Anda di halaman 1dari 15

TUGAS MAKALAH BIOTEKNOLOGI PANGAN DAN AGROINDUSTRI Pemanfaatan Khamir S.

Cereviseae untuk Ternak

Disusun oleh : 1. Raditya Putra 2. Marisa Zakiya 3. Anastya Pandan 4. Silvy Novita 5. Citra Anggraeni 6. Fitri Nurzanah 115100500111015 115100500111006 115100507111008 115100500111032 115100500111024 115100507111003

Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya 2013
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG Populasi penduduk Indonesia saat ini berkembang sangat pesat, sehingga mengakibatkan peningkatan kebutuhan pangan. Akibatnya industri pertanian dituntut untuk memproduksi secara maksimal agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi. Hal tersebut juga dirasakan oleh industri subsektor peternakan. Sehingga adopsi teknologi di bidang peternakan sangat dibutuhkan untuk mendukung produksi yang maksimal dan berkelanjutan, dengan memperhatikan keamanan produk yang dihasilkan. Bioteknologi adalah cabang ilmu yang mempelajari pemanfaatan makhluk hidup (bakteri, fungi, virus, dan lain-lain) maupun produk dari makhluk hidup (enzim dan alkohol) dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa. Ilmu bioteknologi meliputi ilmu-ilmu terpadu biokimia, mikrobiology dan ilmu keteknikan untuk mewujudkan aplikasi teknologi dari mikroorganisme, kultur jaringan dan bagianbagian lainnya. Bioteknologi adalah Aplikasi dari organisme dengan system atau proses yang hasilnya digunakan untuk industri manufaktur dan pelayanan jasa.Bioteknologi merupakan Teknologi yang menggunakan fenomena biology untuk mengcopy dan

menghasilkan bermacam-macam produk yang berguna. Bioteknologi pangan dan Agroindustri adalah teknologi penggunaan organisme hidup dan komponennya dalam bidang pertanian, pangan dan proses-proses industri lainnya ang menghasilkan barang dan jasa yang bermanfaat bagi kehidupan. Aplikasi berbagai teknik yang menggunakan organisme hidup atau bagiannya serta untuk menghasilkan produk dan/atau jasa. Penggunaan bahan aditif dalam pakan ternak sejak dahulu telah dilakukan untuk merangsang pertumbuhan dan mencegah penyakit. Menurut Agarwal (2000), pemberian feed aditive tersebut dilakukan untuk memperbaiki performance atau penampilan produksi dari ternak, berbagai macam jenis feed aditive yang telah digunakan sejak dahulu antara lain adalah obat-obatan, antibiotika atau hormon-hormon pertumbuhan. Penggunaan antibiotik atau antimikrobial sebagai bahan aditif dalam pakan ternak telah berlangsung lebih dari 40 tahun silam. Senyawa antibiotik tersebut digunakan sebagai growth promotor dalam jumlah yang relatif kecil namun dapat meningkatkan efisiensi pakan (feed efficiency) dan reproduksi ternak sehingga dalam penggunaanbahan aditif tersebut peternak dapat memperoleh keuntungan lebih. Awal

tahun 2006 penggunaan antibiotik dilarang oleh Uni Eropa sebagai pencegah penyakit (disease prophylactic) atau dikenal pemicu pertumbuhan (Antimicrobial Growth Promoters) didalam pakan ternak (AgaRrwal, N ., D .N . Kamra, et. Al., 2000). Beberapa bahan alternatif yang dapat mengganti fungsi dari antibiotik dalam pakan adalah probiotik dan prebiotik. Prebiotik didefiniskan sebagai bahan pakan yang tidak tercerna dan memberikan pengaruh positif pada inang (host), dengan memacu pertumbuhan atau aktivitas bakteri di dalam colon (Cole, 1991). Adanya prebiotik yang diberikan melalui pakan, sehingga bakteri yang menguntungkan (apatogen) dalam saluran cerna dapat meningkat dalam menekan bakteri patogen.

1.2

TUJUAN 1. Memenuhi tugas terstruktur Bioteknologi Pangan dan Agroindustri mengenai aplikasi bioteknologi di bidang non pangan dengan pemanfaatan jasad hidup dalam hal ini adalah khamir. 2. Mengetahui aplikasi bioteknologi di bidang industri non pangan dengan memanfaatkan jasad hidup yaitu khamir. 3. Menambah wawasan baru tentang pemanfaatan ilmu bioteknologi di dalam kehidupan

1.3 1. 2.

MANFAAT Mahasiswa memahami aplikasi lain di bidang bioteknologi Mahasiswa mampu memberikan contoh aplikasi lain mengenai bioteknologi di bidang industri non pangan 3. Menambah pengetahuan Mahasiswa mengenai pemanfaatan jasad hidup di bidang Bioteknologi Pangan dan Agroindustri.

1.4

RUMUSAN MASALAH 1. Apakah manfaat S.cereviceae pada bidang bioteknologi non pangan sebagai pakan ternak? 2. Bagaimana cara mengekstraksi -glukan sebagai imunostimulan? 3. Bagaimanamekanismekerja-glukan danprobiotik yang digunakanpadaternak?

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

S. Cereviseae Saccharomycess cereviseae merupakan mikroorganisme jenis khamir yang dimanfaatkan dalam dunia bioteknologi. Dalam hal ini digunakan sebagai probiotik dan imunostimulan untuk meningkatkan kesehatan dan produktivitas ternak seperti rumansia, unggas, ataupun ikan. Hasil-hasil penelitian yang diperoleh secara umum menunjukkan pemakaian Saccharomyces cereviseae feed additive berkorelasi positif terhadap penampilan bobot badan ternak. Saccharomyces cereviseae dipakai untuk meningkatkan kesehatan ternak sebagai probiotik dan imunostimulan dalam bentuk feed additive. Hal ini yang melatarbelakangi kelompok kami mengambil topik ini. Keuntungan penggunaan S.cereviseae sebagai probiotik adalah tidak membunuh mikroba bahkan menambah jumlah mikroba yang menguntungkan, berbeda dengan antibiotika dapat membunuh mikroba yang merugikan maupun menguntungkan tubuh, dan mempunyai efek resistensi. Demikian pula dengan penggunaan S. Cerevisiae sebagai bahan

imunostimulan . Imunostimulan berfungsi untuk meningkatkan kesehatan tubuh dengan cara meningkatkan sistem pertahanan terhadap penyakitpenyakit yang disebabkan bakteri, cendawan, virus dan lainnya, sedangkan penggunaan antibiotika hanya membunuh bakteri.Hasil-hasil penelitian yang diperoleh secara umum menunjukkan pemakaian Saccharomyces cerevisiae feed additive berkorelasi positif terhadap penampilan bobot badan ternak. Saccharomyces cerevisiae dipakai untuk meningkatkan kesehatan ternak sebagai probiotik dan imunostimulan dalam bentuk feed additive. Komposisi kimia S. cerevisiae terdiri atas :

Protein kasar 50-52%, Karbohidrat ; 30-37%; Lemase 4-5%; Mineral 7-8% (Reed dan Nagodawithana,1991) . Abu 5,0-9,5%; Asam Nucleat 6,0-12,0%; Lemak 2,0-6,0%; Nitrogen 7,5-8,5%; Fenilalanin 4,1-4,8%; Isoleusin 4,6-5,3%; Lysin 7,7-7,8%;

Methionin 1,6-1,7%; Sistin 0,9%; Treonin 4,8-5,4%; Tryptophan 1,1-1,3%; Valin 5,3-5,8%.(PEPTIDASE, 2004) 2.2 Definisi Probiotik Probiotik dalam bahasa Yunani berarti Kehidupan, menurut istilah yang didefinisikan oleh Fuller (1992), probiotik adalah suplemen pakan dari bakteri hidup yang memberikan keuntungan terhadap ternak dengan meningkatkan keseimbangan mikroflora dalam saluran pencernaan. Sedangkan menurut Gholib (2003), probiotik kultur tunggal ataupun campuran dari mikrobia hidup yang dikonsumsi manusia dan/atau hewan, dan memiliki efek menguntungkan bagi inangnya (manusia maupun hewan) dengan cara menjaga keseimbangan mikroflora alami yang ada dalam tubuh. Mikroorganisme yang digunakan sebagai probiotik dalam nutrisi ternak yaitu mikroorganisme hidup, ketika diadministrasikan mulut dan sepanjang alat pencernaan dapat memberikan efek positif terhadap kesehatan inangnya. Mikroorganisme yang bisa dimanfaatkan sebagai probiotik adalah bakteri (Bakteri Asam Laktat, Genus Lactobacillus dan Genus Bifidobacteria) dan fungi (Saccharomyces cereviciae) (JeanMichel, 2005). 2.3 Definisi Imunostimulan Immunostimulan adalah senyawa kimia, obat, atau bahan lainnya yang mampu meningkatkan respon spesifik dan nonspesifik pada organisme (manusia atau hewan. immunostimulan yang sering dipakai untuk immunostimulasi adalah LPS (lipopolisakarida), levamisol, dan -1,3 glukan yang diperoleh dari S. cereviceae. Secara sederhana imunostimulan adalah suatu bahan (material) yang bila diberikan pada hewan dan manusia dapat meningkatkan sistem pertahanan tubuh untuk menghadapi serangan penyakit. Imunostimulan meningkatkan limfosit T sebagai imunitas seluler yang penting untuk memproteksi tubuh dari bakteri dan virus intraseluler. Limfosit B juga meningkat untuk menambah imunitas humoral dan serum antibodi. Serum ini berfungsi untuk menetralkan endotoksin, sehingga pada akhirnya imunostimulan digunakan pada ternak untuk meningkatkan kemampuan melawan bakteri dan menurunkan waktu yang diperlukan untuk memperbanyak antibodi (Beta Glucan Research 2004).

2.4

Definisi -Glukan -Glukan merupakan homopolimer glukosa yang diikat melalui ikatan -(1,3) dan -(1,6)-glukosida (Istiana, 2002) dan banyak ditemukan pada dinding sel beberapa bakteri, tumbuhan, dan khamir (Istiana., 2002). Saccharomyces cerevisiae termasuk khamir uniseluler yang tersebar luas di alam dan merupakan galur potensial penghasil glukan, karena sebagian besar dinding selnya tersusun atas -glukan (Life Source Basics, 20012). -Glukan terbukti secara ilmiah sebagai biological defense modifier (BDM) dan termasuk kategori generally recognized as safe (GRAS) menurut FDA, serta tidak memiliki toksisitas atau efek samping (Karpinska, 2001). -Glukan memiliki berbagai aktivitas biologis sebagai antitumor, antioksidan, antikolesterol, anti penuaan dini, dan peningkat sistem imun (Fox, 2003). Selain itu, senyawa ini dapat juga dimanfaatkan sebagai zat aditif dalam industri makanan (Marx Jean, 1991). Dengan banyaknya manfaat senyawa tersebut bagi manusia, menjadi dorongan bagi peneliti untuk mengembangkan -glukan, meningkatkan produksi dan aplikasinya Produksi -glukan pada penelitian ini menggunakan berbagai sumber nitrogen yang berbeda dengan menggunakan fermentor. Sumber nitrogen yang digunakan yaitu pepton, asam glutamat, urea dan diamonium hidrogen fosfat (DAHP). Hal ini bertujuan untuk mencari sumber nitrogen alternatif selain pepton untuk memproduksi -glukan.

BAB III PEMBAHASAN

3.1

Pemanfaatan S. Cereviseae sebagai probiotik Khamir S. cerevisiae dapat dimanfaatkan sebagai probiotik dan imunostimulan di dalam meningkatkan produksi ternak. probiotik adalah tambahn pakan berbentuk mikroba hidup yang menguntungkan dan mempengaruhi keseimbangan mikroorganisme dalam saluran pencernaan ternak. probiotik adalah tambahan pakan berbentuk mikroba hidup yang menguntungkan dan mempengaruhi hewan tenak melalui perbaikan keseimbangan mikroorganisme dalam saluran pencernaan. Sedangkan prebiotik adalah bahan makanan yang tidak tercerna dan memberikan keuntungan pada inang melalui simulasi yang selektif terhadap pertumbuhan aktivitas dari satu atau sejumlah bakteri yang terdapat di dalam kolon (Kumprechtova, 2000) . Di bidang peternakan penggunaan probiotik bermanfaat untuk kesehatan, produksi dan pencegahan penyakit. S. Cerevisiae termasuk salah satu mikroba yang umum dipakai untuk ternak sebagai probiotik, bersama-sama dengan bakteri dan cendawan lainnya seperti Aspergillus niger, A.oryzae, Bacillus pumilus, B. centuss, Lactobacillus. acidophilus, Saccharomyces crimers, Streptococcus lactis dan S. termophilus Jenis Sacharomyces yang berperan sebagai probiotik adalah Saccharomyces boulardii karena memiliki efektifitas untuk membantu mencegah atau mengobati penyakit. Ini adalah khamir, bukan bakteri seperti probiotik probiotik lainnya. Sifat Saccharomyces boulardii adalah non-patogen yang bermanfaat banyak dalam saluran usus. Saccharomyces boulardii terisolasi dari kulit leci dan buah manggis yang tumbuh di kawasan Indochina. Saccharomyces boulardii tersebut memiliki taksonomi, fisiologi, metabolik dan karakter genetik yang khas. Dimana Saccharomyces boulardii tumbuh pada daerah dengan suhu 37 derajat celcius. Khamir jenis ini telah banyak digunakan di seluruh dunia sebagai suplemen probiotik untuk mendukung kesehatan gastrointestinal dengan meningkatkan populasi bifidobacteria usus sehat sekaligus mengurangi jumlah organisme yang dapat menyebabkan penyakit. Saccharomyces boulardii bekerja dalam berbagai cara di dalam usus, tergantung pada jenis agen infeksi atau proses inflamasi yang menstimulasi sel usus. Dalam beberapa kasus infeksi diare, khamir ini akan berkompetisi dengan organisme yang menginfeksi dan khamir ini menang. Studi eksperimen memperlihatkan hasil bahwa Saccharomyces boulardii mempunyai sifat anti mikroba, sama baiknya dengan anti inflamasi dan anti racun (Academynutrition.2013).

Mekanisme yang paling berpengaruh dari Saccharomyces boulardii adalah dapat menghambat pertumbuhan bakteri yang mengandung racun, anti-inflammatory dan banyaknya efek stimulatory pada mukosa usus. S. boulardii menginaktifasi racun bakteri, menghambat racun yang mengikat pada reseptor usus dan mengurangi toksin yang disebabkan peradangan (Academynutrition.2013). Pemanfaatan S.cereviceae sebagai pakan ternak antara lain : - Meningkatkan produksi susu dan bobot badan pada sapi - Meningkatkan bobot badan domba dan unggas - Menurunkan jumlah E.coli dan meningkatkan bobot badan unggas - Meningkatkan sistem kekebalan tubuh udang dan ikan Pemberian S. cerevisiae pada ternak ruminansia akan meningkatkan bakteri selulolitik dan asam laktat pada saluran pencernaan.

3.2

Pemanfaatan S.cereviseae sebagai imunostimulan Salah satu bahan yang esensial sebagai imunostimulan adalah beta-D glukan, dan bahan ini terdapat pada barley dan khamir (S. cerevisiae). Penemuan substansi betaD glukan berawal dari penelitian Louis Pillemer (1940) (dalam LIFE SOURCE BASIC, 2002), meneliti suatu substansi yang memiliki kemampuan menghasilkan aktivator mekanisme pertahanan tubuh yang disebut zymosan. Meski dikenal sebagai substansi yang berkemampuan menstimulasi secara nonspesifik terhadap respon imun, namun zat aktifnya sendiri belum diketahui. Pada penelitian setanjutnya Nicholas Diluzio (1970) (dalam LIFE SOURCE BASIC, 2002) berhasil menemukan substansi tersebut, dan komponen aktifnya adalah beta-D glukan. Beta-D glukan akan berikatan dengan permukaan sel makrofag dan sel NK dan berfungsi sebagai triger untuk proses aktivasi makrofag. Hasil proses ini berupa peningkatan sirkulasi makrofag di dalam tubuh untuk mencari benda-benda asing yang masuk ke dalam tubuh, selain itu pula untuk meningkatkan jumlah sel-sel makrofag. Pada khamir di bagian tertentu dapat dijadikan imunostimulan(LIFE SOURCE BASIC, 2002). Beta-D glukan meningkatkan fungsi imun termasuk fagositosis (kemampuan untuk menangkap benda asing, partikel yang dilepaskan sitokin; hormon interseluler yaitu: IL-1, IL-6, GM-CSF, interferon) dan pembuatan antigen. Beta-D glukan juga

menstimulasi RES, di dalam proses peningkatan jumlah makrofag, dan aktivasi sel-sel darah putih selain makrofag. Sel-sel tersebut ialah : granulosit dan monosit. Beta-D glukan dapat sebagai imunomodulator untuk meningkatkan kemampuan sel T, sel B, dan makrofag di dalam rangka melawan infeksi penyakit. Selain itu membantu perbaikan jaringan yang rusak pada tubuh melalui proses regenerasi dan penyembuhan (BETA GLUCAN, 2004d). 3.3 Cara Ekstrasi -Glukan Mikroorganisme Jenis mikrobia yang digunakan pada penelitian ini yaitu, Saccharomyces cerevisiae RN4. Pembuatan media, Media yeast peptone glucose(YPG) cair dibuat dengan komposisi glukosa 2 g, pepton 2 g, dan ekstrak khamir 1 g. Semua bahan dilarutkan dalam 100 mL akuades dan dipanaskan untuk mempercepat kelarutan, lalu disterilkan dengan autoklaf pada suhu 121 0C, tekanan 1 atm selama 15 menit. Media YPG padat dibuat dengan komposisi yang sama dengan media cair dengan tambahan 2 g agar bakteriologi. Proses fermentasi, Proses fermentasi dilakukan sebanyak empat kali dengan menggunakan sumber N yang berbeda, yaitu: pepton 2%, asam glutamat 0,5%, DAHP 0,02%, dan urea 0,2%. Komposisi ini didasarkan pada hasil penelitian pendahuluan yang mengawali penelitian ini (data tidak ditunjukkan). Media fermentasi cair sebanyak 1900 mL dibuat dengan komposisi glukosa 2%, ekstrak khamir 1%, dan sumber N. Semua bahan dilarutkan dalam air, dipanaskan sambil diaduk hingga homogen. Media dimasukkan ke dalam vessel (bejana fermentor), lalu disterilkan dengan autoklaf pada suhu 121C selama 15 menit. Setelah preparasi fermentor, 100 mL prekultur berumur 48 jam diinokulasikan. Fermentasi berlangsung selama 84 jam pada fermentor air liftskala 2 L dengan kondisi suhu 30C, pH 7, dan aerasi 1,5 vvm (volume per volume per minute). Selama fermentasi berlangsung, dilakukan pengambilan sampel untuk analisis optical density(OD), kadar glukosa, kadar protein, dan ekstraksi -glukan. Pengambilan sampel dilakukan setiap 2 jam sampai masa inkubasi 24 jam, dilanjutkan setiap 4 jam sampai masa inkubasi 48 jam, kemudian setiap 12 jam sampai masa inkubasi 84 jam. Parameter yang diamati ialah pertumbuhan S. cerevisiae, kadar glukosa, kadar protein, serta jumlah ekstrak -glukan. Analisis kimia, Analisis kimia meliputi pengukuran kadar glukosa dan protein dengan menggunakan spektrofotometer. Sampel kultur disentrifugasi dengan kecepatan 5000 rpm selama 15 menit. Supernatan yang diperoleh digunakan sebagai sampel untuk uji kadar glukosa dan kadar protein. Analisis kadar glukosa menurut metode fenol-sulfat

(Chaplin, 1986). Deret larutan baku glukosa dibuat dengan konsentrasi: 0, 10, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80 dan 90 g/L. Sampel sebanyak 5L ditambahkan 995L akuades, lalu ditambahkan 500 L fenol 5%. Larutan ditambahkan 2,5 mL H2SO4 pekat, didiamkan selama 10 menit, lalu dicampur homogen. Absorbansi diukur pada panjang gelombang 490 nm. Analisis kadar protein menurut metode Lowry (Copeland, 1951). Dibuat deret larutan baku standar BSA dengan konsentrasi 0, 20, 40, 60, 80, 100, 120, 140, 160, 180, 200, 250, 300, 350, 400, 450 dan 500 g/L. Sampel sebanyak 10 L ditambahkan 490 L akuades, ditambahkan 500 L NaOH 1M. Larutan dipanaskan selama 20 menit, didinginkan lalu ditambahkan 2,5 mL larutan D (campuran antara 50 mL Na2CO35%, 1 mL CuSO4.5H2O 1%, dan 1 mL potasium sodium tartrat 2%). Larutan didiamkan selama 10 menit, lalu ditambahkan 500 L larutan folin C (1:1). Absorbansi diukur pada panjang gelombang 755 nm setelah 30 menit. Ekstraksi -glukan Sampel kultur sebanyak 30 mL disentrifugasi dengan kecepatan 7000 rpm selama 20 menit pada suhu 15C. Supernatan dibuang, pelet biomassa sel ditambahkan 5 mL NaOH 2%, lalu dipanaskan selama 5 jam pada suhu 90C. Suspensi biomassa sel disentrifugasi kembali dengan kecepatan 5000 rpm selama 10 menit. Ke dalam supernatan yang diperoleh ditambahkan CH3COOH 2 M tetes demi tetes hingga pH larutan sekitar 6.8-7, setelah itu diendapkan dengan 3 volume etanol. Endapan yang terbentuk dipisahkan melalui sentrifugasi dengan kecepatan 5000 rpm selama 10 menit. Pelet yang terpisah dikeringkan, lalu ditimbang sebagai bobot -glukan kasar. Pertumbuhan tertinggiS. Cerevisiae RN4 ialah pada media fermentasi yang mengandung sumber nitrogen pepton. Kadar -glukan pada akhir fermentasi pada sumber N pepton sebesar 933.33 g/L, pada sumber Nasam glutamat sebesar 633.33 g/L, dan pada sumber N urea dan DAHP masing-masing sebesar 733.33 g/L.Dengan demikian urea dapat dijadikan sumber N alteratif pengganti pepton (yang murah dan mudah diperoleh) untuk memproduksi -glukan. Di dalam terapannya tidak melalui suntikan tetapimelalui oral, bersama-sama makanan, sedangkan peningkatan atau penurunan mekanisme pertahanan tubuh tergantung pada jumlah glukan yang dikonsumsi oleh ternak . Oleh karena itu respon terhadap ternak sangat bervariasi tergantung ada atau tidaknya reseptor yang dikenal oleh komponen gula dari beta-D glukan (LIFE SOURCE BASIC, 2002). Berikut beberapa contoh pemakaian S. cerevisiae sebagai imunostimulan pada ternak. Transfer gen beta glukan dapat dilakukan pada udang dan mikroorganisme kelautan lainnya seperti mikroalga dan bakteri non patogenik lainnya dalam rangka

meningkatkan kekebalan tubuh . Pada ikan Iele dumbo, Beta glukan dengan dosis 750 mg/kg pakan mempunyai peran imunostimulan yang positif terhadap respon kebal non spesifik yang dilakukan dengan ujitantang terhadap infeksi bakteri Aeromonas hydrophila (RUKYANI et al ., 1987) . Pada udang hitam (Penaeusmonodon) pemberian 1 g/kg pakan Beta glukan memperlihatkan peran imun yang positif terhadap kenaikan hematosit (SITTHIPuN et al., 2000) . Pada udang dan ikan penggunaan S. cerevisiae dapat sebagai imunostimulan untuk mengatasi serangan bakteri dan mikroorganisme lainnya seperti Aeromonas salmonicida,vibriosis, dengan dosis 50 mg/kg bobot udang atau ikan (Fox, 2002). 3.4 Mekanisme kerja -glukan sebagai imunostimulan

Gambar 1. Mekanisme kerja Imunostimulan (akademikciamik2010). Imunostimulan meningkatkan limfosit T sebagai imunitas seluler yang penting artinya dalam rangka proteksi terhadap bakteri dan virus intra seluler. Limfosit B juga ditingkatkan, dalam rangka meningkatkan imunitas humoral, dan tingkat serum antibodi . Serum ini untuk menetralisasi endotoksin, sehingga pada akhirnya imunostimulan digunakan ternak untuk meningkatkan kemampuan membunuh bakteri, dan menurunkan waktu yang diperlukan untuk memperbanyak antibodi (Beta Glukan, 2004d). Lebih rinci lagi imunostimulan dapat digolongkan yang bekerja spesifik dan non spesifik. Beberapa materi atau subtansi yang terlibat di dalam proses sistem yang spesifik adalah imunisasi aktif dan pasif balk oleh virus, bakteri maupun cendawan sedangkan yang non spesifik

berupa stimulasi limfosit, dan makrofag (Tizard, 1987). Manfaatnya secara umum imunostimulan dapat meningkatkan aktivitas pertahanan tubuh dan mempercepat proses penyembuhan. Demikanlah sistem tersebut secara bersama-sama membentuk sistem pertahanan di dalam tubuh melawan serangan infeksi penyakit . Dari uraian di atas maka jelas bahwa imunostimulan sangat bermanfaat untuk peningkatan sistem kesehatan tubuh, dan salah satu imunostimulan adalah Beta-D glukan yang telah diuraikan sebelumnya. Saccharomyces cerevisiae sebagai imunostimulan Salah satu bahan yang esensial sebagai imunostimulan adalah beta-D glukan, dan bahan ini terdapat pada barley dan khamir (S. cerevisiae).Penemuan substansi beta-D glukan berawal dari penelitian (Life Source Basic, 2002), meneliti suatu substansi yang memiliki kemampuan menghasilkan aktivator mekanisme pertahanan tubuh yang disebut zymosan . Meski dikenal sebagai substansi yang berkemampuan menstimulasi secara nonspesifik terhadap respon imun, namun zat aktifnya sendiri belum diketahui . Pada penelitian selanjutnya (dalam LifeSource Basic, 2002) berhasil menemukan substansi tersebut, dan komponen aktifnya adalah beta-D glukan . Komponen tersebut berasal dari ekstrak dinding sel khamir roti yang tergolong cendawan . Komponen tersebut mempunyai sebuah campuran unik dengan efektivitas dan intensitasnya sebagai suatu sistem pertahanan tubuh melalui aktivasi set darah putih yang spesifik seperti makrofag dan set NK (natural killer) . BetaD glukan akan berikatan dengan permukaan set makrofag dan set NK dan berfungsi sebagai triger untuk proses aktivasi makrofag . Hasil proses ini berupa peningkatan sirkulasi makrofag di dalam tubuh untuk mencari benda-benda asing yang masuk ke dalam tubuh, selain itu pula untuk meningkatkan jumlah sel-sel makrofag. Pada khamir di bagian tertentu dapat dijadikan imunostimulan (Life Source Basic, 2002). S. cerevisiae tergolong cendawan berupa khamir (yeast) pembuat kue dan roti ternyata mempunyai potensi kemampuan yang tinggi sebagai imunostimulan, dan bagian yang bermanfaat tersebut adalah dinding selnya yang mengandung (3 (1,3 dan 1,6) glukan . Bahan inilah yang dipakai sebagai imunostimulan setelah berhasil dipisahkan pada bagian dinding set S. cerevisiae (Life Source Basic, 2002).

BAB IV KESIMPULAN

S.Cereviceae mempunyai banyak manfaat dalam peningkatan produksi kesehatan ternak agar dapat menghasilkan sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk produk olahan. Pemanfaatan S.cerveiceae yaitu sebagai probiotik dan imunostimulan dalam menambah bobot dan daya tahan ternak. Sehingga kualitas produksi ternak dapat meningkat secara pesat dan dapat mensejahterakan masyarakat pada umumnya. Pemanfaatan -D-glukan yang diambil dari dinding sel khamir S.cereviceae digunakan sebagai imunostimulan yang dapat meningkatkan daya tahan ternak.sehingga perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk disempurnakan. Selain itu dengan adanya dukungan potensi dari sumber daya yang melimpah perlu adanya sebuah pengembangan untuk dapat digunakan baik di masa sekarang maupun masa yang akan dating.

DAFTAR PUSTAKA Academynutrition.2013. Saccharomyces Boulardii. http://academynutrition.wordpress.

com/tag/saccharomyces/

AGARWAL, N ., D .N . KAMRA, L .C.CHAUDHARY, A. SAHoo and PATHAK. 2000 . Selection of Saccharomyces cerevisae strains for use as a microbial feed additive . http :/www .B l ackwell .synergy.com/links/doi / 10 .1046/J .1472-765X.2000 .00826.X/Full / (15 Oktober 2003) . Akademikciamik.2010. Mekanisme kerja imunostimulan. http://akademikciamik2010.files. wordpress.com/2012/04/11-immunomodulator.pdf BETA GLUCAN. 2004. Beta glucan research . Saccharomyecescerevisiae. httpJ/ www .betaglucan .org/ . (20 Desember 2004) . Bains, W. 1998. Biotechnology from A to Z. Ed ke-2. New York: Oxford University Press. Ber, L.1997. Yeast derived beta-1,3-D-Glucan: an adjuvant concept. American Journal of Natural Medicine 4 (3). www.anma.com/mon43.html. Beta Glucan. 2004. Beta glucan research . Saccharomyeces cerevisiae. httpJ/www.betaglucan .org/ . (20Desember 2004). Cheeseman, I.M., and R.M.Brown, Jr. 1995. Microscopy of Curdlan Structure. Houston, TA.:Texas University Press. COLE, D .J .A . 1991 . The role of The nutrionist in design feed for future in feed industry . Proc. of Alltechs, Seventh Annual Symposium . Alltech Technical Publication, Nicholasville Kentucky : 1-2 . Copeland, R.A. 1951. Methodes for Protein Analysis. New York: Chapman & Hall. Fox,J.M.2003.Immunology of fish and shrimp.http://www.Sci.tamucc.edu/pals/maric/inedx/ webpage/dlec 2.html. (15 Oktober 2003). FULLER, R. 1992 . Probiotics the Scientific Basis . Chapman & Hall . The University Press Cambridge . GHOLIB, D., ISTIANA, TARMUDn dan R .Z . AHMAD . 2003 . Laporan hasil Penelitian Potensi Sacchromyces cerevisae APBN 2002 Sebagai Probiotik. Balai Penelitian Veteriner, Bogor ISTIANA . E . KUSUMANINGTYAS, D . GHOLIB dan S . HASTIONO .2002 . Isolasi dan identifikasi Saccharomyces cerevisae beserta in vitro terhadap (Salmonella typhimurium) . Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Ciawi, Bogor 30 Sept .-1Okt . 2002 . Puslitbang Peternakan, Bogor . hlm .459-462 . JEAN-MICHEL. 2005 . Saccharomyeces cerevisiaes . http ://www . inra. fr/Internet/Directions/DIC/PRESSE /COMMUNIQUES/ images/sia2004/saccharomycescerevisiael .jpg (24 April 2005) .

KARSPINSKA, E ., B . BLASZCAK, G . KOSOWSKA, A . DEGRSKI,M . BINEK and W .B . BORZEMSKA . 2001 . Growth of the intestinal anaerobes in the newly hatched chicks according to the feeding and providing with normal gut flora. Bull . Vet. Pulawy. 45 : 105109. KoMPIANG, I.P . 2002 . Pengaruh ragi Saccharomyces cereviae dan ragi laut sebagai pakan imbuhan probiotik terhadap kinerja unggas. JITV 7(1) : 18-21 . KUMPRECHT, I., P. ZOBAC ; Z . GASNAREK dan E . ROBOSOVA .1994 . The effect of continues applications of probiotics preparations based on S. cerevisae var elipsoideus and Streptococcus faecium C-68 (SF-68) on chicken broiler yield . Zivocisma-yroba 39(6) : 491503 . Hunter, K.W.Jr., R.A. Gault, and M.D. Berner. 2002. Preparation of microparticulate Glucan from Saccharomyces cerevisiae for use in immune potentiation. Letters in Applied Microbiology35 (4): 267-269. Kulickle, W.M., A.L. Lettau, and H. Thielking. 1996. Correlation between immunological activity, molar mass, and molar structure of different (1,3)--D-glucans. Carbohydrate Research 297: 135-143. Lee, J.M. 1992. Biochemical Engineering. New Jersey: Prentice Hall. Lee JN, Lee DY, In-Hye J, Gi-Eun K., and Kim HN. 2001. Purification of soluble -Glucan with immuno-enhancing activity from the cell wall of yeast.Bioscience Biotechnology and Biochemistry.65 (4): 837-841. Life Source Basics . 2002. WGP. Beta glucan . http: www.Life Sourcebasics.Com/ beta_glucan .htm . (10Desember 2002). Roberfoid, M.B . 2000 .Prebiotics and probiotics :are they functional foods 1-3 Am . J. Clin . New. 71 (Suppl) :16828-16878. Rukyani, A., E . Silvia, A. Sunarto dan Taukhid. 1997 .Peningkatan respons kebal nonspesifik pada ikan Iele dumbo (Clarios spp) dengan pemberian immunostimulan (Beta-glucan) . Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia . 111(1) . Sitthipun M, A.H . Kittikun Dan K . Supamattayta.2000.Immmunostimulant and Vaccination in black tiger shrimp, Penaeus inonodon Fabricius : Extraction ofBeta_glucan from yeast and It is application in black tiger shrimp (Penaeus monodon Fabricius) .httpi/www.clib .psu .ac .th/acad 43/smol I .htm (27Desember 2000).