Anda di halaman 1dari 17

Tentir Biokim- Kimia Pernapasan Annisafitria

Bismillahirrohmaanirrohiim Jangan lupa baca basmalah dulu ya. Biar ilmunya berkah. Aaamiiin.

ERNAPASAN

Definisi pernapasan secara biokimia = Proses pertukaran udara dalam tubuh kita. Respirasi meliputi 4 proses, yaitu 1. Ventilasi paru-paru : masuk-keluarnya udara pernafasan antara atmosfir dan alveoli

2. Difusi O2 dan CO2 antara alveoli dan darah 3. Transport O2 dan CO2 oleh darah ke sel-sel tubuh 4. Pengaturan ventilasi - CO2 mempertahankan keseimbangan asam basa dalam tubuh kita. - Komposisi udara terbanyak adalah nitrogen (-+79%), oksigen (-+21%), dan gas2 lain yg sngat sedikit jumlahnya. HUKUM GAS - Gas- gas dalam tubuh mengikuti hukum Boyle, hkm Gay- Lussac, dan hkm Dalton a) Hukum boyle = jika T konstan, P x V= konstan. Jadi kalau P semakin turun, maka V semakin naik. b) Hukum Gay- Lussac = jika P konstan, V: T = konstan. Jadi kalau V naik, maka T juga ikutan naik. c) Hukum Dalton, merupakan gabungan dari hukum Boyle dan h. Gay- Lussac, disebut juga dengan hukum gas ideal P x V= nRT Ket: P= tekanan T= suhu V= volume n= jumlah massa gas R= konstanta ( 62,36)

Tentir Biokim- Kimia Pernapasan Annisafitria


TEKANAN PARSIAL Yaitu tekanan yang ditimbulkan oleh suatu gas dalam suatu campuran gas. Presentase suatu gas dalam suatu campuran sebanding dengan tekanan gas tersebut. Contohnya kadar nitrogen di udara sekitar 79 %, lebih banyak dibandingkan O2 ( sekitar 21%), maka tekanan parsial nitrogen lebih tinggi daripada tekanan parsial O2. Jika tekanan parsial makin tinggi, maka kelarutan suatu gas dalam cairan semakin tinggi. Kecepatan Difusi (Diffusion rate/DR) dipengaruhi: a. Perbedaan tekanan parsial gas dan tekanan gas antara alveoli dan darah b. Makin luas penampang gas-cairan, difusi makin cepat c. Jarak tempuh yang ditembus molekul-molekul panjang, difusi makin lambat d. Daya larut gas makin besar makin banyak molekul yang berdifusi, makin cepat pergerakan kinetik dan makin besar kecepatan difusi. Tekanan parsial gas- gas dalam udara

STEADY STATE EQUILIBRIUM Terjadi jika tekanan parsial= tekanan gas Steady state equilibrium : jumlah molekul gas yang masuk dalam fasa cair = jumlah molekul gas yang keluar dari fasa cair

Ketika steady state equilibrium, terjadinya factor keseimbangan. Keseinbangan dipengaruhi oleh: a. Tekanan parsial gas b.Kelarutan gas

Tambahan: Jika demam(suhu meningkat), maka tindakan pertama adalah menurunkan suhu, supaya tekanan dan kondisi fisiologis lain dalam tubuh normal, baru diberi perlakuan selanjutnya. 2

Tentir Biokim- Kimia Pernapasan Annisafitria


Difusi Alveoli adalah ideal, dengan alasan : 1. gas-gas mudah larut dalam lipid, membran sel banyak mengandung lipid, sehingga gasgas mudah larut dalam membran sel. 2. Alveolus memiliki luas permukaan yang besar, sehingga memperbesar laju difusi 3. Dinding alveoli sangat tipis, sehingga memperbesar laju difusi Kecepatan Difusi (Diffusion rate/DR) dipengaruhi: 1. Perbedaan tekanan parsial gas dan tekanan gas antara alveoli dan darah

2. Luas penampang. Makin luas penampang gas-cairan, difusi makin cepat 3. Jarak tempuh yang ditembus. Makin pendek jarak yang ditempuh molekul( tipis), maka difusi makin cepat. 4. Daya larut gas makin besar makin banyak molekul yang berdifusi, makin cepat pergerakan kinetik dan makin besar kecepatan difusi.

INGAT !! Gas berpindah berdasarkan penurunan gradien tekanan Jadi berpindah dari tekanan lebih besar ke tekanan yang lebih kecil

Semakin besar luas permukaan dan semakin tipis dinding tempat difusi ( alveolus), semakin besar laju difusi

Penyebab : perbedaan tekanan gas antara alveoli dan darah O2 P alveoli /darah P jaringan/darah 104/40 mmHg 40/95 mmHg CO2 40/45 mmHg 45/40 mmHg

Tentir Biokim- Kimia Pernapasan Annisafitria


Perbedaan tekanan parsial O2 antara alveoli / darah 104-40 = 64 menyebabkan O2 berdifusi dari alveoli ke darah Perbedaan tekanan parsial O2 antara darah dan jaringan = 95-40 = 55 mmHg menyebabkan O2 berdifusi dari darah ke jaringan Volume atau banyaknya gas yang terlarut, bergantung padaa : 1. Tekanan parsial gas (P)

Hukum Henry
2. Koefisien Kelarutan gas () Vol gas yang larut = . Pgas Jadi kalo tekanan gas- nya tinggi, maka semakin banyak gas yang terlarut. Juga kalo koefisien gasnya besar, maka gas yang larut juga makin banyak. Nah, itu juga alasan mengapa di tubuh kita itu banyak CO2 yang larut. Oya telah disinggung kalo nitrogen itu yang paling banyak kita hirup sekitar 79%, tapi kok ga ngefek sama tubuh kita ( kata om Tortora) dan nitrogen yang larut dalam tubuh kita tuh sedikit banget. Hal ini disebabkan, kelarutan nitrogen sangat rendah.

Koefisien kelarutan gas CO2 =20 kali koefisien kelarutan gas O2

Difusi= benturan dan masuknya molekul gas dalam cairan Slide 12 ppt biokimia system pernapasan

Kapasitas Difusi Definisi : volume gas yang berdifusi melalui membran pernafasan dalam 1 menit dan perbedaan tekanan 1 mmHg Keseimbangan O2 di Alveoli Pada ujung arteri, O2 dari alveoli banyak berdifusi ke darah, sedang O2 dari darah ke alveoli sedikit. Sehingga tekanan O2 makin tinggi.

Tentir Biokim- Kimia Pernapasan Annisafitria


Semakin tinggi tekanan O2 darah semakin banyak O2 berdifusi ke dalam alveoli, sehingga pada ujung vena sudah terjadi keseimbangan. Tekanan O2 di jaringan Di jaringan, P O2 tinggi = 95 mmHg sedangkan P O2 rata-rata = 40 mmHg, jadi selisih :55 mmHg Karena ada perbedaan tekanan ini, mendorong O2 dan masuk ke jaringan (terjadi difusi O2 dari darah ke jaringan), hingga pada ujung vena tekanan O2 sama, terjadi keseimbangan)

Udara inspirasi O2 CO2 H2O N2 158.0 0.3 5.7 596.0


O2 100.0 CO2 40.0 H2O 47.0 N2 573.0

Udara ekspirasi O2 CO2 H2O N2 32.0 47.0 565.0

alveolus

O2 CO2 H2O N2

40.0 46.0 47.0 573.0 kapiler O2 CO2 H2O N2 40.0 46.0 + 47.0 573.0 arteri vena

O2 CO2 H2O N2

95.0 40.0 47.0 573.0

Skema tekanan parsial bermacam- macam gas(mmHg) di berbagai bagian system respirasi dan sirkulasi ( fisiologi Ganong: 683)

Tentir Biokim- Kimia Pernapasan Annisafitria


Pengangkutan O2 O2 yang larut (keadaan sebenarnya) = 20 ml/100 ml darah Sebab perbedaan : kemampuan Hb dalam transport O2 Hb + O2 (red.Hb) HbO2 (oxy.Hb) Haemoglobin (Hb) Hb terdiri dari globin dan 4 heme yang mengandung besi. Globin ini termasuk polipeptida juga. O2 yang berikatan dengan Hb, sebenarnya menempel pada Fe 2+ di heme ( didalam Hb). Bagian heme dari molekul Hb disintesis dari glisin dan suksinil Ko A Merupakan protein, jadi Hb juga memiliki active site. Active site dari Hb yaitu histidin 58 Heme adalah turunan metabolism porfirin. Jika heme dipecah, maka akan menghasilkan bilirubin dan biliverdin. 1. Heme meningkatkan kelarutan O2 dalam darah 1 Hb mengikat 4 molekul O2 Hb memiliki beberapa saudara, antara lain :

Tambahan: Koefisien kelarutan CO= 20 kali O2. Tapi berat molekul O2 lebih ringan daripada CO2. Hal ini memudahkan O2 untuk berdifusi.

Mioglobinmengikat O2 dalam otot, dapat mengikat 1 molekul subunit O2

2. Neuroglobin masuk ke jaringan saraf yang sulit dilewati Hb, mengikat 1 molekul subunit O2 3. Sitoglobin khusus pada kondisi hipoksia atau luka, contoh: jaringan rusak, mengikat 1 molekul subunit O2 Jika paru- paru normal, maka seberapa besar tekanan pompa jantung atau tekanan darah, paru- paru kita akan menstabilkannya. Jadi kalau terlalu tinggi, akan direndahkan dan sebaliknya ( stabil= menjadi 104 mm Hg)

Oksihaemoglobin Hb + O2 Pelepasan O2 dari Hb disosiasi oksi- Hb 6

Tentir Biokim- Kimia Pernapasan Annisafitria


Afinitas kemudahan suatu unsur untuk berikatan/ bergabung. Jadi kalau afinitasnya tinggi, maka semakin mudah buat di ajak bergabung.

DISOSIASI OKSI- HB Yaitu pelepasan O2 dari Hb, jadi Hb tidak lagi mengikat O2. Terjadi di jaringan dimana P O2 rendah Reaksinya Hb O2 Hb + O2 Dipengaruhi : 1. P O2 2. P CO2 3. pH 4. Elektrolit 5. Temperatur 6. Kadar 2,3 BPG

Pada P CO2 = 40 mmHg, P O2 = 30 mmHg, maka kejenuhan sampai 50%, sehingga trjadi disosiasi dari pemecahan Hb O2 Hb + O2

Contohnya nih : Kalo PO2= 140 mmHg ( liat tabel biru di bawah), dimana saturasi( kejenuhan) yg tercapai adalah 100%, sdangkan pda PO2= 100mmHg, saturasi yg tercapai adalah 97%, maka terjadi proses pemecahan Hb O2, yg mnyebabkan disosiasi sbanyak 3 %.

Makin menurun P O2, makin banyak O2 yg dibutuhkan, sehingga disosiasi meningkat, kan jadinya banyak O2 yang lepas dari Hb tuh. Akhirnya O2 yang bebas ke jaringan juga semakin banyak

Tentir Biokim- Kimia Pernapasan Annisafitria

Gambar pergeseran kurva disosiasi- Oksi Hb


Ada 3 titik untuk saturasi 50%

maksudnya saturasi 50 % adalah kalo si Hb mengikat 2 molekul O2, karena jumlah maksimal O2 yg dapat diikat oleh Hb kan 4 buah. 1. Jika P CO2 = 20 mmHg dan P O2 = 23 mmHg

2. Jika P CO2 = 40 mmHg dan P O2 = 30 mmHg 3. Jika P CO2 = 80 mmHg dan P O2 = 50 mmHg Untuk mencapai saturasi 5% tergantung pada P CO2 1. Pada penurunan saturasi tidak bersifat linier Pada P O2 = 100 mmHg hingga P O2 = 50 mmHg saturasi menurun 17%

2. Pada P O2 = 140 hingga P O2 = 100 mmHg saturasi menurun 3% PENGARUH P O2 PCO2= 40 ( di jaringan) PO2=100 mmHg P O2 = 80 mmHg P O2 = 50 mmHg P O2 = 40 mmHg Kejenuhan Oksi- Hb 98% 93% 80% 65%

Tentir Biokim- Kimia Pernapasan Annisafitria


Dari table diatas, perhatikan bahwa semakin besar PO2, maka makin besar kejenukan oksi- Hb, atau makin banyak O2 yang larut. Seperti yang telah dijelaskan diatas mengenai Hukum Henry, klo tekanan parsial meningkat, maka semakin banyak gas yang larut, atau makin jenuh. Jadi kalo di kapiler2 paru, PO2 tinggi sehingga saturasi Hb juga tinggi, jadi banyak O2 yang terikat ka Hb. Sedangkan kalo di kapiler jaringan, PO2 rendah, sehingga saturasi Hb tinggi, sehingga sedikit O2 yang diikat Hb.(om Tortora sih bilang begitu). Pada P O2 = 80 mmHg : kapasitas pengikatan O2 tidak banyak berbeda pada P O2 = 100 mmHg Di jaringan P O2 = 40 banyak O2 dilepaskan (30%) Dalam satu sirkulasi darah jumlah O2 berkurang 15 Vol %, masih ada cadangan yang dapat dipakai bila oksigenasi di paru mengalami gangguan. PENGARUH P CO2 CO2 ikut mempengaruhi keseimbangan asam basa dalam tubuh kita. Jika P CO2 = 40 mmHg P CO2 = 20 mmHg P CO2 = 80 mmHg normal fisiologis Alkalosis Respiratorik asidosis respiratorik

Pengaruh P CO2 terhadap disosiasi oksi-Hb disebut Efek Bohr Bila P CO2 meningkat kurva disosiasi Oksi-Hb ke kanan dan P CO2 menurun kurva disosiasi Oksi-Hb ke kiri ( liat kurva pergeseran disosiasi Oksi- Hb)

Alkaliosis= basa asidosis= asam Jadi inget aja, P CO2 bikin asam kalo kebnyakn. Dan kalo kekurangan bikin basa. Jadi kalo PCO2 > normal bisa terjadi asidosis respiratorik. Kalo PCO2 < normal, akan terjadi alkaliosis respiratorik

PENGARUH PH Peningkatan P CO2 akan penurunan pH Reaksinya sbb : CO2+ H2O H2CO3 H+ + HCO3-

Tentir Biokim- Kimia Pernapasan Annisafitria


Jadi, semakin tinggi CO2, makin turun deh pH-nya karena semakin banyak H+ yang akan di hasilkan(inget aja kalo kalo H+ itu bkin tambah asam, terus asam= pH turun, jadi kalo H+ banyak= pH turun) Sehingga dissosiasi akan meningkat (karena kebutuhan O2 meningkat, maka saturasi menurun) PENGARUH ELEKTROLIT Diawal sudah disebutkan apa saja yang mempengaruhi Disosiasi Oksi- Hb. Nah, sekarang gilirannya pngaruh elektrolit terhadap Disosiasi Oksi- Hb. Elekrolit mempermudah pembebasan O2 dalam jaringan Sehingga, jika elektrolit meningkat, maka dissosiasi Oksi-Hb juga akan meningkat

PENGARUH SUHU Selanjutnya yaitu pengaruh suhu terhadap disosiasi Oksi- Hb. Peningkatan suhu meningkatkan metabolism, sehingga pengangkutan hasil metabolisme meningka, nah kebutuhan O2 juga meningkat karena dibutuhkan dalam metabolism Kalo kebutuhan O2 meningkat, maka meningkatkan pelepasan O2 ke jaringan ALIAS meningkatkan Oksi-Hb. Jadi suhu sebanding dengan disosiasi Oksi Hb. Makin tinggi suhu, semakin tinggi juga disosiasi Oksi- Hb-nya. PENGARUH KADAR 2,3 BPG (BI PHOSPO GLISERAT/ DPG) 2,3 BPG ini banyak terdapat dalam sel darah merah Senyawa ini terbentuk dari 3 fosfogliseraldehid ( glikolisis jalur Embden- Meyerhof) 2,3 BPG merupakan zat antara metabolisme dalam glikolisis Embden-Meyerhof, terikat kovalen dengan gugus alfa amino terminal residu valin pada rantai deoksi Hb
Masih ingat glikolisis jalur Embden- Meyerhof ga?? Review lagi deh Glikolisis ada 2 jalur: 1. Jalur Embden- Meyerhof Glukosafruktosa 6fosfat fruktosa1,6 bifosfat DHAP 2. Jalur oksidatif langsung( pirau heksosa monofosfat) Glukosa 6 fosfoglukonat pentose fruktosa 6 fosfat/ langsung DHAP

10

Tentir Biokim- Kimia Pernapasan Annisafitria

Glikolisis jalur EmbdenMeyerhof

Glikolisis jalur oksidatif langsung

Pada Hb teroksidasi tidak terdapat DPG, DPG akan menggeser ke kanan, sehingga makin tinggi DPG makin tinggi pelepasan O2 dari oksi Hb

Reaksinya : HbO2 + 2.3 BPG Hb-2,3BPG + O2 Sehingga jika BPG meningkat, maka dissosiasi meningkat, yang akan meningkatkan PO2 sehingga kurva akan bergeser ke kanan dan sebaliknya

Salah satu factor yang mempengaruhi kadar 2,3 BPG adalah pH darah. Karena asidosis akan menghambat glikolisis, sehingga kadar 2,3 BPG juga akan turun.

Hormon tiroid, GH dan androgen akan meningkatkan kadar 2,3 BPG

BPG meningkat tidak selalu menguntungkan. Pada beberapa kondisi justru merugikan, contohnya: Hipoksia ( naik gunung 2500-2750 m)

Pada keadaan ini, BPG meningkat yang bertujuan agar O2 yang berdissosiasi meningkat, sehingga O2 yang dilepaskan ke jaringan akan meningkat. Dalam kondisi ini peningkatan BPG menguntungkan

11

Tentir Biokim- Kimia Pernapasan Annisafitria


Anemia Hb mengikat O2 pada paru-paru, tapi dengan adanya peningkatan kadar BPG, maka ikatan Hb dan O2 menjadi menurun. Keadaan ini menurunkan afinitas Hb terhadap O2 sehingga udara inspirasi menurun. Hal ini menyebabkan inspirasi terganggu. Sehingga dalam kondisi ini peningkatan kadar BPG bersifat merugikan Kelainan Kongenital Hb

HB F(Hb yang terdapat pada janin) kurang suka mengikat 2,3 BPG sehingga afinitas terhadap O2 tinggi. Hal ini mempermudah pemindahan O2 dari ibu ke janin. OYA, kalo mau liat ringkasan-an mengenai pengaruh pH, suhu dan kadar 2.3 BPG terhadap disosiasi Oksi- Hb, silahkan lihat grafik pergeseran kurva disosiasi Oksi-Hb . KECEPATAN TRANSPORT O2 KE JARINGAN Koefisien Pemakaian O2 normal 25% Pada latihan berat Koefisien O2 meningkat 3x, P CO2 meningkat 5x dan transport O2 15x Pemakaian O2 di jaringan di atur : 1. Persediaan O2 2. Kadar ADP (cadangan energy) VARIASI GAMBARAN KLINIS DARAH Deoksi-Hb = reduced Hb Oksi Hb CO-Hb merah gelap merah terang merah cerry

Bila reduced Hb > 5 g%, cyanosi (bibir/mukosa terlihat biru misalnya jika mengalami gangguan oksigenasi pada peunomia berat dan keracunan sianida). Kondisi ini sukar terjadi pada penderita anemia berat,karena penderita anemia berat memiliki kadar Hb yang rendah sehingga tidak memungkinkan jika kadar reduced-Hb-nya mencapai 5 g%

12

Tentir Biokim- Kimia Pernapasan Annisafitria


Hb mempunyai afinitas terhadap CO 210 kali lebih besar dari pada terhadap O2. Sehingga bila kadar CO 0,02%, bisa mengalami pusing dan jika kadar CO 0,1% dalam 1 jam pingsan 4 jam meninggal PENGANGKUTAN CO2 CO2 diangkut dalam eritrosit dan plasma CO2 dingkut kedalam tubuh melalui berbagai bentuk, yaitu: 1. Sebanyak 6% dalam bentuk CO2 yang larut Secara fisiologis sedikit, penting karena mempengaruhi reaksi : CO2 + H2O H2CO3 H+ + HCO32. Asam karbonat sebanyak 4% Sebagai H2CO3 sedikit, tetapi mempengaruhi reaksi di atas H2CO3 H+ + HCO33. Ikatan karbamino sebanyak 20% 4. Ion karbonat dalam plasma sebanyak 70% #Senyawa Karbamino Senyawa ini dibentuk oleh sejumlah CO2 dalam sel darah merah yang bereaksi dengan gugus amino Hb dan protein lain (R). Reaksinya : CO2 + R-NH2 R-NHCOOH

EFEK HALDANE Efek Haldane terjadi dimana Hb terdeoksigenasi mengikat lebih banyak H+ daripada yang diikat oelh oksiHb dan lebih mudah membentuk senyawa karbamino. Dan pengikatan O2 pada Hb menurunkan afinitas Hb terhadap CO2. Pengikatan O2 pada Hb akan mengeliminasi CO2 (pelepasan CO2 dari ikatannya sebagai karbamino-Hb)

13

Tentir Biokim- Kimia Pernapasan Annisafitria


Bila P CO2 > 15 mmHg pembentukan karbamino-Hb tidak dipengaruhi P CO2 tetapi dipengaruhi oksi-Hb, pengikatan O2 oleh Hb mengakibatkan eliminasi CO2 dari ikatan karbamino Efek Haldane secara kuantitatif dalam meningkatkan transport CO2 lebih penting dari pada Efek Bohr dalam meningkatkan transport O2 Eliminasi CO2 dari darah setelah oksigenai diakibatkan meningkatnya proton yang kemudian berikatan dengan H2CO3 yang oleh karbonik anhidrase dipecah menjadi CO2 dan H2O Semakin asam Oksi-Hb, semakin berkurang Krabamino-Hb

ION KARBONAT DALAM PLASMA CO2 yang masuk plasma akan masuk ke dalam eritrosit, dan di ubah menjadi H2CO3 yang terionisasi menjadi H+ + HCO3Reaksinya : CO2 + H2O H2CO3 H+ + HCO3K Hb + H+ HHb H akan diikat oleh K Hb menjadi Hb + K HCO3- akan keluar dari eritrosit masuk ke plasma dan sebgai gantinya Cl- dari plasma masuk ke eritrosit (Chloride Shift) KARBONIK ANHIDRASE Merupakan suatu enzim yang langsung menghidrasi CO2 yang berdifusi ke sel darah merah menjadi H2CO3. Selanjutnya H2CO3 ini akan menjadi H+ dan HCO3-. H+ nantinya akan bereaksi dengan HB, sedangkan HCO3 akan berdifusi kedalam plasma. Reaksinya begini : CO2 + H2O --karbonik anhidrase-- H2CO3 H+ + HCO3Karbonik anhidrase banyak dalam : -Eritrosit -Sel parietal lambung -Sel tubuli ginjal Peranan Karbonik anhidrase : -Eritrosit : pengangkutan CO2

14

Tentir Biokim- Kimia Pernapasan Annisafitria


-Pembentukan asam lambung -Sekresi H+ PENGARUH CO2 TERHADAP PH DARAH pH darah normal = 7,4 Campuran H2CO3 dan KHCO3 aadalah Dapar bikarbonat (pers. Hendersen-Hasselbach) Bila HCO3-/ H2CO3 > 20 (akalosis) Bila HCO3-/ H2CO3 < 20 (asidosis) Dalam plasma Terlarut Membentuk senyawa karbamino dengan protein plasma Hidrasi, H+ mengalami pendaparan, HCO3- di dalam plasma Hidrasi, H+ mengalami pendaparan, 70% HCO3 memasuki plasma Pergeseran Cl- ke dalam sel, mosm dalam sel meningkat Sumber table : Transport gas antara aru dan jaringan. Fisiologi Ganong edisi 22. Dalam sel darah merah Terlarut Membentuk Karbamino Hb

Review lagi ya teman2.

SISTEM BUFFER DARAH/ DAPAR DARAH Dalam pengangkutan CO2 diperlukan buffer dalam: 1. Plasma : protein plasma (10%) , bikarbonat plasma (kecil) dan fosfat plasma (kecil) 2. Eritrosit : Hb (60%), oksi-Hb (60%), fosfat (25%) dan bikarbonat (kecil)

Buffer atau penyangga digunakan agar dapat mempertahankan pH,shg jika ditambahkan sedikit asam atau basa, pH-nya tidak terlalu berubah jauh. Nah, buffer itu terdiri dari basa lemah dan asam konjugasinya, atau asam lemah dan basa konjugasinya. AL( as. Lemah) + Basa konj buffer BL ( basa lemah) + As. Konj buffer Kalau di darah asamnyaH2CO3 sedangkan basa konjugasinya HCO3-.

15

Tentir Biokim- Kimia Pernapasan Annisafitria


3. Kapasitas Dapar :Hb/ oksi-Hb (60%), fosfat eritrosit (25%), protein plasma (10%) dan bikarbonat plasma-fosfat plasma-bikarbonat eritrosit (5%) SISTEM DAPAR ( BUFFER) DI PARU Perubahan H Hb menjadi Hb O2. Perubahan ini disertai dengan pelepasan H+. Nantinya H+ akan bergabung dengan HCO3- membentuk H2CO3. Selanjutnya H2CO3 terurai menjadi CO2 dan H2O karena tekanan PCO2 rendah di paru. Kemudian zat2 ini akan dikeluarkan bersama udara ekspirasi SISTEM DAPAR DI JARINGAN P CO2 jaringan rendah, sehingga terjadi pembebasan O2 . Reaksinya : oksi Hb H Hb Pada saat yang sama hasil metabolisme masuk dalam darah. Jadi saling tukeran, darah menyumbang CO2 untuk digunakan oleh jaringan sedangkan jaringan menyumbangakan hasil metabolism ke darah, supaya nantinya dikeluarkan. Perubahan pH sangat kecil karena : H+ di dapar oleh Hb merupakan asam lemah (sedikit berionisasi) Transport CO2 tanpa perubahan pH darah disebut : Isohydric transport of CO2

CHLORIDE SHIFT/ PERGESERAN KLORIDA a.Dapar Hb dan oksi-Hb 60% menybabkan pengangkutan CO2 (buffer dalam eritrosit) b.Pengangkutan CO2 terbesar dalam bentuk HCO3
-

dalam plasma

Terjadinya peningkatan HCO3- di sel darah merah dari pada di plasma, saat darah melewati kapiler. Kemudian sekitar 70% HCO3 yang dibentuk di sel darah erah akan memasuki plasma, kelebihan HCO3 yang meninggalkan plasma akan ditukar dengan Cl-. Pertukaran ini disebut dengan Chloride Shift.

Akibat : kadar Cl- darah vena << darah arteri dan sebaliknya. Pada paru, Cl- keluar dari sel darah merah sehingga sel mengkerut.

16

Tentir Biokim- Kimia Pernapasan Annisafitria

Eritrosit permeabel terhadap : CO2 , H2CO3, HCO3 dan ClCO2 masuk ke eritrosit, dengan bantuan karbonik anhidrase membentuk H2CO3, H2CO3, yang terbentuk : sebagian kecil keluar ke plasma dan sebagian besar berionisasi menjadi H+ dan HCO3

HCO3 akan keluar dari eritrosit ke plasma dan diangkut menjadi NaHCO3 H- (dapar) KHb + H+ K+ + HHb HCO3 yang keluar dari eritrosit sebgai gantinya, Cl- Masuk erittrosit dan terbentuk KCl Bila P CO2 rendah seperti dalam paru-paru maka terjadi sebaliknya.

GANGGUAN KESEIMBANGAN ASAM BASA Asidosis respiratorik : terjadi peningkatan asam karbonat dibandingan bikarbonat (penumonia, keracunan morfin) Alkalosis metabolik : terjadi peningkatan bikarbonat dibandingkan asam karbonat (hiperalkali, defisiensi kalium) Alkalosis respiratorik : penurunan asam karbonat akibat hiperventilasi

Semoga bermanfaat. Mhon maaf karena banyak kekurangan. Referensinya dari slide bu Endah, Fisiologi ganong, dan sedikit dari Tortora. Teriimaa kasiihhh. ^_^

17