Anda di halaman 1dari 5

1.1 Pendahuluan Transduser adalah alat yang mengubah energi dari satu bentuk kebentuk yang lain.

Transduser dapat dibagi dalam dua kelas; Transduser input dan Transduser output (gambar 1). Transduser input listrik mengubah energi non listrik, misalnya suara atau sinar menjadi tenaga listrik. Transduser output listrik bekerja pada urutan yang sebaliknya. Transduser tersebut mengubah energi listrik pada bentuk energi non listrik.

Gambar 1 Transduser input listrik dan output listrik Sensor adalah alat yang digunakan untuk menditeksi dan sering berfungsi untuk mengukur magnitude sesuatu. Sensor adalah jenis transduser yang digunakan untuk mengubah variasi mekanis, magnetis, panas, sinar dan kimia menjadi tegangan dan arus listrik. Sensor biasanya dikategorikan melalui pengukur dan memegang peranan penting dalam pengendalian proses pabrikasi modern. Sensor memberikan ekivalen mata, hidung, lidah untuk menjadi otak mikroprosesor dari system otomatisasi industri (gambar 2).

Gambar 2 Sensor

1.2 Klasifikasi sensor dan tranduser

Gambar 3 klasifikasi Sensor dan tranducer

1.

2.

1. 2. 3.

Tranduser dan sensor dibedakan sesuai dengan aktifitas yang didasarkan atas konversi sinyal dari besaran sinyal bukan listrik (non electric signal value) ke besaran sinyal listrik (electric signal value) yaitu : sensor aktif (active sensor) dan sensor pasif (passive sensor). Sensor dan tranduser pasif merupakan suatu sensor dan tranduser yang dapat mengubah langsung dari energi dari energy bukan listrik (seperti : energi mekanis, energi thermis, energi cahaya atau energi kimia) menjadi energi listrik. Sensor dan tranduser ini biasanya dikemas dalam satu kemasan yang terdiri dari elemen sebagai detektor, dan piranti pengubah dari energi dengan besaran bukan listrik menjadi energi besaran listrik. Sensor dan tranduser aktif merupakan suatu sensor dan tranduser yang dapat mengubah langsung dari energi dari energy bukan listrik (seperti : energi mekanis, energi thermis, energi cahaya atau energi kimia) menjadi energi listrik bekerja atas asas pengendalian tenaga. Sensor dan tranduser aktif memerlukan bantuan tenaga dari luar. Perbedaan sensor kapasitif, resitif, dan induktif Sensor Induktif merupakan sensor yang membaca perubahan besaran menyebabkan perubahan induktif. Sensor Kapasitif merupakan sensor yang membaca perubahan besaran menyebabkan perubahan kapasitas. Prinsip Resistif merupakan sensor yang membaca perubahan besaran diubah menjadai perubahan hambatan suatu elemen. 1.3 Sensor Kapasitif Sensor kapasitif merupakan sensor elektronika yang bekerja berdasarkan konsep kapasitif. Sensor ini bekerja berdasarkan perubahan muatan energi listrik yang dapat disimpan oleh sensor akibat perubahan jarak lempeng, perubahan luas penampang dan perubahan volume dielektrikum sensor kapasitif tersebut. Konsep kapasitor yang digunakan dalam sensor kapasitif adalah proses menyimpan dan melepas energi listrik dalam bentuk muatan-muatan listrik pada

kapasitor yang dipengaruhi oleh luas permukaan, jarak dan bahan dielektrikum. Sifat sensor kapasitif yang dapat dimanfaatkan dalam proses pengukuran.

Gambar 4 Sensor Kapasitif Sensor ini dapat mendeteksi benda padat dan juga benda cair. Tidak hanya bahan feromagnetik, plastik, kayu, cairan lain juga dapat dideteksi. Sensor kapasitif terdiri dari komponen utama 2 plat sebagai elektrode yaitu sensing elektrode dan referensi elektrode. Sedangkan untuk harga, dimensi, geometris / bentuk, mounting (pengikatan), jenis koneksi, tegangan kerja, jenisoutput yang ditampilkan, akurasi, tingkat kepekaan, durability (daya tahan), sensing distance (jarak pengukuran) sangatlah bervariasi, tergantung dari merk dagang pabrikannya. 1.4 Sifat Sensor Kapasitif yang Dimanfaatkan Dalam Pengukuran : 1. Jika luas permukaan dan dielektrika (udara) dalam dijaga konstan, maka perubahan nilai kapasitansi ditentukan oleh jarak antara kedua lempeng logam. 2. Jika luas permukaan dan jarak kedua lempeng logam dijaga konstan dan volume dilektrikum dapat dipengaruhi makan perubahan kapasitansi ditentukan oleh volume atau ketinggian cairan elektrolit yang diberikan. 3. Jika jarak dan dielektrikum (udara) dijaga konstan, maka perubahan kapasitansi ditentukan oleh luas permukaan kedua lempeng logam yang saling berdekatan.

1.5 Prinsip Kerja Sensor Kapasitif

Sensor kapasitif bekerja berdasarkan prinsip pengukuran kapasitansi dari sensed material (material yang disensor). Cakupan material tersebut mulai dari ferro (besi), steel (baja), alumunium, copper (tembaga), bronze (kuningan) bahkan hingga air sekalipun. Sensor kedekatan kapasitif adalah alat yang merasakan object yang diaktifkan oleh bahan konduktif dan non-konduktif. Kerja sensor kapasitif juga didasarkan pada prinsip osilator. Meskipun demikian, kumparan sisi aktif dari sensor kapasitif yang dibentuk oleh dua elektroda logam agak mirip dengan kapasitor terbuka. Electrode-elektrode ditempatkan pada loop umpan balik dari osilator frekuensi tinggi yang tidak aktif dengan tanpa target. Pada saat target mencapai sisi sensor, target memasuki medan elektrostatis yang dibentuk oleh elektroda-elektroda. Ini menyebabkan kenaikan kapasitansi perangkaian, dan rangkaian mulai berosilasi. Amplitudo osilasi diukur dengan rangkaian pengevaluasian yang membangkitkan sinyal untuk menghidupkan atau mematikan output elektronis.

Gambar 5 Konstruksi sensor kapasitif Kontruksi sensor kapasitif yang digunakan berupa dua buah lempeng logam yang diletakkan sejajar dan saling berhadapan. Jika diberi beda tegangan antara kedua lempeng logam tersebut, maka akan timbul kapasitansi antara kedua logam tersebut. Nilai kapasitansi yang ditimbulkan berbading lurus dengan luas permukaan lempeng logam , berbanding terbalik dengan jarak antara kedua lempeng dan berbading lurus dengan zat antara kedua lempeng tersebut (dielektrika), seperti ditunjukkan oleh persamaan berikut :

Dimana :

0 : permitivitas ruang hampa (8,85.10-12 F/m) r : permitivitas relatif (udara = 1) A : luas plat/lempeng dalam m2 d : jarak antara plat /lempeng dalam m
1.6 Pengkondisian Sinyal Sensor Kapasitif

Sedangkan untuk controller / amplifier yang dapat digunakan juga sangat beragam. Yang perlu diperhatian ketika kita hendak mengkoneksikan antara sensor dengan controller nya, kita harus memahami karakteristik dari masing-masing komponen tersebut, serta faktor-faktor eksternal yang kemungkinan dapat mempengaruhi fungsi kerja sistem yang hendak kita rencanakan. Karakteristik internal tersebut diantaranya adalah tegangan kerja, jenis output yang ditampilkan, jenis kontak maupun toleransinya. Sedangkan untuk faktor eksternal yang perlu diperhatikan adalah lingkungan kerja, kemungkinan kebakaran, benturan, vibrasi, kontaminasi dan lain sebagainya. 1.7 Aplikasi Sensor Kapasitif Beberapa aplikasi yang dapat dibuat dengan sensor kapasitif diantaranya adalah : Sensor Tekanan : menggunakan sebuah membran yang dapat merenggang sehingga tekanan dapat dideteksi dengan menggunakan spacing-sensitive detector. Sensor Berat : menggunakan perubahan nilai kapasitansi diantara kedua plat yang jarak kedua plat berubah sesuai beban berat yang diterima. Ketinggian cairan : menggunakan perubahan nilai kapasitansi antara kedua plat konduktor yang dicelupkan kedalam cairan. Jarak : jika sebuah object metal mendekati elektroda kapasitor, didapat nilai kapasitansi yang berubah-ubah. Layar sentuh : dengan menggunakan X-Y tablet. Shaft angle or linear position : dengan menggunakan metode multiplate, kapasitif sensor dapat mengukur angle atau posisi. Sumber : http://elektronika-dasar.com/komponen/sensor-tranducer/sensor-kapasitif/ http://sensorncontrol.blogspot.com/2010/02/sensor-kapasitif.html http://www.hendiwicaksono.com/belajar-instrumentasi-sensor-kapasitif-sensor-akustik

1. 2. 3. 4. 5. 6.