Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pembedahan merupakan cabang dari ilmu medis yang ikut berperan terhadap kesembuhan dari luka atau penyakit melalui prosedur manual atau melalui operasi dengan tangan. Hal ini memiliki sinonim yang sama dengan kata Chirrurgia(dibaca; KI-RURJIA). Dalam bahasa Yunani Cheir artinya tangan; dan ergon artinya kerja. Setiap prosedur operasi yang tidak melibatkan anestesi atau bantuan pernapasan selama prosedur pembedahan. Sebuah prosedur medis yang melibatkan sayatan dengan instrumen, dilakukan untuk memperbaiki penyakit atau kerusakan di jaringan tubuh. Bedah minor merupakan pembedahan dimana secara relatif dilakukan secara simple, tidak memiliki resiko terhadap nyawa pasien dan tidak memerlukan bantuan asisten untuk melakukannya seperti contoh membuka abses superficial, pembersihan luka, inokulasi, superfisial neuroktomi dan tenotomi.

B. Tujuan Tujuan penulisan laporan ini adalah untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik stase bedah RSUD Cianjur, serta menambah pengetahuan dan pemahaman penulis tentang bedah minor.

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi Operasi adalah seluruh tindakan intervensi diagnostik atau terapeutik dengan menggunakan cara invasif yang melibatkan pemotongan jaringan tubuh atau rekonstruksi kontuinitas jaringan yang rusak. Pembukaan bagian tubuh ini pada umumnya dilakukan dengan pembuatan sayatan. Setelah bagian yang akan ditangani tampak dilakukan tindakan perbaikan yang diakhiri dengan penutupan dan penjahitan luka. Bedah minor didefinisikan sebagai prosedur bedah yang lebih sederhana yang dilakukan pada jaringan superfisial. Anastesi lokal terkadang diperlukan dalam prosedur ini dan memiliki risiko serta kemungkinan terjadinya komplikasi lebih rendah.

B. Persiapan Dokter dan Ruang Operasi Bedah Minor Prosedur bedah minor tidak melibatkan banyak alat tetapi beberapa alat dan infrastruktur dasar harus terpenuhi. Walaupun beberapa prosedur bedah minor dapat dilakukan diruang konsultasi atau poli umum namun dianjurkan adanya ruangan khusus untuk tindakan ini. Komponen ruangan bedah minor meliputi : 1. Ruang Bedah Minor a. Ruang Bedah : Ruangan berukuran 15-20 m2 biasanya tanpa jendela. Memiliki pencahayaan yang cukup dengan ventilasi buatan (Air Conditioner) yang sesuai. Ruang operasi tidak perlu steril tapi harus tetap bersih. Ruangan bedah harus dibersihkan secara menyeluruh setelah tindakan dilakukan, terutama setelah tindakan yang dapat menyebabkan kontaminasi. Sebaiknya ruangan dilengkapi dengan wastafel dan aplikator sabun otomatis untuk mencuci tangan. b. Meja Operasi : Meja sebaiknya terletak di tengah ruangan, mudah dijangkau dari berbagai sisi, tinggi dapat diatur, dapat dibersihkan, dan operator dapat melakukan tindakan dengan nyaman dalam posisi duduk maupun berdiri. c. Bangku tanpa sandaran : prosedur bedah yang panjang sebaiknya dilakukan dalam posisi duduk. Tinggi bangku yang digunakan harus dapat diatur.

d. Meja instrument : digunakan untuk menempatkan alat dan bahan-bahan yang digunakan selama bedah minor. Meja harus memiliki roda, tingginya dapat diatur dan ditempatkan dekat dengan tempat pembedahan. Menempatkan alat dan bahan di atas pasien harus dihindari untuk mencegah alat dan bahan jatuh apabila pasien bergerak. e. Lampu : harus memberikan cahaya yang adekuat dengan intensitas cahaya setidaknya 45.000 lux of iluminance. f. Showcase dan containers : digunakan untuk alat dan bahan yang telah terkontaminasi. Alat dan bahan dipisahkan sesuai dengan tanda pada container sesuai dengan sistem pembuangan berdasarkan legistatif kesehatan saat ini. g. Alat resusitasi : walaupun kejadian yang mengancam jiwa sangat jarang pada bedah minor, trolley dengan alat resusitasi cardiopulmonary, airway intubation, saline, dan obat-obatan untuk resusitasi (epinephrine, atropine, bicarbonat) dan defibrilator tetap dianggap penting h. Sterilization system : autoclave dipakai untuk mensterilkan alat-alat dan bahan yang dipakai dalam bedah minor.

Gambar 1. Ruang bedah minor dengan peralatan yang lengkap

2. Persiapan dokter a. Pakaian bedah : googles, masker, baju bedah, gaun dan sarung tangan steril. b. Surgical Hands Scub Surgical hands scrub dilakukan sebelum operasi dan intervensi steril. Tujuan penyikatan pada tangan yaitu untuk mengurangi jumlah bakteri yang ada di tangan. Penyikatan ini menghilangkan transient flora pada tangan dan menghambat aktivitas sebagian besar kuman yang menetap pada jaringan yang lebih dalam. Fase pertama dari adalah penyikatan (20 menit) yang dilanjutkan dengan membersihkan tangan sampai siku menggunakan sabun dan air hangat. Setelah itu gunakan tissue untuk mengeringkan tangan sampai siku.

Gambar 2. Fase pertama dari Surgical hands scrub

Fase kedua adalah disinfeksi tangan. Gosok tangan dengan disinfectant hand scrub agent selama 5 x 1 menit. Area yang didisinfektankan harus mencapai siku. Kulit yang tidak dibersihkan tidak boleh disentuh oleh tangan. Proses ini diulang sampai 4 kali tetapi area yang digosok makin kecil tiap pengulangan. Ke-2 kali mencapai 2/3 lengan bawah, ke-3 kali mencapai 1/2 lengan bawah, ke-4 kali mencapai 1/3 lengan bawah dan ke-5 kali hanya tangan dan pergelangan tangan.

Gambar 3. Fase kedua dari Surgical hands scrub

C. Instrumen Bedah Minor 2 pcs Klem lurus 2 pcs Klem bengkok 1 pcs Pinset anatomis 1 pcs Pinset chirugis 1 pcs Gunting TA / TU Lurus 1 pcs Gunting TA / TU Bengkok 1 pcs Needle holder 1 pcs Scalpel 1 pcs Bisturi 1 Pasang sarung tangan 1 pcs Catgut 1 lusin Jarum Hecting 1 pcs Bak stainles

1. Instrumen pemotong a. Pisau bedah atau skalpel. Berguna untuk insisi permukaan kulit Mata pisau #10 dipakai umum, untuk memotong kulit dan otot dalam operasi. Mata Pisau #11 pisau dengan ujung runcing. Digunakan untuk membuat tusukan, ex: abses Mata Pisau #15 versi yang lebih kecil dari #10 dengan fungsi yang sama.

Gambar 4. Jenis-jenis Scaple A. Handle with disposable blade; B. Conventional Scaple; C Handle

Gambar 5. Jenis-Jenis Blade (Pisau)


5

Cara memegang scapel : Untuk insisi panjang dan lurus, scapel dipegang seperti menggesek biola: gagang (handle) dipegang secara horizontal diantara ibu jari dan jari tengah. Sedangkan jari telunjuk berada di atas gagang. Jari ke empat dan ke-5 memegang ujung gagang Untuk insisi pendek, scapel dipegang seperti pensil dan insisi dilakukan menggunakan ujung pisau.

Gambar 6. Cara memegang scapel A.Fiddle Bow Holding; B.Pencil Holding

b. Gunting. Terdapat 4 macam gunting, yaitu : Gunting Mayo adalah gunting besar yang dirancang untuk memotong sruktur yang liat, misalnya fascia dan tendo. Gunting Metzenbaum, berukuran lebih kecil biasannya digunakan untuk memotong jaringan. Gunting runcing digunakan untuk mendiseksi lebih cermat dan rapi. Gunting balutan adalah gunting khusus untuk memotong benang atau kain pembalut.

Gambar 7. Jenis-jenis gunting

2. Instrumen pemegang a. Klem. Klem pengenggam (klem Kocher) dirancang untuk memegang kulit dengan kuat sehingga dapat ditarik dan tidak menimbulkan kerusakan jaringan, khususnya pembuluh darah. Klem hemostat (klem Pean) digunakan untuk menghentikan perdarahan, mempunyai gigi yang lebih halus agar dapat menjepit dengan cermat. Umumnya mempunyai bilah dengan bentuk melengkung atau lurus. Klem arteri berujung melengkung amat berguna untuk menjepit pembuluh darah dan mengikat simpul yang terletak jauh di dalam luka. Jika dibutuhkan kecermatan tinggi digunakan klem hemostat yang kecil dan melengkung disebut klem Mosquito.

Gambar 8. Jenis-jenis Klem (A. Pean Clamp, B Mosquito Clamp, C. Abdominal Pean Clamp)
7

Gambar 9. Cara Memegang Klem

b. Pinset. Pinset bergerigi (pinset sirurgis) banyak digunakan untuk memegang jaringan subkutis, otot, serta fascia pada saat mendiseksi dan menjahit. Pinset tak bergerigi (pinset anatomis) digunakan untuk memegang jaringan yang mudah robek, seperti mukosa, dll.

Gambar 10. Jenis-Jenis Pinset dan cara memegangnya

c. Pemegang jarum (needle holder). Mempunyai bilah yang kokoh, pendek dan lebar agar dapat menjepit dengan kuat.

Gambar 11. Cara memegang Needle Holder (Kanan), Gambar Needle Holder (kanan)
8

3. Instrumen penarik Retraktor banyak dipakai untuk menyisihkan jaringan yang menghalangi gerakan, juga untuk memberikan pemaparan yang lebih baik.

Gambar 12. Alat Retraktor

4. Instrumen penghisap Digunakan bila perdarahan cukup banyak. Alat penghisap untuk prosedur minor adalah penghisap berujung Frazier. 5. Jarum Jahit Bedah Jarum jahit bedah yang lurus atau lengkung, berbeda-beda bentuknya berdasarkan penampang batang jarum yang bulat atau bersegi tajam dan bermata atau tidak bermata. Jarum umumnya dapat dibedakan menurut dua cara yaitu: Menurut dasar traumatis atraumatis: a. Jarum traumatis adalah jarum yang mempunyai mata untuk memasukkan benang di bagian ujung yang tumpul. Disebut traumatis karena jarum ini pada bagian yang bermata ukuran penampangnya lebih besar dari bagian ujungnya yang tajam sehingga akan menimbulkan bekas luka yang lebih besar. Hal ini kurang menguntungkan jika digunakan pada jaringan yang halus seperti pembuluh darah dan usus atau jaringan kritis lainnya. Keuntungannya adalah jarum dapat dipakai berulang kali dan harga lebih murah.
9

b. Jarum atraumatis adalah jarum yang tidak bermata sehingga ujung jarum langsung dihubungkan dengan benang. Jarum ini mempunyai ukuran penampang yang hampir sama besar dengan ukuran benangnya. Kerugiannya jarum hanya bisa dipakai sampai benangnya habis dan harganya jauh lebih mahal dari jarum traumatis.

Gambar 13. Jarum atraumatis Menurut bentuk ujung dan penampangnya yaitu cutting noncutting:. a. Jarum cutting adalah jarum yang penampangnya berbentuk segitiga atau pipih dan tajam, sehingga ketika dipakai dapat menyayat jaringan dan menimbulkan lubang yang lebih lebar. Jarum ini umumnya dipakai untuk menjahit kulit dan tendo karena keduanya adalah jaringan yang sangat liat. b. Jarum noncutting atau tappered adalah jarum yang penampangnya bulat dan ujungnya saja yang tajam, sehingga tidak menimbulkan sayatan yang lebar pada kulit. Jarum ini digunakan untuk menjahit jaringan lunak, fasia, dan otot.

Gambar 14. A. Jarum Circular B.Cutting

6. Benang Benang dibagi menurut: a. Penyerapan : 1) Benang yang dapat diserap atau absorbable, contoh: catgut, asam poliglikolat (Dexon), asam poliglaktik (Vicryl) dan polidioksanone. Yang paling sering dipakai adalah catgut dan Vicryl.

10

a) Catgut : Benang ini terbuat dari usus halus kucing atau domba. Catgut merupakan benda asing bagi jaringan tubuh yang dapat mempengaruhi penyembuhan luka. Plain catgut memiliki waktu absorbsi sekitar 10 hari. Chromic catgut yang mengandung garam kromium memiliki waktu absorbsi yang lebih lama sampai 20 hari. Chromic catgut biasanya menyebabkan reaksi inflamasi yang lebih besar dibandingkan plain catgut. Tidak ada bukti catgut dapat menyebabkan reaksi alergi. Catgut digunakan untuk mengikat pembuluh darah lapisan subkutaneus dan untuk menutup kulit di skortum dan perineum. b) Benang sintetis Multifilamen : Asam poliglikolat atau Dexon adalah benang sintetis yang mempunyai kekuatan regangan sangat besar. Diserap habis setelah 60 90 hari. Efek reaksi jaringan yang dihasilkan lebih kecil daripada catgut. Digunakan untuk menjahit fasia otot, kapsul organ, tendon dan penutupan kulit secara subkutikulet Dexon tidak mengandung protein kolagen, antigen, dan zat pirogen sehingga menimbulkan reaksi jaringan yang minimal. Karena bentuknya yang berpilin jangan digunakan untuk menjahit di permukaan kulit karena dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri sehingga mudah timbul infeksi. Asam poliglaktik atau vicryl adalah benang sintetis berpilin yang sifatnya mirip dengan dexon. Benang ini memiliki kekuatan regangan sedikit di bawah dexon dan dapat diserap habis setelah 60 hari pascaoperasi. Hanya digunakan untuk menjahit daerahdaerah yang tertutup dan merupakan kontraindikasi untuk jahitan permukaan kulit. Vicryl biasanya berwarna ungu. Untuk menghasilkan kekuatan yang memuaskan Vicryl dan dexon disimpul minimal tiga kali. Vicryl dan dexon terutama digunakan untuk meligasi pembuluh darah, menautkan fasia, dan menjahit kulit secara subkutikular.
11

Monofilamen : Polidioksanone (PDS). Kekuatan regangannya bertahan selama 4 sampai 6 minggu dan diserap seluruhnya setelah 6 bulan. Karena monofilamen, benang ini sangat baik untuk menjahit daerah yang terinfeksi atau terkontaminasi.

Tabel 1. Perbandingan antara benang monofilamen dan multifilamen

2) Benang tidak dapat diserap atau non-absorbable. Contoh: sutera, katun, poliester, nilon, polypropilene (prolene), dan kawat tahan karat. Yang sering dipakai adalah sutera dan polypropilene. a) Sutera atau silk adalah serat protein yang dihasilkan larva ulat sutera yang dipilin menjadi benang. Mempunyai kekuatan regangan yang besar, mudah dipegang dan mudah dibuat simpul. Kelemahannya, kekuatan regangan dapat menyusut pada jaringan yang berbeda-beda, umumnya timbul setelah 2 bulan pascapoperasi. b) Poliester (dacron) merupakan serat poliester, berupa benang pilinan yang mempunyai kekutan regangan yang sangat besar. Sangat dianjurkan untuk penutupan fasia. Kerugiannya adalah tidak digunakan pada jaringan yang terinfeksi atau terkontaminasi karena bentuknya yang berpilin. Untuk kekuatan yang maksimal poliester disimpul minimal sebanyak lima kali. c) Polipropilene (prolene) adalah material monofilamen yang sangat halus sehingga tidak banyak menimbulkan kerusakan dan reaksi jaringan. Biasanya
12

berwarna biru. Pada beberapa merek prolene langsung bersambung dengan jarum berukuran diameter sama sehingga tidak menimbulkan trauma yang berlebihan. Merupakan pilihan utama untuk menjahit daerah yang terinfeksi atau terkontaminasi. Ukuran yang sangat kecil sering digunakan untuk bedah mikro. Kelemahannya benang ini sulit disimpul dan sering terlepas sendiri. d) Kawat baja dibuat dari baja yang mengandung karbon rendah merupakan bahan inert (tidak bereaksi dengan jaringan). Menghasilkan kekuatan regangan yang terbesar dan reaksi jaringan yang minimal. Kesulitannya adalah dalam hal menjahit dan harus hati-hati untuk mencegah supaya jaringan tidak terpotong atau terlipat (kinking). Digunakan untuk

menyambung ligamen, tendon dan tulang.

Tabel 2. Perbandingan antara benang yang dapat diserap dan benang yang tidak dapat diserap

b. Ukuran Benang Benang ukuran terbesar yang tersedia adalah nomor 5 yang kira-kira berukuran seperti kawat biasa. Ukuran akan mengecil sampai ke nomor 1, yamg masih dianggap benang yang kasar. Ukuran yang lebih kecil lagi dimulai dari 1.0, kemudian 2.0 , 3.0 dan seterusnya sampai yang terkecil 10.0. Untuk kegunaan biasa ukuran 5.0 sampai 1.0 adalah ukuran baku. Ukuran 6.0 sampai 7.0 digunakan untuk anastomosis pembuluh darah halus, ukuran 8.0 sampai 10.0 untuk operasi mata dan bedah mikro, ukuran 0 1 cocok untuk menjahit fasia sedangkan ukuran 4.0 untuk menjahit tendon.

13

Tabel 3 . tipe benang berdasarkan indikasi dan waktu pelepasan

D. Teknik Menjahit 1. Teknik Menjahit Simple Interrupted Sutures Indikasi : Pada semua luka termasuk persendian Kontraindikasi: Kelebihan : Mudah dilakukan, memiliki kekuatan tarikan yang lebih besar, kurang potensial untuk menyebabkan edema luka, penyesuai tepi luka lebih mudah diselaraskan dan gangguan sirkulasi kulit terganggu.

14

Kekurangan : Kekurangan jahitan terputus termasuk lamanya waktu yang dibutuhkan untuk penempatan mereka dan risiko yang lebih besar dari tanda crosshatched (yaitu, rel kereta api) di garis jahitan. Risiko penggarisan silang dapat diminimalkan dengan menghilangkan jahitan awal untuk mencegah perkembangan trek jahit.

Gambar 15. Teknik Menjahit Simple Interrupted Sutures

2. Teknik Menjahit Vertikal Kelebihan : Jahit matras vertikal ini sangat berguna dalam memaksimalkan eversi luka, mengurangi ruang mati, dan mengurangi ketegangan di luka. Kekurangan : Salah satu kelemahan benang ini penggarisan silang. Waktu yang dianjurkan untuk menghilangkan benang ini adalah 5-7 hari (sebelum pembentukan epitel trek jahit selesai) untuk mengurangi risiko jaringan parut.

Gambar 15. Tekhnik menjahit vertikal


15

3. Teknik Menjahit Horizontal Kelebihan : Jahit horizontal berguna untuk luka di bawah tegangan tinggi karena memberikan kekuatan dan eversi luka .Jahitan Horisontal dapat dibiarkan di tempat untuk beberapa hari jika ketegangan luka berlanjut setelah penempatan jahitan yang tersisa. Kekurangan : Di daerah-daerah ketegangan sangat tinggi beresiko dehiscence, jahitan horizontal dapat dibiarkan pada tempatnya bahkan setelah pengangkatan jahitan kulit dangkal. Namun, mereka memiliki risiko tinggi memproduksi tanda jahitan jika dibiarkan di tempat selama lebih dari 7 hari.

Gambar 16. Tekhnik Menjahit Horizontal

4. Teknik Menjahit Jelujur Indikasi : Luka dengan ketegangan minimal Kelebihan : Jahitan jelujur berguna untuk luka lama di mana ketegangan minimal. Secara teoritis, jaringan parut lebih sedikit dibandingkan dibandingkan dengan jahitan terputus karena knot lebih sedikit dibuat dengan jahitan berjalan sederhana. Kekurangan : Penggarisan silang mungkin terjadi, jika jahitan terbuka satu maka akan terbuka semuanya, dan mengerutkan dari garis jahit ketika jahitan ditempatkan di kulit tipis.

16

Gambar 17. Tekhnik menjahit jelujur

5. Teknik Menjahit Subkutikuler Indikasi : Luka pada daerah yang memerlukan kosmetik Kontraindikasi : Jaringan luka dengan tegangan besar Kelebihan : Jahitan subcuticular dapat digunakan di mana ketegangan minimal luka, ruang mati telah dieliminasi, dan hasil kosmetik lebih baik.Karena epidermis yang ditembus hanya pada awal dan akhir garis jahitan , jahitan subcuticular efektif menghilangkan risiko penggarisan silang. Kekurangan : Kekuatan jahitan kurang dan hanya bisa dilakukan pada ketebalan luka yang kira-kira sama.

Gambar 18. Tekhnik Menjahit Subkutikuler

17

E. Teknik Pembedahan 1. Pemilihan sayatan / insisi a. Sayatan bedah dibuat sedapat mungkin sesuai dengan arah lipatan kulit agar luka sembuh dengan lebih baik tanpa meninggalkan bekas yang mencolok atau menimbulkan koloid. b. Orientasi pada lipatan kulit. c. Sayatan bedah harus mempertimbangkan letak saraf. Jika serabut saraf sensorik terpoyong maka dapat terjadi anastesi atau parastesi di daerah distal. d. Sayatan bedah harus mempertimbangkan segi kosmetik

Gambar 19. Lines of minimal Tension pada wajah

Gambar 20. Lines of minimal Tension pada tangan

18

Gambar 21. Lines of minimal Tension (lines of Langers)

2. Perlakuan terhadap jaringan a. Pembedahan harus selalu mengusahakan agar jaringan tubuh tidak mengalami cedera yang terlalu hebat. b. Untuk menjamin agar terjadi penyembuhan luka yang baik dan tidak terjadi infeksi, sedapat mungkin harus digunakan teknik diseksi (memotong) secara halus. 3. Tipe-tipe sayatan pada bedah minor a. Insisi : sayatan yang digunakan untuk membuka jaringan yang lebih dalam (contoh : lipoma, epidermal cyst, biopsi limfa nodus) atau untik drainase abses. Insisi dapat berupa garis lurus, bersudut atau pun berbelok sesuai dengan area anatomis yang terlibat dan tipe pembedahan. b. Elliptical Excision : digunakan untuk membuang lesi kulit dengan mengambil beberapa kulit sehat disekitar lesi. Prinsip umum pada eksisi ini, panjang dari eclipse yaitu 3x panjang lesi dengan ujung sayatan membentuk sudut 30o.

19

Gambar 22. Elliptical Excision c. Tangential Excision : disebut juga sebagai Skin Shave. Tindakan eksisi digunakan untuk membuang lesi yang terdapat pada lapisan kulit paling superficial dengan menggunakan scalpel atau gunting.

F. Anastesi lokal pada Bedah Minor Local anastesi adalah obat yang digunakan untuk mem-blok transmisi dari impuls saraf, sehingga sensasi nyeri menghilang pada area yang diinjeksi.

Tabel 4. Anastesi Lokal

Anastesi infiltrasi : Angular dan per-lesional

20

1. Infiltrasi angular : dari jalur masuk, anastesi dimasukkan pada 3 arah yang berbeda seperti kipas

Gambar 23. Infiltrasi angular 2. Infiltrasi perilesional : dari jalur masuk anastesi dimasukkan melalui satu arah sehingga setelah beberapa injeksi lesi dikelilingi oleh anastesi dan beberapa jalur masuk akan membentuk gambaran polihedral

Gambar 24. Infiltrasi perilesional 3. Infiltrasi linear : apabila lesi berbentuk laserasi kulit, anastesi harus dimasukkan ke ujung daerah luka dengan cara linear. Jika luka memiliki tepi yang ireguler disarankan menggunakan tekhnik perilesional pada area yang tidak luka.

21

G. Perawatan Luka Bedah Tujuan penutupan luka jahitan : 1. Untuk melindunginya dari infeksi, di samping agar cairan luka yang keluar terserap, 2. luka tidak kekeringan, dan 3. luka tidak tergaruk oleh penderita. 4. Untuk menghentikan perdarahan dengan memberi sedikit tekanan pada luka.

Daerah Jahitan Wajah Skrotum Kulit Kepala Tangan dan Jari Dinding Perut -sayatan lintang -sayatan vertical Pinggang dan Bahu

Saat pengangkatan ( hari Ke-) 4 5 6-7 7 79 9 - 11 11 - 12

H. Kriteria Diagnosis untuk dilakukan bedah minor 1. Luka (luka tusuk, luka sayatan, luka potong,luka gigitan, dll) 2. Seborrheic Keratoses Seborrheic keratoses adalah tumor jinak dengan lesi berwarna coklat muda, berukuran 13mm. Setelah 1 tahun lesi dapat berwarna lebih gelap/terang berukuran 1 - 6cm dengan permukaan kasar. penatalaksaan lesi dengan cara kuretase, electrosurgery atau cyrosurgery. Pada kasus yang meragukan, insisi biopsi dapat dilakukan untuk pemeriksaan histopatologi. 3. Epidermal Cysts Epidermal cyst atau epithelial cyst merupakan nodul terfiksir berdiameter 0.2-0.5 cm, yang dibentuk dari lapisan epitel squamosa atau epitel dari folikel rambut yang bertingkat, biasanya berada pada dermis atau subkutan. Lokasi tersering dari nodul ini yaitu muka, leher, dada, sepertiga atas punggung dan scrotum. Biasanya pembedahan dilakukan karena alasan kosmetik atau infeksi berulang.
22

4. Wart Dibentuk dari hiperplasia jinak epitel yang disebabkan oleh human papiloma virus (HPV). Manifestasi klinis untuk infeksi cutaneus oleh HPV meliputi : veruca vulgaris dan plantar wart 5. Molluscum Papula berwarna putih dengan diameter 1-5mm dengan central dimpling. Dapat berupa satu atau grup papul di leher, anogenital atau lipat mata. Sering terlihat oada anak dan pasien HIV/AIDS. 6. Lipoma Lipoma merupakan tumor jinak dari jaringan adiposa dengan progresifitas lambat. Lipoma memiliki konsistensi lunak, elastis, permukaan halus, single atau multilobular dengan ukuran bervariasi dari 1-15 cm atau lebih, batas tidak tegas dan mobile. 7. Melanosytic nevi Melanosit nevi merupakan lesi yang didapat, berbentuk makula atau papula atau nodul kecil (<1cm) dan dibentuk dari kelompok melanosit yang berada di epidermis, dermis atau keduanya, jarang berada di jaringan subkutan. Indikasi pembedahan dilakukan apabila terlihat adanya karakteristik seperti : berada di lokasi tertentu (kulit kepala, membran mukosa, dan area anogenital), adanya perubahan warna dan batasnya irreguler atau menjadi irreguler

23

BAB III KESIMPULAN

Bedah minor didefinisikan sebagai prosedur bedah yang lebih sederhana yang dilakukan pada jaringan superfisial. Prosedur bedah minor tidak melibatkan banyak alat tetapi beberapa alat dan infrastruktur dasar harus terpenuhi. Komponen ruangan bedah minor meliputi meja operasi, bangku tanpa sandaran, meja instrument, lampu, showcase dan containers , alat resusitasi, sterilization system. Instrumen yang dipakai diantaranya Instrumen pemotong, instrumen pemegang, instrumen penarik, instrumen penghisap, jarum jahit bedah dan benang. Tenik menjahit biasanya dilakukan dengan teknik menjahit simple interrupted sutures, teknik menjahit vertikal , teknik menjahit horizontal, teknik menjahit jelujur, dan teknik menjahit subkutikuler. Sedangkan Teknik pembedahannya dengan insisi, elliptical excision dan tangential excision. Local anastesi adalah obat yang digunakan pada bedah minor dilakukan untuk mem-blok transmisi dari impuls saraf, sehingga sensasi nyeri menghilang pada area yang diinjeksi.

Beberapa diagnostik yang dapat dilakukan tindakan bedah minor, yaitu luka (luka tusuk, luka sayatan, luka potong,luka gigitan, dll), seborrheic keratoses, epidermal cysts, wart, molluscum, lipoma, dan melanosytic nevi.

24