Anda di halaman 1dari 9

Nama : Salma Khoirunnisaa (132411179) Mata Kuliah: Bahasa Indonesia

Luka Itu Masih Menganga

Angin berhembus pelan namun menyejukkan. Dedaunan yang mulai berguguran dan bertebaran jatuh di atas tanah . Matahari yang mulai beranjak pergi menyisakan warna yang sungguh indah. Subhanallah, sore yang sempurna, bisikku. Wajahku mulai menengadah ke atas, ke arah langit yang berwarna merah ataukah kuning ataukah oranye itu, entahlah, aku tidak perduli. Yang kutahu, sore ini sungguh indah. Subhanallah. Sungguh tidak akan ada yang bisa melukiskan langit-Mu yang begitu sempurna in, Ya Allah. Tidak akan ada satupun pelukis yang bisa melukis sama seperti yang Kau ciptakan sekarang ini, Ya Rob. Begitupun aku, yang hanya seorang pelukis amatiran ini. Ya, aku adalah seorang pelukis amatiran yang hanya bisa melukis untuk anak-anak TK di desaku. Selama tiga tahun, yang kujalani hanya mampir ke beberapa TK yang ada di desaku untuk melukis gambar-gambar yang disukai oleh para anakanak TK. Belum ada perkembangan yang signifikan, ataukah mungkin tidak akan pernah. Beberapa hari ini aku tidak melukis. Yang kulakan hanyalah berdiam diri di taman dan melamun. Melamunkan nasib yang hanya seperti ini. Brak! Tas besar menimpuk kepalaku. Hey bocah galau! Lagi ngegalau soal apa lagi kau sore ini? Aku kenal betul suara nyaring dan lantang itu. Sonia. Sahabatku sejak aku di bangku Sekolah Menengah Pertama. Seharusnya kamu meminta maaf dulu soal timpukanmu itu. Bagaiman kalau aku amnesia? Ha?, teriakku. Aku masih mengerang kesakitan karna timpukannya tadi. Haduh-haduh.. Selain suka galau, kamu sekarang lebay (berlebihan) juga ya, sahut Sonia. Kutarik tangan Sonia hingga dia sekarang sedang duduk di sebelahku. Lihatlah!, kataku sambil menunjuk ke arah langit.

Iya, aku lihat sekarang. Langitkan? Lalu apa?, jawab Sonia. Lihatlah dengan seksama. Sungguh indah, bukan? tanyaku. Ah sudahlah. Aku tidak bisa sepertimu yang serba melankolis., kata Sonia sebal. Ya sudahlah lupakan. Ada angin apa sampai kamu datang kesini?, tanyaku. Oh iya hampir lupa. Aku punya sesuatu untukmu., jawab Sonia sambil menggeledah isi tas warna pink dan bergambar lambing peace itu. Taraaa! Aku mendapatkan ini saat aku berjalan-jalan di kota bersama Alif. Bacalah! Apa ini? Lomba Pelukis Remaja?, tanyau heran dan kebingungan. Iya benar, Alma. Lomba untuk para pelukis pemula. Diadakan bulan depan. Temanya tentang suasana hati. Kamu coba ikuti lomba itu. Siapa tau kamu beruntung. Dan siapa tau kamu bisa mengubah nasibmu, dar pelukis untuk anak TK menjadi pelukis profesonal., jelas Sonia. Hahaha. Kamu sedang bercanda kan, Ya? Kamu kan tahu, selama ini aku hanya melukis lukisan yang tidak bernilai lebay. Lukisan yang, aku sebut itu lukisan konyol. Dan kamu sekarang memintaku untuk mengikuti lomba lukisan itu?, kataku setengah teriak. Hei hei. Alma, apa kamu sudah putus asa sekarang? Apa kamu sudah menyerah? Itu bukan Alma yang aku kenal selama ini. Kamu bukan Alma sahabatku yang semangatnya selalu berkobar di waktu dia jatuh sekalipun. Ambil ini dan pikirkan lagi. Ini kesempatanmu untuk mengubah nasibmu. Pikirkanlah., jelas Sonia, lagi. Aku terdiam sejenak, memandangi selembar kertas yang diberikan oleh Sonia tadi. Apa aku bisa?, batinku. Sudah. Aku ada urusan lain. Jika kamu sudah berubah pikiran, telfon aku. Emm, Alma, pikirkan dengan baik-baik. Oke?, kata Sonia. Hufft. Insyaallah., sahutku ragu. Aku pergi dulu. Kamu jangan terlalu lama disini. Bahaya. Katanya kalau menjelang maghrib, ada suara-suara aneh. Hiih seram!, kata Sonia menakut-nakutiku.

Cerita horrormu tidak mempan buatku., kataku tegas. Hahaha. Ya sudah aku pergi dulu. Daaaah.., kata Sonia sambil melambaikan tangannya ke arahku. Sehabis sholat isya, aku kembali memandangi selembar kertas yg bertuliskan Lomba Pelukis Remaja. Mungkin aku harus mencoba ini. Bismillah, semoga Allah meridhoi keputusanku, Amin Ya Robb. Bergegas aku mengambil ponselku dan menelfon Sonia.

Pukul 06.00 WIB aku berangkat ke kota untuk mendaftarkan diri mengikuti lomba. Alhamdulillah saat sampai di terminal, aku langsung mendapatkan bis. Satu jam perjalanan, akhirnya sampai juga di tempat tujuanku. Bergegas aku memasuki gedung pendaftaran. Setelah semuanya beres, aku berjalan menyusuri jalan untuk sekedar melihat hiruk pikuknya kota ini. Tidak terasa aku telah berjalan begitu jauh hingga aku sampai di depan gerbang sekolahku dulu. Sekolah Menengah Pertamaku. Entah apa yang membawaku kesini hingga kedua kakiku telah berdiri tepat di depan gedung tua itu. Dalam hitungan detik, memoriku berputar kebelakang (flashback) seperti rol film. Semuanya bermulai dari sini, tempat ini. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta sekaligus sakit hati pada orang yang sama. Lama kita tak jumpa, saksi bisuku, gumamku. Kakiku mulai melangkah menyusuri halaman sekolah. Hari sudah mulai sore. Murid-murid sudah bubar di jam kelasnya masing-masing. Kulihat tempat-tempat yang membuatku sesekali tersenyum. Tempat parkir sepeda, kantin, dan perpustakaan. Ya, di tempat-tempat itulah aku sering melihat dia, Morris. Morris Surya Dharma, anak kelas 8 I, yang diperkenalkan kepadaku melalui temanku, Alif. Aku dan Morris sering berkirim SMS dan telfon. Tapi kita tidak pernah saling menyapa saat di sekolah. Karna kita malu. Dan karna teman-teman kita telah lebih dulu mengetahui kedekatan kita hingga semuanya tidak rahasia lagi. Morris yang baik, manis, dan lucu yang membuatku suka padanya. Namun hanya aku dan Allah yang tahu bagaimana perasaanku kepadanya. Semua berjalan dengan baik, meski kita tidak pernah sekalipun berbicara di sekolah, tapi aku senang.

Namun, hingga akhirnya aku mendapat kabar yang cukup membuatku terkejut. Saat itu sedang diadakan Ujian Tengah Semester. Dua sahabatku, Wiedya dan Intan ingin mengajakku berbicara sepulang ujian nanti. Selesai dari ujian, aku menemui mereka di dekat lampu lalu lintas dekat sekolah. Ada apa? Kalian mau ngomong apa?, tanyaku. Hem, kamu jangan kaget ya., jawab Intan. Ada apa memangnya? Kalian membuatku penasaran saja., tanyaku heran. Benar kamu tidak akan terkejut kan?, tanya Wiedya. Aku mengangguk. Sonia dan Morris, mereka sekarang berpacaran., jelas Intan. Tapi kamu jangan ngomong ke mereka berdu dulu ya. Kita dapat info seperti ini kara kemarin Intan tidak sengaja membaca isi SMS di ponselnya Sonia., jelas Wiedya sekarang. Ya sudah kan. Mereka pacaran. Aku tidak apa-apa kok., kataku setegah terperangah mendengar kabar itu. Benar? Kamu tidak apa-apa?, tanya Wiedya khawatir. Iya. Ya sudah aku pulang ya. Aku belum sholat dzuhur., jawabku. Iya, hati-hati ya., sahut Wiedya dan Intan. Sampai di kamar, kata-kata yang diucapakan oleh kedua sahabatku tadi seolah berputar-putar di otakku. Benarkah apa yang ku dengar tadi?, gumamku. Malamnya, aku medapat SMS dari Morris. Dia masih bersikap seperti biasa. Aku juga tidak mau membahas tentang apa yang ku dengar tadi siang. Dan tidak terasa air mataku mulai menetes. Semakin lama semakin deras. Aku masih tidak percaya. Sahabatku, dengan lelaki yang aku sukai, mereka berpacaran? Memang, akhir-akhir ini sifat sahabatku Sonia agak berubah. Dia

sering menutup diri, tidak lagi bermain dengan aku da teman-temanku yang lain. Rumor yang ku dengar adalah dia sekarang sering keluar malam bersama teman-teman barunya. Dia juga sering nongkrong bersama teman-teman laki-laki. Ya, mungkin diantara teman-teman laki-lakinya adalah Morris, entahlah. Selama tiga malam, aku menangis. Bukan karna aku kehilangan Morris, tapi karna aku tidak menyangka dengan apa yang diperbuat oleh sahabatku, Sonia. Apakah dia tidak melihatku yang lebih dulu mengenal dan menyukai Morris? Padahal jelas-jelas aku setiap hari menceritakan tentang Morris pada Sonia. Kita selalu bercerita tentang satu sama lain. Beberapa hari kemudian, aku sedikit menjauh dari Sonia. Aku tidak menanyakan tentang kebenaran hubungan mereka. Hingga akhirnya Sonia menangis karna aku dan teman-teman yang lain mulai menjauhinya. Dan ketua kelas kita tidak suka dengan keadaan tersebut. Semua diselesaikan dengan baik. Aku dan Sonia kembali berteman. Aku sudah tidak mempermasalahkan tentang dia dan Morris. Aku sudah menerimanya. Dua bulan kemudian, aku diberitahu oleh Alif bahwa Sonia dan Morris telah putus. Dia berkata bahwa alasan mereka putus adalah aku. Aku hampir tidak habis pikir. Lalu, kenapa mereka berpacaran kalau mereka masih memikirkan aku? Alif tidak bisa menjawab pertanyaanku. Dia menjaga rahasia dengan sangat baik. Setelah kelulusanku, aku benar-benar tidak berhubungan komunikasi dengan Morris. Aku sedikit demi sedikit bisa melupakannya. Dengan tidak mengetahui kabar dari dia, itu bisa membantuku untuk menghilangkan ingatanku tentang dia. Lagi pula, hatiku masih belum sembuh. Lukaku masih menganga lebar. Belum benar-benar sembuh. Ku buka kedua mataku perlahan, dan tersenyum. Ya itulah awal dari cinta pertamaku yang sungguh memilukan di putih-biruku. Sedikit memberiku pelajaran bahwa cinta bisa mengalahkan persahabatan dan mengikhlaskan adalah hal yang mudah yang diucapkan dan sulit untuk dilakukan. Satu bulan selanjutnya, tiba saatnya lomba diselenggarakan. Aku dibantu Sonia berangkat ke kota dengan membawa peralatan lukisku. Pukul 09.00 WIB lomba dimulai. Aku mulai mengayunkan kuasku. Melukiskan suasana yang ku alami di taman di desaku dulu. Saat tiba-tiba

Sonia datang membawa pengantara higga aku sampai di tempat ini. Daun yang berguguran dan bertebaran di tanahlah yang aku lukis. Itu seperti aku setelah lulus dr SMP dulu, layu dan jatuh. Tidak ada semangat untuk mempercayai Morris lagi. Semua lelaki sama. Sama-sama akan member luka untuk wanita. Bahakan untuk wanita yang menyayanginya. Waktu yang diberikan adalah tiga jam. Setelah itu aku dan Sonia beranjak ke kantin untuk makan siang. Brak! nampanku yang berisi makanan jatuh karna menabrak seseorang. Maaf mas maaf, saya minta maaf., kataku tergesa-gesa sambil memungut makananku. Alma? Benar kau Alma kan?, Tanya laki-laki itu. Eh? Morris?, jawabku terbata-bata. Sungguh terkejutnya aku sat aku mengetahui bahwa yang aku tabrak adalah Morris. Sedang apa kamu disini? Dan bersama siapa kamu?, tanyanya. Em, aku sedang mengikuti lomba lukis. Aku bersama Sonia., jawabku. Aku, Sonia, dan Morris sekarang berada di meja yang sama. Suasananya sangat canggung. Hingga Sonia pamit terlebih dahulu karna tekah dijemput Alif. Apa kabarmu, Al?, Tanya Morris. Alhamdulillah, baik. Kamu?, jawabku. Alhamdulillah baik juga., sahutnya. Sambil berjalan-jalan, kita mengobrol canggung. Hingga dia akirnya berkata, Maafkan aku, Alma. Atas segala kebodohanku di masa lalu. Kebodohanku yang mungkin telah menyakitimu. Aku minta maaf. Hemm. Sudahlah, Morris. Aku sudah melupakan tentang semua itu. Aku sudah menghapus semuanya, termasuk kamu. , kataku lirih. Apa tidak ada cara buat aku minibus kesalahanku? Agar kamu bisa benar-benar memaafkanku?, tanya Morris.

Aku sudah memaafkanmu sejak kita lulus dari bangku SMP. Insyaallah aku sudah ikhlas dengan apa yang terjadi padaku., jawabku. Alma, diam-diam aku telah mencari tahu tentang kabarmu dan informasi tentangmu. Termasuk tentang kamu yang mengikuti lomba ini. Aku semuanya tahu., jelas Morris. Apa? Kamu menguntitku? Sejak kapan? Bagaimana caranya?, tanyaku bertubi-tubi. Semua itu sudah tidak penting lagi. Aku mau bertanya. Apakah benar kamu masih sendiri sekarang?, tanya Morris. Kenapa kamu menanyakan tentang itu?, jawabku ketus. Benar?, kembali dia bertanya. Iya. Aku masih sendiri. Kenapa?, jawabku. Bolehkah aku menebus kesalahanku, dengan menjadi kekasihmu dan akan membahagiakan kamu untuk selamanya?, tanya Morris. Aku terkejut. Langkahku berhenti seketika. Mataku tajam memandang ke arah Morris. Apa dia sedang menembakku?, batinku Bagaimana Al?, tanyanya menuntut. Morris, aku memang sudah memaafkanmu. Aku ikhlas dengan apa yang kamu lakukan kepadaku di masa lalu. Tapi, aku tidak pernah menyangka akan bertemu denganmu sekarang, disini saja cukup membuatku terkejut. Dan, kamu sekarang memintaku untuk menjadi kekasihmu?, jawabku sambil menyeka air mata. Morris mulai meraih tanganku, tapi aku mengelak. Aku mengaku salah karna telah membuatmu sakit hati. Tapi sejak menemukan informasi tentangmu, aku selalu ingat padamu. Aku masih suka sama kamu Al., jelasnya. Apa? Suka? Kukira kamu sedang bercanda, Ris., kataku ketus. Tidak Al, tidak aku serius sekarang., jelasnya.

Okelah. Aku, sedang menikmati masaku sekarang ini. Masa dimana aku sendiri, tanpa ada hubungan khusus yang mengikat. Aku menikmati pekerjaanku melukis untuk anak-anak TK di desaku. Jadi, maaf. Aku tidak bisa menerima kamu., jelasku. Benar tidak ada kesempatan lagi untukku?, tanya Morris. Lebih baik kita menjadi teman baik saja. Aku akan menerimanya dengan senang hati., kataku sambil tersenyum. Dan, kita kembali ke ruang pengumuman pemenang lomba. Syukur Alhamdulillah, aku menjadi juara I. Dan aku mendapat kontrak untuk melukis di sebuah galeri lukis milik pelukis professional di Jakarta. Sore yang indah adalah saat aku berada di taman di desaku, berbaring di atas rumput hijau, seperti yang aku lakukan sore ini. Dua bulan lalu, aku tepat disini dan memulai perubahan nasibku., kataku lirih. Morris akhirnya menyerah untuk mendapakanku. Dia pergi untuk studi di luar kota. Sebenarnya, alasanku tidak menerima cintanya adalah karena hatiku masih punya luka. Karna dia dulu pergi dan menghilang begitu saja dengan menorehkan luka yang sangat dalam. Luka dan kesedihan yang tidak akan pernah aku lupakan. Dan aku sudah tidak mempunyai rasa untunya sedikitpun. Aku yakin itu. Sekarang saatnya aku mebuka lembaran baru, di kota metropolitan, Jakarta. Semoga semua akan indah pada waktunya., ucapku sambil tersenyum menatap langit sore.

Beri Nilai