Anda di halaman 1dari 7

Ringkasan, Perenungan, dan Analisis Teori Hubungan Internasional I

Nama: Tangguh Dep. Ilmu Hubungan Internasional


NPM: 0706291426 Universitas Indonesia
Realis-Liberal-Neorealis-Neoliberal-Strukturalis

Sekilas Ringkasan
Realisme
Realisme adalah pendekatan dalam ilmu hubungan internasional yang menganggap bahwa sifat manusia
belum tentu baik baik: kemungkinan terbaik, manusia memiliki kapasitas baik dan buruk yang sama;
kemungkinan terburuk, manusia memiliki hasrat instingtif untuk mendominasi orang lain. Sehingga, perang
selalu menjadi kemungkinan. Tanggung jawab tiap negara adalah menyediakan pertahanan dan keamanannya.
Kebijaksanaan atau tindakan nasional diukur dari apakah ia menjadi perpanjangan kepentingan nasional, yang
paling sering didefinisikan sebagai penambahan kekuatan dalam berbagai bentuk, yang paling khusus kekuatan
militer. Perdamaian tidak dapat dijamin, namun dapat diperoleh karena balance of power akan membuat negara-
negara mencari jaminan keamanan dan kepentingan mereka dengan bersekutu dengan negara lain yang lebih
kuat. Realisme mengutamakan kebijakan luar negeri daripada kebijakan domestik, pemeliharaan kekuatan
militer yang besar, dan penekanan pada nasionalisme. Realisme juga mengutamakan negara sebagai aktor
internasional uniter dengan proses pembuatan keputusan tunggal, pada pokoknya rasional dalam tindakannya,
dan berargumen bahwa keamanan nasional adalah isu internasional paling penting.1

Liberalisme
Liberalisme adalah pendekatan dalam ilmu hubungan internasional yang, secara ontologis, memiliki
asumsi-asumsi dasar sebagai berikut. Pertama, sifat manusia dalam hukum alam adalah baik, rasional, dan
mampu bekerja sama. Kedua, manusia lebih memilih damai daripada konflik. Ketiga, demokrasi adalah sistem
pemerintahan terbaik. Keempat, negara dibentuk oleh manusia dan oleh karena itu mampu menuruti hukum

1 Daniel S. Papp, Contemporary International Relations: Frameworks for Understanding (New York: Macmillan, 1997), 1-25
0100090000032a0200000200a20100000000a201000026060f003a03574d4643010000000000010082be00000000
01000000180300000000000018030000010000006c00000000000000000000001a0000000f0000000000000000000
0006a4a00008400000020454d4600000100180300001200000002000000000000000000000000000000f6090000e
40c0000d8000000170100000000000000000000000000005c4b030068430400160000000c000000180000000a0000
001000000000000000000000000900000010000000c90800000f000000250000000c0000000e000080250000000c0
000000e000080120000000c00000001000000520000007001000001000000d2ffffff00000000000000000000000090
0100000000000004400022430061006c006900620072006900000000000000000000000000000000000000000000
0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000011006872110010000000cc7511004c7
3110052516032cc751100c47211001000000034741100b075110024516032cc751100c47211002000000049642f31c
4721100cc75110020000000fffffffffc02d200d0642f31ffffffffffff0180ffff0180efff0180ffffffff000007000008000000080
0004300000001000000000000002c01000025000000632e90010008020f0502020204030204ef0200a07b20004000
000000000000009f00000000000000430061006c006900620072000000000041007200690061006c00200052006f0
075006e00f87211009c38273104000000010000003473110034731100e8782531040000005c731100fc02d20064760
00800000000250000000c00000001000000250000000c00000001000000250000000c00000001000000180000000c
00000000000002540000005400000000000000000000001a0000000f0000000100000088870741d1450741000000
002c000000010000004c000000040000000000000000000000ca0800001000000050000000200000001b000000460
00000280000001c0000004744494302000000ffffffffffffffffca08000010000000000000004600000014000000080000
004744494303000000250000000c0000000e000080250000000c0000000e0000800e0000001400000000000000100
00000140000000400000003010800050000000b0200000000050000000c020400fa02040000002e0118001c000000
fb020500020000000000bc02000000000102022253797374656d00000000000000000000000000000000000000000
00000000000040000002d010000040000002d01000004000000020101001c000000fb02f3ff0000000000009001000
000000440002243616c6962726900000000000000000000000000000000000000000000000000040000002d01010
0040000002d010100040000002d010100050000000902000000020d000000320a0c0000000100040000000000fa0
20500205a0900040000002d010000040000002d010000030000000000
1
alam yang sama dengan manusia. Liberalisme mempertanyakan batas-batas kewajiban negara dalam alam
domestik dan internasional; membawa kemungkinan sistem internasional yang damai; membutuhkan
pertanyaan tentang aktor utama, keuntungan, dan level analisis dalam ilmu hubungan internasional;
menekankan pentingnya internasionalisme melalui tajuk liberalisme internasional; dan sangat erat dengan studi
etika politik internasional dan keadilan internasional.
Secara epistemologis, liberalisme mengelaborasi hubungan negara dengan masyarakat serta pengaruhnya
terhadap perilaku negara dalam politik dunia. Individu dan perilaku mereka dalam berbagai level masyarakat
menjadi domain penjelasan atas tindakan negara. Dinamika masyarakat menciptakan preferensi negara, yang
amat penting dalam politik dunia. Asumsi-asumsi dasarnya adalah, pertama, aktor nonnegara adalah entitas
yang penting dalam politik dunia. Kedua, negara bukanlah aktor uniter. Ketiga, negara bukanlah aktor rasional.
Keempat, politik internasional memiliki banyak agenda yang dapat menjadi bahasan.2

Neorealisme
Neorealisme menjawab tantangan liberalisme dengan revisi terhadap teori realisme secara radikal.
Neorealisme terinspirasi dari model konstruksi teori Imre Lakatos dan teori mikroekonomi; yang pertama
membawa teori asumsi minimal sementara yang kedua membawa determinan struktural terhadap perilaku
negara. Asumsi-asumsi dasarnya adalah, pertama, sistem internasional bersifat anarki, karena tidak ada otoritas
sentral untuk memaksakan tata tertib. Kedua, dalam sistem yang demikian, kepentingan utama negara adalah
keberlangsungannya sendiri, sehingga negara akan memaksimalisasi power mereka khususnya kekuatan militer.
Karena power tersebut bersifat zero-sum, negara menjadi ‘posisionalis defensif’, sehingga struggle for power
adalah karakteristik permanen hubungan internasional dan konflik bersifat endemik. Dan oleh karena itu, kerja
sama antarnegara menjadi sulit atau bahkan tidak mungkin sama sekali. Kalaupun ada, itu pun di bawah kondisi
hegemoni suatu negara dominan yang menggunakan power-nya untuk menciptakan dan memaksakan peraturan
institusional.3

Neoliberalisme
Neoliberalisme memiliki dasar yang serupa dengan neorealisme, pertama, karena ia menganggap anarki
internasional sangat penting dalam membentuk perilaku negara, namun anarki bukanlah satu-satunya penentu
tingkat maupun sifat kerja sama internasional. Kedua, negara juga tetap menjadi aktor paling penting dalam
politik dunia. Ketiga, asumsi bahwa negara secara esensial hanya memiliki kepentingan terkait dirinya sendiri
juga tidak berubah. Namun, sebagai perpanjangan dari asumsi pertama, interdependensia dan kepentingan
bersama pun bukanlah satu-satunya, melainkan bahwa tidak adanya otoritas sentral dunia membuat perjanjian-
perjanjian rawan cheating, biaya kerja sama menjadi tinggi, dan informasi menjadi sangat terbatas. Sehingga,
negara-negara membentuk institusi atau rejim internasional untuk mengatasi rintangan-rintangan tersebut.4

Strukturalisme
Strukturalisme adalah perspektif ‘bottom up’ ilmu hubungan internasional yang dipengaruhi Marxisme.
Asumsi-asumsi dasarnya adalah, pertama, ‘sifat dasar manusia’ tidak tetap maupun esensial, namun
terkondisikan melalui masyarakat. Kedua, subjek dapat dikelompokkan menjadi kolektivitas yang dapat
diidentifikasi dan dapat pula dikatakan memiliki kepentingan konkrit. Ketiga, ‘strukturalisme adalah sains’.
Keempat, tidak ada perbedaan jelas antara nasional (dalam negeri) dan internasional (luar negeri).
Strukturalisme memandang bahwa tata dunia kontemporer dikonstruksi oleh sistem kapitalis global dan sistem
antarnegara yang berhubungan. Ciri fundamental tata dunia ini adalah ketidaksamaan yang didasarkan
eksploitasi kapitalisme. Strukturalisme memandang kelas sebagai aktor dominan dalam hubungan internasional,
namun tidak melupakan peran negara sebagai perpanjangan kepentingan kelas. Aktor-aktor institusional
dipandang berperan membantu melegitimasi dan memelihara struktur yang ada. Berbagai varian strukturalisme
2 Paul R. Viotti dan Mark V. Kauppi, International Relations Theory: Realism, Pluralism, Globalism, Second Edition (New York:
MacMillan, 1993), 228-229
3 Scott Burchill, et al., Theories of International Relations, (New York: St. Martin’s Press, 2002), 210-211
4 Ibid., 211-212
adalah teori dependensia dan teori world-systems.5

Assessment: The Clash of Perspectives


Sebagaimana epistemologi ilmu Barat yang menganut pendekatan dikotomis, ilmu hubungan
internasional, terutama American school, selalu terstruktur atas debat antara dua perspektif utama yang paling
signifikan pada masanya. Pascaperang Dunia II hingga 1980-an, debat tersebut berkisar antara realisme dan
liberalisme, dua perspektif yang mengaplikasikan teori rational choice namun mencapai kesimpulan yang
secara radikal berbeda tentang hubungan internasional. Pada 1980-an, terjadi pergeseran menuju dua debat
utama antara, pertama, neorealisme dengan neoliberalisme, yang sama-sama teori rasionalis namun berbeda
secara ideasional, dan kedua, rasionalisme dengan critical theory, yang berbeda secara holistik dari asumsi-
asumsi epistemologis, metodologis, ontologis, maupun normatif. Bahkan Pascaperang Dingin, poros debat ini
masih mengalami pergeseran menuju dua debat baru antara, pertama, rasionalisme dengan konstruktivisme dan,
kedua, konstruktivisme dengan critical theory, yang memunculkan antitesis terhadap rasionalisme dan
positivism serta kritik metateoritis. (Setelah ini pun, penulis berasumsi bahwa debat ilmu hubungan
internasional ini akan terus mengalami pergeseran, seiring aplikasi metode inkuiri Socrates dalam bidang ilmu
ini yang akan selalu menghasilkan sintesis teori baru setelah dua perspektif yang saling antitesis saling
dibenturkan.)
Mengapa selalu terjadi debat? Karena metode inkuiri Socrates? Karena dialektika Hegel? Karena
pemahaman postpositivis? Karena relativitas ilmu sosial yang rentan menghadirkan krisis dan anomali, yang
pada akhirnya akan selalu melahirkan paradigma baru? Karena teori-teori ini bersifat konfliktual? Karena ada
kepentingan-kepentingan yang bersifat soft power, sehingga langkah-langkah intervensionis dalam diskursus
ilmu pun diambil (seperti “pembersihan” terhadap para guru besar universitas)? Entahlah. Yang pasti, penulis
sangat meyakini bahwa tradisi debat dalam ilmu hubungan internasional ini akan terus berlanjut.
Karena sifatnya yang sangat inheren dalam ilmu hubungan internasional, mengikuti perkembangan debat

5 Jill Steans dan Lloyd Pettiford, International Relations: Perspectives and Themes (Essex: Pearson Education Limited, 2001), 72-
97
0100090000032a0200000200a20100000000a201000026060f003a03574d4643010000000000010082be00000000
01000000180300000000000018030000010000006c00000000000000000000001a0000000f0000000000000000000
0006a4a00008400000020454d4600000100180300001200000002000000000000000000000000000000f6090000e
40c0000d8000000170100000000000000000000000000005c4b030068430400160000000c000000180000000a0000
001000000000000000000000000900000010000000c90800000f000000250000000c0000000e000080250000000c0
000000e000080120000000c00000001000000520000007001000001000000d2ffffff00000000000000000000000090
0100000000000004400022430061006c006900620072006900000000000000000000000000000000000000000000
0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000011006872110010000000cc7511004c7
3110052516032cc751100c47211001000000034741100b075110024516032cc751100c47211002000000049642f31c
4721100cc75110020000000fffffffffc02d200d0642f31ffffffffffff0180ffff0180efff0180ffffffff000007000008000000080
0004300000001000000000000002c01000025000000632e90010008020f0502020204030204ef0200a07b20004000
000000000000009f00000000000000430061006c006900620072000000000041007200690061006c00200052006f0
075006e00f87211009c38273104000000010000003473110034731100e8782531040000005c731100fc02d20064760
00800000000250000000c00000001000000250000000c00000001000000250000000c00000001000000180000000c
00000000000002540000005400000000000000000000001a0000000f0000000100000088870741d1450741000000
002c000000010000004c000000040000000000000000000000ca0800001000000050000000200000001b000000460
00000280000001c0000004744494302000000ffffffffffffffffca08000010000000000000004600000014000000080000
004744494303000000250000000c0000000e000080250000000c0000000e0000800e0000001400000000000000100
00000140000000400000003010800050000000b0200000000050000000c020400fa02040000002e0118001c000000
fb020500020000000000bc02000000000102022253797374656d00000000000000000000000000000000000000000
00000000000040000002d010000040000002d01000004000000020101001c000000fb02f3ff0000000000009001000
000000440002243616c6962726900000000000000000000000000000000000000000000000000040000002d01010
0040000002d010100040000002d010100050000000902000000020d000000320a0c0000000100040000000000fa0
20500205a0900040000002d010000040000002d010000030000000000
3
ini menjadi sangat menarik. Dalam esai ini, penulis akan menitikberatkan fokus analisis pada debat yang
mengawali tradisi debat dalam ilmu hubungan internasional: “bapak”-nya debat HI, realisme-liberalisme.

Realisme vs Liberalisme: Nasib Dua Perspektif Konfrontatif


Realisme dan liberalisme sepertinya memang sudah ditakdirkan untuk menjadi pasangan tesis-antitesis
sempurna. Dimensi ontologis kedua perspektif ini nyaris bertolak belakang satu sama lain, meskipun mungkin
pada awal kelahirannya kedua perspektif ini tidak dimaksudkan untuk saling berlawanan. Thomas Hobbes,
sebagai pelopor intelektual perspektif realisme, menulis di Inggris abad ke-17 yang sedang dilanda perang
saudara. Hobbes, yang terkonstruksi oleh lingkungan yang teringkas sebagai state of war, pada akhirnya
menekankan ke(tidak)amanan, force, dan keberlangsungan hidup sebagai salah satu derivasi pandangan
pesimisnya terhadap sifat dasar manusia di tengah sistem yang anarkis. Setengah abad berikutnya, kesengsaraan
yang dirasakan Inggris sudah tidak seperti dahulu lagi, sehingga kondisi anarki tidak terlalu mengancam seperti
dahulu, dan John Locke dapat berpandangan lebih optimis dengan argumennya bahwa walaupun state of nature
tidak memiliki kedaulatan bersama, masyarakat tetap dapat mengembangkan hubungan dan membuat
perjanjian.6 Dapat kita lihat bahwa sejak prekursor awal terbentuknya kedua perspektif ini sudah sangat
berlawanan.
Dalam perkembangannya, kedua perspektif ini pun bagai air dengan minyak. Dalam tataran asumsi dasar,
realisme menyatakan bahwa manusia tidak selamanya baik, sementara liberalisme menyatakan bahwa manusia
bersifat baik secara inheren. Realisme meyakini bahwa konflik sangat inheren dalam sifat dasar manusia karena
perbedaan kepentingan, sementara liberalisme meyakini bahwa manusia lebih memilih damai daripada konflik.
Nicollo Machiavelli, merepresentasi kalangan realis, menganjurkan bahwa politik harus dibedakan secara jelas
dari moralitas, dan menekankan politik di atas moralitas (manifestasi politik imoral). Immanuel Kant,
merepresentasi kalangan liberalis, menekankan moralitas di atas politik. Realisme menekankan konsepsi
kedaulatan nasional, sementara liberalisme memandangnya sebagai sesuatu yang ambigu dan rapuh.
(Senada dengan kritik liberalisme ini, kita dapat melihat bahwa realisme, sebaku apapun teori umumnya,
tetap saja dapat dikatakan tidak matang secara konseptual. Hal ini dapat ditinjau dari tidak adanya suatu
formulasi standar serta adanya suatu ambiguitas mengenai konsep-konsep fundamental dalam perspektif ini,
seperti power, balance of power, dan kepentingan nasional. Kalangan realis memahami sistem dunia hierarkis
berdasarkan kepemilikan sumber-sumber power. Namun, apa yang dimaksud dengan power ini? Hans J.
Morgenthau membedakannya dengan influence dan force serta membedakan antara usable dengan unusable
power dan legitimate dengan illegitimate power.7 Namun, perbedaan yang diungkapkannya setipis kertas, sulit
untuk akhirnya sampai pada persetujuan bersama tentang konsepsi power yang standar.)
(Sama seperti istilah balance of power. Joseph S. Nye mendefinisikannya antara lain sebagai distribusi
power, kebijakan, maupun sistem multipolar.8 Namun, Daniel S. Papp mengungkapkan bahwa pengertian pasti
istilah ini masih dalam perdebatan: dalam satu kasus, balance of power berarti dua negara memiliki kapabilitas
yang kira-kira seimbang; namun dalam kasus lain, ia justru berarti ada suatu ketidakseimbangan; dan dalam
kasus lain, ia menggambarkan hubungan yang dinamis dan berubah.9)
(Serupa dengan konsepsi kepentingan nasional. Papp mengajukan berbagai pertanyaan yang menunjukkan
ambiguitas konsepsi ini, seperti, Siapa di dalam negara yang mendefinisikan kepentingan nasional? Apakah
kepentingan nasional berubah ketika pemerintahan bertransisi, baik secara damai atau melalui kudeta?
Kelompok mana di dalam negara yang mendefinisikan negara mana yang merupakan kawan maupun lawan
suatu negara?10 Dapat kita lihat bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Papp memiliki gaung liberalisme,
yang berasumsi bahwa negara adalah aktor yang nonuniter dan terfragmentasi. Padahal, konsepsi kepentingan
6 Joseph S. Nye, Jr., Understanding International Conflicts: An Introduction to Theory and History (New York:
HarperCollinsCollegePublishers, 1997),3
7 Hans J. Morgenthau, revised by Kenneth W. Thompson, Politics Among Nations: The Struggle for Power and Peace, Brief
Edition (New York: McGraw-Hill Inc., 1985), 31
8 Joseph S. Nye, Jr., op. cit.,53-58
9 Daniel S. Papp, op. cit., 46-50
10 Ibid., 43
nasional merupakan konsepsi tolak ukur mendasar dalam realisme.)
Menjawab kritik di atas, kalangan realis balik menyerang liberalisme. Agenda politik internasional
liberalisme yang sangat plural membuyarkan fokus analisis. Unit analisis yang sangat jamak dalam negara
menjadikan kalangan liberalis sulit mengagregasi faktor-faktor yang berperan dalam mengelaborasi fenomena.
Konstelasi pengaruh yang terfragmen dalam aktor-aktornya membuat proses decision making dalam liberalisme
tidak praktis. Asumsi bahwa negara bukanlah aktor rasional, negara tidak predetermined, dan variasi pada
tujuan membuat fungsi prediksi perspektif ini tidak sepraktis realisme. Banyaknya varian liberalisme, baik
secara filosofis (seperti pasifisme liberal, imperialism liberal, dan internasionalisme liberal; liberalisme sosial
dan liberalisme kosmopolitan; kosmopolitanisme moral dan komunitarianisme moral; serta liberalisme restraint
dan imposition) maupun secara epistemologis (liberalisme ideasional, liberalisme komersial, dan liberalisme
republikan) membuat sulit menyintesis suatu analisis bersama antara seluruh varian tersebut, sehingga tidak
dapat dilakukan generalisasi.
Kalangan realis menglaim bahwa kalangan liberalis tidak dapat menjelaskan kontinuitas konflik dan
perang yang inheren dalam kehidupan manusia sebagaimana juga dalam pergaulan internasional antarnegara.
Mereka tidak menerima argumentasi liberalis yang membedakan fenomena-fenomena yang terjadi dalam zone
of war dan yang terjadi dalam zone of peace. Hal ini disebabkan kalangan realis meyakini pentingnya satu teori
umum yang universal, yang dapat menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi dalam hubungan internasional,
di manapun ia terjadi. Kalangan liberalis, sebaliknya, menglaim bahwa kalangan realis cenderung
menjustifikasi dan melegitimasi validitas teorinya melalui fenomena yang terjadi. Menurut mereka, realis akan
terus mempertahankan gagasan ideasionalnya bahwa manusia akan cenderung berkonflik satu sama lain dengan
menyodorkan contoh berbagai peperangan yang terjadi secara kontinu di dunia, yang bagi liberalis hanyalah
satu aspek dalam politik antarnegara. Liberalis tidak dapat menerima pandangan realis yang abai terhadap
berbagai ancaman nonmiliter dan nontradisional, di mana asumsi liberalis menglaim ekstensivitas agenda yang
dapat menjadi bahasan politik internasional serta tidak ada dikotomi antara high politics dengan low politics.

Realisme dan Liberalisme: Konfrontatif, Mungkinkah Disintesis?


Menurut penulis, perspektif realisme dan liberalisme tidak selalu harus dikonfrontasikan karena berbagai
0100090000032a0200000200a20100000000a201000026060f003a03574d4643010000000000010082be00000000
01000000180300000000000018030000010000006c00000000000000000000001a0000000f0000000000000000000
0006a4a00008400000020454d4600000100180300001200000002000000000000000000000000000000f6090000e
40c0000d8000000170100000000000000000000000000005c4b030068430400160000000c000000180000000a0000
001000000000000000000000000900000010000000c90800000f000000250000000c0000000e000080250000000c0
000000e000080120000000c00000001000000520000007001000001000000d2ffffff00000000000000000000000090
0100000000000004400022430061006c006900620072006900000000000000000000000000000000000000000000
0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000011006872110010000000cc7511004c7
3110052516032cc751100c47211001000000034741100b075110024516032cc751100c47211002000000049642f31c
4721100cc75110020000000fffffffffc02d200d0642f31ffffffffffff0180ffff0180efff0180ffffffff000007000008000000080
0004300000001000000000000002c01000025000000632e90010008020f0502020204030204ef0200a07b20004000
000000000000009f00000000000000430061006c006900620072000000000041007200690061006c00200052006f0
075006e00f87211009c38273104000000010000003473110034731100e8782531040000005c731100fc02d20064760
00800000000250000000c00000001000000250000000c00000001000000250000000c00000001000000180000000c
00000000000002540000005400000000000000000000001a0000000f0000000100000088870741d1450741000000
002c000000010000004c000000040000000000000000000000ca0800001000000050000000200000001b000000460
00000280000001c0000004744494302000000ffffffffffffffffca08000010000000000000004600000014000000080000
004744494303000000250000000c0000000e000080250000000c0000000e0000800e0000001400000000000000100
00000140000000400000003010800050000000b0200000000050000000c020400fa02040000002e0118001c000000
fb020500020000000000bc02000000000102022253797374656d00000000000000000000000000000000000000000
00000000000040000002d010000040000002d01000004000000020101001c000000fb02f3ff0000000000009001000
000000440002243616c6962726900000000000000000000000000000000000000000000000000040000002d01010
0040000002d010100040000002d010100050000000902000000020d000000320a0c0000000100040000000000fa0
20500205a0900040000002d010000040000002d010000030000000000
5
hal. Dalam dimensi ideasional, kita dapat melihat beberapa overlap dalam konsepsi dasar kedua perspektif ini,
salah satunya adalah gaung realisme dalam pemikiran para pelopor intelektual liberalisme. Kita dapat melihat
bahwa tokoh-tokoh seperti Thomas Hobbes dan Nicollo Machiavelli, tokoh-tokoh yang berpandangan sangat
realis, pun turut menyumbang pemikiran mereka dalam dimensi ontologis liberalisme. Selain itu, perspektif
realisme dan liberalisme adalah dua pendekatan yang mengadopsi dasar yang sama, yaitu perspektif pilihan
rasional. Sehingga, dalam perbedaan mendasar antara kedua perspektif ini, dapat dicari peluang sintesis melalui
metode inkuiri Socrates. Penulis memandang bahwa kita tidak dapat memisahkan begitu saja moralitas dan
politik, sebagaimana kita memisahkan kolektivitas, kaidah-kaidah hukum, demokratisasi, dan harmoni dasar
kepentingan antara manusia dan negara dengan konsepsi konkret kepentingan nasional. Kita memerlukan
realisme yang bermoral, realistis, berprinsip, dan demokratis.
Sebenarnya, usaha serupa pernah dilakukan oleh Robert G. Kaufman. Kaufman berpendapat bahwa
perhatian realisme atas pentingnya power, geopolitik, kekurangan manusia, dan ketidakleluasaan anarki
membutuhkan faktor-faktor tambahan dari tradisi kaum idealis. Ia memilih tiga figur penting dalam debat realis-
idealis: E. H. Carr, dengan argumennya yang menentang Wilson yang memengaruhi realisme pasca-Perang
Dunia II dan perkembangan neorealisme; Winston Churchill, yang dengan teori kebijakan luar negerinya
berhasil mempersatukan aspek-aspek realisme dan idealisme; serta Reinhold Niebuhr, yang menyumbangkan
matriks kritis tentang disposisi untuk menghubungkan norma-norma moral dengan pertimbangan kebijakan luar
negeri tanpa tergelincir menjadi sinisme maupun utopianisme. Kaum realis pada masa Morgenthau memahami
politik internasional sebagaimana adanya dan seharusnya dalam pandangan sifat ekstrinsiknya daripada
sebagaimana orang ingin melihatnya, sehingga lembaga domestik tidak boleh dipungkiri. Diskusi Kaufman
mengidentifikasi titik temu pemikiran Carr, Niebuhr, dan Churchill yang dianggap sebagai kaum realis yang
paling menonjol dan ketegangan dengan pemikiran kaum realis lainnya.11
Bagaimana hasil sintesis ini? Kita belum dapat menyaksikan hasilnya karena usaha ini masih dalam tahap
eksperimental. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa dari masa ke masa, perkembangan ilmu sosial terjadi
melalui proses dialektis sintesis antara dua pendekatan yang dikotomis. Apalagi, realisme dan liberalisme masih
sangat relevan dalam memandang politik dunia ini, di mana masih banyak akademisi maupun praktisi yang
menggunakannya.

11 Robert G. Kaufman, “E.H. Carr, Winston Churchill, Reinhold Niebuhr, and US: The Case for Principled, Prudential, Democratic
Realism”, dalam Benjamin Frankel, ed., Roots of Realism, (London: Frank Cass and Company, Limited, 1996), hal. 315-353
Lampiran
Bagian ini didedikasikan untuk elaborasi teori hubungan internasional yang berorientasi rekreasi, bukan
prokreasi

Masih ingatkah ucapan Ben Parker terhadap keponakannya, Peter Parker, dalam film Spider-Man? “With
great power, comes great responsibility.” Dalam film tersebut, dikisahkan bahwa Peter menerima kekuatan
super dari gigitan seekor laba-laba. Ia pun mulai menggunakannya demi kesenangannya sendiri, ia mengikuti
suatu turnamen bela diri untuk mendapatkan hadiah uang yang akan ia gunakan untuk membeli mobil dan
membuat gadis idamannya, Mary Jane Watson, terkesan. Namun, setelah ia ditipu oleh penyelenggara turnamen
tersebut, ia pun mulai mendengarkan nasihat pamannya tersebut dan menggunakannya untuk menegakkan
kedamaian di kota New York dengan menjadi seorang superhero berkedok kostum ketat berjaring laba-laba.
Sampai di sini, mari kita identifikasi relevansi film box office ini dengan teori hubungan internasional.
Gunakan perspektif realisme dan analogikan Peter Parker sebagai suatu negara. Kekuatan laba-labanya
merupakan power source-nya. Mobil dan Mary Jane adalah kepentingan nasionalnya. Penyelenggara turnamen
bela diri tersebut adalah negara lain yang melakukan cheating terhadapnya dalam suatu perjanjian internasional.
Akhirnya, negara “Parker” menjadi polisi dunia dan menegakkan kedamaian, mulai dari sini gunakan perspektif
liberalisme.

0100090000032a0200000200a20100000000a201000026060f003a03574d4643010000000000010082be00000000
01000000180300000000000018030000010000006c00000000000000000000001a0000000f0000000000000000000
0006a4a00008400000020454d4600000100180300001200000002000000000000000000000000000000f6090000e
40c0000d8000000170100000000000000000000000000005c4b030068430400160000000c000000180000000a0000
001000000000000000000000000900000010000000c90800000f000000250000000c0000000e000080250000000c0
000000e000080120000000c00000001000000520000007001000001000000d2ffffff00000000000000000000000090
0100000000000004400022430061006c006900620072006900000000000000000000000000000000000000000000
0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000011006872110010000000cc7511004c7
3110052516032cc751100c47211001000000034741100b075110024516032cc751100c47211002000000049642f31c
4721100cc75110020000000fffffffffc02d200d0642f31ffffffffffff0180ffff0180efff0180ffffffff000007000008000000080
0004300000001000000000000002c01000025000000632e90010008020f0502020204030204ef0200a07b20004000
000000000000009f00000000000000430061006c006900620072000000000041007200690061006c00200052006f0
075006e00f87211009c38273104000000010000003473110034731100e8782531040000005c731100fc02d20064760
00800000000250000000c00000001000000250000000c00000001000000250000000c00000001000000180000000c
00000000000002540000005400000000000000000000001a0000000f0000000100000088870741d1450741000000
002c000000010000004c000000040000000000000000000000ca0800001000000050000000200000001b000000460
00000280000001c0000004744494302000000ffffffffffffffffca08000010000000000000004600000014000000080000
004744494303000000250000000c0000000e000080250000000c0000000e0000800e0000001400000000000000100
00000140000000400000003010800050000000b0200000000050000000c020400fa02040000002e0118001c000000
fb020500020000000000bc02000000000102022253797374656d00000000000000000000000000000000000000000
00000000000040000002d010000040000002d01000004000000020101001c000000fb02f3ff0000000000009001000
000000440002243616c6962726900000000000000000000000000000000000000000000000000040000002d01010
0040000002d010100040000002d010100050000000902000000020d000000320a0c0000000100040000000000fa0
20500205a0900040000002d010000040000002d010000030000000000
7