Anda di halaman 1dari 24
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2012 TUGAS MANDIRI MAKALAH INDIVIDU BLOK 26 Community Medicine

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA

2012

TUGAS MANDIRI MAKALAH INDIVIDU BLOK 26 Community Medicine Masalah Gizi Nama : Nurafiqah Adillah Mohamad Nor Kelompok : A 2 NIM : 10.2009.294

Pendahuluan

Perjalanan sejarah bangsa-bangsa di dunia menunjukkan terbentuknya kwalitas sumber daya manusia yang baik yang terdiri atas ciri-ciri sehat, cerdas dan produktif ditentukan oleh berbagai faktor dan salah satunya adalah terenuhinya kebutuhan pangan yang bergizi. Mengenai gizi, kita tidak terlepas dari pembahasan mengenai zat-zat makanan atau nutrisi yang masuk ke dalam tubuh sebagai satu kebutuhan agar fungsi-fungsi organ dapat berjalan dengan seoptimal mungkin.

Di Indonesia, sekitar 3.73 juta penduduk hidup dibawah garis kemiskinan. Separuh dari bilangan tersebut mengkonsumsi makanan kurang dari kebutuhan sehari-hari , 5 juta balita berstatus gizi kurang dan sebahagian besar lainnya terdiri atas ibu haml dengan penyakit anemia defisiensi besi beserta gizi kurang. Banyak masalah-masalah kesehatan yang dapat ditimbulkan akibat tidak adanya keseimbangan gizi yang lebih dikenal sebagai akibat gizi salah. Gizi salah yang diderita pada masa janin dan masa anak-anak dapat menghambat antara lain kecerdasan, motivasi, kesanggupan belajar. Selain itu, ada dugaan bahwa gizi salah yang diderita pada masa janin dapat menimbulkan kelainan kromosom yang bisa berakibatkan pada perilaku abnormal ataupun retardasi mental. Masalah lain yang dapat diakibatkan oleh gizi kurang ini adalah gangguan perkembangan fisik. Anak yang berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi rendah mempunyai ukuran tubuh lebih kecil dari ukuran normal. Keadaan seperti ini merupakan gambaran umum dari masyarakat di negara-negara yang secara ekonomi tergolong kurang berkembang.

Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Faktor yang dapat mempengaruhi status gizi adalah penyakit yang sering diderita oleh balita, frekuensi terserang penyakit, jumlah anggota keluarga, pemberian ASI, kelengkapan imunisasi, pola asuh balita dan asupan makanan

Epidemiologi Ibu hamil anemia dengan status gizi kurang

Ibu hamil merupakan salah satu kelompok penderita anemia. Angka anemia ibu hamil tetap saja masih tinggi meskipun sudah dilakukan pemeriksaan kehamilan dan pelayanan kesehatan. Berdasarkan data SKRT tahun 1995 dan 2001, anemia pada ibu hamil sempat mengalami penurunan dari 50,9% menjadi 40,1%.

Angka kejadian anemia di Indonesia semakin tinggi dikarenakan penanganan anemia dilakukan ketika ibu hamil bukan dimulai sebelum kehamilan. Berdasarkan profil kesehatan tahun 2010 didapatkan data bahwa cakupan pelayanan K4 meningkat dari 80,26% pada tahun 2007 menjadi 86,04% pada tahun 2008, namun cakupan pemberian tablet Fe kepada ibu hamil menurun dari 66,03% pada tahun 2007 menjadi 48,14% pada tahun 2008.

  • 1. Frekuensi

Grafik 1Prevalensi 10 Kelompok Penyakit Terbanyak di Indonesia Tahun 2001 5

Sumber: Studi morbiditas Susenas 2001, Badan Litbangkes; publikasi hasil Surkesnas

2001 Grafik 1 menunjukkan bahwa di Indonesia, secara umum anemia merupakan penyakit ke-4 yang prevalensinya terbanyak setelah gilut, refraksi penglihatan, dan ISPA, dengan prevalensi sebesar 20%. Grafik 2Prevalensi Anemia Menurut SKRT 1995 dan 2001Di

Indonesia 6

Sumber: SKRT 1995 dan 2001 Grafik 2 menunjukkan bahwa ibu

hamil merupakan salah satu kelompok penderita anemia dengan prevalensi 50,9% pada tahun 1995, kemudian mengalami penurunan pada tahun 2001 menjadi 40,1%. Hal ini disebabkan karena penanggulangan anemia yang difokuskan pada ibu hamil berupa suplementasi zat besi.Jadi, berdasarkan kedua grafik diatas dapat diperoleh informasi bahwa dari 20% prevalensi anemia di Indonesia pada tahun 2001, sebanyak 40,1% diantaranya adalah ibu hamil. Jenis anemia yang dominan adalah anemia karena kekurangan zat besi.

  • 1. Distribusi

  • a. Distribusi Menurut Orang

Wanita yang berumur kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, mempunyai risiko yang tinggi untuk hamil. Karena akan membahayakan kesehatan dan

keselamatan ibu hamil maupun janinnya, berisiko mengalami pendarahan dan dapat

menyebabkan ibu mengalami anemia. Wintrobe (1987) menyatakan bahwa usia ibu dapat mempengaruhi timbulnya anemia, yaitu semakin rendah usia ibu hamil maka semakin rendah kadar hemoglobinnya. Muhilal et al (1991) dalam penelitiannya menyatakan bahwa terdapat kecendrungan semakin tua umur ibu hamil maka presentasi anemia semakin besar. Hal ini ditegaskan kembali dalam suatu penelitian oleh Ridwan Amiruddin di wilayah kerja Puskesmas Bantimurung Maros, yang memperoleh hasil sebagai berikut :

Umur ibu

Anemia

Total

OR (Lower/Upper

(thn)

Ya

Tidak

Limit)

< 20, >35

  • 20 7 (25,9%)

(74,1%)

 

27

2,801

20-35

(50,5%)

  • 51 50 (49,5%)

101

(1,089/7,207)

Total

  • 71 57(44,5%)

(55,5%)

 

128

 

Tabel 1. Distribusi Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil Berdasarkan Umur Ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Bantimurung, Maros Tahun 2004

  • b. Distribusi Menurut Tempat

No.

Propinsi

Prevalensi (%)

1

DI Aceh

56,5

2

Sumatera Utara

77,9

3

Sumatera Barat

82,6

4

Riau

65,6

5

Jambi

74,2

6

Sumatera Selatan

58,3

7

Bengkulu

46,8

8

Lampung

60,7

9

DKI Jakarta

67,6

10

Jawa Barat

71,5

11

Jawa Tengah

62,3

12

DI Yogyakarta

73,9

13

Jawa Timur

57,8

14

Bali

71,1

15

N T B

71,3

16

N T T

59,7

17

Kalimantan Barat

55,2

18

Kalimantan Tengah

73,9

19

Kalimantan Selatan

64,9

20

Kalimantan Timur

70

21

Sulawesi Utara

48,7

22

Sulawesi Tengah

45,5

23

Sulawesi Selatan

50,5

24

Sulawesi Tenggara

71,2

25

M a l u k u

69,8

26

Irian Jaya

71,4

27

Timor Timur

48

Sumber : SKRT Tahun 1992

 
 

Indonesia

63,5

Tabel 2. Prevalensi Anemia Gizi Besi Pada Ibu Hamil (Bumil) di 27 Propinsi di Indonesia Tahun 1992

.

  • c. Distribusi Menurut Waktu

63,5%

50,9%

40,1%

Grafik 3. Prevalensi Anemia Pada Bumil di Indonesia Berdasarkan Data SKRT 1992-

2001

Grafik 3 menunjukkan bahwa terjadi penurunan angka penderita anemia dari tahun 1992-2001. Hal ini menunjukkan keberhasilan program pemerintah dalam hal penanggulangan anemia pada ibu hamil.Pada suatu penelitian yang diadakan di beberapa praktek bidan swasta dalam kotamadya Medan, ditemukan bahwa terjadi peningkatan penderita anemia dengan makin tuanya usia kehamilan. Besarnya angka kejadia anemia ibu hamil pada trimester I kehamilan adalah 20%, trimester II sebesar 70%, dan trimester III sebesar 70%. 4 Hal ini disebabkan karena pada trimester pertama kehamilan, zat besi yang dibutuhkan sedikit karena tidak terjadi menstruasi dan pertumbuhan janin masih lambat. Menginjak trimester kedua hingga ketiga, volume darah dalam tubuh wanita akan meningkat sampai 35%, ini ekuivalen dengan 450 mg zat besi untuk memproduksi sel-sel darah merah. Sel darah merah harus

mengangkut oksigen lebih banyak untuk janin. Sedangkan saat melahirkan, perlu tambahan besi 300 350 mg akibat kehilangan darah. Sampai saat melahirkan, wanita hamil butuh zat besi sekitar 40 mg per hari atau dua kali lipat kebutuhan kondisi tidak hamil.

Rabun senja

Dampak penurunan konsumsi pangan memunculkan kasus kasus rabun senja dan KEP di kalangan balita, ibu hamil dan ibu menyusui. Terjadi kenaikan prevalensi rabun senja dari 0.08% menjadi 0.22% pada balita dan 0.16% menjadi 0.4% pada ibu hamil dan ibu menyusui. Keadaan ini memungkinkan munculnya kembali KVA sebagai salah satu masalah gizi masyarakat atau masalah gizi utama di Indonesia. Apa yang dapat kita pelajari dari temuan ini adalah bahwa upaya jangka panjang agar penduduk Indonesia bebas dari KVA lewat konsumsi bahan makanan seperti vitamin A masih belum dapat diandalkan. Dengan demikian distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi bagi bayi, balita dan ibu pasca persalinan tetap diperlukan.

Kekurangan asopan vitamin A dapat menyebabkan kebutaaan terutama pada anak- anak usia 6 59 bulan, apalagi bila disertai dengan penyulit penyakit berikut :

gizi buruk,

anak yang tidak mendapat ASI eksklusif dan tidak diberi ASI sampai usia 2

tahun Bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2,5 kg

Anak yang menderita penyakit kronis seperti ; campak, diare, pneumonia, TBC dan cacingan

Pola epidemiologi dipengaruhi oleh :

  • 1. Usia

Pada bayi dan ibu hamil kekurangan vitamin A

Pada usia penyapihan dini

Pada anak dengan PMT/pasi kekurangan vitamin A

  • 2. Seks

Laki-laki beresiko >>( XN & X1-B)

Laki-laki dan wanita beresiko sama terhadap X3 A dan B

3. Musim
3.
Musim
3. Musim

Musim panas, kering, campak dan diare beresiko tinggi kekurangan vitamin A

  • 4. Kelompok masyarakat Disebabkan karena kebiasaan makan Perawatan kesehatan yang kurang diperhatikan Anak yang hidup dekat dengan kekurangan vitamin A aktif beresiko lebih tinggi

Prevalensi xerophtalmia (XN) sebesar 0.18% dan (XIB) 0,02%. Rata-rata indeks

serum retinol sebanyak 12% dan kondisi ini tidak merupakan masalah kesehatan

masyarakat menurut kriteria WHO. Cakupan distribusi kapsul vitamin A 84.8% telah

dapat memenuhi target program gizi sebesar 80%. Kasus Xerophtalmia yang dijumpai

umumnya diderita anak dengan usia di atas 3 tahun yang sebagian besar tidak

mendapat kapsul vitamin A dengan status gizi kurang. Konsumsi vitamin A, zat besi

dan zinc umumnya di bawah 40% AKG.

Gizi buruk
Gizi buruk

Setiap tahun kurang lebih 11 juta dan balita di seluruh dunia meninggal oleh karena penyakit-penyakit infeksi seperti ISPA, diare, malaria, campak dll. Ironisnya, 54% dan kematian tersebut berkaitan dengan adanya kurang gizi (WHO 2002). Kekurangan gizi pada balita ini meliputi kurang energi dan protein serta kekurangan zat gizi seperti vitainin A, zat besi, iodium dan zinc. Seperti halnya AKI, angka kematian balita di Indonesia juga tertinggi di ASEAN (BAPPENAS, 2004). Masa balita menjadi lebih penting lagi oleh karena merupakan masa yang kritis dalam upaya menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas. Terlebih lagi 6 bulan terakhir masa kehamilan dan dua tahun pertama pasca kelahiran merupakan masa emas dimana sel-sel otak sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Gagal tumbuh yang terjadi akibat kurang gizi pada masa-masa emas ini akan berakibat buruk pada kehidupan berikutnya yang sulit diperbaiki. Anak yang menderita kurang gizi (stunted) berat mempunyai rata-rata IQ 11 point lebih rendah dibandingkan rata-rata anak-anak yang tidak stunted (UNICEF, 1998). Prevalensi gizi kurang pada balita dan tahun ke tahun mengalami penurunan yang cukup berarti. Pada tahun 1989, prevalensi balita bergizi kurang (Skor Z Berat Badan menurut Umur) mencapai 37,5%. Pada tahun-tahun berikutnya prevalensi

kurang gizi balita terus mengalami penurunan sehingga pada tahun 2000 prevalensi kurang gizi balita menjadi 24,7%. Akan tetapi mulai tahun 200 setelah Indonesia mengalami krisis multi dimensi, prevalensi gizi kurang mengalami kenaikan lagi berturut-turut menjadi 26,1%, 27,3% dan 27,5% pada tahun 2001,2002 dan 2003 (Depkes, 2004). Masalah kurang gizi lain yang dihadapi anak usia balita adalah kekurangan zat gizi mikro seperti vitainin A, zat besi, iodium dan sebagainya. Lebih dan 50% anak balita mengalami defisiensi vitainin A subklinis yang ditandai dengan serum retinol <20 mcg/dL dan 48.1% dari mereka menderita anemia kurang zat besi (SKRT, 2001). Seperti telah diketahui bahwa anak-anak yang kurang vitainin A meskipun pada derajat sedang mempunyai risiko tinggi untuk mengalami gangguan pertumbuhan menderita beberapa penyakit infeksi seperti campak, dan diare dan lebih penting lagi ialah bahwa kekurangan vitainin A bertanggung-jawab terhadap 23% kematian anak balita di seluruh dunia

Gondok
Gondok

Untuk mengetahui masalah kurang yodium, pemantauan besaran masalah dilakukan

berdasarkan survei nasional. Pada tahun 1980, prevalensi (GAKY) pada anak usia

sekolah adalah 27,7%, prevalensi ini menurun menjadi 9,8% pada tahun 1998.

Walaupun terjadi perubahan yang berarti, GAKY masih dianggap masalah kesehatan

masyarakat, karena secara umum prevalensi masih di atas 5%. Prevalensi tersebut

bervariasi antar kecamatan dan masih dijumpai kecamatan dengan prevalensi GAKY

di atas 30% (daerah endemik berat).

Dilaporkan dalam hasil survai pemetaan gondok 1998 yang telah dipublikasikan

WHO tahun 2000, bahwa 18,8% penduduk hidup di daerah endemik ringan, 4,2%

penduduk hidup di daerah endemik sedang, dan 4,5% penduduk hidup di daerah

endemik berat. Diperkirakan pula sekitar 18,2 juta penduduk hidup di wilayah

endemik sedang dan berat; dan 39,2 juta penduduk hidup di wilayah endemik ringan.

Menurut jumlah kabupaten di Indonesia, maka diklasifikasikan 40,2% kabupaten

termasuk endemik ringan, 13,5% kabupaten endemik sedang, dan 5,1% kabupaten

endemik berat.

Tahun 2003 dilakukan lagi survei nasional, yang dibiayai melalui Proyek IP-GAKY,

untuk mengetahui dampak dari intervensi program penanggulangan GAKY. Dari

hasil survei ini diketahui secara umum bahwa TGR pada anak sekolah masih berkisar

11,1%. Survei nasional evaluasi IP GAKY ini menunjukkan bahwa 35,8% kabupaten

adalah endemik ringan, 13,1% kabupaten endemik sedang, dan 8,2% kabupaten

endemik berat

Berdasarkan status yodium dalam urin (Urinary Iodine Exrection atau UIE), hasil

survei tahun 2003 menunjukkan bahwa nilai rata-rata nasional UIE adalah 229 µg/l.

Berdasarkan nilai median UIE ini tidak ada provinsi yang tergolong kekurangan

yodium (suatu daerah dinyatakan kurang yodium jika rata-rata UIE < 100µg/l)

median UIE terendah (rata-rata 110 µg/l) adalah provinsi NTB dan tertinggi (rata-rata

337 µg/l) adalah Provinsi Bangka-Belitung

Sistem Kesihatan Nasional

Untuk menjamin tercapainya tujuan pembangunan kesehatan, diperlukan dukungan Sistem Kesehatan Nasional yang tangguh.

Di Indonesia, Sistem Kesehatan Nasional (SKN) telah ditetapkan pada tahun

1982.

SKN secara terus menerus mengalami perubahan sesuai dengan dinamika masyarakat

Subsistem SKN

Subsistem Upaya Kesehatan

Kuratif/rehabilitatif

  • 1. Praktek partikelir seorang dokter dan praktek dokter-dokter dalam klinik spesialis yang memiliki laboratorium, alat-alat rotgen dan sebagainya serta melakukan konsultasi bersama.

  • 2. Perawatan kesehatan kelompok, seperti yayasan kesehatan, perawatan kesehatan atau pengobatan yang disediakan perusahaan, pabrik, instansi pemerintah, sekolah atau persatuan perburuhan.

  • 3. Rumah sakit, klinik termasuk balai pengobatan dalam puskesmas dan lembaga-lembaga kesehatan besar.

  • 4. Ahli-ahli farmasi.

Promotif dan pencegahan

  • 1. Program Kesehatan Masyarakat Desa, seperti latihan kader kesehatan, pembentukan dana sehat, penyuluhan kesehatan, penyediaan air bersih, peningkatan kesehatan lingkungan, taman gizi, pemanfaatan pekarangan, pemugaran rumah.

  • 2. Upaya perbaikan gizi keluarga

  • 3. Posyandu yang memberikan pelayanan ; keluarga berencana, gizi, kesehatan ibu dan anak, immunisasi

  • 4. Usaha promotif dan preventif yang diselenggarakan dalam pusat kesehatan masyarakat meliputi : pemeliharaan kesehatan ibu dan anak, Keluarga

Berencana, pencegahan dan penanggulangan bencana penyakit menular, penyuluhan kesehatan, kebersihan dan kesehatan lingkungan, usaha kesehatan sekolah, perawatan kesehatan jiwa.

  • 5. Usaha promotif dan preventif yang dilakukan rumah sakit melalui program kesehatan masyarakat

Berencana, pencegahan dan penanggulangan bencana penyakit menular, penyuluhan kesehatan, kebersihan dan kesehatan lingkungan, usaha kesehatan sekolah,

Subsistem Pembiayaan Kesehatan

Subsistem Sumberdaya Manusia Kesehatan

Subsistem Obat dan Perbekalan Kesehatan

Subsistem Pemberdayaan Masyarakat

Subsistem Manajemen Kesehatan

Upaya Kesehatan Masyarakat

UKM: Setiap kegiatan oleh Pemerintah dan atau masyarakat, dunia usaha, untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan dimasyarakat. UKM mencakup promosi kesehatan, pemeliharaan kesehatan, pemberantasan penyakit menular, kesehatan jiwa, pengendalian penyakit tidak menular, penyehatan lingkungan dan penyediaan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan, pengamanan penggunaan zat aditif (bahan tambahan makanan) dalam makanan dan minuman, pengamanan narkotika, psikotropika, zat adiktif dan bahan berbahaya, serta penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan

Prinsip-prinsip Upaya Kesehatan

  • 1. UKM terutama diselenggarakan oleh pemerintah, dengan peran aktif masyarakat dan swasta

  • 2. UKP diselenggarakan baik oleh pemerintah, maupun masyarakat dan dunia usaha

  • 3. Bersifat menyeluruh, terpadu, berkelanjutan, terjangkau, berjenjang, profesional dan bermutu.

  • 4. Penyelenggaraan upaya kesehatan oleh swasta harus memperhatikan fungsi social

  • 5. Penyelenggaraan upaya kesehatan, termasuk pengobat tradisional dan alternatif, harus tidak bertentangan dengan kaidah ilmiah

  • 6. Penyelenggaraan upaya kesehatan harus sesuai dengan nilai dan norma sosial budaya serta moral dan etika profesi

Sistem Pelayanan Kesehatan

Sistem kesehatan seperti halnya sistem pada umumnya, juga terdiri dari berbagai elemen atau subsistem. Salah satu sistem yang dimaksud adalah sistem pelayanan kesehatan,Sistem pelayanan kesehatan adalah sistem yang mengkoordinasikan semua kegiatan sedemikian rupasehingga menjamin setiap masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkannya.Sistem pelayanan kesehatan secara umum terdiri dari sistem pelayanan medik dan sistem pelayanankesehatan

masyarakat. Di Indonesia, Rumah Sakit dikenal sebagai bentuk sistem pelayanan medik,sedangkan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) mencakup sistem pelayanan kesehatanmasyarakat dan juga sistem pelayanan medik.Berdasar Tingkat Pelayanan Kesehatan, dibedakan 5 jenjang:

  • 1. Tingkat rumah tangga

  • 2. Tingkat masyarakat

  • 3. Fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama

  • 4. Fasilitas pelayanan kesehatan tingkat kedua

  • 5. Fasilitas pelayanan kesehatan tingkat ketiga

Puskesmas

Sesuai keputusan Menkes R.I. Nomor 128/MENKES/SK/II/2004 tentang Kebijakan Dasar PusatKesehatan Masyarakat disebutkan bahwa Puskesmas adalah unit pelaksana teknis DinasKesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunankesehatan di suatu wilayah kerja.Dari definisi di atas, Puskesmas secara umum mengandung pengertian:

  • 1. Unit pelaksana teknis. Sebagai unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/kota (UPTD), Puskesmas merupakan unit pelaksana tingkat pertama serta ujung tombak pembangunan kesehatan.

  • 2. Pembangunan kesehatan Sebagai penyelengara upaya kesehatan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakatyang optimal.

  • 3. Pertanggungjawaban penyelenggaraan Puskesmas bertanggung jawab untuk sebagian upaya pembangunan kesehatan yang dibebankan oleh Dinkes Kabupaten/kota sesuai kemampuannya.

  • 4. Wilayah kerja Kecamatan Kepadatan penduduk Luas daerah Keadaan geografik

Infrastruktur Sasaran penduduk : 30.000 jiwa

Secara nasional, standar wilayah kerja Puskesmas adalah suatu kecamatan. Namun

demikian, satu kecamatan dimungkinkan terdapat lebih dari satu Puskesmas. Tanggung jawab wilayah kerja dibagi antar Puskesmas dengan memperhatikan keutuhan konsep wilayah (desa/kelurahan atau RW).

Fungsi dan peran Puskesmas

  • 1. Pusat penggerak pembangunan berwawsan kesehatan Puskesmas menggerakkan dan memantau penyelenggaraan pembangunan lintas sector termasuk oleh masyarakat dan dunia usaha, sehingga berwawasan serta mendukung pembangunan kesehatan

  • 2. Pusat Pemberdayaan Masyarakat. Puskesmas berupaya agar perorangan, keluarga dan masyarakat berperan aktif dalam penyelenggaraan setiap upaya kesehatan. Untuk itu berbagai potensi masyarakat perlu dihimpun. Beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh Puskesmas dalam rangka pemberdayaan masyarakat, antara lain:

Upaya KIA: Posyandu, Polindes, Poskesdes, POD;

Upaya Pengobaran: Posyandu, POD

Upaya Perbaikan Gizi: Posyandu, Kadarzi, Panti Pemulihan Gizi;

Upaya Kesehatan Sekolah: Dokter kecil, SBH, Poskestren

Upaya Kesehatan Lingkungan: Pokmair, Desa Percontohan Kesehatan

Lingkungan (DPKL); Upaya Kesehatan Usila: Posyandu Usila, Panti Wreda;

Upaya Kesehatan Kerja: Pos UKK;

Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisonal: TOGA, Battra;

Upaya Pembiayanan dan Jaminan Kesehatan: Dana sehat, Tabulin, mobilisasi dana keagamaan

  • 3. Pusat Pelayanan Kesehatan Strata PertamaPuskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertamasecara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Pelayanan Kesehatan PeroranganYankes perorangan adalah pelayanan yang bersifat pribadi (private goods) dengan tujuan utama menyembuhkan penyakit dan pemulihan kesehatan perorangan, tanpa mengabaikan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit. Pelayanan perorangan tersebut adalah rawat jalan dan rawat inap Pelayanan Kesehatan MasyarakatYankesmas adalah pelayanan yang bersifat public (public goods) dengan tujuan utama memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Yankesmas tersebut antara lain adalah promkes, pemberantasan penyakit, penyehatan lingkungan, perbaikan gizi peningkatan kesehatan keluarga, KB, serta berbagai program kesmas lainnya.

Pelaksanaan fungsi Puskesmas dilaksanakan dengan cara:

Merangsang masyarakat termasuk swasta untuk melaksanakan kegiatan dalam

rangkamenolong dirinya sendiri Memberikan petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana menggali

dan menggunakan sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien. Memberikan bantuan yang bersifat bimbingan teknis materi dan rujukan medis

maupunrujukan kesehatan kepada masyarakat dengan ketentuan bantuan tersebut tidak menimbulkan ketergantungan. Memberikan pelayanan kesehatan langsung kepada masyarakat

Bekerja sama dengan sektor-sektor yang bersangkutan dalam melaksanakan program Puskesmas

Peran Puskesmas Sebagai institusi pelaksana teknis, Puskesmas dituntut memiliki kemampuan manajerial dan wawasan jauh ke depan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.Peran tersebut ditunjukkan dalam bentuk ikut serta menentukan kebijakan daerah melalui sistem perencanaan yang matang dan realistik, tatalaksana kegiatan yang tersusun rapi, serta sistem evaluasi dan pemantauan yang akurat. Rangkaian maajerial di atas bermanfaat dalam penentuan skala prioritas daerah dan sebagai bahan kesesuaian dalam menentukan RAPBD

Fasilitas Penunjang Sesuai dengan keadaan geografis, luas wilayah, sarana perhubungan dan kepadatan penduduk dalam wilayah kerja Puskesmas, tidak semua penduduk dapat dengan

mudah mendapatkan akses layanan Puskesmas. Agar jangkauan pelayanan Puskesmas lebih merata dan meluas, Puskesmas perlu ditunjang dengan Puskesmas Pembantu, Bidan desa di daerah yang belum terjangkau oleh pelayanan kesehatan yang sudah ada. Disamping itu penggerakan peran serta masyarakat untuk mengelola Posyandu dan membina dasawisma akan dapat menunjang jangkauan pelayanan kesehatan.

  • 1. Puskesmas Pembantu Puskesmas Pembantu yang lebih sering dikenal sebagai Pustu atau Pusban, adalah unit pelayanan kesehatan sederhana dan berfungsi menunjang serta membantu melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan Puskesmas dalam ruang lingkup wilayah yang lebih kecil

  • 2. Puskesmas Keliling Puskesmas Keliling merupakan unit pelayanan kesehatan Keliling yang dilengkapi dengan kendaraan bermotor roda 4 atau perahu bermotor dan peralatan kesehatan, peralatan komunikasi serta sejumlah tenaga dari Puskesmas. Puskesmas Keliling berfungsi menunjang dan membantu melaksanakan kegiatan-kegiatan Puskesmas dalam wilayah kerjanya yang belum terjangkau oleh pelayanan kesehatan. Kegiatan Puskesmas Keliling adalah :

memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di daerah terpencil atau daerah yang tidak atau sulit dijangkau oleh pelayanan Puskesmas atau Puskesmas Pembantu dengan frekuensi 4 kali dalam seminggu, atau disesuaikan dengan kondisi geografis tiap Puskesmas

Melakukan penyelidikan tentang Kejadian Luar Biasa

Dapat dipergunakan sebagai alat transport penderita dalam rangka

rujukan bagi kasus darurat Melakukan penyuluhan kesehatan dengan menggunakan alat audiovisual

  • 3. Bidan Desa Pada setiap desa yang belum ada fasilitas pelayanan kesehatannya, ditempatkan seorang Bidan yang bertempat tinggal di desa tersebut dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Puskesmas. Wilayah kerja bidan desa adalah satu desa dengan jumlah penduduk rata-rata 3.000 jiwa. Tugas utama bidan desa adalah membina peran serta masyarakat melalui pembinaan Posyandu dan pembinaan kelompok Dasawisma. Selain itu juga menerima rujukan masalah kesehatan anggota keluarga Dasawisma untuk diberi pelayanan seperlunya atau dirujuk lebih lanjut ke Puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih mampu dan terjangkau secara rasional.

Upaya Puskesmas

  • A. Upaya kesehatan wajib puskesmas

    • 1. Upaya promosi kesehatan

    • 2. Upaya kesehatan lingkungan

    • 3. Upaya perbaikan gizi

    • 4. Upaya pencegahan & pemberantasan penyakit menular

    • 5. Upaya kesehatan ibu, anak & KB

    • 6. Upaya pengobatan dasar

  • B. Upaya kesehatan pengembangan puskesmas Dilaksanakan sesuai dengan masalah kesehatan masyarakat yang ada dan kemampuan Puskesmas. Bila ada masalah kesehatan, tetapi puskesmas tidak mampu menangani, maka pelaksanaan dilakukan oleh dinkes kab/Kota Upaya Lab (medis dan kes masy) dan Perkesmas serta Pencatatan Pelaporan merupakan kegiatan penunjang dari tiap upaya wajib atau pengembangan.

    • 1. Pemilihan dilakukan oleh puskesmas bersama Dinkes kab/kota dengan mempertimbangkan masukan BPP

  • 2.

    Dalam keadaan tertentu ditetapkan sebagai penugasan dari Dinkes kab/kota

    • 3. Dilaksanakan bila upaya kes wajib telah terlaksana secara optimal (target cakupan & mutu terpenuhi)

    Manajemen Puskesmas

    • A. Perencanaan

    • B. Pelaksanaan dan pengendalian ( termasuk kendali mutu dan kendali biaya)

      • 1. Pengorganisasian

      • 2. Penyelenggaraan

      • 3. Pemantauan, meliputi jangkauan & mutu

      • 4. Penilaiansumber data utama SIMPUS

  • C. Pengawasan dan pertanggungjawaban

  • Kegiatan Pokok Program Gizi

    • 1. Penyuluhan Gizi Masyarakat

    • 2. Penanggulangan KEP & Gizi buruk

    • 3. Penanggulangan GAKY

    • 4. Penanggulangan Anemia gizi

    • 5. Penanggulangan kurang Vitamin A

    • 6. Penanggulangan kurang gizi mikro

    • 7. Penanggulangan gizi lebih

    • 8. Program Gizi Institusi

    • 9. Sistem Kewaspadaan Pangan dan gizi

      • 10. Pengembangan tenaga gizi

      • 11. Penelitian dan pengembangan gizi

    Standar Pelayanan Minimal Pemantauan pertumbuhan balita

    Pemberian suplemen gizi

    Pelayanan gizi

    Penyuluhan gizi seimbang

    Sistem kewaspadaan gizi

    Posyandu

    • A. Pengertian Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana. Posyandu adalah pusat pelayanan keluarga berencana dan kesehatan yang dikelola dan diselenggarakan untuk dan oleh masyarakat dengan dukungan teknis dari petugas kesehatan dalam rangka pencapaian NKKBS Posyandu merupakan tempat kegiatan layanan terpadu antara program Keluarga Berencana Kesehatan di tingkat desa. Juga merupakan pelayanan kesehatan yang mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini.

    • B. Bentuk kegiatan Posyandu Beberapa kegiatan diposyandu diantaranya terdiri dari lima kegiatan Posyandu (Panca Krida Posyandu), antara lain:

      • 1. Kesehatan Ibu dan Anak Pemeliharaan kesehatan ibu hamil, melahirkan dan menyusui, serta bayi, anak balita dan anak prasekolah Memberikan nasehat tentang makanan guna mancegah gizi buruk karena kekurangan protein dan kalori, serta bila ada pemberian makanan tambahan vitamin dan mineral Pemberian nasehat tentang perkembangan anak dan cara stimilasinya Penyuluhan kesehatan meliputi berbagai aspek dalam mencapai tujuan program KIA.

    • 2. Keluarga Berencana

    Pelayanan keluarga berencana kepada pasangan usia subur dengan

    perhatian khusus kepada mereka yang dalam keadaan bahaya karena melahirkan anak berkali-kali dan golongan ibu beresiko tinggi Cara-cara penggunaan pil, kondom dan sebagainya

    • 3. Immunisasi Imunisasi tetanus toksoid 2 kali pada ibu hamil dan BCG, DPT 3x, polio 3x, dan campak 1x pada bayi.

    4.

    Peningkatan gizi

    Memberikan pendidikan gizi kepada masyarakat

    Memberikan makanan tambahan yang mengandung protein dan

    kalori cukup kepada anak-anak dibawah umur 5 tahun dan kepada ibu yang menyusui Memberikan kapsul vitamin A kepada anak-anak dibawah umur 5 tahun

    • 5. Penanggulangan Diare

    Lima kegiatan Posyandu selanjutnya dikembangkan menjadi tujuh kegiatan Posyandu (Sapta Krida Posyandu), yaitu:

    • 1. Kesehatan Ibu dan Anak

    • 2. Keluarga Berencana

    • 3. Immunisasi

    • 4. Peningkatan gizi

    • 5. Penanggulangan Diare

    • 6. Sanitasi dasar. Cara-cara pengadaan air bersih, pembuangan kotoran dan air limbah yang benar, pengolahan makanan dan minuman

    • 7. Penyediaan Obat essensial.

    • C. Pembentukan Posyandu Posyandu dibentuk dari pos-pos yang telah ada seperti:

      • 1. Pos penimbangan balita

      • 2. Pos immunisasi

      • 3. Pos keluarga berencana desa

      • 4. Pos kesehatan

      • 5. Pos lainnya yang dibentuk baru.

    • D. Alasan Pendirian Posyandu Posyandu didirikan karena mempunyai beberapa alasan sebagai berikut:

      • 1. Posyandu dapat memberikan pelayanan kesehatn khususnya dalam upaya pencegahan penyakit dan PPPK sekaligus dengan pelayanan KB.

      • 2. Posyandu dari masyarakat untuk masyarakat dan oleh masyarakat, sehingga menimbulkan rasa memiliki masyarakat terhadap upaya dalam bidang kesehatan dan keluarga berencana.

  • E. Penyelenggara Posyandu

    • 1. Pelaksana kegiatan, adalah anggota masyarakat yang telah dilatih menjadi kader kesehatan setempat dibawah bimbingan Puskesmas

    • 2. Pengelola posyandu, adalah pengurus yang dibentuk oleh ketua RW yang berasal dari keder PKK, tokoh masyarakat formal dan informal serta kader kesehatan yang ada di wilayah tersebut.

  • F. Lokasi / Letak Posyandu Syarat lokasi/letak yang harus dipenuhi meliputi:

    • 1. Berada di tempat yang mudah didatangi oleh masyarakat

    • 2. Ditentukan oleh masyarakat itu sendiri

    • 3. Dapat merupakan lokal tersendiri

    • 4. Bila tidak memungkinkan dapat dilaksanakan di rumah penduduk, balai rakyat, pos RT/RW atau pos lainnya.

  • G. Pelayanan Kesehatan Di Posyandu Adapun pelayanan kesehatan yang dijalankan oleh posyandu meliputi:

    • 1. Pemeliharaan kesehatan bayi dan balita Penimbangan bulanan Pemberian tambahan makanan bagi yang berat badannya kurang Immunisasi bayi 3-14 bulan Pemberian oralit untuk menanggulangi diare Pengobatan penyakit sebagai pertolongan pertama

  • 2.

    Pemeliharaan kesehatan ibu hamil, ibu menyusui, dan pasangan usia

    subur Pemeriksaan kesehatan umum

    Pemeriksaan kehamilan dan nifas

    Pelayanan peningkatan gizi melalui pemberian vitamin dan tablet besi

    Immunisasi TT untuk ibu hamil

    Penyuluhan kesehatan dan KB

    Pemberian alat kontrasespsi KB

    Pemberian oralit pada ibu yang terkena diare

    Pengobatan penyakit sebagai pertolongan pertama

    Pertolongan pertama pada kecelakaan

    Bentuk kegiatan lain yang masih dilokasi Posyandu berupa;

    1.

    Mencatat hasil kegiatan UPGK dalam regester balita sampai terbentuknya balok SKDN.

    2.

    Membahas bersama-sama kegiatan lain atas saran petugas.

    3.

    Menetapkan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan seperti

    penyuluhan. Sedangkan bentuk kegiatan yang dilakukan diluar posyandu berupa:

    • 1. Melaksanakan kunjungan rumah.

    • 2. Menggerakkan masyarakat untuk menghadiri dan ikut serta dalam kegiatan UPGK.

    • 3. Memanfaatkan pekarangan untuk peningkatan gizi keluarga.

    • 4. Membantu petugas dalam pendaftaran, penyuluhan, dan peragaan ketrampilan

    Demografi setempat

    Faktor geografis dan demografi. Lebih dari 50% penduduk tinggal di daerah perdesaan dan daerah sulit. Untuk meningkatkan pelayanan gizi dan pemantauan pertumbuhan pada masyarakat sasaran yang sulit dijangkau dengan fasilitas pelayanan yang ada seperti puskesmas dan posyandu, perlu ada upaya khusus untuk mendekatkan pelayanan kepada kelompok ini. Dampak krisis ekonomi telah menurunkan kemampuan daya beli masyarakat. Jumlah penduduk miskin masih 18% atau sekitar 38 juta. Pada masyarakat ini daya beli terhadap makanan dan pelayanan kesehatan sangat terbatas, oleh karena itu untuk mencegah kurang gizi, upaya peningkatan daya beli melalui pemberian kredit usaha kecil dan menegah dan bantuan pemasarannya dan peningkatan keterampilan (income generating) yang disertai dengan upaya KIE gizi menuju keluarga sadar gizi kepada masyarakat miskin menjadi sangat penting. Meningkatnya kasus gizi buruk, hal ini menunjukkan rendahnya ketahanan pangan di tingkat rumah tangga, untuk mengatasi situasi ini upaya pemenuhan kesehatan dan gizi melalui program jaring pengaman sosial masih perlu mendapat prioritas, misalnya pemberian supplementasi gizi yang tepat sasaran, tepat waktu dengan mutu yang baik, perlu mendapat prioritas

    Daftar Pustaka

    • 1- Arsita EP. Buku Kedokteran Keluarga. Kedokteran keluarga: konsep, wawasan .

      • 1 st ed. Surakarta: FKU Sebelas Maret; 2000.p. 1-45.

      • 2- Bakti Husada. Dokter Keluarga. Kementerian Kesehatan RI (serial online) 2012 (cited 2012 June 15): (1 screen). Available from: URL: http://www.ppjk.depkes.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=61 &Itemid=102

        • 3- Budiman C. Ilmu kedokteran pencegahan dan komunitas.In: Husny M, Windriya KN, editors. Pendahuluan: konsep sehat, ekologi sehat dan sakit, tahapan usaha preventif. 1 st ed. Jakarta: EGC; 2009.p. 5-19

          • 4- H Ayub Ali. Program pelayanan kesehatan di puskesmas. Dinas Kesehatan Kab.Polewali Mandar (serial online) 2013 Mar 30 (cited 2012 June 16): ( 1 screen). Available from: URL: http://dinkes.polewalimandarkab.go.id/program- pelayanan-kesehatan-di-puskesmas/

            • 5- Bawa Budi RH. Standar pelayanan medik obstetri dan ginekologi. In: Sosroatmodjo HS, editor. Obstetri: penyakit dalam kehamilan. 1 st ed. Kuala Kapuas: RSUD; 2010.p. 13

              • 6- Sugito W,editor. Konsep dan nilai sentral kedokteran keluarga. Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia; 2008 March 15; Bandung, Indonesia