Anda di halaman 1dari 7

Pulpotomi merupakan teknik yang meliputi pembuangan pulpa vital dari kamar pulpa, kemudian diikuti dengan penempatan

medikamen di atas orifise (Kennedy, 1992). Terdapat berbagai macam bahan pengisi yang digunakan untuk perawatan pulpotomi. Bahan tersebut merupakan medikamen yang diletakkan di atas orifise yang akan menstimulasi perbaikan atau memumifikasi sisa jaringan pulpa vital pada akar gigi (Welbury, 2001). Berdasarkan beberapa penelitian, bahan-bahan tersebut memiliki keunggulan dan pengaruh yang berbeda-beda terhadap keberhasilan perawatan. Indikator keberhasilannya didasarkan atas pengalaman keberhasilan, penelitian klinis, radiografis, dan mikroskopis pada manusia. Terdapat beberapa obat alternatif yang dapat digunakan sebagai bahan medikamen perawatan pulpa pulpotomi pada gigi sulung. Bahan medikamen tersebut antara lain oksida seng-eugenol, kalsium hidroksida, formokresol, glutaraldehid, feri sulfat (Budiyanti, 2006). Sekarang ini, bahan medikamen mineral trioxide aggregate menjadi pilihan alternatif dan hasil perawatannya menunjukkan hasil sama bahkan lebih baik dari bahan medikamen lainnya. Hal ini tidak terlepas dari keunggulan dari bahan ini dalam meregenerasi jaringan keras, biokompatibitas yang baik, daya tahan terhadap pembentukan celah mikro dan sifat antibakterinya. 1. Zinc Oxide Eugenol vs MTA

Oksida seng-eugenol pada awalnya dinyatakan sebagai bahan pilihan terbaik dari bahan pengisi. Nichols telah melaporkan penggunaan oksida seng-eugenol sebagai retrofill dan beberapa telah sukses digunakan, tetapi bahan ini dapat larut dan terdapat bukti dari kondisi ini terhadap sejumlah kasus. Oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian untuk penambahan pada oksida sengeugenol agar bahan ini tidak larut. Keunggulan mineral trioxide aggregate bersifat hidrofilik alamiah sehingga kebocorannya lebih rendah, meskipun di bawah kontaminasi dalam kelembaban. Mineral trioxide aggregate tidak larut dalam air dan lebih radiopak dari dentin sehingga akan mempermudah kemampuan untuk membedakan dalam radiografi saat digunakan sebagai bahan pengisi pucuk akar. 2. Kalsium Hidroksida vs MTA Bahan kalsium hidroksida dapat digunakan untuk jangka waktu panjang dalam penyembuhan lesi periapikal dengan membentuk barier kalsifik pada apeks. Sebagai obat antar kunjungan

kalsium hidroksida memberikan efek penyembuhan kelainan periapeks pada gigi non-vital. Kemampuan bahan ini sebagai antibakteri dan penginduksi pembentukan jaringan keras gigi menjadi dasar bagi perawatan endodontik konvensional pada gigi dengan lesi periapeks yang luas. Beberapa penelitian mengemukakan terjadinya aposisi sementum pada lesi periapeks setelah penggunaan kalsium hidroksida. Sedangkan penelitian lain mengemukakan kemampuan kalsium hidroksida untuk menginduksi pembentukan jaringan keras pada apeks yang terbuka setelah penggunaan kalsium hidroksida jangka panjang. Pernyataan ini diperkuat oleh temuan yang melaporkan kemampuan kalsium hidroksida dalam mengeliminasi infeksi pada gigi tanpa pulpa. Namun, kalsium hidroksida telah dilaporkan menyebabkan nekrosis penggumpalan superfisial, memungkinkan penghambatan perdarahan dan kehilangan cairan. Perbandingan bahan kalsium hidroksida dan mineral trioxide aggregate dapat ditelaah pada sebuah penelitian respon pulpa gigi monyet yang membandingkan mineral trioxide aggregate dengan kalsium hidroksida ketika digunakan sebagi bahan perawatan pulpa dengan standart pembukaan pulpa 1 milimeter. Hasilnya menunjukkan bahwa semua sampel mineral trioxide aggregate menstimulasi pembentukan jembatan dentin. Jembatan dentin yang dibentuk berdekatan dengan mineral trioxide aggregate tebal dan bersambungan dengan dentin dan 1 sampai 6 sampel terdapat inflamasi. Pembentukan dentin ini disebabkan oleh kemampuan menutup bahan yang baik sehingga mencegah kebocoran mikro yang dapat menyebabkan kontaminasi kembali pulpa gigi setelah perawatan. Selain itu, mineral trioxide

aggregate memiliki kemampuan lebih baik dalam merangsang regenerasi dan pembentukan jaringan keras. Kemampuan tersebut kemungkinan disebabkan oleh pH yang tinggi yaitu 10,212,5 dan adanya pelepasan substansi yang dapat mengaktifkan sementoblas memproduksi matriks dalam pembentukan sementum. 3. Formokresol vs MTA Penggunaan formokresol sebagai pengganti kalsium hidroksida untuk perawatan pulpotomi pada gigi sulung beberapa tahun ini semakin meningkat. Formokresol tidak membentuk jembatan dentin tetapi akan membentuk suatu zona fiksasi dengan kedalaman yang bervariasi yang berkontak dengan jaringan vital. Zona ini bebas dari bakteri dan dapat berfungsi sebagai pencegah terhadap infiltrasi mikroba (Finn, 2003). Keuntungan formokresol pada perawatan pulpa gigi sulung yang terkena karies yaitu formokresol akan merembes melalui pulpa dan

bergabung dengan protein seluler untuk menguatkan jaringan. Formokresol sangat kaustik yang dapat menyebabkan fiksasi bakteri dan jaringan pada sepertiga bagian atas pulpa yang terlibat (Budiyanti, 2006).

Mineral trioxide aggregate lebih efektif penggunannya pada perawatan pulpotomi gigi sulung. Dalam penelitiannya menyebutkan bahwa perawatan jangka panjang (2 tahun), kegagalan formokresol lebih tinggi dibandingkanmineral trioxide aggregate. Mineral trioxide

aggregate lebih biokompatibel dibandingkan dengan formokresol. Hal ini terlihat pada potensi bahan ini dalam mengeleminasi efek samping yang dihasilkan pada penggunaan formokresol pada perawatan pulpotomi gigi sulung. Pada penggunaan formokresol terjadi adanya resorpsi internal, sedangkan padamineral trioxide aggregate tidak terjadi resorpsi internal (Gambar 1). Mineral trioxide aggregate juga dilaporkan bahwa tidak memiliki efek buruk terhadap perkembangan gigi geligi pada saat perawatan pulpotomi gigi sulung.

Gambar 1. (A). Gambaran radiografi dua gigi molar sulung yang memerlukan perawatan pulpa. (B1). Perawatan menggunakan formokresol setelah 1 tahun, dan (B2) setelah 2 tahun perawatan, terjadi resorpsi internal pada akar. (C1). Perawatan menggunakan mineral trioxide aggregate setelah 1 tahun, dan (C2) setelah 2 tahun perawatan, tidak terjadi resorpsi internal dan menutup dengan baik. 4. Feri Sulfat vs MTA Penggunaan feri sulfat pada teknik pulpotomi menunjukkan kesuksesan yang hampir sama dibandingkan formokresol. Penggunaan feri sulfat dapat mengurangi perubahan inflamasi dan resorpsi internal yang merupakan faktor penting dalam kegagalan pulpotomi menggunakan kalsium hidroksida. Penggunaan feri sulfat dianjurkan pada bagian dasar pulpa kemungkinan dapat mencegah masalah pembentukan blod clot setelah penghilangan mahkota pulpa. Pengunaan mineral trioxide aggregate juga dapat bersaing dengan feri sulfat, adanya kontaminasi darah yang menyebabkan adanyan kelembaban ruang pulpa dapat

memperlambat setting time yang mungkin dapat menjadi masalah karena bahan tidak dapat beradaptasi dengan baik pada dentin. Mineral trioxide aggregate memiliki kemampuan penutupan dengan baik karena bahan ini bersifat hidrofilik alamiah dan mengalami sedikit ekspansi pada lingkungan lembab, sehingga adaptasinya baik atau berkontak rapat dengan dinding dentin sehingga kebocorannya lebih rendah, meskipun di bawah kontaminasi kelembaban.

DAFTAR PUSTAKA 1. Welbury, R. R. 2001. Paediatric Dentistry. 2nd edition. New York : Oxford UniversityPress. 2. Kennedy, D. B. 1992. Konservasi Gigi Anak. Diterjemahkan dari Paediatric Operative Dentistry oleh N. Sumawinata dan S. H. Sumartono. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. 3. Curzon, M. E. J., J. F. Roberts., dan D. B. Kennedy. 1996. Kennedys Paediatric Operative Dentistry. 4th edition. London : Wright. 4. Finn, S. B. 2003. Clinical Pedodontics. 4th edition. Philadelphia : W. B. Saunders. 5. Budiyanti EA, Heriandi YY. 2006. Pengelolaan Anak Nonkooperatif pada Perawatan Gigi. Dentika dental journal (1):12-17.

Obat-obatan Untuk Mumifikasi (pulpotomi) Obat-obatan yang dapat digunakan dalam fiksasi jaringan (mumifikasi) pada teknik 2 tahap yaitu formocresol dan pasta devitalisasi (paraformaldehid). Formocresol mengandung 1% formaldehid, 35% kresol dalam larutan gliserin/air, yang nantinya akan digunakan sebagai obat untuk perawatan gigi-gigi molar susu dengan perforasi pulpa. Formocresol memiliki efek toksik baik lokal maupun sistemik, oleh karena itu penggunaannya saat ini sudah mulai dikurangi. Formocresol dapat dilakukan baik dalam teknik pulpotomi satu tahap maupun pada teknik dua tahap. Pada teknik satu tahap dilakukan dengan menempatkan gulungan kapas kecil yang dibasahi dengan obat ke potongan pulpa setelah pulpa di koronal dibersihkan dan perdarahan dihentikan. Gulungan kapas dibiarkan selama 5 menit, sehingga potongan jaringan pulpa akan berwarna hitam. Dressing kemudian dibuat dengan mencampur satu tetes formocresol yang sudah diencerkan dengan satu tetes eugenol dan preparat zinc oxide eugenol. Campuran dapat diulaskan ke orifice saluran akar sebelum bahan pelapis zinc oxide mengeras dan sebelum dilakukan restorasi koronal akhir. Pada teknik dua tahap, formocresol dimasukkan ke kamar pulpa dan dibiarkan selama 1 minggu dan pada kunjungan yang kedua baru perawatan diselesaikan seperti pada prosedur satu tahap. Bahan lain yang dapat digunakan adalah pasta devitalisasi (paraformaldehid). Pasta ini memiliki komposisi paraformaldehid 1.0g, Lignokain 0.06g, carmine 0.01g, Carbowax 1.3g, dan

Propylene Glycol 0.5ml. Pasta ditempatka di atas bagian yang terbuka dan ditutup rapat pada gig selama 1 atau 2 minggu. Gas paraformaldehid merembes melalui pulpa bagian mahkota dan akar sehingga jaringan terfiksasi. Pada kunjungan pertama, bahan diletakkan pada gulungan kapas, diletakkan diatas daerah perforasi dan kemudian di dalam kamar pulpa selama 10-14 hari. Bila bahan langsung diletakkan diatas daerah perforasi, tindakan ini perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak menekan pulpa. Namun, pasien tetap saja akan mengalami rasa tidak enak sehingga perlu diberikan anagesik yang sesuai, Kemudian kavitas ditutup dengan bahan dressing ZOE. Pada kunjungan keduam dresing dilepas dan pasta formokresol-ZOE atau pasta Kri II dapat dimasukkan ke orifice saluran akar setelah sisa pulpa yang nekrotik dibersihkan dan diirigasi serta dikeringkan kavitasnya.