Anda di halaman 1dari 5

TUBERKULOSIS PARU Pemeriksaan radiologis TB paru 1.

Bila klinis ada gejala TB paru, hampir selalu ditemukan kelainan pada foto roentgen 2. Bila klinis tersangka TB paru, tapi pada foto tidak terlihat kelainan ini merupakan tanda kuat bahwa bukan TB 3. Pada pemeriksaan rutin, mungkin ditemukan tanda-tanda pertama TB, walaupun klinis belum ada gejala. Sebaliknya bila tidak ada kelainan pada foto roentgen belum berarti tidak ada TB, sebab kelainan pertama pada foto roentgen biasanya baru kelihatan sekurang-kurangnya 10 minggu setelah infeksi oleh basil TB 4. Sesudah sputum (+) pada pemeriksaan bakteriologik, tanda TB yang terpenting adalah bila ada kelainan pada foto roentgen 5. Ditemukannya kelainan pada foto roentgen belum berarti bahwa penyakit tersebut aktif 6. Dari bentuk kelainan pada foto roentgen (bayangan bercak-bercak, awan-awan, dan lubang merupakan tanda-tanda aktif; sedangkan bayangan garis-garis dan sarang kapur merupakan tanda-tanda tenang 7. Pembuatan foto roentgen adalah suatu keharusan yaitu foto PA KLASIFIKASI TUBERKULOSIS MENURUT AMA 1. Minimal tuberculosis, luas sarang-sarang yang kelihatan tidak melebihi daerah yang dibatasi oleh garis median, apeks dan iga 2 depan ; sarang-sarang soliter dapat berada dimana saja, tidak harus berada dalam daerah tersebut di atas. Tidak ditemukan adanya lubang (kavitas) 2. Moderately tuberculosis; luas sarang-sarang yang bersifat bercak-bercak tidak melebihi luas satu paru, sedangkan bila lubang, diameternya tidak melebihi 4 cm. Kalau sifat bayangan sarang-sarang tersebut berupa awan-awan yang menjelma menjadi daerah konsolidasi yang homogen, luasnya tidak boleh melebihi 1 lobus 3. Far advanced tuberculosis; luas daerah yang dihinggapi oleh sarang-sarang lebih daripada klasifikasi kedua di atas, atau bila ada lubang-lubang maka diameter keseluruhan semua lubang > 4 cm Pembagian kelainan dapat dilihat pada foto roentgen 1. Sarang-sarang berbentuk awan atau bercak-bercak dengan densitas rendah atau sedang dengan batas tidak tegas. Sarang-sarng seperti ini biasanya menunjukkan bahwa proses aktif

2. Lubang (kavitas), ini selalu berarti proses aktif kecuali bila lubang sudah sangat kecil, yang dinamakan lubang sisa (residual cavity) 3. Sarang seperti garis-garis (fibrotic) atau bintik-bintik kapur (kalsifikasi) yang biasanya menunjukkan bahwa proses telah tenang

RADIOLOGI TRAKTUS RESPIRATOIR GAMBARAN RADIOLOGI Berselubung homogen Batas tegas/ rata PNEUMONIA Air bronchogram sign (+) Silhouette sign (+) Tidak tampak deviasi Bercak-bercak BRONCHO PNEUMONIA Berawan tidak rata Lokasi lapangan/ bawah tengah Berselubung homogen ABSES PARU Air fluid level/ meniscus Batas tidak rata Direct sign: Vascular crowding Peningkatan densitas ATELEKTASIS Pergeseran septum mendekati lesi Indirect sign : Pergeseran hilus Diagfragma terangkat Narrowing og rib cage Berselubung homogen , water density EMFIEMA EMFISEMA Locolated Psedotumor/ vanishing tumor Hiperlusen paru Diagfragma datar/rendah

Cor ramping Costa lebih datar Honey comb appearance Tram line BRONCHIECTASIS Double line Signet ring Vaskuler kasar Ramai BRONCHITIS KRONIS 2/3 medial Bunga ros pada ujung bronchus Berselubung tidak homogen, water density PENEBALAN PLEURA Kelenjar hilus homolateral membesar Limfangitis PNEUMONI Tanda & Gejala - Demam mendadak, disertai menggigil, baik pada awal penyakit atau selama sakit - Batuk, mula-mula mukoid lalu purulen dan bisa terjadi hemoptisis - Nyeri pleuritik, ringan sampai berat, apabila proses menjalar ke pleura (terjadi pleuropneumonia) - Tanda & gejala lain yang tidak spesifik : mialgia, pusing, anoreksia, malaise, diare, mual & muntah. Pemeriksaan fisik Inspeksi / palpasi sisi hemitoraks yg sakit tertinggal Palpasi / Perkusi / Auskultasi tanda-tanda KONSOLIDASI - Redup - Fremitus raba / suara meningkat - Suara napas bronkovesikuler - bronkial

- Suara bisik - Krepitasi Foto toraks Abnormalitas radiologis pada pneumonia disebabkan karena pengisian alveoli oleh cairan radang berupa : opasitas / peningkatan densitas ( konsolidasi ) disertai dengan gambaran air bronchogram Bila di dapatkan gejala klinis pneumonia tetapi gambaran radiologis negatif, maka ulangan foto toraks harus diulangi dalam 24-48 jam untuk menegakkan diagnosis. Tachypnea adalah frekuensi pernapasan yang cepat, yaitu lebih dari 20 kali permenit yang dapat muncul dengan atau tanpa dispnea. Hiperventilasi adalah ventilasi yang lebih besar daripada jumlah yang dibutuhkan untuk mempertahan kan pengeluaran CO2 normal, hal ini dapat diidentifikasi kan dengan memantau tekanan parsial CO2 arteri, atau tegangan pa CO2 yaitu lebih rendah dari angka normal yaitu 40mmHg.

Hiperventilasi merupakan kondisi ketika terjadi peningkatan frekuensi bernapas. Hal ini akan memicu berubahnya kadar karbon dioksida dalam darah. Ketika seseorang mengalami hiperventilasi, terjadi penurunan tekanan parsial karbon dioksida yang disebut hipokapnia.

Hiperventilasi terjadi ketika paru-paru bernapas berlebihan untuk mencapai gas darah arteri normal. Akibatnya, paru-paru menghirup oksigen lebih dari yang dibutuhkan. Hiperventilasi dapat terjadi karena infeksi paru-paru, serangan jantung, perdarahan, atau serangan panik. Hiperventilasi menyebabkan rendahnya tingkat karbon dioksida dalam darah. Penurunan konsentrasi oksigen yang diinspirasi Saat konsentrasi oksigen yang diinspirasi menurun, maka kapasitas darah yang membawa oksigen juga menurun. Penurunan fraksi konsentrasi oksigen yang diinspirasi dapat di sebabkan obstruksi jalan nafas bagian atas dan bawah yang membatasi transfor oksigen inspirasi ke alveoli, penurunan oksigen di lingkungan atau oleh penurunan inspirasi akibat konsentrasioksigen yang tidak tepat pada peralatan terapi pernafasan.

Hiperventilasi Tujuan ventilasi ialah menghasilkan tegangan karbon dioksida di arteri yang normal (PaCO2) dan mempertahankan tegangan oksigen di arteri yang yang normal (PaCO2). Hiperventilasi dan hipoventilsi berkaitan dengan ventilasi alveolar dan bukan berkaitan engan frekuensi pernapasan klien. Hiperventilasi merupakan suatu kondisi ventilasi yang berlebih, yang dibutuhkan untuk mengeliminasi karbon dioksida normal di vena, yang diproduksi melalui metabolism selular. Hiperventilasi dapat disebabkan oleh ansietas, infeksi, obat-obatan, ketidakseimbangan asam-basa, dan hipoksia yang dikaitkan dengan embolus paru atau syok. Ansietas akut dapat mengarah kepada hiperventilasi dan menyebabkankehilangan kesdaran akibat ekshalasi karbon dioksida yang berlebih.demam menyebabkan hiperventilasi. Untuk setiap peningkatan satu derajat Fahrenheit, terdapat peningkatan kecepatan metabolism sebesar 7%, sehingga menyebabkan peningkatan produksi karbon dioksida. Respons klinis yang dihasilkan ialah peningkatan frekuensi dan kedalaman pernapasan. Hiperventilasi juga disebabkan kimiawi, keracunan silisilat (aspirin) menyebabkan kelebihan stimulasi pada pusat pernapasan karena tubuh berusaha mengompensasi kelebihan karbon dioksida. Amfetamin juga meningkatkan ventilasi dengan meningkatkan produksi karbondioksida. Hiperventilasi juga dapat terjadi ketika tubuh berusaha mengompensasi asidosis metabolik dengan memproduksi alkalosis respiratorik. Ventilasi meningkat untuk menurunkan jumlah karbondioksida yang tersedia untuk membentuk asam karbonat. Hiperventilasi alveolar menghasilkan banyak tanda dan gejala yang dapat dikaji. Hemoglobin tidak membebaskan oksigen ke jaringan dengan mudah sehingga terjadi hipoksia jaringan. Apabila gejala memburuk, klien menjadi lebih terganggu, yang pada tahap lanjut akan meningkatkan frekuensi pernapasan dan menyebabkan alkalosis repiratorik.

Hipoksia Hipoksia adalah oksigenasi jaringan yang tidak adekuat pada tingkat jaringan. Kondisi ini terjadi akibat defisiensi penghantaran oksigen atau penggunaan oksigen di selular. Hipoksia dapat disebabkan oleh (1) penurunan kadar hemoglobin dan penurunan kapasitas darah yang membawa oksigen, (2) penurunan konsentrasi oksigen yang diinspirasi, (3) ketidakmampuan jaringan untuk mengambil oksigen dari darah, seperti yang terjadi pada kasus keracunan sianida, (4) penurunan difusi oksigen dari alveoli kea rah darah, seperti yang terjadi pada kasus pneumonia, (5) perfusi darah yang mengandung oksigen dijaringan yang buruk, seperti yang terjadi pada syok, dan (6) kerusakan ventilasi, seperti yang terjadi pada fraktur iga multiple atau trauma dada.