Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH Rampan Karies

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Praktikum Blok IKGP Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember

Disusun oleh: Dewi Martinda Hartono (111610101073)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS JEMBER 2012

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Karies Rampan ini. Makalah ini dibuat sebagai bentuk pencapaian dalam tugas skill lab. Penulisan makalah ini semuanya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada : 1. Pembimbing yang telah membimbing jalannya presentasi makalah dan yang telah memberi masukan yang membantu bagi pengembangan ilmu yang telah didapatkan. 2. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini. Makalah ini berisi etiologi,mekanisme terjadinya, pencegahan, dan perawatan karies rampan dan penjelasan dari beberapa referensi buku. Dalam penyusunan makalah ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan perbaikan di masa mendatang demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat berguna bagi kita semua.

Jember, Oktober 2012

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan tubuh yang

tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya sebab kesehatan gigi dan mulut akan mempengaruhi kesehatan tubuh. Pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut merupakan salah satu upaya di dalam meningkatkan kesehatan gigi dan mulut.Peranan rongga mulut sangat besar bagi kesehatan dan kesejahteraan manusia.Secara umum, seseorang dikatakan sehat bukan hanya tubuhnya yang sehat melainkan juga sehat rongga mulut dan giginya. Oleh kerena itu, kesehatan gigi dan mulut sangat berperan dalam menunjang kesehatan tubuh seseorang (Gultom, 2009). Kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia masih merupakan hal yang perlu mendapat perhatian serius. Hal ini dapat dilihat dari tingginya prevalensi penyakit gigi dan mulut yang diderita oleh masyarakat Indonesia termasuk anak-anak. Karies gigi dan penyakit periodontal adalah penyakit gigi dan mulut yang banyak diderita masyarakat Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Taverud (2009) menunjukkan bahwa prevalensi karies gigi pada anak sangat bervariasi jika didasarkan atas golongan umur dimana anak berusia 1 tahun sebesar 5%, anak usia 2 tahun sebesar 10%, anak, usia 3 tahun sebesar 40%, anak usia 4 tahun sebesar 55%, dan anak usia 5 tahun sebesar 75%. Dengan demikian golongan umur balita merupakan golongan rawan terjadinya karies gigi. Karies gigi yang sering terjadi pada balita adalah karies rampan. Karies rampan merupakan suatu tipe karies yang timbul tiba-tiba dan menyebar dengan cepat. Karies rampan adalah nama yang diberikan kepada kerusakan yang meliputi beberapa gigi yang cepat sekali terjadinya, seringkali meliputi

permukaan gigi yang biasanya bebas karies. Keadaan ini terutama dapat dijumpai pada gigi sulung bayi yang selalu menghiap dot yang berisi gula atau dicelupkan terlebih dahulu pada larutan gula. (Kidd Edwina, 1991) Karena gigi balita sangat rentan terkena karies rampan, maka peranan orang tua sangat diperlukan, khususnya pengetahuan ibu terhadap kesehatan gigi dan mulut anaknya. Mulai tumbuhnya gigi merupakan proses penting dari pertumbuhan seorang anak, orang tua khususnya ibu harus mengetahui cara merawat gigi anaknya tersebut, dan juga harus mengajari anaknya cara merawat gigi yang baik dan benar. Walaupun masih memiliki gigi susu, seorang anak harus mendapatkan perhatian yang serius dari orang tua, karena gigi susu akan mempengaruhi pertumbuhan gigi permanen anak. Akan tetapi banyak orang tua yang beranggapan bahwa gigi susu hanya sementara dan akan diganti oleh gigi tetap, sehingga mereka sering menganggapi bahwa kerusakan pada gigi susu yang disebabkan oleh oral higiene yang buruk bukan merupakan suatu masalah. (Gultom, 2009). Berdasarkan penjelasan di atas, penulis tertarik untuk membahas lebih banyak tentang etiologi, gambaran klinis, serta dampak-dampak karies rampan yang akan dimuat dalam makalah ini.

1.2

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang maka perumusan masalah yang akan dikaji adalah 1. 2. 3. 4. Bagaimana etiologi dari karies rampan? Bagaimana mekanisme terjadinya karies rampan? Bagaimana upaya pencegahan dari karies rampan? Bagaimana perawatan karies rampan?

1.3

Tujuan dan Manfaat Mampu mengetahui etiologi dari karies rampan. Mampu mengetahui mekanisme terjadinya karies rampan. Mampu mengetahui upaya pencegahan karies rampan. Mampu mengetahui perawatan karies rampan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Proses Pertumbuhan Dan Perkembangan Gigi Balita Pertumbuhan gigi susu dimulai sejak janin dalam kandungan usia 8 minggu kehamilan ibu, gigi susu pertama kali tumbuh pada bayi berusia lebih dari 6 bulan sejak ia lahir, gigi tumbuh secara berurutan yang dimulai dengan gigi seri pertama bawah, kemudian diikuti dengan gigi seri pertama atas, selanjutnya gigi seri kedua atas dan bawah akan tumbuh pada usia 1 tahun, pada usia 18 bulan akan tumbuh gigi geraham pertama atas dan bawah yang akan diikuti dengan tumbuhnya gigi taring. Pada usia 2 tahun tumbuh gigi geraham kedua atas dan bawah. Gigi mencapai tumbuh sempurna pada saat anak berusia 2 tahun (Afrilina,2006). Diet yang baik sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bayi, tetapi perkembangan gigi geligi tampaknya lebih banyak di pengaruhi oleh gangguan keseimbangan kalsium dan fosfor di dalam aliran darah, panas badan yang tinggi atau infeksi usus dapat mengganggu keseimbangan mineral dan lebih banyak mempengaruhi struktur gigi geligi janin dibanding gangguan nutrisi ibu (Narendra, 2002).

Tahap-Tahap Pertumbuhan Gigi Mulai tumbuhnya gigi merupakan proses penting dari pertumbuhan seseorang anak, tahap-tahap penting tumbuh gigi dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Gigi geligi Geligi rahang atas Gigi seri pertama Gigi seri kedua Gigi taring 6,5 8 18

Waktu erupsi (bulan)

Gigi geraham pertama Gigi geraham kedua Geligi rahang bawah Gigi seri pertama Gigi seri kedua Gigi taring Gigi geraham pertama Gigi geraham kedua sumber Child Development 2009

14 24

6 7 16 10 20

Karies berasal dari bahasa Latin yaitu caries yang artinya kebusukan. Karies gigi adalah suatu proses kronis regresif yang dimulai dengan larutnya mineral email sebagai akibat terganggunya keseimbangan antara email dan sekelilingnya yang disebabkan oleh pembentukan asam microbialdari substrat sehingga timbul destruksi komponen-komponen organik yang akhirnya terjadi kavitas. Dengan perkataan lain, dimana prosesnya terjadi terus berjalan ke bagian yang lebih dalam dari gigisehingga membentuk lubang yang tidak dapat diperbaiki kembali oleh tubuh melalui proses penyembuhan, pada proses ini terjadi demineralisasi yang disebabkan oleh adanya interaksi kuman, karbohidrat yang sesuai pada permukaan gigi dan waktu. (Tarigan,

1991) Perkembangan karies dapat berbeda antara satu dan lain orang dari antara populasi satu dan populasi lain. Apabila perkembangannya lambat, mungkin membutuhkan waktu bertahuntahun lamanya sehingga karies menjadi kavitas besar. Akan tetapi proses yang sama hanya membutuhkan waktu beberapa bulan saja, kalau perkembangannya cepat. (Tarigan, 1991) Tanda-tanda karies gigi merupakan suatu keretakan pada email atau kavitas pada gigi, dentin di dalam kavitas lebih lunak dari pada dentin di sekelilingnya, dan merupakan suatu daerah pada email yang mempunyai warna yang berbeda dengan email sekelilingnya.Karies yang berkembang cepat biasanya berwarna agak terang, sedangkan karies yang berkembang lambat biasanya berwarna agak gelap. Akan tetapi pit (lekukan pada email gigi) dan fisur (bentuk lekukan email gigi pada gigi molar dan pre molar) kadang-kadang berwarna tua,

bukan karena karies gigi, tetapi karena noda akibat beberapa makanan. (Tarigan, 1991) Karbohidrat yang tertinggal di dalam mulut dan mikroorganisme, merupakan penyebab karies gigi, penyebab karies gigi yang tidak langsung adalah permukaan dan bentuk gigi tersebut. Gigi dan fisur yang dalam mengakibatkan sisa-sisa makanan mudah melekat dan bertahan, sehingga produksi asam oleh bakteri akan berlangsung dengan cepat dan menimbulkan karies gigi. Rampan karies adalah istilah yang di gunakan untuk menggambarkan terjadinya kerusakan yang sangat cepat pada beberapa gigi yang sering melibatkan permukaan gigi yang biasanya relative bebas karies. Karies rampan terutama terdapat pada gigi- geligi sulung anak yang terus-menerus menghisap botol yang berisikan gula atau dicelupkan dahulu ke dalam larutan gula ( Kidd BGM Smith, 2002). Apabila rampan karies dibiarkan proses karies ini dapat cepat meluas mengenai seluruh gigi sehingga keadaan menjadi lebih parah dengan akibat lanjut yaitu pulpa nekrosis dan kelainan jaringan periapikal serta kerusakan pada gigi permanen, Pada saat itu penderita akan kesulitan makan dan akan mempengaruhi kesehatan umum. Rampant karies juga bisa muncul pada gigi permanen pada usia remaja, karena seringnya mereka mengkonsumsi snack-snack yang bersifat kariogenik juga minuman yang manis diantara waktu makan. Rampant karies pada orang dewasa ditandai dengan karies pada bukal dan lingual dari premolar dan molar dan juga proximal dan labial karies di insisiv Rahang bawah (Paradipta, 2009). Gambaran klinis dari Rampan karies mempunyai pola dan tipe yang khusus.Gambaran pola kariesnya terlihat jelas, dengan lesi terutama pada bagian labial gigi insisif atas, dan atau pada palatal molar atas.Tipe kariesnya sejalan dengan lengkung gusi gigi insisif rahang atas. Proses kariesnya cenderung aktif, gigi lainnya akan terpengaruh sejalan dengan erupsinya yaitu akan mengenai molar kesatu rahang atas, kaninus rahang bawah dan molar kedua, namun jarang mengenai insisif rahang bawah, hal ini mungkin terjadi karena posisinya yang terlindung oleh lidah (Paradipta, 2009). Penyebab utama dari Rampan Karies adalah penggunaan botol susu dalam waktu yang berkepanjangan.Susu akan berada di dalam mulut dalam

jangka waktu yang lama dan akan terjadi fermentasi. Sehingga menyebabkan gigi akan mudah terkena infeksi. Pemberian ASI dengan periode yang lama, memakai dot kosong yang dicelupkan ke dalam madu, sirup atau gula juga dapat menyebabkan rampan karies.Sayangnya sebagian besar anak-anak yang menderita rampan karies tidak sesegera mungkin diatasi. Karena orang tua baru akan memberi perhatian,apabila telah ada keluhan dari sang anak. Kebanyakan dari mereka berfikiran bahwa gigi susu yang terinfeksi akan mengalami pergantian oleh gigi tetap. Sehingga perawatan terhadap gigi susu seringkali terabaikan (Mamimendy, 2010).

BAB III PEMBAHASAN

3.1

Etiologi Karies Karies terjadi karena sejumlah faktor di dalam mulut yang saling

berinteraksi. Newburn (1997) menggolongkan faktor tersebut menjadi tiga faktor utama, yaitu host meliputi gigi dan saliva, mikroorganisme dan substrat serta satu faktor tambahan yaitu waktu. Faktor yang paling berperan untuk terjadinya karies rampan adalah aktifitas mikroorganisme penyebab karies yang tinggi, seringnya menkonsumsi makanan dan minuman kariogenik serta kebersihan mulut yang buruk. Faktor psikologis, sistemik, dan herediter dapat juga berhubungan dengan terjadinya karies rampan. (repository.usu.ac.id) 3.1.1 Faktor Etiologi Utama Faktor etiologi utama meliputi host (gigi dan saliva), mikroorganisme, substrat, dan waktu.

3.1.1.1

Gigi (Host) Proses karies gigi sulung berjalan lebih cepat dibanding gigi tetap

karena ketebalan enamel gigi sulung hanya setengah dari gigi tetap. Enamel gigi sulung lebih banyak mengandung bahan organik dan air, sedangkan jumlah mineral lebih sedikit dibanding gigi tetap. Finn (1973) menyatakan bahwa permukaan oklusal gigi sulung memiliki tonjol yang tinggi sehingga pit dan fissure relatif dalam menyebabkan daerah ini sulit dibersihkan sehingga mempermudah timbulnya karies. Menurut Schour dan Massler (1964) gigi sulung memiliki permukaan proksimal yang datar, kontak antar gigi merupakan kontak bidang sehingga memudahkan plak melekat dan sulit disingkirkan. Rider (1982) menyatakan bahwa gigi yang mengalami hipoplasia enamel akan mempengaruhi kecepatan terjadinya karies. Di

samping itu, susunan gigi geligi pada masa gigi bercampur yang sering crowding dan overlapping akan mendukung prevalensi karies pada gigi sulung.

3.1.1.2

Saliva (Host) Saliva merupakan pertahanan pertama terhadap karies. Ini terbukti pada

penderita xerostomia akan timbul kerusakan gigi menyeluruh dalam waktu singkat. Anak-anak yan mendapatkan radioterapi untuk perawatan kanker di daerah kepala dan leher atau terkena pembedahan neoplasma di rongga mulut akan mengalami penurunan sekresi saliva sehingga fungsi saliva terganggu dn mempermudah terjadinya karies.

3.1.1.3

Mikroorganisme Mikroorganisme berperan dalam terjadinya karies gigi.

Mikroorganisme utama di dalam mulut yang berhubungan dengan karies adalah jenis streptokokus dan laktobasilus. Jumlah Streptokokus mutans dan

Laktobasilus pada sampel plak anak dengan karies rampan seratus kali lipat dibanding anak yang bebas karies. Kohler dkk. (1980) melaporkan bahwa semakin cepat rongga mulut seorang anak terkolonisasi Streptokokus mutans maka semakin tinggi pula prevalensi karies. Ibu yang memiliki Streptokokus mutans di dalam mulutnya dapat memindahkan mikroorganisme tersebut ke mulut bayinya sebelum gigi bayinya erupsi ketika menggunakan sendok untuk memberi makan bayinya atau membasahi dot dengan air ludahnya sebelum diberikan ke bayinya.

3.1.1.4

Substrat Pada awal kehidupan bayi, diet yang diberikan berupa susu, baik air

susu ibu (ASI), air susu sapi (ASS), atau keduanya. ASS mengandung kalsium, fosfor, dan protein dengan konsentrasi yang lebih tinggi dibanding ASI sehingga dapat membantu remineralisasi email sedangkn ASI mengandung lebih banyak laktosa (7 persen) dibanding ASS yang hanya 4 persen. ASI lebih mudah menyebabkan penurunan pH dibanding ASS. Oleh karena itu, ASI memiliki potensi kariogenik yang lebih tinggi dibanding ASS.

Diet karbohidrat terutama gula merupakan substrat yang paling penting untuk metabolisme mikrorrganisme. Peranan langsung karbohidrat dalam terjadinya karies adalah kemampuannya menyediakan sumber energi yang dapat difermentasi secara sempurna oleh mikroorganisme. Stephen dan Joy (1956) dalam penelitiannya menjumpai bahwa semakin sering individu mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat dan gula di antara jam makan dapat menyebabkan karies rampan.

3.1.1.5

Waktu Pengertian waktu disini adalah kecepatan terbentuknya karies serta

lama dan frekuensi substrat menempel di permukaan gigi. Kroll dan Stone melihat adanya korelasi karies dan waktu tidur anak dengan susu botol di dalam mulutnya. Hal ini didukung oleh Dilley dkk. dan Johnson (1988) yang menemukan persentase karies yang tinggi pada anak yang mengisap susu botol sambil tidur sepanjang malam. Bayi menyusui 10 sampai 40 kali setiap hari sehingga pemberian ASI yang tidak tepat seperti tetap membiarkan bayi tertidur selama menyusui akan mempercepat proses kerusakan gigi. Keadaan lain yang menybabkan substrat lama berada di dalam mulut adalah kebiasaan anak menahan makanan kariogenik di dalam mulut dimana makanan tidak cepat-cepat ditelan.

3.1.2

Faktor Etiologi Penunjang Faktor etiologi penunjang penyebab karies rampan adalah kebersihan

mulut yang buruk, faktor psikologis, sistemik, dan herediter.

3.1.2.1

Kebersihan Mulut Pada dasarnya anak balita belum mampu melaksanakan kebersihan

mulut sendiri. Belum ada kesadaran dan pengetahuan tentang hal ini sehingga sangat diperlukan peran orang tua terutama dan ibu untuk mengajarkan, pelaksanaan

mendemostrasikan,

mengawasi,

membantu,

melakukan

kebersihan mulut anak.

Kebersihan mulut yang buruk mengakibatkan penumpukan plak dalam jumlah banyak dan berkembangnya mikroorganisme sehingga keadaan pH rongga mulut turun mencapai di bawah 5,5. Pada keadaan ini terjadi demineralisasi enamel dan proses karies pun dimulai.

3.1.2.2

Faktor Psikologis Stimulasi serabut simpatis di glandula submandibularis atau

sublingualis menyebabkan sekresi saliva yang bersifat kental dimana sistem saraf ini merupakan bagian penting mekanisme seseorang dalam bereaksi terhadap stres. Hal inilah yang menjadi penyebab pada orang-orang yang mengalami stres terjadi pengentalan dan penurunan sekresi saliva. Gangguan emosi pada anak seperti perasaan tertekan, rasa takut, ketidakpuuasan pada prestasi, pemberontakan terhadap situasi rumah, perasaan rendah diri, pengalaman buruk (trauma) di sekolah, dan kegelisahan serta ketegangan yang terus-menerus akan mempermudah terjadinya karies. Gangguan emosi ini juga akan mengakibatkan kebiasaan buruk dalam hal memilih dan mengkonsumsi diet dimana anak suka mengkonsumsi makanan dan minuman kariogenik.

3.1.2.3

Faktor Sistemik Pada penderita Diabetes Mellitus terjadi penurunan sekresi saliva

sehingga

menyebabkan

xerostomia.

Keadaan

ini

akan

mempermudah

perkembangan karies.

3.1.2.4

Faktor Herediter Faktor potensial imunitas lainnya yang mempengaruhi perkembangan

karies pada anak-anak adalah level imunitas yang diperoleh untuk melawan bakteri penyebab karies. Ibu yang dilahirkan di daerah geografis dengan prevalensi karies rendah akan memiliki perkembangan level imunitas yang rendah pula terhadap karies. Lehner (1980) menyatakan bahwa imunitas terhadap streptokokus mutans yang dimiliki ibu dapat berpindah ke janin.

3.2

Mekanisme Terjadinya Karies Rampan

Penyebab terjadinya rampan karies ( baby bottle syndrome) adalah pemberian susu botol yang tidak tepat, hal ini terjadi akibat kebiasaan minum susu atau cairan yang mengandung gula dari botol dalam jangka waktu yang lama, bahkan sampai anak tertidur. Proses karies ini berlangsung sangat cepat dan menyebar dari satu gigi ke gigi seri rahang lainnya, pada gigi seri rahang bawah jarang terjadi karena gigi-gigi itu terlindung oleh saliva ketika anak menghisap susu dari botol (Afrilina, 2006). Dan bila di tinjau dari dari faktor pathogenesis bahwa posisi tidur, dengan dot botol dalam rongga mulut maka cairan manis akan membasahi permukaan gigi sulung terutama insisif, molar atas dan molar bawah, pada keaadaan tersebut jumlah aliran saliva menurun dan kualitas saliva mengental sehingga efek pembersihan saliva berkurang, lingkungan demikian akan meningkatkan kualitas bakteri kariogenik, hasil fermentasi antara sukrosa dan bakteri menurunkan ph saliva sehingga lingkungan rongga mulut menjadi asam permukaan gigi yang terkena akan mengalami demineralisasi dan akhirnya karies (Kidd Edwina). Mekanismenya, sebagai berikut : 1. EARLY ENAMEL LESION Awal dari proses demineralisasi, tanda-tandanya: Email berwarna Chalky White dari warna translusennya Permukaan email menjadi rapuh Meningkatnya porositas Berkurangnya kepadatan email

2. The Advancing Coronal Lesion Permukaan email rapuh dan berlubang (kavitas) Proses remineralisasi semakin sulit dilakukan (penumpukan bakteri oleh plak meningkat dan asam dari makanan)

Adanya respon pulpa ok asam mulia masuk ke tubuli dentin Peningkatan mineralisasi sebagai pertahanan dari pulpa

3. The Slowly Progression Lesion Lesi dan kavitas semakin besar (email dan dentin semakin rapuh) 4. The Rampant Lesion Karies semakin luas, dasar dentin lunak Pulpa dalam keadaan bahaya ok proses remineralisasi dapat mengurangi permeabilitas tubulus
Berdasarkan perkembangannya, Early Childhood Caries atau karies rampan dibagi menjadi 4 stadium yaitu :

1. Stadium inisial Stadium inisial dikarakteristikkan dengan adanya lesi demineralisasi yang opak seperti kapur pada permukaan gigi insisivus sulung maksila ketika anak berusia 10 20 bulan atau kadang lebih muda. Pada stadium ini, lesi bersifat reversibel tetapi sering terabaikan oleh orang tua maupun dokter gigi saat memeriksa rongga mulut anak. Garis putih yang khas dapat dilihat pada bagian servikal permukaan labial dan palatal gigi insisivus maksila, dapat didiagnosa setelah gigi yang terlibat dikeringkan.

2. Stadium kedua Stadium kedua berlangsung ketika anak berusia antara 16 24 bulan. Bagian dentin ikut terlibat ketika lesi putih pada gigi insisivus berkembang dengan cepat. Pada stadium ini, anak mulai mengeluh terjadinya hipersensitifitas terhadap

rasa dingin. Dentin terekspos dan bewarna kuning serta konsistensinya lunak. Orang tua terkadang sadar akan perubahan warna gigi anak dan menjadi perhatian. Pada gigi molar sulung maksila terlihat lesi inisial pada bagian servikal, proksimal dan oklusal.

3. Stadium ketiga Stadium ketiga mulai berlangsung ketika anak berusia antara 20 36 bulan, dengan gambaran yang khas yaitu lesi yang besar dan dalam pada gigi insisivus maksila serta terjadi iritasi pulpa. Anak mengeluh sakit ketika mengunyah atau saat menyikat gigi. Anak juga mengeluh rasa sakit spontan pada malam hari. Saat tahap ini terjadi, pada gigi molar sulung maksila berlangsung ECC stadium 2 dan pada gigi molar sulung mandibula dan kaninus maksila berlangsung ECC stadium 1.

4. Stadium keempat

Stadium keempat mulai berlangsung ketika anak berusia antara 30 48 bulan. Gambaran karakteristik pada stadium ini yaitu adanya fraktur koronal gigi anterior maksila sebagai akibat destruksi amelodentinal. Pada stadium ini, gigi sulung anterior maksila biasanya nekrosis dan gigi molar sulung maksila berlangsung ECC stadium 3. Gigi molar dua dan kaninus maksila serta molar satu mandibula berlangsung ECC stadium 2. Beberapa anak menderita tetapi tidak

dapat mengekspresikan keluhan sakit gigi mereka. Mereka mengalami gangguan tidur dan menolak makanan. (repository.usu.ac.id)

3.3

Pencegahan Rampan Karies Tindakan pencegahan terhadap rampan karies harus dilakukan, karena

semakin parah karies maka semakin kompleks pula perawatan yang harus dilakukan. Ada beberapa cara untuk mencegah terjadinya rampan karies, meliputi : a. Berikan nasihat pada orang tua anak agar membuat anak merasa tenang dan nyaman saat tidur, jangan memberikan dot botol yang berisi larutan gula (susu, formula atau sari buah), biasakan berikan anak air putih dalam dot botol atau dot karet. b. Usahakan jangan memasukkan gula, madu, atau yang mengandung larutan gula ke dalam dot botol. c. Jangan membiarkan anak menghisap ASI secara kontinyu saat tidur, karena ASI juga dapat menyebabkan kerusakan gigi.Biasakan anak menghisap dot botol yang berisi air. d. Jangan menambahkan gula yang berlebihan dalam makanan anak

e.

Gunakan kain kasa yang dibasahi air atau kain tipis untuk membersihkan gigi dan gusi anak setelah makan atau minum yang mengandung gula atau karbohidrat. Ini akan membantu menghilangkan plak bakteri dan gula yang tumbuh dalam gigi dan gusi.

f.

Jika air minum yang diminum setiap harinya tidak mengandung fluoride, maka suplemen fluoride atau perawatn fluoride seperti topikal aplikasi dan fissure sealant dapat diberikan.

g.

Ajarkan kepada anak untuk membiasakan minum menggunakan gelas atau cangkir menjelang umurnya 1 tahun.Anak sebaiknya berhenti minum menggunakan dot botol setelah umurnya 1 tahun.

h.

Berikan nasihat pada orang tua anak untuk segera mengunjungi dokter gigi, apabila tampak tanda kemerahan dan bengkak pada mulut anak atau bercak/spot hitam pada gigi anak (Paradipta, 2009).

3.4

Perawatan Rampan Karies Pada kasus rampan karies dapat di lakukan beberapa perawatan sebagai

berikut :

a.

Relief of pain (menghilangkan rasa sakit) Tindakan yang di lakukan adalah trepanasi apabila di jumpai ganggren pulpa atau abses, kemudian berikan obat- obatan melalui oral (antibiotic,analgetik)

b.

Menghentikan proses karies Tiap kavitas meskipun kecil mempunyai jaringan nekrotik, setelah rasa sakit hilangkavitas dipreparasi untuk membuang semua jaringan yang nekrotik sehingga proses karies terhenti.

c.

Anjuran untuk melakukan diet kontrol dan jelaskan mengenai DHE dan oral hygene. Lakukan oral profilaksis pada gigi.

d.

Lakukan topical aplikasi dengan larutan fluor pada gigi sebagai preventif. Apabila tidak jumpai karies cukup dengan pemakaian pasta gigi yang mengandung fluor.

e.

Evaluasi secara periodic setiap3 bulan sampai diperoleh keadaan oral hygene yang baik dan diet yang sesuia dengan anjuran koreksi faktor sistemik( bila ada) .

BAB IV KESIMPULAN

1. Etiologi Karies a. Faktor Etiologi Utama. Gigi (Host) Saliva (Host) Mikroorganisme Substrat Waktu b. Faktor Etiologi Penunjang Kebersihan Mulut Faktor Psikologis Faktor Sistemik Faktor Herediter

2. Mekanisme Terjadinya Karies Rampan

Penyebab terjadinya rampan karies ( baby bottle syndrome) adalah pemberian susu botol yang tidak tepat, hal ini terjadi akibat kebiasaan minum susu atau cairan yang mengandung gula dari botol dalam jangka waktu yang lama, bahkan sampai anak tertidur. Proses karies ini berlangsung sangat cepat dan menyebar dari satu gigi ke gigi seri rahang lainnya, pada gigi seri rahang bawah jarang terjadi karena gigi-gigi itu terlindung oleh saliva ketika anak menghisap susu dari botol (Afrilina, 2006). Dan bila di tinjau dari dari faktor pathogenesis bahwa posisi tidur, dengan dot botol dalam rongga mulut maka cairan manis akan

membasahi permukaan gigi sulung terutama insisif, molar atas dan molar bawah, pada keaadaan tersebut jumlah aliran saliva menurun dan kualitas saliva mengental sehingga efek pembersihan saliva berkurang, lingkungan demikian akan meningkatkan kualitas bakteri kariogenik, hasil fermentasi antara sukrosa dan bakteri menurunkan ph saliva sehingga lingkungan rongga mulut menjadi asam permukaan gigi yang terkena akan mengalami demineralisasi dan akhirnya karies (Kidd Edwina). 3. Pencegahan Rampan Karies a. Berikan nasihat pada orang tua anak agar membuat anak merasa tenang dan nyaman saat tidur, jangan memberikan dot botol yang berisi larutan gula (susu, formula atau sari buah), biasakan berikan anak air putih dalam dot botol atau dot karet. b. Usahakan jangan memasukkan gula, madu, atau yang mengandung larutan gula ke dalam dot botol. c. Jangan membiarkan anak menghisap ASI secara kontinyu saat tidur, karena ASI juga dapat menyebabkan kerusakan gigi.Biasakan anak menghisap dot botol yang berisi air. d. e. Jangan menambahkan gula yang berlebihan dalam makanan anak Gunakan kain kasa yang dibasahi air atau kain tipis untuk membersihkan gigi dan gusi anak setelah makan atau minum yang mengandung gula atau karbohidrat. Ini akan membantu menghilangkan plak bakteri dan gula yang tumbuh dalam gigi dan gusi. f. Jika air minum yang diminum setiap harinya tidak mengandung fluoride, maka suplemen fluoride atau perawatn fluoride seperti topikal aplikasi dan fissure sealant dapat diberikan. g. Ajarkan kepada anak untuk membiasakan minum menggunakan gelas atau cangkir menjelang umurnya 1 tahun.Anak sebaiknya berhenti minum menggunakan dot botol setelah umurnya 1 tahun. h. Berikan nasihat pada orang tua anak untuk segera mengunjungi dokter gigi, apabila tampak tanda kemerahan dan bengkak pada mulut anak atau bercak/spot hitam pada gigi anak (Paradipta, 2009).

4. Perawatan Rampan Karies a. Relief of pain (menghilangkan rasa sakit) Tindakan yang di lakukan adalah trepanasi apabila di jumpai ganggren pulpa atau abses, kemudian berikan obat- obatan melalui oral (antibiotic,analgetik) b. Menghentikan proses karies Tiap kavitas meskipun kecil mempunyai jaringan nekrotik, setelah rasa sakit hilangkavitas dipreparasi untuk membuang semua jaringan yang nekrotik sehingga proses karies terhenti. c. Anjuran untuk melakukan diet kontrol dan jelaskan mengenai DHE dan oral hygene. Lakukan oral profilaksis pada gigi. d. Lakukan topical aplikasi dengan larutan fluor pada gigi sebagai preventif. Apabila tidak jumpai karies cukup dengan pemakaian pasta gigi yang mengandung fluor. e. Evaluasi secara periodic setiap3 bulan sampai diperoleh keadaan oral hygene yang baik dan diet yang sesuia dengan anjuran koreksi faktor sistemik( bila ada) . (Paradipta, 2009).

DAFTAR PUSTAKA

Afrilina, G. 2006. 75 Masalah Gigi Anak Dan Solusinya. Jakarta: Gramedia Child development, 2009. Pertumbuhan gigi, http://www.bayisehat.com/childdevelopment-mainmenu35.html Gultom, M, 2010. Pengetahuan Sikap Dan Tindakan Ibu-ibu Rumah Tangga. http://repository.usu.ac.id/bitstream/Chapter I.pdf.html Kidd, Edwina. 1991. Dasar-dasar karies. Jakarta: EGC Mamimendy, 2010. Rampan Karies. http://mamymendy.Blogspot.com Narendra, M.sularyo, dkk. 2002. Tumbuh Kembang Anak dan Remaja, Kesehatan Gigi Anak dan Jaringan Sekitarnya. Jakarta : Sagang Seto Panjaitan, M. 1997. Etiologi Karies Gigi dan Penyakit Periodontal. Ed 1st. Medan : USU Press Panjaitan, M. 1997. Ilmu Pencegahan Karies Gigi. Ed 1st . Medan : USU Press Paradipta, A, 2009. Karies botol (bottle milk caries).

http://www.health.com/ency/68/445/main.html Suwelo, I.S.,1992. Karies Gigi Pada Anak dengan Berbagai Faktor Etiologi, Jakarta: EGC Siahaan, Riden A. Masalah Karies Rampan Pada Anak : Pencegahan Dan Perawatannya. http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/8059 Tarigan, R. 1991. Karies Gigi. Editor : Lilian Yuwono. Jakarta : Hipokrates