Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pada saat sekarang ini, dimana zaman semakin canggih. Semakin banyak energy yang digunakan sehingga menimnulkan krisis energy yang sangat berefek buruk di masa sekarang atau masa yang akan datang. Salah satu energy alternative yang mempunyai potensi suber energy yang sangat besar aadalah sinar matahari. Energy yang dikeluarkan oleh sinar mataharai sebenarnya hanya diterima oleh permukaan bumi sebesar 69% dari total energy pancaran matahari. Sehingga dicitakan teknologi yang membantu mengatasi krisis energy tersebut dengan menggunakan teknologi fotovoltaik. Teknologi fotovoltaik adalah suatu teknologi konversi yang mengubah cahaya menjadi listrik secara langsung (direct conversion). Peristiwa ini dikenal sebagai efek fotolistrik (photovoltaic affect). Fotovoltaik menggunakan semikonduktor yang bersifat isolator pada suhu 0 derajat celcius dan bersifat konduktor pada suhu kamar. Bahan semikonduktor yang digunakan dalam percobaan sel surya ini adalah diode.

1.2 Identifikasi Masalah 1. Bagaimana cara kerja generator fotovoltaik yang bisa mengubah energy cahaya menjadi energy listrik? 2. Bagaimana kerja optimal dari generator fotovoltaik?

1.3 Tujuan Percobaan 1. Mempelajari prinsip kerja generator fotovoltaik 2. Menentukan optimalisasi generator fotovoltaik

1.4 Metoda Percobaan Alur penelitian merupakan urutan prosedur percobaan cecara rinci. Percobaan pertama tentang menentukan tegangan deomposisi air dan praktikum kedua tentang menentukan efisiensi energy dan efisiensi faraday elektroliser PEM.

1.5 Sistimatika Penulisan Cover Lembar Pengesahan Isi Laporan Pendahuluan 1. BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang 1.2 Identifikasi Masalah 1.3 Tujuan Percobaan 1.4 Metoda Percobaan 1.5 Sistematika Penulisan 1.6 Waktu dan Tempat Percobaan 2. BAB II Tinjauan Pustaka 3. BAB III Metoda Percobaan 3.1 Alat dan Bahan Percobaan 3.2 Prosedur Percobaan 4. BAB IV Data dan Pembahasan 5. BAB V Kesimpulan 6. Daftar Pustaka

1.6 Waktu dan Tempat Percobaan Praktikum dilaksanakan pada hari Selasa, 1 Oktober 2013 di laboratorium energy jurusan Fisika, Universitas Padjadjaran.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Sel Surya Sel surya atau sel photovoltaic, adalah sebuah alat semikonduktor yang terdiri dari sebuah wilayah-besar dioda p-n junction, di mana, dalam hadirnya cahaya matahari mampu menciptakan energi listrik yang berguna. Pengubahan ini disebut efek photovoltaic, Photo-voltaic terdiri dari photo dan voltaic. Photo berasal dari kata Yunani phos yang berarti cahaya. Sedangkan voltaic diambil dari nama Alessandro Volta (1745 - 1827), seorang pelopor dalam pengkajian mengenai listrik. Sehingga photo-voltaic dapat berarti listrik-cahaya. Belakangan ini, photo-voltaic lebih sering disebut solar cell atau sel surya, karena cahaya yang dijadikan energi listrik adalah sinar matahari. Sel surya merupakan suatu pn junction dari silikon kristal tunggal. Dengan menggunakan photo-electric effect dari bahan semikonduktor, sel surya dapat langsung mengkonversi sinar matahari menjadi listrik searah (dc). Sel surya memiliki banyak aplikasi. Mereka terutama cocok untuk digunakan bila tenaga listrik dari grid tidak tersedia, seperti di wilayah terpencil, satelit pengorbit bumi, kalkulator genggam, pompa air, dll. Sel surya (dalam bentuk modul atau panel surya) dapat dipasang di atap gedung di mana mereka berhubungan dengan inverter ke grid listrik dalam sebuah pengaturan net metering. Proses konversi Proses pengubahan atau konversi cahaya matahari menjadi listrik ini dimungkinkan karena bahan material yang menyusun sel surya berupa semikonduktor. Lebih tepatnya tersusun atas dua jenis semikonduktor; yakni jenis n dan jenis p. Semikonduktor jenis n merupakan semikonduktor yang memiliki kelebihan elektron, sehingga kelebihan muatan negatif, (n = negatif). Sedangkan semikonduktor jenis p memiliki kelebihan hole, sehingga disebut dengan p ( p = positif) karena kelebihan muatan positif. Caranya, dengan menambahkan unsur lain ke dalam semkonduktor, maka kita dapat mengontrol jenis semikonduktor tersebut, sebagaimana diilustrasikan pada gambar di bawah ini.

Pada awalnya, pembuatan dua jenis semikonduktor ini dimaksudkan untuk meningkatkan tingkat konduktifitas atau tingkat kemampuan daya hantar listrik dan panas semikonduktor alami. Di dalam semikonduktor alami (disebut dengan semikonduktor intrinsik) ini, elektron maupun hole memiliki jumlah yang sama. Kelebihan elektron atau hole dapat meningkatkan daya hantar listrik maupun panas dari sebuah semikoduktor. Misal semikonduktor intrinsik yang dimaksud ialah silikon (Si). Semikonduktor jenis p, biasanya dibuat dengan menambahkan unsur boron (B), aluminum (Al), gallium (Ga) atau Indium (In) ke dalam Si. Unsur-unsur tambahan ini akan menambah jumlah hole. Sedangkan semikonduktor jenis n dibuat dengan menambahkan nitrogen (N), fosfor (P) atau arsen (As) ke dalam Si. Dari sini, tambahan elektron dapat diperoleh. Sedangkan, Si intrinsik sendiri tidak mengandung unsur tambahan. Usaha menambahkan unsur tambahan ini disebut dengan doping yang jumlahnya tidak lebih dari 1 % dibandingkan dengan berat Si yang hendak di-doping. Dua jenis semikonduktor n dan p ini jika disatukan akan membentuk sambungan p-n atau dioda p-n (istilah lain menyebutnya dengan sambungan metalurgi / metallurgical junction) yang dapat digambarkan sebagai berikut. 1. Semikonduktor jenis p dan n sebelum disambung.

2. Sesaat setelah dua jenis semikonduktor ini disambung, terjadi perpindahan elektron-elektron dari semikonduktor n menuju semikonduktor p, dan perpindahan hole dari semikonduktor p menuju semikonduktor n. Perpindahan elektron maupun hole ini hanya sampai pada jarak tertentu dari batas sambungan awal.

3. Elektron dari semikonduktor n bersatu dengan hole pada semikonduktor p yang mengakibatkan jumlah hole pada semikonduktor p akan berkurang. Daerah ini akhirnya berubah menjadi lebih bermuatan positif.. Pada saat yang sama. hole dari semikonduktor p bersatu dengan elektron yang ada pada semikonduktor n yang mengakibatkan jumlah elektron di daerah ini berkurang. Daerah ini akhirnya lebih bermuatan positif.

4. Daerah negatif dan positif ini disebut dengan daerah deplesi (depletion region) ditandai dengan huruf W. 5. Baik elektron maupun hole yang ada pada daerah deplesi disebut dengan pembawa muatan minoritas (minority charge carriers) karena keberadaannya di jenis semikonduktor yang berbeda. 6. Dikarenakan adanya perbedaan muatan positif dan negatif di daerah deplesi, maka timbul dengan sendirinya medan listrik internal E dari sisi positif ke sisi negatif, yang mencoba menarik kembali hole ke semikonduktor p dan elektron ke semikonduktor n. Medan listrik ini cenderung

berlawanan dengan perpindahan hole maupun elektron pada awal terjadinya daerah deplesi (nomor 1 di atas).

7. Adanya medan listrik mengakibatkan sambungan pn berada pada titik setimbang, yakni saat di mana jumlah hole yang berpindah dari semikonduktor p ke n dikompensasi dengan jumlah hole yang tertarik kembali kearah semikonduktor p akibat medan listrik E. Begitu pula dengan jumlah elektron yang berpindah dari smikonduktor n ke p, dikompensasi dengan mengalirnya kembali elektron ke semikonduktor n akibat tarikan medan listrik E. Dengan kata lain, medan listrik E mencegah seluruh elektron dan hole berpindah dari semikonduktor yang satu ke semiikonduktor yang lain. Pada sambungan p-n inilah proses konversi cahaya matahari menjadi listrik terjadi. Untuk keperluan sel surya, semikonduktor n berada pada lapisan atas sambungan p yang menghadap ke arah datangnya cahaya matahari, dan dibuat jauh lebih tipis dari semikonduktor p, sehingga cahaya matahari yang jatuh ke permukaan sel surya dapat terus terserap dan masuk ke daerah deplesi dan semikonduktor p. Ketika sambungan semikonduktor ini terkena cahaya matahari, maka elektron mendapat energi dari cahaya matahari untuk melepaskan dirinya dari semikonduktor n, daerah deplesi maupun semikonduktor. Terlepasnya elektron ini meninggalkan hole pada daerah yang ditinggalkan oleh elektron yang disebut dengan fotogenerasi elektron-hole (electron-hole photogeneration) yakni, terbentuknya pasangan elektron dan hole akibat cahaya matahari.

Cahaya matahari dengan panjang gelombang (dilambangkan dengan simbol lambda sbgn di gambar atas) yang berbeda, membuat fotogenerasi pada sambungan pn berada pada bagian sambungan pn yang berbeda pula. Spektrum merah dari cahaya matahari yang memiliki panjang gelombang lebih panjang, mampu menembus daerah deplesi hingga terserap di semikonduktor p yang akhirnya menghasilkan proses fotogenerasi di sana. Spektrum biru dengan panjang gelombang yang jauh lebih pendek hanya terserap di daerah semikonduktor n. Selanjutnya, dikarenakan pada sambungan pn terdapat medan listrik E, elektron hasil fotogenerasi tertarik ke arah semikonduktor n, begitu pula dengan hole yang tertarik ke arah semikonduktor p. Apabila rangkaian kabel dihubungkan ke dua bagian semikonduktor, maka elektron akan mengalir melalui kabel. Jika sebuah lampu kecil dihubungkan ke kabel, lampu tersebut menyala dikarenakan mendapat arus listrik, dimana arus listrik ini timbul akibat pergerakan elektron.

Pada umumnya, untuk memperkenalkan cara kerja sel surya secara umum, ilustrasi di bawah ini menjelaskan segalanya tentang proses konversi cahaya matahari menjadi energi listrik.

Prinsip kerja sel surya Gambar dibawah ini adalah gambar-gambar tingkat energi. Daerah antara dua bahan tersebut adalah deplesi, karena muatan pembawa pada daerah tersebut menjadi agak menipis (terdeplesi). Elektron dari keadaam donor tipe-n mengisi keadaan aseptor dari bahan tipe-p. Dalam daerah ini donor tidak menyediakan elektron bagi pita konduksi dan keadaan aseptor tidak menyediakan lubang dalam pita valensi.

ECB p qVo ECB n

EF p
EVB p

EF n
ECB p
p n

(Diagram pita energi sambungan p-n) Pada keadaan setimbang atau tanpa medan luar, tingkat energi fermi E F akan sama diseluruh bagian pada saat keadaannya setimbang. Perbedaan konsentrasi elektron dan hole didaerah-p dan daerah-n menyebabkan difusi elektron ke daerah-p dan hole ke daerah n. Atom-atom pengotor akan membentuk daerah arus muatan terbatas (charge-limited-current). Arus difusi dan field current offset dalam keseimbangan satu sama lain. Potensial difusi pada sambungan p-n tergantung pada jumlah doping dan berkaitan dengan perbedaan tingkat energi Fermi pada daerah p dan n pada keadaan terpisah. Jarak antara pita Valensi dan pita konduksi untuk silikon pada temperatur kamar adalah E=1,1 eV dan potensial difusinya adalah 0,5 sampai 0,7 V. Jika cahaya atau foton jatuh mengenai sambungan p-n akan terbentuk pasangan elektron hole yang dipisahkan oleh ruang muatan. Jika g jumlah pasangan elektron hole yang dihasilkan persatuan luas dan U tegangan yang diberikan antara sambungan p-n, maka akan dihasilkan arus elektron dan hole dengan kerapatan : J = e(exp e U/kT 1)(n0Dct/Lc2+p0 Dh /Lh) eg Dimana : E K T L D = muatan elektron = konstanta Bolztman = temperatur = panjang difusi elektron dan hole = konstanta difusi untuk elektron dan hole

N0,P0 = konsentrasi pembawa muatan pembawa minoritas pada keadaan setimbang Sedangkan rapat arus yang dihubung singkat adalah : J eg

Penting halnya mengenai efiensi konversi dari sel surya, karena hal ini dapat menjelaskan seberapa baik sel surya yang digunakan. Besarnya efisensi konversi ( ) ini didefinisikan sebagai :

dimana : Pmax Pin

Pm ax x 100 % Pin

= Daya maksimum yang dapat dihasilkan oleh sel surya = Daya masukan ( input ) yang diterima oleh sel surya

Daya maksimum dapat dinyatakan dalam Fill Factor (FF) yang didefinisikan sebagai : FF =
Vm ax.I m ax x100 % VOC .I SC

Dalam besaran ini daya maksimum menjadi : Pmax = Vmax . Imax = VOC . ISC . FF Dengan : VO Isc
=

tegangan saat arus minimum atau disebut tegangan terbuka.

= arus saat tegangannya minimum atau arus hubung singkat (mendekati nol)

Efisiensi Sel Surya Sejauh mana sel surya saat ini mampu memenuhi kebutuhan listrik -misal- perumahan ataukah sektor lainnya. Bahkan untuk kebanyakan orang, efisiensi sebuah sel surya tidak banyak diketahui. Yang diketahui hanya sel surya dapat mengubah sinar matahari menjadi listrik yang dipakai untuk penerangan dan meggerakkan alat-alat elektronik tanpa memperhatikan bahwa sel surya bekerja di dalam batasan efisiensi, yang tidak benar-benar 100% mengubah semua sinar matahari yang jatuh ke permukaan sel menjadi listrik. Sekilas tentang efisiensi sendiri, sel surya sebagaimana jamaknya sebuah mesin memiliki kemampuan menghasilkan sebuah produk/output (dalam hal ini listrik) dari bahan masukan/input (cahaya sinar matahari) melalui proses yang terjadi di dalamnya (efek fotoviltaik). Dikarenakan banyak faktor, tidak seluruh cahaya yang diproses di dalam sel surya mampu dikonversi menjadi energi listrik. Faktor ini dapat saja dikarenakan oleh sifat inheren semikonduktor yang dipakai sebagai sel yang tidak dapat menangkap semua spektrum cahaya tampak, hingga hambatan dari rangkaian listrik yang digunakan. Secara termodinamika, sel surya tidak ubahnya sebuah mesin Carnot dengan perilaku efisiensi yang sama.

Sebagaimana terpampang di Gambar 1 di bawah ini, penelitian sel surya secara intensif baru dimulai sejak 1970-an meski efek fotovoltaik sudah diketahui efektif sejak tahun 1954 atau lebih jauh lagi sejak Bacquerel menemukan efek ini pertama kali di tahun 1897. Penelitian di bidang energi surya ini dipicu oleh krisis minyak di tahun 1970-an akibat embargo minyak oleh negara negara timur tengah selama perang Arab-Israel menggelora. Di gambar yang mengilustrasikan trend peningkatan efisiensi sel surya dari tahun ke tahun tersebut, dapat pula kita melihat berbagai jenis sel surya yang tengah dikembangkan. sedikitnya ada 9 jenis sel surya dengan berbagai tipe yang ditentukan oleh jenis material yang dipergunakan sebagai penyerap sinar mataharinya (solar absorber material). Saat ini, hampir semua sel surya memiliki efisiensi minimum 12% dengan batas optimal kira-kira 39%, tergantung dari jenis sel surya yang dibuat.

(Gambar 1 Efisiensi sel surya 1975 -2005) Pemanfaatan Sel Surya Sistem sel surya dapat dirancang untuk penggunaan di ruang angkasa, atau penggunaan di permukaan bumi. Sistem sel surya untuk di permukaan bumi terdiri dari modul sel surya, kontroler pengisian (charge controller), dan aki (batere) yang maintenance free. Modul sel surya yang digunakan dapat diperoleh dalam berbagai ukuran dan kapasitas. Yang sering digunakan adalah modul sel surya 20 watt atau 30 watt. Modul sel surya menghasilkan daya yang proporsional dengan luas permukaan modul yang terkena sinar matahari. Dalam penggunaan skala agak besar, aki (batere) dalam sistem sel surya kadang-kadang dihubungkan dengan sebuah inverter, untuk mengkonversi listrik searah (dc) menjadi listrik bolak-balik (ac).

Sistem sel surya biasanya ditempatkan di dekat yang memerlukan listrik. Sehingga untuk tempat-tempat yang terpencil hanya memerlukan kabel yang lebih pendek dibandingkan jika menarik kabel dari jaringan PLN misalnya. Selain itu, jelas sistem sel surya menjadi murah karena tidak memerlukan transformator. Perkembangan pesat teknologi dan efisiensi sel surya DSSC (Dye sensitized solar cell) dan sel surya organik yang berbahan baku utama polimer. Sejak ditemukan di akhir tahun 90-an, perkembangannya cukup menjanjikan sebagai alternatif baru sel surya yang murah dan berefisiensi tinggi. Data tahun 2006 (tidak dicantumkan di Gambar 1) menunjukkan bahwa sel surya DSSC mencapai efisiensi skala laboratorium 11%. Dan sejak tahun 2005 sudah mulai masuk ke pasaran secara terbatas. Maka kesimpulannya, keunggulan sistem sel surya itu keandalannya tinggi, biaya operasinya rendah, ramah lingkungan, berbentuk modul, dan biaya konstruksinya rendah. Mencermati trend peningkatan efisiensi sel surya skala laboratorium, kalangan energi terbaharukan memilki harapan dan optimis bahwa sel surya ke depannya mampu berkompetisi dengan jenis sumber energi terbaharukan lainnya dalam menjawab peningkatan permitaan energi dunia

BAB III METODA PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan Percobaan 1. Sumber Cahaya, digunakan cahaya matahari. 2. Panel Sel Surya, berungsi sebagai alat yang terdiri dari sel surya yang mengubah cahaya menjadi energy listrik. 3. Beberapa Resistor Eksternal, berfungsi untuk membatasi arus yang mengalir. 4. Lux meter, berfungsi sebagai alat untuk mengukur intensitas cahaya atau tingkat pencahayaan. 5. Alat Ukur Arus dan Tegangan Listrik, berfungsi sebagai alat yang mengukur arus dan tegangan saat praktikum.

3.2 Prosedur Percobaan 1. Mengukur intensitas cahaya terhadap variasi jarak. 2. Untuk mengetahui pengaruh jarak terhadap intensitas cahaya, ukur intensitas cahaya dengan menggunakan alat ukur intensitas cahaya (luxmeter), untuk beberapa variasi jarak. Tanyakan pada asisten. 3. Menetukan karakteristik sel surya. 4. Membuat rangkaian seperti pada gambar 5. Mengukur arus dan tegangan untuk berbagai harga .

5. Mengulangi percobaan seperti no.2 untuk sumber cahaya yang berbeda (missal dengan memfilter cahaya yang jatuh ke panel surya).

DAFTAR PUSTAKA

Krane, Kenneth. 1992. Fisika Modern. Jakarta:UI Sutrisno. 1986. Elektronika Teori dasar dan penerapannya Jilid 1. Bandung:ITB Di akses pada hari Minggu, tanggal 29 September 2013 : http://id.wikipedia.org/wiki/Sel_surya http://energisurya.wordpress.com/2007/08/22/efisiensi-sel-surya-dari-masa-ke-masa/ http://www.alpensteel.com/component/content/article/46-solar-system/114-efisiensi-sel-suryacapai-60-persen.pdf http://www.alpensteel.com/article/46-102-energi-matahari--surya--solar/381-prinsip-kerja-selsurya-p-n.html http://energisurya.wordpress.com/2008/07/10/melihat-prinsip-kerja-sel-surya-lebih-dekat/