Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM BLOK 19 Penyakit Infeksius pada Hewan Kecil dengan Kasus Toxocariasis dan Penanganannya

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2013

A. Intisari Toxocariasis adalah penyakit parasiter yang disebabkan oleh infeksi cacing nematoda Toxocara cati menyerang anak kucing dan kucing dewasa. Toxocara cati berpredeleksi di dalam usus halus kucing. Pada kucing yang terinfeksi Toxocara, bulu akan terlihat kasar dan akan terjadi diare sehingga akan terlihat dehidrasi. Konfirmasi diagnosis dikuatkan dengan pemeriksaan klinis dan laboratorik. Benzimidazoles merupakan golongan obat cacing yang efektif untuk membunuh larva Toxocara cati pada kucing.

B. Tinjauan Pustaka Toxocariasis adalah penyakit parasiter yang disebabkan oleh infeksi cacing nematoda Toxocara cati menyerang anak kucing dan kucing dewasa. Toxocara cati berpredeleksi di dalam usus halus kucing. Cacing jantan panjangnya 3 7 cm, spikulumnya tidak sama besar dan bersayap. Cacing betina panjangnya 4-12 cm. Telur berukuran 65 75 mikron. Kucing jantan dan anak kucing bertindak sebagai hospes definitif dari Toxocara cati (Hubner dan Leissova, 2001). Telur infektif dikeluarkan bersama feses. Feses yang mengandung Toxocara spp. jatuh di tanah dengan temperatur 10-35C dan kelembaban 85% serta kondisi yang optimal maka dalam waktu paling sedikit 5 hari akan berkembang menjadi telur infektif yang mengandung embrio (Levine, 1978). Siklus hidup Toxocara cati mengalami beberapa generasi, yakni stadium telur, larva stadium pertama (L1), kedua (L2), ketiga (L3), keempat (L4) dan stadium dewasa. Larva stadium kedua (L2) adalah larva infektif yang merupakan sumber penularan toxocariasis pada hewan dan manusia. Hospes definitif dari T. cati adalah kucing jantan dan anak kucing (Hubner dan Leissova, 2001). Menurut Levine (1978), larva stadium kedua (L2) tidak akan pernah berkembang menjadi larva stadium ketiga (L3) apabila menginfeksi selain hospes definitif dan hospes transpor (cacing tanah, kecoa, ayam, anak kambing dan mencit). Kondisi yang demikian disebut larva dorman, yaitu larva yang tidak mengalami perkembangan dan hanya menetap di dalam jaringan. Toxocara cati yang telah infektif jika tertelan anak kucing akan terjadi migrasi larva. Larva yang keluar dari telur tersebut akan migrasi ke trakea, faring dan sistern pembuluh darah. Kemudian berkembang menjadi dewasa di dalam perut dan usus kecil. Cacing mulai bertelur dan dikeluarkan dalam feses 4-5 minggu setelah infeksi. Kucing yang telah dewasa bisa juga terinfeksi olel cacing ini apabila menelan telur infektif. Larva akan menetas dalam usus dan akan menyebar ke lapisan mukosa, kemudian akan migrasi secara pasif melalui
1

pembuluh limfe dan pembuluh darah atau secara aktif menembus jaringan dan menyebar ke seluruh bagian tubuh. Larva yang menembus dinding usus akan menyebar melalui pembuluh darah ke setiap jaringan tubuh terutama otak, mata, hati, paru-paru, dan jantung. Larva bertahan hidup selama beebrapa bulan, menyebabkan kerusakan jaringan dengan cara berpindah ke dalam jaringan lain dan menimbulkan peradangan di sekitarnya (Estuningsih, 2005). Gejala klinis pada anak kucing tidak terlihat jelas, karena tidak terjadi migrasi larva ke trakhea dan gejala batuk-batuk pun tidak tampak. Larva akan tumbuh menjadi cacing dewasa sejalan dengan pertumbuhan anak kucing. Pada kucing dewasa yang terinfeksi Toxocara, bulu akan terlihat kasar dan akan terjadi diare sehingga akan terlihat dehidrasi (Hendrix, 1995). Konfirmasi diagnosis dikuatkan dengan sejarah penyakit, adanya pneumonia, dan ditemukan telur cacing Toxocara dalam feses. Telur Toxocara berbentuk bulat berwarna kecoklatan, permukaannya berbintik-bintik dan dinding luarnya sangat tebal. Pemeriksaan feses dengan uji apung adalah merupakan metode untuk mendeteksi adanya infeksi cacing (Hendrix, 1995). Telur cacing akan mengapung dalam larutan garam jenuh dan dapat dihitung di dalam kotak hitung. Infeksi prepaten bisa dilakukan dengan uji serologi. Uji serologi dengan Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) untuk deteksi antibody (Sadjjadi et. al., 2000). Benzimidazoles merupakan obat cacing yang efektif untuk membunuh larva Toxocara cati pada kucing. Pengobatan cutaneous larva migrans menggunakan Chlorethyl. Obat cacing lainnya adalah thiabendazole, ivermectin, albendazole, mebendazole, thiabendazole, albendazole, dan mebendazole. Obat suportif seperti anti alergi dan antibiotika. Pencegahan kontaminasi lingkungan bisa dilakukan dengan cara membersihkan kandang anjing maupun kucing dari kotoran/feses setiap hari, melarang kucing bermain di tempat terbuka seperti lapangan/taman yang biasanya dipakai untuk bermain anak-anak dan bisa juga dilakukan pengobatan terhadap anak kucing (Estuningsih, 2005).

C. Riwayat Kasus Pada hari Selasa, 1 Oktober 2013 telah dilakukan pemeriksaan pada seekor kucing Jesico dengan hasil sebagai berikut: 1. Nama dan alamat pemilik 2. Signalemen : Praditya : mix, jantan, 3bln, loreng

3. Anamnesis obat cacing dan vaksin 4. Status praesens: a. Keadaan umum b. Frekuensi nafas c. Frekuensi pulsus d. Temperatur e. Kulit dan rambut f. Selaput lendir

: makan dan minum baik, feses berbentuk pasta, blm

: E.M biasa, K.T kurus : 60x/menit : 68x/menit : 39,6 : turgor kulit normal, ada ektoparasit : conjungtiva pucat, CRT < 2dtk

g. Kelenjar-kelenjar limfe : limfoglandula superficial tdk teraba h. Pernafasan i. Peredaran darah j. Pencernaan lebih cepat k. Kelamin dan perkencingan: vesica urinaria teraba kosong l. Saraf pupil normal m. Anggota gerak n. Lain-lain Berat badan : 0,8 kg : normal : reflek palpebrae normal, reflek pedal normal, reflek : tipe pernafasan thoracoabdominal, auskultasi bronchial : sistole & diastole dapat dibedakan : mulut bersih, anus kotor & kemerahan, peristaltik usus

o. Pemeriksaan laboratorium, dsb Faeces 5. Diagnosis 6. Prognosis 7. Terapi : Toxocara sp : Toxocariasis : fausta : Drontal

D. Pembahasan Dari hasil anamnesa pemilik mengungkapkan bahwa kucing Jesico ini makan dan minum baik, feses berbentuk pasta, belum pernah obat cacing dan vaksin. Dari pemeriksaan yang dilakukan frekuensi nafas 60/menit, frekuensi pulsus 68/menit, dan suhu 39,6C. Frekuensi nafas dan suhu mengalami kenaikan di atas normal, hal ini kemungkinan disebabkan karena kucing mengalami stress karena sehabis perjalanan maupun berada di luar lingkungannya. Kondisi tubuh kucing Jesico mengalami kekurusan. Pemeriksaan sistem
3

pernafasan normal, selaput lendir normal, peredaran darah normal, kelamin dan perkencingan normal, saraf normal, anggota gerak normal, namun pemeriksaan kulit dan rambut ditemukan adanya ektoparasit yaitu Ctenocephalides felis. Ctenocephalides felis ini termasuk ektoparasit golongan pinjal karena bentuknya pipih, tidak mampu terbang namun mampu meloncat karena kaki-kakinya yang kuat. Dari pemeriksaan sisten pencernaan, hasil pengamatan terhadap anus ternyata anus kotor dan mengalami kemerahan dan sedikit membengkak. Selain itu, hasil auskultasi menunjukkan peristaltik usus meningkat. Dari hasil pemeriksaan laboratorium terutama pemeriksaan feses, ditemukan adanya Toxocara sp. Oleh karena itu, dari hasil pemeriksaan sistem pencernaan dan pemeriksaan feses menunjukkan bahwa kucing Jesico mengalami gangguan pada saluran gastrointestinal akibat infestasi cacing Toxocara sp. Toxocariasis disebabkan oleh cacing Toxocara cati. Toxocara cati adalah cacing golongan nematode yang menyerang usus halus kucing, dengan 3 buah bibir anterior yang menempel pada mukosa usus. Telur cacing toxocara merupakan telur segmented yang dalam perkembangannya berubah menjadi larvated dan berdinding tebal. Infeksi cacing yang berat menyebabkan gangguan usus, yang antara lain ditandai dengan sakit perut (kolik), obstruksi usus baik partial maupun total, anemia pada keadaan infestasi banyak cacing, feses melena, dalam keadaan ekstrim terjadi perforasi usus hingga tampak gejala peritonitis. Adanya banyak cacing banyak menyebabkan penurunan bahan makanan yang diserap hingga terjadi hipoalbuminea, yang selanjutnya menyebabkan kekurusan dengan busung perut (asites). Perut pada anjing muda jelas memperlihatkan pembesaran dan tampak menggantung (potbellied). Pada anjing/kucing muda lebih beresiko kematian. Daur hidup toxocara bersifat langsung, tidak membutuhkan hospes intermedier, namun dalam perkembangan larvanya, larva bisa bermigrasi melalui pulmo maupun organ lain yang pada infestasi berat dapat menimbulkan gangguan pernafasan seperti pneumonia/edema pulmo dan gangguan organ lain. Pada hewan bunting, larva stadium 2 dapat bermigrasi transmamari dan masuk ke usus anak kucing saat kucing menyusu. Siklus hidup toxocara juga dapat terjadi pada hospes paratenik berupa hewan pengerat. Prognosis dari kucing Jesico fausta karena infestasi cacing yang tidak terlalu banyak dan tidak menimbulkan gejala penyakit yang begitu parah. Pengobatan awalnya akan diberikan drontal, amoxycilin, dan B-plex. Amoxycilin awalnya akan diberikan kepada kucing Jesico karena adanya kenaikan suhu tubuh. Kami menduga kemungkinan ada infeksi bakteri sehingga suhu tubuh kucing ini meningkat. Dari hasil konsultasi, dokter mengatakan bahwa penggunaan antibiotik perlu kehati-hatian karena kelak akan menimbulkan resistensi.
4

Kenaikan suhu yang dialami oleh kucing Jesico bisa juga terjadi akibat stres setelah perjalanan. Maka amoxycilin tidak diberikan. Injeksi B-plex juga tidak diberikan karena pertimbangan bahwa dari hasil anamnesa yang dilakukan terhadap pemilik, kucing Jesico memiliki nafsu makan yang baik sehingga tidak perlu diberi B-plex. Dari hasil konsultasi yang dilakukan, maka kucing Jesico hanya diberikan Drontal tablet untuk mengatasi infestasi cacing Toxocara sp. pada saluran gastrointestinalnya.

E. Kesimpulan Kucing yang diperiksa secara umum tidak mengalami banyak gangguan. Yang ditemukan hanya iinfestasi ektoparasit pada rambut berupa Toxocara sp.

Daftar Pustaka
Estuningsih, S. E.2005.Toxocariasis pada Hewan dan Bahayanya pada Manusia. Wartazoa Vol. 15 No. 3 Hendrix, C.M.1995.Helminthic Infections of The Feline Small and Large Intestines :Diagnosis and Treatment.Vet. Med. May. 456-472 Hubner, J., M. Leissova.2001.Diagnosis of The Early Phase of Larval Toxocariasis using IgG Avidity.Epidemol.Mikrobiol.Imunol. Apr; 50(2); 67-70 Levine, N. D.1978.Textbook of Veterinary Parasitology.Yogyakarta:Gadjah Mada University Press Sadjjadi, S. M., Khosravi, D. Mehrabani, A. Orya.2000.Seroprevalence of Toxocara Infection in School Children in Shiraz, Southern Iran. J. Trop. Pediatr.46(6) : 327-30