Anda di halaman 1dari 2

ASAS-ASAS DALAM HUKUM ACARA PERDATA

2 Asas Obyektivitas. Untuk tercapainya putusan yang adil, maka hakim atau panitera wajib mengundurkan diri, apabila terikat hubungan keluarga sedarah atau semenda sampai derajat ketiga atau hubngan suami atau istri meskipun telah bercerai dengan tergugat, penggugat atau penasihat hukum atau antara hakim dengan salah seorang hakim atau panitera juga terdapat hubungan sebagaimana yang di sebutkan di atas, atau hakim atau paniteratersebut mempunyai kepentingan langsung dan tidak langsung dengan sengketanya. 3.Sederhana, cepat dan biaya ringan Sederhana yaitu acara yang jelas, mudah dipahami dan tidak berbelit-belit.Cepat menunjuk pada jalannya peradilan banyak formalitas merupakan hambatan bagi jalannya peradilan (mis. Perkara tertunda bertahun-tahun karena saksi tidak datang atau para pihak bergantian tidak datang bahkan perkara dilanjutkan oleh ahli waris)Biaya ringan maksudnya agar tidak memakan biaya yang benyak.

5. Inisiatif berpekara oleh pihak yg berkepentingan Dalam perkara perdata, inisiatif untuk mengajukan perkara kepengadilan sepenuhnya terletak pada pihak yang berkepentingan. 6.Hakim aktif dalam pemeriksaan Hakim membantu para pencari keadilan dan berusaha sekeras-kerasnya untuk mengatasi segala hambatan dan rintangan untuk tercapainya peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan. 7.. Adanya Biaya Atas Perkara. Maksud dari Azas ini adalah atas perkara yang diajukan dikenakan biaya guna memperlancar proses penyelesaian perkara. Biasanya biaya digunakan untuk panggilan-panggilan pemberitahuan, biaya materai, serta biaya-biaya lainya guna memproses perkara. Ada pengecualian pada hal ini yang ditujukan pada orang orang yang dikatagorikan tidak mampu memenuhi biaya tesebut, hanya saja harus melalui izin dari aparatur yang berwenang. dengan permohonan pernyataan ketidak mampuan dari aparatur tesebut.

9. Sifat Terbuka. Maksud dari Azas ini adalah terbuka untuk umum yang berarti setiap orang dibolehkan hadir dan mendengarkan pemeriksaan di persidangan. Tujuan dari azas ini antara lain memberikan Perlindungan HAM di bidang peradilan serta menjamin objektifitas peradilan dengan pertanggung jawaban pemeriksaan yg FAIR. Pada Azas ini terdapat pengecualian untuk perkara-perkara tertentu sehingga dimungkinkan pemeriksaan/pesidangan tertutup. 10.. Mendengarkan kedua belah pihak (audi et alteram partem). Maksud dari Azas ini adalah Pemberlakuan hak yang sama/seimbang, adil di hadapan hukum kepada para pihak yang berperkara dalam kesempatan untuk memberi pendapat. Dalam hal ini berarti juga bahwa pengajuan alat bukti harus dilakukan di muka persidangan dan dihadiri oleh kedua belah pihak