Anda di halaman 1dari 31

ABSTRACT Adsorption is a process of concentration changes that occur on the surface of the two-phase boundary.

Phase or substance on its surface is called adsorption process occurs while the adsorbent phase or substances in adsorption is adsorbate. Determination of adsorption isotherm requires delicate materials or bermikropori terbubuk which exposes the active surface is very wide which is strong adsorption. We often encounter about activated carbon in day-to-day. Activated carbon is a porous black powder is very smooth with so much surface area and therefore can be used in the activated carbon adsorption. Charcoal which is an activated carbon in turn the way back in the mix with the compound CH3COOH is a weak acid and HCl is a strong acid,with the concentration variations are different also, after being filtered and then stir in titrating it with NaOH. This is done to prove the relationship between the amount of substance adsorbed broad unity, the solute concentration in the temperature remained in the Freundlich adsorption isotherm. keywords: adsoprsi, adsorption isotherm, Freundlich equation,concentration, and activated carbon. ABSTRAK Adsorpsi adalah suatu proses perubahan konsentrasi yang terjadi pada batas permukaan dua fasa. Penentuan adsorpsi isotherm membutuhkan bahan yang terbubuk halus ataupun bermikropori yang memaparkan permukaan aktif sangat luas yang merupakan adsorpsi kuat. Karbon aktif sering kita temui dalam sehari-hari. Karbon aktif merupakan bubuk hitam berpori yang sangat halus dengan begitu banyak daerah permukaan oleh sebab itu karbon aktif dapat digunakan dalam adsorpsi. Arang yang merupakan karbon aktif di aktifkan kembali dengan cara di campurkan dengan senyawa CH3COOH yang merupakan asam lemah dan HCl yang adalah asam kuat, dengan variasi konsentrasi yang berbeda-beda pula, setelah disaring kemudian di aduk dan di titrasi kan dengan NaOH. Hal ini dilakukan untuk membuktikan hubungan antara banyaknya zat yang teradsorpsi persatuan luas, dengan konsentrasi zat terlarut dalam temperatur yang tetap pada adsorpsi isotherm Freundlich. Kata kunci : adsoprsi, adsorpsi isotherm, persamaan Freundlich, konsetrasi, dan karbon aktif.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sering kita temui karbon aktif dalam kehidupan sehari-hari salah satu nya adalah sebagai obat sakit perut. Karbon aktif merupakan bubuk hitam berpori yang sangat halus dengan begitu banyak daerah permukaan oleh sebab itu karbon aktif dapat digunakan dalam adsorpsi. Adsorpsi merupakan suatu suatu proses perubahan konsentrasi yang terjadi pada batas permukaan dari dua fasa. Pada percobaan ini akan di tentukan adsorpsi isotherm Freundlich oleh proses adsorpsi asam asetat arang, yang menyatakan bahwa ketika suatu jumlah zat yang teradsorpsi yang berbanding terbalik dengan jumlah adsorben adalah berbanding lurus terhadap konsentrasi zat terlarut dalam larutan. 1.2 Tujuan Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan adsorpsi isotherm menurut Freundlich pada proses adsorpsi asam asetat dan asam klorida pada arang. 1.3 Prinsip Percobaan Penentuan adsorpsi isotherm menurut Freundlich dengan proses adsorpsi asam asetat dan asam klorida oleh arang aktif. Adsorpsi adalah suatu proses perubahan konsentrasi yang terjadi pada batas permukaan dua fasa. Larutan asam asetat dan HCl dibuat dalam lima konsentrasi berbeda, untuk mengetahui perbedaan daya adsorpsi pada setiap konsentrasi. Kemudian penyaringan terhadap asam asetat dan asam klorida yang telah bercampur dan dilakukan penitrasian dengan larutan standar NaOH 0,1M untuk diketahui zat yang teradsorpsi dalam larutan. Sesuai dengan teori Freundlich yaitu adsorpsi isotherm adalah perbandingan antara jumlah zat teradsorpsi terhadap jumlah adsorben yang berbanding lurus dengan konsentrasi zat terlarut. Berikut adalah reaksi terjadi

antara asam klorida dan asam asetat yang dititrasi dengan larutan standar NaOH 0,1 M : CH3COOH + NaOH HCl + NaOH CH3COONa+H2O NaCl + H2O

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Adsorpsi Adsorpsi yaitu penarikan dan pelekatan molekul suatu benda kepermukaan benda lain, tanpa perubahan kimiawiatom atau molekul zat tersebut terkonsentrasikan pada bidang pemisah. Dapat dibedakan lima macam bidang pemisah : gas-padat ,cairpadat,gas-cair,cair-cair dan padat-padat. Semua proses adsorpsi di sertai penurunan energy bebas dan entropi, sehingga proses tersebut bersifat eksotermis. Adsorpsi dibagi atas dua macam yaitu adsorpsi fisis atau adsorpsi Van der waals dan adsorpsi kimia atau adsorpsi yang diaktifkan (Franklin Book Program, 1997). Beberapa zat padat tertentu (misalnya arang aktif) mudah mengadsorpsi gas. Butir-butir koloid dapat mengadsorpsi pelarut. Adsoprsi dipakai untuk

menghilangkan warna pada larutan, dalam penelitian gas pada hidrogenase minyakminyak dan dalam pemotretan. Pada suhu tetap (isotherm) jumlah molekul yang dapat diadsorpsi pada suatu permukaan bergantung kepada tekanan (jika gas) dan konsentrasi (jika larutan). Hubungan antara banyaknya zat yang diadsorpsi dengan suhubdan konsentrasi dapat diberikan secara grafik yang dikenal sebagai isotherm adsorpsi. Dalam litelatur ditentukan banyak rumus-rumus yang memberikan hubungan-hubungan tersebut (Franklin Book Program, 1997). Penjerapan yaitu menempelnya atom,ion, atau molekul gas atau cairan pada permukaan zat lain yang disebut adsorben contoh terkenal adalah system gas atau padat dan cair atau padat, bahan terbubuk halus ataupun bermikrokopi yang memaparkan permukaan aktif yang sangat luas merupakan adsorpsi yang kuat, digunakan untuk menghilangkan warna, bau dan uap air (karbon aktif, alumina aktif, dan gel silica), gaya tarik penjerapan agak lemah, selemah gaya van der waals, bila terdapat molekul dari dua zat atau lebih dan molekul salah satu zat lebih mudah di jerap (diadsorpsi) daripada molekul zat lain, hal itu berarti ada penjerapan pilihan (preferensial),adsorpsi (Pudjaatmaka,2002).

2.2 ISOTERM Pembuatan isotherm adsorpsi penting dilakukan karena dapat memberikan gambaran yang representative terhadap hasil pengujian yang dilakukan dan di juga dapat menjadi dasar dalam pembuatan desain reactor kontinu (Ramadhan dan Marisa,2010). Adsorpsi suatu zat pada permukaan adsorben bergantung pada beberapa faktor dan memiliki pola isotherm tertentu. Untuk proses adsorpsi yang terjadi dalam larutan, jumlah zat yang teradsorpsi bergantung pada : jenis adsorben, jenis adsorbat atau zat yang teradsorpsi, luas permukaan adsorben, konsentrasi zat terlarut dan temperature. Terdapat tiga pola isotherm adsorpsi yaitu isotherm adsorpsi Freundlich, Langmuir, dan BET (Brunalier, Emmet dan Teller). Adsorpsi molekul atau ion pada permukaan padatan umumnya terbatas pada lapisan satu molekul

(monolayer)(Suardana,2008). 2.2.1 ADSORPSI ISOTERM FREUNDLICH Isotherm Freundlich merupakaan persamaan empiric yang dikembangkan berdasarkan adsorpsi multi lapisan. Analisa dengan menggunakan isotherm Freundlich dilakukan dengan meliniearkan persamaan isotherm Freundlich S=Kf Cen menjadi persamaan linear Log S=log Kf + n log C (Ramadhan dan Marisa,2010). Saat ini, Freundlich isotherm diterapkan secara luas dalam system yang heterogen terutama untuk senyawa organic atau spesies yang sangat interaktif pada karbon aktif dan saringan molekuler, dengan kisaran gradient antara 1 dan 0 dimana merupakan ukuran intensitas adsorpsi atau heterogenitas permukaan, ketika nilainya mendekati nol maka system akan menjadi lebih heterogen ,berikut adalah persamaan Freundlich isotherm (Foo and Hameed,2010). 2.2.2 ADSORPSI ISOTERM LANGMUIR Isotherm Langmuir dikembangkan untuk proses adsorpsi monolayer dengan kondisi luas area aktif teridentifikasi dengan sebaran yang sama. Anilsa isotherm Langmuir dilakukan dengan pesebaran yang sama. Analisa isotherm Langmuir

dilakukan dengan membentuk persamaan linear antara Ce/S dengan Ce. Nilai qemax dan K adsorpsi didapatkan dari kondisi slope pada garis linear. Slope bernilai 1/qmax sedangkan perpotongan dengan sumbu Ce/S bernilai 1/q Marisa,2010). Model Langmuir menggunakan persamaan di bawah ini ; qe= qm.b.Ce : (1 + b.Ce) dimana qe dan qm adalah jumlah yang diserap pada kesetimbangan dan maksimum mg/g. Ce adalah konsenterasi kesetimbangan (mg/L) dan b adalah konstanta Langmuir isotherm (L/mg) (Zulfikar,dkk,2012).
max

kads (Ramadhan dan

2.3 TITRASI Titrasi adalah suatu metode untuk menentukan konsentrasi zat di dalam larutan. Titrasi dilakukan dengan cara mereaksikan larutan tersebut dengan cara mereaksikan larutan tersebut dengan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya. Reaksi dilakukan secara bertahap (tetes demi tetes) hingga mencapai titik stoikiometri atau titik setara. Ada beberapa acara titrasi bergantung pada jenis reaksinya seperti asam basa, titrasi permanganometri, titrasi argenometri dan titrasi iodometri (Sunarya dan Agus,2007). 2.4 Analisis Bahan Bahan - bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah sebagai berikut : Asam etanoat CH3COOH, disebut pula asam cuka, asam organik lemah, zat cair tanpa warna dan berbau sangit, dihasilkan melalui fermentasi alkohol oleh bakteri acetobacter, asam asetat murni membeku pada 290 K, terutama digunakan dalam bentukan hidrida asam, untuk membuat selulosa asetat (pudjaatmaka,2002).Asam klorida merupakan cairan tak berwarna yang sangat larut dalam air (Chang,2004).

Indicator PP adalah salah satu zat yang digunakan sebagai indikator asam basa, tidak berwarna dibawah Ph = 8 dan berwarna merah diatas Ph = 9,6. Senyawa ini digunakan pada titrasi yang melibatkan asam lemah dan basa kuat

(Daintith,1994).Karbon aktif adalah bubuk hitam berpori yang sangat halus dengan begitu banyak daerah permukaan dibandingkan dengan beratnya (1000 m2/g). Karbon tidak mengabsorpsi besi, litium, agen korosif, atau pelarut organik (Neal,2006). Natrium hidroksida (NaOH) berwarna putih atau praktis putih, massa melebur, berbentuk pellet, sangat basa, rapuh dan menunjukkan pecahan hablur, bila dibiarkan di udara akan cepat menyerap karbondioksida dan lembab, udara memiliki titik leleh 318C serta titik didih 1390C (Daintith,1994).

BAB III 3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah Erlenmeyer 250 mL, Erlenmeyer tertutup 250 mL, pipet volume 10 mL, pipet volue 25 mL, buret dan klem buret 50 mL, botol semprot, batang pengaduk, spatula, pipet tetes dan thermometer. 3.1.2 Bahan Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah larutan asam asetat 0,5 M sampai dengan 0,0156 M, larutan standar NaOH 0,1 M, karbon aktif dan indikator fenolftalein. 3.2 Prosedur Kerja

3.2.1 Pembuatan Larutan NaOH


Padatan NaOH Di timbang NaOH sebanyak 2 gram, di larutkan dengan akuades Di pindah kan ke labu ukur 500 mL, lalu di tepatkan dengan akuades Larutan NaOH

3.2.2 Pembuatan Larutan Asam Klorida dan Asam Asetat


HCl dan CH3COOH Di siapkan 50 mL HCl dan CH3COOH lalu di encerkan dengan konsentrasi yang bervariasi yaitu 0,5 M, 0,25M, 0,125 M, 0,0625 M, dan 0,0313 M.

Larutan encer

3.2.3 Penentuan Absorbsi


Arang Aktif Ditimbang 0,5 gram arang aktif, dmasukkan dalam Erlenmeyer yang berisi HCl dan CH3COOH yang telah di encerkan Di aduk dengan menggunakan shaker selama 30 menit, setiap 10 menit di diamkan selama 1 menit Di saring dan di titrasi dengan larutan standar NaOH

Hasil

3.3 Rangkaian Alat

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Tabel titrasi CH3COOH oleh NaOH Konsentrasi (M) 0,5 M 0,25M 0,125M 0,0625M 0,0313M 4.1.2 Tabel titrasi HCl oleh NaOH Konsentrasi (M) 0,5 M 0,25M 0,125M 0,0625M 0,0313M Volume HCl 10 mL 10 mL 10 mL 10 mL 10 mL Volume NaOH 42,8 mL 20,5 mL 10,3 mL 6,5 mL 1,9 mL Volume CH3COOH 10 mL 10 mL 10 mL 10 mL 10 mL Volume NaOH 42,3 mL 19,2 mL 8,5 mL 4,5mL 2,5 mL

4.2 Perhitungan 4.2.1 Standarisasi Larutan NaOH

4.2.2

Penentuan Massa Akhir Larutan Asam

a) CH3COOH CH3COOH 0,5 M [ ]

CH3COOH 0,25 M

CH3COOH 0,125 M [ ]

CH3COOH 0,0625 M [ ]

CH3COOH 0,0313 M [ ]

b) HCl HCl 0,5 M [ ]

HCl 0,25 M [ ]

HCl 0,125 M [ ]

HCl 0,0625 M

HCl 0,0313 M [ ]

4.2.3

Penentuan Adsorbat (x)

a) CH3COOH CH3COOH 0,5 M [ ]

= 1,5 gram

CH3COOH 0,25 M [ ]

= 0,75 gram

CH3COOH 0,125 M [ ]

= 0,375 gram

CH3COOH 0,0625 M [ ]

= 0,187 gram

CH3COOH 0,0313 M [ ]

= 0,0939 gram

b) HCl HCl 0,5 M [ ]

= 0,912 gram

HCl 0,25 M [ ]

= 0,456 gram

HCl 0,125 M [ ]

= 0,228 gram

HCl 0,0625 M [ ]

= 0,114 gram

HCl 0,0313 M [ ]

= 0,057 gram

4.2.4

Penentuan

( )

a) CH3COOH CH3COOH 0,5 M

2,726 CH3COOH 0,25 M

1,376 CH3COOH 0,125 M

0,694 CH3COOH 0,0625 M

0,344 CH3COOH 0,0313 M

0,172

b) HCl HCl 0,5 M

1,656 HCl 0,25 M

0,832 HCl 0,125 M

0,4165 HCl 0,0625 M

0,202 HCl 0,0313 M

0,108

4.2.5

Penentuan Konsentrasi Adsorbat (C)

a) CH3COOH CH3COOH 0,5 M

= 0,0462 M CH3COOH 0,25 M

= 0,0207 M CH3COOH 0,125 M

= 0,00091 M CH3COOH 0,0625 M

= 0,0048 M CH3COOH 0,0313 M

= 0,0027 M

b) HCl HCl 0,5 M

= 0,0462 M HCl 0,25 M

= 0,0221M HCl 0,125 M

= 0,0111 M HCl 0,0625 M

= 0,0070 M HCl 0,0313 M

= 0,0020 M

4.3 Pembahasan 4.3.1 Adsorbsi Adsorpsi yaitu penarikan dan pelekatan molekul suatu benda kepermukaan benda lain, tanpa perubahan kimiawiatom atau molekul zat tersebut terkonsentrasikan pada bidang pemisah, adsorpsi dibagi atas dua macam yaitu adsorpsi fisis atau adsorpsi Van der waals dan adsorpsi kimia (Franklin Book Program, 1997). Percobaan ini bertujuan untuk menentukan adsorbs isotherm menurut Freundlich oleh proses adsorbs asam asetat pada arang. Dimana Isotherm Freundlich merupakaan persamaan empiric yang berdasarkan adsorpsi multi lapisan (Ramadhan dan

dikembangkan

Marisa,2010). Pada percobaan ini arang yang telah di campurkan dengan asam asetat dan asam klorida, dilakukan penyaringan untuk menghilangkan pengotor-pengotor yang ada dan agar mudah di ketahui perubahan warna yang terjadi pada saat penitrasian dengan NaOH untuk mengetahui banyaknya adsorbat yang telah teradsorpsi. Dimana titrasi sendiri adalah suatu metode untuk menentukan konsentrasi zat di dalam larutan, titrasi dilakukan dengan cara mereaksikan larutan tersebut dengan cara mereaksikan larutan tersebut dengan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya (Sunarya dan Agus,2007).

4.3.2

Analisis Prosedur Pertama-tama di buat larutan standar NaOH yang akan digunakan saat

penitrasian, dengan di tepatkan dengan 500 mL akuades, NaOH sendiri menurut Daintith (1994) yaitu merupakan senyawa yang sangat basa, rapuh dan menunjukkan pecahan hablur, bila dibiarkan di udara akan cepat menyerap karbondioksida dan lembab, udara memiliki titik leleh 318C serta titik didih 1390C. Kemudian setelah dibuat larutan standar NaOH 0,1 M distandarisasikan dengan larutan HCl, hal ini dilakukan agar dapat di ketahui

berapa konsentrasi dari NaOH dimana NaOH adalah merupakan larutan standar sekunder dan HCl merupakan larutan standar HCl. Setelah itu, di encerkan larutan CH3COOH dan HCl dengan konsentrasi yang berbeda-beda hal ini bertujuan untuk membandingkan daya absorbsi pada setiap konsentrasi pada 0,5 M, 0,25 M, 0,125M, 0,0625M,dan 0,0313 M. Setelah dilakukan pengenceran arang aktif yang telah di

aktivasi dengan cara fisika yaitu berupa pemanasan dan kemudian digerus (dihaluskan) kedua hal ini dilakukan agar agar pori-pori arang semakin besar sehingga dapat memepermudah penyerapan. Karena semakin luas permukaan adsorben maka daya penyerapannya pun semakin tinggi. Setelah di gerus dimasukkan dalam larutan encer CH3COOH dan HCl, kemudian di kocok larutan selama 30 menit hal ini dilakukan agar terjadi kontak antara karbon aktif dan asam, dengan perlakuan pengocokan setiap 10 menit dengan rentang 1 menit dan temperature tetap dijaga konstan. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kestabilan adsorben dalam mengadsorpsi adsorbat. Setelah 30 menit, larutan disaring dengan kertas saring hal ini dilakukan untuk menghilangkan pengotor-pengotor dari karbon aktif dan agar mudah terbaca oleh mata ketika akan dilakukan penitrasian. Terakhir, asam asetat dan asam klorida hasil adsorpsi di berikan indicator PP dan dilakukan titrasi dengan larutan NaOH 0,1 M sebagai titran. Pada percobaan ini asam sebagai larutan standar sekunder yaitu larutan yang belum diketahui konsentrasinya dan NaOH sebagai larutan standar primer. Percobaan ini menggunakan titrasi alkalimetri yaitu penentuan konsentrasi basa dalam larutan asam yang sudah diketahui konsetrasinya. Berikut adalah struktur dari indicator PP :

4.3.3 Analisis Hasil dan Grafik Pada percobaan ini akan ditentukan harga tetapan-tetapan adsorbsi isoterm Freundlich bagi proses adsorpsi CH3COOH dan HCl terhadap arang. Variabel yang terukur pada percobaan adalah volume larutan NaOH 0,1 M yang digunakan untuk menitrasi CH3COOH dan HCl. Setelah konsentrasi awal dan akhir diketahui, konsentrasi CH3COOH dan HCl yang teradsorbsi dapat diketahui dengan cara pengurangan konsentrasi awal dengan konsentrasi akhir. Selanjutnya dapat dicari berat CH3COOH dan HCL yang teradsorbsi yaitu pada konsentrasi 0,5M, 0,25M, 0,125M, 0,0625M dan 0,0313 secara berturut-turut untuk HCl dan CH3COOH yaitu dan . Dari data

pengamatan dan hasil perhitungan, konsentrasi asam asetat dan sebelum adsorpsi lebih tinggi daripada setelah adsorpsi. Hal ini karena asam asetat telah diadsorpsi oleh arang aktif. Dari data juga dibuat suatu grafik dimana x/m diplotkan sebagai ordinat dan C sebagai absis. Grafik hubungan antara x/m dengan c maupun hubungan antara log x/m dengan log C dari percobaan dapat dilihat pada gambar grafik berikut ini,

CH3COOH ( y = 0.6x + 1.3 )


log x\m
0.6 0.4 0.2 0 -3.5 -3 -2.5 -2 -1.5 -1 -0.5 -0.2 -0.4 -0.6 -0.8 0

logC

-1

HCl ( y = 2.84 x + 4.92 )


log x\m
4 3 2 1 0 -3 -2.5 -2 -1.5 -1 -0.5 -1 -2 0

log C

Grafik 1. Grafik CH3COOH Grafik 2. Grafik HCl Grafik merupakan Grafik Isoterm Adsorpsi Freundlich. Dari persamaan grafik tersebut jika dianalogikan dengan persamaan Freundlich maka akan didapat nilai k dan n. Persamaan isoterm adsorpsi Freundlich dapat dituliskan sebagai berikut. Log (x/m) = log k + 1/n log c pada persamaan grafik CH3COOH diperoleh persamaan y = 0.6x + 1.3 dan pada grafik HCl persamaannya adalah y = 2.84 x + 4.92 sehingga didapat nilai k pada CH3COOH yaitu 0,262 dan nilai n = 1,67 dan nilai k pada HCL adalah 1,593 dan nilai adalah 0,352.. Adsorpsi karbon membuat konsentrasi asam asetat dan asam klorida mengalami penurunan. Pada data diatas penyerapan tiap percobaan terjadi ketidaksamaan antara data 1 sampai 5 dapat dilihat dari X gram ( jumlah zat yang teradsorpsi) kurang stabil. Hal ini terjadi karena dalam adsorpsi terdapat beberapa factor yang dapat mempengaruhi hasil adsorpsi yaitu Ph, suhu, dan sifat serapan pada arang aktif . Sifat Kesalahan kesalahan yang terjadi pada percobaan ini juga dapat mempengaruhi data percobaan. Kesalahan yang terjadi seperti: kesalahan dalam pembacaan skala pada buret titrasi, kesalahan dalam pengocokan campuran larutan dan dilakukan oleh praktikan. adsorben, kesalahan yang

BAB V PENUTUP

5.1 Simpulan Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa: Isoterm adsorbsi karbon aktif merupakan hubungan antara banyaknya zat yang teradsorpsi (acetic acid) persatuan luas atau persatuan berat adsorben, dengan konsentrasi zat terlarut pada temperature tertentu. Isoterm yang terjadi pada percobaan ini adalah isoterm adsorpsi Freundlich, dimana adsorben mengadsorpsi larutan organic yang sangat bagus dengan situs-situs hoterogen seperti situs Freundlich.Semakin tinggi konsentrasi maka semakin tinggi daya adsorpsinya dan semakin banyak pula zat yang teradsorpsi demikin juga sebaliknya. Semakin luas permukaan adsorben, maka semakin tinggi daya adsorpsinya pada zat terlarut. Dari perhitungan di peroleh nilai k pada CH3COOH yaitu 0,262 dan nilai n = 1,67 dan nilai k pada HCL adalah 1,593 dan nilai n adalah 0,352.

5.2 Saran Sebaiknya alat yang terbatas lebih dilengkapi lagi karena kurangnya alat membuat percobaan kurang efisien.

Jawaban pertanyaan 1. Apakah proses adsorpsi ini merupakan adsorpsi fisik atau kimia? Pada percobaan ini proses adsorpsi terjadi secara adsorpsi fisik yang memiliki ciri molekul yang terikat pada adsorben oleh gaya Van Der Walls, mempunyai entalpi reaksi dan bersifat tidak spesifik. 2. Berikan beberapa contoh kedua jenis adsorpsi tersebut? Adsorsi fisik : adsorpsi nitrogen pada besi secara fisik nitrogen cair pada 190 0 C akan teradsorpsi pada besi Adsorpsi kimia: pada suhu 500 permukaan besi. 3. Apakah yang terjadi pada pengaktifan arang dengan cara pemanasan? Ketika arang diaktifkan dengan cara dipanaskan senyawa karbon yang ditingkatkan daya adsorpsinya dengan proses aktivasi, terjadi
0

C nitrogen teradsorpsi cepat pada

penghilangan hydrogen, gas-gas dan air dari permukaan karbon sehingga terjadi perubahan fisik pada permukaannya. 4. Bagaimana adsorpsi isoterm Freundlich untuk adsorpsi gas pada permukaan zat padat? Apa pembatasannya? Isoterm Freundlich untuk adsorpsi gas pada permukaan zat padat kurang baik atau memuaskan. Hal ini terjadi karena pada adsorpsi Freundlich situs-situs aktif pada permukaan adsorben bersifat heterogen. Gas merupakan campuran yang homogen sehingga kurang cocok jika digunakan dalam isotherm Freundlich. Batasannya : adsorpsi Freundlich situs-situs aktif pada permukaan adsorben bersifat heterogen. 5. Mengapa adsorpsi isoterm Freundlich untuk adsorpsi gas pada permukaan zat padat kurang memuaskan dibandingkan dengan isoterm adsorpsi Langmuir?

Karena pada adsorpsi Freundlich situs-situs aktif pada permukaan adsorben bersifat heterogen, sedangkan adsorpsi pada Langmuir bersifat homogen. Ketika mengadsorpsi gas yang wujudnya campuran yang homogen, maka adsorpsi Freundlich kurang cocok. Dari percobaan yang telah dilakukan, adsorpsi ini berbentuk adsorpsi Langmuir.