Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN KANKER SERVIKS IVA + ANEMIA + HIPOGLIKEMIA

Untuk memenuhi laporan profesi di Departemen Maternitas Periode: 14-19 Oktober 2013 Ruang 9 (Gynecology) RSSA Malang

Oleh : Shila Wisnasari NIM. 0810720065

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

LAPORAN PENDAHULUAN CA CERVIX (KANKER SERVIKS) IVA + ANEMIA + HIPOGLIKEMIA

CA CERVIX (KANKER SERVIKS) A. DEFINISI Kanker Leher Rahim (Kanker Serviks) adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim/serviks (bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina. Kanker laher rahim adalah tumor ganas yang tumbuh di daerah leher rahim (serviks), yaitu suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dan liang senggama (vagina). Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun. 90% dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke dalam rahim. Kanker serviks adalah terjadinya pertumbuhan sel abnormal yang tidak terkendali sehingga menimbulkan benjolan atau tumor pada serviks. Berawal dari serviks, apabila telah memasuki tahap lanjut, kanker ini bisa menyebar ke organorgan lain di seluruh tubuh (Mansjoer dkk, 2008). B. ETIOLOGI Kanker serviks terjadi jika sel-sel serviks menjadi abnormal dan membelah secara tidak terkendali. Jika sel serviks terus membelah maka akan terbentuk suatu massa jaringan yang disebut tumor yang bisa bersifat jinak atau ganas. Jika tumor tersebut ganas, maka keadaannya disebut kanker serviks. Penyebab terjadinya kelainan pada sel-sel serviks tidak diketahui secara pasti, tetapi terdapat beberapa faktor resiko yang berpengaruh terhadap terjadinya kanker serviks: 1) Hubungan seksual Karsinoma serviks diperkirakan sebagai penyakit yang ditularkan secara seksual. Beberapa bukti menunjukkan adanya hubungan antara riwayat

hubungan seksual dan risiko penyakit ini. Sesuai dengan etiologi infeksinya, wanita dengan partner seksual yang banyak dan wanita yang memulai hubungan seksual pada usia muda akan meningkatkan risiko terkena kanker serviks. Karena sel kolumnar serviks lebih peka terhadap metaplasia selama usia dewasa maka wanita yang berhubungan seksual sebelum usia 18 tahun akan berisiko terkena kanker serviks lima kali lipat. Keduanya, baik usia saat pertama berhubungan maupun jumlah partner seksual, adalah faktor risiko kuat untuk terjadinya kanker serviks. 2) Agen Infeksius Mutagen pada umumnya berasal dari agen-agen yang ditularkan melalui hubungan seksual seperti
-

Human Papilloma Virus (HPV) HPV adalah virus penyebab kutil genitalis (kondiloma akuminata) yang ditularkan melalui hubungan seksual. Varian yang sangat berbahaya adalah HPV tipe 16, 18, 45 dan 56

Herpes Simpleks Virus Tipe 2 (HSV 2) Walaupun semua virus pada herpes sel simpleks teknik tipe 2 (HPV-2) insitu belum telah

didemonstrasikan

tumor,

hibridisasi

menunjukkan bahwa terdapat HSV RNA spesifik pada sampel jaringan wanita dengan displasia serviks. DNA sekuens juga telah diidentifikasi pada sel tumor dengan menggunakan DNA rekombinan. Diperkirakan, 90% pasien dengan kanker serviks invasif dan lebih dari 60% pasien dengan neoplasia intraepitelial serviks (CIN) mempunyai antibodi terhadap virus. (Benedet 1998; Nuranna 2005) 3) Merokok Tembakau merusak sistem kekebalan dan mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi HPV pada serviks. Saat ini terdapat data yang

mendukung bahwa rokok sebagai penyebab kanker serviks dan hubungan antara merokok dengan kanker sel skuamosa pada serviks bukan

adenoskuamosa atau adenokarsinoma. Mekanisme kerja bisa langsung (aktivitas mutasi mukus serviks telah ditunjukkan pada perokok) atau melalui efek imunosupresif dari merokok. Bahan karsinogenik spesifik dari tembakau dapat dijumpai dalam lendir dari mulut rahim pada wanita perokok. Bahan karsinogenik ini dapat merusak DNA sel epitel skuamosa dan bersama infeksi HPV dapat mencetuskan transformasi keganasan

4) 5)

Hubungan seksual pertama dilakukan pada usia dini (<16 tahun). Jumlah kehamilan dan partus Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks

6)

Jumlah perkawinan Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks

7)

Hygiene dan sirkumsisi Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma.

8)

Sosial Ekonomi Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh

C. KLASIFIKASI Klasifikasi kanker serviks menurut KOmite Ginekologi Onkologi FIGO (Federation Internationale de Gynecologic et Obstetrigue) Stadium FIGO I Keterangan Kanker serviks terbatas di serviks (penyebaran ke corpus uteri diabaikan) IA Kanker invasive didiagnosa hanya dengan mikroskopis. Semua lesi yg dapat terlihat dengan mikroskop meskipun dengan invasi superficial adalah stadium IB/T1B IA1 Invasi stroma dengan kedalaman tidak lebih dari 3 mm atau dengan penyebaran horizontal 7 mm atau kurang IA2 Invasi stroma dengan kedalaman >3 mm dan <5 mm dengan penyebaran horizontal 7 mm atau kurang IB Lesi yg dapat dilihat secara klinis dikhususkan di serviks atau lesi mikroskopik lebih besar dari IA2 IB2 Lesi yg dapat dilihat secara klinis >4 cm pada dimensi yg paling besar II Telah melibatkan vagina, tetapi belum sampai 1/3 bawah atau

infiltrasi ke parametrium belum mencapai dinding panggul IIA IIA1 IIA2 IIB III Besar tumor mempunyai prognosis yg sama dengan stadium IB Besar tumor 4 cm dengan keterlibatan vagina <2/3 atas Besar tumor >4 cm dengan keterlibatan vagina <2/3 atas Dengan invasi parametrium Tumor meluas ke dinding pelvis dan/atau melibatkan 1/3 bawah vagina dan/atau menyebabkan hidronefrosis atau afungsi ginjal IIIA Tumor melibatkan 1/3 bawah vagina & infiltrasi parametrium, tidak terdapat perluasan ke dinding pelvis IIIB Tumor meluas ke dinding pelvis dan/atau menyebabkan hidronefrosis atau afungsi ginjal IVA Tumor menginvasi mukosa kandung kencing atau rectum dan/atau meluas ke pelvis IVB Metastasis jauh

Klasifikasi secara Mikroskopis dan Makroskopis: No 1 Displasia Mikroskopis Makroskopis Stadium preklinis

Displasia ringan terjadi pada sepertiga Tidak dapat dibedakan dengan bagaian basal epidermis. Displasia berat servisitis kronik biasa

terjadi pada dua pertiga epidermihampir tidak dapat dibedakan dengan

karsinoma insitu. 2 Stadium karsinoma insitu Stadium permulaan

Pada karsinoma insitu perubahan sel Sering tampak sebagian lesi epitel terjadi pada seluruh lapisan sekitar osteum externum sel yang

epidermis skuamosa.

menjadi

karsinoma insitu

Karsinoma

tumbuh didaerah ektoserviks, peralihan sel skuamosa kolumnar dan sel

cadangan endoserviks. 3 Stadium karsinoma mikroinvasif. Stadium setengah lanjut

Pada karksinoma mikroinvasif, disamping Telah mengenai sebagian besar perubahan derajat pertumbuhan sel atau seluruh bibir porsio

meningkat juga sel tumor menembus membrana basalis dan invasi pada stoma sejauh tidak lebih 5 mm dari membrana basalis, biasanya tumor ini asimtomatik dan hanya ditemukan pada skrining kanker. 4 Stadium karsinoma invasif Pada karsinoma invasif Stadium lanjut perubahan Terjadi pengrusakan dari jaringan

derajat pertumbuhan sel menonjol besar serviks, sehingga tampaknya dan bentuk sel bervariasi. Petumbuhan seperti ulkus dengan jaringan yang invasif muncul diarea bibir posterior atau rapuh dan mudah berdarah. anterior jurusan serviks yaitu dan meluas posterior ketiga atau

forniks

anterior, parametrium dan korpus uteri.

Bentuk kelainan dalam pertumbuhan karsinoma serviks: 1. Pertumbuhan eksofilik, berbentuk bunga kool, tumbuh kearah vagina dan dapat mengisi setengah dari vagina tanpa infiltrasi kedalam vagina, bentuk

pertumbuhan ini mudah nekrosis dan perdarahan. 2. Pertumbuhan endofilik, biasanya lesi berbentuk ulkus dan tumbuh progesif meluas ke forniks, posterior dan anterior ke korpus uteri dan parametrium.

3. Pertumbuhan nodul, biasanya dijumpai pada endoserviks yang lambatlaun lesi berubah bentuk menjadi ulkus. D. MANIFESTASI KLINIS Gejala umum yang dapat ditemukan yaitu: perdarahan kontak, keputihan bercampur darah dan berbau, serta tanda-tanda anemia. Sedangkan gejala khusus yang dijumpai yaitu keluar cairan dari kemaluan berupa darah bercampur dengan keputihan & berbau khas. Dengan semakin berlanjutnya penyakit, tanda-tanda klinis akan terlihat jelas, berupa serviks yg membesar, irregular, dan padat. Pertumbuhan serviks dapat berupa endofitik, eksofitik maupun ulseratif. Dapat melibatkan vagina, parametrium maupun dinding panggul. Menurut Dalimartha (2004) pada tahap awal, terjadinya kanker serviks tidak ada gejala2 khusus. Biasanya timbul gejala berupa ketidakteraturan siklus haid, amenorrhea, hipermenorrhea, dan penyaluran secret vagina yang sering atau perdarahan intermenstrual post koitus serta latihan berat. Perdarahan yg khas terjadi pada penyakit ini yaitu darah yang keluar berbentuk mukoid. Nyeri yg dirasakan dapat menjalar ke ekstremitas bagian bahwah dari daerah lumbal. Gejala yang dapat muncul antara lain: a) Keputihan: makin lama, makin berbau busuk, diakibatkan infeksi dan nekrosis jaringan b) Perdarahan Kontak: perdarahan yang dialami setelah senggama, merupakan gejala Ca serviks (75-80%) c) Perdarahan spontan: perdarahan yang timbul akibat terbukanya pembuluh darah dan makin lama makin sering terjadi, terutama pada tumor yang bersifat eksofitik. d) Anemia: terjadi akibat perdarahan pervaginam yang berulang. e) Nyeri : ditimbulkan oleh infiltrasi sel tumor ke serabut saraf. f) Gagal ginjal: infiltrasi sel tumor ke ureter yang menyebabkan obstruksi total

E. PATOFISIOLOGI Terdapat beberapa tahap perjalanan keganasan kanker leher rahim (kanker serviks). Secara normal, sel akan melakukan metaplasia (pergantian sel), sel yang sudah tua akan digantikan dengan sel yang muda. Pada orang normal, proses ini berjalan tanpa gangguan. Jika terjadi infeksi HPV pada sel serviks, maka akan terjadi perubahan pada DNA. Saat terjadi metaplasia, sel-sel yang telah terinfeksi HPV menjadi abnormal, disebut dengan dysplasia (stadium prakanker). Dysplasia

terbagi menjadai dysplasia ringan, sedang, dan berat. Periode ini membutuhkan waktu 5-10 tahun untuk berkembang menjadi kanker. Jika dibiarkan, selanjutnya akan berkembang menjadi stadium yang disebut karsinoma insitu. Stadium ini merupakan transisi dari stadium prekanker dengan stadium kanker. Namun tidak semua sel yang mengalami dysplasia akan berkembang menjadi kanker.

F. DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan berikut: 1) Pap smear Pap smear (tes Papanicolau) adalah suatu pemeriksaan mikroskopik terhadap sel-sel yang diperoleh dari apusan serviks. Pada pemeriksaan Pap smear, contoh sel serviks diperoleh dengan bantuan sebuah spatula yang terbuat dari kayu atau plastik (yang dioleskan bagian luar serviks) dan sebuah sikat kecil (yang dimasukkan ke dalam saluran servikal). Sel-sel serviks lalu dioleskan pada kaca obyek lalu diberi pengawet dan dikirimkan ke laboratorium untuk diperiksa. 24 jam sebelum menjalani Pap smear, sebaiknya tidak melakukan pencucian atau pembilasan vagina, tidak melakukan hubungan seksual, tidak berendam dan tidak menggunakan tampon. Setiap wanita yang telah aktif secara seksual atau usianya telah mencapai 18 tahun, sebaiknya menjalani Pap smear secara teratur yaitu 1 kali/tahun. Jika selama 3 kali berturut-turut menunjukkan hasil yang normal, Pap smear bisa dilakukan 1 kali/2-3tahun.

2) Biopsi Biopsi dilakukan jika pada pemeriksaan panggul tampak suatu pertumbuhan atau luka pada serviks, atau jika Pap smear menunjukkan suatu abnormalitas atau kanker. 3) Pemeriksaan DNA HPV Pemeriksaan ini dimasukkan pada skrining bersama-sama dengan paps smear untuk wanita diatas 30 tahun. Deteksi DNA HPV yg positif yg ditemukan kemudian dianggap sebagai HPV yang persisten. Apabila hal ini dialami pada wanita dengan usia yang lebih tua maka akan terjadi peningkatan resiko kanker serviks. 4) IVA IVA adalah skrining yang dilakukan dengan memulas serviks

menggunakan asam asetat 3-5% dan kemudian diinspeksi secara kasat mata oleh tenaga medis yang terlatih. Setelah serviks diulas dengan asam asetat, akan terjadi perubahan warna pada serviks yang dapat diamati secara langsung dan dapat dibaca sebagai normal atau abnormal

5) Kolposkopi Kolposkopi adalah suatu prosedur pemeriksaan vagina dan leher rahim oleh seorang dokter yang berpengalaman dalam bidang tersebut. Dengan memeriksa permukaan leher rahims, dokter akan menentukan penyebab abnormalitas dari sel-sel leher rahims seperti yang dinyatakan dalam pemeriksaan 'Pap Smear'. Cara pemeriksaan kolposkopi adalah sebagai berikut: dokter akan memasukkan suatu cairan kedalam vagina dan memberi warna saluran leher rahims dengan suatu cairan yang membuat permukaan leher rahims yang mengandung sel-sel yang abnormal terwarnai.. Kemudian dokter akan melihat kedalam saluran leher rahims melalui sebuah alat yang disebut kolposkop. Kolposkop adalah suatu alat semacam mikroskop binocular yang mempergunakan sinar yang kuat dengan pembesaran yang tinggi. Jika area yang abnormal sudah terlokalisasi, dokter akan mengambil sampel pada jaringan tersebut (melakukan biopsi) untuk kemudian dikirim ke lab guna pemeriksaan yang mendetail dan akurat. Pengobatan akan sangat tergantung sekali pada hasil pemeriksaan kolposkopi anda. 6) Tes Schiller Serviks diolesi dengan larutan yodium, sel yang sehat warnanya akan berubah menjadi coklat, sedangkan sel yang abnormal warnanya menjadi putih atau kuning. 7) Radiologi Pemeriksaan radiologi direkomendasikan untuk mengevaluasi kandung kemih dan rectum yang meliputi sitoskopi, pielogram intravena (IVP), enema barium, dan sigmoidoskopi. Magnetic resonance imaging (MRI) atau CT scan abdomen/pelvis digunakan untuk menilai penyebaran local tumor dan/atau terkenanya nodus limpa regional. Pelvic limphangiografi dapat menunjukkan adanya gangguan pada saluran pelvic atau peroartik limfe Pemeriksaan intravena urografi dilakukan pada kanker serviks tahap lanjut, yg dapat menunjukkan adanya obstruksi pada ureter terminal.

G. PENATALAKSANAAN a) Radiasi Radiasi merupakan perawatan standart pada penderita kanker serviks untuk penyakit kanker yang sudah lanjut (stadium 1B ke atas) dan untuk wanita

yang tidak cocok dengan pembedahan. Secara umum radioterapi akan memberikan efek secara fisik, psikologis dan sosial hidup penderita sehingga hal ini akan menyebabkan penurunan kualitas hidup pasien yang

mendapatkan perawatan dengan radiasi. Efek samping utama yang terjadi adalah diare, kelemahan, mual, dan abdominal kram. b) Kemoterapi Tujuan pengobatan menggunakan kemoterapi tergantung jenis kanker dan fase saat diagnosis. Kemoterapi disebut sebagai pengobatan adjuvant ketika kemoterapi digunakan untuk mencegah kanker kambuh. Kemoterapi sebagai pengobatan paliatif ketika kanker sudah menyebar luas dan dalam fase akhir, sehingga dapat memberikan kualitas hidup yang baik. (Galle, 2000). Kemoterapi bekerja saat sel aktif membelah, namun kerugian dari kemoterapi adalah tidak dapat membedakan sel kanker dan sel sehat yang aktif membelah seperti folikel rambut, sel disaluran pencernaan dan sel batang sumsum tulang. Pengaruh yang terjadi dari kerja kemoterapi pada sel yang sehat dan aktif membelah menyebabkan efek samping yang umum terlihat adalah kerontokan rambut, kerusakan mukosa gastrointestinal dan

mielosupresi. Sel normal dapat pulih kembali dari trauma yang disebabkan oleh kemoterapi, jadi efek samping ini biasanya terjadi dalam waktu singkat. Macam-Macam kemoterapi Obat golongan Alkylating agent, platinum Compouns, dan Antibiotik Anthrasiklin obst golongan ini bekerja dengan antara lain mengikat DNA di inti sel, sehingga sel-sel tersebut tidak bisa melakukan replikasi. Obat golongan Antimetabolit, bekerja langsung pada molekul basa inti sel, yang berakibat menghambat sintesis DNA. Obat golongan Topoisomerase-inhibitor, Vinca Alkaloid, dan Taxanes bekerja pada gangguan pembentukan tubulin, sehingga terjadi hambatan mitosis sel. Obat golongan Enzim seperti, L-Asparaginase bekerja dengan

menghambat sintesis protein, sehingga timbul hambatan dalam sintesis DNA dan RNA dari sel-sel kanker tersebut. c) Pembedahan Tahap awal dari kanker, biasanya Total Abdominal Hysterectomy (TAH) sering kali digunakan untuk mengendalikan perluasan, namun jika kanker sudah metastasis maka operasi, radiasi akan dikombinasikan. Kebanyakan

ahli bedah dalam memberikan histerektomi dilakukan pada tumor atau kanker yang kecil seringkali <4cm. H. KOMPLIKASI Komplikasi yang terjadi karena radiasi Waktu fase akut terapi radiasi pelvik, jaringan-jaringan sekitarnya juga terlibat seperti intestines, kandung kemih, perineum dan kulit. Efek samping gastrointestinal secara akut termasuk diare, kejang abdominal, rasa tidak enak pada rektal dan perdarahan pada GI. Diare biasanya dikontrol oleh loperamide atau atropin sulfate. Sistouretritis bisa terjadi dan menyebabkan disuria, nokturia dan frekuensi. Antispasmodik bisa mengurangi gejala ini. Pemeriksaan urin harus dilakukan untuk mencegah infeksi saluran kemih. Bila infeksi saluran kemih didiagnosa, terapi harus dilakukan segera. Kebersihan kulit harus dijaga dan kulit harus diberi salep dengan pelembap bila terjadi eritema dan desquamasi. Squele jangka panjang (1 4 tahun setelah terapi) seperti : stenosis pada rektal dan vaginal, obstruksi usus kecil, malabsorpsi dan sistitis kronis. Komplikasi akibat tindakan bedah Komplikasi yang paling sering akibat bedah histerektomi secara radikal adalah disfungsi urin akibat denervasi partial otot detrusor. Komplikasi yang lain seperti vagina dipendekkan, fistula ureterovaginal, pendarahan, infeksi, obstruksi usus, striktur dan fibrosis intestinal atau kolon rektosigmoid, serta fistula kandung kemih dan rektovaginal. I. PENCEGAHAN o Mencegah terjadinya infeksi HPV Tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan cara pemberian vaksinasi HPV, atau dengan menghilangkan resiko perilaku seksual yang meningkatkan paparan terhadap virus tersebut. o Melakukan pemeriksaan pap smear secara teratur Anjuran untuk melakukan Pap smear secara teratur: Setiap tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun Setiap tahun untuk wanita yang berganti-ganti pasangan seksual atau pernah menderita infeksi HPV atau kutil kelamin Setiap tahun untuk wanita yang memakai pil KB

Setiap 2-3 tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun jika 3 kali Pap smear berturut-turut menunjukkan hasil negatif atau untuk wanita yang telah menjalani histerektomi bukan karena kanker Sesering mungkin jika hasil Pap smear menunjukkan abnormal Sesering mungkin setelah penilaian dan pengobatan prekanker maupun kanker serviks o Mengkonsumsi vitamin A, C dan E dapat menghentikan atau mencegah perubahan keganasan pada sel-sel leher rahim o Menunda Onset Aktivitas Seksual Menunda aktivitas seksual sampai usia 20 tahun dan berhubungan secara monogami akan mengurangi risiko kanker serviks secara signifikan. o Penggunaan Kontrasepsi Barier Penggunaan kontrasepsi metode barier (kondom, diafragma, dan spermisida) yang berperan untuk proteksi terhadap agen virus. Penggunaan lateks lebih dianjurkan daripada kondom yang dibuat dari kulit kambing. HUBUNGAN KANKER SERVIKS dengan ANEMIA dan HIPOGLIKEMIA A. ANEMIA Anemia adalah kondisi dimana suplai sel dalah merah inadekuat, sehingga terjadi penurunan kapasitas atau kemampuan transport oksigen oleh darah. Secara umum anemia didefinisikan sebagai kadar hemoglobin kurang dari 12 g/dL. Anemia merupakan salah satu efek samping dari kanker yang sering dijumpai (60% penderita kanker), baik terjadi secara langsung karena kanker yang diderita, maupun efek samping terapi kanker yang didapat. Insiden anemia pada penderita kanker meningkat seiring dengan pengobatan dan perkembangan kanker yang diderita. Pada penderita kanker, anemia merupakan penyakit kronis. Terdapat berbagai mekanisme yang dapat mengganggu produksi eritrosit normal. Sitokin seperti TNF-, TGF-, IL-6, dan IFN- merupakan sitokin yang diperkirakan berfungsi sebagai inhibitor produksi eritrosit pada penderita kanker. Sitokin-sitokin ini mungkin memodulasi metabolism besi, dan efek eritropoietin mungkin dihentikan oleh TNF-. Anemia dapat merusak semua organ dan jaringan, serta mengganggu berbagai fungsi tubuh, menurunkan kemampuan fisik dan mental. Biasanya pasien akan mengalami anemia setelah 3 siklus kemoterapi.

Kemoterapi, radioterapi, dan kehilangan darah (karena perdarahan) adalah beberapa penyebab anemia yang paling umum pada pasien kanker. Karena obatobatan kemoterapi bekerja dengan membunuh sel-sel yang cepat membelah dalam tubuh, selain sel-sel kanker, obat-obatan tersebut dapat membunuh sel-sel normal seperti sel-sel pada sumsum tulang yang bertanggung jawab dalam produksi sel darah merah. Sel darah merah mengandung hemoglobin, yang membawa oksigen ke seluruh bagian tubuh. Kadar sel darah merah yang rendah, dan hemoglobin yang ada di dalamnya, menyebabkan jumlah oksigen yang dapat ditransport juga menurun. Berbeda dengan efek samping yang dialami pasien dengan kemoterapi (seperti mual dan muntah, diare, kerontokan rambut), anemia merupakan silent side effect dengan gejala yang tidak khas. Penurunan suplai oksigen pada pasien dengan anemia dapat menyebabkan gejala-gejala berikut: o Fatigue atau kelelahan o Gangguan napas o Depresi o Takikardia o Sakit kepala, tidak mampu berkonsentrasi o Nyeri dada o Kulit pucat (sianosis) o Fungsi kognitif berkurang Anemia yang berat mungkin membutuhkan transfuse darah. Selain itu, anemia yang berat juga dapat menunda treatment atau pengobatan kanker dan semakin memperparah kondisi pasien.

B. HIPOGLIKEMIA Hipoglikemia merupakan kondisi dimana kadar gula dalam darah rendah, yang dapat disebabkan tingginya kadar insulin dalam darah. Hipoglikemia yang diakibatkan tumor atau karsinoma sangat jarang ditemukan dan dapat melibatkan berbagai mekanisme, tergantung pada lokasi tumor (tumor terdapat pada islet pancreas atau ekstrapankreas, atau terdapat pada sel non-islet). Tumor pada sel beta pancreas (insulinoma) menyebabkan hipoglikemia dengan memproduksi insulin secara berlebih. Sebaliknya, tumor pada sel non-islet dapat menyebabkan hipoglikemia melalui berbagai mekanisme. Mekanisme tersebut antara lain

pelepasan insulin-like growth factor II oleh sel tumor, multiple metastase pada hepar, atau produksi autoantibody insulin atau reseptornya. Selain mekanisme tersebut, tumor non-islet diperkirakan juga dapat mensekresi insulin. Penelitian yang dilakukan oleh Seckl, et al (1999) pada pasien dengan kanker serviks menunjukkan tumor non-islet dapat dihubungkan dengan peningkatan insulin secara masif (200 kali dari kadar normal) dan menyebabkan hipoglikemia. Pada penelitian tersebut, hiperinsulinemia dipastikan dengan mengukur kadar insulin serum menggunakan 3 metode assay yang berbeda. Pada hipoglikemia ringan ketika kadar glukosa darah menurun, sistem saraf simpatik akan terangsang. Pelimpahan adrenalin ke dalam darah menyebabkan gejala seperti perspirasi, tremor, takikardi, palpitasi, kegelisahan dan rasa lapar. Pada hipoglikemia sedang, penurunan kadar glukosa darah menyebabkan sel-sel otak tidak memperoleh cukup bahan bakar untuk bekerja dengan baik. Tanda-tanda gangguan fungsi pada sistem saraf pusat mencakup ketidak mampuan berkonsentrasi, sakit kepala,vertigo, konfusi, penurunan daya ingat, pati rasa di daerah bibir serta lidah, bicara pelo, gerakan tidak terkoordinasi, perubahan emosional, perilaku yang tidak rasional, penglihatan ganda dan perasaan ingin pingsan. Kombinasi dari gejala ini (di samping gejala adrenergik) dapat terjadi pada hipoglikemia sedang. Pada hipoglikemia berat fungsi sistem saraf pusat mengalami gangguan yang sangat berat, sehingga pasien memerlukan pertolongan orang lain untuk mengatasi hipoglikemia yang di deritanya. Gejalanya dapat mencakup perilaku yang mengalami disorientasi, serangan kejang, sulit di bangunkan dari tidur atau bahkan kehilangan kesadaran (Smeltzer, 2001).

ASUHAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN 1. Data dasar Pengumpulan data pada pasien dan keluarga dilakukan dengan cara anamnesa, pemeriksaan fisik dan melalui pemeriksaan penunjang. Data pasien : Identitas pasien, usia, status perkawinan, pekerjaan jumlah anak, agama, alamat jenis kelamin dan pendidikan terakhir. 2. Keluhan utama Pasien biasanya datang dengan keluhan intra servikal dan disertai keputihan menyerupai air. 3. Riwayat penyakit sekarang : Biasanya klien pada stadium awal tidak merasakan keluhan yang mengganggu, baru pada stadium akhir yaitu stadium 3 dan 4 timbul keluhan seperti : perdarahan, keputihan dan rasa nyeri intra servikal. 4. Riwayat penyakit sebelumnya : Data yang perlu dikaji adalah : Riwayat abortus, infeksi pasca abortus, infeksi masa nifas, riwayat ooperasi kandungan, serta adanya tumor. Riwayat keluarga yang menderita kanker 5. Keadaan Psiko-sosial-ekonomi dan budaya: Ca. Serviks sering dijumpai pada kelompok sosial ekonomi yang rendah, berkaitan erat dengan kualitas dan kuantitas makanan atau gizi yang dapat mempengaruhi imunitas tubuh, serta tingkat kebersihan dari saluran urogenital. personal hygiene terutama

Data khusus: 1. Riwayat kebidanan ; paritas, kelainan menstruasi, lama,jumlah dan warna darah, adakah hubungan perdarahan dengan aktifitas, apakah darah keluar setelah koitus, pekerjaan yang dilakukan sekarang 2. Pemeriksaan penunjang Sitologi dengan cara pemeriksaan Pap Smear, kolposkopi, servikografi, pemeriksaan visual langsung, gineskopi.

DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa yang mungkin muncul pada pasien dengan kanker serviks, diantaranya adalah sebagai berikut :

Pre-Op 1. Ansietas b.d defisit pengetahuan tentang tindakan dan prosedur operasi 2. Gangguan perfusi jaringan (anemia) b.d perdarahan intraservikal

Post-Op 1. Gangguan rasa nyama (nyeri) b.d desakan saraf perifer 2. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d akumulasi sekret 3. Resiko Infeksi RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN Ansietas b.d defisit pengetahuan tentang tindakan dan prosedur operasi Tujuan : Dalam rentang waktu 1 X 24 jam dilakukan tindakan keperawatan, pasien paham tentang proses penyakit atau tindakan operasi serta kecemasan klien berkurang, dengan kriteria hasil :
-

Klien menyatakan mengerti kenapa dilakukan tindakan operasi Menunjukkan strategi koping yang adaptif INTERVENSI RASIONAL Mengkaji seberapa jauh pengetahuan klien

Kaji ulang tingkat pemahaman klien

Menginformasikan

tentang

prosedur Memberi gambaran pada klie meminimalkan kecemasan klien

dan

rencana tindakan operasi pada klien

Gangguan perfusi jaringan b.d perdarahan masif intra cervikal Tujuan : Dalam rentang waktu 1 X 24 jam dilakukan tindakan keperawatan diharapkan perfusi jaringan membaik dengan kriteria hasil : a. Perdarahan intra servikal berkurang b. Konjunctiva tidak pucat c. Mukosa bibir basah dan kemerahan d. Ektremitas hangat e. Hb 11-15 gr % d. Tanda vital dalam batas normal (120-139 / 70 - 80 mm Hg, Nadi : 80 - 100 X/mnt, S : 36-37oC, RR : 18 - 24 x/mnt ) INTERVENSI Pantau tekanan darah, catat Sebagai selanjutnya RASIONAL dasar penatalaksanaan

perkembangan hipotensi

Perhatikan kualitas/kekuatan dari denyut Bila perifer

nadi

menjadi

lambat

harus

diwaspadai adanya penurunan curah jantung dan vasokontriksi perifer jika terjadi syok

Kaji

kulit

terhadap

perubahan Mekanisme

kompensasi

dari

warna,suhu dan kelembaban

vasodilatasi mengakibatkan kulit hangat, merah muda, kering adalah karakteristik dari hiperfusi pada fase hiperdinamik dari terjadinya syok dini

Kolaborasi pemberian cairan parenteral

Untuk

mempertahankan dibutuhkan

perfusi untuk

jaringan,cairan

mendukung volume sirkulasi Pantau pemeriksaan laboratorium,mis Perkembangan GDA metabolik asidosis respiratorik/ kehilangan

merefleksikan

mekanisme kompensasi Berikan suplay O2 tambahan Memaksimalkan O2 yang tersedia untuk masukan seluler Berikan SDM atau PRC sesuai program terapi Sebagai terapi tambahan dalam

memaksimalkan perfusi jaringan perifer

Gangguan rasa nyama (nyeri akut) b.d proses desakan pada jaringan intra servikal Tujuan : Dalam rentang waktu 1x24 jam dilakukan tindakan keperawatan tingkat kenyamanan klien meningkat dengan kritria hasil : Klien akan: - Menyatakan nyeri berkurang/ hilang - Memahami metode untuk mengurangi nyeri - Mendemonstrasikan teknik relaksasi dan distraksi - Tanda vital dalam batas normal (120-139 / 70 - 80 mm Hg, Nadi : 80 - 100 X/mnt, S : 36-37oC, RR : 18 - 24 x/mnt ) INTERVENSI Kaji dan monitor nyeri karakteristik, tingkat nyeri, yang memperparah nyeri dan yang menuranginya, lokasi, toleransi, intensitas. RASIONAL Sebagai dasar asuhan yang akan diberikan.

Monitor tanda-tanda vital

Nadi, RR, TD biasanya terganggu pada nyeri akut

Catat kapan nyeri muncul

Untuk memberikan medikasi pada waktu yang tepat

Ajarkan manajemen nyeri nonfarmakologi: lingkungan yang tenang, aktifitas yang tenang, masase punggung, posisi yang nyaman, kompres hangat atau dingin, latihan relaksasi, distraksi Kolaborasikan pemberian analgesik.

Meminimalkan nyeri yang timbul

Untuk meminimalkan nyeri yang hebat.

Resiko Infeksi Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi tanda-tanda infeksi dengan kritria hasil : Leukosit dalam batas normal Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah atau menurunkan faktor risiko infeksi Mendemonstrasikan teknik, gaya hidup, untuk mendorong lingkungan yang aman. Mencepai penyembuhan luka, bebas drainase purulen atau erithema. INTERVENSI Observasi jaringan kulit di sekitar luka dan luka. Review nilai lab Mengidentifikasi adanya pathogen RASIONAL Mengetahui adanya tanda-tanda infeksi

Tekankan teknik steril dalam perawatan luka dengan mencuci tangan dengan benar

Untuk memberikan medikasi pada waktu yang tepat

Ajarkan manajemen nyeri nonfarmakologi: lingkungan yang tenang, aktifitas yang tenang, masase punggung, posisi yang nyaman, kompres

Merupakan lini terdepan dalam proteksi terhadap infeksi

hangat atau dingin, latihan relaksasi, distraksi Sediakan lingkungan yang bersih dan berventilasi baik Mencegah transmisi patogen dari lingkungan.

Ganti balutan sesuai kebutuhan dan indikasi

Meminimilkan paparan terhadap pathogen yang berkembang biak di balutan.

DAFTAR PUSTAKA

Rasjidi, Imam. 2009 Epidemiologi Kanker Serviks. Divisi Ginekologi Onkologi, Departemen Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals, Lippo Karawaci, Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan, Tangerang Indonesian Journal of Cancer Vol. III, No. 3 Mamik, Wibowo Arief. 2000. Kelangsungan Hidup Kanker Leher Rahim. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Mardjikoen, Prastowo. 2005. Tumor Ganas Alat Genital. Dalam Ilmu Kandungan cetakan keempat edisi kedua; hal. 367-408. Yayasan Bina Pustaka, Jakarta. 2005. Chaudhary SBD, Sambandam S; Bhattacharya D, Ganguly SS. 1989. A Study of certain risk factors in cases of carcinoma cervix. Medical Journal Armed Forces India : 45(2): 89-92. Mary Calvagna, MS. 2007. Diagnosis of Cervical Cancer. American Cancer Society website. Available at: http://www.cancer.org. Aras RY, Pai NP, Radha Y Aras, Nalini P Pai. 2008. High fertility : risk factor for carcinoma cervix. The Journal of Family Welfare : 41(3): 48-51. Anna H Beskow, Malin T Engelmark, Jessica J Magnusson, Ulf B Gyllensten. Interaction of host and viral risk factors for development of cervical carcinoma in situ. International Journal of Cancer Volume 117, Issue 4 , Pages 690 692. 2005. National Cancer Institute website. Available at: http://www.cancer.gov/.