Anda di halaman 1dari 28

NYERI DI PANGGUL KARENA JATUH Seorang perempuan berusia 65 tahun datang ke UGD Rumah Sakit dengan keluhan nyeri

di pinggul kanannya setelah terbentur lantai kamar mandi karena jatuh. Sejak terjatuh yang dirasakan tidak mampu berdiri karena rasa nyeri yang sangat pada pinggul kanannya. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum sakit berat, merintih kesakitan, compos mentis. Tekanan darah 140/90 mmHg, denyut nadi 104x/menit, frekuensi napas 24x/menit. Terdapat hematom pada sendi koksae kanan, posisi tungkai atas kanan sedikit fleksi, abduksi, dan eksorotasi. Krepitasi tulang dan nyeri tekan di temukan, begitu juga pemendekan ekstremitas. Gerakan terbatas karena nyeri. Neurovascular distal baik. Pada pemeriksaan radiologis didapatkan fraktur kolum femur tertutup. Dokter menyarankan untuk dilakukan operasi.

SASARAN BELAJAR LI.1. Mampu Memahami dan Menjelaskan Anatomi Articulatio Coxae LO.1.1 Memahami dan Menjelaskan Makroskopis Anatomi Articulatio Coxae LO.1.2 Memahami dan Menjelaskan Mikroskopis Anatomi Articulatio Coxae LO.1.3 Memahami dan Menjelaskan Kinesiologi Articulatio Coxae LI.2. Mampu Memahami dan Menjelaskan Anatomi Femur LO.2.1 Memahami dan Menjelaskan Makroskopis Anatomi Femur LO.2.2 Memahami dan Menjelaskan Mikroskopis Anatomi Femur LI.3. Mampu Memahami dan Menjelaskan Fraktur Colum Femur LO.3.1 LO.3.2 LO.3.3 LO.3.4 LO.3.5 LO.3.6 LO.3.7 LO.3.8 LO.3.9 Memahami dan Menjelaskan Definisi Fraktur Colum Femur Memahami dan Menjelaskan Etiologi Fraktur Colum Femur Memahami dan Menjelaskan klasifikasi Fraktur Colum Femur Memahami dan Menjelaskan Patofisiologi Fraktur Colum Femur Memahami dan Menjelaskan Manifestasi Fraktur Colum Femur Memahami dan Menjelaskan Pemeriksaan fisik dan penunjang Memahami dan Menjelaskan Diagnosis dan diagnosis banding Memahami dan Menjelaskan Penatalaksanaan Fraktur Colum Femur Memahami dan Menjelaskan Prognosis Fraktur Colum Femur

LO.3.10 Memahami dan Menjelaskan Komplikasi Fraktur Colum Femur

LI.1. Mampu Memahami dan Menjelaskan Anatomi Articulatio Coxae LO.1.1 Memahami dan Menjelaskan Makroskopis Anatomi Articulatio Coxae Articulatio coxae adalah persendian antara caput femoris yang berbentuk hemisphere dan acetabulum os coxae yang berbentuk mangkuk dengan tipe ball and socket. Permukaan sendi acetabulum berbentuk tapal kuda dan dibagian bawah membentuk takik disebut incisura acetabuli. Rongga acetabulum diperdalam dengan adanya fibrocartilago dibagian pinggrinya yang disebut sebagai labrum acetabuli. Labrum ini menghubungkan incisura acetabuli dan disini dikenal sebagai ligamentum transversum acetabuli. Persendian ini dibungkus oleh capsula dan melekat di medial pada labrum acetabuli.

Gambar 1.1 : Anatomi Articulatio Coxae

Ligamentum

Simpai sendi jaringan ikat di sebelah depan diperkuat oleh sebuah ligamentum yang kuat dan berbentuk Y, yakni ligamentum ileofemoral yang melekat pada SIAI dan pinggiran acetabulum serta pada linea intertrochanterica di sebelah distal. Ligamentum ini mencegah ekstensi yang berlebihan sewaktu berdiri . Di bawah simpai tadi diperkuat oleh ligamentum pubofemoral yang berbentuk segitiga. Dasar ligamentum melekat pada ramus superior ossis pubis dan apex melekat dibawah pada bagian bawah linea intertrochanterica. Ligamentum ini membatasi gerakan ekstensi dan abduksi.

Di belakang simpai ini diperkuat oleh ligamentum ischiofemorale yang berbentuk spiral dan melekat pada corpus ischium dekat margo acetabuli. Ligamentum ini mencegah terjadinya hieprekstensi dengan cara memutar caput femoris ke arah medial ke dalam acetabulum sewaktu diadakan ekstensi pada articulatio coxae. Ligamentum teres femoris berbentuk pipih dan segitiga. Ligamentum ini melekat melalui puncaknya pada lubang yang ada di caput femoris dan melalui dasarnya pada ligamentum transversum dan pinggir incisura acetabuli. Ligamentum ini terletak pada sendi dan dan dibungkus membrana synovial Batas batas articulatio coxae Anterior M. Iliopsoas, m.pectineus, m. rectus femoris. M. Iliopsoas dan m.pectineus memisahkan a.v. femoralis dari sendi. Posterior : m.obturatorius internus, mm.gemelli, dan m.quadratus femoris memisahkan sendi dari n.ischiadicus. Superior : musculus piriformis dan musculus gluteus minimus Inferior : tendo m.obturatorius externus Perdarahan Cabang cabang arteria circumflexa femoris lateralis dan arteria circumflexia femoris medialis dan arteri untuk caput femoris, cabang arteria obturatoria. Persyarafan Nervus femoralis (cabang ke m.rectus femoris, nervus obturatorius (bagian anterior) nervus ischiadicus (saraf ke musculus quadratus femoris), dan nervus gluteus superior. Pada orang tua terutama perempuan sering terjadi fraktur collum femoris 10 kali lebih bayak pada laki-laki. Selain daripada kondisi tulang itu sendiri( osteoporosis) juga ditentukan oleh sudut inklinasi ( antar aksis collum femoris dan aksis corpus femoris ) . sudut inklinasi yang normal kurang lebih 126 derajat. Bila sudut inklinasi lebih kecil ( coxa vare ) lebih sering terjadi fraktur collum femoris dibandingkan pada sudut yang lebih besar ( coxa valga )

LO.1.2 Memahami dan Menjelaskan Mikroskopis Anatomi Articulatio Coxae Articulatio coxae merupakan sendi diartrosis. Pada jenis sendi ini permukaan sendi dari tulang ditutupi tulang rawan hialin yang dibungkus dalam simpai sendi. Simpai sendi ini terdiri atas lapis fibrosa luar dari jaringan ikat padat yang menyatu dengan periosteum tulang. Lapis dalamnya adalah lapisan sinovial. Jaringan ikat pada sinovial langsung berhubungan dengan cairan sinovial dalam rongga sendi.

Pada permukaan atau di dekatnya ditemukan sel mirip fibroblas yang menghasilkan kolagen, proteoglikan, dan komponen lain dari interstitium; sel makrofag yang membersihkan debris akibat aus dari sendi. Bisa terdapat limfosit pada lapisan yang lebih dalam. Pendarahan sampai ujung os femur pada Art.Coxae dibentuk oleh tiga kelompok besar: Cincin arteri Ekstracapsuler yang berada pada dasar collum femoris. Terdiri dari arteri circumleksa femoral medialis dan arteri circumfleksa femoral lateralis yang menjalar secara anterio maupun posterior. Percabangan dari cincin arteri ascenden menjalar ke atas yang berada pada permukaan collum femoris sepanjang linea intertrochanterica. Arteri pada Ligamentum teres dan pembuluh darah metafisial inferior bergabung membentuk pembuluh darah epifisial. Sehingga terbentuknya pembuluh cincin kedua sebagai pemasok darah pada caput femori

Pada fraktur collum femoris sering terjadi terganggunya aliran darah ke caput femori. Pembuluh darah Retinacular superior dan pembuluh epifisial merupakan sumber terpenting untuk suplai darah. Pada fraktur terbuka dapat menyebabkan kerusakan jaringan sekitarnya termasuk pembuluh darah dan sinovial.

LO.1.3 Memahami dan Menjelaskan Kinesiologi Articulatio Coxae Articulatio membri inferior terdiri dari : 1. articulatio cinguli pelvici (gelang panggul) 1.1 Articulatio sacroiliaca a) Tulang antara fascies auricularis sacri dan fascies auricularis ilei. b) Jenis sendinya adalah amphiarthrosis.(sendi dapat bergerak sedikit) c) Penguat sendi terdiri dari ligamentum sacroiliaca anterior, interoaaea, sacroiliaca posterior, ligamentum sacrotubular, dan ligamentum sacrospinale. 1.2 Symphysis pubica a) Tulang antara tulang pubis kedua sisi. b) Jenis sendi adalah synchondrosis.(diantara tulang terdapa tulang rawan) c) Penguat sendi terdiri dari ligamentum pubicum superius, ligamentum arcuatum pubis dan discus interpubica 2. articulatio inferioris liberi 2.1 Articulatio coxae Antara caput femoris dan acetabulum.Jenis desendinya adalah spheroidea (ball and socket).Sendi di perkuat oleh tulang rawan yang terdapat pada fascies lunata.Articulatio ini di perkuat juga oleh tulang rawan. Ligamen yang memperkujatnya adalah ilio femorale yang berfungsi menghambat rotasi femur, mencegah badan berputar kebelakang pada saat berdiri, dan mempertahankan ekstensi, ischio femorale mencegah endorotasi/ eksorotasi interna, pubofemurale

mencegah abduksi, ekstensi dan rotasi eksterna, transersum acetabuloi dan capitis femoris. Tulang Jenis sendi Penguat sendi : Antara caput femoris dan acetabulum : Enarthrosis spheroidea : Terdapat tulang rawan pada facies lunata, kelenjar Havers terdapat pada acetabuli

Ligamentum iliofemorale yang berfungsi mempertahankan art. coxae tetap extensi, menghambat rotasi femur, mencegah batang badan berputar ke belakang pada waktu berdiri sehingga mengurangi kebutuhan kontraksi otot untuk mempertahankan posisi tegak. Ligamentum ischiofemorale yang berfungsi mencegah rotasi interna. Ligamentum pubofemorale berfungsi mencegah abduksi, ekstensi, dan rotasi externa. Selain itu diperkuat juga oleh Ligamentum transversum acetabuli dan Ligamentum capitisfemoris. Bagian bolong disebut zona orbicularis. Capsula articularis : membentang dari lingkaran acetabulum ke linea intertrochanterica dan crista intertrochanterica. Gerak sendi: a. Fleksi: m. iliopsoas, m. pectinus, m. rectus femoris, m. adductor longus, m. adductor brevis, m. adductor magnus pars anterior tensor fascia lata b. Ekstensi : m. gluteus maximus, m. semitendinosis, m. semimembranosus, m. biceps femoris caput longum, m. adductor magnus pars posterior c. Abduksi : m. gluteus medius, m. gluteus minimus, m. pirirformis, m. sartorius, m. tensor fasciae lata d. Adduksi : m. adductor magnus, m. adductor longus, m. adductor brevis, m. gracilis, m. pectineus, m. obturator externus, m. quadratus femoris e. Rotasi medialis : m. gluteus medius, m. gluteus minimus, m. tensor fasciae latae, m. adductor magnus (pars posterior) f. Rotasi lateralis: m. piriformis, m. obturator internus, mm. gameli, m. obturator externus, m. quadratus femoris, m. gluteus maximus dan mm. adductores. g. Circumduksi merupakan kombinasi dari gerakan gerakan diatas.
7

Articulatio ini dibungkus oleh capsula articularis yang terdiri dari jaringan ikat fibrosa. Capsula articularis berjalan dari pinggir acetabulum os. coxae menyebar ke latero-inferior mengelilingi colum femoris untuk melekat pada linea introchanterica bagian depan dan meliputi pertengahan bagian posterior colum femoris kira-kira sebesar jari di aytas crista introchanterica. Oleh karena itu, bagian lateral dan distal belakang colum femoris adalah di luar capsula articularis. Sehubungan dengan itu fraktur colum femoris dapat extracapsular dan dapat pula intracapsular. Dislokasi anterior dan posterior Dislokasi anterior : bila caput femoris terletak di depan ilium maka pada art. Coxae terjadi fleksi, eksorotasi, dan abduksi Dislokasi posterior : bila caput femoris terletak di belakang maka pada art. Coxae terjadi fleksi, endorotasi, adduksi.

LI.2. Mampu Memahami dan Menjelaskan Anatomi Femur LO.2.1 Memahami dan Menjelaskan Makroskopis Anatomi Femur

Femur pada ujung bagian atasnya memiliki caput, collum, trochanter major dan trochanter minor. Bagian caput merupakan lebih kurang dua pertiga bola dan berartikulasi dengan acetabulum dari os coxae membentuk articulatio coxae. Pada pusat caput terdapat lekukan kecil yang disebut fovea capitis, yaitu tempat perlekatan ligamentum dari caput. Sebagian suplai darah untuk caput femoris dihantarkan sepanjang ligamen ini dan memasuki tulang pada fovea. Bagian collum, yang menghubungkan kepala pada batang femur, berjalan ke bawah, belakang, lateral dan membentuk sudut lebih kurang 125 derajat (pada wanita sedikit lebih kecil) dengan sumbu panjang batang femur. Besarnya sudut ini perlu diingat karena dapat dirubah oleh penyakit. Trochanter major dan minor merupakan tonjolan besar pada batas leher dan batang. Yang menghubungkan dua trochanter ini adalah linea intertrochanterica di depan dan crista intertrochanterica yang mencolok di bagian belakang, dan padanya terdapat tuberculum quadratum. Bagian batang femur umumnya menampakkan kecembungan ke depan. Ia licin dan bulat pada permukaan anteriornya, namun pada bagian posteriornya terdapat rabung, linea aspera. Tepian linea aspera melebar ke atas dan ke bawah.Tepian medial berlanjut ke bawah sebagai crista supracondylaris medialis menuju tuberculum adductorum pada condylus medialis.Tepian lateral menyatu ke bawah dengan crista supracondylaris lateralis. Pada permukaan posterior batang femur, di bawah trochanter major terdapat tuberositas glutealis, yang ke bawah berhubungan dengan linea aspera. Bagian batang melebar ke arah ujung distal dan membentuk daerah segitiga datar pada permukaan posteriornya, disebut fascia poplitea. Ujung bawah femur memiliki condylus medialis dan lateralis, yang di bagian posterior dipisahkan oleh incisura intercondylaris. Permukaan anterior condylus dihubungkan oleh permukaan sendi untuk patella. Kedua condylus ikut membentuk articulatio genu. Di atas condylus terdapat epicondylus lateralis dan medialis. Tuberculum adductorium berhubungan langsung dengan epicondylus medialis.

OTOT-OTOT YANG BERPERAN DI REGIO FEMUR OTOT-OTOT PAHA ANTERIOR M.iliposoas M.Psoas Mayor - Perlekatan Proximal : sisi vertebra T12 15 dan discus intervertebralis, processus traverses dan semua lumbalis - Perlekatan distal : throcanter minor Fungsi utama : bersama mengflexikan paha pada Articulatio Coxae dan menstabilkannya.

M.iliacus - Perlekatan proximal : crista iliaca, fossa iliaca ala sacralis, dan ligamentum sacro iliaca arteriora. - Perlekatan distal : tendo m.psoas mayor,throcanter minor dan femur distal dari throchanter minor M.tensor fasciae latae - Perlekatan proximal : SIAS dan bagian anterior crista iliaca - Perlekatan distal : tractus iliotiblalis yang melekat pada candylus lateralis ( tibia ) - Fungsi utama : abdukasi, endorotasi dan flexi paha membantu extensi lutut, menetapkan batang paha. M. Sartorius - Pelekatan proximal : SIAS dan bagian atas takik di bawahnya - Perlekatan distal : bagian proksimal, permukaan medial tibia. - Fungsi utama : flexi,abduksi,dan eksorotasi, paha pada Articulatio Coxae : flexi tungkai bawah pada Articulatio Genus M. quadriceps femoris o M. rectus femoris - Perlekatan proximal : SIAI dan os.ilii cranial dari acetabulum o M. vastus lateralis - Perlekatan proximal : throcanter mayor dan labium laterale lineae asperae corporis femoris o M.vastus medial - Perlekatan proximal : linea intertrochanterica dan labium mediale lineae asperae corporis femoris o M.vastus intermedius - Perlekatan proximal : permukaan anterior dan lateral corpus femoris - Perlekatan distal umum : alas patela dan lewat ligamentum patella pada tuberositas tibiae. - Fungsi utama : extensi tungkai bawah pada Articulatio Genu M.rectus femoris juga menstabilkan Articulatio coxae dan membantu M.iliapsoas memfleksikan paha. OTOT-OTOT PAHA MEDIAL M.pectinatus - Perlekatan proximal : ramus jupertor ossis pubis - Perlekatan distal : linea pectinata femur di bawah throcanter minor (femur)
10

- Fungsi utama : aduksi dan fleksi paha, membantu rotasi medial paha M.adductor - Perlekatan proximal : corpus ossis pubis - Perlekatan distal : 1/3 tengah linea aspera femoris - Fungsi utama : aduksi paha M.adduktor brevis - Perlekatan proximal : corpus ossis pubis dan ramus inferior ossis pubis - Perlekatan distal : linea pectinata dan gogian proximal linea aspera femoris. - Fungsi utama : aduksi paha dan sedikit banyak flexi paha. M.adductor magnus - Perlekatan proximal : ramus inferior ossis pubis, ramus ossis ischii(bagian adductor) dan tubes ischiadicurt - Perlekatan distal: tuberositas glutealis, linea, aspera, linea supracondylaris, medialis, turbeculum adductor femoris (bagian hamstring). - Fungsi utama : aduksi paha, aduksi juga melakukan flexi paha, extensi (bagian hamstring). M.gracilis - Perlekatan proximal : corpis ossis pubis dan ramus inferios ossis pubis. - Perlekatan distal : bagian superior permukaan media tibia. - Fungsi utama : aduksi paha, flexi tungkai bawah, membantu endorotasi tungkai bawah.

LO.2.2 Memahami dan Menjelaskan Mikroskopis Anatomi Femur Tulang femur dikategorikan tulang panjang, gambaran histologi nya dibagi menjadi 2 bagian, tulang kompak dibagian luar dan tulang kanselosa di bagian dalam.

11

Sel Tulang Tulang dewasa dan yang sedang berkembang mengandung empat jenis sel berbeda: sel osteogenik (osteoprogenitor), osteoblas, osteosit, dan osteoklas. Sel osteogenik adalah sel induk pluripoten yang belum berdiferensiasi, berasal dari jaringan ikat mesenkim. Selama perkembangan tulang, sel osteogenik berproliferasi melalui mitosis dan berdiferensiasi menjadi osteoblas. Pada tulang dewasa, sel osteogenik dijumpai di luar (pada jaringan ikat periosteum dan di dalam lapisan tunggal endosteum internal). Periosteum dan endosteum menghasilkan osteoblas baru untuk pertumbuhan, remodeling, dan perbaikan tulang. Osteoblas terdapat pada permukaan jaringan tulang. Fungsinya adalah untuk membuat, menyekresikan, dan mengendapkan unsure organic matriks tulang baru yang disebut osteoid. Osteoid adalah matriks tulang belum mengapur yang baru dibentuk yang tidak mengandung mineral : namun, tidak lama setelah deposisi, osteoid segera mengalami mineralisasi dan menjadi tulang. Osteosit adalah sel utama tulang. Seperti kondrosit pada tulang rawan, osteosit ini pun terperangkap di dalam matriks tulang di sekitarnya dan berada di dalam lacuna. Tetapi, berbeda dengan tulang rawan, hanya terdapat satu osteosit dalam satu lacuna. Fungsi utama osteosit adalah mempertahankan matriks tulang. Osteoklas adalah sel multinuclear besar yang terdapat di sepanjang permukaan tulang tempat terjadinya resorpsi, remodeling, dan perbaikan tulang. Fungsi utamanya adalah meresorpsi tulang selama remodeling. Osteoklas ini sering terdapat di dalam sebuah lekuk dangkal pada tulang yang teresorpsi atau terkikis secara enzimatik yang disebut lacuna Howship. Osteoklas mula-mula berada di dalam tulang berasal dari precursor mirip monosit. Terdapat dua macam proses penulangan: 1. Penulangan intramembranosa / desmal (tanpa dimulai dgn pembentukan tulang rawan) 2. Penulangan intrakartilaginosa / endokondral (dimulai dgn pembentukan tulang rawan)

12

a. Zona Istirahat : terdapat di lempeng epifisis,terdiri atas sel tulang rawan primitif yang tumbuh kesegala arah b. Zona proliferasi : terletak di metafisis,terdiri atas kondrosit yang membelah,dan menghasilkan sel berbentuk gepeng atau lonjong yang tersusun berderet-deret longitudinal seperti tumpukan uang logam,sejajar dengan sumbu panjang model tulang rawan. c. Zona maturasi dan hipertrofi kondrosit : ukuran kondrosit beserta lakunanya bertambah besar d. Zona klasifikasi : terjadi endapan kalsium fosfat didalam matriks tulang tawan.Matriks menjadi basofil dan kondrosit banyak yang mati (perlekatan zat kapur,nutrisi kurang) e. Zona degenerasi : kondrosit berdegenerasi,banyak yg pecah,lakuna kosong dan saling berhubungan satu dnegan yang lainnya.Daerah matriks yang hancur diisi oleh sel osteoprogenitor f. Zona penulangan (osifikasi) : sel progenitor yang mengisi lakuna yang telah kosong berubah menjadi osteoblas,yang mulai mensekresi matriks tulang,sehingga terbentuklah balok-balok tulang. (dihancurkan oleh osteoklas) LI.3. Mampu Memahami dan Menjelaskan Fraktur Colum Femur LO.3.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Fraktur Colum Femur Fraktur adalah keadaan dimana tulang kehilangan kontinuitasnya. Terputusnya jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya karena ada paksaan. Patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma / tenaga fisik. Fraktur collum femur merupakan fraktur intrakapsular yang terjadi pada bagian proksimal femur. Yang termasuk collum femur adalah mulai dari bagian distal permukaan kaput femoris sampai dengan bagian proksimal dari intertochanter.
13

Fraktur bisa terjadi disertai dislokasi. Dislokasi adalah perpindahan tulang dari posisi anatomisnya.

LO.3.2

Memahami dan Menjelaskan Etiologi Fraktur Colum Femur Trauma Langsung : biasanya penderita terjatuh dengan posisi miring dimana daerah trochanter major terbentur dengan benda keras. Trauma Tak Langsung : disebabkan gerakan eksorotasi yang mendadak dari tungkai bawah. Karena kepala femur terlihat kuat dengan ligamen di dalam acetabulum oleh ligament iliofemorale dan kapsul sendi, mengakibatkan fraktur di daerah colum femur. Pada dewasa muda apabila terjadi fraktur interkapsuler berarti traumanya cukup hebat. Kebanyakan fraktur colum femur terjadi pada wanita tua dimana tulangnya sudah mengalami osteoporotik. Fraktur patologik: fraktur yang terjadi pada tulang yang sebelumnya telah mengalami proses patologik, misalnya tumor primer dan sekunder Fraktur stress: trauma ringan tetapi terus menerus. Contohnya fraktur tibia pada penari ballet atau fraktur fibula pelari jarak jauh. Memahami dan Menjelaskan klasifikasi Fraktur Colum Femur Fraktur secara umum diklasifikasikan menjadi beberapa jenis: a. Berdasarkan hubungan dengan udara bebas a) Fraktur tertutup, bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar atau bagian eksternal tubuh b) Fraktur terbuka, terjadi bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di kulit. Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 derajat (Menurut R. Gustillo), yaitu :

LO.3.3

Derajat I

Luka

Fraktur

< 2 cm, Keruskan jaringan lunak sedikit, Sederhana, dislokasi ringan tidak ada tanda luka remuk. Kontaminasi minimal minimal > 2 cm , kontusi oto di sekitarnya Luka lebar, disekitarnya hilangnya Dislokasi fragmen jelas jaringan Kominutif, segmental, fragmen tulang ada yang hilang

II III

14

b.

Komplit dan tidak komplit a) Fraktur komplit : bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang. b) Fraktur tidak komplit : bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang c) Hairline fracture : patah retak rambut d) Buckle fracture/ Torus fracture : bila terjadi lipatan dari korteks dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya. Biasanya pada distal radius anak-anak. e) Greenstick fracture : fraktur tidak sempurna, korteks tulangnya sebagian masih utuh, demikian juga periosteumnya. Sering terjadi pada anak-anak. Fraktur ini akan segera sembuh dan segera mengalami remodelling ke bentuk fungsi normal.

c.

Sudut patah a) Fraktur transversal : garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu panjang tulang. Pada fraktur semacam ini, segmen-segmen tulang yang patah direposisi/ direduksi kembali ke tempatnya semula. b) Farktur oblik : garis patahnya membentuk sudut. Fraktur ini tidak stabil dan sulit diperbaiki. c) Fraktur spiral : akibat trauma rotasi. Garis patah tulang membentuk spiral. Fraktur cenderung cepat sembuh. d) Fraktur longitudinal : sejajar axis tulang panjang

15

a.

b.

Jumlah garis patah a) Fraktur kominutif : garis patah lebih dari 1 dan saling berhubungan. b) Fraktur segmental : garis patah lebih dari 1 tetapi tidak saling berhubungan. c) Fraktur multiple : garis patah lebih dari 1 tetapi pada tulang yang berlainan. Trauma a) Fraktur kompresi : 2 tulang menumbuk tulang ke-3 yang berada diantaranya. b) Fraktur avulse : trauma tarikan, suatu fragmen tulang pada tempat insersi tendon ataupun ligamen. c) Fraktur spiral

16

c.

Bergeser dan tidak bergeser a) Fraktur undisplaced : garis patah komplit tetapi ke-2 fragmen tidak bergeser, periosteumnya masih utuh. b) Fraktur displaced : terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang juga disebut lokasi fragmen. Terbagi atas: - Dislokasi ad longitudinal cum contractionum: pergeseran searah sumbu dan overlapping. - Dislokasi ad axim: pergeseran yang membentuk sudut. - Dislokasi ad latus: pergeseran di mana kedua fragmen saling menjauh.

LO.3.4

Memahami dan Menjelaskan Patofisiologi Fraktur Colum Femur

Fraktur terjadi ketika tulang mendapatkan energi kinetik yang lebih besar dari yang dapat tulang serap. Fraktur muncul sebagai akibat dari berbagai peristiwa diantaranya pukulan langsung, penekanan yang sangat kuat, puntiran, kontraksi otot yang keras atau karena berbagai penyakit lain yang dapat melemahkan otot. Ada dua tipe dasar yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur :

Mekanisme direct force : energi kinetik akan menekan langsung pada atau daerah dekat fraktur. Mekanisme indirect force : energi kinetik akan disalurkan dari tempat tejadinya tubrukan ke tempat dimana tulang mengalami kelemahan. Fraktur tersebut akan terjadi pada titik atau tempat yang mengalami kelemahan.

Pada saat terjadi fraktur periosteum, pembuluh darah, sumsum tulang dan daerah sekitar jaringan lunak akan mengalami gangguan terjadi perdrahan pada bagian ujung dari tulang yang patah serta dari jaringan lunak (otot) terdekat Hematoma akan terbentuk pada medularry canal antara ujung fraktur dengan bagian dalam dari periosteum Jaringan tulang berubah menjadi tulang yang mati Kemudian jaringan nekrotik menstimulasi terjadinya peradangan yang dikarakteristikkan
17

dengan terjadinya vasodilatasi, edema, nyeri, hilangnya fungsi, eksudasi dari plasma dan leukosit serta infiltrasi dari sel darah putih lainnya Proses ini akan berlanjut ke proses pemulihan tulang yang fraktur tersebut.

Patah tulang dipengaruhi oleh 2 faktor : 1.) Faktor ekstrinsik: gaya dari luar yang bereaksi pada tulang, tergantung dari besar tekanan, waktu dan arah gaya tersebut dapat menyebabkan patah tulang. 2.) Faktor intrinsik : Beberapa sifat sifat yang penting dari tulang yang menentukan daya tahan untuk timbulnya fraktur: kapasitas absorbsi dari energy daya elastisitas daya terhadap kelelahan densitas/kepadatan

LO.3.5

Memahami dan Menjelaskan Manifestasi Fraktur Colum Femur

a. Deformitas ( perubahan struktur atau bentuk) b. Bengkak atau penumpukan cairan/darah karena kerusakan pembuluh darah c. Ekimosis ( perdarahan subkutan) d. Spasme otot karena kontraksi involunter disekitar fraktur e. Nyeri, karena kerusakan jaringan dan perubahan struktur yang meningkat karena penekanan sisi-sisi fraktur dan pergerakan bagian fraktur f. Kurangnya sensasi yang dapat terjadi karena adanya gangguan syaraf, dimana syaraf ini terjepit atau terputus oleh fragmen tulang g. Hilangnya atau berkurangnya fungsi normal karena ketidakstabilan tulang, nyeri atau spasme otot h. Pergerakan abnormal i. Krepitasi, yang dapat dirasakan atau didengar bila fraktur digerakan j. Hasil foto rontgen yang abnormal Akibat terjadi kepatahan/patah tulang, tulang tersebut mengadakan adaptasi terhadap kondisi tersebut, diantaranya adalah mengalami proses penyembuhan atau perbaikan tulang. Faktor tersebut dapat diperbaiki tapi prosesnya lambat, karena melibatkan pembentukan tulang baru. Proses tersebut terjadi secara bertahap, yang dikaji dalam 4 tahap yaitu :
18

1) Pembentukan prokallus/haematoma Haematoma akan terbentuk pada 48 sampai 72 jam pertama pada fraktur yang disebabkan karena adanya perdarahan yang terkumpul disekitar fraktur yaitu darah dan eksudat, kemudian akan diserbu oleh kapiler dan sel darah putih terutama netrofil, kemudian diikat oleh makrofag, sehingga akan terbentuk jaringan granulasi. 2) Pembentukan Kallus Selama 5 sampai 5 hari osteoblast menyusun trabekula disekitar ruanganruangan yang kelak menjadi saluran harvest. Jaringan itu ialah jaringan osteosid, disebut Kallus yang berfungsi sebagai bidai (Splint) yang terbentuk pada akhir minggu kedua. 3) Osifikasi Dimulai pada 2 sampai 3 minggu setelah fraktur jaringan kallus akhirnya akan diendapi oleh garam-garam mineral, dan akan terbentuk tulang yang menghubungkan kedua sisi yang patah. 4) Penggabungan dan Remodelling Kallus tebal diabsopsi oleh aktivitas dari osteoblast dan osteoclast menjadi konteks baru yang sama dengan konteks sebelum fraktur.Remodeling berlangsung 4 sampai 8 bulan.

LO.3.6

Memahami dan Menjelaskan Pemeriksaan fisik dan penunjang

Pemeriksaan radiologis Pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi serta ekstensi fraktur. Untuk menghindarkan nyeri serta kerusakan jaringan lunak selanjutnya, maka sebaliknya kita mempergunakan bidai yang bersifat radiolusen untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan pemeriksaan radiologis. Tujuan pemeriksaan radiologis: Untuk mempelajari gambaran normal tulang dan sendi Untuk konfirmasi adanya fraktur Untuk melihat sejauh mana pergerakan dan konfigurasi fragmen serta pergerakannya Untuk menentukan teknik pengobatan Untuk menentukan fraktur itu baru atau tidak Untuk menentukan apakah fraktur intra-artikuler atau ekstra-artikuler Untuk melihat adanya keadaan patologis lain pada tulang Untuk melihat adanya benda asing, misalnya peluru
19

Pemeriksaan radiologis dilakukan dengan beberapa prinsip dua Dua posisi proyeksi, dilakukan sekurang-kurangnya yaitu pada anteroposterior dan lateral Dua sendi pada anggota gerak dan tungkai harus di foto, di atas dan di bawah sendi yang mengalami fraktur Dua anggota gerak. Pada anak-anak sebaiknya dilakukan foto pada ke dua anggota gerak terutama pada fraktur epifisis Dua trauma, pada trauma yang hebat sering menyebabkan fraktur pada dua daerah tulang. Dua kali dilakukan foto. Pada fraktur tertentu misalnya fraktur tulang skafoid, foto pertama biasanya tidak jelas sehingga biasanya diperlukan foto berikutnya 10-14 hari kemudian. Foto Rontgen Pada proyeksi AP kadang tidak jelas ditemukan adanya fraktur pada kasus yang impacted, untuk ini diperlukan pemerikasaan tambahan proyeksi axial. Pergeseran dinilai melalui bentuk bayangan tulang yang abnormal dan tingkat ketidakcocokan garis trabekular pada kaput femoris dan ujung leher femur. Penilaian ini penting karena fraktur yang terimpaksi atau tidak bergeser (stadium I dan II Garden ) dapat membaik setelah fiksasi internal, sementara fraktur yang bergeser sering mengalami non union dan nekrosis avaskular. Radiografi foto polos secara tradisional telah digunakan sebagai langkah pertama dalam pemeriksaan pada fraktur tulang pinggul. Tujuan utama dari film x-ray untuk menyingkirkan setiap patah tulang yang jelas dan untuk menentukan lokasi dan luasnya fraktur. Adanya pembentukan tulang periosteal, sclerosis, kalus, atau garis fraktur dapat menunjukkan tegangan fraktur. Radiografi mungkin menunjukkan garis fraktur pada bagian leher femur, yang merupakan lokasi untuk jenis fraktur. Fraktur harus dibedakan dari patah tulang kompresi, yang menurut Devas dan Fullerton dan Snowdy, biasanya terletak pada bagian inferior leher femoralis. Jika tidak terlihat di film x-ray standar, bone scan atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) harus dilakukan.

Bone Scanning Bone scanning dapat membantu menentukan adanya fraktur, tumor, atau infeksi. Bone scan adalah indikator yang paling sensitif dari trauma tulang, tetapi mereka memiliki kekhususan yang sedikit. Shin dkk melaporkan bahwa bone scanning memiliki prediksi nilai positif 68%. Bone scanning dibatasi oleh resolusi spasial relatif dari anatomi pinggul. Di masa lalu, bone scanning dianggap dapat diandalkan sebelum 48-72 jam setelah
20

patah tulang, tetapi sebuah penelitian yang dilakukan oleh Hold dkk menemukan sensitivitas 93%, terlepas dari saat cedera. Magnetic Resonance Imaging (MRI) MRI telah terbukti akurat dalam penilaian fraktur dan andal dilakukan dalam waktu 24 jam dari cedera, namun pemeriksaan ini mahal. Dengan MRI, fraktur biasanya muncul sebagai garis fraktur di korteks dikelilingi oleh zona edema intens dalam rongga meduler. Dalam sebuah studi oleh Quinn dan McCarthy, temuan pada MRI 100% sensitif pada pasien dengan hasil foto rontgen yang kurang terlihat. MRI dapat menunjukkan hasil yang 100% sensitif, spesifik dan akurat dalam mengidentifikasi fraktur collum femur.

LO.3.7

Memahami dan Menjelaskan Diagnosis dan diagnosis banding

Diagnosis Terdapat 3 situasi dimana fraktur collum femur dapat terlewatkan, kadangkadang dengan akibat yang menakutkan : 1. Fraktur tekanan. Pasien orang lanjut usia dengan nyeri panggul yang tidak diketahui mungkin mengalami fraktur tekanan; pemeriksaan sinar-x hasilnya normal tetapi scan tulang akan memperlihatkan hot area 2. Fraktur yang terimpaksi. Garis fraktur tidak terlihat, tetapi bantuk caput dan collum femoris berubah; selalu bandingkan kedua sisi 3. Fraktur yang tidak nyaeri. Pasien berada di tempat tidur dapat mengalami silent fracture. Anamnesis Biasanya penderita datang dengan suatu trauma (traumatik fraktur), baik yang hebat maupun trauma ringan dan diikuti dengan ketidakmampuan untuk menggunakan anggota gerak. Anamnesis hasrus dilakukan dengan cermat, karena fraktur tidak selamanya terjadi di daerah trauma dan mungkin fraktur terjadi pada daerah lain. Trauma dapat terjadi karena kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian atau jatuh di kamar mandi pada orang tua, penganiayaan, tertimpa benda berat, kecelakaan pada pekerja oleh karena mesin atau karena trauma olahraga. Penderita biasanya datang karena adanya nyeri, pembengkakan, gangguan fungsi anggota gerak, deformitas, kelainan gerak, krepitasi atau datang dengan gejala-gejala lain. Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya: 1. Syok, anemia atau perdarahan 2. Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang belakang atau organ-organ dalam rongga toraks, panggul dan abdomen 3. Faktor predisposisi, misalnya fraktur patologis
21

Pemeriksaan lokal 1. Inspeksi (Look) Bandingkan dengan bagian yang sehat Perhatikan posisi anggota gerak Keadaan umum penderita secara keseluruhan Ekspresi wajah karena nyeri Lidah kering atau basah Adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan fraktur tertutup atau terbuka Ekstravasasi darah subkutan dalam dalam beberapa jam sampai beberapa hari Perhatikan adanya deformitas berupa ngulasi, rotasi dan kependekan Lakukan survei pada seluruh tubuh apakah ada trauma pada organ-organ lain Perhatikan kondisi mental penderita Keadaan vaskularisasi a. Palpasi (Feel) Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya mengeluh sangat nyeri. Hal-hal yang perlu diperhatikan: Temperatur setempat yang meningkat Nyeri tekan; nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya disebabkan oleh kerusakan jaringan lunak dan dalam akibat fraktur tulang Krepitasi; dapat diketahui dengan peradaban dan harus dilakukan secara hatihati Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri radialis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai anggota gerak yang terkena Refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada bagian distal daerah trauma, temperatur kuit. Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui adanya perbedaan panjang tungkai 2. Pergerakan (Move) Pergerakam dengan mengajak penderita untuk menggerakkan secara aktif dan pasif sendi proksimal dan distal dari daerah yang mengalami trauma. Pada penderita fraktur, setiap gerakan akan memyebabkan nyeri hebat sehingga uji pergerakkan tidak boleh dilakukan secara kasar, di samping itu juga dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak seperti pembuluh darah dan saraf.

22

Tabel Range of Motion pada Sendi Panggul Gerakan ROM Fleksi Ekstensi Abduksi Adduksi Endorotasi Eksorotasi 120 30 45-50 20-30 35-45 35-45

Tes Passive Straight Leg Raise Tujuan : memeriksa low back pain akibat herniasi diskus Langkah-langkah pemeriksaan : Pasien berbaring supine, kedua tungkai dalam posisi lurus Pemeriksa meletakkan salah satu tangan di bawah lutut dan tangan lainnya untuk mengangkat tungkai hingga pasien merasakan nyeri Tes Thomas Tujuan : memeriksa hip flexion contracture Langkah-langkah pemeriksaan : Pasien berbaring dalam posisi supine, menekuk salah satu tungkai ke arah dada dan tungkai lainnya tetap dalam keadaan ekstensi Hasil tes positif jika pasien tidak dapat mempertahankan tungkai dalam posisi tersebut.

Tes Ober Tujuan : memeriksa kontraktur oada iliotibial band Langkah-langkah pemeriksaan : Pasien berbaring miring ke arah tungkai yang sehat sehingga tungkai sehat berada di bawah dalam keadaan ditekuk dan tungkai yang bermasalah di bagian atas dalam keadaan lurus Pemeriksa meletakkan tangan di crista iliaca superior untuk stabilisasi, kemudian angkat kaki yang atas, lakukan extensi, dan arahkan ke bagian belakang kaki sehat. Lihat apakah kaki tersebut bisa beradduksi ke bawah dan belakang meja periksa. Hasil test positif jika pasien tidak dapat adduksi melewati meja periksa

Muscle Strength (Kekuatan Otot) Penentuan kekuatan otot secara manual sangatlah penting untuk dilakukan apakah terdapat kelemahan ataukah lokasi kelemahan itu berhubungan dengan cedera saraf.
23

Sebagai tambahan, pengevaluasian stabilitas dinamis dari pelvis, termasuk otot-otot fleksor, ekstensor, dan abduktor panggul. Gaya berjalan Trendelenburg menandakan kelemahan abduksi dari panggul. Tes fleksi panggul (L2, L3), ekstensi (L5, S1, S2), abduksi (L4, L5, S1), dan adduksi (L3, L4). Pemeriksaan Sensoris Selama dilakukan pemeriksaan sensoris, penurunan atau hilangnya sensibilitas dapat mengindikasikan atau menyingkirkan kerusakan saraf yang spesifik. Refleks otot-otot sangat membantu untuk mengevaluasi pasien dengan nyeri panggul. Refleks yang abnormal menandakan abnormalitas fleksus saraf. Refleks yang asimetris adalah hal yang sangat signifikan, sehigga, refleks dari pasien harus dibandingkan antara kiri dan kanan. Hop Test (Test Lompat) Sekitar 70% pasien dengan stress fracture pada femur mempunyai hasil yang positif pada Hop Test. Pada Hop Test, pasien melompat pada sisi kai yang terkena untuk menimbulkan gejala. Manuver lain yang dapat menyebabkan stress femur juga dapat merangsang timbulnya rasa nyeri. 3. Pemeriksaan neurologis Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara sensoris dan motoris serta gradasi kelainan neurologis yaitu neuropraksia, aksonotmesis atau neurotmesis. Kelainan saraf yang didapatkan harus dicatat dengan baik karena dapat menimbulkan masalah asuransi dan tuntutan (klaim) penderita serta merupakan patokan untuk pengobatan selanjutnya. 4. Pemeriksaan radiologis Foto polos Dengan pemeriksaan klinik kita sudah dapat mencurigai adanya fraktur. Walaupun demikian pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi serta ekstensi fraktur. Untuk menghindarkan nyeri serta kerusakan jaringan lunak selanjutnya, maka sebaiknya kita menggunakan bidai yang bersifat radiolusen untuk imobilisasi sementara sebelum dilakuakn pemeriksaan radiologis. Tujuan pemeriksaan radiologis: Untuk mempelajari gambaran normal tulang dan sendi Untuk konfirmasi adanya fraktur Untuk melihat sejauh mana pergerakan dan konfigurasi fragmrn serta pergerakannya Untuk menentukan teknik pengobatan Untuk menentukan apakah fraktur itu baru atau tidak Untuk menentukan apakah fraktur intra-artikuler atau ekstra-artikuler Untuk melihat adanya keadaan patologis lain pada tulang Untuk melihat adany benda asing, misalnya peluru
24

Pemeriksaan radiologis dilakukan dengan beberapa prinsip dua : Dua sendi proyeksi; dilakukan sekurang-kurangnya yaitu pada anteroposterior dan lateral Dua sendi pada anggota gerak dan tungkai harus difoto, di atas dan di bawah sendi yang mengalami fraktur Dua anggota gerak. Pada anak-anak sebaiknya dilakukan foto pada ke dua anggota gerak terutama fraktur epifisis Dua trauma, pada trauma hebat sering menyebabkan fraktur pada dua daerah tulang. Misalnya pada fraktur kalkaneus atau femur, maka perlu dilakukan foto pada panggul dan tulang belakang Dua kali dilakukan foto. Pada fraktur tertentu misalnya fraktur tulang skafoid foto pertama biasanya tidak jelas sehingga biasanya diperlukan foto berikutnya 10-14 hari kemudian

Pemeriksaan radiologis lainnya Pemeriksaan khusus dengan: 1. 2. 3. 4. Tomografi, misalnya pada fraktur vertebra atau kondilus tibia CT-scan MRI Radioisotop scanning

Umumnya dengan foto polos kita dapat mendiagnosis fraktur, tetapi perlu dinyatakan apakah fraktur terbuka/tertutup, tulang mana yang terkena dan lokalisasinya, apakah sendi juga mengalami fraktur serta bentuk fraktur itu sendiri. Konfigurasi fraktur dapat menentukan prognosis serta waktu penyembuhan fraktur misalnya penyembuhan fraktur transversal lebih lambat dari fraktur oblik karena kontak yang kurang.

LO.3.8

Memahami dan Menjelaskan Penatalaksanaan Fraktur Colum Femur Prinsip-prinsip tindakan/penanganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi, dan pengembalian fungsi dan kekuatan normal dengan rehabilitasi a. Reduksi, yaitu : restorasi fragmen fraktur sehingga didapati posisi yang dapat diterima. Reduksi fraktur (setting tulang) berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan posisi anatomis normal. Sasarannya adalah untuk memperbaiki fragmen-fragmen fraktur pada posisi anatomik normalnya. Metode untuk reduksi adalah dengan reduksi tertutup, traksi, dan reduksi terbuka.4 Metode tertentu yang dipilih bergantung sifat fraktur, namun prinsip yang mendasarinya tetap sama. Biasanya dokter melakukan reduksi
25

fraktur sesegera mungkin untuk mencegah jaringan lunak kehilangan elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema dan perdarahan. Pada kebanyakan kasus, reduksi fraktur menjadi semakin sulit bila cedera sudah mengalami penyembuhan. Metode reduksi : 1. Reduksi tertutup, pada kebanyakan kasus reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang ke posisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan) dengan Manipulasi dan Traksi manual. Sebelum reduksi dan imobilisasi, pasien harus dimintakan persetujuan tindakan, analgetik sesuai ketentuan dan bila diperlukan diberi anestesia. Ektremitas dipertahankan dalam posisi yang diinginkan sementara gips, bidai atau alat lain dipasang oleh dokter. Alat imobilisasi akan menjaga reduksi dan menstabilkan ektremitas untuk penyembuhan tulang. Sinar-x harus dilakukan untuk mengetahui apakah fragmen tulang telah dalam kesejajaran yang benar. 2. Traksi, dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi. Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi. 3. Reduksi terbuka, pada fraktur tertentu memerlukan reduksi terbuka. Dengan pendekatan bedah, fragmen tulang direduksi. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin, kawat, sekrup, palt, paku atau batangan logam dapat digunakan untuk mempertahan kan fragmen tulang dalam posisinya sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi. b. Imobilisasi

Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi, atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan. Sasarannya adalah mempertahankan reduksi di tempatnya sampai terjadi penyembuhan. Metode untuk mempertahankan imobilisasi adalah dengan alat-alat eksternal (bebat, brace, case, pen dalam plester, fiksator eksterna, traksi, balutan) dan alatalat internal (nail, lempeng, sekrup, kawat, batang, dll) c. Rehabilitasi
1.

Sasarannya meningkatkan kembali fungsi dan kekuatan normal pada bagian yang sakit. Untuk mempertahankan dan memperbaiki fungsi dengan mempertahankan reduksi dan imobilisasi adalah peninggian untuk meminimalkan bengkak, memantau status neurovaskuler, mengontrol ansietas dan nyeri, latihan isometrik dan pengaturan otot, partisipasi dalam aktifitas hidup sehari-hari, dan melakukan aktifitas kembali secara bertahap dapat memperbaiki kemandirian fungsi. Pengembalian bertahap pada aktivitas semula diusahakan sesuai batasan terapeutik.
26

2.

LO.3.9

Memahami dan Menjelaskan Prognosis Fraktur Colum Femur

Beberapa ahli mengusulkan bahwa prognosis untuk fraktur stadium III dan IV tidak dapat diramalkan sehingga penggantian prostetik selalu lebih baik. Penggantian pinggul total mungkin lebih baik kalau terapi telah tertunda selama beberapa minggu dan dicurigai ada kerusakan acetabulum dan pada pasien dengan penyakit paget atau metastatic. Pada fraktur leher femur inpaksi biasanya penderita dapat berjalan selama beberapa hari setelah jatuh sebelum timbul keluhan. Umumnya gejala yang timbul minimal dan panggul yang terkena dapat secara pasif digerakkan tanpa nyeri. Fraktur ini biasanya sembuh tiga bulan tanpa tindakan operasi, tetapi apabila tidak sembuh atau terjadi disinpaksi yang tidak stabil atau avaskuler, penanganannya sama dengan yang di atas.

LO.3.10 Memahami dan Menjelaskan Komplikasi Fraktur Colum Femur Adapun komplikasi dari fraktur (Smeltzer & Bare, 2001) yaitu : a.Komplikasi segera (immediate) Komplikasi yang terjadi segera setelah fraktur antara lain syok neurogenik, syok hipovolemik (karena perdarahan & kehilangan cairanekstrasel ke jaringan yang rusak), kerusakan organ, kerusakan syaraf, injuri atau perlukaan kulit, trombo emboli vena (Berhubungan dengan penurunan aktivitas/kontraksi otot/bedrest). osteomelitis, emboli, nekrosis, dan syndrome compartemen b.Komplikasi lambat Sedangkan komplikasi lanjut yang dapat terjadi antara lain stiffnes (kakusendi), degenerasi sendi, penyembuhan tulang terganggu (malunion) a). Delayed union Proses penyembuhan fraktur sangat lambat dari yang diharapkan biasanyalebih dari 4 bulan. Proses ini berhubungan dengan proses infeksi. Distraksi/tarikan bagian fragmen tulang b). Non union Proses penyembuhan gagal meskipun sudah diberi pengobatan. Hal inidisebabkan oleh fobrous union atau pseudoarthrosis c). Mal union Proses penyembuhan terjadi tetapi tidak memuaskan (ada perubahan bentuk)

27

d). Nekrosis avaskuler di tulangKarena suplai darah menurun sehingga menurunkan fungsi tulang. DAFTAR PUSTAKA Apley. A. Graham. 1995. Orthopedi dan Fraktur Sistem Apley. Edisi 1. Jakarta : EGC. Brunner and Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 3. Volume 8. Jakarta : EGC. Carpenito, Lynda Juall. 2001. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan Edisi 2. Jakarta : EGC. Donges, Marilyn B, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : EGC. Lukman and Sorensens. 1993. Medical Surgical Nursing. 4th Edition buku 11. USA : WB Sunder Company. Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid II. FKUI. Media Aesculapius. Patel Pradip R. 2005. Lecture notes: Radiology, 2nd ed. USA: Blackwell Science, Ltd. Price, Slyvia A Dan Laraine M. Wilson.1995. Patofisiologi. Buku I . Edisi 4. Jakarta : EGC. Rasjad, Chairudin. 1998. Ilmu Bedah Orthopedi. Ujung Pandang : Bintang Lamupate. Smetzer, Suzanna. C. dkk. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner and Suddarth. Edisi 8, vol 3. Jakarta : EGC. Sabiston, David C. 1995. Buku Ajar Bedah,jilid 1. Alih bahasa: Petrus Andrianto, Timan IS. Jakarta: EGC.. http://www.scribd.com/doc/30287504/Fraktur-Femur http://www.scribd.com/doc/52918476/12/Remodeling-Tulang http://www.scribd.com/doc/52471266/30/HISTOLOGI-TULANG http://www.scribd.com/doc/31348597/FRAKTUR http://nursingbegin.com/fraktur-patah-tulang/ http://ppni-klaten.com/index.php?view=article&catid=39%3Appni-aksub&id=63%3Afraktur&format=pdf&option=com_content&Itemid=66

28