Anda di halaman 1dari 34

BAB I PENDAHULUAN

Periode setelah lahir merupakan awal kehidupan yang tidak

menyenangkan bagi bayi. Hal itu disebabkan oleh lingkungan kehidupan sebelumnya (intrauterus) dengan kehidupan sekarang (ekstrauterus) yang sangat berbeda. Bayi yang dilahirkan prematur ataupun bayi yang dilahirkan dengan penyulit/komplikasi, tentu proses adaptasi kehidupan tersebut menjadi lebih sulit untuk dilaluinya. Bahkan sering kali menjadi pemicu timbulnya komplikasi lain yang menyebabkan bayi tersebut tidak mampu melanjutkan kehidupan ke fase berikutnya (meninggal). Bayi seperti ini yang disebut dengan istilah bayi resiko tinggi. Salah satu dari bayi resiko tinggi adalah bayi dengan sindroma gawat nafas (SGN/RDS). Respiratory Distress Syndrome (RDS) didapatkan sekitar 5 -10% pada bayi kurang bulan, 50% pada bayi dengan berat 501-1500 gram. Angka kejadian berhubungan dengan umur gestasi dan berat badan. RDS sering ditemukan pada bayi premature. Insidens berbanding terbalik dengan usia kehamilan dan berat badan. Artinya semakin muda usia kehamilan ibu semakin tinggi kejadian RDS pada bayi tersebut. Sebaliknya, semakin tua usia kehamilan semakin rendah kejadian RDS2. Bayi dengan berat lahir rendah juga salah satu bayi yang memiliki risiko tinggi. Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yaitu bayi baru lahir yang berat badannya 2500 gram atau lebih rendah tanpa memandang masa gestasi. Dalam definisi ini tidak termasuk bayi-bayi dengan berat badan kurang daripada 1000 gram. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir. Berdasarkan definisi dari WHO, bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum usia kehamilan (gestasi) 37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir4. Persentase kejadian menurut usia kehamilan adalah 60-80% terjadi pada bayi yang lahir dengan usia kehamilan kurang dari 28 minggu; 15-30% pada bayi antara 32-36 minggu dan jarang sekali ditemukan pada bayi yang cukup bulan. Insiden pada bayi prematur kulit putih lebih tinggi dari pada kulit hitam dan lebih sering terjadi pada bayi laki-laki dari pada perempuan. Selain itu kenaikan

frekuensi juga sering terjadi pada bayi yang lahir dari ibu yang menderita gangguan perfusi darah uterus selama kehamilan, misalnya ibu menderita penyakit diabetes, hipertensi, hipotensi, seksio serta perdarahan antepartum. Namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bayi resiko tinggi dapat hidup dengan baik tanpa mengalami cacat. Hal ini terjadi jika ia dirawat di ruang perawatan intensif neonatus, dengan tenaga perawat yang memiliki spesialisasi kealihan di bidang tersebut.

BAB II LAPORAN KASUS

2.1.

IDENTIFIKASI Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Kebangsaan Agama No. RM Pav/kelas MRS Tanggal : By. Y : 8 hari : Perempuan : Jl. Tegal Binangun RT 19/ RW 05 kelurahan plaju darat : Indonesia : Islam : 09.96.14 : Neonatus / III : 19 September 2013

2.2. ANAMNESIS Keluhan Utama Lahir tidak langsung menangis (alloanamnesis) Bayi perempuan lahir SC atas indikasi gemeli + partus prematurus imminens dari ibu G1P0A0, hamil preterm 32 -33 minggu, ditolong oleh dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan di ruang OK RSUD Palembang Bari, saat lahir tidak langsung menangis, APGAR Score 6/8 dilakukan pembersihan jalan nafas, Riwayat KPSW (-), ketuban jernih (+), ketuban hijau (-), bau busuk (-), kental (-), mekonium (-), anus (+), injeksi Vit. K (+), BBL 1550 gram, PB 40 cm, LK 33 cm, LD 32 cm.

Resusitasi Langsung dilakukan diruang OK emergensi oleh dokter (IGD) dengan apgar score 6/8.

Riwayat kehamilan Riwayat ibu demam (-) Riwayat ibu Hipertensi (-) Riwayat ibu diabetes melitus (-) Riwayat ibu anemia (-) Minum alkohol (-) Merokok (-) Riwayat Penyakit dalam Keluarga Riwayat penyakit anak sebelumnya yang sama dalam keluarga tidak ada (Pasien anak pertama)

Pedigree Keluarga: Tn. R 24 thn, Buruh

Ny. Ny.E Y23 20thn, thn Ibu rumah tangga Ibu Rumah Tangga

os

Riwayat Sosial Ekonomi Pasien adalah anak pertama dari Tn.R yang bekerja sebagai buruh, dan Ny.DK yang bekerja sebagai ibu rumah tangga. Secara ekonomi, keluarga pasien tergolong ekonomi menengah kebawah.

2.3. PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan Umum Keadaan Umum : Tampak sakit sedang, Aktifitas: hipoaktif Refleks hisap: lemah Refleks tangis: kuat 4

Anemis (-), ikterik (-), dypneu (+), sianosis (-) Heart Rate : 142 x/menit Pernapasan : 62 x/menit Suhu badan : 36,50C Berat badan : 1550 gram Panjang badan : 40 cm Lingkar kepala : 33 cm Lingkar dada : 32 cm

Pemeriksaan Khusus Kepala : normocephali Rambut : hitam Ubun-ubun : frontanemia mayor dan minor belum menutup. Muka Mata Hidung Mulut Telinga Leher Thoraks Cor Pulmo Abdomen Ekstremitas Genitalia dan Anus : tidak ada kelainan bentuk, muka oval. : simetris, sklera tidak icterus, conjungtiva tidak anemis. : NCH (+), sekret (-), epistaksis (-) : Sianosis (-), bibir kering (-) : Simetris, bersih, tidak ada serumen. : Tidak ada pembesaran KGB : Simetris , retraksi (+) : BJ 1&2 normal, murmur (-), gallop (-) : vesikular (+) normal, ronkhi (-), wheezing (-) : Datar, lemas, hepar-lien tidak teraba, BU (+) N : Akral hangat (+), sianosis (-), CRT < 3 detik : Anus (+) tidak ada atresia ani, tidak ada fistula. mekoneum (+) keluar.

Pemeriksaan Down Score


SKOR FREKUENSI NAFAS SIANOSIS Tidak sianosis Sianosis hilang dengan O2 RETRAKSI AIR ENTRY Tidak ada retraksi Udara masuk baik Retraksi ringan Penurunan ringan udara masuk MERINTIH Tidak merintih Dapat didengar dengan stetoskop Sianosis menetap walaupun diberin O2 Retraksi berat Tidak ada udara masuk Jelas terdengar tanpa stetoskop 0 < 60x/menit 1 60 80 x/menit 2 > 80 x/menit

Total down score : 5 (distress pernapasan moderat) perlu Nasal CPAP

2.4.

DIAGNOSA SEMENTARA Neo : Preterm 32 - 34 minggu Ibu : G1P0A0 Lahir : SC Bayi : BBLR + RDS DIAGNOSIS KERJA BBLR + RDS

2.5.

2.6.

PENATALAKSANAAN Awal : 1. Inj. Vit K 1 x 1 mg (Intramuskular) 2. Zalf mata Kloramfenicol 1 % 3. Perawatan tali pusat 4. IVFD D 7,5 % + Ca. Gluconas 31 cc gtt 5x/m 5. Inj. Ampicilin 2 x 80 mg (1) iv 6. Inj. Gentamicin 4 mg/24 jam (1) iv 7. Aminofilin 12 mg 3x3 mg 8. Ncpap 9. Jaga suhu tubuh 36,5 37,50C 10. Cek Laboratorium (darah rutin, BSS dan CRP) 11. Rontgen Thorax

2.7.

PEMERIKSAAN PENUNJANG Darah Rutin (19 September 2013) Hb : 16,3 g/dl Ht : 42 % Leukosit : 17.900 /mm3 Trombosit : 191.000/mm3

LED : 4 mm/jam Diff count : 0/1/2/55/35/7 CRP : (-) Gol.Darah : O rh.+ BSS : 70mg/dl 2.8. PEMERIKSAAN RADIOLOGI Rontgen Thorax : Cor dan Pulmo tidak ada kelainan 2.9. PROGNOSIS Quo ad vitam : dubia ad bonam Quo ad fungsional : dubia ad bonam 2.10. RESUME Pada tanggal 19 September 2013 lahir seorang bayi perempuan, berkebangsaan Indonesia, beragama Islam, lahir SC dari ibu G1P0A0, Preterm ditolong oleh dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandugan di ruang OK RSUD Palembang Bari, saat lahir tidak langsung menangis, APGAR Score 6/8 dilakukan pembersihan jalan nafas, Riwayat KPSW (-) , ketuban hijau (-),kental (-), berbau busuk (-), mekonium (-), anus(+) LK : 33 cm, , BB= 1550 gram, PB 40 cm. Pada pemeriksaan umum didapatkan tampak sakit sedang, aktifitas: hipoaktif, refleks hisap: lemah, tangis: kuat, HR 147 x/menit, pernapasan 62 x/menit, suhu badan 36,7 oC. dilakukan pemeriksaan darah rutin, didapatkan hasil: hb 16,3 g/dl, ht 42 %, leukosit 17.900/mm3 trombosit 191.000/mm3, LED 4 mm/jam, diff count : 0/1/2/55/35/7, CRP (-) Golda O rhesus +. pasien lalu dirawat ke Neonatus RSUD Palembang bari untuk dilakukan perawatan.

2.11.

FOLLOW UP (Tanggal 19 September 2013) S : (-) O: KU= Sens: CM Aktifitas: hipoaktif Tangis: Kuat BBL: 1550 gr BBS: 1550 gr U: 0 hr

R. Hisap: lemah Anemis (-), ikterik (-), dypneu (-), sianosis (-) HR : 147x/m RR : 62 x/mnt Suhu : 36,7oC KS: Kepala : NCH (+), SI (-), CA (-) Thorax : Simetris, retraksi(-) Cor : BJ I/II (+) N, m(-), g(-) Pulmo: Vesikular (+) N, wh (-), rh(-) Abdomen: Datar, lemas, BU (+) N Extremitas: Akral hangat , CRT < 3 A: BBLR + RDS Penatalaksanaan IVFD D 7,5 % + Ca. Gluconas 31 cc gtt 5x/m Inj. Ampicilin 2 x 80 mg (1) iv Inj. Gentamicin 4 mg/24 jam (1) iv Aminofilin 12 mg 3x3 mg Stop oral OGT DC Ncpap, bubble (+), FI02 40%, peep 6, flow 7 Jaga suhu tubuh 36,5 37,50C Cek Laboratorium (darah rutin, BSS dan CRP) Rontgen Thorax

(Tanggal 20 September 2013) S : (-) BBL: 1550 gr O: KU= Sens: CM BBS: 1500 gr Aktifitas: Aktif U: 1 hr Tangis: Kuat R. Hisap: lemah Anemis (-), ikterik (-), dypneu (-), sianosis (-) HR : 145x/m RR : 60 x/mnt Suhu : 36,7oC

KS: Kepala : NCH (+), SI (-), CA (-) Thorax : Simetris, Retraksi (+) Cor : BJ I/II (+) N, m(-), g(-) Pulmo: Vesikular (+) N, wh (-), rh(-) Abdomen: Datar, lemas, BU (+) N Extremitas: Akral hangat, CRT < 3 A: BBLR + RDS Penatalaksanaan IVFD D 7,5 % + Ca. Gluconas 31 cc gtt 5x/m Inj. Ampicilin 2 x 80 mg (2) iv Inj. Gentamicin 4 mg/24 jam (2) iv Aminofilin 12 mg 3x3 mg Stop oral OGT DC Ncpap, bubble (+), FI02 30%, peep 6, flow 7 Jaga suhu tubuh 36,5 37,50C Rontgen Thorax

(Tanggal 21 September 2013) S : (-) BBL: 1550 gr O: KU= Sens: CM BBS: 1500 gr Aktifitas: Aktif U: 2 hr Tangis: Kuat R. Hisap: lemah Anemis (-), ikterik (-), dypneu (-), sianosis (-) HR : 140x/m RR : 48 x/mnt Suhu : 36,7oC KS: Kepala : NCH (-) Thorax : Simetris, Retraksi (-) Cor : BJ I/II (+) N, m(-), g(-) Pulmo: Vesikular (+) N, wh (-), rh(-) Abdomen: Datar, lemas, BU (+) N Extremitas: Akral hangat, CRT < 3 A: BBLR + RDS Penatalaksanaan IVFD D 7,5 % + Ca. Gluconas 31 cc gtt 5x/m

10

Inj. Ampicilin 2 x 80 mg (3) iv Inj. Gentamicin 4 mg/24 jam (3) iv Aminofilin 12 mg 3x3 mg OGT DC O2 nasal Jaga suhu tubuh 36,5 37,50C Asi/pasi 12 x 2 cc

(Tanggal 22 September 2013) S : Ikterik BBL: 1550 gr O: KU= Sens: CM BBS: 1500 gr Aktifitas: Aktif U: 3 hr Tangis: Kuat R. Hisap: lemah Anemis (-), ikterik (+), dypneu (-), sianosis (-) HR : 142x/m RR : 47 x/mnt Suhu : 36,7oC KS: Kepala : NCH (-) Thorax : Simetris, Retraksi (-) Cor : BJ I/II (+) N, m(-), g(-) Pulmo: Vesikular (+) N, wh (-), rh(-) Abdomen: Datar, lemas, BU (+) N Extremitas: Akral hangat (-) A: BBLR + RDS Penatalaksanaan IVFD D 7,5 % + Ca. Gluconas 31 cc gtt 5x/m Inj. Ampicilin 2 x 80 mg (4) iv Inj. Gentamicin 4 mg/24 jam (4) iv Aminofilin 12 mg 3x3 mg O2 nasal Asi/pasi 12 x 2 cc Jaga suhu tubuh 36,5 37,50C

(Tanggal 23 September 2013)

11

S : Ikterik BBL: 1550 gr O: KU= Sens: CM BBS: 1500 gr Aktifitas: Aktif U: 4 hr Tangis: Kuat R. Hisap: lemah Anemis (-), ikterik (+), dypneu (-), sianosis (-) HR : 117x/m RR : 48 x/mnt Suhu : 36,7oC KS: Kepala : NCH (-) Thorax : Simetris, Retraksi (-) Cor : BJ I/II (+) N, m(-), g(-) Pulmo: Vesikular (+) N, wh (-), rh(-) Abdomen: Datar, lemas, BU (+) N Extremitas: Akral hangat (-) A: BBLR + RDS dengan perbaikan Penatalaksanaan IVFD D 7,5 % + Ca. Gluconas 31 cc gtt 5x/m Inj. Ampicilin 2 x 80 mg (5) iv Inj. Gentamicin 4 mg/24 jam (5) iv Aminofilin 12 mg 3x3 mg OGT DC O2 nasal Asi/pasi 12 x 3 cc Foto terapi Jaga suhu tubuh 36,5 37,50C

(Tanggal 24 September 2013) S : (-) BBL: 1550 gr O: KU= Sens: CM BBS: 1500 gr Aktifitas: Aktif U: 5 hr Tangis: Kuat R. Hisap: lemah Anemis (-), ikterik (-), dypneu (-), sianosis (-) HR : 152x/m

12

RR : 50 x/mnt Suhu : 36,7oC KS: Kepala : NCH (-) Thorax : Simetris, Retraksi (-) Cor : BJ I/II (+) N, m(-), g(-) Pulmo: Vesikular (+) N, wh (-), rh(-) Abdomen: Datar, lemas, BU (+) N Extremitas: Akral hangat (-) A: BBLR + RDS dengan perbaikan Penatalaksanaan IVFD D 7,5 % + Ca. Gluconas 31 cc gtt 5x/m Inj. Ampicilin 2 x 80 mg (6) iv Inj. Gentamicin 4 mg/24 jam (6) iv Aminofilin 12 mg 3x3 mg OGT DC O2 nasal Asi/pasi 12 x 3 cc Jaga suhu tubuh 36,5 37,50C

(Tanggal 25 September 2013) S : (-) BBL: 1550 gr O: KU= Sens: CM BBS: 1600 gr Aktifitas: Aktif U: 6 hr Tangis: Kuat R. Hisap: kuat Anemis (-), ikterik (-), dypneu (-), sianosis (-) HR : 163x/m RR : 45 x/mnt Suhu : 36,7oC KS: Kepala : NCH (-) Thorax : Simetris, Retraksi (-) Cor : BJ I/II (+) N, m(-), g(-) Pulmo: Vesikular (+) N, wh (-), rh(-) Abdomen: Datar, lemas, BU (+) N Extremitas: Akral hangat (-) A: BBLR + RDS perbaikan Penatalaksanaan IVFD D 7,5 % + Ca. Gluconas 31 cc gtt 5x/m

13

Inj. Ampicilin 2 x 80 mg (7) iv Inj. Gentamicin 4 mg/24 jam (7) iv Aminofilin 12 mg 3x3 mg OGT DC Asi/pasi 12 x 5 cc Jaga suhu tubuh 36,5 37,50C

(Tanggal 26 September 2013) S : (-) BBL: 1550 gr O: KU= Sens: CM BBS: 1600 gr Aktifitas: Aktif U: 7 hr Tangis: Kuat R. Hisap: kuat Anemis (-), ikterik (-), dypneu (-), sianosis (-) HR : 125x/m RR : 40 x/mnt Suhu : 36,7oC KS: Kepala : NCH (-), SI (-), CA (-) Thorax : Simetris, Retraksi (-) Cor : BJ I/II (+) N, m(-), g(-) Pulmo: Vesikular (+) N, wh (-), rh(-) Abdomen: Datar, lemas, BU (+) N Extremitas: Akral hangat (-) A: BBLR Penatalaksanaan IVFD D 7,5 % + Ca. Gluconas 31 cc gtt 7x/m Inj. Ampicilin 2 x 80 mg (8) iv Inj. Gentamicin 4 mg/24 jam (8) iv Aminofilin 12 mg 3x3 mg OGT DC Asi/pasi 12 x 6 cc BBL: 1550 gr BBS: 1400 gr U: 8 hr

(Tanggal 27 September 2013) S : (-) O: KU= Sens: CM Aktifitas: Aktif Tangis: Kuat

14

R. Hisap: kuat Anemis (-), ikterik (-), dypneu (-), sianosis (-) HR : 125x/m RR : 40 x/mnt Suhu : 36,7oC KS: Kepala : NCH (-), SI (-), CA (-) Thorax : Simetris, Retraksi (-) Cor : BJ I/II (+) N, m(-), g(-) Pulmo: Vesikular (+) N, wh (-), rh(-) Abdomen: Datar, lemas, BU (+) N Extremitas: Akral hangat (-) A: BBLR Penatalaksanaan IVFD D 7,5 % gtt 6x/m Aminofilin 12 mg 3x3 mg OGT DC Asi/pasi 12 x 8 cc Jaga suhu tubuh 36,5 37,50C

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

15

3.1. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) A. Definisi BBLR Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yaitu bayi baru lahir yang berat badannya 2500 gram atau lebih rendah tanpa memandang masa gestasi. Dalam definisi ini tidak termasuk bayi-bayi dengan berat badan kurang daripada 1000 gram. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir. Berdasarkan definisi dari WHO, bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum usia kehamilan (gestasi) 37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir.2 B. Klasifikasi BBLR Secara khusus BBLR memiliki pengelompokan sendiri. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan dalam pengelompokan BBLR, yaitu2 : Menurut harapan hidup :

a. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), berat lahir 1.500-2.500 gram b. Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR), berat lahir 1.000-1.500 gram c. Bayi Berat Lahir Amat Sangat Rendah (BBLASR), berat lahir kurang dari 1.000 gram. Menurut masa gestasinya :

a. Prematuritas murni, masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi berat atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai dengan masa kehamilan. 2 b. Dismaturitas, bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa gestasi itu. Bayi mengalami retardasi pertumbuhan intra uterin atau lebih dikenal dengan Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) dan merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya. 2

C. Etiologi Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Faktor ibu yang lain adalah umur, paritas, dan lain-lain. Faktor plasenta seperti penyakit vaskuler, kehamilan kembar/ganda, serta faktor janin juga merupakan penyebab terjadinya 16

BBLR. 2

Faktor Ibu Faktor penyakit Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan, misalnya toxemia gravidarum, perdarahan antepartum, trauma fisik dan psikologis. Selain itu penyakit lain seperti nefritis akut, infeksi akut, dan lain-lain. 2 Usia Angka kejadian tertinggi pada bayi BBLR adalah umur ibu dibawah 20 tahun dan pada multigravida yang jarak kelahirannya terlalu dekat. 2 Keadaan Sosial Keadaan ini sangat berperan sekali terhadap timbulnya BBLR. Hal ini disebabkan oleh gizi yang kurang baik dan antenatal care yang kurang. 2 Sebab Lain Karena ibu perokok, peminum atau narkotik. 2 Faktor Janin Hydrammion Kehamilan yang multiple Kelainan kromosom Syphilis termasuk juga infeksi kronis Faktor Lingkungan Tempat tinggal di dataran tinggi Radiasi Zat-zat racun

17

D. Tanda dan Gejala pada Bayi Kurang Bulan Berat badan < dari 2500 gram Tinggi badan < dari 45 cm Lingkar dada < 30 cm Lingkar kepala < dari 33 cm Tanda-tanda anatomis: Kulit keriput tipis, merah, penuh bulu-bulu halus ( lanugo) pada dahi, pelipis, telinga dan lengan. Lemak dalam jaringan subkutan sedikit. Kuku jari tangan dan jari kaki belum mencapai ujung jari. Bayi prematur laki-laki testis belum turun dan pada wanita labia minora lebih menonjol. 2 Tanda-tanda fisiologis: Gerak pasif dan tangis hanya merintih walau lapar tidak menangis, bayi lebih banyak tidur dan lebih malas. Suhu tubuh mudah berubah menjadi hypotermi. 2 Disebabkan oleh: Pusat pengatur panas belum berfungsi dengan sempurna. Kurangnya lemak dalam jaringan subkutan akibatnya mempercepat terjadinya perubahan suhu tubuh. Kurangnya pergerakan akibatnya produksi panas juga berkurang. Permukaan tubuh relatif lebih luas, sehingga pengeluaran panas melalui tubuh lebih besar. Alat pernafasan belum bekerja dengan sempurna.

E. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain: 1 a. Pemeriksaan Ballard Score b. Tes kocok (shake test), dianjur untuk bayi kurang bulan c. Darah rutin, glukosa darah, kalau perlu dan tersedia fasilitas diperiksa kadar

18

elektrolit dan analisa gas darah (AGD) d. Foto dada ataupun babygram diperlukan pada bayi baru lahir dengan umur kehamilan kurang bulan dimulai pada umur 8 jam atau didapat/diperkirakan akan terjadi sindrom gawat nafas e. USG kepala terutama pada bayi dengan umur kehamilan

F. Penatalaksanaan BBLR a. Mempertahankan suhu badan bayi2 Bayi BBLR akan cepat mengalami kehilangan panas badan atau suhu tubuh dan menjadi hipotermia, karena pusat pengaturan suhu tubuh belum berfungsi dengan baik, sistem metabolisme yang rendah dan luas permukaan tubuh yang relatif luas. Oleh karena itu bayi dirawat di dalam inkubator, inkubator dilengkapi dengan alat pengatur suhu dan kelembapan agar bayi dapat menjaga mempertahankan suhu tubuhnya yang normal, alat oksigen yang dapat diatur, serta kelengkapan lain untuk mengurangi kontaminasi dengan lingkungan luar. Suhu inkubator yang optimum diperlukan agar panas yang hilang dan konsumsi oksigen cukup sehingga bayi walaupun dalam keadaan telanjang dapat mempertahankan suhu tubuhnya sekitar 36,5-37,5oC. Tingginya suhu lingkungan ini bergantung tingkat maturitas bayi. Perawatan metode kanguru (PMK) adalah perawatan untuk BBLR dengan melakukan kontak langsung antara kulit bayi dengan kulit ibu (skinto-skin contact). Hampir setiap bayi kecil dapat dirawat dengan PMK. PMK pada bayi kecil dapat dilakukan dengan dua cara (Depkes RI, 2008): 1 1. PMK intermiten : PMK tidak diberikan sepanjang waktu tetapi hanya dilakukan jika ibu mengunjungi bayinya yang masih berada dalam perawatan di inkubator dengan durasi minimal satu jam secara terus menerus dalam satu hari. 2. PMK kontinu : PMK yang diberikan sepanjang waktu yang dapat dilakukan di unit rawat gabung atau ruangan yang digunakan untuk perawatan metode kanguru.

19

Sumber: Sari Pediatri, Vol. 2, No. 1, Juni 2000: 29 35.5

b. Pengaturan dan pengawasan intake nutrisi Dalam hal ini adalah menentukan pilihan susu, cara pemberian dan jadwal pemberian sesuai dengan kebutuhan bayi BBLR. Air Susu Ibu (ASI) merupakan pilihan pertama jika bayi mampu menghisap. ASI merupakan makanan yang paling utama, sehingga ASI adalah pilihan yang harus didahulukan untuk diberikan. 2 Cara pemberian ASI harus berhati-hati agar tidak terjadi regurgitasi. Pada bayi dalam inkubator dengan kontak minimal, kasur inkubator bayi dapat diangkat atau dinaikkan dan bayi menghadap ke sisi kanannya. Pada bayi yang lebih besar dapat dengan dipangku. Pada BBLR yang kecil dan kurang giat menghisap ASI dapat diberikan melalui selang NGT. 2 c. Pencegahan infeksi 20

Bayi BBLR sangat rentan terhadap infeksi karena kadar imunoglobulin yang masih rendah, aktifitas bakterisidal neutrofil, efek sitotoksik limfosit juga masih rendah dan fungsi imun belum baik. Bayi akan mudah mendapatkan infeksi, terutama disebabkan oleh infeksi nosokomial. 2 d. Penimbangan berat badan Perubahan berat badan mencerminkan kondisi gizi atau nutrisi dan erat kaitannya dengan daya tahan tubuh, oleh sebab itu pemantauan dan monitoring harus dilakukan secara ketat (Depkes RI 2005). Biasanya berat badan bayi akan menurun 7-10 hari pertama namun akan kembali seperti semula dalam 14 hari. Setelah berat badan tercapai kembali, kemudian dipantau kenaikan berat badan dalam tiga bulan dengan perkiraan (Depkes RI 2005): 2 150-200 gram seminggu untuk bayi < 1.500 gram (20-30 gram per hari) 200-250 gram seminggu untuk bayi 1.500-2.500 gram (30-35 gram per hari) e. Pemberian oksigen Ekspansi paru yang memburuk merupakan masalah serius bagi bayi preterm BBLR akibat tidak adanya surfaktan. Konsentrasi O2 yang diberikan sekitar 30-35% dengan menggunakan head box, konsentrasi O2 yang tinggi dalam masa panjang dapat menyebabkan kerusakan jaringan retina bayi yang dapat menimbulkan kebutaan. 1 f. Pengawasan jalan nafas Terhambatnya jalan nafas dapat menimbulkan asfiksia, hipoksia, dan akhirnya kematian. Bayi BBLR memiliki risiko mengalami serangan apneu dan defisiensi surfaktan, sehingga tidak dapat memeroleh oksigen yang cukup seperti yang diperoleh dariplasenta sebelumnya. Dalam kondisi ini diperlukan pembersihan jalan nafas segera setelah lahir (aspirasi lendir), dibaringkan pada posisi miring, merangsang pernafasan menepuk atau menjentik tumit. Bila tindakan ini gagal dilakukan ventilasi, intubasi endotrakeal, pijatan jantung dan pemberian oksigen dan selama pemberian intake dapat mencegah 21

terjadinya aspirasi. 2

G. Komplikasi Komplikasi langsung yang dapat terjadi pada bayi berat lahir rendah antara lain: 1 a. Hipotermia b. Hipoglikemia c. Gangguan cairan dan elektrolit d. Hiperbilirubinemia e. Sindroma gawat nafas f. Paten duktus arteriosus g. Infeksi h. Perdarahan intraventrikuler i. Apnea of Prematurity j. Anemia

Masalah jangka panjang yang mungkin timbul pada (BBLR): 1 a. Gangguan perkembangan b. Gangguan pertumbuhan c. Gangguan penglihatan (Retinopati) d. Gangguan pendengaran e. Penyakit paru kronis f. Kenaikan angka kesakitan dan sering masuk rumah sakit g. Kenaikan frekuensi kelainan bawaan

22

Komplikasi lainnya: 2 a. Sindrom aspirasi mekonium, asfiksia neonatorum, sindrom distress respirasi, penyakit membran hialin b. Dismatur preterm terutama bila masa gestasinya kurang dari 35 minggu c. Hiperbilirubinemia, patent ductus arteriosus, perdarahan ventrikel otak d. Hipotermia, Hipoglikemia, Hipokalsemia, Anemi, gangguan pembekuan darah e. Infeksi, retrolental fibroplasia, necrotizing enterocolitis (NEC)

H. Pijat bayi

23

Gambar 2. Manfaat Pijat Bayi


Sumber: RSUD Palembang BARI

3.2. Respiratory Distres Sindrom A. Definisi 24

Kumpulan dari 2 atau lebih gejala: gangguan ventilasi paru yang menetap setelah 4 jam pertama sesudah lahir, ditandai dengan frekuensi napas >60 kali/menit; merintih pada waktu ekspirasi; retraksi otot-otot bantu pernapasan pada waktu inspirasi/rektraksi interkostal, subkostal, supra-sternal, epigastrium; pernapasan cuping hidung dan sianosis.3

B. Etiologi Gangguan traktus respiratorius: Hyaline Membrane Disease (HMD), Transient Tachypnoe of the Newborn (TTN), infeksi (Pneumonia), Sindrom Aspirasi, Hipoplasia Paru, Hipertensi Pulmonal, Kelainan Kongenital (Choanal Atresia, Hernia Diafragmatika, Pierre Robin Syndrome), Pleural Effusion, Kelumpuhan syaraf frenikus, dll 3 Gangguan luar traktus respiratorius: Kelainan jantung kongenital, Kelainan metabolik, darah, dan SSP

C. Diagnosis4 Penegakan diagnosis : a. Berdasarkan gejala klinis b. Pemeriksaan radiologis Pada banyak kasus, diagnosis tepat dapat ditegakkan dari pemeriksaan rontgen paru. Pada foto rontgen akan terlihat bercak difus berupa infiltrate retikulogranular disertai adanya air bronchogram (Ground glass appearance).Gambaran retikulogranular ini merupakan manifestasi adanya kolaps alveolus sehingga apabila penyakit semakin berat gambaran ini akan semakin jelas.

25

Berdasarkan foto thorak, menurut kriteria Bomsel ada 4 stadium RDS yaitu : Stadium 1. Stadium 2. Terdapat sedikit bercak retikulogranular. Bercak retikulogranular homogen pada kedua lapangan paru dan gambaran airbronchogram udara terlihat lebih jelas dan meluas sampai ke perifer menutupi bayangan jantung dengan penurunan aerasi paru. Stadium 3. Kumpulan alveoli yang kolaps bergabung sehingga kedua lapangan paru terlihat lebih opaque dan bayangan jantung hampir tak terlihat, bronchogram udara lebih luas. Stadium 4. Seluruh thorax sangat opaque (white lung) sehingga jantung tak dapat dilihat. c. Gambaran Laboratorium Kadar asam laktat dalam darah meninggi dan bila kadarnya lebih tinggi dari 45 mg% prognosisnya lebih buruk. Kadar bilirubin lebih tinggi dibandingkan dengan bayi normal dengan berat badan yang sama. Kadar PaO2 menurun disebabkan berkurangnya oksigenasi di dalam paru dan karena adanya pirau arteri- vena. Kadar PaCO2 meninggi, karena gangguan ventilasi dan pengeluaran CO2 sebagai akibat atelektasis paru. pH darah

26

menurun dan deficit basa meningkat adanya asidosis respiratorik dan metabolik dalam tubuh. d. Pemeriksaan fungsi paru - Isi tidal volume menurun - Lung compliance berkurang - Kapasitas sisa fungsional merendah dan kapasitas vital terbatas - Fungsi ventilasi dan perfusi paru terganggu. e. Pemeriksaan fungsi kardiovaskuler Penyelidikan dengan kateterisasi jantung memperlihatkan beberapa perubahan dalam fungsi kardiovaskuler berupa duktus arteriosus paten, pirau dari kiri ke kanan atau pirau kanan ke kiri (bergantung pada lanjutnya penyakit), menurunnya tekanan arteri paru dan sistemik. f. Gambaran histopatologi Secara makroskopis Paru tampak merah keunguan dan berkonsistensi seperti hepar Secara miskroskopis - Adanya atelektasis yang luas dengan pelebaran kapiler dan saluran limfe intra alveolar - Duktus alveolaris, alveolus dan bronkiolus pernapasan dilapisi membrane yang asidofilik, homogen/ granuler - Sisa- sisa amnion, perdarahan intraalveolar dan emfisema intersfistel - Membran hialin yang khas, terbentuk dari fibrin, sel paru dan endotel pembuluh darah yang nekrosis.

27

D. Diagnosis Banding4 Takipnue sementara pada neonates Penyakit membrane hialin Pneumonia Sepsis

E. Pemeriksaan Penunjang Darah : Hb, lekosit, Diff.count, trombosit, mikro LED, dan kultur Foto toraks

F. Tatalaksana Pengobatan suportif pada RDS pada umumnya sama: 3 Pemberian oksigen intranasal sampai nasofaring atau dengan head box IVFD dektrose 7 atau 10% + NaCl 15% 6 cc Antibiotika: Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dalam 3-4 dosis Gentamisin 2 mg/kgBB/18 jam bila BB >2.000 gram Gentamisin 2 mg/kgBB/24 jam bila BB <2.000 gram Mencari penyebab RDS dengan melakukan foto thoraks cito Pemberian makanan peroral ditunda sampai frekuensi pernapasan <60 x/menit Terapi khusus diberikan sesuai dengan penyebab RDS

28

G. Tindak lanjut: Pengamatan rutin: 3 Tanda-tanda vital dan bentuk pernapasan. Awasi tanda-tanda kegagalan pernapasan, infeksi, asidosis, gagal ginjal akut. Pemeriksaan laboratorium rutin: Hb, Leuko, Diff 1 kali 3 hari. Analisa gas darah, pada tahap awal tiap 2 jam, kemudian jika keadaan membaik, pengamatan dijarangkan. Urin diukur. Elektrolit diperiksa sekali sehari. Diamati kemampuan minum dan pertumbuhan berat badan. Pemeriksaan khusus: sesuai bentuk klinik dan perkiraan munculnya komplikasi H. Indikasi Pulang: Tidak sesak dengan frekuensi nafas 40-60 kali per menit, minum baik, tidak ada tanda infeksi dan penyakit penyebab telah terkendali.

Edukasi : penjelasan mengenai factor risiko dan penatalaksanaan serta komplikasi

I. Komplikasi Komplikasi jangka pendek ( akut ) dapat terjadi: 1. Ruptur alveoli : Bila dicurigai terjadi kebocoran udara

29

(pneumothorak, pneumomediastinum, pneumopericardium, emfisema intersisiel ), pada bayi dengan RDS yang tiba-tiba memburuk dengan gejala klinis hipotensi, apnea, atau bradikardi atau adanya asidosis yang menetap. 2. Dapat timbul infeksi yang terjadi karena keadaan penderita yang memburuk dan adanya perubahan jumlah leukosit dan thrombositopeni. Infeksi dapat timbul karena tindakan invasiv seperti pemasangan jarum vena, kateter, dan alat2 respirasi. 3. Perdarahan intrakranial dan leukomalacia periventrikular : perdarahan intraventrikuler terjadi pada 20-40% bayi prematur dengan frekuensi terbanyak pada bayi RDS dengan ventilasi mekanik. 4. PDA dengan peningkatan shunting dari kiri ke kanan merupakan komplikasi bayi dengan RDS terutama pada bayi yang dihentikan terapi surfaktannya. Komplikasi jangka panjang dapat disebabkan oleh toksisitas oksigen, tekanan yang tinggi dalam paru, memberatnya penyakit dan kurangnya oksigen yang menuju ke otak dan organ lain. Komplikasi jangka panjang yang sering terjadi : 1. Bronchopulmonary Dysplasia (BPD): merupakan penyakit paru kronik yang disebabkan pemakaian oksigen pada bayi dengan masa gestasi 36 minggu. BPD berhubungan dengan tingginya volume dan tekanan yang digunakan pada waktu menggunakan ventilasi mekanik, adanya infeksi, inflamasi, dan defisiensi vitamin A. Insiden BPD meningkat dengan menurunnya masa gestasi. 2. Retinopathy premature. Kegagalan fungsi neurologi, terjadi sekitar 1070% bayi yang berhubungan dengan masa gestasi, adanya hipoxia, komplikasi intrakranial, dan adanya infeksi. J. Prognosis

30

Baik bila tidak ada komplikasi

31

BAB IV ANALISIS KASUS


Bayi perempuan lahir Sectio Cesarea dari ibu G1P0A0, preterm, ditolong oleh dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan di ruang OK RSUD Palembang Bari, saat lahir tidak langsung menangis, APGAR Score 6/8 dilakukan pembersihan jalan nafas , Riwayat KPSW (-) , ketuban hijau (-), kental (-), bau (-), mekonium (-), anus (+), BB :1550 gram, PB : 40 cm, LK : 33 cm, LD : 32 cm Pada pemeriksaan umum didapatkan tampak sakit sedang, aktifitas: hipoaktif, refleks hisap: lemah, tangis: kuat, HR 147 x/menit, pernapasan 62 x/menit, suhu badan 36,7 oC. Dilakukan pemeriksaan darah rutin, didapatkan hasil: hb 16,3 g/dl, ht 42 %, leukosit 17.900/mm3, trombosit 191.000/mm3, diff count : 0/1/2/55/35/7, CRP (-), BSS : 70 mg/dl Pasien didiagnosa dengan BBLR + RDS. Diagnosa BBLR karena berat bayi pada saat baru lahir 1550 gram yang menandakan bahwa bayi Ny. Y mengalami BBLR. Penyebab BBLR pada bayi Ny. Y kemungkinan dari kehamilan yang preterm. Sedangkan diagnosa RDS didapatkan karena frekuensi pernapasan pada bayi Ny.Y > 60 x/menit dan pada nilai Down Score didapatkan total nilai 5, dimana telah terjadi distres pernapasan moderat yang memerlukan Nasal CPAP.

32

BAB V KESIMPULAN
Bayi Ny. Y, perempuan, berusia 8 hari lahir dengan Sectio Cesarea mengalami BBLR dan sindrom gawat nafas ( Respiratory Distress Syndrom) perbaikan.

33

DAFTAR PUSTAKA

1. Bagian Ilmu Kehehatan Anak RSMH. 2010. Standar Penatalaksanaan Ilmu Kesehatan Anak. RSMH, Palembang, Indonesia 2. Hassan R. Ilmu Kesehatan Anak Jilid 2. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007. 3. IDAI. 2004. Hyalin Membran Disease : Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Jakarta : Badan Penerbit IDAI 4. Wiknjosastro, dkk. 2005. Ilmu Kebidanan : Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, Indonesia. 5. Surasmi,Asrining,dkk.2003.Perawatan Bayi Resiko Tinggi.Jakarta: EGC 6. Ladewig,patricia,dkk.2006.Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir Edisi 5.Jakarta: EGC 7. Mohamed FB. Hyaline Membrane Disease (Respiratory Distress Syndrome). Dalam: Gomella TL, Eyal FG, Zenk KE, editors. Neonatology: Management, Procedures, On-Call Problems, Diseases, and Drugs. Edisi ke-5. New York: The McGraw-Hill Companies; 2004. 8. Kosim MS. Gangguan Napas pada Bayi Baru Lahir. Dalam: Kosim MS, Yunanto A, Dewi Rizalya, dkk. Buku Ajar Neonatologi. Edisi ke-1. Jakarta: Badan Penerbit IDAI; 2008. 9. Bhakta KY. Respiratory Distress Syndrome. Dalam: Cloherty JP, Eichenweld EC, Stark AR, editors. Manual of Neonatal Care. Edisi ke-6. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2008. 10. Hansen TH. Hyaline Membrane Disease. Dalam: Rudolph CD, Rudolph AM, Hostetter, MK, Lister G, Siegel NJ. Rudolph's Pediatrics, Edisi ke21. New York: McGraw-Hill Companies; 2003

34