Anda di halaman 1dari 14

BAB I

1.1 Tujuan Setelah mengikuti pratikum ini, mahasiswa mampu : 1. Menjelaskan prinsip kerja fluidisasi 2. Menjelaskan operasi fluidisasi gas dan cairan 3. Menjelaskan persamaan Ergun dan menyelidiki kondisi permulaan fluidisasi 4. Menghitung pressure drop yang melalui fixed bed dan fluidized bed 5. Mengaplikasikan ilmu dasar teknik kimia secara tim, bekerja sama, dan profesional.

1.2 Landasan Teori 1.2.1 Definisi Fluidisasi merupakan operasi dimana partikel padat ditransformasikan menjadi seperti fluida melalui suspensi dalam gas atau cairan. Metode ini memiliki beberapa karakteristik yang tidak biasanya dan para ahli teknik kimia menggunakan prinsip ini dalam berbagai bidang yang berhubungan dengan fluidisasi. Fluidisasi juga salah satu teknik pengontakan fluida baik gas maupun cairan dengan butiran padat. Pada fluidisasi kontak antara fluida dan partikel padat terjadi dengan baik karena permukaan kontak yang luas dan unggun berisi butiran padat berkelakuan seperti fluida karena dialiri fluida. Melalui metode ini diharapkan butiran-butiran padat memiliki sifat seperti fluida dengan viskositas tinggi. Sebagai ilustrasi, tinjau suatu kolom berisi sejumlah partikel padat berbentuk bola. Melaui unggun padatan ini kemudian dialirkan gas dari bawah ke atas. Pada laju alir yang cukup rendah, butiran padat akan tetap diam, karena gas hanya mengalir melalui ruang antar partikel tanpa menyebabkab perubahan susunan partikel tersebut. Keadaan yang demikian disebut unggun diam atau fixed bed. Keadaan fluidisasi unggun diam tersebut ditunjukkan pada gambar 1a. Jika laju alir kemudian dinaikkan, akan sampai pada suatu keadaan di mana unggun padatan akan tersuspensi di dalam aliran gas yang melaluinya. Pada keadaan ini masing-masing butiran akan terpisahkan satu sama lain sehingga dapat bergerak dengan lebih mudah. Pada kondisi butiran yang dapat bergerak ini, sifat unggun akan menyerupai suatu cairan dengan

viskositas tinggi, misalnya adanya kecenderungan untuk mengalir, mempunyai sifat hidrostatik dan sebagainya. Sifat unggun terfluidisasi ini dapat dilihat pada Gambar 1b.

1.2.2 Fenomena Jika suatu fluida melewati partikel unggun yang ada dalam tabung, maka aliran tersebut memberikan gaya seret (drag force) pada partikel dan menimbulkan pressure drop sepanjang unggun. Pressure drop akan naik jika kecepatan superficial naik. Pada kecepatan superficial rendah, unggun mula-mula diam. Jika kecepatan superficial dinaikkan, maka pada suatu saat gaya seret fluida menyebabkan unggun mengembang dan tahanan terhadap aliran udara mengecil, sampai akhirnya gaya seret tersebut cukup untuk mendukung gaya berat partikel unggun mulai bergerak dan kondisi ini disebut minimum fluidization. Kecepatan superficial terendah yang dibutuhkan untuk terjadinya fluidisasi disebut minimum fluidization velocity (Vmf). Sedangkan porositas dari unggun ketika fluidisasi benarbenar terjadi dinamakan minimum fluidization porosity (mf). Sementara itu pressure drop sepanjang unggun akan tetap walaupun kecepatan superficial dinaikkan dan sama dengan berat efektif unggun persatuan luas. Jika kecepatan fluida diatas Vmf, unggun akan mulai bubling dan kondisi ini dinamakan aggregative fluidization. Kenaikan kecepatan superficial yang ekstrim tinggi dapat menyebabkan tumbuhnya gelembung yang sangat besar, memenuhi seluruh tabung dan mendorong terjadinya slugging bed. Pada saai ini pressure drop mungkin melampaui berat persatuan luas karena adanya interaksi partikel dengan dinding tabung. Jika densitas fluidanya lebih besar dan partikel unggun lebih kecil kemungkinan unggun dapat tertahan dalam keadaan mengembang lebih stabil

(particulat fluidization). Partikel unggun yang lebih ringan, lebih halus dan bersifat kohesif sangat sukar terfluidisasi karena gaya tarik menarik antar partikel lebih besar daripada gaya seretnya. Sehingga partikel cenderung melekat satu sama lain dan gas menembus unggun dengan membentuk chanel. Jika laju alir kemudian dinaikkan, akan sampai pada suatu saat keadaan dimana unggun padatan akan tersuspensi di dalam aliran gas yang melaluinya. Pada keadaan ini masing-masing butiran akan terpisahkan satu sama lain sehingga dapat bergerak dengan lebih mudah. Pada kondisi butiran yang dapat bergerak ini, sifat unggun akan menyerupai suatu cairan dengan viskositas tinggi, misalnya adanya kecenderungan untuk mengalir, mempunyai sifat hdrostatik dan sebagainya. Fenomena-fenomena yang dapat terjadi pada proses fluidisasi antara lain : a. Fenomena fixed bed Jika laju alir fluida lebih kecil dari laju minimum yang dibutuhkan untuk proses awal fluidisasi. Pada kondisi ini partikel padatan tetap diam. Kondisi ini ditunjkkan pada gambar 2.

Gambar 2. Fenomena fixed bed

b. Fenomena minimum Terjadi ketika laju alir fluida mencapai laju alir minimum yang dibutuhkan untuk proses fluidisasi. Pada kondisi ini partikel-partikel padat mulai terekspansi. Kondisi ini ditunjukkan pada gambar 3.

Gambar 3. Fenomena minimum

c. Fenomena homogenously Terjadi ketika kecepatan dan distribusi aliran fluida merata, densitas dan distribusa partikel dalam unggun sama atau homogrn sehingga ekspansi pada setiap partikel padatan seragam. Kondisi ini ditunjukkan pada gambar 4.

Gambar 4. Fenomena homogenously d. Fenomena bubbling Terbentuknya gelembung-gelembung pada ungun akibat densitas dan distribusi partikel tidak homogen. Kondisi ini ditunjukkan pada gambar 5.

Gambar 5. Fenomena bubbling e. Fenomena slugging Terbentuknya gelembung-gelembung besar yang mencapai lebar dari diameter kolom, terjadi penorakan hingga unggun terangkat. Kondisi ini ditunjukkan pada gambar 6.

Gambar 6. Fenomena slugging f. Fenomena chanelling Terjadi ketika dalam unggun partikel padatan terbentuk saluran-saluran seperti tabung vertikal. Kondisi ini ditunjukkan pada gambar 7.

Gambar 7. Fenomena chanelling

g. Fenomena disperse Terjadi ketika kecepatan alir fluida melampaui kecepatan maksimum aliran fluida. Partikel akan terbawa aliran fluida dan ekspansi mencapai nilai maksimum. Kondisi ini ditunjukkan pada gambar 8.

Gambar 8. Fenomena disperse Fenomena-fenomena fluidisasi tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut : a. Laju alir fluida dan jenis fluida b. Ukuran partikel dan bentuk partikel c. Jenis dan densitas partikel d. Porositas unggun e. Distribusi aliran f. Distribusi bentuk ukuran fluida g. Tinggi unggun dan diameter kolom Faktor-faktor di atas merupakan variabel-variabel dalam proses fluidisasi yang akan menentukan karakteristik proses fluidisasi. Bila cairan atau gas dilewatkan pada unggun partikel padat pada keepatanrendah dari bawah ke atas, unggun atidak bergerak. Pada kedadaan tersebutpenurunan tekanan di sepanjang unggun dinyatakan dalam persamaan berikut :

Dengan memasukkan data empiris untuk k1 dan k2 serta memasukkan factor sperifitas partikel didapatkan :

Persamaan tersebut disebut persamaan ERGUN. Bila kecepatan fluida yang melewati unggun dinaikkan maka perbedaan tekanan di sepanjang unggun akanmeningkat pula. Pada saat perbedaan tekanan sama dengan berat unggun dibagi luas penampang. Pada saat tersebut unggun akan mulai bergerak dan melayang-layang ke atas. Partikel-partikel padat ini akan bergerakgerak dan mempunyai perilaku sebagai fluida. Keadaan unggun seperti ini dikenal sebagai unggun terfluidakan (fluidized bed).

1.2.3 Hilang Tekan (pressure drop) Penentuan besarnya hilang tekan dalam unggun terfluidakan terutama dihitung berdasarkan rumus-rumus yang diturunkan untuk unggun diam (persamaan Ergun) dan diturunkan oleh Blake, Carman maupun peneliti-peneliti lainnya. Hilang tekan dalam unggun diam

Korelasi-korelasi matematik yang menggambarkan hubungan antara hilangtekan dengan laju air fluida di dalam suatu sistem unggun diamm diperolehpertama kali pada tahun 1922 oleh Blake melalui metoda-metoda yang bersifatsemi empiris yaitu dengan menggunakan bilanganbilangan tidak berdimensi.Untuk aliran laminar dimana kehilangan energi terutama disebabkan olehviscous losses, Blake memberikan hhubungan sebagai berikut :

Persamaan (6) ini kemudian diurunkan lagi oleh Kozeny (1927) dengan mengasumsikan bahwa unggun zat padat tersebut adalah ekivalen dengan satu kumpulan saluran-saluran lurus yang parallel yang mempunyai luas permukaan dalam total dan volume dalam total masing-masing

sama dengan luas permukaan luar partikel dan volume ruang kosongnya. Harga konstanta k yang diperoleh beberapa peneliti berbeda-beda seperti diperlihatkan didalam tabel berikut ini :

Untuk aliran turbulen, persamaan (6) tidak bisa dipergunakan lagi sehingga Ergun kemudian menurunkan rumus yang lain (1952), harga kehilangan tekanandigambarkan sebagai gabunganviscous losses dankinetic energy loss.

Kecepatan minimum fluidisasi Yang dimaksud dengan kecepatan minimum fluidisasi (dengan notasi V0 ) adaah kecepatan superfisial fluida minimum dimana fluidisasi mulai terjadi.Harganya diperoleh denan persamaan sebagai berikut :

Karakteristik unggun terfluidakan Karakteristik unggun terfluidakan biasanya dinyatakan dalam bentuk grafik antara penurunan tekanan (P) dan kecepatan superficial (V0 ). Untuk keadaan yang ideal, kurva hubungan berbentuk seperti apa yang diberkan didalam gambar :

Gambar 9. Kurva karakteristik fluidisasi ideal Garis A B didalam grafik menunjukan hilang tekan pada daerah unggun diam (porositas C menunjukkan keadaan dimana unggun telah terfluidakan. Garis D E

unggun). Garis B

menunjukkan hilang tekan dalam daerah unggun diam pada waktu menurunkan kecepatan alir fluida. Harga penurunan tekanannya, untuk kecepatan alir fluida tertentu sedikit lebih rendah dari pada saat awal operasi.

1.2.4 Evaluasi Parameter-Parameter di dalam Peristiwa fluidisasi Densitas partikel Penentuan densitas partikel untuk zat padat yang masih dan tidak menyerap air atau zat cair lain, bisa dilakukan dengan memakai piknometer. Sedang untuk partikel berpori, cara diatas akan menimbulkan kesalahan yang cukup besar karena air atau cairan akan memasuki pori-pori didalam partikel, sehingga yang diukur bukan lagi densitas partikel (berikut pori-porinya) seperti yang diperlukan dalam persamaan di muka, tetapi densitas bahan padatnya (tidak termasuk poripori didalamnya). Untuk partikel-artikel yang demikian ada caralain yang biasa digunakan, yaitu dengan metode yang diturunkan Ergun.

Bentuk partikel Dalam persamaan yang telah diturunkan, partikel padatnya dianggap sebagai butiran yang berbentuk bola dengan diameter rata-rata dp.Untuk partikel bentuk lain, harus ada koreksi yang menyatakan bentuk partikel sebenarnya. Faktor koreksi tersebut dinyatakan dengan :

Porositas unggun Porositas unggun menyatakan fraksi kosong didalam unggun yangsecara matematik bisa ditulis sebagai berikut :

Dimana : Vu : Volume Unggun Vp : Volume partikel total

BAB II METOLOGI PERCOBAAN


2.1 Bahan-bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan adalah : a. Arang aktif b. Zeolit c. Pasir

2.2 Alat-alat 2.2.1 Alat yang dipakai merupakan rangkaian alat fluidisasi yang terdiri dari : a. Kompresor b. Flowmeter c. Manometer d. Kolom I (53) e. Kolom II (65) e. Valve f. Flow Regulator Valve h. Jangka sorong 2.2.2 Gambar rangkaian alat Rangkaian alat percobaan fluidisasi ditampilkan pada gambar 9.

Gambar 10. Rangkaian alat ercobaan fluidisasi

2.3 Prosedur percobaan a. Masukkan salah satu bahan ke dalam kolom I setinggi 5 cm. b. Tutup valve V2,V3,V5,V6 dan buka valve yang lain. c. Hidupkan compressor dengaan menggunakan switch. d. Buka flow regulator valve sampai flow meter menunjukkan 10.000 L/jam. e. Cek tinggi unggun/bed paling sedikit 1,5 x tinggi bed semula. f. Tutup flow regulator valve. g. Cek manometer pada kolom I menunjukkan nol. h. Atur flow control valve agar flowmeter menunjukkan 1200 L/jam. i. Catat tinggi unggun, pressure drop dan kondisi unggun. j. Ulangi percobaan tersebut dengan menaikkan flow rate selang 400 L/jam.

DAFTAR PUSTAKA Mc Cabe, W.L., J.C Smith and P. Harriot, Unit Operation of Chemical Engineering, 5th edition, McGraw-Hill Book Co. Inc., New York, 1985 Geankoplis, C.J., Transport Process and Unit Operation, 3rd edition, Prentice Hall Inc., Englewood Cliffs, New Jersey, 1993 Tim Penyusun, Penuntun Praktikum Laboratarium Teknik Kimia I, Pekanbaru : Universitas Riau, 2012.