Anda di halaman 1dari 6

TUGAS PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN BAB 2 IDENTITAS DAN INTEGRASI NASIONAL

DISUSUN OLEH: FERDI DWI SEPTIAN

E1M012021

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MATARAM

SOAL. 1. Identifikasi berbagai identitas masyarakat yang ada diwilayah kabupaten/kota anda, kemudian jelaskan potensinya dalam upaya membangun integrasi nasional!

JAWAB: IDENTITAS MASYARAKAT KABUPATEN SUMBAWA BERDASARKAN 4 UNSUR PEMBENTUKAN IDENTITAS NASIONAL SERTA POTENSINYA DALAM MEMBANGUN INTEGRASI NASIONAL A. 1. Suku Sumbawa Suku Sumbawa atau tau Samawa mendiami bagian barat Pulau Sumbawa atau bekas wilayah Kesultanan Sumbawa, wilayahnya seluas 8.493 km2 yang berarti lebih dari setengah Pulau Sumbawa dengan luas keseluruhan mencapai 14.415,45 km2, sedangkan bagian timur Pulau ini didiami oleh suku Bima. Sebagian besar wilayahnya terdiri atas perbukitan dan pegunungan dengan puncak tertinggi 1.730 meter berada di Gunung Batu Lanteh. Gunung ini berdiri tegak di antara lima pegunungan lainnya yang berada di bagian tengah dan selatan pulau. Mengarah ke gunung ini terdapat sebuah sungai terbesar bernama Brang Beh yang juga mengalir menuju Teluk Lampui dan menuju daerah-daerah di sekitar pegunungan lainnya, kemudian bertemu dengan anak-anak sungai lainnya yang lebih kecil. Populasi tau Samawa tersebar di dua daerah kabupaten, yaitu Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat yang wilayahnya mulai dari Kecamatan Empang di ujung timur hingga Kecamatan Taliwang dan Sekongkang yang berada di ujung barat dan selatan pulau, termasuk 38 pulau kecil di sekitarnya. Batas teritorial kedua daerah kabupaten ini adalah sebelah utara berbatasan dengan Laut Flores, sebelah selatan dengan Samudera Indonesia, sebelah barat dengan Selat Alas, dan sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Dompu. Jumlah populasi suku Sumbawa sekarang diperkirakan lebih dari 500.000 jiwa. Populasi Suku Sumbawa yang terus berkembang saat ini merupakan campuran antara keturunan etnik-etnik pendatang atau imigran dari pulau-pulau lain yang telah lama menetap dan mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya serta sanggup berakulturasi

dengan para pendatang lain yang masih membawa identitas budaya nenek moyang mereka, baik yang datang sebelum maupun pasca meletusnya Gunung Tambora tahun 1815. Suku Sumbawa adalah campuran kelompok etnik-etnik pendatang yang telah membaur dengan kelompok etnik pendatang yang lebih dahulu mendiami bekas wilayah Kesultanan Sumbawa. Bukti-bukti arkeologis yang diketemukan di wilayah Sumbawa, berupa sarkofagus, nakara, dan menhir mengindikasikan bahwa tau Samawa purba telah memiliki kepercayaan dan bentuk-bentuk ritual penyembahan kepada arwah nenek moyang mereka. Konsep-konsep tentang kosmologi dan perlunya menjaga keseimbangan antara dirinya dengan makrokosmos terus diwariskan lintas generasi hingga masuknya kebudayaan Hindu-Budha, bahkan paradaban Islam di Sumbawa kini.

2. Agama (Sistem Religi) Diperkirakan agama Hindu-Budha telah berkembang pesat di kerajaan-kerajaan kecil Sumbawa sekitar dua ratus tahun sebelum invasi Kerajaan Majapahit ke wilayah Sumbawa ini. Beberapa kerajaan itu antara lain: Kerajaan Dewa Mas Kuning di Selesek (Ropang), Kerajaan Airenung (Moyo Hulu), Kerajaan Awan Kuning di Sampar Semulan (Moyo Hulu), Kerajaan Gunung Setia (Sumbawa), Kerajaan Dewa Maja Paruwa (Utan), Kerajaan Seran (Seteluk), Kerajaan Taliwang, dan Kerajaan Jereweh. Menurut Zolinger, agama Islam masuk ke Pulau Sumbawa lebih dahulu dari pada Pulau Lombok antara tahun 14501540 yang dibawa oleh para pedagang Islam dari Jawa dan Melayu, khususnya Palembang. Selanjutnya runtuhnya Kerajaan Majapahit telah mengakibatkan kerajaan-kerajaan kecil di wilayah Sumbawa menjadi kerajaan-kerajaan yang merdeka. Kondisi ini justru memudahkan bagi proses pengenalan ajaran Islam oleh para mubaligh tersebut, kemudian pada tahun-tahun awal di abad ke-16 Sunan Prapen yang merupakan keturunan Sunan Giri dari Jawa datang ke Sumbawa untuk menyebarkan Islam pada kerajaankerajaan Hindu di Sumbawa, dan terakhir penaklukan Karaeng Moroangang dari Gowa-Sulawesi tahun 1618 atas Kerajaan Dewa Maja Paruwa (Utan) sebagai kerajaan terakhir yang bersedia masuk Islam sehingga menghasilkan sumpah adat dan rapang Samawa (contoh-contoh kebaikan) tidak akan diganggu gugat sepanjang raja dan rakyatnya menjalankan s yariat Islam yang merujuk pada konsepsi adat bersendikan syarak, dan syarak berazazkan kitabullah. Mayoritas tau Samawa saat ini memeluk agama Islam, bahkan sangat mengherankan bila ada orang yang mengaku tau Samawa tidak beragama Islam, sebab pasca penaklukkan Kerajaan Hindu Utan atas Kerajaan Gowa-Sulawesi proses Islamisasi berlangsung dengan gemilang melalui segala sendi kehidupan, baik pendidikan, perkawinan, bahkan segala bentuk tradisi disesuaikan dengan ajaran Islam. Hal ini tercermin dalam lawas: Ling dunia pang tu nanam (di dunia tempat menanam) Pang akhirat pang tu matak (di akhirat tempat menuai) Ka tu boat po ya ada (setelah beramal baru memetik hasilnya) Na asi mu samogang (jangan kamu menganggap remeh) Paboat aji ko Nene (mengabdi kepada Allah)

Gama krik slamat dunia akhirat (demi keselamatan dunia akhirat) Semenjak munculnya pengaruh kebudayaan Islam, boleh dibilang tau Samawa tidak mengenal unsur-unsur kepercayaan agama lain. Hanya Islamlah yang mampu mempertautkan rasa persaudaraan dan mempersatukan berbagai perbedaan etnik pendatang yang telah turun-temurun menjadi tau Samawa ini. Oleh karenanya, ungkapan-ungkapan seperti to tegas ano rawi ke? No soka ungkap bilik ke? Tempu tama dengan nya ke? menunjukkan betapa penting arti Islam bagi tau Samawa.

3. Bahasa Suku Sumbawa adalah campuran kelompok etnik-etnik pendatang yang telah membaur dengan kelompok etnik pendatang yang lebih dahulu mendiami bekas wilayah Kesultanan Sumbawa, sehingga melahirkan kesadaran akan identitas budaya sendiri yang dicirikan dengan kehadiran bahasa Sumbawa atau basa Samawa sebagai bahasa persatuan antaretnik yang mendiami sebagian pulau ini. Mahsun (2002) dalam Prospek Pemekaran Kabupaten Sumbawa mencatat bahwa sebelum bahasa Sumbawa purba (prabahasa Sumbawa) pecah ke dalam empat dialek yang ada sekarang ini, terlebih dahulu pecah ke dalam dua dialek, yaitu pradialek Taliwang-Jereweh-Tongo dan dialek Sumbawabesar atau cikal bakalnya disebut dialek Seran. Kemudian variasi ini berkembang seiring perjalanan waktu hingga memasuki fase historis, pradialek Taliwang-JerewehTongo pecah lagi menjadi tiga dialek yang berdiri sendiri.

4. Kesenian Aksara Lontara diperkirakan masuk ke Sumbawa ketika berakhirnya masa kekuasaan Kerajaan Hindu di Utan pada awal abad ke-17 Masehi. Aksara ini setelah diadaptasikan dengan kondisi lingkungan Sumbawa, kemudian dikenal dengan nama Satera Jontal atau aksara Kaganga. Pengaruh aksara Lontara dalam aksara Kaganga ini dapat dilihat dari bentuk dan cara menuliskannya yang sama seperti cara mengerjakan aksara Lontara dari sumber asalnya yakni BugisMakassar. Para sastrawan Sumbawa dulu mengabadikan karya-karyanya dengan menulisakannnya di daun lontar yang telah dikuningkan dengan kunyit, lebar daun lontar ini sekitar 2 cm dengan panjang 12 cm, cara menuliskannya dengan menggores daun lontar tersebut menggunakan ujung pangat atau sejenis pisau kecil. Tulisan-tulisan ini kemudian dikumpulkan dalam sebuah bumung atau buk. Pada umumnya karya-karya sastra Sumbawa ini cukup sulit untuk digali, diinventarisasi, dan dicatat, maupun dicari naskah-naskahnya, karena proses pewarisannya dilakukan dengan cara lisan serta turun-temurun dari para generasi pendahulu ke anak keturunanya melalui perjalanan waktu yang sangat panjang dan melewati proses budaya yang rumit, namun demikian dapat dipahami bahwa

lawas merupakan akar atau induk dari segala bentuk kesenian dan tradisi Sumbawa, baik seni musik, tari, maupun adat-istiadat yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat seperti tampak dalam sekeco, tari mata rame, permainan rakyat barapan kebo dan barapan ayam, serta tradisi daur kehidupan semisal nyorong dan barodak.

B. UPAYA MEMBANGUN INTEGRASI NASIONAL Potensi kabupaten Sumbawa dalam membangun integrasi nasional yaitu dengan cara pemerintah mengangkat kembali budaya budaya daerah asli Sumbawa dalam penyelengaraan festival moyo 2013. Acara ini salah satu program pemerintah dalam mempromosikan kabupaten Sumbawa kepada para wisatawan. Pada acara itu ditampilkan berbagai kegiatan menarik, seperti berburu di Pulau Moyo, karapan kerbau, balap kuda, kerbau hias, "triathlon", lomba memancing, dan lain lain. Ada 800 peniup Basarune (alat tiup Sarune) yang secara massal mengawali meniup tiga melodi Temung Nguri. Temung Nguri berkisah tentang keagungan dan kebesaran serta kejayaan Kesultanan Sumbawa. Ini digunakan sebagai irama kehormatan penerimaan tamu. Kemudian Temung Batu Ngangak dari kisah batu ngangak yang memiliki nilai kemanusiaan, penghormatan kepada seorang ibu Rangkaian pembukaan lainnya adalah tampilan tarian Getap Bagentar yang menggambarkan semangat dan kiprah generasi muda dalam membangun bangsa. Setelah itu dilakukan parade budaya Junyung Pasaji. Para perempuan peserta parade mengenakan Bakere Dua atau berkain dua. Satu disarungkan dan satu sebagai penutup kepala atau badan. Kain bawah namanya Kre Lepang atau Kre Pelekat. Sedangkan penutup badan adalah Kre Ragi Bungkis. Ada beberapa cara pemakaian yakni Tedung Tuntang Salonang tengah, Tedung Tuntang Salonang sisi, Tedung Tuntang Tungkam Rua (mirip Rimpu yang dikenakan suku Mbojo Bima), dan Tedung Tuntang Basalampe. Ada 24 peserta parade budaya dari 24 kecamatan yang menampilkan tema menjunjung sajian acara-acara tradisi lokal yang ada di daerah Samawa (Sumbawa).

Sumber:

http://didifikhsan-fisip10.web.unair.ac.id/artikel_detail-62581-Umum Nilai%20%20Nilai%20Budaya%20Pada%20Suku%20Bima,%20Sumbawa,%20D an%20Dompu.html http://www.tempo.co/read/news/2013/09/23/203515674/Pekan-Ini-SumbawaGelar-Festival-Moyo