Anda di halaman 1dari 34

analisa tapak

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Aspek dari pembangunan adalah mengusahakan agar seluruh masyarakat Kabupaten Kubu Raya menempati rumah yang layak di lingkungan yang sehat. Dalam dasawarsa ini laju pembangunan dan teknologi berkembang dengan cepat yang diikuti dengan pertambahan penduduk yang makin besar pula. Ini berarti memerlukan tambahan lahan pertanian, lahan permukiman dan lahan untuk tujuan lainnya sebagai pemenuhan kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan. Masalah perumahan di Indonesia pada saat ini antara lain ditandai oleh adanya tempat tinggal serta lingkungan yang pada umumnya jauh dari syarat-syarat kehidupan keluarga yang layak. Masalah permukiman lebih terasa di daerah perkotaan daripada di daerah pedesaan. Peningkatan jumlah penduduk di kota menyebabkan timbulnya masalah permukiman. Disadari bahwa luas tanah merupakan faktor tetap, sementara jumlah penduduk selalu berkembang walaupun telah berhasil ditekan laju pertumbuhannya. Masalah permukiman selalu muncul, bahkan semakin kompleks (Eko Budiharjo, 1984). Masalah-masalah tersebut sampai saat ini masih menjadi problema seiring dengan laju pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahun.Pemilihan lokasi yang tepat untuk permukiman mempunyai arti penting dalam aspek keruangan. Karena menentukan keawetan pembangunan, nilai ekonomi bangunan dan dampak permukiman tersebut terhadap lingkungan di sekitarnya (Sutikno, 1982). Terbatasnya lahan untuk permukiman menyebabkan banyaknya bangunan yang didirikan pada lokasi yang tidak menguntungkan atau lokasi permukiman yang tidak sesuai dengan kondisi fisik lahan akan menyebabkanmpermukiman tersebut terancam sebagai akibat dari proses geomorfologi. Permukiman tidak akan berhenti sebagai sumber masalah dalam sejarah kehidupan manusia sejak dari jaman purba yang hidup dalam gua-gua sampai jaman kini yang hidup di gedung-gedung pencakar langit. Adapun masalah permukiman berkaitan dengan pemilihan lokasi yang kurang tepat, misalnya daerah yang rawan banjir, daerah yang sulit mendapatkan air, keadaan tanahnya yang labil dan sebagainya. Kebutuhan lahan selalu meningkat dalam bidang permukiman tersebut

seringkali tidak terpenuhi, karena jumlah penduduk cenderung selalu meningkat sedangkan luas lahan relatif tidak bertambah. Untuk penentuan lokasi permukiman perlu diperhatikan beberapa hal yang berkenaan dengan teknis pelaksanaan, segi tata guna lahan, segi kesehatan dan kemudahan, serta segi ekonomi (Prayoga Mirhad, 1983). Penentuan lokasi permukiman tersebut khususnya yang berkenaan dengan pendekatan geomorfologi. Informasi geomorfologi keteknikan dapat dihasilkan dengan mempertemukan syarat-syarat lokasi permukiman dengan kondisi geomorfologi daerah. Informasi ini akan dapat membantu para perencana pembangunan dan menentukan tindakan dan perlakuan yang diperlukan, sehingga dapat menekan biaya pembangunan dan pemeliharaan bangunan permukiman. 1.2. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan permasalahan di atas dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut: 1. Bagaimana Aspek dan Kriteria ayani II untuk lokasi permukiman ? 1.3. Tujuan Survey Tujuan Survey ini adalah: 1. Mengetahui kesesuaian lahan kosong di ayani II untuk permukiman Sesuai dengan aspek dan kriteria permukiman. 1.4. Kegunaan Survey 1. Hasil dari Survey ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi perencana dan pengambilan keputusan dalam hal pembangunan permukiman baru di Ayani II. 2. Sebagai perencanaan perluasan permukiman di masa yang akan datang.

BAB II DASAR TEORI Pengertian Perumahan dan Permukiman Menurut Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang perumahan dan permukiman, perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Pengertian permukiman Menurut Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang perumahan dan permukiman, permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup diluar kawasan lindung baik berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal hunian dan tempat kegiatan mendukung perikehidupan dan penghidupan. Sifat dan karakter permukiman lebih kompleks, karena permukiman mencakup suatu batasan wilayah yang lebih luas dibandingkan dengan luas dan lingkup perumahan. Hakikat Pembangunan Perumahan dan Permukiman 1. Perumahan dan permukiman selain merupakan salah satu kebutuhan dasar juga mempunyai fungsi yang strategis sebagai: pusat pendidikan keluarga pembinaan generasi muda tempat persemaian budaya pengejawantahan jatidiri barang modal (capital goods)

2. Terwujudnya kesejahteraan rakyat dapat ditandai melalui pemenuhan kebutuhan perumahan dan permukiman yang layak huni. 3. Perumahan dan permukiman perlu menjadi salah satu sektor prioritas dalam pembangunan manusia Indonesia yang seutuhnya. Tujuan Perencanaan Perumahan dan Permukiman Untuk Mengatasi :

Slum ( Kawasan Kumuh ) Kawasan kumuh adalah sebuah kawasan dengan tingkat kepadatan populasi tinggi di sebuah kota yang umumnya dihuni oleh masyarakat miskin

Squatter squatter adalah suatu masyarakat yang mendiami (bertempat tinggal) di atas lahan yang bukan haknya atau bukan diperuntukkan bagi permukiman; seringkali tumbuh terkonsentrasi pada lokasi terlarang untuk dihuni (bantaran sungai, pinggir pantai, dibawah jembatan, dll.) dan berkembang cepat sebagai hunian karena terlambat diantisipasi; dan menempati lahan tanpa hak yang sah (tanah negara, tempat pembuangan sampah, atau bahkan tanah milik orang/lembaga lain yang belum ataupun tidak dimanfaatkan). Persyaratan Dasar Perumahan

Menurut SNI 03-1733-2004 tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan lokasi lingkungan perumahan : harus sesuai dengan rencana peruntukan lahan yang diatur dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) setempat atau dokumen perencanaan lainnya yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah setempat.

Lokasi perencanaan perumahan harus berada pada lahan yang jelas status kepemilikannya, dan memenuhi persyaratan administratif, teknis dan ekologis. Adanya Keterpaduan antara tatanan kegiatan dan alam di sekelilingnya, dengan mempertimbangkan jenis, masa tumbuh dan usia yang dicapai, serta pengaruhnya terhadap lingkungan, bagi tumbuhan yang ada dan mungkin tumbuh di kawasan yang Dimaksud. Aspek-Aspek Yang Terkait Dalam Perumahan Dan Permukiman Aspek ini dilihat dalam perbedaan skala (makro, mikro) dan perbedaan subjek permasalahan (supply demand) sebagaimana filosofi dan metodologinya. Pada subjek permasalahan kebutuhan perumahan, aspek utama yang terkait mulai dari model lokasi perumahan dan pengambilan keputusan pada tingkat daerah (Pemda). Pada subjek permasalahan supply perumahan, aspek utama yang terkait mulai dari studi tentang Perumahan Nasional, pemerintahan, institusi pendidikan sampai kepada peraturan properti yang membentuk pola pengembangan lahan supply perumahan pada tingkat daerah. Jadi untuk mempelajari perumahan dan permukiman secara efektif, termasuklah mempelajari analisis mayor sektor dari perekonomian nasional, perubahan demografi, migrasi

dan kebebasan sosial, dengan kata lain menyentuh semua aspek dalam lingkungan hidup dan lingkungan pekerjaan. Kebutuhan Hidup Manusia Rumah merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia. Selain untuk tempat berlindung dari cuaca, tetapi rumah dapat menjadi lebih dari sebuah bangunan. Rumah juga merupakan tempat dimana sebuah keluarga hidup dan berinteraksi sosial dengan lingkungan disekitarnya. Rumah selalu disebutkan sebagai salah satu kebutuhan minimal manusia selain makanan dan pakaian. Rumah juga dapat melindungi manusia dari cuaca seperti panas, dingin, hujan dan angin. Selain kebutuhan-kebutuhan standard di atas, rumah juga merupakan tempat dimana suatu keluarga hidup, bersosialisasi satu sama lain dan melakukan pola hidup dan prilaku keluarga didalam suatu bangunan yang disebut rumah. Kehidupan manusia yang dalam sehari dihitung selama 24 jam, lebih dari 50% waktu tersebut dihabiskan di dalam rumah. Sehingga sebuah keluarga merencanakan bangunan yang disebut sebagai rumah tempat tinggal keluarga senyaman mungkin untuk seluruh anggota keluarga. Selain sebagai kebutuhan standard manusia, rumah juga menjadi lambing identitas sosial suatu keluarga. Setiap keluarga yang mendiami suatu rumah akan menampilkan karakter bangunan rumah tinggal yang berbeda dengan keluarga lainnya. Selalunya karakter bangunan rumah tunggal ini akan menggambarkan sosial budaya dan prilaku penghuninya. Kebutuhan manusia akan rumah tinggal terbagi atas kebutuhan kebutuhan manusia lainnya menurut skala prioritas penghuninya. Di bawah ini akan diuraikan mengenai kebutuhan-kebutuhan manusia yang harus tersedia dalam suatu unit rumah tinggal menurut tingkatan hirarkinya Aspek Perumahan Aspek perumahan merupakan aspek yang penting dalam kegiatan dan aktivitas perkotaan. Hal ini disebabkan perumahan merupakan pemakai lahan terbesar dari lahan terbangun perkotaan, sekitar 40 % dari lahan terbangun dalam Rencana Tata Ruang (RTR), sedangkan penggunaan lainnya adalah untuk open sapce dan industri. Dari kondisi di atas, terlihat bahwa aspek perumahan berpotensi menimbulkan permasalahan dalam pemanfaatan lahan perkotaan.

Pertambahan penduduk perkotaan dan sub urban serta perkembangan aktivitas perkotaan membutuhkan supply perumahan yang tidak sedikit, namun saat ini supply untuk perumahan murah masih belum mencukupi. Kondisi seperti inilah yang memunculkan permasalahan permukiman, ketidakseimbangan antara permintaan dan penyediaan rumah murah. Selain itu, penurunan kualitas lingkungan, tidak meratanya distribusi perumahan, dan tidak tercukupinya fasilitas perumahan akan berujung pada permasalahan permukiman kumuh. Selain itu, akibat tidak adanya supply lahan dan perumahan murah di perkotaan, mengakibatkan munculnya permukiman-permukiman liar.

Dilihat dari kondisi tersebut, permasalahan pengendalian untuk sektor permukiman termasuk permasalahan yang cukup berat, dimana tuntutan kebutuhan rumah murah selalu naik, sedangkan penyediaan selalu kurang. Selama permasalahan tersebut belum terselesaikan masalah permukiman masih akan selalu ada. Secara garis besar permasalahan permukiman perkotaan antara lain : (1) percampuran fungsi bangunan/kawasan; (2) alih fungsi bangunan; (3) permukiman liar; dan (4) permukiman kumuh. Sedangkan permasalahan permukiman yang terjadi di wilayah sub urban adalah (5) pembangunan perumahan di kawasan rawan bencana. Aspek Perumahan Dan Permukiman 7 (Tujuh) ASPEK PERMUKIMAN Aspek Politik Aspek Ekonomi Aspek Sosial Aspek Lingkungan Aspek Budaya Aspek Amenity (fasilitas hiburan/rekreasi) Aspek Komunikasi 1. ASPEK POLITIK Tersalurkannya aspirasi masyarakat melalui pelayanan yang efisien dan efektif serta tumbuhnya situasi politik yang aman. 2. ASPEK EKONOMI

Berkembangnya ekonomi (industri besar dan industri rumah) hendaknya dijadikan komponen utama sebagai potensi yang harus dikembangkan Memfasilitasi potensi sehingga meningkatkan produktivitas dan pendapatan masyarakat. Penanganan dampak polusi industri dengan perencanaan yang baik sehingga tidak menimbulkan kondisi yang kontradiktif terhadap hunian dan lingkungan hidup sekitarnya. 3. ASPEK SOSIAL Fasilitas kesehatan memadai Meningkatkan wawasan kesehatan dan keselamatan kerja dalam proses kerja industri rumah tangga Memperhatikan proses kerja dan keselamatan kerja Fasilitas pemakaman.

4. ASPEK BUDAYA Fasilitas pendidikan yang memadai baik dari segi kualitas fisik dan kuantitasnya. Peningkatan peran serta masyarakat/swasta yang baik dalam bidang pendidikan. Pemerataan dan keseimbangan pelayanan pendidikan perlu dilakukan Pengembangan lembaga pendidikan keterampilan yang berkaitan dengan keinginan pasar. 5. ASPEK LINGKUNGAN Perlu dilakukan penegakan hukum lingkungan agar ruang hijau tetap bertahan. Masyarakat perlu ditingkatkan wawasan dan kesadarannya akan perlunya keseimbangan ruang untuk menjaga kenyamanan dan keberlanjutan lingkungan. Usaha-usaha industri yang berkembang perlu dioptimalkan dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan. Penanggulangan masalah sampah dan limbah 6. ASPEK AMENITY Fasilitas olahraga (terbuka maupun tertutup) Tempat bermain atau lapangan bermain. Taman dan jalur hijau yang berfungsi sebagai nilai estetis kawasan. Fasilitas rekreasi lainnya. 7. ASPEK KOMUNIKASI

Fasilitas perhubungan (angkutan umum, angkutan air, angkutan udara, dst) Fasilitas telekomunikasi (telepon, wartel, internet, telum, dst) Fasilitas untuk melayani surat menyurat (kantor pos, bis surat)

KRITERIA Adapun kriteria penentuan lokasi permuahan dan permukiman adalah sebagai berikut: 1. Kriteria keamanan, dicapai dengan mempertimbangkan bahwa lokasi tersebut bukan merupakan kawasan lindung (catchment area), olahan pertanian, hutan produksi, daerah buangan limbah pabrik, daerah bebas bangunan pada area Bandara, daerah dibawah jaringan listrik tegangan tinggi; 2. Kriteria kesehatan, dicapai dengan mempertimbangkan bahwa lokasi tersebut bukan daerah yang mempunyai pencemaran udara di atas ambang batas, pencemaran air permukaan dan air tanah dalam; 3. Kriteria kenyamanan, dicapai dengan kemudahan pencapaian (aksesibilitas), kemudahan berkomunikasi (internal/eksternal, langsung atau tidak langsung), kemudahan berkegiatan (prasarana dan sarana lingkungan tersedia); 4. Kriteria keindahan/ keserasian/ keteraturan (kompatibilitas), dicapai dengan penghijauan, mempertahankan karakteristik topografi dan lingkungan yang ada, misalnya tidak meratakan bukit, mengurug seluruh rawa atau danau/ setu/ sungai/ kali dan sebagainya; 5. Kriteria fleksibilitas, dicapai dengan mempertimbangkan kemungkinan pertumbuhan fisik/ pemekaran lingkungan perumahan dikaitkan dengan kondisi fisik lingkungan dan keterpaduan prasarana; 6. Kriteria keterjangkauan jarak, dicapai dengan mempertimbangkan jarak pencapaian ideal kemampuan orang berjalan kaki sebagai pengguna lingkungan terhadap penempatan sarana dan prasarana-utilitas lingkungan; dan 7. Kriteria lingkungan berjati diri, dicapai dengan mempertimbangkan keterkaitan dengan karakter sosial budaya masyarakat setempat, terutama aspek kontekstual terhadap lingkungan tradisional/ lokal setempat.

BAB III PEMBAHASAN Perencanaaan Perumahan Dengan Konsep Green Building Di A.Yani II Kecamatan Sungai Raya

3.1 PROSES ANALISA TAPAK

3.2 DESKRIPSI DATA 3.2.1 GAMBARAN UMUM KAWASAN

Kondisi topografis ( Kemiringan lahan ) cendrung tidak berkontur, dengan kemiringan rata rata 3-5 % sehingga sangat baik untuk pengembangan kawasan perumahan; Saluran pematus primer berada di sisi selatan ke arah timur. Jenis tanah yang baik untuk kawasan perumahan tidak berada di lahan gambut. Bukan termasuk wilayah rawan banjir di kabupaten Kubu Raya karena berada 2-5 m dari permukaan laut.

3.2.2 LUAS KAWASAN Luasan yang di rencanakan : 100000 m = 10 Ha

3.3 RUANG LINGKUP ANALISA Analisa dari Aspek Perumahan dan Permukiman Meliputi 7 Aspek yaitu :

1. Aspek Politik 2. Aspek Ekonomi 3. Aspek Sosial

4. Aspek Lingkungan 5. Aspek Budaya 6. Aspek Amenity (fasilitas hiburan/rekreasi) 7. Aspek Komunikasi Analisa dari kriteria penentuan lokasi perumahan dan permukiman yaitu :

1. Kriteria Keamanan 2. Kriteria Kesehatan 3. Kriteria Kenyamanan 4. Kriteria keindahan/ keserasian/ keteraturan (kompatibilitas) 5. Kriteria fleksibilitas 6. Kriteria keterjangkauan jarak 7. Kriteria lingkungan berjati diri Analisa Faktor Alam meliputi :

1. Bentuk Lahan 2. Hidrografi 3. Vegetasi 4. Iklim Analisa Faktor Kultur meliputi :

1. Tata Guna Lahan 2. Hubungan ( sirkulasi dan fasilitas di sekitar lahan ) 3. Lalu Lintas 4. Kepadatan 5. ANALISA KEBISINGAN Analisa Faktor Estetika meliputi : 1. Bentuk Alami

3.4 HASIL ANALISA DATA Analisa dari Aspek Perumahan Dan Permukiman

7 (Tujuh) ASPEK PERMUKIMAN 1. Aspek Politik Dari hasil analisa yang dilakukan sudah terlasananya aspirasi masyarakat melalui pelayanan yang efisien dan efektif serta tumbuhnya situasi politik yang aman. 2. Aspek Ekonomi Berdasarkan analisa aspek ekonomi yang ditinjau sudah baik. 3. Aspek Sosial Dari hasil analisa yang dilakukan untuk aspek sosial yang ada di sekitar lokasi survey sudah terdapat fasilitas kesehatan yang memadai seperti rumah sakit bersalin anda serta fasilitas pemakaman. 4. Aspek Lingkungan Berdasarkan analisa yang ditinjau lokasi yang disurvey tidak mengganggu aspek lingkungan sehingga baik untuk di buat suatu perumahan dan permukiman 5. Aspek Budaya Analisa yang dilakukan dari aspek budaya meliputi Fasilitas pendidikan yang memadai baik dari segi kualitas fisik dan kuantitasnya.Peningkatan peran serta masyarakat/swasta yang baik dalam bidang pendidikan.Pemerataan dan keseimbangan pelayanan pendidikan perlu dilakukan Pengembangan lembaga pendidikan keterampilan yang berkaitan dengan keinginan pasar dan semua itu sudah terpenuhi. 6. Aspek Amenity (fasilitas hiburan/rekreasi) Untuk sarana olah raga dan rekreasi merupakan sarana yang cukup penting dalam menciptakan manusia yang sehat jasmani maupun rohani, karena sesuai dengan fungsi sarana tersebut merupakan tempat untuk melakukan aktivitas yang memberikan dampak yang positif bagi kehidupan kita sehari-hari dan sebagai sarana untuk melepas lelah di dalam aktivitas kita seharian. Sehingga sarana olah raga dan rekreasi sangat penting untuk menunjang suatu kawasan. Kebutuhan sarana olah raga dan rekreasi untuk ketersediaan saat ini di Kawasan Ayani II sudah memadai yang berupa sarana olah raga yang meliputi: Lapangan Futsal , taman bermain, sedangkan untuk sarana rekreasi yang berupa rekreasi dangau. Sehingga dengan di adakannya kelayakan lahan sudah memenuhi standar aspek amenity.

7. Aspek Komunikasi Untuk sarana dan prasarana seperti Fasilitas perhubungan (angkutan umum, , angkutan udara ), Fasilitas telekomunikasi (telepon, wartel, internet), serta Fasilitas untuk melayani surat menyurat (kantor pos) sudah memadai. Analisa dari kriteria penentuan lokasi perumahan dan permukiman adalah sebagai berikut: 1. Kriteria keamanan Dari analisa Untuk kriteria keamanan lahan kosong yang di survey bukan merupakan kawasan lindung (catchment area), olahan pertanian, hutan produksi, daerah buangan limbah pabrik, daerah bebas bangunan pada area Bandara, bukan daerah dibawah jaringan listrik tegangan tinggi sehingga sangat baik untuk dijadikan suatu perumahan dan permukiman. 2. Kriteria kesehatan, Berdasarkan analisa yang dilakukan dilapangan bahwa lokasi tersebut bukan daerah yang mempunyai pencemaran udara di atas ambang batas, pencemaran air permukaan dan air tanah dalam sehingga dari itu dapat dikatakan bahwa dari segi kesehatan sangat baik untuk dijadikan suatu perumahan dan permukiman. 3. Kriteria kenyamanan, Ditinjau dari segi kemudahan pencapaian (aksesibilitas), kemudahan berkomunikasi (internal/eksternal, langsung atau tidak langsung), kemudahan berkegiatan (prasarana dan sarana lingkungan tersedia) sudah memenuhi standar dikarenakan lokasi terletak di akses jalan arteri supadio ( ayani II ) 4. Kriteria keindahan/ keserasian/ keteraturan (kompatibilitas), Analisa yang ditinjau dari Kriteria keindahan/ keserasian/ keteraturan (kompatibilitas) bertujuan untuk mencapai penghijauan, mempertahankan karakteristik topografi dan lingkungan yang ada. Dan dari analisa tersebut tidak adanya meratakan bukit, mengurug seluruh rawa atau danau/ setu/ sungai/ kali sehingga baik untuk dijadikan perumahan dan permukiman berkelanjutan. 5. Kriteria fleksibilitas, Dari analisa yang dilakukan untuk kriteria Fleksiblitas lokasi yang disurvey sangat baik untuk di buat suatu perumahan dan permukiman.

6. Kriteria keterjangkauan jarak, Analisa yang dilakukan di sekitar lokasi yang di survey sangat mempertimbangkan dengan jarak pencapaian ideal kemampuan orang berjalan kaki sebagai pengguna lingkungan terhadap penempatan sarana dan prasarana-utilitas lingkungan. Serta baik untuk dijadikan perumahan dan permukiman. 7. Kriteria lingkungan berjati diri, Analisa bertujuan mempertimbangkan keterkaitan dengan karakter sosial budaya masyarakat setempat, terutama aspek kontekstual terhadap lingkungan tradisional/ lokal setempat. Sehingga di pilih lokasi yang dianggap baik untuk dijadikan suatu perumahan dan permukiman.

Bentuk lahan yang persegi panjang merupakan potensi dalam keleluasaan penyedian ruang bagi bangunan berserta lansekapnya. Sisi lahan yang menghadap ke jalan utama dapat menjadi akses pintu masuk dan pintu keluar. FAKTOR ALAM 1. BENTUK LAHAN

Akses Jalan utama yang dapat memudahkan masa pembangunan.

2 . VEGETASI Terdapat beberapa pohon palm raja di pinggir jalan yang berada di sisi timur dan selatan.

3. Iklim ( Curah Hujan ) Data curah hujan diperlukan dalam kaitannya dengan aktifitas penentuan lahan yang baik untuk perencanaan lahan perumahan permukiman. Data curah hujan diperoleh dari Kabupaten Pontianak dalam Angka, sehubungan belum diterbitkannya data Kabupaten Kubu Raya secara tersendiri. Data curah hujan dapat dilihat dalam tabel berikut : Tabel : Rata-rata Curah Hujan dan Banyaknya Hari Hujan Sumber : Kabupaten Pontianak dalam Angka 2005 dan 2007

FAKTOR KULTUR 1. TATA GUNA LAHAN Lahan bukan terletak pada daerah Ruang Terbuka Hijau, Lahan Gambut, kawasan pertanian dan kawasan industri.

2. HUBUNGAN ( SIRKULASI DAN FASILITAS DI SEKITAR LAHAN )

3. LALU LINTAS

Jalan di sisi timur lahan selebar satu jalur 8 m dipakai lalu lintas 2 jalur dengan kepadatan rendah.

4. KEPADATAN Lahan Terletak pada daerah lalu lintas yang tidak terlalu padat karena sudah memiliki dua jalur yang masing jalur selebar 8 m dan lahan masih banyak yang kosong sehingga untuk kepadatan agak kurang.

5. ANALISA KEBISINGAN Analisa Kebisingan utama adalah kebisingan kendaraan bermotor Dengan konsep green building dan meletakan bangunan agak ke dalamdapat meredam kebisingan.

AKTOR ESTETIKA 1. Karena sudah berada di lingkungan kota, maka bentuk alam yang dapat dilihat adalah ruang terbuka hijau. BENTUK ALAM Berupa Berbagai pohon Perdu serta Rumput Penutup.

Analisa Dasar Perencanaan Bangunan Perumahan Dengan Pola Berimbang Kebutuhan akan ruang pada tiap keluarga berbedabeda dalam arti tergantung tingkat kebutuhan dan tingkat kemampuan ekonomi masingmasing. Semakin tinggi tingkat sosial ekonomi/ kemampuan Finansial sebuah keluarga akan semakin besar pula luasan ruang yang dibutuhkan. Sehingga dalam pengelompokkan tipe rumah berdasarkan kemampuan finansial yang terdiri dari : Tipe Rumah Keluarga kecil : tipe 36

Tipe Rumah Keluarga Sedang : tipe 45 Tipe Rumah Keluarga Besar : tipe 72

Dengan konsep Green Building maka ditentukan luas lahan yang akan dibangun yaitu 60% untuk permukiman dan 40% Ruang Terbuka Hijau ( RTH ) dari luas lahan total rencana yaitu 100.000 m = 10 ha. Dari konsep tersebut digunakan Pola Berimbang 1:3:6. Analisa Perhitungan jumlah rumah yang didapatkan dari pola berimbang sebagai berikut: Direncanakan luas lahan 10 ha = 100.000 m. Kapling perumahan 60% dari luas lahan keseluruhan yaitu : 60% x 100.000 m = 60.000 m dan sisa 40.000 untuk lahan terbuka hijau. Perencanaan : Rumah Besar : 220 m x 1 = 220 m

Rumah Sedang : 180 m x 3 = 540 m Rumah Kecil : 150 m x 6 = 900 m + 1660 m ; maka 60.000 m : 1.660 m = 36 Pola Berimbang 1 : 3 : 6 1 = 36 buah 3 = 108 buh 6 = 216 buah Sedangkan untuk luasan lahan yang digunakan tiap rumah : 36 x 220 = 7920 m 108 x 180 = 1990 m 216 x 150 = 32400 m

Dari analisa maka dapat di tabelkan sebagai beriku:

TIPE Tipe Kecil Tipe Sedang Tipe Besar

LUAS LAHAN 1 UNIT RUMAH 150 180 220 Total

JUMLAH JIWA/ UNIT 3 4 5

JUMLAH RUMAH 216 108 36 360

JUMLAH JIWA 648 432 180 1260

JUML

LA

32

19

79

60

PERENCANAAN PRASARANA 1. AIR BERSIH Proyeksi Kebutuhan Air Bersih : 1. Jumlah penduduk yang direncanakan = 1.260 jiwa Penduduk daerah pelayanan = 75% Jumlah penduduk daerah pelayanan=Jumlah penduduk x penduduk daerah pelayanan = 1.260 x 75% = 945 2. Cakupan yang terlayani = 75% (penduduk daerah pelayanan) Jumlah penduduk terlayani = jumlah penduduk daerah pelayanan x cakupan terlayani = 945x 75% = 708,75 jiwa 3. Rasio dalam kriteria perencanaan diasumsikan Sambungan rumah (SR) = 80% Keran Umum = 20% 4. Penduduk yang dilayani SR Jumlah penduduk yang terlayani x rasio SR = 708,75 jiwa x 80% = 567 jiwa 5. Penduduk yang dilayani KU

Jumlah penduduk yang terlayani x rasio KU = 708,75 jiwa x 20% = 141,75 % 6. Konsumsi kebutuhan air (berdasarkn kriteria perencanaan) SR = 100 ltr/orang/hari KU = 30 ltr/orang/hari 7. Jumlah pelanggan SR Jumlah SR = SR = = 144 SR 8. Jumlah KU = = = 2 unit KU 9. Kebutuhan air domestik = =

= 0,52 ltr/det
Untuk KU =

=
= 0,01 ltr/det Total SR + KU = 0,52 + 0.01 = 0,53 ltr / det 10. Kebutuhan air non domesik Persentase terhadap domestik = 20% (asumsi) Kebutuhan = (total domestik) x (% terhadap domestik) = 0,53 ltr/det x 20% = 0,106 ltr/det

11. Kebutuhan air total

= domestik + non domestik = 0,53 ltr/det + 0,106 ltr/det = 0,636 ltr/det 12. Kehilangan air (dalam kriteria perencanaan di asumsikan) = 25% Kehilangan asumsi = 25% = kebutuhan air total x 25% = 0,636 ltr/det x 25% = 0,159 ltr/det 13. Kebutuhan air rata-rata = kebutuhan air total + jumlah kehilangan air = 0,636 ltr/det + 0,159 ltr/det = 0,795 ltr/det 14. Kebutuhan air Hari maksimum (fmd = 1,15) Jam puncak (peak houwer / fph = 1,75) Untuk kapasitas sistem (harian maksimum) = kebutuhan air rata-rata x fmd = 0,795 ltr/det x 1,15 = 0,91425 ltr/det Untuk perencanaan sistem (jam puncak) = kapasitas sistem x fph = 0,91425 ltr/det x 1,75 = 1,6 ltr/det. 15. Kapasitas produksi = dibulatkan 2 ltr/det

Dari Hasil Analisa, Maka dapa ditabelkan sebagai berikut :


No 1 2 3 4 Uraian Jumlah Penduduk Cakupan Pelayanan Populasi yang Dilayani Konsumsi Domestik Sambungan Rumah (SR) Kran Umum (KU) Rasio SR KU Jumlah Konsumen SR KU Jumlah Sambungan SR KU Kebutuhan Air Domestik SR KU Total Domestik liter/det Konsumsi Non Domestik Kebutuhan Non Domestik liter/det Total Kebutuhan Air liter/det Kehilangan Air Kehilangan Air liter/det Total Kebutuhan Air Kapasitas Produksi Satuan jiwa % jiwa ltr/org/hari ltr/org/hari % % jiwa jiwa unit unit Ltr/det Ltr/det liter/det % liter/det liter/det % liter/det liter/det liter/detik Standar dan Perhitungan 1260 75% 708,75 100 30 80 20 567 142 114 2 0.52 0.01 0,53 20 0,106 0,636 25 0.159 1.6 2

9 10 11 12 13 14 15 16

2. AIR LIMBAH Perhitungan Besararan Limbah Asumsi 1 unit Rumah maksimal 5 orang. Cakupan layanan 85% Pemakaian air 150 liter/jiwa/hari Persentasi air limbah 80% Perhitungan sebagai berikut : Jumlah penduduk = 1260 jiwa.

Populasi yang dilayani = jumlah penduduk x cakupan layanan = 1260 jiwa x 85% = 1071 jiwa Timbulan Air Limbah = persentasi air limbah x jumlah jiwa/unit x pemakaian air = 80% x 5 x150 ltr/jiwa/hari = 600 ltr/hari = 0,6 m/hari Hasil analisa dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Standar dan Perhitungan 1260 85,0% 1071 150 80% 0,6 30 33

No 1 2 3 4 5 6 7

Uraian Jumlah Penduduk Cakupan Pelayanan Populasi yang Dilayani Kebutuhan Air Bersih Persen Air Limbah terhadap Air Bersih Timbulan Air Limbah Produksi Lumpur Tinja

Satuan jiwa % jiwa ltr/jiwa/hari % m/hari ltr/jiwa/thn m/tahun

3. PERSAMPAHAN Proyeksi perhitungan timbulan sampah : Jumlah penduduk Cakupan pelayanan : 1260 jiwa : 40% ( domestik ) + 20% (non domestik)

Timbulan sampah rata-rata : 2,5 liter/jiwa/hari Analisa data : Populasi yang dilayani = jumlah penduduk x cakupan pelayanan = 1260 jiwa x 40% = 504 jiwa ( Domestik )

Timbulan sampah

= (2,5 liter/jiwa/hr x 1260 orang) / 1000x 40 % = 1,26 M/hari ( Domestik ) = (2,5 liter/jiwa/hr x 1260 orang) / 1000x 20 % = 0,63 M/hari ( Non Domestik )

Timbulan sampah

Total timbulan sampah = 1,26 M/hari + 0,63 M/hari = 1,89 M/hari Jumlah Sarana Sampah : Bj sampah = 1,3 Bak Sampah ( Kapsitas 2 M ) = ( 1,89 M/ 2 M ) x 1,3 = 1,2285 2 buah. Gerobak ( Kapasitas 1 M ) = ( 1,89 M/ 1 M ) x 1,3 = 2,457 3 buah. Truk Sampah ( Kapasitas 16 M )

= ( 1,89 M/ 16 M ) x 1,3 = 0,15 1 buah. TPS ( Kapasitas 4 M ) = ( 1,89 M/ 2 M ) x 1,3 = 0,61 1 buah.

Hasil analisa dapat dilihat pada tabel berikut ini :


No 1 2 3 4 5 6 7 8 10 a b c d Uraian Jumlah Penduduk Cakupan Pelayanan Populasi yang Dilayani Rata-rata Timbulan Sampah Timbulan Sampah Domestik Persentase Timbulan Sampah Non Domestik Timbulan Sampah Non Domestik Total Timbulan Sampah Jumlah Sarana Sampah Bak Sampah (kapasitas 2 m) Gerobak (kapasitas 1 m) Truk Sampah (kapasitas 16 m) TPS (kapasitas 4 m) Satuan jiwa % jiwa ltr/jiwa/hari m/hari % m/hari m/hari unit Standar dan Perhitungan 1260 40% 504 2 ,5 1,26 20% 0,63 1,89 2 3 1 1

4. LISTRIK
No a. b. c. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Uraian Jumlah Penduduk Jumlah Rumah Tangga Kebutuhan Listrik Kebutuhan Domestik Kebutuhan Non Domestik Penerangan Jalan Total Kebutuhan Listrik Total Kebutuhan Listrik Kebutuhan Gardu Satuan 1260 360 259.200 64.800 112,015 324.112,015 325 2 Standar jiwa RT watt watt watt watt kilo watt unit

KONSEP PERUMAHAN GREEN BUILDING VISI dan MISI VISI Terwujudnya kualitas lingkungan permukiman yang ramah lingkungan, terjangkau, dan terintegrasi, antara perumahan baru dengan perumahan terbangun di sekitar, melalui Perencanan dengan Konsep Green Building dan menonjolkan karakter khas kawasan Hijau sehingga Mengurangi Global Warming. MISI Konsep bangunan hijau (green building) adalah bangunan dimana dalam perancangan, pembangunan, pengoperasian, serta dalam pemeliharaannya memperhatikan aspek-aspek lingkungan dan berdasarkan kaidah pembangunan berkelanjutan. Pada prinsipnya misi dari Perencanaan dengan Konsep Green Building adalah : 1. Meminimalkan/ mengurangi penggunaan sumber daya alam 2. Meminimalkan/ mengurangi dampak lingkungan 3. Meningkatkan kualitas udara ruangan menjadi lebih sehat

KONSEP RANCANGAN HUNIAN RUMAH TYPE 72 ( BESAR )

RUMAH TYPE 45 ( SEDANG ) RUMAH TYPE 36 ( KECIL )

RANCANGAN HUNIAN TYPE 36 ( RUMAH KECIL )

TYPE 45 ( RUMAH SEDANG )

TYPE 72 ( RUMAH BESAR )

RENCANA PENAMPANG JALAN

VISUALISASI KAWASAN LINGKUNGAN HUNI TYPE BESAR

` LINGKUNGAN HUNI TYPE KECIL

LINGKUNGAN HUNI TYPE SEDANG BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Dengan diadakannya survey untuk penentuan lahan kosong menjadi suatu permukiman perlu dilakukan berbagai analisa baik dari segi aspek perumahan dan permukiman maupun dari kriteria penentuan lokasi perumahan dan permukiman sehingga suatu lahan kosong dapat dikatakan baik untuk dijadikan perumahan dan permukiman. Sedangkan dari aspek perumahan dan permukiman meliputi 7 Aspek yaitu : Aspek Politik, Aspek Ekonomi, Aspek Sosial, Aspek Lingkungan, Aspek Budaya, Aspek Amenity (fasilitas hiburan/rekreasi) , serta analisa kriteria penentuan lokasi perumahan dan permukiman ( perkim) meliputi : Kriteria keamanan, Kriteria kesehatan, Kriteria kenyamanan, Kriteria keindahan/ keserasian/ keteraturan (kompatibilitas), Kriteria fleksibilitas, Kriteria keterjangkauan jarak, Kriteria lingkungan berjati diri. Pada perencanaan lahan perumahan 10 hektar dihasilkan tiga tipe rumah dengan asumsi jumlah penduduk sekitar 1260 jiwa yaitu :

Tipe Rumah Keluarga kecil adalah Tipe 36/150 dengan jumlah rumah 216 unit. Tipe Rumah Keluarga Menengah adalah Tipe 45/180 dengan jumlah rumah 108 unit. Tipe Rumah Keluarga Kelas Atas adalah Tipe 72/220 dengan jumlah rumah 36 unit. Dengan sarana pendukung pada kawasan perumahan ini berupa :, Pos Hansip, Taman KanakKanak (TK), Musholla, Perniagaan, dan Lapangan Olah Raga serta Lapangan terbuka Hijau/ Tempat Bermain. Sedangkan Prasarana pendukung pada kawasan perumahan ini berupa : Prasarana Jalan, Prasarana Air Bersih, Prasarana Persampahan , Prasarana Listrik, dan Prasarana Air Limbah/ Drainase. 4.2 Saran 1. untuk kedepannya diharapkan survey di tempat yang berbeda agar lebih berkembang. 2. Aspek-aspek yang dilakukan kedepannya lebih kepada data-data yang lebih akurat dengan disertai literatur penunjang.

Anda mungkin juga menyukai