Anda di halaman 1dari 53

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN GANGGUAN SISTEM RESPIRASI ( ASTHMA )

Makalah Pediatric Nursing

Oleh : KELOMPOK 2
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. RAHMIANI TIFLEN PUTU AYU SUANDARI DICKY ENDRIAN K. SUTIK MERU BERLINDA OKTA RINI YENI WIJANARKO YETTI MAULIDAH (115070209111001) (115070209111009) (115070209111017) (115070209111025) (115070209111034) (115070209111042) (115070209111051)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN B


JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG, 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Asma adalah suatu kondisi paru-paru yang kronis, yang ditandai sulit bernafas. Saluran pernafasan penderita asma sangat sensitif dan memberi respon sangat berlebihan jika mengalami rangsangan atau gangguan. Saluran pernafasan tersebut bereaksi dengan cara menyempit dan menghalangi udara yang masuk (Iwan Hadibroto, 2005). Penyempitan atau hambatan ini bisa mengakibatkan gangguan pemenuhan oksigen bagi tubuh. Timbulnya gejala asma biasanya terjadi pada malam hari, oleh karena itu sering disebut penyerang ditengah malam (Iwan Hadibroto, 2005). Dan biasanya terjadi menjelang subuh. Asma merupakan penyakit keturunan yang tidak menular. Sekitar 55-60 % penyakit alergi yang mengakibatkan asma diturunkan ke anak atau cucu. Prevalensi asma di dunia sangat tinggi menurut laporan pada peringatan hari asma sedunia 4 Mei 2004, prevalensi asma di dunia akan meningkat pada beberapa tahun mendatang. Di tahun 2005 penderita asma diseluruh dunia mencapai 400 juta orang, dengan pertambahan 180.000 tiap tahunnya, asma adalah salah satu penyakit kronis dengan jumlah penderita terbanyak pada saat ini.Sedangkan kejadian asma pada anak di Indonesia cukup tinggi terutama dikota kota besar hingga mencapai hampir 17%. Pada usia anak-anak, asma menimpa anak laki-laki dua kali lebih banyak dibanding anak perempuan. Sekitar satu dari empat anak akan mengidap asma pada tahap tertentu dalam pertumbuhannya (Iwan Hadibroto, 2005). Sekitar 50% anak-anak penderita asma yang ringan akan membaik kondisinya, dan sembuh dalam pertumbuhan mereka menjadi dewasa.Sisanya harus hidup dengan penyakit ini, yang akan banyak mempengaruhi dan mengganggu pendidikan mereka. Asma menyebabkan hilangnya 16% hari sekolah pada anak-anak di Asia, 34% anak-anak di Eropa, 40% anak-anak di Amerika Serikat. Selain hari sekolah, mereka juga kehilanagan kegiatan di luar rumah, hobi mereka, dan bahkan hubungan dengan teman, relasi, dan keluarganya sendiri. Dengan kata lain, asma akan mempengaruhi segala sesuatu yang berkaitan dengan kualitas hidup mereka. Oleh karena itu perlu segera dilakukan pendekatan yang sistematis untuk menghindari faktor-

faktor yang bisa sebagai pencetus asma, yang pertama barangkali adalah kondisi lingkungan dimana kita berada termasuk pemaparan alergen termasuk asap, debu, tungau, dan kecoa yang berasal dari dalam rumah. Yang kedua adalah zat-zat kimia yang menjadi faktor penyebab baik yang digunakan untuk kontruksi rumah maupun untuk keperluan rumah tangga, seperti cat dinding plitur, pengharum udara, dan semprotan pengusir serangga. Yang ketiga bisa juga masyarakat kita yang makin kelewat bersih dan preventif. Seperti kita ketahui, asma pada dasarnya adalah ekses dari sistem imunitas yang bekerja terlalu efektif. Ada teori yang secara provokatif mengingatkan bahwa sistem iminitas tubuh belum berfungsi secara maksimal jika tidak dirangsang (atau diprovokasi) mulai usia muda (Iwan Hadibroto, 2005). Dengan kata lain, anak-anak pun perlu dalam batas-batas tertentu terpapar pada infeksi, alergen, dan toksin, untuk menstart sistem atau mekanisme pertahanan tubuh mereka. Studi menunjukan bahwa anak-anak yang terekspos pada anakanak lain dan yang lebih sering terkena flu, kemungkinan terkena asma akan semakin kecil pada pertumbuhan mereka selanjutnya. Satu hal yang pentig adalah jika sudah terserang asma, yang harus dijalankan adalah menghindari penyebab pemicu asma. Falsafah Keperawatan mengatakan lebih baik mencegah dari pada mengobati. Dalam makalah ini kelompok kami ingin membahas Asuhan Keperawatan Asma. 1.2 Rumusan Masalah Untuk mengetahui penyakit asma pada anak dan asuhan

keperawatannya yang dapat diberikan pada anak. 1.3 Tujuan Penulisan 1. Mengidentifikasi definisi, penyebab, patofisiologi, tanda gejala,

pemeriksaan diagnostik, komplikasi, penatalaksanaan dan pencegahan asma pada anak. 2. Mengidentifikasi asuhan keperawatan penderita asma pada anak. 1.4 Manfaat Penulisan 1.4.1 Bagi Kelompok Menambah pengetahuan tentang gejala asma pada anak- anak dan penatalaksanaanya sedini mungkin agar penderita asma dapat tumbuh dan

berkembang sesuai dengan umurnya secara normal dan mempunyai kualitas hidup yang optimal. 1.4.2 Bagi Profesi Keperawatan Perawat dapat memberikan pendidikan kesehatan pada masyarakat umumnya dan keluarga penderita khususnya dengan menekankan pentingnya mengenali faktor- faktor pencetus yang bisa membangkitkan serangan asma sehingga serangan asma dapat dihindari.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernapasan 2.1.1 Anatomi Sistem Pernapasan Anatomi saluran pernapasan terdiri atas saluran pernapasan bagian atas (rongga hidung, sinus paranasal, dan faring), saluran pernapasan bagian bawah (laring, trachea, bronchus dan alveoli), sirkulasi pulmonal (ventrikel kanan, arteri pulmonal, arteriola pulmonary, kapiler pulmonary, venula pulmonary, vena pulmonary, dan atrium kiri), paru (paru kanan 3 lobus dan paru kiri 2 lobus), rongga pleura, dan otot-otot pernapasan (Muttaqin, 2008). 1. Saluran pernapasan bagian atas 1) Rongga hidung Hidung terdiri atas dua nostril yang merupakan pintu masuk menuju rongga hidung. rongga hidung adalah dua kanal sempit yang satu sama lainnya dipisahkan septum. Dinding rongga hidung dilapisi oleh mukosa respirasi serta sel epitel batang, bersilia, dan berlapis semu. Mukosa tersebut menyaring, menghangatkan dan

melembabkan udara yang masuk melalui hidung. vestibulum merupakan bagian dari rongga hidung yang berambut dan berfungsi menyaring partikel-partikel asing berukuran besar agar tidak masuk kesaluran pernapasan bagian bawah. Dalam hidung juga terdapat saluran-saluran yang menghubungkan antara ronggan hidung dengan kelenjar air mata, bagian ini dikenal dengan kantung nasolakrimalis. Kantung nasolakrimalis ini berfungsi mengalirkan air melalui hidung yang berasal dari kelenjar air mata jika seseorang menangis. 2) Sinus Paranasal Sinus paranasal berperan dalam mensekresi mucus, membantu pengaliran air mata melalui saluran nasolakrimalis, dan membantu dalam menjaga permukaan rongga hidung tetap bersih dan lembab. Sinus paranasal juga termasuk dalam wilayah pembau dibagian posterior rongga hidung. wilayah pembau tersebut terdiri atas

permukaan inferior palatum kribriform, bagian superior septum nasal, dan bagian superior konka hidung, reseptor didalam epitel pembau ini akan merasakan sensasi bau. 3) Faring Faring (tekak) adalah pipa berotot yang bermula dari dasar tengkorak dan berakhir sampai persambungannya dengan

esophagus dan batas tulang rawan krikoid. Faring terdiri atas tiga bagian yang dinamai berdasarkan letaknya, yaiu nasofaring (dibelakang hidung), orofaring (dibelakang mulut) dan laringofaring (dibelakang laring). 2. Saluran Pernapasan Bagian Bawah 1) Laring Laring (tenggorokan) terletak diantara faring dan trachea.

Berdasarkan letak vertebra servikalis, laring berada diruas ke 4 dan ke 5 dan berakhir divertebra servikalis ruas ke 6. Laring disusun oleh 9 kartilago yang disatukan oleh ligament dan otot rangka pada tulang hyoid dibagian atas dan trachea dibawahnya. Kartilago yang terbesar adalah kartilago tiroid, dan didepannya terdapat benjolan subkutan yang dikenal sebagai jakun yang terlihat nyata pada pria. Kartilago tiroid dibangun oleh dua lempeng besar yang bersatu dibagian anterior membentuk sebuah sudut seperti huruf V yang disebut tonjolan laryngeal. Kartilago krikoid adalah kartilago berbentuk cincin yang terletak dibawah katilago tiroid (ini adalah satu-satunya kartilago yang berbentuk lingkaran lengkap). Kartilago aritenoid adalah sepasang kartilago yang menjulang dibelakang krikoid, dan diatasnya terdapat kartilago kunciform dan kornikulata yang sangat kecil. Diatas kartilago tiroid terdapat epiglottis, yang berupa katup dan berfungsi membantu menutup laring saat menelan makanan. 2) Pita Suara Pita suara terletak didalam laring. Ujung posterior pita suara melekat pada kartilago aritenoid. Pergerakan kartilago dilakukan otot laryngeal yang membuat pita suara dapat menegang dan mengandur sehingga menimbulkan beragam tekanan.

3) Trachea Trachea adalah sebuah tabung yang berdiameter 2,5 cm dengan panjang 11 cm. trachea terletak setelah laring dan memanjang kebawah setara dengan vertebra torakalis ke 5. Ujung trakea bagian bawah bercabang menjadi dua brokhus (bronchi) kanan dan kiri. Percabangan bronchus kanan dan kiri dikenal sebagai karina (carina). Trachea tersusun atas 16 20 kartilago hialin berbentuk huruf C yang melekat pada dinding trachea dan berfungsi untuk melindungi jalan udara. Kartilago ini juga berfungsi untuk mencegah terjadinya kolaps atau ekspansi berlebihan akibat perubahan tekanan udara yang terjadi dalam system pernapasan. Bagian terbuka dari bentuk C kartilago trachea ini saling berhadapan secara posterior kearah esopafus dan disatukan oleh ligament elastic dan otot polos. 4) Bronchus Bronchus mempunyai struktur serupa dengan trachea, bronchus kiri dan kanan tidak simetris. Bronchus kanan lebih pendek, lebih lebar, dan arahnya hamper vertical dengan trachea. Sebaliknya bronchus kiri lebih panjang, lebih sempit dan sudutnya pun lebih runcing. Bentuk anatomi yang khusus ini memiliki implikasi klinis tersendiri seperti jika ada benda asing yangterinhalasi, maka benda ini lebih memungkinkan berada dibronkhus kanan dibandingkan dengan bronchus kiri karena arah dan lebarnya. Bronchus pulmonaris bercabang dan beranting sangat banyak. Cabang utama bronchus memiliki struktur serupa trachea. Dinding bronchus dan cabangcabangnya dilapisi epithelium batang, bersilia, dan berlapis semu. Saluran yang semakin kecil menyebabkan jenis epithelium

bronchus mengalami penyesuaian sesuai dengan fungsinya. Bronchus terminalis disebut saluran penghantar udara karena fungsi utamanya adalah menghantarkan udara ketempat pertukaran gas diparu. Selain bronchus terminalis terdapat pula asinus yang merupakan unit fungsional paru sebagai tempat pertukaran gas. Asinus terdiri atas bronkhiolus respiratorius dan duktus alveolaris

(alveolar duct) yang seluruhnya dibatasi alveoli dan sakus alveolus terminalis yang merupakan struktur akhir paru. 3. Paru 1) Duktus Alveolaris dan Alveoli Bronkhiolus respiratorius terbagi dan bercabang menjadi duktus alveolaris dan beerakhir pada kantung udara berdinding tipis yang disebt alveoli. Beberapa alveoli bergabung membentuk sakus alveolaris. Setiap paru terdiri atas sekitar 150 juta alveoli (sakus alveolaris). Kepadatan sakus alveolaris inilah yang member bentuk paru tampak seperti spons. Jaringan kapiler darah mengelilingi alveoli ditahan oleh serat elastic. Jaringan ini menjaga posisi antara alveoli dengan bronkhiolus respiratorius. Adanya daya recoil dari serat ini selama ekspirasi akan mengurangi ukuran alveoli dan membantu mendorong udara agar keluar dari paru. 2) Alveoli dan Membran Respirasi Membrane respirasi pada alveoli pada umumnya dilapisi oleh sel epitel pipih sederhana. Sel-sel epitel pipih disebut dengan sel Tipe I. makrofag alveolar bertugas berkeliling disekitar epithelium untuk memfagositosis partikel atau bakteri yang masih dapat masuk kepermukaan alveoli, makrofag ini merupakan pertahanan terakhir pada system pernapasan. Sel ini yang ada dalam membrane respiratorius adalah sel septal atau disebut juga dengan sel surfaktan dan sel Tipe II. Surfaktan terdiri atas pospolipid dan lipoprotein. Surfaktan berperan untuk melapisi epithelium alveolar dan mengurangi tekanan permukaan yang dapat membuat alveoli kolaps. Tanpa adanya surfaktan, tekanan pada permukaan cenderung tinggi dan akhirnya alveoli akan menjadi kolaps. Apalagi produksi surfaktan tidak mencukupi karena adanya injuri atau kelainan genetic (kelahiran premature), maka alveoli dapat mengalami kolaps sehingga pola pernapasan menjadi tidak efektif. Pasokan darah paru berasal dari arteri bronkialis dan arteri pulmonalis. Sirkulasi bronchial menyediakan darah teroksigenasi dari sirkulasi sistemis yang berfungsi memenuhi kebutuhan metabolism jaringan paru. Vena bronchial mengalirkan darah balik

kevena cava superior dan masuk keatrium kanan. Arteri pulmonalis pada ventrikel kanan mengalirkan darah keparu, darah tersebut turut berperan dalam proses pertukaran gas. Darah yang

teroksigenasi kemudian dikembalikan melalui vena pulmonalis keventrikel kiri. Pembuluh darah arteri bronchial membawa darah langsung dari aorta torasika keparu untuk memasok nutrisi dan arteri bronchialis yang terbentuk oleh cabang akhir arteri pulmonalis. Namun akhirnya bersatu dengan vena pulmonalis dan darah kemudian dibawa menuju vena pulmonaris. Sisa darah itu diantarkan dari setiap paru oleh vena bronkhialis dan ada yang dapat mencapai vena kappa superior, sehingga paru mempunyai persediaan darah ganda. Sirkulasi paru adalah suatu system bertekanan rendah dari resistensi rendah dibandingkan tekanan darah sistemis. Tekanan darah (TD) sistemis sekitar 120/80 mmHg, sedangkan TD pulmonary (pulmonary arterial pressure PAP) sekitar 25/10 mmHg. Saluran pernapasan burfungsi untuk menghantarkan udara dari dan kepermukaan paru. Saluran pernapasan terbagi menjadi zona konduksi dan zona respirasi. Zona konduksi dimulai dari rongga hidung menuju faring, laring, trakea, bronchus, bronkhiolus, dan terakhir bronkhiolus terminalis. Zona respirasi terdiri dari saluran bronkhiolus respiratorius dan alveoli. Proses penyaringan penghangatan dan pelembaban udara yang masuk dimulai dari saluran pernapasan bagian atas dan berlanjut pada system konduksi udara. Udara yang mencapai aleoli telah bersih dari partikel-partikel asing dan bakteri pathogen. Selain itu, kelembaban dan suhu udara telah sesuai dengan batas yang mampu diterima oleh alveoli. Semua proses tersebut terlaksana karena adanya mukosa respirasi yang mengatur agar aktivitas tersebut berjalan dengan optimal. Mukosa respirasi merupakan kombinasi antara sel epitel dan lamina propia. Mukosa respirasi berada dapa zona konduksi saluran pernapasan. Mukosa ini kaya akan pembuluh darah yang dapat menghangatkan udara seketika saat udara itu dihirup oleh hidung.

10

Secara umum, saluran pernapasan yang dimulai dari rongga hidung hingga percabangan bronchial dilapisi oleh sel epitel batang, bersilia, dan berlapis semu. Dalam sel epitel tersebut terdapat sel goblet yang memproduksi dan menyekresikan mucus (lendir). Jenis sel epitel yang berbeda ditemukan pada epitel faring. Perbedaan jenis epitel ini terkait dengan peran faring sebagai penghubung antara rongga mulut dan rongga hidung. Jenis sel epitel pada saluran pernapasan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 2.1 Jenis Sel Epitel yang ada pada saluran pernapasan Saluran pernapasan Hidung: Rongga hidung Sinus paranasal Sel epitel batang berlapis semu Sel epitel pipih berlapis Sel epitel pipih berlapis Sel epitel batang, sersilia, dan berlapis semu Sel epitel batang, bersilia, dan berlapis semu Sel epitel batang, sersilia, dan berlapis semu Sel epitel kuboidal, pipih dengan sedikit silia Sel epitel batang, dan berlapis semu Jenis sel epitel

Faring Nasofaring Orofaring Laringofaring

Laring Trachea Percabangan bronchial Bronkhiolus

Lamina propia merupakan jaringan konektif yang terletak diantara sel epitel dengan kartilago. Lamina propia biasanya terdiri atas sekumpulan serat otot polos yang tersebar dibawah epitel. Dibeberapa bagian ertentu, lamina propia mengalami modifikasi menjadi bentuk seperti pita tebal yang mengelilingi lumen. Lamina propia juga kaya akan pembuluh darah arteri, vena dan kapiler lainnya yang membawa zat gizi dan air menuju kesel sekretori. Lamina propia pada nasal konka juga mengandung banyak pembuluh darah vena. Banyaknya pembuluh darah vena membuat udara yang masuk melalui rongga hidung dapat dengan segera dihangatkan dan dilembabkan (Muttaqin, 2008).

11

2.1.2 Fisiologi Sistem Pernapasan Fungsi dasar pernapasan (Muttaqin, 2008) adalah: 1. Tempat terjadinya pertukaran gas dari atmosfer dengan sirkulasi darah. 2. Memindahkan udara dari dan kepermukaan paru. 3. Melindungi dan menjaga mukosa pernapasan dari dehidrasi, perubahan suhu, atau variasi lingkungan sekitar,serta mempertahankan

permukaan mukosa lainnya dari invasi bakteri pathogen. 4. Memproduksi bunyi atau suara untuk berbicara, bernyanyi, dan kegiatan komunikasi verbal lainnya. 5. Menyediakan sensasi penciuman untuk dikirim kesistem saraf pusat dari epithelium saraf olfaktorius dibagian superior rongga hidung. 6. Secara tidak langsung, kapiler paru turut membantu regulasi volume dan tekanan darah melalui kompresi angiotensin I ke angiotensin II. Dalam proses pemenuhan kebutuhan oksigenasi di dalam tubuh terdapat tiga tahapan (Alimul, 2006), yakni: 1. Ventilasi Merupakan proses keluar masuknya oksigen dari atmosfer ke dalam alveoli atau dari alveoli ke atmosfer. Pengaruh proses ventilasi adalah komplians (complience) dan recoil yaitu kemampuan paru untuk berkembang yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya surfaktan (terdapat pada lapisan alveoli yang berfungsi untuk menurunkan tegangan permukaan dan menjaga agar tidak kolaps) dan gangguan toraks atau keadaan paru sendiri. Recoil adalah kemampuan mengeluarkan CO2 atau kontraksi atau menyempitkan paru. Proses ventilasi dipengaruhi oleh medula oblongata (sebagai pusat pernapasan) dan pons. Peningkatan CO2 dalam batas 60 mmHg dapat dengan baik merangsang pusat pernapasan dan bila pCO2 kurang dari atau sama dengan 80 mmHg dapat menyebabkan depresi pusat pernapasan. 2. Difusi Gas Merupakan pertukaran antara oksigen alveoli dengan kapiler paru dan CO2 kapiler dengan alveoli. Proses pertukaran ini dipengaruhi oleh luasnya permukaan paru, tebal membran respirasi/ permeabilitas,

12

perbedaan tekanan dan konsentrasi O2 dan afinitas gas (kemampuan menembus dan saling mengikat Hb. 3. Transportasi Gas Merupakan transportasi antara O2 kapiler ke jaringan tubuh dan CO2 jaringan tubuh ke kapiler. Dalam proses ini, O2 berikatan dengan Hb membentuk Oksihemoglobin (97%) dan larut dalam plasma (30%). Kemudian CO2 berikatan dengan Hb membentuk karbominohemoglobin (30%) dan larut dalam plasma (5%) dan sebagian HCO3 dalam darah (60%). Transportasi dipengaruhi oleh curah jantung, kondisi pembuluh darah, latihan/ olahraga, hematokrit, eritrosit, dan Hb.

2.1.3 Sistem Pernapasan Saat Lahir Sistem pernapasan pada saat lahir, khususnya jumlah bronkiolus dan alveoli belum lengakap dan akan meningkat sampau masa pubertas. Saat lahir memiliki sedikit otot polos hingga usia 4-5 bulan otot cukup imtul mekanisme respons terhadap adanya alergen. Pada usia 1 tahun kemampuan menghadapi respon alergi mulai baik seperti dewasa. Ketika pernapasan, bradikinin menurunkan tahanan vaskuler dan aliran paru meningkat agar alveoli dapat berkembang. Pada umumnya, masa bayi sering terjadi gangguan pernapasan karena bayi bernapas dari hidung dan obstruksi saluran napas dapat terjadi kecuali saluran nasalnya utuh dan diberikan napas buatan, karena iga neonatus hampir horisontal dan laring bayi terletak dekat kepala dibandingkan dengan kehidupan selanjutnya. Sehingga refleks laringeal sangat aktif dan epiglotis lebih panjang, karena glotik terletak di vertebra servikalis 3 dan 4 (Saccharin, 1986 dalam Alimul, 2006). 2.2 Gangguan Sistem Respirasi pada Anak Penyakit saluran pernapasan merupakan salah satu penyebab kesakitan dan kematian pada anak, terutama pada bayi, karena saluran napasnya masih sempit dan daya tahan masih rendah. Gangguan pernapasan pada bayi dan anak dapat disebabkan oleh berbagai kelainan organik, trauma, alergi, infeksi, dan lain-lain. Gangguan dapat terjadi sejak bayi baru lahir. Gangguan pernapasan yang disebabkan oleh infeksi, seperti

13

ISPA, pneumonia, bronkitis, faringitis, dan sebagainya. Sedangkan yang diakibatkan oleh alergi seperti rinitis alergi dan asma (Ngastiyah, 2005). Anak yang mengalami atau menderita penyakit kronis pada saluran pernapasan, seperti asma kronis, dapat mengakibatkan gangguan pada tumbuh kembang dan pendidikan anak, serta anak juga dapat menderita stres yang berkepanjangan akibat dari penyakitnya. 2.3 Konsep Penyakit Asma 2.3.1 Definisi Asthma disebut juga sebagai reactive airway disease (RAD), merupakan penyakit obstruksi pada jalan napas reversibel, yang biasanya ditandai dengan spasme pada bronkus, inflamasi, dan peningkatan responsi jalan napas terhadap stimulan (Suriadi & Yuliani, 2001). Asma adalah suatu penyakit radang pada jalan napas kronik yang ditandai dengan berbagai obstruksi pada jalan napas yang bersifat reversibel, hiperresponsif jalan napas, dan peradangan pada bronkus (Brough et al, 2008). Asma ialah penyakit paru dengan ciri khas saluran napas sangat mudah bereaksi terhadap berbagai rangsangan atau pencetus dengan manifestasi berupa serangan asma (sesak napas ekspiratoir yang paroksismal berulang-ulang dengan mengi dan batuk akibat bronkospasme, inflamasi mukosa bronkus, dan produksi lendir kental yang berlebihan (Ngastiyah, 2005).

2.3.2 Etiologi Penyebab asma sebenarnya masih belum jelas. Diduga karena adanya reaksi berlebihan dari trakea dan bronkus, dengan sebab yang belum jelas. Selain itu adanya hambatan dari sebagian sistem adrenergik, kurangnya enzim adenisiklase dan meningginya tonus sistem parasimpatis, sehingga memudahkan kelebihan tonus parasimpatis akibat rangsangan yang berefek pada spasme bronkus (Ngastiyah, 2005). Pada faktor genetik, dengan riwayat keluarga yang asma atau atopi terjadi kecenderungan Limfosit T yang mendorong produksi IgE bila terpajan dengan alergen (Brough et al, 2008).

14

Berikut ini faktor pencetus terjadinya serangan asma menurut Ngastiyah (2005), diantaranya: 1. Alergen Bayi dan anak kecil sering dihubungkan dengan isi dari debu rumah, misalnya tungau, bulu binatang, spora jamur yang ada di rumah, atau makanan. Semakin bertambahnya usia, semakin banyak jenis alergen pencetusnya. 2. Infeksi Biasanya infeksi virus, terutama pada bayi dan anak. Seperti virus respiratory syncytial virus (RSV) dan parainfluenza, atau bakteri pertusis, streptokokus, jamur, aspergillus, dan parasit seperti askaris. Selain itu, infeksi virus pada sinus (sinusitis akut maupun kronis), serta rinitis alergi. 3. Iritan Hairspray, minyak wangi, obat semprot nyamuk, asap rokok, bau tajam dari cat, SO2, dan polutan udara lainnya, iritasi hidung serta batuk sendiri dapat menimbulkan efek konstriksi pada bronkus. 4. Cuaca Perubahan tekanan udara, suhu udara, angin, dan kelembaban udara. 5. Kegiatan jasmani Adanya kegiatan jasmani yang berat, seperti berlari, naik sepeda, tertawa atau menangis berlebihan. 6. Faktor psikis Tidak adanya perhatian dan atau tidak mau mengakui persoalan yang berhubungan dengan asma oleh anak sendiri/keluarganya akan menggagalkan usaha pencegahan. Ataupun sebaliknya, bila terlalu takut terhadap serangan atau hari depan anak, juga akan memperberat serangan asma. 7. Refluks gastrointestinal (Mansjoer, 2000)

15

2.3.3 Faktor Resiko Kondisi atau faktor-faktor dibawah ini dapat dihubungan dengan asma (Brough et al, 2008), seperti: 1. Eksema 2. Rinitis alergi 3. Riwayat keluarga atopi 4. CLD (Chronic Lung Disease) akibat prematuritas 5. Hiperreaktivitas sebelumnya 6. Bayi kurang bulan 7. Hipotesis hygiene, pemajanan produk-produk mikroba pada masa bayi membantu memindahkan hiperreaktivitas sel mast.

16

2.3.4 Patofisiologi dan Pohon Masalah


Pajanan faktor pencetus (alergen, infeksi, iritan, cuaca, kegiatan jasmani, psikis, refluks gastrointestinal) Mempengaruhi sistem imun oleh makrofag Aktivasi sel CD4 (T helper) Produksi sitokin-sitokin (IL-2, interferon, IL-4, IL-5, IL-8)

IL-5 dan IL-8 Kemotaksis dan aktivasi eosinofil dan neutrofil

Aktivasi sel inflamasi (limfosit B, PMN, eosinofil, makrofag) Sel B menghasilkan IgE yang melekat ke reseptor pada sel mast Degranulasi sel mast Melepas mediator peradangan (histamin, leukotrien, prostaglandin, sel kemotaktans, bradikinin) Inflamasi jalan napas berat Bronkokonstriksi, sekresi mukus berlebih, edema bronkus Obstruksi jalan napas

Mengubah fungsi reseptor muskarinik Peningkatan kadar asetilkolin Kontraksi otot polos bronkus dan sekresi mukus

Ketidakefektifan bersihan jalan napas

17

Inflamasi jalan napas berat Tidak ditangani dengan baik Deskuamasi epitel dan fibrosis jangka panjang Meningkatnya hiperresponsivitas bronkus Timbulnya jaringan parut pada jalan napas Obstruksi jalan napas permanen (remodeling jalan napas)

Bronkokonstriksi, sekresi mukus berlebih, edema bronkus Merangsang refleks batuk Batuk berlebih Penekanan pada pleura Nyeri pleuritik Nyeri akut Peningkatan tahanan jalan napas Hiperinflasi

Obstruksi jalan napas

Penurunan komplians paru Udara terperangkap Udara diserap oleh darah

Perubahan status kesehatan Hospitalisasi pada anak Kurang informasi tentang penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan Kurang pengetahuan (ortu)

Peningkatan ruang hampa Hipoventilasi alveolar Hipoksemia Suplai O2 ke jaringan menurun Jaringan paru yang lentur akan kolaps Atelektasis Gangguan pertukaran gas

Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2 Perubahan metabolisme aerob menjadi anaerob

Hiperkapnea Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer Ansietas Kompensasi bernapas cepat dan dalam Dispneu yang memberat PCO2 sangat tinggi Perangsangan sistem aktivasi retikular

Perut berkontraksi kuat mendorong diafragma Gaster ikut tertekan

Energi yang dihasilkan menurun Kelemahan

Peningkatan frekuensi napas

Mengiritasi nervus vagal Intoleran aktivitas

18

Mengiritasi nervus vagal Merangsang pusat mual Mual Mual dan atau muntah

Perangsangan sistem aktivasi retikular Terjaga Penurunan nafsu makan Susah tidur Anoreksia Insomnia Intake tidak adekuat Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh

PCO2 sangat tinggi Menekan pernapasan Distres pernapasan Resiko tinggi kematian

Obstruksi jalan napas permanen (remodeling jalan napas) Penyakit kronis Resiko keterlambatan perkembangan Resiko pertumbuhan tidak proporsional

19

2.3.5 Manifestasi Klinis Manifestasi asma umum yang timbul pada anak menurut Suriadi & Yuliani (2001) yaitu: 1. Wheezing 2. Dispnea dengan lama ekspirasi, penggunaan otot-otot aksesori pernapasan, cuping hidung, retraksi dada, dan stridor. 3. Batuk kering (non produktif) karena sekret yang kental dan lumen jalan napas yang sempit. 4. Takipnea, ortopnea 5. Gelisah 6. Diaforesis 7. Nyeri abdomen akibat terlibatnya otot abdomen dalam pernapasan 8. Fatigue 9. Tidak toleran terhadap aktivitas: makan, bermain, berjalan, bahkan bicara. 10. Kecemasan, labil, dan perubahan tingkat kesadaran 11. Barrel chest 12. Serangan yang tiba-tiba atau berangsur-angsur Apabila berdasarkan serangan dan umurnya, Ngastiyah (2005) membagi gejala asma pada anak menjadi: 1. Asma episodik yang jarang Biasanya terjadi pada anak usia 38 tahun. Serangan dicetuskan oleh infeksi virus saluran napas bagian atas. Umumnya serangan sekitar 3-4 kali dalam setahun dengan lama serangan beberapa hari dan jarang merupakan serangan yang berat. Gejala yang muncul menonjol pada malam hari. Mengi dapat berlangsung kurang dari 4 hari, namun batukbatuknya dapat berlangsung 10-14 hari. Pada asma ini tumbuh kembang anak biasanya baik. Termasuk 70-75% dari populasi asma anak. 2. Asma episodik sering Dua pertiga golongan asma ini pertama terjadi sebelum usia 3 tahun. Permulaan serangan berhubungan dengan infeksi saluran napas akut. Sedangkan pada usia 5-6 tahun dapat terjadi serangan tanpa infeksi yang jelas. Biasanya orang tua menghubungkan dengan adanya

20

perubahan udara, alergen, aktivitas fisik, dan stres. Frekuensi serangan 3-4 kali dalam setahun dengan lama serangan bebrapa hari sampai minggu. Frekuensi serangan paling tinggi pada usia 8-13 tahun. Umumnya gejala paling jelek pada malam hari dengan batuk dan mengi yang mengganggu tidur anak. Gangguan perkembangan jarang terjadi. Termasuk 20% dari populasi asma anak. 3. Asma kronik atau persisten Sekitar 25% anak pada kasus ini serangan pertama terjadi pada usia sebelum 6 bulan dan 75% sebelum usia 3 bulan. Lebih dari 50% anak terdapat mengi yang lama pada 2 tahun pertama dan sisanya serangan episodik. Pada usia 5-6 tahun akan lebih jelas terjadinya obstruksi

saluran napas yang persisten dan hampir selalu terdapat mengi setiap hari, sedangkan malam harinya terganggu oleh batuk dan mengi. Aktivitas fisik dapat menyebabkan mengi. Terjadi serangan yang berat dan butuh perawatan dirumah sakit.Puncak obstruksi jalan napas terjadi pada usia 8-14 tahun, kemudian mengalami perubahan yang umumnya membaik. Pada asma kronik dapat terjadi perubahan bentuk dada seperti pigeon chest dan barrel chest. Dapat terjadi gangguan pertumbuhan yakni bertubuh kecil. Kemampuan fisik kurang sekali, sering tidak dapat berolahraga dan kegiatan fisik lainnya, sering tidak masuk sekolah, dan sebagian kecil ada yang mengalami gangguan psikososial.

2.3.6 Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada anak dengan asma menurut Suriadi & Yuliani (2001) dan Ngastiyah (2005), diantaranya: 1. Foto rontgen, diperlukan untuk menyingkirkan pneumotoraks pada kasus yang berat. Pada asma yang telah kronis akan ditemukan gambaran foto hiperinflasi atau atelektasis. 2. Pemeriksaan fungsi paru, menurunnya volume tidal, kapasitas vital, eosinofil biasanya meningkat di dalam darah dan sputum. 3. Pemeriksaan alergi (RAST; radioallergosorbent test). 4. Analisa gas darah.

21

5. Peak flow meter, dengan cara anak disuruh meniup flow meter beberapa kali (sebelumnya menarik napas dalam melalui mulut kemudian menghembuskan dengan kuat) dan catat hasil terbaik.

2.3.7 Penatalaksanaan Serangan asma pada anak harus ditangani dengan cepat dan tepat. Berikut ini tujuan penatalaksanaan asma berdasarkan Pedoman

Pengendalian Penyakit Asma Depkes RI Tahun 2009: 1. Menghilangkan dan mengendalikan gejala asma, 2. Mencegah eksaserbasi akut, 3. Meningkatkan dan mempertahankan faal paru seoptimal mungkin, 4. Mengupayakan aktivitas normal termasuk latihan fisik, 5. Menghindari efek samping obat, 6. Mencegah terjadinya keterbatasan aliran udara (airflow limitation) ireversibel, 7. Mencegah kematian karena asma, 8. Khusus anak, untuk mempertahankan tumbuh kembang anak sesuai potensi genetiknya. Pada prinsip penatalaksanaan asma diklasifikasikan menjadi 2, yaitu penatalaksanaan serangan akut dan penatalaksanaan jangka panjang (Depkes RI, 2009). Berikut ini penatalaksanaan asma pada anak: 1. Penatalaksanaan serangan akut Penatalaksanaan sebaiknya dilakukan oleh anak atau keluarganya dirumah (lihat Bagan 2.1) dan apabila tidak ada perbaikan segera ke fasilitas pelayanan kesehatan. Penanganan asma harus secepat mungkin. Pada serangan asma obat-obatan yang digunakan adalah bronkodilator (beta 2 agonis kerja cepat dan ipatropium bromida) atau kortikosteroid sistemik. Pada serangan yang ringan hanya digunakan beta 2 agonis kerja cepat dalam bentuk inhalasi. Bila tidak memungkinkan dapat diberikan secara sistemik. Apabila anak dibawa ke pelayanan kesehatan (klinik/ gawat darurat) dapat mengacu pada tatalaksana pada Bagan 2.2.

22

Bagan 2.1

Penatalaksanaan Serangan Asma di Rumah Penilaian berat serangan

Klinis : Gejala (batuk, sesak, mengi, dada terasa berat) yang bertambah APE, 80% nilai terbaik/prediksi Terapi awal Inhalasi agonis beta-2 kerja singkat (setiap 20 menit, 3 kali dalam 1 jam), atau bronkodilator oral

Respon baik Gejala (batuk/berdahak/sesak/mengi) membaik Perbaikan dengan agonis beta-2 & bertahan selama 4 jam, APE 80% nilai terbaik/prediksi

Respon buruk Gejala menetap atau

bertambah berat APE < 60% nilai

terbaik/prediksi 1. Tambahkan steroid oral 2. Agonis beta-2 diulang Lanjutkan agonis beta-2 inhalasi setiap 3-4 jam untuk 24-48 jam Alternatif : bronkodilator oral setiap 6-8 jam Steroid inhalasi diteruskan dengan dosis tinggi (bila sedang menggunakan steroid inhalasi) selama 2 minggu, kemudian kembali ke dosis sebelumnya. Segera Hubungi dokter untuk istruksi selanjutnya Ke Dokter/ IGD/ RS kortiko

Sumber :

PDPI, Asma. Pedoman & Penatalaksanaan di Indonesia, 2004 dalam Depkes RI, 2009

23

Bagan 2.2

Alur Tatalaksana Serangan Asma pada Anak Klinik / IGD

Nilai derajat serangan

Tatalaksana awal 1. Nebulisasi beta agonis 1-3x, selang 20 menit 2. Nebulisasi ketiga + antikolinergik 3. Jika serangan berat, nebulisasi 1 x (+antikolonergik)

Serangan ringan (nebulisasi 1-3x, respon baik, gejala hilang) 1. Observasi 2 jam 2. Jika efek bertahan, boleh pulang 3. Jika gejala timbul lagi, perlakukan sebagai serangan sedang

Serangan sedang (nebulisasi 1-3x, respon parsial) 1. Berikan oksigen 2. Nilai kembali derajat serangan, jika sesuai dengan serangan sedang, observasi di Ruang Rawat Sehari/ observasi 3. Pasang jalur parenteral

Serangan berat (nebulisasi 3x, respon buruk) 1. Sejak awal berikan O2 saat/ diluar nebulisasi 2. Pasang jalur parenteral 3. Nilai ulang klinisnya, jika sesuai dengan serangan berat, rawat di Ruang Rawat Inap 4. Foto rontgen toraks

Boleh pulang: 1. Bekali obat betaagonis (hirupan/ oral) 2. Jika sudah ada obat pengendali, teruskan 3. Jika infeksi virus sebagai pencetus, dapat dibberi steroid oral 4. Dalam 24-48 jam kontrol ke klinik rawat jalan, untuk reevaluasi

Ruang rawat sehari/ observasi: 1. Oksigen teruskan 2. Berikan steroid oral 3. Nebulisasi tiap 2 jam 4. Bila dalam 12 jam perbaikan klinis stabil, boleh pulang, tetapi jika klinis tetap belum membaik atau memburuk, alih rawat ke Ruang Rawat Inap

Ruang Rawat Inap: 1. Oksigen teruskan 2. Atasi dehidrasi dan asidosisnya jika ada 3. Steroid IV tiap 6-8 jam 4. Nebulisasi tiap 1-2 jam 5. Aminofilin IV awal, lanjutkan rumatan 6. Jika membaik dalam 46x nebulisasi, interval jadi 4-6 jam 7. Jika dalam 24 jam perbaikan klinis stabil, boleh pulang 8. Jika dengan steroid dan aminofilin parenteral tidak membaik, bahkan timbul ancaman henti napas, alih ke Rawat Inap Intensif

24

Catatan Bagan 2.2: (1) Jika menurut penilaian serangannya berat, nebulisasi cukup 1x langsung dengan beta-agonis + antikolinergik (2) Bila terdapat tanda ancaman bahaya henti napas segera ke Ruang Rawat Intensif (3) Jika tidak ada alatnya, nebulisasi dapat diganti dengan adrenalin subkutan 0,01ml/kgBB/kali maksimal 0,3ml/kali (4) Untuk serangan sedang dan terutama berat, oksigen 2-4 L/menit diberikan sejak awal, termasuk saat nebulisasi

2. Penatalaksanaan jangka panjang

Prinsip penatalaksanaan jangka panjang adalah: 1) Edukasi (1) Kapan pasien berobat/ mencari pertolongan (2) Mengenali gejala serangan asma secara dini (3) Mengetahui obat-obat pelega dan pengontrol serta cara dan waktu penggunaannya (4) Mengenali dan menghindari faktor pencetus (5) Kontrol teratur 2) Obat asma (pengontrol dan pelega) Obat asma yang digunakan sebagai pengontrol (anti inflamasi) antara lain: (1) Inhalasi kortikosteroid (2) Beta 2 agonis kerja panjang (3) Antileukotrien (4) Teofilin lepas lambat Sedangkan obat pelega (bronkodilator) yang digunakan antara lain: (1) Beta 2 agonis kerja cepat (2) Antikolinergik (3) Metilsantin (4) Kortikosteroid sistemik 3) Menjaga kebugaran Agar prinsip pengobatan dapat dievaluasi dan mencapai hasil yang maksimal, perlu diikuti alur penatalaksanaan asma jangka panjang

25

berdasarkan Pedoman Pengendalian Penyakit Asma Depkes RI Tahun 2009 yang dapat dilihat pada Bagan 2.3.
Bagan 2.3 Alur Tatalaksana Asma Jangka Panjang Obat pereda : Beta 2 agonis atau teofilin (hirupan atau oral) bila perlu 3-4 minggu, obat dosis/minggu : Asma episodik sering

Asma episodik Jarang

> 3x

< 3x P

Tambahkan obat pengendali: Kortikosteroid hirupan dosis rendah E

6-8 minggu, respon:

(-)

(+)

Asma persisten

Pertimbangkan salah satu obat :

alternatif

penambahan

G H

1. Beta agonis kerja panjang (LABA) 2. Teofilin lepas lambat 3. Antileukotrien 4. Atau dosis kortikosteroid ditingkatkan (medium)

6-8 minggu, respon:

(-)

(+)

D A

Kortikosteroid dosis medium ditambahkan salah satu obat: 1. Beta agonis kerja panjang (LABA) 2. Teofilin lepas lambat 3. Antileukotrien 4. Atau dosis kortikosteroid ditingkatkan (tinggi)

6-8 minggu, respon:

(-)

(+)

Obat diganti kortikosteroid oral Sumber : Pedoman Pengendalian Penyakit Asma Depkes RI Tahun 2009

26

2.3.8 Komplikasi Apabila asma pada anak tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Berikut ini komplikasi yang dapat terjadi pada anak yang menderita asma (Suriadi&Yuliani, 2001 dan Brough et al, 2008), yaitu: 1. Retardasi pertumbuhan karena penyakit atau pengobatan dengan steroid 2. Deformitas dinding dada 3. Infeksi berulang 4. Status asmatikus yang dapat mengancam jiwa. 5. Gangguan keseimbangan asam basa dan gagal napas 6. Chronic persistent bronchitis 7. Bronchiolitis 8. Pneumonia 9. Emphysema

2.3.9 Pencegahan Mengingat berbagai bahaya yang dapat disebabkan oleh asma, penanganan terbaik adalah dengan mencegah serangan asma tersebut agar serangan tidak terjadi. Serangan asma dapat dicegah dengan menghindari faktor pencetus dan menggunakan obat-obatan atau tindakan untuk meredakan atau mengurangi reaksi-reaksi yang akan atau sudah timbul. Dibawah ini beberapa tindakan menurut Ngastiyah (2005) yang dapat dilakukan untuk mencegah serangan asma, diantaranya: 1. Menghindari pencetus (1) Bila pencetusnya berupa debu, kasur tempat tidur sebaiknya dimasukkan kedalam kantong vinil yang rapat agar debu tidak dapat masuk atau kapuk tidak keluar. Bisa menggunakan kasur dari busa yang dibungkus vinil. (2) Sprei, tirai, selimut dan sarung dicuci sekurang-kurangnya 2 kali seminggu. (3) Perabotan rumah dibersihkan dengan lap basah (4) Lantai dibersihkan dan dipel setiap hari (5) Sebaiknya tidak menggunakan karpet

27

(6) Lebih baik tidak memelihara hewan (7) Simpan buku diluar kamar tidur anak (8) Apabila pencetusnya makanan, hindari jenis makanannya. Bila belum diketahui, anak jangan makan cokelat, kacang tanah, makanan yang mengandung pengawet atau pewarna makanan. (9) Hindati pencetus-pencetus lainnya 2. Kegiatan fisik Kegiatan fisik tidak dilarang, namun perlu diatur dan diawasi dengan cara: (1) Menambah toleransi secara bertahap, menghindari percepatan gerak secara bertahap. (2) Bila mulai batuk, segera beristirahat, minum air, dan setelah tidak batuk, bisa dilanjutkan. (3) Adakalanya minum obat atau menghirup aerosol terlebih dahulu sebelum beraktivitas fisik. 3. Obat asma pada anak (pada saat serangan atau pencegahan) Obat-obatan pencegahan harus terus diberikan walaupun sedang tidak dalam serangan, seperti bronkodilator dan kortikosteroid sesuai indikasi dokter. 2.4 Konsep Asuhan Keperawatan 2.4.1 Pengkajian 1. Identitas klien Pengajian mengenai nama, umur dan jenis kelamin perlu di kaji pada penyakit status asthmatikus. Serangan asthma pada usia dini memberikan implikasi bahwa sangat mungkin terdapat status atopi. Pendidikan serta suku bangsa perlu juga dikaji untuk mengetahui adanya pemaparan bahan alergen. 2. Keluhan utama Salah satu keluhan utama klien adalah sesak napas atau kesulitan bernapas. 3. Riwayat penyakit sekarang Klien dengan serangan asthma datang mencari pertolongan dengan keluhan, terutama sesak napas yang hebat dan mendadak kemudian

28

diikuti dengan gejala-gejala lain, seperti Wheezing, Penggunaan otot bantu pernapasan, Kelelahan, gangguan kesadaran, Sianosis serta perubahan tekanan darah. Perlu juga dikaji kondisi awal terjadinya serangan. 4. Riwayat penyakit dahulu Penyakit yang pernah diderita pada masa-masa dahulu seperti infeksi saluran napas atas, sakit tenggorokan, amandel, sinusitis, polip hidung. Riwayat serangan asthma frekuensi, waktu, alergen-alergen yang dicurigai sebagai pencetus serangan serta riwayat pengobatan yang dilakukan untuk meringankan gejala asthma. 5. Riwayat kesehatan keluarga Pada klien dengan serangan asthma perlu dikaji tentang riwayat penyakit asthma atau penyakit alergi yang lain pada anggota keluarganya karena hipersensitifitas pada penyakit asthma ini lebih ditentukan oleh faktor genetik oleh lingkungan 6. Riwayat psikososial Gangguan emosional sering dipandang sebagai salah satu pencetus bagi serangan asthma baik ganguan itu berasal dari lingkungan rumah, lingkungan sekitar sampai lingkungan pendidikan. 7. Riwayat kesehatan lingkungan Alamat menggambarkan kondisi lingkungan tempat klien berada, dapat mengetahui kemungkinan faktor pencetus serangan asthma. 8. Pola fungsi kesehatan 1) Pola resepsi dan tata laksana hidup sehat Gejala asthma dapat membatasi manusia untuk berperilaku hidup normal sehingga klien dengan asthma harus merubah gaya hidupnya sesuai kondisi yang memungkinkan tidak terjadi serangan asthma. 2) Pola nutrisi dan metabolisme Perlu dikaji tentang status nutrisi klien meliputi, jumlah, frekuensi, dan kesulitan-kesulitan dalam memenuhi kebutuhannya. Serta pada klien sesak, potensial sekali terjadinya kekurangan dalam

memenuhi kebutuhan nutrisi, hal ini karena dipsnea saat makan, laju metabolisme serta ansietas yang dialami klien.

29

3) Pola eliminasi Perlu dikaji tentang kebiasaan BAB dan BAK mencakup warna bentuk, kosentrasi, frekuensi, jumlah serta kesulitan dalam

melaksanakannya. 4) Pola tidur dan istirahat Perlu dikaji tentang bagaimana tidur dan istirahat klien meliputi

berapa lama klien tidur dan istirahat. Serta berapa besar akibat kelelahan yang dialami klien. Adanya wheezing, sesak dan ortopnea dapat mempengaruhi pola tidur dan istirahat klien. 5) Pola aktifitas dan latihan Perlu dikaji tentang aktifitas keseharian klien seperti olah raga,

bekerja dan aktifitas lainnya. Aktifitas fisik dapat terjadi faktor pencetus terjadinya asthma yang disebut dengan Excercise Induced Asthma. Perlu juga dikaji aktivitas bermain anak. 9. Pemeriksaan fisik 1) Status kesehatan umum Perlu dikaji tentang kesadaran klien, kecemasan, gelisah,

kelemahan suara bicara, tekanan darah nadi, frekuensi pernapasan yang meningkatan, penggunaan otot-otot pembantu pernapasan sianosis batuk dengan lendir lengket dan posisi istirahat klien. Pengukuran TB, BB, PB, lingkar kepala, lingkar lengan, lingkar dada. 2) Integumen Dikaji adanya permukaan yang kasar, kering, kelainan pigmentasi, turgor kulit, kelembapan, mengelupas atau bersisik, perdarahan, pruritus, ensim, serta adanya bekas atau tanda urtikaria atau dermatitis pada rambut di kaji warna rambut, kelembaban dan kusam. 3) Kepala Dikaji tentang bentuk kepala, simetris adanya penonjolan, riwayat trauma, adanya keluhan sakit kepala atau pusing, vertigo kelang ataupun hilang kesadaran.

30

4) Mata Adanya penurunan ketajaman penglihatan akan menambah stres yang di rasakan klien. Serta riwayat penyakit mata lainya. 5) Hidung Adanya pernafasan menggunakan cuping hidung, rinitis alergi dan fungsi olfaktori. 6) Mulut dan laring Dikaji adanya perdarahan pada gusi. Gangguan rasa menelan dan mengunyah, dan sakit pada tenggorok serta sesak atau perubahan suara. 7) Leher Dikaji adanya nyeri leher, kaku pada pergerakaan, pembesaran tiroid serta penggunaan otot-otot pernafasan. 8) Thorak (1) Inspeksi Dada di inspeksi terutama postur bentuk dan kesemetrisan adanya peningkatan diameter anteroposterior, retraksi otot-otot Interkostalis, sifat dan irama pernafasan serta frekuensi pernafasan. (2) Palpasi Pada palpasi di kaji tentang kesimetrisan, ekspansi dan taktil fremitus. (3) Perkusi Pada perkusi didapatkan suara normal sampai hipersonor sedangkan diafragma menjadi datar dan rendah. (4) Auskultasi Terdapat suara vesikuler yang meningkat disertai dengan expirasi lebih dari 4 detik atau lebih dari 3x inspirasi, dengan bunyi pernafasan dan wheezing. 9) Kardiovaskuler Jantung di kaji adanya pembesaran jantung atau tidak, bising nafas dan hiperinflasi suara jantung melemah. Tekanan darah dan nadi yang meningkat serta adanya pulsus paradoksus.

31

10) Abdomen dan anus Perlu di kaji tentang bentuk, turgor, nyeri, serta tanda-tanda infeksi karena dapat merangsang serangan asthma, frekuensi pernafasan, serta adanya konstipasi karena dapat nutrisi. Pemeriksaan rektal 11) Urogenitalia Genetalia eksterna, pengkajian edema, iritasi, lesi, kesimetrisan skrotum dan testis, meatus uretra. 12) Ekstrimitas Di kaji adanya edema extremitas, tremor dan tanda-tanda infeksi pada extremitas karena dapat merangsang serangan asthma. 10. Refleks Rooting, menghisap, moro, tonus leher, berjalan atau melangkah, babinski, mata boneka, memegang atau menggenggam, 11. Riwayat Tumbuh Kembang Digunakan untuk deteksi dini penyimpangan perkembangan anak yang berusia kurang dari 6 tahun, namun tidak bisa dilakukan bila anak dalam kondisi sakit dan dilakukan pada saat anak tidak mengalami serangan, yang terbagi dalam 4 sektor, diantaranya: 1) Personal social (perilaku sosial) 2) Fine motor adaptive (gerakan motorik halus) 3) Language (bahasa) 4) Gross motor (gerak motorik kasar) 12. Pengkajian keluarga Pengkajian anggota keluarga, pola komunikasi, pola interaksi,

pendidikan dan pekerjaan, kebudayaan dan keyakinan, serta fungsi keluarga dan hubungan.

2.4.2 Diagnosa Keperawatan Berikut ini diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada kasus asma pada anak, diantaranya: 1) Ketidakefektifan bersihan jalan napas (berhubungan dengan obstruksi jalan napas) 2) Gangguan pertukaran gas (berhubungan dengan ventilasi-perfusi perubahan membran alveolar kapiler: hipoventilasi alveolar)

32

3) Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer (berhubungan dengan proses penyakit: penurunan suplai O2 ke jaringan) 4) Nyeri akut (berhubungan dengan agen cedera: penekanan pleura) 5) Mual (berhubungan dengan iritasi lambung, nyeri, gangguan biokimia, ansietas) 6) Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh (berhubungan dengan faktor psikologis, biologis: penurunan nafsu makan) 7) Intoleran aktivitas (berhubungan dengan kelemahan,

ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen) 8) Insomnia (berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik: napas pendek, sesak, nyeri, stres) 9) Ansietas (keluarga berhubungan dengan perubahan status kesehatan anaknya) 10) Resiko pertumbuhan tidak proporsional (berhubungan dengan faktor individu: anoreksia, penyakit kronis, malnutrisi) 11) Resiko keterlambatan perkembangan (berhubungan dengan faktor individual: penyakit kronis, nutrisi yang tidak adekuat)

33

2.4.3 Nursing Care Plan No 1 Diagnosa Keperawatan Tujuan/ NOC Intervensi/ NIC NIC : Airway Management

Ketidakefektifan bersihan jalan Kriteria Hasil : nafas

1. Status jalan napas : patensi jalan 1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan potensi napas 2. Status jalan napas : Ventilasi Tambahan hasil yang terkait : 1. Respon alergi 2. Level anxietas 3. Management-self asma 4. Cognitive 5. Daya tahan 6. Level fatigue 7. Status neurologic 8. Pasca prosedur pemulihan 9. Status respirasi 10. Status respirasi : pertukaran gas ventilasi. 2. Mengidentifikasi pasien yang membutuhkan

aktual / potensial penyisipan saluran napas 3. Melakukan terapi fisik dada, yang sesuai 4. Menghilangkan sekresi melalui dorongan batuk atau suction 5. Menggunakan teknik yang menyenangkan untuk mendorong pernapasan dalam untuk anak-anak (misalnya, gelembung peluit, pukulan dengan gelembung

blower; pukulan pada Pinwheel, balon, blower partai;

harmonika,

menggunakan bola ping-pong, bulu) 6. Menginstruksikan cara batuk yang efektif

11. Pengobatan perilaku : sakit atau 7. Membantu dengan spirometer insentif yang injury 12. Tanda tanda vital sesuai

34

8. Auskultasi bunyi napas, daerah yang tidak ada ventilasi berkurang atau tidak ada, dan adanya suara yang adventif. 9. Mengelola bronkodilator, yang sesuai. 10. Mengajarkan keluarga pasien bagaimana

menggunakan inhaler yang diresepkan, yang sesuai. 11. Mengelola perawatan aerosol, yang sesuai. 12. Mengelola perawatan nebulizer ultrasonic, yang sesuai. 13. Mengelola yang udara lembab atau oksigen, yang sesuai. 14. Mengatur asupan cairan untuk mengoptimalkan keseimbangan cairan. 15. Posisikan untuk meringankan dyspnea. 16. Pemantauan pernapasan dan status oksigenasi, yang sesuai. 2 Ketidakseimbangan nutrisi: Setelah dilakukan tindakan Nutrition Monitoring

kurang dari kebutuhan tubuh

keperawatan selama 3 x 24 jam status 1. Monitor adanya penurunan berat badan nutrisi: intake nutrient pasien adekuat 2. Monitor lingkungan selama makan

35

dengan

indikator

NOC

(Nutritional 3. Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi

Status: Nutrient Intake) bernilai 3-5 4. Monitor turgor kulit pada: 1. intake kalori 2. intake protein 3. intake lemak 4. intake karbohidrat 5. intake vitamn 6. intake mineral 7. intake zat besi 8. intake kalsium 5. Monitor kekeringan, rambut kusam, total protein, Hb dan kadar Ht 6. Monitor kalori dan intake nutrisi Nutrition Management 7. Kaji adanya alergi makanan 8. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien. 9. Anjurkan klien untuk meningkatkan intake Fe. 10. Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C 11. Berikan subtansi gula 12. Berikan makanan yang terpilih (sudah

dikonsultasikan dengan ahli gizi) 13. Ajarkan klien bagaimana membuat catatan makanan harian. 14. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori 15. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi

36

2.4.4 Implementasi Implementasi merupakan pelaksanaan perencanaan keperawatan oleh perawat. Seperti tahap-tahap yang lain dalam proses keperawatan, fase pelaksanaan terdiri dari beberapa kegiatan antara lain : 1. Validasi (pengesahan) rencana keperawatan 2. Menulis/ mendokumentasikan rencana keperawatan 3. Memberikan asuhan keperawatan 4. Melanjutkan pengumpulan data

2.4.5 Evaluasi Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan yang merupakan kegiatan sengaja dan terus menerus yang melibatkan klien perawat dan anggota tim kesehatan lainnya. Tujuan evaluasi adalah : 1. Untuk menilai apakah tujuan dalam rencana perawatan tercapai atau tidak 2. Untuk melakukan pengkajian ulang Untuk dapat menilai apakah tujuan ini tercapai atau tidak dapat dibuktikan dengan perilaku klien : 1. Tujuan tercapai jika klien mampu menunjukkan perilaku sesuai dengan pernyataan tujuan pada waktu atau tanggal yang telah ditentukan 2. Tujuan tercapai sebagian jika klien telah mampu menunjukkan perilaku, tetapi tidak seluruhnya sesuai dengan pernyataan tujuan yang telah ditentukan 3. Tujuan tidak tercapai jika klien tidak mampu atau tidak mau sama sekali menunjukkan perilaku yang telah ditentukan

37

BAB III TINJAUAN KASUS

3.1 Pengkajian 3.1.1 Biodata 1. Identitas klien Nama No. RM Umur Jenis kelamin Jenis persalinan Tanggal lahir Alamat Diagnosa medis Tanggal MRS : An. L : 081641642643 : 8 thn : perempuan : spontan : 17 Desember 2001 : Ambulu : Asma Episodik Sering Serangan Sedang : 20 Juli 2009 Jam : 06.00 Jam : 08.00

Tanggal pengkajian : 20 Juli 2009 2. Identitas orang tua/ penanggung jawab Nama ibu Umur Agama : Ny. U : 30 thn : Islam

Nama ayah Umur Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat

: Tn. S : 35 thn : Islam : SD : TKI : Ambulu

Pendidikan : SD Pekerjaan Alamat : TKW : Ambulu

3.1.2 Riwayat kesehatan klien 1. Alasan Masuk Rumah Sakit Keluarga An. L mengatakan klien mendapat serangan sesak sekitar 4 pagi didahului batuk-batuk, kemudian klien langsung dibawa ke RSUD Ngulab. Keluarga An. L mengatakan An. L sangat gelisah di rumah. 2. Riwayat Penyakit Sekarang Pada saat pengkajian, An. L mengeluh sesak, sesak yang dirasakan seperti tertindih benda berat, dirasakan terus-menerus, sesak

bertambah bila bergerak dan berkurang bila istirahat. Sesak dirasakan sejak sekitar pukul 4 pagi, sesak yang dirasakan di seluruh dada.

38

3. Keluhan Utama

: sesak

4. Riwayat Kesehatan Masa Lalu 1) Pre natal Pemeriksaan TT hamil Kelainan Obat-obatan Lain-lain 2) Intra natal Umur kehamilan BB lahir BB lahir Lama kelahiran Cara kelahiran Keadaan saat lahir : sekitar 9 bulan : 3500 gram ::: spotan ::::::-

Respirasi spontan/tidak : Resusitasi Lain-lain 3) Neonatal/postnatal Apgar score Kejang Perdarahan Kelumpuhan Gangguan eliminasi Lain-lain 4) Imunisasi BCG DPT Polio : : : keluarga mengatakan imunisasi lengkap ::::::::-

Campak : Hepatitis : DT 5) Nutrisi ASI : keluarga An. L mengatakan An. L minum ASI :

39

PASI

:-

- jenis : - lama : -jumlah: Vitamin : Makanan tambahan : Lain-lain : 5. Tumbuh kembang Tidak ada gangguan 6. Penyakit yang pernah diderita Keluarga An. L mengatakan An. L pernah menderita sesak nafas pada usia 2 tahun, pernah masuk RS sekitar 6 kali, terakhir kali masuk RS sekitar 2 minggu yang lalu, An. L biasanya jika terlalu capek atau udara dingin mendapat serangan sesak. 7. Riwayat kesehatan lingkungan Keluarga klien mengatakan tinggal di dekat sawah, rumah cukup bersih dan setiap malam udara terasa dingin karena terkena dingin dari sawah. 8. Riwayat kesehatan keluarga Keluarga klien mengatakan jika dari keluarga ibu tidak ada yang menderita asma, namun tidak tahu bila dari ayah klien. 9. Genogram

40

Keterangan : : perempuan hidup

: garis keturunan

: laki-laki hidup

: saudara

: klien

: tinggal serumah

: menikah

3.1.3 Kebutuhan dasar anak 1. Nutrisi Di rumah : biasanya dirumah klien makan makanan seperti tahu, tempe, tidak mengkonsumsi ikan, susu, buah jarang, makan 3 kali sehari dengan porsi sedang Di RS 2. Eliminasi Di rumah : BAK 6-7 x/hari, BAB 1-2 x/hari, teratur Di RS : saat pengkajian BAK masih 2 x dan belum BAB : klien menghabiskan setengah porsi makan yang diberikan.

3. Istirahat dan Tidur Di rumah : klien tidur sekitar 9-10 jam sehari Di RS : saat pengkajian, klien baru tidur 3 jam

4. Peroral Hygiene Di rumah : klien mandi 2 x/hari Di RS 5. Bermain Di rumah : keluarga klien mengatakan klien biasanya bermain dengan teman-temannya Di RS : klien tidak bermain : saat pengkajian klien hanya di seka

3.1.4 Pengkajian fisik 1. Penampilan Keadaan umum Kesadaran Tanda-tanda vital : k/u lemah, agak gelisah : composmentis : S= 37,5 C, Nadi= 142 x/menit, RR= 49 x/menit

41

2. Antropometri Lingkar kepala BB TB


Lila

:: 17 kg : 110 cm ::-

Lida 3. Pemeriksaan Fisik Kepala UUK/UUB Mata : : :

simetris, rambut hitam, lurus, agak kusam mata simetris, tidak ikterus, tidak anemis, konjungtiva merah muda, tidak terdapat luka, mata tidak cowong

Telinga Hidung

: :

simetris, tidak terdapat serumen simetris, septumnasi tepat di tengah, terdapat

pernafasan cuping hidung, tidak pilek Lidah/Bibir : lidah bersih, mukosa bibir agak kering, bibir tampak sedikit pucat, mulut tampak terbuka sedikit saat bernafas Gigi : lengkap, agak kuning tidak terdapat nyeri telan tidak terdapat pembesaran tonsil tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan

Tenggorokan : Tonsil Leher : :

pembesaran vena jugularis Thorax/paru : Inspeksi : bentuk dada simetris, pergerakan simetris,

terdapat retraksi dada Palpasi Perkusi Auskultasi Jantung Inspeksi Palpasi : : ictus cordis tidak tampak ictus cordis teraba pada ICS 5-6 mid clavicula sinistra Perkusi Auskultasi : : pekak S1-S2 tunggal, tidak terdapat suara tambahan : : : tidak teraba tonjolan abnormal sonor terdapat suara tambahan wheezing dan ronchi

42

Abdomen Inspeksi : bentuk dada simetris, tampak otot perut berperan dalam pernafasan Auskultasi Perkusi Palpasi Urogenital Anus Ekstrimitas Atas : terpasang infuse di tangan kiri : : : bising usus normal 8x/menit timpani tidak teraba massa pada abdomen, liver dan lien

: Tidak terdapat gangguan : Tidak terdapat gangguan

Bawah : tidak terdapat gangguan Akral hangat, tidak ada cianosis, tidak ada oedem, turgor dapat kembali < 2 detik

3.1.5 Data psikososial 1. Klien : perkembangan psikososial: klien sekolah kelas 2 SD, klien senang bermain dengan teman sepermainannya, dan tampak malu bila diajak bicara. 2. Keluarga : mendukung klien dalam tahap perkembangannya

3.1.6 Data spiritual 1. Klien :biasanya klien di rumah sholat, mengaji. Di RS klien berdoa untuk kesembuhannya. 2. Keluarga : keluarga berdoa agar cucunya dapat pulang dan sembuh serta sehat seperti sebelum sakit.

3.1.7 Data penunjang 1. Tes diagnostic Hasil laboratorium: 20 juli 2009 Hb Leukosit : 13,7 gr% : 21.900 cmm Limfosit : 16,1 % Monosit : 13,1 % Granulosit 80,8 %

43

Eritrosit : 4,82 Trombosit : 424.000 cmm Hematokrit : 37,4 % MCV : 78 fl MCH : 28,5 gr/dl MCHC : 36,7 gr/dl 2. Pengobatan/terapi 20 Juli 2009 Infuse D5 Ns 500 cc/24 jam Infuse D5 Ns 500 cc + Aminophilin 9 cc = 7 tetes/menit Cefotaxime 3x50 mg Dexamethasone 3x3,5 mg Nebul Ventolin 2 mg + PZ 1 cc 4x1 Fisioterapi dada Termoregulasi Injeksi Aminophilin sisa bolus pelan (25 mg)

44

3.2 Analisa Data dan Diagnosa Keperawatan No 1 DS: klien sesak seperti berat, mengeluh yang sesak, dirasakan benda terus Kelompok data Etiologi obstruksi jalan nafas Masalah Ketidakefektifan bersihan jalan nafas

tertindih dirasakan

menerus, sesak bertambah bila bergerak bila dan istirahat, sejak

berkurang sesak

dirasakan

sekitar 11 malam, sesak yang di rasakan seluruh dada DO: - k/u lemah - terdapat cuping hidung - terdapat retraksi dada - terdapat tambahan wheezing - S: 37,5 C - Nadi : 142 x/menit - RR : 49 x/menit 2 DS: -dirumah makanan tempe, klien seperti makan tahu, tidak Faktor biologis dan psikologis Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh suara ronchi nafas dan pernafasan

mengkonsumsi ikan, susu, buah jarang, makan 3 kali sehari dengan porsi sedang -klien mengeluh sesak

45

DO: - k/u lemah. - klien setengah menghabiskan porsi makan

yang diberikan - nadi : 142 x/menit - RR : 49 x/menit - BB=17 kg - TB=110 cm - Usia 8 tahun - IMT= 14,05

46

3.3 Intervensi No 1 Diagnosa Keperawatan Ketidakefektifan bersihan jalan Setelah nafas Tujuan/ NOC dilakukan Intervensi/ NIC tindakan NIC : Airway Management

keperawatan selama 3 x 24 jam 1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan potensi bersihan jalan napas adekuat dengan ventilasi. pasien yang membutuhkan

indikator NOC (Status jalan napas : 2. Mengidentifikasi patensi jalan napas dan Status jalan napas : Ventilasi) bernilai 3-5 pada: 1. Respon alergi 2. Level anxietas 3. Management-self asma 4. Cognitive 5. Daya tahan 6. Level fatigue 7. Status neurologic 8. Pasca prosedur pemulihan 9. Status respirasi 10. Status respirasi : pertukaran gas 11. Pengobatan perilaku : sakit atau injury

aktual / potensial penyisipan saluran napas 3. Melakukan terapi fisik dada, yang sesuai 4. Menghilangkan sekresi melalui dorongan batuk atau suction 5. Menggunakan teknik yang menyenangkan untuk mendorong pernapasan dalam untuk anak-anak (misalnya, gelembung peluit, pukulan dengan gelembung

blower; pukulan pada Pinwheel, balon, blower partai;

harmonika,

menggunakan bola ping-pong, bulu) 6. Menginstruksikan cara batuk yang efektif 7. Membantu dengan spirometer insentif yang sesuai

47

12. Tanda tanda vital

8. Auskultasi bunyi napas, daerah yang tidak ada ventilasi berkurang atau tidak ada, dan adanya suara yang adventif. 9. Mengelola bronkodilator, yang sesuai. 10. Mengajarkan keluarga pasien bagaimana

menggunakan inhaler yang diresepkan, yang sesuai. 11. Mengelola perawatan aerosol, yang sesuai. 12. Mengelola perawatan nebulizer ultrasonic, yang sesuai. 13. Mengelola yang udara lembab atau oksigen, yang sesuai. 14. Mengatur asupan cairan untuk mengoptimalkan keseimbangan cairan. 15. Posisikan untuk meringankan dyspnea. 16. Pemantauan pernapasan dan status oksigenasi, yang sesuai. 2 Ketidakseimbangan nutrisi: Setelah dilakukan tindakan Nutrition Monitoring

kurang dari kebutuhan tubuh

keperawatan selama 3 x 24 jam status 16. Monitor adanya penurunan berat badan nutrisi: intake nutrient pasien adekuat 17. Monitor lingkungan selama makan

48

dengan

indikator

NOC

(Nutritional 18. Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi

Status: Nutrient Intake) bernilai 3-5 19. Monitor turgor kulit pada: 9. intake kalori 10. intake protein 11. intake lemak 12. intake karbohidrat 13. intake vitamn 14. intake mineral 15. intake zat besi 16. intake kalsium 20. Monitor kekeringan, rambut kusam, total protein, Hb dan kadar Ht 21. Monitor kalori dan intake nutrisi Nutrition Management 22. Kaji adanya alergi makanan 23. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien. 24. Anjurkan klien untuk meningkatkan intake Fe. 25. Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C 26. Berikan subtansi gula 27. Berikan makanan yang terpilih (sudah

dikonsultasikan dengan ahli gizi) 28. Ajarkan klien bagaimana membuat catatan makanan harian. 29. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori 30. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi

49

3.4 Implementasi No. Dx I 21/709 -07.15 1. Memposisikan pasien untuk memaksimalkan potensi ventilasi. R/ klien tampak duduk setengah duduk -07.15 2. Mengelola udara yang lembab atau oksigen, yang sesuai. R/ klien menolak karena klien mengatakan sudah tidak sesak lagi -07.30 3. Mengelola perawatan nebulizer mg + 1cc NS R/ klien kooperatif -07.40 4. Menggunakan teknik yang menyenangkan untuk mendorong pernapasan dalam untuk anak-anak (misalnya, pukulan dengan ventolin 2 Tgl/jam Implementasi TTD

gelembunggelembung

blower; pukulan

pada Pinwheel, peluit, harmonika, balon, blower partai; menggunakan bola ping-pong, bulu) R/ klien kooperatif -07.45 5. Menginstruksikan cara batuk yang efektif R/ klien kooperatif -08.00 6. Mengatur asupan cairan untuk

mengoptimalkan keseimbangan cairan. R/ infus D5 NS 750cc/24 jam + drip aminopilin 7 tpm -08.00 7. Pemantauan pernapasan dan status

oksigenasi, yang sesuai. R/ RR= 23x/menit -12.00 8. Auskultasi bunyi napas, daerah yang tidak ada ventilasi berkurang atau tidak ada, dan adanya suara yang adventif.

50

R/ ronchi (-), wheezing (-) -12.30 9. Mengelola bronkodilator, yang sesuai. R/ drip aminopilin 7 tpm II 21-7-09 -08.00 1. Memonitor adanya penurunan berat badan R/ BB= 17 kg 2. Memonitor lingkungan selama makan -08.00 R/ tidak ada barang-barang yang

mengganggu kenyaman saat makan 3. Memonitor turgor kulit -08.00 R/ turgor kulit baik 4. Memonitor kalori dan intake nutrisi -08.15 R/ intake makan setengah porsi dari

makanan yang diberikan 5. Mengkaji adanya alergi makanan -08.15 R/ tidak terdapat alergi makanan 6. Kolaborasi -08.30 dengan ahli gizi untuk

menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien. R/ diet sesuai kebutuhan klien 7. Memberikan subtansi gula

-09.00

R/ klien minum air gula 8. Memberikan informasi tentang kebutuhan

-12.00

nutrisi R/ penyuluhan tentang nutrisi yang

seimbang

51

3.5 Evaluasi No. Dx I Tanggal/jam 20-7-09 Jam 14.00 Evaluasi S: klien mengatakan masih sesak, namun sudah berkurang O: k/u lemah klien tampak lebih tenang tidak terdapat pernafasan cuping hidung S: 37C N: 100 x/ menit RR: 35 x/menit TTD

A: masalah teratasi sebagian P: lanjutkan intervensi 1-9 II 20-7-09 Jam 14.00 S: klien mengatakan makan setengah porsi makan O: k/u lemah klien menghabiskan setengah porsi makan yang diberikan klien mau menambah intake dengan

minum air gula mukosa bibir agak kering BB=17 kg TB=110 cm Nadi: 100x/menit RR: 35 x/menit

A: masalah belum teratasi P: pertahankan intervensi 1-8

52

BAB IV PENUTUP

4.1 Simpulan Asma ialah penyakit paru dengan ciri khas saluran napas sangat mudah bereaksi terhadap berbagai rangsangan atau pencetus dengan manifestasi berupa serangan asma (sesak napas ekspiratoir yang paroksismal berulangulang dengan mengi dan batuk akibat bronkospasme, inflamasi mukosa bronkus, dan produksi lendir kental yang berlebihan dan diakibatkan oleh berbagai penyebab dan faktor pencetus. Apabila penyakit ini tidak segera ditangani dengan baik akan menimbulkan masalah yang sangat serius. Bahkan dapat terjadi gagal napas dan berakhir kematian. Salah satu hal yang paling penting adalah mencegah agar tidak terjadi serangan, yaitu dengan menghindari faktor pencetusnya. Banyak masalah keperawatan yang muncul pada kasus tersebut. Masalah keperawatan yang timbul dapat diatasi dengan menggunakan disiplin ilmu yang saling melengkapi, ilmu kedokteran, ilmu keperwatan, bersama ilmu gizi.

4.2 Saran Perawat diharapkan mampu meningkatkan perannya dalam

memberikan asuhan keperawatan kepada klien anak dengan gangguan respirasi, khususnya asma. Sehingga dapat mengatasi masalah keperawatan yang timbul dengan menggunakan trend terbaru, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang sesuai.

53

DAFTAR PUSTAKA

Alimul, A. Aziz. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak Buku 2. Jakarta: Salemba Medika Brashers, Valentina L. 2007. Aplikasi Klinis Patofisiologi: Pemeriksaan & Manajemen Edisi 2, terjemahan. Jakarta: EGC Brough et al. 2008. Rujukan Cepat Pediatri & Kesehatan Anak, terjemahan. Jakarta: EGC Dochtman et al. 2008. Nursing Interventions Classification (NIC) Fifth Edition. Missouri: MOSBY Doenges et al. 2010. Nursing Diagnosis Manual: Planning, Individualizing, and Documentating Client Care 3rd Edition. Philadelphia: F.A David Company Guyton, Arthur C. & Hall, John E. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta: EGC Herdman, T. Heather. 2010. NANDA International: Diagnosis Keperawatan: definisi dan klasifikasi 2009-2011, terjemahan. Jakarta: EGC Indonesia, Departemen Kesehatan Republik. 2009. Pedoman Pengendalian Penyakit Asma. Jakarta: Departemen Kesehatan RI Moorhead et al. 2008. Nursing Outcomes Classification (NOC) Fourth Edition. Missouri: MOSBY Muttaqin, Arif. 2009. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak sakit Edisi 2. Jakarta: EGC Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC Suriadi & Yuliani,Rita. 2001. Asuhan Keperawatan pada Anak Edisi 1. Jakarta: Sagung Seto