Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga

laporan praktikum Anatomi dan Fisiologi Hewan yang berjudul Indera Perasa dan Indera Pembau ini dapat diselesaikan dengan baik. Penyelesaian laporan praktikum ini, tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, kami menyampaikan terima kasih kepada: 1. Asisten-asisten praktikum yang telah membimbing selama praktikum berlangsung 2. Probandus Tyas, Febby, dan Lidia beserta seluruh asisten probandus karena telah bersedia mengikuti serangkaian uji dalam praktikum ini 3. Rekan-rekan jurusan Biologi dan pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu Sesuai dengan kata pepatah Tiada Gading yang Tak Retak maka saya menyadari bahwa masih banyak yang perlu diperbaiki dari laporan ini. Oleh karena itu, saran dan kritik senantiasa diharapkan dari pembaca demi kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.

18 Oktober 2013

Penulis

3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Tabel Hasil Pengamatan 3.1.1. Bintik Buta No. 1. 2. 3. Jenis Probandus Mata Normal Mata Minus Mata Silinder Jarak bintik buta 28 cm 45 cm 47 cm

3.1.2. Batas Konvergensi No. 1. 2. 3. Jenis Probandus Mata Normal Mata Minus Mata Silinder Jarak ketika gambar terlihat bersentuhan 50 cm 7 cm 2 cm

3.1.3. Astigmatisme Pertanyaan 1 2 3 4 5 6 Normal Tidak Lebar dan gelap tidak sama Ya Berbeda Memutar Garis tidak sama terang Probandus Minus tidak Gelap sama lebar sama Ya Sama Memutar Sama lebar sama terang Silinder Tidak Lebar beda, gelap sama Ya Sama Memutar Sama lebar. Sama terang

3.1.4. Persepsi terang No. 1. Jenis Probandus Mata Normal Persepsi Terang FM FB M: tidak warna M: hitam B: hitam B: biru muda

2 3.

Mata Minus Mata Silinder

Ber: hitam M: tdk berwarna B: hitam Ber: abu-abu M: putih B: biru Ber: hitam

Ber: hitam M: tetap B: t. berwarna Ber: merah M: pink B: putih Ber: merah

3.1.5. Entoptic Pupil No. 1. 2. 3. Jenis Probandus Mata Normal Mata Minus Mata Silinder Entoptic Pupil MT : besar MB: kecil MT : besar MB: kecil MT : besar MB: kecil

3.1.6. Buta Warna dan Fenomena Purkinje No. 1. 2. 3. Probandus Mata Normal Mata Minus Mata Silinder Buta warna Salah: 4 Benar: 17 Salah: 1 Benar: 20 Salah : 2 Benar : 19 Fenomena Purkinje Filter : 3 Bisa melihat warna Filter: 4 Bisa melihat warna Filter : 3 Bisa melihat warna

3.1.5. Efek Seyelah Melihat Warna No. 1. Jenis Probandus Mata Normal Entoptic Pupil Biru >> Kuning Hijau>>Merah Kuning>>Merah Merah>>Hijau Biru >> biru Hijau>>biru Kuning>>kuning Merah>>merah

2.

Mata Minus

3.

Mata Silinder

Biru >> Kuning Hijau>>Merah Kuning>>Merah Merah>>kuning

3.1.8. Pola Akibat Getaran Warna No. 1. Jenis Probandus Mata Normal Entoptic Pupil Sama : abu-abu D. biru : Pink D. merah: pink D. kuning: hijau muda Sama : kuning D. biru : biru D. merah: ungu D. kuning: orange/jingga Sama : abu-abu D. biru : abu-abu D. merah: coklat D. kuning: putih tulang

2.

Mata Minus

3.

Mata Silinder

3.1.9. Getaran Akibat Hasil Kerja No. 1. 2. 3. Jenis Probandus Mata Normal Mata Minus Mata Silinder Entoptic Pupil Searah : keluar-kedalam Berlawanan : kedalam Searah : keluar Berlawanan : keluar Searah : keluar Berlawanan : keluar

Keterangan : Tidak suka pedas : Wulida Khoirunnisa Suka pedas : Lutvita Flu : Azzah Fauziah Perokok : Randi Bukan perokok : Rizar

3.2. Tabel Perlakuan 3.2.1. Uji Lokasi Reseptor No. Perlakuan 1. Probandus membersihkan mulut dengan berkumur air mineral kemudian lidah dikeringkan 2. Larutan/zat gula dioleskan dengan cotton bud ke beberapa lokasi di lidah, yakni di ujung, pangkal, tepi depan, dan tepi belakang 3. Dibiarkan sejenak lalu dirasakan bagian mana yang lebih peka 4. Probandus kembali berkumur dengan air. Kemudian megulangi perlakuanperlakuan diatas dengan menggunakan zat yang lainnya 3.2.2. Uji Mengetahui Waktu Sensasi No. Perlakuan 1. Probandus membersihkan mulut dengan berkumur air mineral dan lidah dikeringkan dengan tisu 2. Bagian lidah yang pada uji sebelumnya telah diketahui peka terhadap rasa manis, diolesi dengan cotton bud yang dicelupi gula Waktu yang dibutuhkan probandus untuk merasakan Fungsi Perlakuan Untuk menetralisir indera perasa dan mengkondisikan agar substan yang dioleskan nanti langsung meresap dan direspon oleh reseptor Untuk memberikan sensasi pada bagian lidah tertentu yang diketahui paling peka terhadap rasa manis Untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan reseptor Fungsi Perlakuan Untuk menetralisir reseptor yang ada di lidah Untuk mengetahui daerah di lidah yang lebih peka terhadap rasa manis Untuk mengetahui dan memastikan lokasi tersebut paling peka. Untuk menetralisir reseptor dari rasa manis dan untuk mengetahui daerah di lidah yang peka terhadap zat-zat lain, selain gula.

3.

4. 5.

sensasi tersebut dihitung dengan stopwatch Waktu yang terekam dicatat dalam lembar pengamanan Langkah-langkah tersebut diulangi dengan mengganti gula dengan bahan lainnya sesuai dengan lokasi-lokasi yang sudah diketahui sebelumnya.

untuk merasakan sensasi Agar hasil pengukuran terdokumentasi Untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan reseptor dalam merasakan sensasi dari bahan lainnya yang berbeda

3.2.3. Uji Kepekaan (OFT dan ORT) No. 1. 2. Perlakuan Hidung probandus ditutup Probandus mulau membau minyak cengkeh hingga merasa jenuh dan tidak mampu membau lagi. Rentang waktu selama hal tersebut berlangsung diukur dengan stopwatch Probandus berelaksasi menghirup udara segar selama 15 menit Setelah 15 menit, probandus mencoba untuk membau minyak cengkeh kembali Fungsi Perlakuan Untuk menetralkan reseptor pembau/olfaktori Untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan reseptorr pembau dapat membau suatu sensasi hingga reseptor pembau jenuh dan tidak mampu membau lagi (OFT) Untuk menetralisis dan merecovery reseptor pembau agar dapat membau lagi (ORT) Menguji apakah reseptor pembau kembali normal dan sudah dapat membau lagi

3.

4.

3.2.4. Uji Interaksi antara Indera Pembau dan Indera Pengecap No. 1. 2. Perlakuan Mata probandus ditutup dengan penutup mata Kedua lubang hidung Fungsi Perlakuan Agar probandus tidak mengetahui jenis buah yang akan diuji Agar probandus tidak dapat

3.

4. 5.

6.

disumbat dengan kapas Salah satu macam buah diambil secara acak dan didekatkan dengan jarak tertentu menuju hidung Kemudian buah tertentu dirasakan dengan memakannya Langkah 3-4 diulangi dengan keadaan hidung tidak tertutup namun mata tertutup Setiap perlakuan, probandus ditanyai apa bau dan rasanya

membau secara langsung Agar buah yang akan diuji tidak diketahui jenis dan baunya secara langsung Agar probandus dapat merasakan sensasi rasa dari buah yang diuji Agara mengetahui hasil yang diperoleh jika dalam keadaan hidung tidak tertutup Untuk mengetahui persepsi dari probandus

3.3. Analisa Prosedur Dalam praktikum topik Indera Perasa dan Indera Pembau ini, terdapat beragam alat dan bahan yang digunakan. Alat dan bahan tersebut antara lain stopwatch, cottonbud, kapas, kain penutup mata, kertas tisu, air, buah manga, buah pisang, minyak cengkeh, gula, asam sitrat, pil kina, garam, dan bubuk cabe. Masing-masing bahan memiliki peran tersendiri. Stopwatch digunakan untuk mengukur waktu dalam beberapa uji. Cottonbud berfungsing untuk mengoleskan zat ke lidah pada uji lokasi reseptor dan waktu sensasi. Kapas digunakan dalam uji hubungan antara indera pembau dan indera pengecap. Kapas berfungsi untuk menyumbat hidung agar tidak dapat membau bau lain. Kain penutup mata juga digunakan dalam uji ke-empat. Kain ini berfungsi untuk menutup mata probandus agar tidak dapat melihat jenis buah yang akan diujikan. Sehingga probandus lebih focus menajamkan indera pembau dan perasa dan persepsinya akan bau lebih murni dari indera pembau, tidak ada campur tangan dari indera lainnya. Kertas tisu berfungsi untuk membantu mengkondiskan agar permukaan lidah kering. Air digunakan untuk berkumur membersihkan mulut probandus. Dalam praktikum ini, buah yang digunakan adalah mangga dan pisang. Pemilihan jenis buah ini berdasarkan kemampuan mengeluarkan harumnnya. Minyak cengkeh menjadi objek yang

akan dipresentasikan terlebih dahulu. Minyak cengkeh memiliki bau yang amat menyengat. Gula merupakan senyawa kelompok karbohidrat yang memiliki rasa yang menyenangkan, yakni rasa manis. Sedangkan pil kina rasa pahit, asam sitrat digunakan untuk memberikan sensasi rasa pahit. Garam memberikan sensasi rasa asin. Bubuk cabe digunakan untuk memberikan sensasi pedas. Ada 4 macam uji yang dilakukan, yakni Uji lokasi reseptor, uji mengetahui waktu sensasi, uji kepekaan (OFT dan ORT) dan uji hubungan antara Indera Pembau dan Indera Pengecap. Tiap uji memiliki perlakuan yang berbeda-beda. Perlakuan-perlakuan tersebut memiliki fungsi masing-masing. Perlakuan dari tiap uji dan fungsinya dapat dilihat di tabel Perlakuan diatas. Berdasarkan pada tabel perlakuan, dapat diketahui bahwa ada beberapa perlakuan yang memiliki fungsi tertentu. Pada uji lokasi dan uji waktu sensasi, probandus diminta untuk membersihkan mulut terlebih dahulu dengan cara berkumur. Hal tersebut berkaitan dengan tujuan praktikan yakni untuk menguji reseptor dalam merespon sensasi. Dibutuhkan netralisasi atau kalibrasi reseptor agar dalam kondisi normal atau tidak sedang merasakan sensasi lainnya. Sehingga dalam menguji rasa suatu larutan, reseptor tersebut akan fokus merespon sensasi yang diujikan. Dengan kata lain tidak ada percampuran rasa. Sehingga kerja reseptor menjadi lebih maksimal dan tingkat kepekaannya lebih tinggi. Selain membersihkan dengan berkumur, probandus juga dianjurkan untuk mengeringkan lidah terlebih dahulu. Tujuannya adalah agar sensasi yang diberikan langsung dapat diterima dengan reseptor tanpa khawatir adanya reduksi sensasi akibat zat penghasil sensasi tersebut larut dalam saliva atau air bekas berkumur. Pada uji kepekaan pembau, terdapat dua target yang ingin diukur dan diketahui oleh praktikan, yakni OFT (Olfactory Fatigue Times) dan ORT (Olfactory Recovery Times). Pada uji ini, probandus harus membau bau dari minyak cengkeh dalam beberapa waktu hingga probandus merasakan tidak mampu membau lagi. Waktu yang dibutuhkan probandus selama membau hingga jenuh merupakan OFT. Sehingga dalam perhitungan OFT

diperlukan perhatian yang lebih terhadap waktu yang terukur. Sehingga stopwatch harus terkontrol dengan baik. Setelah probandus jenuh dan tidak mampu membau lagi, probandus dianjurkan untuk berelaksasi dan menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Waktu yang dibutuhkan probandus untuk berelaksasi perlu diukur dengan stopwatch. Pada saat praktikum, diasumsikan waktu yang dihabiskan probandus untuk berelaksasi adalah 15 menit. Setelah 15 menit, probandus mulai membau minyak kembali. Jika probandus mampu membau kembali, berarti 15 menit tersebut adalah ORT. Selain hal-hal diatas, ada beberapa perlakuan lainnya yang perlu dikontrol dan diperhatikan. Pada uji hubungan antara saraf pembau dan saraf perasa, probandus diharuskan untuk menutup mata dan hidung terlebih dahulu. Fungsinya adalah agar probandus tidak mengetahui bahan yang akan digunakan sebelumnya. Dengan tidak mengetahui jenis buah yang akan diuji, maka probandus tidak membuat persepsi tersendiri dan memanipulasi jawaban. Probandus akan benar-benar menjawab pertanyaan asisten berdasarkan pada kemampuan inderanya masing-masing. Hidung probandus ditutup dengan tujuan agar reseptor olfaktori tidak terkontaminasi dengan bau lain. Sehingga reseptor menjadi ternetralisir dan maksimal dalam merasakan bau yang diujikan. Dalam pemilihan jenis buah pun dilakukan secara random. Pada praktikum ini, dipilih 5 jenis probandus, yakni pria perokok, pria tidak perokok, wanita suka pedas, wanita tidak suka pedas, dan wanita flu. Pemilihan 5 jenis probandus ini didasarkan pada faktor-faktor yang diduga mempengaruhi kemampuan membau dan merasa. Sehingga dengan menguji pada 5 jenis probandus, praktikan dapat mengetahui apakah ada hubungan antara kemampuan membau dan merasa dengan kebiasaan dan keadaan seseorang. 3.4. Analisa Hasil Dalam uji lokasi reseptor, terdapat 4 lokasi yang diuji dengan berbagai zat. Menurut sumber pustaka 4 lokasi ini memiliki kepekaan yang berbeda-beda. Pada ujung lidah dijelaskan bahwa paling peka terhadap rasa manis, tepi depan

paling peka dengan rasa asin, tepi belakang paling peka dengan rasa asam, dan pangkal lidah paling peka dengan rasa pahit (Boron, 2003) Berdasarkan pada tabel hasil pengamatan, diketahui bahwa pada pria perokok, daerah ujung lidah peka terhadap rasa manis dan juga pedas, daerah tepi depan peka terhadap rasa asin dan asam, tepi belakang lidah peka terhadap rasa pahit, dan pangkal lidah tidak peka dengan rasa apapun. Dalam beberapa poin, ada yang tidak sesuai dengan literatur, yakni pada bagian tepi depan, tepi belakang, dan pangkal lidah. Ada beberapa hal yang dapat dianalisis dari fenomena ini, yakni faktor kebiasaan probandus yang mungkin memiliki dampat pada kepekaan indera perasanya. Factor kebiasaan merokok pada probandus mungkin mempengaruhi kepekaan reseptor perasa, sehingga ada beberapa hal yang menyimpang dari literatur yang ada. Pada probandus kedua, yakni pria tidak merokok, diketahui bahwa padang ujung lidah, tidak peka terhadap rasa manis. Sedangkan pada teping belakang maupun tepi depan dapat merasakan rasa asin sekaligus pedas. Hal tersebut terjadi karena ada kemungkinan ada kelainan reseptor pada ujung lidah probandus sehingga idak dapat merasakan rasa manis di lidah. Selain itu juga pada reseptor rasa asin dan asamnya tersebar di tepi depan maupun belakang. Namun ada kemungkinan lain yaitu faktor presepsi probandus. Probandus tidak bisa membedaka antara tepi depan dan tepi belakang. Pada probandus wanita suka pedas, didapatkan keganjilan yakni pada tepi depan dan tepi belakang. Bagian tepi depan peka terhadap rasa asin sekaligus asam, sedangkan pada tepi belakang tidak dapat merasakan sensasi apapun. Kemungkinan hal ini ada hubungannya dengan faktor kebiasaan probandus yakni makan pedas. Namun ada kemungkinan juga faktor presepsi probandus mengenai bagian tepi depan dan tepi belakang. Pada probandus tidak suka pedas, terdapat keganjilan pada hasil di lokasi ujung lidah, tepi depan, dan tepi belakang. Pada ujung lidah, probandus hanya merasakan rasa asam dan asin. Sedangkan tepi depan lebih peka terhadap rasa manis dan asin. Pada tepi belakang hanya peka terhadap rasa pedas. Kemungkinan disebabkan oleh faktor persebaran reseptor yang tidak merata dan

tidak sesuai dengan yang dijelaskan di literatur. Namun juga mungkin karena faktor kesalahan persepsi. Pada probandus wanita flu, ujung lidah dan pangkal lidahnya tidak peka sama sekali. Sedangkan tepi depan peka terhadap rasa pedas, manis, dan asin. Pada tepi belakang peka terhadap rasa pahit dan asam. Hal tersebut mungkin terjadi karena faktor kesehatan probandus yang sedang mengalami flu dan mempengaruhi kepekaan reseptor. Secara keseluruhan pada uji ini, sebagian besar hasil menunjukkan beberapa lokasi tidak peka dengan sensasi yang telah dijelaskan di berbagai literatur. Selain itu juga sebagian besar bermasalah di bagian tepi depan dan tepi belakang. Hal tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh faktor persebaran reseptor gustatory pada tiap probandus. Untuk uji yang kedua, yakni uji waktu sensasi, terdapat dua variable yang dibandingkan yakni dengan keadaan lidah basah dan lidah kering. Menurut tabel pengamatan, secara keseluruhan waktu sensasi yang paling singkat ketika lidah dalam kondisi basah. Namun ada satu data, yakni pada probandus wanita suka pedas, membutuhkan waktu 42 detik untuk dapat merasakan rasa pedas jika lidah dalam kondisi basah. Selain itu juga pada probandus wanita flu membutuhkan waktu paling lama dalam merasakan sensasi secara keseluruhan. Kemungkinan hal tersebut dilatarbelakangi oleh gangguan reseptor akibat flu. Pada uji kepekaan reseptor pembau, didapatkan data bahwa probandus pria perokok memiliki OFT yang paling cepat. Artinya, bahwa kemampuan olfaktori probandus cepat jenuh akan bau. Pada data ORT, semua probandus membutuhkan waktu yang sama untuk dapat membau kembali, yakni selama 15 menit. Pada uji interaksi indera pembau dan indera perasa, ditemukan data bahwa probandus pria merokok memiliki kemampuan yang rendah dalam membau jika keadaannya hidung ditutup. Sama halnya pada probandus wanita yang suka pedas dantidak suka pedas. Sedangkan pada saat probandus mengecap langsung buah yang dipilih secara random, probandus dapat merasakan rasa sekaligus memicu persepsi bau sehingga probandus dapat membau aroma dari buah yang dikecapnya

meskipun dalam keadaan hidung tertutup. Hal ini ada indikasi bahwa reseptor perasa berhubungan denga reseptor yang ada di hidung. Secara keseluruhan, kebanyakan hasil uji menunjukkan hasil yang bertentangan dengan apa yang dijelaskan di literatur. Ada banyak faktor yang mengakibatkan hasilnya tidak sesuai dengan literatur. Salah satu faktornya adalah faktor persepsi tiap probandus dan faktor kepekaan reseptor tiap probandus yang berbeda-beda. Sealain itu juga faktor kesehatan dan faktor kebiasaan probandus dapat mempengaruhi hasil uji pada praktikum ini. 3.5. Pembahasan Tambahan 3.5.1. Hubungan antara Indera Pengecap dan Indera Pembau Indra pembau atau olfaktori berfungsi untuk menerima bau suatu zat terlarut dalam udara atau air. Reseptor-reseptor olfaktori terletak pada langit-langit rongga hidung, tepatnya pada bagian yang disebut epitelium olfaktori. Sedangkan indera pengecap sendiri reseptor-reseptornya tersebar di lidah. Kedua indera ini sama-sama peka terhadap rangsang berupa zat kimia, sehingga keduanya disebut kemoreseptor. Kedua indera ini saling bekerja sama, sebab rangsangan bau yang berasal dari makanan dalam rongga mulut dapat mencapai rongga hidung dan diterima oleh reseptor olfaktori. Hal tersebutlah yang menyebabkan ketika kita memakan sesuatu, aromanya dapat sampai ke rongga hidung. Begitu pula ketika kita membau aroma tersebut, terkadang kita sudah bisa merasakan sensasi rasa dari makanan tersebut (Boron, 2003). Keadaan ini akan terganggu ketika menderita flu, di mana hubungan antara rongga hidung dan rongga mulut terganggu, sehingga uap makanan dari makanan yang ada dalam rongga mulut tidak dapat mencapai rongga hidung dan makanan seakanakan kehilangan rasanya. 3.5.2. Faktor-Faktor Olfaktori yang Mempengaruhi Gustatori dan

Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi kepekaan olfaktori dan gustatory, diantaranya adalah faktor umur, kesehatan, jenis kelamin, genetis, dan gaya hidup.

Semakin berumur, tentunya kemampuan untuk membau dan merasa juga semakin berkurang. Hal tersebut disebabkan oleh difensiasi atau penurunan kerja reseptor. Faktor kesehatan juga mempengaruhi kepekaan indera, semisal ketika menderita flu maka kemampuan membau akan berkurang. Tidak hanya itu, ternyata faktor jenis kelamin juga mempengaruhi. Faktor genetis juga berperan dalam menentukan kepekaan reseptor dan juga jumlah reseptor di tiap orang. Dan yang paling penting adalah faktor gaya hidup. Karena di jaman yang semakin maju ini, gaya hidup jelas menyumbang penuh atas perubahan-perubahan yang ada. Misalnya gaya hidup seorang penggemar makanan pedas yang saat ini kian marak, dan juga gaya hidup seorang perokok berat () Oleh karena ini, faktor-faktor tersebut perlu diperhatikan agar kemampuan membau dan merasa kita terjaga. 3.5.3. Perbedaan Kepekaan antara Pria dan Wanita. Antara pria dan wanita memiliki tingkat kepekaan yang berbeda. Hal ini disebabkan karena jumlah reseptor olfaktori dan gutatori pada wanita lebih banyak daripada yang dimiliki oleh pria. Sehingga wanita lebih sensitif akan bau dan rasa dibandingkan pria (Olofsson, 2004) 3.5.4. Pengaruh Kebiasaan Makan Pedas dan Merokok pada Indera Pembau dan Perasa Kebiasaan makan pedas dan merokok dapat menurunkan kepekaan indera perasa dan pembau. Rasa pedas merupakan sensasi yang disebabkan oleh suatu senyawa Capsaicin yang terkandung dalam cabe dan beberapa tanaman lainnya. Senyawa ini mengiritasi papilla-papila yang ada di lidah. Jika seseorang terlalu sering makan makanan pedas makan akan menyebabkan defisiensi pada reseptor-reseptor gutatori Kebiasaan merokok juga mengganggu kerja reseptor perasa. Kuncup perasa atau Taste bud selalui diperbarui setiap beberapa minggu. Kebiasaan merokok dapat berdampak negatif pada proses regenerasi kuncup perasa. Sehingga seiring berjalannya waktu,

terjadi penurunan kemampuan perasa. Hal ini berkaitan erat dengan nikotin yang ada pada asap rokok. Nikotin ini akan menempel pada permukaan lidah dan mengganggu fungsi kuncup perasa (Cowart, 1981) Selain itu kebiasaan merokok juga mengurangi kemampuan reseptor olfaktori karena terhambat oleh asap rokok yang tentunya terhirup ke hidung dan mengganggu reseptor yang ada banyak di langit-langit rongga hidung 3.5.5. Macam-Macam Papila Lidah memiliki permukaan yang kasar karena adanya tonjolan-tonjolan yang disebut papilla. Terdapat tiga jenis papilla yang tersebar di permukaan lidah, yakni : Papilla filiformis, yang berbentuk seperti benang halus dan tersebar di permukaan lidah bagian depan. Papila sirkumvalata, yang berbentuk bulat, tersebar dan tersusun seperti huruf v di bagian belakang lidah Papila fungiformis, yang berbentuk seperti jamur (Boron et al, 2003)

3.5.6. Macam-macam penyakit pada Indera Pembau dan Perasa Beberapa macam penyakit pada indera pembau antara lain sebagai berikut :
Anosmia kehilangan kemampuan untuk mendeteksi bau Hyposmia penurunan kepekaan dalam membau Dysosmia ketidakmampuan mengidentifikasi bau atau tidak bisa membedakan bau Sedangkan penyakit pada indera perasa antara lain sebagai berikut : Ageusia kehilangan kemampuan untuk merasakan makanan Hypogeusia penurunan fungsi kerja perasa Dysgeusia ketidakmampuan untuk mendeteksi rasa atau membedakan rasa

3.5.7. Rasa Pedas

Rasa pedas adalah suatu sensasi yang disebabkan oleh senyawa capsaicin. Senyawa ini akan menempel pada papilla-papila lidah dan diterima oleh tastebud dan diteruskan ke saraf pusat sehingga di artikan sebagai sensasi terbakar pada lidah. Senyawa capsaicin menyebabkan iritasi pada permukaan lidah. Sehingga rasa pedas bukanlah rasa namun sensasi dari iritasi. Senyawa capsaicin sendiri dapat ditemukan pada beberapa jenis tumbuhan seperi cabai, lada dsb (Dray, 1992)

4. PENUTUP 4.1. Kesimpulan Berdasarkan pada hasil praktikum yang telah dilakukan, praktikan dapat mengetahui lokasi pengecap pada manusia. Namun lokasi-lokasi ini tidak menjadi patokan pasti, karena ada banyak faktor luar yang dapat mempengaruhi kepekaan pada lokasi-lokasi tersebut. Selain itu praktikan dapat mengetahui variasi waktu sensasi. Praktikan juga mengetahu tingkat kepekaan reseptor pada tiap probandus. Diketahui juga suatu fakta bahwa terdapat relasi antara indera pembau dan indera perasa. 4.2. Saran Diharapkan dalam praktikum selanjutnya, beberapa faktor tak terduga lebih diperhatikan lagi. Termasuk faktor presepsi tiap probandus. Sehingga didapatkan data yang lebih valid

DAFTAR PUSTAKA

Bachmanov, A. A., dan G. K. Beauchamp. 2007."Taste receptor genes", Annu Rev Nutr 27: 389414 Boroditsky, Lera. 1999. "Taste, Smell, and Touch: Lecture Notes." pp. 1 Boron, W.F., E.L. Boulpaep. 2003. Medical Physiology. 1st ed. Elsevier Science USA. Dray A .1992. Mechanism of action of capsaicinlike molecules on sensory neurons. Life Sci. 51 (23): 175965 HowStuffWorks. 2007. Diakses di http://science.howstuffworks.com/life/human-biology/ question139.htm pada 27 September 2013 pukul 20.30 WIB. Olofsson, Jonas. 2004. Gender Differences in Chemosensory Perception and Event-related Potentials. Chem. Senses 29: 629637 USA. 2012. "Better Smelling Through Genetics: Mammalian Odor Perception. Ncbi.nlm.nih.gov. Retrieved 2012-1230. Wikispace. 2013. Diakses di http://whsanatomyphysiology.wikispaces.com/Peripheral+ Nervous+ System+and+Senses pada 27 September pukul 20.28 WIB. Zhao, Grace Q.; Yifeng Zhang, Mark A. Hoon, Jayaram Chandrashekar, Isolde Erlenbach, Nicholas J.P. Ryba, Charles S. Zuker. 2003. "The Receptors for Mammalian Sweet and Savory taste" (PDF), Cell 115 (3): 255266