Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penyediaan pangan terutama beras dalam jumlah yang cukup dan harga yang terjangkau masyarakat luas tetap menjadi prioritas utama pembangunan nasional. Selain merupakan makanan pokok lebih dari 95% rakyat Indonesia, bercocok tanam padi juga telah menyediakan lapangan pekerjaan bagi sekitar 20 juta rumah tangga petani di pedesaan, sehingga dari sisi ketahanan pangan nasional fungsinya menjadi sangat penting dan strategis. Pemenuhan kebutuhan pangan yang terus tumbuh selaras dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,36% per tahun bukanlah pekerjaan mudah, karena diperlukan upaya-upaya peningkatan produksi beras sejalan dengan kebutuhan yang semakin meningkat tersebut. Berbagai upaya peningkatan produksi dan produktivitas telah dilakukan pada tahuntahun sebelumnya, namun hal ini belumlah cukup dan perlu terobosan di tahun 2009 dan tahun-tahun berikutnya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan merekayasa teknologi produksi tanaman padi dengan menerapkan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan suatu usaha (teknologi) untuk meningkatkan hasil padi dan efisiensi masukan produksi dengan memperhatikan penggunaan sumber daya alam secara bijak. Dengan cara ini diharapkan dapat menjadi opsi yang tepat dalam meningkatkan produksi tanaman padi.

1.2.

Masalah

1.3.

Tujuan

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Budidaya Padi 1. Benih Padi Benin padi yang digunakan adalah varietas unggul berlabel sesuai anjuran setempat dengan kebutuhan benih 25 kg/ha. 2. Persemaian Persemaian seluas 5% luas lahan yang akan ditanami. Pemeliharaan persemaian seperti pada cara tanam padi biasa. Umur persemaian 25-30 hari. 3. Pengolahan Tanah Tanah diolah sempurna (2 kali bajak dan 2 kali garu), dengan kedalaman olah 15-20 cm. Bersamaan dengan pengolahan tanah dilaksanakan perbaikan pintu pemasukan atau pengeluaran dan perbaikan pematang, jangan sampai terjadi kebocoran. 4. Pembuatan Caren dan Saringan Pembuatan caren palang dan melintang pada saat pengolahan tanah terakhir, lebar 4045 cm dengan kedalaman 25-30 cm. Pada titik persilangan dibuat kolam pengungsian ukuran 1x1 m dengan kedalaman 30 cm. Pada setiap permukaan air menggunakan bambu. 5. Penanaman Padi Cara tanam adalah sistem tanam jajar legowo 2:1 atau 4:1. Pada jajar legowo 2:1, setiap dua barisan tanam terdapat lorong selebar 50 cm, jarak antar barisan 25 cm, tetapi jarak dalam barisan lebih rapat yaitu 15 cm. Pada jajar legowo 4:1. setiap empat barisan tanam terdapat lorong selebar 50 cm, jarak antar barisan 25 cm, jarak dalam barisan tengah 25 cm, tetapi jarak dalam barisan pinggir lebih rapat yaitu 15 cm. Untuk mengatur jarak tanarn. digunakan caplak ukuran mata 25 cm dan 50 cm. Pada pintu pemasukan dan pengeluaran air pada setiap petakan dipasang saringan kawat dan alat pengatur tinggi

jajar legowo 2:1 dicaplak satu arah saja, sedangkan pada jajar legowo 4:1 dicaplak kearah memanjang dan memotong. 6. Pengaturan Air Pengaturan air macak-macak 3-4 HST. Setelah 10-15 HST (sesudah penyiangan dan pemupukan susulan pertama) air dimasukkan mengikuti tinggi tanaman. 7. Pemupukan Pupuk dasar diberikan secara disebar pada satu tanam padi dengan dosis 1/3 bagian Urea dan seluruh dosis SP-36. Pupuk susulan pertama diberikan pada umur 15 HST (sesudah penyiangan) dan pupuk susulan kedua pada umur 45 HST. Dosis pupuk sesuai anjuran setempat. 8. Penyiangan Penyiangan dilakukan pada umur 10-15 HST (sebelum pemberian pupuk susulan pertama) dan selannjutnya tergantung keadaan gulma. 9. Pengendalian Hama dan Penyakit Pengendalian hama penyakit dilakukan dengan sistem perantauan. Hindari penggunaan pestisida. 10. Panen Padi siap panen: 95 % butir sudah menguning (33-36 hari setelah berbunga), bagian bawah malai masih terdapat sedikit gabah hijau, kadar air gabah 21-26 %, butir hijau rendah. Berdasarkan deskripsi varietas padi, umur panen padi yang tepat adalah 30 sampai 35 hari setelah berbunga merata atau antara 135 sampai 145 hari setelah tanam.

2.2 Rekayasa Teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT)


Pengelolaan tanaman terpadu merupakan suatu usaha untuk meningkatkan hasil padi dan efisiensi masukan produksi dengan memperhatikan penggunaan sumber daya alam secara bijak. Melalui usaha ini diharapkan (1) kebutuhan beras nasional dapat dipenuhi, (2) pendapatan petani padi dapat ditingkatkan, (3) usaha pertanian padi dapat terlanjutkan (Kushartanti, et al., 2007).

Penerapan pengelolaan tanaman terpadu didasarkan pada empat prinsip, yaitu: dinamis, keterpaduan, spesifik lokasi dan partisipatif. komponen teknologi yang dapat diintroduksikan dalam pengembangan model PTT terdiri atas :

1. 2. 3. 4.

Varietas ungul baru yang sesuai dengan karakteristik lahan, lingkungan dan keinginan petani setempat. Benih bermutu (kemurnian dan daya kecambah tinggi). Bibit muda (<21 HSS). Jumlah bibit 1-3 batang perlubang dan sistem tanam jajar legowo 2:1, 4:1 dan lainya dengan populasi minimum 250.000 rumpun/ha.

5. 6.

Pemupukan N berdasarkan Bagan Warna Daun (BWD). Pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah, PUTS atau peta komisi serta pemecahan masalah kesuburan tanah apabila terjadi.

7. 8. 9. 10. 11.

Bahan organik (kompos jerami 5t/ha atau pupuk kandang 2/ha). Pengairan berselang (intermittent irrigation). Pengendalian gulma secara terpadu. Pengendalian hama dan penyakit secara terpadu (PHT). Panen beregu dan pascapanen menggunakan alat perontok. Berdasarkan sifatnya, komponen-komponen teknologi ini dibagi menjadi dua

bagian: Pertama, teknologi untuk pemecahan masalah setempat atau spesifik lokasi. Kedua, teknologi untuk perbaikan budidaya yang lebih efisien dan efektif. Dalam pelaksanaannya tidak semua komponen teknologi diterapkan sekaligus, terutama di lokasi yang memiliki masalah spesifik. Menurut Badan Litbang Pertanian Jawa Tengah (2007), ada 6 komponen teknologi yang dapat diterapkan bersamaan (compulsion) sebagai penciri model pengelolaan tanaman terpadu. Jika diterapkan secara bersamaan sumbangan keenam komponen teknologi ini terhadap peningkatan produktivitas padi efisiensi produksi besar, yaitu: varietas unggul, benih bermutu, bibit muda, cara tanam, pupuk organik, dan pemupukan spesifik lokasi. 1. Varietas unggul baru yang sesuai lokasi. 2. Benih bermutu (bersertifikat dan vigor tinggi).

3. Benih muda (<21 HSS) apabila kondisi lingkungan memungkinkan. 4. Jumlah bibit 1-3 perlubang dan sistim tanam (populasi). 5. Pemupukan N berdasarkan Bagan Warna Daun (BWD). 6. Pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah PUTS serta pemecahan masalah kesuburan tanah apabila terjadi dan penggunaan bahan organikJika diterapkan secara bersamaan, sumbangan keenam komponen teknologi terhadap peningkatan produktivtas padi dan efissien produksi besar. Budidaya padi model PTT pada prinsipnya memadukan berbagai komponen teknologi yang saling menunjang (sinergis) guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi usahatani. Sistem tanam legowo merupakan salah satu komponen teknologi yang diintroduksikan dalam pengembangan model PTT. Sistem tanam ini mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan dengan sistem tanam biasa (tegel), yaitu: 1) pada legowo 2:1, semua bagian rumpun tanaman berada pada bagian pinggir yang biasanya memberi hasil lebih tinggi (efek tanaman pinggir); 2) pengendalian hama, penyakit dan gulma lebih mudah; 3) terdapat ruang kosong untuk pengaturan air, saluran pengumpul keong mas, atau untuk mina padi; dan 4) penggunaan pupuk lebih berdaya guna (Badan Litbang Pertanian, 2007). Cara tanam padi sistem legowo merupakan rekayasa teknologi yang ditujukan untuk memperbaiki produktivitas usaha tani padi. Teknologi ini merupakan perubahan dari teknologi jarak tanam tegel menjadi tanam jajar legowo. Legowo diambil dari bahasa Jawa Banyumas yang berasal dari kata lego dan dowo; lego artinya luas dan dowo artinya memanjang. Jadi, di antara kelompok barisan tanaman padi terdapat lorong yang luas dan memanjang sepanjang barisan. Jarak antarkelompok barisan (lorong) bisa mencapai 50 cm, 60 cm atau 70 cm bergantung pada kesuburan tanah (Suriapermana et al., 1990). Teknologi legowo dikembangkan untuk memanfaatkan pengaruh barisan pinggir tanaman padi (border effect) yang lebih banyak (Departemen Pertanian, 1995). Dengan sistem legowo, tanaman padi tumbuh lebih baik dan hasilnya lebih tinggi karena luasnya border effect dan lorong di petakan sawah sehingga menghasilkan bulir gabah yang lebih bernas.

Pada sistem legowo digunakan dua macam caplak dengan ukuran seperti terlihat pada Gambar 1. Caplak dengan ukuran 25 cm dan 50 cm digunakan untuk jarak barisan tanaman dan caplak dengan ukuran 15 cm untuk jarak dalam barisan tanaman. Jarak tanam yang digunakan pada sistem tanam legowo adalah 25 cm x 15 cm x 50 cm (Gambar 2), sedangkan pada cara tanam tegel 25 cm x 25 cm. Benih padi ditanam dengan cara tanam pindah atau disemai 21 hari, kemudian bibit ditanam 3-4 batang tiap rumpun.

Pada cara tanam legowo, pupuk diberikan dengan cara disebar pada alur sempit sehingga pupuk lebih efektif diserap oleh tanaman, sedangkan pada sistem tegel pupuk disebar pada semua areal. Penyiangan dilakukan dua kali yaitu pada umur 18-20 HST dan 38-40 HST. Pengendalian hama dan penyakit tergantung serangan (sesuai kaidah Pengendalian Hama Terpadu). Sistem legowo memberikan kondisi yang sama pada setiap tanaman padi untuk mendapatkan ruang dan sinar matahari secara optimum. Menurut Suriapermana et al. (1990), pada padi yang ditanam secara beraturan dalam bentuk tegel, hasil tanaman bagian

luar lebih tinggi 1,5-2 kali dibanding hasil tanaman yang berada di bagian dalam. Hasil pengkajian menunjukkan, bahwa jumlah rumpun tanaman padi yang ditanam dengan sistem legowo mencapai 178.900 rumpun/ha, sedangkan pada sistem tegel 160.000 rumpun/ha. Dengan demikian, jumlah rumpun tiap hektar pada cara tanam padi sistem legowo 10,6% lebih banyak dibanding sistem tegel. Pemberian pupuk pada cara tanam legowo juga lebih efektif karena distribusi pupuk lebih merata dan langsung ke pertanaman. Pupuk hanya diberikan pada lorong kecil di antara barisan tanaman sehingga pertumbuhan tanaman serta hasil dan kualitasnya lebih baik. Selain itu, lorong yang lebih lebar pada sistem legowo memudahkan dalam pelaksanaan pemupukan, penyiangan, dan pengendalian hama penyakit. Keuntungan lain yang diperoleh dari sistem legowo selain dapat meningkatkan hasil adalah lebih efisien dalam penggunaan tenaga kerja. Benih padi dan tenaga tanam yang digunakan pada cara tanam sistem legowo lebih banyak dibanding cara tegel, tetapi tenaga kerja penyiangan lebih rendah

BAB III KESIMPULAN

Cara tanam padi sistem legowo merupakan rekayasa teknologi yang ditujukan untuk memperbaiki produktivitas usaha tani padi. Teknologi ini merupakan perubahan dari teknologi jarak tanam tegel menjadi tanam jajar legowo.

DAFTAR PUSTAKA

http://pustaka.litbang.deptan.go.id/agritek/ntbr0110.pdf

http://www.pustaka.litbang.deptan.go.id/publikasi/bt091044.pdf

http://pustaka.litbang.deptan.go.id/bppi/lengkap/p2hp001.pdf Aup pahruddin, maripul, dan philips rido dida. 2004. Cara tanam padi sistem legowo mendukung usaha tani Di desa bojong, cikembar, sukabumi. Buletin teknik pertanian vol. 9, nomor 1. Sirappa, M.P. 2011. Assessment of Improved Rice Cultivation Technology Through the Use of Superior Variety and Planting System Jajar Legowo in Increasing Rice Productivity to Support Food Self-Sufficiency. Jurnal Budidaya Pertanian 7: 79-86.