Anda di halaman 1dari 19

I.

PENDAHULUAN.

Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan di dunia. Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberkulosis. Pada tahun 1995, diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia. Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB didunia, terjadi pada negara-negara berkembang. Demikian juga, kematian wanita akibat TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan, persalinan dan nifas.(1)

Gambar 1. Insidens TB didunia (WHO, 2004) (dikutip dari kepustakaan 1)

Berdasarkan laporan WHO, Indonesia menempati urutan ketiga terbesar angka kejadian TB di dunia setelah Cina dan India. Tuberkulosis pada kehamilan merupakan masalah tersendiri karena selain mengenai ibu, juga dapat menulari bayi yang dikandung atau dilahirkannya. Infeksi TB pada neonatus dapat terjadi melalui intrauterin, selama persalinan, maupun pasca natal oleh ibu pengidap TB aktif.

Kejadian TB kongenital sangat jarang. Di seluruh dunia kasus TB kongenital hanya tercatat 329 kasus.(1) Berdasarkan laporan WHO, angka kejadian kasus baru TB di dunia mencapai lebih dari 8 juta per tahun. Indonesia menempati urutan ketiga dengan angka kejadian 450.000 kasus baru per tahun dan angka kematian 175.000 kasus per tahun. Selama tahun 1989-1990 dari 4.300 persalinan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, 150 orang ibu didiagnosis TB paru (prevalens 3,48%). Tuberkulosis pada kehamilan merupakan masalah tersendiri karena selain mengenai ibu, juga dapat mengenai bayi yang dikandung atau dilahirkannya. Keterlambatan diagnosis TB pada neonatus sering terjadi karena keterlambatan diagnosis TB pada ibu. Oleh karena itu riwayat perjalanan penyakit ibu hamil sangat penting diketahui untuk mencegah keterlambatan diagnosis. Sebagian besar TB pada kehamilan sering kali tanpa gejala yang khas, maka sekitar 30% ibu terdiagnosis TB setelah bayi yang dilahirkan di ketahui menderita TB kongenital. Seperti dikutip dari Suwondo dkk, Good menyebutkan gejala klinis TB pada kehamilan berupa batuk (74%), penurunan berat badan (41%), demam (30%), nafsu makan menurun (30%) dan hemoptisis (19%). Infeksi TB perinatal dapat terjadi secara kongenital (pranatal), pada saat persalinan (natal) maupun transmisi pasca natal. Pada tipe kongenital, transmisi terjadi karena penyebaran hematogen melalui vena umbilikalis atau aspirasi cairan amnion yang terinfeksi. Pada tipe natal transmisi dari ibu selama proses persalinan dan pasca natal oleh ibu atau orang dewasa lain secara infeksi droplet.(2)

II.

DEFINISI.

Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberkulosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. (1)

III.

MIKROBIOLOGI KUMAN TUBERKULOSIS.

1. Bentuk. Mycobacterium tuberkulosis berbentuk batang lurus atau agak bengkok dengan ukuran 0,2- 0,4 x 1-4 um. Pewarnaan Ziehl-Neelsen dipergunakan untuk identifikasi bakteri tahan asam. 2. Penanaman. Kuman ini tumbuh lambat, koloni tampak setelah lebih kurang 2 minggu bahkan kadangkadang setelah 6-8 minggu. Suhu optimum 37C, tidak tumbuh pada suhu 25C atau lebih dari 40C. Medium padat yang biasa dipergunakan adalah Lowenstein-Jensen. PH optimum 6,4-7,0. 3. Sifat-sifat. Mycobacterium tidak tahan panas, akan mati pada 6C selama 15-20 menit. Biakan dapat mati jika terkena sinar matahari lansung selama 2 jam. Dalam dahak dapat bertahan 20-30 jam. Basil yang berada dalam percikan bahan dapat bertahan hidup 8-10 hari. Biakan basil ini dalam suhu kamar dapat hidup 6-8 bulan dan dapat disimpan dalam lemari dengan suhu 20C selama 2 tahun. Myko bakteri tahan terhadap berbagai khemikalia dan disinfektan antara lain phenol 5%, asam sulfat 15%, asam sitrat 3% dan NaOH 4%. Basil ini dihancurkan oleh jodium tinctur dalam 5 minit, dengan alkohol 80 % akan hancur dalam 2-10 menit.(3)

IV.

CARA PENULARAN.

Penularan tuberkulosis dari seseorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang terdapat dalam paru-paru penderita, pesebaran kuman tersebut diudara melalui dahak berupa droplet. Penderita TB-Paru yang mengandung banyak sekali kuman dapat terlihat lansung dengan mikroskop pada pemeriksaan dahaknya (penderita BTA positif) adalah sangat menular.

Penderita TB Paru BTA positif mengeluarkan kuman-kuman keudara dalam bentuk droplet yang sangat kecil pada waktu batuk atau bersin. Droplet yang sangat kecil ini mongering dengan cepat dan menjadi droplet yang mengandung kuman tuberkulosis. Ia dapat bertahan diudara selama beberapa jam. Droplet yang mengandung kuman ini dapat terhirup oleh orang lain. Jika kuman tersebut sudah menetap dalam paru dari orang yang menghirupnya, maka kuman mulai membelah diri (berkembang biak) dan terjadilah infeksi dari satu orang keorang lain.(3)

V.

PATOFISIOLOGI.

Tuberkulosis menyerang hampir kesemua sistem organ di dalam tubuh manusia, namun organ yang sering menjadi target dari penyakit ini adalah pauparu, di mana kasus yang didapatkan berkisar 80% dari semua kasus tuberkulosis yang didapat. Namun pola perjalanan infeksi pada penderita dengan penyakit HIV agak sedikit berbeda di mana infeksi tuberkulosis pada penderita HIV lebih cenderung mengenai organ ekstraparu. Partikel pertikel kuman tuberkulosis akan masuk ke dalam saluran pernapasan yaitu di bagian distal dari ruang udara pada saluran pernapasan ( distl air spaces) dan mengalami multiplikasi. Bakteri-bakteri ini difagositosis oleh makrofag yang terdapat pada alveoli dan menyebabkan terjadinya reaksi granulomatosa yang turut melibatkan kelenjar getah bening regional. Reaksi granulomatosa yang disertai dengan adanya invasi terhadap kelenjar getah bening ini membentuk focus Ghon. Bakteri basil tuberkulosis akan berada dalam kondisi yang dorman pada focus Ghon ini, meskipun pada kondisi tertentu akan mengalami reaktivasi kembali.(4)

VI.

EFEK KEHAMILAN TERHADAP TUBERKULOSIS.

Penyakit tuberkulosis bukan saja menyumbang kepada beban penyakit secara umum pada peringkat global, tetapi juga turut meningkatkan mortalitas pada maternal dan menjadi salah satu dari tiga penyebab utama kematian wanita pada usia reproduktif yaitu pada umur 15-45 tahun. Pada beberapa penelitian yang lalu menyatakan, kavitas pulmoner yang terbentuk pada penyakit tuberkulosis dikatakan akan kolaps akibat peningkatan tekanan intraabdonimal yang disebabkan oleh kehamilan. Hal ini juga turut didukung oleh seorang ahli kedokteran german di mana beliau juga turut merekomendasikan terhadap wanita usia reproduktif dengan penyakit TB ini untuk menikah dan hamil untuk memperlambatkan progresi dari penyakit ini. Hal ini dipraktekaan di beberapa buah daerah di German sehingga abad ke-19. Namun pada abad ke-20, abortus provokatus malah direkomendasikan terhadap wanita-wanita ini. Namun, menurut penelitian yang dilakukan oleh Hedvall dan Schaefer, menyatakan bahwa kehamilan tidak memberikan sebarang efek yang menguntungkan maupun yang buruk terhadap progresi penyakit

tuberkulosis.Malah hal yang terjadi adalah, kehamilan itu sendiri akan meningkatkan risiko reaktivasi pada tuberkulosis yang laten.(4)

VII.

EFEK TUBERKULOSIS TERHADAP KEHAMILAN.

Pengaruh penyakit TB pada kehamilan dipengaruhi oleh pelbagai faktor, termasuklah derajat penyakit itu sendiri, seberapa parah penyakit TB tersebut pada saat didiagnosis dengan TB, adanya penyebaran ekstrapulmoner, koinfeksi dengan HIV dan pengobatan yang diberikan. Prognosis yang paling jelek dilaporkan pada wanita yang tediagnosis TB pada saat puerperium dan

adanya koinfeksi dari HIV. Kegagalan untuk berobat secara teratur juga akan memperburuk prognosis. Komplikasi obstetri lain yang dilaporkan terjadi berhubungan dengan penyakit TB pada kehamilan adalah terjadinya abortus spontan, dan penambahan berat badan saat kehamilan yang suboptimal. Komplikasi lain yang turut dilaporkan adalah kelahiran preterm, berat badan lahir yang rendah, dan meningkatnya mortalitas neonatal. (4-6)

VIII.

EFEK TUBERKULOSIS TERHADAP NEONATUS.

Infeksi TB dapat menginfeksi plasenta, bisanya dalam bentuk granuloma. Keadaan ini menyebabkan infeksi pada janin yang menyebabkan tuberkulosis kongenital. Tuberkulosis kongenital juga termasuk bayi yang terinfeksi akibat dari aspirasi sekret pada proses persalinan. Neonatal tuberkulosis dapat mencetuskan infeksi kongenital lainnya, hepatosplenomegali, distres pernapasan, demam, dan limfadenopati. Terdapat literatur yang mengatakan
bahwa bayi dapat terinfeksi dengan kuman tuberkulosa secara intrauterus sekiranya ibu menderita TB milier, TB plasenta atau uterus dan jika ibu menderita advanced HIV.(7)

Tuberkulosis neonatal juga jarang terjadi bila ibu sudah mendapatkan pengobatan sebelum persalinan atau bila uji sputum BTA negatif. Pada ibu dengan TB aktif resiko penularan pada bayi adalah sekitar 50% pada tahun pertama. Tuberkulosis kongenital juga mungkin agak sulit untuk dibedakan dengan penyakit saluran pernapasan lain yang umumnya terjadi pada minggu kedua dan ketiga hidup seorang bayi. Gejala-gejala ini termasuklah hepatosplenomegali, demam dan limfadenopati serta distress pernapasan. Walau bagaimanapun, diagnosis pada tuberkulosis ini dapat ditegakkan dengn menggunakan criteria dari Cantwell et al, di mana diagnosis TB pada neonates dapat ditegakkan dengan

membuktikan adanya kompleks hepatik primer/caseating granuloma, pada biopsi perkutaneus pada hepar pada saat bayi lahir, infeksi tuberkulosis pada plasenta dan dengan membuktikan adanya lesi tuberkulosis pada minggu pertama setelah kelahiran bayi.(4, 5) Referensi lain juga turut membahas tentang bagaimana untuk menegakkan diagnosis TB kongenital, yaitu bayi harus terbukti diagnosis TB dan memenuhi salah satu dari kriteria Beitzke yang telah di revisi yaitu (1) lesi pada minggu pertama kehidupan, (2) komplek primer hati atau granuloma hati kaseosa, (3) infeksi TB pada plasenta atau pada infeksi traktus genitalia, (4) kemungkinan transmisi pasca natal telah disingkirkan.(2)

IX.

DIAGNOSIS Gejala klinis. Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan. Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain tb, seperti bronkiektasis, bronkitis kronis, asma, kanker paru, dan lain-lain. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala tersebut diatas, dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung.(1)

Pemeriksaan Laboratorium. Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa SewaktuPagi-Sewaktu (SPS); S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. Pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua. P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera setelah bangun pagi. tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK. S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua, saat menyerahkan dahak. (1)

. Gambar 2. Alur diagnosis TB paru (dikutip dari kepustakaan 1) Indikasi pemeriksaan foto toraks Pada sebagian besar TB paru, diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks. Namun pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut: Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. Pada kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis TB paru BTA positif. (lihat bagan alur pada gambar di atas) Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada

perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. (lihat bagan alur pada gambar di atas) Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan penanganan khusus (seperti: pneumotorak, pleuritis

eksudativa,efusi perikarditis atau efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan bronkiektasis atau aspergiloma).(1)

Diagnosis TB pada kehamilan. Pada wanita hamil yang mempunyai gejala penyakit TB,dianjurkan untuk melakukan tes tuberculin. Penelitian sebelumnya menyatakan terdapat penurunan sensitivitas tes tuberculin yang dilakukan saat kehamilan, namun studi terbaru mengatakan tidak terdapat perbedaan signifikan terhadap sensitivitas tes tuberculin yng dilakukan terhadap wanita hamil. Pemeriksaan foto toraks dapat dilakukan setelah uji tuberculin dilakukan. Namun pemeriksaan radiologi ini harus memmakai pelindung timah pada abdomen sehingga bahaya radiasi dapat diminimalisasi. Pada trimester I kehamilan hindari pemeriksaan foto toraks karena efek radiasi yang sedikit pun masih berdampak negatif pada sel-sel muda janin. Diagnosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan hapusan sputum dan ditemukan basil tahan asam serta tes-tes lain seperti kultur, PCR, dan interferon gamma kuantitatif pada infeksi laten TBC. (4, 5)

X.

PENATALAKSANAAN Pengobatan Umum TB Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT.(1) Prinsip pengobatan Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip - prinsip sebagai berikut: OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan.Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi) . Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap,yaitu tahap intensif dan lanjutan. 1. Tahap awal (intensif) Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.

Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan.

2. Tahap Lanjutan Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.(1)

Tabel 1. Jenis, sifat dan dosis OAT. (Dikutip dari kepustakaan 1)

Paduan OAT dan peruntukannya. 1. Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru: Pasien baru TB paru BTA positif. Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif Pasien TB ekstra paru

2. Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya: Pasien kambuh

Pasien gagal pengobatan Pasien dengan pengobatan setelah default(terputus)

3. OAT Sisipan (HRZE) Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari).(1)

Pengobatan TB pada Kehamilan. Pada prinsipnya pengobatan TB pada kehamilan tidak berbeda dengan pengobatan TB pada umumnya. Menurut WHO, hampir semua OAT aman untuk kehamilan, kecuali streptomisin. Streptomisin tidak dapat dipakai pada kehamilan karena bersifat permanent ototoxic dan dapat menembus barier plasenta. Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan dilahirkan. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting artinya supaya proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkan terhindar dari kemungkinan tertular TB. (1) Pengobatan TBC menurut rekomendasi WHO adalah pemberian 4 regimen kombinasi dari isoniazid, rifampisisn, etambutol, dan pirazinamid selama 6 bulan. Cara pengobatan sama dengan yang tidak hamil. Dapat juga diberikan 3 regimen kombinasi, isoniazid, rifampisin, etambutol selama 9 bulan. Angka kesembuhan 90% pada pengobatan selama 6 bulan Directly observed Therapy (DOT) pada infeksi baru.(4, 5, 8, 9)

Ibu menyusui dan bayinya Pada prinsipnya pengobatan TB pada ibu menyusui tidak berbeda dengan pengobatan pada umumnya. Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui. Seorang ibu menyusui yang menderita TB harus mendapat paduan OAT secara adekuat. Pemberian OAT yang tepat merupakan cara terbaik untuk mencegah

penularan kuman TB kepada bayinya. Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi tersebutdapat terus disusui. Pengobatan pencegahan dengan INH diberikan kepada bayi tersebut sesuai dengan berat badannya. Wanita menyusui yang berada pada pengobatan isoniazid juga dianjurkan untuk mengkonsumsi pyridoxine (vitamin B6) 10-25 mg per hari sebagai tambahan. Pemberian suplemen pyridoxine ini bertujuan mencegah kejadian kejang akibat kekurangan zat pyridoxine akibat efek samping dari pemberian isoniazid. Umumnya anak yang diberikan ASI dari ibu dengan penyakit TB tidak akan terinfeksi dengan kuman TB kecuali ibu yang mengalami mastitis tuberkulosa. (1, 8, 9)

Tabel 2. Langkah penanganan TBC pada kehamilan Sebelum kehamilan Selama kehamilan Konseling mnegenai pengaruh kehamilan dan TBC serta pengobatan Pemeriksaan penyaring tuberkulosis pada

populasi risiko tinggi. Perbaikan keadaan umum (gizi, anemia) Tuberkulosis bukan merupakan indikasi untuk melakukan pengguguran kandungan. Pengobatan dengan regimen kombinasi dapat segera dimulai begitu diagnosis ditegakkan. Antenatal Care dilakukan seperti biasa,

dianjurkan pasien dating lebih awal atau paling akhir untuk mencegah penularan pada orang sekitarnya. Saat Persalinan Persalinan dapat berlangsung seperti biasa. Penderita diberi masker untuk menutupi hidung

dan mulutnya agar tidak terjadi penyebaran kuman ke sekitarnya. Pemberian oksigen yang adekuat. Tindakan universal) Ekstraksi obstetric. Sebaiknya persalinan dilakukan di ruang isolasi, cegah perdarahan pasca persalinan dengan vakum/forceps bila ada indikasi pencegahan infeksi (kewaspadan

uterotonika. Pasca persalinan Observasi 6-8 jam kemudian penderita dapat langsung dipulangkan. Bila tidak mungkin

dipulangkan, penderita harus dirawat di ruang isolasi. Perawatan bayi harus dipisahkan dari ibunya sampai tidak terlihat tanda-tanda proses aktif lagi (dibuktikan dengan pemeriksaan sputum

sebanyak 3 kali dengan hasil selalu negatif) Pemberian ASI tidak merupakan kontraindikasi meskipun ibu mendapat OAT. Profilaksis neonates dengan isoniazid 10

mg/kg/hari dan vaksinasi BCG. (Dikutip dari kepustakaan 5) Multidrug-Resistant Tuberkulosis (MDR-TB) pada kehamilan Meskipun insidensi dari kasus Multidrug-Resistant Tuberkulosis (MDRTB) pada kehamilan ini sangatlah sedikit, namun ianya terkait dengan peningkatan angka mortalitas pada wanita hamil. Penanganan pada kasus ini

bersifat individual. Pada dasarnya, kejadian multidrug resistant ini terkait dengan ketidak patuhan individu itu sendiri pada awal pengobatan TB. Penanganan yang umumnya diberikan adalah obat anti tuberkulosa lini kedua dengan durasi selama 2 tahun. Obat-obat lini kedua yang biasanya diberikan adalah cycloserine, ofloxacin, ami-kacin, kanamycin, capreomycin, dan ethionamide. Namun begitu, pengobatan dengan obat-obatan ini tidak dianjurkan disebabkan pengaruhnya terhadap janin yang membahayakan. Asam para-amino salicylic telah banyak digunakan dengan

menggabungkan pengobatannya dengan isoniazid (INH). Gabungan dari kedua obat ini dikatakan tidak memberikan efek teratogenik yang signifikan. Namun dikatakan efek gastrointestinal yang diberikan kemungkinan agak besar. Penggunaan ethionamide dilaporkan mempunyai hubungan terhadap hambatan pertumbuhan dan abnormalitas dari sistim saraf pusat dan sistim skeletal pada penelitian yang dilakukan terhadap tikus dan kelinci. Pada studi manusia juga mendapati bahwa obat ini mempunyai hubungan dengan peningkatan terhadap defek sistim saraf pusat jika dikonsumsi pada awal kehamilan. Aborsi terapeutik merupakan salah satu pilihan dalam penanganan pada wanita dengan kasus TB dengan multidrug resistant. Pertimbangan untuk

melakukan aborsi ini adalah atas pertimbangan bahwa kasus MDR-TB ini memiliki resiko yang besar terhadap wanita hamil tersebut dan masyarakat. Pilihan lain yang dapat dilakukan untuk menangani kasus ini adalah dengan menunda pengobatan hingga ke trimester dua kehamilan. Pengobatan yang dikenal sebagai Individualised Treatment Regimen (ITR) juga telah diperkenalkan untuk mengobati wanita hamil dengan MDR-TB. Pengobatan ini terdiri dari gabungan beberapa jenis obat anti-tuberkulosa lini kedua berdasarkan sensitivitas kuman TB terhadap tipe obat yang berkaitan. Pengobatan dengan metode ini ternyata tidak memberikan sebarang komplikasi obstetric yang membahayakan kehamilan. (4, 9)

Penyakit TB dengan HIV pada kehamilan. Penyakit TB dan HIV merupakan dua penyakit yang sering berhubung kait antara satu dengan yang lain. Efek dari kedua penyakit yang saling tumpang tindih ini memperburuk mortalitas dan morbiditas pada ibu yang hamil. Permasalahan yang turut dijadikan pertimbangan dalam mengobati kedua penyakit ini adalah masalah kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat yang terlalu banyak diberikan demi khusus buat kedua penyakit ini serta efek samping obat dari pengobatan HIV dan TB yang saling tumpang tindih. Regimen pengobatan pada wanita hamil dengan koinfeksi TB dan HIV ini harusalah memasukkan rifamycin sebagai salah satu dari obat-obatanya. Meskipun penggunaan pirazinamid tidak terlalu direkomendasikan terutamanya di Amerika, namun atas pertimbangan manfaat yang lebih menguntungkan disbanding dengan efek yang kurang baik yang dihasilkan, maka obat ini tetap diberikan khusus pada pengobatan TB pada wanita yang hamil dengan koinfeksi dengan HIV.(4, 9, 10)

XI.

PENCEGAHAN TUBERKULOSIS

Pemberian vaksin BCG telah diwajibkan menurut beberapa polisi tentang imunisasi di berbagai Negara. Wanita yang belum immune dan berencana untuk mengunjungi Negara yang endemic terhadap penyakit TB disrankan untuk mendapatkan suntikan vaksin BCG. Meskipun begitu, pemberian vaksin adalah menjadi kontraindikasi pada saat kehamilan. Oleh karena penyakit ini dikatakan penyakit yang disebabkan oleh kemiskinan dan pola hidup yang kurang bersih, maka usaha haruslah ditujukan buat memperbaiki kualitas hidup, yaitu dengan mengusahakan supaya ada ventilasi yang baik, dan menyarankan masyarakat supaya mengelakkan over-crowding. Usaha lain yang harus dilakukan adalah dengan memperbaiki status nutrisi

individu agar secara tidak langsung dapat dielakkan dari mendapat penyakit ini. Oleh karena penderita yang mendapat HIV lebih rentan terhadap penyakit TB, maka usaha juga harus ditumpukan dalam mencegah terjadinya infeksi HIV. Selain itu, skrining awal juga harus dilakukan pada semua ibu hamil dengan HIV meskipun belum didapatkan tanda-tanda awal tentang adanya penyakit TB ini. (4)

DAFTAR PUSTAKA

1. Supari SF. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. In: Tjandra Yoga Aditama SK, Carmelia Basri, et al, editor. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2 ed; 2006. 2. Bobby S Dharmawan DBS, Rinawati R. Diagnosis dan Tata Laksana Neonatus dari Ibu Hamil Tuberkulosis Aktif. Sari Pediatri. 2004;6(2):85-90. 3. Hiswani M. Tuberkulosis Merupakan Penyakit Infeksi Yang Masih Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 2001;1(1):6. 4. Olabisi M. Loto IA. Tuberculosis in Pregnancy: A Review. Journal of Pregnancy. [Review Article]. 2011 September 2011;2012(3):7. 5. Prawirohard S. Penyakit saluran pernapasan In: Saifuddin AB, editor. Ilmu Kebidanan. Ketiga ed. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2012. p. 814. 6. Queensland Tuberculosis Control Centre ; Guidelines For treatment of

tuberculosis in Pregnancy. 2006 1 [updated 2006 1 2006; cited 2013]; Available from: www.queenslandtuberculosiscontrolcentre.com. 7. Muneerah Albugami AT, Abdulaziz AlRashed. Difficulties in diagnosing tuberculosis in pregnancy. Ann Saudi Med. 2009;2(29):154. 8. Pregnancy and Tuberculosis; Information for Clinicians. 2013 [updated 2013 Januari 2013; cited 2013 Jun]; Available from: www.hpa.org.uk. 9. Amita Mahendru KG, John Eddy Review Diagnosis and management of

tuberculosis in pregnancy. The Obstetrician & Gynaecologist. 2010;12:163-71. 10. National Center for HIV/AIDS, Viral Hepatitis, STD, and TB Prevention; TB Elimination Tuberculosis and Pregnancy. [2003; cited 2013 June]; Available from: www.cdc.gov/tb.