Anda di halaman 1dari 22

MODUL ORGAN FORENSIK PEMBUNUHAN ANAK SENDIRI KELOMPOK IX Muhammad Dainul Muakhir Pangeran Putra Nurizal Lingkan Bimoro

Mesa Sabila Muhammad Yoga R. Nur Adam A. K Phrily Isabel Hamelberg Raden Rainy Febriani Rezyta Falasiva Scherlly Reviana Sri Yuliani Citra Vina Agustina Wilda (030.10.189) (030.10.219) (030.11.169) (030.11.189) (030.11.199) (030.11.219) (030.11.229) (030.11.239) (030.11.249) (030.11.269) (030.11.279) (030.11.299) (030.11.309)

Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta 12 Oktober 2013

BAB I PENDAHULUAN Kasus pembunuhan anak sendiri akhir-akhir ini kian marak karena semakin bebasnya pergaulan dan semakin kurangnya perhatian orang tua terhadap anaknya. Menurut KUHP pembunuhan anak sendiri adalah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu kandung atas anaknya ketika dilahirkan atau tidak berapa lama setelah dilahirkan, karena takut ketahuan ia melahirkan anak. Di negara hukum seperti Indonesia, hal ini merupakan suatu tindakan pidana yang dapat dikenakan sanksi penjara pada ibu kandung yang membunuh anaknya sendiri ataupun pada orang yang membantunya. Dalam menjalankan fungsinya sebagai dokter yang diminta untuk membantu dalam pemeriksaan kedokteran forensik untuk penyidik, dokter tersebut dituntut oleh undang-undang untuk melakukannya dengan sejujur-jujurnya serta menggunakan pengetahuan yang sebaik-baiknya. Untuk itu dalam bidang ilmu kedokteran forensik dipelajari tata laksana mediko-legal, tanatologi, traumatologi, toksikologi dan segala sesuatu yang terkait agar dokter dapat benarbenar memanfaatkan segala pengetahuan kedokterannya untuk kepentingan peradilan dan juga bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat.

BAB II LAPORAN KASUS Sesosok mayat bayi lahir ditemukan di suatu tempat sampah. Masyarakat melaporkannya kepada polisi. Mereka juga melaporkan bahwa semalam melihat seorang perempuan yang menghentikan mobilnya di dekat tempat sampah tersebut dan berada disana cukup lama. Seorang dari anggota masyarakat sempat mencatat nomor mobil perempuan tersebut. Polisi mengambil mayat bayi tersebut dan menyerahkannya kepada anda sebagai dokter direktur rumah sakit. Polisi juga mengatakan bahwa sebentar lagi si perempuan yang dicurigai sebagai pelakunya akan dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa. Anda harus mengatur segalanya agar semua pemeriksaan dapat berjalan dengan baik dan akan membriefing para dokter yang akan menjadi pemeriksa.

BAB III PEMBAHASAN A. Perkiraan Kronologis Kasus Anggi, mahasiswi universitas terkenal di Jakarta, sudah lama menjadi simpanan AQJ, seorang bupati daerah yang tahun dapan akan mencalonkan diri menjadi salah satu pejabat tinggi negara. AQJ sendiri sudah memiliki 2 orang istri dan 5 orang anak. Suatu hari setelah AQJ mengetahui bahwa kandungan Anggi sudah memasuki usia 40 minggu, AQJ memaksa Anggi untuk segera melahirkan bayi tersebut di mobil yang mereka tumpangi dan membuangnya ke tempat sampah. Dengan bantuan AQJ, Anggi berhasilkan melahirkan seorang bayi laki-laki, namun Anggi dipaksa untuk segera membuang bayi tersebut, karena Anggi diancam tidak akan diberikan kemewahan lagi seperti yang selama ini ia terima dari AQJ. Anggi segera membekap mulut bayi agar tangisannya tidak terdengar sampai luar. Setelah bayi terlihat agak tenang Anggi segera membuang bayi tersebut ke tempat sampah, namun tanpa mereka sadari, beberapa masyarakat sudah memperhatikan Anggi saat ia sedang membuang bayinya dan salah satu dari anggota masyarakat curiga dengan mobil yang ditumpangi sehingga ia sempat mencatat nomor mobil tersebut.

B. Aspek Hukum Dalam KUHP tercantum dalam bab kejahatan terhadap nyawa orang. Pasal 341 : Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat anak dilairkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam karena membunuh anak sendiri, dengan pidana paling lama 7 tahun Pasal 341 : seorang ibu yang untuk melaksanakan niat ditentukan karena takut akan kethauan bahwa ia akan melahirkan anak, pada saat dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya, diancam karena melakukan pembunuhan anaknya sendiri dengan rencana, dengan pidana penjara paling lama 9 tahun. Pasal 343 : kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang bagi orang lain yang turut serta melakukan sebagai rencana pembunuhan atau pembunuhan dengan rencana. Pasal 181 : barang siapa mengubur, menyembunyikan, membawa lari atau menghilangkan mayat dengan maksud menyembunyikan kematian atau kelahiranya, diancam dengan pidana penjara selama 9 bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah Pasal 305 : barang siapa menempatkan anak yang umurnya berlum tujuh tahun untuk ditemukan atau meninggalkan anak itu dengan maksud untuk melepaskan diri daripadanya, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun 6 bulan Pasal 306 : (1) jika salah satu perbuatan berdasarkan pasal 304 dan 305 itu mengakibatkan luka luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama 7 tahun 6 bulan. (2) jika mengakibatkan kematian, pidana penjara paling lama 9 tahun. Pasal 308 : jika seorang ibu karena takut akan diketahui orang tentang kelahiran anaknya, tidak lama sesudah melahirkan, menempatkan anaknya untuk ditemukan atau meninggalkanya dengan maksud untuk melepaskan diri daripadanya, maka maksimum pidana tersebut dalam pasal 305 dan 306 dikurangi separuh Prosedur Medikolegal Penemuan Sesosok mayat bayi ditemukan di suatu tempat sampah,lalu masyarakat melaporkannya kepada polisi. Masyarakat mencurigai seorang wanita yang menghentikan mobilnya di dekat tempat sampah tersebut dan berada di sana cukup lama. Pelaporan Pelaporan dilakukan oleh orang yang menemukan ke pihak yang berwajib, contohnya kepolisian. Masyarakat juga melaporkan nomor plat mobil wanita yang dicurigai ke pihak yang berwajib. Penyelidikan

Dilakukan oleh penyelidik yang menindak-lanjuti suatu pelaporan, untuk mengetahui apakah benar ada kejadian pembunuhan seperti yang dilaporkan. Penyidikan Dilakukan oleh penyidik. Penyidikan merupakan tindak lanjut setelah diketahui benar-benar telah terjadi pembunuhan anak sendiri pada kasus ini. Penyidik dapat meminta bantuan seorang ahli. Dalam kasus pembunuhan anak sendiri, maka penyidik dapat meminta bantuan dokter untuk dilakukan penanganan dan penyidikan dengan kedokteran forensik. Penyidik wajib meminta secara resmi kepada kedokteran forensik untuk melakukan pemeriksaan atas mayat bayi yang ditemukan serta wanita yang dicurigai. Pemberkasan perkara Dilakukan oleh penyidik, menghimpun semua hasil penyidikannya, termasuk hasil pemeriksaan kedokteran forensik yang dimintakan kepada dokter. Hasil berkas perkara ini akan diteruskan ke penuntut umum. Penuntutan Dilakukan oleh penuntut umum di sidang pengadilan setelah berkas perkara yang lengkap diajukan ke pengadilan. Persidangan o Persidangan pengadilan dipimpin oleh hakim atau majelis hakim. o Dilakukan pemeriksaan terhadap terdakwa pembunuhan anak sendiri, para saksi dan juga para ahli. Sebaiknya dokter dapat dihadirkan di sidang pengadilan ini sebagai ahli. Putusan pengadilan Vonis dijatuhkan oleh hakim dengan ketentuan: o Keyakinan pada diri hakim bahwa memang telah terjadi suatu pembunuhan anak sendiri di kasus ini dan terdakwa memang bersalah melakukan tindak pidana tersebut. o Keyakinan hakim ini harus ditunjang oleh sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah.

C. Interpretasi Temuan Korban Mati Mayat bayi lahir ditemukan di suatu tempat sampah, kemungkinan bayi tersebut lahir mati atau dibunuh karena kelahirannya tidak diinginkan atau merupakan anak di luar pernikahan. Masyarakat melaporkan bahwa semalam melihat seorang perempuan menghentikan mobilnya di dekat tempat sampah tersebut dan berada disana cukup lama. Mereka curiga akan kemungkinan perempuan tersebut adalah ibu dari bayi tersebut yang tidak menginginkan kelahiran bayi tersebut diketahui orang lain. Dicurigai dia membunuh bayi tersebut dengan cara dibekap supaya tidak menimbulkan suara tangis bayi pada malam hari yang ditakutkan akan membuat warga sekitar curiga, sehingga wanita tersebut perlu berada cukup lama di TKP. D. Identifikasi Medik Pemeriksaan mayat bayi perlu diperhatikan hal-hal berikut : 1. Penentuan tanda-tanda maturitas bayi a. Usia b. Berat badan c. Panjang kepala-tungging d. Lingkar kepala Oksipito Frontal e. Diameter dada (antero-posterior) f. Diameter perut (antero-posterior) g. Lingkar dada h. Lingkar perut 2. Penentuan bayi hidup pada saat dilahirkan a. Metode uji liang telinga tengah dari Wreden dan Rend. b. Metode uji apung usus dari Breslau c. Pemeriksaan jaringan paru makroskopik, uji apung, dan mikroskopik. 3. Sudah dirawat atau belum dirawat Bayi belum dirawat: Tidak berpakaian Berlumuran darah dan lendir : 40 minggu : 3000 gram : 35 cm : 34 cm : 8 cm : 8 cm : 32 cm : 30 cm

Terdapat lemak bayi (verniks caseosa) Tali pusat masih berhubungan dengan plasenta Terdapat meconium

4. Tanda-tanda bayi cukup bulan: Batas tumbuh rambut depan dan belakang sudah terbentuk Rawan telinga sudah terbentuk Rambut kepala relative kasar Putting susu sudah berbatas tegas Alis mata sudah lengkap Garis telapak tangan dan kaki > 2/3 bagian Kuku jari tangan melewati ujung jari Skin opacity cukup tebal Processus xyphoideus membengkok ke dorsal Testis sudah terbentuk sempurna Pusat penulangan pada epifise distal femur, proksimal tibia sudah terbentuk Adanya bekas pembekapan di sekitar mulut dan hidung bayi 6. Sebab kematian Mati lemas (asfiksia) E. Pemeriksaan Temuan Korban Mati Pemeriksaan luar 1. Label mayat 2. Tutup Mayat 4. Pakaian : Sehelai karton berwarna merah muda dengan materai lak merah, ::terikat pada ibu jari kaki kanan mayat. 3. Bungkus Mayat: -

5. Tanda-tanda kekerasan

5. Benda di samping mayat: Sampah 6. Identifikasi umum:

Jenis kelamin : Laki-laki 7. Pemeriksaan terhadap tanda-tanda kekerasan : Letak luka: ditemukan bekas pembekapan di sekitar mulut dan hidung Jenis luka: luka tertutup.

Pemeriksaan Dalam 1. Pemeriksaan untuk menentukan bayi sudah bernafas atau belum dengan menggunakan pemeriksaan paru makroskopik: Gambaran mozaik Konsistensi spons Tepi tumpul Beratnya 1/35 BB Penampang pijit, darah dan busa Uji apung paru positif

Serta pemeriksaan mikroskopik paru: F. Saat Kematian Perkiraan waktu kematian korban adalah lebih dari 24 jam. G. Sebab Kematian Mati lemas Diameter alveoli besar Dinding alveoli tipis Tidak ada gambaran projection

H. Cara Kematian Pada kasus ini, cara kematian korban adalah tidak wajar, dengan dugaan pembunuhan oleh seseorang dengan cara membekap saluran nafas korban, dapat dilihat dari tanda pembekapan disekitar mulut dan hidung, serta mukosa bibir dan pipi. I. Mekanisme Kematian Kehabisan oksigen karena pembekapan dengan menggunakan tangan sehingga korban mati lemas J. Pemeriksaan Temuan Pelaku 1. Identitas (KTP) 2. Informed Consent 3. Pemeriksaan jiwa 4. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan bertujuan untuk mengetahui Pelaku baru-baru ini mengalami kehamilan atau tidak sehingga dapat terlihat bekas-bekas kehamilan diantaranya: A. Adanya garis-garis pada perut bekas peregangan kehamilan B. Dinding perut kendur C. Rahim dapat diraba di atas symphisis pubis D. Payudara besar E. Uterus, lihat besarnya uterus, kemungkinan sisa janin dan secara mikroskopik adanya sel-sel trofoblast dan sel-sel deciduas Ditemukan adanya bekas persalinan, maka ciri-cirinya adalah: A. Adanya robekan pada perineum (daerah panggul) B. Keluaran cairan di pintu lahir Dilakukan juga pemeriksaan laboratorium seperti: 1. Pemeriksaan toksikologi dari darah dan urin Untuk mencari apakah terdapat obat zat tertentu yang digunakan agar janin mati tetapi si ibu cukup kuat untuk bisa selamat 2. Pemeriksaan mikroskopik

Meliputi adanya sel trofoblas yang merupakan tanda kehamilan, kerusakan jaringan yang merupakan jejas tanda usaha penghentian kehamilan dan ditemukan sel radang PMN sebagai tanda dan intravilalitas J. Pemeriksaan Hubungan Korban Mati dan Pelaku 1. Pemeriksaan golongan darah. Golongan darah ibu dapat ditentukan dari pengambilan darah dari ibu dengan informed consent. Sedangkan golongan darah dari mayat bayi dapat diambil dari pemeriksaan darah bayi, rambut bayi, kulit bayi, dan jaringan-jaringan lain. Memang secara golongan darah saja tidak dapat ditentukan apa hubungan bayi dan ibu tersebut mengingat golongan darah juga dipengaruhi oleh golongan darah ayah yang belum tentu dapat diketahui. Namun, bila pemeriksaan darah pada bayi hasilnya AB, sedangkan ibu bergolongan darah O, ataupun sebaiknya, maka sudah pasti bayi tersebut bukanlah anak dari ibu tersebut. Golongan darah AB mengandung antigen dan dengan tidak mempunyai anti- maupun anti-, sedangkan golongan darah O memiliki anti- dan anti- dengan tidak memiliki antigen maupun . Ketidakcocokan ini mendasari bahwa ibu dengan golongan darah AB tidak mungkin memiliki anak golongan darah O. 2. Pemeriksaan DNA. Jika golongan darah tidak dapat menentukan hubungan ibu dan bayi, misalnya ditemukan ibu golongan darah B, sedangkan bayi bergolongan O, maka tes DNA dapat dilakukan. Tes DNA ini menggunakan jaringan dari bayi, misalnya dari rambut bayi dan rambut ibu, untuk melihat kecocokan kromosom yang dibentuk oleh DNA. Seperti yang kita ketahui, kromosom seseorang setengah berasal dari ibu, dan setengah berasal dari ayah. Jika terdapat kecocokan, maka bayi dapat dikatakan keturunan ibu tersebut. 3. Penemuan barang bukti lain Ditemukan kain yang berlumuran darah di mobil yang ditumpangi Anggi semalam

K. Visum et Repertum Korban Mati Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jl. Salemba Raya 6 Telp. 3106197, Fax. 3154626, Jakarta 10430

Nomor : 1435-SK.III/VER/3-11

Jakarta, 12 Oktober 2013

Lamp : Satu sampul tersegel----------------------------------------------------------------------------Perihal : Hasil Pemeriksaan Pembedahan--------------------------------------------------------------atas jenazah seorang bayi-----------------------------------------------------------------------PROJUSTITIA Visum Et Repertum Yang bertanda tangan di bawah ini, Yoga, dokter ahli kedokteran forensik pada Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta, menerangkan bahwa atas permintaan tertulis dari Kepolisian Resort Jakarta Timur No. Pol: A/053/Ver/LK/X/2011 tertanggal 10 Oktober 2013, maka pada tanggal sebelas Oktober tahun dua ribu tiga belas, pukul sepuluh lewat tiga puluh menit Waktu Indonesia bagian Barat, bertempat di ruang bedah jenazah Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia telah melakukan pemeriksaan atas jenazah yang menurut surat permintaan tersebut adalah : Nama : -------------------------------------------------------------------------------------------------

Umur

: 40 minggu -----------------------------------------------------------------------------------

Jenis kelamin : Laki-laki ------------------------------------------------------------------------------------Warga negara : Indonesia -----------------------------------------------------------------------------------Agama Alamat : ------------------------------------------------------------------------------------------------: ------------------------------------------------------------------------------------------------Mayat telah diidentifikasi dengan sehelai label berwarna merah muda, dengan materai lak merah, terikat pada ibu jari kaki kanan.---------------------------------------------------------------------Hasil Pemeriksaan I. Pemeriksaan Luar 1. 2. 3. pusat masih Mayat terbungkus.-----------------------------------------------------------------------------Mayat berpakaian------------------------------------------------------------------------------Mayat berlumuran darah dan lendir, masih terdapat lemak bayi, tali berhubungan dengan plasenta dan terdapat mekonium------------------------------------------4. Rawan telinga sudah terbentuk, rambut kepala relative kasar, puting susu sudah berbatas tegas, lis mata sudah lengkap, garis telapak tangan dan kaki > 2/3 bagian, kuku jari tangan melewati ujung jari, skin opacity cukup tebal, processus xyphoideus membengkok ke dorsal, testis sudah terbentuk sempurna, pusat penulangan pada epifise distal femur, proksimal tibia sudah terbentuk---------------------------------------------------------------------5. Terdapat bekas pembekapan pada mulut dan hidung korban-----------------------------------II. Pemeriksaan Dalam (Bedah Jenazah) 1. Paru sudah mengisi rongga dada, gaambarannya mozaik, konsistensi spons, tepi tumpul, beratnya 1/35 BB, penampang, pijit, darah dan busa, uji apung positif-----------------------2. Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan diameter alveoli besar, dinding alveoli tipis, tidak ada gambaran projection----------------------------------------------------------------------Kesimpulan tidak tidak

Pada pemeriksaan mayat laki-laki ini, bayi cukup bulan dalam kandungan, hidup pada saat dilahirkan, tidak ditemukan tanda-tanda perawatan, ditemukan jenis kekerasan yang menyebabkan mati lemas. Demikianlah saya uraikan dengan sebenar-benarnya berdasarkan keilmuan saya yang sebaikbaiknya mengingat sumpah sesuai dengan KUHAP-------------------------------------------------------

Dokter yang memeriksa,

dr. Yoga NIP 038564 L. Visum et Repertum Pelaku Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jl. Salemba Raya 6 Telp. 3106197, Fax. 3154626, Jakarta 10430

Nomor : 1435-SK.III/VER/3-11

Jakarta, 12 Oktober 2013

Lamp : Satu sampul tersegel--------------------------------------------------------------------------------Perihal : Hasil Pemeriksaan atas pasien Anggi--------------------------------------------------------PROJUSTITIA Visum Et Repertum Yang bertanda tangan di bawah ini, Yoga, dokter ahli kedokteran forensik pada Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta, menerangkan bahwa atas permintaan tertulis dari Kepolisian Resort Jakarta Timur No. Pol: A/053/Ver/LK/X/2011 tertanggal 10 Oktober 2013, maka pada tanggal sebelas Oktober tahun dua ribu tiga belas, pukul sepuluh lewat tiga puluh menit Waktu Indonesia bagian Barat,

bertempat di ruang bedah jenazah Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia telah melakukan pemeriksaan atas jenazah yang menurut surat permintaan tersebut adalah : Nama Umur : Anggi Similikiti ----------------------------------------------------------------------------: 20 tahun--- -----------------------------------------------------------------------------------

Jenis kelamin : Perempuan ----------------------------------------------------------------------------------Warga negara : Indonesia -----------------------------------------------------------------------------------Agama Alamat : ------------------------------------------------------------------------------------------------: -------------------------------------------------------------------------------------------------

Hasil Pemeriksaan I. Pemeriksaan Luar 1. Pasien tampak gelisah, pucat, menggigit bibir dan berkeringat--------------------------------2. Terlihat adanya garis-garis di perut bekas peregangan kehamilan-----------------------------3. Payudara membesar----------------------------------------------------------------------------------4. Rahim dapat diraba di atas symphisis pubis (tulang kencing)---------------------------------II.Pemeriksaan Dalam 1. Pada uterus, secara mikroskopik didapatkan sel-sel trofoblast dan deciduas-----------------2. Ada robekan pada perineum (daerah panggul)---------------------------------------------------3. Keluar cairan di pintu lahir--------------------------------------------------------------------------Kesimpulan Pada pemeriksaan wanita ini ditemukan tanda-tanda kehamilan dan persalinan----------------------Demikianlah saya uraikan dengan sebenar-benarnya berdasarkan keilmuan saya yang sebaikbaiknya mengingat sumpah sesuai dengan KUHAP-------------------------------------------------------

Dokter yang memeriksa,

dr. Yoga

NIP 038564

BAB IV TINJAUAN PUSTAKA Pembunuhan Anak Sendiri Pembunuhan anak sendiri menurut undang-undang di Indonesia adalah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu atas anaknya pada ketika dilahirkann atau tidak berapa lama setelah dilahirkan, karena takur ketahuan bahwa ia melahirkan anak. Dalam KUHP, pembunuhan anak sendiri tercantum di dalam bab kejahatan terhadap nyawa orang, yaitu: KUHP 341: Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyaw anaknya diancam karena membunuh anak sendiri dengan pidana penjara paling lama 7 tahun. KUHP 342: Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditemtukan karena takut akan kerahuan bahwa ia akan melahirkan anak, pada saat dilahirkan atau tidak lama kemudia merampas nyawa anaknya, diancam karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan rencana, dengan pidana penjara paling lama 9 tahun.

KUHP

181:

Barang

siapa

mengubur,

menyembunyiakn,

membawa

lari

atau

menghilangkanmayat dengan maksud menyembunyikan kematian dan kelahirannya diancam dengan pidana penjara selama 9 bulan. KUHP 308: Jika seorang ibu karena takut akan diketahui orang tentang kelahiran anaknya tidak lama sesudah melahirkan menempatkan anaknya untuk ditemukan atau meninggalakannya dengan maksud untuk melepaskan diri darinya maka maksimum pidana tersebut dalam pasal 305 dan 306 dikurangi separuh. Ada tiga aspek yang penting pada pembunuhan anak sendiri yaitu: Ibu: Hanya ibu kandung yang dapat melakukan pembunuhan anak sendiri. Selebihnya, termasuk pembunuhan biasa. Waktu: tidak lama setelah lahir maksudnya adalah ibu belum memberikan rasa kasih sayang kepada anaknya, sehingga tidak dilakukan perawatan terhadap anaknya sebelum dibunuh. Psikis: Ibu membunuh ankanya karena terdorong oleh rasa cemas dan khawatir akan ketahuan bahwa ia melahirkan anak. Yang harus dijawab oleh dokter ahli forensik terhadap kasus pembunuhan anak sendiri adalah: Lahir mati atau hidup. Berapakah umur bayi tersebut (intrauterin dan ekstrauterin)? Apakah bayi tersebut sudah pernah dirawat? Apakah sebab kematiannya?

A. Lahir mati atau hidup Keadaan bayi saat lahir, mati atau hidup dapat ditentukan dengan apakah adanya udara yang masuk ke dalam paru bayi ketika ia sudah lahir. Bayi yang ditemukan mati pada saat lahir tidak dikategorikan sebagai kasus pembunuhan anak sendiri. Lahir mati: ditunjukkan dengan tidak adanya detak jantung, nafas, ataupun gerakan otot rangka. Tanda-tanda maserasi: pembusukan terjadi di dalam intra uterin. Tanda maserasi baru terihat setelah 8-10 hari kematian intra uterina. Diawali dengan adanya vesikel, bula berisi cairan kemerahan, lalu epidermis berwarna putih atau berkeriput, bau tengik, tubuh lunak, dada mendatar, dan sebagainya.

Dada belum mengembang: iga masih datar diafragma setinggi iga 3-4. Makroskopik paru: paru-paru mungkin masih tersembunyi di belakang kandung jantung, bewarna kelabu ungu merata seperti hati, konsistensi padat, dan tidak teraba pleural sack. Berat paru-paru: 1/70 BB bayi.

Uji apung paru: negatif, atau bisa false positif bila terapat bula dan vesikel berisi udara yang dapat membuat paru mengapung saat pengujian. Mikroskopik paru: mungkin adanya tanda inhalasi mekonium, cairan amnion yang luas, deskuamasi epitel bronkus.

Lahir hidup: ditujukan dengan adanya gerakan, nafas, detak jantung, dan sebagainya. Dada sudah pernah mengembang, setinggi iga 4-5. Makroskopik paru: paru berwarna merah muda tidka merata, dengan pleura tegang, konsistensi seperti spons. Jika paru diiris dalam air: keluar gelembung-gelembung gas. Berat paru: 1/35 BB bayi. Mikroskopik paru: alveous paru mengembang sempurna, terlihat gambaran marmer. Adanya udara dalam saluran pencernaan pada pemeriksaan foto rontgen.

B. Umur bayi Umur bayi intrauterina untuk menentukan apakah bayi ini prematur atau matur. Dapat menggunakan rumus de Haase. Rumus ini menggunakan panjang badan sebagai patokan. Bulan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Panjang badan 1 x 1 =1 cm 2 x 2 = 4 cm 3 x 3 = 9 cm 4 x 4 = 16 cm 5 x 5 = 25 cm 6 x 5 = 30 cm 7 x 5 = 35 cm 8 x 5 = 40 cm 9 x 5 = 45 cm

Selain menggunakan rumus de Haase, bisa juga melihat pusat penulangan yang ditandai dengan bila pusat penulangan sudah terdapat pada distal femur dan proximal tibia serta kuboid, maka dapat dikatakan bahwa bayi ini matur atau cukup bulan. Berat badan bayi yang lebih dari 1000grammenunjukkan bahwa bayi tersebut viabel, atau dapat hidup di luar uterus sang ibu tanpa bantuan dari ibu. Usia bayi intrauterin lebih dari 28 minggu, panjang badan lebih dari 35 cm, BB lebih dari 1000gram, lingkar kepala 32 cm, dan tidak ada cacar bawaan pada bayi. Umur ekstrauterin: adalah seberapa lama bayi tersebut pernah hidup di luar rahim ibu sebelum ia dibunuh oleh ibunya sendiri. Dapat diperiksa dengan: Udara dalam saluran cerna: lambung atau duodenum (hidup beberapa saat), usus halus (hidup 1-2 jam), usu besar (hidup 5-6 jam), dan di rektum (hidup 12 jam). Mekonium dalam kolom akan keluar semuanya dalam 24 jam. Jika ditemukan mekonium dalam kolon, berarti umur bayi kurang dari 24 jam. Perubahan tali pusat: pada tempat lekat akan terbentuk lingkaran merah setelah bayi hidup sekitar 36 jam, Lalu akan mengering dalam 6-8 hari.

C. Perawatan terhadap bayi Bayi yang pernah mendapat perawatan sebelumnya terlihat bersih, berpakaian, tali pusat terikat dengan rapih, dan tidak terdapat lemak bayi pada daerah kulit bayi. Lemak bayi ini sifatnya susah dihilangkan walaupun telah dibersihkan dengan air, dan baru dapat hilang bila dibersihkan oleh tenaga medis atau bidan. Jika tali pusat masih terhubung dengan plasenta, bayi masih berlumuran darah, tidak berpakaian, dan masih ada lemak bayi pada kulit bayi, berarti menunjukkan bahwa bayi dibunuh dengan tergesa-gesa dalam keadaan cemas, panik, dan khawatir. Ada atau tidaknya perawatan yang diberikan pada bayi akan menentukan lamanya hukuman yang akna diberikan kepada tersangka. D. Sebab kematian Sebab kematian tersering pada pembunuhan anak sendiri adalah asfiksi, atau dengan pembekapan atau dengan mencekik bayi tersebut sehingga bayi mati lemas. Cara membunuh yang paling jarang ditemukan adalah dengan benda tumpul atau tajam. Cara pembunuhan

ditentukan dengan ada atau tidaknya trauma pada bayi, dan dengan benda apakah bayi tersebut dikenai trauma. Namun trauma akibat kekerasan ibu perlu dibedakan dengan trauma karena persalinan, yang ditandai dengan: Sefal hematom kaput suksedaneum fraktur tulang tengkorak perdarahan intra-kranial perdarahan subarachnoid perdarahan epidural, dan sebagianya

Jika sudah ditentukan empat aspek pada yang dapat ditemukan pada bayi, maka perlu dibuat visum et repertum sebagai laporan hasil pemeriksaan yang akan diserahkan kepada penyidik.

BAB V KESIMPULAN Pada pemeriksaan mayat laki-laki ini, bayi cukup bulan dalam kandungan, hidup pada saat dilahirkan, tidak ditemukan tanda-tanda perawatan, ditemukan jenis kekerasan yang menyebabkan mati lemas. Sedangkan pada pemeriksaan wanita ini ditemukan tanda-tanda kehamilan dan persalinan. Wanita ini dipastikan adalah ibu kandung dari bayi yang ditemukan di tempat sampah karena ditemukannya darah yang cocok dengan darah bayi pada jok mobil yang ditumpanginya semalam.

BAB VI DAFTAR PUSTAKA 1. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik FKUI. Peraturan Perundang-undangan Bidang Kedokteran. Hukum Acara Pidana, Prosedur Medikolegal, dan Kejahatan terhadap Tubuh dan Jiwa Manusia. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 1994. 2. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, et al. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 1997. 3. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik FKUI. Teknik Autopsi Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 2000.