Anda di halaman 1dari 4

ASKEP INKONTINENSIA URINE

PENGKAJIAN a. Identitas klien inkontinensia pada umumnya biasanya sering atau cenderung terjadi pada lansia (usia ke atas 65 tahun), dengan jenis kelamin perempuan, tetapi tidak menutup kemungkinan lansia laki-laki juga beresiko mengalaminya. b. Riwayat kesehatan Riwayat kesehatan sekarang Meliputi gangguan yang berhubungan dengan gangguan yang dirasakan saat ini. Berapakah frekuensi inkonteninsianya, apakah ada sesuatu yang mendahului inkonteninsia (stres, ketakutan, tertawa, gerakan), masukan cairan, usia/kondisi fisik,kekuatan dorongan/aliran jumlah cairan berkenaan dengan waktu miksi. Apakah ada penggunaan diuretik, terasa ingin berkemih sebelum terjadi inkontenin, apakah terjadi ketidakmampuan. Riwayat kesehatan klien Tanyakan pada klien apakah klien pernah mengalami penyakit serupa sebelumnya, riwayat urinasi dan catatan eliminasi klien, apakah pernah terjadi trauma/cedera genitourinarius, pembedahan ginjal, infeksi saluran kemih dan apakah dirawat dirumah sakit. Riwayat kesehatan keluarga Tanyakan apakah ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit serupa dengan klien dan apakah ada riwayat penyakit bawaan atau keturunan, penyakit ginjal bawaan/bukan bawaan. c. Pemeriksaan fisik Keadaan umum Klien tampak lemas dan tanda tanda vital terjadi peningkatan karena respon dari terjadinya inkontinensia. Pemeriksaan Sistem : a. B1 (breathing) Kaji pernapasan adanya gangguan pada pola nafas, sianosis karena suplai oksigen menurun. kaji ekspansi dada, adakah kelainan pada perkusi.

b. B2 (blood) Peningkatan tekanan darah, biasanya pasien bingung dan gelisah c. B3 (brain) Kesadaran biasanya sadar penuh d. B4 (bladder) Inspeksi :periksa warna, bau, banyaknya urine biasanya bau menyengat karena adanya aktivitas mikroorganisme (bakteri) dalam kandung kemih serta disertai keluarnya darah apabila ada lesi pada bladder, pembesaran daerah supra pubik lesi pada meatus uretra,banyak kencing dan nyeri saat berkemih menandakan disuria akibat dari infeksi, apakah klien terpasang kateter sebelumnya. Palpasi : Rasa nyeri di dapat pada daerah supra pubik / pelvis, seperti rasa terbakar di urera luar sewaktu kencing / dapat juga di luar waktu kencing. e. B5 (bowel) Bising usus adakah peningkatan atau penurunan, Adanya nyeri tekan abdomen, adanya ketidaknormalan perkusi, adanya ketidaknormalan palpasi pada ginjal. f. B6 (bone) Pemeriksaan kekuatan otot dan membandingkannya dengan ekstremitas yang lain, adakah nyeri pada persendian.

D. Data penunjang a. Urinalisis o Hematuria. o Poliuria o Bakteriuria. b. Pemeriksaan Radiografi o IVP (intravenous pyelographi), memprediksi lokasi ginjal dan ureter. o VCUG (Voiding Cystoufetherogram), mengkaji ukuran, bentuk, dan fungsi VU, melihat adanya obstruksi (terutama obstruksi prostat), mengkaji PVR (Post Voiding Residual). c. Kultur Urine o Steril.

o Pertumbuhan tak bermakna ( 100.000 koloni / ml). o Organisme.

ANALISA DATA Symptoms Ds: Ny. Sopia (34 th) datang ke Etiology Problems

Usia 34th, pasca Inkontinensia urinari melahirkan, tertawa, klinik dengan keluhan sudah stress menggendong anak terlalu satu bulan tidak bisa menahan lama kencingnya, keluhan dirasakan
setiap kali habis menggendong peningkatan lama anaknya, saat tertawa, intraabdomen dan sering kencing mengalami tekanan

kebocoran

mencapai toilet Do: perawat

urethra tidak dpt sebelum menahan tekanan intraabdomen yg tinggi

kebocoran urin yang tidak konsultasi dan merencanakan dpt dikontrol intervensi untuk masalah inkontinensia urin stress kesehatan Ny. sopia

memberikan

1. Diagnosa : Inkontinensia stress b/d peningkatan tekanan intraabdomen yang ditandai dengan Ny. Sopia (34 th) datang ke klinik dengan keluhan sudah satu
bulan tidak bisa menahan kencingnya, keluhan dirasakan setiap kali habis menggendong lama anaknya, saat tertawa, dan sering mengalami kebocoran kencing sebelum mencapai toilet, perawat memberikan konsultasi dan

merencanakan intervensi untuk masalah kesehatan Ny. sopia

Tujuan:

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan

terdapat perbaikan pada inkontinensia urin stress klien.

Kriteria Hasil: Urinary Continence Maintaine predictable pattern of voiding Identifies medication that interferes with urinary control Urine leakage with increased abdominal pressure (ex. Sneezing, laughing, lifting, cough) Urinary elimination Stress incontinence v v V 1 2 3 4 v 5

Intervensi: Urinari elimination management 1. Identifies factor that contribut to incontinence episode 2. Assist patient with development of toileting routine as apppropriate Urinary Incontinence Care 1. Identify multifactor causes of incontinence (e.g. urinary output, voiding pattern, cognitive function, pre-existent urinary problems, post void residual, and medication) 2. Explain etiology of problem and rationale for action. 3. Monitor effectivenes of surgical, medical, pharmacological and self presscribed treatment 4. Refer to urinary continence specialist, as appropriate.