Anda di halaman 1dari 16

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1.1 Latar Belakang

Perkembangan globalisasi komunikasi dan teknologi yang sangat cepat

menyebabkan manusia cenderung makin bersikap individualistis. Mereka gemar

dengan teknologi,1larut dan terpesona dengan penemuan barang-barang baru yang

serba canggih, sehingga cenderung melupakan dirinya sendiri sebagai pribadi

manusia dan semakin melupakan aspek sosial dirinya. Perasaan antipati dan tidak

peduli terhadap lingkungannya juga semakin meningkat. Persoalan ini jelas

menjadi beban pengelolaan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Di sisi lain

kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan atau sekolah (bullying) masih

sering kita dengar, kekerasan tersebut bukan hanya bersifat fisik seperti

pemukulan tetapi juga cemoohon dan hinaan.

Persoalan bullying harus menjadi perhatian kita bersama khususnya para

guru. Sebab, efeknya bisa mengakibatkan penurunan nilai akademis siswa,

perubahan perilaku jadi negatif atau negatif agresif. Hal ini juga akan mereduksi

potensi siswa sehingga tumbuh kembang tak maksimal. Penelitian Yayasan Semai

Jiwa Amini (Sejiwa) dan Plan Indonesia menunjukkan 67 % siswa SMP dan

SMA mengalami tindakan bullying di sekolah. Tindakan bullying bisa dilakukan

oleh teman sendiri dan guru. Repotnya bullying tidak dipedulikan, bahkan

cenderung diwariskan dari waktu ke waktu. Tindakan ini dianggap wajar dan

merupakan bagian dari hidup bermasyarakat (Suara Merdeka). Budiningsih


2

(2005:1-2) mengatakan, jika hal ini terus berlanjut maka kita akan bertemu

dengan siswa yang cenderung bertindak dengan kekerasan, pemaksaan kehendak,

dan pemerkosaan nilai-nilai kemanusiaan. Lebih jauh Budiningsih (2004:1)

mengatakan, tindakan-tindakan kekerasan yang sudah menjurus kriminal ini

sangat memprihatinkan masyarakat dan kondisi ini diduga bermula dari apa yang

dihasilkan oleh dunia pendidikan. Pendidikanlah yang sesungguhnya paling besar

memberikan kontribusi terhadap situasi ini.

Persoalan lain yang menjadi beban pengelolaan pendidikan dan

pengajaran adalah standar keberhasilan belajar yang masih menekankan bidang

intelektual dan sentralisasi standar mutu dalam ujian nasional. Praksis pendidikan

lebih mengutamakan kognitif sementara afektif dan psikomotorik terabaikan. Ini

akan mengakibatkan masyarakat terjerumus pada keyakinan bahwa hasil ujian

nasional adalah satu-satunya ukuran keberhasilan siswa dan juga sekolah sebagai

lembaga pendidikan. Hasil ujian nasional menentukan ranking mutu sekolah,

tanpa memperhatikan banyak aspek lain yang mungkin diperoleh oleh siswa atau

lembaga sekolah yang ada. Sistem evaluasi dan ujian nasional yang

diselenggarakan relatif masih mengukur satu aspek kecerdasan dan

mengkerdilkan makna siswa sebagai suatu pribadi manusia dan sekolah sebagai

lembaga pendidikan (Margono 2005:65).

Setiap pribadi manusia memiliki potensi dan talenta dalam dirinya, tugas

pendidikan yang sejati adalah membantu siswa untuk menemukan dan

mengembangkannya seoptimal mungkin. Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang

Sistem Pendidikan Nasional pada Bab II Pasal 3 dinyatakan bahwa:


3

Pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk


watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya
potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.

Pendidikan dan pembelajaran di sekolah hendaknya diperbaiki dan

diperbaharui sehingga memberi keseimbangan pada aspek individualitas ke aspek

sosialitas atau kehidupan kebersamaan sebagai masyarakat manusia. Pendidikan

dan pembelajaran hendaknya juga dikembalikan kepada aspek-aspek kemanusiaan

yang perlu ditumbuhkembangkan pada diri siswa. Semua mata pelajaran yang

diajarkan di sekolah semestinya harus dapat mengembangkan potensi siswa secara

optimal sehingga bermanfaat baginya, bagi masyarakat dan dalam kehidupan

bermasyarakat.

Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah

mempunyai multi fungsi, matematika dapat dimanfaatkan dalam kehidupan

sehari-hari serta dapat juga digunakan untuk melayani berbagai disiplin ilmu.

Dengan mempelajari matematika siswa diharapkan dapat mempunyai kemampuan

yang cukup handal untuk menghadapi berbagai macam masalah yang timbul di

dalam kehidupan nyata. Menurut Soedjadi (dalam Suyitno 2000:12) tujuan

pendidikan matematika untuk masa depan haruslah memperhatikan (1) tujuan

yang bersifat formal, yaitu penataan nalar serta pembentukan pribadi anak, dan (2)

tujuan yang bersifat material, yaitu penerapan matematika serta keterampilan

matematika. Berfikir logis dan kritis juga merupakan tujuan dari pendidikan

matematika di sekolah. Johnson (2008:186) mengatakan “proses berfikir kritis


4

mengharuskan keterbukaan pikiran, kerendahan hati, dan kesabaran “. Chapman

(2008:4) mengatakan ada tujuh ciri dari orang yang penuh kasih yaitu:

(1)Kebaikan (2) Kesabaran (3) Pengampunan (4) Kerendahan hati (5) Kesopanan

(6) Kemurahan (7) Kejujuran. Ketujuh karakter ini adalah kebiasaan yang perlu

dipraktekkan ketika kita memutuskan menjadi orang yang penuh kasih. Karakter

ini jelas sangat berguna dalam berinteraksi di kehidupan sosial kemasyarakatan.

Pembelajaran matematika yang efektif sangat memerlukan pemahaman

dari para guru tentang apa yang siswa ketahui, apa yang perlu dipelajari dan

memberi tantangan serta dukungan terhadap siswa untuk mempelajarinya dengan

baik. Ini poin ketiga dari prinsip dalam Principal and standards for School

Mathematics (NCTM,2000) yang tertulis “Teaching : Effective mathematics

teaching requires understanding what student know and need to learn and

challenging and supporting them to learn it well” (Dossey 2008:11).

Dalam mengajarkan matematika di sekolah, guru cenderung kurang

memahami kebutuhan siswa dalam pembelajaran. Guru lebih menekankan aspek

kognitif saja, sedangkan aspek lain tidak terlalu diperhatikan sehingga di

khawatirkan lambat laun pembelajaran matematika akan menjadi jauh dari

konteks kehidupan bermasyarakat. Suyanto dan Hisyam (dalam Margono

2005:64) mengemukakan bahwa selama ini pendidikan matematika di Indonesia

masih sangat menitikberatkan ranah kognitif dalam arti pembelajaran masih

bersifat mekanik dan drill. Banyak anggapan bahwa jika aspek kognitif sudah

dikembangkan secara benar maka aspek afektif akan ikut berkembang secara

positif pula. Menurut mereka asumsi ini jelas-jelas merupakan kesalahan yang
5

sangat besar.

Pembentukan moralitas siswa bukan hanya menjadi tanggungjawab guru

agama saja. Jika ini yang terjadi maka moralitas yang tumbuh hanya sebatas

hafalan terhadap doktrin-doktrin agama. Pengetahuan tentang doktrin-doktrin

agama tidak menjamin tumbuhnya moralitas yang diandalkan. Oleh karenanya

semua guru bidang studi disekolah harus bertanggungjawab dalam pembentukan

moralitas ini. Pengajaran matematika di sekolah juga harus bertanggungjawab

dalam pembentukan moralitas siswa (Budiningsih 2004:2). Siswa yang memiliki

moralitas yang baik tentu saja akan menghargai nilai-nilai kehidupan. Nilai-nilai

kemanusiaan tidak bisa diajarkan , mereka harus dibangkitkan dalam diri siswa.

Kesalahan dimasa lampau adalah ketika guru mengajarkan moralitas, etika, nilai-

nilai, karakter yang baik sebagai mata pelajaran. Siswa bisa menghapal itu dan

bisa lulus ujian, tetapi mereka gagal menerapkannya dalam praktek kehidupan

sehari-hari (Ayudhya 2008:18).

Menghargai nilai-nilai kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan adalah aspek

penting dalam pengajaran yang beraliran humanistik. Nuansa belajar beraliran

humanistik dalam pembelajaran matematika di sekolah akan berakibat pada

pembelajaran matematika tersebut dapat memberikan dorongan hati (impulse)

kepada siswa sehingga dapat menyentuh dan menumbuhkembangkan nilai-nilai

kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan mereka. Dalam konsep belajar humanistik,

belajar adalah pengembangan kualitas kognitif, afektif dan psikomotorik.

Baharuddin dan Wahyuni (2008:142-143) menyatakan,

Aliran humanistik memandang bahwa belajar bukan sekadar


6

pengembangan kualitas kognitif saja,.... Pendekatan humanistik dalam


pembelajaran menekankan pentingnya emosi atau perasaan,
komunikasi yang terbuka, dan nilai-nilai yang dimiliki setiap siswa....
Pendidikan humanistik memandang proses belajar bukan hanya
sebagai sarana transformasi pengetahuan saja, tetapi lebih dari itu,
proses belajar merupakan bagian dari mengembangkan nilai-nilai
kemanusiaan.

Tujuan dari pendidikan beraliran humanistik akan tercapai jika pembelajaran

berusaha mengaitkan topik dengan konteks yang ada dalam kehidupan nyata

siswa sehari-hari. Aliran humanistik akan sangat membantu pendidik dalam

memahami arah belajar pada dimensi yang luas, sehingga pencapaian tujuan

pembelajaran akan diarahkan dan dilakukan dengan pembelajaran kontekstual

(Budingsih 2005:76).

Konsep pengajaran matematika yang humanistik di sekolah, tidak hanya

berkaitan dengan berbagai pandangan pengajaran yang mungkin dari matematika

dan hubungannya dengan logika semata tetapi juga berkaitan dengan dorongan

mengaitkan pengajaran matematika dengan pengalaman dan emosi terdalam dari

diri manusia. Brown (1996 :1316) mengatakan,

In seeking to elaborate upon the concept of humanistic mathematics


education, we have used the helpful heuristic of seeking alternatives
to the view of mathematics as driven by logic alone.... A significant
humanistic agenda might begin with an impulse to connect
mathematics curriculum with the deepest of human experience and
emotions.

Pelajaran matematika secara humanistik berarti menempatkan matematika sebagai

bagian dari kehidupan nyata manusia. Proses pembelajarannya juga menempatkan

pelajar bukan sebagai obyek, melainkan subyek yang bebas menemukan

pemahaman berdasarkan pengalamannya sehari-hari (Susilo, 2008).


7

Agar pembelajaran matematika lebih berhasil dilaksanakan disekolah,

guru biasanya menggunakan bermacam-macam model pembelajaran. Di antara

berbagai model pembelajaran yang ada, model pembelajaran dengan pendekatan

kontekstual atau CTL (Contextual Teaching and Learning) merupakan salah satu

alternatifnya. Model pembelajaran ini sudah mendapat rekomendasi dari Direktur

Pendidikan Dasar dan Menengah dan KTSP ( Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan). Pembelajaran dengan pendekatan kontektual adalah konsep belajar

yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarnya dengan situasi

dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan

yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari

(Trianto 2007:103). Implementasi pendekatan kontekstual pada mata pelajaran

matematika di sekolah akan meningkatkan prestasi belajar matematika (Gita

2007:26).

Berdasarkan informasi dari guru-guru matematika SMP Negeri I

Tanggungharjo Kabupaten Grobogan, para siswa kelas VII memilki prestasi

belajar yang belum memuaskan. Selain itu juga kemampuan matematika mereka

masih kurang baik termasuk diantaranya prestasi belajar materi ajar aritmatika

sosial. Kondisi ini yang menyebabakan ditetapkannya nilai Kriteria Ketuntasan

Minimal (KKM) sekolah sebesar 60. Diperoleh juga data bahwa sikap saling

menghargai, menghormati sesama teman, sikap saling membantu juga sudah

mulai jarang terlihat dalam pergaulan siswa sehari-hari.

Aritmatika Sosial adalah salah satu materi matematika yang diajarkan di

kelas VII. Topik ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan nyata siswa sehari-
8

hari yang bersifat kontekstual sehingga dimungkinkan untuk membawa nilai-nilai

kemanusiaan dalam proses pembelajarannya.

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka judul yang dipilih dalam

tesis ini adalah “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Beraliran

Humanistik Berparadigma Pendekatan Kontekstual pada materi Aritmatika Sosial

Kelas VII”.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasi beberapa

masalah sebagai berikut:

1. Selama ini pembelajaran matematika di sekolah lebih menekankan aspek

kognitif siswa saja, aspek afektif kurang diperhatikan. Pembelajaran yang

berorientasi pada penguasaan materi akan berhasil dalam kompetisi

mengingat jangka pendek tetapi kesulitan dalam membekali anak

memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang termasuk

didalamya kehidupan bermasyarakat.

2. Mengantisipasi pengaruh negatif dari perkembangan ilmu pengetahuan

dan teknologi yang semakin maju, perlu reformasi paradigma dalam

pembelajaran matematika, yaitu dari peran guru sebagai pemberi informasi

(tranfer of knowledge) ke peran guru sebagai pendorong belajar

(stimulation of learning). Guru dituntut untuk memberi kesempatan pada

siswa agar mereka mengkonstruksi sendiri pengetahuan yang dipelajari.

Aktivitas siswa dirancang sehingga dapat menghasilkan perubahan sikap

atau tingkah laku siswa dalam proses pembelajaran dan relasi dengan
9

sesamanya, tidak hanya mencakup aktivitas yang bersifat fisik tetapi juga

aktivitas mentalnya.

3. Konsep pembelajaran yang mengaitkan antara materi yang diajarkan

dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat

hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya

dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat,

sebaiknya dilaksanakan guru di dalam kelas. Dengan konsep itu, hasil

pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran

berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja, mengalami dan

merefleksi, bukan hanya mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa.

Proses pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.

4. Pembelajaran matematika di sekolah yang berparadigma pendekatan

kontekstual adalah pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai

kemanusiaan/nilai-nilai kehidupan kedalam materi pelajaran sehingga

akan dapat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam pembelajaran. Siswa

dibawa ke dalam masalah kontekstual sehingga bersentuhan dengan

berbagai aspek kehidupan sehingga menggugah munculnya nilai-nilai

kemanusiaan/nilai-nilai kehidupan dalam dirinya meskipun pengaruh

tersebut tidak dapat diaplikasikan dalam seketika.

5. Sehubungan dengan hal di atas diperlukan pembelajaran yang berorientasi

pada siswa, yang memperhatikan kebutuhan dan kepentingan mereka

sebagai individu dan kelompok masyarakat , yang melibatkan siswa secara

aktif, yang menyebabkan mereka menghargai dan memaknai nilai-nilai


10

kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan mereka, yakni

pembelajaran beraliran humanistik berparadigma kontekstual

1.3 Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah pengembangan perangkat pembelajaran matematika

beraliran humanistik berparadigma pendekatan kontekstual pada materi

Aritmatika Sosial kelas VII yang valid?

2. Bagaimanakah hasil penggunaan perangkat pembelajaran matematika

beraliran humanistik berparadigma pendekatan kontekstual pada materi

Aritmatika Sosial kelas VII yang baik?

i.Apakah prestasi belajar siswa pada materi Aritmatika Sosial

dengan pembelajaran matematika beraliran humanistik

berparadigma pendekatan kontekstual lebih dari Kriteria

Ketuntasan Minimal (KKM)?

4. Apakah prestasi belajar siswa pada materi Aritmatika Sosial dengan

pembelajaran matematika beraliran humanistik berparadigma pendekatan

kontekstual lebih baik dari pada dengan pembelajaran ekspositori?

1.4 Batasan Masalah

1. Kajian dalam penelitian ini terbatas pada materi Aritmatika Sosial dengan

satu standar kompetensi yaitu: menggunakan bentuk aljabar, persamaan

dan pertidaksamaan linier satu variabel, dan perbandingan dalam

pemecahan masalah dan hanya satu kompetensi dasar yaitu: menggunakan

konsep aljabar dalam pemecahan masalah Aritmatika Sosial yang


11

sederhana.

2. Subjek pada penelitian pengembangan perangkat pembelajaran ini

melibatkan siswa sebanyak tiga kelas (satu kelas eksperimen, satu kelas

kontrol dan satu kelas ujicoba) dari tujuh kelas VII di SMP Negeri 1

Tanggungharjo Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2008/2009.

3. Nilai-nilai yang diamati meliputi: kerjasama, rasa hormat, memecahkan

masalah/mencari jawaban, berbagi dan memberi, dan mencintai sesama

1.5 Tujuan Penelitian

1. Menghasilkan perangkat pembelajaran matematika beraliran humanistik

berparadigma pendekatan kontekstual pada materi Aritmatika Sosial kelas

VII yang valid

2. Mendeskripsikan hasil penggunaan perangkat pembelajaran matematika

beraliran humanistik berparadigma pendekatan kontekstual pada materi

Aritmatika Sosial kelas VII, yang terdiri dari:

a) Mendeskripsikan aktivitas siswa selama pembelajaran matematika

beraliran humanistik berparadigma pendekatan kontekstual pada

materi Aritmatika Sosial kelas VII.

b) Mendeskripsikan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran

matematika beraliran humanistik berparadigma pendekatan kontekstual

pada materi Aritmatika Sosial kelas VII.

c) Menganalisis respon peserta didik terhadap pembelajaran matematika

beraliran humanistik berparadigma pendekatan kontekstual pada


12

materi Aritmatika Sosial kelas VII.

3. Untuk mengetahui apakah prestasi belajar siswa pada materi Aritmatika

Sosial dengan pembelajaran matematika beraliran humanistik

berparadigma pendekatan kontekstual lebih dari Kriteria Ketuntasan

Minimal (KKM).

4. Untuk mengetahui apakah prestasi belajar siswa pada materi Aritmatika

Sosial dengan pembelajaran matematika beraliran humanistik

berparadigma pendekatan kontekstual lebih baik dari pada dengan

pembelajaran ekspositori.

1.6 Manfaat Penelitian

1. Pembelajaran matematika beraliran humanistik berparadigma pendekatan

kontekstual dapat digunakan guru sebagai alternatif pengajaran untuk

meningkatkan kualitas pembelajaran matematika dan prestasi belajar

matematika siswa.

2. Siswa dapat menyelesaikan masalah matematika dengan pendekatan

kontekstual sekaligus menjadi pendorong untuk memahami akan

pentingnya nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai kehidupan sehingga

bermanfaat dalam kehidupan bermasyarakatnya.

3. Penerapan pembelajaran matematika beraliran humanistik berparadigma

pendekatan kontekstual di sekolah diharapakan dapat memberikan

kontribusi perbaikan proses pembelajaran dan iklim sekolah dengan azas

saling menghargai antar warga sekolah.


13

4. Dapat dijadikan sebagai acuan untuk penelitian lebih lanjut dengan

cakupan yang lebih luas untuk mendapatkan hasil penelitian yang lebih

akurat.

1.7 Penegasan Istilah

Untuk menghindari terjadinya perbedaan penafsiran, maka diperlukan penjelasan

dalam penegasan istilah sebagai berikut:

1. Pengembangan perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian

pada penelitian ini adalah suatu proses untuk menghasilkan perangkat

pembelajaran dan instrumen penelitian yang valid/baik.

2. Perangkat pembelajaran adalah sekumpulan sumber belajar yang

digunakan guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Perangkat

pembelajaran meliputi: (1) buku guru, (2) buku siswa, (3) RPP (Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran), (4) tes prestasi belajar dan panduannya.

3. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi : (1) lembar validasi

rencana pelaksanaan pembelajaran; (2) lembar validasi buku guru; (3)

lembar validasi buku siswa; (4) lembar validasi tes prestasi belajar (5)

lembar pengamatan aktivitas siswa; (6) lembar pengamatan pengelolaan

pembelajaran; (7) angket respon siswa terhadap perangkat pembelajaran

dan kegiatan pembelajaran.

4. Pengembangan perangkat pembelajaran yang valid adalah proses

untuk membuat dan mengembangkan perangkat pembelajaran matematika

berdasarkan prosedur pengembangan perangkat pembelajaran yang telah


14

melalui tahap validasi ahli.

5. Hasil penggunaan perangkat pembelajaran yang baik ditinjau dengan

kriteria: (1) kemampuan guru mengelola pembelajaran efektif; (2) aktivitas

siswa tergolong aktif; (3) respon siswa tergolong positif.

6. Pendekatan kontekstual adalah pembelajaran yang dirancang berkaitan

dengan masalah nyata di sekitar siswa yang dapat diamati atau dipahami

oleh siswa lewat membayangkan.

7. Pembelajaran menurut aliran humanistik adalah untuk memanusiakan

manusia dimana siswa memahami dirinya dan mampu menempatkan diri

dengan baik dalam lingkungannya.

8. Pembelajaran matematika beraliran humanistik berparadigma

pendekatan kontekstual adalah suatu model pembelajaran yang

berorientasi pada siswa, dimana nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai

kehidupan diintegrasikan kedalam materi pelajaran. Siswa terlibat secara

aktif dalam pembelajaran. Guru mengaitkan materi yang diajarkan dengan

situasi nyata siswa yang dapat diamati atau dapat dipahami siswa lewat

membayangkan. Mendorong siswa untuk membuat hubungan antara

pengetahuan matematika yang dimilikinya dan nilai-nilai yang terkandung

dalam matematika dengan penerapannya dalam kehidupan mereka

sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan menerapkan

pembelajaran ini di kelas diharapkan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-

nilai kehidupan tumbuh dan berkembang dalam diri siswa sehingga dapat

diaplikasikan dalam masalah kehidupan sehari-hari.


15

9. Pembelajaran ekspositori adalah pengajaran yang berpusat pada guru

saja. Guru menjelaskan, memberikan contoh dan drill. Memberikan sedikit

pertanyaan lisan. Siswa mendengarkan dan mencatat dan menjawab

pertanyaan

10. Aktivitas siswa adalah keikutsertaan atau keterlibatan yang dilakukan

siswa selama pembelajaran di kelas berlangsung dan pengamatan nilai-

nilai yang tampak pada saat pembelajaran berlangsung. Aktivitas siswa

diukur dengan menggunakan instrumen penelitian lembar pengamatan

aktivitas siswa.

11. Nilai-nilai adalah tingkah laku yang diamati selama pembelajaran

berlangsung, meliputi: kerjasama, rasa hormat, memecahkan masalah,

berbagi dan memberi, dan mencintai sesama.

12. Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran adalah ketrampilan

guru dalam menerapkan rencana pelaksanaan pembelajaran pada kegiatan

pembelajaran. Kemampuan guru diukur dengan instrumen penelitian

lembar pengamatan kemampuan guru mengelola pembelajaran

13. Respon siswa adalah tanggapan siswa terhadap perangkat pembelajaran

matematika beraliran humanistik berparadigma pendekatan kontekstual

pada materi Aritmatika Sosial kelas VII yang meliputi buku siswa, minat

siswa mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran yang sama

pada pembelajaran berikutnya serta keyakinan siswa tentang nilai-nilai.

Respon siswa diukur dengan menggunakan instrumen penelitian respon

siswa.
16

14. Prestasi belajar siswa adalah tingkat pencapaian kompentensi belajar

materi Aritmatika Sosial, yang diukur dengan tes prestasi belajar.

15. Tes Prestasi belajar merupakan butir tes yang digunakan untuk

mengetahui hasil belajar siswa setelah mengikuti kegiatan belajar

mengajar. Tes prestasi belajar yang baik diukur dengan validitas, dan

reliabilitas. Tes prestasi belajar mengukur pencapaian tujuan dari segi

ketuntasan belajar.

16. Ketuntasan belajar adalah pencapaian suatu tingkat penguasaan minimal

dalam tujuan pembelajaran pada setiap satuan pelajaran. Ketuntasan

belajar dapat dilihat dari membandingkan prestasi belajar siswa melalui tes

dengan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). KKM pada SMP Negeri 1

Tanggungharjo yakni 60. Jika prestasi belajar lebih dari atau sama dengan

KKM maka siswa disebut mencapai ketuntasan belajar. Sedangkan

ketuntasan belajar secara klasikal adalah apabila 75 % siswa mencapai

KKM.