Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN KASUS

TONSILITIS KRONIS

DISUSUN OLEH :

Danil Anugrah Jaya (2008730007)


PEMBIMBING:

UNIVERSITAS MUHAMMADIY AH JAKARTA BAGIAN ILMU PENYAKI THT

dr. Dian Nurul al Amini, Sp. THT

RSIJ SUKAPURA

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI.............................................................................................. ii STATUS PASIEN....................................................................................... ii A.Identitas Pasien................................................................................ ii D.Status Lokalis THT...........................................................................vi E.Resume............................................................................................ x F. Assesment...................................................................................... xi G. Prognosis....................................................................................... xi TINJAUAN PUSTAKA............................................................................... xii 1.Tonsilitis Kronis.............................................................................. xiv DAFTAR PUSTAKA.............................................................................. xxxi

STATUS PASIEN A. Identitas Pasien Nama Umur Jenis kelamin Status Alamat : Nn. R : 31 tahun : Perempuan : Menikah : Klender

Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

ii

Pekerjaan

: IRT

B. Anamnesis (Autoanemnesis pada 29 Juni 2013, 10.00 WIB)

Keluhan Utama

: nyeri menelan terutama sejak 1 minggu SMRS.

Keluhan Tambahan : Demam, lemas. Riwayat Penyakit Sekarang : Sejak 5 tahun SMRS pasien sering datang ke dokter karena mengeluh nyeri menelan yang membuat pasien sulit makan. Nyeri menelan ini dirasakan disertai dengan demam yang tidak terlalu tinggi, badan terasa lemas, keluhan ini hilang timbul lebih kurang 4 kali dalam setahun, dan setiap keluhan muncul selalu berobat ke dokter. 1 minggu SMRS pasien mengeluh nyeri menelan yang dirasakan lebih berat sehingga sulit menelan , nyeri menelan terutama saat menelan makanan makan padat seperti nasi dan terasa lebih berat apabila mengkonsumsi makanan pedas dan gorengan. nafsu makan menurun dan merasa berat badan nya menurun lebih kurang 4 kg selama 1 minggu, panas badan yang dirasakan tidak terlalu tinggi siang sama dengan malam. Pasien juga mengeluh bau mulut. Saat tidur suami pasien mengaku mendengar pasien mendekur namun tidak sampai bangun, sering mengantuk pada siang hari, badan terasa lemas dan lesu. Keluhan keluhan seperti nyeri pada telinga, pendengaran menurun, telinga berdenging, nyeri kepala, sulit bernapas, batuk pilek, mual muntah, gigi berlubang perubahan suara disangkal.

Riwayat Penyakit Dahulu

: riwayat penyakit ginjal disangkal, riwayat

batuk lama atau sakit paru disangkal, riwayat sakit kuning disangkal, riwayat darah tinggi disangkal, asma disangkal, kencing manis disangkal.

Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

iii

Riwayat Penyakit Keluarga :

Menurut pasien di keluarga tidak ada yang menderita penyakit seperti ini, Pasien mengaku tidak mengetahui riwayat Alergi dikeluarga, tidak ada penyakit menular ataupun keturunan dikeluarga

Riwayat Psikososial menggosok gigi.

: Pasien seorang IRT dengan pola makan

tidak teratur, mengaku kurang menjaga kesehatan mulut dengan jarang

Riwayat Alergi disangkal.

: alergi obat disangkal, alergi makanan

Riwayat Pengobatan

: Pasien tidak pernah mengkonsumsi obat

secara rutin, belum pernah berobat sebelumnya

C. Pemeriksaan fisik (Ruang Sakinah pada tanggal 29 Juni 2013, 10. 30

WIB) Keadaan Umum Kesadaran Tanda vital Tekanan darah: 120/70 mmHg Nadi Suhu : 98 kali/menit, reguler, isi dan tegangan cukup : 37C : Pasien tampak sakit ringan : Composmentis

Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

iv

Pernapasan

:18 kali/menit simetris kanan dan kiri, tipe

abdominothorakal Status Gizi IMT (Normal) Status Generalisata Kepala : Telinga: Mata : baik. Hidung: Mulut : Leher : Pulmo : lihat status lokalis bibir kering (-), sianosis (-), stomatitis (-), lidah kotor dan lihat status lokalis Inspeksi simetris statis maupun dinamis, Normocephal, rambut lurus, hitam, tidak mudah rontok lihat status lokalis konjungtiva anemis (-/-), konjungtiva hiperemis (-/-), sklera : BB : 50 kg, TB : 159 cm

ikterik (-/-), refleks pupil (+/+) isokor, pergerakan mata kesegala arah

tremor (-), gigi ada karies (-) Thorax : Normochest, jaringan parut (-) penggunaan otot bantu napas (-), bagian dada yang tertinggal (-) Auskultasi Cor Abdomen : Inspeksi Palpasi
Datar , jaringan parut (-), distensi (-) supel, nyeri tekan (-) vesicular +/+, crackles (-/-), mengi-/-.

: Auskultasi S1 S2 reguler gallop (-), murmur (-)

o Hepar tidak teraba o Lien tidak teraba


Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis v

Perkusi (-) Auskultasi

timpani diseluruh region abdomen, asites

bising usus (+) normal

Ekstremitas : Akral hangat

kanan + +

kiri + + -

Udem RCT <2 dtk

+ +

+ +

D. Status Lokalis THT 1. Telinga

Tabel 1. Pemeriksaan telinga

AD Aurikula Normotia, helix sign (-), tragus sign (-) Preaurikula appendege (-) tanda radang(-), pus(-), nyeri Preaurikula

AS Normotia, helix sign (-), tragus sign (-) Preaurikula appendege (-) tanda radang(-), pus(-), nyeri

Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

vi

tekan(-), fistula(-)

tekan(-), fistula(-)

Retroaurikula Tenang, udem(-), fistel(-), sikatriks(-), nyeri tekan(-) Tenang, udem(-), fistel(-), sikatriks(-), nyeri tekan(-)

MAE

Hiperemis(-), udem(-), sekret(-), serumen (+), massa(-)

Hiperemis(-), udem(-), sekret(-), serumen (+), massa(-)

Intak, reflek cahaya (+) jam 5 + Tidak ada laterisasi Sama dengan pemeriksa

Membran timpani Intak, reflek cahaya (+) jam 7

Uji Rinne Uji Weber Uji Schwabach

+ Tidak ada laterisasi Sama dengan pemeriksa

2. Hidung Tabel 2. Pemeriksaan hidung Dextra Lapang Rhinoskopi anterior Cavum Nasi Sinistra Sempit

Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

vii

Edema (-) hiperemis (-) (+) purulen eurtrofi Deviasi (-) (-)

Mukosa Sekret Konka inferior Septum Massa

Edema (-) hiperemis (-) (+) purulen eurtrofi Deviasi (-) (-)

a.

Sinus paranasal a. Inspeksi : bengkak (-) b. Palpasi : Nyeri tekan (-)

b. Tes penciuman: Belum dapat dilakukan c. Transiluminasi Belum Dapat dilakukan

3. Tenggorok Tabel 3a. Pemeriksaan Orofaring Dextra Tenang Bersih, basah Tenang Karies Simetris Pemeriksaan Orofaring Mulut Mukosa mulut Lidah Palatum molle Gigi Uvula Tonsil Sinistra Tenang Bersih, basah Tenang Karies Simetris

Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

viii

Hiperemis,permukaan tidak rata T3 melebar Faring

Mukosa Besar Kripta Detritus Perlengketan

Hiperemis, permukaan tidak rata T3 melebar -

Tenang -

Mukosa Granula Post nasal drip

Tenang -

Tabel 3b. Pemeriksaan Nasofaring Naofaring (Rhinoskopi posterior) Konka superior Torus tubarius Fossa Rossenmuller Plika salfingofaringeal Belum dapat dilakukan Belum dapat dilakukan Belum dapat dilakukan Belum dapat dilakukan

Tabel 3c. Pemeriksaan Laringofaring Laringofaring (Laringoskopi indirect) Epiglotis Plika ariepiglotika Plika ventrikularis
Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

Belum dapat dilakukan Belum dapat dilakukan Belum dapat dilakukan


ix

Plika vokalis Rima glotis

Belum dapat dilakukan Belum dapat dilakukan

4. Leher Tabel 4. Pemeriksaan Leher Dextra Pembesaran (-) Pembesaran (-) Pembesaran (-) Pembesaran (-) Pembesaran (-) Pembesaran (-) Pembesaran (-) Pembesaran (-) Pemeriksaan Thyroid Kelenjar submental Kelenjar submandibula Kelenjar jugularis superior Kelenjar jugularis media Kelenjar jugularis inferior Kelenjar suprasternal Kelenjar supraklavikularis Sinistra Pembesaran (-) Pembesaran (-) Pembesaran (-) Pembesaran (-) Pembesaran (-) Pembesaran (-) Pembesaran (-) Pembesaran (-)

E. Resume Pasien 31 tahun datang dengan keluhan residifitas 5 tahun : odinofagia residif > 3 kali/tahun. Nyeri menelan terutama saat menelan makanan padat dan terasa lebih berat apabila mengkonsumsi makanan pedas dan gorengan. nafsu makan menurun dan merasa berat badan nya menurun lebih kurang 4 kg selama 1 minggu, subfebris(+). Halitosis (+). Snoring (+), Sleep apnea(-). Dari pemeriksaan fisik didapatkan Tonsil: T3/T3 hiperemis permukaan tidak rata, kripte melebar, detritus+ Daftar masalah 1. Tonsilitis Kronis

Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

F. Assesment Masalah 1. Tonsilitis Kronis Dari anamnesis didapatkan pasien mengeluh odinofagia residif > 3

kali/tahun. Nyeri menelan terutama saat menelan makanan padat dan terasa lebih berat apabila mengkonsumsi makanan pedas dan gorengan. nafsu makan menurun dan merasa berat badan nya menurun lebih kurang 4 kg selama 1 minggu, subfebris(+). Halitosis (+). Dari pemeriksaan fisik didapatkan Tonsil: T3/T3 hiperemis, permukaan tidak rata kripte melebar, detritus+ WD/ Tonsilitis kronis DD/ tonsillitis difteri, Angina Plaut Vincent (stomatitis ulceromembranosa) Planing : Pemeriksaan Penatalaksanaan : kultur dari dalam tonsil :

o Antibiotik sesuai kultur, anjuran : rujuk ke poliklinik THT untuk tonsilektomi saat fase tenang G. Prognosis Quo ad vitam Quo ad functionam

: dubia ad bonam : dubia ad bonam

Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

xi

TINJAUAN PUSTAKA Anatomi Tonsil : Tonsil adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh jaringan ikat dengan kriptus didalamnya. Terdapat tiga macam tonsil yaitu tonsila faringeal (adenoid), tonsil palatina dan tonsila lingual yang ketiga-tiganya membentuk lingkaran yang disebut cincin Waldeyer. Tonsil palatina yang biasanya disebut tonsil saja terletak didalam fossa tonsil. Pada kutub atas tonsil sering kali ditemukan celah intratonsil yang merupakan sisa kantong pharynx yang kedua. Kutub bawah tonsil biasanya melekat pada dasar lidah.1 Tonsil faringeal dalam kapsulnya terletak pada mukosa dinding lateral rongga mulut. Di depan tonsil, arkus faring anterior disusun oleh otot palatoglosus, dan dibelakang dari arkus faring posterior disusun oleh otot palatofaringeus.2 Permukaan medial tonsil bentuknya beraneka ragam dan mempunyai celah yang disebut kriptus. Epitel yang melapisi tonsil ialah epitel skuamosa yang juga meliputi kriptus. Didalam kriptus biasanya ditemukan leukosit, limfosit, epitel yang terlepas, bakteri dan sisa makanan. Permukaan lateral tonsil melekat pada fasia pharynx yang sering juga disebut kapsul tonsil. Kapsul ini tidak melekat erat pada otot pharynx, sehingga mudah dilakukan diseksi pada tonsilektomi.1

Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

xii

Gambar 4. Cincin Waldeyer Tonsil mendapat darah dari arteri palatina minor, arteri palatine asendens, cabang tonsil arteri maksila eksterna, arteri pharynx asendens dan arteri lingualis dorsal. Tonsil lingual terletak di dasar lidah dan dibagi menjadi dua oleh ligamentum glosoepiglotica. Di garis tengah, di sebelah anterior massa ini terdapat foramen sekum pada apeks, yaitu sudut yang terbentuk oleh papilla sirkum valata. Tempat ini kadang-kadang menunjukkan penjalaran duktus tiroglossus dan secara klinik merupakan tempat penting bila ada massa tiroid lingual (lingual thyroid) dan kista duktus tiroglosus.1 Vena-vena menembus m.constrictor pharyngeus superior dan bergabung dengan vena palatine eksterna, vena pharyngealis, atau vena facialis. Aliran limfe pembuluh-pembuluh limfe bergabung dengan nodi lymphoidei profundi. Nodus yang terpenting dari kelompok ini adalah nodus jugulodigastricus, yang terletak di bawah dan belakang angulus mandibulae.3 Imunologi : Tonsila palatina adalah suatu jaringan limfoid yang terletak di fossa tonsilaris di kedua sudut orofaring dan merupakan salah satu bagian dari cincin Waldeyer. Tonsila palatina lebih padat dibandingkan jaringan limfoid lain. Permukaan lateralnya ditutupi oleh kapsul tipis dan di permukaan medial terdapat kripta. Tonsila palatina merupakan jaringan limfoepitel yang berperan penting sebagai sistem pertahanan tubuh terutama terhadap protein asing yang masuk ke

Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

xiii

saluran makanan atau masuk ke saluran nafas (virus, bakteri, dan antigen makanan). Mekanisme pertahanan dapat bersifat spesifik atau non spesifik. Apabila patogen menembus lapisan epitel maka sel-sel fagositik mononuklear pertama-tama akan mengenal dan mengeliminasi antigen.9 Tonsil merupakan jaringan limfoid yang mengandung sel limfoid yang mengandung sel limfosit, 0,1-0,2% dari kesuluruhan limfosit tubuh pada orang dewasa. Proporsi limfosit B danT pada tonsil adalah 50%:50%, sedangkan di darah 55-75%:15-30%. Pada tonsil terdapat sistem imun kompleks yang terdiri atas sel M (sel membran), makrofag, sel dendrit dan antigen presenting cells) yang berperan dalam proses transportasi antigen ke sel limfosit sehingga terjadi APCs (sintesis immunoglobulin spesifik). Juga terdapat sel limfosit B, limfosit T, sel plasma dan sel pembawa Ig G. Tonsil merupakan organ limfatik sekunder yang diperlukan untuk diferensiasi dan proliferasi limfosit yang sudah disensitisasi. Tonsil mempunyai dua fungsi utama yaitu menangkap dan mengumpulkan bahan asing dengan efektif dan sebagai organ produksi antibodi dan sensitisasi sel limfosit T dengan antigen spesifik.9,10 Tonsil merupakan jaringan kelenjar limfa yang berbentuk oval yang terletak pada kedua sisi belakang tenggorokan. Dalam keadaan normal tonsil membantu mencegah terjadinya infeksi. Tonsil bertindak seperti filter untuk memperangkap bakteri dan virus yang masuk ke tubuh melalui mulut dan sinus. Tonsil juga menstimulasi sistem imun untuk memproduksi antibodi untuk membantu melawan infeksi. Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing-masing tonsil mempunyai 10-30 kriptus yang meluas ke dalam jaringan tonsil. Tonsil tidak selalu mengisi seluruh fossa tonsilaris, daerah yang kosong diatasnya dikenal sebagai fossa supratonsilar. Tonsil terletak di lateral orofaring. Secara mikroskopik tonsil terdiri atas tiga komponen yaitu jaringan ikat, folikel germinativum (merupakan sel limfoid) dan jaringan interfolikel (terdiri dari jaringan limfoid). Lokasi tonsil sangat memungkinkan terpapar benda asing dan patogen, selanjutnya membawanya ke sel limfoid. Aktivitas imunologi terbesar tonsil ditemukan pada usia 3 10 tahun.9,10 1. Tonsilitis Kronis Definisi
Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis xiv

Tonsilitis Kronis adalah peradangan kronis Tonsil setelah serangan akut yang terjadi berulang-ulang atau infeksi subklinis. Diantara serangan tidak jarang tonsil tampak sehat. Tetapi tidak jarang keadaan tonsil diluar serangan terlihat membesar disertai dengan hiperemi ringan yang mengenai pilar anterior dan apabila tonsil ditekan keluar detritus. Penyebaran infeksi melalui udara (air borne infection), tangan, dan ciuman. Tonsilitis dapat terjadi pada semua umur; terutama pada anak anak.1 Etiologi : Tonsilitis terjadi dimulai saat kuman masuk ke tonsil melalui kriptanya secara aerogen yaitu droplet yang mengandung kuman terhisap oleh hidung kemudian nasofaring terus masuk ke tonsil maupun secara foodborn yaitu melalui mulut masuk bersama makanan2. Etiologi penyakit ini dapat disebabkan oleh serangan ulangan dari Tonsilitis Akut yang mengakibatkan kerusakan permanen pada tonsil, atau kerusakan ini dapat terjadi bila fase resolusi tidak sempurna.3 Beberapa organisme dapat menyebabkan infeksi pada tonsil, termasuk bakteri aerobik dan anaerobik, virus, jamur, dan parasit. Pada penderita tonsilitis kronis jenis kuman yang paling sering adalah Streptokokus beta hemolitikus grup A (SBHGA). Streptokokus grup A adalah flora normal pada orofaring dan nasofaring. Namun dapat menjadi pathogen infeksius yang memerlukan pengobatan. Selain itu infeksi juga dapat disebabkan Haemophilus influenzae, Staphylococcus aureus, S. Pneumoniae dan Morexella catarrhalis.4,5 Dari hasil penelitian Suyitno dan Sadeli (1995) kultur apusan tenggorok didapatkan bakteri gram positif sebagai penyebab tersering Tonsilofaringitis Kronis yaitu Streptokokus alfa kemudian diikuti Staphylococcus aureus, Streptokokus beta hemolitikus grup A, Staphylococcus epidermidis dan kuman gram negatif berupa Enterobakter, Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella dan E. coli.4 Infeksi virus biasanya ringan dan dapat tidak memerlukan pengobatan yang khusus karena dapat ditangani sendiri oleh ketahanan tubuh. Penyebab penting dari infeksi virus adalah adenovirus, influenza A, dan herpes simpleks (pada remaja). Selain itu infeksi virus juga termasuk infeksi dengan

Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

xv

coxackievirus A, yang menyebabkan timbulnya vesikel dan ulserasi pada tonsil. Epstein-Barr yang menyebabkan infeksi mononukleosis, dapat menyebabkan pembesaran tonsil secara cepat sehingga mengakibatkan obstruksi jalan napas yang akut. 4 Infeksi jamur seperti Candida sp tidak jarang terjadi khususnya di kalangan bayi atau pada anak-anak dengan immunocompromised.6

Patomekanisme: Tonsillitis berawal dari penularan yang terjadi melalui droplet dimana kuman menginfiltrasi lapisan epitel. Adanya infeksi berulang pada tonsil menyebabkan pada suatu waktu tonsil tidak dapat membunuh semua kuman sehingga kuman kemudian bersarang di tonsil. Pada keadaan inilah fungsi pertahanan tubuh dari tonsil berubah menjadi sarang infeksi (fokal infeksi) dan suatu saat kuman dan toksin dapat menyebar ke seluruh tubuh misalnya pada saat keadaan umum tubuh menurun.7 Bila epitel terkikis maka jaringan limfoid superkistal bereaksi dimana terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear. Karena proses radang berulang yang timbul maka selain epitel mukosa juga jaringan limfoid diganti oleh jaringan parut yang akan mengalami pengerutan sehingga kripti melebar. Secara klinik kripti ini tampak diisi oleh detritus. Proses berjalan terus sehingga menembus kapsul tonsil dan akhirnya menimbulkan perlekatan dengan jaringan di sekitar fossa tonsilaris. Pada anak disertai dengan pembesaran kelenjar limfa submadibularis.1

Faktor Predisposisi : Sejauh ini belum ada penelitian lengkap mengenai keterlibatan faktor genetik maupun lingkungan yang berhasil dieksplorasi sebagai faktor risiko penyakit Tonsilitis Kronis. Pada penelitian yang bertujuan mengestimasi konstribusi efek faktor genetik dan lingkungan secara relatif penelitiannya mendapatkan hasil bahwa tidak terdapat bukti adanya keterlibatan faktor genetik sebagai faktor predisposisi penyakit Tonsilitis Kronis. 15

Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

xvi

Beberapa Faktor predisposisi timbulnya tonsillitis kronik yaitu:1 1. Rangsangan menahun (kronik) rokok dan beberapa jenis makanan 2. Higiene mulut yang buruk 3. Pengaruh cuaca 4. Kelelahan fisik 5. Pengobatan tonsillitis akut yang tidak adekuat

Gejala Klinis : Manifestasi klinik sangat bervariasi. Tanda-tanda bermakna adalah nyeri tenggorokan yang berulang atau menetap dan obstruksi pada saluran cerna dan saluran napas. Gejala-gejala konstitusi dapat ditemukan seperti demam, namun tidak mencolok.8 Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar dengan permukaan yang tidak rata, kriptus melebar dan beberapa kripti terisi oleh detritus. Terasa ada yang mengganjal di tenggorokan, tenggorokan terasa kering dan napas yang berbau.1 Pada tonsillitis kronik juga sering disertai halitosis dan pembesaran nodul servikal.2 Pada umumnya terdapat dua gambaran tonsil yang secara menyeluruh dimasukkan kedalam kategori tonsillitis kronik berupa (a) pembesaran tonsil karena hipertrofi disertai perlekatan kejaringan sekitarnya, kripta melebar di atasnya tertutup oleh eksudat yang purulent. (b) tonsil tetap kecil, bisanya mengeriput, kadang-kadang seperti terpendam dalam tonsil bed dengan bagian tepinya hiperemis, kripta melebar dan diatasnya tampak eksudat yang purulent.8,10

Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

xvii

Gambar 7. Tonsillitis kronik Berdasarkan rasio perbandingan tonsil dengan orofaring, dengan mengukur jarak antara kedua pilar anterior dibandingkan dengan jarak permukaan medial kedua tonsil, maka gradasi pembesaran tonsil dapat dibagi menjadi :10,11, 12 T0 : Tonsil masuk di dalam fossa T1 : <25% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring T2 : 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring T3 : 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring T4 : >75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring

Gambar 8. Rasio Perbandingan Tonsil Dengan Orofaring

Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

xviii

Gambar 9. (A) Tonsillar hypertrophy grade-I tonsils. (B) Grade-II tonsils. (C) Grade-IIItonsils. (D) Grade-IV tonsils (kissing tonsils) I. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada penderita Tonsilitis Kronis: Mikrobiologi Penatalaksanaan dengan antimikroba sering gagal untuk mengeradikasi kuman patogen dan mencegah kekambuhan infeksi pada tonsil. Kegagalan mengeradikasi organisme patogen disebabkan ketidaksesuaian pemberian antibiotika atau penetrasi antibiotika yang inadekuat (Hammouda et al, 2009). Gold standard pemeriksaan tonsil adalah kultur dari dalam tonsil. Berdasarkan penelitian Kurien di India terhadap 40 penderita Tonsilitis Kronis yang dilakukan tonsilektomi, didapatkan kesimpulan bahwa kultur yang dilakukan dengan swab permukaan tonsil untuk menentukan diagnosis yang akurat terhadap flora bakteri Tonsilitis Kronis tidak dapat dipercaya dan juga valid. Kuman terbayak yang ditemukan yaitu Streptokokus beta hemolitikus diukuti Staflokokus aureus.13 Histopatologi Penelitian yang dilakukan Ugras dan Kutluhan tahun 2008 di Turkey terhadap 480 spesimen tonsil, menunjukkan bahwa diagnosa Tonsilitis Kronis dapat ditegakkan berdasarkan pemeriksaan histopatologi dengan tiga kriteria histopatologi yaitu ditemukan ringan- sedang infiltrasi limfosit, adanya Ugras abses dan infitrasi limfosit yang difus. Kombinasi ketiga hal tersebut ditambah temuan histopatologi lainnya dapat dengan jelas menegakkan diagnosa Tonsilitis Kronis.14 II. DIAGNOSIS Diagnosis untuk tonsillitis kronik dapat ditegakkan dengan melakukan anamnesis secara tepat dan cermat serta pemeriksaan fisis yang dilakukan secara menyeluruh untuk menyingkirkan kondisi sistemik atau kondisi yang berkaitan yang dapat membingungkan diagnosis.

Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

xix

Pada anamnesis, penderita biasanya datang dengan keluhan tonsillitis berulang berupa nyeri tenggorokan berulang atau menetap, rasa ada yang mengganjal ditenggorok, ada rasa kering di tenggorok, napas berbau, iritasi pada tenggorokan, dan obstruksi pada saluran cerna dan saluran napas, yang paling sering disebabkan oleh adenoid yang hipertofi. Gejala-gejala konstitusi dapat ditemukan seperti demam, namun tidak mencolok. Pada anak dapat ditemukan adanya pembesaran kelanjar limfa submandibular.15,16,17 Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar dengan permukaan yang tidak rata, kriptus melebar dan beberapa kripti terisi oleh detritus. Pada umumnya terdapat dua gambaran tonsil yang secara menyeluruh dimasukkan kedalam kategori tonsillitis kronik.17 Pada Biakan tonsil dengan penyakit kronis biasanya menunjukkan beberapa organisme yang virulensinya relative rendah dan pada kenyataannya jarang menunjukkan streptokokus beta hemolitikus.17 Diagnosis Banding : 1. Tonsillitis difteri Disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphteriae.Tidak semua orang yang terinfeksi oleh kuman ini akan sakit. Keadaan ini tergantung pada titer antitoksin dalam darah. Titer antitoksin sebesar 0,03 sat/cc drah dapat dianggap cukup memberikan dasar imunitas. Tonsillitis difteri sering ditemukan pada anak berusia kurang dari 10 tahun dan frekuensi tertinggi pada usia -5 tahun. Gejala klinik terbagi dalam 3 golongan yaitu: umum, local, dan gejala akibat eksotoksin. Gejala umum sama seperti gejala infeksi lainnya yaitu kenaikan suhu tubuh biasanya subfebris, nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan lemah, nadi lambat serta keluhan nyeri menelan. Gejala local yang tampak berupa tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor yang makin lama makin meluas dan bersatu membentuk membrane semu (pseudomembran) yang melekat erat pada dasarnya sehingga bila diangkat akan mudah berdarah. Jika infeksinya berjalan terus, kelenjar limfa leher akan membengkak sedemikian besarnya sehingga leher menyerupai leher sapi (bull neck). Gejala akibat eksotoksin akan menimbulkan kerusakan

Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

xx

jaringan tubuh yaitu pada jantung dapat terjadi miokarditis sampai decompensatio cordis, pada saraf kranial dapat menyebabkan kelumpuhan otot palatum dan otot-otot pernapasan dan pada ginjal menimbulkan albuminuria.1

Gambar 10. Tonsila Difteri 2. Angina Plaut Vincent (stomatitis ulseromembranosa) Penyebab penyakit ini adalah bakteri spirochaeta atau triponema. Gejala pada penyakit ini berupa demam sampai 30C, nyeri kepala, badan lemah, rasa nyeri dimulut, hipersalivasi, gigi dan gusi mudah berdarah. Pada pemeriksaan tampak mukosa dan faring hiperemis, membran putih keabuan diatas tonsil, uvula, dinding faring, gusi serta prosesus alveolaris, mulut berbau (foetor ex ore) dan kelenjar submandibular membesar.1

Gambar. 11 Angina Plaut Vincent 3. Faringitis Merupakan peradangan dinding laring yang dapat disebabkan oleh virus, bakteri, alergi, trauma dan toksin.Infeksi bakteri dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang hebat, karena bakteri ini melepskan toksin ektraseluler yang dapat menimbulkan demam reumatik, kerusakan katup
Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis xxi

jantung, glomerulonephritis akut karena fungsi glomerulus terganggu akibat terbentuknya kompleks antigen antibody.Gejala klinis secara umum pada faringitis berupa demam, nyeri tenggorok, sulit menelan, dan nyeri kepala.Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar, faring dan tonsil hiperemis dan terdapat eksudat di permukaannya. Beberapa hari kemudian timbul bercak petechiae pada palatum dan faring. Kelenjar limfa anterior membesar, kenyal, dan nyeri pada penekanan.1

Gambar 12. Faringitis 4. Faringitis Leutika Gambaran klinik tergantung pada stadium penyakit primer, sekunder atau tersier. Pada penyakit ini tampak adanya bercak keputihan pada lidah, palatum mole, tonsil, dan dinding posterior faring. Bila infeksi terus berlangsung maka akan timbul ulkus pada daerah faring yang tidak nyeri. Selain itu juga ditemukan adanya pembesaran kelenjar mandibula yang tidak nyeri tekan.1 5. Faringitis Tuberkulosis Merupakan proses sekunder dari tuberculosis paru. Gejala klinik pada faringitis tuberculosis berupa kedaan umum pasien yang buruk karena anoresia dan odinofagia.Pasien mengeluh nyeri hebat ditenggorok, nyeri ditelinga atau otalgia serta pembesaran kelanjar limfa servikal.1 Penyakit-penyakit diatas, keluhan umumnya berhubungan dengan nyeri tenggorok dan kesulitan menelan. Diagnosa pasti berdasarkan pada pemeriksaan serologi, hapusan jaringanatau kultur, X-ray dan biopsy. Penatalaksanaan :

Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

xxii

Penatalaksanaan medikamentosa dan operatif. 1. Medikamentosa

untuk

tonsillitis

kronik

terdiri

atas

terapi

Terapi ini ditujukan pada hygiene mulut dengan cara berkumur atau obat isap, pemberian antibiotic, pembersihan kripta tonsil dengan alat irigasi gigi atau oral.
1,8

Pemberian antibiotika sesuai kultur. Pemberian antibiotika

yang bermanfaat pada penderita Tonsilitis Kronis Cephaleksin ditambah metronidazole, klindamisin ( terutama jika disebabkan mononukleosis atau abses), amoksisilin dengan asam klavulanat ( jika bukan disebabkan mononukleosis).9 2. Operatif Untuk terapi pembedahan dilakukan dengan mengangkat tonsil (tonsilektomi). Tonsilektomi dilakukan bila terapi konservatif gagal. Dengan tindakan tonsilektomi.9 Pada penelitian Khasanov et al mengenai prevalensi dan pencegahan keluarga dengan Tonsilitis Kronis didapatkan data bahwa sebanyak 84 ibu-ibu usia reproduktif yang dengan diagnosa Tonsilitis Kronis, sebanyak 36 dari penderita mendapatkan penatalaksanaan tonsilektomi.9 Penelitian yang dilakukan di Skotlandia dengan menggunakan kuisioner terhadap 15.788 penduduk mendapatkan data sebanyak 4.646 diantaranya memiliki gejala Tonsilitis, dari jumlah itu sebanyak 1.782 (38,4%) penderita mendapat penanganan dari dokter umum dan 98 (2,1%) penderita dirujuk ke rumah sakit.9 Indikasi Tonsilektomi Cochrane review (2004) melaporkan bahwa efektivitas tonsilektomi belum dievaluasi secara formal. Tonsilektomi dilakukan secara luas untuk pengobatan Tonsilitis akut atau kronik, tetapi tidak ada bukti ilmiah randomized controlled trials untuk panduan klinisi dalam memformulasikan indikasi bedah untuk anak dan dewasa. Tidak ditemukan studi Randomized Controlled Trial (RCT) yang mengkaji efektivitas tonsilektomi pada dewasa. Pada anak ditemukan 5 studi RCT (Mawson 1967; McKee 1963; Roydhouse 1970; Paradise 1984; Paradise

Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

xxiii

1992), tetapi yang diikutkan dalam review hanya 2 studi (Paradise 1984; Paradise 1992) sedang 3 studi lain tidak memenuhi kriteria. Studi pertama oleh Paradise (1984), dilakukan pada anak yang dengan infeksi tenggorok berat. Dari studi ini tidak dapat dibuat kesimpulan yang tegas tentang tonsilektomi karena adanya keterbatasan metodologi yaitu adanya perbedaan kelompok operasi dengan kelompok kontrol. Dalam hal riwayat episode infeksi sebelum mengikuti studi (kelompok operasi meliputi anak dengan penyakit yang lebih berat) dan status sosial ekonomi (kelompok nonoperasi memiliki status sosial ekonomi yang lebih tinggi) serta kelompok tonsilektomi dan tonsilo-adenoidektomi dilaporkan sebagai satu kelompok operasi. Disamping itu, studi ini meliputi hanya anak dengan infeksi tenggorok berat, pada pemantauan, banyak kelompok kontrol yang memiliki episode infeksi sedikit dan biasanya ringan. Studi kedua oleh Paradise (1992) meliputi anak dengan infeksi sedang tidak dapat dievaluasi karena saat review dilakukan tidak ada data yang lebih detil dari desain dan bagaimana penelitian ini dilakukan (hasil penelitian baru dalam bentuk abstrak).9 Untuk keadaan emergency seperti adanya obstruksi saluran napas, indikasi tonsilektomi sudah tidak diperdebatkan lagi (indikasi absolut). Namun, indikasi relatif tonsilektomi pada keadaan non emergency dan perlunya batasan usia pada keadaan ini masih menjadi perdebatan. Sebuah kepustakaan menyebutkan bahwa usia tidak menentukan boleh tidaknya dilakukan tonsilektomi. Indikasi absolut: a) Hiperplasia tonsil yang menyebabkan gangguan tidur (sleep apneu) yang terkait dengan cor pulmonal. b) curiga keganasan (hipertropi tonsil yang unilateral). c) Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam (yang memerlukan tonsilektomi Quincy). d) perdarahan tonsil yang persisten dan rekuren. Indikasi Relatif: a) Tonsillitis akut yang berulang (Terjadi 3 episode atau lebih infeksi tonsil per tahun). b) abses peritonsilar. c). tonsillitis kronik dengan sakit tenggorkan yang persisten, halitosis, atau adenitis cervical. d). sulit menelan. e). tonsillolithiasis. f). gangguan pada orofacial atau gigi (mengakibatkan saluran bagian atas sempit). g). Carrier

Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

xxiv

streptococcus tidak berespon terhadap terapi). h). otitis media recuren atau kronik.8,9,10 Adapun indikasi tonsilektomi menurut The American of Otolaryngologyhead and Neck Surgery Clinical Indicators Compendium 1995 adalah: 1 a. Serangan tonsillitis lebih dari 3x pertahun walaupun telah mendapat terapi yang adekuat b. Tonsil hipertrofi yang menimbulkan maloklusi gigi dan menyebabkan gangguan pertumbuhan orofacial c. Sumbatan jalan napas yang berupa hipertrofi tonsil dengan sumbatan jalan napas, sleepapneu, gangguan menelan, gangguan berbicara dan cor pulmonale. d. Rhinitis dan sinusitis yang kronis, peritonsilitis, abses peritonsil yang tidak berhasil hilang dengam pengobatan e. Napas bau yang tidak berhasil dengan pengobatan f. Tonsillitis berulang yang disebabkan oleh bakteri grup A Streptokokus beta hemolitikus g. Hipertrofi tonsil yang dicurigai adanya keganasan h. Otitis media efusa/otitis media supuratif Kontraindikasi Tonsilektomi Terdapat beberapa keadaan yang disebut sebagai kontraindikasi, namun bila sebelumnya dapat diatasi, operasi dapat dilaksanakan dengan tetap memperhitungkan imbang manfaat dan risiko. Keadaan tersebut yakni: gangguan perdarahan, risiko anestesi yang besar atau penyakit berat, anemia, dan infeksi akut yang berat. 9,18 Persiapan Pasien Tonsilektomi Ketika dicapai keputusan untuk melakukan tonsilektomi harus disadari bahwa mungkin tindakan ini merupakan prosedur pembedahan yang
Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis xxv

pertama kali bagi pasien. Riwayat penyakit yang komplit dan pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan dengan perhatian khusus terhadap adanya gangguan yang bersifat diturunkan terutama kecenderungan terjadinya pendarahan. Disamping itu riwayat saudara pasien yang mungkin mengalami kesulitan dengan anastesi umum sebaiknya diketahui untuk menyingkirkan kemungkinan adanya hipertermia maligna. Pemeriksaan Lab seperti waktu tromboplastin parsial, waktu protrombin, jumlah trombosit, pemeriksaan hitung darah komplit dan urinalisa sebaiknya dilakukan. Selain itu pemeriksaan antistreptolisin titer O (ASO) dilakukan untuk mengetahui tingkat infeksi serta sebagai salah satu indikasi tonsilektomi. Antisteptolisin meningkat pada minggu pertama dan mencapai puncaknya pada minggu ketiga sampai keenam setelah infeksi. Pemeriksaan dikatakan positif bila konsentrasi ASO dalam serum darah lebih dari 200 IU/ml. Selain itu pemeriksaan ragiologi dada dan elektrokardiogram sebaiknya dilakukan sebelum pembedahan.5,6,8 Teknik Operasi Tonsilektomi Pengangkatan tonsil pertama sebagai tindakan medis telah dilakukan pada abad 1 Masehi oleh Cornelius Celsus di Roma dengan menggunakan jari tangan. Di Indonesia teknik tonsilektomi yang terbanyak digunakan saat ini adalah teknik Guillotine dan diseksi.9, 20 Diseksi: Dikerjakan dengan menggunakan Boyle-Davis mouth gag, tonsil dijepit dengan forsep dan ditarik ke tengah, lalu dibuat insisi pada membran mukus. Dilakukan diseksi dengan disektor tonsil atau gunting sampai mencapai pole bawah dilanjutkan dengan menggunakan senar untuk menggangkat tonsil. Guilotin: Tehnik ini sudah banyak ditinggalkan. Hanya dapat dilakukan bila tonsil dapat digerakkan dan bed tonsil tidak cedera oleh infeksi berulang. Elektrokauter: Kedua elektrokauter unipolar dan bipolar dapat digunakan pada tehnik ini. Prosedur ini mengurangi hilangnya perdarahan namun dapat menyebabkan terjadinya luka bakar.

Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

xxvi

Laser tonsilektomi: Diindikasikan pada penderita gangguan koagulasi. Laser KTP-512 dan CO2 dapat digunakan namun laser CO2 lebih disukai.tehnik yag dilakukan sama dengan yang dilakukan pada tehik diseksi. Komplikasi Tonsilektomi Komplikasi saat pembedahan dapat berupa perdarahan dan trauma akibat alat. Jumlah perdarahan selama pembedahan tergantung pada keadaan pasien dan faktor operatornya sendiri. Perdarahan mungkin lebih banyak bila terdapat jaringan parut yang berlebihan atau adanya infeksi akut seperti tonsilitis akut atau abses peritonsil. Pada operator yang lebih berpengalaman dan terampil, kemungkinan terjadi manipulasi trauma dan kerusakan jaringan lebih sedikit sehingga perdarahan juga akan sedikit. Perdarahan yang terjadi karena pembuluh darah kapiler atau vena kecil yang robek umumnya berhenti spontan atau dibantu dengan tampon tekan. Pendarahan yang tidak berhenti spontan atau berasal dari pembuluh darah yang lebih besar, dihentikan dengan pengikatan atau dengan kauterisasi. Bila dengan cara di atas tidak menolong, maka pada fosa tonsil diletakkan tampon atau gelfoam kemudian pilar anterior dan pilar posterior dijahit. Bila masih juga gagal, dapat dilakukan ligasi arteri karotis eksterna.21 Dari laporan berbagai kepustakaan, umumnya perdarahan yang terjadi pada cara guillotine lebih sedikit dari cara diseksi. Trauma akibat alat umumnya berupa kerusakan jaringan di sekitarnya seperti kerusakan jaringan dinding belakang faring, bibir terjepit, gigi patah atau dislokasi sendi temporomandibula saat pemasangan alat pembuka mulut.21 Komplikasi pasca bedah dapat digolongkan berdasarkan waktu terjadinya yaitu immediate, intermediate dan late complication. 21 Komplikasi segera (immediate complication) pasca bedah dapat berupa perdarahan dan komplikasi yang berhubungan dengan anestesi. Perdarahan segera atau disebut juga perdarahan primer adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama pasca bedah. Keadaan ini cukup berbahaya karena pasien masih dipengaruhi obat bius dan refleks batuk belum sempurna sehingga darah dapat menyumbat jalan napas menyebabkan asfiksi. Penyebabnya diduga karena

Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

xxvii

hemostasis yang tidak cermat atau terlepasnya ikatan. lunak dan minuman dingin. 22

21

perdarahan dan iritasi

mukosa dapat dicegah dengan meletakkan ice collar dan mengkonsumsi makanan Pasca bedah, komplikasi yang terjadi kemudian (interme diate complication) dapat berupa perdarahan sekunder, hematom dan edem uvula, infeksi, komplikasi paru dan otalgia Perdarahan sekunder adalah perdarahan yang terjadi setelah 24 jam pasca bedah. Umumnya terjadi pada hari ke 5-10. Jarang terjadi dan penyebab tersering adalah infeksi serta trauma akibat makanan; dapat juga oleh karena ikatan jahitan yang terlepas, jaringan granulasi yang menutupi fosa tonsil terlalu cepat terlepas sebelum luka sembuh sehingga pembuluh darah di bawahnya terbuka dan terjadi perdarahan. Perdarahan hebat jarang terjadi karena umumnya berasal dari pembuluh darah permukaan. Cara penanganannya sama dengan perdarahan primer.21 Pada pengamatan pasca tonsilektomi, pada hari ke dua uvula mengalami edem. Nekrosis uvula jarang terjadi, dan bila dijumpai biasanya akibat kerusakan bilateral pembuluh darah yang mendarahi uvula. Meskipun jarang terjadi, komplikasi infeksi melalui bakteremia dapat mengenai organ-organ lain seperti ginjal dan sendi atau mungkin dapat terjadi endokarditis. Gejala otalgia biasanya merupakan nyeri alih dari fosa tonsil, tetapi kadangkadang merupakan gejala otitis media akut karena penjalaran infeksi melalui tuba Eustachius. Abses parafaring akibat tonsilektomi mungkin terjadi, karena secara anatomik fosa tonsil berhubungan dengan ruang parafaring. Dengan kemajuan teknik anestesi, komplikasi paru jarang terjadi dan ini biasanya akibat aspirasi darah atau potongan jaringan tonsil. 21 Late complication pasca tonsilektomi dapat berupa jaringan parut di palatum mole. Bila berat, gerakan palatum terbatas dan menimbulkan rinolalia. Komplikasi lain adalah adanya sisa jaringan tonsil. Bila sedikit umumnya tidak menimbulkan gejala, tetapi bila cukup banyak dapat mengakibatkan tonsilitis akut atau abses peritonsil. 21 Komplikasi tonsilektomi dapat berupa : 10,18 Immediate and Delayed Hemorrhage

Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

xxviii

Postoperative Airway Compromise :Jarang terjadi, biasanya disebabkan oleh terlepasnya bekuan-bekuan, terlepasnya jaringan adenotonsillar, post operasi edema oropharingeal, atau hematom retropharyngeal.

Dehidrasi Pulmonary Edema : Disebabkan oleh pembebasan secara tiba-tiba jalan napas yang obstruksi karena hipertropi adenotonsillar yang lama, mengakibatkan penurunan mendadak tekanan intratoracal, peningkatan volume darah paru, dan peningkatan tekanan hidrostatik yang dapat terjadi segera atau beberapa jam setelah pembebasan jalan napas.

Nasopharyngeal Stenosis : komplikasi yang jarang dari jaringan parut Eustachian Tube Dysfunction Aspiration Pneumonia : jarang terjadi, biasanya akibat aspirasi dari bekuan darah

III. KOMPLIKASI Radang kronik tonsil dapat menimbulkan komplikasi ke daerah sekitarnya berupa rhinitis kronik, sinusitis atau otitis media secara percontinuitatum. Komplikasi jauh terjadi secara hematogen atau limfogen dan dapat timbul endocarditis, artritis, myositis, nefritis, uvetis iridosiklitis, dermatitis, pruritus, urtikaria, dan furunkulosis.1 Beberapa literature menyebutkan komplikasi tonsillitis kronis antara lain:9,23 a) Abses peritonsil. Infeksi dapat meluas menuju kapsul tonsil dan mengenai jaringan sekitarnya. Abses biasanya terdapat pada daerah antara kapsul tonsil dan otot-otot yang mengelilingi faringeal bed. Hal ini paling sering terjadi pada penderita dengan serangan berulang. Gejala penderita adalah malaise yang bermakna, odinofagi yang berat dan trismus. Diagnosa dikonfirmasi dengan melakukan aspirasi abses.

Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

xxix

Gambar. Abses peritonsil b) Abses parafaring. Gejala utama adalah trismus, indurasi atau pembengkakan di sekitar angulus mandibula, demam tinggi dan pembengkakan dinding lateral faring sehingga menonjol kearah medial. Abses dapat dievakuasi melalui insisi servikal. c) Abses intratonsilar. Merupakan akumulasi pus yang berada dalam substansi tonsil. Biasanya diikuti dengan penutupan kripta pada Tonsilitis Folikular akut. Dijumpai nyeri lokal dan disfagia yang bermakna. Tonsil terlihat membesar dan merah. Penatalaksanaan yaitu dengan pemberian antibiotika dan drainase abses jika diperlukan; selanjutnya dilakukan tonsilektomi. d) Tonsilolith (kalkulus tonsil). Tonsililith dapat ditemukan pada Tonsilitis Kronis bila kripta diblokade oleh sisa-sisa dari debris. Garam inorganik kalsium dan magnesium kemudian tersimpan yang memicu terbentuknya batu. Batu tersebut dapat membesar secara bertahap dan kemudian dapat terjadi ulserasi dari tonsil. Tonsilolith lebih sering terjadi pada dewasa dan menambah rasa tidak nyaman lokal atau foreign body sensation. Hal ini didiagnosa dengan mudah dengan melakukan palpasi atau ditemukannya permukaan yang tidak rata pada perabaan. e) Kista tonsilar. Disebabkan oleh blokade kripta tonsil dan terlihat sebagai pembesaran kekuningan diatas tonsil. Sangat sering terjadi tanpa disertai gejala. Dapat dengan mudah didrainasi. f) Fokal infeksi dari demam rematik dan glomerulonephritis.

Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

xxx

Dalam penelitiannya Xie melaporkan bahwa anti-streptokokal antibodi meningkat pada 43% penderita Glomerulonefritis dan 33% diantaranya mendapatkan kuman Streptokokus beta hemolitikus pada swab tonsil yang merupakan kuman terbanyak pada tonsil dan faring. Hasil ini megindikasikan kemungkinan infeksi tonsil menjadi patogenesa terjadinya penyakit Glomerulonefritis. IV. PROGNOSIS Tonsilitis biasanya sembuh dalam beberapa hari dengan beristrahat dan pengobatan suportif. Menangani gejala-gejala yang timbul dapat membuat penderita Tonsilitis lebih nyaman. Bila antibiotika diberikan untuk mengatasi infeksi, antibiotika tersebut harus dikonsumsi sesuai arahan demi penatalaksanaan yang lengkap, bahkan bila penderita telah mengalami perbaikan dalam waktu yang singkat. Gejala-gejala yang tetap ada dapat menjadi indikasi bahwa penderita mengalami infeksi saluran nafas lainnya, infeksi yang sering terjadi yaitu infeksi pada telinga dan sinus. Pada kasus-kasus yang jarang, Tonsilitis dapat menjadi sumber dari infeksi serius seperti demam rematik atau pneumonia.9

DAFTAR PUSTAKA 1. Rusmarjono, Kartoesoediro S. Tonsilitis kronik. In: Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher ed Keenam. FKUI Jakarta: 2007. p212-25.
2. Udayan KS. Tonsillitis and peritonsillar Abscess. [online]. 2011 .[cited, 2013

Jun 18). Available from URL: http://emedicine.medscape.com/ 3. Medical Disbility Advisor. Tonsillitis and Adenoiditis. [online]. 2011 .[cited, 2013 Jun 18). Available from URL: http://www.mdguidelines.com/tonsillitisand-adenoiditis/
Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis xxxi

4. John PC, William CS. Tonsillitis and Adenoid Infection. [online].2011 .[cited, 2013 Jun 18). Available from: URL: http://www.medicinenet.com 5. Christopher MD, David HD, Peter JK. Infectious Indications for Tonsillectomy. In: The Pediatric Clinics Of North America. 2003. p445-58 6. Adnan D, Ionita E. Contributions To The Clinical, Histological, Histochimical and Microbiological Study Of Chronic Tonsillitis. Pdf. 7. Mandavia, Rishi. Tonsillitis. [online] .[cited, 2013 Jun 20). Available from: URL: http://www.entfastbleep.com
8. Gross CW, Harrison SE. Tonsils and Adenoid. In: Pediatrics In Review.

[online].2000.[cited,

2013

Jun

21).

Available

from:

URL:

http://www.pediatricsinrewiew.com 9. Richard SS. Pharinx. In: Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi 6. Jakarta: ECG, 2006. p795-801. 10. Boies AH. Rongga Mulut dan Faring. In: Boies Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta: ECG, 1997. p263-340 11. Amalia, Nina. Karakteristik Penderita Tonsilitis Kronis D RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2009. 2011.pdf 12. Bailey BJ, Johnson JT, Newlands SD. Tonsillitis, Tonsillectomy, and Adenoidectomy. In: Head&Neck Surgery-Otolaryngology, 4th edition. 2006. 13. Indo Sakka, Raden Sedjawidada, Linda Kodrat, Sutji Pratiwi Rahardjo. Lapran Penelitian : Kadar Imunoglobulin A Sekretori Pada Penderita Tonsilitis Kronik Sebelum Dan Setelah Tonsilektomi. Pdf. 14. Empowering Otolaryngologist. Tonsillitis. In: American Academy of Otolaryngology- Head & Neck Surgery. Pdf.
15. Pasha R. Pharyngeal And Adenotonsillar Disorder. In: Otolaryngology-Head

and Neck Surgery. p158-165


16. Andrews BT, Hoffman HT, Trask DK. Pharyngitis/Tonsillitis. In: Head and

Neck Manifestations of Systemic Disease. USA:2007.p493-508 17. Ura, Serdar & Kutluhan, Ahmet. Chronic Tonsillitis Can Be Diagnosed With Histopathologic Findings. In: European Journal of General Medicine, Vol. 5, No. 2. [online].2008.[cited, 2013 Jun 23]. Available from: URL: http://www. Bioline International .com

Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

xxxii

18. Hatmansjah.

Tonsilektomi.

In:

Cermin

Dunia

Kedokteran

vol

89.

[online].1993.[cited, 2013 Jun 25]. Available from: URL: http://www. cerminduniakedokteran .com 19. Harrison SE, Osborne E, Lee S. Home Care After Tonsillectomy and Adenoidectomy. In: Missisipi Ear, Nose, & Throat Surgical Associates 601. pdf.
20. Lalwani AK. Management of Adenotonsillar Disease: Introduction. In:

Current Otolaryngology 2nd ed. McGraw-Hill:2007.

Danil Anugrah Jaya Tonsilitis Kronis

xxxiii