Anda di halaman 1dari 2

BPTP Yogyakarta dampingi petani kakao Kulon Progo Senin, 11 Februari 2013 15:43 WIB

Kulon Progo (Antara Jogja) - Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta akan melakukan pendampingan terhadap petani kakao Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam rangka meningkatkan kualitas mutu fermentasi kakao dan penanganan paskapanen.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertan) Kulon Progo, Muhammad Aris Nugroho, Senin, mengatakan, petani kakao di Kulon Progo membutuhkan pendampingan paskapanen kakao.

"Saat ini, petani menjual kakao kering tanpa terlebih dahulu dilakukan fermentasi. Sehingga nilai jual kakao sangat rendah," kata Aris.

Untuk meningkatkan nilai jual kakao, kata dia, Dispertan Kulon Progo dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarya akan melakukan pendampingan petani mulai dari fermentasi hingga pengolahan kakao menjadi makanan yang siap jual.

"Rencananya, program ini akan dilaksanakan pada akhir 2013 ini. Kami akan melakukan pendampingan terhadap petani kakao membuat cokelat atau permen cokelat," katanya.

Menurut dia, harga jual kakao kering di tingkat petani berkisar Rp12.000 per kg, sedangkan kakao fermentasi Rp13.000 per kg. Selisih harga kakao kering dengan fermentasi sangat tipis. Untuk meningkatkan kesejahteraan petani, maka muncullah gagasan mengolah kakao menjadi permen atau cokelat untuk dipasarkan.

Selain itu, kata dia, kualitas kakao di Kulon Progo mayoritas masuk dalam glongan B dengan ukuran berat bijinya 101 hingga 110 biji per 100 gram dan golongan C berkisar 111 hingga 120 biji per 100 gram.

Sementara, jenis tanaman kakao yang dikembangkan masyarakat Kulon Progo yakni jenis Lindak. Kedepannya, Dispertan Kulon Progo akan mengembangkan Tenologi Somatic Embriogenesis (SE) Kakao yang merupakan produk unggulan nasional.

"Petani di Kulon Progo sangat membutuhkan bantuan dari Kementerian Pertanian supaya hasil produksi kakao di Kulon Progo dapat dikelola secara maksimal, dengan adanya industri pengolahan kakao. Diharapkan, dengan adanya industri kakao ini, pendapatan petani meningkat," kata dia.

Dia mengatakan, hasil produksi kakao Kulon Progo masih sebatas sebagai bahan baku industri sehingga harga ditingkat petani masih rendah. Untuk jangka waktu dekat, Dispertan mengimbau kepada petani melakukan fermentasi kakao sebelum dijual.

"Untuk menaikan nilai jual produk kakao, Dispertan Kulon Progo mengimbau petani melakukan fermentasi kakao paskapanen. Saat ini, petani menjual kakao kering mereka dengan harga murah," kata dia.

Selain itu, dia mengatakan, Dispertan Kulon Progo menggalakan program intensifikasi tanaman kakao supaya hasil produksi meningkat.

"Jumlah produksi kakao di Kulon Progo mengalami peningkatan seiring perluasan lahan. Meski demikian, banyak tanaman kakao yang mati atau tingkat produksi sangat rendah. Untuk itu, kami menggalakkan program intensifikasi kakao," katanya.