka dan juga persantian dianggap sebagai sarana untuk melampiaskan keinginan-keinginan tertentu saja. Sehingga orang-orang yang selama ini berupaya mempelajari agama melalui karya-karya sastra, seperti kakawin, geguritan pada lembaga-lembaga persantian dianggap sebagai kegiatan semu belaka. Mengapa kegiatan persantian itu dianggapnya semua, berdasarkan masukan dari beberapa orang yang telah mengamati aktivitas persantian itu melihat bahwa apa-apa yang dinyanyikan dalam syair itu cenderung syair-syair yang romantis sehingga tidak jarang setelah kegiatan persantian dilanjutkan dengan hubungan yang lebih jauh dari sekedar berteman. Jika pengamatan ini benar, tentu hal tersebut sangat disayangkan karena termasuk menodai kegiatan persantian. Terlepas dari benar atau tidaknya aktivitas beberapa kelompok persantian yang ada, namun setelah penulis mengamati berbagai aktivitas persantian baik secara langsung maupun melalui layar TV, ternyata aktivitas mebabasan dalam persantian tersebut terbatas hanya menterjemah arti syair dan tidak menghubungkan pengertian itu dengan ajaran Hindu atau teologi secara lebih luas. Sehingga teknik mebabasanya mengikuti alur cerita yang tertulis di dalam buku yang sedang dibacanya. Sehingga apabila

syair itu sedang menceriterakan roman seperti merayu dengan kata-kata yang indah apalagi iramanya cocok dan suaranya merdu, maka perhatian tertuju hanya pada itu dan di situ saja. Jarang sekali bahkan tidak ada pesrta persantian yang ketika membaca pupuh geguritan Sucita misalnya, mengubungkannya dengan teologi Nirguna Brahma, teologi Saguna Brahma, juga tidak ada yang mencoba menghubungkannya dengan pembahasan; sadhana, yoga, isi-isi Bhagavadgita, Sarasamuccaya, apalagi Catur Veda. Bahkan yang lebih parah, ada yang tidak mau menghubungkan dengan semua itu karena semua itu dianggap karya asing. Cukup disayangkan apabila unit kegiatan persantian yang sesungguhnya sangat efektif untuk mensosialisasikan teologi Hindu justru telah mendapat cap yang kurang baik. Tanpa maksud membela lembaga persantian, sesungguhnya melalui aktivitas persantian itu, umat Hindu dapat lebih mudah mengerti dengan ajaran agama Hindu, sebab tak terhingga banyaknya ajaran Hindu termasuk teologi Hindu, teologi Sosial bertebaran di dalam karya-karya sastra local genius, seperti karya kakawin, karya geguritan, dan sebagainya. Penulis menemukan bahwa di dalam bait-bait pupuh geguritan Sucita, terkandung banyak uraian teologi Hindu (filsafat Hindu) dan juga implementasi teologi Hindu di dalam kehidupan sehari-harinya (teologi Sosial). Untuk menemukan nilai-nilai teologi Sosial di dalam buku geguritan Sucita tersebut maka penulis bermaksud melakukan penelitian ini. Karena penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan menggunakan metode penelitian Analisis Kontens (Isi) dengan pendekatan teologi Hindu dan teologi Sosial, maka tentu penelitiannya juga bersifat interteks. Artinya dalam menarik

suatu pengertian dan kesimpulan terlebih dahulu dibandingkan terhadap teks-tek lainnya yang memiliki bahasan yang sama atau hampir sama.

1.2 Rumursan Masalah Dari latar belakang masalah penelitian di atas dapat ditarik rumusan permasalahannya adalah sebagai berikut : (1) Adakah unsur-unsur deskripsi teologi di dalam Geguritan Sucita ? (2) Adakah unsur-unsur deskripsi teologi Sosial di dalam Geguritan Sucita? (3) Pupuh-pupuh manakah yang termasuk mendeskripsikan Teologi Sosial ?

1.3 Manfaat Penelitian 1.3.1 Manfaat Praktis

(1) Dapat menambah wawasan pengetahuan umat Hindu tentang konsep teologi Hindu (2) Dapat menambah wawasan pengetahuan umat Hindu tentang hakikat teologi Sosial. (3) Membantu sosialisasi teologi Hindu, teologi Sosial, dan atau ajaran Hindu melalui pupuh-pupuh Geguritan Sucita

1.3.2

Manfaat Teoritis

(1) Dapat dijadikan referensi oleh para peneliti linnya (2) Sebagai pengisi kekosongan literatur. BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, TEORI, DAN

MODEL PENELITIAN

2.1 Kajian Pustaka Kajian terhadap buku geguritan Sucita sebagai sumber teologi Hindu atau sebagai sumber teologi Sosial belum ada yang melakukan. Yang ada hanya kajian budaya terhadap geguritan Sucita sebagai karya sastra. Sehingga penelitian ini merupakan penelitian awal. Sebagai penelitian awal sudah pasti banyak kesulitankesulitannya. Walaupun penelitian atau kajian atas geguritan Sucita terdahulu hanya dilihat dari aspek sastra dan budaya, namun pada aspek budayanya nampak ada kesamaan dalam teologi Sosial. Dikatakan demikian karena, aspek budaya Bali menunjukkan sisi-sisi praktis dari teologi Hindu, sehingga tidaklah keliru jika budaya Bali dipandang sebagai teologi Sosial perspektif Bali.

2.2 Konsep 2.2.1 Analisa Kontens Analisa kontens merupakan bentuk penelitian yang menggunakan teknik analisa data dengan cara menganalisis isi suatu teks. Dengan demikian pemahaman terhadap isi teks merupakan kunci dari keberhasilan penelitian dengan teknik analisis kontens (isi). Dalam analisis kontens ini dilakukan setiap pupuh di dalam Geguritan Sucita dibaca, dipahami, dan kemudian ditarik kesimpulan atas makna yang dikandung, selanjutnya dikaitkan dengan salah satu ajaran Hindu baik dalam kaitannya dengan teologi murni ataupun sebagai teologi sosial. Yang tidak termasuk di dalam keduanya dilewati dilanjutkan kepada pupuh

10

berikutnya. Kegiatan analisis kontens ini dilanjutkan terus hingga sampai pada akhir bait pupuh Sucita pada buku III.

2.2.2

Substansi Materi Substansi materi yang dimaksudkan di sini adalah, isi, gagasan, atau ide

yang terkandung di dalam pupuh-pupuh Sucita. Karena di dalam Geguritan Sucita banyak sekali ide, ajaran yang mencakup berbagai aspek. Dalam penelitian ini substansi materi yang diambil hanya substansi materi yang mengarah kepada deskripsi teologi atau teologi sosial.

2.2.3

Geguritan Sucita Geguritan Sucita, judul lengkapnya Geguritan Sucita-Subudi

merupakan sebuah buku yang kemudian dibagi menjadi tiga jilid sebagai karya sastra local genius yang ditulis oleh Ida Ketut Jlantik. Buku ini kemudian disebarluaskan oleh para sahabatnya dan kemudian telah memasyarakat di seluruh masyarakat Bali. Bila diteliti secara mendalam terhadap substansi materi Geguritan Sucita ini ternyata, isinya sangat bersesuaian dengan ajaran Hindu yang terdapat di dalam buku; Bhagavadgita, Sarasamuccaya, Ramayana, Maha Bharata, Manawa Dharmasastra, Purana. Oleh sebab itu pengkajian secara teologis dan teologi social sangat penting dilakukan, agar uamt Hindu yang tidak mampu atau tidak sempat memahami ajaran Hindu melalui konsep-konsep yang lebih tinggi, dapat memahaminya melalui Geguritan Sucita ini. Bila kajian terhadap Geguritan Sucita ini dilakukan oleh para peserta persantian, maka dibutuhkan keikut sertaan

11

para intelektual Hindu yang paham terhadap teologi Hindu untuk membantu dalam menjelaskan kaitannya dengan setiap pupuh yang ada dalam Geguritan Sucita.

2.2.4

Karya Sastra Karya sastra yang dimaksudkan di sini adalah karya sastra sebagaimana

yang dimaksudkan dengan pemahaman masyarakat Indonesia pada umumnya. Sebagaimana pemahaman masyarakat Indonesia pada umumnya bahwa semua karya yang dikemas dalam bentuk cerita dengan gaya bebas, prosa, pusi, pantun, dan sejenisnya. Geguritan Sucita adalah karya sastra yang dibuat dalam bentuk sajak terikat (dalam bentuk pupuh), sehingga sangat pantas Geguritan Sucita disebut sebagai karya sastra. Istilah ini berbeda dengan istilah dalam agama Hindu, sebab dalam istilah Hindu kitab suci juga disebut dengan istilah sastra.

2.2.5

Teologi Sosial Teologi social adalah sebuah cabang pengetahuan baru sebagai derivat dari

disiplin ilmu teologi. Jika teologi adalah ilmu pengetahuan yang berorientasi (ontologi) kepada keberadaan Tuhan, maka teologi sosial merupakan pengetahuan yang berorientasi (ontology) pada perilaku masyarakat yang dilandasi oleh pandangan teologi yang dianutnya. Dengan kata lain teologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hal-ikhwal perilaku manusia yang menggambarkan tentang gagasan ideologi teologis yang dianutnya.

12

2.3 Teori 2.3.1 Teori Makna Teori Makna ini lebih lazim digunakan oleh orang-orang atau para peneliti linguistik (ilmu bahasa). Teori Makna ini sesungguhnya bagian dari apa yang disebut dengan Hermeneutika (Hermeneutics) yaitu suatu teknik atau seni menafsirkan teks, untuk memahami makna yang tersembunyi di baliknya (Piliang, 2003:17). Teori Makna ini juga sesungguhnya bagian dari apa yang disebut dengan Semiotika (Semiotics), yaitu ilmu tentang tanda dan kode-kodenya serta penggunaannya dalam masyarakat (Piliang, 2003:21). Menurut Ferdinand de Saussure, sebuah tanda terdiri dari sebuah penanda (signifier) dan petanda (signified). Penanda mengacu pada petanda yang selanjutnya mengacu pada referensi atau realitas. Dalam pandangan Saussure, makna adalah apa-apa yang ditandakan (petanda), yakni kandungan isi (Piliang, 2003:158). Manusia sebagai mahluk berpikir hanya akan tenang pikirannya ketika apa yang dilihat atau yang dipertanyakan dimengerti maknanya. Sebelum dapat mengetahui apa makna yang dicarinya itu, maka manusia akan diburu oleh rasa keingintahuannya. Bukan saja hanya memburu makna apa yang dilihat dan dirasakan oleh panca indrianya, tetapi manusia juga memburu makna-makna yang tidak dapat dilihat dengan kasat mata. Bahkan hidup dan kehidupannya pun dicari maknanya, itu pula sebabnya setiap orang yang belum mengetahui makna hidupnya ia juga akan gelisah. Dengan demikian sesungguhnya manusia adalah mahluk pemburu makna, karena

13

ia adalah mahluk pemburu makna, maka semua yang ada akan terus dicari maknanya dan juga dimaknai. Piliang, Yasraf Amir, 2003. Hipersemiotik, Yogyakarta: LIS Teori Makna lah yang dapat merumuskan jawaban terhadap jenis

pertanyaan yang menggunakan kata tanya apa ?.Teori makna ini juga relevan dengan teori interaksionisme simbolis, karena dalam teori interaksionisme simbolis bertumpu pada tiga premis (dasar pengambilan keputusan), yakni; (1) Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu yang berguna bagi mereka, (2) Makna tersebut berasal dari interaksi sosial antara seseorang dengan orang lain, (3) Makna-makna tersebut disempurnakan di saat proses interaksi-sosial berlangsung (Blumer dalam Poloma, 2003:25). Poloma, Margaret, M. 2003. Sosilogi Kontemporer, Jakarta : RajaGrafindo Persada

2.3.2

Teori Simbol Simbol adalah suatu hal atau keadaan yang merupakan pengantaran

pemahaman terhadap obyek. Simbol hanya hidup selama simbol tersebut mengandung arti bagi kelompok manusia yang besar sebagai sesuatu yang mengandung miliki bersama. Sehingga simbol menjadi simbol sosial yang hidup dan pengaruhnya menghidupkan. Simbol merujuk pada hal yang transenden atau yang mengatasi objektifikasi artinya kalau berbicara tentang simbol senantiasa berhubungan dengan adanya dialog manusia dengan yang lainnya. Dengan demikain simbol tidak saja berdimensi horizontal imanen tetapi berdimensi vertikal transenden (Triguna, 2000: 7-11).

14

2.4 Model

GEGURITAN SUCITA

PUPUH-PUPUH GEGURITAN SUCITA

TEOLOGI

TEOLOGI SOSIAL

Keterangan : Alanisis kontens dilakukan terhadap seluruh pupuh yang terdapat dalam buku Geguritan Sucita, kemudian pupuh-pupuh tersebut akan dimasukkan ke dalam dua kelompok. Ada yang dimasukkan kedalam kelompok teologi murni, artinya pupuh yang berupaya hanya menjelaskan tentang Tuhan dengan tanpa menghubungkannya dengan keadaan manusia (sosial). Yang kedua adalah kelompok pupuh yang mengkaitkan antara keberadaan manusia, keadaan manusia, atau seluruh ciptaan dengan Tuhan sebagai sumbernya.

15

BAB III HASIL VERIFIKASI BAIT-BAIT PUPUH GEGURITAN SUCITA SEBAGAI KARYA TEOLOGI SOSIAL 3.1 Definisi Tuhan dan Tipe Teologi dalam Sucita Jenek ring mru sarira, kastiti Hyang Maha Suci, mapuspa padmahredaya, maganta swaraning sepi, maganda ya tisning budi, malpana sila hayu, mawija mnget prakasa, kukusing sadripu dagdi, dupan ipun, madipa hidep galang.

3.2 Perilaku Sosial Sebagai Pencerminan Teologis 3.3 Mmmm 3.4

16

LAMPIRAN NASKAH GEGURITAN SUCITA

GEGURITAN SUCITA JILID I Pupuh Sinom : I 1. Jenek ring mru sarira, kastiti Hyang Maha Suci, mapuspa padmahredaya, maganta swaraning sepi, maganda ya tisning budi, malpana sila hayu, mawija mnget prakasa, kukusing sadripu dagdi, dupan ipun, madipa hidep galang. Sabda Parisuda puja, gemeting ajnyana wisik, tegeping saupacara, dwaning Ida keaastiti, asung lugraha pinerih, mugya manggih marga lantur, sida sadya panjang yusa, ring papa budi akalis, mangdn luput, ring saktining bawacakra. Antuk lengut kaput melah, pakardin sang kawi nguni, tuhu bangkit nudut manah, ngawe linglung mangresepi, mawinan metu tan ling, ring tambet kaludan dusun, girang pangkah muruk nyurat, sinom kanggn manembangin, mapi nyambung, sukrtin sang kawi raja. Mamitang gung pengampura, antuk bes lagas mangawi, satwa ngawur tan pabukta, sok dasar pamrih becik, nyaratang rahayun gumi, mudita maka pakukuh, kadi tingkahing kasatyan, adwa tuhu tan ktangin, sok n tuju, wasana hayu punika. Maka panembning satwa, wnten wanwa ngulangunin, ramya dahatning subiksa, tepeting sila sayukti, manuting gama sastra wit, sahi mangrembugang tutur, teleb nangun tri yadnya, brata tapa lan samadi, teka guluk,adung ngaw kretayuga. Undagi pand lan tukang, asta kosala kosali, akh tan wnten pakirang, ngadeg memarga malinggih, mapala hayu nyukanin, tur uning mamagi dauh, nginganin salwiring karya, sasolahan lan gong gending, tan kaitung , luwir ring Indra buwana. Wawangunan dahat katah, gedung-gedong penyengker asri, marga bresih dahat jimbar, alun-alun ngelangunin, paryangan gopura rawit, maukir mapatra luwung, mapinda malalampahan,taman halus mangdanen, muka kasub, wanwa Wkreta wastannya. Luwih kala abang wtan, swaran gentan jangih, anutr maring slokastawa, kalaning para sulinggih, mangarga ngarcana Widi, amrih kajayan sang prabu, makadi landuhing jagad, luputing cora bayadi, lara gempung, balik tampekin kasadyan. Sakatahing wong irika, wnten kajawat kapilih, kaanggn babungah satwa, Sang Sucita kawastanin, mula turunan utami, tosning masadya rahayu, punika mangkin carita, madruw sawitra becik, sami luut, Sang Subudi parab Ida.

2.

3.

4.

5.

s 6.

7.

8.

9.

17

10.

Pada saling kasampura, sami cngeh ngetus hati, kadi Rama Wibisana, tan kasah rahina wengi, weruh ring tatwa satanding, rupa sila sami adung, bilih budi satwa tunggal mapalih dados kakalih, ldung tedun, mangjadma ngaw, weruh tuladan. Manuju bulan purnama, mabawos Ida Sang Kalih, tan lyan sane kabawosang, sariran wdan luwih, Wyakarana Jyotisadi Mimamsa kalpana milu, sada lami mabawosan, tepn dauh suniya mirib, meneng patuh kadi mamona brata. Tan asuw raris ngucap, Sang Sucita sada haris, Sang Subudi belin tityang, niki sampun banget wengi, bawos ngiring punggelin, n lyan anggn manyambung, wnten n tunasang tityang, yogya timbang ngiring beli, yan kapatut, kadurus pacang margyang. Saking kawit kuningayang, duk tityang marekan rihin, ring Ida Empu Satwika, murukain kandan dumadi, tingkah utpeti stiti, tekaning pralinan ipun ngalantur ring moksa tatwa, cepeng tigang warsa wyakti, lamin ipun, Dang Guru raris ngandika. Bagus sayang Sang Sucita, unduk inanak dini, mahurukin sarwa tatwa, nyalanin maguru bakti, tutut tan nahan nulakin, kasidan salwiring tuduh, wanengn tigang warsa, suba tutug nto n jani, yogya mantuk jumah buwin rasarasayang. Kwala patinget bapa, sadurung nanak mapamit, kadi melid manyekenang, rh mula pejalan indik, guru yan tinggalin murid, manggeh sangsaya ring kayun, takut yan masalin tingkah, kadi mnda yan elbin; dadi rusuh, bahan tong ada ngangonang. (TANGGUNG JAWAB GURU) Sangkan da mangutang yata, undagan hidep lingling, da dropon manyujuh sukla, apan tuhu lintang sulit, apang da dadi tungkalik, nyudyamreta wisya tepuk, bisa ngukur kemampuhan, yan tan sida krasng hati, da mamurung, apang da dadi pangenan. Sajroning itri-kaya, tepetang da manyampahin, ditu Sang Hyang Tri Purusa, linggayang sembah baktinin, hidepang maraga jati, tunasin hidep rahayu, anggon sarin Atma raksa, sakalayang dina ratri, apang suluk, hidep twara bingbang (Teologi Saguna Brahma) Kto bahan maningkahang, itri-kayan luwih, n marti kaya wak manah, kaya solah kategesin, wak kartinin munyi, manah mateges kayun nto tatelu jwa kandayang, kapatutanya marginin, eda cawuh, rh ento dwa sakala (Teologi Sosial). Jani palih midartayang, apang panampin ngatih, n apalih buwin badihang, kaya dadi telung bagi, tan dadi mamati-mati, miwah twara dadi rusuh, ring luh tan kurenan gelah, barang tong kwasa padidi, da mamandung, bisayang ngunadikayang. Indik manyuwang kurenan, liyu ngaba unduk rimbit, rh sanget ngaw sengkala, yn iwang bahan nindakin, munah turunan padidi, kadat utaman pangguh,

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

18

mingkin an madan gamya, n ngaw letuhing gumi, sang prabu, yogya ida manyisipang. 21. Nyuwang tumin nyaman bapa, yadin nyaman meme malih, rabin nyaman meme bapa, somah tugelane malih, mingkin nyama sanggamain, makadi manyuawang mantu, miwah rabin panabeyan, mingkin nyamah sato malih, iwang langkung, ento ane madan gamya. Yan lebih teken sanunggal, ngarangkatan istri sawengi, masih agung pamedannya, Ida Sang Prabu misisip, ngamadwang nyama tan kengin, nyuwang misan twara luwung, ngambil mingtiga ya iwang, saling jwang misan tan tis, panes agung, kadi saling juwang nyama. Anak ngaba sakit nglahlah, sakit ila minakadi, saluwir sakit rahat, ne pacang keweh nambanin, ne keto nyandang kelidin, apang de ngembahang racun, turunane dadi rusak, kawitane pacang sedih, ngadu sungsut, pada nemu kasangsaran Yadin ring kurnan gelah, sumingkin nyandang apikin, da ngamu kadroponan, masanggama masih pilih, purnama tilem kelidin, tanggal pangelong ping kutus, prawani masih tan wenang, sedek camah minakadi, da matemu, ngawe santana gring ila.

22.

23.

24.

Brata Sanggama
25. Lontar Cumbana sasana, pepesang nto ngawacenin, apang seken apang tatas, ring tingkahing ngambil rabi, mangda tan pati purugin, reh agung halane panggih, keweh malih mangawitang, ngumbah pelihe nyumunin, nyesel pangguh, melah yatnain matingkah Ento babagyan kaya palinggan Hyang Brahma luwih, sabdane mapalih empat, mamunyi banggras impasin, misuna linyok kelidin minakadi da mamisuh, ditu Hyang Wisnu maraga, manah dadi telung bagi, sa-mangugu, salwir gawe pacang mabwah

26.

27.

Dwa lobane tinggalang, tlu tan mrih halan prani, ento babagyan manah ane ngranjing darma budi, Sang Hyang Iswara luwih, sujati maraga ditu, saksat katon kagamelan, ditu manyaksyang diri, mawak ukur, anggon mamidenin raga. Yaning durung parisuda, kaya wak manahe malih, da nden banya manegenang, pacang mamangguh ne alih, sangkan ditu jwa yatnain, kanggowang ulyan tuyuh, lyunang ngawe pangancan, mangden tan labuh nguliling, eda takut, ngutang tuyuh ngawe melah. Muwuh ingete cedangang, ede bengong ngekoh hati, gibras-gibrasang pang cedang, rajah tamahe pang lilih, yaning ngundape ulurin, elah isadripu tumbuh, galak makejang mihalang, tong maang manyujuh suci, galak ngamuk, tulus benya kapicundang.

28.

29.

19

30.

Nanging yan ingete kuwat, nyalang kadi damar ngendih, uli ditu gampang medal kalebete jati luwih, sangkan nto anggon matitis, nuju tingkahe rahayu, wuwuhin buwin entikang, tri kayane mangden bresih, nanak bagus, kene bahan maingkahang. Ne sakala lan niskala, atepang manden mamesik, reh jati palinggan tunggal, Hyang Wisesa ngaraganin, da malasang di hati, tingkahe nibakang unduk kayane patut jalanang, kaniskala mangden pasti, mudra iku, tikasing parek ring Hyang. Yaning manut marga byasa, kucuping tangane kalih, munggwing selanging lalata, masih manggo tanda bakti, anteng manyurat galitik, sarwa tuture rahayu, ngarisakin pamujaan, sakalwir punika sami, soroh mawug, pabaktyan ring niskala. Kayogyane ring sakala, bisane matata linggih, mamepes matatanganan, sebeng lan samita manis, tanmari manudut hati, da caluh matingkah ngagu, apang mangden twara bina, tingkahe mangardi becik, apang patuh, sok rupan tingkahe bina. Keto solahe di kaya, ring sabda jani itungin, bakti anteng mangastawa, ring Ida Hyang maweh hurip, lengkara pang twara pelih, miwah anteng maca tutur, saha ngrambang darma tatwa, miwah ne mangardi becik, ento mawug, silan sabda kaniskala. Ane tiba kasakala, papeson munyine manis, getar halus ngawe suka tong tahen natonin hati, base sor singgih uningin de ngawag mangulah pesu, mingkin ring sang mautama, ngalap kasore nto gisi, mangden manut, ring purwa basita krama.

31.

32.

33.

34.

35.

36.

Bisane ngandayang sabda, ngunadikayang sor singgih, duweg mangulat lengkara, lemuh halus seken gampil, pantes patut nudut hati, saha mawasana ayu, tabuh luwung pangus getar, yan sida bahan nyalanin, sinah ngunggul, dyastu ragane andapang Yan tabuh gangsul tur rentang, sinted manyakitin kuping, dulur mawasana hala, tan ngetang sor lawan singgih, yadin kenken ban managih, awake apang baduwur, miwah mangden kaajumang, sinah kakalah ungkurin, tabuh ngagu, nampat anake ngajumang. Munyine sanget ngawinang, dadi nista dadi luwih, kapuji miwah kaceda, keman miwah kaencemin, rawos masih mangawinin, sangkan sang prajnyan puniku, sang tatas ring gunan sabda, mangrawos tanmari apik, manis muluk, nudut manah sang mirengang. Yann kaduk byasa agal, magehek sahi nakutin, gangsul tan paharimbawa, tan wurung manglahlahin, kadang nyama pyanak samai, tan marasa niru jendul, kuping barengan nebelang, sayan twara ningeh munyi, nagih ngelur, yaning nguduhang pyanak.

37.

38.

39.

20

40.

Kenehe sahi incepang, sagumi mamanggih becik, olas hatine gedenang, anak ring iraga tuwi, tekaning isarwa prani, mangdennya rumasa patuh, sukayang yan anak suka, angenang yan anak sedih, manden tuhu, awake rumasa tunggal. Bibit sayange pamula, apang kanti sida mentik, kenehe manulung anak, bani manesang di hati, ngalih ne anggon nulungin, mangda kasidan rahayu, tan takut manadi bela, matindih mangardi becik, ika tuhu darmaning sang budi satwa. Ento tingkah kasakala, purukin sahi astiti, munggwing ane kaniskala, baktine ring Sang Hyang Widhi, kenehe apang mangilis, teher bakti tan patanggu, jiwa ragane aturang, anggon caru manandangin, hala hayu, paican Hyang Murbeng jagat. Yadin buwating indrya, indryane ring wong istri, yan suba sangkaning satya, hidepe jati neptepin, masih rumasa kalilih, melahya sube piturut, apang de enggalan nilap, apin indryane ngendih, meh mamuwun, sarirane dadi rusak. Dening twara sabarang, ngalahang indrya sakti, niru ida sang biksuka, yang an tasaking samadi, sangkan melahang nulekin, pastika sajroning kayun, yan jati kuwat tumusang, manyukla brahmacari, yan tan mampuh, tan iwang mangalap rabya. Apan jati twara dadwa, batarane kasungkemin, yan sang wiku grehasta, madadukuhan ring rabi, ngiyasin rambute gesit, waluya mangkilin pantun, pangastawane ring dewa, pangrumrume harum manis, swamban ipun, cacingake nunjung birwa. Susune mamulan kembar, nyangkih puleh liwat bangkit, punika pinaka sekar, lepana pupure miyik, maganda minyak minyak malati, bawun sinjange mangrebuk, kalane bahu kungkabang, saksat dupa lintang miyik, liyat balut, manatit waluya damar. Aduhane kaping mpatan, luwir swaran genta jangih, mawisik klecontan lidah, kalane masepsep lati, smarane duke mijil, saksat ajnyanane putus, manunggal maring niskaa, tan paawak tan pabumi, mawak suwung, tan kahanan suka duhka. Aketo bahan mantesang, apang da salah panampi, apang liyu rurungannya, manunggal ring Sang Hyang Licin, sangkan bapa mamanjangin, bahan nanak suba luhur, ngawitang pantes kajawat, antuk Hyang Wirudapati, pacang kadu, ring sang hayu jegjeg nyalang. Kewala masih pinehang, eda twara manut indik, turunanne apang melah, patute paling abedik, dwang dasa tiban ne becik, tuwuhe mara matemu, kewala da mangimayang, satonden mangalap rabi, sampun puput, tahu teken sarwa karya. Da mangutang kawenangan, nyalanin salwir indik, apan yan iwang pamarga, tan wurung halane panggih, mangawinang sakit hati, makawanan da mamurug, catur wargane elingang, ento yogya anggon titi, sinah lantur, reh nuwut marga utama.

41.

42.

43.

44.

45.

46.

47.

48.

49.

50.

21

51.

Ne maadan Catur Warga, tegesnya mangda uningin, darma arta kama moksa, pidartanya siki-siki, darma silane luwih, tahu ring patuting hidup, tan mangimpasin pamongan, ngamong gama sastra aji, sapatuduh, guru lan ratu da tulak. Ento ne manjing ring darma, artane mateges pipis, yaning kadarmane bakat, sida bahan manyalanin, ulih ditu ngalih pipis, apang twara pati purug, yan pipise suba bakat, lawutang kamane alih, sinah luhung, kama mateges kurenan. Disubane ngelah kurenan, eda bes sanget ngulurin, demene ngadu indrya, da engsap ken awak mulih, mulih kajagate suci, suci tan palatah lutuh, hening bresih galang padang, ento moksa keadanin, tegep sampun, ne maadan catur warga. Disidane patuh bahan, suka duhkane manampi, jati kalis tan sangsaya, bahan seken kauningin, manahe mawak ngapusin, ento jati bresih mulus, ento ane madan moksa, uli hidup elah panggih, bareng nutug, kayang seda mangguh bebas. Amonto tityang nguningang, pawarah sang guru nguni, bilih beli sampun wikan, ring aptin tityang ne mangkin, Sang Subudi glis nyawurin, patute beli tan purun, nyinahang ne durung sinah, jani saking magabahin, bahan caluh, bani ngugu munyin rasa. Mirib adi kena upas, panah Hyang Smara lancip, alise nanggal apisan, nto mameda krane sakit, lan susune puleh nyangkih, kadi gili kembar halus, ento maneteh idewa, kudyang nyidayang matangi, lud kelebu, tangkeb ombak muka bungah. Tangan meros madya lengkyang, kalud cokor putih gading, ibungan gadung lan pudak, katempur tan purun molih ento nepen mwah ngalilit, ne kadi taksaka agung, kudang bahan mangelesang, lan pipi putih ngulapin, peteng libut, twara ngenah pajagatan. Daging beli manyinahang, adi kayun marabi, Sang Sucita gelis nimbal, tan simpang panarkan beli, apan saksat Wrehaspati, rumaga sarin kaweruh, ndikapan iwang swatah, inggih sapunika beli, ne katuju, sok durung wenten tagonan. Kewala bawu mamanah, nganutin alaki rabi, pangkah minda grehasta, nanging tambete tan gigis, nika lungsur tityang mangkin, yan sampun beli mamatut, durus pacang kamargyang, ature menekeng hati, nuli nyawur, sang Subudi sada kencah. Apan twara larangan, kapatut ban sastra aji, nu madan melanin darma, sok adi twara ngimpasin, kadi tuduh sanghanya aji, Sastratmaka aran ipun, dumadak mangda kasidan, ditu mawarangang budi, pang satuwuk, masarga tong tahen belas. Liyu anak masawitra, pada nuwut keneh padidi, twara manut kecap sastra, ngawinang matungkas sering, dadi mawasana ganjih, gampang sugat dadi musuh, awanan beli tan tungkas, reh ngadungin linging aji, inggih durus, maryang kayun idewa. Nah amonto peragatang, dumadak Ida Hyang Widhi, gelis manywecanin karma, ne pantes nyandang matanding, rupa hayu budi luwih, prajnyan tur nangge

52.

53.

54.

55.

56.

57.

58.

59.

60.

61.

62.

22

kasdun, tatas maring kawenangan , tepet nganggen satya laki, mangden adung, kadi Saci lawan Indra. 63. Buwate matirtayatra, beli suba mangitungin, matitis dinane melah, buwin abulan ne jani, yan tan wenten mangalangin, jalan payu luwas ditu, kadung nuju sasih melah, alase sinah ngrenanin, sampun adung, Sang Sucita pamit budal. Benjang semeng Sang Sucita, lunga katukad ngararis, nyadya manyuryasewana, tur sampun kalaksannain, wusane raris matangi, pacang mapakayun mantuk, kaget cingak sekar katah, anyud sareng kencerik becik, gelis sawup, kaget wenten taruni nyagjag. Adeg nyepek tan pacacad, hayu anom liwat bangkit, encol pemargine nyagjag, bawu tampek janggel mamargi, antuk wong lanang kaaksi, Sang Sucita gelis matur, duh dewa sang kadi bulan, boya madu teka manis, twara duhung teka mangresin manah. Sakadi ring panyumpenan, bahan tembene mamanggih, rupa hayu kadi gambar, alis lancip manatonin, daeuh intarane lilih, aas tong bani mamarung, miwah isekar cempaka, jerih ring adeng imanik, kayang bakung, takut ring jrijin imirah. Itebu cemeng tan patma, ngeton lambene bes manis, inyuh gading kelapa bulan, kanti tuh tulah nandingin, susun imirahe nyangkih, kalingke entikan gadung, bes congah yan purung namgah, madyan iratune ramping, rep manungkul, kaulangunne samyan. Jeneng imirah kecalan, sangkan sendu sada gipih, yan wantah ledang mawosang, ndaweg ja tityang ndikain, manawi tityang mamanggih, sinah katur ring sang hayu, ne istri raris manimbal, masawur rempuh amanis, duh sang bagus, pamurtining Hyang Smara. Wyakti bas kalintang melah, papupulan harum manis, pantes ratun kulangunan, turun manodyanin gumi, maraga Hyang Smara patis, mijil saking sgara madu, paling mider masusupan, nyerepang I Dewi Ratih, sangkan puput, bagus nyalang tan paceda. Gelis tityang nguningayang, awinan gipih mariki, kawit tityang ngrereh sekar, saking pituduh iaji, mangge ring pamujan wyakti, polihe durung ja cukup, sangkan malih mangulahang, kaget angsoka kaaksi, mangerembun, magenah ring pinggir tukad. Antuk melede sangkan kayatnanne tipis, batu gannjih enjek tityang tur labuh, ring baya tan wenten eling, ngalibeg batune kancit, tangkajut tityang tur labuh, sekar kencerik lepas, kasep tityang manyagjagin, antuk suluk, sangkan mariki nudtudang. Iwawu kantaneng tityang idewa ne trang mangambil. yadyastu manyewegara, pamanggihe tan pasaksi, saking waluya mamerih, nunas ledang sang abagus, icenin ja tityang ngudal, anggon jwa sawitra miskin, mangda sampun, iaji menggah ring tityang.

64.

65.

66.

67.

68.

69.

70.

71.

72.

23

73.

Wireh uning mangawinang, paselang kayun iaji, antuk budal patalanjang, lungane nganggen kencerik, Sang Sucita manyawurin, inggih ratu sang ahayu, sampunang malih manjangang, boya nugi tityang lalis, sinah katur, munggwing drewen imasmirah. Sang Sucita manyekenang, mapitaken sambil kenying, cingak manis ngimpek manah, ratu ayu liwat bangkit, munggwing pisarat imanik, tityang sampun tatas weruh, ring parab durung pawikan, yan tan wenten bes kapingit, ndaweg ratu, ndikayang sampunang ngubda. Nika saksat upah, tuyuh nuduk kambencerik, pacang sungsung jroning manah, kapetinin antuk aling, kabaktinin syang ratri, sang hayu gelis masawur, tan pisan tityang mingitang, Ni Karuni tityang kandanin, antuk iguru, ne maparab dukuh Prajnya. Dyah Parmita ibun tityang, nanging lacur boya kari, wenten sampun petang warsa, umantuk ring jagad sepi, rawuh layon nora kari, geseng matemahan kukus, puwunang geni adnyana, sakil wulupuhun mijil, sangkan lacur, ida seda tanpa sawa. Menab wenten pakayunan, kapondok tityang nyimpangin, tan nyandang bli sangsaya, reh tityang madrebe aji, tepet ring brata samadi, asih ring sahanan hidup, durung nahan pangguh duka, wenten adin tityang siki, truna bagus, wastan ipun I Sugata. Nanging ipun tambet pisan, tan wenten uning brangti, watek ngawe sebet manah, tan pisan ipun nahanin, bantas uning manyukanin, greteh banyol maring tamyu, demen mengawenang girang, tiwas ring papineh usil, kaduk halus, rikuh maningkahang mrekak. Inggih puput sampunika, sadurung bli ngrawuhin, sayaga tityang ngantosang, ature mangimpek hati, mababoyan cingak lindih, mapasupati ban kenyung, gempor rasa sang mirengang, masriyep kadi mangipi, rasa magalet, maring bale pawarangan. Sangkan kadi kapupungan, sawure tan malapanin, mati tityang ratu mirah, anyudang cingake manis, lwir blabar madu gendis, nyunyur bawose bes suluk, kudyang tityang malipatan, ne mangkin tityang jeg ngiring, da iratu, kaimud manampi tityang. Dukuh Pradnyan matwan tityang, Isugata ipah jati, sampunan iratu nolak, ne mangkin tityang nyimpangin, masadya nunas imanik, reh rabin tityang iratu, angkepan saking niskala, tityang Smara adi Ratih, sih salulut, tan pisan dados pasahang. Apan jati juta karma, dewa tan dados ngalangin, kalingke buta manusa, nggih ngiring mamargi mangkin, tityang ngungkurin imanik, mangden pemargine lantur, yan tityang pada ihinan, brengkat ceceh tolah-tolih, meh katanjung, katungkul noleh imirah.

74.

75.

76.

77.

78.

79.

80.

81.

82.

24

83.

Dyah Karuni osek mirengang, wawu rumasa ring hati, eling ring bawose iwang, polose tan manut indik, sangkanya seneng katampi, reh caluh nyimpangan lucu, sangkan matur taterangan, beli sang mustikan luwih, pineh dumun, ngudyang tan nganggo wiweka. Kecap ajine elingang, napi salwir ne kaperih, sampunang puput ngaraga, locita margyang ihin, mangden pikolihe becik, saking yatna ngalih luwung, dropon kayune tinggalang, reh gampang halane panggih, bilih lacur, ane alih twara bakat. Apan sajronang pamlapan, kapattanne malinngih, munggwing patutte punika, saksat arca lintang luwih, palinggan Hyang Maha Widi, manyukanin sang manyungsung, mangawinang sida karya, sangkan punike sungkemin, yaning tuhu, beli misadyayang melah. Tan kidik satwa nyinahang, dropone mamanggih weci, kayatnane ngawe suka, nika uger-uger pasti, tan dados uwah uwuhin, yan purug mamangguh kewuh, punika bli pinehang, yan tutug tityang ne mangkin, lintang lucu, solahe tan manut krama. Dyastu iaji tan menggah, panglemek halus kicenin, sinah manados selselan eling ring indike sisip, kadi tingkah istri jalir, ngumbara ngalih wong kakung, yan beli tuhu pasweca, ring tityang ituna budi, mantuk dumun, wusanan mangken wilangang. Sang Sucita kayune punah, racun kendarman nibenin, tumuli raris ngandika, duh Ratu Hyang Saraswati, tuhu maraga sastrawit, sangan kapranyane mulus, pantes turunan utama, wacanane bes ngulapin, surya siyu, rasanyang tityang ring manah. Kudyang nyidayang mamapas, sapisan tityang mangiring, kewanten ratu ampura, atur tityang jadma paling, genin indrya ngebusin, sangkan paling pati jlamut, adoh saking kapatutan, durusang tityang pisisip, pangda caluh, ima nampenin imirah.

84.

85.

86.

87.

88.

89.

90.

Samalih ratu elingang, yadin tan puput ne mangkin, sok tityang ngawit mabaja, sarat tityang ring imanik, sampunang tan ngalinggihin, pinunas tityange pungkur, wireh boya wenten liyan, kanten ring jagate sami, sok iratu, tingglas gumantung ring manah Bilih tityang maseh gama, pacang magama imanik, rahina wengi ngarcana, ring tungtung hati kastiti, kastawa ban puh ginanti, mawisik sulinge lengut, Ni Karuni raris nimbal, sampunang ja bes mamuji, mantuk dumun, tityang ugi pamit budal.

91.

92.

Yadin ceceh kaandegang, Ni Karuni ngeser mamargi, Sang Sucita bengong ngatonang, lwir togog masemu jengis, marasa suwung di hati, jiwane kadi manutug, Ni Karuni raris ical, umputan pandan ngilidin, lami sampun, kawas ugi tan kacingak

25

Pupuh Pangkur :II 1. Sada lami Sang Sucita, bawu eling, manutuptup mangeka sedih, srupatane deres metu, twara kena inampetan, dadi medal, bawose mangajap suwung, duh nguda iratu lagas, mangutang tityang iriki. Ring mendung sawanganng tityang, ireng rambute, masih tong enyak sabanding, selem aksine tur balut, itunjung biru ya kalah, gili kembar, bes sipok nandingin susu, empol penyalin lan pudak, ngayuh ring cokor imanik. Dijase tudtudang tityang, mangda panggih, kahayoh iratu mangkin, sundari tan ngawe lipur, apan adoh yang sawangang, ring wacanan iratune rempuh halus, lemet laywaning angsoka, tong mampuh nandingin pipi. Aas isekar rijasa, bane usil, ganggu mamanah marungin, lambene barak tur halus, pantes ngembahang saksara, ya ibintang, rahina kalh matarung, ring cacingak imasimirah, pakedep natonin hati. Ikembang trate lan padma, tuwin makanti, ring isasih prawani, yan congak purun mamarung, ring prarain imasimirah, sinah tulah, sekare katempur, ibulan compeng dadinnya, iratu ngunggul padidi. Sangkan tong ada ngawinang, lipur manah, mangden purna ring imanik, sagara halas lan gunung, kayang bungahing nagara, nyorong kalah, marungin hayun iratu, rep luwir kadasa guna, aduh arah kudyang jani. Sang kawi kasub prajnyan, sinah ajerih, nyanggupang ngawi imanik, pasti kejekon kaweroh, kalud pangupama kirang, yadin peseng, tri buwanane gebur, kasor nu beten di tanah. Bilih Sang Hyang Nirajnyana, mangutprti, nyadya tedun manglugrahin, tityang ne anteng mayumbung, kautaman Sang Hyang Sukma, sangkan pragat, jegege ngerubuh kayun, kudang degag nyitendrya, becik ngayuh ring imanik. Kewangten ratu mas mirah, nggih da lali, ring tityang ne teher bakti, yadyan saking adoh matur, elinge anggen mirengang, daht nista, sang tan males tresna mulus, amonto panyawang tityang, inggih icenin mapamit. Tumuli mamargi budal, belis lecig, kasabehan toyan aksi, ragane rumasa puyung, apan jiwane makantah, ring sang dyah, Karuni jegeg mangirut, sangkan tindakanne ngawag, mati capatan dimargi. Sarawuhe maring umah, jeg mlinggih, mamona ngaregep tangis, degeng kadi togog nguntul, luwir mengranasika, masang mudra, lwir mrayogayamg sang hayu, liyeping ajnyana suksma, paroking Smara Ratih. Menget lawan budi rasa, bane ngilis, nunggal maring Ni Karuni, sangkan ipyane ngelantur, saking jagra kaswapena, twara belas, makaronan ring sang hayu, rasa ring nandanawana, masangu rasmining hati.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

26

13.

Tigang dina bratane maksa, tan pasangu, sok Smara rasa kabukti, manginum tresna salulut, maulam ban lengleng unang, kanti layu, meh Hyang Siwa Smara nurun, lugra ringsang ngineng brata, tan pegat ngastiti bakti. Sang Subudi mangkin carita, kraseng hati, sargane baya nibenin, awinan gelis karuruh, kumahnya misadya nglawad, ngatujuwang, Sang Sucita bengong kapangguh, Sang Subudi matamggara, Sang Sucita noleh nyapatin. Sasampune wus kasapa, Sang Subudi gelis katuran malinggih, ring mambenge bresih halus, sapuputing sopacara, mangandika, Sang Subudi ngambil ngusud, beli iseng krana teka, nelokin iadi mai. Kewala kadi makesyab, ban ngetonin, warnan adi kecud kuning, mirib adi maan langu, pisan polih mabrata, tur magadang, maca kadalon ngalantur,nah jwa adi tuturang, mangden bli gelis uning. Inggih bli jiwan tityang, Sang aluwih, maka ratun olas asih, antuke tan pisan ajum, nyimpen kapradnyanan katah, suka ngandap,twara punyah ban kaweruh, teka pangus ban nyolahang, mapi bli nenten uning.

14.

15.

16.

17.

18.

Nadyan bli sampun wikan, nanging malih, tityang mahatur pihuning, ganjihe mangawe labuh, nyawuh tityang kaampehang, bahan banget, angin tayunganne lemuh, cewat kasander ban lihat, bah katujah alis lancip. Jantos ngahngah maring dada, mangajero, sakite medah kahati, sambyar maliyah kasumsum, gring ngrusak jitendrya, sakit rahat, tan dadi tempur jejamu, baya yan tan sang milara, swca nulung manambanin. Cutet tityang nguningayang, duk masiram, sangkala kambit wong istri, jegegnya natonin jantung, bahan banget ngurek manah, kocap madan, Dyah karuni kasuhur, putri Sang Dukuh prajnya, milara tityang puniki. Maring abasan kanginan, palemahan, alas Sukawan malinggih, tumusang ledang bli bagus, maicain tityang marga, sane ngantar, ne ngawinang manggih hayu, sida sadya mangeniyang, Ni Karuni sang kaasti.

19.

20.

21.

Pupuh Druma : III 1. Sang Subudi sampun mastika rihinan, nuli nyawis mangrenain, adi Sang Sucita, ndikapan belimanggayang, ne mule kaati-ati, bahan sawitra, kendel yan kidihin kanti. Sujatinnya ne jati madan sawitra, tan nyangka ngetohang hurip, ngawe mitraarta, sakeweh bayaning mitra, lagas bareng manandangin, suka dukha, pada bedak manulungin.

2.

27

3.

Tonden panak boye nyama dong sawitre, anake ngelen tan noleh, kalanning irage, katibanan dukha baya, mingkin Sang dadyan hati, tan tulungan, mangulah suka padidi. Keto masih yaning engsap ken tresnan mitra, mitra nistura kadanin, kalingke yan kakasihan, mrih patining mitrannya, mitra drohaka kadanin, langkung sasr, uli hidup kayang mati. Yaning saking manah nulung jati lagas, ban daging tingkah lan hurip, tan cara madagang, mangajinin pitresnannya, tan amrih purup pamuji, nto makejang, swamitra kaadanin. Ane keto maawak jnyana utama, anggan Hyang Datiswari, dewaning adewa, kepitan Hyang Werocana, Budapaksane mamingit, ibu bapa, nyama sawitra nto jati. Ento tuwah nyandang sungsung, sahi sembah, peteng lemah nto baktinin, solah anggen nyembah, tan genep bakti ban mantra, yadin sok nyangkupang jriji, ngulah gampang, jalan sahi pahurukin. Keto tuwah tingkahing dharma sawitra, jalanne jani kawitin, unduke nyaratang, Ni Karuni sang lwir bulan, ento rembug apang pasti, da maimpas, teken ane madan yukti. Sampun puput madungan raris mamarga, rahina becik nujonin, dauh katepetang, menengin bagamuhurta, pamargine sada gati, glising carita, ring Sukawan sampun prapti. Wus madabdab kampuh sampun katedunang, sang kalih raris ngranjing, maring pasanggrahan, ngalap kasor ring sang tapa, sang tapa gelis nyagjagin, tur manyapa, ring greh kacatur mirib. Bagus sayang makawawu galih prapta, rarisang dewa malinggih, nanging aksamayang, genah kasar sok embonan, reh pondok wong tuwa miskin, mayus ludan, romon tan cara nagari. Wus manyapa ngenjwang canang nanjenang, Ni Karuni medal nyapatin, cingak mintang kembar, mapamit huwus manyapa, ring batan angsana malinggah, I Sucita, sakit ngeres mengawitin. Tan asuwe I Sugata saget prapta, nibakang cacingak manis, smitane kencah, manggutan sambil mangandap, meneng rasa wus nyapatin, bahan pragat, tangkepe tasak manengin. Sang atapa malih mangandika ban-ban, duh sayang bagus sang kalih, nyen pareb idewa, miwah wite sakeng dija, nyen parab sang ibu aji, pacang nguda, pisarat ibagus mai. Yaning wantah dados idewa nyinahang, meled bapa mangden uning, yaning papingitan, tan malih bapa nyujutang, ane lyan anggen nyambungin, gelis nimbal, Sang Subudi manyawurin.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

28

16.

Duh sang tapa sang saksat surya sakala, nyundur jagad tan mamilih, pangkung munduk alas, maweh sukaning buwana, dyasthun tityang nista jati, ndatan beda, antuk sang tapa nywecanin. Sinah katur kadi pakarsan sang tapa, reh tan wenten ja kapingit, munggwing desan tityang, ring Wekreta tan lyang, bapan tityang wus sulinggih, ne maparab, Resi Sidanta pinuji. Sang Darmika parab ida ibun tityang, tityang mwasta sang Subudi, puniki Sucita, wastan ipun sargan tityang, putran Rsi Metri kastuti, munggwing byang, Resi Danti kaparabin. Mateb matur Sang Subudi mangujiwat, Sang Sucita sengeh nampenin, nuli matur sembah, duh ratu sang pangempwan, dwaning tityang pedek tangkil, wenten sarat, mamitanng sampura rihin. Wus rumasa ring dewek kalintang nista, tan pendah luwir, sasawi, bes pangkah mamanah, manuncap pucaking arga, doh ipun ibun tan pawit, pacang sida, pangkah nagih nyujuh langit. Tityang bingung kena panah Hyang Smara, tegeh endep tan ketangin, nanging sang atapa, mula meraga amreta, juru jampi mangetisin, sinah lugra, ngicenin saluwir kapti. Reh iratu saksat Batari Surabya, nyuswin salwir mahurip, apan sidajnyana, ring balyan aswinodewa, gumanti juru tambanin, manyukayang, sang luwir sang nandang gering. Wireh mule sipating sang maha tapa, patpat solahe kagisi, angen ring sang lara, manulung twara jangkayan, purun manesang natingin, sang alara, tan surud ring baya pati. Wahu suka yaning sang tulung wus waras, kotaman punika sami, tekek tan ngingsiran, malingga ring sang atapa, sengeh tan nahanin paling, mangalihang, ngadungin tamban sang sakit. Sinah toya kapaica ring sang bedak, paturon yan ring wong harip, nanging yan sang muda, kaprajnyanan kalugraha, tamba yan ring wong agering, nanging tityang, lara smara nibenin. Sampun sinah ring sang tapa genahing tamba, tan emeng adoh mengalih, daging atur tityang, ngalungsur putrin sang tapa, maka sadana ngastiti, katurunan, budi satwa kang pinerih. Mugi ledang manados putra utma, maka mustikaning hati, kajanaanuragan, maka payubaning jagat, lwir wanira nyamping margi, manyukayang, sang membon guru mamargi.

17.

18.

19.

20.

21.

22.

23.

24.

25.

26.

27.

29

28.

Bilih sida mangardi kawitan lukat, lepas saking genah weci, saking kertin putra, ne sida manut sasana, nganutin sila sayukti, ngawe suka, kadang braya kula wargi. Sapunika pidagingan atur tityang, artu sinah ngawikanin, sapangacep tityang, sawetning duradarsana, durasrawana tan gingsir, durajnyan, ring sang tapa mungguh sami. Sane mangkin sok tityang ngatos nugraha, tan wenten malih manjangin, sawetning sang tapa, sinah wus karasemg tuwas, sakit sang tan sida kapti, lwihke yan taruna smara nibenin. Sang atapa mangandika halus ban-ban, Sucita nanak sang wagmi, bapa twara panjang yan nyak teka jag juwang, adin cening Ni Karuni, nah kewala, paradarane impasin. Swadarmane nyandang agem tekekang, tingkahing mangamet rabi, yaning sang ksatrya, wenang-saking kaprawiran, pamargine ngalap rabi, sang brahmana, saking adung pinih luwih. Masih ada pakeling bapa amatra, mula yan smara ngeninin, plapane hilang, disuban yatnane ninggal patute kereng magedi, dadi iwang, mimpas ne alih tan keni. Gampang kroda deweke mrasa kuwasa, dewa Widi tan takutin, las murug larangan, sastra gama rompak onya, tan takut mamangguh weci, Sang Hyang Yama, makita nglawan matig-tig. Wireh langah bajange tongosin yatna, tuwuhe sanget ngabanin, lud makanti indrya, sangkan bapa makelingang, mugi cening kuwat nyaganin, ndihan indrya, apang da nilap muwunin. Sangkan apang tangar mangamong indrya, reh ya patis lalipi, mupas mranen pisan, yan kirang yatna manyaga, nyimbuh meh baya awinin, keto dewa, nah kema iadi lemesin. Kadi sukan ikayu padang panesan, molih sabeh kapat ngawit, waye sapunika, ledang sang kalih manunas, wacanan ida sang Resi, raris nyumbah, Ni Karuni katampekin. Caritayang papadune sami terehan, I Sucita lan Karuni, pakembar wus ngalebang, ayame samisaungan, mataji bawose lindih, tur mabulang, bahan cacingake natit. Ngawit ngebug Sang Sucita ngarihinang, tajine matitis hati, duh ratu mas mirah, tamyu ja tityang ban cingak, ne ngasorang manggis agumi, tur kenyemang, lambene takutin gendis. Mingkin mirah elas antenge kelesang, keni kanten susne nyangkih, sinah sang Hyang Indra, sang maka dewane tingal, Ida langkung suka trepti, mamuktyang, bilih ngewales ban bangkit.

29.

30.

31.

32.

33.

34.

35.

36.

37.

38.

39.

40.

30

41.

Kalingke yang ganggu rambute buyarang, yadyastu tityang kalilit, pasti satengah lintang, malan titiyang kalukat, ngasorang lis kamaligi, ne ngritisang, banyu awang toya suci.

Pupuh Dangdang : IV 1. Aduh ratu mas mirah sang luwir ratih, nyundar galang, etis kadi amreta, panglukatan taruna sedih, boya saking tityang nyumbung, ban tembe tityang manggih, jegeg sekadi imirah, pantes dadi pacar caksu, jantos wenten kasangsayang, manah tityang, selang ring dewek mangipi, yan bangun meh mirah ical. Yan upami wyakti tyityang mangipi, meh imirah, rabin Hyang Iswara, maraga Hyang Giriputri, ne nyandang kasembah suwun, iratu mula kapuji, apan dewaning adewa, make minyaking tutur, sarining yoga brata, nggih dumadak, iratu ledang nampenin, menganggen saksat bupada. Boya ugi iratu sang sekar wangi, pacang nulak, tityang isadpada, ne mider nyerepang miyik, buduh badudane wukud, bes mangawe salah indik, sakadi witning pinang, ndikapang manulak gadung, ne suka nglilit nyaratang, ngawe bungah, ngaturang bangkit lan merik, sigug yan ngantos bun petak. Daging mangkin tityang matur mangawitin, ring imirah, kedeh mapinunas, dumadak ledang nampenin, mangdennya imirah puput, ngodagang tityang puniki, anggon juru manupdupang, nyisinin sambil mangelut, dyastu kala imirah, kahongkeban, tityang sengeh mangalihin, nyutsutin karingat muka. Tityang suka yan mirah pungkur nyarenin, kala menggah, reh sampun ngapalang, pangrumrum pamurnan hati, sampun mabukti ping siyu, manglebur ibuk brangti, kudang-kudang kakrangan, kawiraja sane kasub, kaketus sampun karambang, satus pada, cara swarga turah iriki, mangkep sampun kapastika. Kala uyang tan sida merem digelis, kari gampang, dipabinan ngebah, tityang sanggup magadangin, sambilang nyosohang ranmbut, kaduk manglawut manyiksik, ngiras nyangkrimang imirah, mupah kapah ngurut susu, ngicalang laad lamad odak, tur mantesang, ncen ane sandang usudin, ratu jeg meneng manggayang. Tityang tanggung mayasin mangden becik, tan pacacad, polos papatutan, nanging sanget nudut hati, asing ngeton dot maniru, tityang kasub uling alit, mula juru payas koptah, prakangge dipuri agung, saking duweg mamntesang, tan mendowang, nguwah nguwuh malih kidik, puput dados tan pacacad.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Inggih ja ampakang lambene manis, ne waluya, korin Hyang Iswara, ne maraga bawos inggih, ne muwat arti pasanggup, medalang tuntun ban kenying, reh sampun sami sayaga, Catur Lokapala nunggu, Hyang Indra dimatan tityang, Hyang Kuwera, ring karna alal manganti, ring irung Sang Hyang Baruna.

31

9.

Sang Hyang Yama ring cangkem, tityang manganti, pacang nyanggra, kusung kahiringang, ring utek katurang kastawa ban gurit kidung, kasepin ban girang hati, madamar ban mirah, raris nimbal, Dyah Karuni manyawurin, gagebuge tangar pisan. Bawos bli kalintang-lintang mamuji, lwir merasa, napak Budaloka, keburang wacana bangkit, tegeh ngolete kalangkung, mangawenang res dihati, reh tityang kalintang nista, bocok kalud lintang jugul, tan wruhing tatwa kanda, kapetengan, nanging ka tan salit tampi, reh tityang kapi hutangan. Sane pidan duk tityang tulungin bli, manudukang kencerik punika, durung pisan tityang lali, nangingke bes ngencot langkung, yan dewek tityang kaambil, banget pisan joh sahimbang, pican bli lintang agung, dewek tityang langkung nista, bes ngatimang, ngawe kapok sang nulungin, ngudyangse capunge lawar. Mangkin tityang mapidaweg ring bli, matur ngawag, manguningang wreta, antuk manuduk ring margi, yan rabi sane katuju, laba nista kawastanin, yening kasugyan saratang, madyama laba kasengguh, nanging yan merih sawitra, mautama, nika laba pinih luwih, sangkan ngiring masawitra. Ngudang buduh ngutang swarga ngalih weci, sanget tawah, milih ne jalekan, ne melah twara cumponin, banget ngawe anak bingung, pinehja beli kawitin, minab kari kirang waras, kirang nimbang langkung napsu, petengin lawat indrya, dong bes basja, Hyang Smara kasub pacadi, tan milih nyangkala anak. Minab sering bli ngajengang kopi, duren ulam, sangkan banget galak, indryani ngusak-asik, lwir yaksa sakti ngamuk, becik tuba ban keladi, punike sering rayunang, mangden indryane enduk, madyane sering leblebang, mangden jenang, kayune raris tambanin, bahan sarwa tatwa kanda. Tan pagune sugihe ring idemit, masih nirdon, antenge anggurang, tan muputang karya kidik, nirdon ugi bli bagus, beli kasub prajnyan wagmi, yan tan manyaya indrya, awinin kawitin bangun, ngudyang labuh bwin kakebang, dadi suka, mamanjak ring satru jahil, indrya musuh ring kaliliran.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

Pupuh Sinom : V 1. Ndaweg tityang mapinunas, ngalemesin bli mangkin, laba utama saratang, masawitrane sungkemin, yan tityang ngiring marabi, runtike pacang mapatung, wireh angkarane medal, paturu saling angkenin, slir palsu, reh ngangkenin twara gelah. Olih pengangkene medal, kenehe ngodag tan gigis, saking kayune mangodag, ragane mrasa bupati, bahan rumasa ngagungin, pada tan suka kauduh, sami nagih mamerentah, yan tungkasin dadi jengis, meh mananjung, paling kidik dadi jaljal. Dadi sanget mapangenan, perentahe katempalin, ulunhati magejulan, tumben kateler ngagunin, bas ahatan uling nguni, bwat ngelah panjak tutut, dadi

2.

3.

32

gring salah acepan, suka padem yan tan ajerih, sanget kalut, puput sedih kakeniyang. 4. Ngalih sukan makurenan, patuh san ring manyagjagin, lawat kakelik mangindang, nika tutug ngalih etis, engsap teken peluh pidit, etis ganjah bakat ruruh, awinan beli pinehang, tityang matur saking jati, pineh dumun, dadi wisya sengguh amreta. Sangkan ngiring masawitra, sareng muruk ngalih jati, mangda kadi Kresna Arjuna, saling jaga metoh pati, akeh labane kapanggih, saking pasawitran metu, lebih suka kirang duhka, langkung untung kirang rugi, beli bagus sampunangja ngambil tityang. Ne jati jegeg dijagat, manis etis manyukanin, tuhu lanus tan paceda, tan kahanan tuwa pati, sayan lami sayan becik, sayan wayah sayan luwung reh jati istri utama, sang suklabrahmacari, istria hayu, sayan lingsir mamajangang. Punike becik rangkatang, aluh twara ngalemesin, sok yan jati bli arsa, ngudyangse tityang lemesin, jadma gelis tuwa pati, pangaputan sarwa letuh, kisan isin jajron saksat, basang-basang pasuranting, lan paparu, ati limpane ditengah. Reh bli takep indrya, sangkan kejokan pangaksi, tan cingak ane ring tengah, sok ring jaban kulit kaaksi, kulit bawange ngilidin, yan kupak barak kadul7u, madaging wat pacarangcang, garagas makaput getih, twara buwung, dadi banyeh ya samyan.

5.

6.

7.

8.

9.

Jitendrya lan sawitra, yan angkep sumingkin becik, tan wenten kirang kagunan, waluya Lembu Nandini, bisa ngicen asing kapti, sangkan anggen rurung tuwut, marga kenceng tan macanggah, ngojog karasane luwih, eda ganggu, beli pacang ngambil tityang. Sang Sucita gelis nimbal, nika patut rawos adi, nanging kirang unadika, anggah ungguh manden uning, tan wurung isinga mati, yan paksa uwehin ambung, ilembu tan wurung pejah, yan paksa mangsa icenin, ngudyang buduh, ibaduda icen sekar. Sang Biksune mule wenang, manyuklabrahmacari, tityang reh mule kendryan, awinan ngalih imanik, ne katuju wantah tunggil, beda bekala kapundut, swadarmane elingang, paradarmane kelidin, pangda slingsut, tingkahe melanin darma. Ane madan swadarma, amongan raga padidi, ane madan paradarma, amongan wong lyan wykti, amongan iprajurit, mayuda mangardi luwung, sang prabu magehang jagat, swadarman anake istri, pinih luwung, yan nyidayang patibrata.

10.

11.

12.

33

13.

Punika mirah pinehang, reh manik maraga istri, patibrata paling melah, nggen larapan ngalih suci, tityang mangiring imanik, anggen srana gurukakung, manden sida makaronan, saparan tunggal pamukti, adi hayu, linggihin pinunas tityang. Tityang sanggup twara tempal, sapakayunan mangiring, dyastu manyahjah kota, ninjo wawangunan rawit, yawat kasagara ngraris, malayar mangalih nawu, ngawasang bungah sagara, kliyahang toyane becik, ring das surup, Hyang Surya Kalintang endah. Sambil ngawas gulem barak, nyalang mawor biru kuning, maputih madadu gadang, lwir cayan nawadewati, papindan guleme becik, kadi gambar ngendah erut, lwir wayang malalampahan, sanghyang pawana ndalangin, dahat lengut, sanget nguwuhin kasukan. Yan waneh maring sagara, kagunung halas mangraris, sambilang matirtayatra, teher mukti sarwa sari, tukad danune tinjoin, sarwa wulangun tan ketung, muwuh swaran paksi umyang, halus tambungin sundari, uduh ratu, kenken sukane pangguhang. Yan adi lesu mamrga, tityang mangemban imanik, twara sandang sumangsaya, tityang mula juru sunggi, megat Ni Karuni nyawis, naging gagebuke enduk, arah tityang tan ngiringang, tityang twaraja bani, nimbal ngebug, I Sucita mangucutang. Nguda takut imasmirah, reh tityang nandan mangabih, nesek twara mabelasan, mangrumrum sambil mamuji, mangawas madyane ramping, stel ring tayunge lemuh, tindak dabdab mangelohang, lwir camara tempuh angin, tanggung nawu yan tityang sampun ngiringang. Pungkur yan tekaning samaya, imirah seda ngrihinin, tansah tityang mangiringang, ngetut pamargan imanik, wireh bayane tan kidik, tityang ngabeh manden lantur, yan tityang padem rihinan, tan nyujur kaswarga gelis, kari nunggu, ring watwagalagil ngantosang. Dikalan mirah prapta, manden wenten nandan ngabih, apan marga sripit pisan, batu ganjih asing njekin, kalud pangadang tan kidik, garuda bwaya asu, ageng karura tur galak, ring sampun sami klintangin, ditu ngucur, manuju smaraloka. Ngelingin purine suba, bahan suwe katinggalin, ring taman talagadwaja, ugi gelisah cingakin, gedong sekarene marik, matumpang masusun-susun, bilih kakwane samah, masang jaring ngurambatin, nyawan liyu, tambulilingan nganggwang kita. Wenten ugi manah tityang, ngiring mandatan marabi, nanging Hyang Smara bijal, nyelir nyelang dewek beli, wireh Ida Dewi Ratih, malingga ring adi hayu, yan tempalin bilih tulah, becikanja margi iring, mangden sampun, keni pamastun batara.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

21.

22.

34

23.

Ah beli jeg ngendah pelag, bes ngawe dalihan paling, sampunangja bengkung tulak, masawitra pinih becik, teka nguda buduh adi, twara ada kanda luwung, katak mangasihang naga, pitik ngasihing kakelik, uduh ratu, nyen sanggup pacang nanggungang. Duh adi jiwatman tityang, wusanja adi ngulgulin, iratu bes banget ngendah, tityang mule anak kenyih, nggih jwa mirah linggihing, pinunas isedih ngunggun, bilih mati tityang mirah, yan tan gelisang tambanin, ngudyang ratu, banget menyandenin tityang. Ngudase iadi engsap, teken peragayan Ratih, ndaweg ja eling-elingang, tityang mula guru laki, Hyang Smara ngaraganin, dados mirah gelis bingung, lali ring unduke kuna, mider ping sering dumadi, pada nurun, sami milih saseliran. Duk imirahe maraga, ring Ida Batari Sri, ring Wisnu tityang maraga, dukn dumadi dewi Saci, ring Indra tityang ngutpeti, duk ring damayanti mungguh, tityang dados Prabu Nala, mangkin dadi Dyah Karuni, jeg mapangguh, ring tityang bagus Sucita.

24.

25.

26.

27.

Pipine mecembleng barak, tandan tityang ngaras nguni, punapi malih kobetang, sangkan kadat ngalinggihin, menawi imanik brangti, antuke wawu kapangguh, kasep tityang manudtudang, iratu sang hayu luwih, mangden huwus, durusang tityang uwelang. Kewanten wusan nguwelang, pamadain banngasihin, siraminban muka bungah, tirtain samita manis, kalpikain liring manis, kidungan bahan pasanggup, mangda sapisanan lukat, malan tityang satus keti, ratu hayu, nggih juwa sampunang kadat. Dyah Karuni keni piyah, mamedah nusuk kehati, ngeres mamuluh kosodang, ature geles piragi, inggih-sang Sucita bli, bes gemes ngantek papusuh, icenin ja tempo tityng, ane lyan bawosang rihin, bes maupuk, tityang mula pagul pisan. Indayang tityang nunasang, mungpung tityang mamanggihin, satwa nungkak kirang sinah, ndaweg ja tityang dikain, punapise ne ngawinin, ring sampune ngelah liyu, manggeh masih mangulahang, ngalih satunggoning hurip, sanget lacur, dadi juru alih nyabran. Malihne tunasang tityang, napi madan sarin sugih, punapike sujatinnya, kantine sapanjang margi, kalih kantining sang mati, napi mwasta jatin satru, sakit napi paling rahat, punike tityang ndikain, pacang sungsung, sat beli iringang tityang. Tityang suka mangantosang, dysatu tan wenten ja mangkin, sok beli ledang nyanggupang, Sang Sucita manyawurin, antuke bes sampun lami, pungkur tityang pacang nyawur, wawu ukuh Sang Sucita, mapamit sanget prapti, sang abagus, ne maparab I Sugata.

28.

29.

30.

31.

32.

Pupuh Ginada : VI

35

1.

Beli bagus Sang Sucita, tityang I Sugata tangkil, ngaturin beli ngajengang, wireh sampun wengi langkung, bawose ngiring sapihang, mangda polih, nyangig taji mangawitang. Bin pidan manggih wentenang, kaklecan malih kawitin, nanging tityang mangahapang, ayam tityang dyastu buruh, wireh ipiyanne rusak, ampeh angin, campakan tityang ical. Nangingke sampunang duhka, tityang demen guyu beli, I Sucita raris nimbal, aduh adi sang abagus, jai beli iwang pisan, ngarihin, beli matur ring iraka. Wantah adi smpun sinah, tan wenten pacang ndukain, wireh tasakin kadarman, twara santulin ban unduk, nangingke ne madan iwang, manggeh pelih, dyastu ja tan kapiduhkan. Pamuput nunas ampura, reh durung nunas ring adi, kedusan kayune galang, ngawinang beli tan santul, kalu indrya mingungang, krana beli, lali matur mapinunas. I Sugata matur nimbal, sampunang beli manjangin, wireh sampun sami galang, kayunne manampi kayun, pacang napi rawos ragrag, ne tan parti, yan dasare twara suka. Malih tityang manguningang, manah tityange sujati, bedak tityang maduwe ipah, ne wikan tur darma sadu, agenan tityang malajah, mangden sering, tityang ngiring mangonjakan. Bilih Ida ajin tityang, ugi tan lyan kaapti, wantah mantune utama, wruhing sastra gama iku, tepeting sila gunawan, twara ngingsir, manggeh bakti ring Hyang Titah. Sami telebe ring sastra, miwah penampene tunggil, panujune ugi tunggal, punike panegulan kukuh, tingkahe maipah matwa, apnan tunggil, jiwane nyelir sarire. Nika ngawinang tan belas, jiwane sahi manunggil, kadi pacampuh akasa, tan dadi pegat satuwuk, yadin sarirane belas, tileh nyiki, wireh pangrasane tunggal. Wantah kaweruhe tunggal, ngawetwang rasa tunggil, rasane tunggil ngawinang, sarirane sering mapunduh, yaning kaweruhe tungkas, sinah sulit, pacang ngatepang sarire. Masih muwuh manekekang, yan anteng saling unyain, mingkin tangeh teken goda, tahu ring kesakten unduk, sane kuwat mamalasang, nto kabasmi, bahan tatase ring tatwa. Sayan kuwat manekekang, maipah mamatwa wyakti, tuwin manyama braya, masawitra maji ibu, yan bares maweh ampure, ring sang pelih, mingkin twara ngawe iwang.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

36

14.

Arah tityang ngocoh pisan, sagara bakat tasikin, janjan ngucap tidong melah, dyastu bawose patut, sweca beli ngampurayang, tityang alit, mula kirang unadika. I Sucita malih nimbal, rawos adi lintang luwih, muwattigang kautaman, dasar lantaran panuju, punika patut samyan, tur nukanin, banget beli nyuksmayang. Jati wantah arang pisan, sang nyidayang kadi adi, patut mula dadi dasar panujune tuwi rahayu, kalihne kanggen lantaran, ugi becik, amretasanjiwani saksat. Katah anak kadroponan, ajum ngangken ngardi becik, nanging satak ngingsak ayam, boncos nulung pitik puwun, tur madasar manah punyah, dong meludih, ne keto tan nyandang tulad. Sangkan sanget beli ngajumang, sakadi bawos iadi, rawose dahat utama, adi mangguh pala hayu, beli suka madingehang, mirib adi, paragayan Sang Hyang Dharma. Sang Sugata sebet nimbal, wantah solahing sang luwih, ne pradnyan ebeking naya, tan paling ngalih pangajum, teteh pangus ngawe suka, sang miragi, nyusup ngawe wareg manah. Jiwan tityang rasa ruwat, manuncap swargane luwih, kesah saking weci desa, lukat bawos beli bagus, ngritis sat tirta utama, nanging jati, tityang tambet ludin nista. Inggih jwa beli puputang, ngiring marayunan mangkin, sodane alal ngantosang, dot rayunang beli bagus, wireh sinah pacang lukat, dados jadmi, yan sang utama ngajengang. Tamyune sami ngajengang, Sang Sugata tansah ngiring, mangan tan mamona brata, itep sambil ngrawos ditu, bawose marupe endah, pada wagmi, mapo teleb mapo ica. Sang Sugata manyorongang, kakuluban dawun anti, saha kenyir manguningang, niki anti wastan ipun, yan niki sering ajengang, kocap becik, doyan keman ban batara. Yaning piduh rayunang, matah wyadin ratengin, punike kocap ngawinang, mangentikang kayun luwung, sadu darma kapiwlasan, hea malin, ngawinang teleb ring tatwa. Yan rayunan tan pauyah, punike kalangkung becik, ngawinang pageh ring manah, ngawe jenang ikacarum, yan galitik manakonang, tan kidikin, rayunane ngawe melah.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

21.

22.

23.

24.

25.

37

26.

Makadi Ida Sang wikan, teka gampang ngalih luwih, dawun-dawunan ngawinang, banget nulung ngardi luwung, reh uning milih ajengan, turin apik, tan sabarang karayunan. Yan kareng ngajengan kakara, kocap tan ngawinang becik, banget ngawe butak manah, ngejohang cedanging kayun, mangentikang budi tamah, kirang becik, becik kidikang ngajengang. Sang Subudi raris nimbal, beli banget mamisinggih, saja tuwah ajeng-ajengan, banget ngawe hala hayu, makrana ragane waras, krana sakit, rayunan tuwah ngawenang. Yan racun bakat ajengang, awake tan wuung mati, yaning amreta ajengang, seger waras bakat pupu, yan deeke karusakan, bareng sakit, kenehe twara buwungang. Dadaharan ane melah, ngawe kenak raga pasti, ragane waras ngawenang, kayune manadi landuh, saking kalanduhan manah, buwin mabalik, ngawetwang raga waras. Awinan ida sang pradnyan, marayunan sanget apik, nginganin yogya tan yogya, nyen sanggup ngajengang racun, mangden tan nyakitin manah, bes nyejehin, yen ada bani nyanggupang. Jatin nyane madan manah, ganjihan sanget ring angin, kaling tempuh dadaharan, kudyang mangentegang kayun, bantas sanding sebeng rusak, suba sedih, magejulan mangogah awak. Ento krana nyandang yatna, pepangananne pilihin, tonden nyandang mangandelang, ngelah kekuatan kayun, nagih ingerang dimanah, pangda pelih, degage kaden wisesa. Yan banya api pasaja, ngudyang takut nunjel cetik, nanging yan buka ngedebong, da ja pangkah ngasen teguh, degag nantangin kelewang, tulus iding, pegat kesampwak sapisan. Apak bisa ngaba awak, ngadungang ring salwir indik, kenken bahan matindakan, ambul apa sandang suhun, teked dija malu garap, nto ingenin, apang sukat asedengan. Sedeng becik wus ngajengang, sang tapa sampun manganti, maring bale petamyuan, sang kalih manangkil sampun, I Sugata twara belas, ugi ngiring, pedek ring sang pangempwan.

27.

28.

29.

30.

31.

32.

33.

34.

35.

36.

Pupuh Sinom : VII

38

1.

Wusan mapaica canang, meneng ajahan jeg api, tumuli Ida sang tapa, mangandika banban haris, duh dewa sang bagus kalih, adake sadyan ibagus, subake itunjung enyak, pamula ditlagan cening, mangden anut, ngawe sukan manah bapa. Kewala manahang bapa, joh ya itaru rigis, manulak patiban hujan, ne nulung mangawe etis, miwah ipaksi belibis, ndikapan nyebetang danu, yan suba inyawan nulak, madune kalintang manis, kala ditu, mirip dewa kakadoang. Sang Sucita matur sembah, duh ratu sang tapa luwih, jati paswecan sang tapa, kedas mulus nirmala ning, luwir Sang Hyang Indra patis, duk nulung sarwa tumuwuh, tan santul nyambehang hujan, dana tan madaging perih, tityang nyuwun, saha banget nyuksmayang. Kadi pangacep sang tapa, dumadak kasidan gelis, makadi putrin sang tapa, sang saksat purnama sasih, minab sampun manadarin, bilih gelis nyundar metu, ledang mapaica galang, ring tityang itadah asih, ne manunggu, imput petenge kasmaran. Durung masan mangawinang, sanggupe sangkan tan mijil, nanging palilayang tityang, dwaning tan wentenja becik, mamupuwang sekar wangi, durung kebah lawut ketus, tityang nulad tambulilingan, san duweg mangingenin, ngisep santun, sasampun sekare kembang. Dyastu juwa icantaka, sedih ngatgat sabeh ngritis, kalaning lahru masa, pamuput wantah maganti, panekan kartika sasih, ring masan sabehe turun, sapunika pidagingnya, sat anggen tityang ngawitin, mapawuruk, mekek panuncap indrya. Sang Subudi sebet nimbal, wireh sampun kewangsitin, inggih ratu sang atapa, sang webuh ajnyana luwih, saksat Sukra Wreshaspati, ajnyanane tan patanggu, jimbar luwir sagara wera, tumusang swecane mangkin, ring ipunggung, ne cupek luwir suwukan. Surya ajnyana sang tapa, lungsur tityang sane mangkin, mangden mamanggihin galang, tityang kaselek ring margi, sangsaya bingung metengin, loba kopane mangapus, kitikan manah ngodagang, kakosa ban irihati, sangkan libut, tan makanten pajagatan. Sapunapi antuk tityang, matingkah jeroning hurip, tityang pacang luwas kija, napi anggen tityang margi, sapunapyang ngentasin, napine nyangkala lawut, sira tityang ne mamarga, durusang tityang ndikain, tityang nunggu, sabuh wacanan sang tapa. Sang tapa masawur banban, uduh bagus sang Subudi, wyakti dahat mautama, pitaken dewa puniki, ulih pitaken maciri, ibagus katah kaweruh, suba sakit mangitungang,nyelehin sarining aji, bilih sampun, makelap cingak inanak. Bapa saking papolosan, suka matimbang ring cening, nuturang pamangguh bapa, anggen ngadabin ne alih, wireh jati lintang singid, suksma mengkeb satuwuk, ngengkeben sang momo manah, bari medal makaput ilid, ngawe takut, mawak kroda mangawasa.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

39

12.

Sangkan sang katunan manah, brangti sanget salah tampi, nyebetang sang menyayangang, kaden musuhe pituwi, bahane matingkah nuding, semu marengus mamisuh, matbat tur parikosa, twara tawang anak luwih, nyandang sungsung, patut sembah ajak onya. Sujatinnya ada nyamar, nyilib tong tangehang gumi, ento ane manguripang, sarwane ade digumi, nanging keweh mamedasen, wireh sepi suwung samun, tan parawat tan pamatra, sulit saksat mamedasen, les kangkung, kadi agni jroning sela. Bane sukil memawosang, dyastu sang bujange luwih, keweh pacang mangenahang, apan mule mraga ilid, tan s8ida ojah ban munyi, tan bakat rikrik ban kayu, sangkan dadi cacimpedan, nagih sengeh sang manampi, apan suwung, nanging misi teka tawah. Duk manahe tan mamanah, ring budine tan mabudi, ring tawange tan manawang, ditu ida jenek linggih, ditu ida rumaga jati, sangkan arang anak tahu, wireh ida tan parupa, kudyang medasin ban aksi, twara tepuk, yan tan purun ngutang rasa. Ento ne patut saratang, nyandang tuju sareng sami, ento deweke pasaja, ento rurung paling luwih, ento anggon mangentasin, nanging yan banya nu bingung, nto masih ne nyangkala, nto mrasa tan nyandang aleh, bakat tandruh, ban gangsar manyungglap rasa. Ajahan kadi nyayangang, laksana mirib ngemesin, ituni kadi ngasihang, nyanan cara ngamusuhin, twara nyak eneh makanti, twara seken manadi musuh, keto panalih sang muda, bahan kejokan pangaksi, ne kadulu, wantah kulit lapis samah. Kadi gadebong lan bawang, munggwing untengnya tan kaksi, tur nyelap twara pedasang, ban puyung kaden tan misi, wireh tawang twara pipis, twara yeh twara sangu, miwah tan wenten busana, sangkan lyunan twara isrik, bane puyung, kaden pragat mawak telah. Nanging yan bani ngliwatang, palyate buwin abedik, medasin puyungpunika, gunannya twara kidik, cunguhe empet agigis, rasanya twara luwung, song kupinge yan sampetan, bongol twara ningeh munyi, ngenah ditu, puyunge gede gunannya. Kakolongan yan sampetan, ajahan angkyane lisik, keto bahan mamastika, isin suwunge utami, buwin talektek pedasin, ambarane yan tan suwung jagate makejang rusak, ring basa jani selehin, tulek malu, saking pakadangang basa. Suwung / kedas / telah / hilang /, puyung / bolong / mendep / bresih, mati / suwud / miwah galang, mated / degeng / pragt / hening, bunter / tusing / moksa / sepi, ento kadang basa bagus, makejang pawakan nora, norane buwin ingetin, duk umungguh, ring unduk malih pedasang.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

21.

40

22.

Warege yan tan telah, deweke manadi paling, seduke yan twara hilang, masih tan wurungan sedih, gedege yan twara lisik, tan wangda irage ngamuk, makitane yan tan hilang, iraga kabarat birit, kanti kipud, batise ngayahin kita. Yaning suwud mawak kasar, pancendrya tan nyakitin, wisayannya tan nyangsara, yan mawak kita tusing, ne kitayang tan nagihin, yan bisa manganggon suwud, bantas bisa ngunadika, suba sanget elah panggih, ya sang suwud, sujatining kautaman. Imbane diharep melahang, irengang mangdennya galir, sahi ya rasa-rasayang, bitbit dikayune gulis, apang saja kanti ngarti, tur sampe merasa lawut, kagunanne madan telah, misi apa ento pedasin, reh ipuyung, misi saluwiring ada. Ilang sukha dadi duhka, ilang duhka dadi suka, ilange suka maisi, suka duhka ilangang malih, tan wurung manadi laduh, ilange landuh isinnya, nto bapa ngimbain cening, apang tuhu, cening ngerti isin ilang. Yan kabawos ban inanak, kotamanne madan lisik, ditu cening mamuwatang, suba ngelah panuju pasti, nanging kenken ban medasin, kija ambah apang tepuk, melah jani adeng-adengang, krana Ida Sang Hyang Licin, sanget takut, ring tambet katunan manah. Sang Subudi matur sembah, duh ratu sang tapa luwih, saksat Siwa nganugraha, wacanane mautami, luwir angin mangangobin, tambete sat mendung takut, mawinan makesyar galang, manah tityang para mangkin, inggih ratu malihin lugrahin tityang.

23.

24.

25.

26.

27.

Pupuh Ginanti : VIII 1. Mirb suba liyu tahu, kadine mungguh ring aji, jatin sangsara punika, wetu saking tingkah pelih, pelih saking ketambetan, tambet dadi dasar sedih. Tambete ngawinang lacur, bulak balik manumadi, bingkih malahibin duhka, dekah nguber sukan hati, ngalih hidup mati bakat, ngalih bjang tuwa panggih. Tambet tan lyan puniku, dadi kranan sami-sami, krana jenged kadi jantra, suka duhka malinder panggih, jani sedih nyanan girang, suwud girang sedih malih. Yan banya nu tunggun hidup, liyu tenggenang dihati, nanging yaning suba tuwa, kisut cengkud kalud sakit, angkihan mamegat-megat, apane tegenang malih. Pamuputnya mati bungkus, kakencane telah ledis, twara ada buwin kandayang, kabelet payu negakin, tumben jemet nyak manyerah, naros twara makelatin.

2.

3.

4.

5.

41

6.

Acepanne kudyang hiyu, megoh nanggu seket keti, makejang tonden kasidan, puput nyaerah ngabe gering, geringin salah acepan, bek maisi sakit hati. Jumunin dumadi tudtud, nudtudang edote muni, demene maawak bangkaan, anggon ngalih ne demenin, nanging pragat dadi nungkak, mati enggalan nyagjagin. Ping seket jantos puing siyu, bulak balik manumadi, ngubungin pakitan manah, kaden iya bisa trepti, suba satak nagih domas, suba siyu nagih aketi. Pamuput tan tahen cukup, nandang, kuwang sahi-sahi, kadi pasih nyolo tukad, lwir agni maksa lengis, sahi embuh sahi kuwang, tan antuk ngenemin. Tan pawatas tan patanggu, kitane sahi nagihin, yaning tan wenten kasidan, sinah dadi sakit hati, ibuk sedih manyangsara, masih tambet manasarin. Suba tingglas twara kamur, tambete pukuhing sedih, sangkan buwatang alihang, tamban ipune sujati, tan lyan kawikanan, nto tambannya jati pasti. Ane madan wikan iku, bisane mangawe galir, ngadayang muwah ngilangang, salwir ne ada dihati, hala hayu suka duhka, ngunadika apang uning.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

Pupuh Sinom : IX 1. Kawikanan mamunahang, pangering tambete sami, sakancan laraning jagat, yadinmala ngebek gumi, kawikanan nglebur sami, wireh wikane puniku, panglukatan pabresihan, miwah pangentase jati, iku tuhu, sariran Sang Hyang wisesa. Jani jumunin makanda, nabdabang raga apikin, tan nyandang jeg pragatang, reh liyunan tonden panggih, limbakang tudtudang malih, ane jati madan cukup, pangked bisane bes katah, yan anak mabudi cupit, cagwah purun, mastyang na kari samar. Mrasa cukup mrasa bisa, mrasa nawang cara pasti, mrasa sakti miwah kuwat, mrasa bagus turin sugih, mrasa tan ada nglangkungin, tur mrasa dewek pangaruh, ento sanget ngawenang punyah, sipok kenehe ngungkulin, meh mananjung, yan ada bani mamapas. Kaduk caluh tan nyak ngandap, demen ngawe anak ajrih, nawu ngabilbilang timpal, bedak mangdenya kapuji, seduk managih kasorin, edot mangdennya kagugu, jele iri yan ningehang, wreta yan ada ngalangkungin, dadi limuh, dihatine malulunan. Punike dakine rahat, ngawe gering sang ngamongin, manadi keweh nyangsara, nutug ngatut kayang mati, nanging yan tangeh sang keni, ajin teken dadi kewuh, sahat lawut kagedyang, masrana ban ngandap sahi, suwud ngungkul, ditu tuwah dakine hilang.

2.

3.

4.

5.

42

6.

Yan puruk tan katangehang, deweke maisi gering, geringe buke ituniyan, pasti tan sida mamargi, nuju katongose luwih, wireh ya nambal rurung, luwir gunung batu pilah, ngangsel margine seripit, kija laku, tulus ngatogor bekbekan. Da enggal ngiwang matutang, saluwir unduke panggih, reh gumine suba wayah, tuture maduk tan kidik, liyu sang katunan budi, bareng ngejotang pitutur, ngadokang rasa didihan, tan ngadungin linging aji, twara ngitung, wasanan sang madingehang. Ento krana bagus sayang, gabahe nyandang impasin, reh yan kaduk suba iwang, tan kidik keweh tandangin, takut miwah lek panggih, sakit hati sanget imput runtag saha mepangenan, sangkan yan muputng indik, timbang malu, da muputang pedidihan. Sangkan muruk malokika, tutur kunane pedasin, ne mungguh ring sastragama, pakardin sang kawi nguni, miwah bawos anak lingsir, ne prajnyan tur darma sadu, kalih tan loba angkara, tan momo ring anak istri, ditu luwung, tongos manimbang kakencan. Reh ento mawak lokika, ne nyandang gugu sungkemin, iraga buwin manimbang, apang marasa dihati, mangda ngilis turin adil, keni pabahane luwung, eda cara milu bawang, sok bisa ngrambang dibibih, mangden tuhu, ngarti tur ngrasa dimanah. Keto malu ban makanda, icep anggon dasar budi, ento anggon mangawasang, sakancan tuture luwih, miwah salwir ane panggih, apang da bingungang pangus, da enggal meneh pelihang, reh suksma ne madan jati, liyu lacur, pahid beneh sasunglapan. Ne ada tutur utama, warah Siwa Budha nguni, ne mangge agem Hyang Titah, karma tan liyan kadanin, krimikan manahe sami, sapolah bawose metu, saluwir kritipan awak, ento karma kaadanin, ulih ditu, cening nampi suka duhka. Ento tuwah punyah tingkah, tan wurung mabuwah pasti, ento masih ne mangalap, manyayangang mangemesin, ento masih ane uning, swarga nraka ulih ditu, apa lwir ane temokang, uli karma mijil sami, twara tepuk, yan tan karmane ngadayang. Abesik tong ada ginjal, ne panggih lan ne manggihin, makejang karma ngadakang, sangkan karmane kadalih, mawak titah dahat sakti, manitah salwir tumuwuh, nto wates Sang Hyang Suksma, manyayangang mangamesin, tepet nurut, kilukan karman manusia. Munggwing Ida Hyang Suksma, langgeng degdeg sahi-sahi, satata twara ja onyah, kewala ngawinang hurip, asing tingkahang dadi hurip, nganutin karma puniku, twara nagih twara nulak, misara ring sang makardi, nyerah lemuh, sangkan marupa kadilan.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

43

16.

Yaning pelih ban matingkah, pelihe manadi hurip, yening patute kardyang, patute manadi hurip, yan sedihang dadi sedih, yan sukayang dadi nawu, yening tingkahe madukan, maduk unduke kepanggih, jeg miturut, ring agung aliting tingkah. Jani bisayang matingkah, jele melahe pedasin, sakancan tingkahe hala, keweh kadadennya pasti, sekancan tingkahe becik, manadi suka tan wurung, tan dadi tagih lan tulak, twara nyidayang ngengkebin, sahi ngatut, kadyageni lawan teja. Sanget sulit yan tan tatas, teken deweke ne jati, ane bisa amawak katah, tur bisa mawak abesik, muwah tan paawak uning, ento nyandang tetesin malu, penawange apang pedas, kenken krana dadi abesik, dadi liyu, miwah dadi twara ada. Manut warah Sang Hyang Siwa, ring Ida Hyang Umadewi, miwah ring Sang Hyang Kumara, kinucap gumine sami, tekaning dagingnya sami, nganutin penampen kayun, yening tampi ngemusuhang, jagate dadi ngatrunin, sahi nurut, buka twara tahen ginjal. Yening dikayune sayang, gumine nyayangang masih, malih yan rasayang katah, jagate katah nurutin, yaning rasayang abesik, bareng jagate tan liyu, yan bakat rasayang tunggal, jagate bareng abesik, tampi suwung, milu suwung ya ijagat. Ada imba anggon ngawas, yan kenehe misi runtik, asing pehek ngedegin basang, luhu jelanan lan kursi, bareng numpang ngawe runtik, asing katon mwah karungu, makejang ngentukin manah, ngawewehin keweh brangti, muwuh imput, makita onya manuhtah. Yan manahe kaduk selang, jagate jeg manyelangangin, mrasa ngapus mrasa nujah, mrasa nuba ngencak ngintip, mrasa nyandang neteh nglilig, manut agung alit kayun, yening kaduk wawadonan, makejang nyak marupa istri, rasa susu, nyuh ngadinge yadin iyat. Ento tandaning ijagat, nurut manah tuhu jati, malahang nanak ngirengang, apang saja kanti keni, yan ada kayun nungkasin, kadine sinah iwawu, buwin balikin itungang, apang maan, sawur padidi, yan tan pangguh, takonag da jag maboya. Ada keneh ade jagat, jagat saking manah mijil, cingak saking Aji Sangkya, pratiwi saking apah mijil, apah saking teja mentik, teja saking bayu metu, bayu endag saking akasa, akasa manah ngawinin, manah pukuh, sangkan manahe kawasa. Yan dimanah mrasa ada, jagate ada nurutin, yaning manah twara ada, jagate milu ya tusing, nanging ada unduk sulit, kakwatan kajokan lawut, apa anggon mangadayang, apa anggon ngawe tusing, twara mampuh, makrana u8nduke sunsang.

17.

18.

19.

20.

21.

22.

23.

24.

25.

44

26.

Gumine ngadakang manah, sanget ya dadi tungkalik, gumune nyiwanin manah, krana jiwane tan kidik, jiwa babotoh pamating, jiwa bani jiwa takut, ento makejang mamrentah, ban tan panggih ne sujati, kanti tuyuh, prentah jiwa koti laksa. Amonto malu ban bapa, nuturang panampen hati, pamuput bapa ngaksama, mirib cara mangajahin, jatinya bantas ngortain, kadine pangguh dikayun, cening jani malih nimbang, ne pelih lawut kutangin, ane patut, dadi simpen tan larangan. Duh ratu sang pangempwan, wacane kadi langit, bresihne tan kaguleman, patut tan kaworan pelih, kedas tan maketel daki, nerus mamedah ring kayun, manah tityang milu galang, lahlahin bawose suci, mugi tumus, iratu sweca ring tityang. Kaduk sami kapasukan, pangrabdan tatwane luwih, nglantur babawose katah, sahanan tatwane luwih, sang ngiring lawan kahiring, sami prajnyan ebek tutur, mawinan timbal tinimbal, bawose atep piragi, nyak sapahut, lwir wrhaspati lan Indra.

27.

28.

29.

Pupuh Ginade : X 1. Kaget sampun abang wetan, ngandika Ida Sang Resi, amonto malu pragatang, buwin pidan jalan sambung, bapa mrasa kirangan, ngajak cening, mabawos magagonjakan. Cening apang masih maan, sirep ajahane jani, adin cening I Sugata, mangden ngiring merem ditu, bapa masih kuru negak, jahan malih, suba ngantin bapa ngarga. Gelising carita kocap, pada makolem digelis, ajahan sampun semengan, sang merem sami mawungu, glis masiram ngastawa, Sang Hyang Rawi, puputing saupacara. Pupute manangkil muwah, ring Ida Sang Maha Rsi, misadyang pacang mamindah, makadi ring sang ahayu, sampun tangkil ring sang tapa, matur pamit, tan kirang ngawenang suka. Padanda raris ngandika, bapa twara marasa iying, katinggal bahan idewa, kantun rumaket ring kayun, nanging dyastu sapunika, jani ngawit, muruk nahan sakit belas. Dumadak lantur mamarga, tur enggal bwin teke mai, nah kema cening morahan, teken iyadi sang hayu, apang da nto dadi cara, crita gelis, ring sang hayu pamit budal. Tan panjang kacaritayang, sang ninggal lan katinggalin, pada sarat muwat unang, kayunne ngalawan kayun, meh malilit jroning rasa, twara kaksi, sok linuh ngendas diraga. Pada duweg nanem rasa, nanging ring aksi maciri, kadi agni ring tabunan, andusnya katen makudus, dyastu kayunne ngedetang, nging dibibih, kalis pangrawose lagas.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

45

9.

Pamuput atep ditengah, payu mablasan disisi, kadi pegat katik jarak, getahnya enu mangatut, gelising carita kocap, wus mapamit ring I Sugiata tan lupa. Raris matur I Sugata, dumadak patinggal beli, kadi pakesah Batara, matinggalan teduh landuh, munggi mangda sapuunika, sang ninggalin, keni sane kaacepang. Sasampun beli matinggal, tityang pacang maca tulis, tulisane jroning manah, manah imbok sang hayu, ne rawit misi karangan, solah beli, sering pacang ngulgul tityang. Sadurung beli mamarga, paicain tityang gurit, ne mapupuh Smarandana, dyastu pitung pada cukup, ne nyatwayang cakrawaka, kala sedih, tinggalin manuk dewata. Nggih beli margi durusang, ampura tityang ngulgulin, sang hayu kanti kemengan, bulak balik nabdab semu, pongah kimude madukan, kanti kabilbil, jantos kasep manyaruwang. Sang Sucita kenyem nimbal, nah jani beli ninggalin, kewala adi Sugata, pretenin sekare harum, mangdennya digelis mekar, medal sari, ne miyik mabur mimpungan. Ring rawuh itambulilingan, malih apisan mariki, mangden napet panyambrama, sekar kembang masari harum, mangda wenten isap pada, ngeburang sari ngatut lawa.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

Pupuh Pangkur : XI 1. Sang kalih mapamit budal, sada asru, ajahan adoh digelis marga alit kilak-kiluk, lemuh luwir inggekan madya, sane lengkyang, kaget tukad ye kapangguh, gelis sampun kalintangan, sampun rawuh maring pinggir. Rawuhe ring pinggir tukad, wenten batu, ageng lumbang becik nyulig, wungkulin baingin agung, mabangsing ya mailehan, dahat samah, punyannya agung aluhur, ditu ida mararyan, sambil nyingak toya hening. Sang Subudi mangandika, adi bagus, indayang juwa cingakin, katang-katange ne atub, ne mebun malepah samah, dawun ipun, podok twara ngelah muncuk, maniru dawun subita, sekarnya putih lan tangi. Masih ngae sukan manah, yan kadulu, ngirangin kuru di margi, eling beli ane malu, ada anak manuturang, dawun ipun anggon tambe beseh luwung, mulig misi bawang adas, nanging ne mabunga putih. Malih yan lablab dawunnya, lawut inum, sakit ngrasa katelasin, ring botor mirip mabarung, paturu msnsdi balyan, masih nulung, sakit beseh umbin ipun, ulig lawut olesang, bawang adas campur masih.

2.

3.

\ 4.

5.

46

6.

Kocap ibotor punika, dawun ipun, ne matah yaden ratengin, seringang ngajengang lawut, munahang ngrasa turunan, teka aluh, tamba mudah guna luwung, twara tuyuh ngalih balyan, nanging yening kauningin. Ukuh ngalantur ngandika, jeg macebur, wenten bojog ageng putih, saking bingine ngrembun, tadah doh tur manyagjag, lawut matur, mabasa manusa caluh, ampura tityang dewa, matur ring ibagus kalih. Wenten kabuwatan tityang, nunas tulung, ring idewa sane mangkin, sakit manah tityang langkung, antuk wenten pianak ttiyang, mwaniaukud, ical ipun juwang pandung, yaksa sakti ngapak-ngapak, ring jagad mangrusuhin. Sering ipun mamaling jadma, saha ngrampas, nanging boya wenten uning, reh ipun ngangge kaweruh, ajimaya mawisesa, dahat teguh, ring sarwa sanjata luput, keweh anake nglawan, dyastu nyidayang ngetonin. Nanging dyastu sapunika, teka gampang, patin ipun tityang uning, toya tamresan iku, saking taru bodi medal, wus kabakta, yan pacret sapisan lampus, nanging tan jatma sabarang, ne dados pacang nampesin. Jadmane yogya mademang, yaksa iku, anak sadu darma budi, tepet ngamong sila hayu, mabrata tapa tan pegat, twara surud, bakti ring Ida Hyang Tuduh, teleb maring japa yoga, asih ring sahanan murip. Idewa manahang tityang, tuhu sadu, sampun ngamong darma budi, idewa nyandang manglebur, sang yaksa ne dahat corah, keni nanggu, ambek ipune tan luwung, wusan ngrandahin jagat, ngrampas tur mamaling jadmi. Dikrangkeng majaro waja, dahat kukuh, ditu pianak tutyang ngesil, sering ngambe bapa ibu, nyarit mangenyagang basang, yan akudang-tahun sampun ditu ngengsub, jawat kubuh kewehin pangan, tan bebasne ngawe sakit. Sakit petresnan ibapa, lawan ibu, iseng pianak mangangkepin, mangapyuk mangawe sungsut, napi anggen tityang tambe, boya luntur, yan tan sang abagus nulung, sangat duryasaning bapa, ne tan nulung pyanak sedih. Das tityang ngemasin pejah, sareng somah, mangimpasin sakit hati, nging eling tityang ring ipun, kari hurip kasangsaran, muwuh sedih, yan kuningin tityang lampus, punika awinan tityang, tan tulus nyeburin agni. Puput nandang sakit jengah, sahi sedih, nyelselang pakerti nguni, sambil nulame Hyang Tuduh, dumadak gelis ngampure, manywecanin, tityang ibuset ne lacur, ne mangken kaget idewa, panggihin tityang iriki. Dyastun tityang bojog nista, langkung lacur, ngwales sweca boya uning, dumadakja sang abagus, ledang manyambungin yasa, nulung tityang, ne sakit nyedihang sunu, bilih punya karman idewa, pacang ngewales diuri. Kocap yasan sang Darmika, kadi ratu, sedih yaning twara polih, nulungin sang nandang lacur, ne keweh sekadi ttiyang, nggih lanturang, kadarman iratu bagus, nggen tityang pawewen yasa,ne mawak sila utami.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

47

19.

Mangda idewa pawikan, munggwing tityang, mawasta Sang Artati, tistisning Anila sunu, ne kasub sakti tur darma, juru jaga, watek sang masolah hayu, munahan sahanang corah, keman ban sang Rama nguni. Ring bukit Kadalipuspa, umah tityang, ring rejeng prasa sripit, wenten guwa dahat pengung, iriki tityang magenah, katah ditu, mas inten mirah tan ketung, ring tityang, ring tityang nora magenah, katah ditu, mas inten mirah tan ketung, ring tityang nora maguna, wireh ngutamyang manggis. Ditu tityang nandang jengah; sareng somah, sedih pyanak ningalin, kegebag ban boset liyu, bareng pada mapangenan, reh gustinnya, ical iraksasa mandung, memenya sedih maguyang, reh kecalang unteng hati. Munggwing bukit punika, sado adoh, nika tepeng kanten kangin, arang wenten jadma rawuh, apan bukit madurgama, rejeng pangkung, paras iding rungka langkung, macan barwange katah, gajah warak lan lalipi. Ring sambing bukit punika, tadah soran, sada wenten nangun kerti, pada prajnyan sidi sadu, kalih sami wibuh sisya, tur irika, katah bulakanne luwung, sanding sarwa sekar katah, kdapan taru becik-becik. Sumeken tityang irika, mamuktyang, pican Ida Sang Hyang Widi, manawi sang bagus pungkur, wenten pakayun marika, nglila-lila, matirtayatra ngalawut, sambat guhya naman tityang, sinah tityang mamendakin. Ibuset raris nampekang, makisi-kisi, nampekin karnan sang kalih, wusane makecos nungkruk, tadah dohan magenah, ngamalihin, nyambung atur mangalantur, nggih dewa malih pirengang, atur tityange puniki. Munggwing genah iraksasa, boya adoh, kaaksi saking iriki, maring munduke puniku, ring nyampihnya wenten guwa, nyanding tukad, irika ipun manunggu, genah iding nrepeng pisan, rungka madurgama pingit. Malih tityang misekenang, yan idewa, samput muwat toya puniki, sinah ipun twara mampuh, tan sida maksa idewa, kalih yaning siratang ring tanah luwung, sang yaksa tan sida ngliwat, selat adepa nguliling. Yaning buwat ngamademang, karitisin, dewek ipun mangda keni, sampunang sayang ring ipun, yaksa loba ngrusak jagat, wantah siki, yan sampun nulung na liyu, sane keni kakewehan, manggeh patut kawastanin. Sang Subudi mangandika, duh Artati, kasob ira mamiragi, bahan getar teteh pangus, muwat pidarta utama, pantes cai, turunan wanara agung, ne abeking kaprajnyan, sanget ja ira mamuji. Nanging sambil memangenang, bahan cai, kanti dekus sanget sedih, tinggal pyanak juwang pandung, bareng ira manyakitang, dyastu pejah, tan takut pacang mapagut, mayuda nandingin yaksa, mingkin ada patulung cai.

20.

21.

22.

23.

24.

25.

26.

27.

28.

29.

30.

48

31.

Nanging dot ira manawang, apa krana, sangkan cai manguningin, kapatyan yaksa iku, iwanara matur nimbal, saking kawit, tityang nguningayang ipun, mangdennya ibagus tatas, ring indik ipune nguni. Wyakti kadi pangandikan, sang prajnyan, pagehe nyalanin bakti, bani nandang bedak seduk, munahang pangrasan lidah, mwah ngalawan, pangodag pasta puniku, ulyan kuwat mekek manah, tan wurung polih kasaktian. Tityang banget mangajumang, pun sang yaksa, dahat pageh sani nguni, tan papangan tan panginum, ngangen brata nirahara, tur mayoga, tepet tan pangitung tuyuh, bakti ring Ida Hyang Brahma, sangkan Ida manuronin. Ida sane weh nugraha, dwaning ipun, sida mawisesa sakti, sasampun saktine kinum, teka punyah ngapak-apak, lobang kara, mamahak mamegal mamandung, mamati-mati sahasa, krura manyejehin gumi. Kanggen manyambungin cacat, pyanak tityang, kaget kakosa kapaling, nyerit ipun tulung-tulung, reh tityang mrasa kuciwa, makawinan, kabelet manadi sungsut, ibik malingsah maguyang, hatine lwir iris-iris. Sawyakti tan wenten gampang, ngamong teduh, makadi ngamong kasaktin, yan tan mabih darma sadu, gelis ajum ngapak-apak, kadi gidih, deweknya nagih mapadu, sang momo keweh nahanang, lekahan luwaban sakti. Saktin mayonin angkara, lekad loba, lawan kopane matindih, elah pelihe mawetu, pelihe gampang nekayang, tuwuh bawak, ngaba kamatine lawut, atmane dadi sangsara, kenken bahan ngupas pelih. Gelis tityang nguningayang, dwaning tityang, jantos seken tatas uning, munggwing, kapatyan ipun, sawus pyanak tityang ical, nuli tityang, mandewasraya lawut, ngastiti Ida Hyang Rudra, syang ratri ngastiti bakti. Wawu tityang kutus bulan, ndewasraya, kaget Ida mangrawuhin, lugra kadi ne wus katur, dwaning tityang saking lawas, sahi ngadang, maninjo anakne sadu, sane yogya ngama demang, sang yaksa ne lintang sakti. Mirip halan karman tityang, sampun nanggu, kaget idewa kapanggih, kadi pandukang Hyang Tuduh, sawireh sinah idewa, pacang sida, ngardyang jagate landuh, munah iraksasa murka, ne tanmari gusak-asik. Sang Sucita mangandika, duh wanara, Sang Artati luwih wagmi, mirib suba lintang tuhu, buka ane kapidarta, sake wala, ira toden jati tahu, sok cai nawang pedidyan, masih nu orta kadanin. Sang Wanara matur nimbal, inggih dewa, sang luwih prayatneng budi, atur tityang wyakti bagus, sakadi Sang Sewagara, tan pasaksi, nanging nyanan sinah pangguh, tulang jadma paselengkat, buktine manadi saksi. Pamuput raris mamarga, marentowan, ibuset mamargi rihin, dyastun Ida tan pasangu, nanging tan rumasa lapa, wireh kaduk kayune eling ring satru, jantos lingsir sang hyang surya, kantun ring tengahing margi.

32.

33.

34.

35.

36.

37.

38.

39.

40.

41.

42.

43.

49

44.

Pamargine mingir tukad, ngaduluwang, wus adoh lumaku gelis, ibuset mangahap ungkur, tedun munggah benceng pisan, nincap kayu, sebet mangacosin ambung, kaget nesek ya madandan, mapo nenceng malahibin. Ibuset ngantos mararyan, ngamel taru, saha umatur pihuning, inggih ratu sang abagus, puniki taru utama, ne kapuji, mwasta liligundi wulung, yan nyabrang tumpek ajengang, astaguna pacang molih. Nanging mangden malih pisan, mangajengang, tan becik yan mangancadin, nyabran saniscara nuju, kliwon lawut buwatang, ditu pangan, muwuh mabrata tan surud, tan wenang ngajeng carikan, tur tepet ring sila yukti. Malihn etan kayogyayang, ring umanis, mangalap liligundi, tan ngempak twara ngabut, makadi tan ngrusakang, liligundi, keto babratannya bagus, aywa lali aja lupa, yan pacang mangalaksanain. Yan keto bahan nepetang, tan wurungan, kocap kanirbanan panggih, tur muwuh pangjang tuwuh, lara rogane maimpas, reh punika, papanganan buset Agung, ne maparab sang Anoman, sangkan sakti darma kapuji. Sang kalih manyuksmayang, saksat molih, panugrahan dewa luwih, saha tan mari manyumbung, Sang Artati pragusa, malih matur, ibuset ngaturin nunggu, pacang ngalih woh-wohan, tan kocap gelis prapti. Bekul apel miwah hea, kakeniyang, sampun katur ring sang kalih, wus mukti mamarga lawut, lintang doh pamargin Ida, kalud rungka, iding rejeng kilak-kiluk, sang kalih kaget manyingak, tulang batok palintik. Tumuli Ida ngandika, Sang Sucita, uduh cai sang Artati, ne tulang jadma kadulu, ditengah dipinggir tuakd, mirib suba, pahak iraksasa iku, ncense tiban guwanya, indayang ja patujuhin. Dewa bagus sang utama, daging nika, tulang-tulange kaaksi, garagas carikan ipun, pecak anyudang belabar, nuju kancab, munggwing gowannya doh kantun, swatah tigang hyu depa, genahnya saking iriki. Becik ugi yan kawitang, mapakayun, niki wenten batu nyulig, irika ngiring malungguh, nyandang dabdabang locita, mangden adung, tingkahe mranin satru, reh punika kewenangan, prayatna weruhing aji. Munggwing gowan iraksasa, tan makanten, wenten munduk mangilidin, wireh tukade mabeluk, dajan nyjol munduk punike, nglikuk kangen, saking iriki kadulu, wenten rangdu tegeh nunggal, duwur gowa tampek kidik. Sapunika pihuningnya, sang Artati, sang tiga marembug raris, gelising carita sampun, molih sarin tatimbangan, sami adung, budi satwa karegep huwus, mamarga dahat prayatna, ateh angin mangesirsir.

45.

46.

47.

48.

49.

50.

51.

52.

53.

54.

55.

50

56.

Paimpas burone mapas, kidung kancil, nyamping anengen ngimpasin, pangataging karma hayu, pacang jaya ring payudan, sada gati, pamargi sang tiga iku, manglantur tan halangan, crita sampun tampek mangkin. Ibuset matur uninge, inggih dewa, ne mangkin tityang mapamit, pacang mangunggahin taru, maninjo sambil prayatna, ngintip selah, yan wenten pamargi nulung, sinah tityang tan manggayang, tan ajrih ngemasin rihin. Sang kalih kenyem manggutan, lawut mamarga, sampun waspada kaaksi, muwaran gowa puniku, tampek saking pinggir tukad, krura pisan, tulange mamundukmunduk, ada helet ada hanyar, ambunnya kalintang alib.

57.

58.

59.

Ring pinggir gowa punika, ebun katah, ageng maslingket makilit, nyanding kayu agung awub, kanten sanget angresin manah, ring sang getap, nanging sang kalih mawuwuh, kapurusane manyingak, ban anggen ring sang kabukti. Nyilip sang kalih nampekang, sedeng becik, kadi kilonan ban Widi, iraksasa sedeng maturu, sang kalih sampun jumelag, maring pingir, gowane ngretesang banyu, mamegat ambekan gowa, puput sampun keseretin. Sewos malih ne kabakta, wus sayaga, bungbung lalang maisi, pacang nggen nyiratin ipun, yan tan nyak ngasor ngandap, kaget makerak, bojoge sane kaubuh, bahan nanangnya dingeha, umyang maswara manyerit. Sang yaksa nuli ngadahap, enten bangun, runtag jeroning hati, yan entegang mawuwuh buwut, sangkannya mawangset medal, nganggar pedang, somahnnya nu manyingkrung, bareng mangajak pyanak, kantun cerik kajangkutin. Sang yaksa jerih mangakak, jrih kulkul, sarwa burone miragi, kayang paksi sepi samun, gajah warak mengkep getap, nanging liyan, sang kalih ngatgat mapanduk, ngelah-elah samping gowa, sang yaksa yatna kasisi. Sampun tampek ring pamedal, sawatara, maedoh kalih depa mirib, ring genahe makritis banyu, nadak ngetor iraksasa, pedang ulung, magelur ya tulung-tulung, somahnya tan maningehang, sang kalih nyagjag nyelegin. Sang Subudi mangandika ring sang yaksa, ne sampun kecalan sakti, maslat kretesan banyu, kadesek tan madohan, ih sang yaksa, ngudyang kaki nyongkok ditu, mirib kaki nu matingkah, ngaregepang mantra sakti. Sang yaksa mingkin makesyab, ban ngatonang, sang abagus makakalih, sapisanan jeg mangayuh, saha nunas kahuripan, ban ruamasa, deweke lemet tan mampuh, mawinan matur pranata, duh ratu sang bagus kalih. Manawi Sang Hyang Siwa Budha, manyakala, katon rawuh saking sepi, antuk tityang congah nluju, sangkan tulah kanti rebah, tan pabayu, lima batis nadak rumpuh, sapasirase idewa, ndawegja tityang ndikain.

60.

61.

62.

63.

64.

65.

66.

67.

51

Pupuh Durma : XII 1. Sang Subudi kenyem tur masawur getar, duh kaki sang yaksa sakti, sangkan cucune teka, mai nyadya maingetang, ban kaki nyakitin gumi, nah dumadak, kaki nyidayang nyalinin. Wireh tonden ngenteg dijatinin tingkah, ane madan sila yukti, dening, kadroponan, awakin momo angkara, sangkan mamahak mamaling, mangawas, sahasa mamati-mati. Twara pesan ngelah angen miwah sayang, ngulahang suka padidi, nah juwa suudang, iraksasa gelis nimbal, nunas pangampura rihin, antuk pekak, kadi congah manimpalin. Kadi banget ngawe tengkejut dimanah, mirib sanget tungkalik, ne tindihin pekak, melah pekak manuturang, ane mula kasungkemin, cucu nimbang, ne iwang pacang kutangin. Kehangkaran dadi dasar sasungkeman, ditu Hyang Hurip kaastiti, reh ento wisesa, ngodagang saluwir ada, yan ento pada tidongin, tan wurungan, bangkrut sasar jroning hurip. Wireh hyang angkara tanja liyan, ne ngrike gumine sami, uli ditu medal, kema masih pemulihnya, krana patut nto baktinin, peteng lemah, tur apang yatna dihati. Yaning pageh bakti ring Hyangkara, sinah sida asing kapti, nanging tan sabarang, anake pacang nyidayang, nindakin bakti astiti, ring hyangkara, apan godane tan gigis. Kama Arta Kawiryan lan Kakasuban, ento wekasing utami, anggon pangabaktyan, Hyangkara mangda suka, yan ento pada tidongin, sinah menggah, iraga kapongor sedih. Nto rana ne patpat patut limbakang, apang da katunan bukti, mangda trepti suka, Hyangkara malingga, ring angga sarira mukti, Kama Arta, Wirya Kakasuban malih. Mangden gampang makatang ento maka patpat, artane ungsi pangrihin, ento saksat telaga, Kama Wirya Kakasuban, mawak ulam katak patis, sinah teka, tan buwat ya kanti alih. Nanging sinah Arta ne nto kadat bakat, yaning twara dasarin, bahan tingkahe patpat, Pursa lan Parikosa, Nastika muwah Kasaktin, reh punika, patut agem jroning hurip. Ane madan purusa nto jani artyang, banine twara mamilih, bani ngrampas arta, ane mula twara gelah, bani ring sang manindihin, tur mihalang, dastu karebut tan jerih.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

52

13.

Miwah ane madan kaparikosan, twara angen twara sedih, teken sang karampas, teka lagas ngampok ninjak, ngaplukin bahan ngagitik, nusuk munggal, apan tan sayang dihati. Sapuniki sane mawastan Nastika, tan nyak pati gugonin, mingkin ane nu samar, kadi kecaping agama, kocap pacang nraka panggih, yen manyorah, Hyang Yama kocap nyakitin. Sang Nastika tan ngugu swarga nraka, mingkin karmapala malih, wireh kapastyang, ento tutur anak mokak, anak bes lebihan jahil, suba bangka, bakat bannya majehin. Kasaktyane nto buwin tegesang, kuwat ditengah disisi, luput ring senjata, bayu pramanane kuwat, sabda lan hidepe sidi, nggih punike, ne mule sungkemin kaki. Ento krana kaki twara jangkayan, mamahak mamegal mamaling, ngalih rajabrana, makadi muwatang pangan, asing ane kacumponin, tan sangsaya, nyambal jadma nyeret getih. Yan kasidan nto jatinin kautaman, jaba jero manggih luwih, basang wareg lega, keneh lan pangrasa suka, apane buwin itungin, dening pragat, suka bungah wareg sahi. Yan sang getap takut mamahak mamegal, dulurin hatine ganjih, jejh manyahasa, mamungal nyempal mangalanjak, aduk sayang gagang giging, kanti duga, magawe tuyuh mauntit. Megoh apus deweke akwang swarga, rambangang ragragan lengit, kendel ngamah kocap, pacang swarga yan tan nyorah, miwah tan mamati-mati, bes gugwan, awake tulus ngadesit. Bane gerap duwag madalihan ngendah, dalih pelih sang mamaling, baane takut katara, kimud adanine dusta, runtag yan ngelempagin, sang ngelahang, sakit ketuge mabalik. Kaki tatas teken kawruhan pandita, mula demen makente sering, banne bes resepan, teken tutur samah kocap, asing angkuhang madan pelih, sarwa nraka, dikaditwan kocap panggih. Bes ngliwat palyate joh sangah, ane pahak tan pedasin, bangbang, manyungklingang, lihate jelap sawatang, ane tong ade pedasin, tulus bangka, bregugwane ngawinin. Ne idewa masake tan pawikan, sangkan praratune nguni, molih kakasuban, takutin Tri Bhuwana, dewa buta rep ajerih, kaling jadma, makkakeb takut mangili.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

21.

22.

23.

24.

53

25.

Masih tumggal manadi madasaring yajnya, twah angkara kastiti, mayadnya ban yuda, mapuja gregehan jaran, lan swaran gajah padati, mabajre ban suryake ngebekin gumi. Masekarura ban tumbak panah lan cakra, magan daban rah ngudadi, sahanan sasocan, ane keles saking busana, ketes tempuh pedang keris, maka wija, madupa abuke ngliputin. Agni murub nyeleg muwunang nagara, maka padamaran suci, bangke pajulimpang, macahcah lan saling semp al, nto pinakang banten suci, madaksina, ban rampasan ratna manik. Apan nista sukane ulih kurenan, madya saking ngipil-ipil, mamacul ngulakngulak, sukane ulyan ngrampas, ngadokan angkaran budi, marikosa, ento wekasin utami. Yaning darma sahi sangsaya dimanah, megoh ganjih melas hati, jejeh ye neraka, bangkene patakut goyal, dalih pacang manggih weci, yan madusta, ngugu munyi tan pabukti. Teka kodag awake kemta bulanan, ban twara ngelah telengis, adanin mabrata, akwang suka makasan, ne pidan sop dahar jani, daharang jengah, kocape anggon ngecapin. Kaki masih ngelah anggen miwah sayang, nanging tan salah pangungsi, sayang teken awak, teked teken ubuhan, pyanak somah minakadi, ento pyara, reh dadi amongan kaki. Ento krana sangkan kaki mangulahang, ngalih rajabrana sahi, anggon myara awak, somah pyanak mwah ubuhan, bojog kedis minakadi, reh amongan, nging tan sabarang olasin. Ada sisa nto anggon sepelan, maka yasa ring icening, apang suka bungah, suka manahe ngatonang, muwah anggon bekel diuri, kala tuwa, inganan tan mampuh ngalih. Nguda onya anake tulung sakitang, tong nawang darmane hurip, awake matyang, anake lawut hidupang, unteng hatine moyanin, sanget sungsang, kawaruhe nyangkala diri. Pidaging ratu kakine ring idewa, ne jati sungkemin kaki, ngulah suka sakala, huripe apange suka, tan ngetang kayange mati, reh sang pejah, bantas bangka teken nengil. Suba mati seken twara ngelah rasa, budi manah twara kari, nguda buwin dalihang, bisa ngrasa suka duhka, buduh ortane gugonin, ne sakala, pangguh lawut nto boyanin.

26.

27.

28.

29.

30.

31.

32.

33.

34.

35.

36.

54

37.

Duh sang kalih sok kaki polih nguningang, ne kasimpan jroning hati, nanging ampurayang, nawi wenten lepit iwang, pamuput kakine mangkin, nyadya nunas, sabuh wacanan sang kalih. Sang Subudi masawur getar tur banban, tanmari semune manis, duh kaki sang yaksa, iyang banget mangajumang, ban kaki sengeh dihati, tuhu prajnyan, kuwat mangitungin indik. Mirib kaki suba manyelehin satwa, sastra Weda wus kagulis, tur suba mabukta, kaki sampun kretayasa, polih panugrahan luwih, sakewale, panampine ada lepit. Reh suksma daginging sastra lan agama, tan gampang pacang manampi, yan tan paguruwang, makadi yan tan kaswecan, antuk Ida Sang Hyang Widi, bisa sungsang, kawuhe kakden kangin. Kaki ngaden angkarane patut sembah, ulih ditu dasare peleh, wireh iangkara, mawak tukang pancing prajnyan, mamarenang kasukan gumi, silib pisan, mapancing ban duhkan hati. Asing anak nyak nyanggem kasukan jagat, ngambah pancing perihati, ring arta buktyang, duk ngalih kewehe dahat, suba bakat keweh ngemit, miwah ngaba, jejeh rusak miwah lisik. Dikekene maling teka nyengkale, sang ngraksa bareng ngemasin, yadin duke telah, ulih saking kapatutan, mingkin momo ngawinang lisik, nyelsel pisan, dadi sakit jroning hati. Ento krana Ida Sang Maha Pandita, sang uning madalem gumi, maweh paplajahan, ngatarayang, iangkara, mawak tukang sungglap ririh, singid pisan, keweh pacang sida uning. Pangrasane ngrasayang ngelah awak, nto angkara kaadanin, nto ne ngadakang, hala hayu suka duhka, tuwin malinder sahi-sahi, tan patanggwa, ane kawengku ban sedih.

38.

39.

40.

41.

42.

43.

44.

45.

Pupuh Sinom : XIII 1. Jatinnya madan angkara, togog tanah mamingungin, ban seken marupa jadma, engsap teken tanahe rihin, yadin soke malakar tiying, apa nyamud, ngembus tiying soke ilang. Keto masih iangkara, ya mawak twara jati, sangkannya mrasa ada, demene hidup ngawinin, maulat teken takut mati, makit teken loba kudu, mwang sang raga dwesa, ento maulatan marakit, kaget pesu, marupa iangkara. Angkarane ngawe bina, mamdih unduke sami, bisa ngrasa jele melah, hala hayu lara pati, iya duweg mulak-malik, sebet mamincerang unduk, sangkan

2.

3.

55

langah anak nawang, rasane kasep ngrasanin, kaden tuhu sane linyok tahunan. 4. Disubane iangkara, mawak tawang twara jati, ditu pasti sayan ngenah, linyok kasukane dini, patuh teken pules ngipi, manggihin kasukan luwung, sujatinnya tidong saja, gambar iangkara nulis, bakat gugu, bahan beloge ngawinang. Sadurunge tawang saja, deweke pawakan sepi, patuh ken pulas adanya, iangkara nu nyelangkangin, nto mangawinang paling, ane tidong-tidong rebut, kanti sugat mahiyegan, makejang buwat kaalih, suba tepuk, emed tur lawut sabatang. Sanune mawak angkara, yaning telektek pedasin, hidupe cara mabola, ngencotang nguber nyagjagin, suba bakat buwin tanjungin, suba ketes kepung lawut, keto sang ngalih kasukan, suba bakat kutang malih, buwin ruruh, balikine suba kutang. Yan kaki suba nyidayang, makatang artine jati, kadi tuture itunyan, ento jatining matangi, adoh saking pules ngipi, suba bangun ulih bangun, campuh teken rasa sukla, gumi turya kaadanin, suwud ibuk, runtagang isuka duhka. Nanging ento kereng hilang, tan makelo bakat aksi, yan tan abih bahan galang galange buwin artinin, dakin corahe gedyangin, bahan pepinehe patut, patute buwin sampatang, bahan kenehe tan paprih, uli ditu, kaki pacang polih galang. Ento anggon ngalih torya, Hyang Sukla mangden nampekin, wadahe apikin pisan, apang twara misi daki, krana sahi bresihin, angkarane sahi sutsut, yaning sahanan kasukan, mrasa twara ngedotin, ento tuhu, cihnan iangkara punah. Ne kaki buwin pedasang, dyastun awake mati, angkarane hidup waras, uli bangkene makisid, ngaba ambak cara hurip, ditu lawut ya mamupu, buwah tingkanya ipidan, saduknya kari mahurip, hala hayu, manut ring tingkanya suba. Yan kewalendrya adokang, tuwah wisayannya uningin, unduknya twara tawang, ne elah kelawan ketil, ne sinah miwah ne hilid, ento tusing tawang lawut, ane pacang sida nawang, tan lyan ulih pangarti, uli ditu, ane hilid pacang sinah. Jani iyang manuturang, ne nandang suka prihati, tan lyan nto iangkara, tusingja awake kaaksi, yaning awake tingalin, dadi adek dadi usud, ento batas dadi wadah, pungkur yaning suba mati, puput lampus, sang angkara tedah ninggal. Bangkene twara ngrasa, buka rawos kaki tuni, nanging angkarane ngrasa, twara bareng iya mati, keto masih duke hurip, mule awake tan milu, ngarasayang suka duhka, twah angkarane ngrasanin, nanging saru, ban rasane ngebekin awak.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

56

14.

Ketil dadi cacimpedan, iangkara dahat singit, ya mati busan-busan, kadi hidup sahi-sahi, iya ane takut mati, demen hidup ya satuwuk, ya nagih mangodagang, salwiring ada di gumi, iya nguduh, manusane tan rerenan. Iangkarane kucapang, dadi atma duke mati, ya nandang swarga nraka, iangkarane masih ngipi, iangkara yan manangil, dadi leplep ya aturu, iyangkara, yan mangendas, kapancendrya malali, dadi bangun, keto kaki ketatwannya. Keto malu ban ngitungang, apang da jag mamoyanin, reh tan genep bahan mata, ane anggon nyelehin gumi, reh tan kidik ane singid, samatra tuwah ne kadulu, liyunan twara tawang, kalingka tuna pangarti, megoh purun, maboya tan palantaran. Kaki ituni nyambatang, patpat tingkahi kagisi, Purusa lan Parikosa Nastika muwah Kasaktin, nto pacang nyidayang polih, arta minakadin, ipun kama wirya kakasuban, pacang nutug suba pasti sanget rikuh, tur ngeresin dingeh hiyang. Yaning Ida Sang Darmika, abesik tuwah keungsi, kasukane tan parasa, ne langgeng tan bulak-balik, reh Ida wus tatas uning, ring kasukan anake liyu, sukane ulyan arta, kama wirya kasub malih, suka palsu, kasukan misi kadukan. Ne kaentap kanggen marga, masih ya tuwah abesik, tan lyan ane madan darma, rurung halus dahate tis, marga hidup bisa ngabih, yan sangkala sang manuwut, ya manulung ya manyaga, ya mahekang ane ungsi, bekel ditu, ngawe gampang sang mangentap. Reh Ida Sang nuluh darma, tan mangawe anak sedih, tan ngardi jejh muwah runtag, tanmari nyukanin hati, ngawe girang ngawe becik, tur ngawe wasane hayu, ngawe anak trepti suka, uli hidup kayang mati, twara surud, kayunne maulah darma. Ida waluya mamula, kasukan ring para jadmi, ento mabuwah utama, manulung salantang margi, len teken idurbudi, ne nandur tingkah tan luwung, sipok lawut nunas suka, ring Widine ngamenggahin, nikel pangguh, sinah keweh bakat tandang. Sang ninggal, sukaning darma, sukan corahe kaungsi, patuh ring anak patengan, mentas direjengi belig, ngalih galang ngelidin sasih, kunang-kunang lawut ruruh, ne makedep kapah-kapah, matuncap saksat pacadi, ngawe labuh, keto maluya tan liyan. Katah antuke nyinahang, kotaman darmane wyakti, lawan kanistaning corah, antuk sang abagus kalih, matimbal-timbal nuturin pada teleb-teleb nutur, sang yaksa sampun kalyahan, amretaning tuture luwih, kadi anyud, momon ipune ring manah. Jantos nadak mapangenan, ring tingkah ipune nguni, antuk mangkin sampun tingglas, kanten ring jroning hati, kadarmane tuhu luwih, corahe mawak

15.

16.

17.

18.

19.

20.

21.

22.

23.

24.

57

pangapus, pedas pasti twara bingbang, jati yaksa nyandang puji, ban tan bingung, nimbang saluwir kakencan. 25. Awinan nyakupang lima, nguntul mangabakti, saha matur pranata, duh ratu sang tuhu luwih, iratu nyandang kapuji, apan prajnyanne putus, mirib Hyang Guru nyakala, nyadya tityang sida manggih Widi asung medalem, tityang kasasar. Banget rumasa ring manah, iwang solah tityang nguni, saking guru mangawinang, tityang malajah sane rihin, ring yaksa kalintang sakti, tur sugih tan keni itung, wastan ipun Sang Tejase, tityang madan I Durbudi, antuk cucud, dwaning tityang kaeman. Gurun tityange punika, seken nguruk mituturin, mangda tityang kukuh kuat, ngetohin angkara budi, kroda loba irihati, keni tan kesah ring kayun, pageh ngimpasin kadarman, reh punika goda sahi, ngawe runtuh, kasukan miwah kayaksan. Coton tityang manuwutang, tambete ne mangawinin, tityang ngidem dandan buta, doh rahayunepanggih, sastra gama keni tungkasin, darmasastra ne kapurug, tan ngatang sarwa larangan, pamuput iwang kapanggih, twara buwung, ngemasin duhka sangsara. Ngelidin tuyuh ajahan, matimbangang beneh pelih, pamuput tuyuh tahunan, panggih tur lara tandangin, reh yening damang, padidi manakonang iwang patut, boya wenten ngatarayang, nuju iwang ne sungkemin, sinah lacur, waluya manyetik awak. Bukti ipun kadi tityang, sadurung iratu panggih, andel ring dewek pragat, tan nyandang uwah-uwuhin, ne iwang patut kadalih, tur nyalanang twara santul, pamuput na mangkin sinah, iwangene kasungkemin, kudyang nyutsut, tingkahe kadong liwat. Wantah jati ilid pisan, reh tan kanten antuk aksi, ne mawasta pala karma, mingkin wasanannya malih, sang tambet sukil nguningin, kaling sang moyanin tutur, sajawi sang anteng mlajah, tur matimbang tring sang wagmi, bu andulu, karmapala mwang wasana. Tityang wawu sida ngedat, manulad anak matangi, kasidan warah idewa, ngimpek ngoyal manundunin, nanging kari mrasa ngipi, ilabin tingkahe langkung, mukti sukaning kamurkan, ngardi tan ngantas mamargi, kari bingung, bangune madaging ngundap. Bilih kabingungan tityang, saking yoni mangawinin, reh tityang mule raksasa, mawak loba kopa drenggi, keweh ngutang manyusutin, kadi ibeduda iku, padem yan ipun manulad, isapada sane suci, ngisep santun, reh mula mamukti camah. Kadi ipun imanusa, dyastu tangeh maring diri, kapingser ban ilelapa, kudyang pacang maninggalin, tulus ngayuh mangayahin, sakaptin ibasang seduk, sapunika waluyannya, dewek tityange puniki, nyerah utuh, meweh ngutang momo manah.

26.

27.

28.

29.

30.

31.

32.

33.

34.

58

35.

Dwaning matur sinampure, mugi ratu tulus asih, ring tityang ilobangkara, tityang nglungsur padem mangkin, mangden tan meweweh malih, momon tityange kapungkur, mangda puput mangkin pegat, saking swecan sang luwih, sat gagutuk, bekelang tityang ring paran. Malih yan iratu ledang, wenten pyanak tityang siki, saksat maka unteng manah, lungsur tityang mangda hurip, turin ipun kari alit, durung uning lampah laku, dereng patut kancap danda, raremundung kawastanin, ndaweg ratu, punika lugrahin tityang. Mangdennya tan niskarya, paswecan iratu ngurip, ngurip ipun pyanak tityang, mangda wenten mamretenin, mamiyara manyayangin, keni ipun tutug tuwuh, memennya becik huripang, puniki lugrahin malih, sang apunggung, mula kopa mapinunas. Reh Dewa sat Sang Hyang Darma, juru ngampurayang pelih, tukang adyanin pinunas, pande ngelebur sipok hati, undagi nerapang suci, craki ngadyanin sakayun, inggih punika lanturang, tityang juru manunasin, mangda durus, iratu molihang yasa. Kapungkur yaning kasadyan, ipun kari tutug hurip, bilih sida manutudang, kadarman iratune luwih, makirangin murka drenggi, ngenakin sesame hidup, sinah mangawenang suka, ring kayun iratune luwih, tityang milu, molih suka ring niskala. Sang Subudi raris nimbal, wacanane nudut hati, nguda wayah ngutang iyang, iju mawuwatang mati, yan anake kadi kaki, nu gampang nyalinin angkuh, apan madewek utama, boya watek buron kaki, kweh kaweruh, apan watek prasaka. Ane madan prakasa, ngelah manah cita budi, bisa nyemak bahan lima, majalan sok nganggen batis, dewa yaksa miwah jadmi, wangsa prakasa puniku, makajang pada kahanan, atma wisesa utami, sapakayun, yan teleb pasti kasidan. Len teken iwatek gana, soroh ya ikebo sampi, watek ane masukupat, makulit tebel tan tipis, wyadin iwatak pesi, ane tan patangan suku, kadi lalipi lalintah, irisirispoh jelati, ento tuhu, lacur tan ngelah prajnyan. Mingkin kaki watak yaksa, utamayan teken jadmi, ngelah hidep liwat kuwat, kasub pageh nangun kerti, sakti wisesa mahekin, krana raksasa kasengguh, apan dadi juru raksa sangkan Ida Sang Hyang Ari, ida nguduh, iraksasa ngraksa brana. Nanging ada luwir goda, ngawinang santul dimargi, munggwing sang mawak raksasa, ajume ditu mayilib, punyah ngawe keweh gumi, anggonnya mangalih kasub, sangkan ento kaki tinggalang, apikin lawan dihati, mangden suwud, kaki mangundap tahunan.

36.

37.

38.

39.

40.

41.

42.

43.

44.

59

45.

Wireh suba kapragatang, bahan Ida Sang Hyang Widi, rurunge macanggah duwa, sang nuluh yogya milihin, sahanan tingkahe becik, beneng kswargan manuju, saluwir tingkahe hala, ngungsi kanaraka ngilis, suba puput, twara pisan dadi obah.

46.

Bwin ada nyandang ingetang, anggon darsana dihati, kadi Sang Nandiswara, mwang Sang Mahakala Jati, mraga yaksa makakalih, ento imba nyandang tiru, Ida ngemit Hyang Iswara, yatna tan pangetang pati, jatin ipun, nunggal nindih kapatutan. Da tanwruh teken awak, ne mula mawak utami, bisayang mantesang raga, ngadungang tekenin indik, kale ngalih ne utami, gedenang ambake ditu, rasayang Sang Hyang Wisesa, mula jati ngraganin, pangda sumbung, bisayang ningkesang awak. Buwin iyang maingetang, teken kaki ane jani, yan saking ada acepan, ngutang kasipokan hati, tan nyandang mamerih mati, wireh ne ngrasa nu hidup, wireh ya tan bisa pejah, dyastu banya suba mati, manggeh kantun, mangrasayang ne marasa. Ngelidin pangrasa corah, mengkeb kajeroni mati, patuh teken anak bedak, malaib kapuncak bukit, bukit paras batu nginggil, tuh dangkal tur ngliwat kebus, joh pacang polih suka, sangkan kawitin pinehin, uli hidup, patute ngutangin corah. Sawireh ada binannya, hidupe kalawan mati, hidupe tongos makarya, dimatine tongos mukti, bwah tingkahe duk hurip, sangkannya sejroning hidup, nyuwudang tingkahe corah, matine tan mwat arti, nyuwudang jaruh, nging muktyang wohing tingkah. Mirib yaksa cengeh pisan, clang resep ring arti munyi, cedang tan kamer dimanah, duweg madih beneh pelih, mirib yaksa mula ririh, sangkannya masawur kenyung, nyinahang giranging manah, inggih dewa Budamurti, tityang nuhun, tan tulak ring sawacane. Wireh sampun tingglas pisan, dagimg patute na singid, wacanan iratu mungkah, boya wenten samar malih, saksat kagemel kagisi, kotaman warah iratu, sangsayan tityange tastas, budi rurus mangentikin, dwaning puput, sapatuduh iring tityang.

47.

48.

49.

50.

51.

52.

Pupuh Ginada : XIV 1. Atur iraksasa nungkak, reh somahnya teka nyerit, magambahan nyangkol pyanak, nyonyonnnya lambih ngalantung, ageng luwir kukul kembar, basang benting, pungsede melontod ngenah.

60

2.

Makamben poleng pandalan, duhuran tud sangat ginting, bulun batiskuning samah, kukun macan mangge kalung, bok gempel maplilitan, pasuranting, mwa cengkrok gigi langah.

3.

Caling lengkong lanying pisan, sat pedang pemancut hurip, bungut lower linggah nyebak, lwir kori manjing kekubur, kudang bangken buron jadma, mangaranjing, kabasangnya saksat sema. Mangelur saking kadohan, macan kidang res ajerih, gajah warake mangengap, irengang lutung macepug, tangkejut kasep magisyan, iraksasi, nyagjag nampekin somahnnya. Makerak matabuh sugal, beli tidong-tidong mwani, dija saktine ipidan, dadi aluh kaka ngayuh, tekening manusa nista, twara lebih, twah duwang ukud nguda. Apane matatu rahat, dadi tambe buka jani, kadi macan agung nyumbah, teken kancil ikut perut, sanget twara ngedalemang, somah sakti, ngudyang tusing makawokan. Lek dadi raksasa luwa, kasorang wong duwang katih, kalud nguda peceh pesan, lablaban ajembung embuh, deh ire jani ngrepang, nyeret getih, pacang daharang papusuhan. Tur ira tan takut pejah, yan musuhe lebih sakti, kemad hidup kapacundang, yan suba matindih kakung, keto iraksasa ngucap, manampekin, mwaninnya gelis manampat. Uduh nyai somah kaka, tungkakang nyai mamunyi, apang da nyambungin tulah, teken ida sang abagus, reh murtining Hyang Wesnawa, eda bani, jalan ida sungsung sembah. Yadin nyai mawisesa, nganggon pangiwane sakti, sinah ento tanpa guna, reh ida maraga luput, Ida nganggon aji pegat, nekakemit, antuk dwadarsa darma. Satonden kaka ngalawan, jeg lelo tan bisa ngritip, bayu enduk turin runtag, makakeb cara das lampuh, yan lawan sayan lumah, sayan sakit, yan sebetang mwah jengahang. Nanging yan sayan endukang, sebete sayan tunain, mingkin hidepe kasorang, ilangang kenehe ngungkul, bayu lawut matuptupan, kwat mabalik, cara seger budi jenang. Sanjata tawah madaya, ento ngencel mangenain, puser pengrasane bedah, saktine tan sida nempur, wanen kakane ipidan, meseh jani nyaluk getap anyar pisan. Krana kaka matur nyumbah, sanggup mangaturang diri, nyai katekaning pyanak, ajak bapa pacang nyungsung, jakan nunas darma suka, tur suwudin, mupu sukan kamomowan.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13. 14.

61

15.

16. 17. 18. 19. 20. 21.

22.

23. 24.

25.

26. 27. 28.

29. 30.

31.

32.

33. 34.

Reh sukaning kamomowan, elah manggih sakit hati, nanging sukaning kadarman, langgeng etis dayuh nerus, ento krana melah matyang, kenehe runtik, welas hatine hidupang. Ipidan duk cenik nakal, mati kabajang dumadi, momo mangambekang corah, mati manumadi lawut, dadi tuwa kaget sadya, mahan ngawit, mawurukin darma tatwa. Jroning hidup sapisan, sadya kadarmanne pamggih, tan kadi anake liyan, dumadi pang seket satus, mara kone molih darma, keto nyai, jalan suwud nambek sorah. Wireh disubane tuwa, matine terang nyagjagin, disubane banya pejah, mukti buwan karma ditu, buwah tingkahe ne hala, pasti panggih, ditu sangsara temokang. Krana jani sedeng melah, ditwane bekele alih, buktyang dikaditwan, anggen nyupat halane ilu, saksat itunian maguyang, nguyak daki, jani sutsutin kedasang. Buwin ada pinget kaka, icening sahi ajahin, uli cenik ya embanang, bahan tuture rahayu, ajak apang kaduk enyak, matuhutin, kadi kecap sastragama. Yan kasep ban mangajah, kaduk siguge nuwunin, dakine kadong manungal, yan gebek meh babak belur, bilih tan sida ilangang, dening sulit, nyutsut daki kasipokan. Sangat pelih irarama, na tan ngajah pyanak cenik, halan kuwange mangajah, tan wurung pacang katemu, pamedan sipoking panak, mangenin, krana tan dadi ampahang. Dumadak nyai nutugang, pitresnan tekening laki, suka bareng nyungsung Ida, mawurukin darma patut, ento ane idih kaka, maka bukti, saja tindih teken kaka. Keto munyin iraksasa, ngalemes matabuh gigis, sebeng enduk ningkes pisan, lihat halep muwa nguntul, karaksasannya tan parawat, iraksasi, ngelesor masawur banban. Duh kaka jiwatman ira, rawos kaka bes ngangenin, mula kaka tongos ira, maragatang yasan wadu, ane madan patibrata , satyeng laki, bani bareng suka duhke. Ira twara nyudi suka, yan ngawinang sakit laki, sidane nyukayang somah, ento sadyan ira hidup, wireh ento kaanggon sampan, ngliwatin bawasagara. Ento masih kaangon umah, ne ojog kayange mulih, mulih kajagat niskala, ditu ira bareng kakung, mupu upah katuyuhan, duking hurip, yan tan tandur apa alap. Ira sanggup tan ngawenang, salwir ngewehin laki, asing pantes manyukayang, ira nindakin tan takut, nto anggon ira amongan, jroning hurip, sambilang ngantosang pejah. Tahen ira ningeh orta, yan takut mutangang kerti, tapa brata lan yoga, pangkah nagih suka lawut, ring Widine mapiduka, katungkalik, nikel kaicenin lara. Krana ira twara tulak, sapatuduh kaka jani, mingkinke mangawe melah, kagrombong geni dyastu, ne sinah nyakitin awak, twara jerih, makaronan bareng kaka. Ne muwani nyawur nimbal, dewan patute ban nyai, nah jalan jani pragatang, nuli ring sang kalih matur, duh dewa hyang panembahan, sang utami, dumadak tulus pasweca. Wangde tityang nunas pejah, kadurus mamitang hurip, tityang miwah pyanak somah, puput katur ring iratu, tityang nuans magurwa , ngawit mangkin, ledang idewa narima. Sang Subudi nyawur enggal, ento wekasing utami, nanging iyang maselselan, ban tonden madewek guru, pangidih kaki tan sida, twara misi, eda kaki maselselan. Ne jati guru adannya, yen ida nyingak ngusudin, mingkin maweh panugrahan, pramangka sidine pangguh, sadripune nadak punah, hati bresih, reh ida sida ajnyana.

62

35.

36.

37. 38. 39.

40.

41. 42. 43.

44.

45.

46.

47. 48.

49. 50.

51.

52.

Nanging masih twara gampang, ne madan sisya sujati, ne bani nyarwang raga, kanggen subakti maguru, ane keto patut makatang, wisik luwih, ane madan panugrahan. Nanging bantas masawitra, iyang tan takut nyanggupin, saling emban saling jaga, kadi manyamane adung, pada saling paingetang, ne mangardi, krahaywaning sawitra. Iraksasa twara tulak, ne luh tansah mangiring, agni sampun kandihang, maka saksi pada sanggup, tan pacang druhakeng mitra, silih asih, tan pacang mamurug dharma. Katah tuture kawedar, saking Sucita Subudi, ne tiba ring iraksasa, serawuhing somah ipun, sadagingin dharmasastra, ne utami, sang yaksa mawuwuh suka. Sawyakti tan wenten lempas, kadi waran para rsi, saking babawose kedas, muwuh kayun suci halus, tekaning pratingkah awak, sane bresih, tan wurung mangawe suka. Lan gunan sajane nawang, sidin telebe nyungkemin, saktin wikanne ngandayang, ngadokang ne madan patut, pulung mangawenang sida, asing kapti, teka aluh kaisinan. Kadi ida sang karowa, sang Sucita lan Subudi, wireh tatasne ring saja, kawruhe ditu makumpul, sangkan satrune ngasihang, dadi bakti, lutut matemah sawitra. Sapuputing iraksasa, sanggup masawitra becik, sane sampun kesaksinan, antuk Hyang Agni iku, sang yaksa ngidih aksama, nekeng hati, ring ipun ibojog petak. Duh cening wanara petak, da sanget sebet dihati, sang sadhu anggon tuladan, menggahe sakedap luntur, yadyastu sang ngamusuhang, nunas hurip, tan wurung ida ngaksama. Yadin anake nyebetang, pepes mamancana nyilid, sanget ngawenang sangsara, yan lacur sangkala lawut, yan teka nuans tulungan, ngaku pelih, masih tan lalis manulak. Bahan kayunne maumbah, antuk sastra yoga sahi, sangkan ajnyanane kedas, kadi gedah bresih halus, krana tumbuh kapi welasan, gung ngawubin, iangkara puret taoan. Yaning watek mapowongan, buka nanang momo hati, tulen kulit komang-komang, nurut salakun sang nyaluk, miwah kadi panglamusan, mapi hurip, angkihang ban anak lenan. Keto twah twara bian, sang blog manumadi hurip, yan lacur rangsukin hala, sipok ytingkahnya tan wurung, yan celepin kapatutan, jeg nyukanin,hidupe ban sasilihan. Sanget bina ring sang prajnyan, ne molih hurip sujati, ida twara kapasukan, ban jiwa mangendah erut, manggeh saking kasucian, yan mamargi, sangkan pamargine lasya. Ida nganggen hurip tunggal, tan nganggon jiwa aketi, dyastu langcah jiwa samah, ne saksat danu mapengung, ida belibis waluya, teka kalis, nyilem tan belusang toya. Reh nanang bingungang murka, lwir peteng kejokan sundih, pantas tindakanne ngawag, pati gabag pati entul, apa anggon mamedasang, butan hati, tulus nyerah kapacundang. Daging nanang manawegang, ampure ugi ne mangkin, solah mamane ne iwang, pyanak cai bakat pandung, saktin jhate ngawasa, teka nyelir, tan adanggon makelatang. Cening sawitran sang darma, dumadak gantas ngaksami, mugi jwa nanang ngidayang, maniru nyalinin angkuh, ngiring ida sang karowa, bareng cening, jani ngawit masawitra.

63

53.

54.

55.

56.

57.

58.

59.

60.

61. 62.

63.

64. 65.

66. 67. 68.

69.

70.

Sasubane mamarekan, bilih sida kalahlahin, reh Ida Siwa sakala, mraga panglukatan bingung, dening banya mawak nista, yadin kincit, nugraha jalan sandangang. Edote tekening lintang, singke ento loba kadanin, tidong melah kojarannya, tan werung matemah kewuh, bisa munah rasa kuwang, nto sujati, madan nyandang kabawosang. Kadi cekok lawen sekar, natak sabahe ngulungin, tuwah ambul jajangkannya, ento melah nyandang tiru, da kadi mameri ngamah, tan ngingenin, mati mamatu palanya. Keto munyinnya iraksasa, sambil nguntul ngindih pelih, saha maningkesang awak, sedeg munyinnyane enduk, masih ngawe angen manah, sang miragi, ngengsapang sipoknya suba. Brangtinnya ibojog petak, ne nyleg lwir agni ngendih, pangaksaman iraksasa, madulur pamahbah luwung, lwir blabar agung membah, manglancahin, agnine lingsem ajahan. Ibojog raris angucap, uduh maman tyang mamuji, ban cengeh nyalinin tingkah, sebet ngutang ne tan patut, sat wisye dadi ameta, kadi sukil, ngeton surya tengah dalwa. Jani sambil iyang malajah, nganutin sang darma budi, ngengsapang kaplihan timpal, anggon ngumbah dakin kayun, bilih nyidayang ninggalng, doleg hati, ne ngawe sasaring marga. Ilalipi nyandang tulad, ngutang tiles tan nglipetin, dumadak iyang manyidayang, ngutang sebet mangden nerus, mwah pyanak suba bakat, nu mahurip, mokoh ya magelohan. Lintang sukane dimanah, ban manik hatine panggih, patut sanget suksmayang, olas mamane puniku, bahan myara nyayangang, uling cenik, mamretenin kanti bajang. Tiyang rumasa ring manah, tan gampang ngimpasin pelih, yaning twara maduluran, asung swecan Sang Hyang Tuduh, kapo ada pangkasama, pican Widi, ngawe tan tulus wiroda. Kobete madingang manah, negetap ngesorang diri, mangden bani masawaka, teken sang sugat ring kayun, alah nyeburin sagara, suka mati, yan pada muwukang manah. Keto pangrasaning muda, gampang sunglap rasa diri, ane iying mrasa abot, ne abot mrasa ampung, takute nglawan manah, dadi bani, tungkas ngajak nyama kadang. Krana tyang ngajum pisan, ring indik mamanne jani, teka elah masewaka, ngasor teken tyang ilutung, saja maman luwih purusa, sangkan bani, ngalawan musuh ditengah. Arang anake nyidayang, nglawan musuh dihati, ne sakti sakadi maman, maciri pacang manempur, sahanan musuh dijaba, yan tan Widi pasweca bilih tan sida. Bani ngaku dewek iwang, tekeni tibane pelih, tan takut ngaksamayang, ring sang iwang nuans ampun, nto jati anak purusa, tuhu sakti, ento madan pratimoksa. Krana iyang ngaksamayang, yen maman marasa pelih, sat mapatung meli melah, ban pipis ampuran kayun, angganing cara mayuda, pada bani, ngembulin ngrejek itungkas. Sang kalih menyeruh sugat, kanti polih galih kasih, pada mukti nasi suka, maulam ban kedek kenyung, magelut tegul ban girang, lwir patemwing, pratiwi lawan akasa. Sang Subudi lan Sucita, kenyem ledang manyingakin, marasa ring kretayuga, reh katak ring naga adung, pada kayunne ngajumang, bane sapih, pada wicaksana.

64

71.

72.

73.

74.

75.

76.

77. 78.

79. 80. 81. 82. 83.

84. 85.

86.

87.

88. 89.

Makadi ring iraksasa, kasob kayunne tan gigis, ban saksat agni mangobar, kaget etis teduh landuh, rasa polih mangatonang, sang Mukasti, duk somya kabajrajnyana. Iraksasa matur nyumbah, ring ida sang bagus kalih, duh dewa sang hyang sinembah, sang maweh hurip matumpuk, jiwa kalawan ajnyana, kahuripin, agung ratu utang tityang, Tambis tityang ngangkep pejah, jiwa ajnyanane mati, reh pademe mamwat jahat, tambet luwir peteng masusun, idewa kaget sweca, ngicen sundih, dados pangurip ajnyana. Tityang saha pyanak somah, katur sapa druwe sami, malih wenten jimat tityang, pusaka wit saking dumun, luputing sarwa sanjata wus kapuji, tur uning mamayamaya. Saking sarat mangaturang, mugi idewa manampi, saksat pangwales amatra, reh icen iratu langkung, rasa ping sapta mangjadma, durung pasti, tityang pacang sida mayah. Kocap ida sang prajnyan, mula bebas lagas hati, tan rered mangamong tiwas, kaling ngraksa sugih takut, tan nulak ring suka duhka, apan kalis, awinan tampen durusang. Pan jadmane durung manah, sakadi tityang punike, pantes punyahang brana, nging idewa sinah luput, reh kaprajnyane kuwat, sakti sidi, munah punyah pitung ambal. Sang Subudi nyawis nimbal, tan iwang pangrawos kaki, sujati ida san prajnyan, ring arta kama tan suwud, kagunanya tan katunan, antuk bukti, maring sakala niskala. Sakewala palilayang, yadin tan matampi jani, iyang waluya makingsan, pungkur sinah ngidih rawuh, kalaning ada gunanya, nanging jani, bantas ngidih awak budal. Tonden iyang manerangang, adan iyang makakalih, ne sang Sucita parabda, apang kaki seken tahu, sang Subudi adan iyang, keto kaki, aja lali awya lupa. Dumadak kaki sang tinggal, polih marga darma jati, panjangyusa luput lara, keto masih cai lutung, ajakya icening budal, ira mulih, mugi pungkur panggih muwah. Ilutung sedih manadak, iraksas numpang ngeling, ban raket lutut dimanah, lawut jani pegat caplus, krana magetih dimanah, membah kaksi, ngetel manadi yeh mata. Yain patuh mrasa bahat, sang katinggal lan ninggalin, rodran jagate ngawinang, payu belas sang matemu, pamuput pada mangucap, lantur margi, sambil muwat kaisengan. Tan carita teked jumah, carita ida sang kalih, Sang Subudi lan Sucita, katah barayane rawuh, magenti mara mangajak, lwas malali, sambil matutur-tuturan. Yan maletang kudang dina, sang kalih marembug malih, mangadungang pacang luwas, matirtayatra ke gunung, Sang Subudi sampun wikan, ring tan kidik, kakobetan sang Sucita. Nanging antuk anak prajnyan, kobete jerih mangili, ngayuh mangaturang, elah, aluh ida ngilut tutr, dadi tali lemuh kuwat, ngedeng hati, jeg tutut sang mula tungkas. Cara jukung sawat ngepal, ban duweg itukang kemudi, nuluh selah angin keras, matitis ane katuju, krana sangkalane mimpas, suka panggih, duk tiba ring pelabuhan. Ne mangkin kapidartayang, bawos ida sang Subudi, ne tiba ring sang Sucita, dabdab wacanane halus, duh adi bagus Sucita, sang sutindih, tuhu sawitra utama. Awinan beline teka, nguyain iyadi mai, jaba dandan kaisengan, masih ada buwat karembug, mawosang indike luwas, ngajak adi, kaalas matirtayatra.

65

90. 91. 92.

93.

94. 95. 96. 97.

98.

99.

100.

101.

102.

103. 104.

105.

106. 107. 108. 109.

Suba beli ngarasayang, kobet pakayunan adi, sakadi imanuk angsa, tembe manggih tlaga luwung, sedeng nawu masileman, ngalalangi, sinah tong logas matinggal. pagatik cingake nyapnyap, nancep nusuk unteng hati, pakosod kulite nguda, kesed putih gading halus, luwir anta waja kuwat, negul hati, keweh saja pacang megat. Rehne maadan samara, musuh sakti keweh nagkis, silat sulit mameletang, sebet nuwis ngimpek ngimpus, ngawe lara ngres makesyar, ngilu ngidih, jumahan kulit pagriyam. Mula macundagang jagat, kayang dewa milu lilih, kalingke mawak manusa, ilu kapacundang hidup, aget reh kicen lek manah, ban Hyang Widi, ada anggon nyangka manah. Mawuwuh ada pawarah, sang wiku muwuh ring aji, nuduh sukaning indrya, bek maisi cetik racun, dadi bibit sarwa hala, mawak gering, jahat dadi satrun tapa. Beli ngindayang nuturang, dumadak adi manampi, tingkahe ngated indrya, ne luwir balabar suluk, ingete malu cedangang, cara ngendih, kanti ne ingetang hilang. Yan ingete ane lumah, kaput ngundap lamad harip, ane lahat kaingetang, sagerehan ribut bangun, pada nagih dadoyanan, mangrepotin, deweke imput ngencanang. Saksatang ikunang-kunang, sarwane ingetang sami, ingete duk remrem kiyap, sat peteng ideng tur libut, makrana ikunang-kunang, nyundar kaksi, ngulapin ya pakabyar-kabyar. Nanging yan ingete cedang, nyundar galang nyalang bresih, lwir surya tan kaalingan, antuk mendung ngundap nguyuk, kunang-kunang ane ingetang, hudep sami, makelplek tejannya punah. Sangkan ingetene cedang, anggon dasar maminehin, minah salwir kakencan, da saking mangundap nguyuk, reh ingete kaput ngramang, asing kapti, sinah twara kasidayan. Sawireh ingete cedang, ne sajan tan mawor harip, ento OMKARAPRANAWA, ring dalem twas amungguh, maraga sang Wenateya, gruda sakti, ne ngantegang ring tujuan. Disubane sida bakat, ingete ne kenceng ngendih, mara jumuning tuptupang, papinehe anggen nempur, saluwir kayunne rusak, sinah lilih, asing ane ngaduk manah. Keto ban bagus magelar, ngalawan indrya sakti, muwuh warah sanghyang sastra, anggon jimat sakep duhung, apang kukuh sakti kuwat, twara lilih, nangkis kasaktin indrya. Bawos beline punika, boya saking mamegatin, ane madan jatukarma, karman adi ring sang hayu, sok anggon nyangka indrya, ne umili, apang da ngelos malabar. Mangden tan ngancap ngalancah, nganyudang kasatyan adi, wireh kasatyan punika, ratuning kadarman tuhu, surya yan ring sarwa teja, Pasupati, yaning watek sarwa dewa. Sahanan watek prasaka, dewa raksasa lan jadmi, yaning kasatyanane ical, punah sangat nista pangguh, tuwin ratu yan tan satya, sinah manggih, surud pmuktyanne ical. Awinan adi Sucita, eda ima eda lali, apang tangar apang yatna, ngamong kasaktyan puniku, nto anggon hurip pasaja, nto belanin, carunin ban jiwa raga. Sangkan beli sada panjang, mabawos teken adi, wireh kaduk masubaya, matirtayatra, ne malu, dewasane nandas teka, mangden adi, sida nuwonin ubaya. Mated ida mawacana, sawitrene kedesekin, malih ida mangandika, sambil ngelut ngusud-ngusud, eda adi salit rasa, bahan beli, sanget sipok agung goda. Tan lami adi kakutang, dihalase bareng beli, salah mukum tegul sabda, kaduk sawuh ane malu, nggih adi jalan lalwang, hidep mati, maktinin dewi kasaktyan.

66

110. Singnya ada pasweca, nugrahan hyang satya dewi, gelis sida kakeniyang, sang dadi mustikan kayun, banine ngated kisengan, ring Karuni, anggon banten satya yadnya. 111. Sang Sucita wus rihinan, mineh bawos sang Subudi, rumasa seksek ring manah, wireh sami sakti wibuh, tuture nglawan smara, pada sengit, mayuda sejroning angga. 112. Luwir papranging naga, pada ngadu wisya sakti, malilit milut milehan, ring waduk malulunlulun, ngejongang raga sarira, krana paling, nyambat beli lawut rebah. 113. Karingete deres medal, luwir sabeh kenem mili, enyak mirib upas naga, nyembar umili malepuk, matemahan toya wisya, mangliputin, sangkan Sang Sucita lupa. 114. Sang Subudi gipih ngemban, ngarep babayon sidi, dasa bayu wus ginelar, pacatma karegep sampun, kaparahang ring sarira, jahan meling, Sang Sucita madekesan. 115. Sang Subudi ngelut nangyang, nyutsutin muka ngupinin, wang jerone kendel nadak, mated nginyuk makpak simbuh, bueung imput payu lega, ban ngetonin, gustine matangi kenak. 116. Byange payu manungkak, nading pasegehan alit, putrane jagjagin usap, antuk tangan kiwa ditu, lali kanane ngamelang, cedok misi, toya ulung nyiam wastra. 117. Ade len wangjero bajang, rupane bocok kidik, uling ilu kasmaran, edot manyanding sang bagus, mingkin polih ngatep tangkah, saking lami, ngalih margi tong mabahan. 118. Jani aget maan selah, epot nyelag sada gipih, ukuh ngelut nyangkol ngemban, mangden nahan polih huwus, indryane ngandeng nlaga, saking lami, lacur kasep karihinan. 119. Lawut galeng cokor bakat, payu nto sangkol arasin, masih maan asiyupan, ngecapin lahad sang abagus, nanginng tan ngawe tunayan, smara hati, lwir agni nilap minyak. 120. Sang Sucita sayang jenang, kayun ne matutup gelis, rakane nindih ngandika, hentegang kayune bagus, Hyang Kundalini regepang, saking haris, mangden ajnyananne galang. 121. Pranayamane rihinang, laksanayang saking haris, sanghang pranabayu haras, isep saking lyanging irung, tedun kapuser antegang, manden nungggil, ring sanghyang bayubyana (Yoga). 122. Lawut pegeng patelahan, sawuse medalang malih, saking alon pangda sambrag, bayune medal kairung, suba mrasa telah medal, balik buwin, huyup kapuser antegang (Yoga). 123. Bwin pekek cara ibusan, terusang bulak-balikin, pajalan bayu pang dabdab, cenik halus turin rurus, apang da mamegat-megat, kanti sepi, tan ada swara pirengang. (Yoga) 124. Sadurung maranayama, tegake apanga gampil, bawong lan bangkyang jegejang, eda bengkuk eda nguntul, masila masih sekenang, tangan kalih, leser dilulud takepang (Yoga) 125. Tlapakan tangane kiwa, takepang di lulud kiri, kanane di lulud kanan, keto bahan apang luwung, tur degengan panda onyah, mara ngawit, mranayama kadi busan (Yoga). 126. Kenehe da byahpara, apang nuwut bayu ngilis, munggah muwah manedunang, duk mekek makadin ipun, manahe milu encepang, apang sepi, tan ada krimikan manah (Yoga) 127. Sayan lami kamargyang, bayune pang sayang alit, pipitang apang nyidayang, kanti twara munggah tedun, degeng bareng ring manah, dadyabesik, incep luwir tan parasa (Yoga)

67

128. Ditu mara madegdegan, ajnyanane nerus sepi, cedang twara kawaranan, Hyang Kundalini ne mungguh, ring kibulbuwung umunggah, pacang ngungsi, kasiwadwara tan liyan (Yoga-Samdhi) 129. Uwat alit ne kahentap, limpa katuncap pangrihin, nerus jantunge kapatas, kamulakanta manglantur, munggah terus malih ngentap, slagan halis, mametel kasiwadwara. 130. Wus mungguh ring siwadwara, ring tunjunge lintang luwih, sane malawa sahasra, nyundar tejane ndih murub, sadripu trimala punah, hulap sami, makeplek petengin galang (Yoga-Samdhi) 131. Sang Sucita wus madabdab, nurut bawos Sang Subudi, gelis sampun kasidayang, nadak kayune jeg luwung, cedang galang manarawang, sangkan sami penyakit manahe getap. 132. Wanan rarud matinggal, pabresat malahib paling, nyalupsup ring sang kendryan, ne lumah ngalawan kayun, ditu seken tan kisidan, wireh ajrih, ring sang prajnyan budi cedang.

Demikian Selesailah Geguritan Sucita Jilid I

68

Salinan Naskah

GEGURITAN SUCITA JILID II


1. Nuli matur Sang Sucita sada bingar, getar ahlus mangrenanin, beli sang sweca, maraga tulung tan pegat, kadi tukad banjur mili, twara telad, saking ngunirawuh mangkin. Tuhu wyakti sang awataran citasatwa, jati sadu darma budi, prajnya susila, satya maring swamitra, twara rerd metoh pati, kenyem girang, yen goda miwah tuyuhin. Wyakti luwih kadi toyane sagara, yadin ubek manggih bresih, inggih sapunika, yen tityang ngupamayang, kanirmalan kayun beline, twara uwah, dyastun caren syang ratri. Nawi tityang katuduh antuk Hyang Titah, manados jun saksat patis, beli nganggen wadah, toya mawak karma suka, pungkur beli pacang mukti, ring swarga, nutug nyrewadi nyukanin. Sane mangkin sok tityang matur manunas, aluh mangkin pungkur ketil, ampah kyule malajah, takute mamaksa awak, ngawe selselan diuri, dadi sungsang, buwung nulung dadi ngindih. Nggih dumadak tan kapok beli sweca, sambil cucud manuturin, mangda sida enggal, tityang bisa mayah tresna, puputang punika rihin, matirtayatra, tityang tan purun nulakin. Wireh sampun rumasa bebas ring manah, pitutur beli ngawinin, lwir pedang rahasia, megatang ante indrya, ature manekeng hati, sangkan ledang, Sang Subudi mamyarsi. Sampun puput sang kalih mapasuketa, ne benjang pacang mamargi, wus negem ring manah, nyambung babawose lyan, hitep ngonjakan sastraji, saling timbal, saling turut saling tangkis. Darma Jnyana Weragya lan Aeswarya, jantos lepah kabawosin, sebet ngaleh imba, kanggen mitrangang satwa, ne nepek ngawenang ngarti, sangkan tingglas, ngenah ane mule hilid. Ukuh matur sang Sucita manunasang, indik Sang Hyang Wisnu nguni, duk matemahan kurma, daweg das ngekarnawa, kaget cingak jadma prapti, sampun wayah, lintang nengah tuwuh mirib. Adeg lanjar muwa tipis lihat cedang, nanging bungkukan akidik, tuwuhe ngawinang, sinah bagus duke bajang, hyas sesaputane cepil, tindak dabdab, ngawas sambil nyemu manis. Sasampune sang kalih matumbak tingal, maring putusane prapti, sang kalih tedunan, ngadeg ngantos sang prapta, ne sampun ngehes nampekin, saha nunas lugra ring ida sang kalih. Karihinan sang kalih ukuh manyapa, tamyune matur digelis, nggih titiyang nunasang, ring iratu sang karowa, awinan tityang mariki, pacang yadnya, maring Sang Sucita tangkil.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

69

14.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

21.

22.

23.

24.

25.

26.

27.

28.

Antuk warni tityang durung tatas wikan, kewanteb parab uningin, sangkan kadi ngadab, dyastun tityang kantuncedang, ndawegang tityang ndikain, sang Sucita, nyawur mitrangin sang prapti. Mangalantur ida nyapa tur nakenang, wastan sang wus prapti, miwah kabwatanya, tamyune matur manimbal, duh ratu sang bagus kalih, munggwing tityang, saking kautus mariki. Wyaktinnya babawose ngawe girang, rawuhang, tityangne mangkin, doh ngawenang lara, awinan sampunang selang, nanging kadi sada pingit, makawinan, yan werayang kirang becik. Becik nyanan tityang matur pakalihan, Sang Sucita manyawurin, bapa sang utusan, tan nyandang bapa ngobetang, dyastunne ida dini, wireh ida, saksat dewek tityang patis. Asing unduk saluwir buwatang tityang, twara payu kajalanin, yan ida tan lugra, keto pidagingnya bapa, sangkan da sangsayeng hati manyinahang, ne kabuwat teka mai. Nadak gantas iputusan nguningayang, duh ratu sang bagus kalih, wireh wus kalugra, sinah tityang manguningang, Ida Sang Dyah Karuni, ngutus tityang ngaturang surat mariki. Sambil matur iputusan ngambl surat, ring kampek masawuh asri, tumuli katurang, saduk sang Sucita nanggap, maprabawa linuh dihati, iputusan, matur dane ngamalihin. Duh sang bagus ne mangkin tityang nguningang, wastan tityang puniki, I Mahadasraya, mule wit parekan sayang, saking lami tityang ngiring, Dukuh prajnya, juru emban Dyah Karuni. Nawi ajerih kakecap surate ngentap, wireh bawos anak istri, ngentap karna lanang, nuluh uwat alit pisan, manuju untenging hati, lintang rungke, becik tityang matur kidik. Mangda wenten nandan ngabih bawos ida, ngiring ngentap marga sipit, nawi wenten baya, pamihalang miwah pamunah, mangda wenten manatingin, mangden sida, kadi pangestining hati. Niki saksat sangkaning wit manah tityang, matur ring iratu mangkin, ndaweg juwa gelisang, ambil id gustin tityang, reh anggen tityang ngetonin, solah ida, banget bingung kirang eling. Sering nyaru kabatan pudak ngaraga, ngangken ongkeb ngalih tis, wahu tityang marika, encol, manyusutin tinggal, ryantuk tanggun kancerik, kenyem nadak ngaku sepenan ring aksi. Sujatinnya dewa gumantunging tingal, ngawe sedih sering nangis, tembe pangguh tityang, ida gelitik ngawe gita, nyatwayang Sitisundari, mawiwaha, ring sang Bimaniyu nguni. Samaliha tan pati kenak ngajengang, sering bengong mangangenin, lipya ngalih sekar, ajine sering kadatan, mangarga ring sang Hyang Widi, jantos tityang, sering ngentos mangayahin. Kalih nahan ida ngandika ring tityang, saking madasar tan eling, manakenang satwa, caritan I Dewi Sita, ne manggih masatya laki, nuli tityang, matur kenyem menyaruwin.

70

29.

30.

31.

32.

33.

34.

Ngudyang ratu nakenag sang patibrata, iratu kantun taruni, banget ngawe runtag, ring manah tityang ituwa, reh tityang kantun subakti, ngudyang tingal, tan becik kojarin aji, Sampun sinah tityang sedih yan katinggal, uling alit tuyuh mretenin, mangandong manyinggal, jantos luwur twara elad, cucud ngayah syang ratri, sambil tuwa, satuduh tan nahan panggil. Luwir myara witing sekar ermawa, uling alit ngumpit gulis, mabulung manyiram, tan ngitung tuyuh manyaga, kaget wawu muruk ngawit, tumbuh sekar, raris mabutan managih. Kudyang twara dadi tangkejut ring manah, wireh banget katungkalik, nyaluwagang manah, dadi gering salah acepan, ngalih ne tepuk lisik, duh ratu mas, sampunang ja banget lalis. Luwih ida ajin iratu kayunang, wireh ida sampun lingsir, sayan tan nyidayang, ngalih kus miwah sekar, ngaryanin kapika rimbit, karawista, ngiyasin sivamba malih. Tityang ukuh kantun matur sada panjang, gelis ida manyawurin, megat atur tityang, jantos mrasa kendel manah, nanging ida anak wagmi, ebek tatwa, wacanane sapuniki.

Pupuh Sinom : XVI 1. Duh maman Mahadarsraya, aksama de sanget brangti, wireh tiyang pelih mamegat, pitutur mamane luwih, sangat saja mangimpasin, kadarman anak marembug, ne madan Kretalocita, bikas bajange manyelir, sangkan purun, mangrawos ngandang manyelag. Abesik twara dadwa, baratane nyandang ungsi, nyandang agem nyandang bela, ane madan satya laki, olih sang maraga istri wireh tyang madewek wadu, makrana jani ngawitang, ulih bajang mangurukin, satya kakung, bekelang tiyang buwin pidan. Sakadi anake lanang, dibajange anteng ngaleh, anggon bekel kayang tuwa, ditwane masih tan gingsir, gemet muruk ngulis aji, bekelang kayange lampus, apang da sasar dimarga, tur mannguh swarga utami, ditu pupu, tuyuhene disakala. Aketo masih sahimbang, beratan anake istri, duk bajang patut tan hima, muruk mangayahin laki, cara bakti ring sang aji, baktine ring kakung pungkur, aketo reko patutnya, reh lakine kaadanin, guru kakung, .sangkan twara nyandang ampah. Awinan reko patutnya, sang dados putra istri, kakalih reko batinnya, yan tutut baktin ring aji, tan mangetang baya pati, yening iaji manuduh, ragane anggon daksina, yan sida ban ngemarginin, twara buwung, suka skala niskala.

2.

3.

4.

5.

71

6.

Nika pala kapretama, pikolihe kaping kalih, bisane ngayahin bapa, nto anggon ngayahin laki, tan rikuh wuruk ngawitin, carane ngayahin kakung, bani mayerahang awak, ten nungkasin yasan laki, dyastu lampus, tan rered manadi bela. Nanging ada kayogyannya, mamungu teken sang laki, ne matingkah twara melah, nanging dasarin ban bakti, sangkan saking halus manis, duweg ngune kara atur, apang da ngawe piduke, ne ngawe waanuh sang laki, bisa nuwut, nyanan bisa mamelokang. Nanging yandin tan kasidan, tan yogya tinggal malasin, satya lakine tutugang, kadi tingkah iprajurit, dyastu dekdek renyuh kanin, ring payudan twara surud, mati ngerebut Wisnuloka, mule katil, ngalih luwih, yan tan purun, dadi caru meh ngadowang. Krana tiyang manakonang, ken maman buke ituni, apang maman manyatwayang, pamargin sang satya laki, sakadi Sang Sita Dewi, utawi ne lyan puniku, apang ada tiru tulad, pahurukin ulih jani, nggen pawuwuh, reh sinah tiyang kejokan. Matur malih tityang nimbal, duh ratu sang hayu luwih, wyakti ten wenten simpang, wacanan ratu sang luwih, kewanten tityang makeling, iratu sampun manwungu, wyakti tityang doh mihalang, iratu pacang mangambil, Satya kakung, reh swadarman imirah. Kewanten mangda alonan, reh pakaryan dahat sulit, karya gampang yan rawosang, nanging sulit yan marginin, dyastun tityang sampun muji, indik kasatyan iratu, empeh baktitan pacacad, mangiring ida sang aji, tuhu-tuhu, wruh ring putra sasana. Nanging ajin iratu mas, ida mraga sadu budi, tan nahan menggeh piduka, yan ngandika halus manis, yaning iwang kaajahin, antuk bawos lemuh halus, tan nahanin ngawe untag, awinan iratu etis, mula aluh ngalahangne mula elah. Ngalih elah jroning likad, irika sering mamelit, sering dados seksek tangkah, gering dadakan nepenin, reh katah tityang mamanggih, anak sayang jumah ipun, bakti bane kasayangang, lawut lacur ngalih mwani, jadma sigug, ditu langape ya ngentah. Iriki miwah irika, yan dalemang mawak tunggil, yan iirki twara elah, irika tan wurung ketil, raris ida manyawurin, bawos maman lantang patut, nangingke rurunge beda, ngalih patuhe sujati, sangkan perlu, muruk ngentap rurung lyan. Kadi ngliwat tukad linggah, pacang ngalihne kajudi, elah yan nulung jambatan, nuluh titi sangat ketil, sangkan pada pahurukin, awanan tyang tan

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

72

takut, pacang ngalih kautaman, marurung ban anak mwani, sipok sigug, mingkin sadya anak darma. 16. Buwin tyang ningeh orta, wreta saking sanghyang aji, yan mangalih kautaman, yan kadat twara becik, tan luwung liyunan tangkis, wireh Ida Hyang Mretyu, tan ledang mantos-antosan, tan dadi tempo-tempoin, jag mamayu, tan dadi tawah sakedap. Ento krana tityang maman, mirib enggal mangalahin, pacang nyudi patibrata, mamitin anake lingsir, olih lalis ngalih bakti, reh yan sida bakat lawut, kadarmaning patibrata, kawitanne sinah manggih, swarga luwung, saking pakertining putra. Sapunike wacananda, kadi sampun arga mati, tan malih dados tawahan, saha toyan aksi mijil, lwir ketelan arak api, malyah manepen susu, reh punpunin api smara, ngeredeg ring soring hati, tityang milu, sedih bantas mangatonang. Awinan tityang tan tulak, pamuput dadi ngelonin, dystun ewnten antuk tityang, pacang mapamungu malih, yan ida ngewales malih, reh ida prajnyan langkung, taler titiyang pupt kalah, tur jatinya jroning hati, tityang nawu, yan iratu ngambil ida. Antuke sapawut pisan, lwir smara lawan ratih, pada wibuhing prajnyan, ida luwir Saraswati, iratu sat Wrehaspati, sami ngabehin kaweruh, sinah tityang iparekan, mrasa suka sugih sahi, kendel ajum, maduwe gusti utama. Kabatek wenenge rahat, kemade mirib tan jwari, ring tityang jeg tan mangubda, sering ida ngandikain, kocap asing kacingakin, jeg wanin iratu ditu, kenyem tur matumbak tinggal, ngawinang ketug dihati, inggih ratu, nyalit tan tityang nguningang. Pamuput ituni nadak, jag nora dados sangkenin, mangda tityang glis mamarga, ngaturang surat puniki, awinan rawuh manangkil inggih tityang puput matur, sajawi kidik munggwang, becik ida gelis ambil, mangden sampun, gelisan bedasmara. Saduurng ngewacen surat, tityang pamit ngarihinin, Sang Sucita nyuksmayang, saha weh panglantur margi, Sang Subudi ngandikain, duh adi Sucita bagus, surate paca lawutang, Sang Sucita ngangah tulis, ne makaput, ban kedapan nudut manah. Sane ring pinggir kedapan, tampak bela asri putih, makenyit ngantur sekarnya, barak alit muwuh bangkit macelek kembang sulastri, masih mangenyudang caksu, lapisane ne ring tengah, kedapan ikayu manis, dahat halus, mahulat kasuntagyang. Pudake petak manyampwah, kagulung akutus katih, maiseh tur mapetpetah, kagagah masurat rawit, kadi istri renyuh sitsit, karokah ban tuna bagus,

17.

18.

19.

20.

21.

22.

23.

24.

25.

73

wyakti angeresin manah, katureksa saka siki, wus maturut, madaging angka samyan. 26. Makebyuh mambu sumrebak, kadi ambun Ni Karuni, mangamplek nyukanin ungas, mametel nyusup ke hati, ngedas ngantu mingkalihin, yan tan sebet mekek kayun, ngawit ne mangkin kapaca, lengakaran bawose becik, ngangge pupuh, kumambang nyambangin manah.

Pupuh Kumambang : XVII 1. Pudak petak kumambang makebur tangkil, saksat dewek tityang, matur rawuh mariki, tampen sapa lawut haras. Gung aksama wangjerone matur bakti, wit teleb nyewake, satuwuk mangiring beli, sangkan purun matur congah. Sakeng warah yoga turu ituni wengi, kocap beli luwas, ninggal tityang sareng kalih, sumadya matirtayatra. Keni polih tityang matur mapakeling, nguningayang manah, kenak beli makayunin, atur tityang igeng goda. Napi luwir watek ne sampun manunggil rusak yan palasang, bilih mangawinang mati, kadi damar upamyang. Yan iminyak lascarya ninggal agni, sinah pacang rusak, makeplek suwud mangendih, buwung ngendih payu pejah. Sapunika yan tityang tinggalin beli, apan wus manunggal macampuh raket makilit, keweh pacang mamelasang. Siwa lawan Batari Hyang Giriputri, Saci lawan Indra, Wisnu lawan Sri dewa, yan pasah manadi rusak. Menget lupa yan pasah gumi tan kari, pateh twara bina Sucita lan Ni Karuni, yan pasah mati dadakan. Niki malih nyandang beli mikayunin, corah ngaraning dewa, tan sweca ring anak bakti, suwud kawastanin dewa. Tityang cucud sahi bakti mangastiti, nguda beli elas, ninggal tityang jumah sedih, anak bakti tan kaswecan. Yaning durus elas beli maninggalin, resja tityang ring manah, kapungkur yan wus marabi, malih beli ngutang tityang.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

74

13.

Mangkin katiman jroning gung lulut lalis, kalingke pungkuran, ring sampun polih ngecapin, ah takut tityang manjangan. Yaning wantah ledang beli pamunguwin, mandeg nirasraya, mahadasraya sungkemin, da ajum melas-elasan. Napi lali utawi sangkaning lalis, krana las maninggal, tityang reke eman beli, napi buktine nyanyangang. Kaden cara manah tityang kayun beli, jeg beli ngaraga, ne rumasa jati luwih, mangasorang sakendrya. Mangkin tityang nguningang manah sujati, yan tityang mabrata, matapa lan masamadi, kalih madarmasadana. Wantah beli kalinggayang kapatitis, mangden makaronan, suka duhka tansah sahi, mati hidup tuwin manyadma. Wantah juwa dewek tityang nista sami, adoh yan sawangang, ring becik alase panggih, yan beli matirtayatra. Boya susun tityange nandingin, gunung halus kembar, mukanne sanget kapencil, ring tlagane sane jimbar. Matan tityang ring itunjung biru lilih, banget utamayan, ibun gadung nyujuh langit, ring legosan bangkyang tityang. Yadin sampun Ida Hyang Brahma ngapikin, nyipta buntut tityang, rawuh pupu makakalih, ngapitangne kapingitang. Mirib enu banget teleb kayun beli, nuluh giying mundukan, lawut ngalikuk ndunin, pangkung mangungsi bulakan.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

21.

22.

23.

Pupuh Ginada : XVIII 1. Malih tityang makelingang, ring beli sakadi mangkin, indayang juwa pinehang, nguda doh antuk ngaruruh, bresih tampek jalan mula, jelap alih, kabulakan dialas sawat. Yan dini twara kasidan, ditu sinah twara keni, yening tityang ngamanahang, suklane wntah dikayun, yening ring kayun tan bakat, sinah sulit, keni ring tengah bulakan.

2.

75

3.

Malih tityang ngamanahang, ne ngawinang wenten gumi, wantah Ida Hyang Smara, lawan Ratih nto matemu, rusak tan wenten jagat, yan tan kari, dampati kama lan tantra. Sembahe jati utame, wantah ring jroning rangki, ne lanang Smara Lingga, ne istri Ratih umungguh, nto lawut patemuwang, sinah panggih, sujati rasaning sukla. Apan ditu suba mraga, Siwa Smarane kesti, ulih ditu patitisang, adnyanane liyep landuh, nuju Sadasiwa Smara, tru isti, Paramasiwa Madana. Yan tasak ban ngecapang, sinah ya masih kapanggih, tatujoning sarwa paksa, awinanya tityang purun, saking bakti mamunggwang, pangda paling, tekening marganing katah. Amonto tityang nguningang, masih nyandang pakayunin, beli malih mamanjangang, mangden panggih jatinipun, wiwekane ya incerang, agelik bitbit, ngudyang karungkane ngambah. Siwa Sadasiwa Paramasiwa, tuwah anggona ngalihin, yan turut kaceda, kabawos adi tan wikan, mamilih margine jati, pidagingnya, benjang lan durus mamargi. Beli sanggup ngidih adi ngajak luwas, sinah ya twara brangti, da sumangsaya, beli nyadya dadi bela, matindih kabwatan adi, jalan kema, beli nyarengin iadi. Geliang crita Isucita twara tulak, reh ngandelang sawitra wagmi, tumuli mamarga, ugi sambil mabawosan, akeh tatwane umijil, ngalalyang, lesune ring tengah margi. Bawisyati sampun rawuh ring patapan, Dukun Prajnya nyapan haris, bagus Smara kembar, Sreda rawuh idewa, sang kalih ngehes malinggih, sami suka, sang rawuh lan karawuhin. Sampun sami olih takentinakenan, mwah sampun saling sawurin, kalihsang Sucita, sampun ida nguningayang, indike buwat manangkil, pacang lunga, matirtayatrane benjing. Sang atapa pangus wacanane medal, banyol cara mangulgulin, duh bagus Sucita, kaden bapa mangadungang, dinane pacang mangambil, rain idewa, ne suba med bajang mirib.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

76

14.

Meh idewa meduwe ajnyana minyak, sangkan engket bapane kalis, makrana idewa, lagas mangalahin bapa, ne iseng kapah kepanggih, nuli nimbal, I Sucita matur kenying. Duh sang tapa sang mraga Abayadana, sane tanmari nyukanin, pamunahan runtag, panglipuran sumangsaya, pangleburan ibuk brangti, ngawe girang, pengetisan panes hati. Dwaning tityang pangkah matur ring sang tapa, kadi kalis mamatinin, ngungsi gunung halas, sumadya matirtayatra antuke tan wenten lami, malih tulak, ring sang maha tapa tangkil. Sambil tityang sat muruk ngemudi sampan, nglayarin ombak gumi, suka lan duka, atepe kelawan belas, lungane kalawan mulih, keni sahimbang, tan ngawinang putek hati. Keni wenten cihananing galang amatra, makenyit jeroning hati, keni kedikan ttulah, tityang nampanin padanda, reh patut mabresih rihin, makire nunas, putrine sat tirta suci. Samaliha tityang banget sumangsaya, yan tan manuhonin janji, kaduk masubaya, indike mawanawasa, ngiring ida sang Subudi, reh linyoke, ngawinang tan sida kapti. Sang atapa kenyir tur ngandika banban, saha masmita manis, duh bagus mantu utama, suka bapa madingehang, bawos i bagus sujati, reh macihna, idewa tepet ring aji. Nah lawutang embasang tur laksanayang, pangacepe jroning hati, reh acep utama, kadi takuh umpaminnya, perih apang engsah mijil, dadi ayam, yen samuwuk tan maludin. Sakewala nah da idewa lupa, morahan ring adin cening, abah luhe mula, sanget ganjih ngambul enggal, masih jaga palapanin, lawutang kema, dimrajan ya mirib ngetis. I Sugata mirib ya twara jumah, jeneng luwas nganggon sampi, sambil ya mapikat, ngalih munyinkedis melah, nyanan bapa mangorahin, mangortayang, indik idewane mai. Gelisang crita sang kalih sampun kamrajan, Ni Karuni wus kaaksi, sedek dipahyasan, itep mangawe kalpika, gelis nolih Ni Karuni, reh sang rowa, matanggara kapiragi.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

21.

22.

23.

24.

77

25.

Nuli nyapa wacanane halus getar, sambil runtag jroning hati, nanging kasarwang, ban tikasing tatanganan, bahan hyas turin gampil, tur ngerarisang, mangda sang kalih malinggih. Nuli munggah sang kalih kababaturan, cingake sering magatik, banget nyelongket manah, ngres kayune sahimbang, ngrubeda nyalupsup daging, mangawitang, Sang Subudi matur gelis.

26.

Pupuh Sinom : XX 1. Duh sang wala patibrata, sane tan wurung digelis, matemahan tunjung bungah, ring duwur batune mentik, dadi sarin istri luwih, murtining ring Hyang Giriwadu, sangkan tityang nadak prapta, parek ring imirah mangkin, yadnya matur, nguningayang kabuwatan. Dijagate twara ada, ne tan mobah ngawe bangkit, yan tetep twara melah, ngawe med manelogin, kadi surya yan upami, yan kalitepet satuwuk, bilih jagate ya rusak, kebus puwun tan maludih, sangkan luwung, pakaryan Ida Hyang Titah. Sajroning kabyudayan, sami mobah twara lepih, ne mapunduh dadi belas, ne pasah makumpul malih, tangan suku raga sami, ugi pasah pacang pungkur, tuwin sarira lan atma, tan wangde belas manadi, salwir uduk, twara ada tan maobah. Awinan becik manyerah, narima salwiring indik, sambil tan pegat utsaha, ngupadine kaetohin, dyastun belas disisi ditengah apang nu ngatut, mangden sakadi ikurma, ninggal taluh mangejohin, nangging ipun, madyana twara pegat. Wyadin ipun ikatak, becik ugi patuwutin, bebas ngejoh ninggal panak, nging masan panaknya mukti, rawuh ipun maweh bukti, boya kirang sayang ipun, tan becim manulad angsa, makehem rahine wengi, kanti kecud, brag-arig tan kisidan. Mingkin sang dadi manusa, tan kidik patut wilangin, tingkahe ngalih kotaman, mangdennya sida kapangggih, sangkan twara nyandang sedih, yan belas ane mapunduh, kewala yadin madohan, dikayun tampekang sahi, twara luwung, anake tan ngangge gantas. Krana matur sapunika, I Sucita tunas beli, eda sangat manyungkanang, tan lami, tityang nyilihin, pinih suwe tigang sasih, wangde ukuh kutus tahun, sinah tityang magapgapan, taru kasturi maselik, anggon ngukup, toyane maanggen tirta.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

78

8.

Benjang semeng kadurusang, tityang nunasin imanik, manganjak rakan imirah, yan tan kaduk sampun rihin, sawuh negem janji pasti, sinah beli twara laju, manganjak rakan imirah, lilayang kayun imanik, eda sungsut, saking beli manawegang. Daging belli sanget tuna, ane tampek keweh ngalih, sangkan adoh ban nyorotang, dibulakan ngalih bresih, cara ngabut crawis alit, dibatan jagute saru, yening tan adoh sawatang, dimeka suluh pedasin, keweh pangguh, patigadab meh tan bakat. Ibabotoh yan nyaratang, mangalih ane kajudi, yan iwang ban ngalih marga, mentaskatajen ngambahin, sinah ane alih tan keni, kalud bekel telah tulus, sapunika sang kendryan, yan nyaluk gama dirangki, katah bingung, kapingonan gunan marga. Awanan sang prayatna, ngalih gama sanget milih, ane marurungan darma, punike sarat pinerih, yan gama durga kambahin, sanget majehin kayun, lwir mentas diduwur sungga, yan iwang antuk akidik, balih lacur, kado kalud dewek rusak. Sang Sucita sebet manimbal, bawu mated sang Subudi, duh ratu mirah sajagat, da mirah salid manampi, indik tityange mapamit, matirtayatra kagunung, iratune kotamayang, apan para gayan luwih, tityang takut, mangiring yan durung kedas. Yaning ragane sakal, tityang tan ngeton imanik, kama sariran imirah, cumponin tityang ring hati, kaharas sahi kalingling, tan kasah sajroning kayun, malih kaduk masubaya, angen tityang ring imanik, madwe kakung, yaning tan satya wacana. Pungkur yan sampun ring halas, ring sarw sekare sami, linggayang tityang imirah, kacep miwah kapatitis, kautpati kaastiti, muwah kapralina lawut, kasimpen ring guhyajnyana, kaputer rahine wengi, twah iratu, manggeh ring yogabawana. Ngalih tutug telu bulan, sinah mrasa syu sasih, kewala ratu pagehang, makta raga mangden nyiki, tityang tepetang patitis, linggayang ring tungtung hirung, deleng ban tinggal karowa, dulurin kayun mangilis, kanti matutup, dwara sangane makejang. Idepang tityang nyekala, mucap-ucap ring dyah ari, lewih kala dipaturon, hidepang tityang manyanding, manyisinin imas imanik, apang twara kanti labuh, semeng yan tan kacingak, rasayang tityang ngalahin, mlyang pupur pacang katur ring imirah.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

79

17.

Ne mangkin tityang nyawurang, pitaken iratu nguni, lobane wantah ngawinang, tan suwud-suwud mangalih, kaprajnyanan pinih becik, bekelang salawas hidup, madana kantin sang pejah, gedeg musuh pinihn sakti, tambet iku, panyakite paling rahat. Ilang lobane punika, kawastanin sarin sugih, panyawur beli punika, anggen panglipur ring hati sinah gelis beli rawuh, mangaturang anggrek wulan, ne makebyur mambu merik, miwah taru, manengen lawan candana. Inggih mas atma jiwa, durusang tityang kristisin, toya panglantur marga, bekelang tityang ring margi, mangde wenten nanadan ngabih, kaanggen panganteg kayun, apan ngentap marga rungka, pangkung rejeng dahat sripit, inggih ratu, durusang lugrahin tityang.

18.

19.

Pupuh Ginanti : XXI 1. Inggih beli sang abagus, ndaweg tityang matur sisip, sangkan tityang mapet surat, kadine katur ring beli, tan lyan abayadana, miwah kasadun ngawinan. Wireh sang sadu punika, pateh ditengah disini, tan kayun mengkebengkeban, polos tan ngangge politik, tityang demen taterangan, sangkan tan ngubdayang malih. Abayadana puniku, dana maweh girang hati, tan ngawe takut lan runtag, tan ngawe keweh ngeresin, tan ngawenang pocol anak, tan ngawenang sakit hati. Sahi ngawe girang kayun, ngawe legan sang maaksi, asing manggih lan mirengang, suka girang maring hati, punika abayadana, dana wekasing utami. Dyastun utamayan langkung, sang madana tegal carik, miwah dana rajabrana, nanging kantun kalewihin, antuk sang abayadana, sangkan patut kesungkemin. Buwat tityang dot maniru, mangda sida kamarginin, abayadana punika, sangkan tityang ngutus gelis, parekan ngaturang surat, mirib beli wus ngewacenin. Acepan tityang punika, kayun beli mangda gelis, bebas tan ngobetang tityang, reh tiyang telas mangiring, satunggoninng hurip ngayah, jantos pejah mwah dumadi.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

80

8.

Sapunika jatin ipun, daging atur tityang beli, yan munggwing atur tityang, ne mihalang lungan beli, reh mijil saking indrya, tan banget, tityang nyungkemin. Yening kasujatian ipun, aturene tan pakulit, mitrangang manah pusang, sakimh sadu satya mijil, tur saking bayadana, tan saking indrya mijil. Nanging ne lyan punika, ne ngacuh tan manut indik, saking manah guyu medal, sampunang bes ngalinggihang, reh mula sang kaindryan, punyah ngacuh medal munyi. Sangkan sang kasmaran iku, rawosnya patut galihin, reh tan ajrih mangakuwang, panak macan yan sanggupin, tekaning prawa tan sida, sangkan sandang prayatnain. Inggih beli sang abagus, durusang beli ngalunganin, matirtayatra ka halas, sawireh pakaryan luwih, gunannya dahat utama, maring panca yadnya sapih. Kewanten tityang manunggu, eda beli salit tampi, dyastu tityang kadi elas, jatinnya tan saking lalis, reh ngawit anggen mategar, muruk tan tulak ring laki. Yan sampun beli ring gunung, kala manggih toya bresih, ne mungguh maring bulakan, ne sanding sekare merik, ne banget manudut manah, ring tityang sampunang lali. Mangda karasayang ditu, tityang nyuwun bokor nganti, mangaturang toya siram, saha ngayah ngaramasin, kala ngastawa Hyang Surya, rasayang tityang ngungkurin. Duk ngiring sang wiku ditu, kadalon ngalintang wengi, mangrawosang Weda Sastra, ugi beli eda lali, rasayang tityang ngarebah, di pabinan kuru harip. Ne dini kalawan ditu, atep tong ada melatin, ne joh kalawan pahek, magenah ring kayun sami, punika beli elingang bineka tunggal da lali. Wacanan beli iwawu, sawur pitakene nguni, tityang banget nyuksmayang, pacang sahi kapurukin, sareng ipun I Sugata, pang pangguh rasannya jati. Durusang beli lumaku, mugi rahajeng ring margi, tityang dot ngeling mulyan, mangenemin iseng hati, wireh mula kraman bajang, sedih tinggal ne cumponin.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

81

Pupuh Ginada : XXII 1. Sang Kawi abot nyuratang, bawos sang tiga bes rimbit, apan pada luwih prajnyan, sami wikan nudut kayun, makawinan kacutetang, crite gelis, tamyune wus pamit budal. 2. Tan ngetang adoh wengyan, tungkulang ahatan hati, muwuh tuture tan pegat, ngawinang sumingkin saru, kayang kuru tan parasa, kaget gelis, ring jero sampun manapak. 3. Benjangnya kantun semengan, sang kalih raris mamargi, sasampune wusan muspa, kalih sampun wus mamuhun, ring aji kalawan byang, crita mangkin, liwat paduning nagara. 4. Ngentap abyan munduk jurang, alas tegal kalintangin, pitung dina wus mamarga, mabekel sarwane pangguh, bangkwang kocing karayunang, piduh pakis, miwah ane lyan-lyanan. 5. Antuke bes lintang sawat, pamargin ida sang kalih, limut peteng dayuh kentap, sring ngintep digowok kayu, sabeh sering pacet samah, tur tan kidik, manggih warak singa macan. 6. Sang wibuhing darma tatwa, duk nyaratang ne sungkemin, tan mangetang katuyuhan, tan ajrih dyastu lampus, purun macaru ban jiwa, ngeleng ngalih, twara katah pawilangan. 7. Sang darma purusajnana, tekek tan obah tan gingsir, ngagem ane dadi ageman, uning ring jating satru, wikan ring kanti pasaja, wantah tunggil, ring raga jati genahnya. 8. Tan sidane megat rasa, takut nglawan momo budi, tan lagas ngutang angkara, punika jatining satru, apan ya jatin sangsara, nanging bangkit, liyu ngaden kakasihan. 9. Nelanduh kedas tur galang, bebas tan entukin indik, bahan suniya tan parasa, ento liyu ngaden musuh, makrana ya kapuwikang, nanging jati, ento kantine pasaja. 10. Tan katah kacinarita, sarwane panggih ring margi, kaget ida sampun napak, ring pukuh igunung agung, ne madan Kadalipuspa, tuhu jati, sugih tur manudut manah. 11. Pantes kema masewaka, sang para kawine nguni, apan ditu kabugbugan, ban sarwa ngawe wulangun, ceburan toya kacingak, tegeh iding, maswara manyumangkirang.

82

12. Icamara tan nyak kalah, masreyong rame mamunyi, sang angin manulung sahat, duweg mantesang manempuh, baret angin ngunadika, krana becik, tan cager angklunge menang. 13. Munduk tegal ibek sekar, umputan taru nyelagin, makedapan nudut manah, maputih mabarak luwung, ada masekar maonggar, kuning tangi, angine duweg ngigelang. 14. Mangolet lemuh mayodan, cakupamalang girangati, lwir mantri maras-arasan, dipangarjan ngajak galuh, miwah kadi Widyadara, ring dadari, saling putput antuk sekar. 15. Mangkin ya ipunyan puak, lilit ba gadung kasturi, mapatung ngawangun yadnya, mapuniya ring dewan hirung, ngaturang wangi mangkepan, miik ngedanin, adoh bon sinjange menang. 16. Talaga matunjung bungah, sekarnya nedeng ngedanin, kuning tangi putih abang, pakabwah-bwah luwih kadulu, lwir dadampa catur dewa, katinggalin, sampun puput maparuman. 17. Paksine marupa endah, bulunnya mawarna becik, mirib kepitan batara, maswir munyinnya luwung, nempur swaran suling rebab, ngawe lali, ring sukane dinagara. 18. Igunung ya mirib ngelah, ajum bangga cara jadmi, bahan mrarakang brana, manik winten katah dituh, makacakan maring tukad, mangulapin, rupane ngwaregang tingal. 19. Mas slaka tan kirang, agung alit pagulintik, mirah ratna makacakan, kresnadana mirah kacubung, windusara manjanganbang, swara luwih, ngatehebang manah loba. 20. Mirib gununge punika, katuduh antuk Hyang Widi, nguji sang nisparigraha, ne boya kalawan tuhu, yan ditu twara rebah, sinah molih, jatining paramamoksa. 21. Jeneng danun kabyudayan, ngembahang suka digumi, nganteg kaswarga loka, apan ngebekin sakayun, Sang Hyang Daneswara nyumbah, nungkul ajerih, katempur ban kasugihan. 22. Ambun dadarine kalah, tekaning para dewati, kalingke taruni jadma, yadin syam minyak harum, kudyang mapas pudak sategal, lan kasturi, tanjung mamunyahang ungas.

83

23. Adoh lambene kasadyan, dyastun takutin gendis, ne sampun pujin wong kendran, yang mapas madu sapangkung, pedas bujuh ngacomodang, putih lepis, punahang ipucuk abang. 24. Pangres susune punah, ne ngasorang kris maancit, belek tan mampuh matangah, nalepek didadda takut, katehebang keted nyuh danta, putih gading, ne kabih bahan nyuh bulan. 25. Durung mwasta tutug yasa, indryane sadurung polih, mamanggih gunung punika, apan papupulan luwung, meh Sang Hyang Dwadasasmara, sareng rabi, nyuksma ditu tan kacingak. 26. Isadpada kanti punyah, makebur ya kema mai, uyut mamunyi tan karwan, bes kosen mangisep santun, twara ngelah unadika, bas ngulurin, kopane teken babuktyan. 27. Pupue uli nagara, yadin kantinin astanggi, lek pacang mangadokang, ring sarin sekare ditu, sane ruru maimpugan, ngulup langit, miyike ngogar dewata. 28. Sang kalih nyusup ring halas, pangkung munduk kalintangin, pamargine twara gantas, satindak candek andulu, mamireng miwah mangungas, sarwa becik, indryane kanti kemengan. 29. Pamargine ngamunggahang, sering nuncap rungka iding, milih ngenjek batu pilah, ne ngenjol tempekan ipun, mapaglantingan akah, miwah bangsing, ne marambat ring idingan. 30. Saktin kitane ngawanang, ne likad elah rasanin, yening twara kitayang, yadin elah mrasa tuyuh, mula keto katuduhang, ketil ngalih, anak ne tan titah kita. 31. Yan sang nu majiwa kita, sing kitayang katurutin, mingkinke ane patutan, dyastu iwang twara takut, kaalih kalaksanayang, kabelanin, tan ngetang sengkalan raga. 32. Sang sampun ngelesang raga, saking kitane pacadi, lininggan jiwa kadilan, sang sampun maraga wiku, aluh ida ngawangdeyang, kitane pelih, patute kadurusang. 33. Adoh nglintangang ngunggahang, pamargine sada haris, wusan manggihin lapangan, manjing tengah halas awub, langite kapah kacingak, raris manggih, baingin agung kalintang. 34. Bangsingnyane pasulengkat, ada agung ada alit, luwir patambunan naga, ada makilit mailut, ring sornyane becik galang, mirib ajerih, sangkan nyamping tarune lian.

84

35. Nyamping kangin wenten cingak, papageran kayu puring, pucuk renteng asin nyelag, sangalangit marambat ditu, sekarnya makenyit barak, katampekin, kahawas jroning pageran. 36. Kaget nyikak arca lingga, mlakar batu bangsing nyulig, halus Matrinayana, macaturbuja ya anut, palinggan Wisnu dewata, mangangobin, angker kadi hurip cingak. 37. Nuli ida mararyan, saha medasin kasamping, raris nyingak lis lamakan, sekar layu miwah tuh, mirib putran para tapa, mangabakti, maturan kala rahinan. 38. Ditwan nyingak gumblengan, ungkulin campaka putih, ring sor batu nlebus meal, toyannya bresih kadulu, mentik ditu tunjung jenar, muwuh becik, pantes linggan dewi Gangga. 39. Batune ngungkulin toya, tur duwurnya dahat becik, dangsah lumbang kadi klasa, sekar layu katah ditu, pada tuh mabrarakan, mirib pingit, genah mangayat batara. 40. Tihisan gumblengan punika, majlingjing batu dipinggir, matempek becik materap, megat sor baingine ngungkul, kedas mirib marisakan, hning bresih, toyannyane ngatebenang. 41. Boya adoh ring tebenan, wenten slikur depa mirib, palemahan tadah lebah wenten taru tanjung ditu, nedeng sekarnyanne samah, mrik minging, pagriyeng nyawanne katah. 42. Kembarin wit tampakbela, kedapannya putih asri, sanding racun makedapan, barak halus muwuh luwung, sang kalih kema ngawasang, kaget kaaksi, toyane nyeburin akah. 43. Pecak pancoran kacingak, sampun rusak malakar tiying, tatakan pancoran ika, batu lumbang dahat halus, ring samping wit peji andap, kayu sisih andong lan kayu tulak. 44. Myanacemeng lan kayumas, bareng maturunin bangkit, bareng barebutin genah, ada luwir anggut-nggut, kala kecorin ban toya, nyak mirib, luh kolok ajer manyapa. 45. Sang kalih manadunang, kecoran toyane tampekin, pancorane katingtingang, kaambil kapasang sampun, diakah kaslandangang, huwus becik, toyane makecoran.

85

46. Sang Subudi ngembus wastra, toyane kabandreng raris, wus mandreng nguncarang mantra, ngetisang toya pingtelu, marahup wusan makurah, sami maping tiga genap tan pakirang. 47. Sawusan Ida masiram, Sang Sucita manimbalin, pateh solahe masiram, kadi sang Subudi wawu, glisang carita sampun wusan adunng sami, pacang mangaturang sembah. 48. Mawali kaarca Lingga, sampun mangranjing digelis, sawus mgutawisarjana, malinggih mamudra sampun, muraka kumbaka recaka, mwah ngutpeti, stiti dewa prastita. 49. Sasampun puput ngastawa, muwah mralina gelis, kasimpen ring guhyajnyana, sadurung nunas kakuluh, buwat ida manyinahang, telebing hati, ngaturang gurit marumbang. 50. Teka nyak mapatutan pisan, reng swaran ida sang kalih, rempuh halus mahalunan, igender ya pantas kimud, bilih banget ngapingonan, dewa-dewi, sampun olih myasayang. 51. Pireng jwa kakecapnya, sapta ongkara pinuji, awaking sapta buwana, dewaniya wus manut lungguh, wijaksarannya pradata, muwuh asri, wargasari kaanggen tembang.

Pupuh Wargasari : XXIII 1. Om ksama swamem pukulun, sadosa tri-kayane, manusanirati jugul, pangkah mangaturang gurit, ring padadwaya sang luwih, sadanan ingong aneda, sihira Hyang kasuhun, mugi sida mangun trepti. 2. Pituning tinggal kawuwus, apan langkung suksmane, karana winida pitu, ring Saptongkara Wulati, kawahyan ira Hyang Licin, stiti ring Saptaloka, kang haneng prasada tanu, punika kawuwus mangkin. 3. Saking suku munggah terus, makaingan ring nabine, jagrapada haran ipun ANG wijaksaran ireki, Hyang Brahma ditu tan gingsir, Abang warnan Ida muntab, lwir geni tan pakukus, mangawe ulaping aksi. 4. Suptapada aran ipun, saking saluhur nabine, maring hredaya tutug, UNG wijaksaran ireki, Hyang Wisnu ditu malinggih, Ireng warnane akila, sahlaring dwirepa iku, angedap kalintang asri. 5. Mareng mulakanta rawuh, sakeng luhur hredayane, Swanapada puniku, Iswara ditu tan gingsir, warnan Ida asri putih, wijaksara MANGkara, Hyang Mahadewa kawuwus, stira ring Turya bumi.

86

6. Luhuring mulakanteku, tutuging Saptadwarane, yeku Turya aran ipun Kuning warnan sang nglinggihin, OMkara aksaran ireki, Dwipanapranawenaran, ring putering bawa luput, apan ngawasa Trisakti. 7. Luhuring dwaparapitu, anganti ring slagan halise, Turyantapada kasengguh, palinggan Hyang Rudra luwih, warnan luwir Surya ngulapin, mawijaksara Brahmangga, Ardachandra jatin ipun, suksma iweh ingungsi. 8. Malih mangunggahang lawut, saking slagan halise, ring tanggun jidate rawuh, ika inaranan Pani, punika Atyanti bumi, linggih Sang Hyang Sadasiwa, Wijaksaran ida Windu, Aiwanggapranawa nami. 9. Sahurdaning paniya nglantur, makaingan ring Sikane, niskalapadaran ipun, irika jumanak linggih, Hyang Paramasiwa luwih, Nada wijaksaran Ida, Amretakundalini iku, kawasita de sang resi. 10. Mugi jwa sang kasuhun, ledang mangrungu kidunge, saheca ring muda punggung, maweh wasuh-pada suci, sadosa mayane keli, OM KSAMA SAMPURNE NAMAH, maka panelasing kidung, maran tan katulah carik.

Pupuh Ginanti : XXIV 1. Kakuluh sampun kalungsur, sawuse ngaturang gurit, mapamit raris mamarga, umputang lapang lintangin, halas agung mungkin kentap, awub twara kanren langit. 2. Lami megat halas agung, boya wenten buron panggih, sok taru bun maslingketan, ngrewedin sang mamargi, sok swaran paksi nungkulang, rame pasar kota mirib. 3. Sang Sucita nuli matur, duh beli sang Subudi, langkungja jemet ihalas, mendep-mendep nging nulungin, nyukanin maweh payuban, ring iraga sareng kalih. 4. Sang Subudi nuli nyawur, lebih pantas ya kapuji, malih yan beli ngenehang, twara jangkep sareng kalih, muji nyumbangang ihalas, patute ajak gumi. 5. Sawireh ya pageh puguh, tatk teken panas tis, madyane tan gingsiran, mamrih rahayun gumi, ngwe hujan gemuh toys, jagate mangden trepti. 6. Igulem makire nambung, ngungsi langit ngawe warih, rikalaning sasih kapat, masih halase ngntinin, jagate yan tan pahalas, panas dangkak tuna bukti.

87

7. Sakadi ida sang ratu, yan ngendoh ring para resi, sisya ninggal pagurwan, ikatak ring toya puwik, patuh pacang nemu baya, lwir rahab maekin api. 8. Bawose mangendah erut, saling sambung saling sawit, pada wikan ngawe suka, pada prajnyan pada wagmi, kablete tan polih genah, ring ida sang prajnyan kalih. 9. Tan lami meneng lumaku, Sang Sucita matur gelis, mirib kuru buntut tityang, mawinan ipun makeling, manawi beli tan lupa, ring pabesen sang Artati. 10. Cingakja halase agung, suketnya keweh ngentasin, dija nanggu dija bedah, ncen duluh ncen impasin, mamarga sok matindakan nganggowang kitan ibatis. 11. Dija bulakanne tuju, ncen margane entasin, punika beli kayunang, wantah jasang darma budi, tan iju ngalih tulunagn, kadi sang katunna budi. 12. Apan sakadi sang wiku, satat galang ring hati, luput maring rasa duhka, luwir dawun candung kalis, ring toya tan kabelusang, sangkan tan buwat ring kanti. 13. Cara takut ring pitulung, nging manulang cara bani, niki sipat aaanisreyasa, beli saksat wiku patis, tityang masa osek pisan, tulung duwuhin I Artati. 14. Sang Subudi nuli nyawur, adoh beli ngalangkungin, adi atdik beli uyah, twara ada kuwang lebih, awanan beline kadat, nakeyang ibojog putih. 15. Takut yan adi tan adung, reh mara keneh padidi, krna beli mngantosang, pawuwuh kabwatan adi, apang masih maan angkepan, nglaksanain ane alih.

Pupuh Sinom : XXV 1. Puput Ida mangandika, Sang Subudi asila tiding, sarirane suba enang bayune milu ya hening, heneng kayunne nurutin, sanghyang pramana wus kumpul, nuli ida mangujangang, nama guhyan iwre putih, kaget rawuh, angin agung ngrubuh halas. 2. Ajahan angine henap, taru mogahan kaaksi, matimbal-timbal nampekang, lwir bojog siyu ngentapin, tan lami kapireng raris, swaran boset karura umung, kadi kilap matambungan, makreyak ngempengin kuping, tampek sampun, sang kalih itep ngawasang. 3. Kaget ibuset kacingak, nuncap wangkal sentak putih, ring campang nguntul ngawasang, ngileng tuwun maliyat nyeling, kaget ya mapanduk aksi, maring ida sang abagus, sakedap ibuset ical, ambung ring sor kaceburin, lawut tedun, nyagjag matur masentodan.

88

4. Duh ratu sang panembahan, Sreda rawuh sang kalih, langkung suka manah tityang, saksat molih meru manik, rahina wengi tan lali, tityang mangajap iratu, paswecane mngawinang, iseng tityang tan kidikin, ring iratu, kaget sane mangkin prapta. 5. Kadi godel lembu saksat, atinggal antuk meme lami, sangsara manandang bedak, kasadyan mapangguh malih, sampunika yan upami, girange manggih ratu, inggih dewa sang karowa, tityang manunasang ngawit, sangkan rawuh, napi sarat pakayunan. 6. Yan sampun iratu ledang, nyinahang kabwatan mangkin, tityang yadya mayaratang, Tan mangetang baya pati, dyastun ring rejeng saripit, yawat ring pucaking gunung, tan jirih tityang mangentap, ngiring sapakon sang kalih, inggih durus, ndikayang sampunang kemad. 7. Sahanan woh-wohan, sarwane wenten iriki, saksat tittyang mangodagang, pican sanghyang mahagiri, rasa ipun manis bangkit, nyusup ngamretanin kayun, banget ngawe raga waras, dirgayusa sang mamukti, nika katur, aywa sumang sayeng manah. 8. Yadyan idewa nyaratang, sahanan sranan usadi, pamunah sahanan lara, gering wisyane kabasmi, ebun babakane luwih, umbi-umbi dawun-dawun, Ida Sang Hyang Aswinodewa, sring ngarereh tamba mariki, sinah katur, yan mantuk ring pakayunan. 9. Kasep yan tityang nguningang, sarwa kalewihanne dini, becik idewa mawosang, lwir kabwatane mariki, dumadak mangda tan kidik, pisarat iratu rawuh, ngedot tityang ketuyuhang, antuk mitra tembe prapti, tityang muruk nyalanin atiti puja. 10. Dyastu upami kasidan, durungja mawasta bakti, apan pakardin idewa, sat bibit katandur nguni, ring hatin tityange mentik, ne mangkin mabwah pupu, sampun masanya mangalap, Sang Subudi manyawurin, sada kenyung, hslus babwose medal. 11. Duh cai wanara petak, langkung manyukanin hati, bahan jati tulus tresna, bwat ngadyanin sakapti, ira nyuksmayang dihati, sapatuduh boset agung, krana ira mai teka, matirtayatra pinerih, nyadya ngrapuh, sakancan malaninng awak. 12. Krana ira mamuwatang, manyujur mangungsi mai, ane kandel twara lyan, twah cai sang Artati, ane ngatah mamilihin, nuju bulakanne luwung, nematoya bresih nyalang, tur muwat amreta suci, mangden tulus ida molih suklan manah. 13. Sambil ira mamwutang, nangkilin patapan dini, cai ngateh mamantesang, ncen ane nyandang simpangin, sinah cai tatas uning, ibojog putih masawur, bawu

89

tityang kendel makesyar, antuk sampun kakritisin, amreta runtuh, ne marupa dedawuhan. 14. Banget tityang nyesel awak, yening iratu sang kalih, tan ledang mangunduh tityang, sangsaranin hutang budi, sang tan sida males asih, langkung abot sranta laku, keweh pacang nuncap munggah, manuju kagenahe luwih, bina langkung, ring sang mutangang pitresna. 15. Sang Sucita nyahur nimbal, ida angob uling tuni, ban rawos cai wanara, sanget ngetus unteng hati, nyungkab bulu medah kulit, ban lewih tutur tur pangus, makilit lemuh maulatan, bahangja nyelanan mamuji, apang huwus, ira bengah kaangoban. 16. Sang konggwan budi kedas, ysdin pepes kasipokin, tan lami dadi elingan, kapulang ring pasih lali, nanging yaning katresnain, yadin ban toya asidu, hidup jerone ingetan, kanti seda twara lali, sanget luhur, sang tan ngengsapang pitresna. 17. Sangkan nyandang ajum tulad, solah cai sang Artati, kewala da nyalah arsa, ira twara nagih mai, tuwi saking ngidih kanti, ban cagar mabahan tulung, reh cai sang budi darma, twara lalis manepinin, ira lacur, dijalan kosekan manah. 18. Ibuset mahatur nimbal, inggih ratu sang bagus kalih, sahantukan sampun terang, kabwatan iratu mangkin, tur sinah tityang mangiring, saluwir sane katuju, bawose ngiring punggelang, tityang mangalungsur pamit, antos dumun, malih jahan tityang prapta. 19. Tan asuwe wyakti prapta, tatiga ibuset tangkil, sarat mamakta wo-wohan, ngamel saha nyabit nyangkil, ngaturang babktayan sami, Sang Artati matur nyujuh, inggih ratu panembahan, niki pyanak tityang nguni, ne kapandung, antuk ipun iraksasa. 20. Banget kaelahan tityang, sasukat masarga becik, ring ipun maman iraksasa, ne mawasta sang Durgati ipun sering rawuh mariki, matimbangan sila hayu, tan adoh ring darmasastra, tityang ugi ngarawuhin, ring gwan ipun, mawasta munduk Rajasa. 21. Karaksasan ipun telas, masilur cara sang resi, idewa wantah ngawinang, runtike manadi kasih, mangkin tityang polih bukti, masawitra pinih luwung, masatrune pinih rusak, dumadak tityang tan lali, reh masatru, ngejohabng landuh dimanah. 22. Mangda iratu pawikan, ring somah ipun Sang Drenggi, Sang Dambi kocap wastannya, munggwing pyanaknyanne alit, Sang Wipramada kaadanin, dumadak ring wasta anut, mawantun tityang nguningang, piyanak tityang puniki, keni ratu, sumeken tatas pawikan.

90

23. Wastan ipun I Pragusa, memen ipun sang Wulati, saking paswecan idewa, ngawinang tityang mapanggih, sedeg somahnya nimbalin, doh tityang nyidayang nawur kotaman paswecan idewa, tungkul dagi boset dekil, nista langkung kalud tambete klaintang. 24. Suwe tityang manyukayang, mupu pyanak ngedas mati, bawu mangkin bantas nyidayang, matur nyuksmayang dihati, banget tan manut ring indik, nanging iratu sang bagus, dyastu tan wenten ngobetang, ampura tityang lugrahin, tityang nyuwun, manawi ngirangin mala. 25. Tityang bojog kalud luwa, sinah tan maduwe budi, banget kepatengan ring manh, napyanggen ngawales asih, durusang tityang wacanain, hurukang ja tityang ratu, nawi wenten sadyan tutyang, sida antuk manglampahin, matra nurut, sang sida manawur hutang. 26. Ipragusa matur nimbal, inggih ratu sang bagus kalih, adoh tityang manyidayang, matur sane mangenakin, kewantwn polih akidik, maka tanda bakti tuhu, tatiga reko kinucap, ne kasnguh biyang aji, nyandang sungsung, sembah baktinin patutnya. 27. Sa sane ngreka raga, dwana myara weh bukti, telu ne maulung jiwa,nika mwasta byang aji, tityang rumasa ring hati, mutang hurip ring iratu, karananing sida lepas, saking ikrangkeang besi, sane dumun duk ring gwan iraksasa. 28. Ratune kasereh kalh, tuwa lacur tan patitis, utawi sebetang pyanak, rare kutang bapa bibi, dyastu sami mrasa sedih, durung patis laran ipun, ring sangsaran tityange dewa, kala jroning krangkeng ngesil, suka lampus, mangda sapisan tahanan. 29. Sukane jerone bebas, duhkane dikrangkeng ngesil, luwir langit lawan tanah, banget lyan tan nyak mirib, saksat tiwas lawan sugih, lara lawan waras iku, dwaning sang mangicen bebas, ring tityang sakadi mangkin, pacang sungsung, kanggen Widi ring sakala. 30. Cutet atur tityang dewa, dewek tityang katur mangkin, durusang ratu uduhang, anggen nyalanin sakapti, tityang ten wenten ja uning, matur mangenakin kayun, sajawi antuk pamarga, iratu mantesang mangkin, sane patut, kamarginin antuk tityang. 31. Malih tityang manunasang, yan dewane mawasta maling, ne tan ngewales bakti manusa, yan tityang lud bojog dekil, tan baktiring sang nywecanin, punapike wastan ipun, napi pacang temhang tuitynag, awinan tuduhang gelis, papa agung, yan tan ratu nglukat tityang.

91

32. Sang kalih durung ngrayunang, polih wareg ngalintangin, atur ibuset nngawinang, apan saksat sanjiwani, nyusup mamedah ke hati, dadyamertaning kayun, tumuli raris ngandika, uduh tatiga wanari, kamandalu, rasa mangembahin ira. 33. Sang bisa ngawenang suka, tekaning sang mitresnain, yadin uli apan-apan, masih madan ngewales asih, dyastu ban keneh lan munyi, ne ngawe sukaning kayun, mingkin sida maduluran, laksana lan barang malih, ento puput, madan mangewales tresna. 34. Reh iba tiga wanara, suba langkung mayukanin, diinget lawan dimanah, dirasa tong tahen lali, munyine dahat nyukanin, pratingkah ngawenang nawu, babuktyan tan pakirang, balik hira mutang asih, bas bes langkung, iba manulungin ira. 35. Manut bawos sang prajnyan, ngujangang solah sang luwih, ane nganggen dana sura, bani madana tan milih, nanging ento tan sida kapti, yen ne anggap twara kayun, awanan tan kayogyayang, sang nulak dana ring aji, apan murung, swarganing sang danasura. 36. Sangkan tan dadi pasahang, sang dana ring sang mangidih, apan pada ngawenang suka, kadi panjak lawan sang aji, alas lawan singa masih, pada ngawenang rahayu, ento krana apang pada, bani ngidih kaidihin, reh tan wurung, suka tur dadi patemuwan. 37. Pala karmane nabdabang, nitah sang ana lan nampi, karma pacang ngewalesang, pungkur yan pada dumadi, sang ngidih kaidihin, ento dadi talin patemu, asilih asih dadinnya, suka kabyudayan panggih, sangkan luwung, anake tan sumangsaya. 38. Nto krana ira galang, nampi tresnan jani, dumadak apang tan liyan, tingkah ibane manampi, pitulung irane nguni, apang pada nerus nyambung, saling tulung kayang wekas, suka saling patindihin, bareng nemu, nugrahan Ida Hyang Titah. 39. Sang Artari matur nyumbah, inggih ratu sang bagus kalih, lewih kadi dewa sabda, wacanane kapiragi, sampun rumesep ring hati, inggih ja puputang dumun, durusang ratu ajengang, sarwa palane puniki, nawi ipun, dot manumpang ngawe suka. 40. Sang kalih girang mananggap, saha kenyem mangajakin, ibojog tiga amangan, tumuli raris kahiring, itep sareng sami mukti, mameja bantang jeg nawu, sambilang mararawosan, sami wikan manyukanin, malih matur, ibuset sawuse mangan.

92

41. Nawi wenten pakayunan, iratu mangkin mamargi, pacang manyudi bulakan, tityang sayaga mangiring, samalihnya sedeng becik, wenten tampek genah ipun, mawasta Srewana tirta, toyan ipun bresih hening, riki tedun, wus adung raris mamrga. 42. Ibojog sambil ngiringang, matur ring ida sang kalih, yadin iratu nakenang, katah bulakane dini, patlikur kawilang sami, sane becik sandang tuju, tityang uning ring wastannya, wilangin saking pangawit, kanti cukup, tityang mangkin nguningayang. 43. Srawana kapertama, Srawana lan Jagapati, Grenawartini Kresna, Susabda Wohiniwodri, Manani Subadawani, Susangsta Dumra muwuh, Pradanangcita Sangsta, Karmanni Prana Wardini, Wyokti iku, Angladani Akarsaniya. 44. Muwah Pitramarganuga, Dewamarga Pradarsini, Retawahin Pradanakya, punike sami kapuji, tirta dahat mautami, tan kidik ngawenag luwung, kalih tan jadma sabarang, nyidayang mangrawuhin, yan tan putus, susila darma ajnyana. 45. Dyastun genahnya madohan, tur likad munduk melatih, eda iratu sangsaya, nyanan sinah mrasa iying, tur gancang gelis mamargi, rasa kambang yan lumaku, rikala wusan masiram, apan tirta jati luwih, sida nglebur, samala patakan raga. 46. Sang kalih kasob tan pegat, ring pitutur sang Artati, nanging meneng tan nyaruwang, sok kenyem nganggut-anggutin, saha nelebang dihati, crita kaget rawoh sampun, rimg Srawana tirta ika, tihisannya tis nyukanin, jeg masilur, pranan sang tembe ngentap. 47. Mrasa segeroger jenang, mawuwuh suka nyingakin, sekare manyanding samah, bungah nedeng tuhu asri, tumuli masiram gelis, manyuryasewana sampun, maresi dewatarpana, pitra buta tarpana ugi, sampun tutug, sopacara kamargyang. 48. Sang Sucita mangandika, duh cai wanara putih, nawi ada pasanggrahan, sang tapane pahak dini, melah juwa kema tangkil, tur jani majalan lawut, apang twara kapetengan, iwanara manyawurin, ratu bagus, wenten nanging sada dohan. 49. Atangah dauh mamrga, utawi lintang akidik, manawi rauh arike, ring patapan Siwa resi, pandita kalintang sidi, Resi sakta aran iku, becik marika sumimpang, tangkilin anake lingsir, uli ditu, benjang mangalih bulakan. 50. Sang kalih kenak mirengang, miturut nuli mamrgi nuluh pangkung ngaduluwang, kilak-kiluk dahat seripit, munggah munduke keungsi, ngentap

93

ngaregah kalangkung, carita sampun parapta, ring giying munduke gelis, doh kadulu, hyang surya surup ngireyang. 51. Tejane barak ngatirah, mirib ida hyang rawi, sedih antuke manninggal, gunungene ngulangunin, durung waneh manyingakin, kalud medalem sang bagus, ditengah marga petengan, tempone enggalang lisik, kasep takut, ring Ida Bhagavan Druwa. 52. Angelis sampun kacingak, patapan Ida sang Rsi, mapager wit pucuk atap, wusan maracapan iding, ring samping lawang kaapit, antuk kayu puring anut, dijabayan sarwa sekar, maplidpid padang magulis, teka luwung, mapindapinda mendahan. 53. Cihnaning sang dijero kedas, medah galange kasisi, margi bresih masampatan, sambang coloke dipinggir, manyanding saruni rawit, ditengahnya jagasatru, kuning sekarnyanne samah, sudamalane manyanding, muwuh luwung, asri kuning nyanding petak. 54. Ibuset mahatur sembah, durusang ratu ngaranjing, nika pasanggrahan ida, tityang pacang nunas pamit, benjang semeng kapendakin, ngiring sakayun iratu, sang kalih manyuksmayang, wahu ukuh mangaranjing, medal sampun, sisya kadi mangawasang. 55. Tamyune sampun karihinan, kapendak ban cingak manis, saha manyagjag manyapa, sirase dewa puniki, tembeje tityang mamanggih, truna bagus mariki rawuh, kagununge rungka sawat, alasnya sanget angeresin, buron agung, galak iriki tan kirang. 56. Idewa mirip kepitan, keman bahan Sang Hyang Widi, sangkan pamargine lasya, ngres tityang ngemanahin, nawi wong Kendran Sang kalih, sarat ngalanglang kulangun, pisan utusan Hyang Titah, nyamar saking jagat sepi, nytula rawuh, muwat bawos papingitan. 57. Keni dewa tan sangsaya, sadurung bagus nyahurin, becik tityang ngerihinang, nguningang dewek ne mangkin, tityang parekan iriki, pangayah Sang Maha Guru, juru mangalih samida, miwah nandur ubi kaladi, kaduk nawu, tukulang jamure katah. 58. Sang Subudi matur nimbal, ampure tityang nyahurin, dewa sang sweca manyapa, saha jujut manakenin, tur silib muwuh pamuji, tityang nyuksmayang kalangkung, nanging dewa palilayang, reh tityang durung nyawurin, nyanan katur, ngiring dumun kajeroan. 59. Sang sisya rumasang tuwas, awinan gelis kahiring, sampun rawuh ring jerowan, kacingak anake lingsir, tejan sariran ida kaaksi, muncar galang

94

hening sumunu, luwir omkara makuta, mungguh ring kuwunging hati, gelis nguntul, sang sisya masila nyumbah. 60. Sang kalih jerih kasepan, mabriyuk sareng malinggih, tangan sampun macakupan, sila pakil tangan gampil, sang guru ledang nyingakin, tumuli ngandika halus, banban luwir kerug kapat, cening mahi bapa pahekin, bapa nawu, karawuhan ban idewa. 61. Sang sisya ngehes nampekang, sang kalih tansah mangiring, wus tampek ring hajeng ida, masang sembah ngamalihin, cacingake halap manis, nguntul palyate tedun, sasoring utama angga, apan tulah sasoring aji. 62. Sang wiku ngawit ngandika, uli dija sangkan cening, muwang nyeb parab idewa, apan kabwatanne mai, sang kalih mitrangang sami, dang guru ledang mangrungu, malih ida mangandika, kendel bapa maningalin, truna bagus, kadi widyadara kembar. 63. Dini cening makelowang, kanggeyang ngajengang ubi, apang masih bapa mahan, wreta karamyan nagari, apang eda bapa puwik, teken kasukaning hidup, bakelang bapa kakutang, dihalase lacur nglidig, sahib pangkung, mabanjaran ngajak paras. 64. Melah sambil matuturan, wus ngajeng sadurung harip, muwuh tawahe tuturang, apang masih kauningin, ban nyaman idewa dini, tahunan tan tahen mantuk, lami dini ajak bapa, mamula kentang kaladi, anggon ngapus, pangrasane yakut pejah. 65. Kaduk bingungang kakencan, pitungane bes ngaripit, kanti engsap teken kasukaan, tampak kedis ngindang alih, ento bakat bitbit sahi, ditundun punglune ruruh, dadi kakedekan jagat, ngutang rame nuduk sepi, twara mukum, teka bapa ngutang awak. 66. Mirib lebih siyu tiban, bapa mangawitang mai, muruk manyukayang tiwas, makamben babakan dekil, lipurang tutur ikedis, ne rame dimuncuk taru, kala punyah ngrebut buah, ento gambuh bapane dini, angkep ditu, kayang anggon suling rebab. 67. Mawayang ban kayu sawat, ane ngelog tempuh angin, kala ngaremenng wengyan, damar ken sasih, conge-conge mangenderin, kenoknya celepuk nulung, yan ngatuju maswara, ienggung welas ngempulin, kelir ipun, langite ngatuju galang. 68. Masih ada milu teka, mai milu bareng ngrebut miskin, dot makanben babakan, kakwatanne teken dingin ento kaanggen kulambi, tan bengkunge kaanggon bungkung, magelang gelenge ilang, suklane kaanggen rabi, kanggen sabuk, ilang ibuke dimanah.

95

69. Itep dini tunden bapa, mahuruk mangangon sampi, kamongin pada madasa, apang eda mangrusuhin, wireh sampi ganjah gati, sakedap dini jahan ditu, reh tong bisa ngalyang padang, ane mule kademenin, keweh ngempu, kereng ngrorod ngalabuhang. 70. Yan iya bisa ngangonang, bapa sanggup mangupahin, les buluh unteng bawang, angon ubad uyang becik, apang cening tatas uning, ento ne mendak iwawu, maparab sang Satyawan, ne danginan sang Asteni, ne badawuh, maparab sng Sahambara. 71. Keto ida mawacana, mitrangang sang majajar linggih, Sang Sucita matur dabdab, ring sisyane make sami, inggih beli make sami, kendel ja tityang mapangguh, lwir ngeton Sang Hyang Tiga, duk nangkilin Hyang Pramesti, bahan patuh, bawane nyukanin manah. 72. Banget lyan sang prajnyan, ne nelebang darma budi, aluh ngawe sukan manah, tangan cakup smista manis, tan mitutur tan nulungin, suba ngawe wareg kayun, lyansan ring sang mrakak campah, elah ngawe duleg hati, semu mrengus, lima nyengking tegak ngoyag. 73. Ikolok ne tiwas pisan, dyastuntan nyapa acepik, kalih tan sida nyambrama, masih uning ngawaregen, yan iya masmita manis, nyakupang lima tur ngauntul, tamyune suka ring manah, kotaman semune manis, mirib patuh, maring kautaman emas. 74. Sangkan sugih sang nyidayang, manahin pecukan halis, ngesehin semune rusak, nuwunang limane nyengking, mangobah eyegan linggih, mangdennya manudut kayun, mingkin kala tamyu prapta, wantah smitane manis, pinih dumun, becik kaangen panyambrama. 75. Sang tambet ne durung tatas, ring kotaman smita manis, kobet mangesehin tingkah, alah mangisidang bukit, tityang ugi kantun sapih, ring sane mawasta punggung, dwaning nunas ampura, nadak rikuh ngawe pakil, mugi tulus beli ledang mangurukang. 76. Sang satyawan manyahurang, sujatinnya tegeh ngaglik, sang sida ngandapang raga, sangkan beli sanget muji, sakadi solah iadi, ne wikan tan mapi weruh, beli ugi durung menang, ring anake sumbung hati, krana patuh, masih mamitang ampura. 77. Becik juwa dumun panggelang, nyanan bawose Sambungin, wenten paican sang tapa, becik lungsur sane mangkin, lonceng sang lapa mamunyi, ring basang tityang makriyug, nyagara palguna masa, becik gelisang caronin, yening puput, ngiring malih mabawosan.

96

78. Gelisang carita kocap, wus puput ida mamukti, tumuli manangkil muwah ring anake lingsir, sang tapa sampun, malinggih, sang sisya mamedek sampun, sang kalih twara kesah, majajar malinggih cepil, pada weruh, ring tataning darma sisya. 79. Sang Sucita matur sembah, ring Ida Sang Maha Muni, duh ratu sang Yogiswara, sang sampun arok ring sepi, sakala murtinin Widi, sadyan tityange mapangguh, ring ratu sang utama, mugi tan katulah carik, antuk purun, tityang matur mapinunas. 80. Punapi awinan katah, gamane wenten digumi, punika lungsurang tityang, mugi sang tapa nywecanin, sang guru masahur haris, uduh dewa sang abagus, masih jwa idewa nimbang, bapa ngindayang nyawurin, krana liyu, kene yan pamangguh bapa. 81. Kadi tukade ne katah, makejang mangungsi pasih, keto agamane katah, ne katuju twah abesik, kalanggengan nto sujati, keto pidagingnya bagus, buwin awananya katah, agamane kakardinin, reh tan patuh, dademenan sang mapaksa. 82. Krana demenne melenan, wunine tuwah ngawinin, apang wunine tan tunggal, ne ngawakin sang dumadi, ada wuni dewa rsi, rajarsi lyan ipun, ada len wuni gandarwa, danawa lan detya malih, keto bagus, krana kakryanang katah. 83. Reh ida sang ngardyagama, wikan ida manganutin, dademenan anak katah, ikambing tan nyak nututin, yan pada ya edengin pipis, keto masih ya iasu, nglen yan tanjen bungkung mas, reh burukan kademenin, keto bagus sang Sucita malih nimbal. 84. Tityang nyuwun pawacana, sampun rumesep ring hati, malih tityang ngalungsurang, sane ncen pinih becik, ne patut sandang sungkemin, mangdennya tan salah surup, ncen nista ncen utama, sang guru masahur haris, kene bagus, balik bapa manakonang. 85. Encen saja utamayan, durene tekaning manggis, encen sujati jelekan, mas manike tekening ceroring, sekare ring wong istri, encen jelek encen luwung, yan anggon nyukayang manh, Sang Subudi manyahurin, sada kenyung, matur ring ida sang tapa. 86. Ksamakena atur tityang, reh nyawis tan ketakenin, kendel girange ngawinang, antuk pitakene luwih, ngawinag ngentikang budi, pitaken sang tapa iku, ne manjing ring manah tiyang, mungkah panyahure pasti, yan ang wuruh, pitaken kanggen nyahurang. 87. Sang Empu malih ngandika, nah keto jatinnya cening, sinah yeh paling melah, yan sang bedak ketakenin, yan sang begah ketakenin, toyane paling tan

97

luwung, apan manut kabwatan, kabwatan ring sang manmpi, mirib sampun mantuk ring kayun idewa. 88. Dyastu agamane katah, nanging ya pada kapikin, kakardi ban sang prajnyan, pada ngojog gumi suci, pada utamanye sami, yan pada tepet sang nganut, nanging pada tan ngidayang, yan ampah sang nglaksanain, keto bagus, yan manut pamangguh bapa. 89. Nanging bapa makelingang, teken idewa jani, munggiuh ring sastra prokta, ninggal gama twara dadi, gede pakewehe panggih, disakala pacag tepuk, nyama braya kadang tungkas, yan pedidi mangeladin, dyastu adung, ring lelihir tonden karwan. 90. Apa bwate ngutang jinah, yenne alih bantas pipis, uyahe sengguh tan melah, tasike kakaden becik, twara tepet tan maludin, bayu obah bakat tuwut, yen ditu kaden enggalan, ane dini kaden ketil, awas malu, sakayan sang len agama. 91. Sinah twara medal toya, yan nyemer enggal makisid, dini manyongcong ajahan, durung minda katinggalin, ditwan nyongkeh abedik, selang ken ganjihe tumbuh, buwin ditwan tegarang, tonden malukta kisidan, kado payu, sok mabahan sakit awak. 92. Ida Sang Hyang Nilakanta, prajnyan kayang dewa muji, tuhu anggan Hyang Siwatma, tri kala wus kauningin, ne liwat miwah ne jani, tekaning ne pacang rawuh, Ida wikan tatas tengglas, yadin sang Hyang Buda malih, pada weruh, pada wibuhing ajnyana. 93. Yadyastun Bhagavan Byasa, jroning garba suba wagmi, teteh nguncar Catur Weda, garbajatah Ida mijil, mangkin rare mangkin lingsir, saking satya loka nurun, ento ang tiga kinucap, suba pragat nyandang puji, pada putus, ida ane ngardyagama. 94. Yawat ada guru lenan, masih wikanne tan lebih, pada maduwe wiweka, ngardyagama manganutin, kitan sang pacang ngamoning, sangkan caranyanne liyu, carane ngalih kotaman, tuyuh ida ngaraga ngardi, banya aluh, bantas milih ajak onya. 95. Sambik ajak liyu nyacad, sang prajnyan tuyuh ngardi, yan karingkas kacutetang, kunggahang ring Sang Hyang Aji, iraga ngomel brangti, ban liwat limane nyujuh, yening panjang kapidarta, ngaku kejokan ngatemig, bane takut, teken tuyuh pang mabahang. 96. Melah kawitang sekenang, ngagem ne mule sungkemin, digama bitbit pedasang, ncen rasa kaadungin, ento lawutang jalanin, wireh suba teges ditu, suba pada kasuratang, tingkahe mangalih luwih, kala nuwut, kene adayang dimanah.

98

97.

Pancasrada kawitang, pangugune mangden jati, lalime ne dadi dasar, pratama mangugu Widi, ring Amane kaping kalih, Karmapala kaping telu, Punarbhawa kaping empat, Moksane pinih wuri, jangkep sampun, ento malu mangden tawang. Pengugunne ring Hyang Titah, anggon dasar ngalih jati, ento mlahang apang tawang, ring kewentenan Hyang Widi, mangden seken jantos ngarti, tan kaworan manah ragu, bapa ngindayang ngawitang, ngwangsitang ragan Hyang Widi, dasar malu, mangden kuwat tanja obah. Mugi tan keneng pinulah, bapa ngojah Sang Hyang Widi, mugi tan kacakrabawa, rawuh ring sang mamiragi, mangguh kayun suci bresih, matinggal ring sila dudu, teleb ngincep kadyatmikan, ngentikang seneng miragi, saha nglantur, teleb sida nglaksanayang.

98.

99.

100. Sapahut ring artin srada, pangugune jati tunggil, disisi teked ketengah, wahyadyatmika tan ganjih, ring tri kaya pang manunggil, yan ring kayun sampun ngugu, ring rawos masih matutang, ring laksana kamarginin, jati kukuh, ntone kabawos masrada. 101. Panca kartyang lalima, Pancasrada kaadanin, kadine bawosang mare, ne patut sandang gugwanin, wus kabacak siki-siki, ne lalima mangden kukuh, wireh ento dasar agama, yan ento tonden kaarti, bisa slingsut, ne pasaja kaden boya. 102. Ne pasaja bakat kutang, sane boya bakat alih, nene jati bakat tingal sane iwang kapagrengin, jantos tuwa katindihin, uli cenik bakat ubuh, kadong demen kakupkupang, kanti lali jantos paling, bas kapulut, tan sida bahan melasang. 103. Yan iraga takut ngentap, margane kocap ring aji, masih takut panggih pacang, takut samah tan knetangin, mimbuh sangsara tandangin, wolih hidup kanti lampus, kakuwub bahan sangsara, bulak-balik jroning sedih, duke nawu, jatinnya apus sangsara. 104. Melah bebasang sapisan, eda takut teken indik, mati hidup suka duhka, kene keto da ajerih, tunggalang apang mangilis, hidepe manurut rurung, rurunge ngungsi utama, yening brengkat tolah-tolih, kweh kadulu, ne ngawe lantud dijalan. 105. Hidepe bakat digetap, nto hidup pawakan mati, hidupe bakat dibebas, ento huripe sejati, sukane dibrengkat keni, ento suka pawakan kewuh, legane bakat digantas, nto kasukan jati luwih, suka nerus, tan bisa mabalik duhka.

99

106. Da ngugu krimikan manah, apan ya juru apusin, ento lodrane suksma, lenged masibeh ban gering, ngawe rasa hidup mati, ngawetwang keweh nawu, ngawe rasa sugih tiwas, jenget bahat nglilig hati, dadi ketug, krana deweke barusah.

Pupuh Durma : XXVI 1. Nuli nyumbah sang Sucita matur nimbal, duh ratu sang maha muni, rupa wus kamanah, munggwing wacanan padanda, wenten lungsur tityang mangkin, mugi ledang, sang tapa ngewacanain. Manut bawos sang tapa kadi ring arsa, jeroning agama siki, ugi mapalihan, taler munat pabinayan, tityang durung tatas uning, manawegang, wacanen dagingnya sami. Sangatapa manimbal sawure banban, pirengang dewa sang kalih, ne mungguh ring tatwa, kabagi kalih nyatwayang, reh duk mraga windu tunggil, dahat sengka, manampen jroning hati. Duke dadwa kadanin Byakta A-Byakta, satwayang ya besik-besik, Byakta kawitang, ento maraga sakala, sarwane ada digumi, ane sida, kahuningin bahan uning. Ento tuwah ne maraga cakrabwana, mraga ngenah kalawan hilid, bek misi kanda, bek misi rahasya, ne tong tong telah ban nyarcanin, twara ada, anak ngawikanin sami. Sakewala manahe nyak mamanah, ne manahin twara lisik, wireh dini ada lwih twara telah-telah, ne luwih ada nglewihin, nanging pada, ngabe nista tan patepi. Sakewala salwir ada dijagat, suka duhka manongosin, tong dadi pasahang, kadi awak lawan lawat, bareng nutug sahi-sahi, keweh mengkeb, reh ya jumahan hati. Kabawosang krana manggih suka duhka, solah deweke ngawinin, yan patut tingkahang, suka pacang temokang, ditelah sukane panggih, buwin tulak, kakewehe pacang ngesil. Yaning hala duhka tan wurung temokang, disuban sukane lisik, balik dadi suka, suba suka buwin duhka, keto nerus pacang panggih, sakewala, nu solahe tindakin.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

100

10.

Agamane nuju sukaning kabyaktan, mayadnya tapa tanmari, tan doh punang brata, miwah sila kalawan yoga, tepet tan ginggang dihati, twara ngetang, tuyuh mamelanin luwih. Yaning sida keto bahan ngamong gama, pitrayana nto kadanin, gama nuju suka, suka aneng kabyaktan, ento kabyudayan kadanin, hento sipat, rajaresine kapuji. Kaparartan ane jati dadi dasar, suka nandang baya pati, manulungin jagat, ento tan surud satata, sahi lagas jroning hati, duk makarya, cara tan makarya patis. Cara dawun candung tan belusin toya, tuwin kadeket nanging kalis, bahan suba elah, tasak jroning ajnyana, uning mangranjingang keris, ring wurangka, muwah wurangka maring keris. Nah amonto malu bapa ngawangsitang, tatwaning kabyaktan cening, jalan ke lanturang, ane madan A- Byakta, ento kasatwayang jani, sakewala, alonalon cening nampi.

11.

12.

13.

14.

Pupuh Ginanti : XXVII 1. Ne madan A-Byakta iku, krunanya malu uningin, kruna dadwa mahangkepan, kadadyang kruna tunggil, A-kalawan Byakta, artinin ya besik-besik. A-nora teges ipun, Byakta ada kahartinin, kasadyane kasinahang, iwawu wus kanten sami, yan ringkes marti tan ada dagingnya nganutin arti. Nora ada sinah sampun, nto A-Byakta kadanin, mahirib ya enu samar, tonden seken ban manampi, melahne jani kawitang, ne ada tets kawitin. Ane dalih ada iku, mawak dadwa atep sahi, twara tahen mabalesang, suka duhka mangawakin, huripe masambung pejah, pejahe hurip nganutin. Sangkan saluwiring tumbuh, kadi rujak huyang-aying, lwir jukut rerambanan, campur madukan ngewehin, ngawenang paling pangrasa, makilit luget ngemengin. Sedk suka sugih pupu, tuwuhe kagetan lisik, dyastu keweh lacur dahat, segere bisa nyukanin, suba lacur tur geleman, suka yan tan alin-alin. Yan sugih tur bajang bagus, madulur nyeneng bupati, ditu kasukanne liwat, nging keweh ngencanang gumi, kalud musuh mangedotang, yaning lawan rusak panggih.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

101

8.

Yadin suba tuwa gudgud, kuping twara ningeh munyi, matane puwikang goba, twin bin telun kal mati, masih ada mayukayang, ban liyu manawang indik. Yadin kala sakit langkung, kanti engsap nyele hati, masih ya mahan kasukan, reh sakite tan rasanin, aketo sahi madukan, nawune tekening sedih. Sukane jeroning hidup, puput tutug sakit hati, lobane sahi kuwangan, sebet reh ada ngelangkungin, lyu dotang tonden bakat, ne sayangang jeg ngalahin. Ane bwatang tan kapangguh, ane dolegin kapngih, kenkenang pang tan barusah, kalud tuwa manyagjagin, gigi gelah mamilara, tedah matamyang caplis. Sangkan watek ada iku, mawak suka mangapusin, saja twah mawak sungglap, tuwi tan mawak sujati, kasar keser twara lana, talektek tan ngawe trepti. Awanan sang jati wiku, hirep ngamong ane suci, tan rungu ring suka duhka, ane ngoda sahi-sahi, ne mancana kabancana, punah ngayuh dadi kasih. Wantah A-Byakta puniku, nyandang gugu tur sungkemin, reh ento hidup pasaja, tan bisa mabalik mati, suka tan kaworan duhka, warastan madukan gering. Yan suba sida katepuk, suwud banya mungklang-mangkling, pati kepug ngalih suka, pamuput lara kapangguh, ento krana patut wilangang, kene malu ban ngitungin. Yan mrasane ada palsu, mawak sungglap suba pasti, uli ditu manyinahang, iaya mawak twara jati, wireh seken twara saja, krana puyung tusing misi. Nora adane nto tuhu, ada saja ne sujati, krana tusing tahen hilang, twara obah kasad kisid, degdeg landuh lana bebas, nyalang suci nirmala hning. Lepas saking sedih imput, tan kahanang lara pati, bebas saking uyang blangsah, keles saking ibuk brangti, tan kalara bedak layah, tan sida antuk misakti. Sukane maikut kenyuh, warase mabalik sakit, makejang ditu tan ada, sok ada suka mangilis, sukane tan mawor duhka, lan waras tan misi gering. Jagate duk durung metu, A-Byaktane ada rihin, sasuban jagate ada, AByaktane manggih kari, nganti hilang hilang ya ijagat, A-Byaktane twara gumit.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

102

21.

Nging watak Byakta iku, saksat ya madewek tatit, pakadepdep samah pisan, enggal genah enggal hilid, ngaredep ajah-ajahan, ring A-Byakta lwir langit. Sadurung tatite metu, suba rihin ada langit, duk tatite enu genah, langite manugur kari, twin tatite suba hilang, langite tilah tan gingsir. Yadin ping keti ping siyu, tatite ya bulak-balik, kradap-kredep ngenah hilang, uli hilang ngredep malih, dilangite ne tan obah, nto imba anggon minehin. Keto masih Sang Hyang Tuduh, duk jagate tan kakardi, jantos wenten mwah pralaya, Hyang Widi manggeh tan gingsir, langgeng Ida mraga ada. Ragan Ida patut tuju, dwaning Ida mraga jati, Ida boya mraga maya, tan patuh tan kapatuhin, ring lwirne ada makejang, sakala niskala sami. Ida nyingak tan pacaksu, nanging sami kauningin, mireng Ida tan pakarna, dadi kawit sami-sami, Ida maraga kapratama, nanging Ida tan kawit. Tan pakawit tan patanggu, mraga tunggil tan kakalih, tan parupa tan paraga, suksma dahating singid, kadi mimyak jroning klapa, nging sang yogi sida manggih. Boya iki boya iku, tan sida ban mangupami, ring weda wus kasinahang, wenten jagate puniki, rawuh jagate punika, wantah Ida ne ngaryanin. Maheswara maha agung, Ida tan kahanan pati, miwah tan pakrana ada, mraga hurip tur nguripin, dyastu ne pacang mralaya, menget tan kahanan lali. Nging yan watak dewa iku, akeh bacakanya sami, taler yan watek Batara, kabawos ugi tan kidik, Ida masih kewentenan, olih Ida Sang Hyang Widi. Munggwing Ida Sang Hyang Tuduh, manggeh Ida mraga siki, dyastu parab Ida katah, tan pisan Ida kabagi, apan boya patuptupan, tan sida bahan ngayunin. Dyastu Ida tan ja patuh, miwah tan ada matuhin, tan matunggilan ring jagat, nanging Ida tan ja gingsir, dija ugi manggeh ada, wyapi wyapaka Hyang Widi. Idane sida sakayun, sakancanne kakaryanin, sami punika kasidan, dyastu ja toyane dingin, yaning api kadadosang, toyane pamragat ngendih.

22.

23.

24.

25.

26.

27.

28.

29.

30.

31.

32.

33.

103

34.

Kapi alit dyastu agung, ne katon yadin ne hilid, kalingke ne suba ada, patuh ban Ida ngaryanin, ne tan ada kawentenang, sakeng kayun Ida sami. Cadu sakti sami mungguh, Astakeswaryane malih, tan telah bahan mawosang, sida puput salwir kapti, yan wus saking kayun Ida, tan sida nulak apalwir. Wantah Ida sang Hyang Tuduh, ngraga Ida ngaryanin, tan akalih boya katah, ne nyarengin mangantinin, ngawentenang ya ijagat, Ida tunggal Kryasakti. Nging yan Ida tan makayun, ngrdi jagate puniki, sinah jagate tan ada, dyastu Ida kryasakti, saking kayun Ida sweca, ngadakang jagat puniki. Krana uning Ida tuhu, twara ada tan kauningin, luwundadahe ring halas, sane kakaberang angin, lawut anyut dija-dija, sami punika kauningin. Semut hirenge paniku, ne mengkeb kalane wengi, yadin dija ya mangenah, yadin kenken ban makelid, kayang krimikan imanah, kapireng lan kacingakin. Uning Idane puniku, Ida tan saking mlajahin, wantah Ida ne sampurna, tan wenten ane ngirangin. Jagate tan jag metu, yan tan ada ne ngardinin, mula ada ane ada, nanging banget mraga licin, ento suba ne ngaryanang, sarwane ada puniki. Kadi gambare puniku, miwah dulange puniki, sinah tan bis jeg ada, yan tan tukang na ngaryanin, keto masih ya ijagat, ne ngaryanin Sang Hyang Widi. Sane tan ada puniku, tan bisa ngawenang napi, kalingke ngadakang ada, krana jagate puniki, sane pecak twara ada, jantan ne ada ngaryanin. Sinah ada ane malu, ne kasengguh Sang Hyang Widi, tan malahad tusing ada, adane tan kakawitin, olihne ngranayang ada, ngraga ada jati. Ne malahad tan ada palsu, ring tatwa tatwa wacenin, wireh mula tan ja ada, pamuputnya nora sami, nene ada manggih ada, malahad nora maya sami. Nto krana melahang malu, mangda tan iwang panampi, twara nyandang dadroponan, kaden ento bane mesib, lagut jahen kaden saja, tan ngeh ken deweke ngipi. Ne jati ada puniku, napiluwir kakryanin, dyastu ngangge ne tan byasa, tan wenten ngawenang rimbit, tan pasrana patuh pragat, nto kabawos Krya sakti.

35.

36.

37.

38.

39.

40.

41.

42.

43.

44.

45.

46.

47.

104

48.

Nging lumbrahe puniku, kanggen awig mangaryanin, mangden imanusa nawang, tur bisa ya mlajahin, kobah kanggen ne maguna, mangde jagate tan sepi. Kadi ya ipunyan nyambu, sinah tan bisa ya mentik, yan tan ada dasar tanah, miwah toyane nyiramin, tur pang maan sinar surya, keto ne byasa kakardi. Bisa ngawenang tan ngugu, yan tan glitik mlajahin, ngedoh ring sang mraga prajnyan, panampen bisa mabading, panake nurunang bapa, kento terus bulak-balik. Lyu sang ririh twara rungu, uli nguni kayang jani, inguh ipun mangantenang, ring ang ngungsi jagat suci, katampenin jadma getap, bes kolotan ngugu Widi. Mula Ida uli ilu, kanti neked kayang jani, tan nyidayang anak nyingak, dewa kala buta buti, samine mnagranjing jagat, tan nahan nyakitin Widi. Apa buwin indik agung, dyastun perindik alit, ngawenag duhkane bakat, yan kanti iwang pamargi, wireh aru twara sinah, sang angkara sengguh jati. Ne kabawos jagat iku, sajawi Ida Hyang Widi, bintang bulan langit surya, rawuh ring dagingnya sami, ne kacingak lan tan kacingak, ngranjing jagat iku sami. Dwaning jagate punika, ngranjing bawu maka sami, rihin pecak nora ada, sadurung Hyang Widi ngardi, yan nyambung malih nakenang, Hyang Widi sira ngaryanin. Tan paaji tan pasunu, tan pasanak jati tunggil, ngraga ngaryanin raga, tan pasrana tan pakanti, banget lyan krana tawah, tan kadi punapi ugi. Apang kanti seken malu, takut bapa tonden ngarti, dyastu ne mawak niskala, kadi dewa kala buti, sajaba Ida Hyang Titah, swarga nraka jagat ngranjing. Yan tan tunggal Sang Hyang Tuduh, kanti lebih ring asiki, sinah ijagat ya rusak, sami ngangken mangaryanin, ngardi bintang lan ne lyanan, ngawenang tabrakan sami. Napi dagingnya isuwung, surya bintang miwah sasih, manggen napi kakaryanang, tang ja tungkas dahat apik, makur matur anut bungah, nganutin marginnya sami. Yening lemahe manerus, sinah gumine ya basmi, balik yan peteng satata, buwung hidup kaliwat dingin, sami mamuwat kagunan, bnatas deweke tan uning.

49.

50.

51.

52.

53.

54.

55.

56.

57.

58.

59.

60.

105

61.

Nguda sombong demen ajum, bantas mare nawang kunyit, keh ne lyan twara tawang, ditu mara mrasa cenik, maha agung wantah Ida, nyandang puji nyumbah bakti. Nto krana nanak bagus, bwana agung bwana alit, raawuh dagingnya makejang, apa lwir ne kacingakin, nyandang anggon paplajahan, sakeng dija kija ngraris. Yan iraga twara rungu, indayang mlahang minehin, yan bantas toya tan ada, tigang dina tan ja lami, punapike karasayang, malih limbkang ngayunin. Nyen ne anggup ngawe tungu, misi mata misi hati, yadin bisa nglawar syap, ngawe ayam twara uning, agung alit sami rata, kicen hurip iku sami. Swecan Ida dahat liyu, nyandang pisan banya bakti, ngaturang sembah pang saja, Tri-Sandhya da ngirangin, tangeh ring dosane katah, mangden jantos kanti nangis. Nandur siki wohnya liyu, kicen suluh budi luwih, nawang jele nawang melah, ne ngenah yadin ne hilid, kicen sanjata Agama, dasa mala mangden dagdi. Sarwa mahurip puniku, manusa pinih utama, sida ngawisesa jagat, bisa makatang ne kapti, sakala miwah niskala, sarwa tatwa kapalajahin. Akal manusa puniku, tan kadi-kadi ngangobin, daging jagate kabongkar, sane kanten yadin hilid, pacang sida ya makatang, yan sang gemet malajahin. Sastra aji dahat liyu, katatwan jagat tan kidik, puyunge bek misi tawah, sarwane rahasya singid, nanging wantah imanusa, kicen sami manyelehin. Bantas mawates puniku, tan sida sami kuningin, tri-lokane dahat linggha, wantah Hyang Tunggal nguningin, dyastu nyujuh katerusang, sinah negehang ilangit. Pacang akedik kepanggih, twara telas bna melajahin, kadi toyaning sagara, wantah aketel kuningin, bantas monto yan makatang, ne lyan tan kauningin. Wireh katatwan Hyang Tuduh, tan patangu tan patepi, yadin kenken ban nyorotang, tuwuhe enggalan lisik, waluya metek ibintang, miwah byase ring pasih.

62.

63.

64.

65.

66.

67.

68.

69.

70.

71.

72.

106

73.

Timan langit ngelah tanggu, wireh jagat ya mangaranjing, yadin kenken ban ngrawatang, pedas kanti kayang mati, masih bingung ban ngenehang, napi malih Sang Hyang Widi. Mangda tan kasepan, tuwuh twara nganteg ban nututin, tur wiweka suba telah, yan ngitungin tanggun langit, pagugu nyandang terapang, keni tan dosane panggih. Mangden kadi sang pangugu, ada kebus jroning agni, wenten manis jroning gula, dyastu tan ja kacingakin, rupan angine majalan, tanda kaanggen manguningin. Sang masrada jati ngugu, pangugune saksat uning, dwaning Ida Hyang Acintya, twara sida ban ngayunin, kadi karnane punika, tan sida nyingakin warni. Awinan sang jati ngugu, yan mawosang Sang Hyang Widi, twara kanggen geguyonan, dwaning Ida maha suci, dahat pingit ajewera, tan awor punyah lan elik. Tuture pang da bes liyu, mangden tan jantos nolegin, dyastu bawak suba melah, yan suba padat maisi, satwa terang na tan iwang, tta titi da ngimpasin. Dyastu nawang tatwa liyu, yan ampah ring tata titi, mingkin ngagu munyi agal, unduk cenik tan kauningin, jantos akeh anak nyeda, pragat buwung kademenin. Agamane melahang nuluh, wirwh ento margane jati, ento anggon suluh tekekang, mangden ngenah ne tan jati, ne suka pang kakeniyang, ne langgeng mangdennya panggih. Nanging ngamel mangda kukuh, tan obah miwah tan ganjih, ne iwang nyandang tinggalang, ne patut manggehang ugi, masih desa kala patra, keni adung tan bes nitik. Lemuh kukuh tanja bingung, ring salwir ne pakryanin, tan lempas ring sastra gama, saha nunas ring Hyang Widi, mangda tujuwane kasidan mugi Ida ngalugrahin. Tur klan nampi hala hayu, sida tatakin, yan suba sakeng mutsaha, suka duhka sakeng Widi, dyastu pakewuhne bakat, manggeh bakti ring Hyang Widi.

74.

75.

76.

77.

78.

79.

80.

81.

82.

83.

107

84.

Ida ledang yan kasungsung, kastawa miwah kapuji, kabaktinin saha sembah, dwaning patut nyandang puji, Ida tan kadi manusa, blog-sigug nagih baktinin. Jatin manusane iku, kawantenang ban Hyang Widi, pratama sembah punika, ne dados tetujon jati, miwah keraharjan jagat, tur uning ring kawon becik. Nging yan bengkung twara ngugu, ring kawentenan Hyang Widi, tan nyak bakti tan nyak nyumbah, turin nutur maboyanin, miwah twmpal ring agama, nto ne ngardi bendun Widi. Yaning Ida suba bendu, sinah kicen ne mangresin, ditu pacang nyelsel awak, kija man laku makalid, wireh Ida mraga tunggal, ngewisesa sami-sami. Nguda Ida bisa bendu, da bwin nanak salah ngarti, sami Ida ngawisesa, Ida jati maha adil, ngardi karahayun jagat, kicen kawon sang nungkasin. Nguda deweke tan takut, Ida twara kakimudin, kita jele manah melah, Ida uning maka sami, jagate Ida nuwenang, tur Ida pacang ngadilin. Ma- Tri sandhya sanget luwung, cihna bakti ring Hyang Widi, nunas ledang pangampura, saha ngicen sinar budi, dosa papa mangda buyar, hidup mati molih linggih. Rikala nyumbah Hyang Tuduh, kayune mangda mangilis, damindayang rupan Ida, kadi nika kadi niki, yan mindayang sinah boya, ngawinang boyane panggih. Awanan da salah sengguh, ring ne pratama baktinin, mangdennya tan salah sumbah, ring tatujune maktinin, yan tan ngarti bisa nyasar, baktine tan katampenin. Pang tegep indik puniku, ring tatuwe sembah wacanin, ne kabawos catur sembah, tikas nyembah sang Hyang Widi, miwah ne lyan-lyanan, punika patut uningin. Kocap sembahe puniku, ne katur ring Sang Hyang Widi, yan nyabran kalaksanayang, banget manyedangang budi, pangugu bisa nelebang, nglisang ne kapti panggih. Dosa papa kliwat liyu, mrasa lege yan tan ajin, sinah twara pacang sida, yan tan saking kaswecanin, utsaha malu jalanang, yan ngalih saluwir kapti. Ngaba dosa pang da liyu, becik sekenang mitbitin, dina latri melah pedasang, pang eling nureksa diri, apa patut apa iwang, yan iwang becikang malih.

85.

86.

87.

88.

89.

90.

91.

92.

93.

94.

95.

96.

108

97.

Dyastu laksanane hayu, yan tan ngugu Sang Hyang Widi, masih ento ngranayang dosa, apa bwin twara bakti, tan nyak mangaturang sembah, wadah becik tan paisi. Mangda woh ipun kapupu, tan ngrawos kewanten becik, sila keneh apang melah, kiang yan tan misi bakti, ring sang mraga Paramatma, wireh Ida ngicen hurip. Idane tunasin suluh, mangdennya tan kabingungin, olih sang pinaka goda, ne state mamanjingin, ngawe sangkala dimarga, kabrorot ya kema mai.

98.

99.

100. Ruurng agamane duluh, saha nunas ring Hyang Widi, ngungsi swarga yadin moksa, eda ngedohin angka siki, iraga matan titiran, mugi pangguh ne kaapti. 101. Sadripune bisa ngunggul, angkarane ngendih sahi, twara sida ban ngalahang, yan ngandel dewek pedidi, tan kabih ban kaprajnyanan, minakadi Sang Hyang Widi. 102. Maguru masih pang liyu, sastrane sahi wacenin, mlahang nyaringin ring manah, pang bakat sarinnya sami, ne encen jele dadi tinggal, sane tuhu anggen margi. 103. Mangdennya tan salah laku, awanan nyandang nto cening, Sastraktah Guruktah Swatah, anggon pangater dimargi, mangden tan manados iwang, wireh liyu samar singid. 104. Ne tan jati bakat tuju, ne iwang bakat tindihin, awanan sang mraga jagra, cengeh pesan mabitbitin, ulli dija sujatinnya, tan kengin iwang pangarti. 105. Awanan Ida tan jag ngugu, lagute kakecap aji, melahang malu manimbangang, lagut anak morta sakti, sinah iwang yan nuwutang, suba dudu sengguh jati. 106. Paplajahan dahat liyu, adwa tuhu tan kauningin, tuna sastra ngardi iwang, babandingan twara polih, enggal ngugu ne tan saja, tatwa jati tan demenin. 107. Iwange ngawenang tuyuh, ne kabwatang tan ja panggih, ngulah aluh apang bakat, ngedot kasub nagih sakti, kwangan tasik nagih jaljal, tonden sakti suba pedih. 108. Ring sang angkara puniku, ngawe jepjepan ring hati, yen sami kicen ngeniyang, ne ngawenang teguh sakti, jagate bisa ya rusak, jagadita tan ja panggih.

109

109. Minab nanak suba rungu, sedih bapa mnayingakin, jagate malomba-lomba, ngalih suka anggen jani, takut pahek ring sang dharma, yaning pinget salah tampi. 110. Wireh kitane bes liyu, encen tinggal encen alih, makejang anggon dalihan, ane ngranayang durung ngiring, ngiring Ida sang Darmika, ngungsi kasukane hati. 111. Pantes sing nyak kema milu, yan tan bani ngutang gumi, tersnane nglilit kuwat, pang maan malu bwin abedik, twara payu yan tan paksa, kadong mara suwud manyi. 112. Tan pakolih ngardi hayu, yan ring pnaloka ngawitin, nadyan kawonne margyang, twara ada ne ngetangin, wireh suba kaputputang, ditu ngalap wohnya sami. 113. Duk nu hurip mlahang malu, dini bantas titi ngalih, swarga nraka yadin moksa, nyen ngorahin tekan mati, kasepan enggalan mapag, watek kingkara nyakitin. 114. Yan pantun sane katandur, mula padi sane mentik, nuwut ragan sang masolah, lawate sane ring cermin, sang atma tan bisa pejah, dyastu sarirane basmi. 115. Sang jiwatma kadi kaput, keweh yan pacang mawali, ring sangkan Hyang Paramatma, yan sang angkara ngalilit, kategul ya katekekang, kajak kapus kema mahi. 116. Mrasa sakti brana liyu, kaleganne twara kedik, nanging ditu pacang nyerah, apa artin dukin hurip, kija baguse ipidan nguda tuwane nyagjagin. 117. Krana ngiyetang ngungsi hayu, kadi nyanan lakar mati, nging kalane ngalih arta, rasayang tan mati-mati, asal uliyan pang melah, anggon bekel kayang mati. 118. Da nembara selegang malu, margine mangen uningin, ring luwase pacang kija, pangrawuhe saking napi, awanan ada inanak, ada apa ring ragan cening. 119. Kenken pecak duke malu, jantos cening teka mai, bareng dini ngajak bapa, nyen ragan ceninge jati, tur nyen pada sane kaajak, lantas kija pacang ngraris. 120. Yan sang nastika puniku, tan pisan ipun ngagwanin, kawentenan swarga nraka, minakadi Sang Hyang Widi, wireh ipun tan ngantenang, ada jagat ring alat pasih.

110

121. Yan ring dademenan ipun, ring anak istri makadi, kapuji ya peteng lemah, nanging tan mahan mamuji, ring sang ngaryanin puniku, sang jegeg ne ngajolotin. 122. Mangge padam ipun hidup, nanging padem anggen nitis, karmapala tan kagega, unduk mati tan kitungin, yaning mati bantas bangka, yaning bangka bantas mati. 123. Yan suba dosane liyu, keweh pacang manyutsutin, kanti teked kayang pejah, sang atma sumingkin lami, mahukum ring punarbawa, sangsarane twara ledis. 124. Ring nraka loka akit kebus, tan wenten rasane becik, nangin ring swarga loka, bebas ring rasane sakit, tlas kapupu malih ya luwas, mangjadma lahat nganutin. 125. Yan becik wasane puniku, genah becik kapanggihin, yan tan luwung iwasane, genah nista kapanggihin, yan amadya sedeng bakat, keto bulakbalik panggih. 126. Yadin kikit dyastu liyu, karma dadi bukti saksi, sang makarma yogya ngalap, tan dadi tulak kelidin, ada karma ada pala, mula keto banget adil. 127. Nging dyastu karmane hayu, yan Ida Hyang Titah nguji, tungkalik penadosanya, kaden kawon teka becik, patut swarga dadi nraka, Titah ngawisesa sami. 128. Enyen ngobah ngardi hayu, utsaha malu kardinin, pangda nyerahang ring Titah, ne ngawenang ngekoh hati, yan suba karmane melah, Titah ne mutusang pasti. 129. Yan suba karmane hayu sinah hayune kapanggih, yan solahe twara melah, janten kawonne panggihin, suka duhka saking karma, nto masih ngawe umadi. 130. Yan karmane hurip nerus, palanya tan bisa mati, jantos sampurna dijagat, malinder ya kema mai, utpeti stitine bakat, miwah pralina tan lisik. 131. Yan jagung bibit puniku, pedas jagung sane mentik, yan dursila dadi lahad, solah keto ne neketin, kawon becik sakeng lahad, dadi watek ang dumadi. 132. Jnyanan sang mraga putus, karmane sane dinagdi, ne rihin mangkin lan jemah, kita takute kabasmi, ne kajujur wantah moksa, sarwa ngapus katinggalin.

111

133. Kaleganne yan dimalu, sebete wantas diwuri, yan bongkole bakat jemak, tansah muncuke ngatutin, ngengsut ring cakra gilingan, malinder ring hidup mati. 134. Yan ida sang mraga putus, hurip tunggile kaungsi, jnyanan ida langgeng kuwat, maraga utama sidi, pateh twara ada bina, iwang patut kawon becik. 135. Panampene patuh landuh, hidup mati tan ketangin, tatas ring pawakan sungglap, ne mangapus dina latri, sang lumah nyengguhang saja, twara tanggeh teken ngipi. 136. Yan tan sida ngrasa patuh, sang jiwatma kabelatin, olih sang angkara ngodag, huripe kaden tan tunggil, mrasa lebih ngrdi bina, ring Atma jatinnya tuinggil. 137. Yoga suba sanget kasuh, watek dewa sanget muji, enggal ngidayang makatang, sarwane rahasya singid, ento titi sanget kuwat, nggen ngliwatin ne tan jati. 138. Wantah manusa puniku, moksa padanne mangguhing, jants iri ne lyanan, dewa kala buta buti, tan sida pacang makatang, krana jani mlah wulati. 139. Bisa buwung yan nu ragu, wireh kitane tan kidik, sami kantun mrasa nungkak, twara bisa mamilihin, makejang nagih pang bakat, nanging takut ngutang iri. 140. Satonden kawruhe liyu, da nyen masih jeg mamargi, wireh marga dahat rungka, bancana akeh ring margi, sang tambet ngawenang edan, budi satwa ical sami. 141. Yan suba kawruhe liyu, da takut yan katakutin, da sangsaya mapragatan, dyastu ja mapwara mati, kawon becik tan kawilang, moksa manggih ne kaungsi. 142. Ditu ada suka nerus, degdeg langgeng sida kapti, jiwatma ring paramatma, suba nunggil suci bresih, luputin sangsara baya, lekad hidup miwah mati. 143. Yan entone suba pangguh, puput tan malih dumadi, huripe tan bisa pejah, sok bantas juru nguningin, nging tan bareng kalinderang, ring ne suba kauningin. 144. Karmane yan twara puwun, ankarane tan ja mati, sangsarane twara telah, sang atma tan sida wali, matunggilan ring ne sangkan, moksa pada tan ja keni.

112

145. Mawinan malinder terus, numadi ya kemu mai, bas nyelap ngalih sangsara, kanti nerus ada hurip, yan sang makarma tan ada, kayang apa twara kari. 146. Jemet ngakwin sane dudu, sing nyak degeng demen ngritip, kita takut dadi rajah, karmane ngawenang hurip, nguripang salwiring ada, pada misi buka jani. 147. Sang atma kahanan bingung, ne mula dahating bresih, ngawit leteh keni maya, mayan wisaya ngelangenin, mentik kitane dot bakat, bakate mabuwah sakit. 148. Ada bongkol ada muncuk, krana kawuh ngardi kangin, nyemak api kebus bakat, krana karma ngawe dadi, yan karma twara ada, ne ada bareng ya lisik. 149. Nanging bawose ibawu, bantas mare jroning budi, masih bawos jroning jagat, nto kahanan Sang Hyang Widi, Ida boya ngranjing maya, pang da nyan iwang panampi. 150. Ne bawose kadi lemuh, mimbuh kewewehin legit, bisa leget yaning iwang, panampenne ring Hyang Kawi, ne mraga antakarana, kawit krana sami-sami. 151. Akah karmane yan cabut, sami punyan ipun mati, carang etuh dawun aas, wohnya tan pacang kapetik, ne manis yadin ne lalah, krya telah jagat ledis. 152. Yan telektek terus duluh, perindikanne digumi, jati dahating rahasya, sakeng panampen ngawinin, encen jele encen melah, bisa kawuh bawu kangin. 153. Kadi ya gagiring punglu, miwah unteng bawang malih, kewentenanne dijagat, kaden ento masih tusing, encen tudun dija basang, yan tan degeng twara keni. 154. Sayange ngawenang buwung, takute ngardi makirig, tambete ngentikang iwang, tamahe sanget ngedetin, kadalone ngawe engsap, nyudi moksa ento pang bresih. 155. Karmane yan suba puwun, apin angkarane mati, lengis damare dadakan, kentungan ring gangga mili, anyud rawuh kasagara, amor ring Acintya nunggil. 156. Sang jiwatma bawu tumus, sida mawali ring aji, bebas landuh ngawisesa, waluya jati mraga jati, maya palsu tan kaworan, ditu nunggil ring Hyang Widi. 157. Melahang pesan bagus nuluh, eda ampah ring batu ganjih, eda kendel kaden enggal, ngenjekin batune belig, ring sang plapan sida ngliwat, aywa lupa aja lali.

113

158. Yan ngalihne ada palsu, saksat baya ngejuk tatit, kenken ban ngemel kedepan, sok tuyuh bakat puponin, lawas kapus twara tawang, sakit awak tan rasanin. 159. Ento krana cening bagus, tuture dadi tungkalik, A Byaktane jati ada, ne kartinin nora ituni, Byaktane maharti ada, nora ada ya tungkalik. 160. Sang Subudi matur kenyung, duh ratu sadaka luwih, tityang manggih rasa anyar, reh tembe tityang mamangih, sane pecak krasa bahat, mabalik mrasa iying. 161. Jagate nadak masilur, rasayang tityang ne mangkin, suwunge ne mrasa tiwas, nadak mangkin mrasa sugih, jagate sugih ipidan, mangkin tiwas nglidig. 162. Tan lyan bawos sang empu, ne madingang rasan gumi, awinan tityang ndawegang, malihin tityang lugrahin, wacane sat tutuh mata, kaduk nyak sayan ngetonin. 163. Sang empu masawur halus, duh cening bagus Subudi, jati cening luwih purusa, bani ngutang sugih digumi, nglalu ngranjingin suniya, mangalih sukaning sepi. 164. Nanging dyastu wus kadulu, ngejuk apang bakat ketil, yaning durung manyidayang, ngalahang sadripu sakti, awanan dewa sekenang, malajah mangdennya keni. 165. Kadalon kiyul lan takut, leket dot miwah runtik, ento sadripu adannya, dadi akah pancer gering, ento duweg mamingungang, angkan banya sahi paling. 166. Ane iwang kaden patut, ane hala hayu dalih, ane langgeng tan bisa obah, bantas nengil kaden mati, ane onyah bane nyak ngendah, nto sengguh hidup sujati. 167. Walinin satwayang malu, sadripune ento jumunin, ento dadi bibit kuwat, sangkan mentik punya dihati, punyan watak mrasa ada, ne mabuwah lara pati. 168. Takute satwayang malu, kupak apang kadung ajin, takut mati dadi dasar, makrana mangalih bukti, suba buktine buktyang, rasa jahen keni rasanin. 169. Uli jahan edot metu, dote ngawenang mentik, loba nagih liyu ngelah, yan kasidan ngadalonin, tong logas-logas matinggal, mapatok masehet mati.

114

170. Saking kadalone metu, leket tan dadi balasin, saking leket runtik medal, runtik teken ne ngalangin, sastra gamane mihalang, nto purug bakat musuhin. 171. Buwin jumunin manutur, takute mati kawitin, reh musti apang mahan, alih ane patut bukti, yan saking patut tan mahan, sinaha bani uli pelih. 172. Banine lekadang takut, sinah dadi twara bani, pamulihnya masih getap, wireh ne panggih digumi, twara lyan lawat awak, kudyang pacang melahibin. 173. Keto jatinnya itakut, salwir ane kakardi, sinah pawakan sengkala, jatinnya pawakan mati, ento mretyu adannya, krana melahang ngitungin. 174. Saja sanget sulit hidup, apang keles huli sakit, sat nyebit bok apah dasa, myakang kebus uli api, yan depin awake lara, yaning garap lintang ketil. 175. Yan ambulang tulus lacur, yan pedihang bantas brangti, yan elingang sedih temokang, melah jwa jani jalanin, ngibras-ngibrasang dimanah, reh tong ada ngalangganing. 176. Sastra gamane ento rumrum, gulis cucudang takonin, ento sereg luwung pesan, pamunglah wiweka luwih, ne mungguh tengahe manah, paican Ida Hyang Widi. 177. Kene malu bahan bagus, sat anggon panganti-anti, nganti nugrahan Hyang Titah, anggon nglipur ibuk paling, hala hayune patuhang, eda sanget mangegwanin. 178. Yan gugu sumingkin hidup, sumingkin mrasa dihati, reh mangugu suka duhka, saksat nyagjag satru sakti, sadripune mokoh onya, nyumingkin kuwat nyakitin. 179. Kengkenang ban tan mangugu, ento sekenang ane jani, mangdennya tan salah tindak, apang eda mawuwuh paling, da sebet mwah da girang, yaning hala hayu panggih. 180. Dakendel yaning kaajum, da girang yaning manggih becik, da sebet yaning kaceda, yadin halane kapanggih, nanging ngalap sila darma, eda takut eda lekig. 181. Nawangunan darma sadhu, miwah tingkahne nyalanin, ento pacang manyidayang, munahang sadripu sakti, nawange jati ngawenang, elah anteng ngardi iying.

115

182. Damare ento nyandang tiru, twara ja saking pacadi, tekening sang nyilib nyorah, tan saking buwat nyuluhin, watak sang manabdab payas, tan saking sebet lan kasih. 183. Miwah tan sangkaning takut, teken peteng krana ngendih, tan saking dot ninjo goba, jeg ngendih galang nyukanin, mendep twara liyu satwa, jati tan buwat ring perih. 184. Keto bahan nabdab kayun, solahe pacang nindakin, ane mahadan kadarman, da saking dot dot kapuji, miwah da dot apang warga, apang da abot ngaba perih. 185. Boya saking lek dikayun, krana nganggon darma budi, tan saking takut nraka, meneng teke jag jalanin, mati hidup ya patuhang, yadin suka duhka panggih.

Pupuh Pucung : XXVIII 1. Nanak bagus melahang manampi tutur, pangda salah tindak, muwah bapa ngawalenin, ne iwawu, mipit enu samar pisan. Yan jeg patuh, satondene jadi putus, bia dadi lara, amretane dadi cetik, krana bagus, kene bahan matindakan. Alih malu, kakwatane jati kukuh, ne suba mategar, ngalahang loba brangti, sipok sigug, tur suba nyaya indrya. Turin sampun, mabalik halep tur pangus, sahi madalem anak, iying manulung nyagjagin, sang pakeyuh, tan takut melanin anak. Twara surud, ngawe anak pang rahayu, nganut kaparartan, tuhu sadu welas asih, uli ditu, rasan patuhe ya garap. Eda nyen ganggu, mangalih rasane patuh, uli lobangkara, mangulurin loba brangti, reh tan wurung, pacang mapwara baya. Lagut patuh tatakrama anggah ungguh, pang bisa palapan, ring nista madya utami, munyi halus, banban rawuh kayun galang. Ada iku, akeh lyan tan ja patuh, desa kala patra, mangden bisa manganutin, turin adung, tan bas tngkas ring agama. Wireh liyu, caran sang mangungsi hayu, nanging bisa rusak, yan agama kalempasin, pan to tuhu, sabdan Ida Sang Hyang Titah.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

116

10.

Apan liyu, margane kasengguh hayu, melahang manimbang, pang da ngawe anak bani, wireh liyu, panyangkalane ring marga. Tunggak kayu, dipetenge tongos saru, uning nylimet mata, kaden tonya kaden kambing, bisa ngugu, satondennya jati tawang. Dyastu ruruh, genahe kasengguh hayu, bisa pangguh bina, yan sang manampenin salit, salah gugu, mlahang ngitung pang da iwang. Saling tulung, laksanane hayu da majak-ajakan, ngungsi margane tan becik, sinah runtuh, macemplung ring kaduhkitan. Dyastu ngubu, doh ring genahe matulung, encotang gibrasang, saking tresna silih asih, yadin tujuh, kadang mitra kakeniyang. Apan tuhu, ajak onya demen rahayu, eda tan harimbawa, wireh hurip jati tunggil, pang mangugu, patuh paturu ngelah rasa Eda jeg nawu, teekn anak tan mangguh hayu, pangda mangejohang, wlas asihe twara pangggih, mangden nerus, irihatine pang kedas. Mangda kukuh, ring nyama braya pang rungu, eda mapi tan renga, bobok tresnane enyitin, anggon suluh, tulung tumulung pang lagas. Ajak liyu, pancarenane kalingu, hutange lalima, eda engsap mangda eling, ne enggen nawur, panca yadnya tan ja lyan. Eda tan rungu ring kahyangan kanti rubuh, becikang pang melah, pamrajan sanggar utawi, yadnya iku, ngutamayang Sang Hyang Titah. Ring sang putus, sang ngicen marga rahayu, nyandang nto elingang, saking kayun mulus bakti, mangden lantur, nto masih pinaka puniya. Eda tan lingu, ring buta kala tan ngugu, ne sring nagih upah, mancana sajroning hurip, nyandang malu, da bas gabah pang da iwang. Pang mamupu, melahang ngertiyang sunu, mangden molih yasa, ngawe legan anak sahi, keni liyu, polih ngardi sukan jagat. Cening bagus, ring byang aji da bas purun, apan ngawe tulah, butakala manyusupin, pagalantur, ngawenang tan polih genah. Pangda uwug, ring leluhur pangda tukung, yasa da ngengsapang, sweca bakti sami eling, pang matemu, kerti yasa tan ja pasah.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

21.

22.

23.

24.

117

25.

Mangda liyu, mamula laksana hayu, saha mangacepang, mangde lami memanggihin, genah hayu, duhka adoh suka bakat. Duweg nutur, yadin nawang tatwa liyu, nanging nto makejang, tan tahen kalaksanain, kadi taru, dawun ngrembun tan pabuwah. Yan mapangguh, ring sapa sira kapatut, nanging ne cerikan, kayogyayang ngarihinin, saha nunduk Swastyastu ne kucapang. Swastyastu, marti ngayubagya dumun, saha mangacepang, mangda sida sareng sami, manggih hayu, asih kumasih tan pegat. Katon ngagu, yan mapi twara ya rungu, macunduk dijalan, dyastu dija-dija panggih, eda kimud, nyapatin ne mule tawang. Lyunan guyu, ngawe anak tan mangugu, nyadcad nganistayang, misuna mobab mamaling, ngawe rusuh, mitra ngendoh satru pahak. Eda nyan ajum, nagih tongos pang dimalu, saking dot pang ngenah, tanja saking tresna asih, yan matulung, tan becik yan terus ical. Mangda tuhu, pangda ikuh dadi ulu, jantos salah tindak, bas jemetan dadi pelih, ngaku-aku, kadin melah pragat iwang. Ne dimalu, dados imba pang kaanut, ulune tan iwang, tresna asih sane adil, mrasa patuh, karya abot dadi dangan. Marasa patuh, twara ngitung dewek tuyuh, yan nyalanang darma, twara mamwatang pikolih, ngawe hayu, tan takut yan kanistayang. Kanti adung, ngawe suka ajak liyu, yan sida makejang, dyastu ada siki kalih, ne tan adung, tan nyandang ya kakobetang. Nging sang sadu, miwah sang mraga putus, dyastu ja makejang, anake twara ngadungin, tanja surud, manggeh ngungsi kasuniyatan. Monto malu, bwin pidan jalan sambung, wireh suba teka, gantin bapa ngarga jani, raris matur, sang kalih mapamit nyumbah.

26.

27.

28.

29.

30.

31.

32.

33.

34.

35.

36.

37.

Pupuh Durma : XXIX 1. Kacarita sang bagus kalih mamarga, mangungsi bulakan suci, pun ibuset petak, tanmari mangiringang, mangentap halase pingit, krura pisan, pangkunge manyanding iding.

118

2.

Kabinawe reh kutan wateking mrega, panjak sang singa bupati, gajah warak barwang, makadi macan tan kirang, matimbal-timbal piragi, swaran kidang, nyerit sarap singapati. Teka bebas sang kalih tan halang-halang, twara bani tan ajerih, wireh kapuputang, kayunne andel ring Titah, ne mangamong pati hurip, tuhu wisesa, tepet tan keni uwah-uwih. Apan mula twara dadi tagih tulak, hidupe kalawan mati, apan suba pragat, ngaba ceket uling suba, saduke tuwun dumadi, twara ada, apa luwir sida guhgih. Yaning suba samayan Ida sang Hyang Titah, nyabut jiwan sang mahurip, yadin kudang balyan, manyaga di gedong waja, tan wangdenan masih mati, keto pragat, papineh Ida sang kalih. Yadin suba ibojog putih parcaya, ring Ida sang bagus kalih, lagas ring pramana, wireh pratingkahe bebas, tan ada maciri ajrih, kadi nyalyan, ditlaga toyane bresih. Sakewale reh buset dahat prayayna, ceceh munggha maninjowin, singya ada baya, ngawas ngasir nganggen rasa, nyaliscis sepi mangintip, tedun jahan, mawangsit matur manglisin. Ajah-ajahan ipun iwanara petak, tedun munggha dahat sering, becat tatit saksat, Sang Subudi mangandika, uduh sang Sucita adi, nang kayunang unduk ya ibuset putih. Tembe saja twara nyak matuturan, kadi len tingkahnya jani, mirib ada krasa, ne pacang mangawe baya, nyangkala banya dimargi, wireh iya, twara ja buron sujati. Beli narka bilih ya ibuset petak, paragayan idewa luwih, marupa wanara, pratingkahnya nyihnayang, munyi halus solah luwih, nto ngobayang, hatinnya sujati bresih. Yaning suba hatinnya sujati kedas, lwir gedah nyalang suci, sinaha ya mlawat, saluwir ada dijagat, makrana celang dihati, mrasa tawang, unduke pacang kapanggih. Ento krana adi nyandag prayatna, sinaha ya ibuset putih, mangrasa dimanah, yening apa kapo pacang, kapanggih tengahing margi, ane nyandang, twara ampahang dihati.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

119

13.

Bawu pisan bawose rawuh irika, kaget makrebwak piragi, kasep sang kalih nyingak, kaget iwanara petak, macebur nyawup sang kalih, kadi kilap, nyandar jeg baduwur gelis. Kaget singa gemrong dadwa manulangak, maswara nyyebak ngempengin, calingyane nyanyap, bungut dalem tur linggah, sat rurung mretyu wyakti, layah panjang, maledled lwir nagapati.

14.

Pupuh Sinom : XXX 1. Ibuset ngamel sang karowa, sang kalih tan tahan ring hati, kaget ipun nangkejutang, makriyap kilape lilih, lwir genjong Hyang Pratiwi, isinga engsap manyingkrung, twara inget teken awak, kuoingnya alah pegatin, hwat ipun, sakit kahati mamedah. Sang kalih meneng kamegan, reh unduke ngaliwatin, sanget tong maha ring manah, sangkan angobe tan sipi, yaning ida tan kagisi, bahan sang Artati iku, bilih runtuh tan pawanan, bahan santer mangempengin, swaran ipun, henteng katos kadi waja. Ibuset nuli angucap, matur ring Ida sang kalih, mangda malinggih dicampang, ibuset macebur raris, awak isinga benengin, lawut ya dangkrak dungkruk, binal mapo maplisahan, majujuk sambil makejit, kinyak kinyuk, girang makejog-kejogan. Nguntul ya magesgesan, ngawud taluh kutu cepil, kapunggut tur kaciplakang, sambil tanmari manoleh, mangawas ida sang kalih, jajak jujuk medem bangun, mangusap usap tendasnya, nuli singane magenti, nto kaduluh, mapo nyumprit malagendah. Tlas sipating kawanaran, ne mula mabikas culig, duk punika kapintonang, sang kalih bengong nyingakin, twara masabda acepik, sok ngurimik jroning kayun, olih kateheb maobah, manadi angob tan gigis, bwin masilur manados nawu manadak. Iwanara raris munggah, matur ring ida sang kalih, ampurayang ratu tityang, congah ngawit saking bakti, kasep matur jeg mangambil, manyawup mundut iratu, malahib mangajak munggah, reh nadak tityang ngetonin, singa agung kakalih managih nyarap. Wantah sakeng ituniyan, tityang rumasa ring hati, antuke tan makantenan, mawinan ngawas tanmari, ngiring ne mangkin kawonin, malih jahan ipun bangun, yawat iratu ngelahang, antuk umandel ring hati, nanging kantun, becikan yan pade tinggal.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

120

8.

Sang rowa ndatan nyawurang, puput ajum jroning hati, muwuh kendel miwah girang, rumasa sangat mabati, masarga ring sang Artati, wireh saktine kalangkung, nuli tedun masarengan, Sapuput ia masiram, saha mangastawa Widi, ibuset raris ngelisang, ngaturin mangda mamargi, antuk wenten toya malih, ne bresih utama langkung, tan banget adoh genahnya, sang kalih ledang nututin, rita rawuh, ring klebutan marganuga. Gumlengannya dahat linggah, lwir cahyan dewa-dewi, mmuncar munggha suci galang, tejan toyanne ngangobin, wyakti jati utami, saking rupa maweh hayu, kuning manyudayang mala, sadripune kadi ajrih, ical rarud, suwud ngput manah galang. Sangkan Ida sang karowa, mawuwuh kayunne bresih, bawu nyingak tejan toya, ne muncar galang tur asri, dyastu durung manyiramin, kotamannya nyusup sampun, apan rupa sabda rasa, sparsa lan ganda malih, sahi ngatut, mula keweh mamasahang. Jroning ganda ada rasa, jroning rasa rupa misi, tengah rupa ada sparsa, tengah sparsa sabda misi, bhineka ya tunggal sahi, twara dadi pegat caplus, apan mula mawak tungal, indryane bina nalih, yan sang weruh, twara tahen kabingungan. Suwud ngundaka tarpana, Sang Artati matur haris, inggih ratu panembahan, oncret-oncrete mamunyi, sakadi matur pihuning, midartayang sore sampun, apan suryane tan cingak, kaput mendung hawub malih, nyandang sampun, ngawilangin pasanggrahan. Sang Sucita matur nimbal, Ira manyerah ken cai, yan twah ada pasraman, ane tampek uli dini, mirib melahan kema tangkil, nanging Ira twara tahu, sangkan cai mangitungang, ira puput manututin, raris matur, ibuset ya saha sembah.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

Pupuh Pucung : XXXI 1. Inggih ratu sang tuhu tumulus asung, nugraha ring tityang, nulung pyanak lan nguripin, ukuh putung, ngedas tan ngelah sentang. Tiba kawuh, wenten bukit tuhu luwung, Grenawati ngaran, Sang Amitaba maharsi, ditu mlungguh, mundi tapa Buda paksa. Yan iratu, saat pacang pendek ditu, mangda tan wengyan, reh adoh saking iriki, jantos dumun, wenten kaksihan tityang.

2.

3.

121

4.

Keni ipun, mangiring mundut iratu, tityang boya kesah, wus matur raris manyerit, lwir guruh, tan asuwe gajah prapta. Lintang agung, gajah putih krura langkung, gelising carita munggah, sangkalih nuli mamargi, beneng kawuh , tan kidik mangentap rungka. Sayan muwug, iconge-conge ya umung, jangih manwirama, nanging masih nyak mahirib, taruni takut, tulung-tulung ya kakosa. Sore sampun, Hyamg surya mangendas surup, sang tri tengah marga, bawose tan pegat mijil, saling sahur ring tundun duwur igajah. Muwuh nawu, mireng swaran paksi umuh, mamilih pedeman, mahren-ren tan kidik, duhur turu, agung mirib pasangrahan. Nuju luwung, pamargine nuluh munduk, ane melah galang, apan taru arang mentik, ngawe nawu, entikan padange atap. Sedeng luwung langite terang kadulu, ada gulem langah, pegata ya rorodang angin, becat nambung, ajahan manadi hilang. Malih mabur, gulem tipis sanget halus, warnannyane ngendah, barak gadang biru kuning, reh kasuluh, tejan Hyang Baskara sanje. Teka luwung, nyak mirib luwir kakudung, watek Widyadara, masarengan Widyadari, makulangun, manuju Gungung Kelasa. Gelis surup, ida sang hyang rawi sampun, sok tejane cingak, bungah asri haneng langit, musna lawut, nimbal bulane manyundar. Bintang milu nyentokang palyat luwung, tur mawuwuh bungah, langite ya galang bresih, reh tankantun, wenten mendunge marawat.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

Pupuh Smarandana : XXXII 1. Ibuset mahatur raris, sawuse makcos negak, diduhur hulun igajah, nungkruk sambil malyat munggah, duh ratu sang bagus karwa, cingak ja langite luwung, nguwub jagat bintang bulan. Yan ida sang maharsi, nyingak langit bresih galang, ditu ida kasurupan, bahan ajnyanane sukla, jantos meneng kadi lipya, ring sukaning jagat wibuh, tukulang ajnyana galang.

2.

122

3.

Ditu ida masamadi, ngincep Hyang Byoma Siwa, sang wyapakeng bwana, dadi guruning sahana, gurun hidup gurun pejah, gurun teja gurun bayu, gurun bumi lan sagara. Pateh sapunika ugi, yan ida sang maha dwija, kalaning manyingak toya, sane hetis hening nyalang, teka nyak mentik nadak, kayunne suda manerus, manunggal ring sanghyang sangkan. Yan ida sang maha muni, ring atma mrasa elah, matemu ring Hyang Suksma, yaning yan anake katah, yening mangetoning pura, teka nyak krasa ditu, batara manggeh malinggih. Yadin ne katuju tunggil, carane pacang makatang, twara dangan mamatuhang, masih nganutin adungan, cara ngalih wareg basang, ring kentang yaning tan adung, dados jagung miwah beras. Sapunika kapiragi, antuk tityang ikatunan, iwang patutnya punika, iratu sinah pawikan, apan putusing prajnyan, tityang puput mangalungsur, Sang Subudi nyahur nimbal. Saja cai sang Artati, tuhu sakti miwah prajnyan, aget ira masawitra, reh saksat Maruti suta, ane maraga Bagawan, purusa darma tur utus, satya teken kapatutan. Munyin caine ituni, ne kaalih jati tunggal, carane mangalih bina, ento suba liwat saja, nanging masih nyandang jaga, apan salwiring unduk, misi guna mawisesa. Ento carane mangalih, ne waluya anggon marga, iya masih ngelah guna, sakti bisa mangawasa, silib twara marasa, balik iraga kaduluh, kanggen rurung ngalih lara. Anake bani negarin, mangulati ngalih suka, uli marurungan hala, ngulurin loba indrya, liyu manikel halanya, sukanne durung kapangguh, awake baya temokang. Munggwing sang wanara putih, amonto mirib pragat, tan buwat ira manjangang, wireh cai suba tatas, melah lan jani tuturang, bwat ira matakon malu, apang saja ira tatas. Amonto kasaktyan cai, isinga ebah cepokan, ningeh munyin cai makrak, tambis mati ya itunyan, bareng dadwa ya engsap, yadin duk cai manyawup, ira dadwa sapisanan.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

123

14.

Lebih gangsar luwih tatit, kaget ira duwur campang, taru tegeh ditu negak, sapisanan ajak dadwa, aruh liyu yan tuturang, kangoban ira dikayun, nging nu sor ken iraksasa. Mirib ya luwih sakti, indayang jwa satwayang, edot ira mangda tatas, ibuset matur manimbal, uduh ratu panembahan, saktin ipunne puniku, ugi nyandang tan kasobang. Dyastu malami asasih, yan satwayang iraksasa, indik krura kasaktyanne, ne sampun seken mabukti, mapagut maring payudan, sinah pacang nungkak kantun, katah malih sambungannya. Nanging tan nyandang tandruhin, reh asing wenten dijagat, mula anggan sang HyangTitah, marupa mangendah pelag, jati tan ada watesnya, sakti ugi tan patanggu, ne sakti wenten saktyan. Suryane tegeh tan gigis, bintange malih tegehan, saktine sampun kalintang, nanging wenten ne lintangan, trus tan ada wanengnya, keweh nyambat keweh ngitung, apan duwen Hyang Wisesa. Sangkannya sang sampu ajin, twara sanget sumbung nyadcad, ne sakti kalwan nista, reh ida Sang Hyang Suksma, ane uning ngawayangang, yan sampun masaning lampus, padem ipun bantas bangka.

15.

16.

17.

18.

19.

124

NASKAH GEGURITAN SUCITA JILID III (Ibu Made Sokaningsih) Pupuh Ginada : XXXIII 1. Tityang seken uning pisan, duking nguni wenten riki, danuja raja wisesa, katah panjak tuhu wibuh. mas sasocan tan kirang, sarwa ngendih, mutyara miwah barlyan. 2. Sampun micundangang dewa, sangkan mawasta Dewajit, katah panjak mawisesa, papatih baudandan ipun,. sami teleb bakti satya,. ya magusti, nyandang anggon tatuladan. 3. Sang Dewajit punika, mangelah pyanak asik,. luh nedeng mungpung bajang, banget kasayangang kasumbung, saka-repnya kadagingan. yaksi Drenggi, wastan ipun nora lyan. 4. Sedek bebed panangkilan, saget rawuh I Durgati, mabawos tana panjang, ring Sang Dewajit puniku, nagih pacang kanggen matwa, pacang kambil, pyanak ipun tan sangkeyan. 5. Yan pade tan kasukayang, pyanaknya ipun mangambil, ipun nagih muncuk tumbak, pedang cakra lan baliyung, pacang bwat kanggen ubad, kulit genit, sang nangkil ugi sahapan. 6. Prang twara tangtangan, wus karebut Sang Durgati, umung pada mawalokan, pada nengguh twara takut, ada numbak nusuk ninjak, manigtigin, Sang Durgati tan kewehan. 7. Kaget sampun makacakan, bangkene pada pajumprit, ada len malahib munggah, ngedal kulkul ya mangembut, panjake teka pasrantab,. Manyagjagin, asing pahek mati sapisan. 8. Panjake katah manglawan, I Durgati sane sakti, luwir dadalu waluya, maranin apine murub, puput mati matahasan, tan mintulin, pamragat tan bani pahak. 9. Sakarin ngemasin pejah, malahib manandang jerih, wenten nandang kanin

125

rahat, dijalan mati pamuput, tan kidik luh-nyane nyebak, mangetonin, mwaninnya nandang baya.

10. Crita mangkin patunggalan, paprang Sang Dewajit, pada bani pada galak, pada ngales teguh timbul, tumbak kadutanne telas, lunglung sami, gada cakra remuk benyah. 11. Sangkan masahup sahasa, maklit ya saling panting, asing katempuh nto rebah, panangkilan ngeseng sampun, tam-pulnyane karusakan, katuhukin, pamuput nangkeb sapisan 12. Sang kalih hilid kangkeban, kari magulet tan jerih, sok rahabe angkabangkab, tan lami manomblos pesu, ngelung tampul miwah lambang, saling tigtig, panigtigannyane nyalnyal. 13. Sayan suwe sayan krura, payudane mangresresin, magenti saling sabatang, saling tindih bahan batu, nganti nganteg kapuryan, saling tangkis, saling tanjung maendahan. 14. Ring pinggiring paduraksa,ne kukuh tegeh mangaglik, maukir tur mapapindan. punika rubuh katempuh, nepen neteh sang karowa, twara geming, tur saling ruket mayuda. 15. Ajahan sagetan ical, sang raksasa Dewajit, tan asuwe malih prapta, nganggar gada endih murub, punika kanggen nga-lempag, I Durgati swaran gada kadi kilap. 16. Tunggil keni api medal, muncrat mumbul mangangobin, nanging kalis tan patampak, kadi palu timah patuh, ne kanggen mangebug waja, tan mintulin, pamuput palune benyah. 17. I Durgati sayan muntab, krodannya kadi agni, bayunnya mawuwuh kuwat, musuhnyane ngancan enduk, gadannyane lunglung rusak, puput mati, bangkennya dekdek nyalnyal. 18. Si Dambi keni kajarah, panjake tan purun nolih, I Durgati raris budal, sapunika indik ipun, sajawi punika wenten, katah malih, satrunnya wus

126

kaprajaya. 19. Yan wenten anak wisesa, ngasorang jagat puniki, ring bin-tange kantun kalah, ne pacang ngasorang ipun, yan bintange telah kuntal, katah malih, tuwannya pacang mademang.

20. Atur I Artati nungkak, kohosan toya piragi, tur sampun kadi ngawengyang, dyastu galang bulan nuju, antuk taru agung katah, manguwubin, masih banget kirang galang. 21. Bahan ngalinggihin gajah, agung kuwate tan sipi, sarwa likade pakirang, reh tambulelen gajah iku, sebet ngelung lan myakang, sing ngentukin, sangkan tan banget saranta. 22. Tan lami raris kacingak, tukad linggah ngaresresin, toyannya ageng malunan, reh manuncap batu agung, Sang Sucita mangandika, ih Artati, jalan malu majanggelan. 23. Sang Artati tan nyahurang, reh ipun sampun mangarti, jeg makrak ipun maswara, mangempengin kuping umung, kaget bwaya teka nyagjag, masih putih, sareng kalih ageng dahat. 24. Sang Subudi Ian Sucita, tangar nging prayatneng hati. Sang Artati matur enggal, sampunang iratu takut. niki kakasihan tityang, mamendakin, sayaga nglintangang tukad. 25. Gelising carita kocap, sampun kalintangang sami, malih ibu-set maswara, tan asuwe kaget rawuh, warak agung krurra pisan. Sang Artati, nyagjag munggah katundunnya. 26. Sang Subudi lan Sucita, katuran munggah digelis, cerita sampun mamarga, mangawuhang trus mangucur, pamargine dahat ngregah, mangentasin,

munduk kaibekan lalang. 27. Crita sampun diduhuran, asah tur galang kapanggih, sok ipun tumbuhin padang, becik atap tan patlanjuk, tumbuhnya kadi madungan, bawak sami, padang kasur lan padang lepas.

127

28. Tur agni tan ageng cingak, dyastu pondoke tan kaksi, Sang Subudi mangandika, nto mirib pondok sang wiku, ibojog matur matutang, kocap gelis, wus nampek ring pasanggrahan. 29. Iwre macebur ngenggalang, nyogjog sang tapa katurin, inggih ratu sang atapa, mula sawitra puniku, sajawi uning nyu-kayang, sinah ugi, ngawe sungkan pakayunan. 30. Swecan iratu kuna, nyayangang ring bojog dekil, mangkin tityang nangkil prapta. mangwales antuk pakewuh. wengi tityang agung goda,

manyungkanin, tityang tangkil sareng tiga. 31. Isawitra sugih prajnyan, kalan ipun mangrawuhin, kaka-sihannya punika magapgapan sarwa luwung, barang lan rawos utama, ne nyukanin, nging tityang tungkalik pisan. 32. Tityang tambet kalud nista, jati buron boya jadmi, mriki rawuh ring sawitra, puput magapgapan tamyu, boya panamyu katurang, raris nyawis, sang tapa masabda banban. 33. Cai sawitra utama, dija se nto timpal cai, dong lawutang mai ajak ibojog mapamit sampun, ngaturin ida sang karwa, nuli ngranjing, sawus nulakang iwarak. 34. Solah ida sang karowa, manangkilin maha resi, asiki tan wenten lempas, tata carane kalaku, tingkah lungguh tatanganan, pantes pakil, twara ada jalan nyadcad. 35. Saja ketil ngalih melah, ne jati kanggowang gumi, yan takut ngalegleg manah, mangdennya halus tur lemuh, anggon ngalih legan anak, apang nampi, melah jeleme dijagat. 36. Yan takut mrasa belogan, teken sang sujati ririh, mwah takut ngaku tiwasan. tekene mangelah liyu, tur takut ngaku betenan, katekening, sang sujati baduwuran. 37. Ento pacang ngawetwang, hidupe rusuh digumi, twara suwud nandang jengah, mwah twara pegat musuh. kenehe runtik ngawinang, wireh ajrih,

128

ngeleg manahne dong waja. 38. Liyu ngelah tutur satwa, twara payu madan ririh, yan tan nyak ngasorang awak, muwah satondene tahu. ngawe legan sang kaajak, dening jati, haluse mahadan melah. 39. Anake jati prajnyan, sanget bisa mangulanin, anak tambet lawan wikan, anak andap lawan luhur, anak sipok-lawan boya, krana sami, teka pahek manyayangang. 40. Len sanget teken iraga, ne tambet mahuwat besi, ane ngelah keneh waja, sarwa madasar ban pengkuh, ne mabudi maju-garan, ngajak gumi, makeneh sahi maboya. 41. Racun manahe punika, patut sahi gedyangin, apang payu kasayangang, tur kapuji jroning hidup, bisa yang ngunadikayang.mayelepin, karahaywan ring wong katah. 42. Suryane anggon tuladan, ngisep beseg saking haris, kanti ya twara marasa, sagetan ya suba etuh, da cara ngadeng dihalas, jeg nunjelin, muwunang teked kaakah. 43. Sang Subudi lan Sucita, masih nyandang lingling sahi, anggen ingetan dimanah, liyu nyandang tiru ditu, apan anak mau-tama, manuronin, ngedengang cohto dijagat.

Pupuh Ginanti : XXXIV 1. Crita sane mangkin sampun, ida sang kalih manangkil, ring ida sang maha tapa, tekaning ibojog ngiring, itep ida mara-wosan. taken tinakenan sami. 2. Bawose nyambung manyambung, sami-sami mangenakin, ibojog itep ningehang masih, sring nyelag menengin, sambil ipun manulukang, sahang balemanne ngendih. 3. Sang wiku nyelag amuwus, uduh cai Sang Artati, tumben ja bapa ituniyan, liyu ngebet ubi kladi, byawung lawan kasela, melah jemak tambus sambil. 4. Cening kalih sang abagus, da ngalih kidang dipasih, dihalas tong ada langsar,

129

tong ada dayuh diapi, kadi bapa dahak dihalas, cening tan mamangguh bukti. 5. Ampurayang bapa bagus, ngaturang akah dong roti, mabasa ban angetangetan. tan pakehnya anggon bangkit, reh bapa tan ngelah uyah, mara mangkid ajeng becik. 6. Da ngedalem cening bagus,. dyastu tumben mapanggih, da engsap tekene suba, mapunduh digumi sepi, jroning garban Hyang Titah, bapa mangajak icening. 7. Reh suba sahi magelut, atep tan ada melatin, miwah mangajak ne lyanan. sakancan tumbuh digumi, jalan da tandruh malajah, jumunin saling ingetin. 8. Yan jani banya nu tandruh, pidan tanweruhya masih, merah meruh pacang bakat, wireh ne ruruh tan wruhin, karugrugan raga roga, regep rerenang nandruhin. 9. Kyape mangundap nguyuk, ento anggon ranjang besi, leplep ban kuru dijalan, ento anggon mangasurin, masaput bahan baleman, kanggone anggon manampi. 10. Munyin bapane puniku, jadmane tuyuh murukin, ibojog ya saja gampang, tonden muruk suba ririh, aluh ngalih wareg basang, tan repot makecap asin. 11. Ibojog sambil manguntul, nambus ubi kusak kusik, tunggil, rateng kahaturang, ring ida sang bagus kalih, nanging siki boya lempas, kaincep bawos sang resi. 12. Sang prajnyan luwir sang wiku, sat pande ngalebur hati, elan ngolah manah anak, kimude dadi jowari, sang kalih kecalan kemad, nadak jwari melut kladi. 13. Ngarayunang sampun puput, magarpu bahan jariji, mapinggan bahan tangan, magelas ban bungbung tiying, sang tapa itep ngandika, mangater panyukan hati. 14. Duk polih meneng sang empu, dyastu tan wenten ja lami, irika maan olih selah, nyelag matur Sang Subudi, inggih ratu pangempuwan, dwaning tityang pedek tangkil.

130

15. Tityang nyadya mangalungsur, ring iratu sane mangkin, mugi ica nugra tamba, tityang sakit slang dihati, antuk durung majantenan, sapunapi tityang benjing. 16. Punapike tityang kantun, reh tan kidik ngawe pati, punapi tityang sangkala, baya rahat jroning hurip, napi padem kabancana, bilih tityang manggih gering. 17. Bilih mahukum satuwuk, wenten misunayang manawi, bilih tityang dados bahak, utawi dados pamating, nawi uning sugih suka, nanging boya kanten sami. 18. Selang tityange puniku, lungsurang tityang ne mangkin, mugi juwa sang atapa tumus ica ngalugrahin, sang tapa gelis manimbal, sambil kenyem ngeling haris. 19. Gering cening mirib patuh, teken bapa jeg sabanding, bapa paling saking jumah, ngalih ubad kayang mai, reh jumah twara mabahan, matakon tekening kanti. 20. Unduk bapane imalu, duk nu jumah di nagari, anteng bapane kaliwat, mangayahin slang runtik, lan kopa loba angkara, bahan karasayang kanti. 21. Makadi indrya iku, miwah sahi leket hati, mirib nawu maman-jakang, bane bapa cucud bakti, reh bapa tan ngarasayang, tuyuh rahina mwang wengi. 22. Encen hala encen hayu, tan etang bapane rihin, ngulah apang sok mabahan, keweh anak tan ketangin, reh sanget inget ken awak, apang manggih suka sahi. 23. Ane ngawe sayan bingung, tuhu kasur tingkah pelih, kene unduke ne suba, bapa jani manuturin, hidup bapane ring kuna, saja sanget mangresresin. 24. Ban sanget ken mati takut, lantas jimate kaalih, apang luput ken sanjata, sangkan wengi. 25. Ngelah jimat sanget nawu, asing gedengang ya mati, masih ngawuwuhin suka, mingkin duk gerit ngalidig aget maan mas kotakan, twara morahan asing kaselangin, kamalunin ngamatyang, kasilib kalaning

131

mangidih. 26. Wireh masih sanget liyu, brayane ngutang peti, kalaning hitep ngiring kyap, ne jahen ngengsapang sugih, patelahan bapa mulyan, nangkidang ne kaengsapin. 27. Suba ngelah jimat teguh, suba ngelah mantra sakti, suba ngelah pipis katah, suba kasub lyu nakutin, wetu slang twara pegat, pulese twara etis. 28. Pipise bahan manyaruh, teka ngaba unduk rimbit, tan dadi tangehang anak, mingkin sang prabu nguningin, ento krana dadi selang, sugihe pada ken gerit. 29. Teguhe, ngawinang buduh, ngawetwang damang mamaling, kasube takutin anak, ngawe mrekak momo hati, kimud manga-sorang awak, takut kaadanin jerih. 30. Awinan sayan mamuduh, sambil getap ngawe bani, asing takut ya karampas, asing lempe to begalin, twara pisan ngelah sayang, teken ane kasakitin. 31. Asing wanen sigug teguh, ento ajak bapa kasih, sat puwik teken sang darma, saking bapa tan nyumponin, sangkan liyu manyayangang, watek sang angkara budi. 32. Makakasyan pada sigug, enggal sagsag saling intip, wireh pada ngamong selang, pada ngulah suka ndiri. bapa pepesan dijalan, masyat mangajak kanti.

33. Pamuputan ane pangguh, kanti masih ngamusuhin, pepes bapa das sengkala, yan tan enggalan malahib, ajaka lyu nye-kahanang, keweh yan nto lawan sami. 34. Pules jumah masih takut, dipisaga twara bani, ditegale masih selang, kanagara mrasa rimrim, nyep yan ada musuh ngawas, keto krana ninggal gumi.

Pupuh Sinom : XXXV

132

1.

Ngungsi kahalase sawat, ditu

lantas

mamanggihin, anak mamondok

ngaraga, lyu ada kentang kladi, sabrang lawan kesawi, basang bapa sanget seduk, paling bapa awaregan, jalan mula jeg kabukti, reh tan takut, yadin bapa katangehang. 2. Saget buwin akejepan, sang nuwenang nyagjag prapti, bapa tangar ngaba bantang, nanging kenyem sang prapti, saha mangandika haris, enyen cai cening bagus, aget cening nyak maiunan, bisa manambus kladi, nglipur seduk, reh bapa kasep nanjenang. 3. Bapa mitrangang awak, masih bapa selang sambil, reh ane anggon takehan, tuwah kenehe padidi, wireh bapa mula rusit, anake kakaden rusuh, cara pakenehan bapa, lawut ida kenyem nugi, muwus halus, kene pawacanan ida. 4. Melah dini ajak bapa, suwud ngubuh sakit hati, mirib cening tuyuh pesan, musuhang keneh padidi, apan ketil ngamong budi, reh satru lan kanti ditu, dibudine ya magenah, sing ja sang mamuru cening, ento musuh, melahang nto ngaresepang. 5. Katah tur panjang malemad, ida itep manuturin, nanging bapa sang ningehang, wireh tambet momo hati, pratama tan kapi-ragi, reh sanget twara adung, pitutur ida ring bapa, nging ida sang prajnyeng budi, mangalantur, munah kamomowan bapa. 6. Sayan lami makeritipan, manahe bisa miragi, ida terus mawa-cana, kanti bapa sayan ngurti, sangkan bapa manegarin, ditu lima bulan nunggu, buwin ada paitungan, medal mirib mami-lihin, bahan takut, ken hidup lacur dihalas.

7.

Bapa mapamit ken ida, budi kakota mabalik, nging ngungsi nagara lenan, sang resi wus ngalugrahin, nging suba kapi-teketin, antuk tutur sarwa luwung, bapa masih suba mrasa, bareng mamatut dihati. sangkan tedun, kanagara twara budal.

133

8.

Umah bapane ne suba, di Sakopa kaadanin, lantas bapa ngutang umah, ngojog Santika nagari, ditu jagat gemuh bukti, ban sang nata dahat sadu, cengeh mangencanang praja, prajnyan ngamong darma budi, nunggal tuhu, ngawe karahaywan jagat.

9.

Uli sregep babuktyan, ento kanggen manasarin, sangkan twara ada panjak, ane tusing ngelah bukti, gagahen ditu tan kidik, sang ratu sadiya sampun tegal sawah miwah halas. pamupunnya sanget becik. kayang munduk, ane tegeh cokin toya.

10. Apang empelane kuwat, ento malu kakardinin, wireh uli ditu gampang pamuput buktine panggih, sat dadi dasaring hurip, pande tukang lyu ditu, prajurit ditu tan kirang, lan watek ne nyaga gumi, dagang liyu, sudagar dura nagara. 11. Balyan ditu tan kirang, ne jati tatas ken gering, papatih pada wihikan, pada tetep mangamongin, swadarman dane sami. twara ada ngelen angkuh, jati manindihin jagat, ring Agama minakadi, gemet langkung, unen-unen tan pakirang. 12. Tan ada ban bapa nyeda, reh sang nata ngemban sami, satung-giling pakarangan, membahan ban sastra aji, Mahabarata kakawin, kidung gaguritan ngempu, ne madaging tutur darma. sarwa sasanane sami, ada ditu, darma arta kama moksa, 13. Ring dusun lan dinagara, patuh bana mrentah gumi, kabresihan twara kalah, wawangunan sarwa becik, pura peken miwah margi, kreteg bale banjar rurung, tusing ada twara melah. sanget ditu ngapingonin, sangkan kasub, jagat Santika punika. 14. Anak mobab twara ada, bahak begal rampok maling, miwah sakancan punika, makejang enggal kadilin, mrekak mokak iri runtik, salah tampi sipok sigug, miwah sakancan totonan, sad-tatayi telah bresih, saling tuntun, tutur tatwa karesepang.

134

15. Bisa saling aksamayang, yan pelihe bedik-bedik, twara tahen anak majaljal, kalingke magrengan malih, sami inget pada eling, ring nyelsel pacang kapangguh, nuwut gedeg akebyu tan. kanti ngutang pyanak rabi, sedih sendu, dipangkenge ngling sigsigan. 16. Yan di Santika nagara, tan tahen bapa manggihin, kadine bawu ra wosang, rasa bapa kadi ngipi, nepukin tongosne becik, kalegane ditu liyu, genah rame tontonan katah, seni budayane becik, sanget nudut, rigardi kalanduhan manah. 17. Sarwane tinuku murah, ne katandur sarwa wredi, gmuh ripah kretaraharja. malyah lwir lwah Jahnawi, tresna asih mentik sami, sugih tiwas saimg tulung, karya abot dadi dangan, welas elinge ngecokin, mrasa patuh, kadi tunggal twara liyan. 18. Liyu sudagar lan dagang. tan nyak lyu ngalih bati. krasa nyama twara anak, ne mablanja ngalebihin, pang lebihan maan bati, kanti idagang kaimud, suba tong nyak kasuksukang, tawah bapa manyingakin, bane ditu, keto ketah sang mablanja 19. Anak demit twara ada, sami lagas manulungin, ring sang jati tan nyidayang, saking tresna tulus asih, lyu bediktan ketangin, kadi anake makecuh, twara inset twara sayang, tan mwatang naalih pikolih, lagas tuhu, wireh nto dana utama. 20. Bisa ngalap tresnan anak, nyuksmayang tan bisa lali, saling tanjen jati sayang. ada ditu ada dini, ada dini ditu masih, saling jaga saling bantu, tan kanti ya kaleleran, nanging sami saking jati, rukun adung, disisi teked katengah. 21. Saling tulung ngawe melah, tan ada saling itungin, pangmaka-tang gelah anak, uli aluh pang makisid, mula ditu dadi dini, twara nyak saling tan tuyuh. ne tan ngelah kotsahayang, ne ngelah giyet ngitungin, mangda durus, sami manggihin kalegan. 22. Cenik kelih tuwa bajang, nganggo sila luh mwani, makejang polih pakaryan,

135

twara ada untang anting, ne ngawinang murat marit, ngoyong nganti basang seduk, keneh enduk bayu lumah bogbog jaruh bisa mentik, boya takut, apa madan karma pala

23. Madat motoh twara ada, mamunyah mawistren malih panganggurane katinggal, sami repot nanging trepti, reh gagaene tan kidik, ne

ngawinang pipis liyu, nyandang kanggon ne kitayang, yadin kanggen malalilali, nonton gambuh, twara sakeng ngalih utang. 24. Taliin ahimsane kuwat, harimbawa tekek kagisi, bryak-bryuk bareng ngayah, didesa yadin dipura, dipura disubak sami, asing nganggen bayu liyu, jeg enggal ya kapragatang, twa bajang luh mwani sami, pada nulung, tan ja saking mendog-endogan. 25. Lingsir odahe makejang, jeg utun ring alit-alit, kapunduhang kicen satwa. kanti tan seieg malali, ada ien ukuh mamancing, sambilanga ngalih batu, mareren ditu ningehang, dipagehane mangesil, gacel tledu, tan koningin ring sang nyatwa. 26. Ka!a nuju rarahinan, miwah wenten puja wali, ne katur ring sad kahyangan, ring kahyangan tiga malih, disanggar pam-rajan panti, sami pada ruyunruyun, sakeng dot ngaturang sembah, tuwa bajang cenik kelih, saha nglungsur, aksama lan jagadita. 27. Nging yan nuju galang bulan, ada masih siki kalih, malila magalang bulan, ngebah-ebahan dipasisi, padadwanan lanang istri. nanging ane suba balu, miwah ane suba duda. mula sami saking jati, suwe sampun, tan sida bane ngubdayang. 28. Wireh suba cukup dahar, pangangge lan umah becik, nerus masih kakinkinang, sinah masih kal kapanggih, yan wus adung sareng sami, sakeng jagra budi luhur, tan ngalih suka ngaraga, nyudi sane lebih becik, mangda nerus, ring turunan manggih suka. 29. Keto ne dadi rembayan, sadguna masih pang keni, sang prabu jati widagda.

136

tepet ngamong rajaniti, Astabaratane malih Adigama ne kaanut, miwah Kutaramanawa, byuha miwah salwir niti. panjak nganut, mangden manggih prajahita. 30. Liyu ban bapa nyatwayang, tan keni ban ngawilangin, sing kacinsak pada melah, sing karungu pada becik, twara adane tan luwih, pantes kasub nyandang tiru, ditu bapa, buwin malajah, ngalih kasukaning hurip, singnya ditu, tongose makatang melah. 31. Ditu bapa ngulak-ulak, ngesehin bikas nyumunin, nanging kudyang budi nyorah, reh ditu tan ada maling, jadmane ditu sat sami, dadi telik makawukud, tur bilang peteng ningehang, anak maca tatwa aji, kaduk nawu, bapa kapingon ningehang 32. Kasuwen sayan nelebang, hidep bapane ken aji, kupinge awang-awangan, ningeh lagu kidung sering. gaguntan harum manis, kakawin sahi karungu, liyu ngelah rarambangan, tan saking ngrambang nyelapin, dyati tumbun, pabrusbrus tong tahen erigsap. 33. Dayan bapane manyorah, mapiteh ngitungin aji, negak wyadin majalan, kala magarapan sahi, twara engsap teken aji, iban-ibana ya tumbuh, lemah jroning magarapan, bareng ajak timpal sahi, teka patuh, ne rawosang sarwa tatwa. 34. Uli lemah mangahatang. petenge maca kakawin, kadong nyaka gaguritan, kewala maca sastra aji, ngajak timpal saling unyahin, ajak pagubugan liyu, sada pepes ngarawuhang, sang wikan ring tattwa aji, uli ditu, telebe sayan nalemang. 35. Tungkul manelebang sastra, kenehe mamuwat mahit, tan maan tongos dimanah, ingete tan sela mirib, ngingetang kakencan rusit, teka

mangilis manglawut, telebe teken kadarman, pelihe bakat puwikin, krana luhung, kanehe mangancan bebas. 36. Teka mentik nyelsel awak, bahan-sipoke ne nguni, uli ditu kapok medal, uli kapok buwin mentik, manahe cara majanji, murukin nanging duk tingkah rahayu,

ngalaksanayang, masih twara mrasa iying, pepes labuh, yan

137

tan abih timpal prajnyan. 37. Ditu ngenah kautaman, kakasihane darma budi, sangkan pilih masawitra, ne ngugu pakardi becik, lyu masawitra mapi. nanging jatinnya mamusuh,

nanging pada tan marasa, ban patuh paturu daki. saling gelut, saling kosod baberekan 38. Pamragatnya dadi tungkas, yan pelihe bantas bedik, pada ngaku dewek macan, keweh jantos madabdabin, yan tan ngalah siki-siki, ngawinang pakeplug lawut, wireh pada tan nyak kalah, paling bedik dadi puwik, mlahang malu, malajah makakasihan. 39. Lagut becik masawitra, da bes nyeda da bas muji, twara tawang keneh anak, rodan indike ngawinin, apa luwir malinder sami, jani nyama mani musuh, dyastu bisa manyaruwang, nging kasimpen jroning hati, kadi luluh, neket yan tan kabresihang. 40. Buwin bapa mangawitang, nyambung bawose ituni, subane muruk matingkah, sahanan sila utami, ada olas manuturin, babratan anggon manutug, tur bakti ring Sang Hyang Titan, saha yoga pawurukin, reh puniku, mula dadi runtutannya. 41. Lantas nto jalanang bapa, reh takut mabalik rusit, krana bapa suba ngrasa, wasanan tingkahe pelih, terang ngawe sakit hati, ngejohang kenehe landuh, olihing bapa ngemetang, daging tatwa ne luwih, kaget tepuk selange sayan pakirang. 42. Saking kapatutan tingkah, mangawe lagas dihati. bane lagas krana tuna, slangene malikut hati, dulur sanget ngugu Widi, tur anteng mabakti lawut, uli keto mrasa maan, pangurip papineh becik, brata iku, numbuhang pasajan manah. 43. Yogane ane ngenggalang, matemwang rasane ngalih, teken ne kalih punika, suba selange das lisik, ditu elahe kapanggih, bahan elan teka aluh, twara ada kakobetan. metu gampang manindakin, sila hayu, ane ngardi kotaman rat. 44. Sujatine twara gampang nelahang saluwir daki, ne mungguh jeroning manah,

138

apang kanti saja lisik, nanging disubane tipis, malane jeroning kayun, suba sanget mrasa elan, twara takut teken mati, miwah lacur, sanget bina ken byasa. 45. Duk makatang rasa gantas, teka nawu ngamong sepi, sarwa kasukaneng jagat, twara ngare wed in sami.dot teken ingtongos sepi, krana mai bapa ngubu, maragatang paitungan, reh kotane tan ngedotin, krana tulus, dini bapa ngidang brata.

Pupuh Durma : XXXVI 1. Bawu mated sang atapa mawacana, Sang Subudi manyahurin, riuh sang pangempwan, tityang banget nyuksmayang, wacanan iratu luwih, nging tan kirang, ne lungsurang tityang malih. 2. Yaning wenten kapiitutan tityang nunas, ring iratu maha resi, ndaweg wacanayang, munggwing tatwaning kabudun, keni tityang sida uning, sang pandita dabda wacanane haris. 3. Ada pesan kayogyan cening nakonang, wireh patute suciati, mula kapaica teken watek imanusa, sabatek ada digumi, reh manusa, ane yogya ngawarisin 4. Sujatinnya kala Hyang Buda pasueca twara ida mamilihin kadi sanghyang surya, ane maniwakang teja, tusing ia mamilih-milih, pangkung jurang, suci cumpur katejanin. 5. Sakewala ne sida pacang makatang, ne saja teleb nyalanin darma sila ika, wireh manahe sat gedah yan kabekan misi daki, ban dursila peteng twara ada kaksi. 6. Sang subudi malih ida mannasang ring ida sang maha resi tityang ngalungsurang, manawi wenten sadana, ne patut katur pangrihin, nggih ndikayang, keni tan katulah carik. 7. Sang atapa nuli masahur banbah, duh cening sang bagus kalih bapa

manyinahang, manut ken pamangguh bapa, sadanane ngalih luwih, mamah duwa, kene pidagingnya cening.

139

8.

Kapratama madasar ban papolosan, kewala hidepe jati, ngilis dan macanggah, manyalanin panca sila, gemet tan bingbang dihati, kanti sida, bahan nto manindakin.

9.

Ento anggon samaya dihunteng manah, ditu manyaksyang diri ento Atma lingga, linggan Ida Hyang Wisesa, uli ditu mamedasin, tingkah awak, sinah tingglas yadin hilid.

10. Yaning suba jati sida lumaksana, panca silanne utami, bresih tan kamalan, twara dot teken upah, tuhu jati tan paperih, sinah sida, Hyang Buda ngalingganin. 11. Ento saksat maka panebus ajnyana, twara mabeli ban pipis, nto maka daksina, teken sang guru utama, ida sinah ngalugrahin, da jeg nunas, sok wadahe apikin. 12. Da ajum miwah da sangkaning getap, sidane matingkah becik, apang papolosan, jati saking nekeng tuwas, tan sangkaning mangardi-ardi, keto dewa, dasare matingkah becik. 13. Da bangga tekening awak nyidayang, ningkahang solahe luwih, pang ngilis pasaja, ngawe karahaywan anak, duk nulung da mrasa sugih, miwah

prajnyan, jeg madalem saking jati. 14. Yan aketo bahan manasarin manah, tingkahe masolah becik, twara milih genah, dipawon muwah diumah, dimarga sing genah sami, nto makejang, mobah dadi pura luwih. 15. Reh jatinnya sila darmane makejang, mijil saking polos asih, yan ento pasaja, tekek tan kecong dimanah, susilane gelis keni, reh diwolas, mula nto masimpen sami. 16. Kapiwelasan anggon patokan dimanah, apan nto jati luwih, ento pacang nandan, ngantegang kagumi sukla, ento kadarman kadanin, nto agama, ento masih madan bakti. 17. Nah aketo malu ane kapratama, pangupakaraning murid, ne buwat manunas, sujatining kautaman, yan ento kasidan sami, kalaksana, sang guru sinah

140

nywecanin. 18. Sadanane ane kaping kalih punika, bapa tan nyinahang jani reh uling ituniyan, kyape mangidih sela, apang maan ya malali, kaipyan, muruk ngalih gumi suci. 19. Tur ituniyan idewa kuru dijalan, mileh dihalab mamargi, jalan mani kawitang, tur nuju upawasata, reh tanggal ping kutus mani, dina melah, mangonjakang tutur luwih. 20. Kacarita wus manjingring pamereman, malayar kabwana lali, maprahu ban kyap, masagara litning manah, maangin angkihan haris, ngatengahang, Hyang Atma mangamudinin.

Pupah Ginada : XXVII 1. Palayare iasya pisan, wus ngalintang jagra bumi, manapak ring jagat supta, Sang Subudi wus malabuh, ditu ida masa-nekan, suka mukti, sukaning supta buwana. 2. Nanging Ida sang Sucita, belas pamargine mangkin, hanyudang harus indrya, kaswapna manglawut, kagel sang mustikan manah, ditu panggih, manguntul sedih mamarga. 3. Sang Sucita glis manyagjag, Dyah Karuni bawu ajin, manyerit mangelut madya. Sang Sucita matur haius. nguda iyadi nga-raga, panggih dini, dija iringan imirah. 4. Nungkak babawose medal, indryan tangan lan kulit, mamaksa nguduh makarya, sangkan mangaras mangelut, magimeh nuwukin kita, matur

haris, sang hayu sambil sigsigan. 5. Tityang kenyel mangantosang, dadi, lawas beli ngalahin, paling tityang manyerepang, kahalas kagunung-gunung, ping katah tityang mesenang, ring ikedis, miwah ring sanghyang pawana. 6. Masih beli durung prapta, kenyel mespes; toyan kasi, imendung tan nyak, ngortayang, ikerug masih tan rungu, katungkul ipun ngarahang, hujan gelis,

141

tan sela ngortain tityang. 7. Sajawi ipun ikiyap, kapah-kapah mangolasin, nandan tyang kaipyan, ditu mara sida mangguh, beli sang mustikan manah, ngiring mangkin, beli mantuk da ja ngalas. 8. Mirib beli tambet pisan, tan uning ring isin hati, hatin wong istrine ninggal, byang aji ngalih kakung, wus makuren lawut tinggal, kudang sakit, bias jroning kapitresnan. 9. Mirib tan ngelah kisengan, teken oka kari alit, dyastu ring tityang kirang, arah ngiring beli mantuk tityang pedih yan katulak, bilih mati, yan beli tan kayun budal. 10. Sang Sucita raris nimbal, mirah sang maniking hati, beli nunas kasisipan, ring iyadi sang ahayu. suba beli manga-cepang, enggal mulih, nging ibeli ngawe sranta. 11. Manah beli sahi jumah, demen ngempu panak mungil, sok awak beli dihalas, mangiring ibeli bagus, adake sadpada eng-sap, teken sari, tungkulang buwah isedah. 12. Mated ida mangandika, ukuh ngaras ngawalenin, tanganne sampun mamengan, nyadya pacang ngelut bahu, ituhu tuhu ngencotang, ya mamunyi, Sang Sucita enten ngadahap. 13. Sanget manadi pangenan, reh sukane nadak lisik, hatine alah mapegat, kudyang majumu ngaruruh, kayune kaduk barusah, yen kawitin, merem sinah tan nyidayang. 14. Kudyang mangawe ipyan, mangdennya buka ituni, seken marasa sakala, matemu ring sang ahayu, joh sida yan saking ngedat, sangkan paling, ituhutuhu salahang. 15. Liyu anak mangajumang, halus munyin iba kedis, lemuh santer nudut manah, keto siga tuhu-tuhu, dadi kuw.ang unadika meswang munyi, sanget ngencot nangkejutang. 16. Hira sedek manyumbana, ngiring sang mustikan hati, siga ngawe enten

142

babang, kanti ngedat ira bangun. ida sang nyu kariin manah, nadak lisik, hilang marengin kijapan. 17. Sanget ira sipok pesan, yan ira nagih pasilih, pasilih ida sang, hilang, leken siga tuhu-tuhu, babekin ibane liwat, kudyang jani, apang tepukin sang hilang. 18. Ikyap masih bes bijal, mirib sanget ngelah iri, ngajinang anake suka, rikala sida matemu, teken sang pada kisengan bes pacadi, yan lapurang bilih salah. 19. Ida Sang Hyang Manobawa, prajnyan ngadu laki istri.cacad tan madwe wiweka, tan uning mamunah bangun, pang dadi ngipi bulanan, sang mapanggih, kalaning saling ahatang.

Pupuh Sinom : XXXVIII 1. Sang keni lamad ipyan, pakayune buyar paling keweh ida manuptupang, ngawit saking galang kangin, jantos semeng sane mangkin, papinehe kari buwut, nadak eling ring amongan, masaning ngaturang bakti, ring Hyang Tuduh, awinan bangun ngadahap. 2. Sang Subudi wus masiram, makire ngaturang bakti, I Smita mangencolang, marawup miwah mawajik, raris sarengan mabakti, kacarita puput sampun, ibojog saget perapta, muwat woh-wohan becik, saha matur, durusang dewa rayunang. 3. Wusan ida ngarayunang. ngandika ida sang resi, dewa sang bagus karowa. melahja malu malali, dipabyanan bapa dini, ninjo palemahan, luwung, ibuset mangda ngiringang, sambil nyingak sekar becik, bapa liyu, mamula warnarung sekar. 4. Crita ida sang karowa, mamarga wusan mapamit, maninjowin palemahan, miwah tatanduran sami, ubi kladi jawa bali, kakara botor byaung, endah sawarnaning sekar, tan kirang manudut hati, nangka sentul, duren manggis lan bulwan. 5. Ranggane tegeh tur hyas, magantungan kulkul tiying, mirib kedeh mangda

143

munggah, ibojog neraptap gelis, ngunggahin ranggane becik, ajahan sampun baduwur, huyut girang maswara, ngaturin ida sang kalih, glis sampun, ida sang kalih ngunggahang. 6. Ibusetne tan kwang ujar, gelis matur manuhunin, inggihja ratu picayang, eda ngambil-panggul tingklik, becik cacingake lebin, ring mundukane puniku, taru-taru miwah padang, banget ngaledangin aksi, wireh luwung, warnane marupa endah. 7. Tarune agung ring pucak, taru alitan manyanding, majajar matadah langah, galang manyelag-nyelagin, mirib watek resing langit, miwah watek dewa ditu, mangiring Ida Hyang Gana, putran Hyang Siwane sakti, duk mangamuk, mademang Nilaludraka. 8. Munduke panjang paslandang, sat panjak raksasa mati, tindih melanin ratunnya, ne momo angkara budi. kaswargan nga-rusuhin, apusin kasaktyan ipun, nging sasampun ipun pejah, miturut ajahan sakti, ne mangajum, isakti ninggal ngeng-galang. 9. Anake cengeh dimanah, tur madasar darma budi, yan maduwe kasaktyan, sok kaanggen manulungi, pakadangan kala sedih, keweh kepung bahan musuh, ne ngangge momo angkara, reh tan ada gunan sugih, yan tan nulung, sang manandang bedak layah. 10. Sakti ngamusuhin darma, managih takutin gumi, ilumah mabudi mrekak, isugih ngendog imiskin, itiwas ring gawe ajrih, saking aluh ngulah mupu, sang ririh mangapus timpal, itambet mabikas ririh, nika patuh, dadi pangrusak nagara. 11. Boyake asapunika, ratu sang abagus kalih, yah teka jegduweg tityang dadi juru cacad gumi, nging tan uning maminehin, wireh mara teked ditu karirihan tityang nungkak, bwin pidan ring sampun ririh, sinah weruh, dadi guru yen prajnyan. 12. I Sucita kedek mangakak, sambil ngisi mamokpokin, mangajum ibojog petak, bahan banyol muwah ririh, Sang Subudi manyahurin. sawus kenyem uling

144

wawu, yen iyang ninjo ihalas, miwah tegalene becik, mirib kumpul, ngastawa Ida Hyang Indra. 13. Ento anggona nyihnayang, panyuksamannya dihati, teken Ida Sang Hyang Indra, ban ica pepes ngujanin, sangkannya mokoh ya mentik, gadang ya madawun ngrembun, iraga nyandang manulad, patut bakti ring Hyang Widi, sat manawur, ican Ida mamyara. 14. I Sucita tan nyahurang, reh sanget lek dihati, wireh panampine beda, duk nyingak ikayu ninggil, mrasa Ni Dyah Karuni, paling ngalalu nyalupsup. manyerepang ragan ida, duk nyingak guleme tipis, Iwir kakudung, sang hayu angin ngampehang. 15. Kalud uling ituniyan, isekar gadung kaaksi, magenah nampek irika, malilit ring nagasari, magambahan mambu merik, ngangken rambut sang ahayu, nagih surinin gelisang, sangketin sekar melati, sane harum, tur selagin ban campaka. 16. Sang Subudi malih nyelag, mataken ring Sang Artati, apa krana dadi lenan, tekene sinahang cai, mungwing bisekang sang resi, sang empu mawosang sampun, maparab Sang Maris-tena, ibisanja kapiragi, glis nyawur, ipun iwanara petak. 17. Wyakti bawos idewa, munggwing sang resi puniki, tan sane ungingang tityang, reh ida sang kapyuning, tan nyidayang sering panggih, kapah kacingak ban caksu, nging kala nuju purnama, yan sadya uning kapanggih, apan wiku, tuhu-tuhu mautama 18. Ida maraga sumedang, bisa ngenah bisa hilid, reh ragan ida punika elan ring ajnyana ngranjing, sakadi bawos sang uning, wurangkane bisa mawug, maring keris kadi tawah, boya ja bantas ikeris, uning caluh, ngaranjing maring wurangka. 19. Nanging pantes sang prajnyan, ne sampun tasak samadi, sang molih kayogi swaran, ring Sadasiwa manunggil, maraga sang-kaning bumi, sanget elan yan makayun, ngasukang raga sarira, kaajnyana, mangda hilid, sanget caluh, ida

145

mamasuk wetwang. 20. Wyakti sakadi ne munggah, ring tatwane mautami, iraga rawuh ijagat, ring ajnyana mungguh sami, irika masimpen cepil, tan kadi sane kasengguh, antuk sawatek sang muda. tan maduwe matan hati, teka puput ajnyanane jroning raga. 21. Tan bina sakadi tityang, salawase salit tampi, penyengguhe sahi ngawag, kaden jati suba pasti, manahe ditengah ngesil, sarirane sane ngaput, antuke banget kejokan, reh puput ngandel pangaksi, antuk lacur, matan kawruhe makantah. 22. Apa anggon mamedasang, sawatekne saru singid, repotin indrya samah, miwah wisaya ngangkebin, lihate ngulah kasisi, ne ditengah sanget saru, ban adoh bahan ngawasang, krana sane tampek hilid, ne joh ruruh, ane pahek bakat kutang. 23. Bahan takut mangindayang, nyelepang gedog kakasih, ngawugang kobet kaelah, ngasukang leket kakalis, saking irika maciri, tityang madewek tan mampuh, getap nglawan bobab manah, nglidin lawat kanti paling, kudyang mampuh manjingang raga kamanah. 24. Ida Bagawan Mitaba, nahan ngajah sapuniki, duh cai wanara petak, ne unduk patpat purukin, corahe tahen jalanin, ento celepang simalu, eda bahanga malekah, sartipetin apanga mati, kanti tuhu, tan maklisikan dimanah. 25. Lawut ane kaping duwa, corahe tan tahen jalanin, eda usil mangindayang, lantasang matyang basmi, kaping telu lawut kawitin, patute entikang pupu,

ne suba tahen jalanang, ento manggehang jalanin, kanti caluh, dadi kaadungan manah. 26. Buwin ane kaping empat, patute tan tahen jalanin, ento encotang indayang, buwatang ngalaksanain, mangdennya kasidan ugi, tur masih caluhang lawut ento suba genep patpat, ento bekel ne sujati, iying kadut, tan tuyuh mabekel kembal. 27. Ento anggon bekel jumah, ento bekalang malali, yadi luwas ndura desa, neked

146

kayang bekel mati, ento bisa dadi sundih, yan cai petengan lawut ento mangorahin pacang, ane mula tan uningin, ento namyu, yan kalaning bedak layah 28. Ento manulung dijalan, kalaning keweh dimargi, ento pacang mangatehang, nekedang sig ane alih, ento maang asing tagih, awinan buwatang muruk apang mangdennya kasidan, ne pat-pat bakat lampahin, eda takut, cai nuwut kautaman. 29. Ngep bibih anggon kamulan, ngilangang munyine jedig, apa se sanget tuyuhang, yen ngawe awak manengil, yen kala sahasa nagih, twara ngugu, krimikan manahe rusak, ne ngajak musuh, ngadyangse anteng mamanjak. 30. Sanget jegeg mwah bagusan, jengise dadyang kenyir, sanget twara nudut manah, palyat anake nelik, cem anake mahekin, yaning halise marengut, sanget saja utamayan. anake mangelah kanti, banding musuh, ento melahang ngitungang. 31. Sidane ngesehin tingkah, mula koos dadi inih, kyule anteng temunnya, demite bares manadi, puwike manadi kasih, dadi darma suwud sigug, ento sanget utamayan, yan bandingang ring sang ririh, ngawe takut, dadi rangda meseh awak. 32. Yen nyidayang mamedasang, sahanan kaplihan din, ento sujati celangan, ken Aji pangawas sami, yening manyidayang jati, mrentah manah apang patut, ento sanget utamayan, teken gunan anak istri, ane jaruh, mamanjakang mwaninnya. 33. Sanget sengkalane kiiwang, ngalawan musuh dihati, dadi jumunin yan kalah, nanging yan musuh disisi, gede bayane tandangin, yan iraga kalah lampus, kudyang majumu makanda, pang bisa hidup mabalik, puput lampus, banine pelih adokan . 34. Yan banya ngelah wiweka, bisayang ngadokang bani, musuhe ditengah lawan, ditu eda-makakirig, ambeke gedenang sahi, enteng kuwatang da matingkah baniyang pelih, iya

147

enduk, eda menyi eda nyerah, enggal marasa kapencil, ban tan tuhu, jiwane kalahang rasa. 35. Apan jiwane kadokang, jatinnya tan bisa mati, twara gumit twara kuwang, twara lebih tileh sahi, sok ada rasa ngapusin, mrasa kasor mrasa unggul, mrasa bani mrasa getap, mrasa gedeg mrasa nagih, jatin ipun, sang jiwa tileh nirmala. 36. Pelih yan ngaden sang jiwa, mawak woneng, lawan elik, dasar pelihe totonan, ngawe brusah sahi-sahi, yen ane ngelah panalih, manyengguhang jiwa luput, luput ken asing marasa, ento panalih tan pelih, cai lutung, ento purukin kenohang. 37. Nanging sang sujati tatas, teken jiwa mawak kalis, kalis teken suka duhka, luput teken hidup mati, ento pamekasing luwih, tan takut ken kancan musuh, musuh disisi ditengah, reh ya tan kabingungin, bahan unduk, mati hidup kalah menang. 38. Sang tonden tatas ring jiwa, ne luput ring sami-sami, nanging yan iya purusa, mayuda nindihin gumi, masih kasengguh utami, gumine pada mangajum, nanging yan enu rewedan, brengkatin keneh padidi, yaning hidup, bisa jumbuh ngendog timpal. 39. Kasapunikayang tityang, antuk Sang Mitaba Resi, sang kalih bengong ngincepang, pangortan ilutung putih, pineh jantos sada lami, ibuset mated umatur, sang kalih kari mamona, kadi kataluhan orti, lwir nagagung, sumuka kakwehan amreta.

Pupuh Pucung : XXXIX 1. Nuli nyawur. Sang Sucita semu luwung, wekasing utama, satwan cai buset putih, suka langkung, hira polih nempil orta 2. Cai lutung, mirib cai tatas tahu, ken kasiden ida, Sang Empu Mitataba Resi, sane putus, indayang juwa tuturang. 3. Gelis nyawur, ibuset putih puniku, ratu panembahan, nyadya tityang mapi

148

huning, ring iratu, sakadi sahuning tityang. 4. Mula tuduh, sang putusing darma sadu, mamangguh wisesa, sidi kasiden sing kapti, apan tuduh, nyandang tan nyandang angobang. 5. Paksi iku, jeg duweg ipun makebur, punika iyulam, salawase nyilem uning, geni iku, jeg kebus uning muwunang. 6. Ya ikapuk, tan malajah bisa ampung, mase jeg bahat, wajane katos tan sipi, surya iku, jeg uning ngalangin jagat. 7. Yan Sang wiku, ne sampun darmane putus, jeg sakti wisesa sat kadi Ida Hyang Widi, sapakayun, teka gampang kasidayang.

Pupuh Sinom : XXXX 1. Yan pade tityang nguningang, kasidan Mitaba Resi, sinah tan telas sasihan, apan nyeleg Sang Hyang Widi, tan patanggu tan patepi, ajnyanan ida puniku. bantas Resi Marisetena, suba banget mangangobin, sidi langkung, wus molih Astakeswarya 2. Apa madan Kasteswaryan, Sang Sucita manakenin, ibuset masa wur nimbal, tityang nguningayang mangkin, wenten kawisesan luwih, akutus wilangan ipun sangkan madan kasteswaryan, pidartannya siki-siki, pacang katur,

mangda iratu pawikan. 3. Anima reko wastannya, bisa mraga agung alit, uning hi]id uning ngenah, elah ida mangaranjing, ring batu makadi besi, tan kelet tan, goloh iku, ne kaping kalih Lagima, uning bahat uning iying, krana aluh, mamarga tengah ambara. 4. Ne kaping tiga Mahima, dija-dija kabaktinin, kapuji miwah kaeman, boya wenten anak runtik, ne kaping empat Prapti, sarengan ring kayun rawuh, yaning lunga kija-kija, sane kaping lima malih, nggih puniku, kawastanin Prakamya. 5. Nyidayang masahn rupa, dados lanang dados istri, dadi rare dadi anwam, dyastu mapakayun lingsir, teka sida prajani, nyidayang miturut kayun, kaping nem isitwa, yan kaswarga malali, jeg kajungjungi kastawa ban watek

149

dewa. 6. Kaping pitu Wasitwa, sida ngawasayang sami, satuduh ida kasidan, tan ada sida nulakin, boya wenten manawengin, jeg bedah asing katempuh, tan dadi belusin toya, tan dados puwunang api, cutet ipun, jeg luput ring roga baya. 7. Yatrakamawasayitwa, kaping kutus kawastanin, asing dalih dadi saja, toyane kadalih besi, teka nadak dadi besi, jadmane kadalih batu, ugi twara dadi tawah jeg dadi batu prajani, asing pastu, kasidan reh sidajnyana. 8. Kastukeswaryan punika, sampun ring angga ngaranjing, anggan Resi

Manstena, awinan nyandang pinuji, nanging ida nahanin, ngandikain tityang ilu, duk tityang polih ngiringang, ida kabukite kangin, jeg makebur, ring ambara nandan tityang. 9. Sapuniki bawos ida, uduh cai Sang Artati, tan nyandang cai ngangobang, hira bane buka jani, diambara ngajak cai, makebur ngungkulin gunung, ikapasne tan malajah. suba bisa miluh angin, liwat atuh, iya mangentap ambara. 10. Yan ada anak nyidayang, ngeserang keneh agigis, makisid uli diloba, miwah uli dibrangti, ento suba lebih sakti, teken igoak ne jaruh, ngintipin taluh mangindang, makebur diambara rusit, keto lutung, da angob ken ira ngindang. 11. Lebih sanget utamayan, sidane ngengepang bibih, muwungang munyine rusak, padayang ken mantra sidi, sidi ngawe alan jadmi, ngawe bengor ngawe buduh, miwah ngawe takut anak, apang nyak mamanjak sahi, keto lutung, ento resepang dimanah.

Pupuh Pangkur : XXXXI 1. Duk candeg ibuset petak, raris nimbal, Sang Sucita manyahurin, uduh cai buset agung, sanget pesan saja hira, kuwang limbak, sangkan marasa tengkejut. bumara ira ningehang, tutur cai buset putih. 2. Wireh ane dingeh ira, yan anake, ne pacang mamanggih suci, uli bawu mara metu, suba ngaba ciri melah, kadi Ida, Sang Sutasomane ilu, duk Ida bumara medal, salara rogane basmi.

150

3. Ane bongkok nadak lanjar, ane peceng, buta celang prajani, dadi jegjeg ane bungkuk, ikate nyepek manadak, liyu punah, sahanning gering agung, tekaning sakite lenan, jeg waras waluya jati. 4. Rarene bagus melenyad, halep pangus, tong ada tongos nyad-cadin, asing solah nudut kayun, sayan luwur muwuh prajnyan, darma sila, smitane madu juruh, muwuh sidi sidajnyana, sajagat pada mamuji. 5. Tur kocap sang mautama, mula muwat, wasana ane utami, uli swarga manurun, keto ane dingeh hira, nanging Ida Sang Maristena biksu, sanget dursilane suba, ngingjani susila suci. 6. Masahur ibuset petak, ampurayang, tityang ngindayang nyahurin, dyastu sampun kakayun, tityang malih mangaturang reh kayogyan, patakene patut sahur, nangingyan ngawinang suka, luwih ring mitra utami. 7. Kadi wenten ja nalihang, babaktayan, ngawe ulah becik mangkin, nanging sang wikune putus, wantah gemete ring manah, malaksana, nurut sastra gama iku, pageh tan surud satata, nika katlebang dihati. 8. Uli ditu kapastyang, pacang sida, suka byudayane panggih, miwah kanirbanan iku, seken tan madaging bingbang, sapa sira tan pacang mamangguh hayu, yen ke sampun pasaja, masadana ulah becik. 9. Sinah hala katemokang, yaning hala, sadanane kakardi, sapunika daging ipun, kabawos sok tuyuh bakat, yening magbag, miwah nyelsel karma iku, ne liwat miwah bin pidan, dadi alih ane jani. 10. Wireh yan jani gemetang, malaksana, brata tapane anutin, wiku Maristena tiru, tan ngetang tan manyelselang, indik liwat, jeg pageh kuwat tan surud, ngamarginin brata yoga, jeg puput sucine panggih. 11. Yening tityang ngamanahang, saking tambet, ne adoh ring sastra aji, munggwing halane wus langkung, yadin mangkin miwah pacang, nika tunggal, kadi wengine puniku, ne liwat miwah bin pidan, wantah pateh kadi mangkin. 12. Ne munahang taler tunggal, sane pacang, mangkin miwah sane rihin, tan lyan

151

damar puniku, yaning damar tan duwenang, wengi ika, ne mangkin miwah kapungkur, rawuhing sane rihinan, manggeh ipun mametengin. 13. Nanging yan damare bakat, sane mangkin, tan sandang osek dihati, wengine huwus kalangkung, miwah sane pungkur pacang, sinah punah, keto

pangupamin ipun, awinan mangkin saratang, munah samalaning budi. 14. Sanget luwihing utama, sang susila, mawuwuh betel pangaksi, maduwe widyacaksu, utawi aji pangawas, kanti sinah, sap-ratingkahe ne ilu, miwah panadose pacang, napi malih sane mangkin. 15. Rawuh ne singid suksma, swarga nraka, kayang dewa pitra kaksi, tonya mamedi kadulu, nanging yan tan darma sila, nu angkara, panjakang brangti lan sigug, tabuh sugal tingkah kasar, tan wurung naraka panggih: 16. Sadurung mangguh naraka, kadi hurip, masih sangsara keni, kaupet kacacad muwuh, celange dadi nirguna, twara nyak, manulung wireh tan mampuh, maningtingang uli kawah, miwah uli sakit hati. 17. Becik rihinang malajah, ngawas iwang, yan cingak sapuh tegarin, padayang tekening iju, ngalih aji pangawasan, muwah nyelap, ngajeng matan tuhu-tuhu, bahan ngedot kasub celang, ngajinang ne mawak hilid. 18. Yan brata tapa gemetang, tur tan pegat, mayoga lawan samadi, abih antuk sila hayu, Yama Niyama gemetang. ngamarginin. landuh kayunne pang pangguh, swarga moksa kakeniyang,celang panggih tan purukin.

Pupuh Durma : XXXXII 1. Nika dwaning tityang macutetin manah, manganggeyang tan kapuji, reh banget kasepan, nangkis sadripu punika, ne tampektur wenten mangkin, wus jumahan, ngawe benteng jroning hati. 2. Wantah juwa tityang polih ngalungsurang, ring Danghyang Mitaba nguni, ne anggen mamunah, isadripune wisesa, wenten sanjata utami. Catu rbrahma wihara nto kawastanin. 3. Nging punika boya sanjata sabarang, reh boya malakar besi, nging antuk

152

ajnyana, jnyanane kapiwelasan, ne mapalih petang bagi, dahat utama, pireng juwa siki-siki. 4. Kapratama Metri punika wastannya, Karunane kaping kalih, kaping tiga Mudita, kaping empat Upeksa, ne mangkin malih walinin, midartayang, mangda sinah seka siki. 5. Metri ika angen tan lyan wastannya, angen token watek murip, bahan pada lara. sugih tiwas tuwa bajang, luh mwani nandang sakit, sangkan kangenang, olih sang mahambek Metri. 6. Karunane manulung anak sangsara, Mudita jani artinin, bani dadi bela, duk nulungin sang kalaran, tan takut tuyuh nyalanin, dyastu pejah, lagas tan kahanan jerih. 7. Yan ida sang jadi kahanan Mudita, kanti sedih nyingak gumi, bahan nandang lara, sahi kapungsang pantisingang, ban rajah tamahe sakti, nging sang nandang, boya marasa dihati. 8. Krana ida twara sayang teken raga, kanti ngalas ninggal puri, nangun tapa brata, mayoga kanti tahunan, mrih kahaywan bumi, megat indrya, pangan turu katunain. 9. Bahan sahi kayunne banget mangenang, miwah manulungin gumi, krana dadi lipya, teken katuyuhan raga, tan eling ring rasa sakit. dyastu pejah, wyakti tan mrasa ajerih. 10. Sapunika hambek sang hati Mudita, malih sang Upeksa mangkin, uningayang tityang, ida tan mangambil suka, yan jagate nandang sedih, wawu suka, yan jagate suka sami. 11. Pidagingnya sang wus konggwanan Upeksa, yan sampun karyannya sami, pupul kalaksana, indike manulung jagat, tur sampun mabukti becik, wawu saka, nika Upeksa sujati. 12. Nggih punika kocap sanjata utama, druwen sang darmika budi, punika mamunah, sahanan satru ring tengah, rawuhne disisi lisik, krana elah, reh boya wenten ngewehin.

153

13. Nika reko ne nyandang agera tekekang, sahi tapa bratain, kemit bahan yoga, yoga artinnya telebang, mangda jati sida nunggil, twara bingbang, kayanne manglampahin. 14. Nika kocap sanjata pinih utama, pangasih buwana sami, dewa buta manusa, kelangan sebet yan mapas, jeg manados welas asih, dadi mitra, nadak wangde manyatrunin. 15. Wireh nika maraga istri utama, ngawe dot linglung paling makita nyayangang, nanging sulit mengeniyang, yan takut ngutang brangti, lobangkara, wireh nika mangrewedin.

Pupuh Ginada : XXXXIII 1. Yan suba jati peragat, darmane kalaksanain, twara aduk kacorahan, ento saja kuwat kukuh, kakwatane nto nyidayang mangatehin, mulih katongose elah. 2. Elah twara tuyuh lekad, twara tuyuh twara ngilgil, twara apus bagus bajang, ne matuncap mahang guhguh, twara pacadinin pawah, turin tusing, tengkejutang bahan pejah. 3. Uli kuwate nyidayang, manyalanin darma budi, ento mahang kawisesan, kasidan asing kakayun, nanging lyu takut ngindayang. Manyalanin, sangkan langah sang wisesa. 4. Nanging sang masolah darma, tan merih wisesa sakti, apan ento laba nista, twah bebas ne katuju, ane mahadan Nirbana, keto cai, sang resep teken kakandan. 5. Amonto tityang nguningang, wacanan Ida sang resi, ngiring wusan marawosan, becikan maileh dumun, irika ring paga-gahan, mangda polih, ngawas pada sarwa sekar. 6. Tumuli raris mamarga, marerod mamargi haris, sada lami mailehan, nulya sakendryan ditu, sarwa enlikane girang, karawuhin, kayang sarwa prani samyan. 7. Ikayu tangi punika, ne nedeng masekar becik, dyastu tan uning mapajar, sok

154

tingkah mapinda matur, ngaturang sekar acarang, kaduk malih, lintangan mirib katurang. 8. Hyang angin taler tan kirang, ledange ring sang mamargi, jaba ngicen kaetisan, masih mangantegang harura, patitip igadung sekar, ne doh kidik, reh ya tan bisa majalan. 9. Sarwa sekare ring gaga, ne bungah ring pinggir-pinggir, mirib nyadya mangaturang, kabungahan sekar ipun, reh mula tan katah pajar, kadi jadmi, katah bawos papayasan. 10. Mirib sanget maselselan, ipiduh nelepek hilid, mirib ngorta teken timpal, ne bareng masanding ditu, uduh cai kejanggutan, kene kapi, jeleke tan ngelah kata. 11. Sanget agetan ibunga, wireh ngelah rupa becik, miwah bho merik linang, sinah ya enggalan luwung, dumadi dadi manusa, yening polih, kacingak ban sang utama. 12. Benya wireh tuna goba, teken bho miyik gerit, twara ada pasambungan, iraga kensang abagus, ne luwih darma laksana. kudyang molib, lahlahan anak utama. 13. Yadin oke ngelah jalan, pacang sida dadi luwih, kala maan nulung jadma, ne luwih maraga sadu, carane twara elan, sanget gelis, masahut ikajanggutan. 14. Cara apa gelahang siga, lakar manadi utami, ipaiduh gelis nimbal, cai kajanggutan bagus, yen ada anak sengkala, sanget kanin, getihnya meles tan pegat. 15. Oke ditu manyidayang, nulung manadi panyampi, pang suwud getihne medal, henyat wusan ipun metu. muwuh gelis sida waras, malih nyawis, ikajanggutang nyujutang. 16. Kenken ban siga makanda, apa anggon siga nyampi, ipaiduh gelis nimbal, kene padingehang malu, oke masatwa ken siga, ada indik, madana mapalih tiga. 17. Yen madana kasugihan, barang kalawan mas pipis, nista dana nto adannya,

155

dana madya wastan ipun, yan madana pyanak somah, ane paling, utama madana awak. 18. Iwatek entik-entikan, kaditsanya buka jani, patuh ken watek ubuhan, madana awak kauduh, wireh twara ngelah apa, saja-baning, pyanak ada gelahang. 19. Wireh jalane nyidayang, manyampi anake kanin, oke apanga uliga, kayang panak somah milu, don katekaning punya, apang legit, lawut ditatu tampelang. 20. Sajaba nto masih ada, kagunan okene buwin, yan ada jadma kalaran, sakit babwahan iku, encehnya tan pati melah, mwah penyakit, sarwane ngutahang rah. 21. Oke nu matah-matah, pang cakcaka peseng raris, sok isinin toya matah, nto pepes kainum lawut, anggon loloh pang saian, nto ngawinin, panyakitnya dadi punah. 22. Yadin lablab masih melah, mingkin meniran kagohin, ngawe waras babuwahan, munahang panyakit liyu, bangkyang sakit anyang-anyangan, sewos malih, makuneng-kunengan hilang. 23. Uteke milu ya kuwat, makeneh twara paling, cepet malajah dadinnya, wireh babuwahan iku, yen ya jati suba waras, ntu nulungin, ngawe utek muwuh kuwat. 24. Yen uteke suba kuwat, enggal imanusa ririh, uli ririh mahan elan, uli elah bebase tepuk, uli bebas molih kedas, dadi suci, manjing ring Nirbana suniya. 25. Kewala yan imanusa, jahat indryannya kulurin, busan-busan ngutang kama, ditu oke kuwang mampuh, nulurig babwahang anak, reh mabalik, sang tulungin ngamusuhang. 26. Sangkan milih sangmadana, mangimpasin sang durbudi, twah sang sang uiama ika,,melahnya ya yogya tulung, buka mamula binihan,. sane becik. tanah lemek tandurang. 27. Ikajanggutan manimbal, saja buka mnyin nani, hira masih ngelah guna, lebih ken cai paiduh, tur ira dadi sepelang, kaetuhin, bulanan twara rusak.

156

28. Seduh cara ten melah, yen inum sahi sahi, paparu lan papu-suhan, miwah babatukan milu, ento bisa kawarasang, gring lilih, takut ken kasaktin ira. 29. Yen ira mangajak siga. sakeng mamuniyayang diri, tingkahe ngalih kotaman, tan ngangge itungan liyu, tan kadi cara manusa. kanti paling, mangalih kaweruh katah. 30. Kewala ada selselan, teken dewok buku jani ban Sang Hyang Aswinodewa, ane jati tatas tahu, teken katatwan iraga, ngamenengin, tan ngorta ring sang mamarga. 31. Krana ida nurus ngalintang, buka tong asin manolih, wireh ida tan pawikan, ken iraga krana lacur, payu dadi syu tahunan, buka jani, mentik dipagpagpagpagan. 32. Yen ida mahan manapak, ngenjek ban cokore luwih, masihke mabahan lahad, anakutamane putus, bilih masih ngawe lukat, makuwangin, mala patakaning awak. 33. Sapunika yan rasayang, ya ikejanggutan sedih, ipaiduh sedih numpang. kanti nyilih ling ngalalu, ken jangkrik kanyitnyit ika, nyak masih, mahirib ngeling sigsigan. 34. Puput kalangen sang tiga, manyingakin sarwa becik, gunung-gununge ne sawat, mirib angob ring sang bagus, minab mategeh-tegehan. manyehebin, sang tembe mangentap gaga. 35. Hebon isekar ermawa, mirib matur manundikin, nundik ungas Sang Sucita, congah ya mangaku-aku, ngangken bon sang katinggal, Dyah Karuni, sang bagus sanget maboya. 36. Wireh sanget tan sahimbang, adoh bon isekar gambir, kasidan pacang manulad, hambun Widyadari iku, kadi kalah kunang-kunang, ne nandingin, kenyoran bintange muncar. 37. Saduk ida Sang Sucita, bengong tan manolih-nolih, sinuwam inaga puspa, ne mirib lamben sang hayu, duweg ya ibuset petak, mangaturin, apang da karaga baya.

157

38. Inggih ratu panembahan, ngiring ja budal ne mangkin, tan becik kadalon nyingak sarwane ngawe wulangun, wireh uning masiluman, mawak istri, kadi rupan sang isengang. 39. Carita sampun mamarga, agelis sampun parapti, irika ring pasanggrahan, sang tiga mangasor nguntul, nyakup tangan nunas lugra, ring Sang Resi, sang tapa arsa manyingak. 40. Durung wenten apanginang. Saget cingak anak istri, mabu-sana sarwa endah, marerod ajaka liyu, pada jegeg tan pacacad, putih gading, mamwat soda rayunan. 41. Sawus nedunang rayunan, kaget ical tan kaaksi, sok bho miyik maimpugan, katinggal ring genah iku, miwah swaran suling rebab, ngirut hati, tan ada jadma kacingak. 42. Sang tapa gelis ngandika. rarisang ngajengang jani, ada pican Gurun bapa, nah lawutang cening lungsur, sang tiga gelis manunas, nanging sambil, marasa ring pangipyan.

Pupuh Dangdang Gula : XXXXIV 1. Saduk ida mangrayunang sareng kalih, kaget nadak, luwih kadi sunglap, pondoke luwir tankari, masilur gedong kadulu, babataran bunter becik, halus nyulig kedas nyalang, ijubin kaciwa langkung, ngendih luwir inten saksat, tur mawarna, mapinda tunjung tuhwasri, temboke bek bahan payas. 2. Gagambaran masih ban mas maukir, masasocan, pada ndih kumenyar, makejang ngedanin kaksi, makebatan sutra halus,. nyelag togog batu manik, mapinda Sang Hyang Smara, duk mangagem panah santun, makire pacang mancana, Hyang Iswara, ring tembok nalepek becik, katah togoge liyanan. 3. Sarwa sekar sarwa endah tuhu asri, sarwa tawah, pada nudut manah, matatakan guci becik, megambar mengendah erut, maderek mungguh ring pinggir, mambu miyik mahimpugan, pramadami lintang halus, makebat ring babataran, wenten tenda,. sarwa sutra tur maringring. masulam manudut

158

cingak. 4. Sang karowa epot ngajeng mireng ngaksi, mwah mangrasa, lwir banget kemengan, encen rungu encen depin, dening cepokan mabryuk, luwir hujan manepenin, kanti imput ban kasukan sedek sang kalih puniku, banget kemengan mangrasa, jeg saksana, peteng boya kanten kaksi,. tur genah kadi mayunan. 5. Tan asuwe kaget wenten kapiragi, kadi kilap, jerihe kasepan,. gelisan damar mangendih galange marupa luwung, wenten gadang abang kuning, malih tingglas ne ibusan, rupannya mawuwuh luwung, ban suluhin tejan damar, mawarni-warni, gagajnelan nabuh ngawit, sulingnya mangurik manah. 6. Sakeng tenda kaget medal anak istri, jegeg nyalang, sampun puput payas, sarwa bungah lintang asri, masolah mangawe enyud, lemuh magelohan becik, luwir kedapan kanginan, nyregseg nanjek manguntul, malih tadah manungadah, mainggekan, madulur cacingak natit, smitane ngendah pelag. 7. Ajah-ajahan mirib masemu runtik. rawuh cingak, nengklep mirib saja, ada ne ngawenang pedih, nanging ajahan masilur, kenyir kayang-cingak manis, kadi ngasihin nyayangang, kaget malih kadi ngambul, mentos cara macara, malih jahan, dadi kadi ngenyor manis, atut ken legosan awak. 8. Teka nyagjag mirib manrojog sang kalih, kaget nungkak, malih makilesan, masemu twara jowari, mengklak mengklok tindak enduk, dabdab adoh makakirig, makalah gigir ngalantas, malih mated ngeed lawut, wastrane kidik mapyakan, kanti ngenah, betek cokore ngeresin, putih gading kedas nyalang. 9. Kaden lantas hilang mangulihin rangki, kaget tulak, ngawas sang karowa, malih nesek mamaranin, saha ngalingiing sang bagus, madulur cacingak manis, kenyem kenyire matimbal, nesek mangilihin lawut, bahan kepet bulun merak, saha nyapa, maruntutan puh ginanti, sakadi ring sor pirengang.

159

Pupuh Ginanti : XXXXV 1. Singgih beli sang abagus, ampura tityang puniki, inisla kasep manyapa, kadatang seksek dihati antuk tityang banget tuna, rupa bocok kalud daki. 2. Muwuh tan uning umatur, sinah adoh mangonakin, dulurin kadasa gunan, reh dewa prajnyan jati, warni bagus tan pacacad, sangkan tityang lek manangkil. 3. Intene embanin kawu, banget manyusudang luwih, kadi surya kaguleman, sapunika yan upami, banget ngawe sebet manah, sabatek sang mangelonin. 4. Sapunika sat iratu, yan kala tityang manyanding, punika ngawe sangsaya, indik tityange manangkil, yan tan ajrih ring pangempwan, bilih tan langgap medekin. 5. Ampura puput kalungsur, ring iratu sane mangkin, jaba atur miwah solah, ne adoh pacang ngenakin, lud rupa nyepenin cingak, miwah genah tan nyukanin. 6. Nging manah tityange ratu, ne jati teleb subakti, mangaturang panyambrama, kadine kahatur sami, punika tampen becikang, nggen ngirangin sebet hati. 7. Wireh tityang saking gunung, magenah ring desa sepi, mamarekan ring sang tapa, Ida Sang Mitaba Resi, sing kuwang makejang-kejang, tan manut cara nagari. 8. Durusang rayunang bagus, sawentennya katur sami, puniki becik unggahang, arak som kawastanin, ampurayang yadin tawah, ngicalang bedak asasih.

Pupuh Ginada : XXXXVI 1. Sapunika babawosnya, tumuli raris matangi, ngalinderin sang amangan. sambil masolah daat lemuh, sang kalih wusan ana-dah, matur raris. tan kirang manudut manah. 2. Ratu sang mamuka bulan, macingak bintang rohini, jegeg mangungkulin jagat, tityang I Subudi matur, puniki sawitran tityang, pateh sami, pamuput matur manunas.

160

3.

Munggwing paican

imirah,

ngebekin

indrya

sami,

ngamretanin

buwanaraga, mamedah kaunteng kayun, dumadak pican imirah, mangawinin, pametuning darma sila. 4. Inggih puput sapunika, tityang matur ring imanik, sang istri tan manyahurang, sok kenyem manggen panyahur, solah kanggen

mamantesang, mapinyawis, pada nganggen parasaan. 5. Huwus ngehed raris nunas, mapamit ring sang Subudi, kalawan ring

Sang Sucita, raris makiles sang hayu, mabading madyane tingglas, meros ramping, anut ring adege lanjar. 6. Gelohan rambute panjang, masongket campaka putih, cara macanden kacingak, ngengkebang madyane lemuh, nanging enggokan bokongan, manyilurin, tan kirang nyukanin manah. 7. Sedek ditengah kalangan, sang hayu lawut manolih, nyabat ban manising tingal, mangkep ring smita guyu, adung ring solahing tangan, lwir ngajakin, saksana makejang hilang. 8. Sok gupek suling rehab, maswara ngejohang hilid, sayan saniar

padingehang, ken awang-awangan saru, Sang Subudi Ian Sucita, saling tolih bahane tiwas dadakan. 9. Pamuput ibojog nandan, tur matur sada babeki, sang nyukayang ne ibusan, sinah jani dadi sungsut, tityang reh tan manyukayang, sangkan jani duk ical tan mangewehang. 10. Luwir ne cingak ibusan, lawat jnyanan sang yogi, ida micayang kasukan, pangrehan kayun iratu, apan Maha Rsi Mitaba, dahat uning ngulanin tamyu perapta. 11. Ibuset mated angucap, wireh wenten teja kaksi, panataran pasanggrahan, samyan kuning kadulu, bresih nyundar kedas galang, bareng bresih, kayun sang tamyu duk nyingak 12. Ajahan sanget perapta. Ida Sang Mitaba Resi. sang kalih manguntul nyumbah, sang maha guru mawuwus, duh cening sang satya darma, mugi-

161

mugi, cening mamangguh kasadyan. 13. Kewala cening selegang, mahurukin kandan Aji, ne Ida Sang Maristena, sekenang tunasin tutur, bapa sanggup pacang nyaga, bagus kalih, salawase da sangsaya. 14. Sawus ida mawacana, sakedap jeg ical raris, sang kalih kialan duhka, karawuhan suka agung, suka tan pabalik duhka, yan rasanin, kadi tan marasa jagat. 15. Bahane takute hilang, nadak rasa bani panggih, bahan tamahe matinggal, sangkan sanget iying dikayun, dening kyape tan ada, cedang panggih, sat mamangguh jagat turya. 16. Ban raket kayune ical, krana lalise kapanggih. bahan indryanc1 hilang. krana dadi suklan kayun, ban runtike twara ada, krana panggih, asihe ring sarwa bawa. 17. Lekahan Resi Mitaba, matampak maring sang kalih, sat molih kretesan moksa, sukane kalangkung luwung, krana sang kalih manyumbah, kapupuhin, sad pada mangisep sekar.

Pupuh Sad pada mangisep sekar : XXXXVII 1. OM OM sembah ikatunan, dumadak juwa kaaksi, munggwing pangabaktin tityang, nista solan lawan wuwus, muwuh banget hina budi. 2. Kewanten sredaning manah, miwah katlebaning hati, kalawan eling tan pegat, kanggen manyanggra manyuwun, ican iratu sang luwih. 3. Iratu Jangkung pawikan, ring manah sarwa dumadi, ne jati kalawan boya, ne corah tan bakti mulus, ne patut kalawan rusit. 4. Apan paduka batara, ne mula nodyanin gumi, weruh ring sakandan jagat, saluwirne wus kalangkung, mangkin miwah ne kawuri. 5. Sakala lawan niskala, batara ngraganin sami, wosnawa suksma

batani, Brahma niskala iratu, pepek sami karaganin. 6. Stula maya batara, mantra kanggen mangastuti, Siwa sada angga batara,

162

miwah Gayatri kasengguh, ngebek ring ruhur nyusupin. 7. Duk ring Citawirahita, sane kanggen mangastuti, tan lyan nirmalajnyana, degeng ring jeroning kalbu, Paramasiwa kadalih. 8. Nisswasa ugi kaucap, miwah turya kawastanin, mraga suniya tan pamaya, kedas galang bresih langkung, luwih tarn ada nyamenin. 9. Duk ring Citarahitantya, Santiatita kwastanin, tuhu parama suksma, ngabeletang para wiku, reh ngalih ane kaalih. 10. Dwaning tityang mangastawa, kotaman sang adi luwih, mugi tityang polih tampak, tejan jnyanan iratu, kanggen kamulaning hurip. 11. Sawuse mangkin amuspa, medal kayune ne suci, tumuli ida sang rwa, mamargi ida manerus, sareng ipun I Artati. 12. Jumujug maring pasraman, ring Ida Sutena Resi, tumuli raris anembah, sang Resi Ida amuwus, panyapane banban haris. 13. Duh cening sang bagus rowa, yadin cai Sang Artati, jalan dini ajak bapa, sareng tiga jenek malungguh, mahurukin tatwa pingit. 14. Munika wacanan ida, Sang nabe Sutena Resi, katah yanmalih tuturang, wireh Ida prajnyan langkung, tan sandang bawosang malih.

Pupuh Ginada : XXXXVIII 1. Sewosan mangkin satwayang, indik ipun 1 Durgati, kacrita krawuhan timpalnya.kakasihan ipune ilu.dukkantun maulah iwang, ngarawuhin. wastan ipun 1 Pataka. 2. Munggwing jadmane punikam mula taler inan malingm tan kidik maduwe rowangm ne dadi pamekel jaruh, ipun rawuh sareng patpat, sami ririh, ngekanang pakeweh anak. 3. Bawu rawuh I Pataka, iraksasa nyapa kenyir, iseng maman teken siga, ban makelo twara tepuk, jenengcai meseh tingkah, mangawitin, ngutangin pelihe suba. 4. Ada masih kapantesan, siga bisa ninjo diri, reh cai mawak manusa, mula

163

tongosin kaweruh, kawruhe ne dahat katah, ento dadi, pamedas jeroning manah. 5. Ento ane mangajinang, tingkah beneh lawan pelih, teked kayang wasanannya, yan te tan kiyul madulu, wireh matane dimanah, celang lebih, teken ne dadwa dimuwa. 6. Miwah tuwuh suba panjang, liyu unduke kapanggih, sig anak imbane katah, didewek buktine liyu, jele melah suba pedas, maka smi, jati ento twara samar. 7. Kala nyilib gelah anak, sat nundung landuh dihati, awak raula twara getap, teka gae apang takut, suba takut la wut sawang, aji bani, bani ngalempag sang ngelah. 8. Yan tan nyilib gelah anak, twara tuyuh ngawe bani, apar takute ya ada, ngudyang gisuh ngawe purun, yan tan jerih ngudyang getap, sanget paling, awak puies takut kiyap. 9. Bani ngamatyang anak, sat ngubuh takut dihati, banine nulu-ngin anak, tan takut ken awak lampus, ento banine pasaja, kayang mati, tekek twara bisa obah. 10. Awanan jalan lantasang, suwudang maulah rusit, silurin ban kaantengan, pang abesik anggon musuh, seduke ane dibasang, yan mamaiing, makejang anggon sangsaya. 11. Yadin sida ban ngalawan, sang ngelah barange paling, ban awake ngelah jimat, ngales jati teguh timbul, yadin pacang dadi umbah, kena bacin, melahanse yaning lasya. 12. Kaduk mala ajak maman, makasihan uling nguni, uli ngadut tingkah ngawag, jalan indayang majumu, negdegang keneh lan tingkah, apang bresih, suwud nginum putek manah. 13. Sang Pataka uling tuniyan, sanget kaclewag dihati, ningeh munyin iraksasa, tungkalik teken ne malu, ne nguni yan mara teka, suba nagih, orta sane nyandang bahak.

164

14. Nanging ipun I Pataka, mangabehin daya runtik, duweg mangadu smita, kalawan matabtih halus, alah luwes bulun subya, lemuh gading, yen ngosod genit makebyah. 15. Tumuli ipun mangucap. sada nguntul mapi jerih, maman saja liwat tresna, teken kola uling malu, kayang jani twara pegat, tuwi jati, cara tresna teken pyanak. 16. Mula keto twah patutnya, jele melah bareng mukti, ento saja masawitra, sangkan kolane jeg tutut, ngajak nani kayang wekas, tur ajahin, luwih sapanawang maman. 17. Kewala dot kola nawang, kenken krana buka jani, teka nadak mobah melah, saksat Sang Hyang Kala iku, lemuh manis madurasa, catur sasi, munyin maman dingeh kola. 18. Kpla nadak kalahlahan, hidepe corah jeg mati, isengan maman

ngawinang, makita bareng maguru, yan ada nga-winang maman, buka jani, awanan tuturin kola. 19. Iraksasa bes polosan. unadikane manipis, bahane darma dadakan, tonden nawang cara luwung. awinan jeg kasinahang, maka sami, rawuh desan Sang Sucita. 20. Bawu puput kapidarta, I Pataka sang mamancing, sumasat sampun mangambah, awanan ya anggut-anggut, mirib mang-resep pidarta, nanging jati, ya nirasa mahan pacundang. 21. Sasubano Sang Pataka, ngawales ban munyi manis, ngaleganin

iraksasa, lawut ya morahan mantuk, iraksasa tan matulak, suha nyambil, apang ya pepes bwin teka. 22. Tumuli raris majalan, bareng timpalnyane sami, sasubanne ya joh sawat, I Pataka ngomong lawut, ih ih cai timpal kola, Sang Andati, Libut lan eai Kuhaka. 23. Apa nu siga tresna, mangangge awake jani, awake sanget maboya, teken iraksasa iku, awak lakar imulanturang, sampe mati, matindih ginanne suba.

165

24. Cara mananem tekungang, tonden inget suba kisid, bwin mara tumbuh sehenan, buwin kisidang ya abut, kasad kisid twara melah, sinah mati, lelehe di pakisidan. 25. I Libut masawul nimbal, oke solang teken cai, ban siga caru cara nuwutang, munyin iraksasa bawu, yan saja sing siga enggal, nrangang jani, dasan di jalan kapunggal. 26. I Andati inwang Kuhaka, pada adung ya dihati, mawuwuh kendel mangakak, ningeh munyi ya I Libut. I Pataka lawut ngucap, jalan cai, negak dini mapitungan. 27. I Libut tan nyak negak, tur mangucap sada jedig, lan dogen suba majalan, sambil ngawas kubu-kubu, singnya ada ngangsi nunggal, nto celepin. nasinnyane idih amah. 28. Yan ya nagih makelatang, sadu anggon ngalemesin, tebih jeg cara sahangang, apang twara liyu tutur, basang ake misi tonya, twara asi, ningeh munyi kadat nyerah. 29. I Pataka manuwutang, nanging sambil delak delik, sebeng-nyane marungus pisan, marenges halis macepuk, sampun adoh ya dijalan, teka ririh, kubwane takut manunggal. 30. I Andati ngedas pegat, kupingnyane kailihin, baban sadu nya-nyap pisan, antuk dane Gede Libut, ban nyambat kuru majalan, kanti ngilgil, I Kuhaka mangatonang. 31. Sanget ya twara ngenehang, timpal seduk uling tuni, ngaku kenyel ya majalan, yan ngamah tan tahen kuru, keto I Libut krumuknya, delak delik, cara singa ngahem burukan. 32. I Pataka jeg sahapan, twara tahan uling tuni, bawong I Libut kalempag, bahan sahang kanti elung, aget sahange tepwan, krana gelis, I Libut ya mangwalesang. 33. Ping telu sadune ngindang, ngalihin bawong nyenyepin, I Pataka sebet pisan, makelid calyak calyuk, kaget nyauh I pataka, ngedas keni, yan tan sebet I

166

Kuhaka. 34. Ipun nangkis bahan pedang, sadun I Libute keni, kanti ketes joh sawat, I Pataka enggal bangun, gangsar ngingsanang gemelan-ulunhati, I Libut kanti mangengsap. 35. Ketegakin ajak dadwa, I Andati ngalemesin, twara mahang ngamatyang, I Libut mangasen sampun, ngidih hidup ngolas-olas, kanti ngeling, tur sanggup tan bani congah. 36. Kenehe ane berabah, enu mangugunin rusit, mula bulak-balik enggal, banine manadi takut, sukane manadi duhka, budang bading, reh mula ya mawak onyah. 37. Len teken sang nyidayang, manyungkemin darma budi, mula tekek ketil mobah, sanget lebih kuwat kukuh, twara gampang mamegatang, apan jati, pawakan tekek pasaja. 38. Gelisins carita kocap, sang patpat adung mabalik, I Libut jemetang getap, awanan ya dadi tutut, degagnya ne kadi lukat, ban kritisin, gemelan hulunhatinnya. 39. Masih pamuput kasadyan, maan palung palinder gumi,degage takut dadinnya, tungkase manadi adung, krana suwud maru-ngusan, dadi kasih, sangkan marerod majalan. 40. Hombak corahe henapan, kapo yan kudang panalik, ban kubu nunggal tan ada, sangkan ya mamargi nerus, katah munduk kalintangan, crita gelis, sampun rawuh maring umah. 41. Teked jumah mararasan. mangitungang daya runtik, sampun puput pawilangan, benjang ipun lunga lawut, I Libut lan I Kuhaka, ne kaungsi, tan lyan desa Wekreta. 42. Kapo yan akudang dina, aneng Wekreta sang kalih, mangelarang pangupaya, ne singid madaging rusuh, raris molih katerangan, pari indik. Sang Subudi lan Sucita. 43. Sangkan gelis malipetan, maka tlun sampun prapti, morahan ring Sang

167

Pataka, buwin ya ditu marembug, gelisang jani satwayang. benjang malih, I Libut kautus lunga. 44. Majalan ya padadwanan, I Andati manyarengin, mangungsi halas Sukawan. I Dukuh Prajnya katuju, gelising carita kocap, sampun prapti, ring pasraman Dukuh Prajnya. 45. Sawuse negulang kuda, dijaba ngraris ngaranjing, sang dukuh raris manyapa, uli dija jero tamyu, sang kalih mahatur sem-bah, tityang niki, parekan sakeng nagara. 46. Umah tityang matampekan, ring Gryan Sang Subudi, kalih Ida Sang Sucita, turin tityang saking ilu, ngawit saking pekak tityang, sane nguni, muput marekan di grya. 47. Tumus rawuh maring tityang, tan pegat kaswecanin, nanging langkung mandabagya, tityang mangiring kagunung, sareng niki timpal tityang, saget manggih, halangan ring tengah marga. 48. Sakeng dibi pasemengan, maninggalin wanagirii, ukuh mariki mangambah, mangda polih simpang dumun, antuke isene kalintang, antuk lami,

kumbange ninggalin sekar. 49. Sagetan sedek mamarga. sangkala gutii lalipi, yan napi kapo wastannya, wus nyotot makiles sampun, antuk padang atub pisan, tan kaaksi. Sang Sucita gelis rebah. 50. Sampun kakaryanang tamba, katawar ban Sang Subudi, ugi eling tan nyidayang, sang manawar puput imput, kandugi sedih maguyang, tityang ugi, sambil bingung, mamulisan. 51. Sagetan malih ajahan, ida nyidayang matangi, nging musnane ucem pisan, tur mawosang sakit iangkung, tan pisan sida mamarga, sok malinggih, sida ngalawanin pisan. 52. Raris ida ngandikayang, munggah ring jakane gelis, ngrereh dawunnyane nguda, nugi kasidayang sampun, anuJi ida manyurat, ban pangutik,

wus puput kaicen tityang.

168

53. Mangdennya ring gustin tityang, Sang Dyah Ratna Karuni, lingga tanganne katurang, mangda tan iwang sasuduk, sang-kan iratu mas mirah, manampenin, kirang becik yan liyanan. 54. Niki tampak tangan ida, kosodang dumun ring pipi. ring kanan miwah ring kiwa, bulak-balikang ping telu, sumasatang tangan ida, manguluhin, nyutsut srupata yan medal. 55. Sawusane raris paca, sampunang dumun manangis, mangda tan medal srupata, surate mangda tan capuh, kenten pami-teket ida, nggih puniki, sang hayu raris mangalap. 56. Tumuli gelis kapaca, ucapane sapuniki, duh adi mas jiwan tityang, sang maka mustikan kayun, mirib jani dogen pragat, beli ngiring, iyadi ngrawos ban surat. 57. Indik lwas beline ngalas, maninggalin adi dmi. degag nulad lkartika. ngerem mamnggal sitangsu. ne sinah matemu muwah, nanging beli, bilih, terus mabelasan. 58. Saja acepane bobab, nulenya nakinin hati.kaden bisa nya, kayanang, kayangne bakalan ruruh, tuwah masa ane kwasa, manglugrahin, ne mula patut kalugra. 59. Beli suba mamuktyang, imapokok sarat dihati, ngaba acepan dimanah, prade beli masih lacur, cotot lalipi dijalan, mirib beli, mapamit maring imirah. 60. Minab ida Sang Hyang Dora, masahang beli ring adi, tan payu manemu karma, enggalan mati manyambut, wireh sakite bes rahat, ngunteng hati, dewek beline semutan. 61. Nanging ada unduk tawah, duk beli ngengsap dituni, cara ngipi ada anak, suba sanget lingsir rawuh, terang dingeh mangandika, teken beli, kene pangandikan ida. 62. Sinah kocap beli pejah yaning beli twara polih, srupatan istri utama, ne anom mahambek sadu, cucud bakti ring kawitan, welis asih, ring anak nandang sangsara

169

63. Tur kocap sane ngolesang, tamba punika yan keni, anak lanang truna bajang, taler ne mangamong sadu, makadi satya wacana, ical raris, sawusan ida ngandika. 64. Wireh twara ada lyan, ne adung manahang beli, imirah wantah tan liyan, patut ngicen toyan caksu. pacang mamunahang wisya, ilalipi, ne mangrusak dewek tityang 65. Ne pantes pacang nibakang, toyan pacingakan adi. nora lyan Sang Sugata, awanan nggih ratu hayu, gelisang icenin tityang, tur lugrahin, I Sugata mangda muwat. 66. 66. Puniki parekan tityang, mangda manginng digelis, singnya kaget bisa saja, kadi ipyane pangguh, sida tityang hurip waras, sinah gelis, rawuh nangkilin imirah. 67. Dyastu iratu ledang, yan kadat tan sida kapti, awianan ratu gelisang, inggih sapunika puput, atur tityang I Sucita, rakan adi, pamuput tityang ngantosang. 68. Sapunika daginging surat, I Andati manulurin, ampura tityang nyenyean, matur ring iratu hayu, runtagene mangawinang, krana bani, ngatunn mangda ngelisang. 69. I Sugata mangelisang, ngambil gamet wawu kaksi, rakane nangis mulisah. toyan eingake kasutsut, nuli mapamit ngelisang, ring iaji, saha

mangunggahin kuda.

Pupuh Sinom : XXXXIX 1. Sujati luwih utama, sang.makaiang enten hati, ne sida degdeg tan obah, duk ningeh ngadek ningalin. mingkin mangawinin becik, dyastu matemah kewuh, manggeh twara tahen runtag, apan sampun kraseng hati, hala hayu, mula tong dadi pasahang. 2. Anakene sapunika, lebih elah manggih becik, unadika lan upaya, lebih enggal ipun keni, apan nto katongosin, bahan galange puniku, makrana ne saru samar, popes karasa dihati, sangkan liyu, utamane ditu bakat

170

3.

Sangkan saja hila dahat, yan sangah ningehang munyi, doyan katah pamedannya, pisuna olah nyelepin, pahek halane kapanggih, panglokika hilang caplus, bane bes sanget runtag, ningeh munyin sang mangorti, bisa mangguh, keweh kadi Sang

4.

Ne mangkin durus pirengang, satwane pacang sambungin, crita ida sang Sugata, sasampun adoh mamargi, I Libut ngenken maglisin, ipun matur sakeng ungkur, ngelut madyan Sang Sugata, reh sarengkalih negakin, kuda iku, pan sampun mapasang daya.

5.

I Sugata wireh mula. wikan pisan ngalinggihin, kuda dyastu sanegalak, long pisan nahan kapencil, kudane kapecutgelis, I Andati kadi ngungkur, I Libut menga tolihan, budi ngulapin I Andati, jag kadulu, anak manegakin kuda.

6.

Malombanan sareng patpal, nging adoh ring pungkur kari, sujatin jadma punika, nyadya maboros pituwi, I Libut selang dihati, sengguhang sang dukuh ngutus, nunden mangetut deweknya, kadena tangeh dihati, gelis matur, I Libut ring sang Sugata.

7.

Inggih ratu Sang Sugata, indayang ja ratu cingakin, anake negakin jaran, ne gancang pisan malahib, manawi Ida iaji, ngutus mangiring iratu, mangda katahan ngiringang, rikala mantuk mawali, cingak dumun, sapa sira sih punika.

8.

Raris nyawis Sang Sugata. mangangken twara uning, I Libut buwin mamanah, nanging selang malih mentik, manah ipun sapuniki, yadin ja ne twara tahu, reh ida anak kubwan, tur-maning nu bajang cerik, kuwangrungu, teken anake wayahan.

9.

Jeneng Ida Dukuh Prajnya, ngutus ngetut banya mai, dening Ida prajnyan pisan, jeneg kumenyep dihati, teken deweke mawak lengit, awanan dane gagisun, ngenggalang ngalih parekan, ne pahak ditu manawi, sangkan laju, jaranya twara rerenan.

10. I Andati pateh pisan, selang ipune dihati, sangkan sering mabandrengan. I Libut lan I Andati, nyiryang selang dihati. sambilang kudane pecut, mangda

171

sida nganteg enggal, ring genahe ne kaungsi, apan ditu pacang papag timpal katah. 11. Anake dun punika, wus tampek tur pedas sami, pada sregep sahastra, tali miwah tumbak sami, I Libut selang sumingkin. tumuli ipun macebur, inggih ratu Sang Sugata, musuh tityange puniki, nawi ipun, pacang manyangkalen tityang. 12. Yening pade tityang pejah, sinah tan sidaning kapti, reh iratu durung wikan, ring genahe ne kaungsi, becik iratu nulungin, pademang jadma puniku, yen sampun padem samyan, irika ngiring digelis, manaluju, linggih Ida Sang Sucita. 13. Sang Sugata coton pisan, wiwekane saksat mati, keninin pangulugul corah, jeg getar masawur gelis, sinah iyang tan nepinin, yan mayuda pacang payu, I Libut kehdel ningehang. tur macebur digelis, nyagjag lawut, jeg manyabat antuk paras. 14. I Juru boros sahapan, reh masih posong dihati,turin masih pada silat, macebur cepokan raris,sahasa ya manumbakin, I Andati mwang I Libut, pada duweg matangkisan, I Sugata manulungin, krura langkung, yudane reh pada silat. 15. Sada lami ikangyuda, I Libut Ian I Andati, pada matatu dilima, miwah paha masih kanin, musuhnya tatiga mati, nu abesikya mangamuk, I Sugata ne ngalawan, wireh silate tan gigis, dadi takut, imusuh lawut manongklang. 16. Disubane joh sawat, ijuru boros malahib, I Libut tan kuwang daya, nuli ipun matur malih, duh ratu sang bagus luwih, masuwe san rakan iratu. nyantos idewa ring halas, ngiring gelisang mamargi, nanging tulung, unggahang tityang ring kuda. 17. Kewanten sampun kasidan, iratu pacang mamanggih, ring iraka Sang Sucita, ne tanmari ngati-hati, kaduk reko tityang mati, tan sayang tityang ring hidup, awanan ngiring mamarga, wus tampek sakeng iriki, tityang takut, yen rakan iratu seda.

172

18. Raris ida Sang Sugata, encol ngunggahang sang kalih, pada nyeje polih kuda, jaran rampasan asiki, punika nyangkepang nuli, sagrehan mamargi lawut, wus adoh ida mamarga, rurung maeanggah kapanggih, raris matur, ya I Libut mangelisang. 19. Inggih ratu panembahan, margine kiwa entasin. Mangkin, sampun tampek pisan, genah ida sang manganti, sang katiban daya lengit, jeg coton ida rrianuwut, ngalantur ida mamarga, kaget tanda haia kaksi, tur maketug, unteng kayune ditengah. 20. Durung ida polih panjang, mapitungan jroning hati, kaget anak sareng katah, ngiter saking bete mijil, jatinnya saking dituni, ipun mangantosang ditu, reh sampun puput sengketa, ring I Libut I Andati. jeg kasahup, Sang Sugata sareng katah. 21. Sasampune Sang Sugata, tekek tangane kacangkling, tur kajaga sareng

katah, Sang Pataka manakenin, Libut Ian I Andati, kenken dadi nandang tatu, apa saking Sang Sugata, nyidayang natunin cai, gelis nyahur, I Andati manerangang. 22. I Libut tan sida ngucap, bantas sida manganggutin, kadi saksi masajayang, sapamunyin I Andati, I Libut jeg nyele hati, dening getihe nrus pesu, timpalnya pada mpnyagjag, ada ane maang panyampi, nanging lacur, ngalawut suwud mangkihan. 23. Mirib sepanan nyuratang, sakit jengah sang kacangkling, bahan suba sinah pisan, tan nyidayang manandingin, wireh musuhe tan kidik, bilih wenten tiga likur, kalud cokor miwah tangan, mabrigu tekek tan kadi, krana puput, nyerah kung gahang ring kuda.

Pupuh Girtada : XXXXX 1. Becik iriki tungkakang, sewos kacarita mangkin, kocap I Mahadasraya, rawuh nangkilin sang dukuh, duk wawu pisan sang putra. ngalunganin, ne kahapus ban ijahat.

173

2.

I Dukuh sawus manyapa, ukuh nyambung mangortain, indik ortan Sang Sucita, parekane gelis matur, inggih ratu dwaning tityang, rawuh tangkil, tityang ngipi ibisanja.

3.

Kocap blabar ageng pisan, sakeng irika kaaksi, saget pasanggran padanda. kalancah ageng mangalun, nuli Ida Sang Sugata, anyud raris, nanging kampih duduk anak.

4.

Teka banget selang tityang, indayang juwa kayunin, I Dukuh sane ituniyan, pecak lipya mangkin bangun, null mamasang jnyana, kraseng hati, I Sugata trang sengkala.

5.

Sang hayu kaget mulisah, mangampet nangis manyerit, bahan masih ada rasa, ne sinah sajroning kayun, sangkan ngandika ngenggalang, pang mamargi, mangetutang arin ida.

6.

I Dukuh raris ngandika, bapa ngidih tulung jani, teken cai Mahadasraya, ne panah majalan Iawut, cai sinah tan sengkala, yadin cai, karebut ban satru katah.

7.

Mara pesan ya majalan, jaran caine tegakin, apang tepuk ya dijalan, jeg lawan nto da takut, I Mahadasraya gaglisan, jeg mapamit, budal mangambil lis kuda.

8.

Gelising carita kocap, reh kudane alah tatit, gangsare tan kumantiya,. carita kaget kadulu, anak katah makudayan, sangkan ngawit, I Mahadasraya prayatna.

9.

Wus tampek saget ningehang, trang I Sugata nangin, manu-lame aji byang, sang kautus manaluju, saha nindih-nindih manah, tur ngeninin, I Pataka nunden nglawan.

10. Sambil lpun malahibang, I Sugata kajak mulih. ada nutug bareng dadwa, dwangdasa ngalawan musuh, asing mabudi ngahapang. kaconggerin, tangkahnyane bahan panah. 11. Ada kena dimatannya, dicangkem diulun hati, ada dibasang diwehang, adane mabudi takut, bawu mabading kapanah, buwurig mulih, payu kanaraka loka.

174

12. Pamuputnya telah kedas maka dwangdasa mati, mati matindihin hala, mangkin manureksa lawut, Sang Sugata trang sing ada. sangkan gelis, ngetut ne malahib busan. 13. Antuke gelis wengyan. tampak kuda tan kaaksi, awinan ipun mamanah,. wus puput mapineh sampun, raris ipun malipetan, saha Rgambil, kudan satrune samyan. 14. Kadandan alon-alonan, gelis crita sampun wengi.bawu rawuh ring patapan, nguningang sahindik ipun, rawuh indike ngantenang, sang malahib, negakin kuda rihinan. 15. I Dukuh mangandikayang, nguningang ring Sang Bupati, sane mani pasemengan, iparekan sampun sanggup, Ni Karuni mangkin kocap, jeg ngaranjing. kapamreman mulisah. 16. Antuk kewehe kalintang, pati dulame ya paling, nguda ratu Sang Hyang Titah,. banget ngicen sakit numpuk, ne rahal nusukdimanah, kanti paling ,tityang tan mampuh manandang 17. Sedek rahat ngurek manah, iseng tityang ring sang kesti, rasa tan kuwat nahanang, kaget ada orta ngapus, wireh ne dadi ahatan,. apang panggih, lawut morta kasengkalan. 18. Disubanne mrasa tastas, uwat tityange di hati, lawut numpuk mangeneotang, nindih adin tityang lacur, meh baya apusin corah, duh Hyang Widi, napi anggen tityang nandang. 19. Manah sampun boya kuwat. irasa wus lilih rihin, hati paparu papusuhan, sampun bangel remuk ajur, kadekdekang indik rahat, manyakitin, hulung nepen acepokan. 20. Punapike iwang tityang. tityang madewek taruni, ne ngisengang anak truna, ne dadi adungan kayun, dadi icen sakit manah, twara gigis, nalyab kena pisadya. 21. Anake kantenang tityang, jeg lasya mabuncing kanti, lanus rurus manggih suka, kanti manak ya macucu, yakti sanget tityang jela, tan gigisin, Batara

175

makarya beda. 22. Kalingke nto bisa bakat. mara iseng suba sakit, larane tonden mingkedan. sagetan suba kaapus, ngawe sakit mamegatang. unteng hati, banget san tityang maboya. 23. Iratu kocap Hyang Titah, mraga sweca tan patanding, kasaya-ngang maring jadma, nguda tungkalik kapangguh, iratu milon-ilonan, banget gati,

tityang seken mamuktyang. 24. Punapike langkung iwang, tityang sayang teken adi. ne tindih kaliwat tresna, dados kakardinin kewuh, napine tvvara tolihan. nika becik,

kabawos antuk batara. 25. Inggih ratu Hyang Smara, kocap iratu mangardi, iseng lulute ring jagat, sampun tityang bakti cucud, mangiringang pakayunan, dados depin,

sapuniki tityang lara. 26. Dukuh aji saget prapta. mangucapang sapuniki, nah subayang ening kojayang, eda matur katalanjur, teken Ida Sang Hyang Titah. pang bedikin, tulah bena teken ida. 27. Ibawu bapa kamrajan, matakon jroning samadi, ada sepa dahat melah, adin cening bakal mantuk, lasya twara kenapa kuda, saha rabi, nanging pidan kapo teka. 28. Bapa batek van kasepan, amonto twah twara lebih, sok suba rahayu budal, jalan sukayang dikayun, yadin pade bantas teka, jati mangkin, bareng mangajak kurenan. 29. Sotan awak dadi jadma. mingkin yen lawas mahurip, mula ngaba lalampahan, duk nyaianin pahit langkung, nangingsuba dadi satwa, liwas manis, buwin rakit anak prajnyan. 30. Jani jalan palilayang, eda nyugyang sakit hati, amonto dong jati suka, melah landuhe ne pupu, reh ento kasukan jagat, sangkan gisi, tekekang da mangelebang. 31. Ne mam pasemengan, I Mahadasraya tangkil, kapuri mangda nguningang,

176

tekening Ida Sang Prabu, sahindike nto makejang, singnya nawi, sakeng ida misaratang. 32. Ni Karuni duk mirengang, wacanan ida iaji, marasa kendel dimanah, nanging madagingmaketug, wangsit hala aht pisan. tan kalangwin, apan sedek brusah gantyang.

Pupuh Ginanti : XXXXXI 1. Mangkin kocap nungkak dumun. indik Ni Dyah Karuni. marig-kin waiimn nyarita. i Pataka sampun prapti, ring umah saha mangajak. Sang Sugata dahat spdih. 2. Bawu pisan ipun rawuh, ngawukin somah digelis, nah iyang mangaba jadma, panaknya nyagjag nelokin, uli jumahan jen dela, kanlen terang bagus gati. 3. Ni Kumudawati iku. rasa tastas jroning hati, kena belahan cacingak, sane pantes tumben kaksi, dadi runtag jroning manah, ngalemporang lima batis. 4. Papinehe telah lebur, kiput ampak muka manis, kanti maka keb sapisan, dikasure lemuh lembi, crita jani I Pataka, wireh gagisuning hati. 5. Gelis I Sugata iku. sampun kajak mangaranjing, digedong karangkeng waja, gelis medal ya mabalik, ngunggahin kuda ngenggalang, nulung timpal ne tinggalin. 6. Bawu mara bapannya pesu, Ni Kumudawati gelis, naluju karangkeng waja, cacingak ida sang sedih, ne istri mangan-tenang, buduh lan kangen nguwuhin. 7. Jeg nesek sambil mangelut, manyutsutin toyan aksi, nuli mangakebang muwa, dipalan ida sang laki, sambil matur ngi-rut manah, ature kadi puniki. 8. Gagelisan tityang matur, tityang mamaling mariki, bapan tityang kaduk medal, ngunggahin kuda gagatin, nawi lunga tadah dohan, mawanan purun mariki. 9. Cacingak ratune bawu, nyanyap manusuk ring hati, mati tityang mapuputan, mangiring iratu mangkin, yaning ratu pacang seda, tityang tan kantun

177

mahurip. 10. Sadurung seda iratu, tityang mahutsaha rihin, mangden tityang

manyidayang, ngiring iratu marabi, dini pacang iring tityang, entegang kayunne mangkin. 11. Ne istri tan tahen kayun, brorot warnasang sedih, cunguhe misayang iba, ngoyot pipi bulak balik, I Sugata ngamenolang, rasa maduk mingungin 12. Lengis demenne meh ulung, peres pagelut pakilit, enggalan ketug dimanah, kras kaden kuda prapti, ngenggalang lawut mulyan, nyaru cara matatangkid. 13. Sawireh hating bingung, runtagangdemen lan jerih, kadi kilat mabarungan, ngarudug dilangit hati, sangkan sing jemak mangawag, lumure belah ngemasin. 14. Suwe kantos bapan ipun, ugi tan wenten kaaksi, bilih kantun ngalungayang, sangkan matuptupan malih, tangeh ken awak japjapan, sangkan teken dewek brangti. 15. Indryane sayan matuptup, kumpul mangebekin hati, makisi-kisi ditengah, ngudase imirah jerih, jalan balikin kawitang, alih sang nyukanin hati. 16. Sabehe bales puniku, pacang ngantinin imanik, sinah nto ajin idewa, ngekoh pacang ngentap mulih, pedas twara teka eng-gal, byang kaduk itep nyahit. 17. Yan saja buwat dikayun, ngudyang takut ngutang jerih, wyadin pacang katangehan, yen suba ngetohin hati, apane buwin takutang, napine bwin idaiemin. 18. Yan kadat balikin rawuh. pocole sahat agumi, satuwuk tan manggih suka, yan ne kasepan abedik, sang hayu suwud ningehang, reh liwat ngugu dihati. 19. Nadak mlajah ngipi bangun, jagjag terang sang kaaksi, deweknyane mrasa ngenah, mabin kasangkol karasin, ban tda sang kaahatang, saha ngrumrum mangresepin.. 20. Mukane angkebin rambut. rasa sampun kasapuhin, kontal kuri

mayurambyah, nguyak tanah tan kitungin, yan napi kapo pangusan, sang kawi kasep netesin.

178

21. Ipyane sanget manutug, ngadahap lawut mamargi, sambil ngrinci pasewakan, sangkannya lantud mamargi, mapo janggel tan marasa, ngalih panglemes dihati. 22. Biin indryaue manuju, katengah kumpul dihati, lwir kanti amretahara, sangkan dampar tan kaaksi, katuwuk kanti nakonin. 23. Sang hayu sambi! Tengkejut, tur nandang kado dihati, tan kasep nyarwang corah, bahan panyawutne becik, memenyane malipetan, buwin nutugang nyahitin. 24. Ni Kumudawali iku dayane sayan ngabehin, nyemak baju wekan patpat, memenyane tunden nyahitin, jawuni benang benang kajemakang, apang ya da buwin nagih. 25. Saja yan suba kaasuk, hahan indryane sakti, nadak kencah liyu daya, duweg mangambekang lengit, rasa elah matangkisan, tur sanget marasa ririh. 26. Wus nyerahanu benang jawum, buwin mahan warah hati, marasa twara katara, sangkan dewaning hati. 27. Dapetang sang bagus nguntul, sumingkin bagus kaaksi matur sambil mamentosang. ngawe tingkah manyedihin, matur sambil ngusap-usap, mangawe panglipur hati. 28. Wireh katah rimbit Langkung; kidik sane kapihuning, atur sang hayune pusang, kadine ring sor puniki, ngudyang sedih ngutang byang, yan nuduk Kumudawati. 29. Pangka artin ipun endut, jane mateges mentik, pangkaja tunjung artinnya yadin sang pandita luwih, tan cacad nyumpangang sekar, tunjung ne diendul menlik 30. Sapunika waluyan ipun, yan iratu mamuponin, dewek tityang dyastu medal, saking jadma mambek daki, reh tityang nyung-kemin darma, nindihin iratu luwih. nyogjog kacelepin, krangkenge mrasa pura, ne misi ngodag, memennya nyagjah

179

31. Elingang putra sang Pandu, tosing kulawangsa luwih, nr maparab Wrekodara, mangambil raksasa Dimbi, yadin wijilan raksasa, nging ipun manulung hurip. 32. Tityang ugi pacang sanggup, taler sat manulung hurip, mangda nora kasedayang, ban bapan tityang iriki, malih tityang makelingang, sampunang bingung ring hati. 33. Mirahene polih ulung, yadin dihendut dibacin, malih sutsutya kedasang, anggon busana apikin, yadin sang ratu utama, ngangge tan kakenan weci. 34. Sapunika imban ipun, yan iratu ledang ngambil, tityangne waluya mirah, duduk lawut ajah sahi, lukat bahan sastra tatwa, sinah nguwuhin utami.

Pupuh Dangdang Gula : XXXXXII 1. Duh ratu sang maraga campaka putih, ngirut manah, minab bes panjangan, atur tityangne ngulati, mula sang buwat ring kayun, nyenye goda mangreremih. kenak ratu ngampurayang, saksatang irare mundung, goda manyarenin byang, sakewala, tityang matur malih kidik, eda elas ngutang tityang. 2. Agung goda sangsaran anake elasin, teken anak, ne manandang lara, sangsara manyakit hati. makrana ida sang wiku, sahi ngajah welas asih, awinan ratu kecapang, apang marasa dikayun, kenken rasan sang bedak, kebus ngentak, dipasih byase sedih, ne tong mahan ortan toya. 3. Aywa lupa ngrasayang anake sedih, makambangan, ditengah arungan, ngakebin papan atebih, pungsang pangsing ombak agung, ne tan ada mayan jadmi, puput bantas sedih ngengkak, sambil manulame suwung, sapunika waluyannya, laran tityang, yen iratu sang luwih, tan ica manulung tityang. 4. Sampun sinah puniki tityang tan uning, midartayang, rasan sakit pusang, ne ngurek sajroning hati, wireh tarnbet tityang langkung, tan sentanan tukang kawi, iratu keh mamanjangang, manampen jroning kayun, prajnyan. dening iratu

saking bawa, nyinahang maraga kawi, sangkan dot tityang

180

mamanjak. 5. Tuwi saja pangrumrum anake istri, jegeg nyalang, bangkit sada getar, mimbuh pantes harum manis, mingkin ne mamanan patut, saha satwa imba bukti kadi sekar gagempolan, makecretan minyak harum, kapucakin ban campaka, luwih maguna, munahang ibuk branti, pangamplasan seksek manah 6. Pangrubedan sedih sang apekik, ne waluya, dawun punyan sekar, tigaron aas prajani, angin pangrumruhi sanu halu, baret nempuh kanti ligir, sangkan Ida Sang Sugata, kencah kadi sekar turribuh: samah nadak asri mekar, inaka lawa, lain ne kenyern agigis, masan manis cacingak. 7. Sampun tigas sang kayat uling ituni, sampun medal, ngampak lawang cacingak, ngalinggihin kenyem manis, sangkan sang hayu gupuh, nyanggra bahan muka bangkit, kanane epot manatak, bahun ida sana katuntun, ne kiri nuludang dada, uli harep, sangkan ida sang kalih, tadah neebah manunekayak. 8. Ditu mawas ne istri nyingak ngungkulin, bahan bintang, ne kembar dimuka, seken tan pacacad malih, mukan ida sang abagus, luwir taman mangedanin, cingake lwir ulam mas, ngalindeng ditlaga luwung, unease lwir

gilinunggal nunjung mekar, lambene nyisayana manis, alise ngatik kumuda. 9. Nto krana ungas sang kumudawati, galak pisan. lwir sikep ngmdang, milih ne patul sandenn, tunggal macliyuk tedun. buka twara tahen panggil, mabahan sukaning manah, ne lanang iying mangatut, mangunggahang nengteng alam-alam. 10. Sayan wikan tangan ida mangalanting, ring bahun, sang istrine nyundang, reh takut tan kawalinin, saha mangrawosang bagus, duh mas mirah hayu bangkit, sanget san idewa olas nuduk anak saksat lampus, twara patut tityang nulak, kapa tutan, bawos imirah mas manik. reh nepek ring sastra gama. ungas, kahindengang, munggah tedun bulak balik, pada sanget

181

Pupuh Ginada : XXXXXIII 1. Kewala ada ngawinang. sanget mangentukin hati kemade mangelah

matwa, tingkahnyane twara luwung, sanget ngambekang durjana, nto ngedetin, tan payu nyepolang awak. 2. Ada ne ngawinang gantas, payu maserah ken adi, yan imirah

manyanggupang, bareng mangupadi hayu, mangekanang mangden sida, bapan adi, suwud maulah duskara. 3. Makadine anggon manah, twah ida ajin beli, anak maraga Pandita, sinah sanget lek dikayun, yan maduwe warang dusta, krana adi, apang sanggup manyuwudang. 4. Sang Kumudawati ngucap, tityang sayaga mangiring, kewanten ratu ampura, antuk tityang tambet langkung, sok manah wenten ngiringang, ring nindakin, kasidanne tan nyagerang. 5. Iratu lungsurin tityang, carane ngawiwekanin, mangden pangaptine

sida, tityang ngamargyang sanggup, tan takut dyas-tun pejah, yang mangiring, iratu yan tulus sweca. 6. Katah yan pade rawosang, babawos sang sareng kalih, pamuput polih adungan, lulute sayan mangaput. kadi papeteng waluya, sangkan sepi, sok tangane pati gadab. 7. Sang mentas dipeteng dahat, madandan ngalihin margi, pacang nuju

puseh suka, mapo ebah saling gelut, takut mab-lasan dijalan, mapo ngliling, buwin bangun twara belas. 8. Aget twara medal rah, ungase mantep ring pipi, tangane masih tan babak, reh ne gadab keted halus, jeneng semer dalem pisan, kaceburin, lami ditu kasengkalan. 9. Sabilang ukuh ngunggahang, nyiup daleme mamahid, ditu sang kalih kawyan, manggih ne can tahen tepuk, r.e mawak jatin kasukan, dahat luwih, nto sarin sukaning bwana. 10. Gelising carita kocap, wus napak ring ne kaungsi, bahan sukane kalintang,

182

kanti

molih

rasa

suwung,

tan

hgasen kelangan bajang, makakalih,

papeteng lulut ngawinang. 11. Sumandang mantrine wusan, waneng wantah dwang panalik, waneng bajang ne huwusan, geseng api smara ngebyur, pangentas peluhe mecat,

mangaritis, medal saking kum baraga. 12. Rasan sukane muktyang, punika sat sekah rawit, wus kajum ban pryambada, tur sanipun puput kahanyut, ne di sagara hredaya, budi trepti, punika pangromanah. 13. Sapuputing pasaketa, pada twara mangeladin, pada metoh kahuripan, sang hayu mapamit sampun, ngenggalang mang-ranjint; mulyan, tur mangraris, ngojog karangki ya ngebah. 14. Kayunne mawuwuh brusah, byahparan sebet hati, aduk indike ibusan, kadi punyah sanget langkung. katah nginum smara rasa, maka sami, ngrubeda ngebekin raga. 15. Ajahan ngitungang nyanan, kayunne yan sampun wengijahan ngitungang ituniyan, sahindike bareng kumpul, padadwanan ngedum suka, seken sami, mangupadi bwana rasa. 16. Sang nonton wayangdirasa. tan kacanta mangkin, yan kudang dawuh maletan, sanghyangsurya surup sampun, bapannya ugi tan prapta, bibi Kami, punika mangkin carita. 17. Rawuh mamuwat arengang, sambil bwat mamedasin, sang haneng panjara gedong, duk manjing kaeton sampun, sang bagus bengong manegak, bibi Kami sanget kasob mangantenang. 18. Gangsar ngimbangang dimanah, teken luh Kumudawati, tanding pada baret pisan, long ada kasor kakayun, sangkannya dot dadakan, mangda ugi, sida kanggen mantu pidan. 19. Bibi Kami ngucap banban, sirase sang bagus luwih, sira parab aji byang, saking dija wit sang bagus, dumadakja sida nglantas, dini mlinggih,. anggen tityang panyungsungan.

183

20. Sang bagus gelis nyinahang, sapataken kasahurin, tan malih ida ngubdayang, saha mataken mawantun, ring bibi Kami punika, teges sami, data sampun katakenang. 21. I Bibi Karni punika, jeg lagas nyinahang sami, inggih ratu gustin tityang, saking jati tityang matur, tan nyandang ratu sangsaya, pireng mangkin, mangda ratu tatas wikan. 22. Ni Luh Kami wastan tityang, duk jumah kaiangkung miskin, nanging sugih ban karopak, dwaning bapan tityang puniku. teleb maring darma sastra, anteng sahi, ngajah makidung mabasan. 23. Desan tityang joh sawat. lacur ngalih anak mwani, bantas tan tahen dimanah, wireh jemet sahi rawuh, duweg masastra mabasan, getar manis, tabuhe nyukayang manah. 24. Saduk durung sada lawas. tityang magenah iriki, banget tityang

mangandelang, ngelah somah sugih langkung, cakepan kropak tan kirang, banget ririh, sangkan tan kobet ring manah. 25. Muwuh ipun somyah pisan, sada duweg mangulanin, sring kakasyannya prapta, tan ngitung barang panamyu, sampun lami bawu tityang, tatas uning, ring ipun ratuning corah. 26. Kropake ne nyasah katah, tekaning cakepan sami, ring harep amben magenah, malaman kaca luwung, anggen ipun mangi-lidang, manah lengit, sang rawuh kanti masungglap. 27. Cutet tityang nguningayang, sakatingkah kanten becik, sami pangaputan corah, sisyannyane banget lyu. sami manyisayang corah, rusuh runtik, salah dadi baled jagat. 28. Sering ngaturang daksina, tengah lemeng mwat peti, bek madaging kalunggelang, mirah mas slaka bungkung, tekaning ayam sayaga, nto kabukti, maka batin ngincep corah. 29. Semeng manyaru mabasan. panganggone bungah bresih, wengine sakadi bukal, paslambeh luwas mamandung. kenten kalacuran tityang, manjak dini,

184

ngamretayang wisyan corah.

Pupuh Sinom : XXXXXIV 1. Muwuh lacur ngelah pyanak, tumbuh eluh twah adiri, mangkin sampun menek bajang, sinah tityang nandang sedih, yan prade ipun ngalahin,

sangkan dot tekening mantu, yan nyak dini ajak tityang, ne teleb ring darma budi, kanggen mantu, bapannyane manda mobah. 2. Yan sida acepan tityang, bapan ipune masalin, kadung kasugyane telah, tityang tuyuh twara jerih, anggen m. rnyara hurip, sok tan mangimpasin patul, tityang mangda wusan runtag. makejang bakat selangin, kaden ngejuk, kaden ngintip ngamatyang. 3. Wyakti tityang ngugu pisan, satwan bapan tityang rihin, yan mupu sugih ban nyorah, sok deweke mamukti, ne mawak sawa sujati, jiwane manggeh tan tahu, reh corah ne ngawe runtag, mangruriug jiwane sahi, wireh patut, mula papanganan jiwa. 4. Tityang polih mamuktyang, somah tityang sakit rihin, dewek ipun lempor pisan, antuk kobus sada lami. pancc-idryan ipun sami, antuk tan sida masambung, ring sawentene ring jagat, pacang ne sida nulungin, ngawe saru, rusak rasane ditengah. 5. Sangkan ditu dadi sinah, nyinahang ngenah dihati, saluwir tingkahe corah, manguwus teked kasisi. mawinan jag mang ririh, nuturang dewek kaejuk, mangaku sakit kalempag, dipangkenge kasakitin, tur kategul, bahan

katawis manyorah. 6. Sangkan fityang ngamanahang, sarirane mangaputin, ngajakin ngawe kasukan, ne ngawinin jiwa sedih, katah pisan tityang polih, tutur bapan tityang ilu, sangkan tityang twara elad, nindihin patut dihati, apan tuhu, ento manyukayang jiwa. 7. Sangkan yaning ratu ledang, pacang sungsung tityang dini, munah corah somah tityangm nanging saking alon bisbis, pyanak tityang mangayahin,

185

ndikayang, sakenak kayunm metek cokor dipamreman, sambil ajah pituturin, mangden ipun resep maring darma sastra. 8. Sang Sugata suka liwat, mireng atur bibi Kami, awinan masawur banban, tumusang pitresnan bibi, yadin nulung hurip pitik, agung reko palan ipun, iyang ndikapan manulak, kadi kabuwatan bibi, dening patut, tan adoh ring sastra gama. 9. Iyang saksatang manyundang, pamekasnya masih bibi, ngawenang landuh ipaman, masannya ento ingenin, wireh nikang para jadmi, twara manggeh ya satuwuk, masih kadi sanghyang surya, semeng mangwah sanja etis, sanget kebus, nto ingenin bahan lampah. 10. Amonto malu pragatang, kema suba meme ngranjing, apang eda katangehan, singnya imaman perapti, bibi Kami mami-singgih, tumuli mapamit sampun, saduk ipune matulak, Mi Kumudawati ngintip, nyidra semu, katon smitane kencah. 11. Mangkin sayan malih caritayang. sasampun suruo hyang rawi, wengine

ngalimbak, nuncap snangebekin gumi, sawarnan rupane sami,

tekaning sagunung-gunung, katakep tan daui tengab, sanukan palyate sedih, sanget ngagu, ipeteng manaa paiyat. 12. Keto sang manandang pusang, sakadi Sang Kurupati, tan wenlen polih tulungan, saking gumi ngalipur hati, krana cingake mabalik, ngubek dijroning kayun, nguwuhin huyang muiisah, eling ring sang ngirut hati, jag makumpul, indryane jumahan manah. 13. Kalud eling ring ibapa, rasa buwin ajahan prapti, imeme mwah ngawe likad, wireh twara nyak magedi, yan ngelah sasi-rep becik, bilih kalekasang ditu, ajahan kitane medal, apang twara ada jadmi, sok awukud, nu ne kaesti dimanah. 14. Indryane ngebek-ebekang, lwir pasih bulan purnami, malu-wab munggah tambengnya, sarwane ngentukin hati, banjur ngalancah kabatis, sangkan majalan ya nyurut, nelokin engkeb-engkeban, ne mungguh digedong sepi,

186

bawu rawuh, ngaku tan mampuh jumahan. 15. Saduk ipun ngampak lawang, saha ngranjing ring sang laki, kaintip antuk memennya, kendel jejeh jeroning hati, kaget metudaya mentik, lawang korine katuju, kakancing uli jumahan, yaning bapannya prapti, mangda sampun, pyanaknya kasep medal. 16. Yan napi kapo kadabdab, antuk Ni Kumudawati, sampune ngranjing mulyan, ring linggihe sang kaesti, manawi ida sang kalih, mapunyahpunyahan ditu, nyiup arakapi punyah, ngajeng anggur lyat manis, ne maratus, kosodan kulite nguda. 17. Sambil ditu mangonjakang, bahan pangrumrume manis, mailih antuk semita, ne halus mangula pasir. sang kawi jati tan uning, yan ping kuda kapo anu, yan amunapike suwennya, tan wenten katur iriki, wireh saru, krana twara kasuratang.

Pupuh Ginanti : XXXXXV 1. Benjang ipun bawu rawuh, bapannya negak manengil, bengong twara maklisikan, luh manyagjag gelis, apa krana manegak, bengong twara pesu munyi. 2. Singnya ake pelih laku, ake bani ngidih pelih, singnya ada kakewehan, ne ya dadi ke nyuwangin, masih nyadya nulung siga, nah lawut juwa tuturin. 3. Ping telu majumu-jumu, somahnya ngajak mamunyi, I Pataka tan nyahurang, Ni Kumudawati ngintip, sambil jejeh sanget runtag, ban awake mrasa pelih. 4. Ban dampare bakat puwuk, mamunyi tur nangkejutin, rasayangya ngawerayang, mitrangang indiknya sami, tampak batis ngawe selang, bahan sepanan nyapsapin. 5. Bibih gelahnya katukup, takut yening ya pacadi, maworan misayang iba, sangkan sanget katangarin, keto pamedaning corah, makejang nyelangin hati. 6. I Pataka mara majumu, teken somahnya mamunyi, nyai Kami somah kola, krana kola bengong nengil, liyu kakasihan kola, mati masyat ne ibi. 7. Mula kajak uling malu, kadura desa mamaling, ajak sangsara milehan,

187

sangkan kola sanget sedih, kola mrasa kaputungan, sanget kurang lima batis. 8. Yan kola pade nu hidup, timpale amonto mati, musuhe ya twara pejah, men kola ngemasin mati, kabawosang nyekapraya, mangawinang timpal mati. 9. Pyanak timpal kola iku, yan matakon mangewehin, akenken ban manyawutang, mangden ya purna dihati, ane luh nyawurin enggal, nguda belog prajani. 10. Kenken unduke iwawu, indayang tuturang jani, ne mwani nyawis enggal, ban musuh twah abesik, timpale kaliwat katah, tan tahen kola ken mati. 11. Mara alih kola ditu, kaget lisik telah mati, bangken musuh twara ada, kenken ban ngitungang jani, ane luh masawur nimbal, kene melah bahan cai. 12. Sangkan siga mulih malu, reh ngaba jarahan mulih, timpale nunden orahang, ban musuhe twah abesik, ya ngenggalan manglawan, sangkan siga nyak mulih. 13. Ane mwani jani masawut, yan mapeta bisa mirib, nanging pang enyak guguna, ento ketil mangitungin, awanan kola kasepan, rasa twara ngelah munyi. 14. Sajaba twah awukud, dayane nyandang jalanin, ne mani pasemengan, kola lakar luwas buwin, kema kola ke Sukawan, nyaman tetenan kal paling. 15. Kocap ngelah nyama enu, madan Ni Dyah Karuni, anggen tanda saking saja, kola magawe sujati, tan ngawenin patin timpal, ane luh masawut gelis. 16. Ngudayang siga teka sigug, anak luh teka paling, kola seken tusing mahang, ne mwani neiik nyawutin, hira twara nganggon somah, sok bakal engkebang dini. 17. Ada anak len katuju, Sucita ento kaalih, ento ne buwatang kola, mangda sida bakat ugi, reh ya mangawe jengah, saksat mamincatin bukti. 18. Anake ne sangkan pandung, muwah Ni Karuni buwin, apang ya ne I Sucita, ne mangalih teka mai, wireh yane mamudyang, tur suba adung dihati. 19. Yaning sadya bakat lawut, I Sucita ne kajudi, aluh ngalih kasugihan, reh ane

188

pacang nebusin, ne ya ngelah kakasihan, kocap ne madan Subudi. 20. I Subudine puniku, elan mamwatang mas pipis, reh ento maman raksasa, kocapanga mutang hurip, tur megoh anggona sisya, iraksasa liwat bakti. 21. Ane luh nuli masawur, ake tusing manyumponin, reh siga sanget kendryan, siga sinah dadi bukti, reh awake makeneh pragat, jantos mati apang dini. 22. Yadin ake tuna langkung, nanging twara nadwa budi, ken siga apang pragat, nindihin mwani asiki, yan siga mamaro manah, depin kola apang mati. 23. Tur ake ne sanget lacur, ngelah pyanak luh abesik, lakar tindihin pragatang, apang jumah tan makisid, siga ne pisakit kola, ngalih mantu ajak dini.

Pupuh Ginada : XXXXXVI 1. Sang matapa dijandela, masang kuping ngintip munyi, api kadi saksat myoga, nepes manah lawan bayu, waluya molih sabda wakya, kapiragi, munyin memennya pamuntat. 2. Wyakti ya mahan jalaran, manindakin isin hati, sangkan ya maketug sunggar, bayunnya enduk mangrungu. legane ngebekin awak, ne buwin besik, ngintip pasawut ibapa. 3. Bapannya buwin angucap, kola tan kobet dihati, anake ne aban kola, masih dadi anggon mantu, kadonga buwin ngalihang, twara ketil, dyastu buwin adasa. 4. Kewala ne kakewehang, bahan nyai manungkasin, carane acepang kola, entosanget dadi imput, hira suka twara ngelah, somah nyai, yan tan sida ne acepang. 5. Ngelah somah tan paamah, sukayan sakayan padidi, ngudyangke nganti ngajakang, manandangin basang seduk, mingkinke ngelah pyanak, twara bedik, ngaliyunang ne tahanang 6. Ane luh nuli angucap, papineh caine luwih, benegane twara logas, maninggalin basang seduk, mingkin teked teken pyanak, kahitungin, apang ya tan kirang dahar.

189

7.

Icang sanget mangajumang, yan saja aketo jati, nangingke ane kaceda, bahan cai tuwah awukud, ngelah rurung ngalih amah, sanget cupit, palyat matatebeng saksat.

8.

Gumine nto sanget linggah, misi gawe twara kidik, jadmane tan musti nyorah, pacang mamyara hidup, dipatut masih tan kuwang, tongos ngalih, amah miwah kasugihan.

9.

Anggon manyukanin manah. mangalihang dewek bukti, yan pade cai manyorah, sukane maisi ketug. peteng lemah ake runtag, mrasa fusing, nyarira nasine amah.

10. Sukane maisi runtag, mangawenang ngelad dihati, mrasa tidong jati suka, bakat sukayang dikayun, wireh sahi sumang-saya, timan tusing, ada anak mangorahang. 11. Kalingke suba katawang, bahan nto sang kapalingin, mingkin kegustine wikan, tong genep sok bantas takut, sinah cai tan nu jumah, bilih mati, nyen ane dulame kola. 12. Mangayahin keneh corah, saksat ngayen buta bengil, kudu sadyan maan upah amah, sambilang tan suka mupu, dilacure van katara. banya mati, sat icorah nemangamah. 13. Corahe tan ngelah somah, ngelah pyanak masih tusing, yan siga pade katara, sampe sisip ban sang prabu, tur kaselongjoh sawat, kanti tusing, manepukin pyanak somah. 14. Siga ane mapangenan, ninggal pyanak somah sedih, corahe kedek mangakak, bahan siga bakti cucud, jahilina bantas bisa, mangayahin, ento ne nyandang kenehang. 15. Ake twara sanget nyacad, teken sang watek mamaling, reh corahe cara ngelah, guna ngawe peteng libut, duk macelup ring manusa, Sangah ajin, teken ya ngawe sengkala. 16. Tan gampang ngajinang corah, kalan ya mangrangsukin, barang emas pipis slaka, nto anggona nampel ngaput, matane ajak makejang, krana tusing,

190

ngenah solahnya nyengkala. 17. Kenken ban ake nyebetang, unduk sigane mamaling, kewala bantas pangenang, dikalane manggih lacur, reh siga tan ngasen awak, kalingsenin, bahan corahe tan pawak. 18. Nanging yan dadi pinehang, melahne juwa suwudin, reh sukane ban manyorah, lenan ken ngranayang ketug, keneh miwah nto pangrasa, maka sami, ingetan bareng ya rusak. 19. Ake jatinne tan pegat, runtag lan ketug dihati, wireh ane anggon amah, sakaya uliyan nyaruh, seken-ngamah kawisyan, nging apulin, ban maulam nasi jangan. 20. Sangkan ake mangendepang, saking takut teken nani, tur inget ken lacur awak, suba mamilih ne malu, ngalihne cumponin manah, masih paniggih, anak mwani buka siga. 21. Dwaning ake dewek luwa, sakadi ibu pratiwi, sarake sang mamyara, ake manyerah pamuput, apa kenehe mamula. cara cai, wireh cai ne muktyang. 22. Nanging yan dadi pingetang, melah patute puponin, dipatut tan kuwang jalan, ngalih upakara hidup, kaduk ane nanggap upah, nebukpadi, yan cai nyak suwud nyorah.

Pupuh Sinom : XXXXXVII 1. Ne mwani masawut nimbal, nguda keto bahan nyai, bes sanget saja matungkas, pitungan nyaine Kami, nanging pantes masih nyai, bahane madewek eluh, mawak lumah gejing getap, nvandang darmane amongin, uli ditu, ngalih kadamangan manah. 2. Yan suba damange bakat, uli ditu ngalih bani, yan banine kakeniyang, suwud nganggon darma nyai, wireh ento mang-rewedin, saparan tindaking laku, dening makejang sayangang, padalem tulung danain. kanti dekus, awake madalem anak. 3. Yan sanune banya getap, lawut ngamong sipok jedig, dilacure ada galak, bahane sipok sigugin, kenken ban ngandayang diri, budi lawan awak takut,

191

sangkan patut nyai darma, len teken wake muwani, twara takut, tekening anak wirosa. 4. Ento awanan ikaka,, elan mambek sipok jedig, beneh pelih twara ketang, wanene kanggen nyapuhin, ditu manunggalang budi, apang da liyu hitung, ento anggon beli damar, munahang petenging hati, apang aluh, bedik juwang liyu bakat. 5. Ni Kami masawut nimbal, twara kemengan dihati, kendel icang maningehang, munyin beli luwung gati, misi unadika luwih, bisa manganutang unduk, ane pantes ane boya, duweg ngajum ngawe adung, pangangge ken sang manandang. 6. Icang nuwut munyin kaka, yan darmane tuhu becik, kanggen bahan anak getap, tur madewek luh gejing, bahan dadi rurung luwih, anggon ngalih damang kayun, sinah sumingkin utama, yan kamong ban anak mwani, wanen muwuh, becike masusun melah. 7. Wanenne maabih darma, musuhe sayan ngejohin, tonden wanenne manyacadin,

adokang, musuhe enggalan kasih, sang ratu liyu ngantinin, panjake mabriyuk ngajum, nanging yan wanen tan darma, sipok sigug corah jedig, sang prabu, panjak braya ngamusuhang. 8. Yan sang ratu lan wong katah, nyama braya ngamusuhin. kakasihan bareng tungkas, wanen beli lakar lisik. matinggal ya mangalahin, jahil matamyang takut, yan payu nunggalang manah, diwanen reh dadyaketi, masih buwung, dadi damar jeg metengang. 9. Da ngalih galang digowa, maninggal surya nyelapin, da ngalih pakeh ditabya ninggal uyah sanget paling, da ngalih elan diruntik. dicorah disipok sigug, reh ento pawakan likad, didarma patute alih, apan ditu, jati tongos keelahan. 10. Membon batan kayu loba, ne mabangsing sigug brangti, lan

macampang manah angkara, madawun ban irihati, macarang corah

runtik. mabunga ban semu mrengus, mabuwab tabuhe sugal, ento kayu curiga beli, twara buwung, nepen nusuk manyangsara.

192

11. Dayane ngejohin darma, pepes paling ojog brangti, brangtine tan polih marga, dadi imput sekel hati, punika mentik numbuhin, hatin I Pataka iku sangkan mangadebros medal, ngarumuk sebenge jengis, gentos dumun, liyan mangkin kacarita. 12. Crita mangkin Dukuh Prajnya, sedek ida katangkilin, antuk I Mahadasraya, Dyah Karuni ugi nginng, ngarembug pacang mangalih, Sang Sugata ne jwang pandung, sang kalih kantun kosekan, brengkatin putrane istri, kaget matur, Dyah Karuni sada getar. 13. Tatweking sastra agama, kabawos antuk sang wagmi, patpat sang kautamayang, sang suklabrahmacari, punika ne kaping siki, sane kaping dwan ipun, sang tulung ring kala sayah, lagas madanayang bukti, tigan ipun, landuh cacad twin kajumang. 14. Muwah sane kaping empat, purusa sudireng budi, tan jerih ring satru katah, punika kaincep sami, antuk ida sang lwih wagmi, kidepang anggan Hyang Guru, syang latri masang sem-bah, kajanaloka matitis, artin ipun, janalokane pabahan. 15. Pidagingnya ring pabahan, Hyang Iswara kabaktinin, karagayang solah patpat, kadi ne carca ituni, apan ento solan luwih, dewane bareng manyungsung, wireh yan dewane getap, geng indrya miwah demit, cacad sungsut, pacang buwung dadi dewa. 16. Ento mawak rurung galang, medah teleng sanghyang rawi, awanan ida saksana, nuncap swarga utami, ento incep iyang jani, awanan mabudi milu, ngetut iadi Sugata, yan pade nge-masin mati, enggal tepuk, kotane di Wisnu loka. 17. Yan pade kasidan menang, ngalahang satrune rusit, I Sugata sida bakat, enu hidup suka panggih, manyukayang tresna asih, ngajak nyama sayang bagus, nawu nuwut ombak jagat, map-rahu ban suka nampi, tur madayung, ban susila olas manah. 18. Salah tunggal signe dadwa, sukane tan wurung keni, yan mati di Suraloka, tan wangde pacang mamukti, yan prade kari mahurip, dini mukti sukan hidup, sangkan sang dira purusa, nemayuda nindih gumi, menang

193

nerus, sat madengkrek nglahang dadwa. 19. Kadi punyan tebu saksat, bilang alawas ya manis, kadi sang Darma susila, sapolah bawa nyukanin, sakadi mantran sang yogi, sakecap sidi kalangkung, keto masih twara bina, sang wira puruseng jurit, sadya langkung, mabati sabilang tindak. 20. Mingkinke sang mula tatas, teken kajatining diri, kahawakin bahan jiwa, ne seken luputing sami. mula paragayan suci, bresih tan palatah lutuh, mati hidup suka duhka, ya mawak twara jati, mawak palsu, sok ibingung nalih ada. 21. Apan ya kejokan manah, twara ngasen dewek paling, ne boya kakaden iya, ane iya kakaden tusing. kadi ya kala matangi, rasa ngelah awak tuhu, bakat tindihin, buwatang, sing solahang kaden jati, ada takut, ada bani rasa saja. 22. Bahane tong tahen pesan, iseng manyelehin diri, apa ane karasayang, tur apa bakat entasin, kadi bangun pules ngipi, deweke sahi mamangguh, tong tahen isrik medasang, enyen pules enyen ngipi, enyen bangun, liyu twara ngarungwang. 23. Kalaning bangun nunjwang, ditu rasa ngelah diri, rasa suba seken pesan, ngelah awak jati pasti, sing solahang rasa jati, asing pangguh rasa tuhu, yan ada sastra maboya, deweke sanget nungkasin, kanti nawu, manyahilin kecap sastra. 24. Nanging yan pules nujwang, leplep kanti twara ngipi, sinah deweke ituniyan, twara ada hilang lisik, ne nalih lawan kadalih, tan patampak hilang caplus, ane tawang mwah nawang, tan palahad suwung sepi, kanti tuhu, deweke twara ada.

NASKAH SUCITA JILID I, II, DAN III SELESAI

194