Anda di halaman 1dari 12

PENENTUAN KELARUTAN DAN KOEFISIEN AKTIVITAS ELEKTROLIT KUAT

Ristasari Wulandari*, Faesal Amri, Citra Ayuning Tyas Lab. Kimia Fisika Jurusan Kimia Universitas Negeri Semarang Gedung D8 Lt 2 Sekaran Gunungpati Semarang, Indonesia Ristasarista@gmail.com, 085740384303

ABSTRAK Percobaan dilakukan untuk mengukur kelarutan barium iodat dalam larutan KCl dengan berbagai kekuatan ion, menghitung kelarutan barium iodat ada I = 0 dengan jalan ekstrapolasi, menghitung koefisien aktivitas rata-rata barium iodat pada berbagai nilai I dan menguji penggunaan hukum Debye-Huckle. Percobaan ini dilakukan menggunakan acuan titrasi iodometri, dimana digunakan larutan tiosulfat sebagai larutan standardnya. Langkah pertama adalah membuat larutan KCl berbagai konsentrasi dengan mengencerkan larutan KCl 0,1 M. Kemudian untuk menjenuhkan larutan ditambahkan Ba(IO3)2. Analisis dilakukan terhadap konsentrasi IO3- pada larutan jenuh dihitung dari hasil titrasi, selanjutnya kelarutan Ba(IO3)2. Kemudian membuat kurva hubungan log s sebagai fungsi I1/2 dan kurva log sebagai fungsi I1/2. Dari kurva yang diperoleh, dapat ditarik kesimpulan sehubungan dengan hukum pembatas Debye-Huckel. Dari hasil pengamatan, kelarutan akan naik dengan naiknya konsentrasi. Grafik plot s terhadap I diperoleh persamaan regresi linear y = 0.1571x + 0.6637 yang sebanding dengan persamaan log s = 2A I + log so. Dengan jalan ekstrapolasi (x = 0) diperoleh log s = 0,6637 dan kelarutan (s) = 4,609 M. Kelarutan pada larutan elektrolit bergantung pada kekuatan ion, dan koefisien aktivitas ionik hanya bergantung pada muatan ion dan konsentrasinya. Dari hubungan tersebut diperoleh koefisien aktivitas ionik rata-rata semakin meningkat dengan turunnya konsentrasi. Kata Kunci : koefisien aktivitas ionic, kelarutan, hukum Debye-Huckle

ABSTRACT The experiments were performed to measure the solubility of barium iodate in KCl solution with different ionic strength , calculate the solubility of barium iodate is no I = 0 with the extrapolation , calculate the average activity coefficient of barium iodate on the values I and test the use of the law of Debye - Huckle . These experiments were done using a reference iodometric titration , which is used as a solvent standardnya thiosulfate solution . The first step is to make various concentrations of KCl solution by diluting a solution of 0.1 M KCl Then added to saturate the solution of Ba(IO3)2 . Analysis conducted on the concentration of IO3 saturated solution was calculated from the results of the titration , then the solubility of Ba(IO3) 2 . Then make a curve as a function of log s I1/2 and log curves as a function of I1/2 . From the curves obtained , it can be concluded with respect to the Debye - Hckel limiting law . From the observations , solubility will increase with increasing concentration . S chart plots with

I in the linear regression equation y = 0.1571x + 0.6637 which is comparable to the

equation log s = 2A I + log so . With the extrapolation ( x = 0 ) obtained log s = 0.6637 and solubility ( s ) = 4.609 M. Solubility in the electrolyte solution depends on the ionic strength , and ionic activity coefficients only depend on the ion charge and concentration . Of the relationship ionic activity coefficients obtained an average increase with decrease in concentration . Keywords: ionic activity coefficient, solubility, law Debye-Huckle

PENDAHULUAN Larutan elektrolit kuat adalah larutan elektrolit dimana zat yang terlarut terionisasi seluruhnya (ionisasi sempurna a = 1). Karena banyaknya ion yang dihasilkan, larutan ini dapat menghantarkan listrik dengan baik. Persamaan reaksi ionisasi elektrolit kuat ditandai dengan anak panah satu arah ke kanan (reaksi irreversible). Di bawah ini diberikan beberapa jenis kation dan anion yang dapat membentuk larutan elektrolit kuat, Kation : Na+, L+, K+, Mg2+, Ca2+, Sr2+, Ba2+, NH4+ Anion : Cl-, Br-, I-, SO42-, NO3-, ClO4-, HSO4-, CO32-, HCO32Larutan ini biasanya berupa larutan asam kuat, basa kuat, dan garam (Lischer, 2009)

Dalam suatu reaksi antara ion-ion berlawanan muatan, muatan terasosia dengan komplek aktifasi menurun, akibatnya menurunkan elektrichor dan entropy aktivasi positif (Budi Santosa, 2006). Salah satu cara untuk menunjukkan hubungan antara kekuatan ion dan aktvitas ion adalah mempelajari perubahan kelarutan elektrolit yang sedikit larut (misalnya Ba (IO3)2) sebagai aikbat adanya penambahan elektrolit lain (bukan ion senama, misalnya KCl). Agar hukum Debye-Huckel dapat diterapkan, konsentrasi larutan elektrolit sedikit larut tersebut harus diukur dengan tepat walaupun konsentrasinya rendah. Selain itu kelarutannya dalam air harus berada dalam batas kisaran hukum Debye-Huckel, yaitu kelarutan ion<0,01 M untuk elektrolit 1-1 (uni-univalen). Salah satu elektrolit yang memenuhi kriteria di atas adalah Ba(IO3)2yang konsentrasinya dapat di tentukan dengan menggunakan metode volumetrik yang sederhana. Dengan menganalisis data yang diperoleh akan didapat koefisien ativitas rata-rata (). (Wahyuni, 2013). Menurut Wahyuni, 2013, aktivitas atau koefisien aktivitas suatu individu ion secara percobaan tidak dapat ditentukan, karena itu di definisikan aktivitas rata-rata a, dan koefisien aktivitas rata rata yang untuk elektrolit 1-2 (uni-bivalen) didefinisikan sebagai berikut: a = (a+ a-2)1/3 = (y+ y-2)1/3 c = (c+ c-2)1/3 kelarutan teoritis bila mendekati 1 satu (=1) yaitu pada keadaan dimana kekuatan ion sama dengan nol (I=0). Karena selalu menurun dengan meningkatnya kekuatan ion, maka baik kelarutan dan hasil kali kelarutan, Ksp (dinyatakan dalam onsentrasi, bukan dalam aktivitas) dari elektrolit yang sedikit larut akan meningkat dengan adanya penambahan elektrolit lain yang tidak mengandung ion senama. Nilai nampaknya tidak bergantung pada jenis ion dalam senyawa sejauh ini asalkan senyawanya adalah mempunyai tipe valensi yang sama. Teori Debye-Huckel memprediksi bahwa dalam larutan yang cukup encer koefisien aktivitas ionic rata-rata hanya bergantung pada muatan ion dan konsentrasinya, tetapi tidak bergantung pada karakteristik individual yang lain dari ion (Wahyuni, 2011). Kekuatan ion (I) harus dihitung berdasarkan semua ion yang berada di dalam larutan. Nilai I terendah yang dapat digunakan untuk mengukur kelarutan dibatasi oleh kelarutan

elektrolit dalam air. Ekstrapolasi ke kekuatan ion sama dengan nol, dilakukan berdasarkan teori Debye-Huckle untuk elektrolit kuat (Wahyuni, 2013). Percobaan dilakukan untuk mengukur kelarutan barium iodat dalam larutan KCl dengan berbagai kekuatan ion, menghitung kelarutan barium iodat ada I = 0 dengan jalan ekstrapolasi, dan menghitung koefisien aktivitas rata-rata barium iodat pada berbagai nilai I dan menguji penggunaan hukum Debye-Huckle.

METODE Untuk dapat dilaksanakannya percobaan, sebelum percobaan perlu dipersiapkan beberapa alat seperti: labu erlenmeyer 250 ml merk pyrex, buret 50 ml merk pyrex, statif dan klem, labu takar 250 ml merk iwaki, labu takar 100 ml merk iwaki, pipet volume 10 ml merk pyrex, corong kaca, dan pipet tetes. Sedangkan beberapa bahan yang digunakan adalah larutan KCl 0,1 M, KIO3, dan Na2S2O3 0,01 M, HCl 1 M, KI 0,5 gram/litr, larutan kanji 1%, kertas saring, plastik dan karet gelang. Pada percobaan ini dilakukan beberapa tahapan, diantaranya: persiapan dan titrasi kelarutan. Tahap persiapan ialah mempersiapkan larutan KCl dengan 6 macam konsentrasi yang berbeda. Pertama-tama ialah membuat larutan HCl dengan konsentrasi 0,1 N dari HCl pekat sebanyak 200 ml, kemudian pengenceran selanjutnya yakni HCl 0.05 N, 0.02 N, 0.01 N, 0.005 N, dan 0.002 N menggunakan larutan KCl 0.5 N yang sudah dibuat sebelumnya, dimana pengenceran dapat dihitung menggunakan rumus V1 M1 = V2 M2.

Variabel Percobaan Variabel yang diamati adalah besar kelarutan barium iodat pada larutan KCl yang dibuat 6 macam konsentrasi yang berbeda. Untuk mengetahui besar kelarutan dilakukan titrasi secara iodometri menggunakan larutan standart natrium tiosulfat. Variabel tetap berupa berat endapan barium iodat, sedangkan variabel bebas dikenakan pada konsentrasi KCl yang bermacam-macam.

Analisis yang dibutuhkan berupa berat arang yang tersisa yang dapat dicari menggunakan rumus: Log = -A|Z+.Z-| )

Dimana : = koefisien aktivitas rata-rata suatu elektrolit A 0,509. = tetapan dan untuk larutan dengan pelarut air pada suhu 25C nilainya adalah

Rancangan Percobaan Percobaan ini dilakukan dalam suhu ruangan standart 280C. Pada tahap ini ialah tahap dimana dilakukannya persiapan barium iodat Ba(IO3)2 yang didapatkan dengan mencampurkan kalium iodat dan barium klorida yang kemudian disaring endapannya. Kemudian menambahkan endapan Ba(IO3)2 ke dalam masing-masing labu Erlenmeyer berisi larutan KCl (0,025 gram/50 ml), labu Erlenmeyer ditutup untuk mencegah penguapan. Selanjutnya labu Erlenmeyer dipanaskan hingga larutan bersuhu 50oC selama 1 menit, setelah itu ditempatkan ruangan bersuhu tetap 25oC selama 1 jam. Usai genap 1 jam masing masing larutan diambil 10 ml dengan pipet yang ujungnya telah dipasang kertas saring yang berfungsi menyaring Ba(IO3)2 agar tidak ikut masuk dalam buret lalu ditambahkan 1 ml larutan KI 0,5 g/L dan 2 ml HCl 1 M yang kemudian dititrasi segera dengan Na2S2O3 0,01 M (yang telah distandarisasi) secara iodometri. Kemudian ditambahkan beberapa tetes amilum 1% dan melanjutkan titrasi hingga warna biru-hitam menghilang sehingga didapatkan data berupa volume Na2S2O3 0,01 M yang diperlukan untuk menitrasi larutan sampel dalam masing-masing labu Erlenmeyer yang akan digunakan untuk meghitung besarnya kelarutan.

HASIL DAN PEMBAHASAN Tujuan utama dari praktikum ini adalah menentukan besar kelarutan barium iodat dalam larutan KCl dalam berbagai variasi konsentrasi. Adanya variasi konsentrasi larutan KCl ini kemudian mengakibatkan kekuatan ion dalam campuran juga ikut berubah sehingga menjadi tidak sama antara campuran yang satu dengan yang lain (dalam erlenmayer no 1-7). Berdasarkan dari teori Debye-Huckle dimana suatu diasumsikan bahwa suatu electrolit kuat akan berdisosiasi secara sempurna mejadi ion-ionnya. Selain itu juga diasumsikan bahwa pada konsenntrasi yang sangat encer interaksi yang terjadi antara ion-ion yang terdapat dalam larutan hanya gaya tarik-menarik atau gaya tolak-menolak. Salah satu cara untuk melihat bagaimana ketergantungan aktivitas ion pada kekuatan ion adalah dengan jalan mempelajari perubahan kelarutan elektrolit yang sedikit larut,dimana pada

percobaan ini digunakan larutan barium iodat,sebagai akibat adanya penamabahn elektrolit lain. Elektrolit yang ditambahkan disini bukanlah suatu elektrolit dengan ion senama dengan bariun iodat, tapi pada percobaan ini digunakan larutan KCl. Agar hukum Debye-Huckle konsentrasi barium iodat yang digunakan harus berada dalam konsentrasi yang rendah,yaitu kelarutan ion < 0,01. Dari hasil titrasi didapatkan hasil seperti pada tabel 1.

Tabel 1. Hasil titrasi pada berbagai konsentrasi

No. Labu Erlenmeyer

Konsentrasi larutan KCl (M)

Volume tiosulfat untuk titrasi (mL)

Konsentrasi larutan jenuh IO3- (M)

Kelarutan (s) Ba(IO3)2 (M)

Log s

1 2 3 4 5 6 7

0,1 0,05 0,02 0,01 0,005 0,002 Aquades

3,3 2,6 2,5 5,5 3,2 1,9 -

0,303 0,192 0,08 0,01818 0,015 0,0105 -

0,1515 0,0961 0,04 0,00909 0,00781 0,005263 -

-0,8195 -1,017 -1,397 -2,0414 -2,1072 -2,2787 -

Pada tabel 1, tidak dapat diketahui besar dari kelarutan barium iodat secara matematis, karena konsentrasi aquades tidak jelas tertera. Berdasarkan data volume tiosulfat ini, selanjutnya dapat ditentukan konsentrasi dari ion IO3- , kelarutan dari barium iodat, logaritma dari kelarutan (log s), kurva log s, intensitas rata-rata,koefisien aktivitas rata-rata dan log dari koefisien aktivitas rata-rata. Adapun reaksi yang terjadi pada saat titrasi yakni : IO3- + 8H+ + 6 H+ I3- + 2 S2O3 3 I3- + 3H2O S4O6- + 3 I-

Setelah didapatkannya besar kelarutan Ba(IO3)2 dari masing-masing labu Erlenmeyer, maka dapat di temukan pula besar koefisien ionik rata-rata dengan menerapkan Teori Debye-Huckle, sehingga didapatkan data seperti pada tabel 2.

Tabel 2. Tabel besar kekuatan ion. I1/2 So/S () Log

No. Labu Erlenmeyer 1 2 3 4 5 6 7

Kekuatan ion (I) 0,327 0,243 0,16 0,1136 0,111405 0,10788 -

0,571 0,494 0,4 0,337 0,3337 0,3284 -

0,2632 0,3143 0,3924 0,4540 0,4539 0,46304 -

-0,58 -0,502 -0,40625 -0,342 -0,3430 -0,3343 -

Berdasarkan tabel 2, ditemukan bahwa semakin besar konsentrasi larutan, maka kekuatan ionnya akan semakin besar pula. Dalam teori Debye-Huckle dinyatakan bahwa logaritma koefisien ionik rata-rata adalah fungsi linear dari akar pangkat dua kekuatan ionik dan slopenya bernilai negatif. Selain itu, disebutkan pula bahwa koefisien aktivitas ionik hanya bergantung pada muatan ion dan konsentrasinya. Kelarutan berbanding lurus dengan kekuatan ion. Jadi, semakin besar kekuatan ion, maka semakin besar pula kelarutannya dan sebaliknya semakin kecil ekuatan ion, maka semakin kecil pula kelarutannya. Pada Grafik 1 dan 2 digambarkan hubungan antara koefisisen aktivitas ionik dengan konsentrasi, dimana koefisien aktivitas ionik rata-rata naik dengan turunnya konsentrasi. Koefisien aktivitas ionik hanya bergantung pada muatan ion dan konsentrasinya. Hubungan antara keduanya dapat dilihat dari grafik yang diperoleh dari hasil perhitungan. Sesuai grafik dapat dilihat bahwa koefisien aktivitas ionik rata-rata naik dengan turunnya konsentrasi (Wahyuni, 2011).

Grafik 1. Grafik Hubungan antara log s dengan I

Grafik Hubungan log s vs I


y = 0.1571x + 0.6637 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0 -2.5 -2 -1.5 Log s -1 -0.5 0 I

Grafik 2. Grafik Hubungan antara I dengan log

Grafik Hubungan I vs log


0 0 -0.1 -0.2 y = -1.0093x - 0.0034 Log -0.3 -0.4 -0.5 -0.6 -0.7 I 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6

Kelarutan pada larutan elektrolit bergantung pada kekuatan ion, dimana kelarutan semakin meningkat dengan meningkatnya kekuatan ion. Teori Debye-Huckle memprediksi

bahwa logaritma koefisien ionik rata-rata adalah fungsi linear dari akar pangkat dua kekuatan ionik danslopenya bernilai negatif (Castellan, 1983). Sebagai akibat penambahan elektrolit lain bukan senama KCl, dari hasil perhitungan diperoleh grafik hubungan I terhadap kelarutan. Dapat dilihat bahwa kelarutan akan naik dengan naiknya konsentrasi. Demikian juga sebaliknya, dari grafik plot s terhadap I diperoleh persamaan regresi linear y = 0.1571x + 0.6637 yang sebanding dengan persamaan log s = 2A

I + log so. Dengan jalan ekstrapolasi (x = 0) diperoleh log s = 0.6637 dan kelarutan (s) =
4,609 M.

KESIMPULAN Setelah melakukan percobaan ini, dapat diketahui bahwa kekuatan ion sangat bergantung pada konsentrasi elektrolit. Dari hasil yang diperoleh dari analisis data percobaan, diperoleh simpulan bahwa, kelarutan barium iodat semakin meningkat dalam larutan KCl yang konsentrasinya semakin tinggi dengan kekuatan ion yang semakin meningkat. Sedangkan grafik plot s terhadap I diperoleh persamaan regresi linear y = 0.1571x + 0.6637, dimana diperoleh kelarutan barium iodat pada I (x) = 0 dengan ekstrapolasi adalah 4,609 M. Selain itu diketahui kelarutan pada larutan elektrolit bergantung pada kekuatan ion, dan koefisien aktivitas ionik hanya bergantung pada muatan ion dan konsentrasinya. Dari hubungan tersebut diperoleh koefisien aktivitas ionik rata-rata semakin meningkat dengan turunnya konsentrasi.

DAFTAR PUSTAKA Karyadi.1990.Kimia Fisika II. Jakarta : Bumi Pustaka. Lischer, 2009. Larutan Elektrolit Kuat. http://lischer.wordpress.com/ . Diakses pada 9 Oktober 2013. Sutrisno.1999.Kimia Fisika untuk Mahasiswa.Malang : Universitas Brawijaya. Tim Dosen Kimia Fisika.2010. Petunjuk Praktikum Kimia Fisik.Semarang : Jurusan Kimia FMIPA UNNES. W. Castellan, Gilbert. 1983. Physical Chemistry Third Edition. USA : Addison-Wesley Publishing Company, Inc.

Wahyuni, Sri. 2011. Bahan Ajar (Handout) Kimia Fisika 2. Semarang : Jurusan Kimia FMIPA Unnes. Semarang, 8 Oktober 2013

Mengetahui, Dosen Pengampu Praktikan

Ir. Sri Wahyuni, M.Si NIP

Ristasari Wulandari NIM. 4301411124

LAMPIRAN JAWABAN PERTANYAAN 1. Diketahui: T = 25C Konstanta dielektrik = 78,5 e = 1,6. 10-19 NA = 6,02.10-23 mol k = 1,381.10-23 J/mol Ditanyakan: A = ......? Penyelesaian: H2O H+ + OHI = (10-7 + 10-7) = 10-7

= 9,5387.10-56 I= [ c+ ] [ c- ]2 a = . ?

2. Diketahui: Ditanyakan: Penyelesaian:

I= [ c+ ] [ c- ]2 0.01 0.02 C = c2 = c2 = 0.141 = ( c+c-2)1/3 = ( 0.141x0.1412)1/3 = 0.141 Log = -A|Z+.Z-| )

= -0.509| +1.-2|0.011/2) = -0.1018 a = 0.791 = .c = 0.791x0.141 = 0.11153