Anda di halaman 1dari 7

Rickettsia Rickettsia merupakan bakteri yang patogen kepada manusia.

Bakteri yang sangat kecil selalu terdapat dalam sel endotel pembuluh darah kecil. Rickettsia merupakan parsit obligat intra celuler. Mengandung asam-nukleat (RNA,DNA). Berkembang biak dengan membelah biner. Penyakit rickettsia atau tifus adalah berbagai penyakit yang disebabkan oleh bakteri familia Rickettsiae. Penyakit ini disebarkan oleh arthropoda, khususnya kutu, tungau, dan caplak. Tiga jenis tifus utama adalah tifus epidemik, tifus endemik, dan tifus belukar. Jenis lain tifus yang juga sering ditemukan adalah penyakit Brill-Zinsser, yang merupakan tifus epidemik dan penyakit Brill-Zinsser disebabkan oleh Bakteri Rickettsia prowazekii. Tifus epidemik disebarkan oleh kutu badan. Tifus endemik disebabkan oleh bakteri Rickettsia typhi, yang disebarkan oleh kutu. Tifus belukar disebabkan oleh bakteri Rickettsia tsutsugamushi, dan disebarkan oleh tungau dan caplak. Jenis tifus lainnya antara lain demam berbintik gunung Rocky, Rickettsialpox, demam Boutonneuse, tifus caplak siberia, tifus caplak Australia, dan demam berbintik Oriental.

faktor pembatas penyakit rickettsia adalah Lingkungan Faktor-faktor lingkungan sebagai faktor pembatas ternyata tidak saja berperan sebagai faktor pembatas minimum, tetapi terdapat pula faktor pembatas maksimum. Bagi vektor misalnya faktor lingkungan seperti suhu udara atau kadar garam (salinitas) yang terlalu rendah/sedikit atau terlalu tinggi/banyak dapat mempengaruhi berbagai proses fisiologinya. Upaya pengendalian populasi vektor, merupakan kunci keberhasilan program pemberantasan penyakit rickettsia di masyarakat. Vektor mempunyai kebiasaan menghuni berbagai bagian di sekitar penghunian manusia. setiap kawasan memiliki kemampuan tertentu dalam kehidupan vektor. kemampuan ini berhubungan dengan kemudahan untuk memperoleh makanan, tempat persembunyian, ruang kehidupan dan berbagai kebutuhan pokok vektor. Yang harus di lakukan untuk memerangi penyakit rickettsia adalah memberantas vektor dari penyakit tersebut dengan cara, yaitu :

1) Perbaikan sanitasi lingkungan a. penyimpanan sampah b. penyimpanan barang yang tidak berguna c. pengumpulan sampah

d. pembuangan sampah 2) pemberantasan vektor a. pengendalian vektor b. pengendalian pinjal Kontruksi bangunan Kontruksi bangunan atau gedung sangat penting peranannya dalam perkembang biakan vektor penyakit. Bangunan yang tidak memiliki syarat, akan mempermudah masuknya vektor untuk berkembang biak dan menyebarkan penyakitnya. Suhu dan kelembaban Vektor sangat menyenangi tempat yag gelap dan lembab karena vektor mempunyai sifat menghindari cahaya, suhu dan kelembaban yang disenangi vektor berkidar antara 20-30 derajat celcius dan untuk kelembaban 80-90%

Ita, ini aku kaya gini masih salah apa kurang apa piye kabarin yaaa :-*
1. Rickettsia Prowazekii Pencegahan Pencegahan dapat dilakukan dengan memutuskan rantai infeksi, menjaga kebersihan lingkungan dan diri sendiri, dan imunisasi atau pemberian antibiotik. 1. Pemutusan rantai infeksi Rantai infeksi dapat diputus dengan membasmi tuma dengan insektisida. 2. Menjaga kebersihan Menjaga kebersihan baik dari lingkungan maupun diri sendiri, misalnya jangan membiarkan banyak pakaian kotor yang tergantung di kamar karena dapat dijadikan sarang tuma, lalu menggunakan obat gosok untuk mencegah gigitan arthopoda. 3. Imunisasi Imunisasi aktif dilakukan dengan menyuntikkan antigen yang dibuat dari kantong kuning telur embrio ayam yang terinfeksi/ dari biakan sel yang diolah dengan formalin. Pada umumnya rickettsia dapat dimatikan dengan cepat pada pemanasan dan pengeringan atau oleh bahan-bahan bakterisid. Pengendalian

Penghancuran segera setelah vektor dengan insektisida penting dalam pengendalian epidemi. Debu yang mengandung ekskreta kutu yang terinfeksi mampu menularkan tifus, dan harus ditangani dengan cermat untuk mencegah inhalasinya. (Behrman Klirgman Arvin, hal : 1180)

2. Rickettsia Typhi Pencegahan 1. Mengindarkan diri dari hal-hal kotor seperti pencemaran air dan makanan oleh kotoran manusia. Pastikan jamban keluarga terletak jauh dari tempat penduduk mengambil air minum. 2. Memberi perhatian khusus pada kebersihan air minum, terutama saat banjir. 3. Penderita harus tinggal di kamar terpisah untuk mencegah penyebaran tifus perut. Kotorannya harus dibakar atau dikubur di dalam lubang yang dalam. Orang yang merawatnya harus membasuh tangan segera sesudahnya. 4. Setiap orang yang pernah menderita tifus harus memberikan perhatian tambahan terhadap kebersihan perorangan dan tidak boleh bekerja di rumah makan atau di tempat-tempat pengolahan makanan. Pengendalian Mengontrol reservoir binatang pengerat berguna dalam mencegah infeksi. Vaksin tidak tersedia.

3. Rickettsia Tsutsugamushi Pencegahan: 1) Hindari kontak dengan ngengat yang terinfeksi dengan upaya profilaktis yaitu dengan mengenakan pakaian dan selimut yang telah diberi mitisida (permethrin dan benzyl benzoate), memakai repelan (diethyltoluamide, Deet) pada kulit yang tidak tertutup pakaian. 2) Basmilah ngengat dari tempat-tempat tertentu dengan cara menaburkan bahan kimia dengan komposisi hidrokarbon klorida seperti lindane, dieldrin atau chlordane ditanah serta vegetasi disekitar tenda perkemahan, bangunan dipertambangan dan disekitar dearah yang dihuni banyak orang didaerah endemis. 3) Pemberian doxycycline selama 7 minggu dengan dosis tunggal sebanyak 200 mg/minggu yang diberikan kepada sekelompok sukarelawan di Malaysia terbukti cukup efektif untuk mencegah terjadinya infeksi tifus scrub.

Pengendalian: Dalam upaya mengatasi wabah, terapkan secara ketat apa yang diuraikan pada pencegahan pada point 1 dan 2 diatas di daerah terjangkit. Lakukan pengamatan yang ketat terhadap setiap penduduk dengan risiko tinggi, cari mereka yang demam dan yang dengan lesi primer; lakukan pengobatan segera begitu ditemukan ada yang sakit.

4. Rickettsia Akari Pencegahan dan Pengendalian Tentraskilin dan loramfenikol dapat mempercepat pemulihan. Tindakan ditujukan untuk mengontrol populasi tikus membantu mencegah penyakit. PENGENDALIAN VEKTOR PENYAKIT Peraturan Mentri No.374 tahun 2010 mendefinisikan bahwa pengendalian vektor merupakan kegiatan atau tindakan yang ditujukan untuk menurunkan populasi vektor serendah mungkin sehingga keberadaannya tidak lagi beresiko untuk terjadinya penularan penyakit di suatu wilayah atau menghindari kontak masyarakat dengan vektor sehingga penularan penyakit yang dibawa oleh vektor dapat di cegah (MENKES,2010). Pengendalian vektor dapat dilakukan dengan pengelolaan lingkungan secara fisik atau mekanis, penggunaan agen biotik kimiawi, baik terhadap vektor maupun tempat perkembangbiakannya dan atau perubahan perilaku masyarakat serta dapat mempertahankan dan mengembangkan kearifan loKal sebagai alternative. Beberapa faktor yang menyebabkan tingginya angka kesakitan penyakit bersumber binatang antara lain adanya perubahan iklim, keadaan social-ekonomi dan perilaku masyarakat. Perubahan iklim dapat meningkatkan risiko kejadian penyakit tular vektor. Faktor risiko lainnya adalah keadaan rumah dan sanitasi yang buruk, pelayanan kesehatan yang belum memadai, perpindahan penduduk yang non imun ke daerah endemis. Masalah yang di hadapi dalam pengendalian vektor di Indonesia antara lain kondisi geografis dan demografi yang memungkinkan adanya keragaman vektor, belum teridentifikasinya spesies vektor ( pemetaan sebaran vektor) di semua wilayah endemis, belum lengkapnya peraturan penggunaan pestisida dalam pengendalian vektor, peningkatan populasi resisten beberapa vektor terhadap pestisida tertentu, keterbatasan sumberdaya baik tenaga, logistik maupun biaya operasional dan kurangnya keterpaduan dalam pengendalian vektor. Dalarn pengendalian vektor tidaklah mungkin dapat dilakukan pembasmian sampai tuntas, yang mungkin dan dapat dilakukan adalah usaha mengurangi dan menurunkan populasi kesatu tingkat yang tidak membahayakan kehidupan manusia. Namun hendaknya dapat diusahakan agar segala kegiatan dalam rangka menurunkan populasi vektor dapat mencapai hasil yang baik. Untuk itu perlu diterapkan teknologi yang sesuai, bahkan teknologi sederhana pun yang penting di dasarkan prinsip dan konsep yang benar. Ada beberapa cara pengendalian vector penyakit yaitu : 1. Pengendalian Vektor Terpadu (PVT) Mengingat keberadaan vektor dipengaruhi oleh lingkungan fisik, biologis dan social budaya, maka pengendaliannya tidak hanya menjadi tanggung jawab sector kesehatan saja tetapi memerlukan kerjasama lintas sector dan program. Pengendalian vektor dilakukan dengan memakai metode

pengendalian vektor terpadu yang merupakan suatu pendekatan yang menggunakan kombinasi beberapa metoda pengendalian vektor yang dilakukan berdasarkan pertimbangan keamanan, rasionalitas, efektifitas pelaksanaannya serta dengan mempertimbangkan kesinambungannya. Keunggulan Pengendalian Vektor Terpadu (PVT) adalah : 1. Dapat meningkatkan keefektifan dan efisiensi sebagai metode atau cara pengendalian 2. Dapat meningkatkan program pengendalian terhadap lebih dari satu penyakit tular vektor 3. Melalui kerjasama lintas sector hasil yang dicapai lebih optimal dan saling menguntungkan. Pengendalian Vektor Terpadu merupakan pendekatan pengendalian vektor menggunakan prinsipprinsip dasar management dan pertimbangan terhadap penularan dan pengendalian peyakit. Pengendalian Vektor Terpadu dirumuskan melalui proses pengambilan keputusan yang rasional agar sumberdaya yang ada digunakan secara optimal dan kelestarian lingkungan terjaga. Prinsip-prinsip PVT meliputi: Pengendalian vektor harus berdasarkan data tentang bioekologi vektor setempat, dinamika penularan penyakit, ekosistem dan prilaku masyarakat yang bersifat spesifik local( evidence based) Pengendalian vektor dilakukan dengan partisipasi aktif berbagai sector dan program terkait, LSM, Organisasi profesi, dunia usaha /swasta serta masyarakat. Pengendalian vektor dilakukan dengan meningkatkan penggunaan metoda non kimia dan menggunakan pestisida secara rasional serta bijaksana Pertimbangan vektor harus mempertimbangkan kaidah ekologi dan prinsip ekonomi yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Beberapa metode pengendalian vektor sebagai berikut: Metode pengendalian fisik dan mekanik adalah upaya-upaya untuk mencegah, mengurangi, menghilangkan habitat perkembangbiakan dan populasi vektor secara fisik dan mekanik. Contohnya: o modifikasi dan manipulasi lingkungan tempat perindukan (3M, pembersihan lumut, penenman bakau, pengeringan, pengalihan/ drainase, dll) o Pemasangan kelambu o Memakai baju lengan panjang o Penggunaan hewan sebagai umpan nyamuk (cattle barrier) o Pemasangan kawat Metode pengendalian dengan menggunakan agen biotic - predator pemakan jentik (ikan, mina padi,dll) - Bakteri, virus, fungi - Manipulasi gen ( penggunaan jantan mandul,dll) Metode pengendalian secara kimia - Surface spray (IRS) - Kelambu berinsektisida larvasida Adapun prinsip dasar dalam pengendalian vektor yang dapat dijadikan sebagai pegangan sebagai berikut : Pengendalian vektor harus menerapkan bermacam-macam cara pengendalian agar vektor tetap berada di bawah garis batas yang tidak merugikan/ membahayakan. Pengendalian vektor tidak menimbulkan kerusakan atau gangguan ekologi terhadap tata lingkungan hidup. (Nurmaini, 2001) 2. Pengendalian secara alamiah (naturalistic control)

yaitu dengan memanfaatkan kondisi alam yang dapat mempengaruhi kehidupan vector. Ini dapat dilakukan dalam jangka waktu yang lama 3. Pengendalian terapan (applied control) yaitu dengan memberikan perlindungan bagi kesehatan manusia dari gangguan vektor. Ini hanya dapat dilakukan sementara. Upaya peningkatan sanitasi lingkungan (environmental sanitation improvement) Pengendalian secara fisik-mekanik (physical-mechanical control) yaitu dengan modifikasi/manipulasi lingkungan Pengendalian secara biologis (biological control) yaitu dengan memanfaatkan musuh alamiah atau pemangsa/predator, fertilisasi Pengendalian dengan pendekatan per-UU (legal control) yaitu dengan karantina Pengendalian dengan menggunakan bahan kimia (chemical control) (Afrizal, 2010).

DAFTAR PUSTAKA Afrizal, D. 2010. http://fkmutu.blogspot.com/2010/12/makalah-pengendalian-vektor-penyakit.html Chandra,budi. 2003.Vektor Penyakit Menular Pada Manusia. kedokteran.webnode.com/200000024-3716638102/Vektor%20Penyakit.pdf http://files.buku-

Nurmaini, 2001. Identifikasi vektor dan binatang pengganggu serta pengendalian anopheles Aconitus secara sederhana.http://www.solex-un.net/repository/id/hlth/CR6-Res3-ind.pdf. diakses Peraturan Mentri Republik Indonesia nomor 374/Mekes/PER/III/2010 tenteng Pengendalian Vektor. http://www.depkes.go.id/downloads/Pengendalian Vektor%20.pdf. Rahayu, Subekti. 2004. Semut Sahabat Petani http://www.blueboard.com/kerengga/pdf/rahuya.pdf. http://kesmas-unsoed.blogspot.com/2011/03/makalah-vektor-penyakit.html http://juanna-kesling.blogspot.com/2011/05/vektor-binatang-pengganggu.html

http://microbewiki.kenyon.edu/index.php/Rickettsia_typhi http://en.wikipedia.org/wiki/Rickettsia_akari http://pathmicro.med.sc.edu/mayer/ricketsia.htm http://www.phac-aspc.gc.ca/lab-bio/res/psds-ftss/msds127e-eng.php http://www.rightdiagnosis.com/medical/rickettsia_akari.htm http://en.wikipedia.org/wiki/Rickettsialpox

Anda mungkin juga menyukai