Anda di halaman 1dari 7

Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 8, No 2, September 2013 Hukum perjanjian syariah....

(Ani Nugroho) 96-102

HUKUM PERJANJIAN SYARIAH DAN PENERAPANNYA DALAM


PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA

Oleh : Ani Nugroho


Fakultas Hukum Universitas Palangka Raya

Abstrak: Perkembangan perbankan syariah di Indonesia dilatarbelakangi dengan


berdirinya Bank Muamallat Indonesia (BMI) pada tahun 1992 yang diprakarsai oleh
MUI dan pemerintah serta dukungan dari ICMI dan pengusaha muslim di Indonesia.
Adapun keberadaan bank syariah tersebut diatur dalam undang-undang perbankan no 7
tahun 1992 yang dirubah dengan undang-undang no 10 tahun 1998 serta PP no 72 tahun
1992 tentang bank berdasarkan prinsip bagi hasil. Ditengah menjamurnya bank-bank
konvensional di Indonesia, eksistensi bank syariah setelah terjadi krisis moneter
menunjukkan keberadaannya mampu bertahan. Hal ini dibuktikan dengan berdirinya
bank IFI cabang syariah dan bank syariah mandiri pada tahun 1999.

Kata Kunci: Perjanjian syariah, perbankan syariah, penerapannya dalam praktek

PENDAHULUAN atau lebih untuk melahirkan akibat hukum


pada objeknya.3
Perjanjian atau perikatan dibuat Sehingga yang dimaksud dengan
secara tertulis sebagai alat bukti bagi para hukum kontrak syariah adalah hukum yang
pihak. Dalam fiqh muamallah pengertian mengatur perjanjian atau perikatan yang
kontrak perjanjian terdapat dalam bab dibuat secara tertulis berdasarkan prinsip-
pembahasan tentang akad, adapun prinsip syariah sebagai alat bukti bagi para
pengertian akad (al-aqd) secara bahasa pihak yang berkepentingan.4Bank BNI
diartikan sebagai perikatan atau perjanjian. syariah, bank Jabar, BRI syariah, Bank
1
Menurut para fuqaha al-aqd adalah Danamon, BII, HSBC, Bank Bukopin pada
perikatan yang ditetapkan melalui ijab dan tahun 2000 serta sekitar 156 BPR Syariah.5
qabul berdasarkan ketentuan syara yang Lahirnya undang-undang no 21 tahun 2008
menimbulkan akibat hukum terhadap tentang perbankan syariah serta undang-
objeknya.2 Akad adalah pertemuan ijab undang no 19 tahun 2008 tentang surat
dan qabul yang dibenarkan syara, dan berharga syariah nasional memberikan
sebagai pernyataan kehendak dua pihak kepastian hukum adanya dukungan dari
pemerintah terhadap eksistensi perbankan

1 3
Burhanuddin S, 2009, Hukum Kontrak Syamsul Anwar, 2007, Hukum Perjanjian
Syariah, Yogyakarta: BPFE, Yogyakarta, Hal.12. Syariah, Jakarta : Rajawali Press, Hlm.58.
2 4
Rachmad Syafei, 2004, Fiqh Muamallah, Ibid, Hal.12.
5
Cet 2, Bandung : Pustaka Setia, Hlm.44. Data BI 17 Desember 2013.

ISSN : 2085-4757 96
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 8, No 2, September 2013 Hukum perjanjian syariah....(Ani Nugroho) 96-102

syariah di Indonesia. Yang mana dalam bentuk lainnya yang dipersamakan


pelaksanaan dan sistemnya perlu dilakukan dengan itu berdasarkan akad
pengawasan yang bertujuan untuk mudharabah atau akad lain yang tidak
menghindari melencengnya penerapan bertentangan dengan prinsip syariah.
prinsip-prinsip syariah dalam c. Menyalurkan pembiayaan bagi hasil
penerapannya di perbankan syariah. Oleh berdasarkan akad mudharabah, akad
karenanya dalam hal ini bagaimanakah musyarakah atau akad lain yang tidak
akad-akad kegiatan dalam menerapkan bertentangan dengan prinsip syariah.
perjanjian berlandaskan prinsip syariah d. Menyalurkan pembiayaan berdasarkan
yang dilakukan oleh bank syariah ? akad murabahah, akad salam, akad
istishna atau akad lain yang tidak
PEMBAHASAN bertentangan dengan prinsip syariah.
e. Menyalurkan pembiayaan berdasarkan
Penerapan Hukum Perjanjian Syariah akad qard atau akad lain yang tidak
Dalam Perbankan Syariah bertentangan dengan prinsip syariah.
f. Menyalurkan pembiayaan penyewaan
Pasal 1 angka 7 Undang-Undang barang bergerak atau tidak bergerak
Nomor 21 Tahun 2008 menyebutkan kepada nasabah berdasarkan akad
bahwa bank syariah adalah bank yang ijarah / sewa beli dalam bentuk ijarah
menjalankan kegiatan usahanya muntahiya bittamlik atau akad lain yang
berdasarkan prinsip syariah dan menurut tidak bertentangan dengan prinsip
jenisnya terdiri atas bank umum syariah syariah.
dan bank pembiayaan syariah. Adapun g. Melakukan pengambilalihan utang
prinsip syariah adalah prinsip hukum Islam berdasarkan akad hawalah atau akad
dalam kegiatan perbankan berdasarkan lain yang tidak bertentangan dengan
fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang prinsip syariah.
memiliki kewenangan dalam penetapan Kegiatan penghimpunan dana
fatwa di bidang syariah. Sedangkan tersebut adalah :
pengertian akad disebutkan dalam angka
13 yakni kesepakatan tertulis antara bank Giro berdasarkan prinsip wadiah.
syariah atau unit usaha syariah dan pihak Merupakan simpanan dana nasabah.
lain yang memuat adanya hak dan Wadiah merupakan titipan nasabah yang
kewajiban bagi masing-masing pihak tidak memberikan wewenang kepada
sesuai dengan prinsip syariah. penerima titipan untuk menggunakan
Kegiatan usaha bank umum syariah benda yang dititipkan. Penerima titipan
dijelaskan dalam pasal 19, meliputi : berhak untuk mendapatkan upah untuk itu.
a. Menghimpun dana dalam bentuk Bagi bank yang menjadi pihak yang
simpanan berupa giro, tabungan atau menerima titipan dengan seijin nasabahnya
bentuk lainnya yang dipersamakan sebagai pihak yang menitipkan, bank dapat
dengan itu berdasarkan akad wadiah menggunakan dana milik nasabah dengan
atau akad lain yang tidak bertentangan menjamin, bahwa bank akan
dengan prinsip syariah. mengembalikan dana itu secara utuh. Bank
b. Menghimpun dana dalam bentuk memiliki tanggung jawab atas segala
investasi berupa deposito, tabungan atau resiko yang terjadi pada dana tersebut.

ISSN : 2085-4757 97
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 8, No 2, September 2013 Hukum perjanjian syariah....(Ani Nugroho) 96-102

Dalam kondisi titipan seperti ini, titipannya Deposito berdasarkan prinsip


disebut dengan wadiah yad adh- mudharabah
dhamanah. Sedangkan untuk titipan yang Deposito berjangka merupakan
penerima titipan tidak berhak untuk penyimpanan dana oleh nasabah kepada
menggunakan benda titipan disebut dengan bank dengan ketentuan waktu penarikan
wadiah yad al-amanah. Dari proses dana adalah dalam jangka waktu tertentu
wadiah yad adh-dhamanah ini, tentunya sejak penyetoran dananya, seperti 30 hari,
bank tidak memperoleh upah dari nasabah 90 hari, dan sebagainya. Dalam hal ini,
atas jasa titipannya, tetapi ia berhak perikatan yang digunakan adalah
mendapatkan semua keuntungan yang mudharabah. Nasabah sebagai shahibul
diperoleh dari hasil penggunaan dana maal dan bank sebagai mudharib saling
nasabah tersebut. Sedangkan bagi nasabah, terikat untuk melakukan bagi hasil sesuai
selain ia mendapatkan jaminan keamanan dengan nisbah yang telah ditentukan di
terhadap dananya, biasanya ia memperoleh awal akad. 8
intensif dari bank. Pemberian intensif oleh
bank tidak diperjanjikan diawal akad dan Kegiatan penyaluran dana adalah :
jumlahnya tidak ditetapkan terlebih dulu. 6
Prinsip jual beli :
Tabungan berdasarkan prinsip wadiah/
mudharabah Murabahah : Yaitu jual-beli dengan
1. Tabungan adalah simpanan dana adanya tambahan dari harga asal. Nasabah
nasabah di bank yang dapat diambil yang memiliki kebutuhan benda tertentu
sewaktu-waktu oleh nasabah dengan dapat mengajukan permohonan kepada
menggunakan buku tabungan atau alat Bank Syariah untuk membeli benda
lainnya tetapi tidak menggunakan cek. tersebut. Benda yang telah dibeli oleh
Prinsip wadiah pada tabungan bank, kemudian akan dijual kembali
digunakan sama halnya dengan produk kepada nasabah dengan harga yang lebih
giro yang telah diuraikan diatas. tinggi dari harga asal. Kelebihan harga ini
2. Prinsip mudharabah pada tabungan tentunya didasarkan pada kesepakatan
adalah antara nasabah dan bank diantara keduanya. Pembayaran yang
mengadakan akad mudharabah, yaitu dilakukan oleh nasabah biasanya dalam
nasabah menyimpan sejumlah dana bentuk angsuran, meskipun tidak dilarang
kepada bank untuk dikelola oleh bank. untuk membayar secara tunai. Sistem ini
Dalam hal ini, hasil yang diperoleh dari biasanya dilakukan untuk pembiayaan
pengelolaan dananya akan dibagikan barang-barang investasi seperti melalui
kepada nasabah sebagai pemilik dana letter of credit (L/C) dan pembiayaan
(shahibul maal) dan bank sebagai persediaan sebagai modal kerja. 9
pengelola dana (mudharib). Besar bagi
hasil (nisbah) tersebut telah disepakati Istishna : Bank sebagai penjual (shani)
di awal akad. 7 mendapat pesanan dari nasabah sebagai
pembeli (mustashni) dengan cara
6
Gemala Dewi, 2006, Hukum Perikatan Islam
di Indonesia, Jakarta : kencana Prenada Media
8
Group, Hlm.155. Ibid, Hlm.156.
7 9
Ibid, Hlm.156. Ibid, Hlm.156-157.

ISSN : 2085-4757 98
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 8, No 2, September 2013 Hukum perjanjian syariah....(Ani Nugroho) 96-102

pembayaran dimuka, secara angsuran, atau diperoleh dari usahanya.12 Jenis


ditangguhkan pada waktu tertentu. Barang mudharabah yang dapat digunakan adalah
yang dibutuhkan oleh nasabah tidak mudharabah mutlaqah dan mudharabah
seketika itu ada, tetapi harus dilakukan muqayyadah. Dalam mudharabah
proses pembuatannya terlebih dahulu. mutlaqah, pihak pemodal tidak berhak
Bank akan melakukan pemesanan kembali mengelola persekutuan secara mutlak.
kepada perusahaan industri untuk Namun pihak mudharib lah yang berhak
memperoleh barang yang dibutuhkan oleh mengelola, sebab mudharabah merupakan
nasabah. Dalam hal jual beli yang kedua percampuran antara badan pengelola
ini disebut juga dengan istishna parallel. (pekerja) dengan modal, tetapi bukan
Keuntungan yang diperoleh oleh bank pemilik modal. Sehingga pemodal
adalah berupa selisih harga dari nasabah layaknya pihak yang berada di luar
dengan harga jual kepada pembeli. Model persekutuan.13 Mudharabah muqayyadah
perikatan istishna bisa dilakukan pada adalah akad syirkah yang mengharuskan
pembiayaan persediaan (inventory pekerja (mudharib) untuk mengikuti
financing) sebagai modal kerja.10 ketentuaan maupun pengarahan yang
ditetapkan oleh pemilik modal (shahibul
Salam: Salam hampir sama dengan maal) dalam mengelola usaha. Dengan
istishna. Pembayaran harga pada salam demikian, dalam persekutuan mudharabah
dilakukan pada saat akad dilakukan. Sifat ini, kewenangan yang diberikan kepada
akad dari salam adalah mengikat secara pihak mudharib bersifat terbatas.14
asli (thabii), yaitu mengikat semua pihak
sejak awal. Pada perikatan salam, nasabah Musyarakah : Syirkah yaitu akad
berkedudukan sebagai pembeli (muslam), perjanjian antara orang-orang yang
sedangkan bank sebagai penjual (muslam berserikat dalam hal modal dan
ilaih). Bank juga dapat melakukan salam keuntungan.15 Dalam kerjasama ini
paralel dengan produsen. Pada salam masing-masing pihak (bank dan nasabah)
paralel bank adalah muslam dan produsen memberikan kontribusi dana untuk suatu
adalah muslam alaih. 11 usaha tertentu dengan keuntungan dan
resiko yang terjadi akan ditanggung
Prinsip Bagi Hasil : bersama. Aplikasinya dalam perbankan,
musyarakah dapat dipergunakan untuk
Mudharabah : Bank dan nasabah dapat pembiayaan proyek dan juga pembiayaan
melakukan kerjasama dalam mengadakan modal ventura.16
suatu usaha. Dalam mudharabah, bank
sebagai pemilik dana (shahibul maal)
menyediakan sejumlah dana untuk suatu
12
usaha yang akan dikelola oleh nasabah Ibid, Hlm.158.
13
(mudharib). Pada awal akad, keduanya Burhanuddin S, 2009, Hukum Kontrak
Syariah, Yogyakarta : BPFE Yogyakarta,
telah menyepakati nisbah yang akan
Hlm.116.
dibagikan dari hasil keuntungan yang 14
Ibid, Hlm.116.
15
Chairuman Pasaribu Suhrawardi K. Lubis,
2004, Hukum Perjanjian Dalam Islam, Jakarta :
10
Ibid, Hlm.157. Sinar Grafika, Hlm.74.
11 16
Ibid, Hlm.157. Gemala Dewi, 2006, Opcit, Hlm.158.

ISSN : 2085-4757 99
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 8, No 2, September 2013 Hukum perjanjian syariah....(Ani Nugroho) 96-102

Prinsip Sewa Menyewa : Rp50.000,- .20 Perikatan jenis ini bertujuan


untuk tolong menolong, bukan sebagai
Ijarah : Ijarah adalah pengambilan perikatan yang mencari untung (komersil).
manfaat suatu benda, jadi dalam hal ini Oleh karena itu, bank hanya akan
bendanya tidak berkurang sama sekali, mendapatkan kembali sejumlah modal
dengan perkataan lain dengan terjadinya yang diberikan kepada nasabah. Bank
peristiwa sewa-menyewa, yang berpindah syariah dapat menyediakan fasilitas ini
hanyalah manfaat dari benda yang dalam bentuk sebagai berikut:21
disewakan tersebut, dalam hal ini dapat a. Sebagai dana talangan untuk jangka
berupa manfaat barang seperti kendaraan, waktu singkat, maka nasabah akan
rumah, dan manfaat karya seperti pemusik, mengembalikannya dengan cepat,
bahkan dapat juga berupa karya pribadi seperti compensating balance dan
seperti pekerja.17 Dalam praktik, biasanya factoring (anjak piutang).22
disebut dengan operational lease, yaitu b. Sebagai fasilitas untuk memperoleh
bank menyewakan barang yang dibutuhkan dana cepat karena nasabah tidak bisa
nasabah dalam rangka pemenuhan menarik dananya, misalnya karena
kebutuhan usahanya. Nasabah memiliki tersimpan dalam deposito.
kewajiban membayar harga sewa kepada c. Sebagai fasilitas membantu usaha kecil
bank.18 atau sosial

Ijarah Mun tahiya bi Tamlik (IMBT) : Jasa Pelayanan :


Sering kali barang yang disewakan kepada
nasabah akan merepotkan bank dalam hal Wakalah : Berwakil ialah menyerahkan
pemeliharaanya. Oleh karena itu, bank pekerjaan yang dikerjakan kepada yang
dapat memberikan opsi kepada nasabah lain, agar dikerjakannya (wakil) semasa
untuk menjadi pemilik atas barang setelah hidupnya (yang berwakil).23 Perwakilan
masa sewa telah berakhir. Hal ini yang merupakan bentuk pemberian kuasa
diaplikasikan dalam bentuk financial lease kepada pihak lain untuk melakukan suatu
with purchase option, baik dalam bentuk pekerjaan tertentu. Dalam pasal 1792 KUH
pembiayaan produktif berupa investasi Perdata, yang dimaksud pemberian kuasa
maupun pembiayaan konsumtif.19 adalah suatu perjanjian dengan mana
seseorang memberikan kekuasaan kepada
Prinsip Pinjam-meminjam berdasarkan seseorang lain, yang menerimanya, untuk
akad qardh : Utang piutang adalah atas namanya menyelenggarakan suatu
memberikan sesuatu kepada seseorang, urusan.24 Bank syariah sebagai wakil dari
dengan perjanjian bahwa akan membayar nasabah sebagai pemberi kuasa (muwakil)
yang sama dengan itu. Misalnya
menghutang uang Rp50.000,- akan dibayar
20
Sulaiman Rasjid, 2001, Fiqh Islam, Bandung
: PT.Sinar Baru Algensindo, Hlm.306
21
Muhammad Syafii Antonio, 2002, Bank
Syariah Dari Teori Ke Praktik, Jakarta : Gema
17
Chairuman Pasaribu Suhrawardi K.Lubis, Insani Press, Hlm.133.
22
2004, Opcit, Hlm.52. Ibid, Hlm.162-163.
18 23
Gemala Dewi, 2006, Opcit, Hlm.158-159. Sulaiman Rasjid, 2001, Opcit, Hlm.320.
19 24
Ibid, Hlm.159. Burhanuddin S, 2009, Opcit, Hlm.147.

ISSN : 2085-4757 100


Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 8, No 2, September 2013 Hukum perjanjian syariah....(Ani Nugroho) 96-102

untuk melakukan sesuatu (taukil). Dalam dengan sesuatu yang berkaitan dengan
hal ini bank akan mendapatkan upah atau adanya penambahan kewajiban bagi orang
biaya administrasi atas jasanya tersebut.25 lain tersebut.29 Pada perikatan ini, bank
berkedudukan sebagai pemberi jaminan
Hawalah : Hawalah ialah memindahkan (kafiil) atas nasabahnya (makful),
hutang dari tanggungan seseorang kepada kemudian nasabah akan mendapatkan upah
tanggungan yang lain.26 Hawalah atas jasanya tersebut selain harus
disyariatkan untuk memberikan mengembalikan dana yang telah
kemudahan bagi hamba-hambaNya dalam dikeluarkan oleh bank kepada penerima
kehidupan muamalah. Melalui akad jaminan. Contohnya, kafalah dapat
hawalah, memungkinkan seseorang yang dilaksanakan pada performance bonds atau
mengalami kesulitan untuk mengalihkan jaminan prestasi.30
sesuatu yang masih menjadi
tanggungannya (hutang) kepada pihak Rahn : Perjanjian gadai adalah merupakan
lain.27 Dalam praktiknya, perikatan ini perjanjian dua pihak, yaitu orang yang
biasanya dilakukan pada produk perbankan berhutang (debitur), pemberi gadai, yaitu
berikut ini : 28 orang yang menyerahkan benda yang
a. Factoring atau anjak piutang, dimana dijadikan objek perjanjian gadai serta
para nasabah yang memiliki piutang orang yang berpiutang atau pemegang
kepada pihak ketiga memindahkan gadai (kreditur).31 Rahn merupakan
piutang itu kepada bank, bank lalu perikatan pemberian jaminan yang
membayar piutang tersebut dan bank diberikan oleh nasabah atas pinjamannya
menagihnya dari pihak ketiga itu. dari bank. Dalam bank syariah, rahn dapat
b. Post dated check, di mana bank digunakan sebagai produk pelengkap dan
bertindak sebagai juru tagih, tanpa produk tersendiri. Produk pelengkap itu
membayarkan dulu piutang tersebut. yaitu pada saat nasabah melakukan
c. Bill discounting. Secara prinsip, bill perikatan dalam bentuk lain (seperti
discounting serupa dengan hawalah. mudharabah, murabahah, dan lainnya),
Hanya saja, dalam bill discounting, maka bank dapat meminta nasabah untuk
nasabah harus membayar fee, menyerahkan jaminan. Sebagai produk
sedangkan pembahasan fee tidak tersendiri, yaitu sering kali dikenal dengan
didapati dalam kontrak hawalah. istilah gadai. Nasabah yang membutuhkan
biaya dapat menggadaikan barang
Kafalah : Menurut Pasal 612 HUH Perdata miliknya. Barang ini kemudian dapat
Islam hak jaminan (kafalah) adalah suatu dinilai harganya, sehingga bank dapat
bentuk penambahan kewajiban kepada memberikan pinjaman kepada nasabah
suatu tanggungan yang berkaitan dengan sesuai dengan nilai barang gadai tersebut.
adanya permintaan atas barang tertentu; Dalam hal ini, bank akan memperoleh
artinya seseorang menggabungkan dan keuntungan berupa biaya penitipan dan
mengikatkan dirinya kepada orang lain, pemeliharaan atas barang gadai tersebut.

25 29
Gemala Dewi, 2006, Opcit, Hlm.159-160. Burhanuddin S, 2009, Opcit, Hlm.153.
26 30
Sulaiman Rasjid, 2001, Opcit, Hlm.312. Gemala Dewi, 2006, Opcit, Hlm.160.
27 31
Burhanuddin S, 2009, Opcit, Hlm.139. Chairuman Pasaribu Suhrawardi K Lubis,
28
Gemala Dewi, 2006, Opcit, Hlm.160. 2004, Opcit, Hlm.139.

ISSN : 2085-4757 101


Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 8, No 2, September 2013 Hukum perjanjian syariah....(Ani Nugroho) 96-102

Apabila pinjaman telah lunas, maka barang Rasjid Sulaiman, 2001, Fiqh Islam,
gadai akan dikembalikan kepada nasabah Bandung : PT.Sinar Baru
yang bersangkutan.32 Algensindo.

KESIMPULAN S. Burhanuddin, 2009, Hukum Kontrak


Syariah, Yogyakarta : BPFE
Hukum kontrak syariah adalah Yogyakarta.
hukum yang mengatur perjanjian atau
perikatan yang dibuat secara tertulis Syafei Antonio Muhammad, 2002, Bank
berdasarkan prinsip-prinsip syariah, Syariah dari Teori Ke Praktek,
menimbulkan akibat hukum dan sebagai Jakarta : Gema Insani Press.
alat bukti bagi para pihak. Terhadap
kegiatan-kegiatan usaha yang dapat Syafei Rachmad, 2004, Fiqh Muamallah,
dilakukan oleh bank syariah itu antara lain Cet 2, Bandung : Pustaka Setia.
sebagai berikut: Deposito berjangka
berdasarkan prinsip mudharabah, transaksi Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008
giro berdasarkan prinsip wadiah, deposito Tentang Perbankan Syariah
berjangka berdasarkan prinsip
mudharabah, murabahah, istishna, salam,
mudharabah, musyarakah (syirkah),
ijarah, Ijarah Muntahiya bi Tamlik
(IMBT), qardh, wakalah, hawalah,
kafalah, dan rahn (gadai). Dimana
kegiatan-kegiatan usaha yang dapat
dilakukan oleh bank syariah tersebut
memiliki penerapan yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar Syamsul, 2007, Hukum Perjanjian


Syariah, Jakarta : Rajawali Press.

Dewi Gemala, 2006, Hukum Perikatan


Islam di Indonesia, Jakarta :
Kencana Prenada Media Group.

Pasaribu Chairuman Suhrawardi K. Lubis,


2004, Hukum Perjanjian Dalam
Islam, Jakarta : Sinar Grafika.

32
Gemala Dewi, 2006, Hlm.160-161.

ISSN : 2085-4757 102