Anda di halaman 1dari 31

SUGENG ABDULLAH

SUGENG ABDULLAH Panduan Praktek F I SIKA L I NGKUNGAN AKADEMI KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO Sugeng Abdullah

Panduan Praktek

FISIKA

LINGKUNGAN

SUGENG ABDULLAH Panduan Praktek F I SIKA L I NGKUNGAN AKADEMI KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO Sugeng Abdullah
SUGENG ABDULLAH Panduan Praktek F I SIKA L I NGKUNGAN AKADEMI KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO Sugeng Abdullah
SUGENG ABDULLAH Panduan Praktek F I SIKA L I NGKUNGAN AKADEMI KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO Sugeng Abdullah

AKADEMI KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO

KATA PENGANTAR

Materi praktikum yang ada pada buku ini menurut persepsi penyusun telah disesuaikan dengan kurikulum Akademi Kesehatan Lingkungan. Walaupun demikian, sangat terbuka untuk dikembangkan.

Agar tidak tumpang tindih dengan praktikum MKK Kesehatan Lingkungan, perlu dijelaskan bahwa maksud dari praktikum ini adalah sekedar membekali mahasiswa untuk mengetahui “Cara penggunaan alat ukur” bukan “Cara mengukur”.

Disarankan agar para mahasiswa / pembaca tidak terpaku pada materi praktikum ini. Sangat bermanfaat apabila mahasiswa mempelajari buku-buku yang tertulis di daftar kepustakaan.

Demikian, semoga bermanfaat.

Purwokerto, 12 Maret 2002

Penyusun

PENGUKURAN MASSA JENIS

A. Teori

Massa jenis (ρ) didefinisikan sebagai massa zat (m) dibagi dengan volume zat (V), dirumuskan sebagai ρ = m/V. Dalam bidang kesehatan lingkungan informasi tentang massa jenis sangat berguna dalan hal perencanaan antara lain : disain sarana pembuangan sampah, disain pengolahan air / limbah.

B.

Prosedur

1.

Alat

Neraca massa / timbangan analit

Gelas ukur

Pengering / oven

Desicator

2.

Bahan

Air

Minyak

Pasir

Kerikil

Sampah, dll

3.

Cara Kerja

Bahan / benda ditimbang dengan neraca massa. Untuk pasir dan sejenisnya harus dalam keadaan kering absolut, maka perlu dikeringkan dengan suhu 105 o C dalam oven sampai dengan diperoleh massa yang stabil. Untuk sampah ditimbang apa adanya.

Ukur volumenya, masing-masing dengan cara :

Volume air, minyak dan sejenisnya ukur

diukur dengan gelas

Volume benda padat beraturan

diukur panjang sisi-sisinya

kemudian dihitung volume / isi berdasarkan rumus bangun.

Volume benda padat tak beraturan (seperti pasir, kerikil dan sejenisnya) diukur dengan cara (a) masukan air dalam gelas ukur dengan volume tertentu (misal : X ml), (b) masukkan sejumlah pasir / kerikil yang telah ditimbang kedalam gelas ukur, catat penambahan volume air pada gelas ukur dimaksud (misal : Y ml). Volume pasir / kerikil adalah : Y – X Cm 3 .

Volume sampah diukur dengan cara memasukan sampah kedalam takaran. Sampah dipadatkan secara alamiah dengan cara menjatuhkan takaran sebanyak 3 kali.

Massa jenis (ρ) benda /bahan adalah :

massa (kg) dibagi volume

(m 3 )

C. Hasil :

No

Bahan /

Massa

Volume

Massa Jenis

Benda

1

Air

     

2

Minyak

     

3

Pasir

     

4

Kerikil

     

5

Sampah

     

6

dll

     

PENGUKURAN GRAVITASI SPESIFIK (Specific gravity)

A. Teori

Gravitasi spesifik (specific gravity ( γ)) sama dengan rapat relatif ke rapat air. Secara umum disamarkan dengan membagi massa jenis suatu zat dengan massa jenis air. Di lapangan sering disamarkan pula dengan berat jenis. Di bidang kesehatan lingkungan informasi gravitasi spesifik mempunyai manfaat yang sama seperti massa jenis.

B. Prosedur

1. Alat

Hydrometer

Pipa U berskala

Gelas ukur 250 ml

Neraca massa

Alat ukur volume (gelas ukur, meteran, dll).

2. Bahan

Air

Minyak

Pasir

Kerikil

3. Cara Kerja

3.1. Umum

Ukur massa jenis suatu benda / zat

Hitung spesific gravity dengan cara massa jenis air.

massa jenis zat dibagi

3.2. Menggunakan pipa U (khusus cair)

Pipa diisi air jangan sampai penuh (1/2 nya)

Kemudian diisi cairan (minyak) sedemikian rupa hingga terjadi ketinggian yang imbang.

Ukur tinggi permukaan air dan permukaan minyak dari batas antara minyak dan air.

Hitung spesific gravity minyak dengan cara tinggi minyak.

tinggi air dibagi

3.3. menggunakan Hydrometer (khusus cair)

Masukan cairan tertentu kedalam gelas ukur 250 ml (jangan sampai penuh)

posisi

Celupkan

hydrometer

kedalam

cairan

tersebut

dengan

pemberat berada dibawah. Biarkan supaya mengapung stabil.

Hitung spesific gravity cairan dengan cara melihat /membaca skala hydrometer tepat pada permukaan cairan.

C. Hasil :

No

Bahan /

Sg

Sg pipa

Sg Hydro

Benda

Umum

U

meter

1

Air

     

2

Minyak

     

3

Pasir

     

4

Kerikil

     

5

Sampah

     

6

dll

     

PENGUKURAN TEKANAN (air dan udara statis)

A. Teori

Tekanan yang diberikan oleh sebuah gaya / berat yang bekerja pada benda dirumuskan sebagai gaya dibagi luas permukaan kontak (p=F/A). Besar tekanan di suatu titik didalam zat cair statis berbanding lurus dengan ketinggian titik itu dan massa jenis zat cair tersebut, sehingga

dirumuskan p = ρgh Menurut hukum hydrostatik tekanan pada titik yang mempunyai kedalaman sama adalah sama. Sedangkan menurut hukum Pascal adalah tekanan yang diberikan kepada zat cair didalam ruang tertutup diteruskan sama besar ke segala arah. Dalam bidang kesehatan lingkungan informasi tentang tekanan menggunakan satuan yang bervariasi yakni ; m H 2 O, mm Hg, psi, kg/cm 2 , pascal, atm, bar dll. Oleh karena itu diperlukan konversi. Informasi tentang hal ini berguna dalam banyak hal antara lain air bersih, limbah, pencemaran udara.

B.

Prosedur

1.

Alat

Barometer

Manometer

Altimeter

Pipa U

Pipa kapiler buntu

Cawan

Slang plastik

Mistar

2.

Bahan

Air raksa

Air atau cairan lainnya

3. Cara kerja

3.1.

Manometer pipa U

Isi pipa U dengan sejumlah

fluida (cairan) yang memiliki

ρ

tertentu. Misalnya air raksa, minyak.

Hubungkan salah satu lubangnya dengan pipa plastik ke suatu titik pada pipa / bejana yang akan diukur tekanannya. Catat tinggi / beda tinggi permukaan fluida tersebut. Bila ujung yang lain ditutup (dibuat hampa) alat ini dapat digunakan untuk mengukur tekanan absolut.

Hitung tekanan dengan rumus

p = ρgh, dimana

p : tekanan, ρ:

massa jenis fluida, g : percepatan gravitasi, h : tinggi fluida.

 

3.2.

Barometer tandon tetap

Alat

ini

untuk

mengukur

tekanan

atmosfer,

berguna

untuk

menguji ketelitian altimeter.

 

Isi cawan dengan air raksa.

Celupkan mulut pipa kapiler buntu pada air raksa, sampai sedemikian hingga pipa dapat berdiri tegak lurus (bila perlu, dapat digunakan penyangga /statip).

Ukur ketinggian naiknya air raksa (Hg) pada pipa kapiler, mulai dari muka air raksa pada cawan. Tekanan atmosfer adalah tinggi air raksa (mm Hg).

3.3.

Manometer pegas

 

Pasang

manometer pada tempat

yang akan diukur. Misalnya

pipa air bersih

dapat dipasang pada tapping atau kran pipa

service.

 

Lakukan pengukuran pada titik yang berbeda.

 

Baca jarum manometer pada skala kg/cm 2 atau psi. Konversikan kedalam satuan m H 2 0 atau satuan tekanan lainnya sesuai dengan factor konversi.

Untuk pipa air bersih, coba hitung beda tinggi tekan pada masing- masing titik pengukuran.

3.4.

Barometer pegas

 

Pasang ditempat

tertentu (x). Biarkan beberapa saat sampai

kedudukan jarum penunjuk stabil.

Baca jarum penunjuk pada skala mBar atau Atm. Bila perlu konversikan ke satuan tekanan lain yang diinginkan. Angka tersebut menunjukan tekanan pada tempat tertentu (P x )

dari muka air

Hitung / perkirakan ketinggian (y) tempat tersebut laut, menggunakan rumus :

ρ o g y

P x = P o e -

dimana P o : tekanan udaran pada muka air laut, ρ o : massa jenis udara (1,2), g : percepatan gravitasi (9,81).

Po

3.5. Altimeter

Tempatkan altimeter dalam posisi datar. Pastikan gelembung nivo tepat ditengah lingkaran. Ini dilakukan di pantai / muka air laut.

Atur jarum indicator naik-turun (+ -) pada posisi tepat ditengah, dengan cara memutar tuas pengatur (pemutar besar).

Atur jarum skala ketinggian pada posisi 0 (nol) meter, dengan cara menarik keatas sambil memutar tuas pengatur (pemutar kecil).

Pindahkan (bawa) altimeter ke tempat / lokasi lain yang akan diukur ketinggiannya. (alat ini mempunyai ketelitian s/d 1 meter)

memutar /

Cari ketinggian (y) tempat tersebut dengan cara

mengatur jarum indicator naik-turun hingga posisinya tepat ditengah. Baca jarum penunjuk skala ketinggian.

Hitung tekanan udara pada lokasi dimaksud dengan rumus seperti pada butir 3.4. diatas.

C. Hasil

Tekanan dengan masing-masing alat :

Manometer pipa U : ……………

Barometer tandon tetap : ………

Manometer pegas : ……………

Barometer pegas : ………………

Altimeter : ………………………

PENGUKURAN TEMPERATUR

A. Teori

Lord Kelvin (1848) mengusulkan skala temperatur termodinamika yang memeberikan dasar teoritis yang tidak tergantung sifat bahan manapun dan didasarkan siklus carnot. Angka yang dipilih harus dapat menjelaskan temperatur dari titik tetap yang ditentukan. Saat ini titik tetap dimaksud diambil dari titik triple (yaitu : keadaan dimana fase- fase padat, cair dan uap berada bersama dalam ekuilibrium). Angka yang dimaksud disini adalah 273,16 sebagai titik Es, (yang kemudian dikenal sebagai o K (Kelvin)). Skala lain yang terkait adalah Celcius, Fahrenheit dan Rankine, dimana satu sama lain memiliki hubungan persamaan atau konversi sebagai berikut :

o F = 9/5 o C

+ 32

o C = 5/9 o F

- 32

o R = o F + 459,69

o K = o C + 273,16

o C = o K

-

273,16

Metode pengukuran temperatur pada dasarnya ada 4 (empat) macam, yaitu : pemuaian panas menggunakan dwi logam (bimetal), termolistrik, resistensi dan radiasi.

B. Prosedur

1. Alat

Termometer alcohol

Termometer Hg

Termometer min-max

Termometer pegas

Termometer warna

Termometer digital (elektroda gelas)

2.

Bahan

Air

Es

Dll

3.

Cara kerja

3.1. Umum

Celupkan atau tempelkan atau dekatkan termometer pada objek (air, udara, dll) yang akan diukur.

Biarkan beberapa saat s/d muai alcohol atau muai Hg atau gerak jarum penunjuk atau warna indicator menjadi stabil.

Baca derajat temperatur sesuai skala yang ada. Konversikan kedalam derajat Celcius, Fahrenheit, Reamur dan Kelvin dengan factor konversi.

3.2. Termometer min-max

Digunakan untuk mengetahui

temperatur tertinggi dan terendah

dalam kurun waktu tertentu disuatu tempat tertentu

magnet untuk

Gunakan

menggeser indicator batas minimal dan

maksimal.

Caranya dengan menempelkan magnet tersebut pada titik indicator, dan geser sampai dengan tepat menyentuh fluida / cairan termometer pada skala temeperatur minimal (biasanya sebelah kiri) dan skala temperatur maksimal (biasanya sebelah kanan)

Letakan pada lokasi / tempat yang akan diukur, dengan posisi yang pas.

Biarkan

selama periode waktu tertentu (misal : 24 jam), setelah

periode ini indicator akan terdesak keatas.

Bacalah temperatur maksimal / minimal, dengan posisi indikator dimaksud.

C. Hasil

membaca skala

Objek / tempat yang diukur ……

Celcius : …………

….

Fahrenheit :…………….

Reamur : ……………….

Kelvin : ………………

Warna : dari …

ke …

Temperatur minimal …

Temperatur maksimal …

.

PENGUKURAN PANAS

A. Teori

Dalam azas Black dikemukakan bahwa banyaknya kalor yang dilepaskan (diberikan) oleh benda yang bersuhu tinggi sama dengan banyaknya kalor yang diserap (diterima) oleh benda yang suhunya lebih rendah. Satuan kalor adalah kalori, dimana 1 kalori adalah banyaknya kalor (panas) yang diperlukan oleh 1 gram air murni untuk menaikkan suhunya sebesar 1 o C. 1 kalori sama dengan 4,18 joule. Untuk mengetahui kalor yang diperlukan suatu zat untuk menaikan suhunya dapat dirumuskan Q = m.c. δt, dimana Q: kalor yang diperlukan, m : massa zat, c : kalor jenis, dan δt : beda temperatur. Kalor dapat berpindah dengan cara konduksi, konveksi dan radiasi.

B.

Prosedur

1.

Alat

Bomb calorimeter

Termometer

Pemanas

Bejana

2.

Bahan

air

sampah (kertas, daun dll)

3.

Cara kerja

3.1.

Bomb calorimeter

sesuai dengan manual masing-masing type dan merk.

3.2.

Termometer

Timbang sejumlah air (atau zat lainnya) dengan menggunakan neraca massa (misal : k gram)

Sejumlah air dimasukan kedalam bejana.

Pasang termometer pada air tesebut. Catat suhu awalnya (misal : l o C )

Panaskan secukupnya, Kemudian catat suhu akhirnya (misal : m

o C

)

Hitung jumlah panas (Q) yang digunakan, dengan pendekatan :

Q = k x

Dimana c adalah kalor jenis, dan 1 Joule = 0,24 kalori.

c x

(m – l)

Joule

C. Hasil

Bomb calorimeter, nilai kalor : ….

Massa : …….

Suhu awal : ……

Suhu akhir : ……

Kalor jenis zat : ……

Kalor yang diperlukan : ……….

PENGUKURAN KELEMBABAN (udara dan tanah /zat padat)

A. Teori

Kelembaban mempunyai arti kandungan air yang ada di suatu media. Kelembaban berasal dari pengertian Humidity (untuk udara) dan Moisture (untuk tanah atau bahan padat). Kelembaban udara ada dua macam yakni kelembaban absolut dan kelembaban relativ. Dalam bidang kesehatan lingkungan yang lazim dipakai adalah kelemban relative (relative humidity = Rh). Kelembaban tanah atau zat padat intinya adalah kandungan air pada tanah atau zat padat tersebut.

B. Prosedur

1. Alat

Hygrometer

Sling Psychrometer

Mistar skala

Psychrochart Whirling tabel

Diagram psikrometrik

Timbangan analit

Cawan

Desikator

Pemanas (oven)

2. Bahan

Air

Udara ruangan

Tanah

Sampah, bahan padat lainnya

3. Cara kerja

3.1. Kelembaban udara

Deskripsikan tempat kerja yang akan diukur

BILA menggunakan Arsman Angket

Basahi Sling Psychrometer pada bagian bola basah

Putar Sling Psychrometer searah jarum jam selama 3-5 menit sambil mengelilingi ruangan.

Baca skala (Thermometer BB dan BK)

dengan

Hasil

pembacaan

Thermometer

kering

dihimpit

angka 100 pada skala kelembaban relatif.

Dilihat pada angka pembacaan Thermometer basah terhimpit dengan angka berapa pada skala kelembaban relatif

Lihat diagram psikrometrik untuk mengetahui kelembaban absolut, relatif dan juga titik embun.

BILA menggunakan hygometer, hygrometer dipasang pada

ujung termometer

tempat yang akan diukur. Beri air/basahi

suhu basah.

Biarkan selama periode waktu tertentu

Baca termometer pada skala temperatur basah (wet) dan skala kering (dry).

Hitung selisih temperatur basah dan kering.

Baca tabel kelembaban relativ (RH = relative humidity). Kelembaban adalah angka pada titik koordinat temperatur kering dan selisih basah-kering

3.2. Kelembaban tanah / zat padat

Timbang cawan yang betul-betul kering (misal: a gram)

Ambil sejumlah tanah atau zat padat lainnya. Masukkan kedalam cawan, timbang cawan berikut tanahnya dengan neraca analit (misal : x gram).

Keringkan

dalam oven dalam suhu 105 oC, selama sampai

dengan kering sempurna. Sebagai indikasi kalau ditimbang beratnya sudah stabil.

Dinginkan dalam desikator (15 menit) Timbang cawan berikut tanahnya (misal : y gram)

Hitung kelembabannya dengan rumus :

M = berat awal dikurangi berat akhir x 100% Berat awal

M

= ((x – a) – (y – a)) (x – a)

x 100%

BILA menggunakan soil tester (analog / digital), caranya cukup dengan menancapkan probe atau elektroda pada tanah yang akan diukur. Biarkan beberapa saat hingga jarum / angka stabil. Baca skala kelembabannya

C. Hasil Kelembaban udara

Suhu basah : …

Suhu kering : ….

Kelembaban : …

Kelembaban tanah

Berat cawan : ….

Berat cawan & tanah awal : ….

Berat cawan & tanah akhir : ….

Kelembaban : ………

Soil tester : …… %

%

%

PENGUKURAN CAHAYA

A. Teori

Cahaya adalah gelombang elektro magnetic yang memiliki panjang gelombang (λ) antara 4.10 7 s/d 8.10 -7 meter. Terdapat hubungan antara panjang gelombang (λ) dengan f (frekwensi = banyaknya gelombang) yang dirumuskan sebagai : λ = c/f, dimana c adalah

kecepatan rambat cahaya. Cahaya / sinar putih dikenak dengan nama cahaya polikhromatik (banyak warna). Untuk keperluan teknis, cahaya putih dapat di “pecah” menjadi spectrum warna tunggal dengan sebuah instrumen yang disebut monochromator. Kita dapat melihat misalnya pada

specthrophotometer.

Untuk keperluan penerangan, kuat cahaya dapat diukur dengan sebuah tranduser peka cahaya. Satuan yang lazim di gunakan adalah lux atau cd (candela)

B.

Prosedur

1.

Alat

Lux meter

Alat tulis

Kalkulator

2.

Bahan

Tempat kerja yang akan diukur penerangannya

3. Cara kerja

Kalibrasikan alat sehingga pada saat mengukur alat sudah terkalibrasi.

Jarak antara pengukur dengan alat 60-90 cm

Tinggi alat dari bagian atas permukaan lantai 0,8 m / 8,5 cm

Pakaian

pengukur

adanya pantulan.

berwarna

gelap,

untuk

menghindari

Deskripsikan tempat yang akan diukur (Panjang ruangan; Lebar ruangan; Tinggi ruangan; Warna dinding; Warna

dinding; Warna lantai; Warna atap; Warna pintu; Warna jendela; Cuaca; Jumlah lampu yang ada; Warna perabot; Ventilasi; Jenis dan merk lampu; Daya lampu; dll)

Kapan pemeliharaan atau perawatan lampu terakhir

Tentukan titik-titik ukurnya secara tepat dan benar

Pada saat mengukur semua penghalang dibuka

Bila

pengukuran

di

tempat

kerja

menggunakan

system

penerangan lampu pendar, pembacaan hasil pengukuran 5 menit setelah lampu dinyalakan

Bila

suatu

ruangan

menggunakan

penerangan

alam

dan

buatan, maka pengukuran dilakukan dengan :

Ukur lebih dahulu cahaya buatan dan alam, semua penutup masuknya cahaya dibuka dan lampu dinyalakan

Mengukur penerangan alam, lampu dimatikan dan penutup yang menghalangi semua dibuka

campuran

Mengukur

penerangan

buatan,

penerangan

dikurangi penerangan alam

Catat hasil pengukuran

Masukkan hasil pengukuran ke dalam rumus, kemudian dilakukan perhitungan untuk mendapatkan hasil yang merupakan angka kuat penerangan di tempat tersebut.

Melakukan pengukuran minimal 3 kali untuk 1 ruangan untuk mendapatkan nilai rata-ratanya.

C. Hasil

No

lokasi

Cahaya

Cahaya

Keadaan

alam

buatan

PENGUKURAN SUARA

A. Teori

Hakiakat suara atau bunyi adalah gejala perambatan berbentuk rapatan-rapatan dan regangan-regangan. Secara sederhana ada orang

yang mengatakan bahwa pada dasarnya suara adalah perubahan

tekanan.

Bunyi merupakan gelombang longitudinal yang dalam

perambatannya memerlukan medium berupa gas, zat cair dan zat

padat.

Bunyi yang dapat didengar oleh telinga manusia normal adalah gelombang audio yang memilik frekuensi 20 Hz – 20.000 Hz. Frekuensi < 20 Hz disebut infrasonic dan >20.000 Hz disebut

ultrasonic.

Bahwa suara adalah merupakan perubahan tekanan, maka dalam hal pengukurannya antara lain adalah dengan mengukur tekanan suara dan tingkat tekanan suara. Adanya tingkat suara , maka beda sesaat dari tekanan suara disatu titik dan tekananstatis disebut tekanan suara

dengan satuan microbar (µ bar = 1 dyne/Cm 2 ). Perbandingan tekanan suara terbesar yang dapat didengar manusia normal tanpa rasa sakitdan suara terlemah adalah 10 juta : 1. Batas perbandingan seperti inilah yang dijadikan dasar satuan desibel (dB), dimana pada dasarnya merupakan perbandingan daya :

Daya 1 dB = 10 log -------- Daya 2

Sedangkan tingkat tekanan suara adalah :

SPL = 20 log (P/0,0002) dB, dimanan P : tekanan kuadrat rata-rata.

B.

Prosedur

1.

Alat

Sound level meter (SLM) merk Rion NA/24.

Grafik koreksi kebisingan

2.

Bahan

Suara pada ruang tertentu

3. Cara kerja

Kalibrasikan SLM dengan menggeser saklar function dan range ke cal sampai pada posisi muncul 94,0 dBA

Posisikan saklar function ke posisi A dan posisikan juga range pada posisi yang paling rendah

Ukur bising latar belakang / back ground noise

Ukur bising setelah sumber bunyi hidup (air kran)

Gunakan grafik koreksi kebisingan ketika selisih baca antara back ground noise dengan sumber bunyi hidup kurang dari 10, dapat diketahui nilai kebisingan sesungguhnya yaitu nilai sumber bunyi hidup – hasil koreksi.

Jika selisih antara back ground noise dengan sumber bunyi hidup lebih besar dari 10 maka menunjukkan intensitas dari sumber bunyi itu sendiri / kebisingan sesungguhnya = sumber bunyi hidup.

C. Hasil

No lokasi Intensitas Keteranga suara n
No
lokasi
Intensitas
Keteranga
suara
n

PENGUKURAN ALIRAN FLUIDA (saluran terbuka)

A. Teori

Salah satu sifat fluida adalah dapat mengalir dari satu titik ke titik yang lain. Kecepatan mengalir suatu fluida (air) di suatu tempat dapat diukur dengan berbagai metode. Selanjutnya, dengan diketahui kecepatan mengalirnya, maka dapat dihitung / diperkirakan kapasitas atau debitnya. Informasi ini, dalam bidang kesehatan lingkungan, sangat berguna misalnya untuk menghitung besarnya beban pencemar disuatu tempat.

B.

Prosedur

1.

Alat

bola pingpong

kapas

kompas / wind direction

stop watch

meteran

weir

anemometer

2.

Bahan

air mengalir

udara bergerak

3.

Cara kerja

3.1. Dye test (untuk air)

tentukan saluran air (misal : parit). Pilih yang lurus dan datar.

Ukur sepanjang saluran dengan panjang tertentu (s) dan berilah

tanda

“awal” pada bagian hulu dan tanda “akhir” pada bagian

hilir.

Celupkan bola pingpong tepat pada tanda “awal”, dan lepaskan.

Tunggu sampai dengan bola pingpong tiba tepat di tanda “akhir”. Catat waktu tempuh bola pingpong (t).

Hitung kecepatan (v) aliran dengan rumus : v = s / t

Selanjutnya ukur kedalaman air dan lebar saluran.

Hitung luas penampang basah (A) saluran dan kapasitas / debit air (Q). Dimana Q = V.A.

3.2. Fly cotton (untuk udara)

Tentukan arah aliran / gerakan udara, dengan cara menerbangkan kapas. Gunakan kompas atau wind direction untuk menentukan arah sesuai mata-angin.

Ukur memanjang aliran sepanjang tertentu (j), dan tentukan titik awal dan titik akhir.

Lepaskan

beberapa

helai

kapas

tepat

di

titik

awal.

Biarkan

terbang sampai dengan tiba dititik akhir, catat waktu tempuh (w).

Hitung kecepatan aliran udara (k), dengan rumus : k = j / w

3.3.

Weir (untuk kapasitas air)

 

Pilih weir yang sesuai (segiempat, segitiga, trapezium).

 

Pasang pada saluran air yang akan diukur. Usahakan saluran datar, aliran tidak bergejolak, dan memungkinkan ada “terjunan” bila ada bendung (weir).

Ukur : lebar mulut weir (B), sudut weir (θ), tinggi muka air dari dasar mulut weir (H).

Hitung debit air, dengan rumus sbb. :

 

*

Weir dengan sudut 90 o (segiempat)

 

Q

= 2/3 .B.2.g.H 3

   

*

Weir dengan sudut 35 o – 120 o (segitiga)

   

Q

= 8 /15 . tg (θ/2) . 2.g.H 5

 

3.4. Anemometer (untuk udara)

Hidupkan power anemometer (posisi saklar on).

Pilih skala kecepatan angin yang sesuai dengan menggeser switch velocity.

pada posisi datangnya angin. Arah posisi

Arahkan rotor / kipas

dikatakan tepat apabila putaran kipas maksimal.

Baca

skala kecepatan angin. Bila jarum penunjuk (angka digital)

mentok, pindahkan switch velocity ke posisi angka lebih tinggi.

Catat kecepatan angin dan arah datangnya angin. Matikan power anemometer (off).

C. Hasil

PENGUKURAN ALIRAN FLUIDA (saluran tertutup)

A. Teori

Salah satu sifat fluida adalah dapat mengalir dari satu titik ke titik yang lain. Kecepatan mengalir suatu fluida (air) di suatu tempat dapat

diukur dengan berbagai metode. Selanjutnya, dengan diketahui kecepatan mengalirnya, maka dapat dihitung / diperkirakan kapasitas atau debitnya. Pada saluran tertutup (bertekanan) fluida akan mengalir dari tekanan tinggi ke tekanan yang lebih rendah. Diketahui tekanan tertentu pada titik tertentu dapat diturunkan rumus yang bisa digunakan untuk menghitung kecepatan aliran. Contoh dari pendekatan diatas, misalnya venturymeter. Informasi ini, dalam bidang kesehatan lingkungan, sangat berguna misalnya untuk menghitung besarnya beban pencemar disuatu tempat.

B.

Prosedur

1.

Alat

ventury meter

orifice

manometer (pipa U)

rotameter / flow meter

water meter

2.

Bahan

air raksa (Hg)

air mengalir pada pipa (bertekanan)

udara

mengalir dalam pipa

3.

Cara kerja

3.1. Ventury meter (untuk air)

Isikan air raksa pada manometer pipa U. Letakan manometer dalam posisi mendatar.

Hubungkan ujung-ujung pipa U ke lubang pipa inlet (pipa besar) dan pipa tenggorokan (pipa kecil) venturymeter, menggunakan pipa plastik. Pipa plastik harus penuh terisi air.

Periksa dan catat

beda tinggi (H) permukaan air raksa pada

manometer.

Ukur diamater pipa inlet (A1) dan pipa tenggorokan (A2).

Hitung kecepatan aliran pada pipa inlet (V1), dengan rumus :

V1 = A2

2 gH (ρ1 - ρ) ---------------- √ ρ (A1 2 – A2 2 )
2 gH (ρ1 - ρ)
----------------
ρ (A1 2 – A2 2 )

dimana : ρ1 = massa jenis dalam pipa U ρ = massa jenis fluida yang diukur A = luas penampang

Hitung pula debit air pada pipa tersebut (debit teoritis). Debit sesungguhnya adalah debit teoritis dikalikan koiefisien koreksi (cd = 0.97)

3.2. Venturymeter (untuk gas)

Isikan air raksa pada 2 (dua) buah

manometer dalam posisi mendatar.

manometer pipa U. Letakan

Hubungkan satu ujung pipa U ke lubang venturymeter, menggunakan pipa plastik

Lakukan hal yang sama pada pipa tenggorokan (pipa kecil) venturymeter.

Periksa dan catat

beda tinggi permukaan air raksa pada kedua

pipa inlet (pipa besar)

manometer tersebut.

Ukur diamater pipa inlet dan pipa tenggorokan

Hitung kecepatan aliran pada pipa inlet, dengan pendekatan rumus

:

3.3. Rotameter / flow meter (untuk udara)

secara

Letakan

tabung

rotameter

vertical.

Pastikan

bola

(pelampung) berada dibawah dan pada posisi skala 0 (nol).

Hubungkan (menggunakan pipa plastik) ujung rotameter dengan pipa udara yang akan diukur.

Bila kecepatan / kapasitas hembus yang akan diukur, pipa dihubungkan dengan ujung rotameter bagian bawah. Sebaliknya, bila kapasitas isap, pipa dipasang pada ujung atas rotameter.

Baca ketinggian bola (pelampung) pada rotameter. Baca dan catat kapasitas udara yang mengalir, dengan bantuan table khusus.

Bila tidak tersedia table, maka perlu dilakukan pengukuran :

Luas tabung (At) rotameter

Luas pelampung (Af)

Volume pelampung (Vf)

Berat jenis pelampung (Wf)

Berat jenis fluida (udara) yang mengalir (Wff)

Selanjutnya hitung debit fluida dengan pendekatan rumus :

Wf - Wff 2gVt ------------ Af - Wff
Wf - Wff
2gVt ------------
Af - Wff

C (At – Af) Q = --------------------- 1 – [(At –Af)/At] 2

C. Hasil

DAFTAR PUSTAKA

Angraheni, (19

),

“ Soal Jawab Hydrolika”,

Klinken, GV, (1991), “Laboratorium Fisika Untuk Universitas”, Satya Wacana Semarang.

Robenson & Crowe, (tt), “Engineeing Fluid Mechanics”, Houston Mifflin Company

Srivastava, AC (1987), “Teknik Instrumentasi”, UI Press Jakarta.

Sulistyo

&

Bandung.

Setyono,

(1998),

“Intisari

Fisika”,

Pustaka

Setia

Lampiran

DAFTAR BERAT JENIS ZAT

Nama zat

:

Berat Jenis

Janis cairan Air

:

1

Air raksa

:

13.6

Arak

:

0.98

Air laut

:

1.03

Alcohol

:

0.78

Asam garam

:

1.21

Asam salpiter

:

1.48

Bensol

:

0.88

Bensin

:

0.70

Bier

:

1.03

Eter

:

0.73

Gliserin

:

1.26

Minyak lumas

:

0.85

Minyak cat

:

0.94

Minyak terpentin

:

0.87

Minyak tanah

:

0.82

Minyak telur

:

1.04

Susu

:

1.03

Spiritus

:

0.78

Jenis Logam

Kalium

:

0.86

Magnesium

:

1.75

Antimon

:

6.7

Timah sari

:

7

Timah hitam

:

7.3

Suasa

:

7.4 – 8.9

Besi

:

7.82

Messing

:

8.4

Tembaga

:

8.88

Molyddan

:

10.3

Emas

:

19.05

Platina

:

21.46

Iridium

:

22.4

Kalsium

:

1.55

Aluminium

:

2.66

Chrom

:

6.7

Logam putih

:

7 – 7.5

Mangan

:

7.3

Lempeng besi

:

7.78

Baja

:

7.86

Kadmium

:

8.64

Nekel

:

8.9

Perak

:

10.5

Wolfram

:

19.1

Osmium

:

21.48

Jenis Material Karang

:

0.8 – 1.02

Asbes

:

1.2

Aspal

:

1.5

Tanah kering

:

1.7

Pasir

:

1.9

Porselin

:

2.4

Batu

:

2.55

Granit

:

2.7

Gips

:

0.97

Semen

:

1.4

Batu kerikil

:

1.5 – 1.6

Lumpur

:

1.8

Beton

:

2.2

Marmer

:

2.6

Batu kapur

:

2.6

Pasir laut

:

2.7

KONVERSI TEKANAN

1 atm (atmosfeer) setara dengan :

= 1 kg/Cm 2

= 1 Bar

= 10 5 pascal

=

14,7 psi

=

2116 lb/ft 2

=

30 inch mercury

=

34 ft air

=

760 mm mercury

=

101.325 pascal

=

10,34 m air

pendekatan :

1 psi = 6895 N/m 2 = 705 kg/m 2

1 mm Hg = 133.322 N/m 2

1 lb/ft 2 = 47.8803 N/m 2

dikutip dari berbagai sumber, oleh : Sugeng Abdullah