Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR PERCOBAAN II PERBANDINGAN SIFAT SENYAWA ION DAN SENYAWA KOVALEN

NAMA NIM

: DEVI PRAMANIK LISNASURI : J1C112029

KELOMPOK : III (TIGA) ASISTEN : DARU DWI CHRISTIAN

PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU 2012

PERCOBAAN II PERBANDINGAN SIFAT SENYAWA ION DAN SENYAWA KOVALEN

I.

TUJUAN PERCOBAAN Tujuan dari praktikum ini adalah agar praktikan dapat mengetahui dan

menjelaskan pengaruh jenis ikatan suatu senyawa terhadap sifat fisis dan sifat kimia dari senyawa tersebut. II. TINJAUAN PUSTAKA Sebuah senyawa tidak menyerupai unsur-unsur dari mana senyawa itu terbentuk. Sebuah senyawa harus dianggap sebagai zat yang unik (tak ada duanya). Ciri-ciri suatu senyawa bergantung banyak pada macam ikatan kimia yang menyatukan atom-atom itu (Keenan, 1984 ). Suatu senyawa terbentuk karena adanya tarik-menarik antara atom jenis yang satu dengan jenis yang lain. Pada umumnya, atom tidak berada dalam keadaan bebas, tetapi menyatu dengan atom lain membentuk suatu senyawa. Hal ini merupakan suatu bukti bahwa atom yang bergabung lebih stabil daripada menyendiri. Penggabungan itu disebut ikatan kimia. Atom yang melepaskan elektron akan menjadi ion positif, sebaliknya atom yang menerima elektron akan menjadi ion negatif (Syukri, 1999). Ikatan kimia adalah daya tarik-menarik antara atom yang menyebabkan suatu senyawa kimia dapat bersatu. Macam-macam ikatan kimia yang dibentuk oleh atom tergantung dari struktur elektron atom. Misalnya, energi ionisasi dan kontrol afinitas elektron dimana atom menerima atau melepaskan elektron. Ikatan kimia dapat dibagi menjadi dua kategori besar : ikatan ion dan ikatan kovalen. Ikatan ion terbentuk jika terjadinya perpindahan elektron di antara atom untuk membentuk partikel yang bermuatan listrik dan mempunyai daya tarik-menarik. Daya tarik menarik di antara ion-ion yang bermuatan berlawanan merupakan suatu ikatan ion. Ikatan kovalen terbentuk dari terbaginya (sharing) elektron di antara atom-atom. Dengan kata lain, daya tarik-menarik inti atom pada elektron yang terbagi di antara elektron itu merupakan suatu ikatan kovalen (Brady, 1999).

1. Ikatan Ionik Kimiawan Jerman Albrecht Kossel (1853-1927) menganggap kestabilan gas mulia disebabkan konfigurasi elektronnya yang penuh. Ia berusaha memperluas interpretasinya ke atom lain. Atom selain gas mulia cenderung mendapatkan muatan listrik (elektron) dari luar atau memberikan muatan listrik ke luar. Bila suatu atom kehilangan elektron maka ia akan menjadi kation yang memiliki jumlah elektron yang sama dengan gas mulia terdekat, sementara bila atom mendapatkan elektron, atom tersebut akan menjadi anion yang memiliki jumlah elektron yang sama dengan jumlah atom gas mulia terdekatnya. Ia menyimpulkan bahwa gaya dorong pembentukan ikatan kimia adalah gaya elektrostatis antara anion dan kation. Ikatan kimia yang dibentuk disebut ikatan ionik (Takeuchi, 2006). Alasan utama yang menyebabkan senyawa ion stabil adalah adanya daya tarikmenarik antara ion, yang terjadi apabila senyawa kimia terbentuk dan menghasilkan energi potensial (Brady, 1999). Dalam pembentukan ikatan ion, atom logam menjadi ion bermuatan positif (kation) dan atom bukan logam menjadi ion bermuatan negatif (anion). Atom bukan logam memperoleh sejumlah elektron yang cukup untuk menghasilkan anion dengan konfigurasi elektron gas mulia. Senyawa ion tidak tersusun dari pasangan ion sederhana atau sekelompok kecil ion, kecuali dalam keadaan gas. Dalam keadaan pada setiap ion dikelilingi oleh ion-ion yang muatannya berlawanan, membentuk suatu susunan yang disebut kristal ( Petrucci, 1985). Suatu ion akan terbentuk dengan mudah apabila struktur ion yang terjadi stabil, muatan ionnya kecil, bila atom yang membentuk anion kecil atau atom yang membentuk kation kasar. Senyawa ion memiliki beberapa sifat yaitu : a. Dalam keadaan padat tidak tersusun dari molekul-mulekul tetapi tersusun dari ion-ion, b. Senyawa-senyawa ion berupa zat padat yang keras, c. Senyawa-senyawa ion berupa elektrolit, d. Larutan atau leburannya dapat menghantarkan arus listrik e. Mempunyai titik lebur dan titik didih yang tinggi, f. Dapat larut dalam pelarut polar (contohnya air atau pelarut-pelarut sejenis) dan tidak larut dalam pelarut non polar (contohnya benzen atau pelarut organik) (Sukardjo, 1990).

2. Ikatan Kovalen Sekitar tahun 1916, dua kimiawan Amerika, Gilbert Newton Lewis (18751946) dan Irving Langmuir (1881-1957), secara independen menjelaskan apa yang tidak terjelaskan oleh teori Kossel dengan memperluasnya untuk molekul non polar. Titik krusial teori mereka adalah penggunaan bersama elektron oleh dua atom sebagai cara untuk mendapatkan kulit terluar yang diisi penuh elektron. Penggunaan bersama pasangan elektron oleh dua atom atau ikatan kovalen adalah konsep baru saat itu (Takuechi, 2006). Sifat-sifat senyawa kovalen antara lain kebanyakan menunjukkan titik leleh rendah, pada suhu kamar berbentuk cairan atau gas, larut dalam pelarut non polar dan sedikit larut dalam air, sedikit menghantarkan listrik, mudah terbakar dan banyak yang berbau. Ikatan kovalen adalah ikatan antar atom elektronegatif yang berdasarkan pada penggunaan bersama pasangan elekton. Jika pasangan elektron yang digunakan hanya satu pasang akan diperoleh ikatan tunggal, sedangkan bila dua pasang akan diperoleh ikatan rangkap dua dan jika tiga pasang diperoleh ikatan rangkap tiga. Bila pasangan elektron berasal dari kedua belah pihak atom yang berikatan disebut ikatan kovalen biasa atau ikatan kovalen saja. Sedangkan bila bersumber dari salah satu pihak atom saja dinamakan ikatan kovalen koordinasi atau ikatan donor akseptor. Atom pemberi pasangan elektron disebut atom donor dan yang menerima disebut akseptor (Syukri, 1999). Bila suatu zat tersusun dari molekul-molekul kovalen bentuk padatannya amorf atau kristal mulekuler. Tiap-tiap atom dalam molekul terikat dengan ikatan kovalen dan tiap-tiap molekul dalam kristal terikat oleh gaya antara molekul lemah, yaitu gaya-gaya van der Walls. Kristal molekul terdapat pada senyawa-senyawa organik dan unsur-unsur non-metal. Zat-zat yang mempunyai bentuk-bentuk kristal molekuler bertitik lebur dan bertitik didih rendah karena gaya-gaya antara molekul lemah. Energi untuk memecah kristal-kristal sedikit. Banyak zat-zat yang berbentuk cair dan gas. Pada temperatur kamar, bila berbentuk padat pada umumnya bersifat lunak. Zat-zat ini bukan elektrolit, umumnya larut dalam benzena atau pelaru-pelarut organik, tidak larut dalam air atau pelarut polar lainnya. Zat-zat kovalen yang larut dalam air seperti HCl, disebabkan karena zat ini bereakasi dengan air (Sukardjo, 1990).

Kekuatan ikatan antar partikel menyebabkan perbedaan titik leleh senyawa kovalen dan senyawa ion, gaya tarik Van Der Walls yang ada diantara molekul dalam kovalen jauh lebih lemah dibanding dalam senyawa ion. Bila suatu senyawa kovalen menguap, molekul melepaskan diri dari tetangganya. Gaya tarik lemah antara molekul dikalahkan, tetapi ikatan kovalen yang kuat mengikat atom-atom dalam molekul itu tak terpatahkan (Keenan,1991). Titik leleh merupakan salah satu sifat fisik yang penting untuk karakterisasi suatu senyawa. Titik leleh (melting point, mp) dari suatu senyawa adalah temperatur yang merujuk tepat pada saat proses transformasi senyawa tersebut antara fasa padat dan fasa cair. Analisis QSPR dengan sifat fisik titik leleh (mp) telah banyak dilaporkan. Penelitian Joback dan Reid, didasarkan pada data titik leleh dari 388 senyawa organik sebagai fungsi konstribusi tipe gugus kimia (Tahir, 2002). III. ALAT DAN BAHAN A. Alat Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain adalah tabung reaksi,termometer, gelas piala, elektroda karbon, lampu spiritus, sudip dan pipet tetes. B. Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah urea, naftalena, kristal NaCl, KI, MgSO4 dan isopropil alkohol. IV. PROSEDUR KERJA A. Penentuan Titik Leleh 1. Sejumlah kecil (1-2 sudip) urea dimasukkan ke dalam tabung reaksi, termometer dimasukkan di dalamnya. 2. Tabung reaksi dipanaskan dengan menggunakan lampu spritus, perubahan yang terjadi pada sampel urea diamati. 3. Suhu tepat pada saat urea mulai meleleh dan pada saat seluruh sampel urea meleleh dicatat, ini merupakan kisaran titik leleh. 4. Percobaan ini diulangi sebanyak dua kali. 5. Prosedur yang sama dilakukan untuk naftalena.

6. Prosedur di atas tidak dapat dilakukan untuk senyawa NaCl, KI dan MgSO4. Data titik leleh dari senyawa-senyawa tersebut dicari berdasarkan buku referensi. B. Perbandingan Kelarutan 1. Air dimasukkan ke dalam tabung reaksi (Tabung I), dan tabung reaksi lain dengan kabon tetraklorida (Tabung II). 2. Urea dimasukkan ke dalam masing-masing tabung reaksi, kemudian campuran dalam setiap tabung dikocok. 3. Kelarutan urea dalam tabung I atau tabung II diamati. 4. Prosedur yang sama dilakukan untuk naftalena, isopropil, alkohol, NaCl, KI, dan MgSO4. 5. Kelarutan dari setiap senyawa dalam masing-masing tabung diamati. C. Perbandingan Daya Hantar 1. Akuades sebanyak 50 mL dimasukkan pada gelas piala 50 mL. 2. Elektroda karbon dihubungkan dengan arus listrik dan lampu. 3. Elektroda dimasukkan ke dalam gelas piala berisi akuades. Perubahan yang terjadi diamati. 4. Prosedur (a) (c) diulangi, dengan menambahkan beberapa tetes isopropil alkohol. 5. Perubahan yang terjadi diamati.Prosedur yang sama dilakukan, masingmasing dengan menambahkan urea, naftalena, NaCl, KI, dan MgSO4.

V.

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Perbandingan Titik Leleh No. 1. Percobaan Dimasukkan sejumlah kecil urea ke dalam tabung reaksi. Dimasukkan termometer ke dalam tabung reaksi. 2. Dipanaskan tabung reaksi dengan T-1A = 36oC T-1B = 39oC T-2A = 40oC T-2B = 44oC Pengamatan

1 2 sudip

menggunakan lampu spiritus. Dicatat suhu tepat pada saat urea mulai meleleh dan suhu saat seluruh urea telah meleleh. Dilakukan sebanyak 2 kali. 3. Dimasukkan sejumlah kecil naftalena ke dalam tabung reaksi. Dimasukkan

1 2 sudip

termometer ke dalam tabung reaksi. 4. Dipanaskan tabung reaksi dengan T-1A = 39oC T-1B = 38oC T-2A = 67oC T-2B = 85oC

menggunakan lampu spriritus. Dicatat suhu tepat pada saat naftalena mulai meleleh dan suhu saat seluruh naftalena telah meleleh. Dilakukan sebanyak 2 kali. 2. Perbandingan Kelarutan No. 1. Percobaan Diisi sebuah tabung reaksi dengan air (Tabung I) dan tabung reaksi lain dengan karbon tetraklorida (CCl4) (Tabung II). 2. Urea ditambahkan ke dalam tabung I dan II Tabung I (air) Tabung II (CCl4) larut larut Pengamatan

3.

Naftalena ditambahkan ke dalam tabung I dan II Tabung I (air) tidak larut larut

4.

- Tabung II (CCl4) Isopropil alkohol ditambahkan ke dalam tabung I dan II Tabung I (air) Tabung II (CCl4)

tidak larut larut

5.

NaCl ditambahkan ke dalam tabung I dan II Tabung I (air) Tabung II (CCl4) larut tidak larut

6.

KI ditambahkan ke dalam tabung I dan II Tabung I (air) Tabung II (CCl4) larut tidak larut

7.

MgSO4 ditambahkan ke dalam tabung I dan II Tabung I (air) Tabung II (CCl4) larut tidak larut

3. Perbandingan Daya Hantar No. 1. 2. Percobaan Gelas piala diisi akuades. Elektroda karbon dihubungkan dengan arus listrik dan lampu. 3. Gelas piala berisi akuades dimasukkan elektroda yang telah dihubungkan ke listrik. 4. Gelas piala berisi akuades + isopropil alkohol dimasukkan elektroda yang telah dihubungkan ke listrik. Tidak ada perubahan Tidak ada perubahan Pengamatan 50 mL

5.

Gelas

piala

berisi

akuades yang

urea telah Tidak ada perubahan

dimasukkan

elektroda

dihubungkan ke listrik. 6. Gelas piala berisi akuades + naftalena dimasukkan elektroda yang telah Tidak ada perubahan

dihubungkan ke listrik. 7. Gelas piala berisi akuades + NaCl - Ada gelembung telah - Lampu tidak menyala

dimasukkan

elektroda

yang

dihubungkan ke listrik. 8. Gelas piala berisi akuades yang + KI - Ada gelembung telah - Lampu tidak menyala - Warna larutan berubah menjadi kuning 9. Gelas piala berisi akuades + MgSO4 - Ada gelembung dimasukkan elektroda yang telah - Lampu tidak menyala dihubungkan ke listrik. B. Pembahasan Dari percobaan yang telah dilaksanakan dapat dilihat bahwa antara senyawa kovalen dengan senyawa ion terdapat perbedaan-perbedaan dalam hal titik leleh, perbandingan kelarutan dan perbandingan daya hantar. I. Perbandingan Titik Leleh Daftar perbandingan titik leleh senyawa Senyawa Urea Naftalena Suhu Meleleh (I) 36oC - 40oC 39oC - 67oC Suhu Meleleh (II) 39oC - 44oC 38oC - 85oC

dimasukkan

elektroda

dihubungkan ke listrik.

Percobaan ini dilakukan dengan memanaskan 1 2 sudip urea di dalam tabung reaksi dengan lampu spiritus dengan naftalena yang dilakukan dengan prosedur yang sama. Percobaan ini dilakukan sebanyak 2 kali untuk mendapatkan kisaran titik lelehnya. Untuk urea, pada percobaan pertama didapatkan kisaran suhu awal urea mulai meleleh sampai meleleh seluruhnya yakni antara 36oC - 40oC,

sedangkan pada percobaan kedua, titik leleh berkisar antara 39oC - 44oC. Kisaran suhu urea meleleh keseluruhan ini disebut titik leleh urea. Akan tetapi, berdasarkan referensi titik leleh urea berkisar antara 132oC-133oC. Ini sangat jauh berbeda dengan hasil percobaan. Adapun didapatkan kisaran suhu awal naftalena mulai meleleh sampai meleleh seluruhnya yakni antara 39oC - 67oC, sedangkan pada percobaan kedua, titik leleh berkisar antara 38oC - 85oC. Kisaran suhu naftalena meleleh keseluruhan ini disebut titik leleh naftalena. Akan tetapi, berdasarkan referensi titik leleh naftalena adalah 80oC. Perbedaan titik leleh hasil percobaan dengan titik leleh berdasarkan referensi ini kemungkinan disebabkan oleh ketidaktepatan praktikan saat melakukan percobaan atau ketidaktepatan praktikan dalam membaca suhu pada termometer atau bisa dikarenakan saat pencucian tabung reaksi tidak benar-benar dikeringkan sehingga air yang sebenarnya tidak boleh ada dalam tabung reaksi ikut bereaksi dengan senyawa sehingga membentuk larutan dan menyebabkan perbedaan titik leleh. Pada senyawa NaCl, KI dan MgSO4 titik lelehnya tidak dapat diketahui melalui percobaan ini karena senyawa-senyawa tersebut merupakan senyawa ionik yang titik lelehnya sangat tinggi. Berdasarkan referensi, dapat diketehui titik leleh NaCl adalah 801oC-804oC , titik leleh KI adalah 681oC dan titik leleh MgSO4 adalah 1124oC. Titik leleh senyawa ionik sangat tinggi disebabkan oleh gaya elektrostatis antar ionion yang sangat kuat sehingga untuk memisahkannya dibutuhkan energi yang sangat besar (dalam hal ini adalah energi panas). Semakin erat ikatan antar ion suatu senyawa semakin besar pula titik leleh senyawa tersebut. Sedang pada senyawa kovalen ikatan ioniknya sangat lemah dikarenakan jarak antar ion yang sangat jauh sehingga titik leleh yang dihasilkan pun akan lebih kecil. II. Perbandingan Kelarutan Daftar perbandingan kelarutan senyawa Senyawa MgSO4 Naftalena Urea KI Kelarutan dalam air Larut Tidak Larut Larut Larut Kelarutan dalam CCl4 Tidak Larut Larut Larut Tidak Larut

NaCl Isopropil alkohol

Larut Tidak Larut

Tidak Larut Larut

Percobaan ini dilakukan dengan membandingkan kelarutan urea, naftalena, isopropil alkohol, NaCl, KI, dan MgSO4. Percobaan dilakukan dengan memasukkan urea ke dalam Tabung reaksi I yang diisi air (pelarut polar) dan Tabung reaksi II yang berisi karbon tetraklorida (CCl4) (pelarut non polar), kemudian mengamati kelarutannya. Untuk bahan-bahan lainnya juga dilakukan prosedur yang sama. Pada percobaan didapatkan hasil kelarutan senyawa yakni senyawa yang larut di dalam air adalah urea, NaCl, KI, dan MgSO4, sedangkan naftalena dan isopropil alkohol tidak terlarut dalam air. Kemudian senyawa yang terlarut dalam karbon tetraklorida (CCl4) adalah urea, naftalena, dan isopropil alkohol, sedangkan NaCl, KI, dan MgSO4 tidak terlarut. Dari percobaan yang dilakukan dapat dinyatakan bahwa senyawa ion akan larut dalam air, karena ion-ion akan terpisah satu sama lain bila dilarutkan dalam air. Dalam percobaan ini yang termasuk dalam senyawa ion adalah NaCl, KI, dan MgSO4. Walaupun urea adalah senyawa kovalen, namun pada umumnya senyawa kovalen yang kurang polar sedikit yang dapat larut dalam air. Sedangkan naftalena tidak larut dalam air karena senyawa tersebut adalah senyawa kovalen yang bersifat non-polar. NaCl yang larut dalam air membentuk ion Na+ dan Cl-, KI membentuk ion K+ dan I- serta MgSO4 membentuk ion Mg2+ dan SO42-. Rata-rata senyawa ion larut di dalam air (pelarut polar) dan tidak larut dalam senyawa CCl4 (pelarut non polar). Untuk senyawa kovalen pada umumnya larut dalam pelarut non polar seperti naftalena dan isopropil alkohol dan sedikit yang dapat larut dalam air seperti urea. Senyawa ion larut dalam air pelarut polar karena dipol-dipolnya yang tidak saling meniadakan dan sukar larut dalam CCl4 sebagai pelarut non polar akibat dari dipoldipolnya yang saling meniadakan. Akan tetapi tidak semua senyawa kovalen tidak larut dalam pelarut polar, misalnya urea yang larut di dalam air.

III. Perbandingan Daya Hantar Daftar perbandingan daya hantar senyawa Senyawa Akuades Akuades + urea Akuades + naftalena Akuades + KI Hasil Pengamatan Tidak ada perubahan Tidak ada perubahan Tidak ada perubahan Ada gelembung, lampu tidak menyala, warna larutan berubah menjadi kuning Akuades + MgSO4 Akuades + NaCl Akuades + isopropil alkohol Ada gelembung, lampu tidak menyala Ada gelembung, lampu tidak menyala Tidak ada perubahan

Percobaan ini dilakukan dengan membandingkan daya hantar antara akuades, isopropil alkohol, urea, naftalena, NaCl, KI, dan MgSO4. Percobaan ini dilakukan dengan memasukkan elektroda yang telah dihubungkan dengan arus listrik dan lampu dalam gelas piala berisi 50 mL akuades kemudian mengamati perubahan yang terjadi. Untuk bahan-bahan yang selanjutnya dilakukan dengan prosedur yang sama. Elektroda yang dimasukkan ke dalam larutan NaCl menghasilkan gelembung gas yang banyak sehingga kita dapat menyebut larutan NaCl sebagai larutan elektrolit kuat. Ketika elektroda di masukkan ke dalam larutan KI, MgSO4 dan urea menghasilkan gelembung gas yang cukup banyak meskipun tidak sebanyak pada larutan NaCl sehingga kita dapat menyebutnya sebagai larutan elektrolit lemah. Ketika elektroda dimasukkan ke dalam 50 ml air tidak terjadi reaksi. Begitu pula ketika dimasukkan ke dalam larutan naftalena dan isopropil alkohol sehingga kita dapat menyebutnya sebagai larutan non elektrolit. Perbedaan sifat daya hantar antara senyawa ion dan senyawa kovalen ternyata berkaitan dengan perbandingan sifat kelarutan, senyawa kovalen pada umumnya tidak larut dalam air dan bukan penghantar listrik yang baik. Sedangkan senyawa ion umumnya dapat larut dalam air karena senyawa ion dapat terdisosiasi menjadi ionionnya dan sehingga dapat menghantarkan arus listrik.

Pada percobaan perbandingan daya hantar listrik larutan tidak ada lampu yang menyala. Padahal menurut referensi, larutan elektrolit kuat (dalam percobaan ini NaCl) yang dihubungkan dengan elektroda menghasilkan nyala lampu yang terang dan larutan elektrolit lemah (dalamm percobaan ini KI, MgSO4 dan urea) menghasilkan nyala lampu yang redup. Hal ini mungkin disebabkan oleh kerusakan alat yang digunakan oleh praktikan dalam melakukan percobaan. VI. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah: 1. Senyawa ion dan kovalen memiliki perbedaan sifat baik berupa sifat fisika maupun kimia. Perbandingan pada sifat fisika dan kimia antara senyawa ion dan senyawa kovalen yaitu titik leleh, kelarutan dan daya hantar listrik dari senyawa tersebut. 2. Senyawa kovalen mempunyai ikatan antar molekul yang lemah

dibandingkan dengan senyawa ion. Kekuatan ikatan antar partikel dalam senyawa menyebabkan perbedaan titik leleh antara senyawa ion dan senyawa kovalen 3. Semakin erat ikatan antar ion suatu senyawa semakin besar pula titik leleh senyawa tersebut. Sedang pada senyawa kovalen ikatan ioniknya sangat lemah dikarenakan jarak antar ion yang sangat jauh sehingga titik leleh yang dihasilkan pun akan lebih kecil. 4. Senyawa ion akan larut dalam air, karena ion-ion akan terpisah satu sama lain bila dilarutkan dalam air. Senyawa kovalen pada umumnya larut dalam pelarut non polar dan sedikit yang larut dalam air (pelarut polar). 5. Perbedaan sifat daya hantar antara senyawa ion dan senyawa kovalen berkaitan dengan perbandingan sifat kelarutan, senyawa kovalen pada umumnya tidak larut dalam air dan bukan penghantar listrik yang baik. Sedangkan senyawa ion umumnya dapat larut dalam air karena senyawa ion dapat terdisosiasi menjadi ion-ionnya sehingga dapat menghantarkan arus listrik.

DAFTAR PUSTAKA

Brady, J. E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Binarupa Aksara. Jakarta. Keenan, dkk. 1984. Kimia untuk Universitas. Edisi ke-6 Jilid 1. Erlangga. Jakarta. Keenan, C. W. 1991. Kimia untuk Universitas Jilid 1. Erlangga. Jakarta. Petrucci, R.H dan Suminar. 1985. Kimia Dasar. Edisi ke-4 Jilid 1. Erlangga. Jakarta. Sukardjo. 1990. Ikatan kimia. Rineka Cipta. Yogyakarta. Syukri, S. 1999. Kimia Dasar Jilid 1. ITB. Bandung. Tahir, I. 2002. Hubungan Kuantitatif antara Struktur Molekul dan Titik Leleh dari Berbagai Senyawa Organik. UGM. Yogyakarta. Takeuchi, Y. 2006. Pengantar Kimia. Iwanami Shoten Publishers. Tokyo.