Anda di halaman 1dari 19

A.

PENGERTIAN

Penyakit Parkinson merupakan suatu gangguan neurologis progsesif yang mengenai pusat otak yang bertanggung jawab untuk mengontrol dan mengatur gerakan karateristik yang mucul berupa bradikinesia (perlambatan gerakan), tremor dan kekakuan otot (Smeltzer dan Bare, 2002). Parkinsonisme merupakan istilah dari suatu sindrom yang ditandai dengan tremor ritmik, bradikinesia, kekakuan otot dan hilangnya refleks-refleks postural. Kelainan pergerakan diakibatkan oleh defek jalur dopaminergik( produksi dopamine) yang menghubungkan subtansia nigra dengan korpus striatum ( nucleus kaudatus dan nucleus lentikularis). Basal ganglia adalah bagian dari sistem ekstrapiramidal dan berpengaruh untuk mengawali, modulasi, mengakhiri pergerakan, serta mengatur gerakan-gerakan otomatis ( Sylvia dan price, 1999).

B. ETIOLOGI

Penyakit Parkinson sering dihubungkan dengan kelainan neurotransmitter di otak dan faktor-faktor lainnya seperti : 1. Defisiensi dopamine dalam substansia nigra di otak memberikan respon gejala penyakit Parkinson, 2. Etiologi yang mendasarinya mungkin berhubungan dengan virus, genetik, toksisitas, atau penyebab lain yang tidak diketahui. Faktor Lingkungan a. Xenobiotik Berhubungan erat dengan paparan pestisida yang dapat menmbulkan kerusakan mitokondria b. Pekerjaan Lebih banyak pada orang dengan paparan metal yang lebih tinggi dan lama. c. Infeksi Paparan virus influenza intrautero diduga turut menjadi faktor predesposisi penyakit parkinson melalui kerusakan substansia nigra. Penelitian pada hewan

menunjukkan adanya kerusakan substansia nigra oleh infeksi Nocardia astroides. d. Diet Konsumsi lemak dan kalori tinggi meningkatkan stress oksidatif, salah satu mekanisme kerusakan neuronal pada penyakit parkinson. Sebaliknya,kopi merupakan neuroprotektif. e. Trauma kepala Cedera kranio serebral bisa menyebabkan penyakit parkinson, meski peranannya masih belum jelas benar f. Stress dan de.presi Beberapa penelitian menunjukkan depresi dapat mendahului gejala motorik. Depresi dan stress dihubungkan dengan penyakit parkinson karena pada stress dan depresi terjadi peningkatan turnover katekolamin yang memacu stress oksidatif.

C. TANDA DAN GEJALA Meskipun gejala yang disampaikan di bawah ini bukan hanya milik penderita parkinson, umumnya penderita parkinson mengalami hal itu.

1. Gejala Motorik a. Tremor/bergetar Gejala penyakit parkinson sering luput dari pandangan awam, dan dianggap sebagai suatu hal yang lumrah terjadi pada orang tua. Salah satu ciri khas dari penyakit parkinson adalah tangan tremor (bergetar) jika sedang beristirahat. Namun, jika orang itu diminta melakukan sesuatu, getaran tersebut tidak terlihat lagi. Itu yang disebut resting tremor, yang hilang juga sewaktu tidur. Tremor tidak hanya terjadi pada tangan atau kaki, tetapi bisa juga terjadi pada kelopak mata dan bola mata, bibir, lidah dan jari tangan (seperti orang menghitung uang). Semua itu terjadi pada saat istirahat/tanpa sadar. Bahkan, kepala penderita bisa bergoyang-goyang jika tidak sedang melakukan aktivitas (tanpa sadar). Artinya, jika disadari, tremor tersebut bisa berhenti. Pada awalnya tremor hanya terjadi pada satu sisi, namun semakin berat penyakit, tremor bisa terjadi pada kedua belah sisi.

b. Rigiditas/kekakuan Tanda yang lain adalah kekakuan (rigiditas). Jika kepalan tangan yang tremor tersebut digerakkan (oleh orang lain) secara perlahan ke atas bertumpu pada pergelangan tangan, terasa ada tahanan seperti melewati suatu roda yang bergigi sehingga gerakannya menjadi terpatah-patah/putus-putus. Selain di tangan maupun di kaki, kekakuan itu bisa juga terjadi di leher. Akibat kekakuan itu, gerakannya menjadi tidak halus lagi seperti break-dance. Gerakan yang kaku membuat penderita akan berjalan dengan postur yang membungkuk. Untuk mempertahankan pusat gravitasinya agar tidak jatuh, langkahnya menjadi cepat tetapi pendek-pendek. Adanya hipertoni pada otot fleksor ekstensor dan hipertoni seluruh gerakan, hal ini oleh karena meningkatnya aktifitas motorneuron alfa, adanya fenomena roda bergigi (cogwheel phenomenon).

c. Akinesia/Bradikinesia Kedua gejala di atas biasanya masih kurang mendapat perhatian sehingga tanda akinesia/bradikinesia muncul. Gerakan penderita menjadi serba lambat. Dalam pekerjaan sehari-hari pun bisa terlihat pada tulisan/tanda tangan yang semakin mengecil, sulit mengenakan baju, langkah menjadi pendek dan diseret. Kesadaran masih tetap baik sehingga penderita bisa menjadi tertekan (stres) karena penyakit itu. Wajah menjadi tanpa ekspresi. Kedipan dan lirikan mata berkurang, suara menjadi kecil, refleks menelan berkurang, sehingga sering keluar air liur. Gerakan volunteer menjadi lambat sehingga berkurangnya gerak asosiatif, misalnya sulit untuk bangun dari kursi, sulit memulai berjalan, lambat mengambil suatu obyek, bila berbicara gerak lidah dan bibir menjadi lambat. Bradikinesia mengakibatkan berkurangnya ekspresi muka serta mimik dan gerakan spontan yang berkurang, misalnya wajah seperti topeng, kedipan mata berkurang, berkurangnya gerak menelan ludah sehingga ludah suka keluar dari mulut.

d. Tiba-tiba Berhenti atau Ragu-ragu untuk Melangkah Gejala lain adalah freezing, yaitu berhenti di tempat saat mau mulai melangkah, sedang berjalan, atau berputar balik; dan start hesitation, yaitu ragu-ragu untuk mulai melangkah. Bisa juga terjadi sering kencing, dan sembelit. Penderita menjadi lambat berpikir dan depresi.
13

Bradikinesia

mengakibatkan kurangnya ekspresi muka serta mimic muka. Disamping itu, kulit muka seperti berminyak dan ludah suka keluar dari mulut karena berkurangnya gerak menelan ludah.

e. Mikrografia Tulisan tangan secara gradual menjadi kecil dan rapat, pada beberapa kasus hal ini merupakan gejala dini.

f. Langkah dan gaya jalan (sikap Parkinson) Berjalan dengan langkah kecil menggeser dan makin menjadi cepat (marche a petit pas), stadium lanjut kepala difleksikan ke dada, bahu membengkok ke depan, punggung melengkung bila berjalan.

g. Bicara monoton Hal ini karena bradikinesia dan rigiditas otot pernapasan, pita suara, otot laring, sehingga bila berbicara atau mengucapkan kata-kata yang monoton dengan volume suara halus ( suara bisikan ) yang lambat.

h. Dimensia Adanya perubahan status mental selama perjalanan penyakitnya dengan deficit kognitif.

i. Gangguan behavioral Lambat-laun menjadi dependen ( tergantung kepada orang lain ), mudah takut, sikap kurang tegas, depresi. Cara berpikir dan respon terhadap pertanyaan lambat (bradifrenia) biasanya masih dapat memberikan jawaban yang betul, asal diberi waktu yang cukup.

j. Gejala Lain Kedua mata berkedip-kedip dengan gencar pada pengetukan diatas pangkal hidungnya (tanda Myerson positif)

2. Gejala non motorik a. Disfungsi otonom -Keringat berlebihan, air ludah berlebihan, gangguan sfingter terutama inkontinensia dan hipotensi ortostatik. -Kulit berminyak dan infeksi kulit seborrheic -Pengeluaran urin yang banyak -Gangguan seksual yang berubah fungsi, ditandai dengan melemahnya hasrat seksual, perilaku, orgasme. b. Gangguan suasana hati, penderita sering mengalami depresi c. Ganguan kognitif, menanggapi rangsangan lambat d. Gangguan tidur, penderita mengalami kesulitan tidur (insomnia) e. Gangguan sensasi, kepekaan kontras visuil lemah, pemikiran mengenai ruang, pembedaan warna, penderita sering mengalami pingsan, umumnya disebabkan oleh hypotension orthostatic, suatu kegagalan sistemsaraf otonom untuk melakukan penyesuaian tekanan darah sebagai jawaban atas perubahan posisi badan berkurangnya atau hilangnya kepekaan indra perasa bau ( microsmia atau anosmia),

D. PATOFISIOLOGI Dua hipotesis yang disebut juga sebagai mekanisme degenerasi neuronal pada penyakit Parkinson ialah: hipotesis radikal bebas dan hipotesis neurotoksin. 1. Hipotesis Radikal Bebas Diduga bahwa oksidasi enzimatik dari dopamine dapat merusak neuron nigrotriatal, karena proses ini menghasilkan hidrogren peroksid dan radikal oksi lainnya. Walaupun ada mekanisme pelindung untuk mencegah kerusakan dari stress oksidatif, namun pada usia lanjut mungkin mekanisme ini gagal.

2. Hipotesis Neurotoksin Diduga satu atau lebih macam zat neurotoksik berpera pada proses neurodegenerasi pada Parkinson. Pandangan saat ini menekankan pentingnya ganglia basal dalam menyusun rencana neurofisiologi yang dibutuhkan dalam melakukan gerakan, dan bagian yang diperankan oleh serebelum ialah mengevaluasi informasi yang didapat sebagai umpan balik mengenai pelaksanaan gerakan. Ganglia basal tugas primernya adalah mengumpulkan program untuk gerakan, sedangkan serebelum memonitor dan melakukan pembetulan kesalahan yang terjadi seaktu program gerakan diimplementasikan. Salah satu gambaran dari gangguan ekstrapiramidal adalah gerakan involunter.

E. KOMPLIKASI Adapun komplikasi pada penyakit Parkinson ini dapat dilihat dari imobilisasi seperti pneumonia infeksi saluran perkemihan dan jika penderita terjatuh dapat menyebabkan kematian. Selain itu penyakit Parkinson dapat menyebabkan komplikasi gangguan fungsi pernafasan, gangguan okulomotorius (pandangan yang kabur). Kelelahan dan nyeri otot juga dialami penderita Parkinson. F. Pemeriksaan Diagnostik Diagnostik Tidak ada test khusus untuk mendiagnosa penyakit Parkinson, Hasil diagnosa didasarkan pada riwayat dan pemeriksaan fisik. a. Rontgen dada : tampak scoliosis b. Rontgen tengkorak : normal c. Computed tomography (CT) scan : normal ( dengan riwayat demensia kronik mungkin tampak atrophy cerebral) d. Elektroccephalography : normal tau menunjukkan minimum dan/atau disorganisasi (ditandai dengan dementia dan bardikinensia, mungkin menunjukkan moderat sampai menunjukkan tanda dan difusi disorganisasi) e. Cineradiographic study of swallowing (menelan) : gambaran abnormal, relaksasi yang tertahan dari otot cricopharingeal

G. Penatalaksanaan Medis Tujuan utama perawatan medis adalah mengatasi gejala yang timbul dengan obat-obatan. Beberapa penatalaksanaan yang sedang dilakukan adalah

dengan neurotransplantantion dari jaringan medula ginjal, tetapi langkah ini masih dalam tahap persiapan untuk pengembangannya.

1. Penatalaksanaan Umum a. Therapi fisik : untuk memelihara hubungan mobilitas dan gaya berjalan yang normal. b. Ocupational therapi (therapi kerja) : Untuk menolong pasien

berpartisipasi dalam kegiatan sehari hari (ADL). c. Therapi suara : Untuk fasilitas komunikasi d. Psychotherapi : Untuk fasilitas pasien menyesuaikan diri secara

alamiah dengan penyakit yang kronis.

2. Therapi obat-obatan Penatalaksanaan medis dapat dilakukan dengan medikamentosa seperti: a. Antikolinergik untuk mengurangi transmisi kolinergik yang berlebihan ketika kekurangan dopamin. b. Levodopa, merupakan prekursor dopamine, dikombinasi dengan karbidopa, inhibitor dekarboksilat, untuk membantu pengurangan Ldopa di dalam darah dan memperbaiki otak. c. Bromokiptin, agonis dopamine yang mengaktifkan respons dopamine di dalam otak. d. Amantidin yang dapat meningkatkan pecahan dopamine di dalam otak. e. Menggunakan monoamine oksidase inhibitor seperti deprenil untuk menunda serangan ketidakmampuan dan kebutuhan terapi levodopa.

H. Penatalaksanaan Keperawatan 1. Pengkajian Pengumpulan data subjektif dan objektif pada klien dengan gangguan system persarafan meliputi anamnesis riwayat penyakit,pemeriksaan fisik,pemeriksaan diagnostic, dan pengkajian psikososial. 2. Anamnesis Identitas klien meliputi nama,umur (lebih sering pada kelompok usia lanjut, pada usia 50-an dan 60-an),jenis kelamin (lebih banyak pada laki-laki),

pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam masuk rumah sakit, nomer register,diagnosis medis. a. Keluhan utama yang sering menjadi alas an klien untuk meminta pertolongan kesehatan adalah gangguan gerakan, kaku otot, tremor menyeluruh,kelemahan otot, dan hilangnya refleks postural b. Riwayat penyakit saat ini Pada anamnesis, sering klien mengeluh adanya tremor pada salah satu tangan dan lengan, kemudian ke bagian yang lain, dan akhirnya bagian kepala, walaupun tremor ini tetap unilateral. Karakteristik tremor dapat berupa lambat,gerakan membalik (pronasi-supinasi) pada lengan bawah dan telapak tangan, dan gerakan ibu jari terhadap jari-jari seolah-olah memutar sebuah pir di antara jari-jari. Keadaan ini meningkat bila klien sedang berkonsentrasi atau merasa cemas dan muncul pada saat klien istirahat. c. Keluhan lainnya pada penyakit meliputi adanya perubahan pada sensasi wajah,sikap tubuh dan gaya berjalan. Adanya keluhan rigiditas deserebrasi, berkeringa,kulit berminyak dan sering menderita dermatitis seboroik, sulit mewnelan, konstipasi, dan gangguan kandung kemih yang diperberat oleh obat-obat antikolinergik dan hipertrofi prostat.

Pertanyaan yang bias di sampaikan pada klien pada pengkajian ini meliputi: Apakah anda mengalami kekakuan tangan atau kaki ? Apakah anda mengalami sentakan tidak teratur pada tangan atau kaki? Apakah anda mengalamibeku atau terpaku dan tidak mampu bergerak? Apakah air liur anda berlebihan? Pernakah anda (orang lain) melihat anda meringis atau membuat gerakan wajah atau mengunyah? Aktivitas fisik apa yang sulit anda lakukan?

d. Riwayat penyakit dahulu Pengkajian yang dilakukan adalah dengan mengajukan pertanyaan tentang adanya riwayat hipertensi,diabetes mellitus,penyakit jantung,

anemia,penggunaan obat-obat antokoagulan aspirin,vasodilator, dan penggunaan obat anti kolinergik dalam jangka waktu lama. e. Riwayat penyakit keluarga Walaupun tidak ditemukan adanya hubungan penyakit Parkinson dengan sebab genetic yang jelas, perawat perlu melakukan pengkajian riwayat penyakit pada keluarga. Pengkajian dilakukan dengan menanyakan apakah ada anggota keluarga terdahulu yang menderita hipertensi dan diabetes mellitus. Hal ini diperlukan untuk melihat adanya komplikasi penyakit lain yang dapat mempercepat progresifnya penyakit.

3. Pengkajian psiko-sosio-spiritual Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien perlu dilakukan untuk menilai respon emosi klien terhadap penyakit yang di deritanya,perubahan peran klien dalam keluarga dan masyarakat, dan respons atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ata pun dalam masyarakat. Apakah klien mengalami dampak yang timbul akibat penyakit seperti ketakutan akan kecacatan, rasa cemas, rasa ketidak mampuan untuk melakukan aktifitas secara optimal,dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan citra tubuh). Adanya perubahan hubungan dan peran disebabkan oleh karena klien mengalami kesulitan untuk berkomunikasi akibat gangguan bicara. Pola persepsi dan konsep diri yang ditemukan adalah klien merasa tidak berdaya,tidak ada harapan, mudah marah, dan tidak kooperatif. Perubahan yang terpenting pada klien dengan penyakit Parkinson adalah persepsi dan penurunan memori(ingatan). Beberapa manifestasi psikiatrik(perubahan kepribadian,psikosis,demensia,konfusi akut) umumnya terjadi pada lansia.

4. Pemeriksaan fisik Setelah melakukan anamnesis yang mengarah pada keluhan-keluhan klien, pemeriksaan fisik sangat berguna untuk mendukung data yang diperoleh dari pengajian anamnesis. Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan per system ( B1-

B6) dan terarah dengan focus pemeriksaan fisik pada pemeriksaan B3 dan dihubungkan dengan keluhan klien.

5. Keadaan umum Klien dengan penyakit Parkinson umumnya tidak mengalami penurunan kesadaran. Adanya perubahan pada tanda vital, yaitu brakikardi,hipotensi,dan penurunan frekuensi pernafasan. a. B1 (BREATHING) Gangguan fungsi pernafasan yang terjadi berkaitan dengan hipoventilasi, inaktivitas, aspirasi makanan atau saliva, dan berkurangnya fungsi pembersihan saluran nafas. Inspeksi,ditemukan klien batuk atau mengalami penurunan kemampuan untuk batuk efektif,peningkatan produksi sputum, sesak nafas, dan penggunaan otot bantu nafas. Palpasi, ditentukan taktil premitus seimbang kanan dan kiri. Perkusi, ditemukan adanya suara resonan pada seluruh lapang paru. Auskultasi, ditemukan bunyi nafas tambahan seperti nafas berbunyi,stridor,ronkhi pada klien dengan peningkatan produksi secret dan kemampuan batuk yang menurun yang sering ditemukan pada klien inaktivitas.

b. B2(BLOOD) Hipotensi postural yang terjadi berkaitan dengan efek samping pemberian obat dan juga gangguan pada pengatur tekanan darah oleh system saraf otonom.

c. B3(BRAIN) Pengkajian B3 (BRAIN) merupakan pemeriksaan focus dan lebih lengkap dibandingkan pengkajian pada system lainnya. Pada inspeksi umum ditemukan perubahan pada gaya berjalan,tremor secara umum pada seluruh otot, dan kaku pada seluruh gerakan.

6. Tingkat kesadaran Tingkat kesadaran klien biasanya compos mentis dan juga bergantung pada penurunan aliran darah serebri regional mengakibatkan perubahan pada status kognitif klien.

7. Pemeriksaan fungsi serebri Status mental: biasanya mengalami perubahan yang berhubungan dengan penurunan status kognitif, penurunan persepsi,dan penurunan memori baik jangka pendek dan memori jangka panjang. Pemeriksaan saraf cranial a. Saraf I.Biasanya pada klien cedera tulang belakang tidak ditemukan kelainan dan fungsi penciuman tidak ada kelainan. b. Saraf II.hasil uji ketajaman pengelihatan mengalami perubahan sesuai tingkat usia, biasanya klien lanjut usia dengan penyakit Parkinson mengalami penurunan ketajaman pengelihatan. c. Saraf III,IV,dan VI.gangguan saraf okulomotorius:sewaktu melakukan konvergensi pengelihatan menjadi kabur karena tidak mampu mempertahankan kontraksi otot-otot bola mata. d. Saraf V.pada klien dengan penyakit Parkinson umumnya ditemukan perubahan pada otot wajah.adanya keterbatasan otot wajah menyebabkan ekspresi wajah klien mengalami penurunan,saat bicara wajah seperti topeng (sering mengedipkan mata). e. Saraf VII.persepsi pengecapan dalam batas normal f. Saraf VIII.adanya tuli konduksi dan tuli persepsi yang berhubungan dengan proses senilis dan penurunan aliran darah regional. g. Saraf IX dan X. Ditemukan kesulitan dalam menelan makanan. h. Saraf XI. Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius. i. Saraf XII.lidah simetris,tidak di temukan deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi.indra pengecap normal.

System motorik a. Inspeksi umum, ditemukan perubahan pada gaya berjalan,tremor secara umum pada seluruh otot, dan kaku pada seluruh gerakan. klien sering mengalami rugiditas deserebrasi.

b. Tonus otot, ditemukan meningkat c. Keseimbangan dan koordinasi, ditemukan mengalami gangguan karena adanya kelemahan otot, kelelahan, perubahan pada gaya berjalan,tremor secara umum pada seluruh otot,dan kuku pada seluruh gerakan.

Pemeriksaan refleks Terdapat kehilangan refleks postural, apabila klien mencoba untuk berdiri,klien akan berdiri dengan kepala cenderung ke depan dan berjalan dengan gaya berjalan seperti di dorong. kesulitan dalam berputar dan hilangnya keseimbangan (salah satunya ke depan atau ke belakang) dapat menimbulkan sering jatuh.

Sistem sensorok Sesuai berlanjutnya usia,klien dengan penyakit Parkinson mengalami penurunan terhadap sensasi sensorik secara progresif. Penurunan sensorik yang ada merupakan hasil dari neuropati.

d. B4(BLADDER) Penurunan refleks kandung kemih perifer di hubungkan dengan disfungsi kognitif dan persepsi klien secara umum. Klien mungkin mengalami inkontinensia urine, ketidak mampuan mengomunikasikan kebutuhan, dan ketidak mampuan untuk menggunakan urinal karena kerusakan control motorik dan postural. Selama priode ini, dilakukan kateterisasi intermiten dengan teknik steril.

e. B5(BOWEL) Pemenuhan nutrisi berkurang yang berhubungan dengan asupan nutrisi yang kurangf karena kelemahan fisik umum, kelelahan otot, dan adanya tremor menyeluruh. Klien sering mengalami konstipasi karena penurunan aktivitas.

f. B6(BONE)

Adanya kesulitan untuk beraktivitas karena kelemahan, kelelahan otot,tremor secara umum pada seluruh otot dan kaku pada seluruh gerakan menyebabkan masalah pada pola aktivitas dan pemenuhan aktivitas seharihari. Adanya gannguan keseimbangan dan koordinasi dalam melakukan pergerakan Karena perubahan pada gaya berjalan dan kaku pada seluruh gerakan memberikan risiko pada trauma fisik bila melakukan aktivitas

I. Diagnosa Dan Intervensi Keperawatan Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kekakuan dan kelemahan otot. Tujuan: klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya dalam waktu 2x 24 jam kriteria hasil:klien dapat ikut serta dalam program latihan, tidak terjadi kontraktur sendi, bertambahnya kekuatan otot, klien menunjukan tindakan untuk meningkatkan mobilitas. Intervensi Rasional Kaji mobilitas yang ada dan observasi Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam peningkatan kerusakan. Kaji secara melakukan aktivitas. teratur fungsi motorik. Lakukan program latihan yang Meningkatkan koordinasi dan meningkatkan kekuatan otot. ketangkasan,menurunkan kekuatan otot dan mencegah kontraktur bila otot tidak di gunakan. Lakukan latihan postural Latihan postural untuk melawan kecendrungan kepala dan leher tertarik ke depan dan belakang. Ajarkan teknik khusus: Teknik berjalan khusus dapat dipelajari untuk Ajarkan untuk berkonsentrasi pada mengimbangi gaya berjalan menyeret dan berjalan tegak,memandang lurus ke kecendrungan tubuh condong ke depan. depan, dan menggunakan cara berjalan dengan dasar lebar(misalnya berjalan dengan kaki terpisah). Klien dianjurkan untuk latihan berjalan dengan diiringan music marching band atau lagu, karena hal ini memberikan rangsangan sensorik. Latihan bernafas sambil berjalan membantu untuk menggerakan rangka tulang rusuk dan transpor oksigen untuk mengisi bagian paru-paru yang kadar oksigennya rendah. Melakukan periode istirahat yang sering untuk membantu pencegahan frustasi dan kelelahan. Anjurkan mandi hangat dan masase otot Mandi hangat dan masase membantu otot0otot rileks saat melakukan aktivitas pasif dan aktif dan mengurangi nyeri otot akibat spasme yang mengakibatkan kekakuan.

Bantu klien melakukan latihan ROM, perawatan diri, sesuai toleransi. Kolaborasi dengan ahli fisioterapis untuk latihan fisik klien.

Untuk memelihara fleksibilitas sendi sesuai kemampuan. Peningkatan kemampuan dalam mobilitas ekstermitas dapat ditingkatkan dengan latihan fisik oleh tim fisioterapis.

Deficit perawatan diri yang berhubungan dengan kelemahan neoromuskular, menurunnya kekuatan, kehilangan control otot/koordinasi Tujuan: Perawatan diri klien terpenuhi dalam waktu 2x24 jam kriteria hasil:klien dapat menunjukan perubahan gaya hidup untuk memenuhi kebutuhan merawat diri, klien mampu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan tingkat kemampuannya, mengindentifikasi personal/masyarakat yang dapat membantu. Intervensi Mandiri Kaji kemampuan dan tingkat penurunan dalam skala 0-4 untuk melakukan ADL Hindari apa yang tidak dapat dilakukan klien dan bantu bila perlu. Ajarkan dan dukung klien selama aktivitas Rasional Membantu dalam mengantisipasi dan merencanakan pertemuan kebutuhan individual. Menghindari klien dari keadaan cemas dan ketergantungan untuk mencegahfrustasi dan harga diri klien rendah Dukungan pada klien selama aktivitas kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan perawatan diri Klien akan mampu melihat dan memakan makanan, akan mampu melihat keluar masuknya orang ke ruangan. Modifikasi lingkungan diperlukan untuk mengompensasi ketidak mampuan fungsi. Gunakan pagar di sekeliling tempat tidur baik tempat tidur di rumah sakit dan di rumah,atau sebuah tali yang diikatkan pada kaki tempat tidur untuk member bantuan dalam mendorong diri untuk bangun tanpa bantuan orang lain. Ketidakmampuan berkomunikasi dengan perawat dapat menimbulkan masalah pengosongan kandung kemih oleh karena masalah neurogenik. Meningkatkan latihan dan menolong mencegah konstipasi. Pertolongan utama terhadap fungsi bowel atau buang air besar. Untuk mengembangkan terapi dan melengkapi kebutuhan khusus.

Rencanakan tindakan untuk mengatasi keterbatasan pengelihatan seperti tempatkan makanan dan peralatan dalam suatu tempat, dekatkan tempat tidur ke dinding. Modifikasi lingkungan Gunakan pagar di sekeliling tempat tidur.

Kaji kemampuan komunikasi untuk buang air kecil, kemampuan menggunakan urinal,pispot, antarkan ke kamar mandi bila kondisi memungkinkan. Identifikasi kebiasaan buang air besar, anjurkan minum dan meningkatkan aktivitas. Kolaborasi pemberian supositoria dan pelumas feses/pencahar Konsultasi ke dokter terapi okupasi.

Gangguan eleminasi alvi (konstipasi)yang berhubungan dengan medikasi dan penurunan aktivitas.

Tujuan: kebutuhan eleminasi alvi terpenuhi dalam waktu 2x24 jam kriteria hasil: klien dapat defekasi secara spontan dan lancar tanpa menggunakan obat,konsistensi feses lembek, tidak teraba massa pada kolon, bising usus normal (1530x/menit) Intervensi Rasional Monitor adanya konstipasi Klien Parkinson mempunyai masalah konstipasi berat. Factor-faktor yang menyebabkan kondisi ini adalah melemahnya otot-otot yang digunakan dalam defikasi, kurangnya latihan, tidak adekuatnya asupan cairan, dan penurunan aktivitas system saraf otonom dan obat-obatan digunakan untuk mengobati penyakit, juga menghambat sekresi normal usus. Berikan penjelasan pada klien dan keluarga Klien dan keluarga akan mengerti tentang tentang penyebab konstipasi penyebab obstipasi. Modifikasi defekasi yang teratur. Anjurkan Defekasi yang teratur dan rutin dapat pada klien untuk makan makanan yang membangun semangat klien untuk mengikuti mengandung serat pola yang teraur, sadar untuk meningkatkan asupan cairan dan makanan yang mengandung serat.diet seimbang tinggi kandungan serat merangsang peristatik dan eleminasi regular. Atur posisi toilet Dudukan toilet ditinggikan untuk memudahkan aktivitas toileting karena klien sulit bergerak dari posisi berdiri ke posisis duduk Bila klien mampu minum,berikan asupan Asupan cairan adekuat membantu cairan yang cukup (2liter/hari)jika tidak ada mempertahankan konsistensi feses yang kontraindikasi sesuai pada usus dan membantu eliminasi regular. Kolaborasikan dengan tim dokter dalam Pelunak feses meningkatkan efisiensi pelunakanan feses pembasahan air pada usus yang melunakakan (laksatif,supositoria,enema) massa feses dan membantu eliminasi.

Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan tremor, pelambatan dalam proses makan,kesulitan mengunyah dan menelan. Tujuan: terpenuhi dalam waktu 2x24 jam kriteria hasil: Intervensi Evaluasi kemampuan makan klien

Rasional Klien mengalami kesulitan dalam mempertahankan berat badan mereka.mulut mereka kering akibat obat-obatan dan mengalami kesulitan mengunyah dan menelan. Klien berisiko mengalami aspirasi akibat penurunan refleks batuk.

Obserevasi /timbang berat badan jika memungkinkan

Manajemen mencapai kemampuan menelan 1. Gangguan menelan disebabkan oleh tremor pada lidah,ragu-ragu dalam memulai menelan, kesulitan dalam membentuk makanan dalam bentuk bolus. 2. Makanan setengah padat dengan sedikt air memudahkan untuk menelan 3. Klien dianjurkanuntuk menelan secara berurutan 4. Klien di ajarkan untuk meletakkan makanan di atas lidah, menutup bibir dan gigi dan menelan. 5. Klien di ajurkan untuk mengunyah pertama kali pada satu sisi mulut dan kemudian kesisi lain. 6. Untuk mengontrol air liur, klien di anjurkan untuk menahan kepala tegak dan membuat keadaan sadr untuk menelan 7. Masase otot wajah dan leher sebelum makan dapat membantu. 8. Beriikan makanan kecil dan lunak Monitor pemakaian alat bantu

Tanda kehilangan berat badan (7-10%) dan kekurangan asupan nutrisimenunjang terjadinya masalah katabolisme, kandung glikogen dalam otot, dan kepekaan terhadap pemasangan ventilator Meningkatkan kemampuan klien dalam menelan dan dapat membantu pemenuhan nutrisi klien melalui oral.tujuan lain adalaha mencegah terjadinya kelelahan, memudahkan masuknya makanan dan mencegah gangguan pada lambung.

Kaji fungsi system gastrointestinal meliputi suara bising usus,catat terjadinya perubahan di dalam lambung seperti mual, muntah.observasi perubahan pergerakan usus misalnya diare, konstipasi Anjurkan pemberian cairan 2500cc/hari selama tidak terjadi gangguan jantung. Lakukan pemeriksaan laboratorium yang diindikasikan, seperti serum,transferin, BUN/kreatinin dan glukosa

Pemasangan elektrik digunakan untuk menjaga makanan tetap hangat dan klien diizinkan untuk istirahat selama waktu yang di tetapkan untuk makan,alat-alat khusus juga membantu makan. Penggunaan piring yang stabil,cangkir yang tidakpecah bila jatuh, dan alat-alat makan yang dapat digenggam sendiri digunakan sebagai alat bantu. Fungsi system gastrointestinal sangat penting untuk asupan makanan. Ventilator dapat menyebabkan kembung pada lambung dan pendarahan lambung. Mencegah terjadinya dehidrasi akibat penggunaan ventilator selama klien tidak sadar dan mencegah terjadinya konstipasi Memberikan informasi yang tepat tentang keadaan nutrisi yang dibutuhkan klien.

Hambatan komunikasi verbal yang berhubungan dengan penurunan volume bicara, pelambatan bicara, ketidak mampuan menggerakan otot-otot wajah

Tujuan: terpenuhi dalam waktu 2x24 jam kriteria hasil: Intervensi Kaji kemampuan klien untuk berkomunikasi

Menentukan cara-cara komunukasi seperti mempertahankan kontak mata,memberikan pertanyakan dengan jawaban ya dan tidak, menggunakan kertas dan pensil /bolpoin, gambar, atau papan tulis, bahasa isyarat, perjelas arti dari komunikasi yang disampaikan.

Pertimbangkan bentuk komunikasi bila terpasang kateter intravena Letakkan bel pemanggil dalam jangkauan klien dan berikan penjelaskan cara menggunakannya.jawab panggilan tersebut dengan segera. Penuhi kebutuhan klien.katakan kepada klien bahwa perawat siap membantu jika dibutuhkan. Buatlah catatan di kantor perawatan tentang keadaan klien yang tak dapat berbicara. Buat rekaman pembicaraan klien.

Rasional Gannguan bicara ditemukan pada banyak klien dengan penyakit Parkinson. Bicara mereka yang lemah, monoton, dan terdengar halus mmenuntut kesadaran berupaya untuk bicara dengan dengan lambat, dengan penekanan perhatian pada a[a yang mereka katakan. Mempertahankan kontak mata akan membuat klien tertarik selama komunikasi.jika klien dapat menggerakan kepala, mengedipkan mata atau senang dengan isyarat-isyarat sederhana,lebih baik dengan menggunakan pertanyaan ya/tidak. Kemampuan menulis kadang-kadang melelahkan klien, selain itu dapat mengakibatkan frustasi dalam upaya memenuhi kebutuhan komunikasi. Keluarga dapat bekerja sama untuk membantu memenuhi kebutuhan klien. Kateter intervena yang terpasng di tangan akan mengurangi kebebasan klien dalam menulis atau member isyarat Ketergantungan klien pada ventilator akan membuat klien lebih baik dan rileks, merasa amat, dan mengerti bahwa selama menggunakan ventilator, perawat akan memenuhi segala kebutuhannya. Mengingatkan staf perawat untuk berespons dengan klien selama memberikan perawatan. Rekaman pembicaraan klien dalam pita kaset secara periodic dibutuhkan dalam memantau perkembangan klien. Ampilifier kecil membantu bila klien mengalami kesulitan mendengar. Keluarga dapt merasa akrab dengan klien dan berada dekat klien selama berbicara. Pengalaman ini dapat membantu atau mempertahankan kontak nyata seperti merasakan kehadiran anggota keluarga yang dapat mengurai perasaan kaku. Ahli terapi wicara bahasa dapat membantu dalam membentuk peningkatan latihan percakapan dan membantu petugas kesehatan untuk mengembangkan metode komunikasi untuk memenuhi kebutuhan klien.

Anjurkan keluarga/ orang lain dekat dengan klien untuk berbicara dengan klien, memberikan informasi tentang keluarganya, dan keadaan yang sedang terjadi.

Kolaborasi dengan ahli wicara bahasa.

Koping individu tidak efektif yang berhubungan dengan depresi dan disfungsi karena perkembangan penyakit. Tujuan: terpenuhi dalam waktu 2x24 jam kriteria hasil: Intervensi Kaji perubahan gangguan persepsi dan hubungan dengan derajat ketidakmampuan Dukung kemampuan koping klien

Catat ketidak klien menyatakan sekarat atau mengingkari dan menyatakan inilah kematian.

Pernyataan pengakuan terhadap penolakan tubuh, mengingatkan kembali fakta kejadian tentang realitas bahwa masih dapat menggunakan sisi yang sakit dan belajar mengontrol sisi yang sehat Beri dukungan psikologis secara menyeluruh.

Bantu dan ajarkan perawatan yang baik dengan memperbaiki kebiasaan. Buat rencana program aktivitas harian pada keseluruhan hari

Anjurkan orang terdekat untuk mengizinkan klien melakukan sebanyak mungkin hal untuk dirinya. Dukung perilaku atau usaha seperti peningkatan minat atau partisipasi dalam aktivitas rehabilitasi. Monitor gangguan tidur,peningkatan kesulitan

Rasional Menentukan bantuaan individual dalam menyusun rencana perawatan atau pemilihan intervensi Kepatuhan terhadap program latihan dan berjalan membantu memperlambat kemajuan penyakit.dukungan dan sumber bantuan dapat diberikan melalui ketekunan berdoa dan penekanan keluar terhadap aktivitas dengan mempertahankan partisipasi aktif Mendukung penolakan terhadap bagian tubuh atau perasaan negative terhadap gambaran tubuh dan kemampuan yang menunjukkan kebutuhan dan intervensi serta dukungan emosional. Membantu klien untuk melihat bahwa perawat menerima kedua bagian sebagai bagian dari seluruh tubuh. Mengizinkan klien untuk merasakan adanya harapan dan mulai menerima situasi baru. Klien penyakit Parkinson sering malu,apatis, tidak adekuat,bosan,dan sering sendiri.perasaan ini dapat disebabkan akibat keadaan fisik yang lambat dan upaya yang besar dibutuhkan terhadap tugastugas kecil. Klien harus aktif berpartisipasi dalam program terapi yang mencangkup program social dan rekreasi. Membantu meningkatkan perasaan harga diri dan mengontrol lebih dari satu area kehidupan. Program aktivitas pada keseluruhan hari mencegah waktu tidur yang terlalu banyak yang dapat mengarah pada tidak adanya keinginan beraktivitas. Menghidupkan kembali perasaan kemandirian dan membantu perkembangan harga diri serta mempengaruhi proses rehabilitasi. Klien dapat beradaptasi terhadap perubahan dan pengertian tentang peran individu masa datang. Dapat mengindikasikan terjadinya

konsentrasi, letargi, dan penolakan.

Kolaborasi :rujuk pada ahli neuropsikologi dan konseling bila ada indikasi.

depresi.depresi umumnya terjadi sebagai pengaruh dari stroke yang memerlukan intervensi dan evaluasi lebih lanjut. Dapat memfasilitasi perubahan peran yang penting untuk perkembangan perasaan.kerja sama fisioterapi,psikoterapi,terapi obat-obatan dan dukungan partisipasi kelompok dapat menolong mengurangi depresi yang sering muncul dalam ke adaan ini.