Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Istilah penyakit usus inflamasi (PUI) digunakan untuk menentukan dua gangguan gastrointestinal inflamasi usus : enteritis regional (penyakit Crohn atau kolitis garabulomatosus) dan kolitis ulseratif. Keyakinan sekarang adalah eteritis regional dan kolitis ulseratif adalah kesatuan yang terpisah dengan etiologi serupa. Keduanya dikarakteristikan dengan eksaserbasi dan remisi. Kedua penyakit telah dihubungkan dengan abnormalitas kromosom spesifik. Masing-masing penyakit dapat dicetuskan oleh agen lingkungan seperti pestisida, aditif makanan, tembakau, dan radiasi. Pengaruh imunologi telah ditemukan melalui penilitian yang menunjukan abnormalitas dalam imunitas seluler dan humoral pada orang dengan gangguan ini. Antibodi limfositotoksik telah ditemukan pada pasien dengan penyakit usus inflamasi, tetapi penelitian lebih pasti perlu untuk menghubungkan faktor imunologis dan lingkungan penelitian terbaru (Gitnick 1992) menunjukan mikrobakterium sebagai agens penyebab untuk penyakit ini. Faktor psikologis juga telah diketahui. Banyak individu dengan kolitis ulseratif ditemukan sebagai seseorang yang tergantung atau perfeksionis pasif dan cemas pada ketenangan. Perilaku koping sering tidak tepat dan dapat mencakup menarik diri, menyangkal dan respirasi. Beberapa orang mengalami penurunan tingkat toleransi terhadap nyeri dan ketidaknyamanan yang dihubungkan dengan kram usus dan diare. Beberapa praktisi menduga bahwa sifat dan kepribadian adalah penyebab dari gejala penyakit, tetapi penelitian klinis lebih diperlukan untuk menegakan hubungan sebab akibat.

B. Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud penyakit crohn ? 2. Bagaimana patologi penyakit crohn ? 3. Bagaimana gambaran klinis penyakit chorn ? 4. Apa penyebab dan komplikasi penyakit crohn ? 5. Bagaimana diagnosis dan pengobatan penyakit crohn ? 6. Bagaimana penyimpangan KDM penyakit crohn ? 7. Apa prioritas masalah kesehatan penyakit crohn ? 8. Bagaimana perencanaan asuhan keperawatan penyakit crohn ?

C. Tujuan 1. Untuk mengetahui tentang penyakit crohn 2. Untuk mengetahui penyimpangan KDM penyakit crohn 3. Untuk mengetahui prioritas masalah kesehatan penyakit crohn 4. Untuk mengetahui perencanaan asuhan keperawatan penyakit crohn

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Konsep Medis 1. Pengertian Enteritis regional,ileokolitis, atau penyakit crohn merupakan suatu penyakit peradangan granulomaltosa kronis pada saluran cerna yang sering terjadi berulang. Secara klasik penyakit ini menganai ileum terminalis, walaupun dapat juga mengenai setiap saluran cerna. Penyakit ini biasanya timbul pada orang dewasa muda dalam usia dekade kedua atau ketiga dan lebih sering lagi terjadi dalam usia dekade keenam. Laki-laki dan perempuan terserang dalam perbandingan yang kira-kitra sama. Penyakit corhn cenderung bersifat familial dan paling sering terjadi pada kulit putih atau Yahudi. Inflamasi pada penyakit crohn timbul sebagai lesi granulomatosa berbatas tegas dengan pola terpisah-pisah yang tersebar diseluruh bagian usus yang terkena. Di antara daerah inflamasi terdapat jaringan usus yang normal. Pada inflamasi kronis, timbul jaringan ikat dan fibrosis sehingga usus menjadi kaku tau tidak fleksibel. Apabila fibrosis terjadi di usus halus, penyerapan zat gizi akan terganggu. Jika penyakit terlokalisasi terutama dikolon,

keseimbangan air dan elektrolit dapat terganggu. Saluran atau fistula abnormal kadangkadang terbentuk antara bagian saluran cerna dan antara bagian saluran cerna dan saluran GI dan vagina, kandung kemih atau rektum. Hal ini dapat menyebabkan malarbsobsi dan infeksi.

2. Patofisiologi Enteritis regional umumnya terjadi pada remaja atau dewasa muda, tetapi dapat terjadi kapan sajaselama hidup. Keadaan ini sering terlihat pada populasi lansia (50-80 tahun). Meskipun ini dapat terjadi di mana saja disepanjang saluran gastrointestinal, area paling umum yang sering terkena adalah ileum distal dan kolon. Enteritis regional adalah inflamasi kronis dan subakut yang meluas keseluruh lapisan dinding usus dari mukosa usus, ini disebut juga transmural. Pembentukan fistula, fisura, dan abses terjadi sesuai luasnya inflamasi

kedalam peritoneum. lesi (ulkus) tidak pada kontak terus-menerus satu sama lain dan dipisahkan oleh jaringan normal. Granuloma terjadi pada setengah kasus. Pada kasus lanjut mukosa usus mempunyai penampilan cobblestone. Dengan berlanjutnya pen yakit, dinding usus menebal dan menjadi fibrotic, dan lumen usus menyempit. Esophagus dan lambung lebih jarang terserang penyakit ini. Dalam beberapa keadaan, terjadi lesi melompat, yaitu bagian usus yang sakit dipisahkan oleh daerah -daerah usus normal sepanjang beberapa inci atau kaki. Lesi ini diduga mulai terjadi dalam kelenjar limfe dekat usus halus, yang akhirnya menyumbat aliran saluran limfe. Selubung submukosa usus jelas menebal akibat hyperplasia jaringan limfoid dan limfedema. Dengan berlanjutnya proses patogenik, segmen usus yang terserang menebal sedemikian rupa sehingga kaku seperti slang kebun. Lumen usus menjadi sangat menyempit, sehingga hanya dilewati sedikit aliran barium, menimbulkan tanda senar (string sign) yang terlihat pada pemeriksaan radiografi. Seluruh dinding usus biasanya terserang. Mukosa sering kali meradang dan timbul tukak disertai dengan eksudat putih berwarna abu-abu. Daerah yang bertukak ini memiliki gambaran fisura dan granuloma batu koral 3. Gambaran Klinis Gejala utama adalah diare, nyeri abdomen, dan penurunan berat badan. Sering pula didapatkan malaise, kehilangan nafsu makan, mual, muntah, dan mungkin terdapat demam subfebris. Terjadi mendadak, dapat menyerupai obstruksi dan apendisitis. Pada enteritis regional, awitan gejala biasanya tersembunyi, dengan nyeri abdomen menetap dan diare yang tidak hilang dengan defekasi. Diare terjadi pada 90% pasien. Jaringan parut dan pembentukan granuloma mempengaruhi kemampuan usus untuk mentranspor produk dari pencernaan usus atas melalui lumen terkontriksi, mengakibatkan nyeri abdomen berupa kram. Karena peristaltic usus dirangsang oleh makanan, nyeri kram terjadi setelah makan. Untuk menghindari nyeri kram ini, pasien cenderung untuk membatasi masukan makanan, mengurangi jumlah dan jenis makanan sehingga kebutuhan nutrisi normal tidak terpenuhi. Akibatnya adalah penurunan berat badan, malnutrisi, dan anemia sekunder. Selain itu, pembentukan ulkus di lapisan membrane usus dan ditempat terjadinya inflamasi, akan menghasilkan rabas pengiritasi konstan yang dialirkan ke kolon dari usus yang tipis, bengkak, yang menyebabkan diare kronis. Kekurangan nutrisi dapat terjadi akibat absorpsi terganggu. Akibatnya adalah individu menjadi kurus karena masukan makanan tidak adekuat dan cairan hilang secara terus menerus. Pada beberapa pasien, usus yang terinflamasi dapat

mengalami perforasi dan membentuk abses anal dan intra-abdomen. Terjadi demam dan leukositosis. Abses, fistula, dan fisura umum terjadi. Perjalanan klinis dan gejala bervariasi. Pada beberapa pasien terjadi periode remisi dan eksaserbasi, sementara yang lain penyakitnya mengikuti beratnya penyebab. Gejala meluas keseluruh saluran gastrointestinal dan umumnya mencakup masalah sendi (arthritis), lesi kulit (eritema nodosum), gangguan okuler (konjungtivitis), dan ulkus oral. 4. Etiologi & Komplikasi Belum diketahui, namun diduga disebabkan oleh mikobakterium atipikal, measles, dan penyakit vascular. Kebiasaan merokok meningkatkan risiko mendapat penyakit Crohn. Penyakit ini lebih sering ditemukan di Negara maju. Walaupun tidak ditemukan adanya autoantibodi, enteritis regional juga diduga merupakan salah satu reaksi hipersensitifitas atau mungkin disebabkan oleh agen infektif yang belum diketehui. Teori ini dikemukakan karena adanya lesi-lesi granulomatosa yang mirip dengan lesi-lesi yang ditemukan pada lesi jamur dan tuberculosis paru. Terdapat beberapa persamaan yang menarik antara enteritis regional dan colitis ulserativ. Keduanya adalah penyakit radang, walaupun lesinya berbeda. Kedua penyakit ini bermanifestasi diluar saluran cerna yaitu uveitis, arthritis, dan lesi kulit yang identik. Merokok adalah faktor resiko terjadinya penyakit crohn, tetapi tidak pada colitis ulseratif (Rubin,Hanauer,2000). Komplikasi yang sering terjadi dari peradangan ini adalah penyumbatan usus, saluran penghubung yang abnormal (fistula) dan kantong berisi nanah (abses). Fistula bisa menghubungkan dua bagian usus yang berbeda. Fistula juga bisa menghubungkan usus dengan kandung kemih atau usus dengan permukaan kulit, terutama kulit di sekitar anus. Adanya lobang pada usus halus (perforasi usus halus) merupakan komplikasi yang jarang terjadi. Jika mengenai usus besar, sering terjadi perdarahan rektum. Setelah beberapa tahun, resiko menderita kanker usus besar meningkat. Sekitar sepertiga penderita penyakit Crohn memiliki masalah di sekitar anus, terutama fistula dan lecet (fissura) pada lapisan selaput lendir anus. Penyakit Crohn dihubungkan dengan kelainan tertentu pada bagian tubuh lainnya, seperti batu empedu, kelainan penyerapan zat gizi dan penumpukan amiloid (amiloidosis). Bila penyakit Crohn menyebabkan timbulnya gejala-gejala saluran pencernaan, penderita juga bisa mengalami : - peradangan sendi (artritis)

- peradangan bagian putih mata (episkleritis) - luka terbuka di mulut (stomatitis aftosa) - nodul kulit yang meradang pada tangan dan kaki (eritema nodosum) dan - luka biru-merah di kulit yang bernanah (pioderma gangrenosum). Jika penyakit Crohn tidak menyebabkan timbulnya gejala-gejala saluran penderita masih bisa mengalami : - peradangan pada tulang belakang (spondilitis ankilosa) - peradangan pada sendi panggul (sakroiliitis) - peradangan di dalam mata (uveitis) dan - peradangan pada saluran empedu (kolangitis sklerosis primer). Pada anak-anak, gejala-gejala saluran pencernaan seperti sakit perut dan diare sering bukan merupakan gejala utama dan bisa tidak muncul sama sekali. Gejala utamanya mungkin berupa peradangan sendi, demam, anemia atau pertumbuhan yang lambat. 5. Diagnosis & Pengobatan Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya kram perut yang terasa nyeri dan diare berulang, terutama pada penderita yang juga memiliki peradangan pada sendi, mata dan kulit. Tidak ada pemeriksaan khusus untuk mendeteksi penyakit Crohn, namun pemeriksaan darah bisa menunjukan adanya: - anemia - peningkatan abnormal dari jumlah sel darah putih - kadar albumin yang rendah - tanda-tanda peradangan lainnya. Jika masih belum pasti, bisa dilakukan pemeriksaan kolonoskopi (pemeriksaan usus besar) dan biopsi untuk memperkuat diagnosis. CT scan bisa memperlihatkan perubahan di dinding usus dan menemukan adanya abses, namun tidak digunakan secara rutin sebagai pemeriksaan diagnostik awal. Pengobatan ditujukan untuk membantu mengurangi peradangan dan meringankan gejalanya. Kram dan diare bisa diatasi dengan obat-obat antikolinergik, difenoksilat, loperamide, opium yang dilarutkan dalam alkohol dan codein. Obat-obat ini diberikan per-oral (melalui mulut) dan sebaiknya diminum sebelum makan. Untuk membantu mencegah iritasi anus, diberikan metilselulosa atau preparat psillium, yang akan melunakkan tinja. pencernaan,

Sering diberikan antibiotik berspektrum luas. Antibiotik metronidazole bisa membantu mengurangi gejala penyakit Crohn, terutama jika mengenai usus besar atau menyebabkan terjadinya abses dan fistula sekitar anus. Penggunaan metronidazole jangka panjang dapat merusak saraf, menyebabkan perasaan tertusuk jarum pada lengan dan tungkai. Efek samping ini biasanya menghilang ketika obatnya dihentikan, tapi penyakit Crohn sering kambuh kembali setelah obat ini dihentikan. Sulfasalazine dan obat lainnya dapat menekan peradangan ringan, terutama pada usus besar. Tetapi obat-obat ini kurang efektif pada penyakit Crohn yang kambuh secara tiba-tiba dan berat. Kortikosteroid (misalnya prednisone), bisa menurunkan demam dan mengurangi diare, menyembuhkan sakit perut dan memperbaiki nafsu makan dan menimbulkan perasaan enak. Tetapi penggunaan kortikosteroid jangka panjang memiliki efek samping yang serius. Biasanya dosis tinggi dipakai untuk menyembuhkan peradangan berat dan gejalanya, kemudian dosisnya diturunkan dan obatnya dihentikan sesegera mungkin. Obat-obatan seperti azatioprin dan mercaptopurine, yang merubah kerja dari sistim kekebalan tubuh, efektif untuk penyakit Crohn yang tidak memberikan respon terhadap obat-obatan lain dan terutama digunakan untuk mempertahankan waktu remisi (bebas gejala) yang panjang. Obat ini mengubah keadaan penderita secara keseluruhan, menurunkan kebutuhan akan kortikosteroid dan sering menyembuhkan fistula.Tetapi obat ini sering tidak memberikan keuntungan selama 3-6 bulan dan bisa menyebabkan efek samping yang serius. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan yang ketat terhadap kemungkinan terjadinya alergi, peradangan pankreas (pankreatitis) dan penurunan jumlah sel darah putih. Formula diet yang ketat, dimana masing-masing komponen gizinya diukur dengan tepat, bisa memperbaiki penyumbatan usus atau fistula, minimal untuk waktu yang singkat dan juga dapat membantu pertumbuhan anak-anak. Diet ini bisa dicoba sebelum pembedahan atau bersamaan dengan pembedahan. Kadang-kadang zat makanan diberikan melalui infus, untuk mengkompensasi penyerapan yang buruk, yang sering terjadi pada penyakit Crohn. Bila usus tersumbat atau bila abses atau fistula tidak menyembuh, mungkin dibutuhkan

pembedahan. Pembedahan untuk mengangkat bagian usus yang terkena dapat meringankan gejala namun tidak menyembuhkan penyakitnya. Peradangan cenderung kambuh di daerah sambungan usus yang tertinggal. Pada hampir 50% kasus, diperlukan pembedahan kedua. Karena itu, pembedahan dilakukan hanya bila timbul komplikasi atau terjadi kegagalan terapi dengan obat.

B. Penyimpangan KDM Enteritis Regional

C.Prioritas Masalah Keperawatan 1. Mengontrol diare, meningkatkan fungsi usus optimal. Intervensi: Mempertahankan pola eleminasi normal. Perawat menentukan apakah terdapat hubungan antara diaredengan makanan tertentu, aktivitas, atau stress emosi. Dalam hal ini perawa tmengidentifikasi adanya faktor pencetus, frekuensi defekasi, dan karakter,konsistensi, serta jumlah feses yang dikeluarkan. Kesiapan akses ke kamar mandiatau bedpan diberikan, dan lingkungan dipertahankan bersih dan bebas bau.Obat-obat anti diare diberikan sesuai program, dan frekuensi serta konsistensifeses dicatat setelah terapi dimulai. Tirah baring dianjurkan untuk menurunkanperistaltik, 2. Meminimalkan mencegah komplikasi Intervensi: Memantau dan mengatasi komplikasi potensial. Kadar elektrolit serum dipantau setiap hari bukti adanya disripmia atau perubahan pada tingkat kesadaran dilaporkan dengan segera. Penggantian elektrolit diberikan sesuai program. 3. Meminimalkan stress mental/emosi Intervensi: Tindakan koping. Karena pasien merasa terisolasi, tidak berdaya, dan diluar kontrol, pemahaman dan dukungan emosi sangat penting. Pasien dapat berespon terhadap stress dalam berbagai cara seperti marah,menyangkal,dan mengisolasi diri dari lingkungan sosial 4. Memberikan info tentang proses penyakit, kebutuhan pengobatan, dan aspek jangka panjang atau potensial komplikasi berulangnya penyakit. Intervensi: Pendidikan pasien dan pertimbangan perawatan dirumah. Pemahaman pasien tentang proses penyakit dan kebutuhan akan informasi tambahan tentang penatalaksanaan medis (obatobatan,diet) dan intervensi bedah harus dikaji. Informasi tentang penatalaksanaan nutrisi diberikan. Diet saring, rendah sisa, tinggi protein, tinggi kalori, dan tinggi vitamin menghilangkan gejala dan menurunkan diare. Pasien dilingkungan rumah perlu informasih tentang obat-obatan mereka (nama, dosis, efek samping,frekuensi pemberian) dan kebutuhan menggunakan obat-obatan sesuai jadwal. Wadah yang memisahkan pil sesuai dengan hari, waktu, dan daftar cek harian akan membantu pasien untuk mengingat obat-obat yang dimilikinya. Sifat jangka panjang dari penyakit sering menimbulkan ketegangan dalam kehidupan keluarga dan sumber finansial. Dukungan keluarga adalah penting namu beberapa anggota keluarga mengalami kemarahan rasa bersalah, keletihan, dan ketidak mampuan untuk melanjutkan koping terhadap kebutuhan emosi dan fisik.

D.Perencanaan Asuhan Keperawatan a. Pengkajian 1. Identitas Pasien. Nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan,agama, status marital, suku, keluarga/orang terdekat, alamat, nomor register. 2. Riwayat kesehatan diambil untuk mengidentifikasi awitan,durasi, dan karakteristik nyeri abdomen ; adanya diareatau dorongan fekal, mengejan saat defekasi atau tenesmus, mual, anoreksia, atau penurunan berat badan ; dan riwayat keluarga tentang penyakit usus inflamasi.Pola diet yang didiskusikan mencakup jumlah alkohol, kafein, dan nikotin yang digunakan setiap hari dan setaip minggu. 3. Pengkajian pola eliminasi usus mencakup karakter, frekuensi, dan adanya darah, pus, lemak,atau mukus. Alergi penting untuk dokumentasi, khususnya intoleransi usus atau laktosu. Pasien dapat menunjukan gangguan pola tidur bila diare atau nyeri terjadi pada malam hari. 4. Pengkajian objektif mencakup auskultasi abdomen terhadap bising usus dan karakteristiknya; palpasi abdomen terhadap distensi, nyeri tekan, atau nyeri ; dan inspeksikulit terhadap bukti adanya saluran fistula atau gejala dehidrasi. Feses di inspeksi terhadap adanya darah dan mukus. Pada enteritis regional, nyeri biasanya terlokalisasi pada kuadran kanan bawah dimana bising usus hiperaktif dapat didengar karena borborigimus (bising usus gemuruh yang disebabkan oleh pasase gas melewati usus) dan peningkatan peristaltik. Nyeri tekan abdomen terlihat pada palpasi. Gejala paling utama adalah nyeri intermiten yang terjadi pada diare tetapi tidak hilang setelah defekasi. Nyeri pada daerah periumbilikal biasanya menunjukan keterlibatan ileum terminalis.

b. Diagnosa Berdasarkan pada semua data pengkajian, diagnosa perawatan utama mencakup yang berikut: 1) Diare Berhubungan dengan peristaltik meningkat 2) Nyeri Berhubungan dengan: Pembentukan granuloma dan jaringan parut 3) Nutrisi kurang dari kebutuhan.Berhubungan dengan malabsorbsinutrien 4) Peningkatan suhu tubuh.Berhubungan dengan peradangan usus 5) Berhubungan dengan: berkurangnya informas,Kurang pengetahuan 6) Koping tidak efektif Berhubungan dengan: krisis situasi 7) Ansietas Berhubungan dengan: ancaman terhadap perubahan status kesehatan 8) Ganguan aktivitas Berhubungan dengan keletihan

NO Diagnosis Diare berhubungan dengan paristaltic meningkat Intervrensi

Rencana Keperawatan Rasional Tujuan Diharapkan pemberian tindakan yang tepat.

1.

Observasi dan catat Membantu mengkaji frekuensi,defekasi,kar tingkat diare akteristik,jumlah,facto r,percetus.

Nyeri

berhubungan

Kaji nyeri lokasi .

tingkat dan

Perubahan

pada Diharapkan

pemberian

dengan pembentukan 2. granuloma jaringan parut dan -

karakteristik nyeeri tindakan yang tepat dapat menunjukan Diharapkan dengan posisi penyebaran penyakit -meningkangkat kemampuan koping yang nyaman dapat

Berikan posisi yang nyaman

mengurangi sensasi nyeri

Nutrisi

kurang

dari Jumlah makanan yang Membantu tubuh diberikan

mengetahui Diharapkan

makanan

kebutuhan 3. berhubungan

keadaan atau kebutuhan dapat diberikan nutrisi Sediakan likungan makanan Diharapkan dan memenuhi sehingga malnutrisi dapat kebutuhan mencegah

dengan

mal absorbsi nutrion

Peningkatan tubuh 4. dengan usus

suhu Observasi peningkatan Membantu

mengetahui Diharapkan djadikan acuan

dapat dalam

berhubungan suhu tubuh klien peradangan

tingkat jenis demam

menjalankan tindakan

Kurang 5.

pengetahuan Tentukan dengan tanyakan

atau Membuat persepsi dasar dan

pengetahuan Diharapkan

agak

klien

berhubungan berkurangnya informasi

memberikan dapat mengetahui tetang klien akan penyakit agar dapat

klien terhadap proses kesadaran penyakit penyakitnya

menghindari eksarserbasi

Koping tidak efektif Kaji berhubungan 6. krisis situasi dengan orang

pemahaman Pemahaman terdekat

orang Daiharapkan

keluarga krisis

dan terdekat terhadap penyakit dapat dalam klien dapat

mengatasi

sebelumnya

membantu situasi yang di alami klien

menerima penyakit

keluarga dalam menerima keadaaan klien

Ansietas berhubungan Obeservesi dengan terhadap ancaman perilaku perubahan

petunjuk Stres dapat terjadi akibat Diharapkan gejala fisik

dapat

membantu saat membantu hubungan terapeutik

status kesehatan

Gangguan berhubungan keletihan

aktivitas Obeservasi dengan kemampuan mobilitas

Untuk

mengetahui

klien Diharapkan membantu kebutuhan klien

dapat dalam

tingkat keletihan klien

c. Intervensi Keperawatan Menghilangkan nyeri. Karakter nyeri digambarkan sebagai tumpul, rasa terbakar atau seperti kram. apakah polanya konstan atau intermiten ? Apakah hilang dengan obatobatan?

Mempertahankan

masukan

cairan.

Untuk

mendeteksi

kekurangan

cairan,

mempertahankan catatan akurat tentang cairan oral dan intravena serta haluarannya (urine, Feses cair, muntah, drainase luka atau fistula). Penimbangan berat badan setiap hari dipantau

karena hal ini dapat menunjukkan adanya penambahan atau kehilangan cairan yang terjadi secara cepat. Tindakan nutrisional. Nutrisi parenteral total (NPT) digunakan bila gejala penyakit usus inflamasi bertambah berat dengan NPT, perawat dapat mempertahankan catatan akurat tentang masukan dan haluaran cairan serta berat badan pasien setiap hari. Berat badan pasien harus meningkat 0,5 kg setiap hari selama terapi. Urine diuji setiap hari terhadap adanya glukosa, aseton, dan berat jenis bilan NPT digunakan. Pemberian makan yang tinggi protein, rendah lemak, dan residu dilakukan setelah terapi NPT karena makanan ini dicerna terutama pada jejunum, tidak merangsang sekresi usus, dan memungkinkan usus beristirahat. Meningkatkan istirahat. Periode istirahat intermiten selama siang hari dianjurkan dan aktivitas dijadwalkan dan/atau dibatasi untuk menghemat energi dan mengurangi laju metabolik. Mengurangi ansietas. Hubungan dapat dibuat dengan memberikan perhatian, menunjukkan sikap tenang dan percaya diri. Berikan waktu pada pasien untuk mengajukan pertanyaan dan mengekspresikan perasaan. Mendengarkan dengan cermat dan peka terhadap indicator non ferbal dari ansietas (gelisah, ekspresi wajah tenang) akan sangat membantu. Pasien mungkin secara emosi labil akibat dari penyakit, sehngga informasi tentang rencana pembedahan harus disampaikan dan dijelaskan sesuai tingkat pemahaman dan kebutuhan pasien. . Mencegah kerusakan kulit. Kulit pasien harus sering diperiksa, khususnya kulit perianal. Perawatan perianal, mencakup penggunaan barier kulit, diberikan setelah setiap defekasi. Area kemerahan atau teriritasi diatas tonjolan tulang harus diberikan perhatian segera. Alat pengurang-tekanan harus digunakan untuk menghindari kemungkinan kerusakan kulit. Konsultasi dengan ahli perawatan luka atau ahli terapi enterostoma sering membantu.

BAB III PENUTUP


A. KESIMPULAN Enteritis regional,ileokolitis, atau penyakit crohn merupakan suatu penyakit peradangan granulomaltosa kronis pada saluran cerna yang sering terjadi berulang. Secara klasik penyakit ini menganai ileum terminalis, walaupun dapat juga mengenai setiap saluran cerna. Etiologi enteritis regional tidak diketahui. Walaupun tidak ditemukan adanya autoantibodi, enteritia regional diduga marupakan suatu reaksi hipersensitivitas atau mungkin disebabkan oleh agen infektif hyang belum diketahui. Teori-teori ini dikemukakan karena adanya lesi-lesi granulomatosa yang mirip dengan lesi-lesi yang ditemukan pada lesi jamur dan tuberkolosis paru.

Manifestasi klinis yaitu: ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ Diare Nyeri abdomen Malaise Penurunan berat badan Kehilangan nafsu makan Mual, muntah Demam( peningkatan suhu tubuh) Steatore

B. SARAN Semoga dalam pembuatan makala ini kami sebagai penyusun makalah ini serta pembaca dapat memahami apa penyakit chron diseases itu dan berbagai hal yang berkaitan dengan penyakit tersebut,serta dapat memberikan asuhan keperawatan terhadap penyakit ini dengan tepat,pada akhirnya saran beserta kritik guna penyempurnaan makala selanjutnya semoga makala ini dapat bermanfaat. AMIN