Anda di halaman 1dari 27

CASE REPORT

DISUSUN OLEH : SATRIO BP. WIJAYA (1102007255)

BLOK ELEKTIF BIDANG KEPEMINATAN DRUG ABUSE TUTOR : Dr. Rita Murnikusumawatie, Sp.M

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI

Abstrak
Latar belakang: Masa remaja seseorang lazim mempunyai rasa keingintahuan akan sesuatu, setelah mengetahui sesuatu maka akan timbul keinginan untuk mencobanya. Misalnya keinginan untuk mencoba-coba narkoba, maupun minuman keras atau bahan-bahan berbahaya lainnya. Apa sih, rasanya Narkoba itu?!, awalnya hanya mencoba-coba lalu lama kelamaan menjadi ketergantungan. Presentasi kasus: Berawal dari ingintahu dan coba-coba seorang pasien laki-laki bernama Joni (nama samara) berusia 15 tahun, dinyatakan positif menggunakan narkoba oleh Rumah Sakit Islam Jakarta. Pasien menggunakan narkotika jenis ganja dan beberapa jenis obat-obatan dalam dosis tinggi. Saat ini pasien sudah hampir 6 minggu berada di ruang detoksifikasi Rumah Sakit Ketergantungan Obat. Diskusi: Masalah masalah besar disekitar generasi muda dan narkoba, antara lain: tidak adanya perhatian orangtua terhadap generasi muda, tingginya keingintahuan generasi muda terhadap hal hal yang baru, bandar besar narkoba yang selalu dilindungi oknum penegak hukum, sikap hedonisme yang terlalu besar dikalangan generasi muda, kurang adanya kerjasama antara semua pihak untuk menangani narkoba. Simpulan: Faktor penggunaan narkoba tergantung pada diri pengguna narkoba itu sendiri. Keingintahuan akan narkoba secara jelas mampu mengubah gaya hidup dan kesehatan seseorang. Faktor lingkungan dapat memotivasi seseorang untuk tidak atau menggunakan narkoba. Kurangnya pemahaman agama juga menjadi faktor yang menyebabkan seseorang berbuat nekad melakukan sesuatu yang salah.

Latar belakang Narkoba adalah singkatan dari Narkotika dan Obat/ Bahan Berbahaya, saat ini dikenal juga dengan istilah NAPZA atau Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya. Masa remaja merupakan dimana rasa keingintahuan yang paling memuncak terhadap semua anak, dimana mereka mulai mencoba sesuatu hal hal yang baru yang mereka anggap hal itu penting untuk dilakukan. Hal yang seperti ini yang seringkali membuat anak itu sendiri menjadi terjebak terhadap pengaruh narkoba. Penyalahgunaan narkoba terhadap para pelajar SMA dan SMP berawal dari penawaran dari pengedar narkoba. Mula-mula mereka diberi beberapa kali dan setelah mereka merasa ketergantungan terhadap narkoba itu, maka pengedar mulai menjualnya. Setelah mereka saling membeli narkoba, mereka disuruh pengedar untuk mengajak teman-temannya yang lain untuk mencoba obat-obatan terlarang tersebut. Makin merebaknya kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia, mendorong revisi UU Anti-Narkotika. Sehingga muncullah UU Anti-Narkotika Nomor 22 Tahun 1997, menyusul dibuatnya UU Psikotropika Nomor 5 Tahun 1997. Dalam Undang-Undang tersebut diatur pasalpasal ketentuan pidana terhadap pelaku kejahatan narkotika, dengan pemberian sanksi terberat berupa hukuman mati. Namun hukuman mati bukan hal yang menakutkan bagi para kurir dan bandar narkoba, karena dari keuntungan berlipat ganda dapat digunakan untuk menyuap petugas. Tujuan dari penulisan laporan ini adalah agar orangtua mampu memberikan perhatian ekstra
2

terhadap generasi muda dalam hal yang berhubungan narkoba, agar generasi muda membatasi keingintahuannya tentang narkoba, agar pemerintah lebih intensif untuk lebih menindak bandar besar narkoba yang dilindungi oleh oknum penegak hukum, agar generasi muda lebih menyadari bahwa sikap hedonisme dengan narkoba adalah salah, dan supaya terbentuknya kerjasama antara semua pihak dalam menangani narkoba. Penulisan ini bedasarkan hasil wawancara dan observasi langsung dengan seorang pasien mantan pecandu narkoba yang berusia 15 tahun di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Cibubur, Jakarta Timur.

Presentasi kasus Pasien laki- laki bernama Joni (nama samaran) berusia 15 tahun diduga ketergantungan narkotika dan obat berbahaya (narkoba) dengan jenis narkotika ganja, obat-obat psikotropika golongan diazepam (pemakaian dosis tidak wajar) dan golongan analgesik (pemakaian dosis tidak wajar). Dia sering mengalami kondisi tidak sadarkan diri, gelisah, keringat berlebih, berhalusinasi dan merasa flu/ pilek bila lama tidak menggunakan. Dalam kesehariannya di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO), Joni kurang bisa bergaul dengan pasien yang lain. Hal ini disebabkan Joni mempunyai perilaku austistik dan menarik diri dari keramaian. Sebelum berada di RSKO, Joni hidup terpisah dengan kedua orangtua kandungnya, dia hidup bersama orangtua angkatnya sejak dia balita. Faktor kemiskinan dan ketidaksanggupan biaya mengurus anak menjadi alasan mengapa laki-laki penggemar sepak bola ini dilepas oleh kedua orangtua kandungnya. Kedua orangtua kandung Joni sadar akan masa depan Joni yang tidak akan terwujud bila Joni hidup bersama mereka, terlebih masalah pendidikan yang nantinya tidak dapat dipenuhi bila tiba saatnya Joni untuk bersekolah. Hingga saat ini Joni tinggal bersama orangtua angkatnya, segala kebutuhan baik pendidikan, papan, sandang dan pangan terpenuhi dengan baik. Segala pelajaran dan arahan di sekolah diikutinya dengan baik, bahkan dia mengerti bahwa narkoba itu barang terlarang. Namun untuk urusan keagamaan dia kurang mendapat pengertian, terutama tentang kewajiban 5 waktu yang enggan untuk dijalankannya. Joni mengaku beragama Islam, tapi tidak pernah sholat bahkan mengaji pun dia buta lafadz Quran, sehingga baginya agama bukan panutan bagi dirinya. Hal ini tak lepas dikarenakan lingkungan disekitar tempat tinggal Joni, yang jarang atau tidak ada sama sekali sosok yang mampu mengenalkan pemahaman agama. Orangtua angkatnya juga tidak pernah sekalipun menyinggung soal agama, sehingga dia sama sekali tidak ada pegangan meskipun secara lahir dan tercatat dalam akte kelahiran dia beragama Islam. Dari kecil hingga lulus SD Joni selalu diperlakukan dengan baik oleh orangtua angkatnya. Tapi semenjak Joni duduk di bangku SMP Joni sering kali mendapat perlakukan kasar, terutama oleh ibu angkatnya. Diakuinya dia sering mendapat perlakuan kasar berupa pukulan dan tamparan bila sang-ibu ada masalah dengan tetangga sekitarnya. Hal ini sering terjadi tanpa diketahui ayah angkatnya, karena sang-ayah
3

jarang berada di rumah. Karena hal itulah Joni sering tidak berada di rumah dan senang mencari kegiatan lain di luar rumah bersama teman karibnya yang bernama Jono (nama samaran) yang merupakan anak dari seorang oknum anggota Kepolisian. Suatu hari Jono menawarkan Joni obat jenis Tramadol (golongan analgesik, dengan dosis tidak wajar), karena penasaran seperti apa rasanya akhirnya Joni mencobanya. Berawal dari sinilah Joni mengenal narkoba, sehingga akhirnya dia menjadi ketergantungan obat tersebut meski dia menyadari sebelumnya bahwa yang dia lakukan ini salah. Joni beranggapan dengan obat-obatan inilah dia menemukan jati dirinya sebagai anak gaul Jakarta dan dengan obat ini dia dapat terlepas dari segala beban masalah yang selama ini mengganggunya. Tak lama selang beberapa hari Joni terbiasa dengan narkoba, Jono menawarkan Joni narkoba jenis lain yang dengan mudahnya Jono dapatkan dari oknum intern Kepolisian, kali ini yang ditawarkan adalah narkotika jenis ganja. Karena merasa tertantang dan gengsi bila tidak menggunakan serta adanya keingintahuan dari jenis yang lain Joni pun tertarik untuk menggunakan ganja, sampai akhirnya Joni merasakan rileks yang luar biasa sebagai efek langsung dari ganja tersebut. Karena seringnya menggunakan ganja, kemudahan akses mendapatkannya dan terjangkaunya harga yang ditawarkan, Joni jadi ketergantungan berat sehingga dia sering tidak sadarkan diri dan sering berhalusinasi yang dirasakannya sebagai efek panjang penggunaan ganja. Dengan bangga Joni sering terlibat tawuran bila sudah menggunakan ganja, bentrok antar warga sudah menjadi mainannya sehari-hari bila sebelumnya dia menggunakan ganja. Karena hal tersebut dianggap menyenangkan serta dapat membuatnya tenang dan percaya diri, Joni selalu berusaha untuk mendapatkan barang haram tersebut dengan cara menjadi pengamen jalanan bersama temannya. Hasilnya selalu dia bagi rata untuk membeli dan menikmati barang haram tersebut bersamasama. Suatu hari pernah terlintas dalam pikirannya untuk berhenti menggunakan narkoba, karena terpikir olehnya akan datangnya kematian. Hal ini terjadi sebab ada tetangganya yang merupakan teman sepermainannya meninggal, yang dia ketahui karena menggunakan narkoba sebelumnya. Setelah adanya kejadian itu Joni sering merasa ketakutan, sampai dia pun tidak dapat tidur selama 4 hari 4 malam. Perasaannya terus tidak menentu, badanya demam merasa flu/ pilek, keringat terus mengucur deras membasahi pakaiannya dan pikirannya semakin kacau, bahkan sempat terpikir olehnya suatu saat dia akan ditangkap Polisi karena dirinya sebagai pemakai narkoba. Namun karena ketegangan dalam dirinya terus meningkat (panik), akhirnya dia kembali menggunakan narkoba untuk menenangkan diri dari segala yang dipikirkannya. Laki-laki berzodiak Taurus ini pun semakin memantapkan diri menggunakan narkoba dengan meningkatkan dosis penyalahgunaan pada obat penenang yaitu obat jenis Valium (golongan Diazepam, dengan dosis tidak wajar). Obat ini dengan mudahnya dia dapatkan di apotik-apotik swasta dan toko-toko obat di kawasan Pramuka, Jakarta Timur. Hingga pada suatu hari orangtua angkat Joni mendapati Joni sedang menggunakan narkoba, dengan sigap orangtua angkat Joni bersama kedua orangtua kandung Joni membawa Joni ke Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ).
4

Dari RSIJ diketahui Joni positif menggunakan narkoba, hal ini diketahui setelah dinyatakan dari hasil tes laboratorium yang dilakukan terhadap Joni. Lalu dari RSIJ Joni diberikan surat rujukan ke RSKO yang khusus menangani masalah narkoba dan zat-zat adiktif berbahaya lainnya. Saat di RSKO laki-laki keturunan sumatera utara ini ditempatkan di ruang detoksifikasi kelas III, selama di RSKO Joni mendapatkan pelayanan berupa makan, minum, obat, dan sebagainya. Dia mendapat perhatian lebih dari petugas medis maupun non-medis RSKO dan selalu mendapat dukungan dari orang terdekatnya untuk dapat sembuh kembali normal. Tapi di RSKO Joni kurang bisa bergaul hal ini dikarenakan perilaku Joni yang autistik dan tidak ada pasien yang seusia dengannya, sehingga dia selalu beranggapan kalau dia kurang mendapat dukungan. Karena hal tersebutlah terkadang Joni sering mengalami depresi dan gangguan panik, maka itu setiap harinya Joni cenderung menyendiri dan sering menarik diri dari keramaian. Meskipun begitu laki-laki yang mengaku penggemar berat Lionel Messi ini mengakui bahwa dirinya telah sadar dengan apa yang telah dilakukannya selama ini merupakan tindakan yang salah dan telah merugikan orang-orang terdekatnya, terutama kedua orangtuanya baik orangtua kandung maupun orangtua angkat. Oleh sebab itu Joni berjanji untuk tidak menggunakan narkoba lagi dan ingin kembali ke bangku sekolah, serta bergaul bersama anak normal seusianya.

Diskusi Keingintahuan Generasi Muda Tentang Narkoba Remaja adalah generasi penerus bangsa, untuk itu suatu negara perlu mempersiapkan generasi muda secara fisik dan psikis dengan baik. Secara fisik perkembangan remaja dari segi kesehatan perlu mendapatkan perhatian yang cukup signifikan dari pemerintah. Salah satu karakteristik umum perkembangan remaja adalah memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (high curiosity). Karena didorong oleh rasa ingin tahu yang tinggi, remaja cenderung ingin bertualang, menjelajah segala sesuatu, dan mencoba segala sesuatu yang belum pernah dialaminya. Selain itu, didorong juga oleh keinginan seperti orang dewasa menyebabkan remaja ingin mencoba melakukan apa yang sering dilakukan oleh orang dewasa. Hal yang seperti ini yang seringkali membuat remaja menjadi terjebak terhadap pengaruh narkoba. (Kartono, K, 2006)

Rasa ingin tahu pada manusia sudah muncul semenjak mereka dilahirkan ke dunia ini. Lalu, apakah yang sangat berpengaruh bagi manusia dalam rasa keingintahuannya? Manusia memiki rasa ingin tahu karena manusia memiliki akal budi. Akal budi dapat dikatakan seperti logika, akal budi hanya dimiliki oleh manusia, oleh sebab itulah mengapa manusia merupakan mahluk yang diciptakan paling tinggi derajatnya oleh Allah SWT. karena manusia memiliki
5

akal budi. Karena adanya akal budi tersebut, maka manusia juga memiliki rasa ingin tahu yang cukup besar. Lalu mengapa para remaja memiliki rasa ingin tahu yang cukup besar dalam pergaulan mereka? Karena mereka semua menghadapi sebuah fenomena pada dalam dirinya pada masa sebelumnya. Pada saat mereka menginjak umur remaja, pada saat itu mereka mulai mencari jati dirinya dan akan menambah berbagai pengetahuan yang berguna bagi dirinya di masa depan. Pergaulan yang cukup bebas akan membuat anak mengalami penghambatan dalam pencarian jati diri mereka. Oleh sebab itu, dibutuhkan kecermatan di dalam melihat pergaulan yang harus diterapkan atau tidak. Semakin bertambah umur manusia, semakin besar rasa ingin tahu yang mereka miliki. Dan semakin besar juga keinginan mereka untuk memperluas rasa ingin tahunya. Ketika manusia semakin bertambah tua, rasa ingin tahu mereka menjadi lebih abstrak dan juga kompleks. Rasa ingin tahu pada setiap manusia akan berhenti ketika mereka tidak bernyawa lagi. (Abdallah, R, 2008) Hingga sekarang, penyalahgunaan narkoba semakin luas di masyarakat kita, terutama semakin banyak di kalangan para remaja yang sifatnya ingin tahu dan ingin coba-coba. Banyak alasan mengapa banyak yang terjerumus ke bahan terlarang dan berbahaya ini kemudian tidak mampu melepaskan diri lagi. Diantaranya terdapat faktor-faktor mengapa remaja menggunakan narkoba, antara lain: 1. Faktor Lingkungan Sosial, yang didasari adanya: a. Motif ingin tahu Di masa remaja, seseorang lazim mempunyai sifat selalu ingin tahu segala sesuatu dan ingin mencoba sesuatu yang belum atau kurang diketahui dampak negatifnya. Bentuk rasa ingin tahu dan ingin mencoba itu misalnya dengan mengenal narkotika, psikotropika maupun minuman keras atau bahan berbahaya lainnya b. Kesempatan Kesibukan kedua orang tua maupun keluarga dengan kegiatannya masing-masing, atau dampak perpecahan rumahtangga akibat broken home, serta kurangnya kasih sayang merupakan celah kesempatan para remaja mencari pelarian dengan cara menyalahgunakan narkotika, psikotropika maupun minuman keras atau bahan/obat berbahaya. c. Sarana dan prasana Ungkapan rasa kasih sayang orangtua terhadap putra-putrinya seperti memberikan fasilitas dan uang yang berlebihan, bisa jadi pemicu penyalah-gunakan uang saku untuk membeli Narkotika untuk memuaskan segala keingintahuan dirinya . Biasanya, para remaja mengawalinya dengan merasakan minuman keras, Baru kemudian mencoba-coba narkotika dan obat terlarang psikotropika.
6

2. Faktor Kepribadian, di antaranya adanya: a. Rendah diri Perasaan rendah diri di dalam pergaulan bermasyarakat, seperti di lingkungan sekolah, tempat kerja, dan sebagainya sehingga tdk dapat mengatasi perasaan itu, remaja berusaha untuk menutupi kekurangannya agar dapat menunjukan eksistensi dirinya, melakukannya dengan cara menyalahgunakan narkotika, psikotropika maupun minuman keras sehingga dapat merasakan memperoleh apa-apa yang diangan-angankan antara lain lebih aktif, lebih berani dsb. b. Emosional Kelabilan emosi remaja pada masa pubertas dapat mendorong remaja melakukan kesalhan fatal. Pada masa -masa ini biasanya mereka ingin lepas dari ikatan aturan-aturan yang di berlakukan oleh orang tuanya. Padahal disisi lain masih ada ketergantungan sehingga hal itu berakibat timbulnya konflik pribadi. Dalam upaya terlepas dari konfllik-pribadi itu, mereka mencari pelarian dengan menyalahgunakan narkotika, psikotropika maupun minuman keras atau obat berbahaya dengan tujuan berusaha untuk mengurangi keterangan atau agar lebih berani menentang kehendak dan aturan yang diberikan oleh orang tuanya. c. Mental Lemahnya mental seorang akan mudah untuk dipengaruhi perbuatan dan tindakan atau hal-hal yang negatif oleh lingkungan sekitarnya. Sehingga semua pengaruh negatif ini pada gilirannya menjurus kepada aktifitas penyalahgunaan narkotika, psikotropika maupun minuman keras atau obat berbahaya tidak dapat mengimbangi perilaku dalam lingkunganya dan dirinya merasa diasingkan. (Martono, Lydia Harlina, dkk. 2000)

Dalam kasus ini sang-anak (Joni) sudah mengenai 2 faktor di atas, dilihat dari faktor lingkungan sosial terdapat keingintahuan yang tinggi dan motivasi untuk menggunakan narkoba. Adanya kesempatan besar untuk menggunakan narkoba di setiap waktunya, meski tidak terlalu didukung sarana dan prasarana yang memadai namun kesempatan selalu ada. Lalu dari kepribadian, Joni kerap menarik diri dari pergaulan, ia cenderung bertingkah emosional bila mendengar sesuatu yang menimbulkan kegaduhan di sekitar ia berada. Mentalnyapun lemah,

Joni dapat percaya diri bila sudah menggunakan narkoba, seluruh hidupnya didasarkan akan narkoba selama dia masih menjadi pengguna. Sikap hidup yang beranggapan bahwa kesenangan dan kenikmatan adalah tujuan utama hidup, merupakan suatu sikap hidup yang dikenal dengan paham hedonisme. Bersenang-senang, pesta-pora, dan hura-hura sudah menjadi tradisi sehari-hari bagi mereka. Mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, jadi harus dibuat se-enjoy mungkin demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Bahkan ada yang lebih parah dalam mengekspresikan hidupnya yaitu penganut paham nudisme. Mereka mengeimplementasikan gaya hidup bersenang-senang melalui pesta bugil. Fenomena yang menghawatirkan itu mula-mula ditandai dengan sebuah kecendrungan menghamburkan uang untuk hal-hal yang sifatnya tersier, sementara di sisi lain meninggalkan kepedulian mereka terhadap pendidikan. Anak-anak muda yang terdiri dari para pelajar dan mahasiswa terjangkiti virus-virus konsumerisme yang dipicu maraknya pusat perbelanjaan; mal, hypermarket, pusat kulakan, tempat-tempat hiburan mulai dari caf, resto cepat saji, diskotik, rumah musik, pusat-pusat permainan instan-elektronik dan virtual game station, atau bahkan yang lebih parah minuman keras dan narkoba. Akibatnya, generasi muda mulai mengesampingkan spiritnya untuk terus meningkatkan kualitas diri mereka sebagai generasi yang nantinya bertanggungjawab terhadap negara dan bangsanya. (Hawari, D, 2009)

Gambar.1 Narkoba Dan Alkohol Membawa Resiko Seumur Hidup Bagi Remaja (voa-islam.com)

Perang total melawan narkoba Narkoba (Narkotika, Psikotropika, Alkohol dan Zat Adiktif lainnya) adalah bahan/ zat yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan seseorang (pikiran, perasaan dan perilaku) serta dapat menimbulkan ketergantungan secara fisik dan psikologis. Penyalahgunaan narkoba adalah pemakaian narkoba yang bukan bertujuan untuk pengobatan atau tanpa pengawasan dokter. Penyalahgunaan narkoba juga disebabkan karena penggunaan terus menerus, menyebabkan ketergantungan, dan menimbulkan gangguan fisik, mental serta sosial.
8

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan (Undang-Undang No. 22 tahun 1997). Yang termasuk jenis narkotika adalah seperti tanaman papaver, opium mentah, opium masak (candu, jicing, jicingko), opium obat, morfina, kokaina, ekgonina, tanaman ganja, dan damar ganja. Garam-garam dan turunan-turunan dari morfina dan kokaina, serta campurancampuran dan sediaan-sediaan yang mengandung bahan tersebut di atas. Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan pada aktivitas mental dan perilaku (Undang-Undang No. 5/1997). Zat yang termasuk psikotropika antara lain seperti sedatin (Pil BK), Rohypnol, Magadon, Valium, Mandrax, Amfetamine, Fensiklidin, Metakualon, Metifenidat, Fenobarbital, Flunitrazepam, Ekstasi, Shabushabu, LSD (Lycergic Syntetic Diethylamide) dan sebagainya. Bahan Adiktif berbahaya lainnya adalah bahan-bahan alamiah, semi sintetis maupun sintetis yang dapat dipakai sebagai pengganti morfina atau kokaina yang dapat mengganggu sistem syaraf pusat, seperti alkohol yang mengandung ethyl etanol, inhalen/sniffing (bahan pelarut) berupa zat organik (karbon) yang menghasilkan efek yang sama dengan yang dihasilkan oleh minuman yang beralkohol atau obat anaestetik jika aromanya dihisap. Contoh: lem/perekat, aceton, ether dan sebagainya. (Kurniawan, J, 2008)

Dampak penggunaan narkoba berdasarkan faktor kesehatan dan faktor sosial 1. Faktor Kesehatan, antara lain: a. Penyalahgunaan narkoba merusak kesehatan manusia baik secara jasmani, mental maupun emosional. b. Penyalahgunaan narkoba merusak susunan syaraf pusat, hati, jantung, ginjal, paru-paru, usus dan sebagainya. c. Penyalahgunaan narkoba menimbulkan gangguan pada daya ingat, perasaan, persepsi dan kendali diri. d. Penyalahgunaan narkoba merusak sistem reproduksi yaitu produksi sperma menurun, penurunan hormon testosteron, kerusakan kromosom, kelainan sex, keguguran dan lainlain sebagainya.

e. Penyalahgunaan narkoba dapat menyebabkan penyakit AIDS melalui pemakaian bersama jarum suntik, jika yang bersangkutan mengidap penyakit AIDS. 2. Faktor Sosial, antara lain: a. Penyalahgunaan narkoba memperburuk kondisi keluarga yang pada umumnya sudah tidak harmonis. Keluarga-keluarga yang penuh masalah akan mempengaruhi kehidupan di lingkungan masyarakat. b. Guna membiayai ketergantungan kepada narkoba seseorang memerlukan banyak biaya untuk membeli narkoba, sehingga para pecandu mencuri, merampok, menipu, mengedarkan narkoba, bahkan bisa membunuh untuk mendapatkan uang. c. Para pecandu narkoba pada umumnya menjadi orang yang anti sosial dan menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban pada lingkungannya serta merugikan masyarakat. d. Kerugian di bidang pendidikan juga akan terjadi seperti prestasi sekolah yang merosot karena sering tidak masuk sekolah dan tidak konsentrasi sewaktu belajar. e. Siswa yang sering menyalahgunaan narkoba sering mengajak teman lainnya untuk turut memakai narkoba, bahkan mereka juga menjadi pengedar narkoba di sekolah.

Ciri-ciri siswa yang menggunakan narkoba, diantaranya: a. Perubahan tingkah laku secara tiba-tiba, seperti menjadi prilaku yang kasar, tidak sopan, penuh rahasia serta mudah mencurigai orang lain. b. Marah yang tidak terkontrol, dan perubahan suasana hati yang tiba-tiba. c. Membangkang terhadap disiplin. d. Meminjam atau mencuri uang dari rumah, sekolah dan tempat lainnya. e. Mengenakan kacamata gelap pada saat yang tidak tepat untuk menyembunyikan mata bengkak dan merah. f. Bersembunyi di kamar mandi, gudang, di bawah tangga dalam waktu lama. g. Penurunan kehadiran di kelas dan prestasi belajar menurun. h. Lebih banyak menyendiri, melamun dan berhalusinasi. (Partodiharjo, S, 2008)

10

Gambar.2 Laporan Data Korban Penyalahguna Narkoba Selama tahun 2000 (bnn.go.id/)

Berdasarkan laporan data korban penyalahgunaan narkoba pada tahum 2000 (Gambar.2), angka pengguna tertinggi berdasarkan pendidikan rentan terjadi pada jenjang tingkat SLTA/ SMA. Angka yang ditunjukan berbilang 1.009 pengguna pada tahun 2000, dengan daerah terbanyak berada di DKI Jakarta yang berkisar 206 pengguna, tingginya pengguna dikarenakan kurangnya pengawasan di DKI Jakarta.

Gambar.3 Laporan Data Korban Penyalahguna Narkoba Selama tahun 2001 (bnn.go.id/)

11

Berdasarkan laporan data korban penyalahgunaan narkoba pada tahum 2001 (Gambar.3), angka pengguna tertinggi berdasarkan pendidikan rentan masih terjadi pada jenjang tingkat SLTA/ SMA. Angka yang ditunjukan berbilang 1.493 pengguna pada tahun 2001 yang artinya menunjukan peningkatan dari tahun sebelumnya, dengan daerah terbanyak masih dipegang DKI Jakarta yang berkisar 254 pengguna dan juga menunjukan peningkatan. Hal yang mengejutkan justru ditunjukan oleh daerah Sumatera Utara yang melonjak dari tak ada pemakai yang terdata (0 pengguna pada tahun 2000) menjadi 200 pengguna pada tahun 2001, ini artinya di Indonesia selalu terjadi peningkatan pengguna tiap tahun. Berdasarkan 2 data diatas jelas bahwa masa remaja merupakan masa dimana rasa keingintahuan yang paling memuncak terhadap semua anak, dimana mereka mulai mencoba sesuatu hal hal yang baru yang mereka anggap hal itu penting untuk dilakukan, yang salah satunya dengan mencoba narkoba.

Strategi yang telah ditempuh penyalahgunaan narkoba, diantaranya: 1. Pencegahan

pemerintah

dan

masyarakat

dalam

menekan

Upaya untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, dengan upaya-upaya yang berbasis masyarakat, mendorong dan menggugah kesadaran, kepedulian dan peran aktif seluruh komponen masyarakat, karena mencegah lebih baik dari pada mengobati. 2. Penegakan Hukum Upaya terpadu dalam pemberantasan narkoba secara komprehensif terhadap organisasi kejahatan narkoba dengan menerapkan undang-undang dan peraturan-peraturan secara tegas konsisten, dan dilakukan dengan sungguh-sungguh, serta adanya kerjasama antar instansi dan kerjasama internasional yang saling menguntungkan. 3. Terapi dan Rehabilitasi Upaya yang dilakukan untuk mengobati para pengguna narkoba dengan melakukan pengobatan secara medis, sosial dan spiritual. 4. Pengembangan Sistem Informasi Narkoba Upaya untuk menyediakan dan menyajikan data yang lengkap dan komprehensif tentang penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, baik secara internasional maupun nasional. Hal tersebut dapat digunakan sebagai dasar penyusunan kebijakan dan strategi dalam pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkoba. (Alifia, U, 2008)
12

Makin merebaknya kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia, mendorong revisi UU Anti-Narkotika. Muncullah UU Anti-Narkotika Nomor 22 Tahun 1997, menyusul dibuatnya UU Psikotropika Nomor 5 Tahun 1997. Dalam Undang-Undang tersebut diatur pasal-pasal ketentuan pidana terhadap pelaku kejahatan narkotika, dengan pemberian sanksi terberat berupa hukuman mati. Namun, hukuman mati bukan hal yang menakutkan bagi para kurir maupun bandar narkoba, karena keuntungan yang berlipat ganda. Sebagai gambaran, dalam satu hari seorang pengedar bisa mendapatkan uang yang sangat banyak. Satu pil ekstasi saja harganya Rp 40.000, bisa dihitung berapa omzet yang diraih jika dalam sehari mampu menjual 10 butir pil. Sulitnya mendapatkan pekerjaan dan hasrat ingin segera menikmati gaya hidup yang serba konsumtif juga merupakan faktor penyebab seseorang menjadi pengedar narkoba. Dengan berbagai faktor tersebut, maka posisi Indonesia yang semula adalah negara yang dipasok kini juga sudah naik kelas menjadi pemasok, dengan ditemukannya berbagai pabrik sabu di Banten dan berbagai wilayah Indonesia lainnya. Dilihat dari letak geografi, Indonesia memang sangat menunjang untuk bisnis ini, karena posisi Indonesia di antara dua benua dan dua samudra. Di samping itu juga karena negara Indonesia adalah negara kepulauan dengan banyak pelabuhan yang memudahkan jaringan gelap dalam mengedarkan narkoba. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah, swasta dan masyarakat untuk mencegah dan mengatasi masalah narkoba. Namun, upaya-upaya tersebut belum bisa dikatakan berhasil, seiring dengan makin banyaknya pelaku penyalahgunaan narkoba. Apa saja kelemahan dan kendala dalam mencegah dan mengatasi permasalahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba selama ini? Apa yang perlu diperbaiki untuk mengatasinya? Apakah kita rela bila masalah narkoba manjadi semakin sulit dituntaskan karena para gembongnya bisa menguasai kota dan negara, seperti yang kini dialami Meksiko. Sebagai gambaran, pada awal 2011 di Ciudad Juarez, Meksiko, terjadi peristiwa paling berdarah dalam 72 jam. Juru bicara kantor Jaksa Agung, Arturo Sandoval mengatakan, paling sedikit 53 orang tewas dalam kurun waktu itu akibat bentrok kartel narkoba dengan aparat. Kartel narkoba sedemikian kuasanya sampai bisa mengatur orang mereka di lingkaran aparat, membeli orang parlemen, bahkan ikut serta dalam pemilu. Keadaan para bos kartel yang sedemikian super power ini menurut beberapa analis disebabkan begitu lemahnya aparat, akibat begitu besarnya uang yang mengalir kepada mereka. Dan begitu banyaknya uang yang mengalir untuk membantu masyarakat, dengan banyaknya mereka mempekerjakan kaum miskin di bisnis ini. Mereka memang menari-nari di tengah rakyat miskin, di tengah pemerintahan yang korup. Dari uraian di atas, kita memang masih jauh dari kondisi Meksiko, namun bukan berarti kondisi seperti itu juga akan terjadi di negeri ini bila seluruh elemen tidak sadar untuk melakukan perlawanan bersama terhadap oknum-oknum di balik bisnis narkoba. Kembali ke pertanyaan apa cara yang paling ampuh untuk menuntaskan permasalahan yang menurut mantan Kalakhar BNN, I Made Mangku Pastika, setiap hari, 40 orang meninggal dunia di negeri ini
13

akibat over dosis narkoba dan sebagian besar di antara mereka adalah remaja. Angka ini bukanlah jumlah yang sebenarnya. Menurut Psikolog Dadang Hawari, fenomena penyalahgunaan narkoba itu seperti fenomena gunung es, yang bisa jadi pengguna sebenarnya adalah sepuluh kali lipat dari jumlah yang ditemukan. Hal ini juga karena faktor kemudahan memperoleh obat. Faktanya ancaman hukuman tidak membuat barang ini sulit beredar. Narkoba saat ini bisa dengan mudah diperoleh, baik di tempat umum seperti warung maupun di diskotik, bahkan di kamar-kamar kos mahasiswa. Awalnya diberikan gratis dengan dalih pertemanan atau ingin menolong mengatasi masalah stres dan suntuk yang sedang dihadapi. BNN dan kaki-kaki mereka, yaitu BNP dan BNK memang sudah melakukan serangkaian langkah yang melibatkan LSM, dan masyarakat untuk berperang melawan narkoba. Namun, dengan kondisi yang masih memprihatinkan ini perlu upaya evaluasi dan monitoring terhadap kinerja BNN, BNP dan BNK. Dalam perang total melawan narkoba perlu peran strategis tokoh agama, dan kelompok ibu-ibu PKK. Ini mengingat masalah tersebut juga terkait dengan masalah moral dan kepribadian, dan juga akibat permasalahan keluarga. Remaja yang paling banyak menjadi korban adalah yang masih dalam tanggung jawab orang tua. Namun, masalah yang juga serius untuk diperhatikan adalah membersihkan institusi penegak hukum dari oknum-oknum yang menjadi pelindung bandar narkoba. Dengan memberikan hukuman yang jauh lebih berat bagi mereka. Kini dengan telah diberikannya renumerasi maka alasan hukuman yang jauh lebih berat itu menjadi dapat diterima. Semoga kita masih jauh dari kondisi di Meksiko, sehingga kita akan menang dalam perang melawan narkoba Saat ini perlu adanya kerjasama antara pemerintah, masyarakat dan orang tua dalam menanggulangi narkoba. Karena dengan hal yang seperti inilah yang sebenarnya cara paling ampuh untuk memberantas atas buruknya pengaruh narkoba terhadap generasi muda sekarang ini. Tidak hanya dari anak itu sendiri melainkan adanya kerjasama antara semua pihak yaitu pemerintah, masyarakat, dan orangtua. Hal ini dapat menjaga agar para generasi muda menjadi terlindungi dari setiap bahaya yang muncul akibat narkoba itu sendiri. Dalam peranan pemerintah yaitu dengan dikeluarkannya undang undang mengenai narkoba sehingga setiap orang yang menggunakan narkoba mendapat hukuman terhadap apa yang dilakukannya. Pemerintah juga harus bersikap tegas dalam membasmi segala bandar narkoba yang belakangan ini sangat marak dikalangan masyarakat. Karena biasanya para bandar narkoba inilah yang menghasut para generasi muda untuk mengkonsumsi narkoba. Bandar narkoba ini bagaikan musuh dalam selimut, dimana mereka berpura pura baik terhadap semua orang namun pada akhirnya mereka yang menghancurkan moral setiap anak. Peranan orangtua juga sangat penting terhadap generasi muda dimana orangtualah yang menjadi pondasi utama terhadap perkembangan anak. Orangtua harus mampu menjadi panutan
14

yang baik terhadap anak anaknya agar anak tersebut juga mengikuti hal yang baik sama seperti yang dilakukan oleh orangtua mereka. Orangtua juga harus menjadi sahabat terhadap anak mereka agar anak memiliki tempat curhat terhadap segala masalah yang sedang mereka hadapi. Hal ini sangat penting agar anak tidak merasa tertekan karena setiap masalah yang mereka hadapi. Orangtua juga harus mengontrol setiap pergaulan mereka dalam lingkungan agar mereka tidak masuk ke dalam salah pergaulan. Peranan masyarakat juga tidak kalah pentingnya dengan peranan pemerintah dan orangtua, dimana dalam kesehariannya dalam masyarakatlah anak berinteraksi. Tentunya masyarakat harus mengawasi setiap hal hal yang dilakukan setiap anak di lingkungan masyarakat. Masyarakat harus mampu memberkan kontribusi yang positif terhadap anak agar anak tidak salah bergaul dalam lingkungannya. Pemerintah telah berusaha melindungi warga negaranya dari dampak negatif narkoba melalui jalur hukum diantarnya, sebagai berikut: 1. Pengguna narkotika, dijerat pasal 78 dan 89 UU no.22 tahun 1977 berupa hukuman 4 tahun penjara. 2. Pengedar/ bandar narkotika, dijerat pasal 81 dan 82 UU No.22 tahun 1977 berupakan hukuman 20 tahun/ hukuman seumur hidup/hukuman mati ditambah denda. 3. Pengguna psikotropika, dijerat pasal 59 dan 60 UU no.5 tahun 1977 berupa hukuman penjara 15 tahun ditambah denda. Jadi baik pemerintah, orangtua maupun masyarakat harus menjadi pondasi yang kuat bagi anak agar tidak terjebak dari narkoba. Pemerintah, orangtua, dan masyarakat harus mampu menjadi media yang positif terhadap anak agar anak dapat terhindar dari jahatnya pengaruh narkoba ini. (Rais, Moch Lukman Fatullah, SH, 1997)

Gambar.4 Perlu Peperangan Yang Lebih Total Kepada Narkoba (hai-online.com/)

Dalam kasus ini, kesigapan orangtua Joni dalam menangani anaknya sudah merupakan bentuk kerjasama. Tindakan orangtua Joni yang cepat sudah merupakan upaya untuk melawan
15

narkoba dan bentuk kepedulian orangtua terhadap anak. Namun kondisi Joni yang sudah terlanjur menggunakan narkoba masih menjadi kekurangan tersendiri. Pasalnya jika saja orangtua Joni lebih mengawasi dan memberi perhatian lebih kepada dirinya sejak awal, bisa saja dia enggan menggunakan narkoba. Bentuk keharmonisan keluarga merupakan usaha terbaik mencegah narkoba masuk ke dalam keluarga, karena dengan adanya perhatian dan tanggungjawab orangtua sang anak akan merasa dihargai. Seandainya juga bila orangtua Joni menanamkan aqidah Islam di rumah, dan mengamalkan ilmu keagamaan sejak awal maka pondasi yang kuat akan lebih kokoh terbentuk, anak akan menjadi takut untuk melakukan perbuatan yang salah dan enggan melakukan hal yang dilarang agama.

Membentengi keluarga dari narkoba Sudah selayaknya setiap orang tua dan para pendidik mulai sadar dan berbuat sesuatu untuk membentengi anak-anak dari narkoba. Allah Taala berfirman:


Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (QS. At Tahrim: 6)

Berikut beberapa upaya dalam membentengi keluarga dari narkoba, sekaligus membentuk keluarga yang harmonis tanpa didahului dengan adanya rasa kecemasan orangtua terhadap anaknya jika berada di luar rumah, diantaranya: 1. Ajarkan aqidah yang benar Mengapa aqidah? Karena perkara akidah adalah pondasi dalam pendidikan Islam. Akidah adalah pondasi dalam perbaikan moral. Aqidah yang benar akan memberikan alasan yang tepat bagi seseorang untuk melakukan sesuatu atau untuk meninggalkan sesuatu. Oleh karena dakwah para Nabi dan Rasul diawali dengan perbaikan aqidah, yaitu menanamkan tauhid yang benar. Demikianlah metode dakwah Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam. Sebagaimana ketika beliau mengutus Muadz bin Jabal ke negeri Yaman:


16


Engkau akan mendatangi sebuah kaum ahli kitab. Ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwasanya Aku adalah utusan Allah. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut, ajarilah mereka bahwa Allah mewajibkan shalat lima waktu setiap sehari semalam. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut, ajarilah mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka membayar zakat yang diambil dari orang kaya mereka lalu dibagikan kepada orang-orang faqir di antara mereka. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut, jauhilah harta-harta mereka.

Narkoba itu diharamkan oleh agama dan menyebabkan pelakunya berdosa. Namun seseorang akan sulit sekali menghindarkan diri dari larangan agama kecuali ia memiliki keyakinan yang benar terhadap agamanya. Bagaimana mungkin ia bisa takut kepada Allah jika keyakinannya tentang Allah belum benar. Bagaimana mungkin ia taat kepada Rasulullah jika ia belum memiliki keyakinan yang benar bahwa Muhammad Shallallahualaihi Wasallam adalah utusan Allah. Bagaimana mungkin ia bisa menerima dalil, jika ia belum yakin bahwa dalil itu wajib ditaati.

Narkoba adalah candu sebagaimana khamr. Dan lihatlah betapa dakwah Nabi sehingga para sahabat yang ketika itu sudah terlanjur biasa meminum khamr bisa dengan rela meninggalkannya. Itu karena beliau memulainya dengan perbaikan aqidah. Aisyah Radhiallahuanha menuturkan:

: : : :
Surat Al Quran yang turun di masa awal adalah surat-surat pendek yang di dalamnya disebutkan surga dan neraka. Hingga Islam sudah menancap erat di hati orang-orang, barulah turun ayat mengenai halal dan haram. Andaikan saja yang turun di masa awal adalah ayat yang berbunyi jangan engkau minum khamr tentu mereka akan berkata kami akan minum khamr selamanya. Andaikan ayat yang turun berbunyi jangan kalian berzina tentu mereka
17

akan berkata kami tidak akan meninggalkan zina selamanya. (HR. Bukhari 1395, Muslim 19)

2. Tanamkan kecintaan terhadap ilmu agama pada keluarga Karena ilmu akan membawa kepada rasa takut kepada Allah. Semakin bertambah ilmu, semakin bertambah pula rasa takut untuk menentang aturan Allah dan menerobos apa yang dilarang-Nya. Allah Taala berfirman:


Sungguh yang paling takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya adalah para ulama (QS. Fathir: 28 )

Dengan ilmu ia tahu betapa rahmah Allah dan betapa keras Adzab-Nya. Dengan ilmu, ia tahu ganjaran baik dan buruk dari setiap perbuatannya. Dengan ilmu, ia tahu untuk apa ia hidup dan akan dibawa kemana hidupnya. Dengan ilmu, seseorang tahu bagaimana menjalani hidup dan jalan mana yang ditempuhnya.

Selain itu, seorang yang jatuh cinta pada ilmu agama, akan kecanduan dengannya. Sehingga ia tidak mencari candu yang lain. Semakin cinta ilmu, ia semakin sadar banyak hal dari agamanya yang belum ia ketahui. Hingga ia merasa sangat membutuhkan ilmu. Para ulama kita berkata:


Kebutuhan manusia akan ilmu melebihi kebutuhannya terhadap makan dan minum

3. Perbaiki akhlak terhadap keluarga Jika anak merasa tidak nyaman dengan keluarganya, sehingga ia mencari kenyamanan lain diluar rumah, atau sang anak sudah enggan mendengarkan nasehat orang tuanya, maka periksalah akhlak anda terhadap keluarga. Barangkali akhlak buruk kita yang menyebabkan hal itu. Atau barangkali akhlak kita terhadap keluarga malah tidak jauh lebih buruk dari akhlak kita terhadap tetangga dan teman kerja. Padahal seharusnya keluargalah yang paling
18

layak untuk mendapatkan akhlak terbaik yang kita miliki. Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam bersabda:


Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku (HR. Tirmidzi 3895, ia berkata: Hasan gharib shahih).

Terutama kepada anak, tunjukkan akhlak yang mulia dan kasih sayang yang hangat. Berikan ciuman, pelukan hangat, candaan, belai rambutnya. Rasul kita Shallallahualaihi Wasallam adalah orang yang akhlaqnya paling baik terhadap anak-anak. Anas bin Malik menuturkan:


Aku tidak pernah melihat orang yang lebih sayang kepada anak-anak selain Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam (HR. Muslim 2316)

Semoga dengan senantiasa memperbaiki akhlak, keluarga pun menjadi tempat yang nyaman bagi anggotanya, sehingga anak tidak mencari kenyamanan lain di luar rumah yang berpengaruh negatif.

4. Tanamkan kebiasaan untuk memanfaatkan waktu Buatlah anak kita memahami benar betapa pentingnya waktu. Pahamkanlah bahwa di dunia ini kita bersaing ketat. Sampaikan kepadanya bahwa di detik kita merasa nyaman membuang waktu kita, ada orang lain seperti kita yang sedang menambah value dirinya dan membuat kita beberapa langkah di belakangnya. Jika banyak waktu yang kita sia-siakan, kita pun akan jauh tertinggal. Baik dalam perkara akhirat, maupun perkara dunia. Jangan sampai kita jadi orang yang kalah dunia-akhirat. Rasullullah Shallallahualaihi Wasallam pun senantiasa menyemangati umatnya untuk memanfaatkan waktu dengan baik:


19

Bersemangatlah pada apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah (untuk melakukannya), dan janganlah malas (HR. Muslim 2664)

Aturlah anak kita agar ia selalu memiliki kesibukan yang bermanfaat. Jangan biarkan ia terlena dengan kekosongan dan kesia-siaan. Ibnu Qayyim Al Jauziyyah menukilkan 2 perkataan hikmah mengenai waktu:


Waktu itu pedang, kalau bukan engkau yang memotongnya, ia yang akan memotongmu


Jiwamu, jika tidak engkau sibukkan dalam kebenaran, pasti ia akan menyibukanmu dalam kebatilan (Ad Dau Wad Dawau, 1/156)

5. Bimbing anak dalam memilih teman Poin ini sejatinya paling penting dalam bahasan narkoba. Karena faktor-faktor pemicu ketertarikan terhadap narkoba sebagian besar berasal dari lingkaran pertemanan. Ingin diperhatikan teman, ingin dianggap keren oleh teman, ingin mencoba yang dicoba oleh teman, ingin menunjukkan jati diri dihadapan teman, ingin dianggap sahabat terbaik oleh teman, rasa senang, rileks dan hangat bersama teman, semua ini perasaan-perasaan yang seringkali muncul dari lingkaran pertemanan. Maka akan bahaya sekali jika teman-teman dari anak kita adalah orang-orang yang bobrok, rusak dan jauh dari agama. Rasullullah Shallallahualaihi Wasallam memberi permisalan mengenai hubungan pertemanan:


Permisalan teman bergaul yang baik dan teman bergaul yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau tertarik membeli minyak wangi darinya. Minimal, engkau akan tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi akan membuat bajumu
20

terbakar, atau minimal engkau akan mendapatkan bau yang tidak enak (HR. Bukhari 5534, Muslim 2628)

Aturlah sedemikian rupa agar anak-anak mendapatkan lingkungan pertemanan yang baik di tempat tinggalnya, sekolahnya, kegiatan ektra-kulikulernya, dan aktifitasnya yang lain. Perkenalkan dan dekatkan ia dengan anak-anak yang shalih yang bersemangat memanfaatkan waktunya dalam hal-hal yang positif. Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam bersabda :


Keadaan agama seseorang dilihat dari keadaan agama teman dekatnya. Maka hendaklah kalian lihat siapa teman dekatnya (HR. Tirmidzi, ia berkata: hasan gharib)

6. Luangkan waktu untuk keluarga dan hidupkan keceriaan Rutinitas kadang menimbulkan kebosanan. Maka usir kebosanan dalam keluarga. Aturlah waktu untuk bercengkrama dengan keluarga. Sisihkan waktu untuk bermesraan dengan istri atau suami dan bermain bersama anak-anak. Hadirkan kegembiraan dan keceriaan di tengah keluarga. Lihatlah Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam, seorang Rasul, kepala negara, birokrat, dai, beliau tetap menyempatkan diri bercengkrama dengan keluarganya. Aisyah Radhiallahuanha menuturkan:


Suatu ketika orang-orang Habasyah sedang bermain tombak. Rasulullah pun membentangkan sutrah untukku sehingga aku bisa melihatnya. Keadaannya terus demikian sampai aku memutuskan untuk berhenti melihatnya (HR. Bukhari 5190, Muslim 892)

Beliau Shallallahualaihi Wasallam juga sering bercengkrama dengan anak kecil:

:
21

Dari Mahmud bin Ar Rabi, aku ingat bahwa Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam pernah menyembur air ke wajahku, yang beliau ambil dari sebuah ember, ketika itu aku baru berumur lima tahun (HR. Bukhari 77)

Gambar.5 Menanamkan kesadaran kepada anak-anak dan keluarga untuk mengaji bersama (dakwatuna.com/)

7. Berdoa kepada allah Yang terakhir namun bukan yang paling remeh, adalah berdoa kepada Allah memohon petunjuk dan penjagaan-Nya terhadap diri kita dan terhadap keluarga terutama anak-anak. Mohonlah kepada Allah agar mengkaruniakan keshalihan kepada anak-anak kita. Sebagaimana Nabi Ibrahim alaihissalam yang berdoa:


Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku (QS. Ibrahim: 40)

Sebagaimana juga anak shalih yang dijadikan contoh oleh Allah dalam Al Quran, ketika dewasa ia berdoa:


22

Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (QS. Al Ahqaf: 15) (Purnama, Yulian. 2012)

Terdapat tiga hal yang menjadi masalah putra-putri generasi muda kita sekarang ini, anatar lain: 1. Ketidakpastian masa depan. Sebagian besar putra-putri kita tidak memiliki kejelasan masa depan. Akan menjadi apa besok tidak dapat mengetahuinya. Tidak ada sekolah yang menjamin kerja alumninya kecuali sejumlah lembaga pendidikan tertentu yang jumlahnya sangat sedikit 2. Persaingan hidup yang semakin ketat. Kita lihat fenomena ketika dibuka lowonga kerja. Satu peluang bisa diperebutkan oleh ratusan bahkan ribuan orang. 3. Beban seksual dan narkoba. Maksud hati ingin menikah tetapi belum bekerja, akibatnya tertunda. Padahal seiring dengan meningkatnya nilai gizi dan berbagai rangsangan seksual, putra-putri kita semakit cepat dewasa secara seksual, tetapi untuk melampiaskannya harus menanti punya pekerjaan lebih dulu.

Umur 9 tahun sudah mimpi basah/haid pertama, untuk melampiaskannya menanti sampai umur 30 tahun karena baru dapat pekerjaan. Bayangkan 21 tahun harus bersembunyi. Di tengahtengah kegalauan itu remaja kita ingin lari dari masalah dan hidup nikmat maka dengan cara yang instant, mereka terperangkap oleh narkoba. Persoalan narkoba adalah bagian dari persoalan abadi manusia. Sebab persoalan ini telah ada dari dulu dan akan selalu ada sampai kapanpun. Oleh karena itu hal ini juga manjadi bagian dari perjuangan abadi manusia. Kita tidak boleh putus asa untuk selalu mencegah, menanggulangi dan menyembuhkan para penerus bangsa dari bahaya narkoba. (Masrukhin, Sodikin. 2012)

Dalam kasus Joni, orangtua kandung Joni yang khawatir akan masa depan anaknya melepas Joni kepada orangutan angkatnya, hal ini dimaksudkan demi pendidikan dan masa
23

depan Joni. Orangtua kandung Joni sadar akan masa depan Joni yang tak akan terwujud jika terus bersama mereka, hal ini masih merupakan upaya tanggungjawab orangtua terhadap masa depan anak. Tapi alangkah baiknya bila mereka tetap mempertahankan Joni untuk dibesarkan bersama, perhatian lebih dan kasih sayang yang sebenarnyalah yang sesungguhnya setiap anak dambakan terhadap orangtua kandung. Masalah ekonomi dan finansial yang menjadi kendala dalam keluarga Joni sebenarnya bukanlah masalah utama mengapa Joni harus dilepas, justru hal ini malah menambah daftar panjang masalah keterbelakangan dan kesenjangan di negeri ini.

Kesimpulan Anak - anak usia remaja sering mencoba Narkoba dikarenakan oleh keingintahuan dan penolakan. Tetapi dengan mengetahui bahaya dan akibat dari penyalahgunaan obat - obat terlarang, maka diharapkan mereka tidak akan pernah mencobanya. Dengan dibuatnya UU Psikotropika Nomor 5 Tahun 1997, di dalam Undang-Undang tersebut diatur pasal-pasal ketentuan pidana terhadap pelaku kejahatan narkotika, dengan pemberian sanksi terberat berupa hukuman mati, diharapkan dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan narkoba dan dapat memberantas peredaran gelap narkoba sehingga tidak akan menyesatkan para generasi muda. Pemerintah, orangtua maupun masyarakat harus menjadi pondasi yang kuat bagi anak agar tidak terjebak dari narkoba. Pemerintah, orangtua, dan masyarakat harus mampu menjadi media yang positif terhadap anak agar anak dapat terhindar dari jahatnya pengaruh narkoba ini. Tanamkan kecintaan terhadap ilmu agama pada keluarga, karena dengan ilmu seseorang tahu betapa rahmat Allah dan betapa keras Adzab-Nya. Dengan ilmu, seseorang tahu untuk apa ia hidup dan akan dibawa kemana hidupnya. Dengan ilmu, seseorang tahu bagaimana menjalani hidup dan jalan mana yang ditempuhnya. Saran Saran yang dapat diberikan sebelum terpengaruh akan penggunaan narkoba adalah dengan memberitahu anak - anak sejak dini tentang bahayanya penggunaan narkoba. Anak harus diberi fakta yang kongkret tentang bahaya narkoba yang terjadi dalam masyarakat. Ada baiknya diajari dalam memilih teman yang baik dimana jauh dari narkoba. Hal ini beranggapan karena anak sering terpengaruh karena buruknya pertemanan mereka. Setiap anak harus perlu diawasi agar tidak terjebak dalam sikap hedonisme yang salah. Anak harus diajarkan bersikap irit dan menabung agar anak tidak membeli hal yang tidak perlu seperti narkoba. Pemerintah, orangtua dan masyarakat harus saling bekerja sama dalam mengawasi perkembangan generasi muda agar anak tidak terpengaruh terhadap hal hal yang tidak baik seperti narkoba. Ajarkan aqidah yang benar, karena perkara aqidah adalah pondasi dalam pendidikan Islam. Aqidah adalah pondasi dalam perbaikan moral. Aqidah yang benar akan memberikan alasan yang tepat bagi seseorang untuk melakukan sesuatu atau untuk meninggalkan sesuatu.
24

Aknowledgement Terima kasih kepada semua pihak dari Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Cibubur, Jakarta Timur yang telah membantu mengarahkan mengenai kasus-kasus DRUG ABUSE. Terima kasih kepada dr.Rita Murnikusumawatie, Sp.M selaku tutor kelompok DRUG ABUSE 1 yang telah memberikan bimbingan dan waktunya untuk menyelesaikan laporan kasus ini. Terima kasih kepada dr. Hj. RW. Susilowati, Mkes sebagai koordinator pelaksana blok elektif dan DR. Drh. Hj. Titiek Djannatun sebagai koordinator penyusun blok elektif, serta kepada dr.Nasruddin Noor, Sp.KJ sebagai dosen pengampu dan koordinator tutor. Kepada semua anggota kelompok DRUG ABUSE 1 dan DRUG ABUSE 2, terima kasih atas dukungan dan kerja samanya, insyAllah semua mahasiswa yang terkait blok elektif 2012 dapat lulus semua dengan nilai yang memuaskan. Amin Ya Rabbal Alamin

Daftar Pustaka

Alifia, U, 2008. Apa Itu Narkotika dan Napza. PT Bengawan Ilmu: Semarang. Hawari, D, 2009. Penyalahgunaan dan Ketergantungan Napza. Balai Penerbitan FKUI: Jakarta. Kartono, K, 2006. Kenakalan Remaja. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta. Martono, Lydia Harlina, dkk. 2000. Penanggulangan Terpadu Penyalahgunaan Narkoba Berbasis Remaja. Balai Pustaka: Jakarta. Martono, dkk, 2006. Pencegahan dan Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba Berbasis Sekolah. Balai Pustaka: Jakarta. Partodiharjo, S, 2008. Kenali Narkoba dan Musuhi Penyalahgunaannya. Erlangga: Jakarta

25

Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia. Undang-Undang No. 5/1997 tentang Psikotropika Undang-Undang No. 22/1997 tentang Narkotika http:// www.bnn.go.id/

Abdallah, R, 2008. Bahaya Narkoba Dikalangan Remaja. http://www.wikimu.com/news/displaynewremaja.aspx?id=5691.

Hidayatulah,S Narkoba Perusak Moral Bangsa. http://forumgeo.blog.com/2008/09/23/narkoba-perusak-moral-mangsa.

Kurniawan, J, 2008. Arti Definisi & Pengertian Narkoba Dan Golongan/ Jenis Narkoba Sebagai Zat Terlarang. http://juliuskurnia.wordpress.com/2008/04/07/arti-definisi-pengertiannarkoba-dan-golonganjenis-narkoba-sebagaizat-terlarang.

Masrukhin, Sodikin. 2012. Islam dan Bahaya Narkoba. http://www.pak-sodikin.com/2012/02/islam-dan-bahaya-narkoba.html

Purnama, Yulian. 2012. Membentengi Keluarga dari Narkoba. http://muslim.or.id/keluarga/membentengi-keluarga-dari-narkoba.html

Rais, Moch Lukman Fatullah, SH, 1997. Undang-Undang Narkotika dan Psikotropika. http://www.scare666.com/?p=23

26

27

Anda mungkin juga menyukai