Anda di halaman 1dari 19

REFERAT Demam Tifus

JUSTICIA ANDHIKA PERDANA 030.07.129

Pembimbing : dr. Indraka Prijadi, SpPD

INTERNA RSPAU DR. ESNAWAN ANTARIKSA Periode 26 Agustus 2013 2 November 2013

BAB I PENDAHULUAN

Demam Typhus adalah suatu penyakit sistemik akut yang disebabkan olehSalmonella enterica serotype typhi, dapat juga disebabkan oleh Salmonella entericaserotype paratyphi A, B, atau C (demam paratifoid). Demam tifoid ditandai antara lain dengan demam tinggi yang terus menerus bisa selama 3-4 minggu, toksemia, denyut nadi yang relatif lambat, kadang gangguan kesadaran seperti mengigau, perut kembung, splenomegali dan lekopeni. Di banyak negara berkembang, termasuk di Indonesia, demam tifoid masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat, berbagai upaya yang dilakukan untuk memberantas penyakit ini tampaknya belum memuaskan. Sebaliknya di negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa dan Jepang misalnya, seiring dengan perbaikan lingkungan, pengelolaan sampah dan limbah yang memadai dan penyediaan air bersih yang cukup, mampu menurunkan insidensi penyakit ini secara dramatis. Di abad ke 19 demam tifoid masih merupakan penyebab kesakitan dan kematian utama di Amerika, namun sekarang kasusnya sudah sangat berkurang. Tingginya jumlah penderita demam tifoid tentu menjadi beban ekonomi bagi keluraga dan masyarakat. Besarnya beban ekonomi tersebut sulit dihitung dengan pasti mengingat angka kejadian demam tifoid secara tepat tak dapat diperoleh. Insidensi demam tifoid secara tepat tidaklah diketahui mengingat tampilan kliniknya yang bervariasi sehingga bila tanpa konfirmasi laboratorium, terbaurkan dengan penyakit infeksi lainnya. Kultur darah sebagai pemeriksaan untuk mencari kuman penyebab tidak selalu tersedia di setiap daerah dan setiap fasilitas kesehatan. Di negara maju kasus demam tifoid terjadi secara sporadik dan sering juga berupa kasus impor atau bila ditelusuri ternyata ada riwayat kontak dengan karier kronik.Di negara berkembang kasus ini endemik. Diperkirakan sampai dengan 90 - 95 % penderita dikelola sebagai penderita rawat jalan. Jadi data penderita yang dirawat di rumahsakit dapat lebih rendah 15 25 kali dari keadaan yang sebenarnya. Diseluruh dunia diperkirakan antara 16 16, 6 juta kasus baru demam tifoid ditemukan dan 600.000 diantaranya meninggal dunia. Di Asia diperkirakan sebanyak 13 juta kasus setiap tahunnya. Suatu penelitian epidemiologi di masyarakat Vietnam khususnya di delta Sungai Mekong, diperoleh angka insidensi 198 per 100.000 penduduk7 dan di Delhi 1

India sebesar 980 per 100.000 penduduk. Suatu laporan di Indonesia diperoleh sekitar 310 800 per 100.000 sehingga setiap tahun didapatkan antara 620.000 1.600.000 kasus. Di Jawa Barat menurut laporan tahun 2000 ditemukan 38.668 kasus baru yang terdiri atas 18.949 kasus rawat jalan dan 19.719 kasus rawat inap.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Definisi Demam tifoid adalah suatu penyakit sistemik akut yang disebabkan olehSalmonella enterica serotype typhi, dapat juga disebabkan oleh Salmonella entericaserotype paratyphi A, B, atau C (demam paratifoid). II.2 Bakteriologi Salmonella adalah berbentuk batang, Gram-negatif, fakultatif anaerob, motile. Genus Salmonella, dan merupakan bagian dari family Enterobacteriacieae, terdiri dari 3 spesies, yaitu Salmonella bongori, Salmonella subterranean dan Salmonella enterica. Yang kemudian Salmonella enterica dibagi menjadi 6 subtipe, yaitu enterica, salamae, arizonae, diarizonae, houtenae dan indica. Taxonomic group terdiri dari 2463 serovar. Salmonella typhimurium, sebenarnya mempunyai nama Salmonella enterica subsp. enterica serovar Typhimurium. Serovars dibagi berdasarkan antigen somatik O (lipopolisakarida), antigen H flagel dan antigen selubung Vi. II.3 Epidemiologi India, asia timur, asie tenggara, timur tengah, afrika, Amerika tengah dan selatan merupakan daerah endemik demam Typhus dan Paratyphus. Perbandingan demam yang disebabkan S. typhi dan S. paratyphi adalah 10 berbanding 1. Sedangkan infeksi paratyphoid B terdapat di daerah selatan dan timur benua eropa. Paratyphoid C yang paling jarang muncul, tetapi daerah yang paling sering adalah Guyana dan eropa timur. Demam tifoid adalah penyakit demam akut yang mengancam jiwa dengan laporan 16.000.000-33.000.000 kasus dan 500,000-600,000 kematian setiap tahun menurut laporan WHO. Diperkirakan 22 juta kasus dan 216.000 kematian terkait pada tahun 2000. II.4 Transmisi penularan Typhus adalah penyakit yang hanya menyerang manusia dan organisme yang bertanggung jawab atas infeksi ini ditularkan melalui makanan dan air yang terkontaminasi oleh feses atau urin orang yang terinfeksi atau carrier. Infeksi

paratyphoid sangat jarang ditularkan melalui air karena paratyphoid membutuhkan jumlah infektif yang lebih banyak untuk menyebabkan infeksi dan mereka tidak dapat 3

memperbanyak diri di dalam air. Buah-buahan dan sayur-sayuran yang mentah merupakan media yang sangat penting di Negara-negara yang menggunakan feses manusia sebagai pupuk atau pada penggunaan air untuk membuat buah-buahan dan sayur-sayuran terlihat lebih menarik. II.5 Patogenesis Infeksi pada demam enterik berasal dari menelan bakteri penyebab yang kemudian diikuti oleh penetrasi ke dalam mukosa usus. Masa inkubasi untuk demam tifus tergantung dari banyaknya bakteri yang masuk, rata-rata masa inkubasi sekitar 10 sampai 20 hari. Sedangkan untuk demam yang disebabkan oleh paratyphoid mempunyai masa inkubasi yang lebih cepat, yaitu 1-10 hari. Infeksi bergantung terhadap beberapa faktor, seperti : jumlah organisme yang masuk, keasaman asam lambung, kepemilikan antigen Vi. Jumlah organisme yang dibutuhkan S. typhi untuk menyebabkan orang yang dalam keadaan sehat menjadi sakit sangat besar. Pada penelitian, dibutuhkan sebanyak 109 organisme untuk membuat 95% orang menjadi sakit, pada pemberian 103 organisme, sangat sedikit yang menimbulkan gejala. Dosis infektif yang diperlukan akan lebih sedikit jika organisme masuk bersama makanan. Benda yang tercemar bakteri (tinja, muntah, keringat) yang kemudian masuk ke dalam sistem pencernaan, pertama di dalam lambung sebagian bakteri akan mati karena asam lambung. Selanjutnya bakteri yang tersisa akan masuk ke dalam usus kecil, di sini bakteri akan melakukan penetrasi dan berbiak di dalam kelenjar limfoid mesenterik yang kemudian bakteri akan masuk ke ductus thoracicus yang selanjutnya akan masuk ke peredaran darah(bakteriemi I) selanjutnya bakteri akan dikirim ke RES(hepar dan limpa), sampai disini disebebut silent period/masa tunas. Di dalam RES, bakteri akan memperbanyak diri yang selanjutnya akan masuk ke dalam peredaran darah (bakteriemi II), pada fase ini gejala klinis akan muncul. Bersamaan dengan bakterimia, bakteri akan masuk ke dalam kandung empedu & usus, di usus akan membuat luka di plaque peyeri. Bila Salmonella typhi menetap di empedu/limpa dapat terjadi relaps/carrier. II.5.1 Patogenesis Molekular Syarat yang harus dimiliki untuk menjadi patogen yang efektif, Salmonella harus mampu untuk menyerang sel-sel epitel, dan khusus untuk organisme penyebab demam enterik, organisme ini harus mempunyai kemampuan untuk beradaptasi supaya dapat bertahan hidup di dalam sel sistem retikuloendotelial 4

II.5.1.1 Invasi epitel Membran epitel usus merupakan target dari invasi Salmonella tetapi bakteri Salmonella harus menembus berlapis-lapis epitel untuk dapat menginvasi sel M. Salmonella menyerang sel-sel ephitelial usus dengan mekanisme kompleks yang meliputi memicu penyusunan ulang aktif, pembentukan pseudopodia, dan fagositosis bakteri ke dalam sel. Merusak membran kemudian kembali ke bentuk normal setelah bakteri menyerang. II.5.1.2 Pertahanan intraselular Serotype Salmonella yang dapat menyebabkan demam enterik mempunyai kemampuan untuk dapat bertahan dan bereplikasi di dalam system makrofag, hal ini yang akan menyebabkan infeksi sistemik. Setelah berada di dalam makrofag, Salmonella akan terlindung dari sistem imun host, tetapi Salmonella harus bertahan dari nutrisi yang sedikit dan bertahan dari fungsi utama marofag yaitu bakterisid. II.5.2 Mekanisme pertahanan tubuh Produksi antibodi humoral mempunyai peran kecil dalam pemulihan dari infeksi akut, walaupun terbentuknya antibodi O, H, dan Vi keadaan pasien dapat terus memburuk. Imunitas sel merupakan faktor kunci dalam pemulihan. kemampuan antibodi Vi untuk mencegah infeksi ditunjukkan oleh efisiensi vaksin antigen Vi. Namun, perlindungan yang diberikan oleh vaksin yang sudah dimatikan, yang tidak mengandung antigen Vi, menunjukkan peran antibodi lainnya. Kekebalan usus lokal mungkin penting dalam mencegah terjadinya infeksi berulang. Di negara-negara endemik, demam enterik memiliki prevalensi tertinggi pada yang orang dengan usia muda, hal ini disebabkan karena orang yang lebih tua telah memperoleh kekebalan melalui paparan sebelumnya. II.6 Diagnosis II.6.1 Gejala Klinis Durasi penyakit dalam kasus-kasus yang tidak diobati rata-rata berlangsung sampai 4 minggu. Pada minggu pertama timbul gejala-gejala non spesifik seperti sakit kepala, malaise, demam remiten, dan sering disertai dengan konstipasi dan batuk tidak berdahak. Pada minggu kedua pasien terlihat apatis dan disertai dengan demam yang tinggi. Pada pasien juga terdapat distensi abdomen dan terdapat splenomegaly. Pada sekitar 50% pasien, timbul papul berwarna merah muda berdiameter 2-4mm (rose spot), rose spot akan timbul di daerah perut bagian atas dan dada bagian bawah, rose spot akan muncul antara hari ke-7 dan 12. Rose spot sulit dinilai pada pasien 5

dengan kulit yang gelap. Rose spot juga dapat muncul pada Salmonellosis dan Shigellosis. Rose spot disebabkan oleh emboli bakteri dan jika rose spot dikultur akan mendapatkan hasil kultur positif. Selain itu, pada dua minggu pertama juga akan timbul bradikardi relatif. Pada minggu ketiga, pasien menjadi terlihat lebih sakit dan demam tetap timbul. Demam yang timbul tetap tinggi dan bisa disertai dengan delirium. Juga akan muncul distensi abdomen yang disertai bising usus yang menurun. Selain itu juga akan muncul diare cair yang berwarna kuning kehijauan. Pasien juga akan terlihat lemah dengan nadi yang lemah dan nafas yang cepat yang disertai dengan suara ronki basah pada kedua basal paru. Pada keadaan seperti ini dapat menimbulkan kematian yang disebabkan oleh toksikemia, myocarditis, perdarahan intestinal atau perforasi. Tetapi keadaan di atas jarang terjadi dengan pemberian antibiotik. Pada minggu keempat demam, distensi abdomen dan keadaan pasien mulai membaik tetapi mungkin masih terdapat gejala pada sistem pencernaan. Diagnosis demam tifus dapat ditegakan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik dan dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium dan serologi. Malaria, sepsis, tuberculosis, brucellosis, leptospirosis dan rickettsia merupakan diagnosis banding dari demam tifus. Selain itu, infeksi virus seperti demam dengue, hepatitis akut dan infeksi mononukleosis juga merupakan diagnosis banding dari demam tifus. II.6.2 Pemeriksaan Laboratorium 1. Pemeriksaan darah rutin dapat ditemukan : Leukopeni (47% dari kasus) 2000 - 3000 sampai dengan 5000/mm3. Bila ada leukositosis (4% dari kasus) hati-hati ada penyulit, perforasi atau infeksi sekunder. Limfositosis relatif (pasien tetap leukopeni tetapi persentasi limfosit lebih banyak dari normal). Aneosinofilia. 2. Pemeriksaan bakteriologik Biakan Gall, untuk diagnosa pasti. Biakan dapat diambil dari : 1. Sumsum tulang (90% ketelitian) pada minggu ke I dan minggu ke II. 2. Darah pada minggu ke I dan minggu ke II (70% - 90%) minggu ke II sampai minggu ke III (30% - 40%). Biakan pada agar SS bahan diambil dari : 1. Tinja pada minggu ke II sampai minggu ke III.

2. Urine pada minggu ke III sampai minggu ke IV. 3. Rose spot boleh di Gall kultur. Bila Gall positif diagnosa pasti dari tiphoid abdominalis, tetapi bila negatif belum tentu bebas tiphoid abdominalis tergantung dari teknik pengambilan bahan, waktu perjalanan penyakit, post vaksinasi. 3. Pemeriksaan serologik Test aglutinasi mikroskopik cepat Test Widal (Aglutinasi pengenceran pada tabung) 1. Yang diukur adalah aglutinasi antigen H (flagela, suatu protein yang spesies spesifik), dan antigen O (somatik, suatu lipopolisakarida (endotoksin) group spesifik) 2. Interpretasi hasil pemeriksaan: 3. Positif bila titer O meningkat lebih dari 1/160 atau peningkatan > 4x pada pengambilan serum yang berangkaian. 4. Nilai O 1/80 menunjukkan suggestif tifoid. sedangkan untuk titer H nilai positif adalah > 1/800 semua hasil tersebut dengan syarat tidak menerima vaksinasi typhoid dalam 6 bulan terakhir. 5. Peninggian titer H > 1/160 menunjukkan bahwa penderita pernah divaksinasi atau terinfeksi Salmonella typhi. 6. Titer Vi (antigen kapsul) meninggi pada pembawa kuman atau karier. 4. Pemeriksaan diagnostik lain Tes diagnostik yang baru yaitu dengan mendeteksi antibodi IgM spesifik S. typhi, tes ini seperti Typhidot dan Tubex. Pemeriksaan antigen Vi pada urin dengan pemeriksaan ELISA dan PCR masih dalam penelitian. II.7 Relaps Febris dapat timbul kembali setelah 10 hari afebris atau setelah 3 minggu diberikan terapi kloramfenikol. Relaps kronik jarang terjadi tetapi dapat ditemukan setelah beberapa bulan, terutama dengan penderita yang mendapat terapi tidak adekuat, limfa yang tetap teraba adalah gejala penting dari timbulnya relaps.

Insidensi terjadinya relaps sekitar 10% - 20%. Patogenesa : Penderita diserang oleh banyak strain tetapi hanya satu strain yang menimnulkan gejala klinis, sedangkan strain yang lainnya bersembunyi, relaps yang timbul disebabkan oleh kuman yang tersembunyi. Chloramfenikol menghambat atau memperlambat pembentukkan

antibodi, sehingga memudahkan relaps tetapi justru relaps terjadi pada titer antibodi yang tinggi hal ini dibuktikan dengan titer widal, yaitu penularan bukan oleh karena kekebalan. Salmonella typhi istirahat di dalam sel dan baru aktif pada saat sel tubuh tersebut mati. II.8 Komplikasi II.8.1 Intestinal Komplikasi utama dari demam enterik terdapat pada intestinal, yaitu perdarahan usus dan perforasi usus. Yang hal ini sering timbul pada minggu kedua dan ketiga infeksi. II.8.1.1 Perdarahan usus Biasanya timbul pada hari ke 14 - ke 21 dari perjalanan penyakit. Dapat berupa perdarahan yang minimal sampai perdarahan tersembunyi yang masif. Yang ditandai dengan : 1. 2. Penurunan suhu mendadak. Tanda-tanda shock. 3. Tensi turun mendadak sampai dibawah normal. Nadi cepat dan kecil. Sianosis. Tachypnoe. Kulit dingin dan lembab.

Perdarahan per anus, tidak selalu tampak.

II.8.1.2 Perforasi usus Perforasi usus, biasanya muncul pada akhir minggu ke III, umumnya terjadi di daerah sekitar 60cm dari bagian akhir ileum. Dengan gejala yang kita dapatkan adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. KU buruk. Reaksi tubuh dan mental menjadi lambat. Tiba-tiba menjadi gelisah dan mengeluh nyeri perut. Muntah-muntah. Suhu tiba-tiba turun. Pernafasan cepat dan hanya menggunakan otot-otot intercostal. Dinding perut tegang, defence musculare, terutama di perut sebelah kanan (pada lokasi ileum). 8. 9. 10. 11. Pekak hati menghilang. Perkusi menjadi tympani. Bising usus menurun sampai hilang. Foto R BNO : tampak udara bebas dalam rongga perut terutama dibawah diafragma. Preperitoneal fat hilang karena terdapat oedem dan pengumpulan exudat. II.8.2 Miokarditis dan endokarditis Didapatkan pada 1-5% kasus demam tifus. Biasanya miokarditis dan endokarditis akibat demam tifus akan menyebabkan kematian. tanda klinis yang terlihat berupa : 1. 2. 3. 4. Takikardia. Nadi kecil dan lemah. Bunyi jantung redup. Gallop rhythm.

5.

Tekanan darah turun atau peningkatan tekanan vena tanpa ada gejala dekompresi lain.

II.8.3 Cholecystitis Kantung empedu, merupakan sumber kuman yang dapat tetap utuh, dapat terjadi kholesistitis akut terutama pada wanita tua dan gemuk. Karier sering terjadi pada penderita dengan kholesistitis kronik dan batu empedu. Meteorismus, kita harus hati-hati untuk tanda perforasi/adanya perdarahan pada usus. II.8.4 Thypoid toxic Secara klinis terjadi perubahan mental yang terdiri dari disorientasi, kebingungan, delirium > 5 hari, yang dapat diikuti dengan/tanpa munculnya gejala neurologis : afasia, ataxia, perubahan refleks, konvulsi dan lain-lainnya. Thypoid toxic dapat dibagi menjadi : Meningocerebral o Demam > 6 hari dan menjadi delirium, setengah sadar atau tidak sadar. o Selalu ada kaku kuduk. o Tanda kernig dapat positif atau negatif. o Refleks tendo menjadi meninggi terutama APR. o Liquor cerebro spinal normal. o Prognosa: dapat sembuh sempurna. Encephalitis diffus o Demam tinggi diikuti penurunan kesadaran. o Refleks tendo dapat positif atau menurun, refleks dinding perut negatif. o Rangsang meningen negatif. o Setelah berlangsung lebih dari 1 minggu akan sembuh sempurna. Encephalitis akut o Tiba-tiba hiperpireksia. o Tidak sadar dan kejang umum 24 jam setelah onset. o Bisa timbul kejang ulang.

10

o Prognosa : buruk. Meningitis akut o Liquor cerebro spinal : jernih dengan pleositosis ringan. o Electro encephalograph : gambaran encephalopati. Bisa terjadi karena dikaitkan dengan sistem imunologis atau kekebalan seseorang. Dapat dikaitkan pula dengan kepribadian seseorang, orang yang gampang histeris, akan lebih gampang jatuh ke dalam toxic typhoid. Pasien dalam keadaan delirium / bicara ngaco / berteriak-teriak dan mengalami agitasi. Terdapat gerakan-gerakan seperti menarik-narik seprei.

II.8.5 Hepatitis typhosa Ikterus ringan dapat muncul pada penderita demam enterik yang mungkin disebabkan oleh hepatitis, kolangitis, kolesistitis dan hemolisis. Pada biopsi hepar didapatkan hepatosit yang membengkak, terdegradasi dan terdapat vakuol. Dan terdapat typhoid nodules. II.8.6 Respirasi Gejala yang akan timbul seperti batuk dan bronkitis ringan. Gangguan respirasi yang diakibatkan oleh toksikemi pada demam tifus terdapat pada 11-86% kasus. Bronkopneumoni dan pnemonia lobaris jarang ditemukan. II.9 Carrier typhosa II.9.1 Faecal carrier Dalam masa penyembuhan, kultur feses tetap positif pada sebagian besar pasien. Setelah 6 bulan diperiksa 3 x berturut-turut selang 1 bulan masih tetap positif (pada pemeriksaan faeces yang dibiakkan). II.9.2 Urinary carrier Hasil positif pada kultur urin sangat jarang setelah bulan ketiga.

11

II.10 Penatalaksanaan II.10.1Terapi secara umum o Non medikamentosa Perawatan : o Bed rest total sampai dengan bebas demam 1 minggu tetapi sebaiknya sampai akhir minggu ke III oleh karena bahaya perdarahan dan perforasi. o Tujuannya untuk : Mempercepat penyembuhan. Mencegah perforasi usus. Karena banyak gerak akan menyebabkan gerakan peristaltik meningkat, dengan peningkatan peristaltik maka akan terjadi peningkatan dari aktifitas pembuluh darah, hal ini akan meningkatkan kadar toksin yang masuk ke dalam darah, dapat menyebabkan peningatan dari suhu tubuh. Mobilisasi berangsur-angsur dilakukan setelah pasien 3 hari bebas demam. Dietetik : Harus cukup kalori, protein, cairan dan elektrolit. Mudah dicerna dan halus. Kebutuhan 2500 kkal, 100 gr protein, 2 - 3 liter cairan. Typhoid diet I : Bubur susu/cair tidak diberikan pada pasien yang demam tanpa komplikasi. Typhoid diet II : Bubur saring. Typhoid diet III : Bubur biasa. Typhoid diet IV : Nasi tim. Prinsip pengelolaan dietetik pada typhoidpadat dini, rendah serat/rendah selulosa. Typoid diet biasanya dimulai dari TD II, setelah 3 hari bebas demam menjadi TD III, sampai 3 hari kemudian dapat diganti kembali menjadi TD IV. Harus diberikan rendah serat karena pada typoid abdominalis ada luka di ileum terminale bila banyak selulosa maka akan menyebabkan peningkatan kerja usus, hal ini menyebabkan luka makin hebat.

12

Medika mentosa: o Antibiotik Drug of Choice adalah Chloramfenicol dengan dosis 4 x 500 mg/hari selama 7 hari afebris atau sampai 1 minggu bebas demam. o Kontra indikasi : Tidak boleh diberikan pada wanita hamil trisemester 3. Grey baby syndrome. Partus premature. Kematian intrauterine (IUFD). Menyebabkan depresi sumsum tulang, sehingga tidak boleh berikan pada pasien dengan keadaan leukopeni. o Pengobatan dianggap gagal (chloramfenicol resisten) bila dalam 10 hari pemberian pasien tetap demam, gunakan antibiotik yang lain. Cotrimoxazole, dengan dosis 400 mg 2 x 2 tablet/hari sampai 7 hari afebris. RSHS 2 x 3 tablet. o Waktu yang diperlukan untuk penurunan suhu sama dengan chloramfenicol. o Tidak terjadi krisis toksik. o Gejala lebih cepat hilang. o Dapat digunakan untuk pasien yang toksik dan delirium. o Lebih unggul dalam mencegah relaps. o Efek samping yang perlu diperhatikan adalah trombositopenia, untuk menghindarkannya kita berikanasam folic. Amphicillin, dosis 3 - 4 x (0.5 - 1 gram)/hari selama 15 hari (RSHS) o Digunakan untuk tifoid abdominalis ringan dan untuk karier. Amoxicilin, dosis 4 x 1 gr(untuk ukuran kecil) - 6 gr (untuk ukuran besar)/hari. o Untuk kasus karier 6 gr/hari selama 6 minggu

13

Golongan Quinolon. Ciprofloksasin, dosis 2 x 750 mg sampai 4 minggu, untuk menanggulangi karier, karena pasien dapat menularkan secara fecal - oral (typhoid mary). o Tidak boleh diberikan pada pasien dengan usia kurang dari 15 tahun, karena bisa menyebabkan penutupan epifise tulang lebih cepat. o Keuntungan dari Quinolon: o Waktu yang diperlukan untuk terapi lebih pendek. o Bersifat bakterisida. o Hati-hati akan terjadi reaksi harxheimer reaction yang merupakan reaksi yang hebat dari pemberian awal dari antibiotic pada perderita typhoid, oleh karena dilepaskannya secara mendadak dalam jumlah besar, antigen dari kuman typhoid.(reaksi seperti anafilaktik syok, dimana pasien dapat jatuh kedalam keadaan komatous) o Simptomatik: o Analgetik antipiretik (DOC : parasetamol) o Jangan menggunakan asam salisilat, karena bisa menyebabkanhiperhidrosis. o Jangan pada penderita hepatitis. o Dapat merangsang mukosa usus. o Efek anti piretik dapat berlebihan. o Menghambat efek dari chloramfenicol. o Laxantia dan enema, untuk memudahkan buang air besar. o Hati-hati perdarahan dan perforasi. o Muntah-muntah o Prochlorperazine (Stemetil) dengan dosis 3 x 5mg atau 3 x 10 mg. o Prometazine (Phenergan) dengan dosis 3 x 25 mg. o Diare 14

o Diphenoxylate hydrochloride (Lomotil, Reasec) 4 x 2 tab o Meteorismus o Intake diganti dengan parenteral o Gunakan stomach tube dan aspirasi tiap jam. Supportif Kortikosteroid o Hanya dianjurkan untuk penderita dengan toksemia berat dan hiperpireksi berat. o Tidak boleh dipergunakan secara rutin. o Harus dihindarkan dalam minggu ke III karena bila ada perdarahan kita tidak tahu dari penyakit atau dari kortikosteroid. o Memperpendek deman dan gejala cepat hilang. o Menghambat pembentukkan immunitas sehingga mudah untuk relaps. Dosis : Hari ke I : Hidrokortison 200 mg im Prednison 3 x 15 mg o Hari ke II : Prednison 3 x 10 mg Hari ke III : Prednison 3 x 5 mg Hari ke IV : Prednison 3 x 5 mg Hari ke V : Prednison 1 x 5 mg.

o o

Roborantia o Vitamin B dan vitamin C. o Terapi untuk karier yang gagal pengobatan dengan medikamentosa kita lakukan cholecystectomy. Toxic typhoid 1. Pasang maag slang (NGT) dan akan digunakan untuk pemberian nutrisi : Untuk keadaan yang berat sekali gunakan TD I. Untuk keadaan yang tidak berat kita gunakan TD II yang telah diblender dahulu. 2. Pasang infus, untuk pemberian kemicetin 3 - 4 x 1 gr/hari secara IV, bila sudah membaik berikan peroral dengan dosis 4 x 2 tablet selama 2 minggu. 3. Kortikosteroid Berikan kalmethasone yang dilarutkan dalam NaCl 0,9% atau dextran 5% atau Ringer Lactat. 15

1 mg kalmethasone dilarutkan dalam 2 cc larutan. 8 jam pertama berikan 3 mg/kgBB secara IV. 30 ml diberikan dalam infus pada 6 - 8 jam kedua dan selanjutnya diberikan 1 mg/kgBB diberikan 6 x (1 ampul kalmethasone = 4 ml) dalam waktu 2 hari. Jangan diberikan pada akhir minggu ke II atau ke III karena bisa merangsang gaster menambah bahaya terjadinya perforasi. Minggu ke I boleh diberikan karena kalau ada melena pada minggu ke I pasti oleh kortikosteroid, sedangkan

pada minggu ke II atau ke III, kita tidak tahu penyebab dari melena karena bisa dari perforasi atau karena obat. Bila ada septik shock berikan dopamin 2 ampul (1 amp = 200 mg) larutkan dalam dextrose 5% dengan kecepatan 8 tetes permenit sampai shock teratasi ganti dengan Dextran saja 10 tetes per menit. o Perforasi usus. 1. Cito operasi 2. Persiapan : Puasakan pasien.
Infus

dengan Ringer Lactat. Berikan Antibiotika dosis tinggi. Gunakan gastric suction untuk kompresi. II.11Prognosa : Prognosa, sangat bervariasi, dapat menjadi jelek dan angka kematian tinggi bila terdapat gangguan SSP. Mortalitas 20% - 50%, dimana hal ini dipengaruhi oleh: Umur. Keadaan umum sebelum pembedahan. Diagnosa yang lambat (>24 jam).
Terdapat

sepsis intraperitoneal. Perforasi ulang atau penyulit lainnya.

16

BAB III KESIMPULAN


Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut disebabkan oleh kuman gram negatif Salmonella typhi atau S.paratyphi. Manifestasi klinik pada anak umumnya bersifat lebih ringan dan lebih bervariasi. Demam adalah gejala yang paling konstan di antara semua penampakan klinis. Dalam minggu pertama, keluhan dan gejala menyerupai penyakit infeksi akut pada umumnya seperti demam, sakit kepala, mual, muntah, nafsu makan menurun, sakit perut, diare atau sulit buang air beberapa hari, sedangkan pemeriksaan fisik hanya didapatkan suhu tubuh meningkat dan menetap. Suhu meningkat terutama sore dan malam hari. Setelah minggu ke dua maka gejala menjadi lebih jelas demam yang tinggi terus menerus, nafas berbau tak sedap, kulit kering, rambut kering, bibir kering pecahpecah /terkupas, lidah ditutupi selaput putih kotor, ujung dan tepinya kemerahan dan tremor, pembesaran hati dan limpa dan timbul rasa nyeri bila diraba, perut kembung. Anak nampak sakit berat, disertai gangguan kesadaran dari yang ringan letak tidur pasif, acuh tak acuh (apatis) sampai berat (delirium, koma).

17

Daftar Pustaka Cook Gordon C, Zumla Alimuddin I. Mansons Tropical Diseases 22nd ed. 2009; Saunders Elsevier: 931-937 Hegazy Wael Abdel Halim, Hensel Michael. 2012. Salmonella enterica as a Vaccine Carrier available at http://www.medscape.com/viewarticle/756377_1 (accessed 12/10/2013) Widodo Darmowandoyo. Demam Tifoid. Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Infeksi dan Penyakit Tropis. Edisi pertama. 2002. Jakarta ;Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI: 367-375 Zhou Liqing, Pollard Andrew J. 2010. A Fast and Highly Sensitive Blood Culture PCR Method for Clinical Detection of Salmonella enterica Serovar Typhi available at http://www.medscape.com/viewarticle/722012_1 (accessed 12/10/2013)

18